Budi Ksatria Jilid 42 (Tamat)

Mode Malam
Jilid: 42 (Tamat)

PEK LI PENG segara tertawa: "Aku memang benar-benar tidak becus, bila dibandingkan dirinya maka baik dalam hal kecerdasan maupun pengalaman, akan masih kalah sangat jauh sekali!"

"Nah itulah dia, lalu apa sebabnya justru engkaulah yang diminta untuk mendampingi dirinya selama ini? Apakah engkau bisa menjawab alasannya ini?!”

Dengan wajah merah karena jengah, Pek li Peng menggeleng, sahutnya sambil tertawa: "Entahlah, aku tak bisa menjawab!"

“Kalau engkau tak bisa menjawab, maka biarlah aku yang menerangkan kepadamu, dengan hadirnya engkau di sisi tubuhnya, maka dalam semangat juangnya itu ia peroleh ketenangan dan hiburan, pada hakekatnya boleh dibilang ia sudah tak dapat hidup tanpa engkau, bayanganmu sudah demikian membekas dalam benaknya sehingga tak mungkin bisa dihapus lagi, karena itulah dia minta engkau mendampingi di sisinya baik siang maupun malam padahal waktu itu engkau sudah berdandan sebagai seorang perempuan kembali apakah Siau-tayhiap tak bisa berpikir bagaimanakah pandangan orang lain terhadap dirimu bilamana ia sudah tidak menganggap engkau sebagai istrinya?”

Pek li Peng segera tertawa manis sesudah mendengar perkataan itu, pujinya:

"It bun sianseng, engkau memang benar-benar luar biasa sekali, bukan saja pandai mengatur siasat peperangan, bahkan memahami pula perasaan hati antara muda mudi engkau memang patut dijuluki sebagai Khong Beng nya jaman ini. bukan saja dapat menerangkan apa yang belum pernah dilihat bahkan bisa menjelaskan pula apa yang tak diketahui orang!"

Tersenyum ewa It bun Han to mendengar pujian tersebut.

"Aku tidak pintar, cuma mereka yang terlibat langsung biasanya lantas dibikin kebingungan dengan sendirinya, sebaliknya mereka yang menyaksikan dari samping dapat menemukan semua kesalahan tersebut dengan amat jelas.!"

Pek li Peng tersenyum, ia putar badan dan berjalan beberapa langkah ke depan, tiba-tiba gadis itu berhenti lagi sambil sapanya:

"It bun sianseng .! Ada urusan apa lagi?!”

"Aku masih mempunyai suatu masalah lagi. cuma aku tak tahu apakah masalah ini pantas diberitahukan kepadamu atau tidak?”

"Lalu menurut pendapat nona, patutkah persoalan itu diberitahukan kepadaku?"

“Bagiku, aku rasa persoalan ini sepantasnya kalau kuberitahukan kepadamu, akan tetapi Siau toako suruh aku pegang rahasia, kata nya persoalan ini tak boleh diberitahukan kepada siapapun!”

"Dalam segi manakah persoalan tersebut?!”

“Persoalan ini menyangkut pula tentang diri toako, tampaknya ia tidak mempunyai keyakinan untuk menang dalam pertarungan yang akan berlangsung esok siang, oleh sebab itu... oleh sebab itu…."

Teringat bahwa persoalan itu belum memperoleh persetujuan dari Siau Ling, akhirnya gadis itu membungkam dan tak berani berbicara lagi.

Paras muka It bun Han to berubah jadi serius sekali, ujarnya dengan nada bersungguh-sungguh:

"Aku pikir urusan itu pasti penting sekali artinya, sepantasnya kalau nona memberi tahukannya kepadaku!"

"Persoalan ini menyangkut soal persiapannya bilamana sampai terjadi sesuatu hal tentang dirinya!”

“Apa yang telah ia persiapkan??”

"Catatan-catatan ilmu silatnya telah diserahkan semua kepadaku, ia berpesan kepadaku, bilamana dalam pertarungannya besok siang ternyata nasibnya kurang mujur sehingga menemui kematian, maka aku diwajibkan mencari enci Gak serta serahkan semua catatan ilmu silat itu kepadanya!”

It bun Han to segera termenung dia berpikir keras, kemudian jawabnya sambil mengangguk:

'Aaaai..! Apa yang telah diatur olehnya memang sangat tepat sekali, sebab apabila Siau tayhiap sampai gugur didalam pertarungannya kali ini, maka Gak Siau-cha lah satu-satunya orang yang mampu membalaskan dendam baginya!"

"Lalu apa yang musti kulakukan sekarang?”

Paras muka It-bun Han-to berubah jadi serius sekali, dia menengadah dan berpikir beberapa waktu, kemudian sahutnya :

“Persoalan ini benar-benar merupakan suatu masalah yang sangat besar, sebelum berbicara dengan nona, akupun sudah pernah berpikir sampai ke situ. Andaikata Siau tayhiap benar-benar sampai tewas dalam pertarungannya besok siang, sudah pasti dunia persilatan akan jadi kacau balau tak karuan. Aaaai! Dewasa ini Siau tayhiap sudah menjadi tonggak dari dunia persilatan, dialah lambang keadilan dan kebenaran, dengan hubungan kami yang begitu erat, sudah seharusnya kalau kita semua mengusahakan perlindungan bagi keselamatan jiwanya, bagaimanapun juga dia toh seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, Manusia bajapun akan harus berantakan, apalagi manusia biasa?"

“Perkataan sianseng memang benar tetapi apakah sianseng sudah berhasil menemukan suatu cara untuk melindungi keselamatan jiwa Siau toako ku itu??”

“Didalam persoalan ini, aku telah mempunyai suatu rencana bagus yang dapat dipercaya kasiatnya, akan tetapi

kamipun memaklumi bahwa Shen Bok Hong bukan manusia sembarangan. Aku pikir sebelum melakukan pergerakan, dia sendiripun telah menyusun suatu rencana yang amat sempurna, karena itulah pertarungan-pertarungan yang akan berlangsung esok siang, bukan saja merupakan suatu pertarungan adu tenaga, bahkan juga merupakan gelanggang adu kecerdasan.”

Dia melirik sekejap ke arah Pek li Peng kemudian sambungnya lebih lanjut :

“Sedangkan mengenai tindakan Siau tayhiap menyerahkan kitab ilmu silatnya kepada nona, andaikata apa yang diramalkan ternyata benar-benar terjadi dan dia tewas dalam pertarungan itu, maka mengutus engkau untuk menemui nona Gak merupakan suatu tindakkan yang mempunyai maksud amat mendalam, andaikata nona Gak menerima kitab catatan ilmu silatnya, maka itu berani bahwa ia telah menerima tugas berat yang dipikul Siau tayhiap selama ini, padahal nona Gak sudah pergi tinggalkan dirinya, jelas gadis itu ada niat untuk mengasingkan diri di tempat terpencil. Tapi rencana dari Siau tayhiap ini bagaikan sebuah borgol tak berwujud yang segera akan membelenggu hati Gak Siau cha, membuat ia tak mungkin bisa mengasingkan dirinya lagi.”

"Oooh... kiranya di balik kesemuanya itu masih terdapat banyak latar belakang yang tidak kupahami.." kata Pek li Peng sambil anggukkan kepalanya berulang kali.

Tiba-tiba It bun Han to tersenyum, ujarnya kembali:

"Tapi aku percaya bahwa akhir dari pertarungan esok siang tak mungkin bisa terjadi seperti apa yang ia bayangkan, semua persiapan yang dilakukan Siau tayhiap ini tak Iebih hanya tindakan menjaga diri belaka. Yaa… angpaplah sebagai suatu tindakan sedia payung sebelum hujan!”

"Kalau toh sianseng sudah mengatakan begitu. akupun bisa berlega hati….”

"Beristirahatlah nona! Besok kita akan bertindak sesuai dengan keadaan yang terbentang di depan mata. Aku percaya bahwa segala persiapan kita tak nanti akan kalah dari persiapan yang diatur oleh Shen Bok Hong!"

Pek li Peng tersenyum dan mengangguk, perlahan-lahan dia melangkah masuk ke dalam ruangannya.

Pada saat itu Siau Ling telah memejamkan matanya rapat-rapat. Paras mukanya amat serius tangan kanannya digunakan sebagai pedang dan digoyangkan ke sana ke mari tiada hentinya.

Dengan langkah kaki yang sangat berhati-hati, Pek-li Peng kembali ke tempat duduknya, sepasang matanya terbelalak lebar dan mengawasi semua gerak-gerik Siau Ling dengan seksama, pikirnya di dalam hati:

“Kalau dilihat dari keadaannya, ia benar-benar sudah dapat meleburkan seluruh konsentrasi dan pikirannya ke dalam jurus pedang yang sedang dipecahkan, moga-moga saja apa yang dilakukan selama ini mendatangkan hasil yang memuaskan.”

