Budi Ksatria Jilid 07

Mode Malam
Jilid 7

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Apakah nyonya merasa tidak puas? Meskipun peristiwa mengenai Iblis cinta itu sudah berlalu tetapi ada orang yang telah menyusun kitab untuk menyebarkan cerita itu ke dalam masyarakat. Menurut apa yang kuketahui cerita mengenai iblis cinta ini sudah menyebar luas dalam tubuh masyarakat, bahkan banyak sekali kaum gadis muda yang menggunakan kitab tadi sebagai barang hadiah yang diberikan kepada satu sama lainnya. Jika dalam kitab itu hanya berisikan tulisan saja masih mendingan, kecuali tulisan dihiasi pula dengan gambaran2 yang gampang serta penjelasan. Itulah sebabnya walaupun iblis cinta sudah lama tiada tetapi sukmanya belum buyar seandainya kakek pengubah wajah menyaru pula sebagai iblis cinta tersebut, dengan ilmu silatnya yang lihay serta kecerdasannya yang luar biasa, kegemparan yang ditimbulkan olehnya pasti jauh melebihi iblis cinta tersebut….”

Dalam hati diam-diam Siauw Ling berpikir, “Rupanya It-bun Han Too menaruh rasa hormat dan kagum yang luar biasa terhadap kakek perubah wajah. Bila berbicara dari wataknya itu peristiwa ini benar-benar luar biasa sekali….”

Dalam pada itu Siauw Ling tetap berkata, “Di kolong langit siapa yang tak tahu jika It-bun heng paling banyak membaca buku, tetapi situasi yang kita hadapi sekarang, walaupun tak dapat dikatakan sangat keritis dan berbahaya tapi tiada banyak waktu bagi kita untuk tetap tinggal disini, persoalan kau bicarakan toh sama sekali tiada hubungannya dengan persoalan ini, buat apa sih kau bicarakan terus….”

“Benar!” sambung Tong Lo Thay-thay pula. Persoalan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha untuk menemukan dua sosok jenazah yang lain. Menurut cerita yang tersiar dalam Bu lim maka aku rasa sisa dua sosok mayat yang belum ditemukan adalah jenazah dan Raja Seruling Thio Hong serta seorang pendekar sakti dan partai Bu-tong. pay …..”

“Bila dua sosok jenazah itu berhasil ditemukan maka itu, berarti tujuan kita memasuki Istana Terlarang sudah selesai. Waktu itu kitapun bisa memikirkan pula bagaimana caranya mengundurkan diri dari Istana ini….” kata Shen Bok Hong lagi.

It-bun Han Too segera tersenyum.

“Shen Toa Cungcu bukankah tujuanmu datang kemari adalah untuk mendapatkan kitab catatan ilmu silat yang ditinggalkan kesepuluh tokoh maha sakti itu….?” kalau cuma melihat beberapa sosok mayat saja kau lantas hendak mengundurkan diri dari istana Terlarang, bukankah harapanmu itu akan tersia sia belaka?”

“Hmmm! kalau memang It-bun heng pingin bertanya akupun tidak ingin mengelabuhi dirimu lagi”

“Apa yang hendak Shen Toa Cungcu katakan? silahkan diutarakan keluar…”

“Aku hanya ingin secepatnya tinggalkan Istana Terlarang!” bicara sampai disini tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak berbicara lagi.

Para jago tidak mengerti apa sebab ia tiba-tiba berubah, pikiran semuanya pusatkan perhatian ke arah gembong iblis tersebut.

Dengan sorot matanya yang tajam bagaikan kilat. Shen Bok Hong perlahan-lahan menyapu sekejap raut wajah para jago, kemudian melanjutkan, “Andaikata tulisan yang ditinggalkan itu tidak palsu dan orang yang mendahului kita mengambil pergi benda-benda pusaka peninggalan kesepuluh orang tokoh maha sakti tersebut maka itu berarti tiada yang bisa kita harapkan lagi di tempat ini. Kalau kulihat dan tulisan itu jelas belum lama orang itu tinggalkan tempat ini. Aku rasa dalam waktu singkat tak mungkin ia sanggup mempelajarii seluruh kepandaian silat tersebut….”

“Aaah…! benar,”seru It-bun Han Too,”Bukankah Shea toaCungcu ingin cepat-cepat keluar dan Istana Terlarang untuk mengejar orang yang telah membawa pergi barang pusaka itu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Tentang usahamu dibidang ini, aku menyadari bahwa kemauanku tak mungkin bisa memadahi diri Shen Toa Cungcu!”

Shen Bok Hong tertawa hambar.

“Asal dia masih hidup di kolong langit, aku yakin suatu saat pasti berhasil menemukan dirinya. paling lama satu tahun dan paling cepat setengah tahun bukan aku orang she Shen sombong atau omong besar, jejak orang itu pasti telah berhasil kutemukan. Aku percaya di dalam hal ini hanya aku Shen Bok Hong seoranglah yang mempunyai kemampuan tersebut”

“Aku sudah tahu kalau mata2 dan Shen Toa Cungcu sudah tersebar diseluruh kolong langit, hanya saja ada satu persoalan aku merasa kurang begitu paham”

“Persoa1an apa?”

“Persoalan mengenai Siauw Ling ….”

Mendengar ucapan tersebut, Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin tanpa sadar bersama-sama melirik ke arah si anak muda itu.

“Kenapa dengan Siauw Ling?” tanya Shen Bok Hong.

“Bukankah kau sangat membenci dirinya hingga merasuk ketulang sumsum? kenapa tidak cepat-cepat kau basmi saja orang itu sehingga bibit bencana bisa disingkirkan?”

“Suatu hari aku pasti akan membinasakan Siauw Ling dengan ujung telapakku sendiri!”sahut Shen Bok Hong dengan wajah berubah menjadi hitam membesi.

Pek Ii Peng yang mendengar perkataan itu diam-diam jadi sengit. makinya dihati, “Ngaco belo… pintarnya cuma mengibul dan mengigau disiang hari bolong..”

Perlahan-lahan It-bun Ha Too alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah Siauw Ling, kemudian ujarnya kembali.

“Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan. katanya kepandaian silat yang dimiliki Siauw Ling telah memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali. Katanya sekarang ia sudah mampu untuk menentang kekasaan Shen Toa Cungcu, entah benarkah berita tersebut?”

“Kabar berita kosong dalam dunia persilatan kebanyakan hanya isapan jempol belaka, apakah kau mempercayainya?”

“Perduli apakah ilmu silat yang dimiliki Siauw Ling sudah mampu digunakan untuk melawan diri Shen Toa Cungcu atau tidak, tetapi seluruh umat Bu-lim telah memandang dirinya sebagai bintang penolong…”

Shen Bok Tong mendengus dingin, ia tidak menanggapi perkataan itu.

Rupanya It-bun Han Too menyadari bahwa ia sudah terlanjur salah berbicara, buru-buru pembicaraan dialihkan kepersoalan lain, katanya, “Maksudku sebagian umat Bu-lim yang ada dalam dunia persilatan dewasa ini telah menganggap bahwa Siauw Ling merupakan satu-satunya jago yang mampu menantang kekuasaanmu, hanya dialah yang sanggup memimpin seluruh umat Bu-lim untuk bangkit melawan dirimu serta menumbangkan kekuasaanmu..”

Ia angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, setelah berhenti sebentar lanjutnya, “Padahal persoalan paling penting yang harus dikerjakan oleh Shen Toa Cungcu pada saat ini bukanlah pergi mengejar orang yang berhasil mengondol pergi seluruh barang pusaka dari Istana Terlarang yang benar adalah mengerahkan segenap kekuatanmu untuk membunuh mati Siauw Ling!”

“Manusia yang bernama It-bun Han Too ini benar-benar licik, kejam dan berbahaya,“ batin Siauw Ling di dalam hati, “Apakah ia sudah mengetahui akan asal usulku?”

“Aku rasa persoalan itu merupakan masalah setelah maninggalkan Istana terlarang”

Terdengar Shen Bok Hong menjawab, ”persoalan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha untuk menemukan dua sosok mayat lainnya”

Tiba-tiba It-bun Han Too angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak. suaranya keras dan nyaring hingga menggema diseluruh ruangan…. begitu kerasnya sampat telinga terasa bergetar keras.

Shen Bok Hong adalah seorang manusia licik yang pandai membawa diri. Walaupun begitu setelah mendengar gelak tertawa It-bun Han Too yang begitu keras dan nyaringnya, tak urung wajahnya berubah hebat juga. Dengan nada gusar tegurnya, “It-bun heng, apa yang kau tertawakan?”

Tiba-tiba It-bun Han Too menghentikan gelak tawanya. dengan langkah cepat ia berjalan menuju kemulut pintu batu.

