coba

Budi Ksatria Jilid 14

Mode Malam
Jilid: 14

Thio Seng tarik kembali serangannya dan loncat mundur kebelakang. Katanya "Hujin kau ada petunjuk apa??"

"Kalau bertarung dengan cara begini mana mungkin kau berhasil melukai musuh? lebih baik aku turun tangan sendiri..."

"Hujin" kata Thio Seng dengan gelisah "pedang pendek dalam genggamannya tajam sekali, sedangkan seruling milik hamba adalah pemberian dari majikan tua dimasa lampau selama puluhan tahun lamanya seruling ini tak pernah berpisah dari sisiku, hamba takut seruling ini terluka sehingga tak berani kugunakan secara sembarangan... dengan sendirinya daya tekananpun tak dapat dipancarkan sebagaimana mestinya"

"Hmm ..! dia punya pedang tajam dianggapnya kami tak punya benda mustika yang dapat digunakan untuk menghadapi senjatanya itu...?"

Sambil berpaling kearah pemuda berpakaian ringkas itu serunya:

"Bawa kemari benda mustika dari perkampungan Pek in-san-cung kita"

Pemuda berpakalan ringkas itu mengiakan dia melepaskan sebuah bungkusan kain hitam dari punggungnya dan membuka ikatan tersebut, dari dalam ia ambil keluar sebuah kotak kayu yang panjangnya satu depa delapan cun.

Siau Ling yang menyaksikan hal itu, dalam hati segera pikirnya:

"Macam apa sih benda mustika dari perkampungan Pek in San cung?? aku ingin melihat dengan cermat"

Dengan sikap yang penuh hormat pemuda berpakaian ringkas itu membuka kotak kayu itu dan ambil keluar sebuah penggaris kumala dan segera diangsurkan ketangan Thio lo hujin.

Senjata itu panjangnya cuma satu depa tujuh cun, berarti satu cun lebih pendek dari kotak kayu itu.

Dengan wajah serius Thio lo hujin menerima senjata itu, ujarnya

"Thio Seng, penggaris kumala ini kuat sekali dan tak takut senjata mustika, engkau boleh gunakan benda lni untuk menghadapi musuh"

Thio Seng segera menerima penggaris kumala itu ditangan kanan dan mencekal seruling bajanya ditangan kiri, sambil memberi hormat katanya:

"Hamba bisa mendapat pinjaman benda yang begini berharganya, ini hari aku pasti akan menangkap Siau Ling, kalau tidak hamba rela terkubur ditempat ini sebagai balas budi atas penghargaan ini"

Habis berkata ia putar badan dan mendekati sianak muda itu.

Dalam pada itu Siau Ling sedang mengawasi senjata penggaris kumala yang berwarna putih bersih itu pikirnya:

"Bagaimana kerasnya penggaris putih itu tak mungkin kalau mampu untuk menangkis pedang mustika milikku...

Baru saja berpikir sampai disitu, Thio Seng dengan memegang seruling baja dan penggaris kumala tadi sudah mendekati kearahnya.

Walaupun dalam hati kecilnya Siau Ling tak percaya kalau penggaris kumala itu mampu bentrok dengan senjata mustikanya, namun ia sama sekali tiada maksud memandang enteng lawannya, melihat Thio Seng mendekati kearahnya dia segera tarik napas panjang dan bersiap sedia.

Setelah bersenjatakan penggaris kumala, keberanian Thio Seng semakin bertambah, tangan

kanannya segera diangkat dan langsung membabat kedepan,

Siau Ling ayun pedang pendeknya menyongsong kedatangan senjata tersebut pikirnya: "Masa senjatamu itu lebih ampuh daripada pedang mustikaku... mau coba marilah silakan

dicoba.

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, senjata pedang dan penggaris kumala itu sudah saling membentur satu sama lainnya.

Criiing.. ! ternyata penggaris kumala itu masih utuh dan sama sekali tidak cedera.

Thio Seng sendiri meskipun mengetahui bahwa senjata itu merupakan benda mustika dari perkampungan Pek-in-san cung dan kerasnya bukan kepalang, tetapi melihat ketajaman pedang lawan hatinya merasa agak kuatir juga ia takut mustikanya cedera.

Maka setelah terjadi bentrokan tersebut, kedua orang itu sama2 loncat mundur kebelakang untuk memeriksa senjatanya masing-masing.

Setelah mengetahui bahwa pengaris kumala itu ampuh sekali, keberanian Thio Seng semakin tebal ia maju lagi kedepan sambil melancarkan serangan. Penggaris kumala ditangan kanannya khusus menangkisi pedang tajam Siau Ling sebaliknya seruling baja ditangan kirinya mengancam jalan darah penting ditubuh lawan.

Oleh serangan2 lawan yang begitu gencar dengan cepat Siau Ling keteter hebat:

Pedang pendeknya selalu dikunci okh sejata lawan, sementara seruling bajanya mengancam tempat2 berbahaya ditubuhnya, untuk beberapa saat ia terdesak dan mundur terus kebelakang.

Menyaksikan kedudukannya sudah berada diatas angin dan serangan2nya berhasil memaksa mundur lawannya, Thio Seng semakin gencar melancarkan serangan mautnya, ia berusaha untuk melukai Siau Ling diujung seruling bajanya,

Serangan yang begitu gencarnya itu telah menggunakan segenap kekuatan tubuh hasil latihan selama puluhan tahun, desiran angiti tajam men.deru2 mengikuti berkelebatnya senjata penggaris kumala, sedang totokan seruling baja mengandung gulungan angin pukulan bagaikan amukan ombak disamudra, karena itulah Siau Ling merasakan tekanannya kian lama kian bertambah kuat sehingga sukar ditahan:

Bukan pemuda itu saja yang merasa terperanjat Sam ciat suthay yang berada disampingpun ikut terperanjat sementara Gak Siau cha pusatkan perhatiannya kedalam gelanggang, pedang dalam genggamannya dipegang semakin kencang. Asal Siau Ling menemui bahaya dia akan segera memberikan pertolongannya.

Ditengah pertarungan yang berlangsung dengan serunya itu tiba2 Siau Ling ayun tangan kirinya kedepan, sebuah sentilan tajam memaksa seruling baja yang menyodok dadanya seketika terpental kesamping.

Semua jago yang ada di sana merasa terperanjat siapapun tak tahu ilmu silat apakah yang telah digunakan Siau Ling, mereka hanya lihat sebuah sentilan yang perlahan ternyata mampu menggetarkan seruling baja Thio Seng hingga mencelat kesamping.

Dengan ilmu sentilan mautnya Siau Ling berhasil menumbangkan semua serangan lawan, dalam keadaan begini ia segera melancarkan serangan balasan. Pedang pendeknya dengan menciptakan diri jadi selapis cahaya tajam langsung mengurung tubuh musuhnya.

Bentrokan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian segenap serangan gencar yang

Dilancarkan Thio Seng berhasil dipunahkan oleh Siau Ling.

Cahaya pedang yang tajam dan menyilaukan matapun kian lama kian bertambah cemerlang.

Dalam waktu singkat dari posisi bertahan Siau Ling berubah jadi kedudukan menyerang dan diapun berhasil duduk diatas angin.

Thio Seng berusaha untuk merebut kembali posisinya yang kian lama kian terdesak hebat itu tapi sayang ilmu pedang Siau Ling yang sempurna telah berhasil menguasai keadaan sehingga untuk beberapa waktu ia tak mampu berkutik Lagi.

Melihat Siau Ling telah berhasil menguasai keadaan, Thio Seng sudah menunjukkan tanda2 akan menderita kekalahan, Sam ciat suthay segera berbisik kepada Gak siau cha:

"Gak sumoay andaikata engkau tak ingin mengikat hubungan permusuhan dengan pihak perkampungan Pek in-san sung, lebih baik beritahulah kepada Siau Ling agar jangan turun tangan keji

Baru saja ucapan itu selesai diutarakan menang kalah sudah ditentukan dalam gelanggang. Dua sosok bayangan yang saling menubruk tiba2 berpisah satu sama lainnya.

Dengan muka serius Siau Ling berdiri di sisi kalangan, pedangnya tetap disilangkan didepan dada.

Sebaliknya Thio Seng dengan muka pucat pias beruntun mundur tiga langkah kebelakang, jelas ia sudah menderita luka yang cukup parah.

Dengan muka hijau membesi Thio lo hujin segera menegur: "Thio Seng, parahkah tuka yang kau derita?"