Kurang lebih seperminuman teh lamanya pemuda itu menggerakkan pedangnya kesana kemari, akhirnya dia hentikan gerakannya itu.

Walaupun gerakan tangannya telah berhenti, namun sepasang matanya tak pernah dibuka, bahkan boleh dibilang ia sama sekali tak tahu kalau Pek li peng telah masuk kembali ke dalam ruangan.

Pek-li Peng sendiri dengan pandangan yang amat tajam memperhatikan terus semua gerak gerik kekasihnya, ia lihat kulit wajah Siau Ling berkerut kencang, seakan-akan ia sedang memikirkan suatu persoalan, tapi gayanya itu mirip pula seperti seseorang yang sedang mengatur tenaga dalam dan melakukan semedi.

Pek li Peng tak berani bergerak ataupun menimbulkan suara, ia kuatir mengacau konsentrasi kekasihnya itu, maka sepanjang malam gadis itu cuma duduk kaku tanpa berani bergerak.

Malam itu berlalu dengan cepatnya, keesokan harinya cuaca amat jelek, awan tebal menyelimuti seluruh angkasa, hujan rintik-rintik turun sepanjang hari membuat permukaan tanah jadi basah.

Ketika Siau Ling menyelesaikan latihannya dan muncul dalam ruang tengah, tampaklah It-bun Han to dan Sun Put shia sekalian telah menanti disana.

Kecuali Sun Put shia, Bu wi totiang dan It-bun Han to yang berada dalam ruangan itu. Suasana amat hening dan sepi, begitu heningnya sampai tak kedengaran sedikit suarapun, sungguh suatu perbedaan yang kontras dengan suasana gaduh dan ramai kemarin hari.

Sebelum si anak muda itu menanyakan sesuatu, dengan cepat It bun Han to telah berkata :

"Nama besar Siau tayhiap benar-benar telah menggetarkan seluruh kolong langit, banyak jago persilatan yang berdatangan lagi ke tempat ini, sampai kini sudah ada seribu orang lebih yang berkumpul disini!”

"Dimanakah orang-orang itu?.”

“It bun sianseng telah membagi mereka menjadi dua puluh kelompok!” sahut Sun Put shia dengan cepat. “Tiap kelompok terdiri dari lima puluh orang, kini mereka sudah menuju ke lapangan pertarungan!"

"Shen Bok Hong tersohor karena kekejian serta kelihayannya, apakah tidak terlalu berbahaya bila mengutus mereka pergi kesana lebih dahulu? Kalau sampai disergap oleh pihak Shen Bok Hong, bukankah orang-orang itu bisa celaka?"

“Siau tayhiap tak usah kuatir!” ujar Bu-Wi totiang. “Segala sesuatunya sudah diatur oleh It bun sianseng. Dua puluh kelompok bertugas saling membantu pihak yang menghadapi mara bahaya, bahkan dari tiap kelompok dibagi pula menjadi regu-regu. Tiap regu terdiri dari lima orang dan diantara kelima orang itu harus terdiri dari campuran jago-jago yang pandai ilmu pukulan, ilmu senjata, ilmu totokan, ilmu senjata rahasia dan ilmu pengobatan. Selain itu It bun sianseng telah memilih pula beberapa orang murid perguruanku mendampingi 'Tiongciu siang ko, Tiong lam ji hiat, Ceng sute, Suma Kan, Coh Kim san, Tong Bun ki serta Liok Kui ciang. Beberapa orang jago yang berilmu silat agak tangguh dengan jalan menyaru mengawasi seluruh gelanggang. Dengan posisi semacam ini maka kendatipun Shen Bok Hong turun tangan sendiripun, dia harus menggunakan tenaga yang amat banyak sebelum berhasil melukai beberapa oraag kita…”

“Dan aku yakin Shen Bok Hong tidak akan mengorbankan tenaga murninya dengan begitu saja dalam keadaan seperti ini" sambung It bun Han to dengan cepat.

Tiba-tiba terdengar Sun Put shia menghela napas panjang, kemudian ujarnya:

"Saudara Siau, aku si pengemis tua benar-benar takluk dan kagum kepadamu!

"Kagum dalam urusan apa?”

"Kagum atas kejelian matamu serta kepandaianmu memilih orang. Pilihanmu kepada It bun sianseng untuk memimpin perjuangan kita melawan Shen Bok Hong benar-benar merupakan pilihan yang paling tepat!”

"Aaaah… ! Engkoh tua terlalu memuji!” seru Siau Ling sembari tersenyum.

"Bicara terus terang walaupun tempo dulu engkau pandai mengatur stasat serta menganalisa siasat orang lain tapi aku si pengemis tua sama sekali tidak kagum dan takluk

kepadanya tapi setelah kusaksikan bagaimana caranya ia membentuk kelompok demi kelompok dari sekian ratus jago yang berkumpul. Bahkan dari pengelompokannya itu membuat kekuatan yang terhimpun dari tiap regu yang terdiri dari lima orangpun sudah menjadi begitu hebat apalagi kalau sampai seluruh kelompok bergabung jadi satu betapa luar biasanya kekuatan tersebut, aku jadi benar-benar merasa takut!”

"Aaah... locianpwe suka memuji!" kata It bun Han to tetap berusaha untuk merendahkan diri.

"Aku tidak berusaha untuk memuji, tapi setiap patah kata yang muncul dari mulut aku si pengemis tua merupakan kata-kata sejujurnya yang timbul dari hati sanubariku!"

It bun Han to mendehem ringan, cepat dia alihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya:

“Sekarang waktu sudah cukup siang, tak ada gunanya kita buang waktu di tempat ini untuk mengobrol belaka, bagaimana kalau sekarang juga kita lakukan perjalanan menuju ke gelanggang pertarungan??”

"Baik, hayo kita berangkat sekarang juga”, sahut Siau Ling. Dia segera melangkah keluar lebih dahulu dari situ.

Sun Put shia, Bu-wi totiang, It bun Han to serta Pek-li Peng segera menyusul di belakang si anak muda itu, mereka lakukan perjalanan cepat di bawah rintiknya hujan.

Semua orang tahu bahwa pertarungan kali ini menyangkut mati hidupnya dunia persilatan, oleh karena itu sepanjang perjalanan suasana amat hening dan serius.

Kelima orang jago itu melanjutkan perjalanan dengan cepatnya, sekejap mata lima enam Ii sudah dilewati tanpa terasa. Sepanjang jalan semua orang membungkam dan tak seorangpun yang pernah membuka suara untuk memecahkan kesunyian.

Sudah tentu dalam keadaan demikian baik Sun Put shia, It bun Han to maupun Bu wi totiang tak mampu berbicara !agi, perasaan hati mereka seakan-akan tertindih oleh suatu beban yang amat berat. Di hati kecilnya mereka memang ingin mengucapkan sepatah dua patah kata yang bisa menghibur hati Siau Ling, tapi mereka tahu pembicaraan tersebut harus dimulai dari mana?

Bagaimana dengan Siau Ling sendiri? Sepanjang perjalanan menuju kegelanggang pertempuran, otaknya masih berputar terus memikirkan pemecahan jurus pedang yang dipelajarinya selama ini, tentu saja ia segan untuk membicarakan persoalan lain yang sama sekali tak ada gunanya.

Dalam hati kecilnya dia hanya berharap dapat melangsungkan suatu pertarungan satu lawan satu secara jujur dengan Shen Bok Hong, dan didalam pertarungan tersebut ia berhasil mengalahkan gembong iblis itu.

Sebab bila ia berhasil memenangkan pertarungan itu, niscaya rasa percaya pada diri sendiri di hati para jago persilatan akan tumbuh kembali, secara otomatis keadilan dan kebenaranpun bisa ditegakkan kembali dalam dunia persilatan.

Dua puluh li bukan satu jarak yang terlampau jauh apalagi yang sedang melakukan perjalanan adalah sekawanan jago persilatan yang berilmu tinggi, maka hanya dalam sekejap mata saja mereka sudah tiba di tempai tujuan.

Bukit Pek sek po adalah sebuah bukit gundul yang gersang dan terdiri dari tanah berbatu karang yang amat tajam, tapi hari ini suasana di tempat itu ramai sekali, meskipun hujan rintik-rintik masih turun tiada hentinya, namun kawanan jago yang berkumpul di sekitar tempat itu banyaknya tak terkirakan.

Seperti dengan sebutannya yakni Pek sek po, batu-batu yang berserakan di sekitar bukit rata rata berwarna putih.

