Budi Ksatria Jilid 34

Mode Malam
Jilid: 34

”SERINGKALI aku mendengar ayah ibuku membicarakan soal gereja Siau-limsi didaratan Tionggoan, beliau selalu memuji muji akan akan keampuhan ilmu silat mereka, jumlah jago yang banyak serta anggota yang tak terhitung jumlahnya, kenapa gereja Siaulimsi yang dihormati dao dipandang sebagai tulang punggung dunia persilatan sama sekali tidak memberikan reaksi apa apa atas kejadian serta kejumawaan yang dilakukan Shen Bok Hong? Masa gereja Siau lim si sudah kekurangan tenaga sehingga me ngurtis perbuatan seperti itupun tak mampu? Hmm? Semua orang menyanjung dirimu, mengatakan kan adalah lentera bagi umat persilatan, lentera yang membawa dunia persilatan keluar dari kegelapan, padahal apa yang mereka harapkan? mereka hanya menginginkan agar engkau jual nyawa bagi mereka, berduel melawan Shen Bok Hong bagi kepentingan mereka, padahal mereka sendiri banya berpeluk tangan belaka sambil menonton harimau berkelahi'

"Menurut hasil penyelidikanku selama ini rupa2nya dari pihak gereja Siau lim si ada orang yang diam2 telah- bersekongkol dengan Shen Bok Hong, tentu saja persekongkolan ini dilakukan oleh segelintir manusia kurcaci, ssbagai gereja yang suci dan berna tna besar tak mungkin anggota2 yang lain menyokong atau menyetujui dengan tindakan segelintir manusia kurcaci itu. aku rasa di balik peristiwa ini pasti ada latar belakang lainnya"

"Toako, bukankah kau telah bercerita di antara beberapa rintangan yang harus kau lewati, salah satu rintangan di antaranya di jaga oleh barisan Lo han tin dari gereja siau lim si? '

"Justru karena itulah aku lantas menaruh curiga kalau diantara anggota gereja Siau lim si, ada sebagian diantaranya yang telah bersekongkol dengan Shen Bok Hong secara diam2, bahkan kalau dugaanku tidak keliru hwesio penghianat tersebut pasti mempunyai kedudukan yang sangat tinggi didalam partai"

"Tak usah kaucurigai lagi, kenyataan toh sudah membuktikan segala galanya, apalagi yang patut kau curigai?'

Ketika para hwesio dari gereja Siau lim-si hendak melangsungkan pertarungan melawan diriku, diam2 mereka telah memberi bisikan kepadaku bahkan sengaja melepaskan aku lolos diri kepungan, dari sini dapatlah dita rik kesimpulan bahwa mereka tidak mempunyai niat untuk jual jiwa bagi Shen Bok Hong. tapi karena terikat oleh suatu perjanjian maka mau tak mau terpaksa rrereka harus menuruti perintah dari Shen Bok Hong"

"Ooh. kiranya begitu.."

Setelah berhenti sebentar, gadis Itu berkata lagi ;

"Toako aku telah teringat akan suatu urusan. setelah kuutarakan harap toako jangan marah yaa"

"Baik, katakanlah!"

”Setelah kita turun gunung dan melakukan penyelidikan secara diam2, bila kenyataan menunjukkan bahwa orang persilatan merasa sedih hati karena kematianmu. bahkan mereka bertekad untuk membalaskan dendam bagi kematianmu maka tentu saja toako harus membantu pula diri mereka untuk meroboh kan Shen Bok Hong. sebaliknya kalau orang lain tidak memberikan tanggapan apa2 terhadap kematianmu, se akan2 kematianmu dianggap suatu kejadian yang lumrah, maka aku rasa toakopuo tak perlu jual nyawa lagi bagi orang lain. Kita segera berangkat untuk mencari enci Gak kemudian masuk ketengah gunung dan disitu kita lewatkan sisa hidup kita dentan aman damai dan penuh kebahagiaan, toako tentunya setuju bukan ?"

Siau Ling tersenyum setelah mendengar ucapan tersebut.

”Baiklah! Sekarang mari kita tengok dulu keadaan didalam dunia persilatan!'"

Setelah beristirahat bebarapi saat, maka kedua orang itupun melanjutkan kembali perjalanannya kedepan.

Ketika fajar telah menyingsing keesokan harinya mereka berhasil menemukan sebuah rumah penduduk, disitu merasa menangsal perut sekenyangnya kemudian setelah bertanya jalan, berangkatlah mereka turun dari bukit tersebut.

Untuk menghilangkan jejak mereka, Siau Ling dan Pek li Peng segera menyaru diri secermat mungkin, dan penyaruan tersebut seringkah harus dirubah dan dirubah terus mengikuti lingkungan serta situasi yang sedang dihadapi.

Suatu hari ketika waktu menjelang lohor Siau Ling dan Pek-li Peng telah tiba dirumah kedai dimana pemuda itu telah berjumpa dengan Cu Kun-san tempo hari.

Pada waktu itu Siau Lng dan Pek li Peng sedang menyaru sebagai sepasang suami istri yang datang dari dusun, mereka membawa sebuah buntalan kecil dan menuntun seekor keledai, perjalanan dilakukan sangat lambat sekali.

Suasana didepan kedai kecil ditengah hutan tersebut saat itu ramai sekali, banyak kuda yang tertambat diluar kedai tersebut, bendera berkibar diujung tiang, pada kain putih yang lebar tadi terlukiskan empat huruf besar.

"HUNSI-KUI LAI"

Seluruh kedai tersebut tertutup oleh kain putih tanda berkabung meja kursi yang ada disana telah disingkirkan semua.

Sebuah meja abu yang sangat tinggi dan besar dibangun tepat ditengah kedai sehingga mencakup sebagian besar bangunan yang ada

Sambil menuntut keledai perlahan2 Siau Ling berjalan melewati kedai tersebut, ketika ia berpaling kearah meja abu maka terbacalah ditengah pelataran yang luas terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan.

""Disinilah tempat abu dari pendekar nomor satu didunia Siau Ling "

Semua orang yang hadir di aca baik yang ada didalam ruangan maupun mereka yang diluar ruangan memakai pakaian serba putih tanda berkabung, paras muka mereka keren. serius dan diliputi kesedihan.

Dari jauh memandang, Siau Ling merasa apa yang dilihat dihadapannya hanya warna serba putih, tak nampak warna hitam kecuali warna tunggal tadi.

"Toako, disitulah letak meja abumu!” bisik Pek-li Peng sambil menahan gelinya. Siau Ling tertawa, pikirnya dihati : "Sepanjang hidupku sampai detik ini entah berapa kali sudah kualami maut dan kematian..'

Dalam pada itu Pek-li Peog telah berbisik pula dengan lirih :

"Toako bagaimana kalau kita dekati tempat itu?"

Siau Ling mengangguk, per-lahan2 ia berjalan mendekati kedai itu..

Ketika mereka hampir mencapai kedai itu dan selisih jaraknya tinggal lima enam depa lagi, mendadak tampaklah bayangan manusia berkelebat lewat, dua orang pria berpakaian serba putih munculkan diri dari balik ruangan dan sedang menuju keluar pelataran.

Orang pertama merambut putih dan berjenggot putih, perawakannya kurus kering, dia bukan lain adalah Sun Pat Shia. ketua tianglo dari perkumpulan Kay-pang.

Tampaknya pengemis tua ini amat bersedih hati, sepasang matanya merah membengkak, rupa2nya sudah agak lama dia menangis dan menderita duka nestapa sehingga mukanya tampak jadi layu.

Pria lain yang mengikuti dibelakangnya bukan lain adalah Ceng Yap Cing, jago muda dari partai Bu tong.

Paras muka pemuda itupun pucat pias seperti mayat, sepasang matanya merab membekak, hal ini menunjukkan kalau anak muda itupun merasa amat bersedih hati dan sering meneteskan air mata.

Betapa terharunya Siau Ling setelah menyaksikan kesemuanya itu, pikirnya dalam hati :

”Rupanya kematianku telah menyedihkan hati mereka semua, aku harus berterima kasih aras perhatian yang ditujukkan mereka kepadaku”

Tiba2 ia teringat kalau Ceng Yap Cing serta Teng It Lui telah menelan racun yang sangat keji. mungkinkah tubuh mereka masih ketacunan.

Pemuda itu merasa sangat kuatir, kuatir kalau racun ditubuh mereka belum berhasil di punahkan.

Teringat akan persoalan ini, tanpa sadar dia awasi Ceng Yap Cing beberapa kejap lagi

Tampaknya gerak gerik mereka berdua telah menimbulkan kecurigaan dalam hati Sun Put Shia, dengan biji matanya yang merah tapi tajam dia awasi wajah Siau Ling tanpa berkedip, kemudian tegurnya:

“Hey engkoh cilik, siapa namamu ??”