Dengan seruling bajanya menahan tubuh yang gontai Thio Seng menjawab setelah napasnya dapat diatur kembali.

"Hujin, bocah itu berhasil mempelajari ilmu sentilan maut Sian-ci sinkang dari Bu- siang taysu.. " Badannya gemetar keras dan muntah darah segar, tapi ia tetap mempertahankan diri sambil menyambung:

"Ketika budak mengikuti majikan tua tempo hari seringkali kusaksikan sepuluh tokoh sakti saling bertarung satu sama lainnya, hweesio dari Siau-lim-si telah mengandalkan sentilan maut inilah seruling majikan tua, hujin kalau bertarung nanti engkau harus berhati2"

Selesai mengucapkan beberapa patah kata itu, tubuhnya segera roboh terjungkal diatas tanah.

Thio Lo hujin berpaling dan memandang sekejap kearah pemuda berpakaian ringkas itu, lalu katanya.

"Berikan sebutir Po mia wan kepadanya" Pemuda itu mengiakan, sambil membopong tubuh Thio Seng ia segera mengundurkan diri kesudut ruangan.

Perlahan2 Thio Lo-hujin maraya keatas wajah Siau Linh dengan tubuh gemetar keras menahan emosi ujarnya dengan ketus:

"Siau Ling. engkau telah melukai dirinya dengan ilmu apa??"

"Ilmu totok Siu lo ci, tapi aku telah turun tangan ringan dan tidak sampai mencabut jiwanya karena aku merasa tak ada hubungan permusuhan dengan pihak perkampungan Pek in San cung. andaikata ia tidak banyak bicara niscaya luka dalam yang dideritanya tak akan separah itu, tapi ia bicara banyak dan memberitahu keadaan yang sebenarnya kepadamu, itulah yang menyebabkan lukanya makin bertambah parah, tapi tidak sampai merenggut jiwanya... asal ia beristirahat selama dua hari lukanya pasti akan sembuh.. "

Thio Lo hujin tertawa dingin, tukasnya.

"Mati hidup orang perkampungan Pek in san cung tak usah kau kuatirkan"

Siau Ling mengerutkan dahinya, ia hendak membantah tapi akhirnya niat tersebut dibatalkan.

Thio lo-hujin berpaling kearah pemuda berpakaian ringkas itu, lalu serunya.

"Serahkan penggaris kumala itu kepadaku"

Dengan hormat pemuda itu angsurkan senjata itu kepada sang nenek, rupanya walaupun Thio Seng sudah tak sadarkan diri, namun senjata penggaris kumala itu masih dipegangnya erat2.

Setelah menerima pengaris kumala itu, Thio Lo hujin berkata dengan nada dingin.

"Engkau memiliki ilmu silat dari berbagai aliran, tidak aneh kalau sikapmu begitu congkak dan tinggi hati. Aku sudah tua dan hampir saatnya mati soal mati hidup bukan masalah lagi bagiku, engkau tidak usah bersikap sungkan2 lagi kepadaku, kerahkanlah segenap kepandaian yang engkau miliki..."

"Aku orang she Siau dengan pihak Perkampungan Pek in sancung tidak pernah terikat dendam permusuhan apapun, tetapi jika locianpwee ingin memberi petunjuk kepadaku tentu saja boanpwee tidak akan menghindar, mari kita bertarung dan berhenti setelah saling menutul..'

"Siapa bilang pertarungan ini diakhiri dengan saling menutul?? Pertarungan ini adalah pertarungan yang mempengaruhi mati hidup kita" bentak Thio lo hujin dengan gusar.

"Nenek ini sudah tua, kenapa wataknya masih begitu berangasan.. " pikir Siau Ling dalam hati.

Terdengar Gak siau cha berkata:

"Saudaraku, mundurlah kebelakang ! biar cici yang melayani locianpwee ini beberapa jurus" "Cici, tunggulah sampai siau te berhasil dikalahkan lebih dahulu" seru sang pemuda dengan alis berkerut.

"Tidak" bentak Gak siau cha dengan serius, "ayoh cepat mundur ke belakang"

Siau Ling yang pada dasarnya amat menghomati Gik Siau cha. melihat sikapnya yang begitu serius tak berani membantah lagi, per-lahan2 ia mengundurkan diri kebelakang. "Locianpwee..." seru Gik Siau cha sambil memberi hormat:

"Hmm siapa yang kesudian menjadi locianpwee mu, kalau mau bertempur melawan ku, cepat cabut keluar senjata tajammu!".

Dari dalam sakunya Gak Siau cha ambil keluar kitab catatan ilmu seruling dari Thio Hong kemudian dengan hormat diangsurkan kedepan, ujarnya:

"Harap locianpwee suka menerima lebih dahulu kitab ilmu silat ini"

Meskipun Thio lo hujin ada maksud untuk menerimanya, tetapi ia merasa berat untuk mengulurkan tangannya, setelah berpikir se bentar ia balik bertanya

"Sebenarnya apa maksudmu?"

"Thio heng sudah berapa kali menyelamatkan jiwaku, sudah sepantasnya kalau boan pwee kembalikan kitab ilmu silat ini kepada locianpwee sebagai tanda balas budi dari diriku."

"Hmm... ! cucuku sudah hampir mati, mana ia mampu untuk mempelajari ilmu seruling dari kakeknya"

"Kalau locianpwee tidak bersedia untuk mnenerimanya, dan andaikata boanpwee sampai terluka atau mati ditangan locianpwee, maka aku takut kitab catatan dari Thio lo cianpwee ini akan terjatuh kedalam dunia persilatan dan sukar untuk ditarik kembali"

Thio Lo hujin berpikir sebentar, ia tahu betapa hebatnya persoalan itu maka sambil menerima kembali kitab pusaka dari Raja seruling katanya:

"Meskipun aku sudah menarik kembali kitab pusaka milik mendiang suamiku, itu bukan berarti aku sudah mengabulkan keinginan nona"

"Boanpwee tidak berani mempunyai jalan pikiran seperti itu"

"Bagus sekali cabutlah senjata tajammu!"

"Sebelum pertarungan dimulai boanpwee masih ada beberapa patah kata hendak dibicarakan

lebih dahulu!"

"Apa yang hendak kau katakan? cepat utarakan keluar",

"Persengketaan yang terjadi antara aku dengan Thio heng sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan saudara Siau, tapi keadaan telah memaksa dia untuk turun tangan, hal ini merupakan suatu kejadian yang apa boleh buat...pepatah bilang tiada pertarungan yang bersifat baik, luka atau mati tak dapat dihindari lagi, aka harap setelah pertarungan ini berlangsung, baik menang maupun kalah perselisihan diantara kita harus dibikin beres sampai disini saja.

"Hmm! kalau didengar dari ucapanmu itu rupanya engkau punya keyakinan untuk menangkan diriku, bukan begitu???"

"Locianpwee salah paham, maksudku perselisihan antara kita sudah sepantasnya kalau diakhiri sampai disini saja perluli siapapun yang menangkan pertarungan ini, dan dikemudian hari kita tak boleh saling balas membalas lagi."

"Kau tak usah kuatir, seandainya aku sampai mati ditanganmu maka kendatipaun pihak

perkampungan Pek in san cung ada orang hendak membalas dendam maka hal ini akan terjadi

sepuluh tahun mendatang kalian boleh menggunakan kesempatan tatkala pihak perkampungan

Pek in san cung belum ada ahli warisnya untuk melakukan pembasmian sehingga tidak

meninggalkan bibit bencana dikemudian hari "

"Locianpwee. "seru Gak Siau cha dengan alis berkerut

"Jangan panggil aku sebagai locianpwee lagi" tukas Thio lo-hujin "engkau she-Gak dan aku she Thio, kedua belah pihak sama2 tidak ada hubungan antara yang satu dengan yang lain." Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan:

"Tetapi seandainya aku menangkan dirimu, bagaimana keadaannya??"

"Sekalipun mati boanpwee tak akan menyesal."

"Seandainya engkau tidak sampai mati?"

"Maksud locianpwee?"? seru Gak Siau cha dengan alis berkerut.

"Engkau harus menerima pinangan cucu dan menjadi bininya"

"Tentang soal ini, boanpwee.. "

"Tak usah banyak bicara lagi, engkau tak mau juga harus mau, mampu harus mampu, ayoh cabut keluar senjatamu."

Penggaris kumala diayunkan dan langsung membacok tubuh dara itu.

Gak Siau cha tarik nafas dan mundur lima depa kebelakang, kepada Soh Bun serunya:

"Berikan pedangmu kepadaku."

