close

Budi Ksatria Jilid 41

Jilid: 41

WU KONG CU termenung dan berpikir kemudian tanyanya: "Benarkah apa yang kau ucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya?"

"Setiap patah kata yang kukatakan betul-betul adalah ucapan yang sejujurnya!"

"Dia pergi seorang diri?"

"Dua orang dayangnya yang telah dianggap bagaikan saudara sendiri itu mengiringi kepergiannya."

"Masih ada satu orang yang mengejar kepergiannya itu," tiba-tiba It bun Han to menambahkan dari samping.

"Siapakah orang itu..?" cepat Wo kongcu bertanya dengan paras muka berubah hebat.

"Giok Siau long kun!"

Kontan saja Wu kongcu mendengus dingin.

"Hmm! Cepat atau lambat akhirnya toh dia akan menerima keadaan seperti yang di dalam Lan Giok-tong!"

"Kenapa dengan Lan Giok-tong?!" diam-diam Siau Ling berpikir dalam hatinya, "toh dia belum mati?!"

Setelah berpikir sebentar, ia urungkan maksudnya untuk memberitahukan keadaan tersebut.

Tiba-tiba Wu kongcu menengadah, sepasang matanya dengan sinar yang setajam sembilu menatap wajah Siau Ling tak berkedip, ujarnya lagi:

"Urusan tentang Lan Giok-tong lebih baik tak usah dibicarakan lagi, aku cuma ingin tahu bagaimanakah keputusan dari Siau tayhiap?. Harap engkau suka memberikan jawaban yang meyakinkan"

"Pertanyaan semacam itu sepantasnya kalau engkau ajukan kepada nona Gak pribadi," sahut It bun Han to dengan cepat, "sebab hanya dia seorang yang berhak untuk memberikan keputusannya. Sekalipun Siau tayhiap menyetujui toh tidak berpengaruh apa-apa dalam masalah tersebut"

"Heehh... heehh... heehh... tampaknya pembicaraan diantara kita berdua tak bisa dilanjutkan lebih jauh!"

Siau Ling pun tertawa dingin.

"Apakah engkau bersiap sedia akan melukai orang dengan menggunakan, binatang beracunmu?" ejeknya.

"Engkau adalah penghalang yang terbesar dari hubunganku dengan Gak Siau-cha, kecuali menyingkirkan dirimu dari muka bumi, rasanya memang tiada jalan lain yang lebih baik lagi."

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tiba-tiba dia mengayunkan tangannya ke depan, sekilas cahaya hijau segera meluncur ke depan langsung menyergap tubuh Siau Ling.

Dengan cekatan Siau Ling mengangkat taegan kanannya ke atas untuk menerima datangnya kelabang berwarna hijau itu. Begitu tertangkap ia segera meremasnya dengan sekuat tenaga.

"Kraaass..!'” kelabang yang mengerikan itu seketika tergencet sampai putus menjadi tiga bagian, sambil membantingnya keatas tanah ujarnya dengan dingin:

"Masih berapa banyak binatang beracun yang kau miliki ? Hayo keluarkan semua sampai habis!".

W u kongcu tertawa dingin.

"Heeeh heeeh heeeeh bila penglihatanku tidak keliru, agaknya engkau mengenakan sarung tangan kulit ular yang merupakan salah satu diantara tiga buah benda mustika dalam dunia persilatan, bukankah begitu??"

Siau Ling agak tertegun dalam hati pikirnya:

"Luas sekali pengetahuan orang ini..!"

Sebelum dia sempat menjawab, terdengar Wu kongcu telah meneruskan kembali kata-katanya:

"Ketika ayahku masih hidup dulu, beliau pernah beritahu kepadaku bahwa ia pernah menderita kerugian besar oleh sarung tangan kulit ular ini, katanya ia terluka oleh ilmu jari Siu-lo-sin ci nya Lia sian cu".

Tiba-tiba suaranya diperkeras, sambungnya:

"Apa hubunganmu dengan manusia yang bernama Liu Sian

cu itu??"

"Dia adalah salah seorang guruku, apabila engkau hendak membalaskan dendam bagi ayahmu, maka akupun bersedia untuk mewakili guruku untuk menerima pembalasanmu!"

"Sikap ayahku kurang lebih baik, sebab jikalau ia tidak menghalangi niatku maka sejak enam tahun berselang, selembar jiwamu sudah kubikin mampus, asal engkau sudah mampus sedari dulu, maka ini haripun aku tak akan dibuat kerepotan oleh tindak tandukmu"

"Enam tahun berselang engkau telah mendorong aku sehingga tercebur ke dalam jurang, apabila nasibku tidak mujur, memangnya aku masih bisa hidup sampai sekarang.. "

Wu kongcu mendengus dingin, tukasnya :

"Apabila ayahku tidak menghalangi perbuatanku, maka akan kusuruh engkau mampus digigit oleh binatang beracunku, asal engkau sudah tergigit oleh binatang beracunku, memangnya engkau bisa hidup sampai sekarang?!"

It bun Han to yang mengikuti jalannya pembicaraan tersebut, tiba-tiba berkata dengan suara lantang :

"Apabila manusia semacam ini dibiarkan hidup di kolong langit, itu berarti kita telah bertambah dengan seorang musuh tangguh, daripada meninggalkan bibit bencana dikemudian hari, alangkah baiknya kalau kita sudahi jiwanya sampai di sini saja."'

Mendengar ancaman tersebut, diam-diam Wu kongcu menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia.

Siau Ling menghembuskan napas panjang, katanya :

"Dimasa lampau, ayahmu pernah melepaskan budi pertolongan kepadaku, maka sebagai balasannya hari ini akupun akan melepaskan engkau satu kali, Nah! Sekarang engkau boleh pergi dari sini".

Tampaknya keputusan dari Siau Ling ini sama sekali diluar dugaan Wu kongcu, ia tampak tertegun dan berdiri menjublak, tapi sesaat kemudian ia sudah melangkah pergi dari situ.

Dengan suara lirih Siau Ling berbisik kepada It-bun Han to yang berdiri disampingnya :

"Saudara It bun, tolong beritahukan kepada saudara-saudara kita semua agar jangan menghalangi jalan pergi Wu kongcu ini?"

It-bun Han to mengangguk, sorot matanya segera dialihkan ke atas wajah Wu kongcu, kemudian katanya :

"Ketahuilah, Siau tayhiap adalah seorang pendekar sejati yang berjiwa besar, meskipun ia hanya menerima setetes budi kebaikan akan tetapi balasannya tak terkirakan, keputusannya barusan tentu berada di luar dugaanmu bukan? Aku harap engkau bisa tahu diri."

Beberapa patah kata itu memang sengaja diutarakan dengan mengandung maksud yang sangat mendalam, apalagi artinya kalau bukan memperingatkan Wu kongcu bahwasanya Siau Ling jauh lebih baik jika dibandingkan dengan diri Shen Bok Hong.

Wu kongcu sama sekali tidak berbicara, dengan mulut membungkam dalam seribu bahasa ia segera melangkah menuju keluar ruangan itu.

Siau Ling dan It bun Han to segera mengikuti di belakang Wu kongcu dan menghantarnya sampai di luar pintu gerbang.

Menunggu ia sudah berlalu dari sana dengan selamat, barulah kedua orang itu masuk kembali ke dalam ruangan.

Setelah berada dalam ruangan kembali, It bun Han to mendehem ringan, kemudian tegurnya:

"Siau tayhiap, apakah engkau sudah menyiapkan suatu rencana besar dalam hal ini??"

"Maksudmu, setelah kulepaskan Wu kong-cu dengan begitu saja ?" tanya Siau Ling sambil berpaling dan memandang sekejap ke arah rekannya, It-bun Han-to.

Jago yang berotak berlian itu mengangguk.

"Wu kongcu adalah seorang manusia yang licik, kejam dan tak kenal perikemanusiaan kekejamannya sedikitpun tidak

berada di bawah Shen Bok Hong sendiri, jikalau Siau tayhiap

melepaskan dirinya dengan begitu saja, bukankah sama artinya ibarat melepaskan harimau pulang gunung ? Akhirnya toh dia akan membuat keonaran kembali".

Siau Ling termenung beberapa waktu lamanya sesudah memutar otaknya diapun berkata:

"Engkau tak usah menguatirkan tentang soal Wu kongcu

itu, sebab, dikala hatiku memutuskan akan melepaskan Wu

kongcu untuk berlalu dari sini, pada saat itulah aku telah memutuskan untuk menantang Shen Bok Hong guna melakukan suatu pertarungan mati-matian melawan diriku, gembong iblis itu akan kutantang untuk melakukan suatu duel satu lawan satu !"