"Hamba she-Sun, hamba sedang manghantar menantuku pulang kerumah mertua!" buru buru Siau Ling menjawab.

Agaknya Sun Put Shia tidak menyangka kalau orang ini berasal dari satu marga dengan dirinya, ia lantas ulapkan tangannya seraya berseru.

”Cepatlah berlalu dari sini! Jangan terlalu lama berdiam ditempat ini.”

Siau Ling mengiakan dan buru2 berlalu dari sana.

Pek li Peng mengikuti dibelakang si anak muda itu, dalam sekejap maka mereka sudah berada belasan tombak jauhnya dari tempat semula.

"Sudah kau kenali kedua orang itu?'' bisik Pek li Peng kemudian dengan suara lirih

”Mereka sama sekali tidak merobah wajah aslinya, tentu saja dapat kukenali mereka berdua, mereka adalah Sun P u t Shia serta Ceng Yap Cing.”

”Apakah kau melihat pula dua orang yang sedang berlutut didepan meja abu”

"Tidak!"

”Ceng Yap Cing telah menghalangi pandangan matamu, tentu saja kau tidak melihat tapi aku dapat melihat dengan jelas, selain itu akupun dapat melihat dengan jelas, mereka menangis dengan begitu sedihnya sehingga air mata jatuh bercucuran dengan deras nya, mereka berlutut dikedua belah sisi meja abu.”

”Siapa mereka berdua??”

”Kedua orang saudara angkatmu, Sing Pat serta Tu Kiu !”

Siau Ling segera menghela nafas panjang.

"Aaai! Sepantasnya kalau aku munculkan diri dan berjumpa dengan mereka, aku tak tega mempermainkan mereka semua"

”Aku lihat tangisan Sang Pat dan Tu Kiu paling mengenaskan, bagaimana kalau kita kembali kesana dan memberitahukan keadaan yang sebenarnya??”

Dengan penuh kesedihan Siau Ling menggeleng.

”Jangan, kita harus sabar dan biarkanlah mereka bersedih selama beberapa hari lagi”

”Engkau tega membiarkan mereka bersedih hati dalam keadaan yang begitu mengenaskan”

Sekali lagi Siau Ling menghela nafas panjang.

”Aaai .! Seandainya aku murculkan diri niscaya suasana kesedihan yang meliputi tempat itu akan tersapu lenyap, dan bila, hal ini sampai terjadi maka dengan cepat dia akan tahu kalau aku masih tetap hidup dikolong langit. Demi kesejahteraan dan ditegakannya keadilan dalam-dunia persilatan, terpaksa aku harus mengelabuhi mereka selama beberapa waktu.."

Setelah bertienti sebentar sambungnya lagi.

”Mereka semua telah hadir disini agaknya It bun Han to juga sudah tiba pula di tempat ini"

"Tampak2nya engkau sangat menaruh perhatian terhadap diri It bun Han to?"

"Benar asal It bun Han to ada disini maka kita baru mampu melawan siasat2 busuk dan akal licin dari Shen Bok Hong"

Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba2 dari depan sana muncul beberapa ekor kuda yang dilarikan sangat cepat, debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa.

"Peng-ji!” Siau Ling segera berbisik, "mari kita menyingkir saja ketepi jalan, dan kita lihat siapakah orang2 itu?”

Sungguh cepat kuda2 itu dilarikan, baru saja Siau Ling berdua menyingkir ketepi jalan. ketiga ekor kuda itu sudah berkelebat lewat dari samping mereka.

Meskkipun kuda2 itu dilarikan dengan kecepatan tinggi, namun dengan ketajaman mata Siau Ling sempat pula melihat raut wajah penunggangnya, ternyata ketiga orang itu bukan lain adalah Be Buo Hui, Panah sakti yang menggetarkan dunia Tong Goan Ki serta si peluru sakti Liok Kui Ciang.

Ketiga orang itu mengenakan pakaian berkabung serba putih, ikat kepala mereka juga warna putih, ketika kuda2 itu sudah bergerak lewat tampaklah keringat kuda menetes keluar dengan derasnya, hal ini menunjukkan kalau mereka bertiga telah melakukan perjalanan cepat dari tempat yang sangat jauh.

Menyaksikan semuanya itu. Pek li Peng menghela napas sedih, ujarnya dengan lirih.

"Rupanya kebaikan yang mereka tujukan kepadamu adalah kebaikan yang sesungguhnya, karena kematianmu, mereka semua telah mengenakan pakaian berkabung!'

Siau Ling ikut menghela napas panjang, sementara dia hendak menjawab, dari arah depan terdengar lagi suara putaran roda kereta, disusul sebuah kereta kuda berlari kencang lewat disamping mereka berdua.

Kereta kuda itu ditapisi oleh kain putih, bahkan kuda2 penghela kereta pun ditapisi dengan kain warna putih, rupanya sang pemilik kereta hendak menunjukkan rasa berkabungnya yang mendalam..

Ketika kereta itu bergerak lewat, secara samar2 terdengar suara isak tangis berkumandang dari balik ruang kereta itu.

”Toako !” Pek-li Peng segera berbisik lirih, ”Rupanya orang yang berada didalam kereta pun datang kemari lantaran berita kematian mu"

"Ehm. mungkin memang begitulah !” sahut Siau Ling sambil mengangguk.

"Tapi siapakah dia? Mengapa tidak naik kuda, melainkan naik kereta?!”

”Aku sendiri sedang merasa keheranan mungkinkah orang yang ada dalam kereta adalah seorang perempuan?!”

”Kalau didengar dari isak tangis yang lapat2 berkumandang dari arah kereta, aku rasa delapan bagian dia adalah seorang gadis muda, lalu siapakah dia?"

”Aku tak dapat mecidaga siapakah orang itu?!” kata Stau Ling sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

'Mungkinkah noca Gak”

"Pada saat ini nona Gak sedang dibikin repot oleh persoalan pribadinya darimana punya waktu luang untuk kemari? Aaii Aku telah menjanjikan suatu pertemuan dengan dirinya, aku harus berangkat kesana urtuk memenuhi janji ini"

”Aku rasa apabila nona Gak benar2 mendengar berita tentang kematianmu karena dibakar oleh Shen Bo Hong. niscaya ia bisa membatalkan semua rencana pertemuan serta segala janji untuk datang kemari guna menyambangi meja abumu"

Dengan ter mangu2 Siau Ling berpaling kebelakang, ia lihat kedai yang dibangun secara menunggal ditengah hutan itu sudah dirubah sedemikian rupa sehingga semuanya berwarna putih, banyak orang tampak bekerja karas membenahi bangunan tersebut,

"Sekalipun seorang ketua partai atau perguruan yang meninggal belum tentu mereka akan peroleh kehormatan serta perhatian dari begitu banyak orang!" bisik Pek li Peng.

Belum sempat Siau Ling menjawab, dari arah depan telah muncul kembali serombongan rranusia.

Kali ini jumlah rombongan yang munculkan diri mencapai dua puluh orang lebih, mereka semua menunggang kuda dan dibelakangnya mengikuti pula dua buah kereta kuda yang tertutup rapat.

Sekilas memandang, mereka semua mengenakan pakaian berwarna putih, ikat kepala pun berwarna putih.

Dandanan maupun potongan pakaian tersebut sangat sederhana, ini menunjukan kalau pakaian tersebut dibuat dengan terburu buru.

Siau Ling tidak kenal dengan rombongan jago2 yang baru datang itu. tapi dari senjata yang tersoren dapat diketahui kalau mereka adalah jago2 persilatan.

Paras muka mereka diliputi keseriusan dan kesedihan, tiada senyuman yang tersungging diujung bibir mereka.

Isi kedua buah kereta yang mengikuti di belakang rombongan jago silat itu tidak lain adalah kain2 berwarna putih.

Pek li Pecg jadi keheranan, ia lantas berpikir dihati :

"Buat apa kain putih sebanyak itu? Bagaimaca rnungkin ruang abu toako dibangun dengan kain sebanyak itu? Agaknya mereka sudah memborong habis semua kain putih yang dijual dikota Tiang-sah"

Karena mereka berdua berdiri ditepi jalan, dengan cepat kehadiran mereka menarik perhatian para jago yang baru tiba, belasan pasang mata bersama2 dialihkan keatas wajah mereka berdua.

