coba

Budi Ksatria Jilid 22

Mode Malam
Jilid: 22

BUKAN, ilmu jari yang barusan kupergunakan adalah ilmu sentilan Sian ci sin kang!"

"Sian-ci sinkang kepandaian ampuh dari gereja siau lim-si?" seru Bu Wi tootiang dengan wajah tertegun.

"Benar, ilmu sentilan Sian ci-sin-kang dari partai Siau-lim?!'

Bu Wi tootiang segera anggukkan kepalanya berulang kali, pujinya :

"Selama beberapa ratus tahun belakangan ini, Siau tayhiap boleh dibilang merupakan manusia paling aneh dikolong langit, satu orang menguasai ilmu silat dua aliran sudah luar biasa sekali, tetapi engkau sekaligus menguasai ilmu silat dari beberapa perguruan, peristiwa ini jarang sekali terjadi dalam dunia persilatan..."

Dia menengadah memandang bintang yang bertaburan diangkasa, kemudian sambungnya lebih jauh :

"Kecuali seorang manusia sakti seperti Siau tayhiap siapa lagi yang mampu melawan Shen Bok Hong ??"

"Tootiang terlalu memuji " ujar Siau Ling sambil menghela napas ringan.

"Keberhasilan boanpwee tidak lebih hanya terjadi karena kebetulan saja sedangkan keberhasilan Shen Bok Hong benar benar merupakan suatu kejadian yang langka dalam persilatan apalagi berpengalaman luas dan berotak cerdas hingga orang lain sukar untuk menandingi dirinya meskipun beberapa perguruan besar dalam dunia persilatan mempunyai kekuatan yang tak kalah besarnya sayang sekali mereka semua mempunyai perasaan segan mencampuri urusan orang lain dan tidak bersedia bekerja sama untuk menghadapi musuh tangguh. Dewasa ini hanya partai Bu tong yang mengerahkan segenap kekuatannya untuk bertempur melawan perkampungan Pek hoa san cung setelah penyelidikanku kebasis kekuatan pihak perkampungan Pek hoa san cung

dikota Tiang sah ini terasa olehku bahwa Shen Bok Hong

benar benar merupakan seorang musuh yang sukar dihadapi

masa depan kita betul betul masih terhalang oleh semak

berduri yang lebat "

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh:

"Kali ini Shen Bok Hong bersedia melepaskan rencana

besarnya untuk pergi menjumpai seorang sahabat karibnya, ditinjau dari sikapnya yang terburu buru dapat diketahui bahwa orang itu pastilah bukan seorang manusia sembarang, mungkin kita bakal bertambah dengan seorang musuh

tangguh lagi."

"Dewasa ini orang yang paling disegani dan ditakuti oleh Shen Bok Hong hanya engkau Siau tayhiap seorang dan sekarang ia mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan penyerbuan tujuannya tidak lain adalah untuk menghadapi diri Siau tayhiap seorang, karena itu aku serta

Sun Put Shia locianpwee telah berjanji untuk selanjutnya

mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki untuk

melindungi keselamatanmu "

Siau Ling segera tersenyum dan menukas :"Aku merasa

terharu dan berterima kasih sekali atas jerih payah serta kesediaan dari locianpwee berdua, cuma mengenai kata

melindungi.... aku benar-benar tak berani untuk menerimanya,

kalau aku orang she Siau tidak bersedia menempuh bahaya,

kenapa orang lain harus menempuh bahaya bagi diriku?? dan

Shen Bok Hong sendiri walaupun ia punya hasrat yang besar untuk melenyapkan diriku, tetapi asal aku bisa berhati2 dalam menghadapi setiap persoalan, rasanya untuk menyelamatkan diri bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan.. "

Bu Wi Tootiang menghela napas panjang, selanya :

"Apa yang pinto serta Sun locianpwee harapkan adalah semoga Siau tayhiap suka menjaga diri baik2 demi keamanan umat persilatan dikolong langit, Shen Bok Hong paling benci kepadamu dan dia paling takut pula menghadapi dirimu, dia pasti akan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menghadapi dirimu, bahkan cara yang digunakan pasti amat keji dan menggunakan segala cara rendah apapun, oleh sebab itu engkau harus berhati2 sekali menghadapi mereka, kami bukannya takut ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong dapat menangkan dirimu dan mencabut jiwamu, yang kami kuatirkan adalah dia mencelakai dirimu dengan cara licik dan terkutuk, sebab serangan macam itulah paling susah dihindari... "

"Tentang soal ini aku akan mengingatnya selalu didalam

hati " ujar Siau Ling sambil tertawa ewa.

Sesudah memandang cuaca ujarnya kembali;

"Tootiang untuk menghadapi oraug orang dari perkampungan Pek-hoa san cung rasanya kita tak usah membicarakan tentang peraturan bu-lim lagi bukan ??"

"Kalau kita tak bisa menggunakan siasat racun lawan racun maka pihak kitalah yang bakal menderita kerugian besar "

"Kalau memang tootiang merasa bahwa cara ini pantas

malam ini juga kita dapat mulai turun tangan "

Setelah berhenti sebentar tanyanya :

"Berapa orang murid tootiang yang sekarang, masih tertinggal didalam gedung ini?"

Bu Wi tootiang termenung dan berpikir sebentar kemudian jawabnya :

"Kurang lebih ada dua belas orang !"

"Dan berapa orang diantara mereka yang memiliki ilmu silat sangat lihay serta pengalaman paling luas??"

"Boleh dibilang ada lima orang."

"Kalau begitu bersama Tootiang, aku, Tu Kiu serta Pek-li Peng semuanya berjumlah sembilan orang, rasanya jumlah itu sudah cukup!?"

"Apa maksud Siau tayhiap??"

"Aku ingin turun tangan untuk melenyapkan kekuatan yang ditinggalkan Shen Bok Hong dikota Tiang sah ini serta melenyapkan markas besar mata2nya, dahulu kita selalu dikuasahi orang lain dan semua gerak gerik kita diawasi orang, maka sekarang kita harus merebut posisi yang baik dan berbalik menghadapi mereka lebih dahulu"

Bu Wi Tootiang termenung dan berpikir sebentar, kemudaan tanyanya :

"Kita akan berangkat sekarang juga??"

"Aku rasa makin cepat semakin baik!"

"Baik, pinto akan segera memilih orang2!" imam tua itu segera loncat turun dari atas bubungan rumah.

Siau Ling mengikuti loncat turun pula ke atas tanah, baru saja berdiri tegak, Pek li Peng telah memburu kedepan sambil berseru"

"Toako, apakah Siau yau cu berhasil melarikan diri?"

"Ehmm! dia berbasil kabur" setelah berhenti sebentar, lanjutnya lebih jauh :

"Peng ji, siapkan senjata tajam dan senjata rahasiamu, malam ini aku akan mengajak engkau berkunjung kesuatu tempat dan disitu engkau dapat membuka pantangan membunuhmu sampai puas"

"Kita akan pergi kemana... ? " tanya Pek-li Peng dengan hati kegirangan.

"Ketempat yang telah kukunjungi pagi tadi !"

"Apakah siaute juga boleh ikut... ? " tanya Tu Kiu sambil maju menghampiri.

"Kalian semua boleh ikut!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Bu Wi Tootiang dengan membawa lima orang pria berpakaian ringkas telah munculkan diri disana.

Rupanya untuk menghindarkan diri dari pengawasan mata2 musuh, semua anak murid partai Bu tong telah berubah dandanan dan menyaru jadi pria2 kekar.

Kelima orang itu mengenakan pakaian ringkas warna hitam dan menyoren sebilah pedang diatas punggungnya.

Siau Ling melirik sekejap kearah lima o-rang itu kemudian perlahan lahan berkata :

"Setiap anggota perkampungan Pek hoa san cung rata rata berhari kejam dan bertangan telengas bilamana kalian semua bertempur dengan mereka aku harap tak usah sungkan sungkan atau memberi belas kasihan lagi basmi seadanya dari muka bumi"

"Kami semua terima perintah" jawab lima orang pria berpakaian ringkas itu berbareng.

"Kalianpun tak usah saling menyebut nama dengan mereka Nah ! sekarang ikutilah diriku " ujar Siau Ling lagi selesai berkata ia berangkat lebih dahulu kedepan.

Pek-li Peng dan Tu Kiu menyusut dibelakangnya,

sedangkan Bu Wi Tootiang dan ke lima orang murid partai Bu

tong lainnya menyusul dipaling belakang

Siau Ling sudah hapal dengan jalan yang harus dilaluinya, sepanjang perjalanan ia bergerak cepat sekali dan langsung meluncur kearah gubuk tanah pertanian yang dihuni oleh Ciu Cau Liong sekalian.