Di atas serakan batu-batu patih itulah berdiri manusia persilatan baik itu yang tinggi, pendek, gemuk atau kurus dengan pelbagai dandanan yang berbeda, tapi satu bersamaaannya yakni kebanyakan mengenakan pakaian ringkas yang ketat serta menggembol senjata tajam.

Hujan masih turun rintik-rintik, meskipun tidak terlalu deras namun cukup membasahkan seluruh permukaan tanah ini membuat pakaian yang dikenakan kawanan jago persilatan itu menjadi basah kuyup seperti ayam tercebur kolam.

Di tengah keheningan yang mencekam seluruh bukit itulah, tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan lantang:

"Siau tayhiap telah datang!”

Seruan itu segera memperoleh tanggapan yang serentak, kawanan jago persilatan yang sedang berkumpul di tengah gelanggang, bersama-sama alihkan pandangan matanya ke arah samping, dimana Siau Ling sedang meluncur tiba dengan cepatnya.

Seribu pasang mata bersama-sama ditujukan ke atas wajah si anak muda itu, untuk sesaat suasana menjadi gaduh, kawanan jago persilatan itu pada merangkap tangannya dan memberi hormat.

Sambil melangkah masuk ke tengah gelanggang, Siau Ling merangkap tangannya balas memberi hormat kepada kawan-kawan jago persilatan tersebut, katanya:

"Saudara-saudara sekalian, tak usah banyak peradatan, aku orang she Siau tak kuat menerima penghormatan ini!”

Baru saja si anak muda itu menyelesaikan kata-katanya, mendadak sekilas cahaya tajam berkelebat menembusi angkasa dan langsung meluncur ke arah dada Siau Ling.

Meskipun tidak menyangka akan datangnya sergapan dari lawan, ancaman tersebut tidak membuat Siau Ling jadi gugup atau gelagapan, sedikit mengegos ke samping, telapak

tangannya segera direntangkan kedua belah arah, menyusul mana tangan kanannya diraut ke depan dan senjata rahasia yang sedang meluncur ke arahnya itu berhasil dicengkeram secara jitu.

Dengan kilatan sinar tajam anak muda itu memeriksa senjata rahasia rampasan itu ternyata benda tersebut tidak lebih hanyalah sebuah pisau terbang yang berbentuk tipis dan amat beracun.

“Ada pembunuh gelap....!” Jerit kaget berkumandang dari mulut kawanan jago di sekitar sana.

Suasana kontan jadi gempar, sinar mata kawanan jago persilatan yang berkumpul di empat penjuru bersama-sama menyapu sekelilingnya untuk menemukan si penyergap gelap itu.

Kawanan jago persilatan yang hadir di atas bukit Pek sek poo pada saat ini, sebagian besar adalah jago-jago silat yang berdatangan untuk menghadiri upacara kebaktian bagi arwah Siau Ling. Hanya dalam semalaman saja It-bun Han to telah mengatur mereka sedemikian rupa sehingga bukan saja gerak gerik mereka jadi sangat teratur dan tidak sembarangan, selain menjadi suporter bagi pertarungan Siau Ling nanti, merekapun dipersiapkan untuk menanggulangi bahaya yang mengancam dari pihak perkampungan Pek hoa san cun.

Andaikata kawanan jago dari pihak musuh telah menyiapkan pertarungan massal dengan mengirimkan seluruh jagoannya, maka serentak kekuatan yang telah terbentuk inilah yang akan bertugas untuk membendungnya..

Bisa diketahui betapa teraturnya organisasi mereka, tidaklah heran bahwa barisan dari kawanan jago itu sama sekali tidak kacau sekalipun sedang menghadapi peristiwa penyergapan.

Kawanan jago silat itu tetap berdiri pada posisinya masing-masing tanpa bergerak, hanya sorot mata mereka yang tajam

saja berkeliaran kesana kemari mencari orang yang dicurigai itu.

Sun Put-shia yang menyaksikan kesemuanya itu kembali menghela napas panjang, pikirnya:

"Aaai… Tak bisa dibantah lagi It-bun Han to memang seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi, hanya dalam semalaman saja pengelompokan jago-jago persilatan ini berhasil dilaksanakan, bahkan dia pun berhasil membuat mereka jadi begitu tenang dan berdisiplin tinggi, aaaii...! Rasanya hasil yang dicapainya ini tak kalah dengan kedisiplinan jago-jago silat yang telah dilatih selama banyak tahun"

Setelah mengamati sekejap pisau terbang tersebut, Siau Ling membuangnya ke atas tanah, kemudian ia mengerling sekejap ke arah seorang pemudi berpakaian ringkas yang berdiri kurang lebih satu kaki di sampingnya, sambil tersenyum katanya:

"Aaah...! Soal sergap menyergap sudah merupakan kejadian yang sangat biasa begitu, bukan baru sekali ini kujumpai peristiwa semacam ini tapi sudah berkali-kali. Untungnya nasibku selalu mujur dan jiwaku selalu dapat lolos dari ujung jarum, harap saudara sekalian tak usah menguatirkan keselamatanku! "

Habis berkata dengan langkah lebar ia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke depan.

Dari sikap serta gerak-geriknya yang begitu tenang dan wajar, seakan-akan menunjukkan bahwa pemuda itu tak pernah menjumpai suatu kejadian apapun.

Sikap yang amat tenang, santai seolah-olah tak pernah terjadi urusan apa-apa dari Siau Ling ini semakin mengagumkan hati kawanan jago persilatan yang hadir disana. Mereka tak menyangka kalau si anak muda itu bukan

saja berjiwa besar bahkan mencerminkan pula sikap seorang pendekar sejati.

Baru saja Siau Ling berjalan sejauh belasan tindak, tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang berseru dengan suara yang berat:

"Benar-benar seorang pendekar besar yang berjiwa ksatria, walaupun mengetahui akulah yang melakukan penyergapan yang gagal, namun tak sudi turun tangan untuk melakukan pembalasan. Aku betul-betul merasa sangat kagum!"

Ketika kawanan jago persilatan yang hadir disitu mengalihkan sinar mata mereka ke arah mana berasalnya suara itu, terlihatlah seorang pemuda berusia dua puluh empat lima tahunan yang berpakaian ringkas berdiri tegak dengan sebilah pisau belati menembusi dadanya.

Tatkala ucapan tersebut telah selesai diucapkan, ia segera mencabut keluar pisau belatinya dari atas dada, darah segar memancar keluar dengan derasnya. Tidak selang sesaat kemudian tubuhnya sudah terkapar di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Menyaksikan peristiwa itu, Siau Ling menghela napas panjang, katanya :

"It-bun heng, tolong urusi jenasahnya dan kuburlah secara baik-baik.”

It bun Han-to segera mengiakan, dia merintahkan dua orang laki-laki yang berada di sisinya untuk bekerja, dua orang laki-laki kekar itu segera mengangguk dan menggotong pergi jenasah pemuda berpakaian ringkas itu.

Setelah mayat pemuda itu digotong pergi, barulah Siau Ling menghembuskan nafas panjang. sinar matanya dialihkan kembali ke arah depan.

Kurang lebih lima kaki di hadapannya terdapat sebuah tanah daratan berbatu yang datar, sebuah panggung kayu setinggi lima depa dibangun di atas daratan yang datar tadi. Panggung kayu itu tak beratap, empat penjuru sekelilingnya juga tidak diberi alas ataupun benda lain untuk menutupinya. Dari gaya bangunan itu dapatlah diketahui kalau panggung kayu itu dibangun dengan tergesa-gesa.

Siau Ling berpaling dan memandang sakejap ke arah Si-bun Han to, kemudian tanyanya:

“Saudara It-bun, apakah panggung kayu ini kita yang bangun??”

"Benar,” jawab It-bun Han-to sambil mengangguk, "akulah yang mengirim orang untuk membangun panggung ini"

“Apa gunanya engkau membangun panggung kayu semacam ini ? Toh bagi kita sama sekali tak ada gunanya??”

“Panggung kayu ini dibangun sangat sederhana, itupun disebabkan karena tujuan kita membangun panggung itu hanya satu. Coba Siau tayhiap perhatikan, bukankah tempat dimana panggung itu dibangun adalah tanah datar yang agak tinggi letaknya dibandingkan dengan tanah di sekitarnya?”

“Nah, bilamana kita tempatkan orang di atas panggung itu, maka daerah di sekitar tempat ini akan berada di bawah pengawasan kita, semua gerak gerik musuh dapat kita ikuti dengan seksama. Dalam keadaan demikian, bilamana Shen Bok Hong hendak menggunakan siasat licin untuk memperdaya kita, maka setelah menyaksikan kita dirikan panggung tersebut, maka sedikit banyak dia harus berpikir tiga kali lagi sebelum bertindak.. bukankah panggung ini sangat bermanfaat sekali?"