Siau Ling segera menuntun keledainya dan meneruskan perjalanan kedepan,

Pek-li Peng buru2 mengikati dibelakang nya,

Sebelum mereka menyaru kiranya Siau Ling sudah memperhitungkan banyak hal yang kelihatan sepele tapi penting artinya, termasuk pula adat istiadat disekitar sana, karena itu gerak gerik mereka disesuaikan dengan adat disana. tak heran kalau banyak orang tidak menaruh perhatihan terhadap mereka.

Setelah melewati sebuah jalan kecil yang berliku liku, akhirnya Siau Ling berdua telah jauh menghindari jalan raya, jauh memandang kebelakang mereka masih sempat melihat debu beterbangan diangkasa agaknya masih banyak kereta dan kuda yang berdatangan kearah kedai tersebut.

Memardang debu yang beterbangan diangkasa, Siau Ling berpikir dengan keheranan :

”Darimana datangnya rombongan manusia yang begitu besar untuk melewati jalan sepi ini? Mungkinkah kedatangan mereka juga untuk menghadiri upacara kebaktian bagi arwahku??”

Berpikir sampai disitu. dia lantas bertata "Peng ji, kita harus berusaha untuk pergi kesana, aku ingin tahu apa yang telah terjadil"

"Benar" Pek li Peng menanggapi dengan cepat "setibanya dikota Tiang sah, kita harus menyaru sebagai jago persilatan, seperti juga mereka kita kenakan pakaian putih dan menuju kesana mengikuti rombongan2 yang lain, dalam jumlah orang yang banyak rasa nya sulitlah bagi mereka untuk mengetahui jejak toako"

”Baik !”

Pemuda itu segera mencemplak keledainya dan berangkatlah mereka berdua menuju kota Tiang-sah.

Dengan mengambil jalan berputar, maka tatkala senja menjelang tiba mereka baru masuk kota.

Sementara itu Siau Ling maupun Pek li Peng telah merubah penyaruan mereka, kini mereka menyamar sebagai jago persilatan, Siau Ling merubah wajahnya jadi hitam, mengenakan pakaian ringkas warna hitam dan menyoren sebilah go'ok dipinggang.

Sebaliknya Pek li Peng yang bertubuh kurus kecil telah menyaru dirinya sebagai seorang kakek tua yang kurus, jenggot hitam terurai sedada, ditambah pula mukanya ber warna kuning ke pucat2an, pakaian kasar yang sederhana dengan sebuah cangklong sepanjang dua depa delapan cun ditangan, siapapun tak akan menyangka kalau kurus kecil yang bermuka seram itu sebenarnya adalah seorang gadis yang cantik jelita.

Mereka berdua berputar putir lebih dahulu dibeberapa buah jalan raya yang ramai. kemudian masuk kedai untuk mencari kain putih, siapa tahu semua kain putih yang di jual dikota tersebut telah habis diborong orang.

Sepanjang berada dikota Tiang-sah, Siau Ling dan Pek-li Peng berlagak tidak saling mengenal, mereka tetap mempertahankan selisih jarak sejauh satu tombak.

Siau Ling telah menyusun rencana yang masak, setelah ber putar2 dijalan yang ramai. diapun masuK kedalam sebuah rumah

Malam telah menjelang tiba. lampu lentera digantung di mana2 membuat suasana dalam rumah makan itu terang benderang.

Siau Ling serta Pek li Peng masing2 memilih sebuah meja yang terpisah. Pek li Peng jauh masuk kedalam ruangan dan duduk yang dekat dinding ujung dalam, maka Siau Ling memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu ruangan

Kebetulan waktu itu adalah saat orang untuk bersantap malam, tampaklah pelayan rumah mikan dengan pakaian yang rapi dan terus berdiri disekitar ruangan, agaknya mereka yakin kalau akan datang banyak tamu disitu..

Diam diam Siau Ling alihkan sorot matanya memandang disekitar tempat itu, ia lihat dalam ruangan itu kecuali dia sendiri serta pek li Peng diseberang sana terdapat pula semeja tamu yang tampaknya berdandan sebagai jago persilatan, mereka sedang bersaniap dengan lahapnja. kemudian, ter-buru membayar rekening dan berlalu.

Salah seorang pemuda yane berusia paling tua dan berjaian dipaling belakang, tiba tiba berhenti disamping Siau Ling waktu hendak tinggalkan tempa itu. kemudian tegur nya.

”Sahabat, apakah engkau datang kemari untuk mengikuti upacara kebaktian bagi arwah Siau tayhiap?”

”Benar! apakah kalian juga akan kesitu?" sahut sang pemuda sekenanya.

'Upacara kebaktian untuk arwah Siau tay hiap akan diselenggarakan besok pagi” ujar orang tua itu "padahal tempat upacara masih berjarak beberapa puluh li dari sini, kalau sahabat ingin menghadapi upacara tersebut, lebih baik berangkatlah sekarang juga daripada kemalaman ditengah jalan"

”Terima kasih atas nasehat saudara, cuma sekarang aku sedang msapertimbangkan apakah harus kesitu atau tidak??”

Dengan nada keheranan kakek tua itu segera berseru:

"Siau tayhiap adalah pembawa kebahagiaan bagi umat persilatan, sungguh tak beruntung ia terjebak oleh siasat busuk Shen Bok Hong dan mati terbakar, setiap umat persilatan dibikin terharu oleh pengorbanannya ini, sebagai anggota persilatan sepantasnya kalau kita ikut berduka cita, eh saudara engkau harus ikut menghadiri upacara tersebut”

Tapi Siau Ling sengaja gelengkan kepalanya sambil menjawab:

''Kemunculan Siau Ling didalam dunia persilatan toh amat singkat dan sebentar, kalau dibilang sudah banyak keberuntungan yang dibuat olehnya bagi dunia persilatan aku rasakan kurang setuju, lagipula aku toh tok pernah berjumpa dengan dirinya? Kenapa aku musti bersusah payah melakukan perjalanan malam? Kalau cuma ikut nonton keramaian sih boleh2 saja, tapi segan kalau berangkat ditengah kegelapan!"

000OdwO000

”NONTON keramaian?" seru kakek itu dengan ketus, "Hmm! Kalau engkau cuma ingin nonton keramaian belaka. lebih baik-sekarang juga pulang kerumah dan tidur saja. Walaupun Siau tayhiap belum lama terjun kedalam dunia persilatan, akan tetapi Kegagahannya kejantanan serta kebesaran jiwanya tiada tandingi sejak dahulu kala, meskipun masih muda belia tapi dengan sebilah pedang ia berani menerjang masuk ke dalam perkampungan Pek hoa san Cung, dialah sang surya yang menyinari dunia persilatan. justru karena kebesaran jiwanya dan kejantanannya membuat kita umat persilatan Sadar kembali dari impian, membuat kami bangkit dari tidur dan bertekad untuk menentarg kelaliman serta kebengisan Shen-Bok Hong, andaikata bukan karena kegagahan Siau tayhiap yang menopang dunia persilatan. mungkin saat ini kita sudah terjatuh kedalam cengkeraman iblis Shen Bok Hong bahkan dijagal atau dicincang dengan kejinya, Eh engkoh muda ! Dalam dunia persilatan memang banyak terdapat jago2 muda, tapi siapakah yang mampu menandingi kejantanan dan jiwa ksatria Siau tayhiap? Aku sudah tua dan watak berangasanku sudah banyak berkurang, karena itu aku bersedia memberi nasehat kepadamu, kalau berganti dengan orang lain.... Hmm! jika didengar engkau berani pandang rendah Siau tayhiap, mungkin mulutmu sudah kugaplok sampai berdarah.,.. Nah engkoh muda, kuanjurkan kepadamu agar jangan sembarangan berbicara, ketahuilah bencana datangnya dari mulut, kalau lain kali mau bicara pikirkan dulu masak2 sebelum diutarakan keluar..!"

Selesai mengucapkan kata2 tersebut, tanpa menunggu tanggapan dari Siau Ling lagi, ia segera putar badan dan berlalu dari rumah makan itu.

Dengan termangu Siau Ling memandang bayangan punggung kakek tua itu berlalu dari situ, untuk beberapa saat lamanya ia tak mengucapkan sepatah katapan, sementara dalam hati kecilnya dia berpikir;

"Aaah ! Aku tak mengira kalau diriku di pandang begitu tinggi oleh umat persilatan Sementara dia masih melamun, seorang pelayan telah maju mendekat sambil berbisik :

”Tuan...”

"Ada apa?" Siau Ling berpaling.

”Selama dua hari belakangan ini, tamu yang kebanyakan berkunjung kerumah makan kami adalah orang2 persilatan sebangsa diri tuan setiap kali membicarakan soal Siau tayhiap semua orang menunjukkan sikap yang sangat menghormat, mungkin apa yang dikatakan toaya tadi memang ada betulnya, kau...”

