coba

Budi Ksatria Jilid 20

Mode Malam
Jilid 20

MENDADAK dari luar ruangan berkumandang datang suara panggilan yang rendah dan berat : "Sau cungcu!"

"Selamanya aku tak pernah mengingkari janji" bisik Siau Ling dengan suara lirih, "setelah aku menjanjikan sesuatu kepadamu maka selamanya tak akan kusesali kembali, setelah kujanjikan pengampunan bagimu janji itu pasti akan kupenuhi, tetapi jikalau engkau berani main gila dengan aku, maka itu berarti hanya akan mencari kematian buat diri sendiri"

Tan Hiong Ciang mengangguk dan membungkam dalam seribu bahasa.

"Suruh dia masuk" bisik Siau Ling kembali.

Tan Hiong Ciang mengangguk, dan segera serunya

"Siapa diluar??"

"Aku Sam in jiu tangan pencabut nyawa Tiau Coan!!" jawab orang diluar ruangan. "Apakah Tiau heng cuma seorang diri."

"Aku datang bersama Tok hwee api racun Keng Gak, cuma Keng Gak berada diruang depan!" Siau Ling segera memberi tanda kepada Tan Hiong Ciang agar menyuruh Tiau Coan masuk kedalam ruangan.

Tan Hiong Ciang termenung sebentar, kemudian serunya "Tiau- heng, silahkan masuk kedalam!"

Bayangan manusia berkelebat lewat, Tiau Coan sambil mendorong pintu besi tahu-tahu sudah menerobos masuk kedalam ruangan.

Sebenarnya Siau Ling akan melancarkan sebuah totokan dikala orang itu masuk kedalam ruangan, akan tetapi Tiau Coan adalah seorang manusia licik yang banyak pengalaman, sikap ragu ragu dari Tan Hiong Ciang telah menimbulkan perasaan was was didalam hati kecilnya.

Dengan telapak kiri melindungi dada, tetapak kanan siap menghadapi segala kemungkinan dengan gerakan yang cepat bagaikan sambararan kilat ia segera menerjang masuk kedalam ruangan, begitu masuk telapak kanannya mengirim satu pukulan dahsyat kearah belakang.

Meskipun Siau Ling sudah banyak pengalaman dan sering kali menemui peristiwa besar, tetapi terhadap cara untuk menghindari serangan bokongan seperti ini boleh dibilang sama sekali diluar dugaan, tahu2 Tiau Coan telah berhasil menerobos masuk kedalam ruangan.

Cahaya api lirih dalam ruangan telah dipadamkan oleh Siau Ling, ditengah kegelapan yang luar biasa tubuh Tiau Coan yang sedang menerobos masuk kedalam ruangan segera tersandung oleh kaki kiri Tan Hiong Ciang yang berbaring diatas tanah sehingga tubuhnya tergelincir dan roboh kesamping.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu Siau Ling segera menerjang maju kedepan, angin pukulannya yang tajam langsung menghajar bahu kanan Tangan pencabut nyawa.

Tiau Coan tangan pencabut nyawa segera putar telapak kirinya menyambut datangnya ancaman dari Siau Ling, sedangkan tangan kanannya menghajar lambung bagian bawah dari sianak muda itu. Siau Ling segera mengerahkan tenaga dalamnya lebih hebat ditangan kanan sementara badannya bergeser dua langkah kesamping meloloskan dari dari ancaman yang datang dari arah bawah.

Tiau Coan disebut orang Tangan pencabut nyawa, hal ini dikarenakan ilmu telapaknya luar biasa sekali asal orang berani beradu tenaga dengan dirinya niscaya pihak lawan akan terluka diujung telapaknya, akan tetapi musuh yang sedang dihadapnya pada saat ini adalah Siau Ling, tentu saja dialah yang mengalami kerugian besar.

Sepasang telapak tangan saling beradu satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara benturan keras.

Pada telapak Siau Ling mengenakan sarung tangan kulit naga, ia tak takut keracunan, dalam bentrokan tersebut seketika itu juga Tiau Coan merasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras ia mendengus berat dan tubuhnya tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Tan Hiong Ciang yang berbaring diatas tanah dapat menyaksikan jalannya pertarungan itu dengan amat jelas, diam-diam hatinya merasa amat terkejut, pikirnya

"Oooh ilmu silat yang dimilikinya ternyata sudah bertambah maju dengan pesatnya ."

Sesudah ayunan telapak kanan Siau Ling berhasil melukai Tiau Coan, tangan kirinya laksana kilat melancarkan sebuah totokan menghantam jalan darah jit gwat hiat diiga kanan Tiau Coan.

Sementara Tangan pencabut nyawa sedang merasakan kepalanya pening tujuh keliling. Totokan jari tangan kiri Siau Ling sudah meluncur datang membuat ia sama sekali tak dapat berkutik lagi.

"Tiau Coan!", bentak Siau Ling dengan ketus, "engkau ingin mati atau ingin hidup!"

Sambil berkata pergelangan kanan orang she Tiau itu segera dicengkeram dengan kencang.

Tiau Coan merasakan matanya masih berkunang-kungan dan kepalanya pusing tujuh keliling, lama sekali golakan darah dalam tubuhnya baru bisa ditenangkan kembali, ia segera menjawab,

"Kalau ingin mati bagaimana? Dan kalau ingin hidup bagaimana?"

"Kalau engkau ingin mati, sekali hantam kubinasakan dirimu, sebaliknya kalau engkau ingin hidup, haruslah mendengar perkataanku!"

Dalam keadaan yang jauh lebih tenang Tangan pencabut nyawa Tiau Coan dapat pula melihat keadaan disekelilingnya dengan jauh lebih jelas, ketika menyaksikan Tan Hiong Ciang roboh terkapar diatas tanah segera tegurnya..

"Apakah sau cungcu?"

Tan Hiong Ciang segera berpikir didalam hati kecilnya,

"Peristiwa yang amat memalukan ini dapat dilihat olehnya, sesudah tinggalkan tempat ini aku harus berusaha keras untuk melenyapkan dirinya dari muka bumi, daripada kejelekanku ini tersiar sampai dimana-mana.. "

Berpikir sampai disini, iapun menjawab,

"Sedikitpun tidak salah"

Siau Ling segera menarik tangan kanan lawan dengan sekuatnya membuat tulang pergelangan Tiau Coan patah jadi dua, saking sakitnya keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi wajah orang she Tiau itu membuat ia berseru tertahan.

"Aah....! Rupanya ia jauh lebih tersiksa daripada diriku" kembali Tan Hiong Ciang berpikir.

Dalam pada itu sambil menahan sakit Tiau Coan telah menengadah memandang wajah Siau Ling, kemudian tegurnya :

"Siapakah engkau?"

"Pencabut nyawa!"

Tiau Coan tertegun, kemudian serunya kembali, "Sau cungcu, siapakah orang ini?"

Meskipun ia merasakan kesakitan yang luar biasa, namun berhubung Tan Hiong Ciang berada disitu, ia tak berani mengutarakan kata-kata untuk minta diampuni jiwanya. Tan Hiong Ciang sendiripun dalam hatinya berpikir.

"Siau Ling tak mau menyebut namanya itu berarti ia tak ingin asal usulnya diketahui orang, terpaksa aku harus ikut merahasiakannya." Berpikir demikian, diapun lantas berkata..

"Aku sendiripun kurang jelas, panggil saja pencabut nyawa bukankah sudah beres ?"

"Pencabut nyawa? Sungguh tak enak didengar.. " pikir Tiau Coan, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa serunya, "Pencabut nyawa."

Siau Ling memperkencang cekalannya membuat Tiau Coan kesakitan hingga membungkam dalam seribu bahasa.

"Perlahan sedikit kalau bicara!" seru Siau Ling.

"Sau cungcu, apa yang harus kulakukan pada saat ini? Harap sau cungcu suka memberi petunjuk" pinta Tiau Coan kemudian.