Tidak selang setengah jam kemudian tanah pertanian tersebut sudah nampak didepan mata..

Siau Ling menghentikan langkah kakinya, sambil menuding kearah tanah pertanian di tengah kegelapan ujarnya:

"Menurut apa yang berhasil kuketahui, beberapa orang jagoan yang paling sukar dilayani yang saat ini berada didalam rumah rumah gubuk itu kecuali beberapa orang bayangan darah ciptaan Shen Bok Hong, boleh dibilang Tong Lo thay ciangbunjin keluarga Tong dan propinsi Suchuan lah yang boleh dipandang ampuh, dia membawa puluhan jenis senjata rahasia beracun yang sukar dihadapi dengan sembarangan, oleh karena itu kita tak usah serentak menerjang masuk ke dalam rumah rumah gubuk itu"

Bu wi Tootiang menyadari bahwa sianak muda itu takut dengan ilmu silat yang di miliki beberapa orang anak muridnya itu tak mampu menahan serangan senjata rahasia dan Tong Lo-thay thay, oleh sebab itu segera ujarnya:

"Silahkan Siau tayhiap memegang pucuk pimpinan dalam operasi kali ini, perintahkan saja kami untuk bertindak sesuatu!"

Menurut pendapatku, lebih baik kelima orang anggota partai Bu tong itu tetap berjaga jaga diiuar perkampungan, sedang Tootiang dan aku bergerak paling depan."

"Baik!" sahut Bu Wi Tootiang sambil mengangguk, "apa yang harus mereka kerjakan? harap Siau tayhiap memberi perintah!"

Siau Ling berpaling dan memandang sekejap kearah kelima orang itu, kemudian jawabnya :

"Sudah lama aku dengar akan keampuhan barisan pedang dari partai Bu tong pay, aku rasa Too heng berlima pasti sudah hapal bukan dengan gerakan barisan pedang tersebut?"

"Kami sekalian sudah hapal!" jawab kelima orang itu sambil memberi hormat.

"Bagus sekali, kalian berlima bersembunyilah didalam hutan tersebut, apabila kalian melihat ada orang yang berusaha melarikan diri dari tanah pertanian tersebut, lebih baik tangkaplah orang2 itu secara tiba2 tak berduga, perduli mau gunakan senjata rahasia atau pun menyergap secara diam2 terserah pada kehendak kalian sendiri, untuk menghadapi orang2 dari perkumpulan Pek-hoa-san cung, kalianpun tak usah membicarakan lagi soal peraturan persilatan dengan diri mereka... "

Kelima orang itu mengiakan dan segera menyingkir kedalam hutan ditepi jalan.

Baru-baru Siau Ling menambahkan kembali :

"Perduli dalam gubuk gubuk itu terjadi perubahan apapun, kalian berlima tak usah maju menyongsong andaikata kalian berjumpa dengan musuh musuh yang memiliki ilmu silat sangat lihay, hadapilah orang itu dengan barisan pedang

kalian "

"Kami mengerti !" jawab kelima orang suara berbareng.

Siau Ling segera berpaling dan memandang sekejap kearah Tu Kiu dan Pek li Peng kemudian ujarnya lagi :

"Kekuatan musuh amat tangguh kalian tak boleh bertindak

terlalu gegabah dan utamakanlah lebih dahulu keselamatan

sendiri daripada melukai lawan aku dan Bu Wi Too tiang akan

berjalan dipaling depan untuk membuka jalan, sedang kalian

berdua ikut melangkah di belakang tapi jaraknya jangan

terlalu dekat dan jangan pula terlalu jauh jaga selisih jarak

antara delapan depa sampai satu tombak lima depa, agar

diantara kita bisa saling membantu "

Sorot matanya dialihkan kembali keatas wajah Pek li Peng dan menambahkan:

"Peng-ji engkau tak boleh terlalu gagabah dalam bertempur kalau bertemu dengan musuh yang telalu tangguh berilah bisikan kepadaku, mengerti?"

"Siau moay akan ingat selalu !" jawab Pek-li Peng sambil tersenyum.

"Kalau begitu, mari kita berangkat!" pemuda itu segera bergerak lebih dahulu menerjang kearah gubuk.

Bu Wi tootiang segera mengempos tenaga dan berjalan berdampingan dengan Siau Ling.

"Tootiang, loloslan senjatamu!" bisik Siau Ling.

Bu Wi Tootiang mengiakan dan cabut ke luar pedang poo kiamnya, Ialu dia balik bertanya :

"Apakah Siau-heng tidak menggunakan senjata?"

"Aku membawa pisau mustika didalam saku, bilamana bertemu dengan musuh tangguh nanti senjata itu baru akan kupergunakan!"

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki keempat orang itu sangat lihay, ditengah kegelapan tubuh mereka bagaikan bintang yang meluncur berkelebat kearah depan, dalam beberapa patah kata belaka tubuh mereka sudah berada didepan rumah gubuk tersebut.

Dari balik pintu terdengar suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian :

"Siapa diluar??"

Siau Ling tidak menjawab, sambil menyingkir kesamping ia langsung menerjang masuk kedalam rumah gubuk itu.

Cahaya berkilauan memenuhi angkasa, sebilah golok tiba2 meluncur datang dan membacok kearah tubuhnya.

Siau Ling segera putar tangan kanannya mencengkeram ujung golok lawan setelah itu sekuat tenaga disentak kearah luar, seorang pria baju hitam seketika tertarik keluar dari tempat persembunyiannya.

Bu Wi tootiang yang menyaksikan kejadian itu, diam2 menghela napas panjang, pikirnya :

"Sekalipun Sun Put Shia sendiri, belum tentu ia berani bertempur melawan orang dengan cara begini"

Setelah tangan kanan Siau Ling berhasil menyeret keluar tubuh orang itu, tangan kirinya segera diayun kemuka melancarkan satu pukulan dahsyat keatas dada lawan.

Pria kekar itu mendengus berat dan seketika itu juga menemui ajalnya ditangan orang.

Siau Ling sendiri, bersamaan waktunya dengan kematian pria kekar tersebut, ia telah menerjang masuk kedalam rumah gubuk tadi.

Dua kali dengusan berat bergema memecahkan kesunyian, disusul dua sosok mayat terlempar keluar dan dalam gubuk.

Pek-li Peng yang menyaksikan kejadian itu, diam diam segera berpikir didalam hatinya:

"Toako selalu ramah dan welas kasih, tetapi malam ini ia telah melakukan pembunuhan secara keji dan telengas, itu membuktikan bahwa orang orang yang sedang dihadapinya adalah manusia manusia laknat yang sudah banyak melakukan kejahatan kalau toh toako sudah bertindak secara keji rasanya akupun tak usah bertindak sungkan sungkan lagi"

Berpikir sampai di situ tangan kirinya segera merogoh kedalam saku dan menggenggam sebatang jarum Han peng ciam.

Bu wi Tootiang seadiripun tak pernah menyangka kalau Siau Ling secara tiba tiba bisa melancarkan serangan dengan begitu keji dan telengasnya ia jadi tertegun beberapa saat lamanya sebelah mengikuti dibelakang Siau Ling untuk menerjang masuk kedalam gubuk.

Tu Kiu dan Pek-li Peng menyusul dari belakang menyerbu kedalam rumah gubuk tadi.

Jarak antara pintu gerbang rumah gubuk dengan ruang tengah masih selisih agak jauh empat orang penjaga pintu dalam waktu singkat telah dibunuh mati semua oleh Siau Ling dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat, dalam anggapan pemuda itu orang orang dalam ruang dalam pasti tidak akan tahu, siapa tahu dengusan penjaga pintu ternyata kedengaran juga sampai kedalam.

Tatkala Siau Ling memimpin rekan rekan lainnya mencapai satu tombak dari ruang tengah, tiba tiba terdengar desingan tajam bergema memecahkan kesunyian, serentetan hujan anak panah memenuhi seluruh angkasa.

Siau Ling segera mendorong sepasang telapaknya untuk menghalau hujan panah tersebut.

Ia tidak membawa senjata, terhadap hujan anak panah yang meluncur datang tiada hentinya itu lama kelamaan dibuat kewalahan juga.

Bu Wi tootiang segera mengepos tenaga dan menerjang maju kedepan, pedangnya berputar kencang memancarkan cahaya putih yang berkilauan, anak panah yang mendekati tubuhnya sama sama rontok keatas tanah terkena sambaran pedangnya itu.

Ciangbunjin dari perguruan besar ini rupanya sudah dibangkitkan semangatnya oleh permainan telapak Siau Ling yang begitu cepatnya itu, pedang bagaikan pelangi berkelebat mengitari seluruh badan melindungi Siau Ling dan diri sendiri dari serangan panah, ketika berhasil mendekati pintu ruangan, pedangnya segera membacok pintu hingga terbuka.

