Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 24

Mode Malam
Jilid 24

“SIAU HOO Lautee!” ia menegor sambil tertawa. “Bagus kau datang sekarang ini! Silahkan kau duduk dulu dan minum secawan arak, kemudian kita bicara dengan baik!“

Kang Siau Hoo demikian pemuda itu yang tidak diundang tidak perdulikan Cie Kie, dia tetap awasi Paw Kun Lun dengan sepasang mata bagaikan berapi.

“Pau Cin Hui!“ tiba-tiba terdengar suaranya yang keren. “Hari ini kita berdua mesti buat perhitungan! Mari! Kita jangan ganggu lain orang! Mari kau turut aku turun ke bawah loteng!”

Dengan sekejap lenyaplah keangkerannya jago Kun Lun Pay itu, mukanya berubah pucat serta tubuhnya menggigil bagaikan kedinginan, kumis dan jenggotnya bergerak-gerak. Dengan sekonyong-konyong dia menjerit: “Musuhku yang baik!” Lalu sekonyong-konyong juga dia berlompat, dengan goloknya dia membacok! Kang Siau Hoo angkat pedangnya menangkis,  atas mana, segera terdengar suara yang keras dan nyaring sekali, semua hadirin menjadi terperanjat, semuanya segera undurkan diri.

Pau Kun Lun sendiri-pun mau tak mau, dia mesti mundur beberapa tindak. Bacokannya itu sangat dahsyat, namun tangkisan pedang-pun tidak kurang serunya. Ia mundur sendirinya karena tangannya tergetar dan kesemutan, hal mana membuat ia sangat kaget. Sekarang ia dapat buktikan tenaga besar luar biasa dari Kang Siau Hoo. Sudah empat atau lima-puluh tahun ia merantau, belum pernah ia ketemu tandingan dengan tenaga luar biasa itu. Tapi ia tidak keder, begitu lekas kumpul pula tenaganya, kembali ia maju, ia berlompat sambil membacok pula. Ia keluarkan segenap kepandaiannya.

Kang Siau Hoo menangkis pula, menyusul  mana kakinya mendupak meja dan kursi, yang jadi terbalik dan terpental ke pinggir, hingga terbuka satu kalangan luas juga untuk keduanya adu kepandaian.

Cepat sekali pertempuran menjadi dahsyat, jurus menyusul jurus. Di jurus keempat mendadak terdengar suara, ‘Trang!’ keras sekali disusul oleh jeritan. “Aduh!” yang hebat dan menggiriskan, hingga orang kaget dan kesima!

Satu bacokan dari Pau Kun Lun ditangkis oleh lawannya, lalu golok kena dibuat terpental dan terlepas dari cekalannya jago tua itu! Apa celaka, ketika jatuh turun, golok yang besar dan berat itu menimpa kepalanya Hoa Thayswee Chio Seng yang terus rubuh seraya perdengarkan jeritan itu! Dalam saat yang hebat itu, Long Tiong Hiap samber pedang dari tangan anaknya, ia maju untuk mencegah pemuda kita menyerang lebih jauh.

Cin Hui gunai ketika itu berlompat ke muka tangga untuk lari turun. Ia sangat ketakutan ketika itu.

Kang Siau Hoo lihat orang hendak kabur, dengan satu lompatan ia menguber, setelah itu sebelah kakinya diangkat naik, menjejak pinggangnya Pau Cin Hui.

Tubuh yang besar dan berat dari Pau Kun Lun sebagai juga sebuah batu besar dan seratus kali lebih, tersungkur menggelinding turun kebawah tangga itu, hingga tubuhnya itu menerbitkan suara bagaikan gedung ambruk.

Selagi tubuh lawannya bergelindingan, Siau Hoo enjot tubuhnya akan loncat menyusul.

“Siau Hoo, jangan bunuh orang!” berteriak Cie Kie,  yang tak mampu menghalangi pemuda itu. Percuma tadi ia gunai pedangnya untuk mencegah, dengan mudah pemuda she Kang itu lolos dari penghalauannya.

Siau Hoo sampai dibawah sebelum Pau Kun Lun sempat merayap bangun, bagaikan burung elang menyamber anak ayam ia samber dan kempit tubuh yang besar itu, dan selagi orang-orang ribut kalang kabut, lari keluar. Ia angkat tubuh musuh keatas kudanya yang berada dimuka pintu, lalu dengan andalkan pedangnya dimuka musuhnya itu, ia loncat naik keatas kudanya, yang terus dikaburkannya disepanjang jalan besar menuju ke Timur. Ia tidak hiraukan bahwa cuaca sudah gelap.

Sesudah mulai sepuluh lie jauhnya, di tepi jalan ada seorang yang tunggui pemuda itu dengan beri tanda suitan. Atas ini Siau Hoo lemparkan tawanannya dibantingkan ketanah! Pau Loo-kausu geraki tubuhnya, ia berniat merayap bangun, apa-pun orang yang menunggui itu telah samber kepalanya dengan sebuah batu besar hingga ia rubuh rebah pula dengan pingsan, lalu dengan sebat orang itu telah ringkus kaki tangannya!

“Jangan binasakan padanya!“ berkata Kang Siau Hoo, yang telah tahan kudanya. “Bawa dia kesana! Aku hendak bekerja lebih jauh!“

Lalu dengan ujung pedangnya pemuda ini sontek kudanya, maka binatang itu dengan lantas lari pula, kearah Barat.

Orang yang menantikan itu sudah lantas angkat tubuhnya Pau Kun Lun dipanggul diatas pundaknya dibawa pergi. Dalam hal ini ia tidak nampak kesukaran dari jago tua itu, yang telah tak sadar akan dirinya. Ia telah jalan sekian lama, ia sampai pada sebuah rumah berhala tua dan rusak di mana tidak ada pendeta atau penghuninya. Disitu cuma ada beberapa pengemis yang sedang nabun, untuk buat panas bubur mereka yang dapat dari hasil minta-minta.

Tatkala beberapa pengemis itu lihat orang datang, mereka semua menegasi.

“Ngo Toaya!“ memanggil mereka. “Oh kau telah dapat bekuk tua bangka itu?”

Orang tua memang benar Hek-pa-cu Ngo Kim Piu adanya. Ia lepaskan tubuhnya Pau Kun Lun digabruki ketanah, kemudian, dengan napas menggorong ia kata: “Tua bangka ini berat sekali tubuhnya …”

Satu pengemis jemput sebatang kayu yang apinya menyala, dengan itu ia mendekati dan suluh mukanya Pau Kun Lun, siapa sekarang telah sadar dari pingsannya, hingga ia bisa pentang kedua matanya yang gede dan bengis sinarnya.

“Kau suluhi apa?“ ia perdengarkan suaranya bagaikan guntur kerasnya. “Baik segera bunuh mati padaku! Suruh Kang Siau Hoo datang kemari! Sebelumnya mati, aku hendak bicara dahulu kepadanya!”

Pengemis dan kawan-kawannya itu terkejut,  mereka pada mundur.

Tapi Ngo Kim Piu jadi sengit, ia  dupak tubuh yang terokmok itu.

“Pau Kun Lun!“ ia membentak, ”disini bukannya tempat dimana kau boleh banyak tingkah lagi! Selama belasan tahun kau telah umbar murid-muridmu berbuat sewenang- wenang dan mengganas, maka sekarang, tua bangka, sekarang kau harus wakili murid-muridmu itu mendapat kutukan!“

Pau Kun Lun berontak-berontak dengan sia-sia, ia mirip dengan seekor binatang ringkusan, ia mendongkol dan gusar bukan alang kepalang.

“Bangsat! Kau boleh caci aku tapi jangan kau caci murid- muridku!“ ia berseru. “Diantara murid-muridku, kecuali Kang Cie Seng seorang, tidak ada yang mirip, dengan kau semua, bangsat!“

Belum sempat Kim Piu layani orang bicara, dari altar terdengar suara kuda kabur mendatangi, ia segera lari keluar, di belakangnya mengikuti beberapa pengemis itu. Mereka gunai obor dan cabang kayu untuk  menerangi muka kuil.

Itulah Kang Siau Hoo yang telah kembali, sebelah tangannya ada menuntun seekor kuda lain tanpa penunggangnya. Ia terus saja serahkan kedua ekor kuda itu pada si pengemis, sesudah mana ia cabut pedangnya, tangan yang lainnya menenteng sebuah bungkusan kain yang berat juga. Ia serahkan bungkusun itu pada Ngo Kim Piu.

“Inilah kepalanya Liong Cie Khie!” kata ia dengan tenang tetapi keren. “Kau sembunyikan bungkusan ini dalam pauhok ku, aku hendak bawa pulang ke Tin-pa untuk sembahyangi roh ayahku di Pak San!”

Tanpa kata apa-apa Ngo Kim Piu  sambuti  bungkusan itu, ia perlibatkan roman puas.

***dw***

Bab 17

KANG SIAU HOO MASUK kedalam bio, ia suruh pengemis-pengemis nyalakan api, dengan begitu ia jadi bisa pandang pada Pau Loo-kau-su, siapa membuka mata dengan tenang mengawasi pemuda kita, tubuh siapa yang tampak jangkung sekali, akan tetapi tampannya tetap seperti diwaktu muda : cakap dan gagah. Hingga kembali berbayang di depan matanya kejadian-kejadian pada sepuluh tahun yang lampau. Dengan tidak merasa, hatinya menjdi lemah pula.

“Pau Cin Hui, bagaimana sekarang?“ tanya Siau Hoo pada musuh besarnya itu. “Apa yang kau pikir dan ingin ucapkan?”