"Peraturan dari perkampungan Pek hoa san cung kita amat ketat dank eras, barang siapa berani membocorkan rahasia dapat berakibat dijatuhi hukuman siksaan yang terkejam dikolong langit, lagipula engkau toh tidak banyak mengetahui rahasia, kalau pihak lawan gagal untuk memperoleh keterangan yang benar, engkau pun pasti akan disiksa pula mati-matian, kalau engkau tidak ingin merasakan yang kejam, aku rasa lebih baik engkau mencari kematian buat dirimu sendiri saja"

Ucapan ini benar-benar amat keji sekali, meskipun diluaran nampaknya ia merasa kasihan terhadap rekannya dan takut Tiau Coan tak kuat menahan siksaan, diam-diam dia memberi kisikan kepada Tiau Coan agar bunuh diri saja.

Dan yang paling kejam lagi ia telah memberi kisikan kepada Siau Ling bahwasanya tidak banyak rahasia yang diketahui oleh Tiau Coan, dia anjurkan kepada pemuda itu agar membinasakan dirinya saja.

Siau Ling sendiri walaupun cerdik, namun dia adalah seorang manusia jujur karena itu ucapan dari Tan Hiong Ciang tersebut tak dapat ditangkap arti sebenarnya.

Lain halnya dengan Tiau Coan yang licik dan banyak pengalaman, tentu saja dia dapat menangkap maksud dari ucapan orang she Tan itu.

Sambil tertawa dingin segera sindirnya,

"Siau cungcu apakah engkau suruh aku bunuh diri?"

"Kalau engkau merasa yakin bisa menahan siksaan tidak matipun tidak mengapa!" Siau Ling segera menggoyangkan tangan kanannya, kembali Tiau Coan merasakan kesakitan hebat sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

"Tiau Coan!" ia berseru, "pada saat ini mati hidupmu berada dalam genggamanku, engkau tak usah minta petunjuk dari sau cungcumu lagi!"

Jalan darah Tiau Coan tertotok sehingga tak mampu baginya untuk menggerakkan tenaga melawan rasa sakit yang menyerang tubuhnya, terpaksa dia berkata..

"Sau cungcu, pada saat ini aku sudah sama sekali kehilangan daya kemampuan untuk bunuh

diri."

Setelah berhenti sebentar, terusnya, "Pencabut nyawa, apa yang kau inginkan??" "Sekarang Shen Bok Hong berada dimana?" "Tentang hal ini aku kurang begitu tahu!"

"Berapa banyak orang yang berada dalam kota Tiang sah ini?" kembali Siau Ling bertanya dengan alis mata berkernyit.

"Tentang soal ini akupun kurang begitu jelas!" "Benarkah engkau tidak tahu apa2"

Sambil berkata, tangan kanannya kembali menggoyang tulang pergelangan Tiau Coan yang patah.

Orang she Tiau itu kontan saja kesakitan hebat sehingga napasnya terengah-engah, serunya "Aku benar-benar tidak tahu berapakah jumlah keseluruhannya." "Lalu apa yang kau ketahui?"

"Aku hanya tahu tentang beberapa orang yang berada satu rombongan dengan diriku saja." "Baik! Katakanlah, berapa jumlah anggota rombonganmu, dan siapakah komandannya?" "Kami semuanya dua belas orang, Seng Sam Koay locianpwee yang menjadi komandan kami" "Sekarang mereka berada dimana?" "Dalam kuil Pek in koan sebelah barat kota Tiang sah."

"Kuil Pek in koan.. "

Benar aku serta Keng Gak mendapat tugas dari Seng Sam Koay untuk datang kemari menghadap sau cungcu."

Mendadak Tan Hiong Ciang berbatuk beberapa kali. Mendengar suara batu itu buru-buru Tiau Coan tutup mulut Siau Ling segera tertawa dingin, ejeknya. "Sau cungcu, rupanya engkau sudah bosan hidup??"

Sebuah tendangan keras segera dilancarkan keatas tubuh orang she Tan tersebut. Tubuh Tan Hiong Ciang segera berguling guling sejauh empat depa lebih dan menumbuk diatas dinding tembok, namun mulutnya tetap membungkam. Rupanya Siau Ling menotok jalan darah bisunya.

"Apakah dia sudah mati?" Tanya Tiau Coan setelah suasana hening sejenak. "Mungkin saja dia sudah mampus!" jawab Siau Ling dengan nada dingin dan kaku, "lanjutkan perkataanmu apa tujuan kalian datang kemari dan apa yang hendak diserahkan kepada Tan Hiong

Ciang??"

"Seng Sam Koay serahkan kami sepucuk surat dan diperintahkan kepada kami untuk menyerahkan langsung kepada sau cungcu" "Serahkan kepadaku!"

Tiau Coan merasakan tulang pergelangan kanannya amat sakit akibat dipatahkan oleh Siau Ling tadi, terpaksa dengan menggunakan tangan kirinya, ia rogoh kedalam saku dan ambil keluar sepucuk surat yang diserahkan kepada pemuda itu..

Dalam pada itu, Tiau Coan mengira Tan Hiong Ciang sudah mati ditendang oleh Siau Ling, karena itu rasa takut dan was-wasnya jauh sudah lebih berkurang.

Mimpipun ia tak menyangka kalau Tan Hiong Ciang Cuma ditendang jalan darah bisunya saja sehingga tak dapat berbicara, sementara sepasang matanya sedang melotot tajam kearah dirinya.

Siau Ling menerima sampul surat itu lantas bertanya,

"Engkau membawa korek api?"

"Bawa"

"Baik, pasang lilin itu!"

Setelah merasakan pahit getirnya serangan dari Siau Ling, terhadap pemuda ini boleh dibilang Tiau Coan menaruh jeri dan segan yang luar biasa, dalam keadaan begini tentu saja ia tak berani mempergunakan akal licik atau siasat buruk untuk mempermainkan pemuda itu setelah ambil keluar korek api, ia segera memasang lilin.

Mempergunakan kesempatan dikala Tiau Coan memasang api lilin, Siau Ling menutup kembali pintu baja tersebut..

Kemudian dibawah sorot cahaya lilin, ia membaca sampul surat tersebut, terbaca olehnya, "Surat ditujukan kepada Shen toa cungcu dengan perantara sau cungcu" Siau Ling segera merobek sampul tadi dan membaca isinya,

"Dipersembahkan kepada yang mulia Shen Bok Hong toa cungcu. kecerdasan toa

cungcu luar biasa dan benar2 patut dipuja, ketika hamba sekalian melaksanakan siasat seperti apa yang dipesan, ternyata hasil yang diperoleh sangat diluar dugaan, Siau yau cu telah mengutus para jago lihaynya untuk bergerak, apabila urusan berjalan lancer dan sesuai dengan rencana, dalam dua hari mendatang mereka pasti sudah akan saling bertempur dengan serunya melawan orang2 dari pihak partai Bu tong."

Isi surat tersebut amat singkat dan hanya terdiri dari beberapa patah kata, namun penuh dengan siasat busuk dan kekejian hati yang luar biasa.

Selesai membaca isi surat tadi, Siau Ling segera tertawa dingin dan berkata,

"Hmmm! Suatu siasat yang keji dan telengas.. "

Setelah masukan kembali surat tadi kedalam sampul, ia masukan kedalam sakunya. Tiau Coan menyaksikan hal itu jadi tertegun, serunya, "Engkau hendak membawa pergi surat tersebut?"

Siau Ling tidak menanggapi pertanyaan tersebut, sebaliknya dia malahan balik bertanya, "Engkau tahu apa isi surat tersebut?" Tiau Coan menggeleng.

"Aku toh belum membacanya, darimana bisa tahu?" sahutnya.

"Apa yang engkau ketahui? Aku harap engkau bersedia untuk mengakuinya secara terus terang!"

"Apa yang kuketahui tak terlalu banyak.. " "Engkau tahu sepatah katakan saja sepatah kata." "Dalam hal yang bagaimana?" "Mengenai gerakan yang kau ikuti hingga sekarang!"

"Kedudukanku rendah sekali, tiada kesempatan bagiku untuk ikut serta membahas rencana dan siasat, oleh karena itu bagaimanakah rencana mereka, aku sama sekali tak tahu!" Mendengar jawaban tersebut, Siau Ling berpikir didalam hati,

"Shen Bok Hong berhasil mencapai kejayaan seperti apa yang dimilikinya sekarang, sebagian besar adalah mengandalkan ilmu silatnya yang lihay, cara kerjanya yang keji dan telengas, namun kerahasiaan cara gerak merekapun merupakan salah satu alasan yang terpenting, ditinjau dari isi surat yang tiada ujung pangkalnya itu sudah dapat diketahui betapa rahasianya cara mereka bekerja, mungkin orang yang bernama Tiau Coan itu memang benar2 tidak tahu duduknya perkara.. "

Berpikir sampai disitu, diapun tidak bertanya lebih jauh lagi, setelah mendehem ringan katanya, "Tiau Coan, sepanjang hidupmu sudah terlalu banyak kejahatan yang pernah kau lakukan, orang yang kau bunuhpun sudah tak terhitung jumlahnya, ini hari setelah engkau terjatuh ketanganku, rasanya itulah saatnya bagimu untuk menerima pembalasan!"

