coba

Budi Ksatria Jilid 19

Mode Malam
Jilid 19

Pek li Peng menengadah keatas, menyeka air mata yang membasahi pipinya lalu berkata dengan lembut,

"Aku bukan sedang merasa sedih, aku merasa amat gembira karena engkau sangat baik terhadap diriku, sedangkan aku sama sekali tidak merasakannya..."

Habis berkata, ia lepaskan diri dari pelukan Siau Ling dan mulai menari-nari didalam kuil tersebut.

Fajar baru saja menyingsing diufuk sebelah timur, menyoroti wajahnya yang masih basah oleh air mata, membuat wajah gadis itu nampak semakin cantik dan menawan hati.

Siau Ling sendiri sambil bergendong tangan, menikmati tariannya yang indah menawan itu.

Selesai menari Pek li Peng tiba-tiba meloncat kedepan dan menubruk kedalam pelukan Siau Ling.

Sianak muda itu segera merentangkan tangannya dan memeluk tubuh gadis itu sambil ujarnya, "Peng ji tarianmu indah sekali"

"Kalau engkau suka, setiap hari aku akan menari dihadapanmu!"

"Setelah dunia persilatan aman tenteram, aku pasti akan suruh engkau mengenakan pakaian

yang berwarna warni, kemudian menari dengan diiringi tabuhan musik yang merdu.. "

Pek li Peng mengiakan, setelah melepaskan diri dari pelukan Siau Ling, ia berseru,

"Mari kita pergi!"

Siau Ling mengajak Pek li Peng memberi hormat lebih dahulu dihadapan kuburan Wu Popo,

kemudian berangkat meninggalkan tempat itu,

Kemudian tengah hari menjelang tiba, diatas jalan raya menuju kota Tiang sah muncullah

seorang pelajar berusia setengah baya serta seorang kacung cilik berbaju hijau.

Kedua orang itu bukan lain adalah Siau Ling serta Pek li Peng. Terdengar pemuda itu berkata, "Peng ji, kita harus memperhatikan jejak Teng It Lui serta Ceng Yap Ching, apabila jejaknya

ditemukan maka kita tak perlu menyapa mereka, melainkan secara diam-diam lindungi saja

keselamatan jiwanya"

"Racun yang mengeram ditubuh mereka belum lenyap, ilmu silatnya masih punah, andaikata bertemu musuh tangguh, entah bagaimana jadinya?"

"AaaL.." Siau Ling menghela napas panjang, "seandainya sepasang iblis dari Leng lam tidak kemaruk harta dan ingin menelan pahala tersebut seorang diri sehingga mereka turun tangan keji terhadap Wu Popo berdua, kitapun belum tentu bisa loloskan diri dari cengkeramannya"

"Itulah yang dinamakan orang budiman selalu dilindungi Thian!" jawab Pek li Peng sambil tertawa. "toako jadi orang berperasaan halus, budiman dan suka menolong kaum lemah, tentu saja Thian selalu melindungi keselamatanmu"

"Aaai.! Sekalipun begitu, andaikata Leng lam siang mo tidak kemaruk pahala, kitapun tak mungkin bisa lolos dari bahaya maut"

Berbicara sampai disini tiba-tiba dia iang mo tidak kemaruk pahala, kitapun tak mungkin bisa lolos dari bahaya maut"gi keselamatanmu"turun membungkam.

Dari tempat kejauhan berkumandanglah suara derap kaki kuda yang amat ramai disusul munculnya seekor kuda dari tempat kejauhan.

Siau Ling segera alihkan sorot matanya kearah orang itu, ia lihat penunggang kuda tadi berbadan kate, tapi warna hijau yang dikenakannya ditarik kebawah hingga menutupi sebagian besar wajahnya, dengan cepat kuda itu sudah berkelebat lewat dari sisi mereka berdua.

Dalam waktu singkat, kuda itu sudah kabur jauh dari sisi tubuh mereka dan lenyap diujung jalan.

Sambil memandang kearah lenyapnya bayangan kuda itu, Siau Ling berbisik lirih,

"Orang itu sangat pandai menunggang kuda, lagi pula kuda yang ditunggangi juga merupakan kuda jempolan, jelas ia bukan kaum pelancongan bisaa... kita harus lebih waspada!"

"Apakah orang itu adalah mata-mata dari Shen Bok Hong?" Tanya Pek li Peng.

Siau Ling termenung dan berpikir sebentar, kemudian menjawab.

"Sulit untuk dikatakan, sebelum mendapat bukti yang nyata aku tak berani secara sembarangan, akan tetapi kalau kita tinjau dari persoalannya jelas Shen Bok Hong tak akan merasa lega untuk melepaskan sepasang iblis dari wilayah Leng lam itu untuk bergerak sendiri, dibelakang sepasang iblis itu pasti terdapat orang yang mengawasinya.. "

"Maksud toako, apakah Shen Bok Hong sekalian sudah tahu tentang kematian yang menimpa sepasang iblis dari Leng lam?" sela Pek li Peng.

"Soal kematian sepasang iblis itu, mungkin saja mereka tidak tahu, tetapi mereka pasti mengetahui tentang berhasilnya sepasang iblis itu menemukan Wu Popo"

"Darimana toako bisa tahu"

"Menurut penilaian sendiri, Shen Bok Hong telah menyebarkan mata-matanya disemua pelosok tempat, peristiwa Wu Popo meracuni semua orang yang ada di rumah makan dilakukan dihadapan umum, diantaranya siapa tahu kalau terdapat pula mata-mata dari Shen Bok Hong."

Sesudah berhenti sebentar, ia sambung lebih jauh,

"Setiap orang persilatan pada jeri terhadap Shen Bok Hong se akan-akan semua persoalan diketahui olehnya dan semua urusan tak ada yang dilewatkan olehnya, hal ini dikarenakan tugas mata-mata yang dilaksanakan oleh anak buahnya dilakukan terlalu baik, hampir boleh dibilang dalam setiap partai serta perguruan yang ada didalam dunia persilatan pada saat ini terdapat penghianat yang berhasil dibeli olehnya, cuma sayang aku tak dapat mengingat-ingat wajah orang-orang itu"

"Seandainya semua mata-mata dan penghianat yang diatur oleh Shen Bok Hong berhasil kita lenyapkan, sehingga sama halnya dengan membutakan matanya menulikan pendengarannya, aku rasa tidak sulit untuk menghadapi gembong iblis itu"

"Sedikitpun tidak salah, andaikata kita bisa lenyapkan mata-mata yang ia sebar di dunia persilatan dan penghianat dalam tubuh partai besar, ia memang dapat kita bikin tak berkutik, oleh sebab itulah sesudah berjumpa Sun Put Shia locianpwee serta Bu Wi Tootiang, aku hendak ajak mereka untuk merundingkan bagaimana caranya untuk melenyapkan mata-mata dari Shen Bok Hong ini"

Pek li Peng termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata,

"Aku rasa persoalan ini tidak gampang untuk dilakukan, dimana toako bisa tahu tentang keadaan serta gerakan mata-mata yang diatur oleh Shen Bok Hong?"

"Aku tahu bahwa pekerjaan ini adalah suatu pekerjaan yang sulit dan memusingkan kepala, tetapi bukan berarti tak bisa dikerjakan sama sekali, aku pikir jaringan mata-mata mereka pasti diatur dari suatu markas besar yang tertentu di setiap daerah, asal kita berhasil mengetahui pusat jaringan tersebut maka tidak sulitlah untuk mengacaukan sepak terjang mereka, paling sedikit kita bisa bikin kacau pengawasan mereka hingga info yang diperoleh sama sekali tidak benar"

Ia berpaling memandang sekejap kearah Pek li Peng, kemudian sambil tersenyum sambungnya.

"Meskipun pekerjaan ini amat penting namun tidak perlu dilakukan terlalu cepat, setelah berjumpa dengan Bu Wi Tootiang sekalian nanti barulah kita rundingkan kembali, aku rasa dengan kecerdasan Bu Wi Tootiang serta luasnya pengalaman dari Sun Put Shia locianpwee, siapa tahu kalau kita berhasil menemukan suatu cara yang jitu?"

Pek li Peng mengangguk dan tidak banyak bicara lagi ia segera meneruskan perjalanannya menuju kedepan.

Perjalanan yang dilakukan kali ini amat perlahan sekali, selama beberapa hari mereka tidak menemukan kejadian apapun.