Tiba2 terdengar suara derap kaki kuda yang samar berkumandang dari luar, disusul suara langkah kaki yang ter gesa2 menggema nyaring, serombongan pria kekar ber senjata lengkap munculkan diri dalam ruang rumah makan itu.

Tak sempat menyelesaikan kata2nya, pelayan itu segera berlalu untuk malayani tamu tamu yang lain.

Diam2 Siau Ling melirik kesamping ia lihat orang2 yang baru datang itu berjumlah delapan orang dan duduk didua meja. setelah pesan sayur merekapun bersantap dengan ter-gesa2. ternyata tak seorangpun diantara mereka yang pesan arak.

Padahal arak adalah kegemaran dari sebagian besar orang persilatan, dari sikap tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa be berapa orang itu sedang murung dan mempunyai pikiran yang berat.

Terdengar salah seorang diantara rombongan yang baru datang itu berteriak lantang:

"Eh pelayan, apakah di sini ada tukang jahit?"

Seorang pelayan buru2 menghampiri sambil bertanya .

"Tuan mau bikin apa?"

"Buatkan delapan stel pakaian berkabung, makin cepat makin baik, betapapun beaya-nya akan kami bayar!"

Pelayan itu msmadang sekejap kearih delapan orang itu. lalu jawabnya agak ragu2:

”Rumah makan kami telah tersedia pakaian berkabung dalam bentuk jadi, cuma harganya saja rada mahal sedikit, apakah toaya sekalian bersedia untuk membelinya??”

Pria itu tidak banyak bicara lagi, selesai bersantap mereka berdelapan segera mengenakan pakaian berkabung yang telah diselesaikan oleh pelayan, kemudian mereka merogoh kesaku dan melemparkan sekeping uarg perak keatas meja

Siau Ling yang selama ini mengikuti semua perkembangan tersebut, dalam hati kecil nya lantas berpikir

”Pandai amat rumah makan ini mencari untung, sampai2 pakaian berkabunjpun mereka sediakan dalam bentuk jadii

Sementara dia hendak memanggil pelayan untuk membayar rekening, tiba 2 dilihatnya ada seorang tua dan Seoraog muda masuk kedalam rumah makan tersebut.

Yang tua berusia antara enam pulun tahunan, sedang yang muda baru berusia enam tujuh belas tahunan. mereka berdua bersama2 menggembol senjata.

Satu ingatan lantas berkelebat dalam benaknya pemuda itu berpikir dihati

"Kedua orang ini mempunyai perbedaan usia yang menyolok akan kulihat mereka berasal darimana?"

Terdengar pemuda yang baru datang itu berseru.

"Yaya! tampaknya banyak sekali orang yang menghadiri upacara kebaktian untuk arwah Siau tayhiap?"

"Sepanjang jalan yang kita temui tak lebih hanyalah mereka yang baru mendengar kabar dan buru2 melakukan perjalanan, padahal mereka yang datang dari jauh jumlahnya bahkan mencapai sepuluh kali lipat, mungkin besok pagi baru akan tiba disana"

''Oh yaya, kenapa toh begitu banyak orang yang hadiri upacara kebaktian bagi arwah Siau Ling?"

"Karena Siau Ling adalah seorang pendekar besar yang berjiwa ksatria,' ia tak gentar menghadapi pengaruh perkampungan Pek hoa san cung, tak tergerak hatinya oleh pikatan kedudukan serta pahala, yang diutamakan hanyalah keadilan serta kebenaran bagi dunia persilatan, dahulu tak seorang manusiapan berani memusuhi perkampungan Pek-hoa san cung, mereka semua lebih suka mengurusi persoalan pribadi daripada mencampuri urusan orang lain, berbeda dengan Siau tayhiap. dengan kebesaran jiwanya, keberanian serta kejantanannya dia berjuang demi kepentingan umum, kerelaan untuk berkorban inilah yang telah menggugah hati semua jago dikolong langit, dan justru karena pengorbanannya yang maha besar inilah semua umat persilatan jadi tersadar dari impian, mereka bertekad umuk berjuang sampai titik darah penghabisan daripada selamanya diperbudak dan dipermainkan oleh oraog2 dari perkampungan Pek hoa san cung..."

Setelah menghela napas panjang, sambung nya lebih jauh .

"Kini Siau tayhiap sudah terjebak oleh siasat licik yang diatur Shen Bok Hong, ia mati terbakar disebuah bukit.. ..Aiai! sejak kini tiada orang lagi yang mampu menentang Shen Bok Hong, oleh karena itulah para jago dan orang gagah dari pelbagai daerah telah berdatangan semua ke empat ini. selain untuk mengikuti ucapan kebaktian bagi arwah Siau Tayhiap, merekapun akan menuntut balas bagi kematianoya,... yaah! asalkan umat persilatan bisa bersatu padu, tak sukar untuk menumbangkan segala kelaliman dan kejahatan yang ada didunia"

'Oh, kiranya begitu!" pemuda itu mengangguk.

Selesai bersantap kakek dan cucunya itu-pun segera membayar rekening dan berlalu.

Sang pelayan segera maju manghampiri mereka sambil amsarkan dua stel pakaian berkabung, katanya:

"Hamba rasa tuan berdua pastilah hendak menghadiri upacara kebaktian bagi arwah Sau tayntap, apakah tuan tidak membutuhkan pakaian berkabung?"

Kakek tua itu mengangguk, setelah menerima pakaian berkabung tersebut, ia mengangsurkan sekeping uang perak lalu pergi.

Menunggu kedua orang itu sudah berlalu Siau Ling baru menggape ke arah pelayan tadi.

"Toaya ada keperluan apa?” tanya sang pe layan.

"Aku juga ingin membeli pakaian berkabung itu!" sahut sang pemuda,

"Toaya. sslahkan coba pakaian ini, pas atau tidak?!” kata seorang pelayan sambil angsaurkan satu stel pakaian berkabung.

"Aah! Umum kalau pakaian berkabung di pakai terlalu kedodoran, cuma aku heran tak nyana dalam rumah makanpun bisa tersedia pakaian berkabung dari kain blaco!'"

Pelayan itu tertawa paksa,

''Hehe.. Ooya, kalau bukan dalam keadaan istimewa, tentu saja rumah makan kami tidak menjual pakaian blaco.cuma.. keadaannya sekarang lain. mulai kemaren dulu malam, banyak tamu yang berdatangan ke sini, mereka sama2 suruh orang sediakan penjahit, sediakan kain blacu, rata2 pada pesan pakaian berkabung semua.."

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian melanjutkan :

"Harap toaya jangan marah, terus terang Saja buat kami yarg buka rumah makan, manusia jenis busu atau tukang silat yang paling kami benci karena sedikit salah bicara. bisa2 jiwa ikut melayang, maka untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, terpaksa kami khusus panggilan tukang jahit untuk menyediakan pakaian blaco yang sudah jadi. jadi kalau ada yang membutuhkan tinggal pesan dan bayar.."

Sementara itu Pek-li Peng juga membeli satu stel pakaian blaco setelah dilihatnya Siau Ling telah membeli satu stel.

Selesai membayar rekening, berangkatlah kedua orang itu menuju keluar kota dengan mengenakan pakaian berkabung itu.

Ditengah jalan, Siau Ling berbisik lirih:

"Peng ji, kalau lt bun Han-to tak ada disitu maka orang yang lain tak akan mampu mengatasi rencana busuk dari Shen Bok Hong, itu berarti kitalah yang harus selalu waspada untuk mengatasi segala kemungkinan yang tidak diinginkan"

"Tapi., bagaimana cara pencegahannya?!” tanya Pek-li Peng.

"Kita pura2 belagak tidak saling mengenal. masing2 pilih suatu tempat yang luas jangkauan pandangannya untuk mengawasi getak gerik dalam gelanggang secara diam2, bila menemukan sesuatu yang mencurigakan maka kita segera mengadaka kontak dengan kode tangan, tapi ingat! engkau harus bertindak hati?, ketahuilah orang yang hadir dalam ruang sembahyangan terdiri dari aneka ragam manusia, jika sam pai salah menuduh maka lelucon itu tidak lucu lagi!" Sampai disitu dia lantas merundingkan kode tangan dengan gadis itu untuk saling mengadakan kontak.

Dengan seksama Pek-li Peng awasi semua kode tangan itu dan mengingatnya dihati, kemudian ia bertanya :

''Kalau aku temukan seseorang yang sangat mencurigakan, apa yang mesti kulakukan?"