Soh Bun tertegun, sambil mengangsurkan pedangnya kemuka ia merasa keheranan, pikirnya: "Bukankah diatas pinggangnya terdapat sebilah pedang lemas, kenapa tidak ia gunakan senjata

tersebut sebaliknya malah pinjam senjata dengan diriku ??"

Tindakan Gak Siau cha yang meminjam pedang ini bukan saja membingungkan hati Soh Bun,

bahkan Sam ciat suthay sekalianpun merasa keheranan mereka tak habis mengerti apa sebabnya

gadis itu pinjam senjata orang lain dan tidak memakai pedang sendiri.

Hanya Siau Ling seorang yang mengerti, ia tahu Gak Siau cha tentu sudah berhasil mempelajari

isi kitab pusaka dari Raja seruling, karena memakai pedang lemas sukar untuk menggunakan ilmu

seruling maka ia hendak gunakan pedang untuk menggantikan seruling dan menghadapi Thio lo

hujin dengan ilmu keluarganya sendiri.

Setelah menerima pedang itu, Gak Siau cha segera menyilangkan didepan dada, katanya:

"Locianpwee maafkanlah bila boanpwee terpaksa bertindak kurang ajar"

Thio Lo hujin sendiri sesudah melancarkan babatan tadi sama sekali tidak melancarkan

serangan kembali, rupanya ia sedang menunggu lawannya untuk meloloskan senjata.

Sam ciat suthay memahami kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini ia tahu

sekalipun Gak Siau Cha ada maKsud Mengalah tapi oleh perkataan yang diucapkan Thio lo hujin

tadi membuat gadis itu tak bisa mengalah lagi pertarungan yang akan berlangsung pun pasti luar

biasa dahsyatnya.

Andaikata Thio lo-hujin sampai terluka atau mati dendam permusuhan tersebut tak akan dahabisi sampai disini saja, sebaliknya kalau Gak siau cha yang mati, Siau Ling pasti tak akan ambil diam jadi bagaimana pun akhir dari pertarungan ini, keadaannya sama2 tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Sementara ia masih termenung pertarungan telah berlangsung.

Dengan andalkan keampuhan penggaris kumala itu, begitu melancarkan serangannya Thio Lo Hujin segera meneter dengan serangan serangan yang ganas dan keji, hal ini membuat Gak Siau cha terdesak hebat dan hanya mampu menangkis belaka.

Sam ciat suthay kuatir sekali, ia takut Thio lo hujin turun tangan keji sehinga melukai Gak Siau cha.

Pertarungan sengit berlangsung dengan serunya, dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat dan Gak Siau cha delama ini hanya mampu menangkis dan menghindar melulu.

Sekalipun begitu, walaupun serangan yang dilancarkan Thio lo hujin amat dahsyat, tapi setiap kali Gak Siau cha berhasl pula meloloskan diri dari bahaya maut.

Siau Ling jadi kuatir dan merasa tak tenang, beberapa kali ia saksikan Gak Siau cha mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan balasan akan tetapi kesempatan tersebut selalu tak pernah digunakan tanpa terasa pikirnya didalam hati.

"Rupanya ia memang ada maksud untuk mengalah tapi tenaga dalam yang dimiliki Thio lo

hujin lihay sekali, seranganpun tajam dan ganas, satu kali kurang waspada kemungkinan besar ia akan terluka diujung senjata lawan... "

Baru saja hatinya merasa kuatir, tiba tiba terdengar seruan nyaring dua sosok bayangan manusia berpisah satu sama lainnya.

Ketika ia menengok didalam gelanggang, tampaklah Gak siau-cha dengan wajah pucat pias berdiri dikalangan dengan pedang masih silangkan didepan dada

Pada waktu itu Siau Ling sedang melamun maka ia tak memperhatikan dimanakah letak luka yanp diderita Gak Siay Cha, tapi di tinjau dari keadaannya jelas membuktikan bahwa ia terluka parah dengan hati terkesiap ia segera loncat kemuka dan menghadang didepan tubuh gadis itu.

Thio Lo Hujin tertawa dingin, sindirnya:

"Siau Ling sekalipun engkau akan menghadapi diriku dengan cara roda berputar aku tak akan jeri"

"Saudara Siau, engkau boleh mundur kebelakang" bentak Gik Siau Cha dengan suara lantang. Siau Ling yang tak takut langit tak takut bumi, setelah mendengar bentakan segera mengundurkan diri kebelakang

"Gak siau cha, apakah kau masih punya kemampuan untuk bertempur lagi ? " seru Thio lo

hujin sambil tertawa dingin.

Ga! Siau cha tarik napas panjang panjang jawabnya:

"Mungkin locianpwee tclah menaruh belas kasihan kepadaku, maka serangan tadi tidak sampai menghilangkan daya tempur boanpwee ." Thio Lo hujin tertawa dingin.

"Bagus sekali, kalau begitu mari kita lanjutkan kembali pertarungan ini.. "

"Barusan boanpwee telah menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk melakukan perlawanan, tapi tubuhku masih tetap terkena sebuah gebukan, hal ini membuktikan kalau ilmu silat yang dimiliki locianpwee memang lihay sekali"

"Kalau engkau menyadari akan hal ini dan mengaku kalah serta menerima syaratku, demi cucuku aku tak akan mengungkap kembali kejadian yang telah lalu. "

Gak Siau cha tertawa ewa.

"Seandainya peristiwa ini terjadi pada tiga bulan berselang, boanpwee pasti sudah tak punya kemampuan untuk melakukan perlawanan lagi, tapi sekarang keadaannya sama sekali berbeda. " "Apa bedanya?"

"Dalam pertarungan berikutnya ini, boanpwee akan menggunakan ilmu seruling dari keluarga Thio untuk bertarung kembali me lawan cianpwee"

"Huuh... ! mau pakai ilmu orang untuk melukai diriku... sialan!"

"Peninggalan dari Thio locianpwee memang sangat hebat dan banyak terdapat jurus jurus yang ampuh, banyak diantaranya merupakan jurus2 aneh yang berhasil ia ciptakan setelah berada didalam istana terlarang"

Thio lo-hujin tertawa dingin.

"Kalau memang begitu bagus sekali. jika engkau bisa kalahkan diriku dengan ilmu seruling dari keluarga Tho, sekalipun kalah akupun rela. Tapi bagaimana kalau engkau yang kalah ditanganku??"

"Boanpwee akan gorok leher dan bunuh diri dihadapan cianpwee.. " jawab Gak Siau cha sambil tertawa getir.

Sorot matanya segera berputar dan menambahkan.

"Saudara Siau, apakah engkau bersedia me menuhi beberapa buah permintaanku??" "Katakanlah cici, aku pasti akan menuruti"

"Seandainya aku menderita kalah ditangan locianpwee sehingga harus bunuh diri engkau tak boleh membalaskan dendam bagiku"

"Tentang soal ini...tentang soal ini...siau te"

"Kabulkanlah permintaanku. sundara Siau,engkau pasti tak ingin kalau aku mati dengan tidak tenang bukan?"

"Baiklah, aku menyetujui" sahut Siau Ling kemudian dengan perasaan apa boleh buat.

"Setelah aku mati, kumpulkanlah ranting dan kayu dan bakarlah jenazahku, kemudian bawalah abuku kedepan jenasah ibuku, aku rasa jenasah ibuku tak akan rusak lagi, bila engkau ada waktu carilah sebuah gua dan simpanlah jenasah bibi immu serta abuku didalam gua tersebut, kemudian tutuplah kembali gua itu"

"Siau te turut perintah"

"Masih ada satu soal lagi, yaitu Soh Bun dan Siau Hong sebenarnya adalah murid dari seorang jago lihai, sungguh tak beruntung suhunya menemui bencana dan mati, setelah bertemu dengan aku mereka merasa cocok dan rela jadi dayangku, walaupun namanya dayang padahal hubungan kami lebih erat dari saudara sendiri, bila aku sampai mati engkaupun harus baik2 merawat mereka berdua"

"Siau te ingat"

Isak tangis berkumandang memecahkan kesunyian:

"Siocia, kalau engkau tidak beruntung dan mati dalam pertarungan, kami rela mengiringi dirimu. Siangkong tak usah repot2 merawat kami lagi"

Ketika Siau Ling berpaling, dilihatnya Soh Bun dan Siau Hong sudah menangis dengan sedihnya, ia segera menghela napas panjang, katanya

"Perintah cici tak berani siau-te bantah, tapi cici harus berusaha untuk mempertahankan hidupmu"

"Aku tahu dendam bibi Im mu toh belum terbalas, tentu saja aku harus berusaha untuk mempertahankan hidupku"

"Cici tak pernah berbuat salah, tidak seharusnya engkau punya niat untuk mencari mati."