"Apakah Siau tayhiap punya rencana untuk secara langsung menantang Shen Bok Hong untuk berduel ?".

"Begitulah maksud hatiku! Agar rencanaku ini berhasil mencapai kesuksesan aku harap It-bun sianseng bersedia pula memberikan bantuannya, tugasmu cukup sederhana, cukup engkau siarkan berita ini hingga tersebar luas ke seluruh dunia persilatan, bila semua orang di dunia ini sudah tahu kalau aku menantang gembong iblis itu untuk berduel, niscaya Shen Bok Hong tak dapat menghindarkan diri lagi. Dalam keadaan begitu mau tak mau terpaksa ia harus menyambut tantanganku ini!"

"Untuk memaksa Shen Bok agar munculkan diri dan menerima tantanganmu itu bukanlah suatu pekerjaan yang menyulitkan; tapL.ia sebelum itu aku ingin bertanya dulu akan satu hal kepadama!"

"Apa yang hendak It bun sianseng tanyakan?!"

"Apakah engkau yakin bisa menandingi kepandaian silat yang dimiliki Shen Bok Hong ? Atau paling sedikit mampu mempertahankan diri sehingga tidak sampai menderita kekalaHan total?".

"Tentarg soa! itu kiranya sudah kupikirkan secara masak-masak, aku tahu di dalam soal tenaga dalam mungkin saja ia lebih sempurna bila dibandingkan dengan tenaga Iwekang ku, tapi di dalarn hal ilmu silat serta jurus serangan aku lebih hebat dan lebih banyak perubahannya dari pada dia. Selain itu usianya pada saat ini sudah meningkat lebih tua, sedikit banyak dalam soal phisik ia sudah banyak mengalami kemerosotan sekali pun badannya masih tangguh toh faktor umur jua ada pengaruhnya. Dia sudah tua sedarg aku masih muda, bagaimanapun juga kan yang muda jauh lebih kuat dan daya tahannya lebih tangguh. Maka menurut pendapatku bila pertarungan itu bila dilangsungkan agak lama, apalagi jikalau aku sanggup memaksa gembong iblis itu untuk bertempur sebanyak ribuan jurus, aku yakin dia pasti akan kehabisan tenaga dan roboh dengan sendirinya!".

Mendengar keterangan tersebut, It bun Han to tidak langsung menjawab ia termenung dan berpikir beberapa waktu lamanya setelah itu baru jawabnya:

"Semua keterangan serta alasan yang diutarakan Siau tayhiap menang benar, dan bisa diterima dengan akal sehat. Akan tetapi aku rasa tindakan tersebut terlalu membawa resiko yang amat besar, pada hal sebagaimana kau ketahui sendiri situasi dalam dunia persilatan dewasa ini lambat laun sudah semakin condong untuk menguntungkan pihak kita. Cukup berbicara menurut keadaan dewasa ini, bukankah keadaan posisi kita lebih menguntungkan daripada posisi musuh? Aku rasa bilamana tidak terlalu terdesak, jalan ini alangkah baiknya tak usah ditempuh"

"It bun sianseng,. secara beruntun Shen Bok Hong telah menderita kekalahan total di tangan kita, pada saat dan keadaan seperti ini semangat serta keberaniannya sudah banyak berkurang bila dibandingkan di masa-masa lampau. Saat ini merupakan saat yang paling suram dan gelap baginya sejak dia muncul kembali untuk kedua kalinya di dalam dunia persilatan, apabiia kita bisa manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini dengan sesempurna-sempurnanya, terutama bila kita bisa menangkan dirinya secara meyakinkan, maka bukan saja nama besar, kedudukan serta pengaruhnya akan mengalami pukulan yang sangat besar. Wibawa kepimpinannya akan bertambah merosot dan anak buahnya akan mulai membangkang perintahnya. Asal keadaan sudah berubah jadi begitu maka kekuasaannya akan tumbang dengan sendirinya, kekuatan pihak merekapun akan semakin Iemah. Siapa tahu kalau justru dengan tindakan seperti itu, kita malahan bisa selamatkan dunia persilatan dari suatu pembantaian secara besar-besaran?"

"Apa.. ? Menyelamatkan dunia persilatan dari suatu pembantaian secara besar-besaran?" tanya It bun Hun to dengan wajah keheranan, sepasang alis matanya berkenyit.

"Benar, kita akan selamatkan dunia persilatan dari suatu badai pembantaian secara besar-besaran" jawab Siau Ling sambil mengangguk.

Sesudah menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh :

"Aaai.. ! Menurut hasil penyelidikanku Shen Bak Hong telah menetapkan tanggal lima belas bulan ini sebagai saat perjuangannya untuk menumpas semua kekuatan suci dan kekuatan murni yang ada di dunia ini, pada tanggal itu serentak dia akan lepaskan burung merpatinya untuk menggambarkan kepada semua mata-matanya yang menyelinap ke dalam tubuh tiap partai besar dan perguruan agar mulai turun tangan. Target mereka akan merampas pucuk pimpinan perguruan-perguruan tersebut kendatipun sebagai pembayarannya mereka harus melakukan pembantaian secara besar-besaran!".

Betapa terperanjatnya It-bun Han-to setelah mendengar kabar itu, segera serunya dengan kaget :

"Waaaduuh bisa berbahaya kalau rencana busuknya itu

berhasil diwujudkan, bagaimanapun juga kita harus melakukan tindakan pencegahan sehingga maksud dan tujuannya itu menemui kegagalan total.. ! "

"Aku sendiripun mempunyai keinginan untuk mencegah jangan sampai rencana busuknya itu terwujud, oleh sebab itulah sebelum tanggal lima belas bulan ini, aku harus sudah melangsungkan pertarungan satu lawan satu dengan dirinya."

"Kalau memang begitu, bagaimanapun juga recana ini harus segera dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.. " seru It-bun Han to kemudian.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali kata-katanya lebih jauh :

"Kalau dihitung dengan jari, maka selisih jarak mulai hari ini sampai tanggal lima belas nanti tinggal lima hari belaka, itu berarti kita harus bekerja secara kilat agar semuanya sudah rampung sebelum saatnya tiba."

Siau Ling mengangguk tanda membenarkan.

"Apa boleh buat ? Terpaksa kita memang harus berbuat begitu, oleh sebab itulah aku minta bantuan dari It bun sianseng untuk, mencarikan akal dan susunkan rencana agar Shen Bok Hong bisa terdesak keluar untuk melangsungkan duel satu lawan satu didalam satu dua hari mendatang ini."

"Baik ! Kalau memang situasi dalam dunia persilatan telah berubah jadi sangat gawat, aku akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki!"

"Dalam dua hari mendatang akupun akan beristirahat serta memelihara tenagaku dengan sebaik-baiknya, apabila tiada sesuatu kejadian yang terlalu serius atau mendesak sifatnya, harap semuanya diputuskan dan diatasi oleh It-bun sianseng, engkau tak perlu mencari diriku lagi!"

"Tak usah kuatir, silahkan Siau tayhiap beristirahat dengan setenang-tenangnya."

Siau Ling menghela napas panjang, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi niatnya itu dibatalkan lagi, dengan langkah yang enteng dihampirinya kamar istirahat dari Pek li Peng.

Waktu itu Pek li Peng sudah berdandan sebagai seorang perempuan, ketika Siau Ling melangkah masuk kedalam kamarnya ia sedang menyisir rambut, ketika menyaksikan kemunculan si anak muda itu, ia segera bangkit berdiri seraya berkata :

"Toako, coba lihatlah! Apakah aku benar-benar sudah menginjak dewasa..?"

Siau Ling tersenyum mendengar pertanyaan itu.

"Kalau perempuan sudah menginjak usia enam belas tahun, ia sudah dianggap dewasa, memang gadis yang sudah menginjak dewasa, makin dipandang makin menarik hati..!"

Ia berhenti sebentar, tiba-tiba paras mukanya berubah jadi amat serius, sambungnya kembali :

"Peng-ji, selama dua hari mendatang kita harus beristirahat sebaik-baiknya, kita harus manfaatkan kesempatan yang amat sedikit ini untuk menambah kekuatan lwekang kita serta memperdalam jurus silat yang kita miliki, sekalipun hanya bertambah dengan satu dua jurus ini lebih baik daripada tidak memperoleh tambahan sama sekali."

"Ada urusan apa toh?" tanya Pek li Peng dengan paras muka berubah amat serius.

"Dua hari kemudian, aku hendak melangsungkan pertarungan satu lawan satu dengan Shen Bok Hong, bahkan dalam pertarungan nanti bagaimanapun juga aku harus berhasil menentukan siapa yang lebih unggul di antara kami berdua!".