Cin Hui rebah celentang, ia tak dapat geraki tangan dan kakinya, ia insaf bahwa saat kematiannya telah tiba, tanpa merasa ia jadi bergidik. Dengan napas rada memburu, ia geleng-geleng kepala. “Aku tidak hendak bilang apa-apa,” ia menjawab. “Aku melainkan ingin bertemu dengan kedua anak dan cucu perempuanku ... Ah, tak dapat aku lihat mereka. Beritahukanlah kalau-kalau mereka semua itu telah binasa ditanganmu. Benarkah begitu?“

Siau Hoo sudah angkat pedangnya, akan tetapi ketika disebutnya nama Ah Loan, segera hatinya jadi lemah. Ia membungkuk, ia lantas buat putus tambang yang mengikat jago tua itu, kemudian ia memimpin bangun.

Mau atau tidak Pau Kun Lun menjadi heran.

“Apa maksudmu sebenarnya, Siau Hoo?” tanya ia, “kau batal bunuh aku?“

“Permusuhan kita dari sepuluh tahun yang lalu ada sangat besar, cara bagaimana bisa aku tidak bunuh padamu?“ sahut Siau Hoo dengan sengit. “Ingat halnya dulu kau hendak binasakan aku ditengah sawah dan kemarin ini kau telah bunuh Cin Siau Hiong, tak dapat aku beri ampun pula padamu, tua-bangka yang kejam!” ia menghela napas, lalu melanjutkan. “Tapi aku Kang Siau Hoo ada satu laki-laki, sedang kau sudah berumur tujuh puluh lebih, pun kau sedang terlunta-lunta, kau tidak punya sanak yang dekat. Jikalau aku binasakan kau disini walau- pun itu untuk singkirkan bencana bagi orang banyak, orang pasti anggap aku teralu kejam, sedang mereka yang tidak tahu duduknya hal akan anggap aku menghina pada satu tua-bangka yang lemah tidak berdaya. Maka sekarang aku hendak bawa kau pulang ke Han-tiong untuk diserahkan pada anak-anak dan murid-muridmu, setelah itu barulah kita lakukan pertempuran yang memutuskan. Waktu itulah aku bunuh padamu, barulah aku puas!“

“Baiklah,” kata Pau Kun Lun kemudian, setelah termangu sekian lama. “Memang dulu aku berlaku jelek padamu, tetapi … ah, Thian tahu ... Sudah, tak usah aku ucapkan itu. Ringkasnya, untuk beberapa hari, kau pernah makan nasiku, maka apabila kau bisa beri ketika untuk aku pulang untuk melihat rumahku, aku puas sudah.”

Siau Hoo manggut.

“Baik!“ ia bilang. “Sekarang kau bangunlah!”

Pau Cin Hui tidak lantas berbangkit, ia masih duduk ditanah. Ia agaknya seperti orang sudah tidak punya tenaga sama sekali. Ia tunduk, berulang-ulang ia menarik napas.

“Cuma ada satu hal ... “ kata ia kemudian. “Disini ada satu muridku, Liong Cie Khie …”

Mendengar disebutnya nama Liong Cie Khie, matanya Siau Hoo mendelik dengan tiba-tiba.

“Muridku itu telah menjadi kurbanku ….“ kata terus Pau Kun Lun, yang tidak lihat perubahan sikap orang, “karena ia ikuti aku, ia jadi sangat menderita. Sekarang aku mesti pergi tengok dahulu padanya, kemudian baru aku akan ikut kau …”

“Jangan lagi kau sebut-sebut Tiong Cie Khie!“ kata Siau Hoo dengan sengit, seraya ia angkat pedangnya. “Liong Cie Khie telah jadi kolokan karena kau yang mengeloni terus padanya, dia sudah lakukan berbagai macam kejahatan! Siapa saja penduduk Tin-pa, kalau dia dengar  namamu  guru dan murid, tidak ada yang tidak membencinya! Sekali ini Liong Cie Khie datang ke Sucoan Utara ini, lantas di Loo Su Nia dia bunuh hamba negeri, dia begal keluarga tiekoan, sedang di Kang-kau-tin dia paksa, sehingga seorang perempuan menggantung diri! Dimana dia sampai, dia mengganas, bunuh orang, merampas, dan memperkosa orang-orang perempuan! Paling celaka dia juga fitnah aku dengan gunakan namaku! Kalau tidak pihak pembesar negeri punyai saksi, pasti siang-siang aku sudah mesti gantikan dia dihukum! Aku terhalang sedikit di Thongkang karena urusan sahabatku, tidak demikian, sedari siang-siang aku akan sudah sampai disini! Aku tahu Liong Cie Kie berdiam dirumahnya Lau Kiat, dengan  pinjam pengaruhnya Lau Kiat itu, sehingga pembesar negeri tidak berani bekuk padanya, akan tetapi baru saja aku telah pergi kesana, aku sudah kutungi kepalanya!“

Bukan kepalang kagetnya Pau Kun Lun mendengar tentang terbinasanya muridnya yang ia paling sayang itu, tiba-tiba ia naik darah, bagaikan seekor harirnau buas ia berlompat bangun menubruk, untuk serang pemuda didepannya.

Siau Hoo yang lihat serangan itu segera  mengulur sebelah tangannya menahan kepalan musuh dengan itu, ia majukan sebelah kakinya akan mendupak!

Serangan si jago tua yang sehebat itu, dengan tubuh besar dan berat pula, namun sekejap saja ia telah kena dibuat rubuh tengkurap.

“Sambung-sambungkan tambang itu dan ringkus padanya!” menyuruh Siau Hoo pada Kim Piu.

Ngo Kim Piu lantas bekerja menurut apa yang diperintahkannya.

Pau Kun Lun tidak buat perlawanan ia hanya saban- saban menghela napas, ia sangat berduka.

“Seumurku merantau, belum pernah aku ketemu tandingan,” demikian ia ngelamun dalam hatinya, “sekarang Kang Siau Hoo benar-benar telah wariskan kepandaian gurunya. … Sudahlah, biar dia buat apa dia suka, tak usah aku membabi-buta melawan padanya …”

Karena itu ia tutup mulut, ia bungkam. Dengan tangannya yang kuat, Kang Siau Hoo angkat tubuh terokmok dari musuhnya untuk dinaikkan diatas kuda, yang disiapkan diluar, kemudian ia sendiri loncat naik atas kudanya itu.

“Mari kita berangkat! Kau jalan dimuka!” begitu ia bilang pada Ngo Kim Piu seraya ia  menoleh  pada kawannya itu.

Ngo Kim Piu menurut, ia naik atas kudanya buat lantas jalan di depan, mereka meninggalkan kuil bobrok itu dimana kawanan pengernis awasi mereka berlalu. Tujuan ada arah Timur. Muatannya Kang Siau Hoo ada terlalu berat, kudanya tidak bisa jalan cepat-cepat. Mereka-pun lakukan perjalanan di malam yang gelap gulita.

Mendekati fajar, perjalanan telah dilewati enam atau tujuh-puluh lie. Sekarang Kim Piu ambil jalanan kecil. Dan tempo sudah terang tanah, Siau Hoo loloskan ringkusannya si jago tua, ia turun dari  kudanya, ia  beri Cin Hui menunggang kuda seorang diri. Karena ini mereka jalan makin pelahan, hingga Hek Pa Cu jadi tidak sabaran, diam- diam ia gerak-geraki tangannya pada Siau Hoo, ia kata dengan pelahan. ”Di depan ada sebuah lembah, kita bunuh saja tua-bangka ini, habis perkara! Kenapa mesti pusingkan diri secara begini?”

Kang Siau Hoo tidak menyahuti, ia hanya geleng-geleng kepala.

Pau Kun Lun ketahui orang bicara kasak-kusuk, ia lihat di depan ia ada sebuah bukit, hatinya giris, tetapi dalam keadaan seperti itu ia paksa bersabar, ia besarkan hati.

Kim Piu telah ambil jalan pegunungan yang sepi dan sukar, atau dijalan kecil yang sunyi. Untuk dahar, barang makanan dibeli didalam kampung. Diwaktu malam mereka mondok di kuil-kuil bobrok. Begitu lekas sang sore tiba. Kim Piu berlaku sebat untuk ringkus Cin Hui, sampai esoknya pagi baru ia memerdekakan pula tawanannya itu.

Pau Kun Lun tidak lagi menjadi seperti harimau galak, bahkan ia jadi jinak seperti seekor kambing. Ia insaf benar- benar bahwa perlawanan sudah tidak ada artinya, bugeenya Kang Siau Hoo ada terlalu liehay untuk ia melawannya.

Ngo Kim Piu benar pandai mencari jalanan, selama empat atau lima hari, tidak pernah mereka ketemu dengan orang polisi, atau berhimpasan dengan rombongan kereta piau, hingga tidaklah ada gunanya umpama jago tua itu menjerit akan minta pertolongan. Ia jadi mirip dengan perantaian dengan hukuman mati … Ia ada sangat berduka, bukan dukai nasib diri sendiri, dia hanya bersedih untuk kebinasaan hebat dan mengenaskan diri Liong Cie Khie, dan halnya Ah Loan …

Lagi satu hari dilewatkan. Mereka sekarang menghadapi sebuah gunung yang tinggi. Mereka segera akan memasuki sebuah jalanan lembah yang sempit. Tiba-tiba Pau Cin Hui jadi girang sendirinya, seperti juga disini dia bakal dapat pertolongan yang tidak disangka-sangka. Inilah disebabkan di depannya ada Pa-kok-kwan, sekeluarnya dari gunung Bie Chong San, dia akan sudah lantas berada dijalanan ke Han- tiong. Lagi sedikit ke Timur dia akan sudah sampai dikampung halamannya sendiri.

Ada lain sebab pula kenapa Pau Cin Hui berlega hati. Selama beberapa hari di jalanan sunyi, jantungnya terus memukul. Itulah sebab Ngo Kim Piu selalu awasi ia dengan mata tajam dan roman bengis, pun beberapa kali Kim Piu telah berselisih dengan Siau Hoo tapi saban-saban Siau Hoo tidak perdulikan anjuran untuk binasakan padanya. Maka sekarang, di depan rumahnya sendiri, ia percaya tidak nanti dia bakal dibunuh mati. “Bagaimana?“ kata ia. “Kita akan segera tiba dikampung kita! Apa kita langsung pulang dahulu ke rumah?“

Belum lagi Siau Hoo menjawabnya, Kim Piu yang jalan di depan telah menoleh seraya ayun cambuknya.