Sepanjang perjalanan Siau Ling pun tidak berhasil menemukan jejak Teng It Lui serta Ceng Yap Ching.

Siang hari itu sampailah mereka disebuah kota kecil dalam distrik Tiangsah hu.

Dari letak kota itu Siau Ling tahu bahwa tempat itu merupakan jalur terpenting yang menghubungkan kota Tiang sah, dalam hati segera pikirnya,

"Andaikata Teng It Lui serta Ceng Yap Ching sekalian telah berjumpa dengan Bu Wi Tootiang serta menceritakan kejadian yang menimpa kami kepada orang-orang itu, Bu Wi Tootiang serta Sun Put Shia pasti akan kirim orang untuk menelusuri jejakku aku rasa sekarang tidak perlu terburu-buru untuk berjumpa mereka, sebaliknya Shen Bok Hong yang kehilangan jejak dari sepasang iblis dari Leng lam, pasti akan bingung dan kalut sekali, apa salahnya kalau kugunakan kesempatan ini untuk menyelidiki gerak gerik mereka.??"

Berpikir demikian, dia lantas mengajak Pek li Peng memasuki sebuah rumah makan yang paling besar.

Ketika itu tengah hari sudah menjelang tiba, delapan bagian kursi dalam rumah makan sudah terisi tamu.

Siau Ling yang mempunyai tujuan, diam-diam segera mengawasi setiap tamu yang ada didalam rumah makan tadi.

Pada sudut utara dekat jendela duduklah seorang pria baju hijau berusia setengah baya, orang itu paling mencurigakan diantara tamu yang lain, pemuda itu segera mencari tempat yang gampang untuk mengawasi gerak gerik orang itu dan duduk disana.

Pelayan menghidangkan air teh, dan Siau Ling pun memesan beberapa macam sayur.

Beberapa saat kemudian, sayur telah dihidangkan, sambil bersantap diam-diam Siau Ling mengawasi terus gerak-gerik orang baju hijau tadi.

Pria baju hijau itu sama sekali tidak merasakan akan pengawasan ini, dia masih bersantap dan minum arak dengan santainya.

Beberapa waktu kemudian Siau Ling telah selesai bersantap, akan tetapi pria baju hijau itu masih tetap duduk tenang ditempat semula, hal ini membuat pemuda itu berpikir

"Aku tak dapat duduk termenung terus disini."

Belum sempat ia menghadapi orang itu, tiba-tiba tampaklah seorang bocah dusun sambil membawa sebuah kain panjang berwarna putih berjalan masuk kedalam rumah makan. Diatas kain putih itu tertuliskan empat huruf yang berbunyi: "Siang Thian Hee Su"

Membaca tulisan itu, Siau Ling segera menggape bocah dusun itu sambil serunya,

"Saudara cilik, silahkan datang kemari"

Bocah dusun itu segera datang menghampiri, tanyanya,

"Toa ya, apakah engkau mau lihat nasib?"

Pek li Peng berpaling, ia lihat bocah dusun itu baru berusia dua tiga belas tahunan, mukanya dekil dengan rambut yang kusut, sedikitpun tidak mirip dengan orang yang pandai melihat nasib, hal ini membuat hatinya jadi keheranan, pikirnya,

"Kenapa toako bersedia mempercayai seorang bocah dusun yang belum tahu urusan itu? Apakah ia berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan??"

Ketika tulisan diatas kain itu diperhatikan, ia tidak berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Sementara itu , Siau Ling telah berkata,

"Tukang ramal cilik, coba lihatlah bagaimanakah nasib peruntunganku?"

Tanpa memandang Siau Ling barang sekejappun, bocah itu berkata,

"Menurut pengamatanku, wajah anda merupakan wajah seorang pemimpin, hanya sayang tersembunyi tiga mara bahaya, kalau tiga mara bahaya itu tidak dilenyapkan maka selamanya tak dapat unjukkan diri, cuma kepandaianku tidak mencukupi hingga tak mampu untuk menolong engkau hilangkan tiga bua bencana tersebut"

"Lalu siapakah yang mampu??"

"Suhuku"

"Sekarang, suhumu berada dimana?" "Tidak jauh diluar kota ini!"

"Baik!" ujar Siau Ling kemudian sambil bangkit berdiri, "harap saudara cilik suka membawa kau untuk menemui gurumu"

Bocah dusun itu segera menggulung kain putihnya dan berjalan lebih dahulu kedepan. Sedang Siau Ling segera mengikuti dibelakangnya.

Dalam keadaan demikian terpaksa Pek li Peng mengikuti dibelakang Siau Ling berlalu dari sana.

Dari arah belakang suara gelak tawa keras bergema memecah kesunyian, jelas para tamu yang hadir dalam rumah makan itu sedang mentertawakan ketololan Siau Ling yang bersedia ditipu mentah-mentah oleh bocah dusun tersebut.

Pek li Peng jadi amat gusar sehingga tanpa terasa berpaling kebelakang dan melotot sekejap kearah orang-orang itu, namun akhirnya ia menahan gusar dan tidak mengumbar hawa amarahnya lagi.

Setelah keluar dari kota dan berjalan kurang lebih dua li jauhnya, sampailah bocah dusun itu kedepan sebuah gubuk yang tertutup oleh pohon bambu yang lebat.

Pek-li Peng menyapu sekejap sekeliling tempat itu, suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, kecuali bocah dusun itu tiada orang yang lain lagi, buru buriu ia maju kedepan menyusul sianak muda itu sambil bisiknya

"Benarkah engkau hendak bertemu dengan rukang ramal itu?"

Siau Ling tersenyum, sahutnya,

"Bersabarlah sebentar, sesaat kemudian duduknya persoalan akan kau ketahui" Sesudah berada didepan rumab gubuk iyu. bocah dusun tadi segera mendorong pintu ruangan sambil berkata,

"Suhuku berdiam disini!"

Diam diam Siau Ling salurkan hawa murninya bersiap sedia, kemudian selangkah demi selangkah berjalan masuk kedalam gubuk.

Ketika ia menengadah keatas, maka tampaklah seorang kakek tua berambut putih berjenggot putih dengan memakai kacamata duduk dibelakang sebuah meja kayu.

Meskipun menyamaran yang dilakukan orang itu amat sempurna, namun tak dapat menyembunyikan perutnya yang besar.

Sesudah memperhatikan kakek tua itu beberapa saat lamanya, Siau Ling mendehem ringan sambil sapanya,

"Saudara Sang!"

Kakek tua itu melepaskan kaca matanya dan dan bangkit berdiri, lalu tegurnya nyaring. "Siapa engkau?"

"Aku!" jawab Siau Ling sambil melepaskan penyaruannya.

Sesudah mengetahui siapakah orang yang berada dihadapannnya, kakek tua itu mendadak jatuhkan diri berlutut diatas tanah.

Buru-buru Siau Ling membimbingnya bangun sembari berkata, "Jangan, saudara Sang!"

Ternyata kakek tua itu bukan lain adalah penyaruan dari Sie poa emas Sang pat.

Sambil melepaskan jenggot dan rambut palsunya, Sang Pat berkata,

"Kabar berita tentang tertangkapnya toako oleh Wu Popo begitu tersiar luas, Bu Wi Tootiang serta Sun locianpwee jadi amat terperanjat sekali hingga pada malam itu juga diadakan perundingan, semua jago lihai sudah disebar luaskan untuk mencari jejak toako, sungguh tak nyana toako telah terlepas dari bahaya maut"

Siau Ling tertawa ewa, ujarnya,

"Caramu ini memang baik, cuma tindakanmu ini hanya bersifat untung-untungan, andaikata aku tidak memasuki rumah makan itu, tetapi secara langsung berangkat kekota Tiang sah shia, bukankah engkau tak bakal bertemu dengan aku?"

"Siau te telah membuat dua belas buah kain putih yang disebarkan oleh dua belas orang bocah, mereka tersebar luas diseluruh kota dan rumah makan, dari pagi mereka berjalan sampai senja, aku rasa kemungkinan untuk berjumpa dengan dirimu besar sekali."

"Ooooh ! perkiraannya begitu" kata Siau Ling sambil mengangguk, "kalau begitu tentu saja

aku pasti akan berjumpa dengan salah seorang diantara mereka."

"Toako" sela Pek li Peng, darimana engkau bisa tahu kalau bocah dusun itu diutus oleh Sang

tayhiap??"