Gerakan tubuh Siau Ling cepat sekali, menggunakan

kesempatan dikala Bu wi Too-tiang membacok pintu ia sudah menerobos masuk kedalam ruang tengah.

Sepasang telapaknya bekerja cepat, kembali dua orang musuh berhasil dibacok sampai mati.

Bu Wi Tootiang segera menyusul kedalam pedangnya berputar kekiri dan kekanan, dua orang pria dilukai pula pada ujung pedangnya.

Sementara itu, Pek li Peng dan Tu Kiu telah ikut menerjang masuk kedalam ruangan.

Pek li Peng segera putar pedangnya bagaikan titiran angin kencang, mengikuti gerakan dari Bu wi tootiang, gadis inipus berhasil melukai dua orang musuh.

Dalam ruang tengah rumah gubuk itu sebenarnya dijaga

oleh sepuluh orang jago pemanah jitu, ilmu silat yang

mereka miliki kendatipun sangat lihay, tetapi untuk menghadapi serbuan dari empat orang jago lihay yang sudah diliputi oleh napsu membunuh itu tentu saja masih bukan tandingannya, dalam waktu singkat kesepuluh orang itu sudah terkapar semua diatas tanah, dua orang yang belum matipun

sudah menderita luka dalam yang sangat parah.

Siau Ling masih tetap berjalan paling depan, tangan kanannya diayun menghantam dinding tembok... Blaaam! debu dan pasir berguguran keatas tanah, muncullah sebuah lubang besar diatas dinding tadi.

Dalam hati kecilnya dia masih ingat dengan jelas letak ruang rahasia yang dipergunakan Ciu Cau Liong untuk melakukan perundingan dengan para jago2nya, dia berharap dalam sekali gebrakan berhasil menerjang masuk kedalam ruang rahasia tersebut dan menawan Ciu Cau Liong, atau paling sedikit ia harus berhasil membinasakan beberapa orang bayangan darah ciptaan dari Shen Bok Hong,

Oleh karena itu pemuda tersebut ingin membongkar dinding untuk menerjang masuk kedalam.

Baru saja Siau Ling berhasil membobolkan dinding tembok tersebut, tiba-tiba ... terdengar suara bentakan gusar berkumandang datang :

"Siapa disitu?"

Cahaya api memancar keempat penjuru dan muncullah sebuah obor menerangi sekeliling tempat itu.

Siau Ling segera alihkan sorot matanya kearah depan, tampaklah orang orang yang barusan munculkan diri adalah Ciu Cau Liong dibelakangnya berdiri empat orang pria berbaju merah membahu disisi kirinya adalah Tong Lothay sedang disebelah kanannya adalah Tan Hiong Ciang.

Seorang pria lain sambil membawa obor berdiri kurang lebih tiga depa didepan Ciu Cau Liong.

Pakaian yang dikenakan beberapa orang itu amat rapi, agaknya belum tertidur semua.

Siau Ling dapat melihat keadaan dari Ciu Cau Liong sekalian sedangkan Ciu Cau Liong juga dapat melihat Siau Ling dengan dandanan serta pakaian yang tak ada ubahnya seperti siang hari tadi hal ini membuat kepala kampung kedua dari perkampungan Pek hoa san cung jadi tertegun.

"Tan Hian tit, sebenarnya apa yang telah terjadi.. ?" tegurnya.

Tan Hong Ciang sama sekali tak menyangka kalau Siau Ling berani menyerbu kesitu dengan membawa orang2nya, bahkan masih memakai baju yang dikenakan pada siang harinya, kejadian itu membuat hatinya tak tenang.

Apalagi sekarang setelah ditegur oleh Ciu Cau Liong, dia semakin merasa gelisah dan tidak tenteram.

Siau Ling sendiri, setelah melihat bahwa beberapa orang penting yang sedang dicari olehnya sudah berkumpul semua disitu, ia malahan tidak terburu napsu untuk segera turun tangan, perlahan2 tubuhnya malah mundur dua langkah kebelakang.

Tan Hiong ciang sendiri, setelah berhasil mententeramkan hatinya, sambil tebalkan muka tegurnya :

"Yang datang apakah Pek heng? '

"Bukan! " jawab Siau Ling sambil tertawa dingin," sekarang aku sudah tidak bermarga Pek lagi! '

Mendengar suara pemuda itu, tiba-tiba .... Sekujur badan Ciu Cau Liong gemetar keras, teriaknya :

"Engkau adalah Siau Ling?"

Siau Ling sama sekati tidak memperdulikan pertanyaan dan Ciu Cau Liong itu, dengan nada dingin ujarnya :

"Kalian tak usah memperdulikan siapakah aku, cabut keluar senjata kalian dan bersiap2lah untuk bertempur!"

Dengan pandangan dingin Ciu Cau Liong melirik sekejap kearah Tan Hiong Ciang, berada dihadapan musuh tangguh tak sempat baginya untuk menegur orang she Tan itu lagi, sambil tertawa dingin segera ujarnya :

"Bagus sekali, kalau memang sahabat tak mau menyebutkan namamu, itu membuktikan bahwa sahabat masih menaruh perasaan segan terhadap perkampungan Pek hoa san-cung kami. Tempat ini terlalu sempit dan tidak leluasa untuk digunakan sebagai tempat bertanding, lebih baik kita pilih ketaman sebelah luar sana!"

"Engkau Ciu ji-cungcu termasuk juga seorang yang mempunyai kedudukan didalam dunia persilatan, aku rasa apa yang sudah dikatakan tak akan dipungkiri kembali, pada hal... sekalipun engkau ingin melarikan diri dari sini, mungkin tak bisa kau lakukan dengan mudah!"

"Hanya mengandalkan kekuatan kalian berempat? "ejek Ciu

Cau Liong sambil tertawa sinis, "apakah ucapanmu itu tidak

terlalu tekebur ?'

Dengan pandangan tajam Siau Ling mengawasi wajah Ciu Cau Liong, kemudian perlahan-lahan mundur kebelakang.

Ciu Cau Liong sekalian segera mengejar ke arah depan.

Ketika melewati ruang tengah dan menyaksikan kesepuluh orang ahli pembidik tepat yang ditugaskan menjaga ruang tengah telah roboh terkapar semua dalam keadaan tak bernyawa, diam-diam Cu Cau Liong merasa terkesiap, pikirnya:

"Keempat orarg ini jelas merupakan jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan, hanya dalam waktu amat singkat sepuluh orang pembidik tepat kami sudah menggeletak semua dalam keadaan tak bernyawa."

Mendadak sorot matanya membentur diatas senjata pit baja yang ada ditangan Tu Kiu, sambil tertawa dingin segera serunya :

"Pit baja berwajah dingin Tu Kiu, nyali nya benar2 tidak

kecil!"

Setelah namanya disebut orang,Tu Kiu pun tidak merahasiakan asal usulnya lagi, sambil tertawa dingin sahutnya :

"Sedikitpun tidak salah, memang aku orang she Tu!"

Ciu Cau Liong alihkan sorot matanya keatas wajah Bu Wi Tootiang, sesudah mengamatinya beberapa waktu ia menegur:

"Siapakah engkau??"

"Aku tak bersedia memberi jawaban!" sahut Bu Wi tootiang dengan suara dingin.

Ciu Cau Liong menengadah dan tertawa ter-bahak2.

"Haahhh...haaahhh....haaahhh... engkau tidak bersedia mengatakan? ataukah tidak berani mengatakannya keluar? padahal sekalipun engkau tidak mengatakan juga sama saja, karena aku sudah tahu bahwa engkau adalah Bu Wi tootiang"

Bu Wi tootiang tertawa dingin, ia tidak memberi tanggapan tentang perkataannya itu.

Dalam hati Siau Ling segera berpikir :

Kedua belah pihak, membentuk posisi sendiri dan saling berhadapan dengan keadaan siap bertempur.

Diluar dugaan Siau Ling, ternyata Ciu Cau Liang sama sekali tidak menunjukkan rasa jeri, seakan2 ia mempunyai sesuatu andalan.

Walaupun kesempurnaan Ciu Cau Liong didalam hal ilmu silat tidak begitu cemerlang, tetapi kecerdasan otaknya sungguh luar biasa sekali, sementara ia masih termenung, mereka sudah tiba dihalaman paling depan.

Sikap Ciu Cau Liong seolah olah ada sesuatu yang diandalkan olehnya, ia segera ulapkan tangannya sambil berseru :

"Pasang beberapa buah obor lagi!,.

Suara mengiakan bergema dan beberapa saat kemudian sudah ada tujuh batang obor yang telah dipasang.

