Budi Ksatria Jilid 39

Mode Malam
JILID 39

TIDAK menanti jawaban, dia melangkah lebih dahulu menuju keluar. Pada waktu itu orang yang berdiri didepan pintu keluar sangat banyak, kebanyakan adalah jago-jago persilatan yang datang untuk menyaksikan jalannya pertarungan.

Ketika mereka saksikan Shen Bok Hong berjalan menghampiri kearah mereka, orang orang itu segera menyingkirkan diri ke samping.

Dalam waktu singkat hanya kakek berbaju kuning saja yang masih berdiri di depan pintu tanpa bergerak.

"Shen Bok Hong!' tiba-tiba It bun Han-to membentak dengan suara dalam.

Mendengar namanya disebut It bun Hao too secara langsung, kontan saja Shen Bok Hong mengerutkan dahinya dengan penuh kegusaran, segera hardiknya:

"It-bun Han too! Aku lihat nyalimu kian lama kian bertambah besar, agaknya engkau sudah bosan hidup?"

"Toa congcu !" sahut It bun Han-to dengan ketus, pada saat ini aku orang she It bun sudah bukan tamumu lagi. sekarang kita berdiri dalam posisi saling bermusuhan, Hmm! Jangan toh cuma menyebut nama Shen Bok Hong belaka, sekalipun mencaci maki dirimu dengan kata-kata yang lebih tak sedap pun engkan tak dapat berbuat apa-apa!"

Betapa marahnya Shen Bok Hong sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh. haahhh. haahh. bagus, bagus sekali perkataamu itu. nah, apa yang hendak engkau katakan?!"

Sudah lama It-bun Han-to bergaul dengan Shen Bok Bok Hong, tentu saja diapun tahu bahwa kemarahan dari gembong iblis itu sudah mencapai pada puncaknya, hanya saja ia masih berusaha nengendalikan secara paksa sehingga kemarahan itu tak sampai terlampiaskan keluar.

"Sampai detik ini mati hidup Siau tayhiap masih merupakan suatu tanda tanya besar, aku rasa dikolong langit dewasa ini tidak banyak iago yang sanggup berduel satu lawan satu dengan dirimu.. " ia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian melaniutkan.

"Oleh sebab itu untuk menghadapi seorang jago tangguh macam engkau mau tak mau aku harus mempersiapkan suatu siasat yang tepat pula"

"Hmml Kalau ingin berkelahi, silahkan saja kamu semua maju bersama-sama?"

It bun Han tio tertawa lebar.

"Shen toa cungcu mengatakan bahwa pedoman hidupmu selama ini adalah ketenangan dan ketelitian, tapi sayang menurut pendapatmu pedoman tersebut sudah ditinggalkan oleh Shen toa cuncu!

"Maksudmu?" teriak Sheo Bok Hong sambil menarik muka.

"Dalam perkiraanmu hanya cukup membawa empat orang jago lihay maka kami semua sudah bisa kalian taklukkan, tapi bagaimana kenyataannya sekarang? Hmm! Pada hakekatnya semua orang yang ada dikolong langit telah bermusuhan dengan dirimu, mereka semua telah bertekad untuk beradu jiwa dengan engkau, tak nanti orang-orang itu sudi bertekuk lutut dan jeri kepadamu lagi, tahukah engkau mengapa bisa terjadi perubahan yang seratus delapan puluh derajat ini??"

Soen Bok Hong mendengus dingin dan tetap membungkam.

It bun Han to menatap sekejap ke arah lawannya dengan pandangan tajam, kemudian ujarnya lebih jauh:

''Perubahan ini terjadi setelah Siau tay hiap celaka ditanganmu, perbuatanmu yang rendah pengecut dan terkutuk itu telah mengetuk hati mereka semua, berbondong-bondong mereka datang kesini dari pelbagai daerah untuk beradu jiwa dengan engkau.. Hmm! Ketahuilah dalam sekitar

ruangan ini sekarang sudah siap tiga ratus orang jago,

diantaranya ada empat lima puluh orang yang merupakan

jago tangguh "

Shen Bok Hong tertawa tergelak, sebelum ucapan itu selesai dia segera menukas.

"Jadi engkau hendak mengerahkan mereka untuk mengerubuti aku?"

"Main kerubut adalah cara yang sering kali kau praktekkan untuk menghadapi jago silat yang tangguh, cuma bedanya kalau jago-jagomu terpaksa harus setia dan berbakti kepadamu lantaran terpengaruh oleh obat racun, sebaliknya jago-jago kami bersedia untuk berjuang sampai titik darah yang penghabisan dengan kerelaan hati masing-masing"

"Kawanan anjing yang banyak tak akan mampu mengurung beberapa ekor harimau, memang jumlahmu lebih banyak dari jagoku akan tetapi untuk meloloskan diri dari sini bukanlah sesuatu pekerjaan yang menyulitkan."

"Dewasa ini aku rasa Lan Giok tong sudah tak mungkin bisa kau gunakan lagi tenaganya, sebab kebobonganmu sudah ketahuan mula2 engkau menipu dirinya dengan mengatakan akan menangkap Gak Siau cha dan mengawinkan dirinya dengannya, tapi dalam kenyataan engkau cuma membohongi dirinya belaka..haahha, haahhaa, memangnya ia sudi menjual nyawa lagi untukmu?"

"Omong kosong!" teriak Shen Bok Hong dengan gusar, kalian sengaja menyembunyikan Gak Siau cha sehingga tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menangkapnya, mana bisa dikatakan kejadian ini sebagai suatu kebohongan?

Pemuda berbaju hijau yang selama ini membungkam terus tiba-tiba menyela dengan dingin:

"Shen toa cungcu, benarkah engkau telah berjanji dengan Lan Giok tong untuk menangkapkan Gak Siau cha dan mengawinkan, kepadanya??"

Shen Bok Hong tertegun, kemudian sahutnya terbata-bata :

"Tentang soal ini., tentang soal ini... "

Dengan dahi berkerut, pemuda berbaju hijau itu meneruskan kembali kata-katanya :

"Shen toa cungcu, apabila engkau bukan seorang yang pelupa, tentunya masih ingat bukan bahwa engkaupun pernah berjanji demikian kepadaku?!

Shen Bok Hong yang licik benar-benar ketanggor batunya. Ia jadi riku, dan tersipu-sipu, untuk sesaat paras mukanya berubah merah padam.

Setelah mendeham beberapa kali, akhirnya ia menjawab :

"Perempuan cantik didunia ini banyak sekali jumlahnya, aku jadi heran dan tak habis mengerti, apa sebabnya kalian semua pada menaruh hati terhadap diri Gak Siau cha?!"

Pemuda berbaju hijau itu mengerutkan dahinya, dengan hambar ujarnya kembali :

"Aku tidak mempersoalkan yang lain, aku hanya ingin bertanya keapada Shen toa-cungcu, pernahkah engkau berjanji seperti itu kepadaku?!"

Kendatipun iman Shen Bok Hong sudah dilatih mencapai puncak kesempurnaan, akan tetapi setelah tipu muslihatnya terbongkar, paras mukanya tak urung berubah juga.

Dengan sepasang mata yang berkilat ia menyabut;

"Sekalipun aku orang she Shen pernah mengatakan demikian, itupun bukan kesalahanku bagaimanapun juga Gak Siau cha toh cuma seorang, sedangkan kalian sama-sama berebutan minta bantuanku untuk menangkap Gak Siau cha, apa yang bisa kulakukan kecuali memenuhi semua permintaan

kalian..?"

"Hmm! Seorang Kuncu, seorang laki-laki sejati tidak akan memberikan janjinya secara sembarangan, aku rasa kedudukan Shen toa-cungcu dalam dunia persilatan sangat tinggi dan terhormat, apakah engkau tidak takut kalau perbuatanmu itu akan ditertawakan orang?"

Cukup pedas dan tajam sindiran tersebut, paras muka Shen Bok Hong kontan saja berubah hebat, tapi dasar licik dan banyak akal muslihatnya, dalam kegelisahan tiba-tiba terlintas satu akal dalam benaknya, dengan cepat dia berseru:

"Bukannya aku main janji tanpa bukti pada hakekatnya sudah kupikirkan suatu cara yang jitu untuk mengatasi kesulitan ini! "

"Bagaimana caramu itu?"

"Apabila aku berhasil menangkap Gak Sian-cha. oleh sebab dia cuma satu saja maka apabila ingin memperolehnya menjadi istri. terpaksa kalian berdua harus menentukan dergan mengandalkan kepandaian silat masing-masing, siapa yarg menang maka dialah yang berhak memperistri Gak Siau-

cha !"