"Apakah Shen Cok Hong bersedia untuk menerima tantanganmu itu? Aku kuatir dia akan menolak tantangan

tersebut!"

"Aku telah minta bantuan dari It bun sianseng agar mengaturkan segala sesuatunya bagiku, mungkin dengan kecerdikannya Shen Bok Hong berhasil dipaksanya untuk menerima tantanganku ini, kendatipun dengan perasaan hati yang terpaksa!"

"Toako! Mengapa kau tantang dia untuk berduel pada saat sekarang? Apakah engkau sudah mempunyai keyakinan untuk menangkan gembong iblis itu?"

Siau Ling gelengkan kepalanya berulang kali,

"Aaaai., Berbicara terus terang, aku sama rekali tidak mempunyai keyakinan untuk bisa menangkan pertarungan tersebut, yaa ..tapi apa boleh buat?"

"Toako. kalau memang engkau tidak mempunyai keyakinan untuk menangkan pertarungan tersebut, mengapa kau paksa diri Shen Bok Hong untuk muncuIkan diri dan menerima tantangan untuk melangsungkan suatu duel sengit satu lawan

satu?"

Mendengar pertanyaan itu, Siau Ling menghela napas panjang.

"Aaaai.. ! Sudah kukatakan tadi, keadaan yang memaksa aku harus berbuat demikian apa boleh buat? Waktu dan keadaan tidak mengijinkan diriku untuk mengulur waktu lebih jauh, bilamana kita tidak berharap datangnya bencana besar yang akan menimpa kita semua!"



"Kenapa bisa begitu?"

"Shen Bok Hong telah menetapkan bahwa pada tanggal lima belas belas ini, semua mata-mata yang disusupkan ke dalam tubuh tiap perguruan besar yang ada di dunia ini agar menggunakan segala tindakan yang paling keji dan paling sadis untuk merebut kedudukan ciang bunjin perguruan-perguruan itu. Bila semua partai sampai terjatuh ke tangannya, maka dengan mudah seluruh kolong langit akan terjatuh ke tangannya?"

"Oleh sebab alasan itu, maka sebelum tanggal lima belas bulan ini toako harus membinasakan Shen Bok Hong terlebih dulu?" sambung Pek li Peng dengan cepat.

"Memang begitulah maksudku, pokoknya yang penting kita harus mencegah agar perintahnya itu jangan sampai keburu disiarkan ke seluruh kolong langit."

"Tapi toako cuma seorang diri, dengan kekuatanmu yang begitu minim belum tentu bisa menandingi kehebatan dan kedahsyatan Shen Bok Hong, bukankah keadaanmu jadi berbahaya sekali??"

"Justru karena aku merasa kekuatanku seorang terlalu minim, maka kuharapkan bantuanmu!"

Mendengar jawaban tersebut. Pek li Peng ketawa manis, bisiknya dengan mesra:

"Benar, kita memang sepantasnya sehidup semati, kalau ada kegembiraan kita nikmati bersama, kalau ada kesusahan kitapun pikul berbareng, bukankah begitu toako??"

"Perkataanmu memang sangat tepat, oleh karena itulah kita harus gunakan segala kemampuan yang kita miliki untuk benar-benar manfaatkan keselamatan selama dua hari ini sebaik-baiknya. Selain menambah kekuatan kita, akupun hendak mewariskan pula sedikit ilmu silat kepadamu, agar bekalmu dalam melakukan pertarungan nanti jauh lebih banjak dan luas."

"Baiklah! Siau moay memang sangat berharap agar aku bisa mati bersama-sama toako kesempatan yang tersedia pasti akan kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya."

Begitulah sejak detik itu, mereka berdua mengurung diri di dalam ruangan tersebut!.

Waktu berlalu dengan cepatnya bagaikan kilat yang menyambar tengah angkasa, dalam sekejap mata dua hari sudah berlalu tanpa terasa.

Selama dua hari ini, Siau Ling dan Pek li Peng mengurung diri di dalam sebuah ruangan. Pekerjaan mereka hanya memperdalam ilmu silat masing-masing sebagai bersiapan untuk menghadapi pertarungannya melawan Shen Bok Hong.

Selama hari hari itu, boleh dibilang sepasang muda mudi ini putus hubungannya dengan dunia luar. Bukan saja menolak orang yang berkunjung ke tempat itu, merekapun tak pernah melangkah keluar dari ruangan tersebut barang setengah langkah pun.

Seluruh tenaga pikiran maupun perhatian mereka dicurahkan dalam ilmu silat, tiada pikiran lain yang mengganggu konsentrasi mereka berdua selama itu.

lt-bun Han to sendiri sibuk dengan tugas-tugas yang menumpuk diatas bahunya, bukan saja dia harus menyambut tamu-tamu terhormat yang berkunjung kesitu, diapun harus mengatur dan mempersiapkan tantangan Siau Ling untuk mengajak Shen Bok Hong satu lawan satu.

Bisa dibayangkan betapa repotnya jago tua ini.

Tengah hari menjelang hari ketiga, Siau Ling dan Pek li Peng telah menyelesaikan latihan mereka, dengan langkah yang santai kedua orang itu muncul kembali di luar ruangan.

It bun Han to, Sun Put shia dan Bu-Wi totiang sekalian dengan hormat menyambut kemunculan mereka berdua.

Begitu si anak muda tersebut munculkan diri dari ruangannya, It bun Han to segera maju sambil menjura katanya :

"Sungguh kebetulan. sekali kemunculan Siau tayhiap, sebab kami semua sedang menuju ke situ untuk memanggil diri tayhiap."

"Ada urusan apa ? Apakah semua rencana sudah kau aturkan dengan sebaik-baiknya??"

"Sungguh beruntung perintah tayhiap telah kulaksanakan dengan sebaik-baiknya, tengah hari besok pertarungan itu dimulai dan sudah diatur tempatnya yakni di atas bukit Pek sek poh !"

"Bukit Pek sek poh itu ada dimana ? Jaraknya dari sini kurang lebih berapa li ?"

"Kurang lebih lima belas li!" jawab Sun Pot-shia dengan cepat, " It bun sianseng telah mengutus orang-orangnya untuk pergi kesana melakukan persiapan!"

"Oooh, kitanya begitu?" seru Pek li Peng.

"Bagus sekali!" ujar Siau Ling pula "kebetulan masih ada beberapa jurus ilmu pedang yang belum berhasil diyakini oleh aku dan nona Pek li. Mumpung masih ada waktu yang tersedia, kami akan gunakan kesempatan yang ada ini untuk melatihnya hingga sempurna."

"Eeeh eeeh saudara Siau. tunggu sebentar!" tiba-tiba Sun Put shia berseru dengan gelisah.

'Apa yang hendak toako katakan lagi..?" tanya Siau Ling sambil tersenyum.

"Dalam pertarungan besok siang, apakah saudara Siau akan bertarung melawan Shen Bok Hong seorang diri?"

"Kecuali berbuat demikian, siau-te merasa kehabisan akal untnk mencari cara lain yang bisa memaksa Shen Bok Hong untuk melangsungkan pertarungan mati-matian melawan pihak kita!"

Sua Put shia segera mengangguk.

"Saudara Siau ada beberapa patah kata ingin kukatakan kepadamu, aku harap kata-kataku ini engkau dengarkan dengan seksama dan selain kau ingat dalam hati.. "

"Apa yang hendak engkoh tua katakan?"

"Saudara Siau, engkau masih muda dan tenagamu masih sangat dibutuhkan oleh umat persilatan di dunia ini, ketahuilah selama beberapa puluh tahun mendatang engkaulah yang harus memikul tanggung jawab untuk melenyapkan iblis dari dunia persilatan. Oleh karena itulah jangan sekali-kali kau pandang kematianmu sebagai suatu kejadian yang enteng, bilamana engkau merasa bahwa kekuatan yang kau miliki masih belum sanggup umuk menandingi kehebatan dari Shen Bok Hong, aku harap segeralah mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan. It-bun sianseng telah mempersiapkan suatu akal yang jitu untuk menghadapi Shen Bok Hong, mengerti.. "

"Apa yang telah kalian atur untuk menghadapi Shen Bok Hong..?!" tanya Siau Ling keheranan.

"Pokoknya kami telah mengatur suatu rencana yang sangat rapi untuk melenyapkan gembong iblis itu dari muka bumi!"

It-bun Han to yang berada di sampingnya segera menyambung pula :

"Beberapa hari belakangan ini, tempat kita telah kedatangan pula beberapa ratus orang jago persilatan yang berdatangan dari segala penjuru dunia, ketika mereka mengetahui bahwa Siau tayhiap berhasil meloloskan diri dari kepungan kebakaran tanpa mengalami cedera apapun, rata rata kawanan jago persilatan itu menunjukkan wajah yaag sangat kegirangan, mereka bersyukur karena tayhiap masih hidup dan tetap akan memimpin mereka menumbangkan kelaliman Shen Bok Hong!"