“Selama beberapa hari kau tidak pernah bersuara!” dia menegor dengan gusar. “Sekarang, sesampainya di Pa-kok- kwan, dimana ada banyak orang, kau buka mulutmu! Apakah kau memikir untuk merat?“

Suara cambuk mengenai tubuh terdengar nyata. Tapi Kim Piu mengancam terus : “Kalau kau lari, aku lantas bunuh padamu! Kau mesti tahu diri sedikit! Kau jangan tanya kemana kau akhir-akhirnya kau bakal diantar kedalam liang kubur!”

Siau Hoo di belakang larang Kim Pu mencambuki orang tua itu, tetapi terhadap orang tua itu dengan sengit ia berkata, “Aku sudah bilang bahwa jiwamu tidak dapat aku beri ampun, maka jikalau sekarang kau mencoba lari, segera aku akan bunuh padamu! Tahukah kau kenapa aku tidak lantas bunuh padamu? Itulah disebabkan kau sudah terlalu tua, kau-pun sendirian, sedang segala kejahatanmu diluaran, penduduk Han-tiong tidak tahu, maka perlu aku umumkan itu kepada mereka, waktu itulah baru aku turun tangan! Aku bunuh kau bukan untuk permusuhan perseorangan saja, juga untuk singkirkan malapetaka bagi khalayak ramai. Aku hendak bawa kau ke Tin-pa, disana aku hendak tanya bocah-bocah dari Pau Kee Cun, aku akan suruh mereka yang putuskan, kau pantas dihukum mati atau tidak! Sesudah itu, aku nanti bawa kau ke Pak San, dimana dahulu kau telah binasakan ayahku! Disitulah aku akan bunuh padamu!”

Mendengar ini, mukanya Pau Kun Lun jadi  sangat pucat, giris hatinya. Ia menghela napas. “Kang Siau Hoo, kenapa kau berlaku begini kejam?“ tanya ia. “Kau hendak membalas sakit hatinya ayahmu, bunuhlah aku sekarang! Kenapa kau hendak bongkar dahulu segala kedosaanku? Bunuhlah aku seperti kau membunuh Cie Khie. Dia tidak punya kepandaian untuk lawan kau, sudah seharusnya dia binasa ditanganmu, tetapi kenapa kau mesti tuduh dia menjadi begal di Loo Su Nia?”

Ngo Kim Piu jadi sangat gusar, ia putar pula tubuhnya, kembali ia menyambuk.

“Oh, tua-bangka busuk, kau masih saja  mengeloni muridmu yang jahat itu?“ ia membentak. “Siapakah yang tahu muridmu itu ada begal dari Loo Su Nia? Dia telah gunakan namanya saudaraku Kang Siau Hoo yang hendak difitnahnya!“

Pau Loo-kausu kertek gigi, dia mendelik.

“Aku tidak percaya!” ia berseru. “Itulah tentu tuduhannya orang-orang yang benci padanya! Kun Lun Pay sedang lacur, maka segala macam kejahatan semua orang timpahkan kepada murid-muridku! Ah, sudahlah, biar kau semua menuduhnya! Paling juga aku turut murid-muridku itu dibunuh mati olehmu. Tapi kau tak akan mampu buat musnah Kun Lun Pay, kalau ada satu saja yang bisa lolos, dia tentu akan mecari balas kelak!”

Setelah mengucap demikian, bercokol atas kudanya Pau Kun Lun rapatkan ke dua matanya, ia bersedia akan orang tabas batang lehernya.

Ngo Kim Piu menoleh pada Siau Hoo matanya dipentang lebar.

”Saudara Kang, kenapa kau jadi demikian lemah?“ ia sesalkan. “Jangan perduli dia masih muda atau  sudah terlalu tua sudah terang dia bukannya makhluk baik-baik, kenapa kau tidak mau segera buat habis padanya? Bukankah itu ada paling sederhana? Dengan perbuatanmu sekarang ini, bukan saja dia sangat berabekan kita, juga dia akan jadi ancaman bahaya untuk kita di kemudian hari!”

Siau Hoo berdiam, ia berpikir, “Pau Kun Lun sangat jahat, tidaklah berdosa jikalau aku bunuh jago tua ini. Lagi- pun untuk apa aku menderita bertahun-tahun melatih diri? Bukankah itu untuk menuntut balas?” ia insaf akan hal ini, tapi kapan ia pandang jago tua itu yang kumisnya bergerak- gerak, selembar dengan selembar, seperti sedang memohon belas kasihan, segera usia mudanya jadi tidak tega membinasakan satu kaki-kaki yang sudah lemah tidak berdaya …

“Saudara Kang!” kata pula Ngo Kim Piu, selagi pemuda itu terbenam dalam kesangsian. “Saudara, di depan kita adalah Pak-kok-kwan! Kita mesti lewati kota itu. Bagaimana jikalau sedangnya kita lewat disitu, tua bangka ini buka bacotnya dan menjerit? …”

Siau Hoo tidak tunggu orang berhenti bicara, ia sudah goyang-goyangkan tangannya.

“Kita tak usah takut!” katanya. “Kalau benar dia menjerit selagi kita lewati kota, disitu kita bunuh padanya, lalu kita angkat kaki!“

Cin Hui, dari atas kudanya, perdengarkan tertawanya. “Tetapkanlah hatimu, jangan  kuatir!“  berkata  dia. “Aku

telah ikut sampai disini, itu artinya aku tidak memikir untuk kabur! Umpama kita ketemu polisi dan polisi itu menanyakan aku, aku nanti jawab bahwa kita adalah kawan-kawan yang berjalan sama-sama. Aku insaf apa artinya permusuhan perseorangan, dalam hal itu belum pernah aku pusingi pembesar negeri. Sekarang aku bakal mati, kalau  aku  minta bantuannya pembesar, namaku akan jadi tercemar. Tidak, itulah aku tak akan lakukan!  Aku telah terjatuh kedalam tanganmu, kau boleh buat apa kau suka, sudah tidak ada bicara lainnya lagi! …”

Mendengar itu, bukan main gusarnya Ngo Kim Piu, ia ayun cambuknya hendak menghajar pula, akan tetapi Kang Siau Hoo lagi-lagi maju mencegahnya.

“Sabar,” pemuda kita berkata. “Kita segera akan sampai di Samsay Selatan, Disini banyak orang-orang Kun Lun Pay, maka kita mesti buat supaya sesuatu dari mereka mengetahui duduknya perkara dan menjadi takluk karenanya, takluk dimulut dan di hati. Biarlah mereka semua ketahui bahwa guru mereka memang cari matinya sendiri karena kekejamannya yang telah dilakukannya. Setelah itu baru kita turun tangan. Bisa jadi karena sikap kita ini, akan terbit bentrokan. Aku kuatirkan kau Ngo Toako, aku tidak ingin, karena suatu kekeliruan, kau akan terbawa-bawa. Maka pikirku baiklah disini saja kita berpisahan. Sesudah aku bawa bangsat tua ini ke  Tin-pa dan urusan beres, aku hendak kembali ke Long-tiong, aku hendak pasang omong dengan Long Tiong Hiap, kemudian baru bertemu pula untuk berkumpul lagi. Bagaimana kau pikir?”

Ngo Kim Piu geleng kepala berulang-ulang.

“Tidak, tidak bisa!“ katanya. “Saudara Kang, walau-pun sebenarnya, aku tidak bermusuhan dengan Pau Cin Hui, tapi setiap kali aku dengar orang sebut Kun Lun Pay atau sebut-sebut nama dengan huruf ‘Cie’, hatiku lantas saja menjadi panas. Maka sekarang, apabila kau segera bunuh tua bangka ini, aku akan ikut terus padamu, ke Tin-pa ke Han tiong! Aku hendak bantu kau binasakan lagi beberapa orang Kun Lun Pay!” Mengenai sikap kawannya itu Siau Hoo tidak kata apa- apa lagi.

“Nah, silahkan kau jalan di depan!” kata ia.

Demikian mereka lanjutkan perjalanan, Kim Piu di depan, Pau Kun Lun ditengah dan Siau Hoo paling belakang. Mereka berjalan dengan perlahan di jalan yang tidak rata dan sukar.

Akan tetapi jalanan ini ramai dengan kuda-kereta dan orang-orang yang berjalan kaki, ada juga rombongan pengantar piau dan berbagai piautiam dari Sucoan Utara. Semua piausu tidak kenal Kang Siau Hoo dan Pau Cin Hui, tapi mereka kenal Ngo Kim Phi, antaranya ada yang bicara dengan dia ini, bicara dalam bahasa rahasia kangou.

Siau Hoo tidak mengerti bahasa rahasia itu.

Pau Kun Lun yang sudah ulung dalam kalangan kang- ou, mengerti bahasa rahasia itu, mulanya ia sangat gusar, hampir dia lompat turun dari kudanya guna serang orang she Ngo itu, tetapi ia menghela napas terus ia tundukkan kepalanya.

Pa-kok-kwan sudah tuntas dilewati, begitu lekas mereka sudah berada di luar perbatasan, dengan bahasa rahasia Ngo Kim Piu puji Pau Kun Lun. Dia kata: “Tidak kecewa kau telah merantau seumur hidupmu! Kau benar gagah, kau ada lebih menang daripada murid-muridmu!”

Dengan tampangnya yang bengis, Pau Cin Hui awasi orang yang ia ajak bicara tetapi ia tidak bilang apa-apa.

Siau Hoo bercuriga begitu lekas ia dapat kenyataan orang punya sikap tenang itu.