Sebelum Siau Ling sempat menjawab, Sang Pat telah keburu berseru,

"Dia tentulah nona Pek li Peng bukan?"

"Benar darimana engkau bisa tahu kalau aku" seru sang dara.

Sang pat tertawa

"Aku hanya menduga saja... "

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh

"Sebelum diterangkan memang cara kerja ku nampak aneh sekali, padahal setelah dikatakan sama sekali tidak nampak aneh, di atas kain putih itu aku sudah terakan tanda rahasiaku, asal orang yang mengenali tanda rahasiaku itu pasti akan menetahui siapakah aku"

"Caramu ini walaupun tidak sulit, namun aku tak menyangka kalau engkau dapat menemukan cara tersebut!"

"Siapa yang bertanggung jawab didalam kota Tiang sah?" tanya Siau Ling kemudian. "Saudara Tu serta Bu Wi tootiang" "Lalu Sun Put Shia locianpwee?"

"Sun locianpwee dengan memimpin anak murid anggota Kay pang serta beberapa orang jago lihay dari partai Bu tong telah membagi diri jadi empat rombongan untuk mencari jejak Wu Popo"

"Teng It Lui serta Ceng Yap Ching telah dilukai oleh racun keji sehingga kepandaian silatnya sama sekali punah. Darimana mungkin mereka dapat menyampaikan kabar berita tersebut dengan begitu cepat??"

"Apakah saat ini Teng It Lui serta Ceng Yap Ching sudah kembali kekota Tiang sah aku kurang begitu tahu jawab Sang Pat, tetapi sewaktu Bu Wi Tootiang menyampaikan berita tersebut kepadaku mereka belum kembali, mendengar berita buruk itu hatiku jadi kacau akupun tak sempat bertanya kepada Bu Wi tootiang ia dapatkan kabar berita tersebut dari mana"

"Apakah ada cara lain untuk mengejar kembali Sun locianpwee ?"

"Aku rasa Bu Wi tootiang pasti sudah mejanjikan cara berhubungan dengan mereka"

"Kalau begitu bagus sekali lebih baik berusahalah secepat mungkin memberi kabar kepada Bu Wi tootiang agar mereka undang kembali Sun Locianpwee serta sekalian para jago lainnya mereka tak usah membuntuti jejak dari Wu Popo lagi"

"Apakah Wu Popo telah mati ditangan toako ?"

"Wu popo yang berada dalam keadaan luka parah telah menemui ajalnya ditangan sepasang iblis dari Leng-lam !"

"Dan sepasang iblis dari Leng-lam ?"

"Iblis-iblis itu berhati keji dan bahaya kalau dibiarkan hidup lebih lanjut, karena itu aku telah membinasakan mereka berdua !"

"Apakah toako hendak menjumpai Bu Wi Tootiang ?"

"Untuk sementara waktu lebih baik jangan bertemu lebih dahulu dengan dirinya, aku ingin secara diam diam menyelidiki gerak gerik dari Shen Bok Hong" Sesudah berhenti sehentar, sambungnya lebih jauh:

"Apakah kalian sudah mendengar berita tentang kerja samanya Shen Bok Hong dengan Su hay kuncu ?"

"Sudah mendengar kabar beritanya, cuma tidak begitu jelas !"

"Bagaimanakah gerak gerik anak buah Shen Bok Hong dihari-hari belakangan ini?"

"Beberapa hari berselang, Shen Bok Hong pernah munculkan diri satu kali dikota Tiang sah, tapi dalam sekejap mata lenyap tak berbekas, entah ia sudah menyembunyikan diri kemana? orang2 dari pihak perkampungan Pek hoa-san cung kadang2 melakukan pula suatu pergerakan, tapi dua hari belakangan ini mendadak jadi sepi dan tiada gerakan2 seperti dihari hari biasa"

Siau Ling mengangguk dan berkata

"Mungkin mereka sedang menantikan kabar berita dari Wu Popo serta sepasang Iblis dari Leng

lam.. "

Sesudah termenung berpikir beberapa saat lamanya, dia menyambung lebih jauh "Menurut dugaanku, disekitar wilayah Tiang-sah ini Shen Bok Hong pasti mempunyai suatu kantor cabang yang tersembunyi letaknya, semua jaringan mata2 yang tersebar disekitar ratusan li

disekitar tempat ini pastilah dikendalikan dan kantor cabang tersebut, siapa tahu kalau gembong iblis itupun bersembunyi disitu.. "

Berbicara sampai disini, tiba tiba ia termenung dan membungkam dalam seribu bahasa.

"Maksud toako....?" seru Sang Pat;

"Andakata kita bisa lenyapkan kantor cabangnya didaerah Tiang sah tersebut, berarti pula kita sudah kecil mata Shen Bok Hong bagi wilayah sekitar seratus li ditempat ini, sekalipun kantor cabang tersebut tak usah kita usik, asalkan bisa sudah tahu letak markasnya aku rasa tidak susah untuk mengendalikan gerak mereka dan bilamana perlu kita bisa jebak mereka dengan siasat"

"Pendapat toako benar2 mengagumkan, siaute pasti akan rundingkan persoalan ini dengan Bu Wi tootiang setelah berjumpa muka nanti, kemudian mengirim orang untuk mengobrak abrik sarangnya"

"Baik! kita bekerja secara terpisah, aku serta Peng ji akan tetap berusaha untuk menyusup masuk kekota Tiang sah!"

"Setiap saat perlukah siau te utus orang untuk berhubungan dengan toako....?"

"Apabila tidak terlalu penting, lebih baik jangan terlalu sering mengadakan kontak, ketahuilah orang2 dari pihak perkampungan Pek hoa san-cung bukannya sama sekali sudah berherti bergerak, hanya saja dari posisi terang sekarang mereka pindah keposisi gelap, hingga gerak geriknya jauh lebih rahasia, karena itulah aku harap kedatangan Siau heng ketempat ini jangan sampai diketahui oleh muereka, lebih baik lagi kalau engkau memberikan bisikan kepada Bu Wi tootiang serta saudara Tu agar jangan terlalu banyak orang yang mengetahui akan persoalan ini daripada rahasia kita bocor..karena hanya tindakan yang sangat rahasialah baru bisa membuat Shen Bok Hong kalang kabut dan kelabakan sendiri"

Sang Pat hanya membungkam terus, ia merasa pcrpisahannya selama beberapa bulan dengan pemuda tersebut telah membuat Siau Ling jauh lebih berpengalaman dan matang daripada dahulu, caranya mnengatur siasatpun tidak kalah dengan jago pengalaman lainnya maka ia lantas menyahut,

"Siau te akan mengingatnya!"

Siau Ling berpaling dan memandang sekejap kearah bocah dusun itu, ujarnya lebih jauh "Bocah ini adalah kunci yang paling penting didalam memegang rahasia ini. tetapi sudah tentu

kita tak boleh lenyapkan dirinya dengan begitu saja, hadiahkan saja beberapa tahil emas murni

dan suruh dia secepatnya pindah dari tempat ini"

"Toako tak usah kuatir, siau te akan menyelesaikan tugas ini sebaik2nya"

Siau Ling segena mengenakan kembali jenggot palsu dari peyamarannya, kemudian berpesan

kembali

"Saudara Sang, engkau tidak diperkenankan mencelakai jiwa bocah dusun ini!!" "Baiklah siau-heng akan berangkat lebih dahulu!"

Sang Pat membuntuti dibelakang Siau Ling dengan suara lirih dia segera menerangkan bagaimana caranya mengadakan kontak rahasia dengan Bu Wi Tootiang.

Siau Ling berhenti, menunggu ia sudah menyelesaikan kata-katanya pemuda itu baru mengangguk dan berkata

"Bagus sekali, akan kuingat selalu!"

Sang Pat tersenyum, ujarnya kemudian

"Rumah makan Hui-Sian loo dikota Tiang sah serta kebun teh Jit ci-The wan selama ini merupakan tempat yang sering kali dikumnjungi orang2 dari perkumpulan Pek-hoa.san cung "Baik! kami akan pergi mengunjungi kedua tempat itu lebih dahulu" "Sang Pat segera memberi hormat "Siau-te tak akan mengantar lebih jauh.." serunya.