"Lebih baik lukai dirinya secara diam2 sehingga dia tak mampu melakukan pengacau apabila keadaan tidak terlalu terdesak lebih baik jagan sampai bocorkan rahasia sendiri "

'Baik! Semuanya akan kulakukan seperti apa yang toako pesan"

Berangkatlah dua orang itu melanjutkan perjalanan, ketika mereka tiba kembali dikedai terpencil itu, pemanndangan disitu sama sekali telah berubah

Tenda telah didirikan ber deret2, jumlahnya mencapai belasan buah, di sekitar tenda itu dibuat dinding pemilah dengan memakai tali yang dibentangkan ber-susun2, setiap jarak dua kaki tergantung sebuah lentera anti angin.

Sebelah timur terbuka sebuah pintu besar dibaiik pintu duduk dua orang manusia, di depan kedua orang itu terletak sebuah meja besar.

Sejilid kitab yang sangat tebal terletak di atas meja besar itu, tinta bak maupun alat tulis tersedia lengkap disana.

Tdk jauh dari tenda, tepatnya dibalik hutan yang lebat tertambat beratus ratus ekor kuda jempolan, semuanya tertambat rapi dan teratur ringkikan kuda menggema memecahkan kesunyian

Per lahan2 Siau Ling mendekati piutu gerbang, ia kenali dua orang yang bertugas di balik meja itu adalah Suma Kan serta Coh Kun san.

Kiranya sejak keerangkatan Siau Ling beberapa orang itu segera melakukan pengejaran dari belakang. tapi sepanjang perjalanan mereka dihadang oleh jebakan jebakan musuh hinggaa sukar untuk menerjang masuk lebih jauh, menyusul bukit disebelah depan terbakar hebat dan tersiar berita kematian dari Siau Ling, dalam keadaan begitu terpaksa kawanan jago lihay itu mengundurkan diri.

Belum sempat Siau Ling mendekati meja besar. Coh Kunsan telah bangkit berdiri, seraya menjura dia menegur .

"Siau te adalah Coh Kun-san. boleh aku tahu apakah kedatangan saudara adalah untuk menghadiri ucapan berkabung bagi Siau tayhiap?"

Siau Ling kuatir suaranya dikenal orang, ia tak berani menjawab dan terpaksa cuma mengangguk.

Ruparya Coh Kun sao telah mengetahui kalau tamunya tidak menunggang kuda. terbukti dari pakaiannya yang kotor oleh debu, kembali dia berkata :

"Ooh .. rupanya sahabat datang kemari dengan berjalan kaki. semangat besar saudara patut dipuji dan dihargai, silahkan tinggalkan nama dan cepat2lah masuk ke tenda untuk beristirahat!''

Mendengar ucapan tersebut. Siau Ling kembali berpikir :

"Kalau pertanyaan yang diajukan hanya begitu sederhana dan gampang, sekalipun ada mata2 yang dikirim Shen Bok Hong untuk menyelinap kemari, belum tentu kalian bisa tahu dengan jelas!''

Cepat ia ambil pit dan meninggalkan namanya diatas kitab tebal itu. ia menulis dirinya sebagai Teng Toa wan dari Siang pak kemudian dengan langkah lebar masuk ktda iam tenda,

Untuk menghindari kecurigaan orang Siau Ling tak berani berpaling lagi, ia langsung masuk kedalam tenda setelah berada ditengah tenda barulah berpaling kebelakarg. Tampak olehnya Suma Kan masih mengawasi gerak geriknya dengan sepasang mata melotot besar, ia tak berani berpaling terlalu lama dengan langkah lebar cepat pemuda itu masuk keruang tenda.

Sebuah lilin warna putih yang besar memancarkan cahaya yang terang, sudah banyak orang yang berkumpul dalam tenda itu, sekilas memandang jumlah mereka mencapai empat puluh lima puluh orang letih, beberara lembar permadani lebar digelar diatas tanah, sebagian besar para jago yang berkumpul disitu duduk bersila sambil atur pernapasan, tapi ada pula diantara mereka yang sudah tertidur pulas.

Siau Ling kuatir kalau ada orang menegur atau ajak dia berbicara, setelah memandang sekejap cepat ia mencari tempat duduk cara bersila sambil penjamkan matanya, sebentar kemudian dia sudah atur pernapasannya.

Walaupun sudah ber puluh2 li yang harus d tempus, selama ini. akan tetapi dengan dasar tenaga dalamnya yang sangat sempurna, ia sama sekali tidak merasa lelah.

Secara lapat2 sianak muda itu merasa tenda disitu telah dibuka orang, untuk menghindari kecurigaan lawan dia tak berani membuka matanya, cuma didalam hati pikir nya :

”Semoga saja Peng-ji cukup cerdik dan bisa mengatasi kesulitan itu hingga berhasil menyusup masuk dengan selamat"

Sementara itu tenda sudah diturunkan kembali, menyusul suara langkah manusia masuk kedalam ruang tenda, rupanya setelah mengawasi sejenak suasana disitu maka orang itu masuk kedalam ruangan.

Siau Ling masih tetap memejamkan mata nya, dalam hati kembali dia berpikir :

"Semoga Peng-ji dapat melewati penjagaan di pintu gerbang din masuk pula kedalam ruang tenda ini!" Tiba2 ia merasa pipinya jadi panas, seteah2 ada seseorang sengaja menghembuskan napas diatas wajahnya, bahkan hawa yang ditiup kearabnya itu hangat2 panas.

Siau Ling membuka matanya, ia lihat seorang pria gemuk pendek duduk tepat dihadapannya, jarak mereka berdua cuma dua depa lebih sedikit, waktu itu dengan sepasang matanya yang bulat besar ia sedang mengawasi raut wajahnya tanpa berkedip.

Tingkah laku orang itu agak menggusarkan hati Siau Ling, tapi sebelum sempat mengumbar amarah dia telah kenali pria gemuk pendek itu, terayata dia tak lain tak bukan adalah padri pemabuk Poan-cay taysu.

Meskipun sudah banyak tahun mereka tak berjumpa, tapi dandanan dari padri itu masih seperti sedia kala, mukanya penuh berminyak dan mukanya berbau arak yang sangat menusuk perciuman, maka sekali pandang segera dapat dikenali kembali.

Setelah mengetahui siapakah orang itu, Siau Ling berusaha menahan diri dan menekan kembali hawa amarahnya kedalam hati sekali lagi dia pejamkan matanya.

Baru saja ia pejam mata, hawa panas itu berhembus kembali keatas wajahnya, kali ini malah membawa bau arak yang sangat tebal rupanya padri pemabuk sengaja menghembuskan nafasnya itu keatas wajah Siau Ling.

Anak muda itu tidak melakukan perlawanan, ia bangkit berdiri dan pindah kesudut tenda yang lain. disana kembali pemuda im duduk sambil atur pernafasan.

Walaupun tingkah laku yang dilakukan padri pemabuk ini sangat kasar dan gampang membuat hati orang jadi panas, akan tetapi Siau Ling tidak memberi tanggapan. dia tak tahu apa maksud setta tujuannya berbuat begitu Selain itu untuk menjaga rahasia penyaruannya diapun tak ingin membuat banyak keributan sehingga membongkar rahasia sendiri

Sementara itu padri pemabuk ikut bangkit dan mengejar kesisi Siau Ling ketika dilihatnya anak muda itu pindah ketempat lain. kali ini dia duduk persis disisinya.

"Sahabat, engicau pandai membawa diri sungguh sabar dan tenang hatimu !" tegur nya lirih.

"Ada apa?" tanya Siau Ling sambil menengadah.

”Boleh toh kalau aku hweesio gundul ingin bercakap2 dengan kau??”

”Apa yang mau dibicaratan? Aku paliag segan banyak bicara dengan orang lain !”

"Siapa namamu ? " tanya Poan-cay taysu kemudian.

“Aku she-Teng bernama Toa wan, cukup bukan?”

"Oooh..rupanya saudara Teng, selama ini cari harta Kekayaan d daeran mana?" tanya poan-cay taysu lagi.

“Selama ini aku cuma bergerak disekitar daerah Siang pak”

“Aaah..suatu tempat yang indah, akupun seringkali bergerak didaerah sekitar sana, kenapa tak pernah kudengar nama besar saudara Teng?”

“Berbicara menurut kata agama, itu berarti aku tak punya jodoh dengan diri taysu “

"Oooh...!" Poancay taysu berseru tertatahan, "jadi kalau begitu saudara Teng kenal dengan aku hwesio tua?"

Siau Ling menyapu sekejap keseluruh ruang tenda, lalu katanya:

"Sekarang banyak orang sedang beristirahat, lebih baik kita jangan mengganggu ketenangan orang, bila taysu ingin mengikat persahabatan lebih baik kita bicarakan esok pagi saja!”

Poan cay taysu mengangguk berulang kali;

"Perkataan dari saudara Teng memang benar! Cuma.... aku hwesio gede ingin mengajukan satu pertanyaan lagi, bersedia menjawab bukan?"