Gak Siau cha tidak memperdulikan diri Siau Ling lagi, kepada Soh Bun dan Siau Hong dia berseru

"Apa yang kalian tangisi ? aku belum mati !"

Soh Bun dan Siau Hong tidak menangis lagi, namun air matanya masih jatuh berlinang membasahi pipi.

Gak Siau cha menghela napas panjang ujarnya lagi

"Tujuan locianpwee hanya membunuh aku seorang, dengan budinya yang luhur aku rasa tidak nanti dia menyusahkan kalian berdua, Siau Siangkong berjiwa besar, mereka pasti akan memberi suatu penyelesaian yang baik, ikutilah dia!"

Dengan air mata bercucuran Soh Bun dan Siau Hong mengangguk, mereka tak berani banyak bicara lagi.

Sorot mata Gak Siau cha perlahan-lahan dialihkan keatas wajah Sam ciat suthay, ujarnya kembali,

"Setelah siau moay mati, aku harap suci suka menyampaikan rasa terima kasihku kepada suhu atas budi kebaikan yang pernah beliau berikan kepadaku" "Aku pasti akan memenuhi harapanmu itu.. "

Setelah menyelesaikan pesan2nya Gak Siau cha lintangkan pedangnya didepan dada dan berkata:

"Thio lo hujin, sekarang engkau boleh turun tangan "

Thio lo hujin tidak banyak bicara lagi penggaris kumalanya diayun dan segera melancarkan sebuah serangan

Kali ini Gak Siau cha tidak menghindar atau mengalah lagi setelah meloloskan diri dari serangan tersebut, pedangnya segera berputar melancarkan serangan balasan.

Pertarungan yang berlangsung kali ini jauh lebih seru daripada pertarungan semula, dengan pedang menggantikan seruling Gak Siau cha telah mencampurkan jurus serulingnya kedalam permainan pedang, cahaya tajam berkilauan diudara, sebentar menotok sebentar membabat menyerang maupun bertahan dilakukan dengan amat sempurna.

Thio lo hujin sendiri jauh lebih banyak menyerang daripada mempertahankan diri.

Siau Ling pusatkan segenap perhatiannya kedalam kalangan. Keadaan Gak Siau cha selalu terancam oleh bahaya, senjata pengaris ditangan Thio lo hujin berputar kencang menguasai kalangan, tapi duapuluh gebrakan kemudian keadaan segera berubah.

Jurus2 aneh bermunculan dari tangan Gak Siau cha, dari bertahan ia mengambil inisiatip menyerang setelah puluhan jurus Thio lo hujin berhasil mendesak lawan, tapi serangan aneh dari gadis itu memaksa posisi berubah kembali.

Setelah lewat limapuluh gebrakan, walaupun kedua belah pihak masih bertarung sengit dan menang kalah masih belum dapat ditentukan, tapi baik Siau Ling maupun Sam ciat suthay sama2 dapat melihat bahwa Gak Siau cha tak bakal kalah lagi, perubahan pedang ditangannya sering kali menunjukkan suatu keampuhan yang luar biasa.

Gak Siau cha yang berada ditengah pertarungan, tiba2 merubah permainan pedangnya, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Ketiga jurus serangan ini mempunyai perubahan yang luar biasa membuat pandangan orang jadi kabur, dengan kelihaiannya Siau Ling serta Sam ciat suthay pun mampu melihat jelas asal mulanya perubahan gerak tersebut

Ditengah kerlipan cahaya pedang, dengusan berat menggema memecahkan kesunyian, senjata penggaris kumala dalam genggaman Thio lo hujin terlepas diatas tanah, sambil meloncat mundur tiga depa kebelakang darah segar tampak mengucur keluar dari tangan kanannya.

"Maaf.. maaf.. " seru Gak Siau cha sambil memberi hormat.

Dengan wajah sedih dan pandangan berkaca Thio lo hujin berkata lirih

"Ombak belakang sungai Tiang kang mendorong ombak didepannya, manusia generasi baru menggantikan generasi lama. .. aku memang sudah tua"

"Tiga jurus serangan berantai yang boanpwee gunakan barusan bernama tiga seruling sambaran kilat" ujar Gak Siau cha, "jurus serangan itu merupakan hasil ciptaan dari Thio locianpwee setelah terjerumus didalam istana terlarang, dengan kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki hujin rasanya tak sulit untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi setelah membaca kitab catatan tersebut, anggaplah kitab itu sebagai balas jasa dariku dan anggap pula kitab tersebut telah balik kembali kedalam perkampungan Pek in san cung"



Setelah mengalami kekalahan, Thio lo hujin sudah tak memiliki semangat untuk bertempur lagi, sambil berpaling sekejap kearah Giok siau long kun, gumamnya seorang diri: "Pembalasan ini tak dapat dihitung ringan..."

"Nenek, mari kita pergi! " seru Giok siau long kun, ia meronta bangun dan dengan langkah lebar berjalan keluar dari sana.

"Cun ji" teriak Thio lo hujin dengan suara lengking" siapa suruh kau berjalan sendiri.. " Dengan cepat ia mengejar dari belakang.

Thio Seng serta pemuda berpakaian ringkas segera mengejar dari belakang, dalam waktu singkat semua jago dari perkampungan Pek in san cung telah berlalu semua dari situ.

Memandang bayangan punggung orang2 itu Gak Siau cha hanya bisa menghela napas panjang belaka, tak sepatah katapun yang dia ucapkan.

Lama.. Lama.. sekali.. Akhirnya Sam ciat suthay buka suara dan bertanya,

"siau moay, apa rencanamu sekarang??"

"Aku tidak punya rencana apa?"

"Bersediakah engkau ikut aku menjumpai suhu?"

"Apakah suci beranggapan bahwa aku harus pergi??" tanya Gak Siau cha setelah termenung sebentar.

"Perduli engkau ingin pergi atau tidak, dalam setengah tahun mendatang kau harus pergi menjumpai suhu untuk memberi penjelasan tentang peristiwa yang terjadi pada hari ini, suci akan menjadi saksi bagimu"

"Terima kasih suci"

"Walaupun suhu tidak begitu senang dengan ensonya Thio lo hujin, tetapi hubungan persaudaraannya dengan Raja Seruling Thio locianpwee baik sekali Giok siau long kun adalah satu2nya keturuna keluarga Thio, tentu saja suhu tak akan tega membiarkan Giok siau long kun mati karena urusan ini, meskipun diluaran sikapnya tetap dingin dan hambar tapi menurut apa yang suci ketahui, suhu telah mengumpulkan obat-obat mujarab dan membuat semacam obat mujarab untuk Thio cun, kecuali engkau bersiap sedia bentrok dengan suhu, lebih baik engkau menanyakan dahulu maksud hati suhu"

"Terima kasih atas perhatian suci, siau moay tak akan melupakan untuk selamanya"

"Aku berharap engkau selalu mengingat perkataanku, nah suci akan pergi dulu.."

Habis berkata

Habis berkata ia segera berlalu dari gua tersebut.

Setelah menghantar kepergian Sam ciat suthay dan kembali lagi kedalam gua, Gak Siau cha memandang sekejap kearah Siau Ling lalu berkata sambil menghela napas panjang , "Saudaraku mengapa kau tak suka mendengarkan perkataanku?"

"Ada apa sih??"

"Andaikata hanya Giok siau long kun seorang yang datang, siau te tak akan banyak urusan seperti ini, tetapi mereka terdiri dari beberapa orang sedangkan cici hanya seorang diri, sudah sepantasnya kalau aku datang memberi bantuan"

Sambil menatap wajah sianak muda itu, Gak Siau cha tersenyum ujarnya kembali,

"Aku tak pernah menyangka kalau dalam tiga bulan yang amat singkat bukan saja engkau berhasil membuka istana terlarang, bahkan ilmu silat yang engkau miliki telah mendapat kemajuan yang demikian pesatnya,"

"Kejadian ini hanya boleh dibilang kebetulan saja untung siau te tidak sampai kehilangan nyawa"

"Sewaktu aku serahkan anak kunci istana terlarang kepadamu, tujuanku adalah agar engkau bisa membuka istana tersebut, dan tidak mencampuri urusan cici lagi, dalam perkiraanku Istana Terlarang sebagai tempat yang diidamkan setiap umat bulim sudah puluhan tahun belum ada jago persilatan yang berhasil menemukan, dalam waktu beberapa bulan yang singkat engkaupun pasti tak akan menemukannya. Aaai . sungguh tak nyana tempat itu akhirnya berhasil juga kau temukan"

"Kalau dibicarakan kembali, kesemuanya ini adalah berkat lindungan dari Thian sehingga kedatangan siau te ditempat itu sangat kebetulan sekali."