Siau Ling ulapkan tangannya, dengan langkah lebar bersama Pek li Peng dia segera berlalu dari situ.

ooooOoooo 78

DENGAN melalui jalan raya mereka berangkat langsung menuju kekota Tiang sah. Suatu ketika tiba2 Pek ii Peng merasa perjalanan mereka dibuntuti orang, ia segera berpaling kebelakang ternyata sedikitpun tidak Salah seorang pria setengah baya memakai pakaian ringkas warna hitam yang ketat sedang membuntuti dibelakang mereka kurang lebih pada jarak tiga empat tombak, baru saja ia akan memberitahukan perbuatan ini kepada Siau Ling, sianak muda itu sudah keburu berkata

"Peng ji jangan melihat kearah mereka, anggaplah se-olah2 sama sekali tak tahu akan kejadian tersebut"

"OooL.kiranya dia sudah tahu! " pikir Pek-li Peng didalam hati.

Agaknya Siau Ling sudah mempunyai rencana yang matang, dia langsung menuju kearah jalanan dalam kota yang paling ramai.

Sesudah melewati dua buah jalan besar, dan kejauhan tampaklah sebuah merek papan nama yang besar, pada papan nama itu tertera empat tulisan yang berbunyi

Kebun teh Jit ci-teh wan.

"Oooh rupanya dia sudah mengetahui akan jalan ditempat ini" kembali Pek-li Peng berpikir,

"aku masih mengira dia sengaja berjalan sesuka hatinya... "

Siau Ling menengadah kedepan ia lihat kebun teh Jit-ci-teh-wan luas sekali, setelah masuk pintu gerbang sampailah mereka didalam suatu halaman yang sangat luas. bunga aneka warna tumbuh di-mana2, meja dengan kursi bambu teratur sangat rapih.

Didepan pintu berdirilah seorang pelayan baju hijau bertopi kcil, sambil memberi hormat katanya

"Apakah kalian berdua akan duduk didalam?" Siau Ling mengangguk. "Harap membawa jalan!"

"Engkau terlalu merendah, hamba tak berani menerimanya!

Dengan membawa kedua orang itu pelayan tadi berjalan menuju kesudut barat laut, dan berhenti disuatu meja yang dikelilingi pot pot beraneka ragam bunga.

Siau Ling menyapu sekejap sekeliling tem pat itu. Ia lihat ditengah halaman yang begitu luas sudah ada enam bagian tempat itu sudah ada enam bagian tempat duduk diisi oleh para tetamu yang berjumlah hampir lima puluh orang lebih.

Ada banyak diantaranya hanya memesan secawan teh wangi sambil minum sambil membaringkan diri dikursi malas, benar2 nampak amat santai, ada pula beberapa diantaranya memesan beberapa macam sayur dan sepoci arak.

Rupanya kebun teh Jit ci teh wan tersebut juga merangkap sebagai rumah makan.

Sambil mengawasi keadaan disekitar tempat itu, Siau Ling segera bertanya: "Pelayan apakah disebelah belakang kebun sana masih ada tempat duduk. . ?"

"Ada, kebun teh Jit ci teh wan kami ini semuanya terdiri dari tiga buah halaman luas, kecuali ruangan bagian dalam masih ada tiga halaman lainnya lagi, jadi andaikata semua kursi didalam kedua teh Jit ci teh wan ini penuh maka jumlahnya kurang lebih ada seribu orang lebih."

Siau Ling tertawa ewa katanya

"Sudah lama aku mendengar tentang nama besar dari kebun teh Jit ci teh wan ini setelah ini hari melihat sendiri ternyata memang luar biasa sekali"

"Kalian berdua harap duduk sebentar ! aku akan menyiapkan air teh untuk kalian berdua!"

"Tunggu sebentar"

Pelayan itu berpaling dan bertanya

"Toa ya masih ada pesan apa lagi ?"

"Nama besar kebun teh Jit ci teh wan sudah amat tersohor diseluruh kolong langit aku ingin sekali meninjau kedalam apakah keinginanku ini dapat dikabulkan ?"

"Aaah ! ucapan toa ya terlalu serius" seru pelayan teh itu, sambil tertawa, "kebun Teh Jit ci teh wan adalah tempat untuk berdagang yang memakai aturan tamu ingin minum teh dalam ruang manapun boleh bebas mengikuti seleranya masing masing, tentu saja, boleh "

"KaIau memang begitu harap engkau suka membawa jalan bagiku"

Pelayan teh itu segera gelengkan kepalanya berulang kali.

"Dalam setiap halaman dalam kebun teh Jit ci teh wan ini dilayani oleh para pelayan yang berbeda2 aku hanya bertugas melayani ruangan paling depan saja"

"Sebuah kebun teh mempunyai peraturan yang begini ketat, kejadian ini benar2 luar biasa sekali'' pikir Siau Ling didalam hati, "bagaimanapun juga aku harus selidiki dengan seksama..!"

Berpikir demikian diapun lantas berkata "Terima kasih atas petunjukmu itu!" Perlahan lahan ia berjalan maju kedepan.

Selama ini Pek li Peng membungkam terus dalam seribu bahasa, melihat Siau Lingg berlalu diapun segera mengikuti dibelakang tubuhnya.

Sesudah melewati halaman yang penuh dengan tumbuhan bunga itu mereka melewati sebuah pintu dan sampailah disebelah ruangan yang dilengkapi dengan barang barang yang nampak jauh lebih mewah.

Sekeliling ruangan itu berwarna putih, meja dengan kain putih, kursi berwarna putih hingga mangkuk teh, poci teh semuanya berwarna putih salju.

Kecuali pakaian yang dikenakan para tamu, boleh dibilang dalam ruangan ini tidak ditemukan warna kedua.

Dalam hati kecilnya Siau Ling lantas berpikir

"Didepan sana disebut tenda teh, tempat ini merupakan ruangan pertama... mungkin di sinilah yang dinamakan ruang depan?"

Sementara dia masih berpikir, seorang pelayan berbaju putih telah maju menghampiri mereka sambil berkata

"Saudara berdua silahkan duduk!"

Siau Ling alihkan sorot matanya kearah pelayan itu, usianya kurang lebih dua puluh tiga, empat tahunan, berbaju putih, ikat kepala putih dan tidak nampak pandai bersilat. Maka diapun lantas berkata "Apakah tempat ini adalah ruang depan!"

"Sedikitpun tidak salah, apakah kek koan berdua akan menuju keruang tengah?" Mendengar ucapan itu Siau Ling kembali berpikir

"Ada ruang depan ruang tengah tentu ada pula ruang belakang, bersama dengan tenda teh

maka jumlahnya memang genap jadi empat bagian "

Sementara itu sang peayan baju putih telah berkata "Silahkan lewat disini!"

Sambil memberi hormat ia segera membawa jalan menuju kedepan.

Sesudah melewati sudut ruang depan sampailah mereka didepan sebuah pintu berbentuk bulat, kemudan mereka harus melewati sebuah jalan beralaskan batu putih yang di kedua belah sisinya penuh dengan pot pot bunga yang menyiarkan bau harum.

"Ruangan depan sudah begini megah apalagi ruangan tengah, tentu tempat itu jauh lebih

mewah lagi " pikir Siau Ling.

Pelayan baju putih itu mengantar Siau Ling berdua melewati lorong beralas batu putih itu, setelah mencapai pada ujung jalan ia segera berkata lirih

"Silahkan . .!" tanpa banyak bicara pelayan itu balik kembali keruang depan.

Diluar wajahnya Siau Ling bersikap seolah olah sama sekali tak ada urusan apapun, perlahan2 ia masuk kedalam ruangan padahal dalam hati kecilnya dengan penuh seksama memperhatikan setiap benda yang ada didalam ruangan itu.

Secara tiba2 dia merasakan bahwa keadaan bangunan serta ruangan disitu seakan akan pernah dilihat olehnya disuatu tempat, hanya saja ia lupa pernah melihatnya dimana.

Selesai melewati jalanan beralaskan batu putih itu, mereka naiki anak tangga batu dan sampailah diruang tengah.

Pemandangan dalam ruang tengah jauh lebih megah, keempat belah dindingnya berwarna kuning emas, meja kursi berwarna kuning dan keenam tujuh orang pelayanpun memakai baju warna kuning.

Sebelum masuk kedalam pintu ruangan seorang pelayan telah menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat.

Pek li Peng alihkan sorot matanya mengawasi sekeliling tempat itu, ia lihat ditengah ruangan yang lebar hanya berisikan lima enam belas buah meja belaka, diantaranya ada tiga buah meja yang sudah berisi orang dan itupun tamu yang ada cuma empat belas orang belaka.

