Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 02

Mode Malam


Jilid 02

SEKARANG Cie Seng insyaf, ia masgul bukan main. Ia berpikir untuk pulang, ia kuatir Pauw Kun Lun mencegatnya di tengah jalan. Minggat? Ia benar-benar merasa berat buat melakukannya. Syukur buat ia, dalam kesulitan itu kekasihnya telah hiburkan ia.

Selama itu, sang tempo lewat tanpa dirasa.

Tiba-tiba dari luar ada terdengar suara yang nyaring dan garang, “Cie Seng, keluarlah!” Bukan main terkejutnya Cie Seng karena ia kenali suara itu. Tapi ia samber goloknya.

“Siapa yang datang?” tanya nyonya Louw yang juga kaget, hingga ia cekal orang punya lengan.

“Kau jangan tanya,” jawab Cie Seng yang tolak tubuh orang. Ia bertindak keluar, mukanya pucat, tangannya yang memegang golok bergemetar. Ketika ia muncul di pintu, ia lihat diluar ada berdiri gurunya, yang tubuhnya besar dan garang laksana pagoda besi! Air mukanya guru itu, dengan kumis dan jenggot yang putih, diliputi dengan hawa kemurkaan. Di belakangnya guru ini ada Lauw Cie Wan, Tan Cie Cun dan Ma Cie Hian.

Pauw Cin Hui lantas saja angkat goloknya.

“Cie Seng, apakah kau masih kenal padaku?” guru ini menegur, suaranya angker.

Cie Seng rasai seperti guntur menyamber kepalanya, hingga tubuhnya gemetar. Dalam keadaan mogok seperti itu, ia dapat satu pikiran. Maka segera ia angkat tangannya, yang menyekal golok, untuk memberi hormat.

“Bagaimana aku boleh tidak kenal suhu?” kata ia.

“Kau masih kenal aku, bagus?” kata sang guru seraya manggut-manggut. “Mari kau ikut aku!”

Cie Seng dengan terpaksa ikut gurunya itu. Di belakangnya itu ada turut Cie Cun bertiga.

Mereka pergi keluar dusun, sampai di kaki bukit, ditegalan. Disini Pauw Kauwsu hentikan tindakannya, ia berpaling menghadapi muridnya sambil menunjuk dengan tangannya yang menyekal golok.

“Tapi kau telah lukai Cie Po dan bilang bahwa kau hendak putuskan perhubungan diantara guru dan murid, malah kaupun tantang aku datang kemari, adakah itu  benar? ” guru ini tanya.

Cie Seng geleng kepala.

“Aku tidak mengucap demikan,” ia menyangkal dengan terpaksa. “Mana aku berani? Mengenai Pauw Suko dan Ciu Suko, aku lukai mereka karena terpaksa, karena mereka hendak rampas jiwaku, dalam bingungku aku kesalahan gunai golokku ... !”

“Dia mendusta, suhu!” Cie Cun dan Cie Wan berseru. “Dia memang licin!”

“Diam kau!” kata sang guru, yang goyangi tangan kepada dua muridnya itu. Ia hadapi pula muridnya yang kepala besar, ia bersenyum dingin. “Kau jangan takut,” ia bilang. “Kau telah lukai kedua suhengmu itu, tidak apa, itu malah menunjukkan bugeemu yang sempurna. Seumur hidupku, aku paling gemar melihat orang punya bugee liehay. Juga tidak keliru pembilanganmu bahwa kau ingin tempur aku. Selama tigapuluh tahun dikalangan kang-ouw, belum pernah ada seorang juga yang berani lawan aku, tanganku jadi gatal, maka sekarang muncul seorang muridku yang ingin main-main denganku, ini ada sangat menggirangkan hatiku. Mari, kau boleh maju Aku tidak perlu dengan bantuan siapa juga, mari kita adu golok dengan golok, sampai sepuluh jurus. Aku tidak mestikan kau menangi aku, cukup asal kau sanggup menangkis, asal dalam sepuluh jurus kau sanggup lindungi jiwamu,  aku akan lempar golokku, aku rela patahkan tanganku, supaya selanjutnya, untuk selama-lamanya, aku tidak terima murid pula!”

Cie Seng tidak berani maju sekalipun ia sudah ditantang. Keterangan dari sang guru, yang telah kendalikan amarahnya, membikin ia takut, hingga giginya bercatrukan. “Aku tidak berani lawan suhu, aku tidak menantang,” kata ia.

Pauw Kun Lun tertawa dingin.

“Pengecut!” kata ia sambil menuding, sikapnya keren. Kemudian ia tambahkan, “Kau telah menyangkal, baiklah. Tapi kau ganggu isteri orang, dengan itu kau telah langgar pantangan kita yang paling utama! Adakah itu benar?”

Giginya Cie Seng masih bercatrukan, ia manggut.

Melihat orang manggut, dengan sekonyong-konyong amarahnya guru silat itu jadi meluap, hingga air mukanya jadi merah padam, kedua biji matanya melotot, mengeluarkan sinar sangat tajam.

“Bagus!” berseru ia, yang angguk-anggukkan kepala. “Kau telah berjina, itu artinya kematian! Hayo berlutut, supaya Sukomu bisa hukum mati padamu!”

Guru ini gapei Tan Cie Cun, maksudnya supaya murid itu yang wakilkan ia jalankan hukuman itu.

Titah itu membikin tangannya Cie Cun sedikit menggetar.

Mukanya Cie Seng menjadi pucat, dalam takutnya itu, ia masih mau hidup, maka dengan tiba-tiba ia lari ke arah Selatan. Bukan alang-kepalang murkanya Pauw Kauwsu.

“Kau hendak mabur kemana?” ia  berseru, terus ia mengejar. Iapun serukan murid-muridnya akan ikuti ia.

Guru silat tua ini bisa lari keras, sebaliknya Cie Seng, yang ketakutan lari dengan pikiran kalut dan bingung, maka belum banyak tindak, ia sudah kecandak. Selagi jarak mereka ada dua tindak, Cin Hui loncat seraya ayun goloknya ke arah bebokong muridnya. Dalam keadan sebagai itu, Cie Seng ada sebagai seekor binatang mogok, karena iapun masih sayangi jiwanya,  ia tak ingin binasa secara kecewa. Dengan tiba-tiba ia putar tubuhnya, ia ayun goloknya untuk menangkis.

Kapan kedua senjata bentrok satu pada lain, suara nyaring dan keras segera terdengar. Hampir Cie Seng  menjerit karena ia rasakan tangannya sakit bukan main, goloknya terlepas dengan lantas. Tidak buang tempo lagi ia kabur keatas bukit.

Pauw Kun Lun gusar sangat, ia menguber pula tapi ia mesti mendaki bukit, inilah hebat, sebab di sebelah sudah berusia lanjut, tubuhnya-pun ada gemuk sekali, ia tidak bisa geraki kedua kakinya seperti di tanah datar, baru beberapa tindak, napasnya sudah memburu.

Napasnya Pauw Kun Lun mendesak, mukanya dari merah padan menjadi pucat, keninganyapun segera keluar, turun menetes.

“Jangan kau perduli akan aku!” ia berseru seraya banting kaki. “Pergi naik keatas bukit, gusur turun pada Cie Seng!”

Cie Hian tahu tabiat gurunya itu.

“Kau jaga suhu,” ia kata pada Lauw  Cie Wan, sedang Ce Cun ia ajak mengejar ke atas bukit. Tatkala mereka sampai di atas, mereka lihat Cie Seng sedang lari naik disebuah puncak. Tentu saja mereka tidak sanggup menyusul, memang sebenarnya mereka tidak niat mengejar terus. Maka itu mereka berdiri mengawasi saja.

“Tak dapat kita susul dia,” Cie han kata. “Lagi-pun kalau kita dapat tangkap ia, apa kita hendak bikin? Apa benar-benar kita bisa serahkan dia pada suhu untuk suhu bunuh nanti? Apakah itu tidak akan menerbitkan kesulitan.” “Aku lihat tabiat suhu jadi hebat sekali,” Ci Cun jawab. “Tubuh suhu sudah kurang kuat, lebih baik kita tengok padanya buat diajak pulang dulu.”

Cie Hian manggut.

Keduanya lantas berlari-lari turun. Mereka dapat menbujuki guru mereka. Cie Hian tolong bawakan golok gurunya, Kun-lun too. Cie Wan dan Cie Cun pepayang guru ini akan turun gunung, setelah mana, mereka terus berjalan pulang.

Selama di tengah jalan, napasnya guru silat ini masih mengorong, sesampainya di rumah, lantas saja ia rebahkan diri untuk beristirahat, maka itu, tidak lana berselang, napasnya telah kembali tenang seperti biasa.

Cie Lim yang terluka, yang lukanya tidak hebat, hampirkan ayahnya, buat menghiburkan, tapi ia justru menyebabkan kemurkaannya ayah itu terbangun pula.

“Dasar tahang nasi!” membenlak ayah ini sambil banting-banting kakinya. “Kau tidak pernah belajar sungguh-sungguh, sekarang kau kena dilukai oleh satu murid yang belajar belum empat tahun! Kalau kejadian ini tersiar, apakah aku tidak malu! Pasti orang tertawakan aku, habislah nama baikku selama empat puluh tahun!”

“Cie Seng tentu tak dapat lari jauh,” sang anak masih coba menghibur. “Dia ada punya rumah tangga, lagi dua hari dia mesti pulang ke rumahnya. Kalau dia tidak pulang, terlebih dahulu aku nanti labrak anak isterinya!”

“Telur busuk!” Pauw Kauwsu mendamprat. “Ucapaimn adalah ucapan bangsat! Cie Seng yang langgar aturan, ada apa hubungannya dengan anak-isterinya? Lekas pergi!”