Mereka menuju ke Utara sekarang. Jalanan makin lama jadi makin menanjak, makin sempit, seperti juga Ngo Kim Piu sengaja ambil jalan ini. Sesudah lewat lagi dua-tiga lie, mereka seperti terkurung puncak-puncak bukit, jalanan penuh batu beraneka warna, rumput tebal menutupi jalanan.

Mereka sudah masuk dalam gunung Bie Chong San. “Kenapa kau ambil jalan ini?“ Siau Hoo tegor Ngo Kim

Piu, ia rada-rada mendongkol.

Kim Piu turun dari kudanya, ia hampirkan kawannya untuk ditarik kesamping.

“Apa kau tidak dengar pembicaraanku tadi di Pa-kok- kwan dengan beberapa piausu itu?‘ ia kata. “Mereka bilang di depan kita ada serombongan piau kaum Kun Lun Pay, keretanya belasan, pengantarnya ada tujuh atau delapan orang, diantaranya mereka cuma kenali satu ialah Lou Cie Tiong. Kau niscaya ketahui Cie Tiong itu, ialah murid tersayang dari tua-bangka ini. Tentu saja kita tak usah takut kepadanya, tetapi kalau jumlah mereka besar dan mereka bisa rampas tua-bangka ini, tidaklah cape lelah kita akan sia-sia belaka? Dengan begitu kita seperti lepas harimau ke gunung!”

Mendengar disebutnya nama Cie Tiong, Siau Hoo jadi ingat kejadian dahulu. Cie Tiong ada paman seperguruan, yang telah melepas budi padanya ketika ia sedang didesak oleh Cin Hui. Ingat Cie Tiong ini jadi ingat keganasannya Cin Hui. Ia jadi gusar dengan tiba-tiba. Justeru disitu ada tempat sunyi apa itu bukannya tempat yang cocok untuk ia menghabisi jiwanya musuh ini?

Ngo Kim Piu kembali anjurkan kawan ini, ia  geraki tangannya selaku tanda, di andaikan golok. “Habiskan sudah!” demikian kawan tidak sabaran itu. “Buat apa sayangi mustika karatan ini, apakah dia bisa dijual untuk dijadikan uang?”

Siau Hoo tidak menjawab, sambil berkerot gigi awasi Pau Kun Lun.

Pau Cin Hui yang lihat gerak-gerik atau sikapnya kedua orang itu bisa menduga, maka juga mukanya menjadi pucat, ia jadi sangat layu.

“Habislah aku sekali ini … “ ia mengeluh. Tetapi Siau Hoo tidak turun tangan.

“Jalan terus!“ ia menitah pada Ngo Kim Piu. Kawan itu jadi sangat tidak sabaran.

“Saudara Kang!” bekata ia. “Kau punya bugee tinggi, tubuhmu-pun tambab besar, akan tetapi hatimu tidak seperti waktu kau masih kecil! Kita habisi saja jiwanya, lantas kita kaburkan kuda kita pergi ke Kan-lam. Kau niat mencari balas, sekarang setelah kau dapat lawan tua bangka ini, kenapa kau tidak berani turun tangan? Aku yang hendak wakili kau, juga kau melarangnya. Apa dengan begini kau bisa dianggap sebagai satu laki-laki? Kau justeru mirip dengan seorang perempuan! Aku percaya benar, tua-bangka ini lebih pandai dari kau dalam hal membunuh orang!”

Panas hatinya Siau Hoo mendengar ejekan itu, ia jadi gusar, tapi berbareng ia-pun berduka.

Justeru itu Cin Hui tiba-tiba mengucurkan air mata, yang menetes kekumis dan jenggotnya seperti butir mutiara. Kemudian ia menoleh pada pemuda kita, akan berkata dengan suara sedih. “Siau Hoo, Kang Enghiong!” demikian katanya. “Aku Pau Kun Lun tidak biasanya bersikap lemah, akan tetapi bolehkah aku minta suatu permohonan darimu?”

Siau Hoo menoleh dengan mata dibuka lebar. “Bilanglah!” ia jawab.

Orang tua itu masih mengalirkan airmata.

“Kau toh tahu cucu perempuanku, si Ah Loan?” katanya. “Dahulu di malaman hujan salju, ketika untuk membalas sakit hati terhadapku, kepandaianmu waktu itu masih belum berarti usiamu-pun masih terlalu muda. Sebenarnya dengan mudah aku bisa bunuh kau, akan tetapi aku tidak tega membunuhnya. Ah Loan yang melihat aku lepaskan kau, dia telah susul kau, hingga terjadilah diluar pekarangan ditanah yang bersalju kau berdua telah berkelahi. Melihat pertempuran itu aku girang bukan main, sehingga aku memuji kau berdua sebagai enghiong- enghiong cilik.”

Siau Hoo ingat itu, hatinya menggetar, tapi ia delikkan mata.

“Jangan kau mengungkat kejadian yang lampau untuk meminta ampun kepadaku,“ ia membentak.

Pau Loo-kausu manggut.

“Aku tidak hendak minta ampun, aku melainkan ingin kau pikirkan cucu perempuanku itu,” ia bilang. “Walaupun benar aku perlakukan kau jelek, tetapi cucuku itu tidak punya dendam kepadamu. Dia adalah orang yang aku paling sayang, hingga semua kepandaianku aku wariskan padanya. Aku telah nikahkan dia kepada Kie Kong Kiat. Kau tentu ketahui Kie Kong Kiat itu. Menurut Kong Kiat di Bu Tong San dia pernah tempur kau. Dihari kedua dari pernikahannya suami isteri muda itu, aku telah perintah mereka pergi ke Tiang-an untuk sambut dan tempur kau. Tentang mereka itu, pernahkah kau ketemu suami-isteri itu atau tidak?“

Siau Hoo manggut.

“Ya, aku pernah ketemu mereka,” jawabnya.

“Kalau kau telah ketemu mereka, aku pencaya kepandaian mereka itu jauh lebih bawah daripada kepandaianmu,” kata pula Pauw Kun Lun. “Apakah mereka semua telah terbinasa ditanganmu?“

Mukanya Siau Hoo pucat, ia tertawa dingin.

“Bukankah dahulu ayahku telah dibunuh olehmu dan kedua persaudaraan Liong?” ia balik menanya. “Maka apa sangkutnya aku dengan orang lain? Mereka-pun belum pernah berbuat jahat, dan itu, umpama mereka cari aku dan musuhkan aku, tidak nanti aku sembarang binasakan mereka!“

Mendengar jawaban itu, hatinya Pau Kun Lun menjadi lega. Terang sudah yang cucu perempuan itu masih hidup. Tapi ia toh berduka, ia masih menangis.

“Kalau begitu, Kang Eng-hong,” kata ia pula, “sekarang aku minta kau ijinkan aku bertemu dengan cucuku itu, satu kali saja, sesudah itu kau boleh bunuh aku …”

Siau Hoo berdiam sekian lama, kemudian ia angguk- anggukkan kepala.

Menyaksikan demikian, Ngo Kim Piu jadi sangat heran. “Eh,   saudara   Kang,   apakah   artinya   ini?”   ia  segera

menegor.  “Apakah  kau  berniat nikah  cucunya tua bangka

ini untuk dijadikan isterimu? Saudaraku hati-hatilah, jangan kau beri dirimu kena dipedayai oleh tua-bangka ini! Terang tua-bangka   ini  hendak  serahkan   cucunya   buat  beli jiwa tuanya! Saudara kalau kau niat nikah perempuan kangou, kau boleh lakukan itu! Berapa banyak kau inginkan? Lebih cantik dan gagah seperti Cin Siau San pun, gampang untuk kau dapatinya, tetapi jangan kau terjebak oleh tipu Bie Jin Kee (tipu-daya menggunakan perempuan cantik)! Lagi-pun Ah Loan itu sudah menikah, jikalau terjadi kau nikah dia, itu artinya sial-dangkalan!“

Siau Hoo menggoyangkan tangan, ia kerutkan dahi. “Kau jangan ngaco-belo. Jalanlah!” katanya.

Hek Pa Cu, si Harimau Hitam, tertawa.

“Apa yang aku bilang, kau mesti ingat baik!“ ia bilang. “Orang gagah paling sukar melintasi kotanya perempuan cantik! …”

Tapi Kim Piu naik atas kudanya, untuk mulai jalan pula.

Sementara itu Pau Kun Lun, sesudah menangis sekian lama, hatinya jadi tetap pula, pikirannya tenteram semangatnya lantas terbangun. Ia seperti tak ingat lagi bahwa ia telah terluka, terhina, dan diperlakukan sebagai orang tawanan saja.

Selama perjalanan beberapa ratus lie itu, romannya Pau Cin Hui sudah tak keruan macam, pakaiannya kotor dan robek sana-sini, rambutnya kusut, kumis dan jenggotnya penuh abu. Ia terus ikuti kudanya Ngo Kim Piu. Ia berharap lekas sampai di Tin-pa, supaya ia bisa bertemu dengan cucunya, untuk jelaskan selama kepergiannya ke Su-coan Utara bahwa kecuali ia keliru bunuh Cin Siau Hiong, tidak pernah ia  lakukan kejahatan lain. Ia mau terangkan bahwa segala cerita busuk perihal Liong Cie Khie, semua adalah dusta belaka, bahwa itulah  ada tuduhan semata-mata dan orang-orang yang benci Kun Lun Pay … Oleh karena hatinya berpikir demikian, jago tua ini tidak perdulikan sikapnya Ngo Kim Piu, yang sangat benci padanya.

Mereka jalan terus, Siau Hoo jalan kaki tetapi ia tidak pernah ketinggalan. Ia jalan dengan tidak banyak bicara, ia jadi pendiam, dahinya saban-saban dikerutkan.

Lagi dua-puluh lie telah dilewatkan, tidak pernah mereka ketemu orang. Mereka jalan di tempat banyak pengkolan, mereka belum keluar dimulut gunung. Sementara itu hari sudah bukan siang lagi. Didalam gunung, matahari sudah tidak tertampak pula.