Delapan buah obor dipegang oleh delapan orang pria berpakaian ringkas dengan senjata lengkap berdiri pada delapan posisi yang berbeda satu sama lainnya.

Dibawah sorot cahaya obor, suasana dalam kalangan jadi

terang benderang bagaikan disiang hari saja

Diam diam Ciu Cau Liong mengamati Pek-li Peng sekejap dari potongan badannya yang kecil ia tahu bahwa orang itu adalah seorang gadis hanya tidak diketahui siapakah dia.

Dengan sikap yang sangat mencurigakan ini, Siau Ling bertindak semakin ber-hati2, ia berpaling dan bisiknya kepada Bu Wi tootiang dengan suara lirih :

"Selamanya Ciu Cau Liong tidak berani turun tangan bertempur dengan orang secara sembarangan, tapi kali ini sikapnya jauh berbeda dengan keadaan dihari biasa, mungkin ia telah menyusun suatu rencana busuk, kita harus bertindak

hati2!"

Bu Wi Tootiang mengangguk tanda mengerti.

"Biarlah aku yang maju menantang perang lebih dahulu! ' bisiknya.

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Ciu Cau Liong, dan ujarnya dengan suara lantang:

"Sudah lama aku dengar akan nama besar dari Ji cungcu, ini malam bisa saling berjumpa, betul betul suatu keberuntungan bagiku, bersediakah engkau memberi pelunjuk beberapa jurus kepadaku."

Ciu Cau Liong tertawa dingin jawabnya : "Aku tidak bersedia untuk turun tangan bergebrak dengan orang secara sembarangan"

Ia berpaling dan memandang sekejap kearah Tong Lo thay thay, serunya :

"Tong hujin harap engkau bersedia untuk bertempur dalam babak pertama!"

Sambil menyambar tongkatnya Tong Lo thay thay maju ketengah gelanggang katanya :

"Siapakah diantara kalian yang bersedia untuk bertempur dengan aku siorang tua??"

Dalam hati Siau Ling berpikir : "Ketika dibawah puncak li-wan-hong tem po hari ia bersama Kim Hoa Hujin pergi mengejar Shen Bok Hong yang terluka entah bagaimana kemudian ternyata kedua orang itu telah bergabung kembali dengan pihak Perkampungan Pek hoa san cung keadaan dari Kim Hoa hujin masih tetap seperti sedia kala, banyak bicara dan banyak berguraunya, tapi keadaan Tong Lo thay thay pada saat ini jauh berbeda, rupanya ia telah mendapat pengawasan yang jauh lebih keras...,."

Berpikir sampai disitu, ia segera menyerobot maju lebih dahulu ketengah gelanggang.

Pada waktu itu, sebenarnya Bu Wi too-tiang telah bersiap sedia untuk melakukan pertarungan, tetapi setelah diserobot oleh Siau Ling, terpaksa ia hentikan langkah kakinya dan cuma nonton belaka.

"Laporkan namamu'!" seru Tong La-thay thay sambil ayunkan toya ditangannya.

Siau Ling tertawa ewa, jawabnya :

"Aku adalah Siau Ling!"

"Engkau benar2 Siau Ling?" seru Tong Lo-tbay thay setelah tertegun sejenak.

"Sedikitpun tidak salah, akulah orangnya!"

Ciu Cau Liong sendiri, walaupun sejak permulaan tadi lelah menduga bahwa kemungkinan besar orang yang berada dihadapannya adalab Siau Ling, akan tetapi setelah mendengar pengakuan sendiri dari Siau Ling, tak urung sekujur badannya gemetar keras.

Hanya empat orang pria baju merah yang berada dibelakang tubuh Ciu Cau Liong saja yang masih tetap bersikap kaku, se-akan2 mereka sama sekali tidak tahu siapakah orang yang bernama Siau Ling itu.

Senjata rahasia dimiliki Tong Lo thay thay meskipun sangat lihay, akan tetapi orang yang paling disegani oleh Siau Ling masih tetap keempat orang pria baju merah itu karenanya secara diam diam ia awasi terus gerak gerik keempat orang

tadi.

Menyaksikan tingkah laku keempat orang pria itu kaku dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, diam diam ia berpikir:

"Keadaan dari empat orang itu kaku bagaikan patung arca

dari tanah liat hal ini menunjukkan bahwa kesadaran otak

mereka sudah jelas dikuasai oleh sejenis obatan yang sangat

beracun "

Dalam pada itu terdengarlah Tong Lo thay thay berseru dengan suara lantang :

"Hey orang she Siau berhati hatilah !"

Wesss... !toyanya diiringi deruan angin tajam langsung membabat kearah batok kepala lawan.

Siau Ling merasakan sapuan toya itu disertai tenaga dalam yang sangat hebat sehingga membawa deruan angin yang sangat memekikkan telinga, diam diam hatinya terperanjat, pikirnya;

"Kalau ditinjau dari keadaan tersebut, rupanya ia telah tulus ikhlas tunduk dan berpihak kepada perkampungan Pek hoa san-cung, aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya....!'

Dalam hati berpikir demikian, sementara tubuhnya segera menyingkir kearah samping.

Tangan kanan secepat kilat meluncur kearah depan dan menyapu sejajar dada dengan suatu gerakan yang manis tahu tahu ia berhasil mencengkeram toya diri Tong Lo thay thay dan membetotnya keras keras kearah depan.

Cara merampas senjata orang dengan kekerasan seperti ini jarang sekali ditemui dikolong langit, kecuali seseorang sudah mempunyai keyakinan sembilan puluh persen pasti berhasil, jarang sekali ada orang yang berani bertindak secara gegabah.

Dalam sekali gerakan tangan Siau Ling berhasil mencengkeram toya baja dari Tong Lo thay thay, kejadian ini bukan saja membuat Cau Liongmerasa amat terperanjat sekalipun Bu Wi Tootiang sendiripun diam diam merasa terkesiap, pikirnya :

"Sungguh berani amat pemuda ini menempuh bahaya dan mengambil resiko.. . benar-benar hebat!"

Rupanya Tong Lo tbay thay sendiripun sama sekali tak menyangka kalau didalam sekali gebrakan saja Siau Ling telah berhasil mencengkeram senjata toyanya, peristiwa tersebut seketika membuat nenek tua itu jadi tertegun.

Pada saat ia masih berdiri termangu Siau Ling telah menggerakan tenaga dalamnya untuk membetot toya baja tadi kearah depan termakan tenaga betotan yang maha hebat itu tanpa bisa dikuasahi lagi tubuh Tong Lo thay thay ikut terjengkang kearah depan.

Menggunakan kesempatan itulah laksana sambaran kilat Siau Ling ayunkan tangan kirinya sebuah pukulan gencar dilepaskan.

Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa

begitu cepatnya sehingga tidak memberi kesempatan bagi

Tong Lo-thay thay untuk menghindarkan diri

Bluuumm !! pukulan tersebut dengan telak bersarang diatas bahu kanan Tong Lo- thay thay.

Mengingat hubungan persahabatan yang pernah terjadi diantara mereka, serangan yang dilancarkan Siau Ling ini tidak terlalu berat, berbicara sampai tenaga dalam yang dimiliki

Tong Lo thay thay, seharusnya pukulan itu tak akan sampai melukai dirinya

Terdengar Tong Lo thay thay mendengus berat kemudian badannya roboh terjengkang kebelakang, senjata toya yang berada dalam genggamanpun segera terlepas dari cekalannya.

Dengan cepat Siau Ling merampas toya tersebut, disamping itu diapun menyadari bahwa Tong Lo thay thay ada maksud mengalah kepadanya, tetapi berhubung dalam hati mempunyai kesulitan yang amat besar maka nenek itu tak berani berbicara ataupun menyapa dirinya.

Oleh sebab itulah, setelah berhasil merebut senjata toya tadi, pemuda itu membentak keras, toyanya langsung diputar menerjang kearah Ciu Cau Liong.

Selama ini yang sangat menguatirkan perasaan hati Siau Ling adalah berpuluh puluh macam senjata rahasia beracun

dari Tong Lo thay thay yang sangat lihay itu, ia kuatir kalau

Pek li Peng dan Bu Wi too-tiang sekalian terluka diujung senjata tersebut.

Sekarang, setelah melihat nenek tua itu menggeletak diatas tanah dan senjata toyanya terlepas dari cekalan, rasa kuatir yang mencekam hatinya pun seketika lenyap tak berbekas dan semangat jantannya berkobar kembali.

Mimpipun Ciu Cau Liong tak pernah menyangka kalau Tong

Lo thay thay sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar yang amat tersohor dipropinsi Suchuan, ternyata kena dirobohkan oleh Siau Ling dalam satu gebrakan belaka, dalam hati ia merasa curiga bercampur takut.