Dalam mendongkolnya Pauw Kauwu mendupak. Cie Lim lari keluar.

Cie Han bertiga Cie Cun dan Cie Wan kembali menghiburi dan membujuki guru mereka, tetapi sang guru ada terlalu mendongkol untuk bisa lekas dibikin sabar.

“Sekarang juga kau berangkat dengan tunggang kuda!” guru ini titahkan Cie Hian. “Kau pergi ke Ci-yang panggil ke tiga Suhengmu! Mereka mesti segera berangkat!”

Cie Hian terima titah itu, tetapi hatinya takut bukan main, diam-diam ia keluarkan keringat dingin. Ia keluar akan siapkan kuda, dengan itu ia pulang dahulu ke kota, ke rumahnya.

“Hebat,” kata ia, yang ketemui isterinya kepada siapa ia tuturkan lelakonnya Cie Seng dan perintahnya gurunya. “Sekarang lekas kau pergi pada encie misanmu, suruh dia pergi pada suhu akan mohon sambil berlutut, supaya suhu suka kasih ampun pada ciehu Cie Seng ... Kau tidak tahu,” ia tambahkan, “di Cie-yang, jie suheng Liong Cie Teng, sam-suheng Liong Cie Khie, dan cit-suheng Kee Cie Beng, semua bugeenya tinggi dan hatinya telengas, jikalau mereka datang, jiwanya Cie Seng tidak dapat ditolong lagi. Nah, lekas kau pergi, kau minta enciemu empo anaknya pergi pada suhu!”

Nyonya Ma, ialah Lie-sie, turut perkataan suaminya, dengan sewa keledai ia lantas berangkat ke rumahnya Cie Seng.

Cie Hian taat pada gurunya, tidak ayal lagi ia berangkat ke Cie-yang.

Ketika itu Oei-sie di rumahnya sudah ketahui apa yang terjadi dengan suaminya. Ia gusar dan benci suaminya kalau dia ingat suaminya sudah main gila kepada perempuan diluaran, tapi mengingat yang jiwa suaminya terancam bahaya maut, ia jadi berduka dan bingung, hingga ia menangis. Selagi ia bersusah hati, datanglah Lie-sie, adik misannya. Ketika itu Siau Hoo pergi keluar dusun dengan bawa-bawa toyanya, dan Siau Louw sedang tidur.

“Oh, kau datang, adikku!” sambut saudara itu. “Ya enci,” sahut Lie-sie.

“Aku datang dengan kabar jelek.”

Lie-sie lantas tuturkan halnya Cie Seng.

“Aku sudah ketahui, aku justeru sedang pikirkan urusan itu.”

“Enci jangan bingung,” kata Lie-sie, yang lantas sampaikan pesan dari Cie Hian. “Enci mesti bertindak cepat.”

Nasihat ini membikin Oei-sie bersangsi. “Bagaimana aku bisa lakukan itu?” kata ia. “Tidak biasanya aku pergi ke rumahnya Pauw Kausu, sedang sekarang aku mesti memohon belas kasihannya ...”

“Tetapi daya lain tidak ada enci.” Lie-sie bilang. “Aku nanti lihat anakmu, kau lekas pergi pada Pauw Kauwsu, kau mesti berlutut di depannya dan mohonkan keampunan bagi jiwa suamimu!”

Oei-sie kena didesak.

“Baiklah, aku akan pergi mencobanya,” kata ia, yang terus sisirkan rambutnya dan salin pakaian yang bersih. Ia pergi sambil berpikir. “Apakah tidak keterlaluan jikalau aku berlurut di depannya Pauw Kausu? ” Ia masih sangsi ketika ia sampai di depan rumahnya Pauw Cin Hui. Kebetutan sekali, seorang lelaki umur tigapuluh lebih yang tubuhnya kate, keluar dari pintu depan. “Numpang tanya, apakah Pauw Kauwsu ada di rumah? ” ia tanya orang itu sambil memberi hormat. “Aku ada isterinya Kang Cie Seng, aku hendak ketemui Pauw Kauwsu untuk mohon ampun bagi Ci Seng ...”

Orang itu ada Lauw Cie Wan.

“Oh, kau teehu!” kata ia. “Kau lebih baik tidak usah ketemui suhu. Sekarang suhu sedang gusar, dia tidak mau kenal siapa juga, diapun lagi pegang goloknya sampai aku sendiri tidak berani bicara kepadanya. Teehu ... ” ia lantas bicara seperti berbisik, “lekas kau pulang, kalau Kang Sutee pulang, nasehatkan padanya untuk segera menyingkir jauh, kalau tidak, satu kali dia kena ditangkap, jiwanya mesti melayang! Kita tidak sanggup tolongi dia ...”

Dalam bingungnya, Oei-sie tidak berdaya, maka ia pulang dengan pikiran kalut dengan air mata berlinang- linang. Ia ketemui Lie-sie untuk beritahukan kegagalannya. Ia minta adik misan ini temani ia.

Itu hari lewat dengan tidak ada terjadi suatu apa, Kang Cie Seng pun tidak pulang sorenya, Ma Cie Hian pulang dengan diikuti oleh Liong Cie Teng, Liong Cie Khie dan Kee Cie Beng.

Cie-yang ada kota dimana daun teh ada hasil tanaman utama, disitu berkumpul saudagar-saudagar teh, karena setiap hari, setiap waktu, tak putusnya orang angkut teh ke Kwan-tiong, Sucoan Utara dan daerah sungai Han. Dimana ada banyak saudagar, perusahaan piauw-tiam pun maju, dan itu, sekalipun kotanya kecil, piauw tiam ada terdapat belasan, tetapi yang paling besar adalah Ceng Wan Piauw- tiam dengan ketuanya Cie-yang Sam Kiat, tiga jago dari Cie-yang, ialah Coan-in-yan Liong Cie Teng si Walet Awan, Cie-san hauw Liong Cie Khie si Harimau Gunung, dan Po-long-kauw Kee Cie Beng si Ular Naga. Mereka ini sangat terkenal untuk Siamsay, Hoo-lam dan Su-coan. Mereka ada murid-muridnya Pauw Cin Hui, dan itu mereka, atas panggilan mendesak, sudah datang dengan segera.

“Kang Cie Seng sudah langgar aturan kita,” berkata Pauwsu kepada tiga muridnya itu. “Tidak saja ia telah ganggu orang punya istri iapun sudah lukai kedua suhengnya, ia menghina gurunya sendiri.”

“Ya, kita sudah dengar semua dari Cie Hian, suhu,” sahut Long Cie Teng bertiga, dengan sikap sangat hormat.

“Bagus!‘ berkata guru itu. “Sekarang kau bertiga aku kasih tempo sepuluh hari cari Cie Seng untuk dibawa menghadap padaku. Umpamakan tidak bisa tangkap hidup, kau boleh kutungi saja batang lehernya, bawa kepalanya buat beri lihat padaku!”

Liong Cie Teng bertiga terima perintah, dengan tidak banyak omong lagi mereka undurkan diri, lantas dengan bekal senjata, mereka pergi ke Lam San, akan mulai mencani Cie Seng. Sampai sore baru mereka pulang dengan tangan kosong. Mereka ambil tempat di rumah guru mereka. Besoknya pagi, sehabis bersantap, mereka keluar pula akan melanjutkan mencari Cie Seng. Demikian, sampai lewat tiga empat hari mereka tidak mampu cari sang sutee yang apes.

Di kaki gunung, di rumahnya nyonya Kwee, Cie Seng juga tidak kedapatan, sedang si nyonya Louw yang manis sudah pulang ke rumah orangtuanya di Kiong-kee-cung. Kabarnya, pihak Louw dan Kiong telah berperkara dimuka tiekoan berhubung dengan kelakuannya si nyonya mantu yang serong itu. Karena perkara ini, polisi telah datang dua kali ke rumah Cie Seng akan cari padanya yang tidak dapat diketemukan. Ada orang bilang, Cie Seng sudah buang diri dan binasa di jurang yang curam, ada yang kata ia telah minggat ke Sucoan Utara, bahwa kecuali Pauw Kauwsu tetah menutup mata, tidak nanti dia berani pulang.

Kabar perihal mati atau minggatnya Cie Seng itu tersiar luas di dusun. Oei-siepun dapat tahu. Nyonya ini menangis siang dan malam sampai karena Siau Houw, anaknya yang kecil, jadi jatuh sakit, hingga ia repot mengobati. Dilain pihak, Siau Hoo, si anak sulung, belum tahu apa-apa setiap hari ia pergi memain sambil bawa-bawa toyanya, kalau ketemu pohon, ia labrak pohon, kalau ketemu tembok, ia hajar tembok, hingga sekalipun semua anjing kampung takuti ia dan ngacir begitu melihat ia.

Di Pauw-kee-cun ada empat atau lima puluh anak-anak, ada sejumlah yang usianya terlebih tua daripada Siau Hoo, akan tetapi diantara mereka itu tidak ada satu yang tidak menyerah atau takuti dia.

Demikian pada suatu tengah hari, sehabisnya bersantap, Siau Hoo pergi ngelayap pula seperti biasanya, sesudah sore dan gelap baru ia pulang. Ia  ada punya roman atau potongan seperti ayahnya, malah terlebih cakap dan gagah, tapi itu sore ia  pulang dengan seluruh tubuhnya penuh lumpur, keringat dan darah, bajunyapun robek. Hanya meskipun demikian, ia tidak menangis, ia berjalan masuk dengan tindakan gagah. Ia lempar toyanya ke pinggir, ia angkat kepalanya akan awasi golok ayahnya  yang digantung di tembok, kemudian ia buka pakaiannya yang robek, ia ambil air akan cuci muka, akan susuti keringat dan darah. Dengan tidak berpakaian, kelihatan nyata tubuhnya yang montok.