“Berhenti!” Tong Lo Thay-thay segera nembentak keras, ”Jika kau berani mundur ke belakang, akan kusuruh kau rasakan bagaimana hebatnya pasir seratus langkah pencabut nyawaku!”

Sambil mengancam tangan kanannya laksana kilat mengenakan sarung tangan kulit menjangan, dan sakunya ia menggengam segengaman pasir beracun….

Satu genggaman pasir beracunnya mencapai jumlah ratusan butir, bila disebarkan di dalam ruang batu itu maka bukan saja sulit bagi It-bun Han Too untuk menghindarkan diri dan ancaman, bahkan kemungkinan besar setiap manusia yang hadir dalam ruangan itu sulit untuk melepaskan diri dan bencana tersebut, untuk beberapa saat lamanya setiap orang segera mengerahkan tenaga dan bersiap-siap diri.

Shen Bok Hong dengan cepat ulapkan tangannya menghadang di depan Tong Lo thaythay, serunya.

“It-bun heng, aku tiada maksud untuk membinasakan dirimu, lagipula barusan kau telah menyelamatkan selembar jiwaku, tetapi jika kau sampai memancing kegusaranku maka akupun tak dapat menolong keselamatanmu lagi…”

It-bun Han Too tentawa dingin.

“Kau ingin berjumpa dengan Siauw Ling?” ejeknya.

“Sekarang Siauw Ling berada dimana….”

“Bila dugaanku tidak keliru, maka kedua orang pembantu setia yang Shen Toa Cungcu bawa masuk ke dalam istana terlarang. TongLo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin telah menghianati dirimu”

Kau adalah Siauw Ling?” tiba-tiba Shen Bok Hong menyadari akan sesuatu dan segera berpaling ke arah si anak muda itu.

Setelah rahasianya terbongkar, Siauw Ling merasa tidak perlu untuk merahasiakan diri lagi, ia segera melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya sambil menjawab, “Sedikitpun tidak salah, aku adalah Siauw Ling!”

Untuk beberapa saat lamanya Shen Bok Hong berdiri tertegun, kemudian dia baru bergumam, “Semestinya sedari tadi aku sudah harus menduga akan dirimu!”

“Aku rasa sekarangpun masih belum terlambat!”

Melihat Siauw Ling telah unjukkan wajah aslinya, Pek-Li Peng pun segera menghapus angus di atas wajahnya dan perlihatkan wajah sebenarnya.

“Shen Toa Cungcu!” kembali It-bun Han Too bereru, “jika kau bemiat membinasakan Siauw Ling, saat inilah merupakan kesempatan yang terbagus bagimu untuk turun tangan”

Shen Bok Hong tertawa dingin.

“Heeeh….heeeeh.. heeeeh…. It-bun heng, sejak kapan kau mengetahui akan asal usulnya?” ia menegur.

“Belum lama berselang….. “

Sorot matanya perlahan lahan menyapu sekejap wajah Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin, kemudian melanjutkan, “Tetapi menurut dugaanku kedua orang pembantu setiamu itu sudah mengetahui akan rahasia Siauw Ling sejak tadi-tadi, hanya satu hal yang membuat aku merasa tak habis mengerti, kenapa mereka tidak memberitahukan rahasia ini kepadamu Shen Toa Cungcu?”

Air muka Shen Bok Hong berubah hebat, tapi hanya sebentar saja telah pulih kembali dalam ketenangan, katanya

“It-bun heng. kau benar-benar amat cerdas!”

Dalam pada itu Kim Hoa Hujin sudah merogoh ke dalam pinggangnya ambil keluar sebuah kotak kecil terbuat dari kayu, dari kotak tersebut ia tangkap seekor ular berbisa dan digenggamnya di tangan kiri, kemudian ujarnya dengan suara menyeramkan, “It-bun sianseng, darimana kau bisa menuduh bahwa kami mengetahui rahasia Siauw Ling jauh lebih dahulu daripada dirimu?”

Sejak It-bun Han Too berhasil membongkar rabasia Siauw Ling, dalam hati kecilnya Shen Bok Hong telah menaruh curiga terhadap Tong Lo-thayhay serta Kim Hoa Hujin tetapi sebagai seorang pemimpin besar yang berotak cerdas setelah termenung berpikir sebentar ia tidak langsung menegur kedua orang pembantunya itu, ia takut teguran yang terlalu pedas kemungkinan besar malah akan menimbulkan niat berontak dalam tubuh mereka, oleh sebab itulah kendati dalam hati merasa mendongkol namun perasan tersebut tidak sampai diutarakan keluar.

Dan sekarang mendengar Kim Hoa Hujin menegur It-bun Han Too, dimana pertanyaannya justru merupakan. apa yang sedang ia curigai, Shen Bok Hong semakin membungkam diri.

Terdengar It-bun Han Too menjawab, “Untuk itu kalian berdualah yang berjasa dan telah membantu diriku andaikata kalian berdua bisa menahan diri dan tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan, meskipun dalam hati aku merasa curiga namun takkan membuat diriku tadi yakin bahwa dia adalah Siauw Ling!”

“Harap kau terangkan lebih jauh!”

Ketika kusebut tentang diri Siauw Ling, tanpa sadar sorot mata kalian berdua sama-sama dialihkan ke atas wajah Siauw Ling yang mngenakan topeng kulit manusia itu, ditambah pula setiap kali berbicara ia sengaja merubah suaranya untuk merahasiakan diri. Hal ini menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang dikenal oleh kita semua, ditinjau pula dari ilmu silatnya yang maha sakti dan maha lihay maka berdasarkan beberapa kesimpulan itulah aku segera menduga bahwa dia adalah Siauw Ling, dan yang paling penting kalian berdua sedari tadi sudah mengetahui rahasianya terlebih dahulu. “

Tong Lo Thay-thay agak berang mendengar ucapan itu, dia tak sanggup menguasai diri, sorot matanya memancarkan cahaya kilat dan rupanya sebentar lagi akan melancarkan serangan.

Sikap Kim Hoa Hujin masih tenang-tenang saja mendadak dia angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak serunya.

“It-bun Han Too, saking pintarnya kau sampai agak kebelinger, dan perkataamu barusan bukankah dengan jelas membuktikan pula bahwa kau sudah mengetahui rahasia tentang Siauw Ling sejak semula? bukankah kau sendiri yang tak mau mengutarakan rahasia tersebut sebaliknya malah secara diam-diam bekerja sama dengan dirinya untuk menghadapi kami”

Mendengar perdebatan Itu Tong Lo Thay-thay merasa agak lega, dengan cepat diapun berseru.

“Sedikitpun tidak salah, orang ini benar-benar kejam dan licik…. manusia berbahaya semacam ini tak boleh dibiarkan tetap hidup di kolong langit. “

Melihat Kim Hoa Hujin berbalik malah menggigit dirinya, It-bun Han Too rasa amat gelisah, segera bentaknya keras-keras.

“Ngaco belo… kau jangan ngawur…”

“Nah…nah…itu coba lihat! baru dikatakan begitu sudah gelisah, coba dengarkan dulu penjelasanku…”

“Shen Toa Cungcu, kau tidak boleh sembarangan mendengar tuduhannya…”sela It-bun Han Too dengan cepat.

“Hmm!” Shen Bok Hong mendengus dingin.”selama masih berada di dalam Istana Terlarang, siapapun jangan harap bisa bidup dengan aman. Aku rasa tak ada salahnya kalau kita dengarkan dulu penjelasan darinya, jika diantara kita ada yang harus mati, maka mati sekarang atau mati belakang rasanya tak jauh bedanya”

Dia segera berpaling ke arah Kim Hoa Hujin dan melanjutkan, “Nah! teruskan perkataanmu……”

“Setelah kita berada dalam ruangan yang terakhir dia baru membongkar rahasia dari Siauw Ling, bahkan sebelum itu menghasut dan memancing pula suasana hingga berubah jadi tegang, hal in menunjukkan bahwa dia sangat berharap agar Shen Toa Cungcu bisa bertarung lebih dahulu melawan Siauw Ling kita masing-masing pihak berjumlah lima orang, bila dibicarakan tentang kekuatan maka pihaknya yang paling lemah andaikata kita sudah bertempur sampai lelah kehabisan tenaga dan bahkan terluka parah. bukankah waktu itu dialah yang beruntung dan pegang peranan? sungguh licik sekali rencana kejinya itu. “

It-bun Han Too naik pitam, saking mendongkolnya ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Hmmm.. sungguh tak nyana perempuan berbisa yang datang dari wilayah Biau ini mempunyai selembar mulut yang tajam dan berbahaya, kau tak boleh dibiarkan hidup!”

“It-bunn sianseng. aku tahu bahwa kaupun pandai sekali dalam berdebat tetapi setelah urusan dibacakan tentang mana yang baik dan mana yang jelek. aku rasa kau tak akan mampu menolong diri lagi.