Siau Ling segera mendehem, lalu bertanya:

"Kalau ingin menuju keruang belakang, aku harus lewat mana?"

Pelayan itu nampak agak tertegun, kemudian sambil mengawasi Siau Ling berdua serunya

"Kalian berdua adalah "

"Kami hanya secara kebetulan saja lewat ditempat ini, karena sudah lama mendengar akan nama besar dari kebun teh Jit ci-teh wan, maka sengaja kami datang untuk mengunjunginya" "Oooh...! kedatangan saudara berdua sangat tidak kebetulan" ujar pelayan itu sambil tertawa.

"Kenapa??"

"Ruangan belakang sudah penuh, terpaksa kalian berdua harus kembali Lagi kemari besok agak lebih pagian!"

"Kebun teh Jit ci-teh wan ini diiengkapi dengan kemewahan, mungkin selapis lebih kedalam keadaan ruangannya semakin megah, entah bagaimanakah macam ruang belakang? bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk memasukinya!" pikir Siau Ling didalam hati.

Berpikir sampai disini ia lantas mengawasi keadaan dalam ruangan itu dengan seksama.

Tiba2 ia saksikan warna emas diatas dinding ruangan, serta gorden dan meja kursi yang ada disitu ketihatan se akan2 masih baru dan dipergunakan belum lama, satu ingatan dengan cepat berketebit didalam benaknya.

"Engkau adalah "

"Oooh! tidak berani, hamba hanya seorang pelayan yang melayani sayur dan teh ditempat ini" "Sudah lama engkau bekerja disini?"

Pelayan itu nampak tertegun, kemudian bukan menjawab dia balik berkata : "Apakah kek-koan seringkali berkunjung kemari ?"

"Kebun teh Jit-ci-teh wan ini kelihatannya rada aneh aku harus menggunakan akal untuk menggertak dirinya pikir Siau Ling didalam hati. Berpikir demikian diapun berkata:

"Satu tahun berselang aku seringkali berkunjung kesini kenapa pada waktu itu aku tak pernah berjumpa dengan dirimu ?"

Pelayan baju kuning itu memutar sepasang biji matanya lalu menjawab:

"Hamba baru tiga bulan lamanya bekerja disini !"

"Sekalipun Shen Bok Hong mempunyai sarang rahasia lain didalam kota Tiang sah ini

kemungkinan juga kebun teh Jit ci-teh wan itu adalah salah satu sarang rahasianya", pikir Siau

Ling didalam hati, "apalagi kebun teh Jit ci teh wan merupakan tempat tersohor dikota Tiang sah

yang seringkali dikunjungi orang persilatan tempat ini memang merupakan suatu tempat yang

sangat baik untuk menyadap pembicaraan orang serta mencari berita .aku harus selidiki tempat

ini baik baik "

"Kalau memang ruang belakang tak ada tempat, baiklah kami akan duduk dalam ruangan tengah saja!"

"Kek-koan berdua silahkan duduk", ujar pelayan baju kuning itu sambil memberi hormat.

Siau Ling masuk kedalam ruang tengah dan memilih satu tempat lalu duduk.

Sinar matanya menyapu sekeliling tempat itu, ia lihat diruangan yang luas itu berisikan enam belas meja, tiga diantaranya sudah diisi tamu yaitu satu meja diisi dua orang saja sedangkan dua meja lamanya masing2 ditempati enam orang.

Ruang besar diisi tamu yang sedikit, suasana terasa amat sepi dan tenang, ditambah pula pembiearaan orang2 itu amat lirih membuat suasana terasa santai dan tenang.

Pelahan lahan pelayan baju kuning itu maju menghampiri, lalu bertanya dengan suala lirih

"Kekkoan berdua akan pesan apa?"

"Sediakan dahulu dua cawan air teh Liong keng!"

Pelayan baju kuning itu mengiakan, setelah menuju kesudut ruangan dia menyingkap sebuah horden warna kuning dan berjalan masuk kedalam.

Diluar Siau Ling masih tetap bersikap santai, seolah2 tidak pernah terjadi suatu apapun, sementara secara diam2 ia perhatikan terus semua gerak gerik dan pelayan tadi.

Beberapa saat kemudian pelayan baju kuning muncul kembali sambil membawa sebuah baki yang berisi dua cawan air teh, lalu dihidangkan didepan Siau Ling serta Pek-Li Peng.

Sejak mendapat serangan bokongan dari Wu popo sikap Siau Ling maupun Pek-li Peng telah berubah jadi sangat hati2, sianak muda itu memandang sekejap kearah air teh dalam cawannya lalu berkata,

"Pelayan, sediakan secawan air teh lagi!" Pelayan baju kuning itu tertegun. kemudian serunya

"Kek-koan, kalian toh cuma dua orang buat apa engkau pesan tiga cawan air teh?"

"Aku mempunyai sesuatu kebiasaan aneh yaitu tidak minun air teh yang dihidangkan pertama

kali!"

Pelayan baju kuning itu mengiakan, ia segera siapkan secawan air teh lagi. Sesudah menerima air teh baru itu Siau Ling mendorong cawan air teh yang berada dihadapannya itu kehadapan orang baju kuning itu kemudian katanya:

"Pelayan bagaimana kalau engkau menemani aku untuk minum secawan air teh ??"

"Hamba tidak berani!"

"Tidak menjadi soal tamu mengundang minum sekalipun sang taukee mengetahui juga tak jadi soal pokoknya engkau tak akan dimarahi!"

Pelayan baju kuning itu termenung sebentar kemudian sahutnya dengan suara Iirih

"Aah benar apakah kek-koan menaruh curiga kalau dalam air teh ini terdapat kotorannya ?"

Tidak menampik lagi ia menerima cawan air teh itu dan segera meneguk habis isinya setelah itu sambil memberi hormat diri segera mengundurkan diri dan sana;

Dengan tajam Siau Ling mengawasi terus pelayan baju kuning itu dia lihat setelah orang itu masuk kedalam ruangan lama sekali belum nampak juga munculkan diri kembali dengan ilmu menyampaikan suara segera serunya :

"Peng ji setelah masuk kedalam ruangan pelayan itu tak pernah memunculkan diri kembali, hal ini membuktikan kalau dalam air teh ada setannya. setelah siasat mereka ketahuan aku duga mereka pasti tak akan berpeluk tangan dengan begitu saja, setelah siasatnya gagal mereka pasti akan menggunakan siasat yang lebih keji untuk menghadapi kita, marilah kita makan siasat mereka itu dan berusaha menyusup masuk kedalam! aku rasa dengan kecerdasan otakmu engkau pasti sudah memahami bukan tanda rahasia yang pernah di terangkan oleh Sang Pat tadi ? nah sekarang engkau keluarlah dahulu dari sini dan tunggulah diluar, kalau dalam sepertanak nasi lamanya aku masih belum juga unjukkan diri maka pergilah bergabung dengan mereka dan tuturkan apa yang telah terjadi kepada mereka"

Pek-li Peng mengerutkan dahinya seperti mau membantah, tapi akhirnya ia tetap bersadar diri, bangkit berdiri dan memberi hormat lalu berlalu dari sana.

Memandang bayangan punggung dan Pek li Peng sudah lenyap dari pandangan, Siau Ling baru menggape lagi kearah seorang pelayan

Pelayan baju kuning yang lain buru2 maju menghampiri sambil bertanya lirih

"Kek koan, ada pesan apa??"

Sengaja Siau Ling memandang sekejap ke arah orang itu, kemudian serunya keheranan: "Aku rasa tadi bukanlah engkau yang melayani kami?" "Toh sama saja... ! kek-koan mau apa?? katakan saja!" Siau Ling tertawa ewa, kemudian menjawab

"Aku hendak menanyakan satu persoalan dengan pelayan yang melayani diriku tadi!" "Urusan tentang kebun teh Jit ci-teh wan ini aku mengetahui paling banyak, apa yang ingin kau tanyakan? katakan saja!"

Siau Ling segera angkat cawan air tehnya dan berkata "Baiklah! kalau begitu silahkan minum secawan air teh ini!" Pelayan baju kuning itu nampak tertegun, kemudian katanya

"Peraturan dalam kebun teh kami tidak memperkenankan berbuat demikian hamba ti dak berani!"

Siau Ling tersenyum.