“Ibu, ada punya makanan apa?” ia tanya ibunya. Oei-sie awasi anaknya itu, ia bengong.

“Kau, kau berkelahi dengan siapakah?” tanya ibu ini. Siau Hoo kelihatan pandang perkelahiannya ringan sekali. “Aku berkelahi dengan Toa Ga dan Jie Gu dari Sie- kee-cun,” jawab ia. Ia artikan si orang she Gu engko dan adik. “Bersama mereka berdua ada lagi tujuh atau delapan anak lainnya. Mereka beramai telah kepung aku tetapi mereka tidak sanggup layani bugeeku yang tinggi aku hanya kalah kepada mereka, kalau aku toh berdarah, itu disebabkan aku kena diserang dengan Hui piauw!”

“Apa? Mereka gunai piauw? ” tanya Oei-sie dengan kaget. “Bukankah piauw terbuat dari besi dan ujungnya tajam?”

Siau Hoo geleng kepala.

“Itu bukannya piauw besi, hanya batu,” ia beri keterangan . “Tidak apa, satu enghiong atau hoohan, kalau dia terkena piauw, tidak ada artinya! Ibu, aku ingin belajar kuntauw!”

Oei-sie kembali terkejut, tetapi berbareng ia gusar.

“Kau hendak belajar silat?” ia tegasi. “Apakah kau tidak tahu urusannya? Biarnya ayahmu bersalah, jikalau ia tidak belajar silat pada si orang tua she Pauw, tidak nanti sampai terjadi begini rupa terhadap dirinya! Sekarang dia kena didesak oleh pihak Pauw sampai tidak ketahuan dia masih hidup atau sudah mati! Dan kau masih hendak belajar silat?”

Setelah kata begitu, Oei-sie menangis dengan tak dapat dicegah lagi.

Siauw Hoo tidak dapat mengerti ibunya itu.

“Ayah sih bernyali kecil!” kata ia dengan sengit. “Kalau ayah pulang, mereka itu bisa bikin apa? Jikalau mereka kepung ayah, aku nanti bantu ayah lawan mereka!” “Sudah, sudah!” Oei-sie kata seraya  banting-banting kaki. “Jangan kau terbitkan onar. Kau tentu belum tahu, tua bangka she Pauw itu sudah beri datang tiga harimau!”

Siau Hoo malah jadi semakin gusar.

“Aku nanti hajar mampus harimau itu!” ia berseru.

Oei-sie jadi berduka melihat puteranya demikian kepala besar, terus ia ambil nasi dan sayur, atas mana, anaknya itu segera dahar dengan cepat sekali, sesudah mana anak ini masuk kedalam, naik ke pembaringan dan tidur.

Oei-sie benahkan piring mangkok, anaknya yang kecil nangis, maka ia bujuk bayi itu sampai anak itu tidur pulas, maka ia rebahkan anaknya disampingnya si anak sulung.

Siau Hoo tidur nyenyak, ia menggeros. kemudian rupanya ia mimpi, ia geraki tangannya, ia mengepal-ngepal seperti orang hendak menyerang, maka ibunya segera geser tangan anak itu dimasukan kedalam selimut.

Tidak bisa Oei-sie turut tidur, ia pergi keluar, ia ambil penjahitan akan tambal pakaian yang robek dari anaknya. Api ada kelak-kelik.

Berapa lama ia bergadang Oei-sie tidak tahu, tempo ia terperanjat karena ada angin menyerang masuk dari depan, tempo ia angkat kepalanya dan menoleh, akan melihat, ia dapatkan pintu sudah terpentang dan satu orang bertindak masuk. Ia kaget hingga ia mau berteriak. Tapi ia urung menjerit, karena segera ia kenali suaminya.

“Eh, kenapa kau pulang?” tanya ia dalam kagetnya.

Pakaiannya Cie Seng sudah tidak keruan, kotor dan robek disana-sini, rambutnya kusut awut-awutan, kumisnya panjang, malah tubuhnya kelihatan kurus, kulit mukunya kuning dan perok. Perubahan itu terjadi hanya dalam beberapa hari. Ia bertindak masuk tetapi romannya ada ketakutan sangat.

“Bukankah kita masih ada punya uang beberapa tail? ” kata ia pada isterinya, suaranya sangat pelahan. “Kau lekas keluarkan dan beri aku, aku hendak menyingkir dari sini!”

Oei-sie lantas saja menangis, air matanya meleleh. “Kau hendak menyingkir kemana !” ia tanya.

Cie Seng goyangi tangan.

“Kau tidak usah tanya. Lekas ambil itu uang,” kata ia.

Oei-sie menangis, ia masuk kedalam akan buka terombolnya.

Cie Seng sendiri jambret goloknya di tembok, kemudian ia sendok semangkok nasi dingin yang ia  cabak dan masukkan kedalam mulutnya Oei-sie muncul dengan uang di tangan ketika ia lihat kelakuan suaminya itu.

“Apakah tidak baik aku panasi dulu nasinya? ” Tanya ia. “Masih ada sisa sayur ...”

“Tidak usah,” sahut Cie Seng, yang kembali goyangkan tangannya. Ia dahar dengan cepat. “Aku mau pergi sekarang juga!” ia  tambahkan kemudian, dari tangan isterinya, ia sambuti uangnya, yang ada lima atau enam tail, ia belesakkan kedalam sakunya. Ia  cabak pula nasinya. Ketika itu air matanya meleleh keluar, ia ulur tanganaya akan cekal tangan isterinya.

“Aku menyesal,” kata ia, dengan suara pelahan dan sukar. “Aku masih muda, aku lakukan satu kekeliruan. Tetapi aku tidak sangka yang keluarga Pauw ada demikian kejam. Jikalau aku tidak menyingkir, umpama kata aku kena ditawan mereka, habislah jiwaku. Aku hendak cari satu sahabatku yang pangku pangkat, maka itu aku harap di belakang hari aku nanti bisa sambut pada kau dan anak- anak kita ...”

Oei sie menangis sesegukan hingga ia tak dapat bicara. “Aku   tidak  barani  diam  lama-lama   disini,”   Cie Seng

tambahkan, sekalipun romannya sangat berat. “Aku hendak

berangkat sekarang! Tidak perduli kau ketemu siapa, jangan beri omong bahwa malam ini aku pulang!”

Setelah berkata begitu, ia bertindak keluar. Tapi tiba-tiba ia merendek, ia putar tubuhnya.

“Bagaimana dengan Siau Hoo?” tanya ia.

“Siau Hoo sudah tidur,” sahut sang isteri, yang air matanya masih meleleh.

Cie Seng agaknya niat tengok dahulu anaknya itu, tetapi sedetik saja, ia  ubah pula pikirannya, maka ia  terus menghela napas. Ia buka pintu dan terus pergi keluar.

Oei-sie hendak hantar suaminya, tetapi daun pintu segera ditutup oleh suaminya. Dengan suara yang menyatakan takutnya, suami ini kata, “Kau jangan turut keluar.”

Mau atau tidak, Oei-sie merandek.

Dengan bawa goloknya, Cie Seng bertindak di sepanjang tembok menuju ke Utara. Ia berindap-indap dan nyelusup mirip dengan seorang pencuri. Begitu lekas ia sudah sampai di mulut kampung, lantas saja ia lari sekeras-kerasnya, tetap menuju ke Utara.

Ketika itu kira-kira jam dua. Dilangit ada banyak bintang, rembulan sedang bersisir. Angin musim Cun bikin Cie Seng berasa tubuhnya sangat dingin dan bergidik. Ia masih lari terus walaupun di jalan itu ia  tidak ketemu seorangpun, hanya disana-sini terdengar gonggongan anjing. Jalanan ada tidak rata, itu menyukarkan baginya, dua-tiga kali ia terpeleset dan jatuh malah satu kali hampir ia tercebur ke air, ia  jadi semakin ketakutan, ia  seperti merasa ada orang kejar ia. Hampir ia putus asa dan hendak belesakkan saja kepalanya kedalam lumpur di sawah, agar ia mati kelelap seorang diri ... Atau dilain saat hampir ia berhenti berlari-lari, buat batalkan niatnya kabur untuk samperi saja Pauw Kun Lun buat adu jiwa! Akan tetapi keinginannya untuk hidup ada terlebih keras, dari itu, melawan segala kesukaran, ia lari terus dalam gelap petang itu.

Lama-lama Cie Seng rasakan kakinya sakit. Justeru itu cuaca fajar mulai tertampak.

Di sebelah depan, ia lihat bukit yang tinggi.

Ia tahu bahwa ia sudah lintasi batas kota Tin-pa. Ia  lantas berhenti berlari akan benarkan napasnya yang  mengorong. Setelah itu, dengan limbung ia lanjutkan perjalanannya.

Di Timur, cahaya matahari mulai tertampak.

Cie Seng pandang tubuhnya, ia lihat bahwa ia telah jadi tidak keruan macam. Sudah begitu, ia juga bawa-bawa golok terhunus.

“Siapa lihat aku, dia bisa curiga, dia pasti sangka aku ada orang jahat,” pikir ia. Maka untuk jalan lebih jauh, ia lempar goloknya ke sawah. Ia jalan dengan lawan rasa sakit di kakinya.

Benar ketika langit terang, pemuda ini sudah lewati mulut gunung.