It-bun Han Too teramat gusar ia berpaling ke arah Shen Bok Hong sambil serunya.

“Shen Toa Cungcu bila kau mempercayai apa yang dikatakan oleh Kim Hoa Hujin barusan ini maka dikemudian hari kau akan menyesal sepanjang masa….”

“Heeh….heeh..heeeh…..It-bun sianseng. kau takut mati?” ejek Kim Hoa hujin sambil tertawa dingin,”Hmm! merengek burung hong memohon ampun, sedikitpun tidak memiliki jiwa ksatria seorang lelaki sejati…. kau lebih cocok jadi banci!”

Dengan sorot mata yang tajam Shen Bok Hong menatap wajah It-bun Han Too tajam tajam, sesaat kemudian diapun menatap wajah Kim Hoa hujin tanpa berkedip, mengikuti bergesernya sorot mata wajahnya berubah berulang kali, siapapun tak dapat menduga apa yang sedang dipikirkan olehnya pada waktu itu.

Diam-diam Siauw Ling mengerahkan tenaga dalamnya siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, ia kuatir secara tiba-tiba gembong iblis itu melancarkan serangan bokongan.

Dalam hati ia sadar bahwa satu-satunya orang yang benar-benar mampu melawan Shen Bok Hong hanya dia seorang, tetapi ruangan tersebut sempit dan kecil. Jika terjadi pertarungan disana maka bukan saja gerakannya untuk menghindaratau maju tidak leluasa, bahkan setiap jurus serangan yang dilancarkan membutuhkan pengerahan tenaga dalam yang amat besar.

Meskipun semangat bertempurnya tetap tinggi, tetapi pemuda itu menyadari pula bahwa di dalam hal tenaga dalam dia masih kalah sempuma jika dibandingkan dengan Shen Bok Hong, karena itu andaikata terjadi pertempuran di tempat semacam ini maka akhirnya yang rugi tetap diri sendiri.

Sementara itu Shen Bok Hong telah anggukkan kepalanya setelah menatap wajah Kim Hoa hujin beberapa saat lamanya.

“Perkataanmu memang masuk diakal” katanya, “tetapi akupun percaya bahwa It-bun Han Too tak akan mengada ada apa yang sebenarnya tak ada, bukti sukar didapat dan persoalan ini aku rasa sulit untuk dibikin jelas…”

“Bila kau ingin bikin jelas persoalan ini gampang sekali, aku mempunyai satu akal bagus untuk membuktikannya “ujar It-bun Han Too dengan cepat, “Dan cara ini bila diwujudkan maka dengan cepat kau dapat membuktikan kebenaran dari ucapanku itu!”

“ToIong tanya apakh caramu itu.”

“Perintahkan saja Kim Hon Hujin serta Tong Lo Thay-thay untuk bersama-sama menyerang Siauw Ling. Jika mereka suka menerima perintah dari Shen Toa Cungcu dan menyerang dengan sekuat tenaga untuk menentukan mati hidup mereka. Maka itu berarti bahwa aku dengan sengaja sedang menghasut perpecahan diantara kalian, aku akan gunakan jiwaku sebagai taruhan….”

“Hmm!, kenapa kau tidak turun tangan terlebih dahulu untuk menyerang Siauw Ling?” sambung Kim Hoa Hujin dengan cepat.

It-bun Han Too alihkan sorot matanya ke atas wajah Shen Bok Hong, serunya dengan cepat, “Bagaimana? Shea Toa Cungcu percaya tidak dengan perkataanku? atau kau lebih percaya dengan obrolan dari Kim Hoa Hujin?”

Shen Bok Hong segera menggeleng.

“Sebelum kita memasuki Istana Terlarang bukankah kita semua pernah berjanji untuk menyingkirkan lebih dahulu semua persengketaan pribadi? janji itu tetap masih berlaku dan kita semua harus menepatinya secara baik. Semua persoalan aku rasa diselesaikan setelah keluar dari Istana Terlarang saja!”

“Bagaimana dengan pendapat Siau Tayhiap?” tanya It-bun Han Too kemudian sambil berpaling ke arah Siauw Ling.

“It-bun sianseng!” jawab pemuda itu dengan suara dingin.

“Andaikata tiada aku orang she Siau yang berada disini untuk mengimbangi situasi, mungkin orang pertama yang akan menemui ajalnya adalah kau sendiri It-bun Han Too….”

Orang she It-bun itu tertegun, kemudian serunya, “Siau Tayhiap, kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Hmm! selamanya aku orang she Siau paling tidak suka digertak atau diancam, jika It-bun Heng ingin segera melangsungkan pertarungan yang menentukan mati hidup, aku tak akan menolak untuk melayaninya!”

“Aku sedang menanyakan maksud hati dari Siau tayhiap “

“Heeh…heeeh….heeeh…. bila ditinjau dari perbuatanmu saat ini, sepantasnya kalau kubacok mati dirimu lebih dahulu diujung telapakku!”

It bun Han Too berbatuk ringan, katanya, “Aku sedang mengajak Sian tayhiap membicarakan situasi umum pada saat ini lebih baik buang jauh2 semua dendam pribadi yang sedang berkecamuk dalam hatimu Itu”

“Hinmm! apa yang sudah diputuskan olehmu serta Shen Toa Cungcu, aku orang she Siau akan melayaninya”

It-bun Han Too segera alihkan sorot matanya. Ia lihat Shen Bok Hong dengan sikap serius berdiri tegak di tempat semula, mulutnya membungkam diam seribu bahasa, karenanya dia lantas berkata kembali, “Maksudku lebih baik kita tetap memegang janji yang telah kita ucapkan sehebum memasuki Istana Terlarang tadi, untuk sementara waktu buang jauh-jauh semua Persengketaan pribadi, dan bersama-sama menghadapi mara bahaya yang ada dalam istana Terlarang”

“Apa yang ditetapkan kalian berdua, aku orang she Siau akan mengiringinya!”

Dalam hati pemuda itu merasa tidak punya keyakinan untuk menangkan pertarungan tersebut. ia merasa andaikata tak usah turun tangan hal itu jauh lebih baik lagi.

Melihat Siauw Ling sudah menyanggupi, untuk sementara waktu It-bun Han Too merasa hatinya rada lega, meskipun setelah keluar dar Istana Terlarang kemungkinan besar orang pertama yang bakal dibunuh adalah dirinya, tetapi hal itu terpaksa harus dihadapi setelah kejadian berada di depan mataa nanti.

“It-bun beng” terdengar Shen Bok Hong menegur, “Shen Toa Cungcu ada uruan apa?”

Kalau memang Siau tayhiap telah menyetujui untuk tidak melangsungkan pertarungan di dalam Istana Terlarang demi keamanan serta keselamatan It-bun heng pribadi. aku anjurkan lebih baik secepatnya temukanlah dua sosok jenazah yang lain”

Semula It-bun Han Too ingin menggunakan kesempatan itu untuk memancing pertumpahan darah antara Siauw Ling dengan Shen Bok Hong, sedang dirinya akan menjadi nelayan yang beruntung siapa tahu hasutannya itu di patahkan oleh ketajaman lidah Kim Hoa Hujin yang mana sebaliknya dirinya yang kena dituduh hal itu membuat dirinya selama ini mengalami kegagalan total, dalam hati dia lantas berpikir.

“Sekarang Siauw Ling pasti amat gusar dan membenci diriku, untuk sementara waktu aku tak boleh menyalahi diri Shen Bok Hong….”

Karenanya dia lantas menjawab.

“Aku akan berusaha dengan segenap tenaga yang kumiliki!”

Dengan langkah lebar ia maju mendekati meja batu itu, setelah diawasi beberapa saat lamanya dengan seksama tiba-tiba ia menepuk permukaan meja itu dua kali, kemudian meraba pula balik laci tersebut beberapa saat lamanya. Setelah itu sambil loncat mundur beberapa depa ke belakang ujarnya, “Bila aku tidak salah menemukan tombol rahasia tersebut, dalam waktu sepeminuman teh lagi kemungkinan besar ruangan ini bakal terjadi perubahan besar….”

Shen Bok Hong mengerutkan dahinya.

“Maksudmu, seluruh meja batu ini kemungkinan besar akan roboh ke bawah?…”

“Tentang soal itu aku sih kurang begitu tahu, aku hanya menduga bakal terjadi perubahan besar sahut It-bun Han Too sambil menggeleng.

“Asal ruang batu ini tidak roboh sama sekali, aku rasa keselamatan kita semua juga tak akan terancam bahaya!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba terdengar suara gemerincing nyaring berkumandang memecahkan kesunyian secara tiba-tiba ruang batu itu bergeser ke arah samping dan muncullah sebuah piritu rahasia dihadapan mereka.