Akhirnya Ngo Kim Piu tahan kudanya, ia berpaling. “Saudara Kang, segera kita akan keluar dimulut

gunung,” katanya. “Sekeluarnya dari sini, jalanan ada rata, terpisahnya kita dari Han-tiong-hu tinggal lagi enam puluh lie!“

Siau Hoo menjadi gusar dengan tiba-tiba.

“Siapa suruh kau menuju ke Han-tiong?“ tanya ia. “Sudah berulang-ulang aku beri tahu padamu, kita hendak pergi ke Tin-pa!“

Kim Piu tidak perdulikan orang gusar, ia justeru tertawa.

“Engko yang baik, kau tetap tidak bisa lupai niatmu pulang kerumah untuk menikah!“ ia menyahut. “Jikalau demikian adanya, kita jadi sudah sia-sia jalan jauh dua ratus lie! Kita mesti memutar pula untuk balik kembali! Di belakang kita ada jalanan cagak tiga! Apakah kau tidak lihat ketika tadi kita lewat disana? Diantara cagak tiga itu, yang ke Barat adalah jalanan buntu. Jalanan yang ke Timur, jangan kau pandang enteng, kelihatannya ada kecil sekali, tapi makin kita lewati makin lebar, sekeluarnya  dari  situ kita sampai didusun Bun-seng-tin, yang dengan lain nama dipanggil Un-sin-tin, dusun Malaikat Penyakit. Kalau kita menuju ke Utara, setelah delapan-puluh lie kita  akan sampai di Tin-pa ... “

“Nah, lekas balik!’ Siau Hoo bilang. “Lebih dahulu kita pergi ke Un-sin-tin!”

Hek Pa Cu mutar balik kudanya.

“Buat ke Un-sin-tin, aku tidak mau pergi,” kata Hok Pa Cu sambil tertawa. “Pada lima-belas tahun yang lalu, disana aku pernah diserang penyakit. Ketika itu aku ikuti Sun Lay-cu si Korengan melakukan pekerjaan di Rimba Hijau, di dusun itu aku telah ketemu satu imam perempuan. Sayang sekarang ini imam itu tentunya sudah berusia empat-puluh sedikitnya, kalau tidak, pada lima-belas tahun yang lalu dia tentu baru sepantar usianya dengan kau, hingga kau boleh nikah padanya …”

Siau Hoo tidak perdulikan orang menggodainya, ia jalan sambil berpikir. Ia pikirkan sikap apa ia mesti ambil bila sebentar dia telah sampai di Tin-pa.

Sebentar kemudian mereka sudah lintasi kira-kira dua lie. Disini Siau Hoo lantas dapat lihat satu jalanan yang tadi ia tak perhatikan sama sekali. Jalanan ini sangat  sempit, hanya seeker kuda yang bisa lewat jalan disitu. Jalannya juga penuh batu dan tidak rata, malah batunya lumutan dan licin. Disitu juga ada ratusan ekor burung, yang kaget dan terbang serabutan karena ada orang liwat.

“Apakah kau kenal betul jalanan ini?” pemuda ini tegasi Kim Piu.

“Aku ingat betul,” sahut kawan itu dengan anggukan kepala. “Dulu aku biasa mundar-mandir disini, sering aku menggeletak ditanah untuk lewati sang malam. Tidak bisa salab, kecuali setelah selang beberapa tahun tempat ini sudah salin rupa.”

Ngo Kim Phi segera jalankan kudanya, tetap didepan.

Siau Hoo dengan Pau Kun Lun di depannya, mengikuti terus.

Dijalan sempit dan sukar seperti itu, kedua ekor kuda tidak bisa jalan dengan cepat, apalagi memang kedua kuda itu sudah lelah, tidak demikian dengan Siau Hoo, meski- pun ia jalan kaki, ia tetap segar dan bersemangat.

Jalan lagi baru beberapa tindak, kaki depan dari kudanya Pau Cin Hui terpeleset, kuda itu ngusruk, benar penunggangnya tidak sampai rubuh, namun buntalannya Siau Hoo yang dicantel di kuda itu, terlepas dan jatuh, terbuka ikatannya.

Melibat demikian, Ngo Kim Piu gusar, ia putar tubuh, ia ayun cambuknya menghajar jago tua itu. Ia-pun mau turun dari kudanya akan ambil pedang buat bunuh jago itu, tetapi Siau Hoo cepat mencegah.

Pemuda kita pungut buntalannya, ia membungkus pula dengan baik, ia jemput pedangnya, kemudian ia  bantui kudanya bangun.

“Lekas jalan!“ katanya. Ia mendongkol.

Hek Pa Cu masih gusar, ia cambuk pula Pau Cin Hui, sesudah mana, baru ia jalankan kudanya.

Disepanjang jalan beberapa kali Pau Kun Lun menarik napas panjang ia sangat berduka. Pertama kelakuannya Ngo Kim Piu, yang dia anggap ada satu berandal saja. Disepanjang jalan tidak kurang dari tujuh-puluh atau delapan-puluh kali ia kena cambukan hingga mukanya, lengannya, pada matang-biru dan bengkak. Karena Siau Hoo berada di belakangnya, ia tidak berani membuat pembalasan. Ke dua ia dukai nasibnya sendiri. Seumurnya dia anggap dirinya ada enghiong dari jamannya itu, goloknya Kun-lun-too tidak ada tandingannya, meski-pun dia sudah tua, tetapi tenaganya masih belum berkurang. Tetapi sekarang, menghadapi Kang Siau Hoo, ia ada seumpama tikus melihat kucing, sebagai kambing di depan harimau sama sekali ilmu silatnya tak dapat digunai lagi. Inilah ada penasaran yang sangat hebat. Ke tiga, ia ingat sekarang ia sudah mendekati Tin-pa, dalam keadaan rudin ia pulang ke rumah, ia tidak ada muka akan menemui orang-orang sekampung.

Ingat semua itu, Cin Hui jadi tidak hidup lebih lama pula, tetapi ia memikir dalam keraguan, apa baik ia bunuh dulu Ngo Kim Piu, setelah itu ia serahkan diri pada Siau Hoo untuk dibunuhnya.

Orang tua ini masih ragu-ragu ketika tiba-tiba ia lihat Ngo Kim Piu angkat kepalanya seraya terus berkata dengan nyaring : “Ah, siapa sangka disini ada rumah orang?“

Siau Hoo-pun angkat kepalanya seraya, dari itu ia lantas tampak asap mengepul ke udara, melayang-layang diantata cuaca bersinar layung.

“Sang sore sudah datang, apakah kita mau jalan terus ke Un-sin-tin untuk singah disana saja?“ kata Kim Pu.

Siau Hoo belum lelah, tetapi hatinya tidak tenteram, ia sudah mulai merasa lapar.

“Coba kau cari kalau-kalau ada rumah  penduduk dimana kita bisa mondok,” sahut ia kemudian. “Besok pagi kita berangkat ke Tin-pa, disana urusan akan segera dapat diselesaikan.” Kim Piu lantas jalan, matanya menoleh menoleh kekiri dan kanan. Ia jalan belum seberapa jauh, lalu disebelah kiri ia lihat undakan-undakan tangga batu buatan orang. Dengan cepat ia loncat turun dari kudanya, ia hampirkan Cin Hui yang dijorok hingga rubuh, setelah mana, dengan sebat juga ia mulai meringkus kaki-tangannya Pau Kun Lun.

Rebah ditanah Cin Hui diam saja, hanya napasnya turun naik dengan keras.

Siau Hoo turunkan pedang dan bungkusannya, ia letaki itu ditanah, lalu ia tambat kedua ekor kuda pada sebuah pohon. Kemudian, selagi Ngo Kim Piu bertindak naik ditangga, ia jongkok akan rapikan bungkusannya. Untuk kagetnya, ia dapati suatu barang yang kurang, ialah kasut mungil dan indah dari Ah Loan! Ia terkejut, hatinya memukul. Sia-sia ia cari kasut sulam itu di sekitarnya. Dari jauh-jauh dari Cin Nia ia bawa-bawa itu, disini lenyap tak keruan, bagaimana ia tidak bingung. Kim Piu sudah dapat cari satu penduduk gunung, berdiri disebelah atas, sahabat itu perdengarkan suaranya.

“Saudara Kang! Lekas kau panggul tua bangka itu naik kemari! Toako ini ada satu penduduk pemburu digunung ini, dia suka terima kita menumpang bermalam!“

“Mari turun!“ Siau Hoo balik memanggil. “Kau bawa bungkusan dan tua bangka ini, aku kehilangan serupa barang, aku hendak mencarinya dulu!“

“Apa yang hilang? Uang?“ tanya Kim Piu.

“Jangan kuatir kalau kehilangan barang disini!“ berkata  si pemburu, yang berdiri disampingnya Kim Piu, “Sekarang sudah malam, disini tidak ada orang lain! Besok siang kita boleh cari!“ “Jikalau hilang cuma delapan atau sepuluh tail, tidak apa,” Kim Piu-pun bilang. “Angap saja dengan itu kita persembahkan kepada Malaikat Gunung!“

Tetapi Siau Hoo tidak mau mengerti.

“Kau boleh beristirahat lebih dulu!” ia bilang. “Aku hendak balik untuk mencarinya, aku akan kembali dengan lekas.”

Lalu dengan bawa pedangnya, Siau Hoo lantas berjalan kembali.

Dari atas gunung, Kim Piu terawa terbahak-bahak. “Saudaraku  ini ada punya  tabeat  yang  kukoay sekali!“

kata  ia.  “Entah  ia  kehilangan  mustika  apa?“  Ia menoleh

pada pemburu dan berkata: ”Nah, toako, tolong kau bantui aku gotong makhluk yang rebah ditanah itu! Itu ada seekor harimau pitak putih yang saudaraku tadi memburunya!”