Itu ada salah satu cabang dari gunung Tay Pa San, yang tidak teralu tinggi, tapi jalanannya sulit dan sukar, banyak sekali pengkolannya dan tidak rata. Sesudah jalan lebih jauh  kira-kira seratus tindak, Cie Seng dengar burung-burung berkicau dan lihat beberapa ekor elang terbang di atasan kepalanya. Ia memandang kesekitarnya, ia tidak lihat orang, hatinya sedikit lega. Maka terus ia duduk di atas sebuah batu. Ia loloskan sepatunya yang sudah pecah, hingga pasir dan kolar halus masuk kedalamnya. Inilah yang bikin ia sakit. Tempo ia buka kaos kakinya, ia lihat kakinya melepuh disana sini. Dengan kertak gigi melawan rasa sakit, dengan kukunya  ia pecahkan semua melepuh itu, akan keluarkan airnya. Tentu saja ia tidak berani beristirahat lama-lama disitu, ia pakai pula kaos kaki dan sepatunya akan lanjut  lagi perjalanannya. Ia baru melalui beberapa tindak, ia sudah rasakan sakit bukan buatan, tempo ia paksa akan bertindak terus, hampir ia tak dapat injak tanah. Maka akhirnya ia numprah pula di tanah. Ia robek ujung bajunya buat bikin dua potong tali, sambil membungkuk ia ikat sepatunya untuk ia bisa jalan pula.

“Sebenarnya aku lakukan kejahatan besar bagaimana maka orang desak aku sampai begini?” ia berpikir selagi tangannya bekerja. “Di Lam San aku mesti mendekam bermalam-malam dan sekarang di Utara sini aku mesti bersengsara begini rupa? Bagaimana andaikata aku berhasil melewati gunung ini? Apakah aku bakal dapat hidup terus atau binasa?”

Cie Seng berjalan, pikirannya kusut. Ia gusar bercampur masgul dan berkuatir, ia  merasa sangat lelah dan letih, kakinya sakit, perutnya berbunyi keruyukan karena laparnya. Ia paksakan jalan terus, setindak dengan setindak, setiap tindak ia meringis akan tahan rasa sakitnya. Ia baru jalan beberapa puluh lie ketika ia dapat dengar di sebelah belakangnya ada suara congklangnya kuda, suara dari beberapa ekor kuda yang berkumandang di lembah-lembah. Ia kaget, hatinya goncang, tapi ia  lekas  berpaling  ke belakang, hingga ia tampak empat ekor kuda sedang dikaburkan ke jurusannya. Selagi rombongan kuda itu mendatangi lebih dekat, iapun jadi kaget tidak terkira. Di depan ada tiga penunggang kuda dengan tubuh yang besar, tapi yang keempat ada terlebih besar pula, mukanya berkumis brewokan, mukanya merah bengis, dia itu adalah si guru silat tua, Pauw Cin Hui alias Pauw Kun Lun!

“Habislah aku!” berseru pemuda ini dalam hatinya, semangatnya terbang. Lupa akan sakit pada kakinya dan lupa akan letihnya, ia lompat berbangkit untuk terus lari ke bukit.

“Cie Seng! Kau masih memikir untuk lari?” demikian suara seperti guntur dari Pauw Kun Lun.

Cie Seng sedang merayap naik ketika ia dengar suara itu mendadak kakinya jadi lemas hingga ia rubuh. Ia masih mencoba gulingkan diri, buat bangun pula dan lari, apa mau, keempat kuda telah datang dekat, yang paling depan ada Coan in-yan Liong Cie Teng dengan mukanya  yang biru dan brewokan, yang romannya sangat bengis, dia ini sudah lantas ayun cambuknya pada orang punya kepala.

Cie Seng menjerit, kepalanya sakit dan pusing sekali, tidak tempo lagi ia  rubuh pula, akan tetapi walaupun demikian, ia ingat dirinya, ia berbangkit untuk coba kabur. Selagi berbangkit, iapun murka, maka ia mendamprat. “Kawanan jahanam! ...”

Kata-kata itu belum habis dikeluarkan, akan Cie Seng merasakan dadanya sangat sakit, kepalanya pusing, tenaganya habis, hatinya hendak pertahankan diri, segera ia rubuh untuk tidak ingat apa-apa lagi, karena disaat itu ia telah terbinasa! Pauw Kun Lun di atas kudanya hendak ulapkan tangannya akan tetapi ia sudah terlambat, Liong Cie Khie sudah loucat turun dari atas kudanya, ia tubruk Cie Seng dengan membarengi satu tusukan hebat pada orang punya dada, sesudah mana, ia cabut goloknya untuk terus disusuti bersih pada bajunya korban itu.

“Sudah selesai, suhu!” berkata murid ini. “Mari kita pulang!”

Pauw Kun Lun duduk melengak di atas kudanya, matanya mengawasi kepada murid murtad itu, walaupun romannya tetap bengis, akan tetapi sekarang air mukanya berubah sedikit, terang ia merasa terharu atau kasihan.

Po-long-kauw Kee Cie Beng loncat turun dari kudanya. “Sam-suko, kau terburu napsu,” ia sesalkan suheng itu.

“Seharusnya kita bicara dulu, akan tanya dia ...”

Muka hitam dari Liong Cie Khie nampaknya bersemu gelap, tanda dari kemarahan.

“Buat apa tanya orang semacam dia?” ia menjawab dengan ketus. “Jikalau dia dikasih hidup, lantas kita kaum Kun Lun Pay tidak ada muka untuk bertemu kepada lain orang!”

Liong Cie Teng beranggapan seperti Cie Beng.

“Suhu belum kata apa-apa, mengapa kau lantas binasakan dia? ” ia tegor adiknya itu.

Cie Khie sedang mendongkol, ia hendak bantah engkonya itu, tapi Pauw Kun Lun sudah datang sama tengah.

“Kau jangan bikin banyak berisik!” demikian guru ini. “Lemparkanlah mayatnya kedalam selokan.” Tiga saudara seperguruan itu lantas berhenti bicara. Cie Beng dan Cie Khie lantas hampirkan mayatnya Cie Seng untuk diangkat.

Cie Beng rasai ada uang didalam saku bajunya Cie Seng, ia keluarkan itu, ia serahkan pada gurunya.

Pauw Kun Lun sambuti uang itu, yang enteng, diduga beratnya cuma lima atau enam tail. Ia mengerti, tadi malam Cie Seng pulang untuk ambil uang, guna dipakai ongkos kabur ...

Cie Khie dan Cie Beng telah gotong mayatnya Cie Seng yang mereka terus lempar keselokan, seperti titah gurunya.

“Mari kita pulang!” Kata Pauw Kun lun akhirnya.

Mereka larikan kudanya dengan pesat, maka mereka lekas sampai di Pauw-ke-cun.

Begitu lekas ia sampai didalam rumahnya, tidak saja amarahnya Pauw Cin Hui telah buyar anteronya, malah ia nampaknya lesu.

Cie Teng bertiga masuk kedalam buat terus bersantap.

Cie Lim muncul dengan tongkat di tangan, tubuhnya bongkok-bongkok, ia hampirkan ketika saudara angkat itu.

“Bagaimana?” tanya ia dengan perlahan, seraya angkat kepalanya. “Apakah Cie Seng dapat disusul?”

Cie Teng bertiga sedang repot pada nasi dan arak, ketiganya tidak menjawab.

“Apakah Cie Seng berhasil dibinasakan?” Cie Lim tanya pula “Kasi tahu padaku, tidak apa, aku tidak nanti kasih tahu itu pada lain orang ...”

Mendengar itu, Liong Cie Teng tepuk meja dengan cawan araknya. “Sutee, mengapa kau mengucap begini?” ia menegur. “Kita bukannya tukang bekerja di kalangan Rimba Hijau, cara bagaimana kita bisa sembarang bunuh orang?  Kita ikuti suhu akan kejar Cie Seng, kita hanya niat hajar dia sampai setengah mati, habis perkara, sayang kita tidak dapat candak padanya. Mungkin tadi malam kau telah keliru melihat, orang yang keluar dari rumahnya bukannya dia.”

Cie Lim nampaknya putus harapan kapan ia dengar jawaban itu, ia jadi sengit.

“Lambat atau laun toh jahanam itu akan mampus juga!” ia berseru. “Tunggu saja, lihat!”

Lantas ia samber dua cangkir arak, ditenggak habis dengan bergantian. Dengan masih terbongkok-bongkok, karena menahan sakit, ia ngeloyor keluar, tongkatnya ia pakai sebagai andalan. Ia berniat minta keterangan dari ayahnya. Ketika ia tarik daun pintu kamar ayahnya, ia dapatkan sang ayah sedang empo Ah Loan, sang cucu perempuan, yang asyik diajak bermain. Sekalipun demikian romannya ayah ini yang bengis sungguh tidak senang untuk dipandang. Ia tahu ayah itu sedang berduka, maka ia batal menanyakan, terus ia kembali akan ngeloyor ke kamarnya sendiri.

Diwaktu tengah hari, Liong Cie Teng, Liong Cie Khie dan Kee Cie Beng pamitan dari gurunya untuk mereka kembali dengan segera ke Cie-yang.

Ma Cie Hian semua melengak melihat keberangkatannya ke tiga saudara angkat itu. Mereka itu pulang, teranglah sudah bahwa tugas mereka telah selesai.

Oleh karena Cie Seng ada ia punya sanak, Cie Hian jadi takut untuk pergi ke rumahnya sanaknya itu, ia kuatir Oei- sie nanti minta keterangannya. Cie Wan dan Cie Cun turut terharu, meskipun persahabatan mereka dengan Cie Seng tidak kekal, toh mereka ada sesama kawan seperguruan. Pepatah ada bilang, kalau “kelinci mati, rusa berduka”. Mereka pun lantas merasa, sungguh sulit akan muridnya Pauw Kun Lun

...

Pauw Cin Hui sendiri itu hari, kegembiraannya lenyap anteronya. Ia lesu dan masgul nampaknya, sehingga lenyap juga napsu makannya. Di waktu tengah hari guru ini tidak dahar, hanya ia tidur.