It-bun Han Too segera melongok ke arah bawah ia melihat suasana dibalik pintu gelap gulita pandangan disitu sulit untuk terlihat dengan mata

Ia segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Shen Bok Hong serta Siauw Ling, kemudian ujarnya, “Untuk masuk ke dalam gua ini apakah aku juga yang harus membawa jalan?”

“Tentu saja kau yang harus membawa jalan!” sahut Siauw Ling dengan suara dingin.

“Dalam kepandaian ilmu bangunan kami semua tak mampu menandingi kelihayan dari It-bun heng, tentu saja It-bun heng yang harus berjalan dipaling depan” kata Shen Bok Hong pula.

It-bun Han Too berbatuk batuk berat, ia lalu berseru, “Waaah.. . kalau begitu, terpaksa aku harus berjalan lebih dahulu dipaling depan…..” sambil mengomel panjang lebar berjalanlah orang itu memasuki pintu rahasia tersebut.

Shen Bok Hong melirik sekejap ke arah Siauw Ling, dan ujarnya

“Siau tayhiap harap kau berjalan lebih dahulu!”

“Orang ini licik dan berbahaya. aku harus berjaga2 terhadap serangan bokongannya…” pikir pemuda itu di dalam hati.

Segera ia menjawab, “Aku rasa lebih baik Shen Toa Cungcu berjalan lebih duluan!”

Shen Bok Hong mnengalihkan sinar matanya ke arah Tong Lo thay. thay serta Kim Hoa hujin, kemudian pesannya, “Kalian berdua berjalan dipaling akhir!”

Maksud dari perkataan itu jelas sekali, ia titahkan kedua orang pembanturya untuk mengawasi gerak-gerik Siauw Ling secara diam-diam.

“Kami sekalian turut perintah!” sahut Kim Hoa hujin sambil mengangguk.

“Ehmm, kalian harus hati-hati…”sambil berkata ia segera menyusul dibelakang It-bun Han Too masuk ke dalam ruangan rahasia.

Menunggu Shen Bok Hong sudah menuruni anak tangga, Siauw Ling berbisik kepada Pek-li Peng, “Peng-ji ikutilah dibelakangku!”

Pek-li Peng mengangguk. mereka berdua segera menyusul pula ke dalam lorong rahasia tersebut.

Setelah menuruni anak tangga yang kesekian puluh, suasana gelap semakin tebal menyelimuti daerah sekitar tempat itu. Saking gelapnya sehingga sulit untuk melihat kelima jari tangan sendiri.

Terdengar suara dan Shen Bok Hong berkumandang datang, “It-bun heng kenapa kau tidak memasang obor sebagai penerangan?”

Kilatan cahaya api berkelebat dalam ruangan sebatang obor tahu tahu sudah muncul dibalik kegelapan.

Tampaklah It-bun Han Too sambil membawa obor perlahan lahan melanjutkan perjalanannya menuruni tangga yang terdiri dari delapan belas undakan tersebut hingga akhirnya tibalah disebuah ruangan.

Ruang batu di bawah tanah itu tidak terlalu besar, luasnya hampir sama dengan luas ruangan batu diatasnya, di bawah sorot cahaya api tampaklah pada sudut ruangan tersebut bersandar dua sosok mayat manusia.

Yang seorang adalah tojin berjubah panjang dan berambut putih bagaikan perak.

Mereka berdua duduk berjejer di atas sebuah pembaringan batu yang dilapisi oleh kulit harimau.

Siauw Ling paling menaruh perhatian terhadap Raja seruling Thio Hong sorot matanya tanpa terasa dialihkan ke arah kakek baju hijau yang duduk disamping tojin itu.

Sedikitpun tidak salah, di atas jidat kakek baju hijau itu benar-benar terdapat sebuah tahi lalat berwama hitam.

It-bun Han Too angkat obornya tinggi-tinggi untuk memeriksa sekejap kedua sosok jenazah tersebut, kemudian ujarnya.

“Sepuluh tokoh maha sakti yang masuk ke dalam istana terlarang sudah ditemukan semua. jika ucapan Tong Lo Thay-thay tidak keliru maka orang itu pastilah Raja seruling Thio Hong”

“Sedikitpun tidak salah dialah Raia seruling!” sahut Tong Lo thiay thay sambil mengangguk.

“Nah! saudara sekalian silahkan memperhatikan dengan seksama” kata It-bun Han Too kemudian sambil mengangkat tangan kirinya ia mencekal obor tinggi- tinggi. Sementara tangan kanannya secara diam-diam meraba ke arah permukaan pembaringan dimana dua sosok mayat itu berada.

Baik Siauw Ling maupun Shen Bok Hong sama-sama sedang menaruh perhatian atas raut wajah kedua sosok mayat itu, mereka sama sekali tidak memperhatikan gerak-gerik dari It-bun Han Too.

Lain halnya dengan Pek-lie Peng, rupanya sudah banyak mendengar tentang kelicikan serta kecerdasan jago Tionggoan ini, sepanjang waktu secara diam-diam ia perhatikan terus semua gerak-gerik dari It-bun Han Too. Ketika dilihatriya tangan kanan orang itu menggerayangi ke atas pembaringan. Ia segera berteriak keras.

“Kau hendak mencuri barang!”

Meskipun dalam hati It-bun Han Too merasa amat terperanjat. tetapi gerakan tangan kanannya jauh lebih cepat tahu- tahu jari tangannya sudah menyambar kulit harimau tersebut. Shen Bok Hong segera melangkah maju kedepan, tetapak kanannya diayun dan segera ditempelkan ke atas punggung manusia she It-bun tersebut. ancamnya dengan suara dingin.

“It-bun heng, bila kau masih menginginkan jiwamu lebih baik lepaskan tanganmu itu!”

Laksana kilat Siauw Ling menggerakkan pula tangan kanannya, dengan ujung jari tengah ia tempel jalan darah ‘Miau-bun-hiat’ di tubuh Shen Bok Hong, ancamnya pula.

“Shen Toa Cungcu! aku rasa kau pasti pernah merdengar bukan akan keahlian ilmu Sio lo sin ci dari Liu sian cu? aku tak tahu dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Shen Toa Cungcu mampukah untuk menahan serangan jariku itu?”

Di bawah ancaman maut yang mungkin mempengaruhi mati hidupnya. Hati serakah It-bun Han Too seketika lenyap tak berbekas, perlahan-lahan dia tarik kembali tangan kanannya sambil berkata.

“Aku tidak tahu benda apakah yang ada disitu, maksudku hanya akan kuambil untuk diperiksa lebih dahulu, bukankah sebelum masuk ke dalam Istana Terlarang kita pemah berjanji bahwa setiap benda yang ditemukan akan diundi secara jujur dan adil?”

“It-bun heng, bukankah dalam sakumu masih terdapat sebuah lilin?” tegur Shen Bok Hong dengan suara dingin.

“Sedikitpun tidak salah, daya ingat Sheo To Cungcu ternyata masih terang sekali”

“Bagus! sekarang pasanglah lilin itu dan letakkan di atas pembaringan batu itu”

It-bun Han Too tidak berani membantah, ia menurut dan ambil keluar lilin dari dalam sakunya, setelah menyulutnya segera diletakkan di atas pembaringan batu itu.

“Aku telah melakukan semua perintahmu itu” serunya.

“Sekarang mundurlah kesamping!”

It-bun Han Too mengiakan, perlahan-lahan ia menyingkir dua langkah ke arah samping.

Shen Bok Hong segera menarik kembali telapak kanannya dengan suara dingin Ia berseru, “Siauw Ling, apakah kau masih tetap memegang janji?”

“Tentu saja semua orang harus tetap memegang janji”

“Kalau memang kau masih ingin memegang janji, sekarang tarikhlah kembali tangan kananmu itu”

“Persoalan itu gampang sekali kulakukan, asal Shen Toa Cungcu juga ikut mundur dua langkah kesamping.

Shen Bok Hong mendengus dingin, Ia menurut dan bergeser dua langkah kesamping kalangan.

Siauw Ling segera menarik kembali tangan kanannya: di bawah sorot cahaya lilin keadaan di atas pembaringan batu itu nampak jelas sekali.

Tampaklah di atas sebuah kitab yang tipis terletak selembar kertas surat disamping kertas surat itu terletak pula sebuab garisan kumala.

Di atas kertas surat tadi tertulislah beberapa huruf yang kira-kira berbunyi demikian, “Meskipun anda datang agak terlambat, namun ditinjau dari kemampuanmu untuk memasuki ruang rahasia ini menunjukkan bahwa kau cukup lihay. Untuk bisa memasuki Istana Terlarang aku telah menghabiskan waktu selama hampir tiga bulan tahun lamanya, kau bisa sampai disini pengorbanan yang sudah dilakukan pasti amat besar sekali. Nah! terimalah kitab silat warisan dari Raja serulilng Thian Hong sebagai imbalan dari jerih payahmu itu.