"Kalau toh kedatangan mereka semua ada!ah untuk menunjang kekuatan kita dalam perjuangannya menumbangkan kekuasaan dan kelaliman Shen Bok Hong, itu berarti pula bahwa mereka semua adalah tamu-tamu kehormatan kita, aku harap It bun sianseng dan Sun locu sekalian suka menyambut dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya."

"Di hadapan para jago persilatan yang telah berhimpun di tempat ini, aku telah mengumumkan tekad Siau tayhiap untuk melindungi kebenaran dan keadilan bagi umat persilatan serta berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menumpas Shen Bok Hong besert a begundalnya, dari muka bumi, serentak mereka bersorak kegirangan serta menyatakan keseriusannya untuk menyokong perjuangan tayhiap."

"Bagus... bagus ... Kalau memang umat persilatan di dunia ini telah bangun dari tidurnya serta mempunyai semangat juang yang begitu menyala-nyala, dalam pertarunganku melawan Shen Bok Hong besok siang ajak pula mereka semua untuk ikut menyaksikan jalannya pertarungan itu. Sedikit banyak kehadiran mereka disitu akan mendorong semangat juangku dalam pertarungan tersebut!".

"Ooh iya..!" tiba-tiba It bun Han to berseru kembali, ada seorang Kulo sianseng yang datang dari kota Tiong Ciu berharap dapat menjumpai Siau tayhiap, apakah engkau bersedia untuk menjumpainya?"

"Harap sianseag suka mewakili diriku untuk menyatakan rasa terima kasihku kepadanya! Bukan berarti aku Siau Ling sok jual mahal dan tak sudi untuk bertemu dengan orang lain, berbicara sesungguhnya pertempuran yang akan berlangsung besok siang benar-benar merupakan suatu pertarungan yang penting sekali artinya, agar jangan sampai dikalahkan oleh musuh secara mengenaskan, mau tak mau terpaksa aku harus melakukan persiapkan dengan seksama lagi!"

oooooOdwOooooo

IT BUN HAN TO tersenyum setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan lembut:

"Menurut Ku lo sianseng, katanya ia mempunyai urusan yang penting sekali artinya sehingga bagaimanapun juga dia harus berjumpa muka dengan diri tayhiap, tahun ini usianya sudah mencapai delapan puluh tahun lebih rambut maupun jenggotnya telah berubah jadi putih semua, rasanya kurang leluasa bila kita tampik permohonannya dengan begitu saja!"

Siau Ling termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian iapun mengangguk.

"'Baiklah! Mari kita pergi temui orang itu tua itu".

"Saat ini Ku lo sianseng sedang menunggu di ruang tengah, silahkan Siau tayhiap pergi ke sana!"

Sambil melangkah maju ke depan, Siau Ling bertanya lagi:

"Yang engkau maksudkan ruangan tengah apakah ruangan yang semula digunakan untuk ruang abu itu??"

"Benar, tempat itulah yang dimaksudkan."

Siau Ling tidak berbicara lagi, ketika ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu tampaklah beratus ratus orang jago persilatan dari segala pelosok dunia berkumpul semua di dalam ruangan itu, rupanya mereka adalah jago-jago yang khusus datang kesitu untuk menghadiri kebaktian bagi arwah Siau Ling.

It bun Hao-to langsung tampil kedepan, sesudah mengulapkan tangannya hingga suasana dalam ruangan yang semula gaduh tiba-tiba berubah jadi sepi kembali, ia memperkenalkan diri, katanya :

"Inilah Siau tayhiap yang sedang kalian nanti-nantikan!".

Siau Ling segera menjura kepada semua jago yang hadir dalam ruangan itu, katanya:

"Karena urusan aku orang she Siau, kalian harus melakukan perjalanan jauh tergesa-gesa berkunjung kemari, kejadian ini sungguh membuat siau-te merasa tidak tentram."

"Siau tayhiap adalah bintang penolong dari dunia persilatan, pelita dalam kegelapan yang mencekam seluruh jagad, sekalipun harus menempuh perjalanan jauh untuk berkunjung kemari, apa artinya jarak sedekat ini bagi kami? Harap Siau tayhiap jangan pikirkan persoalan ini didalam hati!" sahut kawanan jago persilatan yang hadir dalam ruangan itu hampir berbareng.

Terdengar salah seorang jago diantara yang hadir berseru lantang dengan suaranya yang kasar dan nyaring :

"Orang budiman selalu dilindungi oleh Thian, tatkala berita kematian dari Siau tayhiap tersiar luas ke seluruh dunia persilatan, aku sudah merasa tidak percaya... haaah ..haahh..haaha. ternyata tebakanku tidak meleset!"

Suara lain yang tinggi melengking sigera menyambung pula dengan cepatnya :

"Demi selamatkan jiwa kita semua dari ancaman penindasan dan penganiayaan, Siau tayhiap harus menempuh bahaya dan mempertaruhkan jiwa raganya demi kita semua, karena kami Siau tayhiap musti bersusah payah lari kesana lari kemari, menguras otak dan tenaga untuk berjuang, pada hal tiada sesuatu balasan apapun yang bisa kita berikan kepadanya, sepantasnya apabila kita memberikan suatu penghormatan yang besar untuk kebesaran jiwa Siau tayhiap

kita!".

Berbareng dengan seruan tersebut, suasana jadi sangat gaduh kawanan jago persilatan lainnya segera menyatakan akur. Maka berbondong-bondong kawanan jago persilatan yang jumlahnya mencapai ratusan orang itu serentak jatuhkan diri dan berlutut diatas tanah dan memberikan penghormatan yang besar.

Menyaksikan kesemuanya itu Sun Put shia menghela napas panjang bisiknya dengan suara terharu:

"Sejak jaman dahulu kala sampai detik ini belum pernah ada seorang jago persilatan yang pernah mendapatkan penghormatan setinggi dan semulia ini dari kawanan umat persilatan lainnya kecuali saudara Siau ku ini...."

"Aaaai... ! Saudara Siau memang seorang pendekar besar yang luar biasa sekali, seorang pendekar sejati yang berjiwa besar dan bijaksana, sudah sepantasnya kalau jago sebijaksana ini memperoleh penghormatan besar ini.syukur umat persilatan telah bangun dari tidurnya. Asal mereka telah sadarkan diri, kelaliman Shen Bok Hong pun sudah tiba saatnya untuk tumbang!"

Sementara itu Siau Ling dibuat tertegun sampai tak mampu berkata-kata menghadapi kejadian yang sama sekali tak terduga olehnya itu, selang sesaat kemudian tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut pula ke atas tanah, katanya dengan lantang :

"Saudara-sadaraku sekalian, perbuatan kalian ini bukankah sama artinya membuat susah aku orang she Siau? Silahkan bangun.. silahkan bangun semua!"

It bun Han to yang berada di sampingnya, segera menanggapi dengan suara nyaring :

"Saudara-saudara sekalian, silahkan bangun berdiri semua!. Siau tayhiap bukanlah seorang pendekar yang gila hormat, dia adilah seorang laki-laki luar biasi di dunia ini. Justru karena sikap kalian yang berlebih-lebihan membuat tayhiap kita jadi rikuh dan serba salah, maka untuk menghindari segala kekikukkan, harap kalian semua bangun berdiri"

Bentakan tersebut cukup mendatangkan hasil yang manjur, serentak kawan jago persilatan yang jumlahnya mencapai ratusan orang itu bersama-sama bangun berdiri.

Setelah suasana menjadi tenang kembali seorang kakek tua berjenggot putih sepanjang dada, dengan memakai baju yang amat sederhana perlahan-lahan munculkan diri dari rombongan para jago.

Setibanya dibadapan Siau Ling, kakek tua itu segera merangkap tangannya memberi hormat, lalu menyapa:

"Siau tayhiap !"

Buru-buru Siau Ling balas memberi hormat.

"Apakah cianpwe adalah Ku-lo locianpwe yang hendak berjumpa dengan diriku??"

Kakek tua berjenggot putih itu segera mengangguk.

"Betul !, Aku adalah Ku Kong to.. " sahutnya.

"Ada urusan penting apakah Ku locianpwe datang kemari dan ingin bertemu dengan aku yang muda ini?" tanya Siau Ling kemudian sambil tersenyum.

"Aaaai I Sudah puluhan tahun lamanya aku menanti dan menanti terus, hampir saja aku tak sabar untuk menantinya lebih jauh, untung akhirnya saat yang kutunggu datang juga di depan mata ... takdir, inilah yang dikatakan takdir".