Siau Ling pejamkan matanya, ia tak mau menggubris ocehan dari padri itu lagi.

Sampai beberapa kali Poancay taysu ulangii pertanyaannya itu, namun Siau Ling sama sekali tidak menggubris.

Sekalipun tidak peroleh jawaban, Poan cay taysu sarna sekali tidak putus asa, dengan hati yaug sabar dan suara yang halus dia ulangi kembali kata2 itu sampai belasan kali banyaknya, kalau dilihat dari tekadnya itu

selama Siau Ling belum menjawab maka dia akan ulangi terus pertanyaan itu sampai akhirnya memperoleh jawaban.

Siau Ling bcn.r2 dibuat mati kutunya, dengan perasaan apa boleh buat ia buka ma tanya dan menyahut:

”Baik! Hanya kulayani sebuah pertanyaanmu ini saja.”

Poan-cay taysu mengangguk.

"Engkau kenal dengan aku hwesio gede?!“ ia bertanya.

"Tentu saja kenal !“ sahut Siau Ling sambil membuka matanya.! „bukankah engkau adalah padri pemabuk Poan cay taysu?“

Pojh cay taysu tertegun dan untuk sesaat duduk melongo, akhirnya dia menggerakkan bibirnya seperti mau bertanya lagi, namun Siau Ling telah pejamkan matanya dan tidak menggubris hwesio itu lagi.

Kali ini sang padri itu yang dibuat kewalahan, setelah mengamati kembali wajah Siau Ling dengan seksama, akhirnya ia bangkit dan berlalu.

Siau Ling membuka sedikit matanya dan melirik sekejap kearah poaa cay taysu, dalam hati ia tertawa geli. pikirnya :

„Padri ini memang terlalu susah dilayani kalau aku tidak hadapi dirinya dengan memakai akal. waah! rahasia penyaruanku pasti bisa terbongkar olehnya"

Sementara pikiran tersebut masih melintas dalam benaknya, tenda itu kembali disingkap orang, menyusul seorang kakek kurus bermuka hitam melangkah masuk ke dalam ruangan.

Sekilas pandangan Siau Ling kenali orang itu sebagai penyamaran dari Pek-li Peng, ia lantas berpikir :

"Semoga dia mempunyai hati yang sabar dan otak yang encer, kalau hatinya cepat dibuat gusar oleh tingkah pola Poan cay taysu.. waah! Urusan bisa berabe, dan penyamannya tentu akan ketahuan!"

Sementara itu Pek li Peng telah menyapu sekejap sekitar tempat itu, kemudian langsung berjalan menghampiri Siau Ling.

Sianak muda itu jadi amat terperanjat; segera berpikir :

'Aduuh.. celaka, kalau sampai dia ajak aku berbicara, orang lain pasti akan mena ruh curiga kepadaku!"

Ketika mencapai jarak kurang lebih tiga depa dari samping tubuhnya, tiba tiba Pek li peng berhenti dan duduk disana ia sama sekali tak memandang barang sekejappun kearah Siau Ling.

Agak lega hati pemuda itu setelah menjumpai keadaan tersebut, ia membatin: 'Gadis ini memang jauh lebih cerdik, pengetahuannya makin bertambah maju!"

Ketika Siau Ling masuk ke dalam tenda tadi Pek li peng telah mengikutinya diri kejauhan apa yang dilakukan si anak muda itu tertampak jelas olehnya, diam2 apa yang perlu dicatat telah diingat selalu didalam hat i.

Ternyata tak salahlah dugaannya, baru saja gadis itu duduk padri pemabuk telah maju menghampirinya dan duduk disisi dara itu.

"Sahabat, engkau datang dari mana?” tegurnya

Dengan pandangan dingin Pek li peng memandang sekejap kearah Poan cay taysu. mulutnya tetap membungkam diam seribu bahasa.

Poan cay taysu mendehem ringan kembali ia menegur.

”Hay. aku hwesio gede toh lagi ajak engkau berbicara? Kedengaran tidak suaraku ini? "

Kembali Pek li peng memandang sekejap kearah Poan cay taysu. mulutnya terus membungkam.

"Engkau kena! dengan aku hwesio gede?“ Poan cay mendesak lebih jauh dengan gencarnya.

Sementara mulutnya mengajukan serangkaian pertanyaan, sementara sepasang mainnya yang tajam mengawasi wajah Pek li peng tanpa berkedip agaknya dia mau periksa apakah wajah itu asli ataukah hasil dari penyamaran.

Pek li peng membelalaka n matanya dengan lebar, sinar tajam memancar dari balik sorot matanya, setelah memandang sekejap ke arah hwesio itu dia menggeleng dan pejam kan kembali matanya.

Meihat Pek li peng selalu membungkam dan tak mau mengucapkan sepatah katapun padri pemabuk Poan cay taysu dibikin kehabisan akal. akhirnya ia tidak banyak bertanya lagi segera bangkit dari situ dan tinggalkan dara itu seorang diri.

Selama ini Siau Ling sangat menguatirkan bagi diri Pek li peng. dia tahu asal gadis itu buka suara maka nada perempuannya dengan cepat akan membangkitkan kecurigaan sang padri itu siapa tahu Pek li peng ambil sikap untuk membungkam, dengan begitu Poan cay taysulah yang dibikin kepalang pusing dan tak mampu berbuat apa2

Malam itu berlalu tanpa gangguan lagi. ketika fajar baru menyingsing keesokan harinya, tiba2 dari luar tenda berkumandang irama musik yang membawa nada sedih.

Dengan suara keras padri pemabuk segera berseru lantang:

”Ruang sembahyangan bagi arwah Siau tayhiap telah dibuka. saat upacara kebaktian sudah mulai, silahkan saudara sekalian berkunjung kesana untuk pasang hio.”

Ketika Siau Ling membuka matanya, dia lihat sebagian besar orang yang ada dalam enda itu sudah pada bangkit berdiri dan mulai mengalir keluar dari tenda tersebut.

Siau Ling dan Pek li Peng ikut bangkit berdiri, mengikuti ditengah rombongan para jago yang lain, kedua orang itu ikut berjalan keluar dari ruang tenda.

Dalam pada itu para jago yang tertampung didalam tenda yang didirikan disekitar tempat itu sudah berkerumun keluar menuju keruang upacara, sekilas memandang Siau Ling taksir orang2 itu mencapas ratusan jumlahnya, mereka semua rata2 memakai baju berkabung warna putih dengan ikat kepala warna putih pula

Ketika dia alihkan pandangannya kearah kedai, pemandangan ditempat itupun sudah mengalamiperubahan besar.

Kain putih telah didirikan disekitar panggung upacara, tinggi kain2 itu mencapai empat kaki, dipandang dari kejauhan bentuk nya persis seperti sebuah loteng tinggi yang. berwarna putih.

Ber puluh2 buah lentera warna putih digantungkan jauh diujung tiang kaju yang menjulang keangkasa, semua lentera teratur rapi dan mengitari sekeliling ruang kebaktian.

Tiang2 kayu itu dibalut semua dengan kain putih, sekitar panggung upacara berwarna putih malahan pepohonan tumbuh disekitar sanapun sudah ditutup semua dengan kain putih, hingga ratusan kaki disekitar tempat upacara berubah jadi putih bersih, sama sekali tidak kelihatan warna yang lain.

Menyaksikan kesemuanya itu Siau Ling, merasa amat terharu, pikirnya didalam hati .

"Aaai .! Sungguh tak kusangka kematianku telah diperingatkan dengan begini besar2an serta spontan....ini menandakan kalau semua orang menaruh hormat kepadaku sepantasnya kalau akupun bersedia berkorban demi kepentingan mereka semua..."

Rombongan jago yang berjalan keluar dari dalam tenda serta merta membentuk diri jadi empat buah barisan yang panjang dan teratur rapi, per lahan2 mereka bergerak menuju panggung kebaktian.

Menanti rombongan sudah hampir mendekati panggung kebaktian tersebut, Siau Ling baru dapat melihat jelas bila dinding tinggi yang terdiri dari kain putih itu membungkus suatu wilayah yang sangat luas. sekali pun beberapa buah bangunan kecil ditengah dijadikan titik pusatnya, namun kain putih yang melingkari bangunan tersebut boleh di bilang be ratus2 kali lipat lebih besar dari bangunannya sendiri;

Yang lebih aneh lagi, kain putih yang melingkari sekitar panggung kebaktian itu ibaratnya sebuah dinding tembok yang sangat tinggi, kecuali tersedia empat buah pintu tidak tampak jalan tembus lainnya lagi.