Diapun segera menceritakan semua pengalamannya sebelum dan setelah masuk kedalam istana terlarang.

"Aaai .. engkau sudah terlalu banyak menempuh bahaya.. "

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Pek li Peng katanya,

"Engkau belum memperkenalkan nona ini kepadaku"

Belum sempat Siau Ling menjawab, Pek li Peng telah mendahuluinya dan menjawab, "Aku bernama Pek li Peng, menemui nona"

Melihat gadis itu halus, lincah dan menyenangkan, Gak Siau cha segera tersenyum.

"Nona Pek li."

"Aku lebih muda beberapa tahun, kalau nona tidak menampik anggap saja aku sebagai adikmu!"

"Baik" jawab Gak Siau cha sambil mengangguk, "aku masih belum tahu asal usul dari adikku.. " "Aku dibesarkan didalam istana es di laut utara" "Kalau begitu Pek thian cuncu adalah.. " "Dia adalah ayahku"

"Oooh.. tuan putri dari laut utara, bukan saja ayahmu pernah menggentarkan seluruh wilayah laut utara bahkan didaratan Tionggoanpun punya nama besar, anak buahnya telah mengumpulkkan banyak jago lihay, setiap beberapa tahun ia tentuk melakukan perjalanan kedaratan Tionggoan, dimana ia lewat setiap orang persilatan pada menaruh hormat kepadanya."

"Aku jarang mengetahui tentang tingkah laku ayahku, sedang ayahpun jarang sekali menceritakan soal dunia persilatan kepadaku.. "

"Oooh . kiranya begitu. " sorot matanya segera dialihkan kearah Siau Ling dan bertanya,

"Saudaraku, secara bagaimana kau bisa kenal dengan nona Pek li."

Siau Ling tidak takut bumi tidak takut langit, hanya takut pada Gak Siau Cha mendengar pertanyaan itu ia jadi ragu2, tak dijawab tak mungkin menjawab sejujurnya banyak hal yang tak leluasa untuk dikatakan, untuk beberapa saat lamanya ia jadi gelagapan:

"Tentang soal ini.. tentang soal ini."

"siau moay lah yang melakukan perjalanan jauh mencari jejaknya" sambung Pek li Peng dengan cepat

"Apakah ayahmu tahu??" tanya Gak Siau Cha sambil tersenyum "Tidak ayahku tidak tahu"

"Engkau tinggalkan istana es tanpa pamit, ayahmu pasti akan mencari jejaknya dimana-mana, suatu hari bila ayahmu mengetahui akan peristiwa ini, tentu ia tak akan berpeluk tangan belaka.. "

"Akupun mengetahui akan persoalan ini dan mungkin akan mendatangkan banyak kesulitan bagi Siau toako, tetapi aku tak dapat menguasai diri."

"Karena dua siau te pernah bertempur satu kali dengan Pak Thian cuncu."sela Siau Ling.

Gak Siau Cha terperanjat.

"Apakah engkau mampu menandingi Pak thian cuncu" "Siau te menderita luka parah, tapi berhasil ditolong orang"

Gak Siau Cha adalah seorang gadis yang cerdik, dari sikap Pek li Peng yang begitu tergila-gila pada Siau Ling, jika pertanyaan ini ditanyakan lebih jauh maka keadaan akan jadi tidak enak, pokok pembicaraanpun segera dirubah, ujarnya;

"Saudaraku, dalam perjuangan kita tempo hari aku masih belum menanyakan keadaanmu dalam dunia persilatan belakangan ini, aku dengar nama besarmu kian lama kian bertambah cemerlang, tapi permusuhan yang diikat semakin banyak.. "

Setelah berhenti sebentar lanjutnya

"Cuma.. aku hanya mendengarnya dari berita dunia persilatan, bagaimana keadaan yang sesungguhnya kau harus terangkan sendiri kepadaku"

"Musuhkuh hanya seorang yakni Shen Bok Hong, tetapi orang ini punya hubungan yang luas sekali, setiap sudut persilatan rasanya ada anak buah serta kuku garudanya.. "

"Nah, itulah dia" seru Gak Siau Cha sambil mengangguk, "semakin besar pengaruh dari Shen Bok Hong, semakin jarang orang persilatan berani melakukan perlawan terhadap dirinya, hanya kau seorang saja yang berani menentang kekuasaannya.. "

Dalam kenyataan ia sering kali menolong Siau Ling, terhadap hasil yang dicapai Siau Ling dalam dunia persilatan tentu mengetahui dengan jelas sekali.

Siau Ling menghela nafas panjang, katanya

"Cici, aku tidak mempunyai niat untuk berebut kedudukan dengan Shen Bok Hong, aku hanya ingin mencegah orang itu melakukan kejahatan didalam dunia persilatan, andaikata suatu hari Shen Bok Hong bisa sadar dan bertobat, maka siau te pun."

Gak Siau Cha gelengkan kepalanya dan berkata;

"Selamanya Shen Bok Hong tak bakal menyesal ataupun tobat dari dosa dosanya, diantara kau dengan dia akhirnya harus ada suatu penyelesaian secara tegas, yakni salah satu diantara kalian harus ada yang mati"

Ia membereskan rambutnya yang terurai tak beraturan, kemudian menyambung lebih jauh;

"sebenarnya cici ingin sekali membantu dirimu agar apa yang kau cita-citakan dapat tercapai sebagaimana mestinya, tapi sayang masalah pelik yang sedang kuhadapi saat ini masih belum ada suatu penyelesaian yang baik, aku rasa tak mungkin cici bisa membantu dirimu lagi"

"Cici, apakah masalah pelik yang sedang kau hadapi sekarang masih sekitar mengenai masalah Giok siau long kun " tanya Siau Ling dengan suara lantang.

"Boleh dibilang begitulah! tabiat Raja Seruling Thio Hong dimasa lampau gagah dan berjiwa besar, peraturan keluarganya ketat sekali serta lebih mengutamakan keadilan serta kebenaran bagi umat manusia, oleh karena itulah perkampungan Pek in-san-cung jarang sekali terikat oleh selisih paham atau persengketaan dengan orang2 persilatan, sebaliknya tabiat dari Thio lo hujin itu terlalu mementingkan diri sendiri dan berangasan, karena itulah hubungannya dengan sang ipar yaitu guruku selamanya tak pernah akur, sejak Thio hong mati kedua orang itu semakin jarang berhubungan satu dengan yang lain, sekalipun begitu terhadap keponakannya yakni Thio Cun guruku merasa sayang dan memanjakan hanya saja berhubung sudah banyak tahun ia mengasingkan diri sebagai seorang rahib dan imannya sudah amat tebal sekali, maka girang atau gusar perasaan hatinya tak pernah terlihat diwajahnya, andaikata Giok siau long kun benar2 menghadapi keadaan yang sangat berbahaya sehingga mempengaruhi hidup matinya, dia pasti tak akan berpeluk tangan belaka."

"Lalu apa yang hendak Cici lakukan?? "tukas Siau Ling dengan suara yang gemetar.

"Sekarang aku sendiripun tak tahu apa yang musti kulakukan, terpaksa melangkah satu langkah kita berbicara satu tindak.. "

Siau Ling termenung beberapa saat lamanya mendadak ia menengadah dan berseru;

"Cici, siaute berhasil mendapatkan satu jalan yang baik, bagaimana menurut pendapat cici??"

"Apa akalmu itu?

"Biarlah Siau te yang menyelesaikan persoalan ini, pertama-tama kita mangunjungi gurumu lebih dahulu serta menerangkan duduk perkara yang sebenarnya."

"Cara ini tak dapat dilaksanakan "tukas Gak Siau cha sambil gelengkan kepalanya,"suhuku paling segan untuk bercakap cakap dengan orang asing, apa lagi engkau adalah seorang pria??"

"Kenapa apakah gurumu paling benci dengan orang pria?? "tanya Siau Ling tercengang.

Gak Siau cha tersenyum.