Tapi ingatan tersebut berkelebat dalam waktu yang amat singkat, sebab ketika itulah Siau Ling sambil putar toyanya telah menerjang maju kearah depan.

Ciu Cau Liong menyadari bahwa kepandaian silat yang dimiliki masih bukan tandingan dari Siau Ling, sambil mengundurkan diri untuk menghindar, dengan cepat ia memberi tanda kepada empat orang pria baju merah yang berada dibelakang tubuhnya untuk bersama mengepung pemuda she Siau tersebut.

Siau Ling tidak berani memandang enteng keempat orang pria baja merah yang kaku bagaikan Patung itu, hawa murninya segera dihimpun dan ia segera hentikan gerakan tubuhnya yang sedang menerjang kemuka, toya diangkat siap melancarkan serangan.

"Ciu Cau Liong!" teriak Bu Wi tootiang dengan gusar, "apakah pihak perkampungan Pek-coa san cung kalian perduli dimana selalu mengandalkan jumlah yang banyak untuk merebut kemenangan?"

"Toako" teriak Pek-li Peng pula," biar kan kubantu dirimu

untuk menghadapi kurcaci kurcaci tersebut "

Sambil membawa pedang ia menerjang maju kedepan.

Beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara amat nyaring dan jelas menunjukan sebagai suara seorang wanita.

Rupanya karena gelisah dan cemas, gadis itu telah lupa untuk mempergunakan nada prianya untuk berbicara,

Siau Ling segera menengadahkan keatas dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh...haaahhh...haaahaaahh...Peng-ji, ayoh cepat mundur kebelakang, aku tidak membutuhkan bantuanmu!" sahutnya.

Dalam pada itu Pek li Peng telah berada dihadapan keempat orang pria baju merah itu dan siap melancarkan serangan, mendengar sahutan dari Siau Ling tadi terpaksa ia tarik kembali serangannya sambil mundurkan diri kebelakang.

"Toako, jadi engkau tidak membutuhkan bantuanku?" katanya.

"Tak usah! " kata Siau Ling sambil mengempos tenaga

bersiap sedia, " keempat orang ini kalau dikatakan sebagai

manusia, sebenarnya kita menilai mereka terlalu tinggi "

"Kalau bukan manusia, lantas mereka itu? "

"Bayangan darah hasil ciptaan dari Shen Bok Hong! "

"Apa sih yang disebut sebagai bayangan darah itu??"

"Banyangan darah adalah...adalah "

"Adalah sejenis manusia yang dipengaruhi oleh obat2an " sambung Bu Wi tootiang dari samping, " setelah mendapatkan suatu latihan yang keras dan sadis maka terciptalah bayangan darah yang sama sekali tidak punya otak,"

Bu Wi Tootiang sendiripun tidak memahami apakah bayangan darah itu, akan tetapi berhubung ia lihat Siau Ling tak mampu memberikan jawabannya maka ia menyambut dengan sekenanya.

Tiba2... terdengar empat buah suara pekikan aneh berkumandang memecahkan Kesunyian yang mencekam dimalam buta itu, begitu seram suara pekikan tersebut hingga kedengarannya mengerikan sekali.

Pek li Peng masih ingin bertanya lebih jauh, tetapi karena takut pertanyaan yang akan membuyarkan konsentrasi Siau Ling, ia tak berani banyak bicara lagi.

Dalam pada itu, setelah keempat orang pria baju merah tadi memperdengarkan pekikan yarg mengerikan itu, mereka mulai mengerahkan keempat anggota tubuhnya.

Dengan sorot mata yang tajam Siau Ling mengawasi gerak gerik dari keempat orang itu, sedang mulutnya berteriak keras:

"Tootiang, ber-hati2lah mengawasi Ciu Cau Liong, jangan biarkan mereka meloloskan diri dari sini, sedang keempat orang ini biarlah kulayani sendiri"

Bu Wi Totiang menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki Siau Ling jauh lebih ampuh dari pada kepandaian sendiri, andaikata ia tak mampu menghadapi keempat orang manusia aneh baju merah itu, itu berarti iapun sukar untuk memberi bantuannya, maka dari itu sehabis mendengar seruan tadi imam tua dari partai Bu tong pay ini mengundurkan diri sejauh dua tombak dari kalangan dan mengawasi gerak gerik dari Ciu-Cau Liong.

Sementara itu gerakan tangan dan kaki dari keempat orang pria baju merah itu kian lama kian bertambah cepat, ia tahu bahwa keempat orang itu segera akan melancarkan serangan, dalam hati segera pikirnya.

"Aku toh mempunyai hasrat untuk melenyapkan keempat

orang itu dari muka bumi kenapa aku musti menunggu sampai

mereka melancarkan serangan lebih dahulu ?? '

Berpikir sampai disini diam diam hawa murninya disalurkan kedalam telapak, dengan ilmu jari Siu loo sin ci nya tangan kanan diayun mengirim segulung angin desiran tajam kearah seorang pria baju merah yang berdiri diarah barat-daya.

Segulung desiran angin tajam dengan telak menghajar kaki kiri pria baju merah itu

Terlihatlah pria aneh tadi tergetar mundur sejauh empat lima langkah kebelakang sebelum berhasil berdiri tegak.

Jelas serangan yang dilancarkan oleh pemuda itu cukup berat dan dahsyat akibatnya.

Yang aneh, ternyata diatas wajah pria baju merah itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa kesakitan atau menderita akibat tersebut, seakan akan kaki kirinya sama sekali tak ada hubungan dengan tubuh bagian lainnya.

Tergetar hati Siau Ling karena terperanjat, diam diam ia berpikir:

"Sekalipun Shen Bok Hong sendiri yang terkena serangan jariku itu, dia pasti tak akan mampu mempertahankan diri, tapi pria tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa kesakitan ataupun menderita, entah ilmu silat apakah yang telah dilatih oleh mereka.,?

Sebelum ia sempat putar toyanya untuk melakukan penyerangan, tiba tiba terdengar ujung baju tersampok angin disusul berkelebatnya bayangan merah, dua orang pria aneh baju merah itu satu dari kiri yang lain dari kanan bersama sama menerjang maju ke depan.

Siau Ling segera putar toya ditangannya, dengan jurus " Heng-san cian-kim!! atau menyapu rata selaksa prajurit ia serang pria baju merah yang menyerang datang dari arah barat laut, sedang tangan kirinya melancarkan pukulan udara kosong menghantam pria baju merah yang menyerbu datang dari tenggara.

Rupanya keempat orang pria baju merah itu masing2 telah berdiri pada posisi yang berbeda sehingga tanpa disadari telah mengepung Siau Ling rapat2.

Cuma ada satu hal yang aneh, yakni posisi yang ditempati keempat orang pria baju merah itu bukannya timur, barat, utara atau selatan, tetapi tempat kedudukan mereka justru adalah tenggara, Timur laut, Barat-laut, serta baratdaya, suatu posisi membujur miring.

Baru saja pria aneh yang menerjang datang dari arah tenggara mencapai jarak lima depa dihadapannya, angin pukulan yang dilepaskan Siau Ling tahu2 sudah meluncur datang.

Dengan cepat pria baju merah itu ayun pula tangan kanannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Braaaak" , "Blaaam" kekuatan besar saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan pusingan angin puyuh yang amat kencang.

Termakan oleh bentrokan angin pukulan yang amat bebat itu, tubuh pria itu seketika terdorong mundur satu langkah kebelakang dengan sempoyongan,.,

Siau Ling sendiripun merasakan lengan kirinya jadi kaku dan linu, hal itu mempengaruhi serangan toya ditangan kanannya, akibat bentrokan tadi serangan yana dilancarkan pun jadi agak mengendor.

Sementara itu pria baju merah yang maju menyerang dari posisi Barat-laut telah meloloskan senjata tajamnya, dengan gada baja nya ia menyerbu kemuka.

Pada saat serangan toya Siau Ling agak mengendor itulah, pria baju merah itu memutar gada bajanya menyerbu kedepan.

"Traaang... " terjadi bentrokan kekerasan yang memekikkan telinga, termakan tangkisan gada pendek tersebut, senjata toya dalam genggaman Siau Ling tersapu miring kesamping.

Empat pria baju merah itu pada saat yang bersamaan, dengan gerakan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat menerjang maju kedepan mengurung Siau Ling.

Sianak muda itu membentak keras, ia buang senjata toya dari tangannya setelah itu tangan kirinya melancarkan dua buah serangan menghantam pergi dua orang baju merah yang sedang maju menyerang, sedang tangan kirinya merogoh kedalam saku dan mencabut keluar sebilah pedang pendek.