Ketika mula pertama Siau Ling ikut berbaris dalam rombongan itu. ia masih tidak merasakan apa2 tapi semakin dipikir ia merasa semakin curiga ia yakin dibalik kesemuanya itu pasti tersembunyi suatu rahasia yang sangat besar.

Keanehan itu tanpa sadar telah membangkitkan rasa ingin tahunya, dalam hati ia sepera berpikir:

"Aku yakin ruang upacara yang terbuat dari lingkaran kain2 putih ini pasti mempunyai suatu kegunaan yang sangat besar, aku harus perhatikan baik2 daerah disekitar situ setelah masuk kedalam nanti!"

Sementara ia masih termenung, rombongan mereka telah tiba didepan pintu masuk.

Sam-yang-sin lan (peluru sakti) Liok kui ciang berdiri didepan pin'u m-isuk dengan muka murung bercampur sedih, setiap kali tamunya lewat ia segera menjura sambil berkata:

"Terima kasih atas kunjungan saudara!

Siau Ling balas memberi hormat dan melangkah masuk kedalam ruangan, pikirnya lagi

"Sekarang aku baru tahu, rupanya mereka bertindak sebagai tuan rumah untuk menerima tamu kalau disini begitu keadaannya berarti ditiga tempat yang lainpun demikian juga keadaannya!!.."

Setelah masuk kedalam ruangan, sebuah meja berbentuk empat persegi panjang tersedia ditepi ruangan, meja itu dialasi dengan sebuah alas meja warna putih, dua orang murid partai Bu-tong yang mengenakan jubah pendeta warna putih berdiri dibelakang meja dengan muka murung, alat tulis tersedia lengkap diatas meja, sebuah kitab tebal tersedia disana dan sudah penuh berisikan nama2 para jago yang hadir.

Siau Ling segera mencantumkan namanya sebagai Teng Toa wan dari Siang-pak diatas kitab itu, kemudian melangkah masuk keruang kebaktian.

Ruangan yang digunakan sebagai tempat kebaktian tersebut diatur sedemikian rupa sehingga mendatangkan suasana yang hening dan penuh keseriusan, sebuah panggung sembahyangan yang terbuat dari kayu dan di bungkus dengan kain pulih berdiri ditengah ruangan itu.

Ruang kebaktian sangat luas dengan suatu lapangan rumput yang lebar terbentang dihadapanya. lapangan itu dialasi pula dengan kain putih, menurut taksiran Siau Ling, kemungkinan besar lapangan itu bisa muat jemaah sebanyak ribuan orang.

Sebuah kain putih yang besar tergantung ditengah ruangan tepat dibelakang panggung sembahyangan, dialas kain putih itu tertera tujuh huruf besar yang berbunyi : " THIAN HE TIT IT HIAP SIAU LING"

Artinya: Pendekar nomor satu didunia Siau Ling

Sajian dan buah2an penuh teratnr rapi didepan meja sembahyangan itu, bunga warna putih menghiasi disekitarnya, lilin putih yang besar memancarkan sinar yang redup menerangi suasana dengan remang2 suasana amat sunyi, tiada yang berbicara, semuanya berlalu dalam suasana duka dan penuh keseriusan.

Per lahan2 Siau Ling masuk kedalam lapangan dan duduk dialas kasur putih yang telah tersedia, ketika dia alihkan kembali sorot rnataaya kearah depan, terbaca oleh nya diatas meja sembahyangan tergantung sebuah papar, nama dengan tulisan : " BU LIM BENG TENG"

Artinya : Lentera kebenaran bagi dunia persilatan.

Diam2 ia menghela napas sedih, pikirnya: "Kemampuan dan kebaikan apakah yang dimiliki aku orang she-Siau. Sehingga umat persilatan demikian menaruh hormat kepadaku? Aaaai .! Kalau diingat kembali, aku benar2 merasa malu din menyesal ..' Kurang lebih sepermiaum teh kemudian dari belakang panggung kebaktian muncul dua orang manusia.

Orang yang pertama berperawakan kurus kecil dengan pakaian berkabung yang amat panjang, besar dan kedodoran, kepalanya di ikat dengan sebuah kain putih, meskipun keadaannya kelihatan sangar kocak namun mukanya seram dan diliputi kedukaan yang berat, sehingga siapapun yang memandang kearahnya tak sanggup mentertawakan lagi.

Orang itu tak lain adalah Sun Put-shia, tianglo dari Kay-oaog yang disegani dan di hormati oleh rekan2 persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.

Sedangkan orang kedua berjenggot panjang sedada dengan memakai jubah pendeta warna putih, dia adalah Bu wi totiang, ketua dari perguruan Bu tong pay.

Tampak Sun put shia menjura keseluruh penjuru lapangan, lalu berkata dengan suara serak ;

”Aku pengemis tua adalah Sun put-shia tentunya diantara saudara sekalian ada yang pernah kenal dengan aku pengemis tua ini.”

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjut-kan :

”Dengan usia aku pengemis tua, sebetulnya sudah banyak tahun mengundurkan diri dari dunia persilatan dan mengasingkan diri disuatu tempat terpencil, tapi aku tak rela menyaksikan rekan2 persilatan terjatuh dalam cengkeraman iblis Shen Bok Hong. maka serta merta aku tinggalkan tempat pengasinganku dan muncul kembali kedalam dunia persilatan.”

Seseorang dengan suara yang berat dan kasar menanggapi dari antara rombongan jago ”Sun tayhiap munculkan diri dalam dunia persilatan demi kesejahteraan kami sekalian sebagai umat persilatan kami semua merasa sangat berterima kasih.”

Sun Pui-shia tertawa getir.

”Aku pengemis tua sudah terlalu reyot, aku tak punya kemampuan lagi untuk menyumbingkan tenagaku bagi kesejahtraan umat persilatan. aaai...Siau tayhiay yang punya jiwa besar, semangat jantan dan berkemampuan membantu umat persilatan lolos dari cengkeraman iblis, justru telah dibakar mati oleh siasat busuk Shen Bok-Hong, peristiwa ini benar2 menyedihkan hatiku..menyedihkan kita semua umat persilatan ”

Sampai disini, pengemis tua itu tak kuasa menahan emosinya lagi. ia menangis ter sedu2 dengan sedihnya, tak sepatah katapun mampu dilanjutkan kembali.

Sebagai seorang tokoh berkedudukan yang sangat tinggipun San Put-shia tak mampu menahan diri hingga menangis terisak, apa lagi kawan2 jago lain yang sebagian berhati lemah. air mata bercucuran membasahi wajah mereka semua.

Lama.. lama sekali.. Sun Pat shia baru menghapus air matanya dan melanjutkan kembali kata2nya :

"Aku pengemis tua berjumpa untuk pertama kalinya dengan Siau tayhiap sewaktu ada didalam perkampungan Pek-hoa San cung, dengan mata kepalaku sendiri disaksikan betapa ia mengobrak abrik delapan belas orang kim kong yang paling diandalkan iblis Shen Bok Hong, kehebatan dan keberaniannya benar2 sukar dicarikan tandingannya di seantero jagad, dengan usiaku yang setua ini belum pernah pula aku pengemis tua mengalami pertarungan masal yang begitu sengit, seru dan bahaya..."

Dia menghembuskan napas panjang, setelah berhenti sejenak terusnya kembali: ”Shen Bok Hong telah peras semua kecerdikannya, menggunakan pelbagai macam akal dan perbuatan yang licik dan berbahaya dengan harapan bisa memakai tenaga Siau tayhiap, bahkan menculik orang tuanya sebagai sandera untuk paksa Siau tayhiap menyerah kalah, tapi.... Siau tayhiap walau pun masih muda tapi berjiwa ksatria ini sama sekali tak gentar oleh tantangan maut yang dihadapinya, ia rela mengorbankan segala sesuatunya demi kepentingan umum... demi kesejahteraan umat manusia dikolong langit, selama hidup belum pernah aku pengemis tua menjumpai seorang pendekar besar seperti dia, sungguh tak nyana..sungguh tak nyana pendeka sejati yang berjiwa besar dan ber cita2 tinggi ini mati dibunuh Shen-Bok Hong dengan akal muslihatnya yang keji. Aaai! Aku benar2 tak sanggup melanjutkan kata kataku...."

Lama sekali Sun Put shia membungkam untuk menekan perasaan sedih yang bergelora dalam dadanya, setelah ia dapat menguasai diri lagi pengemis tua itu berpaling sekejap kearah Bu wi totiang dan meneruskan kembali kata2nya:

"Walaupun belum lama Siau tayhiap terjun kedalam dunia persilatan, tapi pengaruhnya bagi perkembangan dunia persilatan teramat besar, yah begitu besar pengaruhnya hingga semua orang, setiap insan manusia dapat merasakan tenaga serta perjuangannya itu Totiang. aku tak sanggup melanjutkan kembali kata2ku. hatiku terlampau sedih, engkau sajalah yang melanjutkan kata2 ini.."