"Tidak mengapa" katanya. "minum saja air teh ini!"

Pelayan itu siap hendak mengundurkar diri tapi segera kena ditangkap oleh Siau Ling dan diseret ketempat duduknya kemudian memaksa orang itu untuk meneguk air teh dalam cawannya

itu.

Meskipun para tamu dalam ruangan itu melihat bagaimana Siau Ling menarik tangan pelayan baju kuning itu, namun berhubung pembicaraan mereka dilangsungkan dengan suara lirih dan tidak minip orang yang sedang cekcok, tentu saja tak ada orang yang mengurusi lagi.

Begitulah kejadian semacam itu berulang terus sampai beberapa kali, tidak selang beberapa saat kemudian kelima orang palayan baju kuning yang melayani ruangan tersebut sudah dicekoki Siau Ling dengan secawan air teh hingga terpaksa orang2 itu mengundurkan diri kedalam ruang belakang dan tak pernah muncul kembali.

Menyaksikan orang2 itu lebih rela minum teh racun daripada ribut2 dengan dirinya, Siau Ling segera berpikir didalam hati

"Mungkin dalam kebun teh ini memang ada peraturan semacam ini untuk menghindari

percekcokan sehingga terjadi kehebohan dan urusan pun sampai tersiar diluaran, rupanya mereka

lebih rela minum teh racun daripada nibut dengan orang "

Sementana ia masih berpikir tiba tiba horden tersingkap dan muncullah seorang pria setengah baya berbaju kuning langsung menghampiri dirinya, sesudah memberi hormat ia berkata

"Pelayan kami masih muda belia dan tak mengerti urusan, sekarang atas kesalahan yang telah

dilakukan itu mereka sedang dicaci maki oleh taukee kami, tapi lima orang pelayan telah

menyalahi engkau semua kejadian ini benar benar membuat aku tak habis mengerti "

"Ada apa ?" seru Siau Ling sambil tertawa ewa.

"Kami orang yang membuka rumah makan bertemu orang harus membawa senyuman dibibir aku tak habis mengerti kesalahan apakah yang telah dilakukan terhadap dirimu.? cuma saja. dalam gusarnya kemungkinan besar majikan kami bisa memecat kelima orang pelayan itu, urusan menyangkut masalah kehidpan mereka oleh karena itu aku harap... "

"Urusan ini toh persoalan kebun teh Jit ci teh wan kalian sendiri, apa sangkut pautnya dengan diriku?" tukas Siau Ling cepat.

"Tentu saja sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, cuma saja urusan ini toh timbul lantaran engkau, karenanya aku harap engkau suka mintakan ampun buat kelima orang pelayan ini"

"Hmmm! siasat yang begitu sederhana juga hendak dipergunakan dihadapanku?" diam2 Siau Ling memaki dalam hatinya.

Sesudah berpikir sebentar, tanyanya

"Apakah aku mampu untuk menolong mereka??"

"Untuk melepaskan belenggu harus dilepaskan oleh orang yang memasangnya sendiri, meskipun engkau tidak kenal dengan majikan kami, tetapi dengan kehadiranmu sendiri maka perkataanmu pasti akan jauh lebih manjur"

"Undang keluar majikanmu biar aku terangkan kepadanya disini juga"

"Majikan kami sedang gusar, aku tidak berani berbicara dengan dirinya, karena itu terpaksa

harus merepotkan engkau untuk berkunjung sebentar kesana "

Siau Ling segera bangkit lalu bertanya

"Saat ini majikanmu berada dimana ?"

"Sekarang ia berada diruang dalam !"

"Kalau memang majikanmu tak mau berkunjung datang kemari terpaksa aku harus pergi kesitu sendiri"

"Engkau begitu besar hati andaikata kau adalah orang Bu lim maka dirimu pastilah seorang pendekar yang besar!" kata pria baju kuning itu kemudian sambil berjalan lebih dahulu, Siau Ling tertawa ewa

"Aku hanya seorang manusia gelandangan yang berkelana didunia tanpa tempat tinggal tetap, aku bukanlah seorang pendekar besar seperti itu " sambil mengikuti dibelakangnya diam diam Siau Ling berpikir dalam hati kecilnya.

"Mereka dapat melepaskan racun dalam air tehku itu berarti bahwa mereka ahli dalam hal racun aku harus bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan"

Berpikir sampai disitu sepasang tangannya segera dimasukkan kedalam saku diam-diam mengenakan sarung tangan kulit ularnya.

Setelah berada didepan pintu masuk pria baju kuning itu menyingkap kain horden sambil berkata

"Saudara silahkan masuk kedalam"

Diam diam Siau Ling mengepos tenaga mempersiapkan diri kemudian selangkah demi selangkah masuk kedalam ruangan.

Setelah melewati sebuah lorong sempit yang panjangnya mencapai beberapa tombak sampailah pemuda itu pada ujung lorong yang merupakan sebuah pintu besi.

"Sahabat silahkan masuk kedalam", dari balik pintu berkumandang datang suara teguran dingin.

Siau Ling melongok kedalam ia lihat ruangan itu remang dengan sinar yang redup membuat pandangan disitu tidak nampak jelas tetapi dengan andalkan nyalinya yang besar serta kepandaian silatnya yang tinggi dengan langkah tegap ia berjalan masuk kedalam.

Baru saja ia melangkah masuk kedalam pintu, segulung desiran angin tajam menyambar lewat dari sisi tubuhnya, dan laksana sambaran kilat cepatnya langsung menghajar jalan darah Tiong ho hiat diatas badannya.

Siau Ling sambil miringkan badan segera menerobos masuk kedalam, ia membiarkan badannya kena tersambar oleh ujung jari lawan, kemudian tarik napas panjang dan pura-pura roboh keatas tanah.

Terdengar suara gelak tentawa yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian

"Haaah haaah.haaah... kita sudah menilai terlalu tinggi terhadap dirinya!"

Diam2 Siau Ling meliirk sekejap kearah orang yang barusan melancarkan serangan totokan terhadap dirinya itu, ia saksikan orang tersebut mengenakan jubah warna hitam dan dia bukan lain adalah murid tertua dari Shen Bok Hong yang bernama Tan Hiong Ciang.

Seorang lelaaki berjubah hitam berkerudung kain hitam mengikuti dibelakang tubuh orang she-Tan tersebut.

Siau Ling dengan sorot mata yang tajam segera mengawasi orang baju hitam itu, walaupun cahaya dalam ruangan remang2 akan tetapi ia menyaksikan kesemuanya itu dengan jelas, ia merasa pakaian jubah hitam yang dikenakan itu terlalu ketat, terutama sekati kain kerudung hitam yang menutupi kepalanya, boleh dibilang tidak keruan.

Kejadian itu mencengangkan hatinya, segera pemuda she Siau itu berpikir "Dandanan orang ini benar2 luar biasa sekali, kalau dikatakan ia sedang menyaru maka boleh dibilang penyaruannya itu adalah penyaruan yang terjelek dikolong langit"

Dalam pada itu terdengar manusia jubah hitam itu mendehem ringan dan berkata "ilmu silat yang dimiliki sau cungcu benar2 amat sempurna, totokan jarimu itu cepat bagaikan sambaran kilat, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat sangat lihaypun tak akan mampu untu meloloskan diri"

"Taysu terlalu memuji" jawab Tan Hiong Ciang " bukannya ilmu silat yang kumiliki terlalu tinggi, sebenarnya kitalah yang sudah menilai orang ini terlalu tinggi"

"Bagus sekali" batin Siau Ling, " rupanya dia adalah seorang hweesio, tidak aneh kalau pakaian yang dikenakan olehnya luar biasa sekali"

Terdengar manusia berjubah hitam itu berkata kembali

"Pinceng tak dapat berdiam terlalu lama disini, aku hendak mohon diri terlebih dahulu, semoga saja bilamana sau cungcu berjumpa dengan Shen Toa cungcu sampaikanlah perkataanku tadi"

"Taysu tak usah kuatir, bilamana aku berjumpa dengan guruku malam nanti pasti akan kusampaikan perkataan dari caysu itu"

"Kalau memang begitu pinceng mohon diri terlebih dahulu " kata orang baju hitam itu sambil memberi hormat.

Tan Hiong Ciang balas sambil hormat dan berkata kembali

"Suhu telah berkata, bilamana dunia persilatan sudah berada dibawah kekuasaannya maka taysulah ciangbunjin Siau Lim!"