Setelah bertempur beberapa saat lamanya melawan pria baju merah itu, secara lapat lapat ia sudah dapat meraba sedikit keistimewaan dari musuhnya, ia merasa keempat orang pria itu bukan saja memiliki ilmu silat yang sangat lihay, lagi pula tidak kenal apa artinya kesakitan atau menderita kecuali serangan yaag dilancarkan dapat mengenai pada bagian tubuhnya yang mematikan hingga membuat mereka tak bisa berkutik lain cara rasanya sudah tak ada lagi.

Karena itu diambil keputusan untuk turun tangan keji menghadapi manusia manusia aneh itu, agar mereka mati atau terluka parah.

Dalam kerubutan itu, dua orang pria baju merah tadi sudah meloloskan senjata tajamnya sedang dua orang lainnya menyerang dengan tangan kosong belaka.

Siau Ling segera melayani serangan2 itu dengan gencar dan seksama, pedang pendek ditangan kirinya memainkan ilmu pedang Hoa san kiam hoat dari Tam In Cing, sedangkan tangan kirinya melepaskan pukulan dengan ilmu telapak kilat menyambar ajaran Lam it kong.

Sepasang tangan melancarkan serangan dengan dua jenis kepandaian yang berbeda, kehebatannya benar2 luar biasa sekali.

Terlihatlah angin pukulan menderu2, cahaya pedang amat menyilaukan mata, seluruh serangan yang dilancarkan keempat orang baju merah itu telah dikuasai oleh Siau Ling

Ditengah berlangsungnya pertarungan amat seru itu, tiba2 terdengar Siau Ling membentakk keras :

"Kena!"

Cahaya darah menyembur keempat penjuru, pria baju merah yang bersenjatakan gada baja itu terlepas lengan kanannya oleh babatan lawan, senjata dalam cekatannya terpental sejauh enam tujuh depa dan darah segar bagaikan hujan gerimis mengucur keluar membasahi seluruh permukaan tanah.

Walaupun lengan kanannya sudah kutung, tapi pria itu sama sekali tidak merasa kesakitan, sambil ayun tangan kirinya kembali ia lancarkan sebuah babatan maut.

Siau Ling tertegun, mimpi pun ia tak mengira kalau seorang yang lengan kanannya telah dikuntungi ternyata masih memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan.

Gerakan tangan pria itu cepat bagaikan kilat....Braaaaml serangan telapak kiri tersebut dengan telak bersarang diatas bahu kiri pemuda Siau Ling.

Selama beberapa hari ini Siau Ling berlatih tekun siang maupun malam, tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang amat pesat, hawa khi kang pelindung badanpun mendapat pula kemajuan yang amat cepat, ketika pukulan yang dilancarkan pria baju merah itu bersarang diatas bahu Siau Ling, tubuh pria itu malahan tergetar mundur sendiri sejauh dua langkah.

Walaupun begitu Siau Ling sendiripun merasakan darah dalam rongga dadanya bergerak amat keras. Dalam hati kecilnya ia berpikir:

"Bayangan darah hasil ciptaan dari Shen Bok Hong ini harus dilenyapkan secepatnya dari kolong langit, apabila membiarkan mereka tetap hidup didunia maka cepat atau lambat pasti ada delapan jago persilatan yang harus mengobarkan jiwanya bersama-sama kematian orang ini, sebab bukan saja ilmu silat yang dimiliki orang orang ini sangat lihay lagi pula mereka tidak terpengaruh oleh rasa sakit ditubuhnya, kejadian ini belum pernah terjadi dikolong langit siapapun juga tak akan menyangka setelah berhasil meluka parahi mereka, orang orang ini masih memiliki sisa kekuatan untuk melancarkan serangan balasan setelah mereka menderita luka tentu jauh lebih hebat lagi. Kalau orang orang persilatan itu tidak memiliki hawa khie kang pelindung badan seperti yang kumiliki bukankah serangan berikutnya yang dilepaskan secara mendadak dapat melukai dirinya hingga mampus?? aku harus lenyapkan mereka untuk menolong jiwa

sesama rekan persilatan "

Otaknya berputar kencang sementara serangan telapak dan pedangnya sama sekali tidak berhenti, ia masih tetap melakukan pertarungan sengit melawan beberapa orang pria baju merah itu, dan kini setelah mengambil keputusan maka napsu membunuhpun dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, serangan mematikan dilancarkan secara ber- tubi2.

Situasi pertarungan antara Siau Ling dengan keempat orang pria baju merah itu meski berlangsung tegang, tetapi Bu Wi Tootiang dan Ciu Cau Liong yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan merasa jauh lebih tegang daripada Siau Ling sendiri.

Ketika Bu Wi tootiang menyaksikan pria baju merah itu setelah kehilangan sebuah lengannya ternyata masih punya kemampuan untuk melancarkan serangan balasan, se-akan2 lengan yang kutung itu sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya, dalam hati merasa amat terperanjat, pikirnya dihati:

"Luar biasa mengerikannya orang2 ini, entah ilmu silat apakah yang mereka miliki??"

Ciu Cau Liong sendiri telah menyaksikan jalannya pertarungan antara Siau Ling melawan keempat orang pria baju merah itu, perasaan batinya mulai tak tenang, ia berpikir:

"Rupanya silat yang dimiliki Siau Ling telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, begitu pesat dan cepatnya hingga hampir boleh dibilang melampaui keadaan pada umumnya..."

"Bluuum...!" seorang pria baju merah terhantam dadanya oleh sebuah pukulan Siau Ling hingga menimbulkan benturan keras.

Dalam serangannya itu Siau Ling telah mempergunakan tenaga dalam sebesar delapan bagian hingga mengetarkan jantung orang itu, terlihatlah pria baju merah itu mundur kebelakang dengan sempoyongan, setelah muntah darah segar badannya roboh terjungkal keatas tanah.

Siau Ling berkelebat berulang kali kekiri maupun kekanan untuk menghindarkan diri dari sergapan dua orang pria baju merah lainnya, sambil putar badan pedangnya berkelebat melancarkan satu serangan dengan jurus "Tiat su-kay-hoa " atau pohon besi mulai berbunga, pedangnya langsung menusuk tenggorokan pria tersebut.

Ia tahu bahwa pria baju merah ini tidak takut akan rasa sakit, hanya serangan yang mengena pada tempat kematian saja yang bisa melenyapkan daya tahan mereka.

Berhubung darah yang mengalir dari kutungan lengan pria baju merah tadi terlalu banyak, gerakan tubuhnya sudah tidak selincah semula lagi, sekarang termakan pula oleh tusukan pedang Siau Ling yang ditujukan kearah tenggorokannya, ia semakin tak tahan lagi, tubuhnya roboh terkapar keatas dengan darah mengalir keluar dari mulut lukanya sesudah berkelit sebentar putuslah jiwarya.

Setelah berhasil melukai dua orang baju merah, semangat Siau Ling semakin berkobar pedang pendeknya berputar kencang melukai kembali seorang pria baju merah pada saat yang bersamaan tangan kirinya melepaskan ilmu sentilan sian ci sinkang, segulung desiran angin tajam meluncur kemuka menghajar mata kanan pria baju merah yang lain.

Pemuda itu sadar walaupun dua orang pria baju merah itu sudah terkena serangannya namun daya tempur mereka sama sekali belum lenyap, karena itu setelah melepaskan serangan yang pertama, menggunakan kesempatan itu ia menerjang kedepan dan melancarkan pula empat buah serangan berantai lainnya.

Keempat buah serangan tersebut semuanya merupakan jurus2 ampuh didalam rangkaian ilmu pedang dari Tan Ing

Cing, tak bisa dihindari lagi kedua orang pria tersebut termakan tusukan pedang pada bagian mematikannya dan roboh binasa semua.

Ciu Cau Liong jadi terkejut bercampur ketakutan setelah menyaksikan empat orang bayangan darah hasil ciptaan dari Shen Bok Hong yang paling diandalkan itu sudah roboh binasa semua ditangan Siau Ling, tiba2 ia putar badan dan melarikan diri.

Terdengar Bu Wi Tootiang tertawa dingin, serunya :

"Ji cungcu, apakah engkau hendak melarikan diri??"

Sambil putar pedang ia hadang jalan pergi dari Ciu Cau Liong.

...Sreeet...! Tan Hiong Ciang mencabut keluar pedangnya, sambil keraskan hati ia berseru;

"Ayoh minggir dan beri jalan!"

Pek li Peng segera berkelebat maju kedepan, ujarnya :

"Bangsat, engkau tidak pantas untuk bertempur melawan Bu Wi tootiang. ..!"

.Sreeet... ! sebuah tusukan kilat segera dilepaskan kedepan.