"Kecuali Thio Hong seorang, tak pernah ada pria lain yang pernah masuk kedalam kuil Bu seng an tersebut. Giok siau long kun kendati amat disayang dan dimanja oleh guruku, namun diapun tidak diperkenankan melangkah masuk kedalam kuil Bu seng an barang satu langkahpun

"ltu tak jadi soal aku akan menanti diluar kuil biarlah Pek ji yang masuk kedalam kuil untuk menyampaikan suratku kepadanya serta kuundang dia untuk keluar dari kuil guna merundingkan masalah ini"

"Aaai... ! jalan pikiranmu benar2 terlalu sederhana"

"Lhoo .!" bagian mana yang tidak benar?"

"Saudaraku, kendatipun dewasa ini namamu dalam dunia persilatan sudah amat tersohor dan disegani setiap orang, akan tetapi pemilik dari kuil Bu-seng-an tak nanti akan ikut tengetar hatinya oleh namamu."

"Cici, aku tak bermaksud demikian" tukas Siau Ling. "aku sedang bayangkan bahwa cici adalah seorang murid yang pernah mendapat budi karena ia wariskan ilmu silatnya kepadamu maka selama berada dihadapannya engkau segan atau merasa kurang leluasa untuk mencurahkan isi hatinya, karena itu lebih tepat kalau siau-te yang menghadap, bukan saja aku tak usah ragu? bahkan dengan lebih leluasa bisa kusampaikan semua isi hati cici kepadanya."

Gak Siau cha menghela napas panjang.

"Aaai... ! diatas nama meskipun Bu seng An-cu tidak mengakui diriku sebagai anak muridnya, dalam kenyataan ia telah menganggap aku sebagai anak muridnya, setelah bergaul selama beberspa tahun cici sudah dapat meresapi jiwa serta wataknya, kepergianmu untuk menghadap dirinya bukan saja sama sekali tak bermanfaat tapi persoalan ini, bahkan malah ada kemungkinan besar bisa merusak duduknya persoalan... "

"Lalu apa yang berus kita lakukan sekarang???"

"Hanya ada satu jalan saja yang bisa ditempuh, yakni biar cici berangkat seorang diri untuk menghadap dia orang tua

"Andaikata Bu Sang nikou tak bersedia untuk mendengarkan penjelasan cici, apa yang hendak kau lakukan?"

Gak Siau Cha tertawa getir,

"Aku berhutang budi kepada dia orang tua karena beliau pernah mendidik serta mewariskan kepandaiannya kepadaku, karena itu aku tak dapat turun tangan bertarung dengan dirinya, aku hendak menerangkan duduk perkaranya serta kejadian secara terperinci satu demi satu, meskipun Thio Cun orang yang patut dikasihani, tetapi kesalahan bukan terletak pada diriku, oleh karenanya aku hendak mohon pengampunan darinya"

"Kalau ia tak mau mengampuni dirimu"

"Kalau ia memohon kepada enci Gak dengan perasaan hatinya agar enci suka membantu dirinya untuk menolong jiwa Giok siau-long-kun? apa yang hendak enci lakukan" tiba2 Pek li Peng menyela dan samping

Gak Siau cha tertegun, kemudian jawabnya

"Tentang soal ini, belum sempat kupikir kan sampai disitu"

"Enci adalah seorang yang berperasaan halus" ujar Pek li Peng lagi, "Kalau Bu Sang An-cu memohon kepada cici dengan dengan perasan halus pula,aku rasa sulit bagi cici untuk menampik permohonannya itu"

Gak Siau cha menulurkan tangannya dan membelai rambut Pek li Peng yang panjang perlahan-lahan ucapnya

"Terima kasih untuk peringatanmu ini, dengan usiamu yang begitu muda lagi pula dibesarkan dalam kasih sayang dan sikap manja dari orangtua mu, ternyata dalam menilai satu persoalan amat seksama dan tajam hal ini benar2 luar biasa sekali. Aaaai... ! bila ada seorang nona cantik yang begitu cerdik dan banyak akal semacam engkau yang selalu mendampingi saudara Siau, hal inibenar benar merupakan suatu bantuan yang amat besar bagi dirinya"

"Pek li Peng masih belum hilang sifat kekanakannya, melihat betapa cantik dan supelnya Gak Siau Cha, ia merasa tak heran apa sebabnya Siau Ling begitu menghormati gadis tersebut.

Yang paling sulit ternyata ia sama sekali tidak menaruh perasaan cemburu atau tak senang hati terhadap dirinya teringat betapa ia pernah merasa cemburu terhadap gadis itu diam2 she Pek li ini merasa malu sendiri, ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Siau toako selalu tak mau mendengarkan perkataanku"

Gak Siau Cha segera melirik sekejap kearah Siau Ling, kemudian sambil tertawa serunya: "Adik Pek li amat cerdas dan banyak akal selanjutnya harus seringkali mendengarkan pendapat serta perkataannya"

"Siau Ling melirik sekejap kearah Pek li Peng, kemudian kepada Gak Siau Cha sambil tertawa bantahnya"

"Cici jangan percaya dengan perkataannya, dalam kenyataan setiap pendapatnya pasti kudengarkan dengan seksama ! "

"Huuuh ! apa sih gunanya kalau Cuma didengarkan melulu ? selamanya engkau tak mau melaksanakan menurut perkataanku"

Gak Siau Cha jadi geli melihat sepasang muda mudi itu cekcok sendiri, sambil tertawa ewa ia segera berkata;

"Waktu adik Pek li dibesarkan didalam istana salju dilautan udara dan diapun jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, akan tetapi kecerdasan otaknya sangat membantu dirimu, selama dia berada disampingmu akupun dapat selalu berlega hati"

"Andaikata cici mau melakukan perjalanan bersama kami serta memegang tampuk pimpinan didalam pergerakan ini, kemenangan yang bakal kita raih tentu jauh lebih besar.. "

"Kalian berangkatlah lebih dahulu" tukas Gak Siau Cha. "Setelah persoalan pribadi selesai, aku pasti akan pergi mencari kalian."

"Cici, engkau seorang diri harus menghadapi musuh yang begitu tinggi, apakah engkau tidak merasa terlalu kesepian dan sebatang kara? Menurut pendapat siaute, lebih baik kita bersama-sama pergi menyelesaikan cici lebih dahulu, kemudian kita bersatu padu untuk bersama2 menghadapi Shen Bok Hong.. "

Ia menengadah dan menghela napas panjang, lanjutnya,

"Walaupun tidak terlalu lama kau berkelana serta melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, akan tetapi terhadap cara hidup orang kang ouw sudah merasa muak sekali, andaikata kita sanggup menyelesaikan jiwa Shen Bok Hong maka segera akan kucarai sebuah tempat yang tenang dan terpencil untuk beristirahat selama beberapa tahun dan selamanya tak akan muncul kembali dalam dunia persilatan."

"Engkau bisa mempunyai bayangan seperti itu, hal tersebut menunjukkan bahwa engkau sama sekali tidak berambisi untuk mencari nama serta kekuasaan, berbicara menurut usia serta keberhasilan yang dapat kau peroleh selama ini, tindakanmu itu benar benar merupakan suatu pengecualian. Dirimu sekarang sudah bukan menjadi milikmu seorang lagi, melainkan merupakan kepunyaan dari kawan kawan persilatan dewasa ini, sekalipun engkau muak sekali dengan penghidupan dalam persilatan akan tetapi tak mungkin engkau bisa melepaskan diri dari masalah ini engkau bilang setelah membunuh Shen Bok Hong maka engkau akan mengasingkan diri dan menutup diri?? Didalam kenyataan mungkin apa yang kau harapkan itu sulit terlaksana.. "

"Kenapa?? Kejahatan serta kebejadan moral yang terjadi didalam dunia persilatan dewasa ini bersumber pada Shen Bok Hong seorang, asal gembong she Shen itu kita bunuh bukankah dunia persilatan segera akan menjadi tenang dan damai? Selama puluhan tahun lamanya belum tentu bisa muncul seorang gembong iblis penjahat seperti dia lagi !"

"Engkau tidak percaya dengan perkataanku?? Baiklah, akan kuceritakan tentang satu persoalan kepadamu!"

"Persoalan apa??"

"Seandainya engkau mengetahui siapakah pembunuh2 yang telah membinasakan bibi Im mu dapatkah engkau berpeluk tangan belaka??"

Tertegun hati Siau Ling mendengar perkataan itu, jawabnya kemudian;

"Bibi Im sangat baik kepadaku, budi kebaikan yang dilimpahkan kepadaku sudah menumpuk bagaikan bukit, tentu saja aku harus balaskan dendam bagi kematiannya"

"Dan bagaimana dengan urusanku??"