Malamnya Pauw Cin Hui raba sakunya, disitu ia dapatkan uangnya Cie Seng, lantas saja ia menarik napas panjang. Ketika ia toh duduk bersantap, ia kelihatan ada sangat masgul. Sehabis bersantap, ia bertindak keluar dari rumahnya.

Ketika itu langit sudah gelap, semua pintu rumah telah dikunci, semua ada sunyi kecuali tukang ronda dengan kentongan atau gembrengnya.

Seorang diri Pauw Kauwsu bertindak ke rumahnya Cie Seng. Dimuka pntu pekarangan ia merandek, akan memandang ke dalam melewati pagar. Dan dalam rumah muncul sinar suram, rumah itu ada sangat sunyi. Ia lantas rogoh sakunya akan keluarkan uangnya Cie Seng, terus ia lempar kedalam pekarangan.

“Inilah uang yang Cie Seng bekal untuk minggat, sekarang uang ini tidak dapat dipakai, maka aku kembalikan pada kau,” kata ia dalam hatinya, “kau boleh pakai uang ini ...”

Guru silat ini balik tubuhnya untuk berlalu, atau segera kupingnya dengar tangisannya seorang bayi. Ia tahu Cie Seng ada punya satu anak yang dilahirkan belum lama. Maka itu ia jadi sangat berduka. Ia menghela napas, terus ia pulang.

Di hari kedua, Pauw Kauwsu bangun pagi-pagi seperti biasa, dengan roman tenang seperti biasanya ia pimpin murid-muridnya meyakini ilmu silat, akan tetapi hatinya ada tidak tenteram.

Semua murid belajar dengan baik-baik mereka bisa lihat, gurunya tidak sehat segar seperti biasanya, sedang sekarang guru itu sering-sering kerutkan atau menhela napas. Sebelumnya peristiwa ini terjali, mereka belum pernah lihat guru itu menarik napas.

Maka itu, mereka jaga supaya mereka jangan lakukan kesalahan. Sehabis belajar mereka bekerja seperti biasa, pelihara kuda, meluku dan lain-lain. Tidak ada orang yang malas-malasan, tidak ada yang berani bersendaugurau.

Selang tujuh atau delapan hari kemudian, Lou Cie Tiong, si murid kesayangan, pulang dari Han-tiong. Dia tiba sesudah malam, maka itu dia terus pulang ke rumahnya, adalah keesokannya pagi, baru ia pergi pada gurunya. Begitu memasuki pekarangan, ia sudah jadi heran sendirinya. Cuma ada tiga orang yang sedang berlatih, ialah Cie Hian, Cie Wan dan Cie Cun. Dan selagi ia bertindak ke pintu, ia pun lihat Cie Lim keluar dengan tubuh termiring- miring, mukanya pucat dan perok, seperti orang sakit berat.

Menampak suheng itu, Cie Lim segera berseru: “Oh, suheng, kau baru pulang! Pasti kau telah pelesiran puas di Han-tiong.”

Cie Tiong tidak gubris godaan itu. “Kau kenapa, sutee?” ia balik tanya.

Pertanyaan ini membikin Cie Lim jadi mendongkol. “Jangan kau tanya!” ia kata dengan ketus.

Cie Tiong heran, ia menoleh pada Cie Hian bertiga, akan tetapi mereka ini tetap berlatih silat, tidak ada yang berikan penyahutan. Maka keheranannya jadi bertambah. Tidak tempo lagi ia cepatkan langkahnya, untuk masuk kedalam.

Pauw Cie Lim ikut masuk.

“Bagaimana dengan lukanya kandaku?” ia tanya. “Ia sekarang sudah bisa jalan,” Cie Tiong jawab.

Sebentar kemudian, murid she Lou ini telah sampai didalam, ia dapati gurunya sudah bangun tidur dan sedang minum teh. Ia lantas maju memberi hormat.

“Mari duduk!” guru itu mempersilahkan, tangannya menunjuk kursi di sisinya.

Ia pun terus menanya “Bagaimana dengan lukanya Cie In?”

“Ketika aku sampai di Han-tiong, luka di kakinya suko sudah sembuh,” Cie Tiong menyahut. “Untuk  beberapa hari aku tinggal disana, tempo aku pamitan pulang ia sudah bisa turun dari pembaringan dan bisa jalan tanpa orang pegangi lagi. Suko pesan supaya suhu jangan kuatir dia. Ia kata ia harap lain bulan ia bisa pulang buat tengok suhu.”

Guru itu manggut-manggut, agaknya ia puas. Kemudian ia tanyakan hal perusahaan Piauw di Han-tiong dan tentang murid-muridnya disana.

“Sekarang pergilah kau betistiahat,” kata guru ini akhirnya. Sesudah ia dapat jawaban dari muridnya itu.

Cie Tiong lihat gurunya kurang gembira, ia tidak berani banyak omong, lantas saja ia undurkan diri dan keluar. Tapi ia tidak terus pulang, ia tunggui Cie Hian semua selesai berlatih, segera ia hampirkan mereka itu. “Mana Cie Po?” paling dahulu ia tanya.

Cie Hian tidak lantas menjawab, hanya sambil mendekati ia kedipkan mata.

“Tak usah kau tanya,” Cie Cun menyahuti. “Kalau nanti ada ketikanya, kita beri keterangan padamu.”

Itu waktu kelihalan Pauw Kauwsu muncul di pintu, maka Cie Hin bertiga kembali berlatih, masing-masing dengan tangan kosong, golok dan toya.

Cie Tiong berbangkit menghampiri gurunya, dengan siapa ia lalu bicara dengan sikap sangat menghormat. Ia bicarakan hal-hal yang ia tampak di Han tiong. Ia tapinya omong tidak lama, terus pamitan pulang.

“Aneh.” pikir murid ini di tengah jalan. “Selama aku tidak ada disini, mesti ada terjadi sesuatu diantara saudaraku ...” ia menduga-duga. “Mestinya ada perkara hebat. Kenapa suhu beroman luar biasa? Kenapa Cie Hian semua tidak mau lantas bicara?”

Sesampainya di rumah, karena ia telah merasa heran Cie Tiong utarakan keheranannya itu pada isterinya.

“Sejak kau berangkat, tidak ada satu suteemu yang datang kemari,” sang isteri beri tahu. “Aku sama sekali tidak dengar apa-apa prihal kejadian diluaran.”

Cie Tiong berdiam, hatinya berpikir. Matanya bentrok dengan barang-barang pesanannya Cie Seng yang ia dapat beli, ialah pupur dan yancie dan rupa-rupa cita dan benang.

“Sebentar selagi hantar semua barang ini pada Cie Seng, aku hendak minta keterangan dari padanya,” ia berpikir. “Sebenarnya apakah sudah terjadi? Kenapa diapun tidak datang belatih? Apakah ia sakit?” Cie Tiong terus bersangsi, sampai saatnya ia bersantap tengah hari. Ia sedang dahar ketika Cie Hian muncul.

“Duduk, Sutee,” ia mengundang. “Kebetulan aku hendak cari kau! Kenapa tadi aku tidak lihat Cie Po dan Cie Seng?” Ia terus tunjuk barang-barang di atas meja. “Semua itu ada pesanannya Cie Seng yang aku telah belikan, aku niat antarkan ke rumahnya, kebetulan kau datang, tolong kau saja yang bawakan, dengan begitu aku jadi tak usah berabe lagi”

Cie Hian menoleh ke barang-barang yang dihunjuk itu, air mukanya segera menjadi suram, ia berduka.

“Semua itu taruh saja dahulu disini,” ia jawab. “Kita justeru tak dapat cari Cie Seng ...”

Cie Tiong terperanjat dan heran, ia awasi sutee itu. “Belum  ada  belasan  hari  sejak  kau  pergi,  disini telah

terjadi  peristiwa  hebat,”  Cie  Hian  lanjutkan.  “Ini adalah

satu onar ... Cie Po dan Cie Lim telah terluka, suhu gusar bukan kepalang! Aku telah dititah suhu pergi ke Cie-yang akan panggil saudara-saudara Liong dan Kee ... Mereka itu baru saja beberapa hari yang lalu berangkat pulang lagi. Cie Seng ...”

Buat metanjutkan bicaranya, Cie Hian datang lebih dekat pada Cie Tiong, lantas dengan suara perlahan ia tuturkan apa yang sudah terjadi.

Cie Tiong kaget, air mukanya sampai berubah. Ia melengak sekian lama.

“Jikalau begitu terang Cie Seng sudah binasa ... ” kata ia kemudian,

“Jikalau dia belum binasa, cara bagaimana suhu bisa antap Cie Teng semua pulang?” Cie Hian baliki. “Cie Seng cari penyakit sendiri, kebinasaannya tidak terlalu harus disedihkan, hanya kasihan isteri dan anak- anaknya. Isterinya belum berumur tigapuluh, dua anaknya, satu baru berumur duabelas tahun, yang satunya belum satu tahun ... Kau tahu sendiri, isterinya Cie Seng adalah encie misannya isteriku ... Kita ada bersanak dekat tetapi sudah sejak beberapa hari aku tidak berani pergi ke rumahnya Cie Seng, asal aku pergi kesana, mesti isterinya menangis ...”

Cie Tiong kerutkan dahi.

“Kenapa perkara jadi begini rupa? ” kata ia. “Ketika aku hendak pergi, Cie Seng telah pesan semua barang ini, tatkala itu aku suda curiga, aku sudah nasehatkan padanya, siapa sangka ... “ Ia menghela napas pula.

“Aku lihat tadi suhu ada lesu, padaku ia tidak omong sama sekali tentang perkaranya Cie Seng ini. Apa bisa jadi  ia bunuh Cie Seng karena ia  sedang sangat murka dan sekarang ia menyesal?”