"Semoga sau cungcu suka membantu dari samping, sekalian sampaikan salam Pinceng untuk Toa cungcu!" habis berkata orang baju hitam itu segera berlalu.

Menungu orang itu sudah lenyap dan pandangan mata Tan Hiong Ciang baru menggape kearah tempat kegelapan dan muncullah dua orang pria kekar yang segera menggusur Siau Ling menuju keruang rahasia yang lain.

Setelah menyaksikan dan mendengar apa yang barusan terjadi mengertilah Siau Ling bahwa kebun teh Jit ci teh wan adalah salah satu markas dari Shen Bok Hong, akan tetapi bukan merupakan tempat penting jika didengar dari pembicaraan Tan hong Ciang barusan rupa-rupanya Shen Bok Hong berdiam ditempat lain.

Ia lihay dan bernyali besar dibiarkannya sang badan digotong masuk oleh kedua orang pria kekar itu kedalam sebuah ruangan rahasia.

Ruang rahasia itu besarnya menyerupai kamar biasa cuma suasananya gelap gulita

Tan Hiong Ciang mengikuti dibelakang tubuh dua orang pria yang menggotong tubuh Siau Ling setelah berada didalam kamar ia segera berseru

"Pasang lampu lentera aku hendak memeriksa manusia keparat ini"

Pria yang ada disebelah kiri segera mengiakan dan memasang lampu, dalam waktu singkat suasana dalam ruangan itu sudah berubah jadi terang benderang.

Siau Ling melirik sekejap kearah sekeliling ruangan itu, dalam hati segera pikirnya

"Mungkin tempat ini merupakan ruang siksa yang biasa digunakan oleh mereka untuk

memeriksa tawanannya "

Tampaklah Tan Hiong Ciang menutup pintu besi lalu mengirim satu pukulan keatas badannya.

Siau Ling tahu bahwa dia hendak membebaskan jalan darahnya, karena itu badannya sama sekali tidak bergerak.

Setelah pukulan tadi menghajar bahu Siau Ling, pemuda itu segera berpura2 baru saja bebas dari pengaruh totokan.

Kedua orang pria kekar itu memuntir lengan Siau Ling dan berdiri tegak dibelakang tubuhnya. Siau Ling sama sekali tidak melawan, ia biarkan tangannya dipuntir kebelakang namun hawa murninya diam2 sudah disebarkan mengelilingi seluruh tubuhnya. Terdengar Tan Hiong Ciang berseru dengan dingin "Saudara nyalimu benar2 amat besar !"

Siau Ling melirik sekejap kearah Tan Hiong Ciang, lain sambil pura-pura kebingungan katanya "Aku toh sama sekali tiada ikatan dendam ataupun sakit hati dengan kalian semua,

perselisihanpun tak pernah terjadi, mengapa kalian bersikap demikian terhadap diriku ?

sebenarnya apa maksud kalian ??"

Tan Hiong Ciang tertawa dingin kemudian berkata

Dihadapan orang budiman tak usahlah bicara bohong, dalam sepasang mata aku orang she-Tan belum pernah kemasukan sebutir pasirpun kalau sahabat tidak ingin merasakan siksaan badan lebih baik jawablah sejujurnya semua pertanyaanku !"

"Apa yang harus kukatakan ?"

"Apa yang kutanyakan jawab dengan sejujurnya, ingat ! jangan coba-coba berbohong"

"Ajukanlah pertanyaanmu asal aku tahu pasti akan kujawab dengan sejujurnya !"

"Siapa namamu ? apa julukanmu ? mau apa datang kemari ? mendapat perintah dari siapa ?"

"Aku bernama Ciau Tong dalam persilatan punya sedikit nama aku datang kemari karena sedang berpesiar dan kedatanganku adalah muncul dari hati serta keinginanku sendiri"

"Ciau Tong ?" gumam Tan Hiong Ciang seorang diri, "kenapa aku belum pernah mendengar nama ini ??"

"Selamanya aku bergerak diatas air " Siau Ling menerangkan. "Jadi kalau begitu engkau juga sahabat dari kalangan persilatan ?" "Benar selamanya aku bekerja dan cari untung diatas air, diatas daratan jarang sekali beroperasi karena itu aku tak kenal dengan dirimu" Tan Hiong Ciang segera tertawa dingin.

"Oooh... rupanya engkau adalah bandit air aku gembira sekali dapat bertemu dengan engkau" Sambil mempertinggi suaranya ia menyambung lebih jauh

"Saudara kalau memang engkau cari keuntungan diatas air lalu apa sangkut pautnya dengan kebun teh Jit ci teh wan kami ini? Toh kita bagaikan air sumur tak pernah mengganggu air sungai? ada urusan apa engkau datang kemari?"

"Tiada tujuan apa2, aku hanya merasa ingin tahu saja"

"Barang apa saja yang kau bawa dalam sakumu?" perlahan2 Tan Hiong Ciang bertanya. "Kecuali beberapa tahil uang perak, tiada benda lainnya lagi!"

"Bagaimana kalau sampai kugeledah?"

"Kecuali beberapa setel pakaian, yang lain adalah barang keperluan sehari2" Tan hong Ciang segera ulapkan tangannya. "Periksa yang teliti!" perintahnya.

Kedua orang pria itu mengiakan, tangan kiri mencekal lengan Siau Ling sementara tangan yang

lain merogoh kedalam sakunya.

Siau Ling berdiam diri beberapa saat lanka nya, setelah itu ujarnya

"Apakah sau cungcu menaruh curiga kalau maksud kedatanganku adalah untuk bikin

kekacauan.. "

"Tutup mulut!" hardik Tan Hiong Ciang dengan keras, kalau engkau tidak bermaksud mengacau, apa sebabnya kau paksa pelayan dalam ruangan kami secara beruntun minum teh berisi obat pemabok?",

Siau Ling segera tersenyum.

"Hal ini harus salahkan pada sau cungcu sendiri mengapa gunakan pelayan2 tolol untuk melakukan tugas tersebut? lagipula mereka kurang mampu untuk menahan diri, baru saja aku bercakap2 beberapa patah kata dengan mereka, mereka sudah meracuni air tehku bahkan wajahnya menunjukan sikap tidak tenang, itulah sebabnya dengan cepat aku dapat membongkar maksud jahatnya."

Tan Hiong Ciang termenung dari berpikir beberapa saat lamanya, kemudian berkata

"Meskipun kedatanganmu tanpa maksud apa2, tetapi engkau toh sudah kami tangkap? pepatah mengataan menangkap harimau mudah, untuk melepaskannya kembali susah, selamanya kebun teh Jit ci teh wan adalah tempat berdagang yang pakai aturan, setelah engkau mengetahui latar belakang yang sebenarnya tentu saja tak dapat dilepaskan kembali?"

"Lalu apa yang hendak engkau lakukan terhadap diriku?"

Tan Hiong Ciang menyeringai seram, katanya

"Tentu saja membinasakan dirimu, karena hanya itulah satu2nya jalan yang paling aman"

Mendengar perkataan tersebut, dalam hati kecilnya Siau Ling segera berpikir

"Rupanya suatu pertempuran sengit sudah tak dapat dihindarkan diri lagi perduli pertarungan

macam apapun juga aku harus berhasil menangkap Tan Hiong Ciang dalam keadaan hidup,

dengan begitulah Shen Bok Hong baru tidak akan memperoleh kabar hingga tindakanku ini tidak

sampai memukul rumput mengejutkan ular.. "

Sementara itu Tan Hiong Ciang telah berkata kembali dengan suara dingin

"Engkau tak perlu takut, meskipun aku telah menganbil keputusan untuk membinasakan dirimu,

akan tetapi aku akan suruh engkau mati dalam keadaan nyaman, sedikitpun tidak merasakan

penderitaan apapun

"Engkau amat baik hati!" Tan Hiong Ciang tertawa.

"Asal kuhajar jalan darah Tat an-Leng hiatmu diatas ubun2 maka engkau akan jatuh tak sadarkan diri kemudian menemui ajalnya, tubuhmu sama sekali tak akan mengalami penderitaan apapun"

Telapak kanannya segera diayun langsung menghajar batok kepala sianak muda itu.