"Memang sangat bagus cara Shen toa cungcu ini, tapi masih kurang sempurna, bagai mana kalau turuti saja dengan caraku?" kata pemuda baju hijau itu dengan ketus.

"Bagaimana dengan caramu itu??"

"Apabila sekarang juga kubinasakan Lan Giok tong lebih dahulu, bukankah kita tak usah memikirkan soal-soal yang lain

lagi??"

Shen Bok Hong tertawa ewa.

"Haaah haaah haaah tentang soal ini aku sih tak dapat mengambil keputusan bagimu !"

Apa yang dimaksudkan dengan perkataan itu sudah cukup jelas, yakni ia tidak menampik kemungkinan si anak muda berbaju hijau untuk membunuh musuh rivalnya di saat itu

"Kalau toh Shen toa cungcu tidak akan mengurusi pesoalan ini, berarti urusan ini terserah pada kemauanku sendiri. Nah, sebelum kulakukan sesuatu, terlebih dahulu ingin kuajukan satu pertanyaan kepadamu!"

"Apa yang ingin kau tanyakan? Katakanlah! '

"Setelah kubunuh Lan Giok-tong sampai mati, apakah masih ada orang lain yang akan berebutan Gak Siau cha dengan diriku?"

"Menurut apa yang kuketahui, dalam dunia persilatan memang masih terdapat orang yang mengincar Gak Siau cha, cuma saja orang-orang itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan aku orang she-Shen, oleh karena itu bila sampai terjadi sesuatu hal, dengan sendirinya aku orang sha Shen akan berpihak kepadamu."

"Akan tetapi aku justru kuatir kalau masih ada seseorang yang akan berebutan dengan aku."

"Apakah dia adalah salah seorang diantara anggota perkampungan Pek hoa-sen cung?"

"Begitulah!" "Siapakah orang itu??"

Pemuda baju hijau itu tertawa ewa, sahutnya.

"Akan kubunuh Lan Giok tong lebih dahulu, kemudian baru kuberitahukan kepada Shen toa cungcu siapakah orang yang kumaksudkan itu!"

Selesai berkata dia melangkah maju menghampiri Lan Giok tong.

Dalam pada itu Lan Giok tong hanya berdiri didepan meja abu Siau Ling dengan wajah termangu-mangu, tampaknya ia merasa malu dan menyesal sekali atas semua perbuatan yang telah dilakukan selama ini. Terhadap tanya jawab dari Shen Bok Hong dan pemuda baju hijau itu bukan saja tidak memperhatikan, bahkan menggubrispun tidak.

Sementara itu kawanan jago persilatan yang berkerumun disekitar ruangan untuk menyaksikan jalannya pertarungan makin lama semakin banyak ketika dilihatnya jago-jago musuh yang datang menyatroni ternyata saling bunuh sendiri, mereka jadi ngeri dan seram tapi ada pula yang segera menunjukkan wajah berseri.

Melihat pemuda baju hijau itu maju menghampiri Lan Giok tong. dengan cepat. It bun Han too mundur tiga langkah ke belakang. dengan begitu jalan lewat bagi pemuda itupun jadi lebih lebar.

Lan Giok tong sendiri masih tetap berdiri termangu didepan meja abu Siau Ling, badannya tak bergerak bahkan sama sekali tidak merasa bahwa keselamatan jiwanya terancam.

It-bun Han-to segera mendehem, tegurnya:

"Lan Giok-tong, hati-hati!"

Pemuda berbaju hijau itu segera tertawa dingin, ejeknya :

"Engkau tak usah kuatir, untuk menghadapi nanusia sebangsa Lan Giok-tong, tak nanti aku gunakan cara menyergap !"

Benar juga perkataannya itu, ketika mencapai jarak tiga depa dibelakang Lan Giok tong, ia segera berhenti seraya berkata:

"Lan-heng, sedari tadi engkau hanya berdiri termangu di depan meja abunya Siau Ling apakah engkau merasa menyesal karena telah memancingnya masuk kedalam perangkap??"

Pada hakekatnya Lan Giok tong sudah bersiap sedia ketika mendengar peringatan dari It bun Han too tadi, cuma ia tetap berdiri serius ditempat semula, tanpa bergerak barang sedikitpun.

Menanti pemuda berbaju hijau itu menegur, perlahan-lahan Lan Giok tong baru putar badannya sambil menjawab :

"Perkataanmu memang benar, kini aku merasa menyesal mengapa kupancing Siau-Ling masuk perangkap!"

"Haahhh .haahhn .haahhh. bukankah dia adalah musuh cintamu? Bila Siau Ling tidak mampus, maka untuk selamanya jangan harap engkau bisa mempersunting Gak Siau-cha! '

"Benar, selamanya aku memang tak bisa. mempersunting nona Gak, akan tetapi engkau sendiripun jangan harap bisa mendapatkannya pula. Gak Siau cha adalah seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan, apabila ingin mencari seorang pemuda yang pantas mendampinginya, maka orang itu sepantasnya adalah Siau Ling, bukan engkau juga bukan aku!"

Kontan saja pemuda berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Heehhh. Heehhh..heehhh sekalipun begitu toh saat ini Siau Ling sudah mampus, maka sepantasnya kalau ada satu orang di antara kita yang akan mempersunting Gak Siau cha sebagai istrinya"

"Memang benar, ada orang yang akan mempersunting nona Gak sebagai istrinya, cuma sayang orang itu bukan dirimu!"

"Lantas memangnya kau ? " ejek pemuda berbaju hijau itu sambil tertawa sinis.

"Juga bukan aku!" sahut Lan Giok tong lagi sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau bukan engkau juga bukan aku, lalu siapakah orang

itu??"

"Orang itu? Dia sudah tidak berada didunia ini lagi... "

Pemuda berbaju hijau itu mendengus gusar. Tiba-tiba dia ayun tangan kanannya kemuka seraya berseru :

"Hati-hatilah dengan seranganku ini!"

Serentetan cahaya kilat langsung meluncur kemuka dia menotok dada Lan Giok-tong.

Meskipun pemuda itu memberi peringatan kepada musuhnya, pada hakekatnya peringatan itu diucapkan sementara serangannya telah dilancarkan.

Lan Giok tong bertindak cekatan, tangan kanannya segera berkelebat kebelakang dan tahu-tahu ia sudah loloskan pedangnya guna menangkis ancaman tersebut.

Cahaya kilat berkelebat dan...Trang ! dengan jitu ia menyampok rontok cahaya kilat yang dilepaskan pemuda berbaju hijau itu.

Setelah berhasil mematahkan serangan pertama, Lan Giok tong segera menekan pergelangan tangan kanannya ke bawah menyusul mana secepat sambaran kilat ia lancarkan dua buah serangan berantai ke arah musuhnya.

Cahaya tajam berkilauan membelah angkasa, dengan menciptakan dua kuntum bunga pedang secara terpisah ia tusuk dua jalan darah penting ditubuh pemuda baju hijau itu.

Memang ampuh pemuda tersebut, sekalipun menghadapi ancaman yang berbahaya, dia sama sekali tidak gentar, tanpa menggeserkan kedudukan kakinya tahu-tahu ia sudah, berkelit ke samping dan terhindar dari ancaman pedang lawan.

Cahaya kilat kembali melintas memenuhi angkasa, bayangan pedang berlapis-lapis menyilaukan mata, diiringi desiran angin tajam ancaman muncul tiba dari empat arah delapan penjuru.

Dalam waktu singkat, pemuda berbaju hijau itu sudah terkurung didalam lapisan pedang lawan.

Memang cepat dan tajam serangan pedang dari Lan Giok tong, begitu cepatnya serangan itu sampai-sampai sukar untuk diikuti dengan pandangan mata.

Tampaklah diantara lapisan pedang yang mengepung seluruh angkasa, dua sosok bayangan manusia saling menyambar ke sana ke mari dengan gencarnya..

Banyak sekali jago persilatan yang menonton jalannya pertarungan itu dari samping gelanggang, akan tetapi jarang mereka saksikan pertarungan seru dengan babatan pedang secepat petir. Untuk sesaat semua orang tertegun dan berdiri menjublak dengan mata terbelalak mulai melongo.

Di tengah berlangsungnya pertarungan yang amat sengit, tiba-tiba terdengar jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul mana bayangan manusiapun saling berpisah.

Ketika semua orang alihkan sorot matanya, tampaklah Lan Giok-tong mundur ke belakang dengan sempoyongan, akhirnya sambil melepaskan pedangnya ia roboh terkapar di atas tanah.

Pemuda berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah Lan Giok-tong, kemudian perlahan-lahan berjalan balik ke samping Shen Bok Hong, ujarnya sambil tertawa :

"Sungguh beruntung aku bernasib baik!."