"Oooh..! Kiranya begitu..." ujar Siau Ling sambil tertawa, ia mengangguk tiada hentinya.

Kiranya secara diam-diam It bun Han to, Sun Put shia serta Bu wi totiang beberapa orang telah menyusun suatu rencana yang rapi dan matang. Mereka telah mempersiapkan tindakan drastis bilamana dalam kenyataan nanti Siau Ling bukan tandingan Shen Bok Hong.

Oleh karena itulah sepanjang perjalanan mereka memutuskan untuk tidak membicarakan soal pertarungan tersebut dengan diri Siau Ling, bahkan sikap mereka seakan-akn tidak menaruh perhatian khusus atas berlangsungnya pertarungan itu.

Dengan begitu, tentu saja Siau Ling sendiripun merasa tak enak hati untuk mengajak mereka membicarakan masalah ini.

Sementara semua orang masih termenung tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang:

"Shen Bok Hong telah datang!”

Dengan suatu tindakan yang cekatan Siau Ling melompat naik ke atas panggung kayu itu, jauh memandang ke arah depan terlihatlah beberapa puluh ekor kuda sedang dikaburkan dengan cepatnya menuju ke arah gelanggang pertarungan.

Menyaksikan kedatangan musuh-musuhnya si anak muda itu segera berbisik kepada Pek li Peng:

"Peng ji. Ingatlah baik-baik pesan yang telah kusampaikan kepadamu itu.!"

"Akan kuingat selalu, toako tak usah kuatir”, sahut Pek li Peng seraya mengangguk.

Sinar mata Siau Ling yang tajam dialihkan kembali kepada It bun Han to ujarnya pula:

"Saudara It bun, andaikata nasibku kurang mujur dan menemui ajalnya dalam pertempuran kali ini, engkau tak usah membalaskan dendam bagiku tapi lindungilah Pek li Peng untuk meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat!”

"Siau tayhiap tak usah kuatir. Shen Bok Hong sudah bukan tandinganmu lagi. Dalam pertarungan yang akan berlangsung

nanti, pihak kaum iblis pasti akan tertumpas dari muka bumi, sedang keadilan dan kebenaran agak tertegakkan dalam dunia persilatan. Harap Siau tayhiap tak usah menguatirkan tentang masalah lain.”

Siau Ling tersenyum.

"Semoga saja yang kau ucapkan akan berubah menjadi kenyataan!”

Sorot matanya segera dialihkan ke sekitar gelanggang, ketika tidak ditemuinya sepasang pedagang dari kota Tiong ciu, Suma Kan Be Bun Hui serta rekan-rekan lain yang dikenalnya, tak tahan lagi dia lantas bertanya:

"It bun sianseng ! Kemana perginya saudara Sang serta saudara Tu ? Mengapa mereka tak terlihat diantara para jago yang hadir ditempat ini?"

"Oooh. ! Mereka sedang kuutus untuk melalukan beberapa tugas penting.." sahut It-bun Han to cepat.

Siau Ling mengangguk, dan dia tidak banyak bicara lagi.

Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, Shen Bok Hong dengan beberapa puluh orang jago telah mendekati panggung kayu tertebut.

Dengan suatu pemandangan yang seksama Siau Ling awasi rombongan yang dibawa Shen Bok Hong, ternyata dugaannya tak meleset, di belakang gembong iblis itu tampaklah seorang hwesio tinggi besar yang memakai jubah lhasa berwarna merah darah.

Siapa padri itu ? Dia tak lain adalah hwesio sakti yang pernah bertempur melawan ayah angkatnya ketika ia masih belajar silat di dalam lembah Sam seng-kok tempo hari.

Ketika tangan kiri hwesio berjubah merah itu diamati pula dengan teliti, maka tampaklah jari manis serta jari kelingkingnya telah terpapas kutung oleh senjata.

Menyaksikan kesemua itu, tanpa terasa ia berpikir di hati:

"Tenaga dalam yang dimiliki ayah angkatku Lam It-kong amat sempurna, tapi dalam kenyataan ia bukan tandingannya, guruku Cung San-pek yang bertarung dengan mengeluarkan ilmu pedang terbang pun cuma berhasil memapas kutung dua buah jari tangannya, aku rasa selama berapa tahun belakangan ini ilmu silatnya pasti telah mendapat kemajuan yang amat pesat., aaii.,! Jika dalam pertarungan yang akan berlangsung nanti aku harus berhadapan muka dengan padri itu., yaa! Itu berarti harapanku untuk rebut kemenangan semakin tipis, tidak aneh kalau tantanganku hari ini berani diterima oleh Shen Bok Hong dengan begitu saja, rupanya dia memang memiliki tulang punggung yang benar-benar bisa diandalkan!"

Dalam hati kecilnya si anak muda itupun mengerti, andaikata ia tak mampu menandingi kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki hwesio berbaju merah itu, niscaya kawanan jago lainnya yang berada di sekitar gelanggang tak mungkin bisa membantu dirinya, bila ia mati maka merekapun pasti akan dibasmi oleh Shen Bok Hong beserta begundalnya.

Sekalipun dalam hati kecilnya pemuda ini merasa sangat kualir, akan tetapi kekuatirannya itu tidak sampai diutarakan keluar dia kuatir bila kekuatirannya itu diungkap maka suasana akan bertambah kacau dan posisinya akan bertambah lemah.

Sorot matanya kembali beralih untuk mengamati beberapa orang jago yang mengikuti di belakang hwe-sio berbaju merah itu.

Tampaklah selain Wu kongcu dari perguruan Ngo tok bun, Kim hoa hujin, bayangan darah dari Shen Bok Hong, dipaling belakang adalah Tiam Lun yang pernah beradu kepandaian dengannya sewaktu ada dilembah tempo hari.

Tampaknya semua kekuatan inti yang dimiliki pihak perkampungan Pek hoa san cung telah dikerahkan semua ke tempat itu.

Walaupun demikian, dari pihak para pendekar dunia persilatan suasana tetap tenang dan teratur tiada perasaan jeri atau ngeri yang terpancar keluar dari wajah mereka, seakan-akan kawanan jago itu sudah merasa yakin pasti dapat menanggulangi setiap penyerbuan yang dilancarkan pihak lawan.

It-bun Han to, Sun Put-shia, Bu wi totiang serta Pek li Peng yang mendampingi Siau Ling pun tetap membungkam dalam seribu bahasa, sinar mata mereka ditujukkan ke arah lawan namun paras muka mereka tetap tenang dan penuh kewibawaan.

Dalam pada itu rombongan yang dipimpin Shen Bok Hong sudah tiba di bawah panggung kayu itu. Dengan cekatan gembong iblis itu melompat turun dari kudanya, disusul kawanan jago lainpun ikut melompat turun dari kudanya masing-masing.

Shen Bok Hong yang selama ini angkuh sombong dan tinggi hati, ternyata sikapnya kali ini jauh berbeda dari keadaan biasanya. Dengan sikap yang amat menghormat bahkan mendekati sikap munduk-munduk, dia memberi hormat kepada hwesio berbaju merah itu, kemudian bisiknya dengan lirih:

"Taysu, silahkan turun!"

Padri berbaju merah itu tersenyum, ujarnya:

“Engkau adalah tuan rumah sedang pieceng tak lebih cuma seorang tamu belaka. Sebagai tamu yang tahu diri tidak sepantasnya kalau unjukkan kekuatan dihadapan tuan rumah. Bila engkau sanggup membinasakan Siau Ling, maka seluruh kolong langit dengan sendirinya akan terjatuh ke bewah telapak kakimu, tapi kalau engkau tak mampu menangkan

dirinya, biarlah aku yang akan membikinkan perhitungan bagimu!”

Sebagian besar kawanan jago persilatan yang hadir dalam gelanggang, waktu itu tak ada yang kenal dengan asal-usul padri berbaju merah itu, maka kehadirannya di sana sedikit pun tidak menimbulkan kegemparan mereka cuma merasa tercengang dan keheranan ketika dilihatnya sikap Shen Bok Hong yang begitu munduk-munduk.

Lain halnya dengan Sun Pat shia. Begitu menyaksikan kemunculan padri berbaju merah itu, kontan paras mukanya berubah hebat.

Sekalipun pengemis tua ini sudah mengetahui asal usul padri tersebut, akan tetapi ia telap membungkam dalam seribu bahasa, tampaknya ia menguatirkan sesuatu sehingga tak berani memberitahukan asal-usul lawannya ini kepada orang lain.

Dalam pada itu, Shen Bok Hoag sudah mengalihkan sorot matanya ke arah Siau Ling, katanya dengan perlahan:

"Shen Bok Hong telah datang memenuhi janji!”

"Kalau toh Shen toa cungcu sudah datang kemari, apa salahnya kalau silahkan engkau naik ke atas panggung ini?”