Tan Hiong Ciang dengan cepat putar pedang menangkis datangnya ancaman dari Pek li Peng, setelah itu sambil putar pedang ia balas mengirim satu serangan.

Dengan cepat kedua orang itu terlibat dalam suatu pertempuran yang amat seru, serang menyerang berlangsung makin ramai...

Ciu Cau Liong yang menyaksikan gelagat tidak menguntungkan bagi pihaknya, dalam hati segera berpikir :

"Situasi pada saat ini sangat tidak menguntungkan diriku, lebih baik aku kabur saja dari sini."

Buru2 ia putar badan siap merat dari situ.

Tapi ketika berpaling kebelakang, tampaklah Siau Ling dengan pedang pendek terhunus tahu2 sudah menghadang jalan perginya.

Ciu Cau Liong merasa terkesiap ia merogoh kedalam sakunya, cabut keluar sebuah senjata penggaris kumala sambil putar badan ia terjang Bu Wi tootiang dengan ganasnya.

Senjata penggaris kumala berputar dia langsung membacok kebawah.

Bu Wi tootiang putar pedangnya untuk menangkis

Traaaang! senjata penggaris kumala ditangan Ciu Cau Liong terpental ke belakang.

Setelah berhasil menyampok Senjata penggaris kumala dari Ciu Cau Liong itu, Bu Wi tootiang segera putar pedang melancarkan dua buah serangan berantai.

Tu Kiu dengan senjata pit bajanya terhunus berdiri disamping kalangan sambil mengawasi gerak gerik disekitar

itu.

Siau Ling pun menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki Pek li Peng maupun Bu Wi tootiang tidak berada dibawah kepandaian Ciu Ciu Liong serta Tan Hiong Ciang maka sambil berdiri disamping kalangan diam diam ia mengatur napas untuk mengembalikan kembali tenaga murninya.

Ternyata, setelah berhasil membinasakan keempat pria baju merah itu, pemuda tersebut merasa lelah sekali.

Bu Wi Tootiang yang terlibat dalam pertempuran sengit melawan Ciu Cau Liong melayani serangan serangan musuhnya dengan ilmu Tay kek-hu kiam, cahaya pedang berkilauan memenuhi angkasa, ditengah kekerasan terselip kelembutan membuat tubuh Ji cungcu ketua dari perkampungan Pek hoa san cung ini terkepung didalam lingkaran cahaya pedang.

Pertarungan yang berlangsung antara Pek li peng melawan Tan Hiong Ciang berlangsung lebih sengit lagi kedua belah pihak sama sama mengerahkan tenaganya untuk saling berebut menyerang.

Kiranya dalam hati kecilnya, Tan Hiong Ciang secara diam diam telah mengambil keputusan untuk munembusi pertahanan lawan dan melarikan diri dikala Siau Ling sedang terlibat dalam pertempuran melawan keempat orang pria baju merah itu makanya begitu turun tangan ia berusaha merebut posisi dengan serangan berantainya.

Pek li Peng yang diteter terus dengan serangkaian serangan gencar hingga tak mampu melancarkan serangan balasan dalam hati merasa terkejut bercampur gusar, pikirnya:

"Malam ini kalau aku sampai dikalahkan oleh orang ini bukan saja toako akan jadi marah, bahkan orang lain akan memandang rendah akan diriku, bagaimanapun juga aku harus menangkan pertarungan ini."

Sejak pertama kali bertempur, gadis ini sudah kehilangan kesempatan baik dan dipaksa untuk berada dalam posisi bertahan, tetapi sebagai seorang gadis yang besar keinginannya untuk merebut kemenangan, ia tak mau mengalah terus menerus, sekuat tenaga ia balas melancarkan Serangan.

Disatu pihak berusaha keras untuk melarikan diri, dipihak lain menyerang dengan sepenuh tenaga untuk menjaga gengsinya, pertarungan berlangsung makin gesit.

Ditengah berlangsungnya pertempuran yang amat seru itu, tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati berkumandang memecah kesunyian, sebuah tusukan kilat yang dilancarkan Pek-li Peng dengan tepat berhasil menembusi dada Tan Hiong Ciang, membuat anak murid dari Shen Bok Hong itu menemui ajalnya seketika itu juga.

Ilmu silat yang dimiliki Pek li Peng sebenarnya sudah termasuk dalam deretan jago kelas satu dikolong langit, tetapi berhubung pengalamannya belum banyak maka setelah diserang Tan Hiong Ciang secara ber tubi2, ia jadi kalang kabut dan tak mampu mengembangkan kelihayannya.

Menanti gadis itu melancarkan serangan balasan dan secara beruntun melepaskan jurus2 aneh, Tan Hong Ciang berbalik jadi kelabakan dan terdesak hebat, suatu ketika pedang Pek li Peng berhasil menghujam kedalam dadanya membuat jago lihay tersebut menemui ajalnya detik itu

juga

Dalam pada itu Bu Wi tootiang telah berhasil mendesak pula diri Ciu Cau Liong sehingga terdesak hebat dan sama sekali tak berkutik.

Keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Ciu Cau Liong ia berusaha keras untuk mengempos tenaga dan putar senjata penggaris kumalanya untuk mempertahankan diri.

Pek-li Peng telah berhasil membinasakan Tan Hiong Ciang, ia segera membersihkan pedangnya diatas mayat tersebut, kemudian sambil berpaling kearah Siau Ling tanyanya :

"Jahatkah orang ini? setelah dibinasakan dirinya, apakah engkau marah?"

Siau Ling tersenyum?

"Orang ini adalah muridnya Shen Bok Hong, ilmu silatnya sangat lihay, engkau dapat membereskan jiwanya, hal ini benar2 bukan suatu pekerjaan yang gampang."

"Toakolah yang telah memberi pelajaran ilmu silat kepadaku" kata Pek-li Peng sambil tertawa.

"Ilmu silat aliran keluargamu merupakan serangkaian ilmu silat yang berdiri sendiri, aku tidak berani menerima jasanya... "

Setelah berhenti sebentar, sambil mempertinggi suaranya ia melanjutkan lebih jauh :

"Ciu Cau Liong, keempat orang bayangan darah itu sudah mampus semua, sedang Tong Lo thay thay pun sudah kutotok jalan darahnya sedang Tan Hiong Ciang menemui ajalnya dengan dada tertembus pedang, dengan andalkan kekuatanmu seorang masih ada kemampuan apa lagi yang kau miliki untuk meloloskan diri dari sini? ayoh cepat buang senjata dan menyerah kalah, kalau berani melawan lebih jauh, Tan Hiong Ciang adalah contoh yang paling baik bagimu"

Sekuat tenaga Ciu Cau Liong ayunkan senjata penggaris kumalanya untuk menangkis serangan pedang dari Bu wi tootiang, kemudian sambil putar badan ia menerjang kearah Siau Ling.

Pek li peng berebut maju kedepan pedangnya diputar dan secara beruntun ia lancar kan tiga buah serangan berantai.

Ciu Cau Liong Putar senjata penggarisnya menangkis ketiga buah serangan berantai itu meski berhasil mempertahankan diri tak urung tubuhnya telah berhasil didesak mundur sejauh dua langkah dari tempat semula.

"Peng ji !!" bisik Siau Ling dengan suara rendah, "Hentikan seranganmu, rupanya dia ada perkataan yang hendak disampaikan kepadaku ! "

Pek li peng tarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kesisi tubuh Siau Ling.

Ciu Cau Liong pun menarik kembali senjatanya, sambil menyeka keringat yang membasahi tubuhnya, perlahan lahan ia berkata:

"Siau Ling, apa yang kau lakukan untuk menghadapi diriku ... . ? "

Siau Ling tertawa ewa.

"Seandainya aku lepaskan dirimu, mungkinkah Shen Bok Hong akan menaruh curiga kepadamu?" tanyanya.

"Aku sudah bergaul selama belasan tahun lamanya dengan toa cungcu, sekalipun ia menaruh curiga kepadaku, belum tentu bisa mencelakai selembar jiwaku'

Perasaan hati Siau Ling tenang sekali, kembali tanyanya :

"Apakah engkau ingin sekali melanjutkan hidupmu dikolong

langit?"

"Semut binatang yang paling kecilpun menginginkan kehidupan, apalagi aku sebagai manusia ?? "

Kita pernah hidup berdampingan dalam jangka waktu yang cukup lama, dan selama itu sikapmu terhadap diriku cukup

baik... "

"Engkau masih dapat mengingat kebaikan ku dimasa lampau, kejadian ini jauh berbeda diluar dugaanku " sambung Ciu Cau Liong dengan cepat.