„Tapi aku tidak berharap sampai terjadinya peristiwa semacam ini !" kata Shen Bok Hong dengan dahi berkerut,

Pemuda berbaju hijau itu segera tertawa.

"Sekalipun Shen toa-cungcu tidak mengharapkan terjadinya peristiwa ini, toh engkau sama sekali tidak melarang aku berbuat demikian bukan? Bagaimanapun juga dia adalah seorang penghianat dari perkampungan Pek hoa san cengl"

"Benar, dia adalah seorang penghianat" sahut Shen Bok Hong sambil tertawa ewa, "dan siapa yang berani menghianati aku, dia tak akan hidup bahagia didunia ini."

Sekalian jago persilatan yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi kalangan tak ada yang melihat bagaimana caranya Lan Giok tong dilukai musuhnya, bahkan sampai pemuda baju hijau itu sudah meninggalkan korbannya pun mereka masih tak tahu luka apa yang telah diderita pemuda she Lan itu, dari sini terbuktilah bahwa ilmu silat yang dimiliki pemuda baju hijau itu memang benar-benar sangat tangguh.

Sementara itu Shen Bok Hong sudah mendehem ringan dan berkata:

"Andaikata aku berhasil menangkap hidup-hidup Gak Siau cha, nona itu tentu akan kuberikan kepada Wu heng sebagai istrimu"

"Cayhe ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan dari Shen toa cungcu..!" cepat pemuda baju hijau itu memberi hormat, setelah itu dia ulurkan tangan kanannya ke depan.

"Apa-apaan kamu ini?" tanya Shen Bok Hong dengan sangsi.

Pemuda baju hijau itu tertawa ewa, sahutnya:

"Aku hendak mengajak Shen toa cungcu untuk bertepuk tangan sebagai tanda angkat sumpah, semoga saja setelah memberikan janjimu pada hari ini, Shen toa cungcu tidak akan mengingkarinya lagi dimasa mendatang."

Shen Bok Hong termenung sebentar, akhirnya dia ulurkan tangannya kedepan seraya berkata:

"Sepanjang hidup, belum pernah aku bertepuk tangan dengan orang sebagai tanda mengangkat sumpah, tapi hari ini adalah pengecualian, untuk pertama kalinya aku harus menuruti permintaan orang."

Pemuda baju hijau itu tersenyum.

"Wah...! Kalau begitu, Shen toa-cungcu memang memandang tinggi diriku ini!"

Dengan gerakan yang cepat ia ulurkan tangannya dan menepuk sekali telapak tangan gembong iblis itu.

Tiba-tiba paras muka Shen Bok Hong berubah hebat, sepasang matanya memancarkan cahaya kilat yang menggidikkan hati, diawasinya wajah pemuda baju hijau itu tanpa berkedip.

Secara lapat-lapat tampaklah hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti wajahnya. Dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa gembong iblis yang biasanya cerdik dan licik ini telah kena diselomoti oleh pemuda ingusan tersebut.

Dipihak lain, dengan suatu gerakan tubuh yang cepat pemuda berbaju hijau itu sudah mundur dua langkah ke belakang. Tegurnya sambil tertawa lebar, tertawa yang penuh dengan ejekan:

"Beberapa hari berselang, bukankah toa-cungcu telah melakukan sesuatu diatas badanku??"

"Melakukan sesuatu apa??

Tiba-tiba paras muka pemuda berbaju hijau itu berubah hebat. senyuman yang semula menghiasi bibirnya tiba-tiba lenyap tak berbekas, dengan dingin dan ketus katanya:

"Bukankah engkau telah menotok sabuah urat nadi anehku??

Mendengar perkataan itu, Shen Bok Hong segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh..haaah... haaahhh, selama hidup aku paling kagum dan menaruh hormat kepada orang yang brilian dan berotak encer, dan kenyataan membuktikan bahwa engkau mampu mengecundangi aku tepat di hadapan khalayak umum padahal aku selalu waspada dan bertindak cukup berhati-hati, tapi toh akhirnya kena diselomoti juga olehmu, kehebatan dan kelihayanmu ini sangat mengagumkan hatiku"

Pemuda berbaju hijau itu segsra mendengus dingin.

"Hhmmm! Shen toa cungcu terlalu memuji, berbicara yang sesunguhnya akulah yang pantas merasa kagum oleh kehebatan cungcu!"

Beberapa patah kata tanya jawab itu sebentar diucapkan dengan nada bersahabat, sebentar lagi bernada bermusuhan, kontan saja membuat kawanan jago persilatan yang berada di sekitar gelanggang jadi melongo dan berdiri menjublak. Sampai-sampai Bu wi to tiang dan Sun Put shia yang berpengalaman pun terkesima dibuatnya..

Hanya It bun Han to seorang yang masih tetap bersikap tenang, ia sama sekali tidak tertarik oleh kejadian itu, sebab dalam pandangannya peristiwa tipu menipu, sergap menyergap sudah merupakan kejadian yang umum, sedikitpun tiada sesuatu yang menarik hatinya lagi.

Dalam waktu singkat ketenangan dari Shen Bok Hong telah pulih kembali seperti sedia kala, ia tertawa ewa dan berkata :

"Wu-heng, bolehkah aku mengajukan suatu pertanyaan kepadamu?!"

"Aaah, perkataan diri Shen toa-cungcu terlalu serius, apabila toa-cungcu ada sesuatu pesan, silahkan diutarakan saja secara terus terang!"

"Bolehkah aku tahu racun keji apakah yang telah digunakan Wu-heng untuk menyelomoti diriku barusan?!"

"Oooh.. sederhana sekali racunnya, sewaktu bertepuk tangan tadi secara diam-diam aku telah sembunyikan sebatang jarum beracun di antara sela-sela jari tanganku, maka ketika saling bertepuk tangan tadi, secara otomatis jarum itu sudah menusuk di tangan Shen toa-cungcu"

"Tentang soal ini aku sudah tahu. aku hanya ingin bertanya kepadamu sampai kapankah racun diujung jarummu itu baru akan bereaksi?"

"Jarum beracun milikku itu bernama Jit lok ciam, apabila yang tertusuk bukan tempat yang mematikan maka tujuh hari kemudian racun itu baru akan bereaksi, apabila sari racun telah menyerang kedalam jantung maka sekalipun ada obat dewa juga jangan harap bisa selamat. Sebaliknya apabila sebelum batas waktunya habis racun itu bisa ditawarkan, tentu saja engkau akan selamat tanpa cidera!"

"Jadi Wu-heng membawa obat pemunahnya?"

"Ooh .! Terlalu berbahaya membawa obat perawar itu dalam saku, apalagi orang yang harus kuhadapi adalah manusia cerdik seperti Shen toa cungcu. Membawa obat penawar dalam saku sama halnya dengan perbuatan manusia

goblok?"

"Lalu engkau simpan di mana obat penawar tersebut?"

"Aku sembunyikan di dalam tubuh seekor ular beracun!"

"Sungguhkah perkataanmu itu?" tanya Shen Bok Hong dengan wajah agak tertegun.

"Selama hidup aku tak pernah bicara bohong!"

"Andaikata ular beracan itu sampai dibunuh orang, bagaimana jadinya..?!'

'Oooh soal itu tak perlu kuatir, aku toh hapal dengan resepnya, kalau obat itu hilang maka segera kita bikinkan obat penawar yang baru!"

"Berapa lama yang dibutuhkan untuk membuat obat dengan resep baru ini..?!" tanya Shen Bok Hoag sesudah berpikir sebentar.

"Kurang lebih yaa.. tiga hari begitulah !"

"Waah. kalau begitu masih cukup waktu bagiku untuk menunggu sampai engkau buatkan obat penawar yang baru

kepadaku?!"

"Asalkan aku masih hidup dengan segar bugar. dan Shen toa-cungcu juga bersedia menepati janji, tentu saja engkau tidak akan sampai mati.. "

Setelah berhenti sebentar untuk tukar napas, sambungnya kembali :

"Akupun ingin mengajukan satu persoalan kepada Shen toa cungcu, aku harap cungcu bersedia untuk menjawabnya pula."

"Soal apa?!"

"Mengenai ilmu apakah yang telah dipergunakan Shen loa-cungcu menotok diriku?"

"Bukan Wu-heng telah menjawab sendiri pertanyaan itu? Aku telah menotok sebuah urat anehmu!"

"Aku lihat caramu menotok jalan darah tersebut sangat istimewa sekali, aku telah mencoba mengerahkan tenaga untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan itu, tapi walaupun telah dicoba selama dua jam pun tiada manfaat apa-apa!"

"Tentu saja saudara Wu tak akan berhasil memecahkan totokanku itu, sebab jalan darah anehmu itu sudah kutotok dengan suatu cara penotokan hiat-to yang aneh dan istimewa!"