Shen Bok Hong mendengus dingin, saat ini ia tidak menguatirkan apabila musuhnya menggunakan siasat untuk menjebak dirinya menerima tantangan tersebut tidak tampak dengan gerakan apakah dia melompat, hanya tahu-tahu dia sudah berada di atas panggung.

Siau Ling tertawa dingin, katanya:

"Pertarungan yang akan berlangsung pada saat ini adalah suatu pertarungan yang menentukan mati hidup kita berdua, sebelum salah seorang menemui ajalnya aku harap pertarungan ini jangan diakhiri dahulu ! Nah, Shen toa cungcu, silahkan cabut keluar senjatamu!”

Shen Bok Hong tidak langsung menjawab dengan pandangan tajam ia menyapu dahulu kawanan jago persilatan yang berkumpul di bawah punggung kayu itu. Ketika dilihatnya hampir delapan puluh persen kawanan jago yang hadir disana adalah jago-jago yang di bawah Siau Ling, perasaan hatinya langsung saja tercekat.

Dengan jantung berdebar keras pikirnya di hati:

"Sepuluh tahun sudah aku berusaha dan berjuang mati-matian, menggunakan berbagai cara untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya, akan tetapi usahaku untuk memaksa kawanan jago tersebut berbakti kepadaku selalu mengalami kegagalan, tapi Siau Ling baru dua tahun munculkan diri dalam dunia persilatan, kenapa ia bisa menarik begitu banyak simpatisannya, untuk jauh-jauh datang ke mari hanya untuk membantu pihaknya belaka?”

Berpikir sampai disitu, tangan kanannya segera merogoh kedalam sakunya dan mengambil keluar sebuah benda yang mirip pedang tapi bukan pedang dan berwarna hitam pekat, panjangnya kurang lebih dua depa.

Berbareng itu juga tangan kirinya mencabut pula sebilah pedang pendek yang memancarkan sinar gemerlapan, katanya dengan dingin :

"Sudah belasan tahun lamanya aku orang she Shen tak pernah bertempur melawan orang dengan menggunakan senjata tajam, ini hari adalah untuk pertama kalinya kugunakan senjata lagi!"

“Oooh.. kalau begitu aku merasa berbangga hati karena memperoleh penghormatan tersebut!” seru Siau Ling.

Perlahan-lahan diapun mencabut keluar sebilah pedang berwarna kuning emas, sementara sepasang matanya mengawasi benda hitam yang mirip pedang tapi bukan pedang di tangan kanan lawannya itu.

Dipihak lain, Shen Bok Hong kelihatan agak terperanjat setelah menyaksikan bentuk pedang emas di tangan Siau Ling, dengan paras muka berubah hebat serunya tertahan:

"Haahh..! Pedang emas penakluk iblis.."

"Tepat sekali ucapanmu, pedang ini memang Hu mo kim kiam, apakah toa cengcu kenal dengan pedangku ini?”

Air muka Shen Bok Hong berubah jadi amat serius, lama… lama sekali dia baru menghela napas panjang, katanya kemudian:

"Aaai..! Pedang ini sudah lama sekali tidak pernah muncul di dalam dunia petsilatan."

"Tampaknya Shen-toa cungcu amat jeri terhadap pedangku ini?" kata Siau Ling dengan cepat.

Shen Bok Hong segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeh heeeh heeeehh memang kuakui bahwa pedang mustika itu sangat tajam kendatipun demikian hebat atau tidaknya pedang itu tergantung pada si pemakai pedang itu sendiri… Saudara Siau, aku lihat lebih baik engkau berhati-hati sedikit dalam pertarungan ini!"

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tangan kirinya segera ditekan ke bawah menyusul mana tampaklah serentetan cahaya perak yang amat menyilaukan mata langsung menusuk ke arah dada Siau Ling.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut dengan cekatan si anak muda itu mengembang kan pedang Hu mo kim kiamnya untuk menangkis.

Serentetan cahaya emas segera meluncur ke udara dan langsung menangkis pedang perak yang sedang meluncur tiba itu.

"Trraaanngg !”

Diiringi benturan nyaring yang memekikan telinga, pedang perak di tangan Shen Bok Hong kena ditangkis sehingga miring sasarannya.

Siau Ling bertindak cekatan, sebelum gembong iblis itu sempat merubah jurus pedangnya, setelah menangkis serangan musuh ia menubruk maju ke depan, pedangnya gantian mengancam dada musuh.

Shen Bok Hong tetap berdiri tak berkutik di tempat semula, menanti ujung pedang lawan hampir tiba di depan badannya, benda hitam dalam genggaman tangan kirinya segera diangkat ke atas dan didorong sejajar dengan dada..

Mengikuti datangnya dorongan benda hitam itu, Siau Ling merasakan munculnya segulung tenaga hisapan yang sangat kuat membetot ke arah pedangnya itu, karena tidak menyangka, ujung pedangnya kena tersedot sampai arahnya miring ke samping .

Peristiwa ini seketika menggetarkan perasaan hatinya, dengan hati tercekat pemuda itu melompat mundur ke belakang. Sekarang ia baru memahami kiranya benda hitam yang dipakai Shen Bok Hong sebagai senjata itu tak lain adalah sebuah besi semberani yang mempunyai tenaga hisapan yang amat kuat.

Sekalipun tenaga hisapan yang terpancar keluar dari besi semberani itu cukup kuat untungnya Siau Ling bukan anak kemarin sore yang berilmu cetek, dalam waktu singkat ia berhasil menguasai kembali gerak miring pedangnya itu.

Haruslah diketahui, baik Shen Hong mau pun Siau Ling kedua duanya adalah jago-jago silat yang paling top dewasa ini. Pertarurgan diantara mereka, berdua boleh dibilang sama-sama berlangsung dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Dalam keadaan begini pihak manapun tak boleh membuat kesalahan, sebab hanya suatu kesalahan yang kecil saja maka akibatnya bisa menimbulkan keadaan yang fatal.

Demikian pula keadaannya dengan Siau Ling. meskipun detik itu juga dia berhasil menguasai kembali gerak pedangnya, tapi peluang yang amat baik itu segera dimanfaatkan pula oleh Shen Bok Heng secara jitu.

Tampaklah gembong itu miringkan badannya ke samping, pedang perak di tangan kirinya dengan kecepatan luar biasa meluncur ke depan dan langsung menusuk jalan darah Ciao keng hiat di bahu sebelah kiri si anak muda itu.

Sekilas pandangan, jurus serangan yang dipergunakan Shen Bok Hong itu tampaknya amat sederhana tanpa sesuatu yang hebat, tetapi para jago yang berada di deretan terdepan dari panggung kayu itu seketika merasakan hatinya bergetar keras, mereka tak tahu dengan cara apakah Siau Ling akan menghindarkan diri dari babatan pedang musuhnya.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, tampaklah Siau Ling membuang bahunya ke belakang, menyusul mana tubuhnya melangkah mundur satu tindak ke belakang.

"Sreeet..!" cahaya perak segera berkelebat lewat menyambar baju yang dikenakan Siau Ling. darah segar memancar ke empat penjuru dan tak bisa dihindari lagi bahu kiri si anak muda itu kena tersambar hingga terluka.

Cepat Siau Ling menggetarkan ujung pedangnya bersamaan itu pula dia berpekik nyaring, tubuhnya melambung ke udara, dari situ pedangnya berputar kencang dan melepaskan dua rentetan cahaya tajam yang sangat menyilaukan mata.

Shen Bok Hong membentak keras, dia ikut melambung ke udara kemudian menyongsong datangnya cahaya pedang yang tercipta dari senjata tajam musuhnya.

Dia gulung bayangan manusia saling bergumul menjadi satu di udara, diantara kelebatnya cahaya pedang terjadilah suatu benturan-benturan nyaring yang memekakkan telinga.

Cahaya kilat memancar ke empat penjuru dan bayangan manusiapun muncul kembali didepan mata. Duuk! Duuk. ! Dua benturan keras mengiringi robohnya Siau Ling dan Shen Bok Hong dari atas panggung kayu itu.

Ketika semua orang alihkan sorot matanya ke arah wajah dua orang jago lihay itu, terlihatlah Siau Ling masih berdiri di tempat dengan wajah serius, sebaliknya air muka Shen Bok Hong berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, matanya jelalatan tak menentu, jelas dalam bentrokannya barusan gembong iblis itu telah menderita kerugian yang cukup besar.

Bagaimanakah keadaan yang sebenarnya? Tak seorangpun yang sempat mengikuti, sebab pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu diliputi oleh cahaya pedang yang berkilauan, karenanya biasan cahaya yang memancar ke empat penjuru membuat semua orang merasakan matanya menjadi silau.