"Dengan sekuat tenaga pasti akan kubantu walaupun mati juga tak akan menyesal" Gak Siau Cha berpaling sekejap kearah Pek li Peng, lalu melanjutkan lebih jauh "Seandainya nona Pek li menemui kesulitan pula?" "Tentu saja aku tak dapat berpeluk tangan belaka"

"Cukup.cukup.! Dalam ruangan ini semuanya ada berapa orang ?? kalau setiap orang menemui persoalan dan engkau mau tak mau harus mengurusi semuanya, bagaimana kalau dalam dunia persilatan terdapat beberapa ratus laksa orang ?? apakah engkau bisa berdiam diri belaka menyaksikan mereka terbelenggu kesulitan."

Ia berhenti sebentar, lalu dengan wajah serius melanjutkan lebih jauh :

"Kehidupan dalam belasan tahun belakangan ini boleh dibilang kesemuanya dilalui dengan pelbagai kejadian serta penemuan yang aneh serta diluar dugaan. Aaai .! Berbicara tentang soal tahayul, semua penemuan aneh yang kau alami selama ini, bukankah kesemuanya telah diatur oleh suatu tenaga tak berwujud yang maha besar dan maha kuasa??"

Siau Ling berpikir sebentar, kemudian mengangguk.

"Perkataan cici benar sekali, siau te pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan umat persilatan dari bencana besar serta berusahauntuk menegakkan kebenaran serta keadilan dalam kolong langit"

Sambil tertawa Gak Siau Cha manggut.

"Kalau engkau bersedia mendengarkan nasehatku, aku merasa amat gembira. Nah! Sekarang kalian berangkatlah lebih dahulu" katanya, "kini keadaanmu ibaratnya lentera yang menerangi seluruh dunia persilatan, karena urusanku sudah berapa bulan lamanya engkau mengasingkan diri ditengah pegunungan yang terpencil, janganlah kau lumpuhkan kekuatan dalam bulim yang baru saja bangkit untuk menentang Shen Bok Hong akibat lenyapnya jejakmu, sebab engkau sudah amat mempengaruhi jatuh bangunnya seluruh kebenaran dalam kolong langit tunggulah sebentar! Akan kubereskan tempat ini sejenak kemudian kita bersama sama tinggalkan tempat ini"

"Cici mengapa engkau segan untuk melakukan perjalanan bersama-sama kami."

"Tadi aku sudah pikirkan persoalan ini dengan masak, cici rasa persoalan yang menyangkut tentang diriku lebih baik diselesaikan oleh cici sendiri, ketahuilah suciku itu meskipun bergelar Sam ciat atau tiga pantangan didalam kenyataan satu pantanganpun tak mampu dilaksanakan ia mempunyai hubungan batin yang amat mendalam dengan diriku, sekembalinya dikuil ia pasti akan menjelaskan duduk perkara dengan amat jelas kepada suhu, kalau engkau mengikuti diriku maka hal ini malahan akan membuat suhu jadi salah paham sebab itulah aku rasa lebih baik biarlah aku pergi menemui suhu seorang diri saja"

"Andaikata suhumu itu memaksa engkau untuk menerima kehendaknya??" Tanya Siau Ling dengan nada kuatir.

"Suhuku adalah seorang bijaksana, ia pasti dapat menyelesaikan persoalan ini dengan sebaik baiknya, jika kubeberkan semua keberatan serta alasanku rasanya dia tak nanti akan memaksa diriku untuk menuruti kemauannya"

"Akupun hendak memohon kepada cici, aku harap engkau suka mengabulkan permintaanku ini"

"Apakah permintaanmu itu?? Sekarang kau sudah menjadi seorang pendekar yang amat tersohor dikolong langit, kenapa kalau bicara masih seperti waktu kecil dulu saja??"

"Selama berada dihadapan cici, aku tetap adalah seorang bocah cilik, aku rasa selamanya aku tak bakal tumbuh jadi dewasa"

"Sudahlah katakan cepat apakah permintaanmu itu??"

"Aku harap cici suka menentukan saat perjumpaan dengan diriku, sampai waktunya kalau cici tidak datang menepati janji, maka akan kupimpin seluruh jago yang ada dikolong langit untuk menyatroni kuil Bu Seng an serta minta pertanggung jawaban dari Bu Seng An cu.

Gak Siau Cha segera mengerutkan dahinya sesudah mendengar perkataan itu.

"Tentang soal ini."

"Kalau cici tidak mengabulkan permintaanku ini, maka siau te pun akan bersikeras untuk mengikuti terus diri cici kemanapun engkau pergi."

Gak Siau Cha gelengkan kepalanya tanda kehabisan akal, serunya kemudian dengan perasaan apa boleh buat;

"Baiklah ! kita tentukan saja setengah tahun kemudian dalam kuil Pek in koan di atas gunung Thay san."

"Tidak bisa, setengah tahun terlalu lama" "Kalau begitu tiga bulan kemudian!"

"Cici ! kata Siau Ling dengan sedih, "untuk berjumpa dengan gurumu serta membicarakan masalah tersebut, dalam dua tiga hari saja sudah bisa diambil keputusan, kenapa engkau musti suruh aku untuk menunggu sebegitu lamanya??"

"Mungkin aku harus bersilat lidah serta bicara tiada hentinya untuk menggerakkan hati guruku, untuk itu dalam sepuluh sampai setengah bulan aku bura akan berhasil!"

"Kalau begitu kita tetapkan satu bulan saja, kalau didalam satu bulan enci masih tak ada kabar beritanya maka aku akan segera menyusul dirimu kekuil Bu seng an"

"Tahukah engkau berapa jauh jaraknya dari sini menuju kekuil Bu seng an tersebut?" "Entahlah, aku tak tahu!"

"Nah itulah dia! Dari sini menuju kekuil Bu seng an paling sedikit harus melakukan perjalanan antara sepuluh hari sampai setengah bulan, waktu sebulan mana cukup untukku??"

"Enci Gak, kalau memang begitu demikian saja" seru Pek li Peng dari samping, "kita hitung batas waktu itu sejak berpisah satu bulan kemudian kalau enci Gak masih tetap tak ada kabar beritanya maka kami akan segera berangkat kekuil Bu seng an, jika cici dalam keadaan sehat wal afiat maka silahkan engkau menantikan kami diluar kuil."

Gak Siau Cha masih ingin menampik,tapi Siau Ling dengan cepat telah menyambung lebih jauh;

"Apa yang enci ucapkan selamanya pasti akan kuturuti, kenapa perkataan dari siau te tak sepatah kata pun yang suka cici dengar?"

Gak Siau Cha benar-benar dibikin apa boleh buat, akhirnya dia menghela napas panjang dan berkata;

"Baiklah! Mulai besok kita hitung batas waktu itu, satu bulan kemudian kalau kalian berangkat kesana mungkin masih agak kepagian" Siau Ling tertawa

"Kalau begitu kita kan tiba diluar kuil Bu seng an pada satu bulan lebih satu hari kemudian" Jelas sekali pemuda itu kegirangan atas keputusan tersebut, mukanya nampak berseri-seri. Tiba2 Pek li Peng mengerutkan dahinya dan bertanya; "Cici, lalu dimanakah letak dari kuil Bu seng an tersebut??"

Gak Siau Cha agak sangsi, setelah termenung dan berpikir sebentar akhirnya dia menjawab "Diatas bukit See yang san dalam bilangan propinsi Kwang see, sekarang kalian boleh berangkat"

Siau Ling serta Pek li Peng saling bertukar pandangan sekejap, kemudian mereka sama2 memberi hormat, serunya:

"Cici, engkau harus baik2 berjaga diri!"

Setelah berkata berangkatlah mereka meninggalkan tebin Toan hun gay tersebut.

Pek li Peng menengadah memandang keadaan cuaca, ia lihat sang surya telah tenggelam dilangit barat, burung berkicau terbang kesarangnya dan tanda senja mulai menyelimuti seluruh angkasa.

Siau Ling menghembuskan napas panjang, ujarnya,

"Peng ji, ada satu persoalan yang selama ini tak kupahami, apakah engkau bersedia menerangkan kepadaku??" "Mengenai persoalan apa??"

"Kenapa enci Gak tak bersedia untuk melakukan perjalanan bersama sama kita, sebaliknya suruh kita berangkat lebih dahulu??"