"Sampai kapankah penyakit yang timbul akibat totokan dari Shen toa cungcu itu akan kambuh?"

"Kurang lebih setengah bulan lamanya apabila aku tidak memberikana pertolongan maka setengah bulan kemudian luka itu akan mulai kambuh dan bekerja, sehingga akhirnya engkau akan muntah darah dan tewas"

"Ooh.. tidak menjadi soal, itu berarti racun yang mengeram dalam tubuh Shen toa cungcu bekerja jauh lebih cepat dari padaku, dan aku percaya jiwaku tak sampai melayang!"

Shen Bok Hong tertawa dan mengangguk.

"Tentu saja aku tak akan membiarkan saudara Wu tewas ditangan orang mulai detik ini juga aku orang she Shen harus memberi perlindungan khusus kepadamu."

"Sudah selesaikah pembicaraan kalian berdua?" It-bun Han to menyela dari samping.

"Apakah saudara It-bun hendak mengatakan sesuatu?" tegur Shen Bok Hong sambil tertawa ewa.

"Merurut pengelihatanku, Lan Giok-tong sudah hampir menemui ajalnya, apakah kalian tidak akan memberikan pertolongan kepadanya??"

Shen Bok Hong melirik sekejap kearah Lan Giok tong yang sekarat di atas tanah lalu sahutnya:

"Serangan dari saudara Wu biasanya lihay dan luar biasa, aku pikir orang biasa tak nanti bisa menyelamatkan jiwanya!"

It bun Han too tertawa hambar ucapnya:

"Sekalipun antara aku dan Lan Giok tong berdiri pada posisi saling bermusuhan, akan tetapi aku tak ingin membiarkan dia mati konyol ditempat ini !"

"Haaah haaahh haaahh heran, sungguh mengherankan, sedari kapankah saudara It-bun berubah jadi seramah dan semulia ini?."

"Seorang manusia kadangkala memang perlu melakukan perubahan atas perbuatan sendiri, biasanya orang yang baik akan berubah jadi jahat dan orang jahatpun banyak yang berubah jadi baik."

"Hmml Kalau kudengarkan pembicaraanmu itu, rupanya engkau ada maksud hendak selamatkan jiwanya?"

"Begitulah maksudku!"

''Engkau sanggup untuk selamatkan jiwanya?"

"Manusia akan berusaha dan Thianlah yang menentukan!"

Kontan saja Shen Bok Hong tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehhh. heeehhh. heehhh. saudara It bun, kalau engkau bersedia merawat jenasah seseorang yang tak kau kenal, perbuatanmu ini benar-benar suatu perbuatan yang mulia, siapa tahu nama besarmu akan dikenang selalu di hati setiap pendekar!"

It bun Han to sama sekali tidak menggubris sindiran Shen Bok Hong yang sangat tak sedap didengar itu, dengan suara lantang ia segera berseru:

"Gotong saudara itu kedalam dan berikan pertolongan pertama!"

Dari belakang layar meja abu muncullah dua orang laki-laki berbaju ringkas warna hitam, dengan cepat mereka menggotong Lan Giok tong untuk mengundurkan diri dari situ.

Pemuda berbaju hijau itu mendengus dingin, ditatapnya sekejap paras muka It bun Han to dengan sorot mata tajam, kemudian katanya:

"Menurut berita yang kudengar, katanya dimasa lampau engkau juga pernah berbakti untuk pihak perkampungan Pek hoa sancun?"

"Benar, seperti pula dirimu, aku ditipu oleh janji-janji manis yang muluk dari Shen toa-cungcu!"

"Aku dengar kepandaian silatmu sangat hebat selain itu ilmu pengetahuanmu juga hebat, bukan saja pernah membaca sepuluh laksa jilid kitab, ilmu perbintangan, ilmu meramal, ilmu pertabiban dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya hampir dikuasai semua olehmu, benarkah kabar berita itu semua?!"

Dari sinar mata musuhnya yang berkilat, It bun Han to bisa menebak bahwa musuhnya ini bermaksud tidak beres, maka walau pun diluaran dia layani pembicaraan orang, sementara diam-diam hawa murninya disalurkan keseluruh badan untuk bersiap dia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

"Engkau terlalu memuji !" sahutnya.

Pemuda baju hijau itu menjengek dingin, kembali katanya :

"Aku tidak bermaksud memuji engkau, tapi ingin coba memuji engkau sampai dimanakah kepandaian dan pengetahuan yang kau miliki!"

"Apa yang hendak kau tanyakan?!"

"Apakah engkau menyaksikan bagaimana caraku melukai Lan Giok tong ?" tanya pemuda itu sambil menatap lawannya tajam-tajam."

Dengan cepat It-bun Hion-to menggeleng.

"Aku tidak melihatnya, akan tetapi aku dapat menduga bagaimana caranya engkau lukai korbanmu!"

Ucapan tersebut sangat mengejutkan semua jago persilatan yang hadir disekitar tempat itu, sampai-sampai Sun Put-shin sendiripun segera berpikir dengan dahi berkerut :

"'Masa ketajaman penglihatannya jauh lebih hebat dari aku si pengemis tua..? Sungguh mencengangkan!"

Tapi ingatan lain kembali melintas dalam benaknya, siapa tahu kalau secara diam-diam ia telah mengadakan persiapan dan memperhatikan dengan seksama saat ketika Lan Giok tong terluka, maka rasa heran pun jauh lebih berkurang.

Pemuda baju hijau itu segera tertawa dingin, ejeknya:

"Kalau engkau bisa menduganya dengan tepat itulah menandakan kamu memang hebat, tapi aku masih kurang percaya., boleh kah aku tahu dengan benda apakah kulukai lawanmu?"

"'Ia bukan terluka oleh ilmu silatmu yang tinggi, tapi roboh karena terkena sergapanmu yang licik!"

"Dalam suatu pertarungan apabila bukan terluka maka seseorang pasti mati, melukai orang dengan senjata rahasia toh bukan sesuatu kejadian yang luar biasa?"

"Tapi aku yakin senjata rahasia yang kau gunakan jauh berbeda dengan senjata rahasia biasa!"

Paras muka pemuda berbaju hijau itu kontan berubah hebat.

"Dimana letak perbedaannya?" ia berseru.

"Senjata rahasia itu bukan saja kecil dan lembut bahkan bukan sebangsa jarum beracun atau paku beracun, senjata rahasia yang kau gunakan adalah sebuah senjata rahasia yang hidup!"

"Heeeh heeeh heeeeh engkau tahu enak mahluk apakah yang telah kugunakan?" seru pernuda itu lagi sambil tertawa dingin tiada hentinya.

It-bun Han-too tersenyum:

"Aku cuma tahu kalau binatang itu bukan ular beracun, melainkan jenis binatang beracun yang kecil dan lembut,

apakah nama binatang itu maaf .... aku tak bisa menebaknya."

"Jadi kalau begitu, tebakanmu hanya bisa dibenarkan separuh saja!" kata pemuda tadi.

Tiba-tiba dia ayunkan tangan kanannya kedepan, sekilas cahaya hitam segera meluncur keluar dari balik ujung bajunya.

Kali ini It-bun Han to telah bersiap sedia, dengan cekatan dia mengigos ke samping sementara telapak tangan kanannya segera melancarkan sebuah babatan kilat.

Selisih jarak antara kedua orang itu sangat dekat, meskipun It bun Han to telah bersiap sedia, tidak urung terlambat juga waktu menghindarkan diri tak ampun mahluk hitam tersebut segera menempel diujung bajunya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan merdu berkumandang memecahkan kesunyian:

"It bun sianseng, jangan bergerak !"

Di tengah bentakan nyaring, tampaklah cahaya perak berkelebat lewat dan langsung menyambar keujung baju It-bun Han to.

Makhluk hitam yang menempel diujung baju It bun Han to itu segera bergetar keras akhirnya rontok ke atas tanah.

Kiranya makhluk hitam itu tidak lebih adalah seekor kelabang yang panjangnya tiga cun, waktu itu kelabang tersebut sudah menggeletak di tanah dengan badannya tertembus oleh sebatang jarum perak, sesudah berkelejit setentar akhirnya matilah binatang itu.

Pemuda berbaju hijau itu memandang sekejap kearah kelabangnya yang telah mati kemudian katanya :

"Sungguh keji dan beracun jarum perak ini!"

It-bun Han-to ikut menengok pula kearah jarum perak diatas tanah, tentu saja dia pun kenali jarum itu sebagai jarum beracun Han tok peng pok ciam dari Pak hay, atau dengan perkataan lain Pek li Peng lah yang telah menyelamatkan jiwanya.