"Kenapa?" teriak Tiau Coan dengan wajah berubah hebat, "engkau hendak membinasakan

diriku?"

"Jadi engkau tidak ingin mati?"

"Semut, makhluk paling kecil dikolong langitpun ingin hidup lebih lanjut apalagi aku adalah manusia.?"

Siau Ling pun lantas berpikir.

"Manusia-manusia semacam ini sekalipun kubinasakan delapan atau sepuluh orang rasanya tidak akan mendatangkan pengaruh apa-apa bagi diri Shen Bok Hong aku harus cari akal untuk

mengendalikan pikirannya dengan begitu maka perbuatanku ini jauh lebih bagus daripada membinasakan dirinya." Pemuda itu segera berkata,

"Kalau engkau tidak ingin mati hanya ada satu jalan yang bisa ditempuh!"

"Coba katakanlah apa caramu itu?"

"Mulai sekarang engkau harus mendengarkan perintahku!"

"Kendatipun aku setuju belum tentu engkau bersedia untuk mempercayai diriku!"

"Tentu saja aku tak akan mempercayai dirimu dengan begitu saja!"

"Lalu apa yang harus kulakukan sehingga dapat membuat engkau mempercayai diriku ?"

"Serahkan saja mati hidupmu itu ketanganku !"

"Bagaimana caranya untuk menyerahkan kepadamu ?"

Siau Ling termenung dan berpikir beberapa saat lamanya setelah itu menjawab

"Akan kutotok sebuah jalan darah anehmu yang letaknya diluar garis otot lainnya, setiap tujuh hari satu kali engkau harus mendapat urutan dariku untuk memperpanjang masa hidupmu jika didalam tujuh hari engkau tidak memperoleh rawatan maka darah yang mengalir dalam tubuhmu akan tersumbat hingga mengeras dan menggumpal separuh tubuhmu akan jadi lumpuh hingga akhirnya mati secara perlahan lahan"

"Masa begitu lihay akibatnya ?"

"Aku harap engkau bersedia untuk mempercayai perkataanku untung lima hari kemudian engkau akan merasakan sendiri apa yang kukatakan barusan, pada waktu itulah engkau akan mempercayai dengan sendirinya.

Selesai berkata, ia segera melancarkan sebuah totokan keatas tubuh Tiau Coan serta membebaskan jalan darah Jit gwat hiatnya yang tertotok, setelah menyambung kembali pergelangannya yang patah dan serahkan kembali surat tadi ketangan Tiau Coan, ia padamkan lampu lilin, berpesan beberapa patah kata dengan suara lirih kemudian orang itu baru dilepaskan dari ruangan tersebut.

Selesai melepaskan Tiau Coan, pemuda Siau Ling baru memasang lampu kembali dan menepuk bebas jalan darah bisu dari Tan Hong Tiang, tegurnya "Sudah kau lihat semua yang terjadi?"

"Sudah!"

"Bagaimana perasaanmu?"

"Tiau Coan maupun Keng Gak cuma kurcaci2 depan pintu yang sama sekali tidak berperanan besar, kematian mereka sama sekali takkan mempengaruhi keadaan situasi dalam dunia persilatan, Siau tayhiap ! aku benar2 merasa tidak habis mengerti, apa sebab nya engkau malah melepaskan mereka untuk pergi dari sini"

"Karena membinasakan mereka sama sekali tidak mendatangkan keuntungan apa apa bagiku, karena itu hendak kusuruh mereka untuk melakukan pekerjaan yang jauh lebih penting daripada membinasakan mereka"

"Dengan kedudukan mereka dalam perkampungan tak mungkin ada kesempatan baik bagi orang-orang semacam itu untuk ikut serta dalam perundingan rahasia, lagipula perkampungan Pek hoa san cung kami memnpunyai peraturan rumah tangga yang amat ketat, asal mereka berani berhianat maka hukuman mati yang mengerikan sudah siap akan mereka terima Hmm! kalau engkau hendak gunakan mereka sebagai mata-mata maka pilihanmu itu sama sekali tidak sesuai"

"Karena itulah, aku hendak mengandalkan jasamu", sambung Siau Ling dengan cepat.

"Apa rencanamu"

"Bagaimana dengan ilmu penyaruanku ini ??"

Tan Hiong Ciang mengamati Siau Ling beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Lihay dan sempurna sekali !"

"Engkau boleh beritahu kepadaku baiknya aku menyamar sebagai manusia macam apa

sehingga bisa mengikuti dirimu untuk pergi menemui Shen Bok Hong "

Tan Hiong Ciang tersenyum.

"Engkau tidak takut kalau aku menghianati dirimu?"

"Engkau tak usah kuatir, aku bisa berjaga jaga terhadap penghianatanmu itu!" Tan Hiong Ciang termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya

"Baiklah! kalau engkau memang mempunyai keberanian untuk berbuat demikian, terpaksa akupun harus mengabulkan permintaanmu itu"

Siau Ling pun segera menepuk bebas jalan darah Tan Hiong Ciang yang tertotok, katanya "Ada satu persoalan, aku harus menerang kan lebih dahulu kepadamu!" "Persoalan apa!? "

"Aku mengikuti dirimu untuk berjumpa dengan suhumu, itu sama artinya memasuki sarang

naga gua harimau bagi diriku "

"Kalau engkau menyesal sekarang masih ada kesempatan bagimu untuk berubah pikiran" seru orang she Tan itu dengan cepat.

"Persoalan yang telah kuputuskan selamanya tak pernah kusesalkan kembali cuma di bawah kurungan berpuluh puluh orang jago lihay membuat aku sendiri mau tak mau terpaksa harus melakukan sedikit persiapan"

Kendatipun seluruh jalan darah ditubuh Tan Hiong Ciang sudah dibebaskan semua namun ia tahu bahwa ilmu silatnya masih bukan tandingan dari Siau Ling, maka ia tak berani berkutik secara sembarangan

Mendengar perkataan itu, dengan alis mata berkernyit, tanyanya, "Persiapin apa yang hendak kau lakukan?"

"Mula-mula akan kutotok dahulu dua buah jalan darahmu sehingga engkau tak mampu untuk mengerahkan tenaga dalam"

"Apa manfaatnya hal itu bagimu ?"

"Kalau engkau berani menghianati diriku maka engkau akan kubinasakan lebih dahulu, dalam keadaan tak bisa mengerahkan tenaga tentu saja engkau tak dapat meloloskan diri dari seranganku itu"

Tan Hiong Ciang mengangguk tanda membenarkan, tanyanya lagi, "Disamping itu, apa yang hendak kau lakukan lagi??"

"Sesudah itu, dengan cara menotok jalan darah yang istimewa akan kutotok dua buah urat anehmu, dalam dua jam kalau tidak mendapat pengobatan maka uratnya akan kaku dan tegang dimana akhirnya jiwamu akan melayang"

"Kenapa engkau lakukan tindakan semacam itu?" tanya Tan Hiong Ciang dengan hati terperanjat,

"Dengan begitu, bagaimana pun juga engkau terpaksa harus datang untuk mencari aku" "Sempurna amat jalan pikiranmu," puji Tan Hiong Ciang.

Baru berbicara sampai disitu, mendadak terdengar suara ketukan pintu yang gencar berkumandang dari arah depan pintu besi.

Mendengar suara ketukan itu, Siau Ling mengerutkan dahinya, dengan suara lirih dia bertanya,

"Siapa yang mengeruk pintu diluar?"

Tan Hiong Ciang gelengkan kepalanya tanda tidak mengerti

"Aku mana tahu siapa orang itu?" katanya, "engkau sih bertindak terlalu gegabah, tidak sepantasnya kau lepaskan Tiau Coan dari sini"

"Aku rasa dia tak akan punya nyali untuk berkunjung ketempat ini!"