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, suatu ketika Siau Ling membentak nyaring, sekali lagi ia melompat ke depan dan melancarkan serangan maut.

Shen Bok Hong putar badan sambil menangkis, suatu pertarungan sengitpun segera berlangsung kembali.

Jurus-jurus serangan yang dilancarkan Siau Ling amat dahsyat dan sangat mengerikan, perubahan yang tak terhitung banyaknya terselip diantara serangan-serangannya itu, pokok serangan yang diandalkan adalah jurus ilmu pedang dari Tam Ia cing, tokoh silat dari perguruan Hoa san pay.

Saking dahsyat dan gencarnya serangan itu, bukan saja musuhnya dibikin kalang kabut tak karuan, sampai-sampai kawanan jago persilatan yang menyaksikan jalannya pertarungan dari bawah panggung pun merasakan pandangan matanya jadi kabur.

Tampaknya Shen Bok Hong telah ditekan oleh jurus serangan pedang yang dilancarkan Siau Ling, dia keteter hebat sampai tak bertenaga lagi untuk melakukan perlawanan.

Kendatipun demikian, gembong iblis tersebut tak sudi menyerah dengan begitu saja. Ia berusaha menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya untuk membela diri.

Setiap saat besi semberaninya diputar kesana kemari untuk menghalau pergi ancamn yang tiba. terutama sekali tiap kali ujung pedang Siau Ling mengancam jalan darah pentingnya, ia segera manfaatkan kelebihan yang dimilikinya pada besi semberani itu untuk menghalau.

Pertarungan berjalan kembali dengan sengitnya, seratus gebrakan sudah lewat tapi menang kalah masih belum dapat ditentukan.

Dalam keadaan begitu, serangan-serangan pedang yang dilancarkan Sua Ling kian lama kian bertambah dahsyat bahkan boleh dibilang pemainan pedangnya itu sudah mencapai pada puncaknya. Menghadapi ancaman seperti ini sekalipun Shen Bok Hong memiliki besi semberani juga tak ada manfaatnya malahan lambat laun ia makin keteter sampai tak sanggup mempertahankan dirinya lagi.

Keadaan jadi sangat kritis, bahaya akan mengancam datang setiap saat..

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar hwesio berjubah merah itu membentak nyaring:

“Shen toa cungcu, untuk sementara waktu minggirlah dahulu, aku hendak membuat perhitungan dahulu dengan bocah keparat itu!"

Shen Bok Hong memang sudah merasa keteter hebat sehingga tak sanggup mempertahankan diri lebih jauh. Mendengar seruan itu dengan sekuat tenaga ia melancarkan dua buah serangan gencar, maksadnya dia akan mendesak

mundur si anak muda itu Iebih dahulu sebelum melompat mundur dari gelanggang.

Tentu saja Siau Ling tak sudi melepaskan lawannya dengan begitu saja, dia memburu maju ke depan. Serangan demi serangan dilancarkan semakin gencar, bagaikan bayangan badan saja ujung pedangnya menyambar kian kemari mengikuti kemana perginya gembong iblis itu.

Betapa terperanjatnya Shen Bok Hong menghadapi kejadian seperti ini, ia mempergencar serangannya dengan harapan bisa mendesak mundur anak muda itu..

Siapa tahu perhitungannya sama sekali meleset, bukan saja serangannya tidak berhasil mendatangkan hasil, malahan ia semakin terdesak hebat oleh serangan gencar musuhnya.

Suatu ketika Siau Ling membentak keras "Shen Bok Hong, engkau hendak kabur ke mana..?"

Permainan pedangnya diperketat, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Bersamaan waktunya ketika pedang itu melepaskan tiga buah serangan berantai, diam-diam tangan kirinya melepaskan pula sebuah serangan maut dengan ilmu tan ci sin kang.

Kebetulan pada waktu itu Shen Bok Hong sedang mengangkat tangan kanannya dan menusuk ke arah pedang Sian Ling dengan senjata besi semberaninya itu..

Belum sempat serangannya mencapai sasaran, mendadak segulung desingan angin serangan telah meluncur tiba dan menghajar telak ke atas sikut kanannya.

"Aduuh…!" Shen Bok Hong menjerit tertahan.

Tidak ampun lagi sekujur lengan kanannya jadi kaku, kelima jari tangannya jadi mengendor dan besi semberani itupun terlepas dari genggamannya.

Kesempatan yang sangat baik itu tidak di sia-siakan oleh Siau Ling dengan begitu saja. Begitu senjata besi semberani itu terlepas dari genggaman lawan, dia segera memburu ke depan, pedangnya langsung diayun dan membacok ke arah lengan musuh.

Shen Bok Hong semakin terperanjat sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya, ancaman itu telah tiba.

Didalam gugupnya dia berusaha untuk menghindarkan diri dengan jalan melompat ke samping, sayang usahanya itu terlambat satu tindak.

"Kraaas…!" tak ampun lagi lengan kanannya tersambar hingga kutung jadi dua bagian.

Darah segar bagaikan pancaran air mancur segera menyembur keluar dengan derasnya, dalam waktu singkat seluruh pakaian serta permukaan tanah telah dinodai oleh darah segar.

Tidak puas dengan keberhasilannya ini, Siau Ling memburu ke depan lebih jauh. Pedang emasnya kembali berputar sambil melancarkan sebuah bacokan maut dari arah samping, maksudnya hendak mencabut nyawa gembong iblis yang sudah terluka itu.

Tapi sayang sebelum usahanya itu berhasil tiba-tiba dari arah belakang menggulung tiba segulung argin pukulan yang sangat keras.

Desingan angin pukulan itu dahsyat sekali ibaratnya ombak yang sedang mengamuk di tengah samudra, hal ini memaksa Siau Ling mau tak mau terpaksa harus berkelit ke samping.

Bayangan manusia berkelebat lewat di depan matanya, tahu-tahu hwesio berbaju merah itu naik ke atas panggung'

Sun Put shia yang telah bersiap siaga di sisi gelanggang segera membentak keras:

"Hwesio bajingan, mau apa kau? Ingin bertempur secara bergilir yaa??”

Sekali menjejak permukaan tanah, ia segera melompat naik ke atas punggung sambil melancarkan sebuah pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

Hwesio berbaju merah itu segera mendengus dingin:

"Hmmm! turun kau.." bentaknya.

Telapak tangan kirinya diputar kencang di depan dada kemudian melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

"Blaaang ...!” sebuah benturan keras menggelegar di angkasa, sepasang telapak tangan tahu-tahu sudah beradu satu sama lainnya.

Tubuh Sun Put shia yang sedang melayang maju ke depan segera terhajar sampai mencelat, sesudah berputar dua kali di udara, ia terjungkal kembali ke atas permukaaa tanah.

Dalam pada itu Siau Ling telah menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk menghimpun kembali tenaga murninya. Pedang Hu mo-kim kiam disilangkan di depan dada untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Setelah berhasil menghajar mundur Sun Put shia hwesio berbaju merah itu mengalihkan pandangannya ke atas tubuh Siau Ling, kemudian tegurnya dengan dingin:

“Heeeh heeeh heeeh bila tebakanku tak keliru, bukankah engkau adalah muridnya Cung San Pek??”

"Tebakanmu memang tepat sekali ! Dan akupun pernah bertemu muka dengan engkau.”

“Bagus bagus sekali ! Kalau begitu, andai kata kubunuh engkau pada saat ini, tentunya engkaupun bisa mati dengan mata meram bukan??”

Siau Ling mendengus dingin.

“Hmm! Sebelum pertarungan di antara kita berdua dilangsungkan, siapa menang siapa kalah masih merupakan suatu tanda tanya besar. Apakah taysu tidak merasa bahwa ucapanmu itu tak terlalu tekebur??”

“Sungguh besar lagakmu..Huuuh ! Kendati pun Cung San pek dan Lam It kong sendiri belum tentu mereka berani menantang aku untuk berduel satu lawan satu ! Bocah keparat, aku lihat nyalimu terlalu besar bahkan mendekati tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Engkau akan menyesal nanti karena berani berbicara sombong seperti itu?"

Siau Ling sama sekali tidak menggubris ucapan musuhnya lagi, seluruh pikiran dan tenaganya telah dihimpun menjadi satu di atas pedangnya.

Menyaksikan si anak muda itu paras muka hwesio berbaju merah itu kontan berubah hebat, kembali ia berseru :

"Bagus! Bagus sekali, tampaknya ilmu pedang terbang milik Cung San-pek juga telah berhasil kau pelajari"

Siau Ling tetap membungkam dalam seribu bahasa, hawa murninya ketika itu sudah disalurkan ke dalam pedang emas yang berada dalam genggamannya itu.

Sementara itu, di pihak lain Shen Bok Hong serta Sun Put shia yang terluka telah digotong pergi oleh jago-jago pihaknya.