Di bawah surat itu tertulis pula beberapa patah kata, Tertanda orang yang lebih dahulu memasuki Istana Terlarang”

Sehabis membaca isi surat tersebut, dalam hati Siauw Ling merasa murung bercampur gembira. Girang karena tujuannya memasuki istana terlarang kali ini adalah bermaksud untuk membantu Gak Siau Cha melawan Giok-Siau-Long Kun, ilmu silat yang dimiliki Giok siau long kun bersumber dari raja seruling Thian Hong, sedang orang yang masuk ke dalam istana terlarang lebih dahulu itu ternyata meninggalkan pula ilmu silat dan Raja Seruling Thian Hong di tempat itu, bukankah itu berarti pucuk dicinta ulam tiba?

Yang dia murungkan adalah masih hadirnya Shen Bok Hong serta It-bun Han Too di tempat itu. Mereka pasti akan mengarahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk memperebutkan satu- satunya catatan ilmu silat yang masih tertinggal di dalam Istana Terlarang itu.

Dalam perebutan tersebut tak dapat dihindarkan lagi suatu pertumpahan darah yang sangat mengerikan pasti akan terjadi, akhirnya kitab catatan ilmu silat peninggalan dan raja seruling Thio Hong itu bakal terjatuh ketangan siapa masih sulit untuk diduga mulai sekarang….

Untuk beberapa saat lamanya ia jadi gelisah sekali. Tanpa terasa parasaan tegang yang betum pemah dirasakan sebelumnya mencekam perasaan hati..

Pek-lie Peng yang berdiri disisi Siauw Ling dapat merasakan pula getaran tubuh pemuda itu. Ia jadi sangat kuatir, bisiknya dengan suara lirih, “Toako apakah kau merasa takut?”

“Apa yang musti kutakuti?” sahut Siauw Ling sambil mengeleng.

“Kalau tidak takut kenapa tubuhmu…”

“Peng ji, aku sangat baik!” sela pemuda itu dengan cepat.

Pek-lie Peng mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kiri Siauw Ling kencang-kencang ujarnya, “Oooh….! toako, andaikata kita tak dapat keluar dan Istana Terlarang, aku pasti akan menemani dirimu nanti disini…aaah… sungguh indah dan menggembirakan sekali bila aku bisa mati berdampingan dengan dirimu!…..”

Habis berkata perlahan-lahan ia menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan si anak muda itu.

Beberapa patah perkataan terakhir dan Pek-li Peng itu diucapkan dengan suara yang amat keras karena itu baik Shen Bok Hong maupun It-bun Han Too serta Kim Hoa Hujin sekalian dapat mendengar dengan jelas. Tanpa terasa sorot mata semua orang ditujukan ke arah si anak muda itu.

Shen Bok Hong terbatuk batuk ringan, ujarnya, “Saudara Siau, nona ini amat mencintai dirimu bolehkah aku tahu siapakah dia?”

Siauw Ling tertawa dingin.

“Heeeh…. heeh… heeeh…. tentang soal itu, tak usah Shen Toa Cungcu repot-repot untuk mengetahuinya!”

Terdengar It-bun Han Too menghela napas panjang, setelah termenung beberapa saat lamanya ia berkata

“Saudara yaig masuk ke dalam istana terlarang sebelum kedatangan kita itu sungguh berbaik hati, ia telah tinggalkan kitab catatan ilmu silat dan Raja seruling Thio Hong buat kita, sayang sekali perhitungannya yang matang itu telah salah menghitung akan sesuatu….”

“Salah hitung tentang soal apa?” Shen Bok Hong menanggapi.

“Ia tak pemah menyangka kalau bakal ada enam orang yang bersama-sama masuk ke dalam Istana terlarang. Iapun tak pemah menduga bahwa gara-gara seijid kitab catatan ilmu silat yang ditinggalkan bakal menimbulkan bibit bencana.:”

“It-bun heng jika dalam hati kau merasa takut maka utarakan lebih dahulu maksud hatimu itu bila kau tidak ingin ikut pertaruhan ini dan melepaskan niat untuk mendapatkan kitab catatan ilmu silat dari Thio Hong!…” seru Shen Bok Hong dengan suara dingin.

It-bun Han Too tertawa hambar.

“Sekalipun aku bermaksud melepaskan niat tersebut, belum tentu kitab catatan ilmu silat tersebut bakal jatuh ketangan Shen heng!”

“Sekalipun begitu, paling seikit aku bisa memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan kitab catatan ilmu silat tersebut”

Siauw Ling yang selama ini membungkam walaupun tidak ikut berbicara tapi dalam hati kecilnya telah bikin perhitungan yang masak, pikirnya, “Seandainya beberapa orang itu benar-benar bertaruh sesuai dengan janji yang telah dibicarakan sebelumnya untuk mendapatkan kitab pusaka ilmu silat tersebut terpaksa kita harus andalkan nasib dan rejeki masing-masing. Sebaliknya kalau mereka tinggalkan janji tersebut…. tak bisa dihindari lagi suatu pertarungan sengit yang mengerikan pasti akan terjadi

Diikuti iapun berpikir lebih jauh, “Meskipun ilmu silat yang dimiliki It-bun Han Too tak perlu ditakuti, tetapi akal setannya banyak sekali, lagipula sangat menguasai alat rahasia di dalam istana terlarang, dia termasuk salah seorang musuh tangguh yang sulit dihadapi…..”

Sementara itu It-bun Han Too telah berkata kembali

“Situsasi yang terbentang di depan mata dewasa ini sudah teramat jelas sekali, diantara semua benda yang berhasil ditemukan dalam Istana Terlarang, boleh dibilang kitab catatan ilmu silat dari Raja seruling Thio Hong merupakan benda yang paling berharga, meskipun Raja Seruling juga termasuk salah seorang manusia sakti yang ilmu serulingnya telah menggetarkan seluruh kolong langit, namun dia hanya merupakan sepersepuluh dari jago sakti lainnya. Orang yang telah masuk ke dalam Istana Terlarang mendahului kita itu telah berhasil mendapatkan sembilan bagian dari catatan ilmu silat dengan hanya tinggalkan catatan ilmu silat dari Raja Seruling di tempat ini, perduli siapa pun diantara kita berhasil mendapatkan kitab catatan tersebut, kepandaian yang berhasil dikuasai tidak lebih baru spersembilan bila dibandingkan dengan orang itu, siapa tahu kalau orang itu telah menyalin pula isi dan kitab ilmu silat ini sebelum berlalu jika demikian adanya bukankah itu berarti bahwa kepandaian orang itu sepuluh kali lipat lebih dahsyat dan kita?”

“Perkataan ini sedikitpun tidak salah” pikir Shen Bok Hong di dalam hati, “persoalan penting yang harus aku kerjakan sekarang adalah berusaha keras untuk menemukan, lebih dahulu jejak dari orang yang telah menggondol pergi semua kitab catatan dan Istana Terlarang itu, mumpung orang itu belum berhasil melatih seluruh kepandaian silat yang maha sakti itu, merebut kembali kitab catatan tersebut merupakan tindakan yang paling tepat dan benar”

Sekalipun di dalam hati ia berpikir lain mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Lain halnya dengan diri Siauw Ling, pendapatnya justru bertolak belakang dengan pandangan dari Shen Bok Hong, ia pandang berat kitab catatan ilmu silat peninggalan dari Raja seruling Thio Hong, demi membantu Gak Siau Cha untuk menghadapi Giok-siau long-kun nilai dan kitab ilmu silat itu mencapai tingkat yang tak terhingga bagi dirinya. Bahkan jauh lebih penting bila dibandingkan dengan ilmu silat peningga1an sembilan orang tokoh maha sakti lainnya.

Lain halnya pula dengan It-bun Han Too dia menyadari bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih belum mampu untuk menandingi kelihayan dari Shen Bok Hong maupun Siauw Ling, jika dia ingin merebut kitab ilmu silat itu secara terang terangan jelas sama sekali tiada harapan. Satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan kitab pusaka itu hanyalah berusaha untuk menjebak serta mengurung Shen Bok Hong dan Siauw Ling sekalian di dalam Istana Terlarang, tetapi sebelum dalam hati mempunyai keyakinan yang bisa dipertanggung jawabkan ia tak ingin memperlihatkan perasaan hati itu di atas raut wajahnya.

Sementara itu Kim Hoa Hujin dengan sorot mata yang tajam menyapu sekejap raut wajah para jago yang ada di dalam ruangan itu, kemudian berkata, “Perduli apapun yang sedang dipikirkan serta dipertimbangkan dalam hati kalian semua aku rasa lebih baik kita periksa dahulu isi kitab ilmu silat itu sebenarnya asli atau palsu setelah itu barulah persoalan dirundingkan kembali!”