Dalam hati segera pikirnya :

"Syukur ada nona Pek-li yang telah selamatkan jiwaku, kelabang tersebut sudah pasti adalah seekor makhluk yang sangat beracun, setelah ia menempel diujung bajuku, tidak gampang untuk membuangnya keatas tanah. Aai..! Untung racun keji dari Han tok peng pok ciam adalah racun keji yang mampu membinasakannya, bila aku sampai tergigit oleh kelabang beracun itu, entah bagaimana jadinya?!"

Sementara itu pemuda berbaju hijau itu telah berkata dengan dingin :

"Siapakah nona itu? Untung ada nona itu yang menyelamatkan jiwamu, kalau tidak selembar jiwamu sudah pasti akan melayang ditangaaku !"

Dengan suara yang lantang ia segera ber seru:

"Siapakah yang telah melepaskan jarum beracun hingga membinasakan kelabang beracunku? Beranikah engkau unjukkan diri?'.

Dipihak lain Pek-li Peng merasa tidak tentram setelah melepaskan jarum beracun Han tok-deng-pok-ciamnya untuk selamatkan jiwa It-bun Han-to. dalam hati segera pikirnya:

"Kalau Shen Bok Hong kenali jarum han-tok-peng-pok ciam milikku ini, sudah pasti dia akan tahu bahwa aku masih hidup di kolong langit, masih mendingan kalau cuma rahasiaku ketahuan, kalau sampai membuat toako jadi marah kan

berabe...?"

Karena pendapatnya inilah maka ia tidak menggubris tantangan dari pemuda berbaju hijau itu, kendatipun lawannya berkaok-kaok dengan kata yang pedas, ia tetap tidak mau unjukkan diri.

Sementara Pek li Peng masih termenung dengan perasaan gelisah, tiba-tiba terdengar Shen Bok Hong menjerit tertahan:

"Haaah..?! Jarum Han-peng ciam dari Pak hay.. "

Suaranya begitu kaget, seakan-akan dipagut ular beracun secara mendadak.

"Benar, jarum itu adalah Han tok peng pok ciam dari Pak hay" sabut It bun Han to dengan tenang, "Sungguh luas pengetahuan Shen toa cungcu sehingga jarum andalan dari Pak hay juga kau kenali!"

Hebat sekali perubahan wajah dari Shen Bok Hong.

"Jadi.. jadi kalau begitu. Pek li Peng masih hidup di dunia iri?" serunya agak tergagap

Bukannya menjawab. It-bun Han-to malahan balik bertanya:

"Tampaknya engkau amat takut untuk berhadapan dengan Pak thian Cuncu??"

"Benarkah Pek li Peng masih hidup?" seru Shen Bak Hong lagi sambil menatap wajah It bun Han to tanpa berkedip.

"Kalau dia masih hidup, kami semua akan bersyukur dan bergembira ria, kalau dia mati...Pak thian Cuncu hanya mempunyai seorang putri, sudah pasti dia akan datang membuat perhitungan dengan dirimu."

Jawaban ini sangat diplomatis, bukan saja sama sekali tidak menerangkan apakah Pek li Peng masih hidup atau sudah mati bahkan sepintas lalu kedengarannya menunjukkan sesuatu, tapi setelah dipikir kembali ternyata tak tahu apa yang dimaksudkan.

Shen Bok Hong yang cerdas dan berotak brilian dibuat kebingungan juga oleh jawaban tersebut, dengan wajah tertegun dan tidak habis mengerti ujarnya:

"Jadi maksudmu, pihak istana salju dari Pak hay telah mengutus jago lihaynya ke mari?"

It bun Han to tertawa dingin.

"Kita berdiri dalam posisi saling bermusuhan, aku rasa tidak menjadi kewajibanku bukan untuk memberi keterangan yang jelas kepada kau Shen toa cungcu."

"Aku dengar suara perempuan yang memberi peringatan tadi tak lain adalah orang yang melepaskan jarum beracun, perempuan itu pastilah Pek li Peng adanya!"

"Kalau nona Pek li masih hidup di dunia ini, sudah pasti Siau Ling pun masih hidup segar bugar di sekitar tempat ini!" sambung It bun Han to sambil tertawa ewa.

Tiba-tiba Shen Bok Hong menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh haaahhh haaahhh dari orang orang istana salju di Pak hay, toh bukan Pek li Peng seorang yang mampu menggunakan jarum beracun Han tok peng-pok-ciam secara

jitu !."

"Jarum Han tok peng pok ciam merupakan senjata rahasia khusus dari istana salju di Pak hay, tentu saja setiap anggota Pak hay kiong sanggup mempergunakan senjata rahasia itu. Semua orang sudah mengetahui akan hal ini, aku rasa Shen toa cungcu tak usah memberikan penjelasan lagi."

"Oooh ..! Jadi kau maksudkan, asal orang yang berada di balik meja abu itu adalah anggota istana salju dari Pak hay, maka ia sanggup melepaskan jarum Han tok peng pok ciam

tersebut??"

It bun Han to kembali tertawa hambar.

"Terserah apa yang hendak Shen toa cungcu pikirkan! Mau kau anggap Pek li Peng masih hidup juga boleh mau anggap dia sudah mati terbakar oleh siasat busukmu juga boleh, tapi bila engkau ingin menyelidiki kabar berita dari mulutku, lebih baik tunggu saja sampai fajar menyingsing dari arah barat!"

"Hmmm ! Ternyata engkau benar-benar licik dan banyak akalnya"

"Aaah, sama sama sama sama... kita toh ibaratnya setali

tiga uang, sedikitpun tidak ada bedanya."

Shen Bok Hong menggubris musuhnya lagi, ia berpaling kearah Kim hoa hujin dan tanyanya dengan lirih:

"Berapa macam binatang beracun yang kau bawa?"

"Tiga macam?

"Bagus! Apabila ada orang berani menghalangi jalan pergi kita, gunakanlah ketiga jenis binatang beracun itu sekaligus.. "

Setelah berpesan kepada perempuan suku Biau itu, gembong iblis tersebut berpaling pula kearah pemuda baju hijau seraya menambahkan:

"Demikian pula dengan saudara Wu, apabila mendapat perintahku nanti, harap semua jenis binatang beracun yang dibawa dilepaskan semua secara bersamaan waktunya."

Pemuda berbaju hijau itu mengalihkan pandangannya ke samping dan memandang sekejap kearah Kim hoa hujin, lalu ucapnya:

"Aku dengar orang mengatakan bahwa hu jin pandai sekali menjinakkan pelbagai macam binatang beracun, bagaimanakah caramu melepaskan serangan maut itu? Hari ini akan kupentang mataku lebar-lebar untuk menyaksikan kehebatanmu itu!"

Perlahan-lahan Kim hoa hujin membereskan rambutnya yang kusut, lalu sambil tertawa ia menjawab :

"Sampai sekarang aku masih belum tahu sebenarnya engkau adalah sahabat ataukah musuh, tapi perduli amat siapakah engkau, apa maksudmu berkata demikian

kepadaku?!"

Pemuda berbaju hijau itu tertawa ewa.

"Hal ini kulakukan oleh karena aku sendiri pun sedikit memahami bagaimana caranya melepaskan serangan dengan makhluk beracun. Ingin kusaksikan apakah cara orang Tionggoan melepaskan serangan dengan binatang beracun punya kesamaan dengan cara kerja orang suku Biau"

"Aaah. ! Soal itu gampang sekali untuk diselesaikan, selewat hari ini kita bisa mencari suatu tempat untuk saling menjajal sampai dimanakah kemampuan yang dimiliki masing-masing pihak, dengan begitu menang kalah kan bisa segera kelihatan!"

"Bagus... bagus sekali usul ini, setelah aku munculkan diri kedalam dunia persilatan, akupun tidak mengharapkan ada orang lain yang pandai pula menggunakan bintang beracun. Siapa yang unggul dialah yang berhak untuk menguasai daratan Tionggoan.. baik akan kunantikan sampai tibanya saat

itu"

Diam-diam kawanan jago persilatan yang hadir di sekitat ruang abu itu merasa bergidik oleh kekejian kaum iblis itu. Terbayang betapa ngeri dan seramnya pertarungan antara binatang beracun melawan binatang beracun, tanpa terasa bulu kuduk mereka pada bangun berdiri, hampir saja mereka muntah-muntah saking mualnya.

Dengan wajah yang amat serius, Shen Bok, Hong berkata kembali:

"Saudara Wu, engkau adalah tamu terhormat dari aku orang she Shen, sedangkan dalam situasi seperti ini keadaan kita boleh dibilang senasib sependeritaan, aku harap dalam keadaan yang sangat kritis ini janganlah sampai terjadi perpecahan lebih dahulu, diantara kekuatan sendiri!"

Pemuda berbaju hijau itu tersenyum.