Suara ketukan bergema semakin santer, dan suara itupun kian lama kian bertambah keras.

"Apakah kita perlu membukakan pintu baginya?" tanya Tan Hiong Ciang dengan suara rendah.

Dengan tangan kirinya Siau Ling segera mencengkeram urat nadi pada pergelangan kanan Tan Hiong Ciang, bisiknya dengan suara lirih

"Lebih baik jangan biarkan orang itu masuk kedalam ruangan, tapi seandainya orang itu bersikeras untuk masuk kedalam maka engkau harus berusaha untuk menotok jalan darahnya secara tiba2!"

Tan Hiong Ciang menatap tajam wajah Siau Ling, kemudian mengangguk. Sementara itu suara ketukan pintu dari luar telah berhenti, rupanya sedang menunggu reaksi dari daLam ruangan.

Siau Ling tuding kearah pintu besi itu memberi tanda kepada pria she Tan itu untuk membuka pintu.

Dengan tangan kirinya Tan Hiong Ciang membuka pintu besi itu separuh bagian. sedang tubuhnya segera menghadang didepan pintu seraya berseru

"Oooh...aku kira siapa, tak tahunya adalah hujin"

Dan luar dugaan berkumandang datang suara gelak tertawa merdu, disusul suara seorang perempuan menyahut,

"Sau cungcu kenapa sih pintu besi itu kau tutup begitu rapat? sudah setengah harian lamanya

aku mengetuk pintu namun sampai sekarang engkau baru membukakan bagiku apa yang sedang

kau lakukan dalam ruangan ini ??"

Nada ucapan tersebut penuh mengandung ejekan dan sindiran, sama sekali tak ada tanda sikap kehormatan ataupun segan, dan suara itu ternyata suara dari Kim Hoa hujin

Satu ingatan berkelebat dalam benak Siau Ling, pikirnya.

Malam itu Kim Hoa hujin dan Tong lo thay thay dari propinsi Suchuan mengejar Shen Bok Hong dengan maksud untuk membinasakan gembong iblis tersebut kenapa sekarang mereka bisa muncul kembali dipihak perkampungan Pek hoa san cung ? Shen Bok Hong adalah seorang manusia berpikiran sempit setelah Kim Hoa Hujin berhianat kepadanya secara terang terangan masa ia bisa menahan sabar?"

Dia merasa bahwa persoalan ini mencurigakan sekali meskipun sudah putar otak beberapa waktu lamanya namun gagal untuk memperoleh jawabannya.

Sementara itu Tan Hiong Ciang telah berkata

"Aku sedang membicarakan suatu masalah yang menyangkut rahasia perkampungan dengan seorang sahabat apa maksudmu kemari"

"Oooh ! siapa sih sahabatmu itu, bolehkah diperkenalkan kepadaku ?"

"Nona tak usah melihat lagi siapakah orang itu aku harus segera lanjutkan perundinganku dengan orang itu", sambil berkata ia menarik kembali pintu besi itu dan siap menutupnya kembali.

Tiba tiba Kim Hoa Hujin mengulurkan tangan kanannya menahan pintu besi tersebut ujarnya perlahan-lahan,

"Sau cungcu, kedatanganku kemari adalah sedang melaksanakan perintah resmi" "Perintah siapa ?"

"Tentu saja perintah dari Shen Toa cung cu!"

Tan Hiong Ciang termenung sebentar, lalu tanyanya, "Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Bagaimana kalau tunggu sampai aku masuk kedalam ruangan lebih dahulu kemudian kita baru berbicara?" kata Kim Hoa hujin sambil tertawa.

Hawa murninya disalurkan ketangan kanan untuk mendorong pintu besi itu, kemudian sekali berkelebat ia menerjang masuk ke dalam ruangan secara paksa.

Urat nadi pada pergelangan kanan Tan Hiong Ciang dicengkeram Siau Ling, dengan andalkan tangan kiri belaka sudah tentu bukan tandingan dari Kim Hoa hujin, melihat perempuan itu berhasil menerjang masuk ke dalam ruangan, terpaksa ia tarik kembali tangan kirinya dan secepat kilat menotok dada kanan lawannya.

Kim Hoa hujin putar tangan kanan menyambut datangnya pukulan dari Tan Hiong Ciang, lalu sambil tertawa ujarnya

"Sau cungcu kenapa sih engkau turun tangan sekeji ini terhadap diriku...??"

Tan Hiong Ciang mengirim satu tendangan dengan kaki kirinya untuk menutup pintu besi itu, membuat suasana dalam ruangan itu jadi gelap gulita.

Tetapi ia tidak melancarkan serangan lagi kearah Kim Hoa Hujin.

Kiranya ia menyadari bahwa kekuatannya telah ludas dan Siau Ling tak mungkin akan melepaskan Kim Hoa hujin dengan begitu saja, dengan kepandaian silat yang dimiliki perempuan itu, belum tentu Siau Ling bisa menangkan dirinya dalam dua tiga puluh gebrakkan, asal pemuda itu sudah mengerahkan tenaganya untuk melawan Kim Hoa hujin maka dengan sendirinya cengkeraman atas urat nadi dirinya pun akan dilepaskan.

Siap tahu apa yang terjadi sama sekali berada diluar dugaannya, Siau Ling hanya berpeluk tangan belaka berdiri disamping, sementara cengkeramannya atas nadi dirinya sama sekali tak berubah.

Ruangan itu gelap gulita, walau pun Kim Hoa hujin memiliki ketajaman mata yang melebihi orang pun susah untuk melihat pandangan dalam ruangan itu, apalagi baru saja ia masuk dari tempat yang terang benderang.

Ketika Tan Hiong Ciang tidak melihat sesuatu gerakan apapun dari Siau Ling, terpaksa sambil keraskan kepala dia berseru

"Hujin, aku harap engkau suka melepaskan lengan kiriku!"

"Hmm! Gaya sau cungcumu boleh saja kau pamerkan dihadapan orang lain, tetapi aku tak sudi menerima perlakuanmu yang unik tersebut, sebenarnya apa maksudmu turun tangan melukai jalan darahku?"

"Dengan tangan kanan dia balas mencengkeram urat nadi pada pergelangan kiri Tan Hiong Ciang, sedangkan tangan kirinya memasang api.

Dibawah sorot cahaya api, pemandangan dalam ruangan kelihatan amat jelas, terlihat olehnya lengan kanan Tan Hiong Ciang ternyata kena dicengkeram oleh seseorang.

Wajah Siau Ling sudah dirubah dengan obat penyamar sekilas memandang sudah tentu Kim Hoa Hujin tak bisa kenali siapakah lawannya, tetapi reaksinya ternyata sangat cepat, sesudah mengetahui keadaan yang terpapar didepan mata, ia segera melepaskan cengkeramannya pada nadi orang she Tan itu, kemudian telapaknya bagaikan hembusan angin melancarkan serangan kearah Siau Ling.

Pemuda itu dengan cepat menghindar kesamping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut sementara Tan Hiong Ciang ditarik kedepan untuk menghadang didepan tubuhnya.

Kim hoa hujin putar tangan kirinya menyambar dengan lilin didalam genggamannya, sedang tangan yang lainpun pada saat yang bersamaan menyerang secara berbareng.

Siau Ling tetap berkelit dan menghindari itu, dengan tubuh Tan Hiong Ciang ia tangkis dan mengunci semua serangan dari Kim Hoa hujin yang ditujukan kearahnya, tak satu jurus seranganpun yang dilancarkan.

Secara beruntun Kim Hoa hujin melancarkan puluhan jurus serangan, namun semua ancamannya gagal untuk melukai Siau Ling, sekarang dia baru menyadari bahwa musuh yang sedang dihadapi tangguh sekali, serangannya segera ditarik kembali sambil mundur kebelakang, tegurnya dengan suara dingin,

"Siapa engkau??"

"Aku adalah Siau Ling!"

"Engkau adalah Siau Ling? tanya Kim Hoa Hujin tertegun. "Benar, apakah hujin tidak percaya?"