Semua orang tertegun, termasuk juga Siau Ling yang sedang diajak berbicara.

Bagaimana tidak heran? Beberapa patah kata yang diucapkan kakek tua itu bukan saja tiada ujung pangkalnya, bahkan tidak dipahami pula apa yang dimaksudkan dengan ucapannya itu.

Suasana jadi hening dan sepi, sorot mata serta perhatian para jago tanpa sadar bersama-sama dialihkan keatas wajah Ku-lo sianseng yang sudah banyak berkeriput itu,

"Ku locianpwe apa yang hendak kau katakan kepadaku?" tanya Siau Ling kemudian setelah termangu sejenak, "bila engkau ingin menyampaikan sesuatu katakanlah secara berterus terang, dengan senang hati aku orang she Siau akan mendengarkan semua penataanmu itu!."

"Yaaa .! Apa yang barusan kukatakan memang teramat sederhana, tak heran kalau Siau tayhiap tak dapat menangkap arti sebenarnya dari ucapanku itu."

Setelah berhenti sebentar, Ku Kong to meneruskan kembali kata-katanya :

"Aku telah mendapat titipan dari seorang manusia aneh yang meminta kepadaku agar menyimpankan sebuah benda, pesannya aku minta untuk mewakili dirinya untuk mencarikan seorang pendekar yang benar-benar sejati di dunia ini, kemudian menghadiahkan kepadanya sebuah benda yang kusimpan itu. Tapi sudah puluhan tahun lamanya aku mencari dan mencari terus tanpa hasil, sekarang murcullah Siau tayhiap di dunia ini. Aku lihat Siau tayhiap adalah seorang pendekar yang benar sejati, maka kuputuskan bahwa cuma

Siau taybiap seorang yang pantas memperoleh benda tersebut..!"

Berkilat sepasang mata Situ Ling setelah mendengar perkataan itu dia lantas bertanya:

"Benda mustika apakah yang locianpwe simpan?"

Ku Kong to merogoh kedalam sikunya dan mengambil keluar sebuah bungkusan kain kuning, sahutnya :

"Benda tersebut hanya sebilah pedang yang terbuat dari emas, pedang ini khusus digunakan untuk menyapu iblis membersihkan hawa siluman serta menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh dunia persilatan."

Berbicara sampai disitu, dengan sikap yang sangat hormat dia angsurkan bungkusan kuning tadi ketangan Siau Ling.

Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini. tak mungkin bagi Siau Ling untuk menampik pemberian itu, apa boleh buat. Terpaksa ia menerima bungkusan kain kuning itu dengan kedua belah tangannya.

Ketika kain kuning tersebut dibuka, tampaklah sebuah sarung pedang yang memancarkan cahaya keemas-emasan. Panjang senjata tersebut hanya dua depa diatas sarung pedang tertera tujuh butir mutiara sebesar mata kucing, mutiara tersebut membiaskan serertetan cahaya lembut yang amat menyilaukan mata.

Jangankan melihat pedang emas itu, cukup ditinjau dari sarung pedangnya sudah dapat diketahui bahwa benda itu adalah sebuah benda mustika yang tak ternilai harganya.

Menyaksikan kesemuanya itu, Siau Ling segera berseru:

"Pedang ini terlalu berharga sekali aku tak berani untuk menerimanya.. .!"

"Pedang mustika sudah sepantasnyalah kalau dihadiahkan untuk seorang pendekar sejati" ujar Ku kong to dengan cepat.

"Siau tayhiap, apa salahnya kalau engkau mencabut dahulu pedang tersebut".

Siau Ling tidak banyak bicara lagi, ia tekan tombol pada gagang pedang tersebut dan.. ''Criinngg... ! di tengah dentingan yang amat nyaring, pedang itu segera tercabut ke luar.

Serentetan cahaya tajam yang disertai dengan gulungan hawa dingin segera berhembus lewat menggigilkan badan, tak kuasa lagi si anak muda itu memuji tiada hentinya:

"Pedang bagus.!! Pedang bagus.!''

Di tengah hembusan angin dingin yang menggidikkan hati, meluncurlah serentetan cahaya tajam berwarna kuning emas.

Kiranya di tengah-tengah tubuh pedang yang lebarnya satu depa delapan cun itu, terdapatlah sebuah jalur garis emas yang memancarkan cahaya tajam.

It bun Han to yang selama ini membungkam tiba-tiba ikut angkat bicara katanya:

"Tiga ratus tahun berselang, Hu mo kim kiam (pedang emas penakluk iblis) pernah muncul satu kali di dalam dunia persilatan, dalam suatu amukan yang hebat sekaligus pedang tersebut telah menjagal enam puluh empat orang gembong iblis, membuat dunia persilatan selama delapan puluh tahun lamanya menjadi tenang dan damai, tak pernah terjadi keributan kembali, sungguh tak nyana ini hari pedang Hu mo kim kiam yang maha sakti itu telah muncul kembali di dalam dunia persilatan!"

"Perkataan sianseng sangat tepat sekali!" jawab Ku Kong to dengan cepat! "ini menunjukkan bahwa pengetahuan sianseng benar-benar sangat luas. Sejak Hu mo kim kiam menjagal gembong-gembong iblis dan membuat dunia persilatan menjadi tentram kembali, pedang itu memang telah lenyap dari peredaran dunia persilatan, ada orang yang mengatakan bahwa pedang mustika ini telah tenggelam ke dasar samudra yang amat dalam, ada pula yang mengatakan bahwa pedang itu terbang ke langit sembilan, tapi pada hakekatnya pedang tersebut masih tetap berada di dalam dunia kita ini."

"Entah bagaimana ceritanya, suatu ketika pedang tersebut telah didapatkan oleh seorang sahabat karibku, sahabatku itu menyadari bahwa kemampuan serta watak yang dimilikinya masih belum pantas untuk mempergunakan pedang itu, maka selama berpuluh-puluh tahun lamanya pedang tersebut hanya disimpan terus tanpa pernah digunakan barang sekalipun, dia berharap agar suatu ketika pedang ini bisa dihadiahkan kepada seorang pendekar besar yang benar-benar berjiwa mulia dan bersedia menumpas kejahatan dari dunia ini."

Berbicara sampai disitu. kakek tua itu menghembuskan nafas panjang, selang sejenak kemudian baru sambungnya lebih jauh.

"Aaaai ! Sayang sekali, sahabatku itu tidak kuat untuk menunggu lebih lima, dia telah pergi mendahului diriku. Sesaat sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan ia serahkan pedang itu kepadaku dengan pesan carikan seorang pendekar sejati yang telah tinggi ilmunya dan mulia budi pekertinya, agar senjata tersebut bisa dimanfaatkan untuk menegakkan keadilan serta kebenaran bagi umat persilatan."

"Didalam dunia persilatan ini, hanya Siau tayhiap seorang yarg pantas memakai pedang itu. Sepantasnya kalau pedang tersebut dihadiahkan kepada tayhiap!" teriak para jago persilatan dengan cepat.

Seorang bersuara yang lain segera menanggapi, dalam waktu singkat hampir seluruh jago silat yang hadir di situ menganjurkan Siau Ling untuk menerima pedang mustika tersebut.

Betapa terharunya Siau Ling menghadap keadaan tersebut, serunya dengan cepat:

"Kebajikan dan kemampuan apakah yang dimiliki aku orang she Siau? Tidaklah pantas aku memperoleh perhatian serta cinta kasih dari saudara-saudara sekalian".

"Siau tay-hiap, engkau tak usah menampik lagi!" ujar Ku Kong to kembali, "sudah kupikirkan persoalan ini sebanyak tiga kali aku merasa hanya Siau tayhiap seorang yang pantas menerima hadiah padang ini, harap Siau tayhiap sukalah menerima pemberianku ini!"

Siau Ling benar-benar dibuat apa boleh buat setelah didesak berulang kali, akhirnya ia menjawab:

"Baiklah apabila memang begitu biarlah aku yang mewakili Ku locianpwe untuk simpankan pedang mustika ini!"

Setelah pedang Hu mo kim kiam tersebut diterima oleh Siau Ling, tiba-tiba Ku Kong to menengadah lalu tertawa terbahak-bahak, suaranya amat keras hingga menggetarkan seluruh ruangan.

"Haaahhh. haaahhhh.. haaahhh . karena pedang ini, sudah puluhan tahun lamanya jiwaku merasa tertekan, hampir boleh dibilang untuk bernapas lega dan beristirahat pun tak bisa akhirnya pedang itu sudah menemukan majikannya, harapanku pun telah selesai, aku tidak malu untuk bertemu kembali dengan sahabatku yang telah berangkat lebih dahulu

itu..!"