"Shen toa cungcu tak usah kuatir, mesti pun pertandingan adu racun sudah kami tetapkan, akan tetapi saat berlangsungnya pertarungan tersebut masih amat lama"

"Persoalan yang akan dilangsungkan di kemudian hari lebih baik dibicarakan dikemudian hari saja, kini Gak Siau cha toh sudah meninggalkan tempat ini, tak ada gunanya bagi kita untuk berdiam terlalu lama lagi di sini ...!"

Pemuda berbaju hijau itu tidak langsung menjawab. Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia baru dapat berkata:

"Kenapa kita musti buru-buru pergi dari sini? Aku justru merasa bahwa disaat dan keadaan seperti ini adalah merupakan saat yang paling tepat bagi Shen toa cungcu untuk membuat perhitungan dengan diriku!"

"Apa maksudmu dengan perkataan itu??" tanya Shen Bok Hong agak tertegun.

"Sangat sederhana, sudah lama aku ingin menerangkan beberapa persoalan kepada diri Shen toa cungcu, tapi oleh sebab saatnya belum tiba sehingga dikatakan juga tiada manfaatnya, dan lagi belum-belum Shen toa cungcu sudah menohok sebuah jalan darah anehku lebih dahulu, membuat aku jadi terdesak posisinya dan terpaksa musti menahan diri, maka kutunggu kesempatan yang baik sampai sekarang ini."

Setelah berbeati sebentar, ia melanjutkan:

Kini Shen toa cungcu sudah tertusuk oleh jarum beracunku, dan berarti keadaan kembali berubah, sekalipun posisinya masih tak menguntungkan diriku, paling sedikit keadaan kita tetap seimbang, apabila kesempatan sebaik ini tidak kumanfaatkan sebaik-baiknya, bukankah itu berarti bahwa aku telah menyia-nyiakan suatu peluang baik??"

Sebisa mungkin Shen Bok Hong menahan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya ia berkata:

''Baik, syarat apakah yang hendak kau ajukkan? Hayo segera utarakan keluar, aku Shen Bok Hong yakin masih sanggup untuk memenuhinya!"

"Pertama, mengenai soal kedudukanku dengan kedudukan Shen toa cungcu adalah sederajat dan seimbang, maka dalam sebutanpun kita adalah berada di satu tingkatan yang sama

pula."

Shen Bok Hong segera mengangguk.

"Tentang soal ini tentu saja ! Kan selama ini aku tak pernah menganggap saudara Wu sebagai anak buahku??"

"Kedua, kesediaanku membantu kau untuk menghadapi Siau Ling dan orang gagah di seluruh kolong langit bukanlah didasarkan karena aku memuji kehebat dan kelihayan Shen toa-cungcu. sebaliknya hanya disebabkan karena Gak Siau-cha. Asalkan Gak Siau cha munculkan dirinya sekali lagi, maka Shen toa cungcu harus menggunakan semua tenaga yang kau miliki untuk membantu aku menawannya hidup-hidup."

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh.

"Sekali lagi kuterangkan kepadamu, aku berharap agar engkau menangkap Gak Siau cha dalam keadaan hidup-hidup, tidak boleh membuat ia jadi cedera ataupun terluka. Mungkin saja untuk melaksanakan tugas tersebut banyak sekali jago-jago dari perkampungan Pek hoa san cung akan terluka atau

tewas !"

"Tentu saja, asal saudara Wu membantu aku, dengan sendirinya akupun akan menangkap Gak Siau cha sebagai balas jasaku atas bantuan dari saudara!''

Memang mengenaskan sekali keadaannya waktu itu, Shen Bok Hong yang gagah perkasa dan selalu dihormati orang, ternyata harus menyerah kalah dan menuruti permintaan seorang pemuda yang masih ingusan, apabila bukan disaksikan mata kepala sendiri, siapapun tak akan mempercayainya.

Sementara itu pemuda berbaju hijau tersebut telah tersenyum dan berkata lagi:

"Tadi bukankah pernah kukatakan bahwa dalam perkampungan Pek hoa sancung masih terdapat seseorang yang mungkin merupakan sainganku untuk mendapatkan Gak Siau cha. apakah Shen toa cungcu masih ingat?"

"Masih ingat, siapakah orang itu?"

"Engkau, Shen toa cungcu!"

Mula-mula Shen Bok Hong tertegun, akhirnya sambil mengelus jenggotnya ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh haaahhh haaahhh aku kan sudah tua dan peyot, masa aku punya minat untuk berebutan dengan angkau?

"Mungkin saja orang lain bisa kau kibuli, akan tetapi jangan harap bisa mengelabuhi aku dengan gampang."

Shen Bok Hong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Apa yang harus kulakukan, sehingga membuat engkau jadi percaya?!" tanyanya kemudian.

"Aku tidak mengharapkan buktimu, kubongkar rahasiamu ini di hadapan umum. Tujuanku tak lain agar engkau tahu bahwa aku sudah mengadakan persiapan untuk menghadapi engkau. Apabila kau mempunyai ingatan tersebut maka lebih baik dilenyapkan saja mulai sekarang, daripada nantinya menghadapi kesulitan dan banyak kerepotan bagi diri sendiri."

Betapa gusarnya Shen Bok Hong sukar dilukiskan dengan kata-kata, dengan mata melotot besar dan muka merah padam menahan emosi, ia membentak nyaring:

"Saudara Wu, selama hidup belum pernah aku mengalah kepada orang lain, baru pertama kali ini aku bersedia mengalah kepadamu. Aku harap engkau janganlah bertindak kelewat batas!"

"Haahhh..haahhh..hhh.." pemuda berbaju hijau itu tertawa terbahak-bahak, dia segera alihkan pembicaraan ke soal lain. "Bukankah kita akan berlalu dari sini ? Biar akulah yang membukakan jalan untukmu!"

Dengan langkah lebar ia segera berjalan menuju ke pintu gerbang di depan ruangan itu.

Shen Bok Hong memandang sekejap ke arah It bun Han to, kemudian ujarnya dengan nyaring:

"Aku hendak mohon pamit, bagaimana menurut pendapat saudara It bun?'

"Lihat saja nasib kalian, mujur atau sedang sial!" jawab It-bun Han to hambar.

Shen Bok Hong mengerutkan dahinya. Ia tidak banyak berbicara lagi, mengikuti di belakang pemuda berbaju hijau itu mereka segera berjalan menuju ke luar.

It bun Han to alihkan sorot matanya ke arah pintu ruangan. Ia temukan kakek baju kuning yang bersenjata toya bambu itu masih berdiri tak bergerak ditempat semula.

Kelihayan pemuda berbaju hijau itu, terutama kemampuannya melukai orang dengan senjata rahasia makhluk hidup telah menggetarkan hati kawanan jago. Ketika semua orang menyaksikan kedatangannya, kebanyakan lantas menyingkir ke samping dan membuka jalan baginya, hanya kakek berbaju kuning itu masih tetap berdiri tak bergerak dari tempat semula.

Shen Bok Hong dan Kim hoa hujin telah tiba di depan pintu ruangan menyusul di belakang pemuda berbaju hijau itu.

"Lotiang, aku lihat usiamu sudah tua!" tegur pemuda berbaju hijau itu dengan dingin.

Kakek berbaju kuning itu tetap berdiri tak berkutik di tempat semula, begitu kaku badannya ibarat sebuah patung arca, bukan saja tidak menggubris perkataan pemuda itu, bahkan melirik pun tidak.

Pemuda berbaju hijau itu segera tertawa dingin, cepat tangan kanannya mengambil keluar seekor kelabang sepanjang tiga cun yang berwarna merah dari dalam sukunya, kemudian sekali timpuk, kelabang itu lemparkan keatas wajah kakek baji kuning tadi.

Dalam hati kecilnya It-bun Han to telah menduga bahwa kakek berbaju kuning itu kemungkinan besar adalah penyaruan dari Siau Ling, akan tetapi mengingat betapa keji dan beracunnya kelabang tersebut, sedikit banyak ia merasa kuatir juga bagi keselamatan jiwanya, apalagi setelah dilihatnya kakek itu tetap tenang menghadapi datangnya ancaman tersebut.

Siapa tahu dikala kelabang itu hampir mengena di hidungnya, mendadak kakek berbaju kuning itu menyampok ke muka dan kelabang tersebut sudah ditangkap dengan tangannya, menyusul mana sekali timpuk dia mengembalikan kelabang itu kaarah tubuh Shen Bok Hong.

DaIam hal ilmu silat kemampuan Shen Bok Hong memang sangat lihay, akan tetapi ia tak berani menerima datangnya ancaman tersebut dengan sambutan tangan seperti apa yang dilakukan kakek berbaju kuning itu.