Seketika itu juga tampaklah manusia berkeliaran di sekitar panggung itu, suasana jadi gaduh dan kacau balau.

It-bun Han-to sendiri berjalan hilir-mudik kesana kemari, seakan-akan sedang memberi petunjuk kepada anak buahnya.

Tetapi semuanya itu sudah tidak terlihat lagi oleh Siau Ling. Semua tenaga, pikiran serta perhatiannya telah terhimpun menjadi satu di atas pedang emasnya itu.

Tiba-tiba hwesio berbaju merah itu tertawa dingin, sambil membentak keras ia melompat ke depan dan langsung menerjang ke arah Siau Ling yang masih berdiri tegak.

Dalam waktu singkat tampaklah cahaya pedang dan gumpalan bayangan merah itu bergabung menjadi satu dan saling bergumul dengan serunya.

Siapa pun tak sempat menyaksikan bagai mana terjadinya bentrokan yang berlangsung di tengah udara itu, semua orang hanya sempat melihat bagaimana setelah bentrokan itu terjadi. Tubuh Siau Ling terlempar dari udara dan terbanting jatuh di atas panggung kayu tersebut.

Sedangkan hwesio berbaju merah itu berpekik panjang, tubuhnya secepat sambaran kilat melejit ke udara kemudian diiringi kilatan cahaya merah dia telah kabur menuju ke arah timur..

Dua titik gumpalan darah segar menodai permukaan tanah..

Beberapa sosok bayangan manusia segera melompat naik ke atas panggung kayu itu dan menyambar tubuh Siau Ling yang terluka, setelah itu sekali menjejak badan mereka telah melayang mundur lagi ke arah belakang.

Mereka tak lain adalah It bun Han-to serta Pek-li Peng dua orang.

"Blaaangg..!" suatu ledakan keras kemudian menggelegar memekikkan telinga, batu kerikil, batu cadas, pasir dan kayu beterbangan memenuhi angkasa, asap hitam yang tebal menyelimuti permukaan tanah, tahu-tahu panggung kayu tersebut sudah hancur menjadi ber keping-keping..

Entah berapa lama sudah berlalu, perlahan-lahan Siau Ling sadar kembali dari pingsannya.

Ketika ia membuka kembali matanya, tampaklah tubuhnya berbaring di atas sebuah pembaringan yang empuk, lt bun

Han to, Pek-li Peng, Sang Pat, Tu Kiu serta Lan Giok tong duduk berjajar di hadapannya.

Paras muka beberapa orang itu kelihatan sedih, murung dan kesal, tetapi setelah menyaksikan Siau Ling sadar kembali dari pingsannya, semua kesedihan dan kemurungan yang menyelimuti wajah mereka segera tersapu lenyap.

Pek li Peng membelakakan sepasang matanya Iebar-lebar, dia tarik napas panjang kemudian bisiknya:

"Syukur..syukur. Terima kasih Thian, terima kasih Tee.. akhirnya toako sadar kembali dari pingsannya. Oooh..! Sungguh berbahagia hatiku!”

Siau Ling menyapu sekejap wajah rekan rekannya, kemudian meronta dan berusaha untuk bangun.

Dengan cepat It bun Han to memburu ke muka serta memegang tubuhnya, ia berbisik:

"Siau tayhiap, luka dalam yang kau derita amat parah sekali jangan duduk lebih dahulu, berbaring sajalah disana, toh kita adalah orang-orang sendiri!”

Siau Ling mengangguk dengan pandangan berterima kasih, setelah berbaring kembali ia memandang lagi ke arah rekan-rekannya lalu tanyanya dengan lirih:

"Sudah berapa hari aku berbaring disini?”

"Engkau telah berbaring selama tujuh hari tujuh malam..!" jawab Pek li Peng sambil menghembuskan napas panjang.

Siau Lingpun tarik nafas panjang-panjang.

"Aku sudah berbaring selama tujuh hari tujuh malam lamanya?" pemuda itu masih rada sangsi.

It bun Han-to tersenyum seraya mengangguk.

“Benar, untung ilmu pertabiban yang dimiliki Tok jiu yok-ong ( raja obat bertangan keji ) amat dahsyat, ternyata dia berhasil juga menyelamatkan jiwa Siau tayhiap.”

“Apakah Tok jiu yok ong juga telah datang??”

"Benar ! Yaa..pertemuan besar yang terselenggara kali ini benar merupakan suatu pertemuan besar yang tak pernah dijumpai dalam seratus tahun belakangan, bukan saja beratus-ratus orang ciangbunjin dari pelbagai perguruan dan partai yang ada di kolong langit telah berdatangan semua ke tempat ini, bahkan ketua dari gereja Siau lim si, ketua dari Hoa san pay, Go bi pay, Kun-lun pay serta Seng pangcu dari Kay Pang telah berkumpul pula disini!"

Siau Ling mengangguk tanda mengerti, tiba-tiba ia celingukan kesana kemari, setelah itu tanyanya:

“Eeeh, kemana perginya Sun lo ko? Kenapa ia tidak nampak hadir di tempat ini?"

Belum sempat It-bun Han to memberikan jawabannya, tiba-tiba terdengar gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang datang.

"Haaahh…. Haaahh… haaahh…. engkau mencari aku si pengemis tua? Haaahh. haaahh. engkoh tuamu tak bakal mampus!"

Cepat si anak muda itu alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya suara itu, tampaklah Sun Put shia dengan jalan yang pincang dan harus ditunjang oleh sebatang tongkat perIahan-lahan sedang menghampiri ke arahnya.

Ketika tiba di hadapan pemuda itu, segera tegurnya :

"Saudaraku, bagaimana keadaanmu sendiri?"

Siau Ling tertawa ewa.

"Aku rasa tidak akan sampai mampus!"

Sua Put shia menyengir, ujarnya lagi :

“Ketika engkau menderita luka dalam yang amat parah, It bun sianseng berusaha memberikan pertolongannya dengan ilmu pertabiban yang dia miliki, tapi sayang usahanya itu tidak mendatangkan hasil apa-apa. Semua orang jadi sedih dan berduka hati waktu itu engkoh tuamu juga berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak. Walaupun begitu aku yakin bahwa engkau tak bakal mati, kusuruh mereka semua agar tenangkan hati dan tak perlu kuatir."

Pek li Peng yang berada di sampingnya segera menyambung dengan cepat:

"Andaikata Tok-jiu Yok ong locianpwe tidak datang tepat pada waktunya dan memberikan pengobatan yang seksama, toako tak mungkin bisa sadar secepat ini!”

"Aku harus pergi menjumpai Lam kiong locianpwe untuk menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongannya ini!" seru Siau Ling kemudian kepada Pek li Peog serunya.

"Tak usah berterima kasih kepadaku” tiba-tiba serentetan suara jawaban yang amat dingin menggema memecahkan kesunyian.

Ketika Siau Ling berpaling. tampaklah Tok jiu Yok ong sedang menghampiri ke arahnya dengan langkah lebar, datangnya ia membawa sebuah botol yang terbuat dari porselen.

Setibanya di hadapan si anak muda itu ujarnya lebih jauh:

“Didalam botol ini semuanya terdapat tujuh butir obat, setiap hari makanlah sebutir, bila ketujuh butir obat itu sudah selesai kau makan maka lukamu itu kendatipun belum sembuh benar, paling sedikit keadaan nya sudah lumayan.”

Kembali ia berhenti sebentar untuk menarik nafas panjang, lalu katanya lagi:

"Setelah lukamu sembuh nanti, aku harap engkau bersedia mengabulkan satu pemintaankul"

Botol porselen tadi segera diletakkan di sisi bantal anak muda itu.

"Katakanlah apa permintaanmu itu loocianpwe!" seru Siau Ling cepat, "asal boan-pwe dapat melaksanakannya, pasti akan kulakukan dengan sepenuh tenaga?"

“Ooooh..l Permintaanku ini pasti dapat kau lakukan, setelah lukamu sembuh tolong datanglah kebukit Kiu kiong-san untuk berjumpa dengan putriku, sekarang dia sedang berlatih ilmu silat makanya tak dapat ikut diriku untuk berkunjung ke mari. Hanya itu permintaanku, kau pergi atau tidak terserah pada kebijaksanaan Siau tayhiap!"

Tidak menunggu jawaban dari Siau Ling lagi, dia segera putar badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan punggungnya sudah lenyap tak berbekas.

Memandang kepergian Tok-jiu Yok ong, Siau Ling menghela napas panjang, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Untuk sesaat suasana jadi bening..sepi., tak kedengaran sedikit suarapun.