Dengan pandangan tajam Kim Hoa hujin menatap tajam wajah Siau Ling, sesudah

mengamatinya beberapa waktu ia berkata

"Ehmm... ! suaranya memang mirip"

"Hujin, rupanya hidupmu kembali makmur dan senang "

"Aaaai .. ! " Kim Hoa hujin menghela napas panjang, " mati karena keinginan hati gampang, mati karena membela kebenaran susah sekarang cici sudah dapat memahami kata2 tersebut"

"Kematian hanya akan dialami manusia sekali dalam seumur hidup, dan sedari dahulu orang kuno sudah saling mengatakan demikian, karena itulah Sau cungcu ini setelah berpikir dengan seksama, ia beranggapan lebih baik mengalah daripada mati... "

Tan Hiong Ciang segera mendehem ringan, tcgurnya

"Ehmm... ! hubungan kalian berdua sungguh akrab sekali"

"Sedikitpun tidak salah" jawab Siau Ling sambil tertawa dingin, "sau cungcu tak usah kuatir Kim Hoa hujin tak akan membocorkan rahasia yang terjadi pada hari ini, bagaimana kalau kita tetap melasanakan rencana seperti apa yang disusun semula?"

"Kim Hoa hujin mendapat perintah dari guruku untuk datang kemari, itu berarti bahwa ia membawa tugas penting, mungkin sudah terjadi perubahan besar dan guruku telah meninggatkan kota Tiang sah"

Mendengar perkataan itu, Siau Ling mengerutkan dahinya, fa berkata,

"Seandainya Shen Bok Hong memang benar2 sudah tinggalkan kota Tiang sah, itu berarti

perjanjian kita semula juga batal, rasanya akupun tak usah menahan kehidupanmu lebih jauh

dikolong langit ini"

Tan Hiong Ciang tak berani banyak bicara, bibirnya yang bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu segera tertutup kembali

"Apa yang diucapkan Tan Hiong Ciang sedikitpun tidak salah" sambung Kim Hoa Hujin, "Shen Bok Hong benar-benar akan meninggalkan kota Tiang sah

"Sudah berangkat ?"

"Ketika aku berangkat kemari dia sih belum berangkat !" "Apakah cici tahu kemana dia akan pergi ?" Kim hujin gelengkan kepalanya.

"Aku rasa ia berhasil mendapatkan kabar penting sehingga secara tiba tiba berubah rencana dan segera tinggalkan kota Tiang sah"



Siau Ling mengangguk sorot matanya perlahan-lahan diaLihkan kearah pria she Tan itu dan serunya,

"Tan Hiong Ciang, sekarang katakanlah sendiri hukuman apa yang sepantasnya dijatuhkan atas dirimu ?"

"Apa yarng kusanggupi semuanya telah kulakukan dengan sepenuh tenaga, jika tidak berhasil toh bukannya aku yang tak mau berusaha, tapi karena kekuatankulah yang terbatas hingga tak bisa berbuat apa apa, Siau tayhiap engkau harus berpikir secara bijaksana !"

"Jadi kalau begitu apa yang kita bicarakan tadi masih berlaku?"

"Tentu saja masih berlaku!"

"Baik! kalau memang Shen Bok Hong sudah pergi, akupun sudah sepantasnya untuk berkunjung beberapa tempat kantor cabang yang terletak amat rahasia itu, bsgaimana pendapatmu? bersedia untuk mengantar bukan...?"

"Kenapa Kim Hoa Hujin," ujarnya lebih jauh

"Apakah beberapa orang pentolan penting dari perkampungan Pek hoa-san cung telah meninggalkan kota Tiang sah semua?"

"Tidak" jawab Kim Hoa Hujin sambil menggeleng, " hanya Shen Bok Hong seorang yang tinggalkan tempat ini"

Siau Ling segera alihkan pula sorot matanya keatas wajah Tan Hiong Ciang dan berkata

"Setelah Shen Bok Hong meninggalkan kota Tiang sah, bukankah engkau dengan kedudukanmu sebagai sau cungcu dapat memberi perintah kepada semua pihak?!"

Tan Hiong Ciang menggeleng.

"Tidak, dalam mengatur semua masalah suhuku bekerja secara teliti dan cermat, kalau dihitung maka kawanan jago dari pe kampungan Pek hoa san cung yang rata2 memiliki ilmu silat sangat lihay itu adalah angkatan yang lebih tua semua daripada diriku, kalau suruh mereka semua mendengarkan perintahku sudah tentu tidak mungkin terjadi"

"Hmn! aku sih tidak bermaksud untuk memerintah mereka, aku hanya mengharap agar engkau bersedia membawa aku untuk melihat-lihat penjaggan yang diatur dikota gurumu Tiang sah ini serta berapa besar kekuatan yang ditinggalkan disini, selama Shen Bok Hong masih ada dikota Tiang sah mungkin engkau agak jeri dan segan terhadap dirinya, sekarang setelah ia pergi, dengan kedudukan sebagai sau cungcu rasanya kita bisa pergi mengadakan pemeriksaan secara terang2an bukan?"

Tan Hiong Ciang melirik sekejap kearah Kim Hoa Hujin, lalu berkata

"Tapi sayang hujin tak bersedia untuk bekerja sama dengan aku, kalau bisa bekerja sama mungkin tidak susah buat kita untuk menaklukan Siau Ling"

"Kalau aku bekerja sama dengan dirimu, itu berarti hanya akan mengantar nyawamu belaka"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

"llmu silat yang dimiliki Siau Ling lihay sekali, kita berdua bukan tandingannya, kalau kita terlalu memaksa dirinya maka dia pasti akan membinasakan dirimu lebih dahulu" "Benar juga perkataan dan hujin... "

Sorot matanya segera dialihkan kearah Siau Ling dan menyambung lebih lanjut "Siau tayhiap, memang tidak sulit bagiku untuk membawa engkau berkunjung kemarkas penjagaan yang diatur oleh guruku, tetapi tindakan kita ini makin rahasia semakin baik, kalau sampai rahasianya bocor maka bukan saja tidak akan menguntungkan diriku, bagi Siau tayhiap pun tiadk mengunungkan"

"Maksud dari perkataan itu sudah jelas sekali, yakni dia menganjurkan kepada Siau Ling agar membunuh Kim Hoa hujin untuk melenyapkan saksi.

Sudah tentu Siau Ling dapat memahami perkataanya itu, namun ia pura2 berlagak bodoh, tanyanya

"Oooh...! jadi maksudmu, engkau hendak suruh aku membinasakan Kim Hoa Hujin untuk melenyapkan saksi?"

Ucapan yang diutarakan secara blak-blakan dan dan terus terang ini sama sekali berada diluar dugaan Tan Hiong Ciang, tanpa terasa berdiri tertegun.

"Aku sih hanya ingin memperingatkan diri Siau tayhiap belaka " katanya kemudian, "Bagaimana cara penyelesaiannya, itu sih terserah pada keputusan Siau tayhiap sendiri"

"Aku rasa hal itu tidak perlu!" kata Siau Ling sambil tertawa ewa.

Tan Hiong Ciang segera berpaling dan memandang sekejap kearah Kim Hoa hujin, nampak olehnya wajah perempuan itu seperti sedang tertawa tapi bukan tertawa, sedang dipikirkan olehnya maka diapun berkata:

"Kalau, memang begitu, mari kita berangkat sekarang juga!"

"Baik, tetapi sebelum itu aku hendak menerangkan kembali beberapa persoalan kepadamu" "Akan kudengarkan dengan baik2!"

"Sesudah Shen Bok Hong berlalu dari kota ini, maka jago2 perkampungan Pek hoa san cung kalian yang mampu menandingi diriku boleh dibilang jarang sekali aku harap Sau-cungcu suka menyayangi jiwamu secara baik-baik, janganlah berusaha untuk main gila atau tunjukkan hal2 yang lain sebab setelah kutinjau kekuatan kalian yang benarnya maka aku akan segera berlalu tanpa mengganggu mereka barang seujung rambutpun"

"Apabila sebelum kedatangan kita rahasia tersebut sudah keburu bocor hingga terjadi perubahan diluar dugaan, engkau jangan menyalahkan diriku lho...!"

"Aku punya mata bisa melihat asal persoalan itu tiada sangkut pautnya dengan dirimu tentu saja aku tidak akan menyalahkan engkau"

"Persoalan tak dapat ditunda-tunda lagi bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat?"

"Apakah aku mengenakan pakaian saja?"