"Tetapi...walaupun sikapmu terhadap diri ku sangat baik, hal itu dikarenakan engkau mempunyai maksud tertentu, kalau dibicarakan sesungguhnya kebaikan hatimu itu bukan muncul karena hati yaug tulus dan ikhlas, sekarang mati hidup tergantung pada keputusanmu sendiri aku harap kau dapat memilih yang tepat:"

Ciu Cau Liong tertawa dingin.

"Heehhh...heehhh heehhh...engkau suruh aku menerjang

keluar dari kepungan?" ejeknya.

Siau Ling segera menggeleng.

"Aku rasa dalam hati kecilmu sendiri juga menyadari dalam keadaan seperti ini engkau tidak memiliki kemampuan untuk melarikan diri"

"Justru disitulah letak ketidakmengertianku!"

"Dalam dunia persilatan dewasa ini, orang yang paling

banyak mengetahui rahasia tentang perkampungan Pek-hoa-

san cung dan mempunyai hubungan paling erat dengan Shen

Bok Hong hanyalah engkau Ciu ji-cung cu seorang !"

"Engkau hendak suruh aku menghianati perkampungan Pek-hoa san cung dan membongkar rahasia dari Shen Bok untuk ditukar dengan keselamatan jiwaku?"

"Sedikitpun tidak salah!"

Tiba tiba Ciu Cau Liong menengadah keatas dan tertawa terbahak bahak.

"Haahh haaahhh . .haaahh engkau terlalu pandang

enteng, dan jalan pikiranmu terlalu sederhana '*

Sambil cabut keluar senjata penggarisnya, ia bersiap sedia kembali untuk melakukan pertarungan.

"Toako, engkau tak usah turun tangan sendiri" seru Pek-li

Peng dengan cepat," bagimana kalau aku saja yang

menghadapi dirinya ??''

Sambil berkata ia maju dua langkah kedepan dan siap melancarkan serangan dengan pedangnya.

"Peng-ji cepat mundur! "bentak Siau Ling dengan suara lirih.

Dalam dua tiga patah kata tersebut, Pek li Peng telah melancarkan tiga buah serangan gencar.

Ciu Cau Liong putar senjata membendung ketiga jurus serangan tersebut dalam hati pikirnya:

"Ilmu pedang yang dimiliki budak ini jauh lebih ganas dan

keji dari pada ilmu pedang dari Bu Wi tootiang aku harus baik

baik2 menjaga diri "' Berpikir sampai disitu ia lantas berseru:

"Siau Ling, apa sebabnya engkau tak berani membinasakan

diriku?"

"Aku harus menerangkan dahulu duduknya perkara hingga jelas, sehingga kalau engkau ingin mati maka engkau bisa mati dengan mata merem" kata Siau Ling ketus.

"Apa yang hendak kau katakan? cepat utarakan keluar aku akan mencuci telinga untuk mendengarkannya!"

"Seandainya engkau bersedia untuk membongkar semua rahasia dari perkampungan Pek hoa san-cung, maka akupun bersedia untuk mengusahakan suatu cara untuk menyelamatkan jiwamu dari ancaman Shen Bok Hong... "

Ciu Cau Liong termenung dan berpikir sebentar, lalu jawabnya : "Apakah caramu itu?"

Engkau akan kurubah wajahnya sehingga tak kenal orang lagi kemudian berdiam disuatu tempat yang aman, menanti kami telah berhasil membinasakan Shen Bok Hong, maka engkau bisa munculkan diri kembali dalam dunia persilatan"

"Kalian tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu" kata Ciu Cau Liong sambil menggeleng.

"Sejak dahulu sampat sekarang, belum pernah ada orang jahat yang sering melakukan kejahatan berhasil meloloskan diri dari pembalasan yang setimpal, sekarang semua orang gagah dikolong langit dan semua perguruan besar telah mendusin dari impian, sekalipun ilmu silat Shen Bok Hong lebih lihay dan kecerdikan otaknya lebih dalampun, tak mungkin ia mampu untuk beradu kekuatan dengan para orang gagah dikolong langit"

"Aku tak suka bicara kosong tanpa bukti, yang kuutamakan adalah kenyataan, bicara menurut keadaan pada saat ini, terus terang kukatakan saja bahwa kesempatan kalian untuk menangkan kekuatan kami sebenarnya kecil sekali"

"Kenapa??"

Ciu Ciu Liong termenung dan berpikir sebentar, lalu menjawab :

"Baiklah, akan kubocorkan sedikit rahasia dari pihak kami, terus terang saja kekuatan sesungguhnya dari perkumpulan Pek hoa-san cung kami pada saat ini, kian lama kian bertambah kuat, lagipula didalam setengah bulan kemudian dalam dunia persilatan terjadi perubahan yang sangat besar,

partai2 besar dengan sendirinya akan " berbicara sampai

disitu, mendadak ia membungkam dan tidak meneruskan kembali kata katanya.

"Lanjutkan perkataanmu !"seru Siau Ling dengan suara dingin.

Ciu Cau Liong segera gelengkan kepalanya.

"Aku sebagai cungcu kedua dari Perkampungan Pek-hoa

san cung sudah terlalu banyak mengikat tali permusuhan

dengan orang kangouw. Jika aku melepaskan diri dari ikatan

dengan pihak perkampungan Pek-hoa-san-cung maka orang

persilatan yang mengejar diriku serta berusaha membinasakan

diriku pasti banyak sekali, dari pada mati secara konyol

ditangan orang lain, lebih baik sekarang juga aku mati secara

gagah dan patriot !"

"Baiklah, kalau engkau memang begitu percaya pada kesuksesan yang bakal diperoleh Shen Bok Hong. akupun tidak akan menganjurkan dirimu lebih jauh mengingat pada hubungan dimasa lampau, akan kuberi suatu kematian yang utuh kepadamu. Nah, sekarang engkau boleh bunuh diri untuk menyelesaikan hidupmu sendiri"

Tiba tiba terdengar suara merdu berkumandang datang memecahkan kesunyian :

"Ciu ji cungcu tak boleh mati"

Ketika semua orang berpaling kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah Kim Hoa hujin perlahan2 sedang maju kedepan"

"Kenapa??'' tanya Siau Ling.

"Karena ia paling banyak mengetahui rahasia tentang perkampungan Pek-hoa san cung, membiarkan dia hidup jauh lebih berharga daripada membinasakan dirinya"

"Meskipun ia mengetahui banyak rahasia dari Shen Bok Hong, tetapi tidak bersedia nntuk mengatakannya keluar, apa gunanya biarkan tetap hidup? "

Kim Hoa hujin tertawa.

"Kalau engkau mengajukan pertanyaan dengan cara begini, tentu saja ia tidak bersedia untuk mengatakannya... "

Sambil membereskan rambutnya yang terurai, sambungnya lebih jauh :

"Aku sudah pernah menyaksikan Ciu ji-cungcu menyiksa musuh2nya, cara yang ia pergunakan sangat tepat dan luar biasa sekali, aku rasa kalau kita gunakan cara yang sama pula untuk mengorek keterangan dari mulutnya cara itu paling tepat sekali"

''Apakah ia mengorek keterangan dengan cara menyiksa lawannya secara keji?"

"Sedikitpun tidak salah, demikian keji dan telengas cara yang dipergunakan sehingga membuat orang yang menyaksikan jadi bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri"

Secara tiba2 ia melancarkan serangan menotok dua buah jalan darah ditubuh Ciu Cau Liong, kemudian melanjutkan :

"Kita tak boleh membiarkan dia mati!"

"Apa yang harus kita lakukan pada saat ini??"

"Kalau kita ajukan pertanyaan ditempat ini, sekalipun engkau menggunakan cara penyiksaan yang bagaimana kejipun tak mungkin ia bersedia untuk mengucapkan sepatah kata pun."

Se-akan2 telah menyadari akan sesuatu. Siau Ling segera mengangguk.

"Oooh, ! aku mengerti sudah"

"Kalau sudah mengerti, itu lebih bagus lagi... "

Sorot matanya dialihkan keatas wajah Tong Lo-thay thay yang menggeletak diatas tanah, kemudian menambahkan :

"Keadaan dari Tong Lo thay thay tidak jauh berbeda

dengan keadaanku, karena terdesak oleh keadaan mau tak mau ia harus berbuat demikian, bebaskanlah jalan darahnya"

Rupanya Siau Ling sangat menuruti perkataan dari Kim Hoa

hujin, ia segera maju ke depan dan menepuk bebas jalan darah Tong Lo thay thay yang tertotok.

Setelah jalan darahnya dibebaskan, nenek tua dari perguruan Tong dipropinsi Suchuan itu segera loncat bangun

serunya :

"Siau tayhiap, terima kasih atas bantuanmu!"

—oooQdwQooo—

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 22"

Post a Comment