“Tidak salah!” sahut Shen Bok Hong sambil mengerling sekejap ke arah Siauw Ling, “Seharusnya kita periksa dahulu isi dari kitab pusaka itu, benarkah isinya merupakan ilmu silat peninggalan dari Thio Hong atau bukan ….”

“ Persoalannya siapa yang pantas untuk melakukan pemeriksaan tersebut?” sela It-bun Han Too.

“Apa pendapatmu mengenai masalah ini?” tanya Shen Bok Hong kemudian sambil berpaling ke arah Siauw Ling.

Si anak muda itu tidak langsung menjawab pikirnya di dalam hati, “Seandainya aku usulkan Peng-ji yang pergi memeriksa. Shen Bok Hong serta It-bun Han Too pasti akan menyatakan tidak setuju. rupanya aku harus melakukan pilihan di antara Kim Hoa Hujin serta Tong Lo-thaythay dua orang….”

Berpikir demikian iapun menjawab

“Jika aku tidak memilih dari orang-orang yang dibawa Shen Toa Cungcu aku rasa kau pasti akan merasa tidak lega hati. Karena itu aku ingin memilih salah seorang dari kedua pembantu Shen Toa Cungcu itu untuk melakukan tugas ini!”

“Siapakah dia?”

Sebenarnya Siauw Ling hendak menyebut Kim Hoa Hujin, tetapi sewaktu ucapan itu tiba diujung bibir tiba-tiba Ia berubah pikiran segera serunya

“Tong Lo Thay-thay”

Mendengar perkataan itu, Shen Bok Hong berpaling dari melirik sekejap ke arah Tong Lo Thay-thay, kemudian sambil menatap wajah It-bun Han Too tanyanya, “Bagaimana dengan It-bun sianseng?”

“Asal Shen Toa Cungcu menyetujuinya, aku sih tidak punya pendapat lain!…”

“Baik! kalau begitu biarlah Tong Lo hujin yang memikul tugas ini untuk melakukan pemeriksaan terhadap isi kitab tersebut!”

Tong Lo Thay-thay sendiri juga tidak banyak bicara, perlahan lahan ia berjalan menghampiri pembaringan batu dimana terdapat dua sosok mayat itu, setelah menyingkirkan penggaris kumala serta kertas surat itu, tampak olehnya di atas sampul kitab yang terdiri dari kulit kambing itu tertera beberapa tulisan dengan huruf yang besar, tulisan itu berbunyi demikian, “Kitab catatan ilmu silat dari Raja seruling Thio Hong”

Tong Lo Thay-thay sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, meskipun termasuk golongan perempuan yang dikatakan lemah namun kecerdasan serta ketelitiannya tidak kalah dengan kaum pria, ia tahu pada waktu itu setiap orang telah dipengaruhi oleh nafsu membunuh, sekali dia bertindak salah kemungkinan besar jiwanya terancam mara bahaya.

Oleh sebab itu setelah menyingkirkan penggaris kumala serta kertas surat ini, ia sama sekali tidak menggerakkan kitab pusaka ilmu silat tersebut, sambil berpaling ke arah Shen Bok Hong sekalian ujarnya, “Sedikitpun tidak salah, di atas kitab itu memang bertuliskan kitab catatan ilmu silat dari Thio Hong.”

“Meskipun disampul luar bertuliskan huruf tersebut, namun belum tentu isinya benar, kau musti periksa dulu isi kitab itu!” seru It-bun Han Too.

Tong Lo Thay-thay segera berpaling ke arah Shen Bok Hong. tanyanya.

“Bagaimana pcndapat Toa Cungcu?”

“Buka kitab itu dan periksa isinya!”

Tong Lo Thay-thay segera merogoh ke dalam sakunya dari mengenakan sarung tangan kulit menjangan, kemudian dengan sangat hati-hati ia membalikkan sampul kitab itu.

“Sungguh hati-hati tindak-tanduk nenek tua ini!” bisik Pek-li Peng disisi telinga Siauw Ling, “Senjata rahasia beracun dari keluarga Tong dipropinsi Su-chuan sudah tersohor di seluruh kolong langit, setiap manusia tak berani memandang enteng dirinya. Dia sebagai seorang ketua perguruan tentu saja tak boleh dipandang enteng!”

Ketika pemuda itu alihkan sorot matanya maka terbacalah dibalik sampul tersebut bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi demikian

Duapuluh delapan jurus ilmu seruling penghancur langit.

Jelas isi dari kitab catatan ilmu silat itu benar-benar merupakan ilmu silat dari Raja seruling Thio Hong.

Sementara Siauw Ling hendak pusatkan perhatiannya untuk membaca isi kitab itu lebih jauh, tiba-tiba terdengar It-bun Han Too menghela napas panjang sambil bertanya, “Apakah kalian semua berhasil menemukan sesuatu tanda yang tidak beres?…”

“Tanda tidak beres apa?” tanya Shen Bok Hong keheranan.

“Tulisan di atas sampul sebelah luar sama sekali berbeda dengan tulisan dalam isi kitab tersebut…”

Tong Lo Thay-thay, harap kau membalik kembali sampul yang paling depan itu!” titah Shen Bok Hong.

Tong Lo Thay-thay menurut dari segera membalik kembali pada sampul kulit yang terdepan.

Semula baik Shen Bok Hong maupun Siauw Ling sama sekali tidak menaruh perhatian tentang hal itu, setelah mendengar ucapan dari It-bun Han Too tadi mereka baru menaruh perhatian dengan sungguh-sungguh.

Sedikitpun tidak salah, ternyata gaya tulisan dari huruf yang tertera disampul paling depan sama sekali berbeda jauh dengan tulisan dalam isi kitab itu.

Delapan huruf yang tertera disampul paling depan gaya tulisannya tegak dari kuat sebaliknya tulisan di dalam isi kitab itu tulisan cepat yang mengambang dari tidak beraturan.

Shen Bok Hong segera berpaling ke arah It-bun Han Too, serunya, “Jadi kalau menurut pendapat It-bun heng isi kitab ilmu silat dari Thio Hong ini bukan aslinya?”

“Pandanganku justru merupakan kebalikan dari pandangan Shen Toa Cungcu itu….” sahut It-bun Han Too sambil tertawa hambar.

“Bagaimana maksudmu?”

“Meskipun ilmu silat yang dimiliki Raja seruling Thio Hong sangat lihay dan imannya sangat kuat sekali, namun setelah berada dalam saat-saat terakhir menjelang kematiannya tak bisa dihindari perasaan hatinya pasti mengalami goncangan keras, karena itulah tulisannya jadi mengambang dan tidak beraturan. Dan oleh sebab itulah aku merasa yakin bahwa catatan ilmu silat itu benar-benar merupakan kitab peninggalan dari Raja seruling Thio Hong….”

“Gaya tulisan pada sampul paling depan tegak lurus lagi pula jauh berbeda dengan gaya tulisan dari isi kitab itu, bagaimana pula penjelasan It-bun heng tentang persoalan ini?”

“Kemungkinan besar sampul depan itu diberi orang lain setelah isi kitab itu selesai dibuat. Lagi pula setelah raia seruling Thio Hong tinggalkan ilmu silatnya, tak mungkin dia bisa menjilid kitab ini sedemikian rapi dan bagusnya”

“Jadi maksud It-bun heng, kemungkinan besar kesemuanya itu adalah hasil perbuatan dari orang yang memasuki Istana Terlarang lebih dahulu dari kita itu?”

“Untuk memberi jawaban kecuali aku periksa lebih dahulu tinta dari huruf di dalam kitab catatan ilmu silat tersebut..”

“Apakah kau harus melakukan pemeriksaan sendiri terlebih dahulu baru bisa memberi jawaban?” tanya Shen Bok Hong dengan alis berkerut kencang.

“Sedikitpun tidak salah….”

Ia berhenti sebentar kemudian melanjutkan, “Kalian semua adalah orang-orang yang pemah bersekolah, kalian tentu tahu bukan untuk membedakan warna tinta serta gaya tulisan seseorang harus melakukan penelitian yang seksama? dari jarak yang demikian jauhnya ini darimana aku bisa mengadakan pemeriksaan?”

Mendengar sampai disini Shen Bok Hong segera berpaling ke arah pemuda Siauw Ling, tanyanya

“Siauw Ling, bagaimana pendapatmu?”

“Tak ada halangannya berikan kepadanya untuk diperiksa!”

“Tong Lo Thay-thay, serahkan kitab catatan ilmu silat tersebut kepadanya!”

Tong Lo Thay-thay mengiakan dari segera menyerahkan kitab pusaka ilmu silat itu ke tangan It-bun Han Too, tetapi sebelum orang itu sempat menerimanya mendadak terdengar Kim Hoa Huiin berseru keras, “Lebih baik suruh dia maju kedepan lebih dahulu sebelum kitab itu diserahkan ketangannya!”

“Tidak salah!” sahut Shen Bok Hong, “It-bun heng, lebih baik majulah kemari dari berdirilah di depan pembaringan batu ini!”