Cepat ujung bajunya dibebaskan ke depan. Segulung angin pukulan yang tajam segera menyapu rontok kelabang tersebut.

"Maaf..maaf., sungguh tak nyana engkau adalah seorang tokoh lihay dalam menghadapi binatang beracun..!" terdengar pemuda berbaju hijau itu memuji dengan suara nyaring.

Ia maju ke muka, secepat sambaran kilat tangan kanannya meluncur ke depan dan mencengkeram pergelangan tangan kanan sang kakek baju kuning yang memegang toya bambu

itu.

Sungguh cepat serangan itu, akan tetapi ketenangan yang dimliki kakek baju kuning itupun Iuar biasa, ditunggunya sampai kelima jari tangan kanan pemuda itu hampir menempel di atas urat nadi pada pergelangan kanannya sebelum tiba ia berkelit ke samping dan tahu-tahu toyanya sudah disodok ke depan dan menghajar telak persendian tulang sikut di tangan pemuda itu.

Gerak serangan yang digunakan kakek berbaju kuning itu sangat sederhana, bahkan boleh dibilang tiada sesuatu yang luar biasa, akan tetapi ancaman itu sama sekali tak mampu dihindari oleh pemuda berbaju hijau itu..

Sebelum ia sempat berkelit, tahu-tahu sodokan toya itu sudah menghajar sikut lengan kanannya.

Sungguh dahsyat tenaga yang dipancarkan keluar dari sodokan toya itu, setelah terkena serangan seketika itu juga pemuda berbaju hijau itu merasakan lengan kanannya jadi kaku dan kesemutan buru-buru dia melompat mundur tiga langkah ke belakang.

Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak mengejar musuhnya, ia tetap berdiri kaku di tempat semula.

Sementara itu pemuda berbaju hijau tadi sudah mundur tiga langkah ke belakang, lengan kanannya tampak tergantung lemas ke bawah dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa luka yang diderita pada lengan kanannya itu cukup parah.

Penuda baju bijau itu berpaling dan memandang sekejap ke arah Shen Bok Hong, kemudian ia berdiri tak berkutik di tempat itu. Diam-diam hawa murninya dihimpun menjadi satu dan berusaha untuk melancarkan kembali peredaran darah di atas lengannya.

Sekilas rasa kaget dan tercengang berkelebat di atas wajah Shen Bok Hong. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati pintu gerbang, kemudian sesudah memandang sekejap ke arah kakek baju kuning itu dengan pandangan dingin, tegurnya :

"Siapakah namamu?!"

Dengan sepasang sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu kakek berbaju kuning itu menatap wajah Shen Bok Hong tak berkedip, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Shen Bok tetawa dingin, kembali ujarnya:

"Aku rasa englau jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan??"

"Benar !"

Tampaknya kakek itu sangat takut kalau terlalu banyak berbicara, maka jawaban tersebut sangat singkat tapi jelas.

Shen Bok Hong tersenyum, ujarnya lebih jauh:

"Kalau toh engkau jarang sekali melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, dus berarti pula tiada ikatan dendam atau sakit hati dengan diriku, lalu apa maksudmu menghalangi jalan pergiku??

"Sudah lama kudengar perbuatan busukmu, ternyata kabar berita itu bukan kabar bohong!"

Suara jawabannya sangat aneh seakan-akan setiap patah kata yang diucapkan keluar harus dipantulkan lebih dahulu dengan lidahnya hingga kedengarannya jadi kaku.

Shen Bok Hong mengerutkan dahinya.

"Jadi kalau begitu, perbuatanmu kau lakukan karena perasaan tidak puas??"

Kakek berbaju kuning itu mendengus dingin tanpa menjawab.

"Heeehhh heeehhh heeehhh apakah aku boleh tahu siapa namamu?" tanya gembong iblis itu sambil tertawa dingin.

"Tidak boleh!"

Tiba-tiba Shen Bok Hong angkat tangan kanannya dan melancarkan sebuah pukulan gencar ke arah depan.

Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak berkelit ataupun menghindar, dengan telapak tangan kirinya dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaang..!" suatu benturan keras yang memekikkan telinga segera menggelegar di angkasa, sepasang telapak tangan itu saling beradu satu sama lainnya.

Sekujur badan Shen Bok Hong gemetar keras, sedangkan kakek baju kuning itu terdorong mundur dua langkah ke belakang.

Dalam benturan keras lawan keras yang barusan berlangsung ini, kedua belah pihak sama-sama menggunakan tenaga dalamnya yang paling sempurna, tentu saja hebat juga akibatnya.

Shen Bok Hong segera tertawa dingin ujarnya:

'"Tidak aneh kalau engkau tekebur dan jumawanya luar biasa, ternyata punya juga kepandaian yang diandalkan. Nah, sambutlah kembali sebuah pukulanku ini!"

Di tengah bentakan nyaring, kembali dia lancarkan sebuah babatan tajam dengan menggunakan tangan kanannya.

Angin pukalan yang dihasilkan oleh pukulan itu luar biasa dahsyatnya, sebelum serangan Itu tiba di tempat sasarannya, seluruh ruang abu itu sudah bergoncang keras akibat terhembus oleh pukulan dahsyat tadi.

Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak mau mengalah kepada musuhnya, dengan keras lawan keras kembali ia sambut pukulan tersebut dengan telapak tangan kanannya.

Kali ini kakek berbaju kuning itu sudah melakukan persiapan, dalam bentrokan yang kemudian terjadi, dia hanya terdorong mundur satu langkah belaka.

Sekalipun begitu, pada hakekatnya serangan yang dilancarkan Shen Bok Hong kali ini boleh dibilang beberapa kali lipat lebih dahsyat daripada serangannya yang pertama tadi.

Shen Bok Hong segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, sekali lagi dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Agaknya kakek berbaju kuning itu sudah tahu akan kelihayan musuhnya, untuk ketiga kalinya ini dia tak berani menyambut pukulan itu dengan tangan kirinya, cepat toya bambunya dilepaskan dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan tangan kanannya.

Secara beruntun Shen Bok Hong telah melepaskan tiga buah pukulan dahsyat, akan tetapi kakek berbaju kuning itupun telah menyambut ketiga buah serangannya dengan keras lawan keras. Kontan saja kejadian ini mencengangkan semua jago yang hadir di sekitar gelanggang rata-rata mereka lantas berpikir dalam hatinya:

"Entah siapakah jago lihay ini, ternyata ia mampu menerima ketiga buah pukulan dahsyat dari Shen Bok Hong dengan keras lawan keras, tapi yang pasti dia adalah seorang jago yang amat tangguh!"

Sesudah melancarkan tiga buah serangan secara beruntun tadi, Shen Bok Hong tidak melakukan penyergapan lagi, ia tarik kembali telapak tangannya dan mundur ke belakang, katanya dengan dingin :

"Engkau sanggup menerima tiga buah pukulan dari aku orang she Shen secara keras lawan keras, hal ini menunjukkan bahwa engkau memang seorang jago yang tangguh."

Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak menggubris apa yang sedang diucapkan Shen Bok Hong, denjan suara yang amat dingin ia malah berseru :

"Sesudah diberi kalau tidak dibalas rasanya kurang sopan. Nah, berhati-hatilah!"

Tongkat bambunya diputar kencang, kemudian secara beruntun dibalas melancarkan tiga buah serangan.

Dengan pertahanan yang ketat dan bersusah payah akhirnya Shen Bok Bok Hong berhasil juga menghindari ketiga buah serangan berantai itu. Mendadak dengan sorot mata yang sangat tajam dia menatap wajah kakek berbaju kuning itu tanpa berkedip, sepatah demi sepatah kata serunya:

"Engkau adalah Siau Ling, engkau belum mati bukan?"

Kakek berbaju kuning itu tertawa dingin tiada hentinya, ia tidak mengaku pun tidak menyangkal. Toya bambunya kembali disapu ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Shen Bok Hong sama sekali tidak menghindar telapak tangan kirinya segera didorong ke muka untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Pertarungan semacam ini bukan saja sama sekali di luar dugaan para jago yang hadir di dalam gelanggang, bahkan kakek berbaju kuning itu pun kelihatan tertegun oleh kejadian tersebut.

"Plaaaak!"' dengan telak serangan tongkat bambu itu menghajar diatas pergelangan tangan Shen Bok Hong.

"Peletak..!" sayatan bambu berhamburan, memenuhi seluruh angkasa, tiba-tiba tongkat bambu yang berada di tangan kakek itu tersayat kutung satu ruas.