Tan Hiong Ciang termenung dan berpikir sebentar kemudian menjawab,

"Apabila engkau bersedia membuang jenggot palsumu dan berganti dengan pakaian ringkas lalu membubuhi kembali obat penyamar diatas wajahmu selama melakukan perjalanan bersama aku rasa siapaun tak akan menduga akan asal usulmu yang sebenarnya"

Siau Ling tidak banyak bicara, dia segera melepaskan jubah panjangnya dan membersihkan wajahnya dari jenggot palsu.

"Aku akan carikan pakaian untukmu!" seru Kim hoa hujin kemudian, dengan cepat tubuhnya berkelebat keluar dari ruangan itu.

Memandang bayangan punggung Kim hoa hujin yang lenyap dari pandangan Tan Hiong Ciang berbisik lirih,

"Siau tayhiap, engkau tidak takut Kim hoa hujin akan membocorkan rahasiamu?" Siau Ling tersenyum

"Sekalipun dia membocorkan rahasia ini, belum tentu orang lain bersedia untuk mempercayai perkataannya"

"Kenapa"

"Pertama orang lain tak akan percaya kalau Sau cungcu bisa menghianati perkampungan Pek hoa sancung, kedua, orang lainpun tak akan percaya kalau aku, Siau Ling bersedia melakukan perjalanan bersama dirimu!"

Sungguh cepat gerak gerik Kim hoa hujin dalam waktu singkat ia telah kembali sambil membawa seperangkat baju.

Setelah tukar pakaian Siau Ling berkata

"Sau cungcu bagaimana sebutan antara engkau dengan diriku"

"Engkau sebut aku dengan Tan heng dan aku akan memanggil engkau sebagai Pak heng!" "Apakah sau cungcu mempunyai seorang sahabat yang memakai she Pak" "Ada dan orang itu jauh ada dilautan timur tidak banyak yang kenal dengan dirinya" "Bagaimana dengan mayat dalam ruangan ini?"

"Akan aku suruh mereka membereskan sekarang kita boleh berlalu dari sini" Dengan langkah lebar ia bermaksud keluar dari ruangan tersebut. Tiba-tiba Siau Ling menggerakan tangan kanannya mencengkeram bahu Tan Hiong Ciang, ketika tangan kirinya bergetar maka dua buah jalan darah anehnya sudah kena ditotok katanya, "Sekarang kita boleh berangkat!"

"Adik Siau Ling" bisk Kim hoa hujin dengan suara lirih, "apakah engkau butuhkan perlindungan dariku setiap saat?"

"Tidak perlu!" jawab pemuda itu sambil menggeleng.

Dengan langkah lebar ia segera mengikuti dibelakang Tan Hiong Ciang berlalu dari situ. Sesudah keluar dari kebun teh Jit ci teh wan, tiba-tiba Tan Hiong Ciang bertepuk tangan tiga kali, seorang pria kekar baju hijau bertopi kecil maju menyongsong sambil memberi hormat. "Sau cungcu ada pesan apa?" "Siapkan dua ekor kuda!"

Orang itu mengiakan, beberapa saat kemudian ia sudah muncul kembali sambil menuntun dua ekor kuda jempolan.

Tan Hiong Ciang segera menekan pelana kuda, mengepos tenaga untuk loncat naik, tiba-tiba kedua belah iganya terasa sakit sekali bagaikan ditusuk oleh pisau tajam, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, hal ini membuat hatinya jadi terkesiap.

Sekarang ia baru menyadari bahwa Siau Ling benar2 memiliki kemampuan untuk mencari letak jalan darah aneh hingga membuat orang lain tak dapat menyalurkan tenaga, iapun tak tahu bagaimana cara untuk membebaskan jalan darah tersebut, dari situ bisa diketahui bahwa tidak semua orang bisa menyelamatkan jiwanya.

Sementara itu Siau Ling sudah maju kedepan, dengan tangan kanannya ia membantu Tan Hiong Ciang naik keats kuda.

Dua ekor kuda satu didepan yang lain dibelakang bersama-sama berangkat tinggalkan tempat

itu.

Sesudah melewati dua buah jalan raya, dari kejauhan tampaklah Pek li Peng sedang berdiri dibawah wuwunga rumah dan menengok kesana kemari dengan wajah gelisah.

Ketika itu Siau Ling telah mengganti pakaian dandanan, tentu saja Pek li Peng tak dapat mengenali dirinya kembali.

Siau Ling melirik sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ia memberi kode dengan tangan menyapa Pek li Peng.

Ketika melihat kode tersebut Pek li Peng kelihatan agak tertegun, kemudian ia berjalan hendak menyusul kedepan.

Siau Ling segera memberi tanda lagi kearahnya untuk mencegah Pek li Peng menyusul kedepan. Sedang kudanya dilarikan dengan lebih cepat lagi.

Dua ekor kuda itu dengan cepatnya berlarian menuju kearah barat.

Pek li Peng yang melihat kode rahasia tadi merasa amat bergirang hati dan segera menyusul kedepan, tetapi setelah dicegah oleh Siau Ling, terpaksa ia berhenti dan memandang Siau Ling berdua menjauh dari situ.

Seorang pria memikul sayur berjalan lewat disamping tubuh gadis tersebut, ketika mereka berpapasan pria itu segera berbisik,

"Nona Pek li Peng, kita berbicara disana!"

Dengan perasaan apa boleh buat Pek li Peng menghela napas panjang, dengan mengikuti dibelakang pria itu berangkatlah gadis tersebut tinggalkan tempat semula. ooooOoooo 79

Setiba disuatu rumah makan kecil, mereka cari tempat dan duduk disitu. Dengan perasaan mendongkol Pek li Peng segera menegur, "Ada urusan apa engkau suruh aku datang kemari?" Pria itu tersenyum.

"Masa engkaupun berani bersikap begitu galak terhadap toakoku?" Pek li Peng nampak tertegun, kemudian sahutnya, "Selamanya aku tak pernah bersikap galak terhadap dirinya"

"Engkau kenal siapakah orang yang menunggang kuda dan berjalan dipaling depan tadi?" tanya pria itu sambil tertawa ewa.

"Siapakah dia?"

"Tan Hiong Ciang, murid kepala dari Shen Bok Hong !"

"Aduh celaka toako melakukan perjalanan bersama-sama dia bukankah itu berarti keadaannya sangat berbahaya? Kita harus segera melakukan pengejaran" Tapi pria itu segera gelengkan kepalanya.

"Kalau toako membutuhkan bantuan kita dia sudah pasti akan memberi tanda, kalau memang tidak memperkenankan kita ikut serta itu berarti bahwa dia tidak membutuhkan bantuan kita"

"Aku lihat engkau Tu Kiu masih belum bisa memahami kecerdikan Sang Pat.", seru Pek li Peng dengan gusar.

Tu Kiu segera tersenyum, selanya.

"Sedari kapan sih aku yang jadi adik bisa menangkan sang kakak? Tentu saja aku bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Sang Pat."

"Hmm! Engkau tak kenal budi tidak setia kawan engkau tidak punya perasaan !"

Beberapa patah kata makian itu kedengaran sangat berat membuat Tu Kiu jadi tertegun, sesaat kemudian dia baru dapat berkata,

"Semua orang mengatakan aku Leng bin tiat pit pit baja bermuka dingin tak punya perasaan, itu memang benar aku tak berperasaan, tapi kalau mengatakan aku tak setia kawan, aku protes sekeras-kerasnya tuduhan tersebut!"

"Kalau engkau setia kawan dan berperasaan, mengapa menyaksikan toako sendiri menempuh bahaya dan terancam oleh maut, engkau malah berpeluk tangan belaka dan tidak berani untuk memberi pertolongan?"

"Ooooh.! Rupanya engkau maksudkan demikian." seru Tu Kiu sambil tersenyum.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya,

"Ilmu silat yang dimiliki Siau toako sangat lihay, dia telah melarang kita untuk pergi kesana, kalau kita bersikeras untuk membuntutinya, bukan saja tak dapat memberi bantuan kepadanya malahan kemungkinan besar akan merepotkan toako sendiri"

Tiba-tiba Pek li Peng bangkit berdiri dan berkata,

"Hmm.. ! berbicara dengan dirimu tiada pemecahan yang berhasil diperoleh, kalau engkau tak mau pergi, biarlah aku pergi seorang diri"

"Tunggu sebentar!", seru Tu Kiu dengan gelisah, cepat2 ia menghadang jalan pergi gadis itu.