“Tidak bisa jadi,” Cie Hian kata seraya ia goyang tangan. “Suhu bertabiat keras, mana bisa jadi setelah berbuat, ia menyesal? Aku peryaya suhu masih tidak puas sekalipun ia sudah binasakan Cie Seng, karena Cie Seng sudah langgar pantangan dan berani lawan suhu. Atau ia berkuatir kelak ada sanaknya Cie Seng yang ketahui duduknya hal dan akan masukkan dakwaan kepada pembesar negeri ...”

Cie Tiong berdiam, ia bersangsi, karena itu Cie Hian pun demikian, maka kesudahannya mereka berpisahan dengan sama-sama dalam kemasgulan.

Di hari kedua, Cie Tiong juga datang ke rumah gurunya untuk belajar silat seperti biasa. Ia belajar dengan rajin, ia bekerja dengan hati-hati. Pada gurunya ia tidak tanyakan tentang Cie Seng. Selang beberapa hari, Cie Lim dan Cie Po sembuh, mereka turut belajar seperti biasa.

Pauw Cin Hui juga mengajar seperti biasa, malah sekarang ia tidak suka menghela napas lagi, ia nampaknya tidak lesu seperti beberapa hari yang lalu.

Demikianlah, guru dan murid berkumpul seperti biasa, kecuali sang murid kurang satu. Sedang tidak jauh dari rumah perguruan ini, di rumah keluarga Kang, jumlah anggota keluarga jadi terdiri dengan janda muda dan dua anak piatu ...

Siau Hoo ada anak kecil, ia tetap bawa caranya sendiri, setiap hari ia kelayapan dengan tidak pernah ketinggalan toyanya, kenyang makan, ia tidur, bangun tidur, ia memain. Hanya dasar anak umur duabelas tahun, ia  ingat juga ayahnya, sesudah sekian lama ia tak tampak ayahnya itu. Diapun heran melihat ibunya setiap hari kucurkan air mata, hingga kemudian ia juga jadi tidak gembira akan kelayapan pula.

“Eh, ibu kenapa ayah masih belum pulang juga?” suatu hari ia tanya ibunya.

“Bukankah aku pernah beri kau tahu?” sang ibu balasi. “Ayahmu pergi kelain propinsi untuk cari sahabatnya, dalam satu atau dua tahun ini ia tidak akan pulang.”

Siau Hoo kerutkan dahi.

“Itulah tidak benar,” kata ia, “aku hendak pergi susul ayah!”

Entah kenapa, air matanya bocah ini lantas meleleh turun. Kemudian anak ini lihat ibunya teteki adiknya, tetapi diam-diam ibu itu menepas air matanya, hingga ia  jadi heran.

“Mestinya ibunya dustakan aku,” ia pikir. Ia  lantas menduga-duga. “Dalam hal ini perlu tanya lain orang ...”

Dilain harinya, pagi-pagi sekali, Siau Hoo keluar dan rumahnya, ia tidak lupa bawa toyanya. Ia  menuju ke rumahnya Pauw Kun Lun. Ia berdiri diluar pintu pekarangan, ia memandang ke dalam dimana orang asyik belajar silat. Pauw Kun Lun sedang berikan pelajarannya. Disitu pun ada ia punya Ie-thio, Ma Cie Hian.

“Dahulu ayah pun belajar di sini dan ia ada terlebih pandai daripada yang lainnya.” Pikir ini bocah, yang ingatannya tajam.

Tiba-tiba dengan bawa toyanya, Siau Hoo lari masuk, ia hampirkan Cie Hian kaki siapa ia terus cekal.

“Ie-thio, kau mesti beri keterangan!” berkata ia dengan polos. “Sebenarnya kemana perginya ayahku?”

Cie Hian sibuk hingga ia tidak lantas jawab keponakannya itu.

Melihat orang menggerecok, Cie Lim menghampiri. “Pergi,  pergi!”  ia  mengusir, seperti ia  gebah anjing saja,

“Bocah  dari mana datang kemari?  Awas  nanti kau terkena

golok dan tombak! Pergi, hayo pergi!”

Siau Hoo tidak pergi, ia tidak takut, malah sekonyong- konyong dengan toyanya ia sodok perutnya si pengusir itu.

“Aduh!” berseru Cie Lim, yang terus pegangi perutnya. “Anak kurang ajar, kau berani pukul aku?” Apabila disitu tidak ada ayahnya, Cie Lim tentu sudah gunai goloknya akan hajar bocah itu, siapa sekarang ia melainkan bentak seraya pelototkan kedua matanya.

Siau Hoo benar-benar tidak takut malah ia jadi gusar, ia berlompat seraya geraki pula toyanya, untuk ulangi serangannya.

Cie Hian lantas maju, ia cekal ujungnya toya.

Cie Tiong dan lain-lainnya berhenti berlatih, mereka awasi tingkahnya bocah itu.

Pauw Kauwsu sudah lantas menghampiri, ia perlihatkan roman yang bengis.

“Eh, bocah, kenapa kau datang-datang serang orang? ” ia menegur. Ia memang lihat kelakuannya anak kepala besar itu.

Siau Hoo angkat kepalanya mengawasi jago tua itu. Ia tidak jerih buat orang punya roman bengis, malah iapun delikkan matanya. Terang ia ada tidak senang, karena orang tarik toyanya.

“Aku datang buat  cari Ie-thioku akan menanyakan kemana perginya ayahku, kenapa itu binatang usir aku?” kata ia dengan sengit. “Aku justru hendak hajar pula padanya!”

Benar-benar ia angkat toyanya buat serang pula Cie Lim.

Cie Hian menyelak pula, ia pegang orang punya toya, tetapi bocah itu bertenaga besar, ada sukar untuk rampas senjata itu dari tangannya.

“Anak ini kurang ajar!” kata Cie Lun dengan sengit. “Masih sakit perutku bekas sodokannya. Eh, anak hutan, kau datang dari mana?” Pauw Kun Lun tolak anaknya hingga Cie Lim mundur beberapa tindak.

“Anak siapa dia ini?” guru ini tanya Cie Hian. “Kenapa dia cari ayahnya?”

Cie Hian tercengang atas pertanyaan itu.

“Dia adalah anak sulungaya Kang Cie Seng ... ” ia  jawab.

Guru itu terperanjat, hingga air mukanya berubah dengan segera, lantas ia awasi Siau Hoo, roman siapa benar-benar mirip dengan ayahnya, malah ada terlebih cakap.

Selagi Cie Hian bicara, Siau Hoo tarik pulang toyanya untuk beraksi pula. Ia tidak menyerang pula tapi sikapnya ada gagah, ia mirip dengan satu enghiong cilik, ia tepuk- tepuk dadanya dan menantang:

“Hayo, siapa diantaranya yang berani maju buat bertempur dengan aku?”

Melihat orang punya tingkah itu, Pauw Kun Lun tertawa. Ia lantas menghampiri.

“Eh, anak, bukankah kau hendak cari ayahmu? ” tanya ia dengan manis. “ Ayahmu itu, Kang Cie Seng, ada muridku juga. Sudah sejak beberapa hari ia tidak datang kemari, aku justru sedang harap dia! Pergi kau pulang tanyakan ibumu, barangkali ibumu dapat tahu ... ?”

Siau Hoo gelengkan kepala.

“Tidak!” ia sahuti. “Ibu juga tidak mau kasih keterangan padaku. Inilah sebabnya aku cari Ie-thio. Jikalau kau juga tidak sudi kasih keterangan padaku, aku tidak mau berlalu dari sini, kau semua jangan berlatih pula!” Pauw Kausu tertawa pula, ia rogoh sakunya akan keluarkan uang beberapa ratus chie, yang mana ia sodorkan pada bocah itu.

“Kau jangan ribut disini.” kata ia sambil tertawa pula. “Aku lihat kau ada anak baik, kau seharusnya dengar kata. Ini uang beberapa ratus chie, pergi kau ambil untuk beli kembang gula!”

Siau Hoo sambuti uang itu tetapi segera ia lemparkan pula pada si jago tua.

“Aku tidak kehendaki uang, aku inginkan ayahku!” ia berseru. “Kau mesti beri tahu dimana adanya ayahku itu, nanti aku susul sendiri padanya!”

Mau atau tidak, Pauw Kun Lun perlihatkan roman gusar, dengan sepasang matanya yang beringas ia awasi bocah itu, yang ia anggap kurang ajar.

Cie Hian lihat gelagat tidak baik, lekas ia cekal  tangannya Siau Hoo ditarik untuk diajak pergi.

“Keponakanku yang baik, kau jangan  bikin  kacau disini,” ia membujuki. “Mari kita pulang ke rumahmu, nanti aku beri tahu dimana adanya ayahmu ...”

Siau Hoo suka turut perkataan Ie-thio, itu, sebab itu hendak dikasi tahu hal ayahnya, tetapi selagi ia hendak berlalu, ia angkat-angkat toyanya, ia ayun-ayun tinjunya kepada si jago tua.

“Anak itu lebih menjemukan daripada ayahnya.” Cie Lim berkata pada ayahnya. “Kenapa kita tidak mau hajar kepadanya?”

Ayah ini, yang sedang mendongkol, gaplok anaknya sehingga terpelanting, setelah mana, ia menyusul dengan satu dupakan, hingga Cie Lim rubuh terguling. Ini adalah jawaban ayah itu.

Cie Wan semua terkejut. Segera mereka maju, buat  cegah guru itu menyerang terlebih jauh.

Pauw Kauwsu sebenarnya ada gusar berbareng berduka. “Kau bilang anaknya Cie Seng ini mirip ayahnya,” ia

kata pada anaknya yang kedua itu.