Siau Hoo mencari disepanjang jalan. Ia menuju ke Barat, tubuhnya membungkuk, kepalanya tunduk. Ia mesti pentang mata lebar-lebar. Cuaca sudah gelap, sedang jalanan penuh rumput tebal. Ia sudah jalan jauh, pinggangnya pegal, ia masih belum peroleh hasil. Maka itu dengan pikiran ruwet ia berhenti, ia berdiri untuk lempangkan pinggang. Ia sangat mendongkol, hingga ia jadi uring-uringan.

Sekian lama Siau Hoo berdiri mungsang mangsing, akhirnya ia insaf sendirinya bahwa ia ada terlalu totol.

“Ah! Bukankah ayah telah terbinasa di tangannya? Bukankah ketika aku masih kecil, aku sendiri beberapa kali hampir binasa ditangannya juga? Dia ada sangat jahat, dia telah buat susah penduduk sesama kampungnya, dia umbar murid-muridnya mengganas, malah di Sucoan dia telah binasakan Cu Siau Hiong, satu anak umur limabelas tahun! Tua bangka jahat seperti itu. Sesuatu orang harus membunuhnya, kenapa aku saban-saban tak tega turun tangan terhadapnya? Apa dengan begini aku terhitung satu laki-laki? Kenapa aku berati Ah Loan? Budi apa dia ada punya terhadap aku? Malah pohon yangliu kenang- kenanganku dia-pun membencinya, dia bacoki berulang- ulang! Kenapa aku mesti pikirkan kasut dia itu? Gila betul. Pikiranku benar-benar cupat seperti pikirannya seorang perempuan!“

Siau Hoo ambil putusan akan tidak cari lebih jauh kasut sulam itu. Dengan tengteng pedangnya ia balik kembali ketempat tadi. Ia mesti buang banyak tempo akan sampai diundakan tangga ditepi jalan itu, karena selama cari kasut, ia sudah pergi jauh juga, ia telah sia-siakan waktu. Kedua ekor kuda masih tertambat di tempat, tapi yang buat ia heran, ialah bungkusannya masih menggeletak ditanah, Kim Piu tidak bawa itu naik.

“Ah, Kim Piu terlalu alpa,“ kata ia  dalam hatinya. “Terang ia sudah terlalu ingin makan nasi wangi dari si pemburu hingga ia tak perdulikan lainnya lagi! Sifat keberandalannya masih terlalu mendalam, jikalau terus- terusan aku berada bersama-sama ia, ada kemungkinan akan terbit onar … Baik aku lekas-lekas habiskan jiwanya si tua bangka she Pau, lantas aku berikan ia sejumlah uang untuk berpisahan daripadanya! …”

Siau Hoo rapikan bungkusannya yang kemudian ia tenteng, sedang tangannya yang lain, mencekalkan terus pedangnya. Ia tidak mau bertindak diundakan tangga hanya ia enjot tubuhnya hingga sekejab saja ia  sudah sampai diatas, ialah rumahnya si pemburu, yang terbuat dari sebuah gua dilamping gunung, dibagian depannya ada jendela, dari mana ada sorot sinar api yang tidak terang. “Ngo Toako!” ia memanggil seraya ia hampirkan jendela itu.

Tidak ada suara jawaban dari dalam.

Pemuda itu bertindak kepintu, yang ia terus tarik. Yang pertama ia dapat lihat adalah sebuah mangkok hitam yang digantung diatas tembok, dalam mangkok mana ada puntung kertas terendam minyak, yang merupakan sumbu pelita, apinya memain bergoyang-goyang. Setelah itu, segera ia menjadi terperanjat oleh satu pemandangan yang mengherankan, yang sangat mengerikan.

Tiga buah mayat menggeletak malang melintang, darahnya melulahan. Yang pertama ada mayatnya Ngo Kim Piu, yang kedua adalah si pemburu, ialah tuan rumah. Dan yang ke tiga yang nyender ditembok, rambutnya panjang. Ketika Siau Hoo lompat mendekati dan tolak tubuh itu, ternyata adalah mayatnya seorang perempuan, ia menduga pada nyonya rumah, isterinya si pemburu, kepala siapa pecah, tanda bekas dihajar dengan besi.

Disebelah itu, disitu tidak terlihat Pau Cin Hui, tidak mayatnya, tidak tubuhnya yang bernyawa. Melainkan diatas dapur, terdengar kwali nasi yang bergelotokan, menyiarkan baunya yang wangi.

Dengan sekonyong-konyong Kang Siau Hoo banting kakinya.

“Oh, jahanam tua yang kejam!” ia berseru

Siau Hoo lepaskan bungkusannya ia lari keluar seraya bawa pedangnya, untuk mencari. Akan tetapi cuaca ada gelap, pepohonan lebat, angin-pun keras. Kemana ia mesti mencarinya? ia loncat turun kebawah dimana ia dapatkan kudanya masih belum terganggu. “Pasti ia belum lari jauh ... “ pikir Siau Hoo, yang segera jalan terus akan melanjutkan mencari Pau Cin Hui. Ia duga jago tua ini yang bisa loloskan diri Kim Piu dan si pemburu suami-isteri dan kemudian kabur atau sembunyi. Maka ia hendak cari.  Dengan lekas ia sampai dimana tadi ia berhenti selagi ia cari kasut sulam. Dari sini, karena ia tidak dapatkan jago Kun Lun Pay, ia  mencari lebih jauh. Ia berlaku sangat teliti. Sayang sekali langit ada sangat gelap dan pepohonan banyak, hinga dimana saja, gampang untuk orang umpatkan diri.

Siau Hoo menjadi uring-uringan, karena ia mencari dengan sia-sia, hingga ia bacok batu besar didepannya, sampai lelatu apinya terbang berhamburan.

“Pau Cin Hui, anjing tua!” ia berseru dengan caciannya. “Anjing tua, kau kejam sekali! Selagi aku tindak ada, kau bunuh sahabatku, juga kau binasakan pemburu suami dan isteri yang tiada bersalah-dosa? Anjing-tua, apakah kau kira kau bisa lolos dari tanganku? Jikalau Kang Toaya bisa beri kau hidup sampai tiga hari, Kang Toaya bukannya satu hoohan! Tua-bangka kau keluar, jangan kau tetap sembunyikan diri.”

Percuma saja pemuda ini umbar amarahnya, ia tidak dapat jawaban. Maka ia mencari lagi, ia mencari lagi, ubak- ubakan. Akan tetapi hasilnya nihil.

“Dasar aku!“ akhirnya Siau Hoo persalahkan dirinya sendiri, “Jikalau aku tidak pergi cari kasut walau-pun dia hendak kabur, tak nanti dia berani dan mampu lakukan! Aku sudah berlaku alpa! Pastilah ia  berhasil berontak melepaskan diri dari ringkusan, entah ia pakai gegaman apa menghajar mampus pula Kim Piu dan si pemburu, juga isterinya pemburu ini! Ngo Kim Piu adalah berandal, kebinasaannya aku tidak terlalu sayangi, meski benar  ia baik dan setia padaku, tidak demikian dengan si pemburu dan isterinya, mereka tidak punyi salah-dosa, mereka telah jadi kurban keganasan! Memang kenyataan ia si tua bangka yang bunuh mereka, tetapi sebenarnya akulah yang menyebabkan itu. Jikalau hatiku tidak lemah dari siang- siang bunuh anjing tua itu, tak mungkin terjadi perkara sehebat ini.”

Angin malam menderu-deru makin keras.

Siau Hoo gusar dan sengit, berbareng ia-pun berduka. Sambil mencaci, mengutuk, ia mencari pula sampai sekian lama. Satu kali ia berada diatas, ia  lihat cahaya api disebelah bawah. Ia menyangka pada rumah orang, ia lantas loncat turun. Nyata itu adalah rumahnya si pemburu yang malang nasibnya, daun pintunya terpentang. Karena ketika tadi ia lari keluar, ia tak ingat akan rapatkan itu.

Bau wangi dari nasi yang baru matang sudah hilang dan cahaya api-pun makin remang-remang.

Sambil kertek gigi Siau Hoo bertindak masuk kedalam rumah gua itu. Ia tunduk. Sekarang ia bisa melihat dengan terlebih nyata. Diantara darah yang mengumplang mayatnya Kim Piu dan si pemburu rebah dengan kepala masing-masing pecah remuk. Sungguh menggiriskan keadaannya semua mayat itu …

Siau Hoo berdiri diam, akhirnya ia menghela napas. Ia ambil bungkusannya yang ia terus gondol. Ia telah memikir untuk meninggalkan rumah gua itu untuk mencari terlebih jauh pada Pau Cin Hui. Belum sempat ia memutar tubuh, mendadak ada angin  yang menyambar keras. Ia kaget segera lompat berkelit kesamping.

Menyusul itu, satu suara bagaikan guntur terdengar, batu tembok gempur berhamburan! Kapan Siau Hoo menoleh, ia tampak satu hweeshio yang tubuhnya tinggi dan besar, mukanya hitam legam, matanya gede, sedangkan kumis-jenggot dan berewoknya kaku mirip dengan duri landak kedua tangannya memegang sebatang toya besi bagaikan tiang rumah besarnya maka beratnya bisa dimengerti. Toya itu licin dan mengkilap. Dialah yang membokong dengan serangannya yang hebat luar biasa itu.

Siau Hoo tidak jadi kaget atau keder, segera ia membabat mukanya penyerang itu.

Hweeshio itu angkat toya besinya menangkis, ketika kedua senjata beradu sambil perdengarkan suara keras, ia terus menekan pedangnya Siau Hoo, berbareng dengan mana terdengarlah suaranya yang bagaikan guntur dan bengis

“Kang Siau Hoo! Apakah kau anggap kau sendiri saja enghiong nomor satu dalam dunia ini? Bagaimana hebat kau hinakan Pau Loo-piausu! Di Loo Su Nia-pun kau sudah begal satu keluarga tiekoan. Berandal, sekarang aku hendak bekuk padamu!”