Walaupun dihari-hari belakangan ini tenaga dalam yang dimiliki Siau Ling telah mendapatkan kemajuan yang amat pesat, namun ia tak berani membiarkan jalan darah "Thian leng hiat" pada ubun2nya dihajar oleh Tan Hiong Ciang, dalam keadaan yang mendesak mau tak mau dia harus melakukaa perlawanan.

Sepasang telapaknya segera bekerja cepat masing2 mencengkeram jalan darah penting dipersendian dua orang pria yang memuntir lengannya sementara kaki kanannya mengirim satu tendangan kilat menghajar lambung orang she Tan tersebut.

Murid tertua Shen Bok Hong ini mimpipun tak pernah menyangka kalau pihak lawan memiliki ilmu silat yang begitu lihay, dalam posisi saling berhadapan tiada kesempatan lagi baginya untuk berkelit kesamping terpaksa telapak kanannya ditabok kedepan memaksa sianak muda itu terpaksa harus menarik kembali serangannya.

Walaupun begitu telapaknya tak urung mengena juga diatas bahu seorang pria anak buahnya yang ada disamping membuat orang itu mendengus berat dan tulang bahunya seketika patah.

Bagaimana pun juga dia adalah seorang tokoh kelas satu dalam dunia persilatan. sekalipun serangannya mengena tubuh kawan, namun tubuhnya sempat melayang mundur dua depa kebelakang.

Melihat tendangannya gagal, Siau Ling segera mendorongkan sepasang telapaknya ke depan, tanpa bisa dikuasai tubuh kedua orang lelaki itu segera menumbuk kearah Tan Hiong Ciang.

Orang she Tan itu buru2 rentangkan sepasang telapaknya kedepan...plok! plok! dua orang pria itu tertumbuk diatas angin pukulannya sehingga terpental kesamping.

Menggunakan kesempatan itulah Siau Ling meloncat maju kedepan, telapak kanannya diayun kedepan dan menghajar dada lawan.

Tan Hiong Ciang tahu lihay, buru buru telapak kanannya diayun pula kedepan menyambut datangnya ancaman tersebit dengan keras lawan keras.

Bentrokan sepasang telapak menimbulkan suara ledakan yang memekikkan telinga, termakan oleh dahsyatnya angin pukulan dari Siau Ling, tubuh Tan Hiong Ciang terge tar mundur tiga langkah kebelakang, darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras membuat hatinya merasa amat terperanjat

Dengan cepat ia merogoh keluar sepasang senjata garpunya, sambil dicekal dalam genggaman, serunya dingin

"Siapakah engkau?"

"Pencabut nyawa!" jawab Siau Ling sambil tertawa dingin.

Tangan kirinya diayun, dengan jurus Kim liong tam jiau atau naga emas unjukkan cakar ia cengkeram pergelangan lawan.

Setelah menyambut datangnya serangan tadi, Tan Hiong Ciang telah mengetahui bahwa ilmu silatnya masih belum mampu menandingi lawan kalau tidak menggunakan senjata pasti tak akan mampu untuk menandingi lawannya, tangan kanan segera diayun dan senjata garpunya yang memancarkan cahaya kilat langsung menusuk tangan Siau Ling.

Sianak muda itu putar tangan kanannya, kelima jari tangannya digenggam dan segera mencengkeram senjata garpu itu kencang2.

"Siau Ling..." jerit Tan Hiong Ciang dengan terperanjat.

Tangan kanan Siau Ling bekerja cepat dalam sebuah kelebatan ia sudah totok jalan darah Poh long hiat ditubuh orang she Tan tersebut.

Baru saja Tan Hiong Ciang meneriakan nama Siau Ling, jalan darahnya sudah tertotok, tangan kanannya mengendor dan senjata tajamnya terlepas dari genggaman.

Siau Ling segena pungut senjata garpu itu, kaki kirinya menginjak diatas dada Tan hiong Ciang serta menendang bebas jalan darahnya yang tertotok, dengan dingin serunya:

"Sekarang aku sudah belajar bagaimana caranya turun tangan keji, kalau engkau berani berteriak maka akan kucongkel keluar sepasang biji matamu itu"

Tan Hiong Ciang benar2 tak berani berteriak.

Siau Ling segera alihkan sorot matanya kearah salah seorang diantara dua pria kekar yang dihajar oleh Tan Hiong Ciang tadi hingga roboh dan waktu itu sedang merangkak bangun, pikirnya didalam hati

"Kalau aku tidak turun tangan menghabisi nyawa kedua orang ini pastilah Tan Hiong Ciang tak akan merasa takut terhadap diriku...!"

Berpikir demikian senjata garpu ditangannya segera diayunkan kearah depan

"Creeet.. ! darah segar muncrat keluar membasahi seluruh wajah dan tubuh Tan Hiong Ciang.

Ketika sorot matanya beralih kembali kearah pria kekar itu tampaklah dadanya sudah merekah besar sedangkan isi perutnya berhamburan keluar.

Pelahan-lahan Siau Ling menyeka darah segar diatas senjata garpunya itu pada wajah Tan Hiong Ciang, kemudian ujarnya dengan dingin

"Mungkin... , engkau sudah percaya bukan kalau aku sudah belajar bagaimana caranya membunuh orang ?"

"Engkau adalah Sam cungcu.... kau benar-benar adalah Paman Siau

"Hmm ! hubunganku dengan Shen Bok Hong sudah lama putus diantara kami berdua sudah tiada ikatan apa-apa lagi orang tak usah menyebut aku sebagai Sam cungcu lagi, sebab dewasa ini kita adalah musuh bebuyutan.. "

Setelah membuktikan bahwa orang yang sedang dihadapinya pada saat ini benar2 adalah Siau Ling, Tan Hiong Ciang tak berani melakukan perlawanan lagi, perasaan hati pun jauh lebih tenang, tanyanya lirih

"Engkau ingin berbuat apa?"

"Berapa banyak orang yang berada didalam ruang kecil ini??"

"Dalam ruang siksa ini hanya ada tiga orang dua diantaranya sudah kau bunuh mati dan tinggal aku seorang yang masih hidup"

"Kalau engkau tidak bicara sejujurnya, siksaan badan saja yang akan kau dapatkan...."

"Ruangan ini toh kecil sekali dan sekilas memandang sudah dapat dilihat semua, mengapa aku harus membohongi dirimu??"

Siau Ling berpaling sebentar, dan ujarnya

"Aku bertujuan melenyapkan Shen Bok Hong serta menghancurkan perkampungan Pek hoa san cung sehingga bibit bencana bagi dunia persilatan dapat disingkirkan, sedang engkau tidak lebih hanya seorang budak bayaran yang dipergunakan tenaganya untuk berbuat kejahatan sekalipun dibunuh juga tak perlu disayangkan, kalau engkau berani berbohong sekali bacok kucabut selembar jiwamu,.. "

"Seorang lelaki sejati tak takut mati dibunuh" sela Hong Ciang dengan cepat, "kalau Siau tayhiap ingin membunuh, bunuh sajalah dengan cepat engkau tak perlu menakut nakuti diriku

lagi"

Siau Ling tertawa dingin.

"Hmmm! rupanya engkau sudah keracunan terlalu mendalam sehingga tak bisa diselamatkan lagi jiwanya, baiklah ! dari gurumu aku memang sudah terlatu banyak mempelajari cara untuk turun tangan secara keji kalau suruh aku membinasakan drimu dengan cara yang enak, mungkin saja sulit bagiku untuk melakuknnya

"Lalu apa yang enak kau lakukan ??" Aku akan suruh engkau merasakan penderitaan yang hebat secara perlahan-lahan kemudian baru menemui ajal.

"Engkau seorang pendekar besar, apakah engkau tidak takut siksaan cara keji yang kau gunakan itu akan menodai nama besarmu?"

"Hal itu harus dilihat siapakah yang sedang kuhadapi gurumu berhati kejam dan tak kenal perikemanusiaan, kalau aku tidak menggunakan cara racun lawan racun, siapakah yang mampu untuk menbendung kekejamannya itu?"

Sesudah berhenti, sambungnya lebih jauh:

"Perduli bagaimana akhirnya sekarang hanya ada satu jalan saja yang dapat kau tempuh"

"Jalan apa??"

"Bekerja sama dengan aku serta mendengarkan perintahku!!"

"Kemudian"

"Akan kuberikan semua jalan kehidupan bagimu dan kali ini jiwamu tak akan kuganggu, tapi lain kali jangan coba2 untuk terjatuh lagi ditanganku"

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 19"

Post a Comment