Kiranya pada waktu itu It-bun Han Too sedang berdiri sangat dekat dengan pintu masuk, andaikata setelah menerima kitab ilmu silat itu dia kabur keluar dari ruangan dan menutup pintu rahasia tersebut, niscaya para jago bakal terkurung di bawah ruangan rahasia itu.

It-bun Han Too tersenyum, perlahan-lahan ia berjalan kedepan pembaringan batu, setelah menerima kitab catatan ilmu silat tadi ditelitinya lebih dahulu sampul bagian depan dengan seksama, kemudian baru memeriksa halaman pertama dari isi kitab itu.

Baik Shen Bok Hong maupun Sian Ling walaupun mengetahui bahwa menggunakan kesempatan itu It-bun Han Too sengaja hendak melihat isi dari ilmu seruling penghancur langit, tetapi mereka berpendapat bahwa hal itu tidak menjadi halangan sebab isi kitab itu toh terdiri dari puluhan halaman, karena itu mereka berdua tetap bungkam dalam seribu bahasa.

Kurang lebih sepeminuman teh lamanya It-bun Han Too meneliti isi kitab itu. Kemudian sambil menutup buku tadi ujarnya, “Gaya tulisan pada sampul depan dengan isi kitab itu tidak jauh berbeda, jelas bukan tulisan dari orang yang memasuki istana terlarang lebih dahulu dari kita itu”

“Bagaimana jika dibandingkan dengan tulisan di atas surat?”

It-bun Han Too menerima surat itu dan dilihat sebentar, kemudian menggeleng.

“Juga tidak sama!”

“Lalu bagaimanakah pendapat It-bun heng mengenai persoalan ini?” tegur Shen Bok Hong dengan suara dingin.

It-bun Han Too tertawa hambar.

“Pendapatku sederhana sekali, yaitu setelah Thio Hong selesai menulis ilmu silatnya sendiri, ada orang yang membantu dirinya menjilid catatan itu serta memberi sampul luar di depan catatan tadi”

“Maksud It-bun heng, warna tinta dari kedua huruf itu berasal dari tahun yang sama dari jaraknya satu sama lain tidak terlalu lama?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kalau memang begitu maka itu berarti bahwa perbuatan itu ialah hasil karya dari salah seorang diantara sepuluh tokoh maha sakti tersebut, tetapi siapakah orang itu? bukankah mereka senasib sependeritaan dengan ilmu silat yang tidak jauh berbeda satu sama lainnya? andaikata Thio Hong tidak mampu menjilid catatan ilmu silatnya sendiri, aku rasa orang lainpun tak akan memiliki kemampuan untuk berbuat begitu. Satu-satunya orang yang mungkin bisa berbuat demikian hanyalah Ahli bangunan bertangan sakti Pau It Thian. Tetapi setelah kita tinjau keadaan situasinya jelas Pau It Thian menemui ajalnya terlebih dahulu di tangan para jago, terhadap persoalan ini bagaimanakah penjelasan dari It-bun heng sehingga bisa membuat kami merasa puas?”

It-bun Han Too termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab.

“Tepat sekali pertanyaan dari Shea Toa Cungcu itu, andaikata kita teliti sebentar keadaan dari kakek pengubah wajah disaat kematian menjelang tiba, maka tidak sulit bagi kita untuk memecahkan rahasia ini”

“Apa sangkut pautnya tentang persoalan ini dengan kakek pengubah wajah?….”

“Persoalan sebetulnya gampang sekali. selama ini aku telah memperhatikan keadaan raut wajah dari orang-orang itu, meskipun mereka semua berusaha keras untuk menjaga ketenangan seridiri tetapi diantara kerutan alisnya tak dapat menyembunyikan rasa murung dan kesalnya yang tebal, hanya kakek pengubah wajah seorang saja yang mampu mempertahankan ketenangannya tatkala ajal menjelang datang, bahkan menganggap dirinya bagaikan Buddha. Hal ini membuktikan bahwa Imannya paling tebal diantara kesepuluh orang tokoh sakti itu. Dan menurut dugaanku seluruh catatan ilmu silat dari sepuluh tokoh sakti tadi kakek pengubah wajahlah yang menyusun, menjilid serta memberi sampul mukanya”

“It-bun hengruanya kau punya pandangan istimewa terhadap kakek pengubah wajah…..bukan begitu?” seru Shen Bok Hong setelah termenung sebentar.

It-bun Han Too tertawa hambar.

“Diantara sepuluh tokoh silat maha sakti itu, walaupun ilmu silat mereka berbeda satu sama lain tapi kelihaynya seimbang, dalam hal keteguhan iman justru berbeda jauh sekali, menurut apa yang Siaute ketahui diantara kesepuluh tokoh sakti tabiat Cian jin taysu paling berangasan dan jelek sekali pun julukannya seribu sabar (Cian jin) tapi wataknya benar-benar berangasannya bukan kepalang. Watak paling halus dan berbudi adalah Tam In Cing dari partai Hoa-san, paling mulia dan sabar adalah Bu Siang taysu dari kuil sau-lim sedang orang yang paling misterius adalah kakek pengubah wajah Say Thian Gie ..”

“It-bun sianseng, pernah kau dengar tentang satu hal dari mulut orang …?” tiba-tiba Tong Lo Thay-thay menyela.

“Persoalan apa?”

“Aku pernah dengar, katanya jago lihay ikut masuk ke dalam istana terlarang tempo hari bukan sepuluh orang saja, benarkah kabar berita tersebut?”

“Aku sendiripun pernah dengar orang mengatakan begitu, tapi berita tersebut tak mampu membuktikan”

“Diantara sepuluh sosok mayat yang kita temukan telah kekurangan satu orang tokoh yang tersiar pula dalam Bu lim… apa kalian merasakan pula akan hal ini?”

“Siapakah orang itu?”

“Tiang bi taysu dari partai Go bi!”

It-bun Han Too tertegun kemudian serunya, “Aaah…tidak salah, Tiang Bi taysu bukan saja merupakan seorang jago yang paling menonjol di dalam perguruan Go-bi, bahkan, ia merupakan seorang tokoh sakti yang paling menonjol pula diantara kesepuluh jago tersebut….”

“Selain itu aku pernah mendengar pula berita sensasi yang tersiar dalam dunia persilatan mengenai asal usul Tiang Bi taysu “ujar Ton g Lo Thay-thay lebih jauh, “katanya pertama tama ia belajar silat dikuil Siau-lim lalu pindah kepartai GoBi, diantara sepuluh jago dia merupakan jago nomor satu yang lihay, sebenarnya ia mampu mengalahkan sembilan jago lainnya dan merebut kedudukan paling kosen didunia, tetapi setiap kali ia mengalah dan tak pernah melukai musuh musuhnya membuat orang Bulim beranggapan ilmu silat dari kesepuluh tokoh sakti itu seimbang. Dalam kenyataan aku dengar dihati kecil para jago lainnya telah mengakui kalau ilmu silat dari Tiang Bi Taysu adalah paling hebat diantara mereka semua…”

“Aaah…..! hal ini tak mungkin terjadi “sela Shen Bok Hong, “kalau Tiang Bi taysu sungguh mempunyai ilmu silat paling lihay dan disegani oleh lawan lawannya, ia tentu akan mengangkat diri sebagai seorang tokoh silat tak terkalahkan yang dihormati semua orang. Kenapa ia tak sudi menerima gelar kehormatan tersebut?”

“Aku juga pernah mendengar berita tersebut “kata It-bun Han Too pula, “cuma persoalan itu sulit untuk dibuktikan, lebih kita anggap sebagai bahan pembicaraan waktu senggang saja”

Tiba-tiba Siauw Ling teringat kembali akan kemampuan dari gurunya, ayah angkatnya serta Liu Sian-cu, dengan usia dan kemampuan yang mereka miliki sepantasnya kalau ketiga orang itu berhak ikut serta dalam perebutan gelar nomor satu tetapi karena urusan dendam pribadi dan masalah cinta akhirnya mereka terpaksa harus berdiam dipegunungan yang terpencil dari tidak pernah muncul dalam dunia persilatan.

Berpikir sampai disitu, ia lantas berkata

“Walaupun ada sepuluh jago lihay saling bertanding untuk memperebutkan gelar nomor satu, itu bukan berarti dalam dunia persilatan sudah tidak terdapat jago lihay yang memiliki ilmu silat jauh lebih lihay dari kesepuluh orang itu, banyak jago karena persoalan pribadi atau masalah cinta membuat mereka segan untuk ikut berebut nama, banyak pula yang tak berhasrat melakukan pertarungan untuk mencari nama…. manusia-manusia yang hidup mengasingkan diri dipegunungan yang terpencil macam beginilah sepatutnya dipuji dan dikagumi ….”