Sehabis berkata, tiba-tiba ia tertawa tergelak kembali

dengan kerasnya

Mendadak suara tertawanya itu putus di tengah jalan menyusul mana tubuhnya terjengkang dan roboh terkapar ke atas tanah.

Buru-buru Siau Ling memburu ke depan dan memayang bangun kakek tua itu sambil serunya berulang kali.

"Locianpwe.. locianpwe... kenapa kau ? Locianpwe kenapa kau?"

Akan tetapi ketika denyut jantungnya diperiksa, ternyata kakek tua yang bernama Ku Kong to itu sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan, dia neninggal dunia dengan senyum masih tersungging di ujung bibirnya.

It bun Han to menghela napas panjang, katanya:

"Apa yang dia cita-citakan dan harapkan telah selesai, sekalipun harus mati ia dapat mati dengan mata meram, coba lihatlah senyum manis yang masih tersungging di ujung bibirnya, ini semua menunjukkan bahwa hatinya sangat gembira, dia mati dengan hati yang tenang dan perasaan yang riang gembira!".

Mendengar perkataan itu, kawanan jago-jago yang berada dalam ruangan itu bersama-sama alihkan sinar matanya keatas mayat Ku Kong to, apa yang diucapkan It bun Han to memang tak salah, senyuman manis yang tersungging di ujung bibir kakek tua itu masih jelas membekas di bibirnya.

Siau Ling berdiri termangu beberapa saat lamanya, kemudian ia berpaling ke arah It ban Han-to dan ujarnya dengan lirih:

"Sianseng, uruslah layonnya dan kuburkan locianpwe ini dengan segala upacara serta penghormatan yang besar!".

"Aku sudah tahu..!" sahut It-bun Han to dengan cepat.

Sorot matanya berputar dan menyapu sekejap ke seluruh ruangan, kemudian dengan suara lantang serunya:

"Saudara-saudara sekalian, tentunya sudah kalian saksikan sendiri bukan bagaimanakah saudara Ku ini menempuh perjalanan sejauh ribuan li datang kemari untuk menghadiahkan pedang mustika tersebut kepada Siau tayhiap. kemudian setelah pedang itu diterima oleh Siau tayhiap, ia tertawa tergelak hingga akhirnya menghembuskan napasnya yang penghabisan, semua peritiwa ini dapatlah kita jadikan sebagai suatu tanda bukti, bukti bahwa Thian adalah maha kuasa dan maha tahu. Ia telah melimpahkan rakhmat serta hidayatnya untuk Siau tayhiap, atau dengan perkataan lain sudahlah tiba saatnya bagi dunia persilatan untuk menumbangkan kelalaminan Shen Bok Hong beserta para begundal-begundalnya, untuk itu marilah kita bersatu dan berjuang untuk menegakkan keadilan bagi dunia kita !".

Seruan penuh semangat ini segera mendapat sambutan yang hangat dari kawanan jago yang berada dalam ruangan itu, suasana jadi gegap gempita dan ramai sekali.

Sesudah berhenti sebentar, terdengar It-bun Han to melanjutkan kembali kata-katanya:

"Besok siang, Siau tayhiap akan melangsungkan pertempuran penentuan dengan Shen Bok Hong di bukit Hek sek po. Pertarungan tersebut sangat mempengaruhi nasib kita umat persilatan di dunia ini, tentunya rasa kuatir dan perhatian yang saudara-saudara perlihatkan dalam pertarungan besok sedikitpun tidak berada di bawah keprihatian Siau tayhiap sendiri bukan.,?"

Serentak para jago yang berada didalam ruangan itu menjawab:

"Kami semua berharap agar dalam pertarungan yang berlangsung besok siang, Siau tayhiap berhasil menumpas gembong iblis itu dari muka bumi serta memulihkan kembali ketenangan serta kedamaian dalam dunia peisilatan !"

It bun Han to mengangguk, katanya lagi:

"Asalkan saudara-saudara sekalian bisa memberikan pengertian yang mendalam tentang betapa pentingnya pertempuran yang akan berlangsung besok siang, Siau tayhiap sudah merasakan hati lega dan berterima kasih sekali.. Akan menambah semangat juang Siau tayhiap di dalam usahanya menumpas segala bentuk kejahatan dan kelaliman yang telah ditrapkan Shen Bok Hong selama ini di dalam dunia persilatan. Aku harap saudara-saudara sekalian bersedia untuk menghadiri pertarungan itu besok siang, kedatangan saudara sekalian sebagai suporter akan membangkitkan semangat juang yang lebih besar dalam hati Siau tayhiap. Tentunya saudara sekalian bersedia bukan? Nah, sekarang Siau tayhiap harus banyak beristirahat untuk menghimpun tenaganya, agar dalam pertarungan besok bisa memperoleh tenaga yang segar, maafakanlah dia apabila tak bisa menemani saudara sekalian lebih lama lagi!".

"Siau tayhiap tak usah menemani kami semua, silahkan beristirahat dan baik-baik menghimpun tenaga serta mempersiapkan diri!" jawab para jago silat itu berbareng.

"Bagus.. ! Bagus sekali.. I Sungguh tak sangka saudara sekalian sudi menunjukkan pengertian yang mendalam dalam persoalan ini, biarlah siau-te yang akan mewakili Siau tayhiap untuk menemani saudara sekalian minum secawan arak, anggaplah secawan arak ini sebagai rasa terima kasih kami atas kehadiran saudara sekalian!".

Siau ling seadiripun merasa amat terharu sekali menyaksikan perhatian yang begitu besar dari para jago terhadap dirinya, ia merasa perasaan hatinya lebih berat dan murung:

Sesudah memberi hormat kepada orang itu, katanya :

"Silahkan saudara sekalian minum arak dan bersantap sendiri, maafkanlah daku apabila aku orang she-Siau tak dapat menemani kalian semua lebih lanjut!".

"Semoga Siau tayhiap bisa baik-baik menjaga diri!" sahut kawan-kawan persilatan sambil balas memberi hormat.

Setelah mengangguk kepada semua yang hadir disana, Siau Ling putar badan dan mengundurkan diri dari ruangan

itu.

Setibanya di dalam ruangan latihan, Pek-li Peng berbisik dengan suara yang lirih:

"Toako, sekarang engkau telah disanjung dan dihormati umat persilatan dari seluruh penjuru dunia, peristiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah persilatan, aaai.. ! Nama besarmu pasti akan dikenang orang sepanjang masa!".

Siau Ling tertawa getir sesudah mendengar perkataan itu.

"Sekalipun aku dihormati dan disanjung oleh semua umat persilatan yang ada didunia ini, tahukah engkau betapa beratnya beban dan tanggung jawab yang harus kupikuI sekarang? Semakin besar mereka percayakan keselamatan jiwanya kepadaku, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kupikul bagi mereka.. Aaaai, padahal aku sendiripun tidak mempunyai keyakinan untuk berhasil dengan tugasnya

ini !".

"Orang kuno sering bilang, semakin tersohor seseorang dalam pandangan orang banyak semakin repot pula urusan yang harus dihadapinya. Setelah kurenungkan sekarang, ternyata memang kuakui bahwa perkataan tersebut sedikupun tak salah. Yaaah. Aku tak bisa berkata lain terhadap beratnya beban yang toako pikul saat ini, aku hanya ikut berdoa semoga dalam pertarungan yang akan berlangsung besok siang. Toako berhasil mengalahkan Shen Bok Hong serta mengenyahkan gembong iblis itu dari muka bumi, asalkan iblis itu sudah ditumpas dan begundal-begundalnya ikut tersapu lenyap, bukan berarti pula bahwa tugas toako telah selesai

juga?"

"Aaaai.. ! Apabila Shen Bok Hong seorang yang menjadi pokok kita, maka aku tak akan terlalu merisaukan, tapi aku merasa bahwa selain gembong iblis itu sebenarnya masih ada seorang jago lihay lain yang akan murupakan musuh besarku, dan didalam pertarungan yang akan berlangsung besok siang, orang itulah yang harus kuhadapi!".

"Siapakah orang itu toako?" tanya Pek li Peng dengan cepat.

"Aku sendiri pun tidak tahu siapakah orang itu. aku hanya mempunyai firasat demikian, dan firasat ini akan terbukti setelah saatnya telah tiba besok siang!".

Berbicara sampai disitu, ia lantas merogoh kedalam sakunya dan mengambil keluar kitab catatan ilmu silat serta kitab doa yang dimilikinya seraya diangsurkan ke hadapan Pek li Peng sambungnya lebih jauh:

"Peng ji, baik-baiklah menyimpan benda ini apabila dalam pertarungan yang akan berlangsung besok nasibku ternyata jelek dan aku musti tewas di tangan musuh maka aku harap engkau bawalah beberapa jilid kitab catatan ilmu silat ini untuk diserahkan ke pada enci Gak!"