Oleh karena pedangnya ditekan, dengan cepat Siau Hoo lepaskan pedangnya dan sebaliknya pakai kedua tangannya menyekal ujung toya. Atas ini, si pendeta tidak sempat tarik pulang toya besinya itu.

“Hweeshio, aku larang kau mencaci aku!” pemuda itu balas menegor. “Aku Kang Siau Hoo ada satu enghiong, satu hoohan! Ketahuilah bahwa Pau Cin Hui itu ada musuh besarku! Aku bekuk dia di Sucuan Utara, aku bawa dia sampai disini. Pembegalan di Loo Su Nia adalah perbuatannya Liong Cie Khie, yang sudah pakai namaku

…”

“Hm, hm!“ si pendeta perdengarkan hinaannya, seraya dengan kedua lengannya yang besar dan kasar, yang berbulu hitam, ia coba tarik toyanya, untuk melepaskannya dari tangan musuh. Tapi Siau Hoo memegangnya dengan keras, ia tak ijinkan orang rebut terlepas gegamannya itu.

“Apakah namamu Tiat Tiang Ceng?” pemuda ini segera menanya. Ia sudah lantas bisa menduga, “Jikalau kau benar Tiat Tiang Ceng adanya, aku tahu kau juga ada satu hoohan dalam kalangan Sungai Telaga. Pada sepuluh tahun dulu, aku pernah lihat tiga toya besimu yang kau tinggalkan dirumahnya Long-tiong-hiap Cie Khie di Long-tiong. Aku- pun kenal muridmu yang bernama Wan Keng Goan, ia-pun sahabat kekalku. Baiklah kita jangan bercidera, jangan kita bertempur, apa pula sampai ada yang mati! …“

Tiat Tiang Ceng demikian pendeta itu masih mencoba menarik pulang Toyanya, untuk itu ia sampai berkerot gigi dan berdegingan.

“Apakah kau takut mampus?“ dia menanya, dengan sangat sengit. “Jikalau kau takut mampus, jangan kau masuk dalam kalangan Sungai Telaga untuk berpura-pura menjadi jago!”

“Hm!‘ Siau Hoo menghina. “Jikalau kita mesti adu jiwa, masih belum tentu siapa yang mampus dan siapa yang hidup! Tapi sudah lama aku hargai nama besarmu, dari itu, aku ingin jelaskan kepadamu hal-ikhwalnya permusuhanku dengan pihak Pau, sesudah itu barulah kita bertempur!”

Tiat Tiang Ceng menjerit, suaranya nyaring seperti tambur atau guntur hingga kupingnya Siau Hoo ketulian. Tambah pula ia menjejak tanah berulang-ulang, hingga batu-batu pada pecah dan hancur.

“Sedari siang-siang aku sudah ketahui kejahatanmu!“ demikian ia berteriak-teriak. “Sudah lama aku dengar itu! Aku hendak wakili kaum Kangou menyingkirkan biang malapetaka! Aku hendak buat remuk tubuhmu, manusia busuk!”

Sembari mencaci demikian, pendeta itu pasang kuda- kudanya, lalu ia keluarkan ia punya ‘tenaga untuk pindahkan bukit’ dengan tubuh doyong kebelakang, ia tarik toyanya. Tapi, selagi ia keluarkan semua tenaga kekuatannya, dengan tiba-tiba Siau Hoo lepaskan cekalannya, hingga tidak tempo lagi, Tiat Tiang Ceng rubuh terguling bagaikan gunung rubuh!

Begitu lekas melepaskan cekalannya, Siau Hoo samber pula pedangnya, untuk menyerang.

Pendeta si “Toya Besi” itu ada gesit luar biasa. Berbareng jatuh, ia tahu, musuh tentu bakal susul ia maka itu setelah gulingkan diri, sambil bawa toyanya, ia loncat keluar gua, sesampainya diluar, ia menjerit, “Hayo kau keluar!“ ia pun, dengan toyanya yang kuat, hajar jendela hingga hancur, kemudian, berulang-ulang ia pukul tembok rumah, seraya mulutnya menantang lagi : “Hayo, kau keluar! Kau keluar!“

Siau Hoo berlaku cerdik, selagi bertindak kemuka pintu, ia samber mangkok pelita minyak, dengan itu, ia menimpuk keluar, lalu membarengi, ia mencelat, pedangnya disiapkan.

Oleh karena timpukan mangkok pelita, Tiat Tiang Ceng tidak bisa papaki lawan, ketika nampak tubuh Siau Hoo barulah ia menyambut dengan toyanya.

Sekali ini, Siau Hoo sudah siap, ia tidak mau  tangkis toya berat itu, ia hanya berkelit, sesudah berkelit, ia balas menyerang. Ia tikam perut lawannya

”Trang!” suara terdengar.

Gesit luar biasa, pendeta tangguh itu bisa tangkis tikaman, sesudah mana, ia putar gegamannya, ia menyerang pula. Toya itu perdengarkan samberan angin. Ia-pun balas sodok perut satrunya.

Siau Hoo berkelit pula, dengan loncat keatas sebuah batu besar.

Tiat Tiang Ceng lompat menyusul, toyanya menyamber, dari atas ke bawah. Kemplangan ini ada hebat luar biasa, ketika toya turun, toya itu menerbitkan suara sangat keras. Yang kena dihajar adalah batu dimana barusan si anak muda berdiri, si anak muda sendiri sudah lompat pergi. Batu besar itu hancur dan muncrat berhamburan!

Napasnya Tiat Tiang Ceng memburu ia, ada sangat gusar, ia-pun sudah keluarkan tenaga terlalu besar.

“Kang Siau Hoo! Kau lari?“ ia membentak, dengan ejekannya. “Apakah kau takut padaku? Dengan lari, apakabhkau bisa jadi satu enghiong? Mari!”

Selagi ia mengucap demikian, pendeta ini terperanjat. Tahu-tahu angin menyambar ke arah kupingnya. Ia segera membungkuk, kepalanya diberi tunduk, atas mana, samberan pedang lewat diatas kepalanya. Tapi sekarang si anak muda berada disebelah belakang, selagi orang membungkuk, ia ayun kakinya!

Tidak ampun lagi, Tiat Tiang Ceng rubuh ngusruk! Tapi ia tidak terluka, ia-pun tetap gesit. Sambil berlompat, ia bangun, lalu ia putar tubuh, untuk menyerang pula dengan toyanya. Toyanya itu kembali tidak mengenai sasarannya, yang ia kena hajar adalah batu dimata barusan Kang Siau Ko berdiri. Siau Hoo sendiri sudah berkelit hingga lenyap bersama bayangannya. Bukan main mendongkolnya pendeta jagoan ini, ia tahan toyanya, napasnya mengorong.

“Bangsat!” ia mendamprat. “Tikus! Kau cemarkan namanya gurumu!“ Cacian ini dikeluarkan, diulangi, sampai beberapa kali, ia tidak dengar jawaban suatu apa. Percuma ia  melihat kelilingan, sang lawan lenyap entah kemana. Maka terpaksa, dengan bawa toyanya, ia buka tindakan lebar. Ia berjalan turun. Ia jalan baru beberapa tindak, tiba-tiba  ia rasa ada orang cekal dan  tahan toyanya dari belakangnya. Ia terperanjat, ia berpaling.

Juseru itu pedang menyamber kearah mukanya. Gesit luar biasa, ia membungkuk, ia berkelit.

Kang Siau Hoo tidak mau memberi ketika. Setelah sabetannya gagal, tangannya diputar terus, naik keaas, untuk diturunkan pula, dengan satu bacokan. Akan tetapi sekarang Tiat Tiang Ceng sudah sedia, belum lagi ujung pedang turun, sebelah kakinya sudah terangkat, mendupak ke atas, mengenai orang punya ugal-ugalan, atas mana, pedangnya si anak muda terlepas, terpertal terbang!

Bukan main girangnya pendeta itu, dengan sebat,  ia gerak toyanya. Tapi sekarang Siau Hoo balas mendahului ia, ia kena ditendang dengan tak ampun lagi begitu keras, hingga ia rubuh terbalik, bersama toyanya, tubuhnya yang besar menggelinding, jatuh kebawah! Sesampainya ia di bawah, dengan toyanya terlepas, ia lantas merayap untuk bangun pula. Diluar sangkaannya, laksana burung, Siau Hoo loncat turun, pada orang punya tubuh sekali, dan orang punya tubuh besar bagaikan kerbau, segera ditekan!

Siau Hoo juga punyakan tenaga besar sekali, sudah begitu, ia berlaku sangat sebat belum sempat si pendeta berbudi, kepalanya sudah dikasi bekerja, pada orang punya kepala. Cuma dengan satu bogem mentah. Tiat Tiang Cen rasai kepalanya pusing, hampir ia pingsan. Tapi ia masih sadar akan dirinya, dari itu, ia lantas ulur sebelah tangannya akan menotok orang punya dada. Dia memang ada punya Tiam-hiat-hoat ilmu menotok jalannya darah, yang lihay. Kang Siau Hoo tahu pendeta ini ada punya ilmu totok yang lihay itu, melihat orang punya tangan bergerak, ia segera lompat mundur, akan jauhkan diri dari tubuh musuh, sesudah mana, ia jumput orang punya toya yang berat, yang ia bawa lari ke arah barat.

Tiat Tiang Ceng lompat bangun, ia lantas mengejar. Ia mengepal keras kedua kepalannya, untuk menuntut balas.

Lari baru beberapa tindak, Siau Hoo loncat naik keatas batu besar di pinggiran. Disini ia bersiap dengan toya hweesio itu. Begitu lekas ia dapati si pendeta sudah datang cukup dekat, dengan tiba-tiba, ia ayun toya musuh, untuk pakai itu menghajarnya.