Akhirnya It bun Han to mendehem ringan memecahkan kesunyian yang mencekam ruangan itu, ujarnya :

"Siau tayhiap, beristirahatlah dengan hati yang tenang! Kawanan jago persilatan dari seluruh kolong langit telah terharu oleh pengorbanan yang dilakukan Siau tayhiap selama ini. Sekarang mereka telah sadar kembali dari kesilafannya, bahkan ketua dari sembilan partai persilatan serta Seng pangcu dari pihak Kay-pang telah bertekad untuk melanjutkan perjuangan Siau tayniap dalam melenyapkan kaum durjana dari muka bumi.”

"Bagaimana dengan Shen Bok Hong?" tanyanya kemudian.

“Dia beserta puluhan orang anak buahnya telah tewas semua oleh ledakan peluru sakti Po san sio lui !. "

"Apakah Kim hoa hujin ikut tewas?

"Benar, perempuan itu ikut tewas pula dalam ledakan tersebut, waktu itu suasana tegang dan amat kritis kami tak sempat memberi kabar lebih dahulu kepadanya!”

"Apakah engkau telah menyaksikan mayat-mayat mereka?

Sang Pat yang selama ini membungkam, tiba-tiba menjawab.

"Akibat dari ledakan Po San sin lui, daging dan darah berserakan dimana-mana hancuran tubuh bercampur aduk menjadi satu hingga sukar untuk mengenali jenasah mereka semua, tapi menurut penilaianku seratus persen Shen Bok Hong sudah tewas seketika itu juga!”

"Shen Bok Hong sudah terlalu banyak melakukan kejahatan" sambung Pek li Peng. untuk dosa-dosanya itu dia harus menerima kematian dalam keadaan mengenaskan, itulah ganjaran yang paling cocok bagi manusia durjana seperti dia!”

Siau Ling termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian tanyanya lagi:

"Bagaimana dengan hwesio berjari delapan itu?”

"Ia sudah terkena tusukan pedang dari Siau tayhiap”, sahut It bun Han to, sekali pun berhasil melarikan diri namun luka yang dideritanya cukup parah, sepanjang jalan darahnya berceceran terus kalau bisa selamatkan jiwanya sudah terhitung sangat mujur..!”

Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh:

"Sembilan partai besar dan pihak Kai pang masing-masing telah mengutus sepuluh jago lihaynya yang bekerja sama dengan para enghiong hoohan dari seluruh kolong langit

untuk melakukan pembersihan ke seluruh wilayah Tionggoan. Selain itu merekapun berusaha mencari berita tentang keadaan Hwesio berjari delapan, aku rasa tak lama lagi kabar beritanya tentu akan kita ketahui!”

"Kalau pohon sudah tumbang monyetpun akan membuyarkan diri!” ujar Sun Put shia. Setelah kematian Shen Bok Hong, segenap kekuatannya di perkampungan Pek hoa san cung pun ikut runtuh tak berwujud lagi, urusan-urusan yang kecil itu tidak perlu engkau pikirkan lagi. Baik-baiklah merawat lukamu disini, seratus orang lebih ciangbunjin dari pelbagai perguruan telah memutuskan untuk menghadiahkan tiga lembar lencana hui-liong-pay untukmu, di mana lencana itu muncul maka semua orang gagah di kolong langit akan bersama-sama mentaati perintahmu!”

"Aaah ! Tentang soal itu, lebih baik kita bicarakan setelah lukaku ini telah sembuh!" kata Siau Ling sambil tertawa getir.

Tiba-tiba dari arah pintu terdengar seseorang berseru dengan suara lantang :

“Saudara Siau, rupanya engkau telah sadar kembali !”

Be Bun hui dengan langkah lebar menghampiri ke sisi pembaringan, sambungnya lebih jauh:

"Suma Kan, Tong Goan ki, serta Liok Kui siang telah kuutus untuk menjemput ayah ibumu, dalam tiga lima hari mendatang mereka tentu sudah tiba disini!"

Siau Liag mengangguk dan tersenyum.

“Terima kasih banyak atas bantuan saudara Be dan saudara-saudar lainnya !”

"Siau tayhiap silahkan beristirat dengan tenang" bisik It bun Han-to lirih, "sembilan partai besar dan Seng pangcu telah memutuskan untuk membantu Gak Siau cha dalam usahanya untuk membalas dendam !"

Siau Ling mengangguk dan tersenyum.

“Nah ! Beristirahatlah dengan tenang.." bisik It bun Han to lagi, ia ulapkan tangannya dan segera mengundurkan diri dari ruangan itu diikuti para jago lainnya.

Lima hari kemudian; Suma Kan, Tong Goan ki serta Liok Kui ciang telah muncul kembali disana sambil mengiringi kedua orang tua Siau Ling.

Siau tayjin serta Siau hujin yang selama ini mengalami banyak penderitaan, saat itu kelihatan segar dan sehat-sehat belaka, sementara Kim Lan dan Giok Lan dua orang dayang yang selama ini mendampingi kedua orang tua itu kelihatan lebih dewasa dan cantik.

Pertemuan ini tentu saja sangat menggembirakan semua orang, terutama Siau Ling yang telah sembuh kembali dari lukanya lebih cepat dari waktu yang diramalkan. Saking terharunya tak tertahankan lagi air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.

Dari pembicaraannya dengan Suma Kan bertiga yang bertugas menjemput ayah bundanya, dapat diketahui olehnya bahwa mereka telah berjumpa dengan Gak Siau cha di tempat itu.

Menurut Suma Kan, katanya Gak Siau-cha telah mengambil keputusan untuk mengasingkan diri setelah berhasil membalaskan dendam ibunya.

Mendengar berita tersebut, Siau Ling menghela nafas sedih, gumamnya seorang diri:

“Aaaai. ! Kasihan enci Gak, rupanya dia lebih suka mengorbankan diri daripada menyusahkan orang lain, sayang aku tak tahu ke mana perginya enci Gak pada saat ini??”

Melihat kesedihan yang menyelimuti wajah si anak muda itu, kawanan jago lainnya yang ikut hadir dalam ruangan tersebut berusaha menghibur hatinya.

Terdengar Sun Put shia berseru:

"Hey, saudaraku, apa gunanya engkau menyedihkan keputusan nona Gak yang tampaknya lebih suka mengasingkan diri itu? Daripada memikirkan urusan orang lain, lebih baik pikirkan saja urusanmu sendiri!"

“Urusan apa yang lo-koko maksudkan?” tanya Siau Ling dengan wajah keheranan.

Sun Put shia tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh. haaahh. haaahhh-. urusan apa lagi? Tentu saja perkawinanmu dengan nona Pek-li!"

Mendengar ucapan tersebut, merah padam selembar wajah Siau Ling maupun Pek-li Peng, sementara jago-jago lainnya ikut tertawa tergelak sambil mengawasi sepasang muda-mudi yang kemalu-maluan dibuatnya itu.

Setengah tahun kemudian suasana di desa Tan kwi cung yang biasanya sepi dan hening terjadi kesibukan yang luar biasa.

Gedung tempat tinggal keluarga Siau tampak dihiasi dengan indah dan menterengnya, beratus-ratus orang jago silat dari pelbagai penjuru dunia berkumpul semua di desa, yang keciI dan tenang tadi.

Rupanya malam itu adalah perkawinan dari Siau Ling dan Pek li Peng.

Di tengah berlangsungnya ucapan perkawinan yang semarak dan amat meriah itulah tersiar berita bahwa Gak Siau-cha berhasil membalaskan dendam ibunya dan kemudian menghilang di suatu bukit yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia.

Sementara Giok Iong kun yang tak berhasil mendapatkan hati Gak Siau cha, dalam kecewanya ternyata mengambil

keputusan untuk mencukur rambut dan menjadi pendeta, di sebuah kota kecil.

Mendengar berita itu, semua orang hanya bisa menghela napas sedih..apa mau dikata lagi apabila suratan takdir telah menentukan demikian?

Manusia manakah yang mampu merubah suratan takdir tersebut..?

Begitulah sejak itu hari Siau Ling dan Pek-li Peng hidup berbahagia di desa Tan kwei cun yang sepi, mendampingi orang tuanya yang telah lanjut usia.

Sementara dunia persilatanpun menjadi aman dan tentram kembali sejak kematian Shen Bok Hong dan bubarnya kekuatan dari perkampungan Pek-hoa-cung.

Yaaa..! Begitulah kehidupan manusia, barang siapa berani berbuat kejahatan, dia akan dihajar oleh dosa dan hukuman yang setimpal. Barang siapa berbuat kebaikan dan kebajikan, dia akan hidup bahagia di alam ini..

Dengan demikian maka kuakhiri pula cerita "Budi ksatria" ini sampai disini saja, sampai jumpa dalam kesempatan lain.!

TAMAT

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 42 (Tamat)"

Post a Comment