"Ada apa?" teriak Pek li Peng dengan gusar, "ingin berkelahi dengan aku?"

"Berkelahi sih tidak berani, cuma ada beberapa kata ingin kusampaikan kepadamu, bagaimana kalau engkau dengarkan dahulu sampai selesai kemudian baru pergi?"

"Baiklah! Kalau begitu cepatlah katakan keluar, sebab aku tidak ada banyak waktu untuk mendengarkan ocehanmu itu!"

"Baik! Singkatnya saja kukatakan, pertama ia tidak memperkenankan nona pergi, kalau nona bersikeras mengikuti dirinya maka itu berarti engkau tak bersedia mendengarkan perkataannya, apakah tindakanmu ini tidak akan menggusarkan hatinya."

"Tentang soal ini... " Pek li Peng tampak tertegun.

"Kedua" sambung Tu Kiu lebih jauh, "andaikata dia mempunyai rencana bagus, dan oleh karena kedatangan nona hingga mengalam kegagalan, bagaimanakah pertanggung jawaban nona?" Perlahan-lahan Pek li Peng duduk kembali diatas kursi, katanya, "Jadi menurut perkataanmu, aku tak boleh mengikuti dirinya?" "Tentu saja tidak boleh"

"Sekalipun kita tak boleh ikut, tapi bagaimanapun juga harus mencari akal untuk segera diam-diam memberi sambutan kepadanya, hingga bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kita sudah bersiap sedia."

Melihat sikap gadis tersebut, diam-diam Tu Kiu berpikir dalam hati kecilnya, "Dalam hatinya ia terlalu memikirkan tentang keselamatan toako, bahkan memandang jiwa toako jauh lebih penting daripada dirinya , aku rasa susah menasehati orang semacam ini, aku harus berusaha untuk menenteramkan dahulu kegugupan dan kecemasan hatinya" Berpikir sampai disitu perlahan-lahan ia berkata,

"Bu Wi tootiang mempunyai banyak akal dan cerdas mari kita cari dia untuk merundingkan persoalan ini siapa tahu kalau dia dapat mencarikan akal buat kita?"

"Kalau memang begitu, ayoh kita berangkat sekarang juga !" kata Pek li Peng sambil bangkit

berdiri dan berlalu lebih dahulu dari ruangan tersebut,

Sementara itu Siau Ling dan Tan Hiong Ciang telah meninggalkan kota Tiang sah.

Ditengah jalan tiba-tiba Tan Hiong Ciang menahan tali les kudanya untuk melambatkan lari kuda tunggangannya kemudian berkata,

"Bagaimana kalau kita berkunjung lebih dahulu kekuil Pek in koan?"

"Tentang soal itu terserah pada sau cungcu sendiri cuma aku berharap bisa dengan cepat mengunjungi basis utama kekuatan perkampungan Pek hoa sancung dikota Tiang sah ini agar sau cungcu pun bisa secepatnya memperoleh kemerdekaan kembali"

"Baiklah ! kalau begitu kita berangkat secepatnya"

Sambil memutar arah kudanya berangkatlah mereka menuju kekuil Pek in koan.

Komplek kuil Pek in koan luas sekali banyak sekali para peziarah yang bersembahyang ditempat itu sepintas memandang siapapun tak akan menyangka kalau tempat ini merupakan pusat kegiatan orang-orang dari perkumpulan Pek hoa sancung.

Diluar kuil Siau Ling dan Tan Hiong Ciang turun dari kuda dan berjalan masuk kedalam kuil tersebut.

Setelah menembus empat buah halaman rangkap, sampailah mereka didepan sebuah halaman yang amat sunyi, sebuah pintu kayu tertutup rapat dan kecuali itu tak nampak bangunan lain.

Dalam seluruh komplek kuil Pek in koan, halaman itu letaknya tersendiri dan sama sekali tidak berhubungan dengan bagian bangunan lainnya.

Setiba didepan pintu, Tan Hiong Ciang mengetuk gelang tersebut sebanyak sembilan kali.

Siau Ling yang menyaksikan hal itu, diam-diam berpikir,

"Oooh..! rupanya, dalam hal mengetuk pintu pun mereka mempunyai kode rahasia tertentu." Lewat beberapa saat kemudian, dari dalam pintu berkumandang suara teguran seseorang dengan suara lirih, "Siapa diluar"

Pintu dibuka dan muncullah seorang pria baju hijau menghadang didepan pintu. Ketika orang itu mengetahui bahwa orang yang berada dihadapannya adalah Tan Hiong Ciang mukanya yang dingin ketus segera berubah jadi ramah dan penuh senyum dikulum, "Hamba menjumapi sau cungcu!"

"Tak usah banyak adat, apakah Seng lo enghiong berada disini!"

"Barusan saja komandan Seng mendapat surat lewat burung merpati dan sudah berlalu dari sini."

Tan Hiong Ciang segera melangkah masuk kedalam halaman, kembali ia bertanya, "Siapa yang berada disini?"

Buru-buru pria baju hijau itu menutup kembali pintunya dan membuntuti disamping Tan Hiong Ciang, mendapat pertanyaan itu dia segera menjawab, "Wakil komandan Khong Siang!"

"Bagus laporkan kedalam dan katakan kalau aku ada urusan hendak menghadap dirinya"

Pria baju hijau itu mengiakan buru-buru ia berlalu dari situ.

Tan Hiong Ciang segera memperlambat kakinya dengan suara rendah bisiknya,

"Terpaksa aku harus mengurangi ruang gerakmu, engkau hanya boleh memeriksa, melihat dan mendengar, janganlah berusaha menimbrung atau menyela pembicaraan kami"

"Sau cungcu tak usah kuatir, aku bisa tutup mulut dan mengurangi pembicaraan yang tak berguna".

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba2 tampaklah pria baju hijau itu dengan membawa seorang pria setengah baya berusia empat puluh tahunan muncul dari ujung halaman. Dalam hati Siau Ling segera berpikir

"Rupanya kedudukan Tan Hiong Ciang dalam perkampungan Pek hoa Sancung pada saat ini

tidak rendah "

Sementara ia masih termenung, orang tadi sudah menghampiri mereka berdua. Pria itu segera memberi hormat dan berkata

"Khong Siang menjumpai sau-cungcu!" "Tak usah banyak adat, apakah Seng heng tidak berada disini?" "Komandan Seng sudah pergi karena mendapat panggilan lewat burung merpati, untuk sementara waktu tempat ini diurus oleh siau te!" "Ada berapa orang pembantu yang berada disini?" "Kecuali Komandan Seng, masih ada dua belas orang banyaknya" "Apakah mereka berada disini semua?"

"Kecuali Tiau Coan dan Keng Gak yang sedang mendapat tugas diluar, yang lain semuanya masih berada didalam kuil"

Diam2 Siau Ling mengawasi keadaan disekeliling tempat itu, dia lihat ditengah halaman yang kecil penuh ditumbuhi pepohonan yang rindang sehingga membuat pemandangan indah menawan, kecuali ruang tengah di kedua belah sisinya terdapat pula serangkaian bilik.

Tampak Khong Siang memberi homrmat dan berkata,

"Sau cungcu, silahkan masuk kedalam ruangan untuk minum teh!"

Tan Hiong Ciang mengangguk, sambil melangkah masuk kedalam ruangan tanyanya

"Beberapa waktu belakangan ini apakah dalam kuil Pek-in-koan terdapat perubahan?"

"Komandan Seng melarang semua anak buahnya untuk bergerak ditempat luaran, apabila bukan sedang melepaskan tugas siapa pun dilarang meninggalkan halaman ini barang selangkahpun, karena itu beradanya kami ditempat ini boleh dibilang sangat rahasia..."

"Kiranya begitu " sela Tan Hiong Ciang, setelah berhenti sebentar sambungnya lagi

"Sudah lamakah komandan Seng pergi memenuhi undangan?"

"Kurang lebih setengah jam berselang"

Tan Hiong Ciang berpaling memandang sekejap kearah Siau Ling, kemudian sambil alihkan sorot matanya kearah Khong Siang dia berkata,

"Secara kebetulan saja aku lewat disini maka sengaja aku berkunjung untuk menengok keadaan kalian semua, apabila tak ada urusan lain aku akan mohon diri lebih dahulu"

Khong Siang termenng sebentar, kemudian menjawab

"Persoalan sih ada, cuma mungkin sau cungcu telah mengetahuinya"

"Persoalan apa?"