Bu wi totiang menghela napas sedih, katanya kemudian.

"Aaaai! Sekalipun kita gunakan seluruh kata pujian yang ada dikolong langit, belum cukup rasanya untuk melukiskan kebesaran jiwa dan budi kebaikan Siau tayhiap sebagai seorang ksatria sejati...."

Dia berpaling dan memandang sekejap meja abu Siau Ling, kemudian meneruskan: ''Dia ibaratnya sekilas sinar terang, sinar yang menerangi awan gelap, sinar yang menjadi pelita dalam kegelapan, tapi begitu cepat dia berlalu, pergi meninggalkan kita untuk se-lama2nya.. yang masih tertinggal hanya pujian, sanjungan dan kenangan., selain itu dia tinggalkan pula suatu permainan catur yang belum sempat diselesaikan"

Ia berhenti untuk menyeka air mata lalu meneruskan lagi:

"Sekalipun begitu, sinar kuat yang ditinggalkan Siau tayhiap telah menerangi semua kebusukan2, semua intrik jahat yang ada dalam dunia persilatan, walaupun ia mati karena kedengkian dan keculasan hati kaum iblis, tapi justru dialah yang telah membukakan sebuah jalan bagi kita, sebuah jalan rata yang bisa kita lewati untuk menegakkan kembali keadilan dan kebenaran bagi umat persil: tan, karena itu sepantasnya kalau kita balaskan dendam bagi kematiannya. kita harus pertaruhkan jiwa raga kita untuk menumpas semua kebusukan dan kejahatan yang ada diducia saat ini"

Semua jadi gaduh, kawanan jago yang berkumpul dalam lapangan mulai menunjukkan reaksinya, tapi tak seorangpun diantara mereka yang memberi tanggapan

Bu wi toiiang melanjutkan kembali kata2nya :

"Bicara menurut keadaan yang terbentang didepan mata kita sekarang, taktik hanya mengurusi urusan pribadi tanpa bersedia mencampuri urusan orang lain sudah menjadi basi. sekarang sudah tak berlaku lagi, tujuan Shen Bok Hong saat ini adalah menguasai dunia persilatan dan mengangkat diri menjadi pemimpinnya, kecuali kalau kalian sudi menjadi budak perkampungan Pek hoa-san-cung, selain itu hanya kematian dan pembantaian saja yang akan kalian terima. kalau tidak mulai sekarang kita bangkit untuk berjuang, mau tunggu sampai kapan lagi?"

"Benar!" seseorang dengan suara yang kasar dan lantang menanggapi dari tengah lapangan, "Siau tayhiap berkorban

demi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, memangnya kita hanya akan berpeluk tangan belaka sambil menantikan tibanya saat ajal ? Sekalipun kita menyadari masih bukan tandingan Shen Bok Hong, tapi sebagai seorang ksatria kita wajib untuk bangun dari tidur serta berjuang sampai titik darah penghabisan, lebih baik mati sebagai pahlawan daripada hidup sebagai pengecut!"

Begitu seseorang memberi tanggapan, para jago yang lainpun memberikan reaksinya dalam sekejap mata seluruh lapangan telah penuh dengan suara renungan untuk membalaskan dendam bagi Siau Ling.

Betapa terharunya Siau Ling menyaksikan reaksi spontan dari umat persilatan itu, dalam hati ia lantas berpikir:

"Padahal sampai detik inipun mereka belum pernah bertemu dengan aku, tapi mereka memandang serius kematianku, rela membalaskan dendam bagi kematianku...Aaaah! Budi sebesar ini sudah sepantasnya kalau ku balas akupun harus berjuang pula bagi kesejahtraan mereka!"

Kembali Bu-wi totiang berkata dengan nyaring:

”Justru karena pancaran sinar suci dari Siau tayhiap, semua perguruan besar maupun umat persilatan telah sadar kembali dari tidurnya, asal kita umat persilatan bisa bersatu padu dan menghimpun diri dalam satu wadah, apalagi yang musti kita takuti.,?"

Tiba2 nada suaranya berubah, dia meneruskan :

"Pinto serta beberapa orang sahabat karib dari Siau tayhiap telah mengambil keputusan, setelah tiga hari kita berkabung maka kami akan angkai sumpah setia kawan, dihadapan meja abu Siau tayhiap, kami akan bersumpah untuk bersatu padu serta ber-sama2. membasmi pengaruh perkampungan Pek hoa-san cung dari muka bumi. Sepanjang hidupnya Siau tayhiap berjiwa besar dan bersifat terbuka, pinto tak ingin

menodai nama sucinya, karena itu kami beri kesempatan kepada saudara sekalian untuk berpikir tiga kali sebelum ambil keputusan, untung masih ada waktu tiga hari, jika ada diantara kalian yang bersedia tetap tinggal disini dan rela mengorbankan segala sesuatunya demi melanjutkan cita2 Siau tayhiap yang belum sempat diselesaikan, dengan senang hati kami atau sambut uluran tangan kalian itu, tapi kalau ada di antara kalian yang tidak bersedia mengorbankan diri untuk menempuh bahaya, karnipun tak akan menghalangi, pokoknya dalam tiga hari ini saudara sekalian bebas mau pergi kemanapun juga.”

Tiba2 seorang murid partai Bu tong dengan jubah pendeta warna putihnya muncul dengan langkah tergesa. ia segera membisikkan sesuatu di sisi telinga Bu-wi totiang.

Imam tua itu segera mengangguk, dengan suara lantang ia berseru:

”Saudara sekalian merupakan rombongan yang paling pagi datang menyambangi arwah Siau tayhiap. aku rasa setiap orang yang datang kemari dengan ter-buru2 semuanya merupakan orang yang sangat menaruh hormat terhadap diri Siau tayhiap, sekarang orang2 dari Kaypang datang untuk bersembahyang itu berarti saudara sekalian boleh bebas kembali ketenda untuk beristirahat, bahkan kalau ada yang mau ber jalan2 disekitar tempat ini boleh juga. hari keempat lohor adalah saat diselenggaranya pertemuan besar untuk mengangkat sumpah setia pembalasan dendam bagi Siau tayhiap, siapa saja yang ingin datang kemari, kami akan menyambut degan segala senang hati, kalau ada yang tak ingin menghadiri upacara sumpah setia, kami ikut mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran kalian untuk datang menghormati arwah Siau tayhiap"

Kawanan jago yang berkumpul dalam lapangan sama2 bangkit berdiri dan mengundurkan diri dari ruang kebaktian.

Diam2 Siau Ling mengamati rombongan jago yang mengundurkan diri itu, ia taksir jumlahnya mencapai dua ratus orang lebih.

Tiba2 ruang kebaktian berubah jadi hening dan sepi, sebagian besar peziarah telah mengundurkan diri dari ruangan tersebut, tapi masih ada belisan orang yang tak mau pergi, mereka sama2 berkumpul disudut ruangan itu.

Siau Ling memandang sekejap sekeliling ruangan itu, dia lihat Pek-li Peng terdapat diantara belasan orang itu, maka dia pun bangkit dan per lahan2 menggabungkan diri dengan mereka.

Dengan langkah lebar Sun Put shia maju menghampiri mereka, dengan penuh hormat dia menjura kepada orang2 itu.

Kedudukan Sun Put shia dalam dunia persitatan amat tinggi dan dihormati setiap orang, penghormatan ini kontan menggugupkan belasan jago yang tetap tinggal disitu. cepat mereka bangkit sambil membalas hormat,

"Locianpwe, kami semua tak berani menyambut! penghormatan besar dari cianpwe ini" serunya hampir bersama.

Dengan suara nyaring Sun Put shia menjawab:

"Kalian tak mau mengundurkan diri dari sini, itu berarti kalian semua tentulah mempunyai pandangan yang lebih mendalam atas kebesaran jiwa Siau tayhiap. Tapi perlu diingat Shen Bok Hong justru berada dikiri kanan kita, kemungkinan besar mereka akan kinm jago2 lihaynya untuk membuat keonaran disini, karenanya mau tak mau kita harus bikin persiapan untuk menghadapinya silahkan saudara sekalian berkumpul di sebelah barat ruang kebaktian, dengan begitu kami dapat mengendalikan keamanan dalam ruangan itu dengan ketat bila terjadi perubahan atau sesuatu yang tidak diinginkan, kamipun bisa menanggulangi dengan seksama"

---o0dw0o---
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 34"

Post a Comment

close