“Contohnya seperti gurumu bukan…”sambung Shen Bok Hong dengan nada mengejek.

“Hmm! kalau guruku ikut serta dalam pertarungan sepuluh jago tak mungkin ini hari kita jumpai ada jago lihay yang tekurung di dalam Istana terlarang,“ sambung Siauw Ling ketus.

Tiba-tiba Shen Bok Hong angkat kepala dari tertawa terbahak-bahak

“Haaah…..haaah….haaah andaikata gurumu ikut terkubur dalam istana terlarang maka ini hari aku orang she-Shen akan kehilangan seorang musuh tangguh!”

“Siau tayhiap” ujar It-bun Han Too sambil menatap wajah pemuda itu,” bolehkah ku tahu siapakah gurumu?”

“Maaf namanya tak dapat kusebutkan!”

“Sekalipun Siau tayhiap segan untuk memberitahukan tidak sulit bagiku untuk menduganya.”

“Pada saat dan keadaan seperti ini tidak seharusnya kita bicarakan masalah yang tak ada gunanya!”

“Tidak salah” seru Shen Bok Hong pula,” benarkah ilmu silat dari Tiang Bi taysu jauh lebih dahsyat dari sepuluh jago lainnya, masalah itu tak ada sangkut pautnya dengan keadaan kita sekarang. Mau bicara tentang soal itu lebih baik setelah keluar dari Istana Terlarang saja. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana caranya menyelesaikan masalab kitab pusaka peninggalan dari Thio Hong tersebut”

Perlahan-lahan It-bun Han Too meletakkan ki tab ilmu silat itu ke atas pembaringan batu. kemudian ujarnya, “Isi kitab ini sudah pasti tak bakal salah lagi, terserah kalian mau percaya atau tidak kalau tulisan dari isi kitab dan sampul di lakukan pada waktu yang bersamaan. Menurut penilaianku delapan bagian kulit luar dibuat oleh kakek pengubah wajah sedang isinya ditulis sendiri oleh Thio Hong, atau tegasnya kitab ini adalah kitab yang asli”

“Lilin itu paling banter cuma bertahan setengah hio lagi “kata Shen Bok Hong, setelah memandang lilin dipembaringan.” sebelum lilin tersebut terbakar habis kita harus menyelesaikan persoalan ini”

“Kitab pusaka yang kita temukan dalam Istana Terlarang hanya satu jilid, persoalan ini merupakan masalah simpul mati yang sukar diselesaikan, tentu saja kecuai kalau ada dua orang diantaranya secara tiba-tiba membatalkan niatnya untuk ikut serta mendapatkan kitab tersebut”

“HmmI dalam keadaan dan situasi seperti apapun, aku tetap punya minat dengan kitab itu” seru Siauw Ling cepat.

“Siau tayhiap, kalau didengar dari perkataanmu itu seolah-olah kau punya ambisi besar untuk mendapatkan kitab pusaka itu?” sindir Shen Bok Hong.

“Kalau kitab itu peninggalan orang lain mungkin aku tidak terlalu berminat, justru karena kitab itu peninggalan dari Thio Hong maka bagaimanapun juga harus kudapatkan”

“Kenapa? tanya It-bun Han Too, jika Siau tayhiap mau mengutarakan alasannya, aku rela mengundurican diri secara suka rela!”

Siauw Ling tidak bisa berbohong, untuk beberapa saat ia jadi bingung dari tak tahu apa yang musti dijawab, terpaksa dengan nada dingin serunya, “Aku rasa persoalan ini tak ada pentingnya untuk dijelaskan kepada sianseng!”

“Jadi menurut perkataan dari Siau heng itu, kau sudah memastikan diri untuk mendapatkan kitab pusaka dari Thio Hong ini?” tegur ketua dari perkampungan Pek Hoa Sanceng itu.

“Menurut perjanjian kita semula. Siau tayhiap hanya mempunyai kesempatan sepertiga saja,“ sela It-bun Han Too pula.

Siauw Ling mengerutkan dahinya, sinar tajam memancar keluar dari matanya dan pemuda itu akan mengumbar hawa amarahnya. Tapi sesaat kemudian Ia menghela napas panjang dan tundukkan kepalanya.

“Jika kalian hendak menentukan dengan cara berundi, tentu saja aku harus pegang janji!”

Shen Bok Hong memandang api lilin yang sudah tinggal sedikit, pikirnya

“Ditinjau dari sikap Siauw Ling, rupanya dia sangat berhasrat terhadap kitab pusaka dari Thio Hong itu. Jika aku berusaha menggunakan cara lain dia pasti tak setuju. apalagi bocah perempuan itu tak kuketahui asal usulnya, Siauw Ling bisa tinggalkan sepasang pedagang dari Tong-ciu dari memilih dia untuk mendampingi perjalanan kali ini, bisa diduga ilmu silatnya tentu lihay sekali. Menurut It-bun Han Too, Kim Hoa Hujin dan Tong Lo Thay-thay sejak tadi sudah tahu rahasia Siau Lirig tapi mereka merahasiakannya dihadapanku, aku rasa ucapan itu bukan isapan iempol belaka… sedang It-bun Han Too pribadi orangnya licik diluaran ia baik kepadaku belum tentu ia mau membantu aku jika aku sampai bentrok dengan Siauw Ling… waaah… keadaan benar-benar serba salah.

Ia merasa kekuatan yang semula paling besar, kini berubah iadi paling lemah diantara beberapa orang itu. maka ujarnya dengan cepat, “Bukankah sewaktu masuk Istana terlarang kita telah berjanji lebih dahulu? aku rasa dalam pembagian hasilpun kita harus tetap memegang janji yang lampau…”

It-bun Han Too jadi keheranan ketika mendengar nada ucapan gembong iblis itu tiba-tiba berubahi jadi lunak, pikirnya, “Semua orang dia takut sekali terhadap Siauw Ling, rupanya berita itu ada benarnya juga….dia memang punya rasa takut dan gentar menghadapi si anak muda itu”

Berpikir demikian, iapun lantas berkata, “Kalau memang begitu, marilah kita bertaruh menurut perjanjian. Coba lihat siapa yang beruntung akan mendapatkan kitab pusaka dari Thio Hong tersebut. Setelah itu kitapun harus cepat-cepat tinggalkan Istana Terlarang”

Dalam hati kecilnya Shen Bok Hong telah mengambil keputusan, barang siapapun yang berhasil mendapatkan kitab pusaka tersebut, setelah keluar dari Istana Terlarang ia akan berusaha untuk merampasnya kembali, maka segera ujarnya

“Baik! lebih bilk urusan ini cepat diselesaikan, daripada masing-masing pihak kuatir dan tidak tenteram terus”

“It-bun sianseng” seru Siauw Ling memperingatkan, pembagian ini adalah adu nasib, aku harap engkau bisa berlaku secara adil dari bijaksana…. janganlah bermain curang atau main setan secara diam-diam…..”

“Tentu saja begitui, kalau Siau tayhiap masih tidak percaya… baiklah! engkau saja yang memimpin pembagian ini dan biarlah kami yang menebak… bagaimana?”

“Soal itu sih tak perlu. asal engkau It. bun sianseng bisa bertindak jujur dan adil itu sudah lebih dari cukup”

It-bun Han Too segera masukan tangan kanannya ke dalam saku, beberapa saat kemudian dia ambil keluar kepalannya yang digenggam dan berkata, “Di dalam genggaman ini semuanya terdapat tiga buah mata uang, silahkan kalian berdua menebak berapa isi mata uang yang berada dalam genggamanku ini, siapa yang cepat menebak isi mata usng tersebut dialah yang berhak mendapatkan kitab pusaka peninggalan dari Thio Hong tersebut”

Shen Bok Hong yang telah mempunyai rencana dalam hati tidak merasa terlalu kuatir dengan pertaruhan ini, perhitungannya asal tebakan adu nasib ini meleset maka kitab itu akan dihadang sesudah keluar dari Istana Terlarang, maka segera ujarnya, “Siau tayhiap, bukankah kau mempunyai hasrat yang besar untuk mendapatkan kitab itu? Nah! sekali lagi aku akan memberi kesempatan baik kepadamu. silahkan Siau tayhiap menebak lebih dulu”

“Hmmm! kita sedang mengadu nasib, aku tak mau engkau mengalah bagiku” seru Siauw Ling dengan suara dingin.

“Ooooh…. bagiku sih sama saja, menang juga boleh kalah juga tak mengapa. Nah, silahkan engkau menebak lebih dulu”

“Kalau memang kau berkata begitu, ku tidak akan sungkan2 lagi….!”

“Siau tayhiap silahkan mulai menebak!” Dengan pandangan tajam Siauw Ling menatap wajah It-bun Han Too, sementara hatinya terasa amat tegang dan kalut sekali, ia sama sekali tak berhasil menenangkan hatinya.

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 07"

Post a Comment