"Persoalan mengenai Su-hay Kuncu !"

Tan Hiong Ciang alihkan sorot matanya ketika melihat sepasang mata Siau Ling sedang menatap kearahnya terpaksa ia bertanya "Kenapa dengan Su-hay Kun cu ?"

"Su-hay Kun cu telah mengutus Siau yau cu datang kemari !" "Apa yang mereka bicarakan ?"

"Banyak sekali yang mereka bicarakan dengan komandan Seng dan aku hanya sempat mendengar sedikit saja agaknya mereka berkata bahwa Siau Ling telah berhasil ditangkap dalam keadaan hidup"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Tan Hiong Ciang memaki dalam hati kecilnya, "Ngaco belo tidak karuan Siau Ling berada disisiku sekarang juga siapa bilang fa sudah kena ditangkap dalam keadaan hidup-hidup ??"

Dalam hati berpikir demikian diluaran dia bertanya dengan dingin

"Bisa dipercayakah kabar berita itu ?"

"Bisa dipercaya atau tidak aku tidak berani memastikan "

"Apakah masih ada persoalan lain??"

"Tidak ada!" jawab Khong Siang sambil gelengkan kepalanya.

"Kalau memang begitu, aku akan pergi dahulu !" ujar Tan Hiong Ciang sambil bangkit berdiri. Khong Siang bangkit untuk menghantar, setibanya didepan pintu halaman Tan Hiong Ciang segera berpaling sambil berkata,

"Khong heng tak usah menghantar lebih jauh:'

"Sepantasnya aku menghntar sau cungcu lebih jauh, tetapi Komandan Seng telah memberi peraturan yang ketat, karena itu terpaksa aku turut perintah"

"Engkau tak usah menghantar lagi " sambil putar badan, dengan langkah lebar orang she

Tan itu berlalu dari situ.

Siau Ling mengikuti dibelakangnya, dalam beberapa waktu kemudian kedua orang itu sudah keluar dari kuil Pek in koan.

Para jemaah yang bersembahyang dalam kuil itu banyak sekali, manusia berlalu lalang tiada lentinya dengan suara gaduh siapapun tak akan menduga kalau kuil Pek in koan dengan jemaah yang begitu banyak, sebenarnya adalah tempat basis kekuatan dan orang2 perkampungan Pek hoa san cung.

Setelah keluar dari kuil Pek in koan, Tan Hiong Ciang dan Siau Ling mendapatkan kuda mereka masih tertambat ditempat semula.

Siau Ling pun menolong Tan Hiong Ciang naik keatas pelana kuda, sambil memayang tubuhnya fa berbisik

"Ehmm! kerja samamu benar2 sangat bagus"

"Setelah aku menyanggupi dirimu, tentu saja aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga, cuma akupun mengharapkan agar engkau juga pegang jauji"

"Tentang soal itu engkau tak perlu kuatir, asal engkau tidak mempertunjukkan permainan setan, akupun akan tetap memegang janji

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh

"Sekarang kita akan pergi kemana?"

"Aku akan membawa engkau untuk berkunjung ketempat tinggal guruku..." Sambil berkata, ia larikan kudanya menuju kedepan.

Siau Ling segera membuntuti dibelakang pria tadi dan meneruskan perjalanannya lebih jauh.

Beberapa waktu kemudian mereka sudah menempuh jarak sejauh dua puluh li lebih, sampailah kedua orang itu didepan sebuah perkampungan kaum tani.

Dengan seksama Siau Ling mengamati sekeliling tempat itu, fa lihat perkampungan itu merupakan gabungan dari rumah2 gubuk yang disekelilingnya dipagari bambu.

Tan Hiong Ciang segera larikan kudanya menuju kepintu pagar tersebut...

Ketika kuda mereka sudah hampir mendekati perkampungan itu, tiba2 pintu pagar membuka dengan sendirinya.

Dalam hati Siau Ling segera berpikir

"Sepintas lalu perkampungan ini nampaknya sama sekali tidak memperoleh penjagaan, tapi dalam kenyataan dimanapun ada penjaga yang mengawasi gerak gerik orang... "

Berpikir sampal disitu, ia segera mengempit perut kuda dan larikan binatang itu masuk kedalam pagar mengikuti dibelakang Tan Hiong Ciang.

Dua orang pria berpakaian ringkas meloncat diluar dan kiri kanan dimana masing masing orang segera menahan tali les kuda tersebut,

Diam-diam Tan Hiong Ciang menggigit bibir sambil turun dari atas punggung kudanya fa bertanya

"Dimanakah Toa cungcu ?"

Pria baju hijau yang ada disebelah kiri segera memberi hormat dan menjawab "Toa cungcu telah tinggalkan tempat ini.. "

Sorot matanya yang tajam mengawasi Siau Ling tanpa berkedip sikapnya penuh rasa curiga. Tan Hiong Cing segera mendehem ringan dan berkata, "Saudara Pak ini ada urusan hendak menghadap toa cungcu !"

Dua orang pria berpikaian ringkas itu segera mengangguk dengan menunggang kedua ekor kuda itu mereka masuk kedalam sebuah rumah gubuk.

"Pak heng" bisik Tan Hiong Ciang kemudian dengan suara lirih " harap engkau suka mengikuti dibelakang, tempat ini mempunyai penjagaan yang ketat sekali, salah satu langkah saja kemungkinan besar jiwamu akan terancam maya bahaya"

"Terima kasih atas perhatian dari Tan heng!"

Diam-diam awasi sekeliling tempat itu, tampaklah suasana ditempat penjuru sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, juga tak nampak sesosok bayangan manusiapun, hanya hembusan angin yang menyibakkan daun dan ranting saja yang memperdengarkan desiran lirih:

Dengan langkah lebar Tan Hiong Ciang berjalan menuju kerumah gubuk yang berada ditengah.

Siau Ling mengikuti dibelakang Tan Hiong Ciang dan mengejar masuk kedalam ruangan.

Bayangan manusia berkelebat lewat, empat orang pria berpakaian ringkas munculkan diri dari balik ruangan dan menghadang jalan pergi kedua orang itu, sambil memberi hormat mereka menyapa,

"Sau cungcu...!"

"Sudah berapa lama toa cungcu pergi dari sini?"

"Sudah pergi kurang lebih satu jam lamanya" jawab pria yang ada diujung kiri. Meskipun keempat orang itu bersikap sangat menghormat terhadap Tan Hiong Ciang tetapi tak seorangpun diantara mereka yang menyingkir untuk memberi jalan. "Sekarang siapa yang bertanggung jawab ditempat ini ?" "Ji cungcu!"

"Aku mau masuk kedalam apakah kedatanganku juga perlu dilaporkan lebih dahulu?"

"Sau cungcu sendiri tentu saja tak usah, tapi saudara ini .. "

"Pak heng ini adalah sahabat karibku", tukas Tan Hiong Ciang dengan cepat.

"Ia datang bersama-sama sau cungcu sebenarnya tidak pantas kalau kuhalangi jalan perginya tapi apa boleh buat ? peraturan yang ditetapkan cungcu ketat sekali dan harus dipegang teguh harap sau cungcu berserdia memberi maaf"

Tan Hiong Ciang tertawa dingin.

"Baik cepatlah kalian masuk kedalam untuk memberi laporan"

Pria yang ada disebelah kiri itu segera memberi hormat dan berlalu dari situ.

Sedangkan tiga orang pria lainya masih tetap menghalangi jalan pergi kedua orang itu

Siau Ling yang menyaksikan kejadian itu, segera berpikir dalam hati kecilnya,

"Peraturan yang ditelapkan Shen Bok Hong benar2 ketat sekali, sampai2 anak murid sendiripun

harus menuruti peraturan!"

Beberapa saat kemudian, pria tadi telah muncul kembali sambil berkata

"Ji cungcu mempersilahkan kalian berdua untuk masuk kedalam"

Sambil berkata, keempat orang itu bersama2 menyingkir kesamping dan menyelinap

kebelakang pintu.

Siau Ling segera mengikuti dibelakang Tan Hiong Ciang berjalan masuk kedalam ruangan.

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 20"

Post a Comment