“Tetapi kau, sayang kau tidak mirip dengan aku! Kalau kau ada berani seperti bocah itu, sekarang tidak nanti aku jadi begini ...”

Cie Lim tidak berani sahuti ayahnya itu, ia malah pergi ke samping dengan muka melengos, ia pegangi kempolannya.

Cin Hui masih mendongkol, ia damprat terus anaknya itu.

Ketika itu Ah Loan muncul di pintu, ia lari menghampiri.

“Yaya, yaya, jangan gusar!” berseru anak ini, seraya ia pentang kedua tangannya. Yaya ada semacam panggilan untuk engkong. Ketika ia sudah datang dekat, terus ia peluk engkongnya itu.

Pauw Kauwsu gusar hingga kumis dan jenggotnya bergerak-gerak, tetapi ia usap-usap kuncir mungil dari cucunya itu.

“Semua anakku tiada gunanya,” pikir ia, yang masgul bukan main. “Bila nanti aku menutup mata, bukan saja bugeeku tidak ada yang wariskan. Juga tidak akan ada yang sanggup tandingi musuhku. Muridku ada banyak tetapi mereka tidak bisa terlalu diandalkan. Selagi sekarang aku masih bernapas, baik aku didik Ah Loan, akan turunkan semua ilmu kepandaianku kepadanya.”

Pauw Kauwsu segera ambil ketetapan, akan didik cucunya itu.

Tidak antara lama, Cie Hian kembaIi sehabis antarkan Siau Hoo.

Cie Hui tanya muridnya itu perihal keluarga Kang, kemudian ia pesan pada Cie Hian sebatang golok tautoo yang kecil dan panjangnya satu kaki lebih untuk Ah Loan.

Sejak itu, Pauw Kauwsu suka kadang-kadang menghela napas pula.

Siau Hoo sebaliknya jadi semakin binal. Ia  berhasil mengumpulkan belasan anak-anak sepantaran yang semua nakal, ia persenjatai mereka dengan bambu runcing dan golok kayu, sering-sering ia pimpin mereka itu datangi rumahnya Pauw Kauwsu, akan bikin  banyak  berisik dimuka pintu pekarangan. Ia anjurkan anak itu tantang Pauw Cie Lim buat bertarung.

Cie Lim tidak takuti anak itu, tetapi ia jerih terhadap ayahnya, karena itu ia terpaksa sembunyikan diri, ia tulikan kuping.

Di hari ketiga, ketika Cin Cie Po datang untuk belajar silat tampak kepalanya borboran darah. Sebabnya ialah diluar dusun ia sudah ditimpuki dengan batu oleh anaknya Cie Seng.

Kemudian muncul Lauw Cie Wan, dengan kepalanya penuh debu. Ia kata barusan saja ia dikepung oleh Siau Hoo dan kawan-kawannya, yang telah atur barisan debu!

Mendengar itu semua, Pauw Kun Lun bersenyum ewa. “Ah, itu anak!” ia perdengarkan suarannya. Hatinya Cie Hian menjadi ciut kapan ia saksikan roman bengis dari gurunya itu, ia bergidik akan dengar suara tertawa gurunya itu. Akan tetapi, hanya sebegitu saja sikap dari sang guru, dan hari itu, tidak ada terjadi suatu apa. Itu maghrib Pauw Kauwsu keluar seorang diri dari rumahnya, ia bekal sebilah pisau yang ujungnya lancip, ia menuju ke rumah Cie Seng yang ia lewati bagian depannya. Ia melirik ke arah rumah kemudian terus keluar dari dusun.

Cuaca ada bersinar layung ketika itu.

Cahaya merah  tertampak di ujung langit di sebelah Barat. Dan rumah-rumah orang kampung ada terlihat asap mengepul naik, tandanya orang sedang masak. Beberapa gembala kambing kelihatan sedang pulang bersama-sama binatang angonannya.

Kapan cuaca jadi semakin gelap, Pauw Kauwsu melihat ke Timur dan ke Barat dengan mata bagaikan seekor harimau kelaparan yang sedang cari mangsanya. Angin musin Cun bikin kumis dan jenggotnya bergerak.

Tidak antara lama, dari arah Barat, dimana ada sawah- sawah gandum, dari jalanan pematang, ada satu bocah berlari-lari mendatangi, tangannya mencekal toya.

Menampak bocah itu, Pauw Kun Lun lantas memapaki. Sebelum Siau Hoo demikian bocah itu melewati sawah, jago tua itu sudah cegat ia. Ia kenali siapa orang yang bertubuh besar itu, ia lantas deliki matanya, ia  siapkan toyanya.

“Eh, tua bangka, apakah kau hendak piebu dengan aku?” ia menegur.

Orang tua itu tidak kata apa-apa hanya ia  hunus pisaunya, hingga cahaya tajamnya jadi berkelebat bersinar. Sepasang matanya juga perlihatkan sorot tajam bagaikan api menyala. Ia telah angkat pisaunya itu.

“Aku akan habiskan kau, makhluk cilik!” demikian pikirnya. “Akar bencana di kemudian hari mesti dibasmi!”

Akan tetapi Siau Hoo tidak sangka yang jago tua itu niat membunuh ia, ia tetap tidak takut, menampak senjata tajam malah ia berjingkrak!

“Ha, kau keluarkan pisau tulen!” dia berseru.

Sikapnya yang polos itu, tiba-tiba membikin berubah hatinya si jago tua. Ia jadi lemas  sendirinya, hingga senjatanya diturunkan dengan pelahan.

“Apakah kau penujui pisau ini?” ia tanya sambil tertawa. “Aku memang tunggui kau, untuk beri persen pisau ini kepadamu!”

Lantas orang tua itu angsurkan pisaunya.

Siau Hoo tertawa, ia sambuti senjata itu, terus ia bulak balik dibuat main.

Tiba-tiba pula berubah lagi pikiranya si orang tua, mendadak ia ingin rampas pisau itu guna dipakai membunuh bocah ini, tetapi sedetik kemudian pikirannya berubah pula, niatnya itu dapat ditindas.

“Kenapa aku mesti binasakan dia?” demikian pikirannya yang baru itu. “Aku telah bunuh ayahnya, itu sudah cukup. Apa benar-benar aku hendak babat rumput berikut akarnya sekalian? Bukankah pepatah ada bilang: permusuhan mesti disudahi dan bukan diperhebat? Laginya Thian  ada matanya, aku yang sudah berusia hampir tujuh puluh tahun, aku tidak boleh berlaku kejam pula!” Maka itu, dengan cara sangat menyayang ia terus usap- usap kepala bocah itu, yang hampir saja rubuh sebagai korbannya.

“Sekarang pergilah kau pulang,” kata ia dengan sabar. “Kau jangan pikirkan pula ayahmu, dia sudah pergi kelain tempat, dimana tidak nanti ia bersengsara. Kau juga mesti bujuki ibumu supaya ia tidak bersusah hati terlebih jauh. Akupun mau menasehatkan kau, selanjutnya jangan kau musuhkan lagi muridku, jangan kau datang mengacau pula di depan rumahku ...”

Siau Hoo geleng-geleng kepalanya.

“Tidak aku tidak akan ribut pula!” ia jawab. “Kau telah memberi aku pisau yang bagus, selanjutnya aku tidak akan bikin ribut pula!”

Lalu, dengan sebelah tangan memegang toyanya dan sebelah yang lain mencekal pisau itu, sambil berjingkrakan ia lari pulang, ia ada sangat gembira.

Pauw Cin Hui awasi anak itu sampai lenyap dari pandangan mata, walaupun demikian, ia  masih berdiri bengong di pematang sawah itu, ketika ia sadar, ia lalu betindak pulang, hatinya puas, tidak lagi ia berduka.

Tatkala besoknya orang berkumpul di tempat belajar silat seperti basanya, tidak ada lagi murid yang dapat gangguan dari Siau Hoo dan rombongannya, dan Pauw Kun Lun telah tilik murid-muridnya dengan sungguh-sungguh, ia berikan pelajaran dengan bersemangat. Disitu pun ia suruh cucunya Ah Loan yang baru berumur sepuluh tahun turut belajar bersama.

Setelah jam belajar, selagi lain murid pergi bekerja, Puaw Kauwsu panggil Cie Hian masuk kedalam, pada murid ini ia serahkan beberapa potong perak hancur. “Uang ini ada kira-kira sepuluh tail,” ia kata, “Pergi kau bawa ke rumahnya Cie Seng dan serahkan pada isterinya. Cie Seng telah belajar silat tiga tahun, karena ia langgar aturan kita, ia telah terdesak hingga ia buron. Aku percaya, sekalipun sampai sepuluh tahun, belum tentu ia bisa pulang. Kasihan isterinya dan anak-anaknya. Nanti, kadang-kadang aku akan menunjang pula pada mereka.”

Cie Hian sambuti uang itu sambil manggut, ia terus undurkan diri.

Selagi ia keluar dari pintu, karena herannya ia  jadi curiga, hingga ia menduga-duga. “Apakah yang tua bangka ini pikir? Orang punya suami dan ayah ia telah binasakan sekarang ia tunjang janda dan anak piatu itu! Apakah benar-benar ia telah menyesal? ... Beberapa hari Siau Hoo mengacau, ia antap saja, ia seperti tidak gusar. Inilah mencurigai ... Sebenarnya, apakah yang ia pikir?”

Sampai di rumahnya Cie Seng, Cie Hian masih berpikir terus. Ia tolak pintu pekarangan dan masuk. Segera ia lihat Siau Hoo sedang buat main pisaunya yang  tajam yang panjangnya ada tujuh dim kira-kira, cahayanya mengkilap.

Melihat siapa yang datang Siau Hoo segera lari menghampiri.