Pek-li Peng memandang beberapa jilid kitab ilmu silat itu, namun sama sekali tidak diterimanya, seraya gelengkan kepalanya ia menjawab:

"Toako, lebih baik serahkan saja kitab tersebut kepada orang lain. Siau moay tidak mau menerimanya".

"Kenapa??"

"Kita sudah berkumpul cukup lama, masakah engkau masih belum memahami perasaan hatiku? Kalau engkau tewas dalam pertarungan, apakah aku dapat hidup sendirian di dunia

ini?".

Siau Ling tersenyum sesudah mendengar perkataan itu.

"Peng ji, tentu saja aku dapat memahami perasaan hatimu terhadap diriku, akan tetapi bagaimanapun juga kita toh harus sedia payung sebelum hujan, bukankah begitu? Apabila aku harus bertempur satu lawan satu melawan Shen Bok Hong, maka harapanku untuk menangkan pertarungan ini besar sekali, sekalipun begitu kita harus mempersiapkan diri pula terhadap segala kemungkinan yang paling jelek, enci Gak berotak berlian dan berbakat bagus untuk belajar silat, hanya sayang ia terbelenggu oleh persoalan cinta sehingga pikirannya tak bisa terpusat dan hatinya tak bisa tenang. Sekarang aku sudah dapat meresapi bahwa apa yang dikatakan Toa jin taysu memang tidak keliru, kalau ingin berilmu tinggi maka pelajarilah ilmu silat yang tercantum di dalam kitab doa ini, dan cuma ilmu silat inilah satu-satunya harapan yang bisa digunakan untuk membalaskan dendam bagi kematianku, kalau tidak kuserahkan kitab yang sangat berharga ini kepada orang yang paling kupercayai harus kuserahkan kepada siapakah kitab-kitab tersebut ?".

Pek-li Peng dibuat tertegun dan berdiri melongo sesudah mendengar perkataan itu, lama sekali ia baru menjawab:

"Toako, boleh saja apabila kau menginginkan agar kusimpankan kitab catatan ilmu silat itu, tapi engkaupun harus menyanggupi dahulu sebuah permintaanku!"

"Apakah permintaanmu itu??"

"Setelah kuserahkan kitab ilmu silat itu kepada enci Gak, maka aku akan kembali ke depan kuburanmu dan... "

"Membangun rumah di situ serta menemani sukmaku sepanjang masa!" sambung Siau Ling dengan tertawa.

Dengan cepat Pek-li Peng gelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan wajah amat serius.

"Tidak, aku tak mau membangun gubuk disitu untuk menemani sukmamu, setelah kembali ke depan kuburanmu, akan kubongkar kuburan tersebut kemudian menggorok leher dan bunuh diri. Aku ingin mati dalam satu liang bersama engkau!"

Betapa terharunya perasaan hati Siau Ling darah panas segera bergulak dengan hebatnya dalam rongga dada pemuda itu, tapi di luaran ia tetap mempertahankan ketenangannya.

Selang sesaat kemudian, si anak muda itu baru mengangguk, sahutnya:

"Baiklah! Sekarang, simpan dulu kitab catatan ilmu silat

tersebut!"

Pek li Peng tidak membantah lagi. Setelah menyimpan kitab pusaka tersebut katanya:

"Toako, walaupun aku sudah berusaha untuk peras otak tapi ada satu hal tetap tak kupahami, apakah toako bersedia memberi jawabannya?"

"Apa yang tidak kau pahami??"

"Mengapa engkau mengharuskan aku yang menghantarkan kitab itu buat enci Gak.. ? Masa orang lain tak dapat melaksanakan tugas ini ? Aku ingin selalu mendampingi toako saja.

"Orang lain tak mungkin bisa melaksanakan tugas ini, sebab mereka tak mungkin akan menjumpai enci Gak!"

"Kenapa??"

"Enci Gak belum tentu bersedia untuk menjumpai laki-laki

lain !"

"Ehmm, Benar juga perkataanmu itu, aaai enci Gak memang patut dikasihani, setiap lelaki yang bertemu dengannya segera akan terkesima dibuatnya hingga akhirnya tergila-gila".

Setelah memandang cuaca sebentar, ia menambahkan:

"Waktu sudah amat siang, sekarang engkau harus pergi beristirahat lebih dahulu".

Siau Ling mengangguk.

"Aku hendak mengasingkan diri sambil mempelajari beberapa jurus ilmu silat yang maha sakti, aku minta engkau jangan mengganggu ketenanganku selama ini".

"Baik-baiklah melatih diri!" Sahut Pek Ii Peng seraya manggut, "aku akan keluar sebentar!"

"Engkau hendak pergi kemana ?"

"Banyak persoalan yang tidak kupahami meskipun sudah kucoba untuk memecahkannya sendiri, aku berharap bisa membicarakan pelbagai masalah tersebut dengan diri It-bun sianseng ".

Mula-mula Siau Ling agak tertegun sesudah mendengar perkataan itu, kemudian katanya:

"Peng-ji, engkau musti ingat, terdapat banyak persoalan yang lebih baik jangan diketahui oleh orang yang terlalu banyak!"

"Aku mengerti, aku hanya akan mengajak It bun sianseng seorang untuk membicarakan persoalan ini. Akan kuserahkan pula tugas perlindungan bagi keselamatanmu kepada mereka, selesai bercakap-cakap aku segera akan kembali kesini !"

Tidak menunggu jawaban dari Siau Ling lagi, ia segera melangkah keluar dari ruangan tersebut.

Sekilas pandangan, Siau Ling dapat menyaksikan betapa murungnya gadis itu, sepasang alis matanya berkenyit dan wajahnya kesal sekali tampaknya, tanpa terasa dia lantas berpikir di dalam hati :

"Selama beberapa waktu belakangan, ia selalu bergaul dengan aku, mengikuti aku kemanapun pergi, dan belum pernah kubuat ia merasa benar-benar gembira dan senang aaai...! Yang harus dialaminya setiap hari cuma murung, menguatirkan diriku dan merasa tegang dan serius menghadapi semua persoalan..Ia memang patut dikasihani!"

Memandang bayangan punggungnya yang berlalu dari ruangan itu, suatu perasaan tidak tentram yang sukar dilukiskan dengan kata-kata terlintas dalam benaknya.

Akan tetapi setelah teringat kembali bahwa pertarungan sengit yang harus dihadapinya besok siang, mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan umat persilatan, pemuda itu memaksakan diri untuk bersikap tenang, perasaan hatinya dibikin tentram kembali, lalu sambil pejamkan matanya mulai memecahkan jurus pedangnya yang ampuh.

Sementara itu, Pek-li Peng sudah berada di ruang tengah, ia lihat meja perjamuan telah disiapkan dalam ruangan yang sangat luas itu. It bun Han to, Bu wi totiang serta Sun Put shia hadir semua dalam perjamuan itu untuk menemani kawanan jago persilatan lainnya yang telah berkumpul semua di sana.

Suatu perbedaan yang sangat kontras antara suasana dalam ruang ini dengan ruang kecil dimana Siau Ling melatih diri.

Kalau ruang depan sangat ramai dengan dipenuhi gelak tertawa dan suara pembicaraan manusia, maka ruang belakang sunyi senyap tak kedengaran sedikit siarapun, begitu sepinya sampai debaran jantung sendiripun kedengaran nyata.

Setibanya di dekat pintu ruangan Pek-li Peng hentikan langkah kakinya, ia cuma menengok sekejap tanpa meneruskan kembali perjalanannya, sesudah menghela napas panjang akhirnya ia putar badan dan berlalu dari sana.

Gadis ini merasakan hatinya sangat murung dan kesal, perasaannya amat tertekan hingga sedih dan bingung, ingin sekali dia melampiaskan suara hatinya itu kepada orang lain, tapi ia tak mampu berbuat begitu, bisa dibayangkan bagaimanakah keadaan Pek-li Peng ketika itu.

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki manusia yang berat berkumandang memecahkan kesunyian.

Ketika dara itu berpaling, tampaklah It-bun Han to dengan langkah cepat sedang memburu kearahnya.

Pek-li Peng menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Dengan cepat It bun Han-to memburu ke depan, tanyanya:

"Nona. engkau sedang mencari diriku??"

Pek li Peng mengangguk, tak kuasa lagi air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Menyaksikan gadis itu menangis, It-bun Han-to jadi sangat terperanjat, dia segera bertanya:

"Nona, persoalan apakah yang sedang kau hadapi ? Katakan saja kepadaku secara terus terang!"