Tiat Tiang Ceng sedang mendongkol sekali, kepalanya- pun masih rada pusing, ia tidak lihat sang lawan lagi tunggui padanya, hingga ia kena dibokong, akan tetapi ia liehay, ia dengar samberan angin, segera ia hunjuk ia punya ketangkasan. Ialah ia ulur kedua tangannya, sebelum toya turun, ia menyambuti, untuk cekal ujungnya.

Anak muda itu terganggu oleh orang punya toya yang berat luar biasa, walau-pun ia bisa angkat itu dan gunai, tidak urung, serangannya turun sedikit lambat, maka itu si pendeta sempat samber toyanya. Hingga sekarang, kembali berdua mereka menyekali masing-masing satu ujung, hingga keduanya main saling tarik pula.

Dua lawan ini, yang sama-sama tangguh, telah adu mereka punya kekuatan. Tiat Tiang Ceng ada punya tenaga raksasa, tapi ia tidak mampu betot lawannya, siapa sebaliknya ada punya beh-sie, kuda-kuda, yang kuat sekali, dengan begitu, kekuatan mereka jadi berimbang.

Sesudah berkutet sekian lama, Siau Hoo bertindak naik kesebelah atas. Ia hendak cari jalan. Tidak mau ia lepaskan orang punya toya. Tiat Tiang Ceng tidak bisa rampas toyanya itu, ia-pun memikir akal, dari itu, ia ikuti orang naik. Ia pegang keras ujung toyanya, agar musuh tidak bisa gentak terlepas ia punya cekalan.

Mereka sudah naik tinggi juga keatas gunung ketika Kang Siau Hoo, lagi-lagi, lepaskan cekalannya dengan tiba- tiba, sembari melepas, ia mendorong. Adalah ia  punya maksud, akan buat orang rubuh dan jatuh seperti tadi didalam gua batu.

Entah ia sudah bersedia, Tiat Tiang Ceng tidak kena dibuat rubuh terguling karenanya, hanya ketika dia toh jatuh juga, dia jatuh terduduk, menyusul mana, tubuhnya mencelat bangun, toyanya dipakai menyerang dengan hebat.

Siau Hoo lompat menyingkir dari serangan itu, yang mengenai batu dimana ia taruh kaki, hingga terdengar suara nyaring. Tapi ia tidak lompat jauh kebelakang atau kesamping, hanya ia  loncat turun, melewati kepala si pendeta, hingga ketika kakinya injak tanah, ia  berada justeru di belakang pendeta itu, hingga kakinya  yang sebelah bisa lantas mendupak!

Sekali ini biar ia ada sangat gesit, Tiat Tiang Ceng tidak sempat berkelit atau memutar tubuh seraya menyabet dengan toyanya, ia punya pinggang kena ditendang dengan telak, hingga ia rubuh ngusruk. Tubuhnya tengkurep. Ia telah mencoba akan segera merayap bangun, sia-sia saja percobaannya itu. Memangnya ia punya kepala masih pusing, ia punya tenaga berkurang, tapi yang paling celaka, pinggangnya patah. Meski begitu, dengan napas memburu keras, ia masih pegangi keras-keras ia punya toya.

Selagi lawan itu rubuh, Siau Hoo lompat ke orang punya samping. Ia tidak mau tunggu sampai pendeta itu keburu berbangkit, dengan cepat ia mendupak pula, atas mana tubuh besar dari Tiat Tiang Ceng terpental, jatuh menggelinding, terus turun kebawah gunung. Berbareng dengan itu, ada potongan batu yang kena tersampok tubuh dan jatuh bersama.

Masih Siau Hoo kuatir musuh itu tidak terbinasa, ia berniat loncat turun, akan menyusul, untuk binasakan padanya, akan tetapi selagi ia memikir demikian, tiba-tiba ia dengar jeritan hebat, yang datangnya dari bawah. Jeritan itu ada menggiriskan, berkumandang di lembah-lembah. Itulah jeritannya si pendeta, hingga anak muda ini berdiri melengak.

Adalah setelah lewat sedikit saat dan dari bawah ia tidak dengar suara apa-apa lagi, Siau Hoo barulah turun dengan hati-hati. Sampai dibawah, ia masih tidak dengar suaranya si pendeta, ada juga hanya suara angin berkesiur. Ia tidak dapat lihat tubuhnya Tiat Tiang Ceng serta toyanya dia ini, entah pendeta itu menggelinding jatuh kemana. Cuma diatas langit kelihatan berkelak-keliknya sejumlah bintang. Mengawasi   dari   lembah,   langit   tampaknya    ciut. Lama Siau Hoo berdiri, memasang mata dan kuping, maka ia percaya, pastilah pendeta itu telah terima ajalnya.

Dengan berdiri diam, Siau Hoo jadi seperti ngelamun. Sejak ia keluar dari rumah perguruan, baru ini kali ia hadapi satu lawan yang demikian liehay dan  tangguh. Benar ia telah keluar sebagai pemenang, akan tetapi ia toh rasai kedua bahunya kesemutan. Umpama itu waktu ada datang pula satu musuh seperti si pendeta, mungkin ia bakal nampak bencana. Maka itu, sembari beristirahat, ia merasa sukur sekali.

Akhirnya Siau Hoo bertindak, untuk meninggalkan Lembah itu. Baru jalan beberapa tindak, ia merandek. Ia merasa bahwa ia telah tersesat. Tadinya ia kenali jalanan, pertempuran dengan Tiat Tiang Ceng, yang buat ia pergi sana pergi sini, buat ia berkisar dari tempat yang  ia kenali itu.

Cahaya bintang-bintang tidai bisa dipakai untuk mengenali jurusan, sukar untuk bedakan mana selatan dan mana utara. Cuaca juga tetap gelap.

“Tidak ada lain jalan, terpaksa aku mesti berdiam disini, menantikan datangnya sang fajar,” akhirnya pemuda ini pikir. Karena ia anggap, percuma ia jalan sejalan-jalannya saja dirimba atau gunung itu. Maka dengan perantaraan kakinya ia mencari sebuah batu besar, untuk ia  duduk bercokol.

Sekarang, dalam kesunyian, Siau Hu berpikir pula. “Pastilah  Tiat  Tiang  Ceng  sudah  terima  kabar  dan  ia

telah susul aku, rupanya selagi aku giring Pau Kun Lun, dia menguntit,   kemudian   dia   sengaja   ambil   jalan motong,

untuk menantikan aku disini. Disini ia telah dapatkan ketikanya yang baik selagi aku tinggalkan Kim Piu dan Pau Kun Lun, dia datang tolongi jago tua itu dengan berbareng binasakan Kim Piu serta suami isteri pemburu itu dengan dia punya toya besi. Coba bukannya aku, pasti Tiat Tiang Ceng akan dapat binasakan dia punya tandingan …”

Ingat sampai disitu, tiba-tiba hatinya pemuda itu menjadi panas, hingga ia berbangkit dengan berlompat.

“Apakah Pau Cin Hui boleh lolos secara begini saja?“ ia kata seorang diri ia tanya dirinya sendiri, “Apakah aku mesti sia-siakan saja aku punya cape-lelah selama sepuluh tahun aku mendendam sakit hati? Tidak! Asal aku dapat bekuk pula padanya, dia tak boleh dapat ampun lagi!”

Selagi ia ngoceh seorang diri tiba-tiba Siau Hoo dengar berbengernya kuda. Ia jadi girang. Lantas ia pasang kuping. Suara itu datang dari tempat jauh. Selang sesaat, kembali terdengar suara binatang itu, sampai dua kali. Tidak tempo lagi Siau Hoo bertindak kearah dari mana suara datang. Ia mesti jalan dengan perlahan, dari itu, ia perlu ambil tempo. Diakhirnya, ia toh sampai juga di tempat dimana sang kuda perdengarkan suaranya. Nyata itu adalah ia punya kuda sendiri, di tempat dimana binatang itu ditambat sejak tadi sore. Disini, ia menjadi terkejut, saking herannya.

Ngo Kim Piu dan si pemburu suami dan isteri telah terbinasa, Pau Kun Lun sudah hilang, Tiat Tiang Ceng rupanya terbinasa juga, tapi aneh, kuda tinggal satu. Kemana perginya yang seekor lagi? Apa bisa jadi, Tiat Tiang Ceng telah tidak terbinasa, dia bisa datang pula ketempat itu, untuk kabur dengan seekor kuda itu? Tak bisa jadi. Tak bisa jadi juga yang kuda itu ngamuk dan telah putuskan tambang tambatannya dan kabur sendirinya.

Untuk sesaat, Siau Hoo berdiri diam. Ia sampai memikir untuk naik keatas, akan pegi kerumah gua, guna ambil nasi, tetapi dilain saat, ia batalkan niat itu. Ia ingat, pelita telah padam, didalam gua ada banyak darah. Bagaimana besok ia bisa buat perjalanan? Pasti orang akan curigai ia dan menyangka jelek terhadapnya! Itulah berbahaya!

Maka ia lantas duduk numprah, ia menahan lapar, ia lawan serangannya angin yang dingin. Sukur, setelah lewat sekian lama, cahaya fajar sudah mulai berbayang, hanya sang angin menghembus-hembus makin dingin. Ia punya kuda, yang berada disampingnya, menderita sangat dari hawa dingin, haus dan lapar, hinga dia berbenger pula berulang-ulang.

Lagi sekian lama, lantas burung-burung pada  bangun dari tidurnya dan mulai perdengarkan cecowetannya yang berisik. Sinar terang-pun mulai muncul disebelah timur. Sekarang, tak membuang tempo tagi, Siau Hoo naik keatas. Ia lihat jendea telah rusak, tembok ada bagiannya yang gempur. Didalam situ mayatnya Ngo Kim Piu ada, suami isteri pemburu itu ada sangat mengenaskan terlihatnya, darah yang melulahan sudah menjadi beku.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 24"

Post a Comment

close