Menyaksikan kedahsyatan dari gembong iblis itu, kembali kawanan jago persilatan yang hadir di sekitar gelanggang berpikir dengan perasaan hati yang tercekat:

"Setelah menyaksikan caranya bertarung benar-benar terbukti bahwa ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong telah mancapai puncak kesempurnaan yang luar biasa, malahan tubuhnya sudah dilatih menjadi kebal bagaikan baja, kalau orang lain yang terhajar pergelangan tangannya oleh sambaran toya itu kalau tidak terluka paling sedikit akan kesakitan, tapi dia...bukan saja tidak menunjukkan wajah kesakitan, malahan berhasil mematahkan toya bambu itu, benar-benar seorang jago yang hebat."

Kalau orang lain terperanjat maka Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak kaget atau keheranan. Dia putar pergelangan tangan kanannya dan menarik kembali tongkat bambu itu, kemudian setelah berputar satu lingkaran ia menyodok ke alis mata musuh.

Kali ini dia menyerang dengan menggunakan toya bambu itu sebagai senjata tombak.

Sekali lagi Shen Bok Hong melontarkan telapak tangan kirinya ke depan ..plaak! Untuk kedua kalinya toya bambu iiu kena dipentalkan ke samping, menggunakan kesempatan itu ia segera menerjang maju ke depan.

Untuk kali ini para jago dapat mendengar suara benturan itu dengan amat jelas, sudah pasti benturan itu adalah suara benturan dari bambu yang beradu dengan besi baja, kenyataan ini semakin menggetartan perasaan hati mereka.

Kiranya pada bentrokan yang pertama kali tadi. kawanan jago itu sudah mendengar suara aduan itu, tapi mereka mengira salah mendergar maka untuk kali ini perhatian mereka benar-benar ditujukan kesitu, maka jelaslah sudah bahwa bunyi benturan besi memang bukan pendengaran yang keliru.

Haruslah dikelahui, seseorang memang bisa melatih badannya jadi kuat dan kebal seperti baja, tapi melatih diri sehingga menimbulkan suara bentutan seperti baja belum pernah terjadi di dunia ini andaikata Shen Bok Hong benar-benar bisa mencapai ke taraf seperti itu, maka peristiwa tersebut boleh dibilang merupakan peristiwa yang paling aneh di dunia inri...

Rupanya It bun Han-to dapat membaca perasaan hati para jago untuk menghilangkan rasa panik dan curiga diantara jago-jagonya, ia segera berderu dengan suara lantang :

"Kalian tak perlu heran, sepasang pergelangan tangan Shen toa cungcu telah dipasangi gelang baja yang amat kuat, tentu saja suara benturan yang kedengaran adalah suara benturan besi dan bambul"

Sering kali dijumpai dalam dunia persilatan bahwasanya orang-orang silat menggunakan gelang besi pada pergelangan tangannya untuk melindungi diri dari bacokan senjata, gelang besi itu persis seperti borgol bentuknya cuma lebih lebar sedikit karena dipakai di balik ujung baju maka siapapun tidak akan mengetahuinya.

Pada mulanya semua orang dibuat terperanjat oleh keampuhan ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong, tapi setelah diberi penjelasan oleh It bun Han to, maka semua orang pun jadi mengerti akan duduk perkara yang sebesarnya.

Ketika sinar mata para jago dialihkan kembali ke arah gelanggang, tampaklah Shen Bok Hong sudah mendekati ke sisi tubuh kakek berbaju kuning itu, tiba-tiba telapak tangan kanannya ditekan ke bawah kemudian melancarkan sebuah bacokan kilat.

Sementara itu toya bambu milik kakek baju kuning itu sudah tertangkis hingga miring kesamping. Menghadapi sergapan yang dilakukan pihak musuh ini, jangan toh bambu itu tak sempat ditarik kembali, sekalipun bisa ditarik kembali pun, bambu yang panjang itu sama sekali tak bermanfaat digunakan uniuk melakukan pertarungan jarak dekat.

Tampaklah kakek berbaju kuning itu ayunkan tangan kanannya ke depan dan menyambut datangnya pukulan itu dengan kekerasan.

Shen Bok Hong mendengus dingin, tiba-tiba ia berkelit ke samping dan mundur tiga depa ke belakang.

Sementara itu kakek berbaju kuning tadi sudah membuang tongkat bambu itu kini dalam genggaman tangan kanannya telah be tambah dengan sebilah pedang pendek yang sangat tajam.

Seketika itu juga paras muka Shen Bok Hong berubah jadi amat serius, dengan dingin serunya:

"Aaah, tak salah lagi, rupanya memang engkau! Siau

Ling...:"

Kakek berbaju kuning itu tertawa dingin ia tetap membungkam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Taktik membungkam yang dipraktekkan kakek berbaju kuning itu kontan saja membuat Shen Bok Hong yang licik bagaikan rase tua jadi kelabakan sendiri, ia merasa hatinya sangat tidak tenang.

Setelah termenung dan terpikir sebentar ujarnya lebih jauh:

''Siau Ling adalah seorang enghiong hoo han yang tak sudi mengganti namanya sendiri, kalau engkau tak berani mengakuinya, itu berarti bahwa engkau bukan Siau Ling!"

Dengan pedang tersoren kakek baju kuning itu pejamkan matanya rapat-rapat paras mukanya amat serius. Bukan saja ia tidak memberi komentar atas perkataan dari Shen Bok Hong itu, menggubrispun tidak.

Sikap yang aneh dan luar biasa ini tidak mendatangkan perasaan apa-apa bagi orang lain, tapi bagi Shen Bok Hong yang berilmu tinggi segera merasakan keadaan yang tidak beres.

Ia kenali sikap tersebut sebagai jurus permulaan dari ilmu pedang terbang, suatu kepandaian ilmu pedang tingkat tinggi yang luar biasa dahsyatnya, tercekat perasaan batinya.

Ia tak berani bertindak lebih jauh, segera hardiknya dengan suara dalam:

''Hayo kita cepat pergi!"'

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tiba-tiba badannya melambung ke udara, tangan kanannya segera diayun ke atas merobek atap kain yang menyelubung tempat itu. kemudian bagaikan seekor burung rajawali dia menerobos keluar dari lubang robekan tadi dan kabur dari situ.

Kim-hoa hujin mengikuti pula jejak Shen-Bok Hong. Dia menjejakkan kakinya dan kabur lewat atap ruangan.

Waktu itu, pemuda berbaju hijau tersebut sedang mengatur pernapasan untuk menolong diri, tampaknya dia tak menyangka kalau Shen Bok Hong bakal kabur melalui atap ruangan.

Begitu menyadari bahwa gelagat tidak menguntungkan, tanpa memperdulikan keadaannya lagi, cepat dia mengepos tenaga dan ikut kabur dari tempat itu.

"Engkau tak usah pergi" tiba-tiba terdengar kakek berbaju kuning itu membentak keras.

Di tengah bentakan nyaring, tubuhnya melambung ke depan dan menutup jalan pergi di atas atap tersebut.

Dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sama-sama melambung ke atas atap ruangan itu dan saling berebut untuk menerobos keluar dari robekan kain terpal tersebut.

Tapi akhirnya gerak tubuh kakek berbaju kuning itu jauh lebih cepat satu tindak, telapak tangannya langsung dibacok ke bawah.

"Blaang. !" suatu benturan keras yang memekakkan telinga terjadi di angkasa, kedua orang itu telah saling beradu tenaga sebanyak satu kali.

Termakan oleh hawa tekanan yang dilancarkan kakek berbaju kuning itu dari arah atas, pemuda baju hijau itu tak sanggup mempertahankan diri lagi, ia segera jatuh terkapar di atas tanah.

Sebaliknya kakek barbaju kuning itu sendiri dengan menggunakan ilmu langkah Pat poh teng gong segera melayang satu kaki jauhnya dari tempat semula sebelum akhirnya melayang kembali ke atas tanah.

Dengan cepat It-bun Han-to memburu ke muka. Sekali ayun jari tangannya, ia telah menotok jalan darah pemuda berbaju hijau.

Diantara empat orang pembantu yang dibawa Shen Bok Hong, kecuali Kim hoa hu jin seorang yang berhasil meloloskan diri, Lan Giok-tong menderita luka parah. Pemuda berbaju hijau itu terluka di ujung telapak tangan kakek berbaju kuning dan tertotok jalan darahnya oleh sentilan jari lt bun Han to, tinggal hweesio berbaju merah yang bersenjata kencrengan tembaga saja yang masih berada dalam keadaan segar bugar.

Bu wi totiang segera meloloskan pedangnya dan menghadang jalan pergi hweesio berjubah merah itu, serunya:

"Taysu, engkau akan menyerahkan diri ataukah hendak melangsungkan pertarungan adu jiwa??"

Ucapan tersebut diucapkan dengan tajam dan penuh hawa napsu membunuh.

—oooOdwOooo---

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 39"

Post a Comment