"Ada..ada sedikit persoalan ingin kuajukan kepadamu, apakah engkau bersedia untuk menjawabnya??"

"Asalkan apa yang nona tanyakan mampu kujawab pasti akan kujawab sebisanya, katakan saja nona!"

"Tapi tapi aku sendiri pun tak tahu persoalan ini harus kubicarakan dari mana?" kata Pek-li Peng dengan ragu.

Untuk sesaat It-bun Han-to termenung dan berpikir, kemudian diapun berkata:

"Apakah persoalan yang hendak kau bicarakan dengan diriku itu menyangkut teatang diri Siau tayhiap??"

Dengan cepat Pek-li Peng mengangguk tanda membenarkan.

"Tentu saja persoalan ini ada sangkut pautnya dengan diri toako."

"Apakah nona menguatirkan pertarungan melawan Shen Bok Hong besok siang??"

"Benar ! Menurut pengakuannya, dalam pertarungannya yang akan berlangsung besok siang, kecuali Shen Bok Hong masih ada seorang musuh lain yang katanya jauh lebih tangguh daripada Shen Bok Hong sendiri!"

Untuk sesaat lamanya It bun Han to berdiri tertegun, selang sesaat kemudian ia ba ru bertanya:

"Siapakah orang itu? Apakah nona mengenalnya?"

"Aku tidak tahu, sebab toako tak mau memberi tahukan tentang orang itu kepadaku!"

Untuk sesaat It bun Han to jadi termenung, lama sekali dia baru berkata lagi:

"Apabila Siau tayhiap harus bertempur satu lawan satu dengan Shen Bok Hong, menurut pandanganku dalam pertarungan tersebut Siau tayhiap tidak akan sampai menderita kekalahan, memang besar kemungkinannya tenaga dalam yang dimiliki Siau tayhiap masih kalah setindak jika dibandingkan dengan tenaga dalam dari Shen Bok Hong, akan tetapi Siau tayhiap memiliki pelbagai macam ilmu silat yang beraneka ragam macamnya. Bahkan setiap kepandaiannya itu mempunyai kesempurnaan yang khusus, hal ini memaksa Shen Bok Hong harus pecahkan perhatiannya untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak dinginkan. Aku sebenarnya yakin bahwa kemenangan pasti berada di pihak kita apalagi kita sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya."

"Ya... menurut teori kita memang menang tapi keadaan yang kita hadapi sekarang sama sekali berbeda jauh," sela Pek-li Peng dengan muka murung "kecuali Shen Bok Hong kita harus berhadapan dengan seorang musuh yang jauh lebih tangguh, hal ini membuat keadaanpun ikut mengalami perubahan besar."

"Aaaai....! Kalau memang Siau tayhiap tidak bersedia memberikan keterangannya, sudah tentu kitapun tak dapat memaksa dia untuk mengatakannya kepada kita, satelah kuketahui persoalan itu, pastilah akan kuusahakan dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk mengadakan persiapan, bilamana perlu...."

Berbicara sampai disitu, mendadak dia membungkam.

Pek-li Peng jadi amat gelisah, cepat dia bertanya:

"Bilamana perlu bagaimana?"

"Siau tayhiap adalah lambang keadilan juga kebenaran bagi dunia persilatan, baik Bu wi totiang, Sua Put sha locianpwe serta aku mempunyai suatu perasaan yang sama yakni kami tak boleh membiarkan dia mati konyol ditangan musuh !"

"Sekalipun perkataanmu itu benar, akan tetapi siapakah yang mampu mewakili dirinya untuk berduel satu lawan satu dengan Shen Bok Hong??"

It-bun Han-to segera tersenyum.

"Bilamana perlu kami telah bersiap sedia untuk mewakili dia mati, pokoknya kami tidak akan membiarkan toakomu menderita luka barang sedikitpun juga."

"Akulah yang sepantasnya mewakili dirinya untuk menerima kematian!"

It bun Han-to tertawa tergelak, dengan suara tercengang serunya dengan lantang:

"Nona, engkau kan masih masih muda dan segar, kenapa gadis secantik engkau segan untuk hidup di dunia??"

"Aku merasa sangat murung, hidupku terasa amat kosong dan penuh kekesalan, bila mana aku bisa mati demi dirinya, itulah jalan terbaik yang ingin kutempuh."

It bun Han to kembali termenung sambil berpikir keras, lalu ujarnya dengan nada yang sangat hati-hati:

"Apakah kemurunganmu itu disebabkan oleh karena nona

Gak..?"

"Tak bisa kukatakan kalau urusan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan enci Gak" sahut Pek li Peng dengan cepat, "tapi separuhnya adalah disebabkan karena harapanku sendiri, bila aku sudah mati demi Siau tayhiap maka selamanya diriku ini akan terkenang di hati mereka berdua, bukankah begitu?"

Mendengar jawaban tersebut paras muka It-bun Han to berubah jadi amat serius.

"Nona Gak memang memiliki daya pikat yang sukar dilawan dengan cara apapun juga. Kecantikan alamiah yang dimiliki setiap perempuan di dunia ini tak mungkin bisa melawan daya pikatnya itu. Apabila dikatakan Siau tayhiap sama sekali tidak tertarik oleh daya pikatnya, akupun tidak akan mempercayainya."

"Benar, mereka ibaratnya Kilin dan burung Hong. Sepasang sejoli yang amat serasi sekali, sedangkan aku, aaai, aku tak lebih cuma seekor burung walet yang patut dikasihani di bawah pohon liu. Aku hidup di antara celah-celah hubungan mereka yang erat. Bila Siau toako menaruh beberapa bagian rasa suka kepadaku, maka rasa sukanya itu tak lebih cuma berupa rasa kasihan daripada arti cinta yang sesungguhnya?"

"Nona, perkataanku tadi belum selesai kuucapkan" seru It bun Han to sambil gelengkan kepalanya.

"Oooh.. maaf, hatiku benar-benar terasa amat kalut!"

It-bun Han to mendehem ringan, kemudian katanya :

"Sekalipun demikian, kuakui juga bahwa Siau tayhiap memiliki kelebihan yang tidak kita jumpai pada orang lain, ia berjiwa ksatria, berjiwa pendekar sejati dan rela berkorban demi orang lain membuat perangainya jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Manusia semacam ini tidak mudah memberikan rasa cintanya kepada orang lain, tapi ia memandang berharga rasa cinta yang telah timbul dalam hatinya. Selama ini engkau selalu mendampinginya baik siang maupun malam, jarang sekali saling berpisah satu sama lainnya, kecuali suami istri manakah ada muda-mudi yang berkumpul terus siang maupun malam tanpa berpisah?. Dengan watak yang dimiliki Siau tayhiap, dia pasti akan mengatur semua batas-batas pergaulannya secara ketat, tapi ia tidak memberikan batasan-batasannya kepadamu, itu menunjukkan bahwa sedari dulu dia telah menganggap dirimu sebagai calon istrinya, maka pembatasan-pembatasan dalam pergaulan sama sekali tidak diperhatikan olehnya!"'

Terbelalak sepasang mata Pek-li Peng, ia berdiri tertegun dengan wajah kurang percaya.

"Sungguhkah perkataanmu itu?!" katanya.

"Aku toh belum pernah membohongi dirimu? Apabila nona tetap tidak percaya, biarlah kubuktikan dengan suatu kejadian."

"Boanpwe akan mendengarkan buktimu itu dengan seksama !" sahut Pek li-Peng dengan cepat, senyum manis mulai menghiasi ujung bibirnya.

It -bun Han to tersenyum.

"Engkau tak perlu berlaku sungkan-sungkan.''

Sesudah mendehem ringan, sambungnya lebih jauh :

"Ketika berada di ruang abu tempo hari, dengan mata kepala sendiri ia mendengar semua isi hati yang diutarakan Gak Siau-cha di depan meja abunya, bahkan telah memandang pula dirinya sebagai suaminya, jikalau ia tidak menaruh rasa cinta kepadamu, mengapa sampai sekarang ia masih tak mau tinggalkan dirimu? malahan setiap saat berkumpul terus dengan engkau? Dewasa ini jago-jago persilatan dari seluruh kolong langit telah berkumpul disini,

untuk menghadapi pertarungan yang amat sengit itu, dia harus mengasingkan diri untuk mempelajari beberapa macam ilmu silat sebagai bekalnya, mengapa ia tidak minta salah seorang jago silat yang lihay untuk mendampingi dirinya berlatih, tapi sebaliknya malahan suruh engkau yang menemani dirinya? Aku tidak percaya kalau engkau benar-benar sanggup untuk memecahkan persoalan yang memusingkan kepalanya..!"

-oooOdwOooo-
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 41"

Post a Comment