“Ie-thio, Ie-thio!” ia berseru berulang-ulang. “Kau lihat pisauku yang bagus ini! Ini adalah golok mustika!”

“Ah, anak!” berkata Cie Hian, “tidak berhentinya kau buat main senjata saja. Nanti pisau itu bisa melukai dirimu sendiri! Dari mana kau dapat ini?”

“Ini ada pisau pemberiannya gurumu, si tua bangka she Pauw!” sahut keponakan itu.  “Kemarin maghrib dia tunggui aku di pematang sawah, dari tangan bajunya ia keluarkan pisau ini dan ia memberi padaku ...” Mendengar itu, dalam sesaat mukanya Cie Hian menjadi pucat, hatinya mencelos. Segera ia ambil pisau itu dari tangan keponakannya.

“Inilah hebat,” kata ia, yang terus bertindak kedalam rumah dengan bawa terus pisau itu. Ia lantas cari Oei-sie.

“Encie, kau mesti lekas ajak anak ini pindah ke kota!” kata ia. “Kalau tidak, kau akan terancam bahaya kebinasaan Tua bangka she Pauw itu ada kejam melebihi harimau, telengas melebihi ajag!”

Walaupun dia berkata demikian, tidak urung ipar ini ketetesan air mata.

Oei-sie heran, hingga ia mengawasi iparnya itu dengan tidak bisa lantas kata apa-apa sedang Siau Hoo yang ikuti Ie-thio itu, segera menghampiri untuk minta pulang golok mustikanya itu.

Cie Hian serahkan senjata yang diminta ini.

“Ambillah ini,” ia kata. ”Dengan senjata ini di belakang hari kau boleh ... Ah walaupun ayahmu sudah lakukan kekeliruan, ia seharusnya tidak usah sampai mesti ...”

Oei-sie heran melihat sikap iparnya itu, yang melelehkan air mata dan suaranya tidak lancar, tanpa merasa tubuhnya sendiripun bergemetar.

“Moayhu,” kata ia, seraya air matanya pun meleleh keluar. “Sebenarnya apa sudah terjdi? Apa orang she Pauw itu ...”

Cie Hian angkat kepalanya, ia menggoyang-goyangkan tangan.

“Sekarang ini aku tidak bisa bicara jelas, piauwcie,” kata ia. “Hari ini juga kau bertiga pindah ke kota, akan tinggal bersama di rumahku. Jangan pulang kembali kemari atau bencana hebat akan terjadi ...”

Oei-sie ketakutan, sekalipun ia belum tahu  duduknya hal. Firasat jelek membuat hatinya ciut. Ia lantas manggut- manggut.

“Baik, kita akan lantas pindah ke kota,” sahut ia. Selagi begitu, Siau Hoo cekal lengannya Ie-thio itu. “Bencana apa itu Ie-thio?”

Cie Hian goyangkan tangan, ia menghela napas.

“Kau tidak usah tanya,” ia kata. ”Kau turut ibumu pindah ke rumahku di kota, disana aku nanti ajaran kau ilmu silat, akupun akan ajarkan kau bekerja di bengkel, kalau nanti kau sudah bisa, golok semacam ini kau boleh bikin sendiri sesukamu, berapa banyak yang kau suka! Juga dengan kepandaian tukang besi di belakang hari kau bisa tuntut penghidupanmu.”

Bukan main girangnya Siau Hoo mendengar Ie-thio itu, sampai ia lompat berjingkrakan.

“Bagus! Bagus!” ia berseru berulang-ulang.

Benar-benar, itu hari juga Cie Hian ajak ipar ini pindah ke rumahnya. Ia cari satu sanak kepada siapa ia titipkan rumahnya Cie Seng itu. Untuk angkut itu ibu dan ajak bertiga, dan barang-barang yang dirasa perlu, ia sewa sebuah kereta. Ia berikan mereka ini kamar di bagian belakang dari rumahnya, di belakang bengkel besi.

Sekarang Cie Hian insaf benar bahwa gurunya ada seorang yang telengas sekali, bahwa tak usah disangsikan lagi Cie Seng mestinya sudah binasa di tangannya guru ini, dan itu ia percaya, jiwanya Siau Hoo dan adiknya di belakang hari akan terancam sekali ini sebab selanjutnya ia sangat berkuatir dan masgul. Tapi ia bungkam tentang kemasgulan atau kekuatirannya itu, walaupun pada istrinya ia tutup rahasia.

Sejak itu, kapan Cie Hian ketemu gurunya, selagi belajar dan lainnya, ia berlaku sangat hormat dan hati-hati, begitu pula terhadap semua saudara angkatnya terutama terhadap Cie Lim, ia tidak ingin lakukan sesuatu kesalahan juga, untuk mencegah gurunya jadi tidak senang dan gusari dia, ia insaf, asal ia berbuat salah, juga jiwanya akan terancam bencana maut.

Oei-sie dan anaknya tinggal dengan baik di rumahnya Cie Hian, hanya lama-lama setelah pikirkan dan sedihkan suaminya sekian lama, dengan si suami tetap belum kembali pikirannya nyonya itu menjadi tawar, hatinya lantas berubah-rubah. Pelahan dengan pelahan nyonya ini jadi gemar berhias seperti biasanya, ia suka pesiar atau pergi ke gereja, hingga ketika beberapa sanak suaminya ketahui tingkah lakunya itu, mereka itu lantas siarkan cerita jelek tentang nyonya janda yang bukannya janda itu ... Dengan cerita busuknya itu pun, sekalian sanak itu hendak cari alasan agar hartanya Cie Seng bisa dipecah diantara mereka. Cie Seng memang ada mempunyai beberapa puluh bahu sawah.

Sang hari lewat dengan cepat, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Sementara itu, entah keluar dari mulut siapa, lalu tersiar berita bahwa Kang Cie Seng sudah  mati, katanya dia telah ketemu berandal di gunung Cin Nia dan telah binasa di tangannya kawanan penyamun itu. Malahpun ada dibilang, ada orang yang lihat mayatnya Cie Seng itu.

Oei-sie dengar cerita itu, ia bersangsi, ia separuh percaya separuh tidak. Cie Hian sendiri tetap tutup rahasia, sampai belakangan, pikirannya berubah. Ia menjadi tidak puas ketika ia lihat kelakuannya si ipar mejadi centil, seperti juga nyonya itu tak sanggup menjadi janda muda.

“Apakah ini pembalasan?” tanya Cie Hian pada dirinya sendiri. “Dahulu Cie Seng ganggu isteri orang, dia mati baru satu tahun, lantas isterinya ini niat menikah pula. Daripada kemudian ia cemarkan dirinya di rumahku ini, lebih baik sekarang aku beritahukan dia yang suaminya benar-benar sudah binasa, biarlah dia wujudkan niatnya akan menikah pula!”

Benar-benar Cie Hian tak bisa tahan sabar lagi. Itu hari, ia hampirkan Oei-sie dan beritahukan bahwa Cie Seng benar sudah mati. Dengan rupa sangat sengit, ia kata pada iparnya itu. “Piauw-cie, sekarang aku omong terus terang padamu. Ciehu Cie Seng benar sudah binasa di tangannya tua bangka she Pauw itu. Tentang pembunuhan itu tidak ada seorang juga yang lihat, namun itu adalah kejadian yang benar! Ciehu sudah mati, piauwcie, jikalau  kau hendak menikah pula, tidak ada orang yang akan halangi kau, hanya, apabila kau menikah, kau tidak boleh bawa Siau Hoo. Siau Hoo ada anak sulungnya Cie Seng, dan Cie Seng, di sebelah ada sanakku, dia juga ada jadi suheng selama tiga tahun dari aku. Maka aku ingin ada turunan syah untuk Cie Seng!”

Keterangannya Cie Hian bikin Oei-sie kaget hingga ia menangis, terus menerus sampai tiga hari, malah ia pakai pakaian berkabung. Namun baru berselang beberapa bulan, hati mudanya telah tergoda pula, ia tidak tahan akan hidup terus sebagai janda muda, ia telah menikah kepada Tang Toa, satu saudagar benang. Ia bawa Siau Louw, yang telah masuk umur dua tahun, dan Siau Hoo ia antap tinggal bersama Cie Hian.

Tatkala itu Siau Hoo telah masuk usia empat belas tahun. Ia tuntut ilmu silat dari Ma Cie Hian, pelajarannya ia telah dapat kemajuan. Dimana iapun bekerja di bengkel besi kedua lengannya telah jadi keras dan kuat, tubuhnya kekar. Memangnya ia ada anak nakal dan bandal, sekarang ia hidup dengan pikiran terganggu, ia menjadi binal. Ia berduka karena lenyapnya ayahnya, ia menyesal karena ibunya menikah pula, ia masgul karena ia mesti berpisah dari adiknya. Karenanya ia suka sekali minum mabok- mabokan di warung arak ia gemar membikin onar di tengah jalan, sedang pekerjaannya di bengkel jadi tak keruan. Sudah begitu, ia tidak akur dengan Lie-sie, isterinya Cie Hian, ia sering bentrok dengan Ie-ie atau ipar itu, tak perduli Cie Hian sering datang sama tengah untuk mengakuri atau mendamaikan. Akhirnya Cie Hian jadi masgul ketika ia dapat kenyataan Siau Hoo ingin angkat kaki saja dari rumahnya.

Pada suatu tengah hari, Cie Hian pulang dari rumah gurunya dengan pakaian tidak keruan, seluruh tubuhnya penuh salju, kedua sepatunya penuh lumpur. Ketika itu memang ada di musim dingin, hawa udara dingin luar biasa, salju turun lebat sekali hingga semua rumah dan pohon-pohon tampak putih anteronya.

Lie-sie sambut suaminya dengan gerutunya.

-ooo0dw0ooo-

0 Response to "Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 02"

Post a Comment