Pek li Peng termenung dan berpikir sebentar, lalu menjawab ;

"Mungkin saja dia masih ada sedikit urusan yang harus diselesaikan lebih dahulu??"

"Urusan apa??"

"Mungkin saja persoalan pribadi dari kaum gadis.. " senyuman yang semula menghiasi wajahnya tiba-tiba lenyap, sesudah menghela napas panjang sambungnya lebih jauh; "Aku benar2 merasa amat menyesal!" "Apa yang kau sesalkan??"

Merah padam selembar wajah Pek li Peng karena jengahnya, setelah sangsi sebentar dia menjawab

"Sebelum berjumpa dengan nona Gak, aku selalu kuatir bilamana ia tak senang melihat aku, sungguh tak nyana dia adalah seorang gadis berjiwa besar, aku telah membayangkan yang bukan2 tentang dirinya dengan pikiran seorang manusia rendah, kalau diingat kembali aku benar2 merasa amat menyesal"

Siau Ling tersenyum

"Sedari dahulu bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa enci Gak adalah seorang gadis yang berjiwa besar, siapa suruh engkau tidak mempercayainya,?? Nah! Sekarang tentunya kau sudah rasakan bukan bagaimana kalau rasa kuatirmu itu hanya sia2 belaka??"

Pek li Peng mencibirkan bibirnya dan berseru,

"Huuuh, ... sekarang engkau telah mendengarnya, dalam hati tentu merasa amat gembira

bukan??"

75

Aku bisa membantu nona Gak, tentu saja hatiku merasa amat gembira sekali!" "hmm! Tentunya tidak hanya begitu saja bukan??" "Lalu masih ada apa lagi??"

"Hmmm! perkataan dari enci Gak, tentunya engkau sudah mendengar bukan..??" "Apa yang dikatakan oleh enci Gak? " seru Siau Ling keheranan, "kenapa aku sama sekali tidak teringat lagi??"

"Engkau benar2 sudah tak teringat? Ataukah sudah tahu tapi pura-pura bertanya lagi??" "Tentu saja aku benar2 tak tahu."

"Aaai.! Perkataan sepenting itu masa engkau benar2 tidak mengingatnya didalam hati??"

"Peng ji engkau tak usah berputar kayuh lagi, lebih baik katakanlah secara langsung??"

Melihat pemuda itu bukan lagi berlagak pilon, Pek li Peng segera berkata;

"Enci Gak bukankah pernah mengatakan kepada Sam ciat suthay bahwa didalam surat wasiat ibunya ia telah dijodohkan kepadamu?? Toakoku yang tolol. meskipun dia mengucapkan kata2 itu untuk Sam ciat suthay tetapi hal ini sama halnya dengan memberitahukan kepadamu secara terus terang ! bukankah hal ini menunjukkan pula kalau enci Gak telah memberitahukan kepadamu jika dia telah jadi calon istrimu?"

Siau Ling berpikir sebentar, kemudian menjawab,

"Sedikitpun tidak salah agaknya enci Gak memang pernah mengucapkan kata2 semacam itu, tetapi dia mengucapkannya hanya sebagai suatu siasat untuk menanggulangi posisinya pada waktu itu saja."

"Bagi seorang gadis nama baik dan kesucian badan adalah suatu persoalan yang maha penting, aku tak percaya kalau ia berani mengucapkan kata kata semacam itu secara sembarangan !"

Siau Ling menghentikan langkah kakinya lalu berpaling dan memandang sekejap kearah Pek li Peng, air mukanya menunjukkan perubahan yang amat serius.

Belum pernah Pek li Peng mengalami kejadian seperti ini, terutama pandangan sang pemuda dengan wajah kereng serta serius, tanpa terasa jantungnya berdebar keras, pelahan lahan kepalanya ditundukkan kebawah dan bertanya dengan suara lembut,

"Ooooh..! apakah aku telah salah berbicara??"

"Mungkin perkataanmu itu tidak salah, tetapi aku harus memberitahukan semua persoalan yang sedang kupikirkan didalam hati kepada dirimu"

Pek li Peng menengadah serta memandang kearah Siau Ling dengan pandangan bimbang serta tak habis mengerti, katanya;

"Katakanlah toako... siaumoay akan mendengarkan semua perkataan itu dengan seksama.

"Didalam pandanganku enci Gak adalah seorang dara yang maha agung serta tidak pantas diganggu atau dinodai nama baiknya, aku tidak pantas untuk menikah dengan dirinya, Giok siau long kun juga tidak pantas untuk mempersunting dirinya, lain kali engkau jangan mengucapkan kata2 yang menyinggung tentang nama baik enci Gak lagi.."

Tiba-tiba ia tertawa lebar dan menambahkan;

"Sekarang kita harus melanjutkan perjalanan dengan cepat, sebelum malam menjelang tiba, kita sudah harus melewati pada rumput yang amat liar ini."

Pek li Peng gelengkan kepalanya, bibir bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu namun niat itu akhirnya dibatalkan, ia segera mempercepat langkah kakinya menyusul dibelakang Siau Ling.

Ketika padang rumput yang amat luas itu berhasil diseberangi, sang surya sudah lenyap dari pandangan mata dan senja yang remang-remang menyelimuti seluruh jagad.

"Toako, kita akan berangkat menuju kemana??" tanya Pek li Peng.

Lama sekali Siau Ling termenung dan berpikir, laku menjawab;

"Sejak terjadinya pertempuran sengit melawan Shen Bok Hong dibawah tebing In wan Hong, entah bagaimanakah situasi didalam dunia persilatan dewasa ini ?? malam ini terpaksa kita harus melakukan perjalanan cepat untuk berjalan keluar dari daerah pengunungan ini, kemudian mencari tempat yang sepi dan tenang untuk beristirahat sejenak, keesokan harinya baru berangkat menuju kekota Heng yang untuk menyusun rencana lebih jauh"

"Sejak sepasang pedagan dari kota Tiong ciu berlalu, dia pasti akan menyebar luaskan kabar berita mengenai kepergian toako Heng san kepada semua jago yang ada dikolong langit, dugaanku tidak salah maka setelah keluar dari daerah pegunungan ini kemungkinan besar kita sudah dapat berhubungan dengan orang2 persilatan, tetapi aku tak bisa menduga dengan tepat orang pertama yang bakal kita temui adalah sahabat atau lawan??"

"Sepasang pedagang dari kota Tiong ciu adalah seorang manusia yang cermat dan tak sama, tak mungkin dia bocorkan jejak kita kepada semua kawan bu lim"

"Sepanjang perjalanan kita memburu kesini, apakah tak seorang manusiapun yang pernah melihat kita?? Bagaimanapun juga bertindak hati2 tetap merupakan suatu perbuatan yang tidak merugikan bagi kita, bukankah begitu??"

"Enci Gak memuji akan kecerdikanmu, nampaknya ucapan itu sedikitpun tak salah, sekarang apa yang harus kita lakukan".

"Kita harus menyaru serta menghindarkan diri dari pengawasan orang, bukankah engkau hendak menyelidiki situasi dalam dunia persilatan ? Nah! Lebih cocok kalau penyelidikan itu dilakukan secara diam2"

Siau Ling mengangguk tiada hentinya.

"Benar juga perkataanmu itu" sahutnya, "tapi.. Kita harus menyaru menjadi manusia macam

apa??"

"Malam ini kita tetap berdandan seperti biasa, besok pagi2 kita dapat menyaru sebagai sepasang imam dan berusaha menyusup turun gunung"

"Bagaimana dengan engkau??" apakah kau juga akan menyaru sebagai seorang imam??"

"Aku akan menyaru menjadi seorang imam cilik yang mengiringi perjalananmu, dengan begitu sepanjang perjalanan gerak-gerik kita tidak akan menimbulkan kecurigaan serta perhatian orang

lain"

"Tapi sayang kita tidak membawa pakaian untuk menyaru. jadi bagaimana baiknya??"

"Tak menjadi, sewaktu naik gunung tempo hari aku ingat bahwa kita pernah melalui samping sebuah kuil too koan, jaraknya dari sini tidak terlalu jauh, malam ini kita dapat mencuri dua stel pakaian milik mereka"

"Seorang lelaki sejati tak akan minum air bekas pencurian, tidak mengambil pakaian milik orang, sekarang bagaimana jadinya?"

"Kalau memang begitu kita tinggalkan saja uang perak didalam itu, bukankah hal ini sama artinya dengan membeli dua stel pakaian mereka??"

Siau Ling tersenyum dan tidak berbicara lagi.

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 14"

Post a Comment