Budi Ksatria Jilid 06

Mode Malam
Jilid: 6

TERDENGAR Kim Hoa hujin berkata kembali, “Kalau menurut pendapatmu, siapakah yang lebih cocok untuk meneruskan kedudukan Shen Bok Hong sebagai kepala perkampungan yang berkuasa penuh?…..”

Tong Lo Thay-thay mendehem ringan, setelah berpikir sebentar dia menjawab, “Ciu Ciau Liong bukan seorang jago yang berbakat bagus, sulit baginya untuk meneruskan karier Shen Bok Hong sebagai kepala perkampungan Pek Hoa Sanceng ….”

Ia berhenti sebentar, kemudian terusnya, “Tang Hiong Ciang walaupun merupakan murid tertua dari Shen Bok Hong sayang sekali usianya masih terlalu muda dan susah untuk memikul tanggung jawab ini…..”

“Heeeh……. heeeh….. heeeh… ini tidak cocok, itu tidak pantas. Aku lihat mungkin hanya kau Tong Lo Thay-thay yang pantas menduduki jabatan tinggi tersebut,“ ejek Kim Hoa Hujin sambil tertawa terkekeh2.

Mendengar sindiran tersebut, Tong Lo Thay-thay kontan tertawa dingin.

“Aku lihat sikap Shen Toa Cungcu terhadap dirimu tidak jelek, setiap hari berhadapan dengan urusan penting pasti mengajak serta dirimu, dikemudian hari aku rasa kaulah yang paling punya harapan untuk meneruskan kedudukan sebagai kepala perkampungan Pek Hoa Sanceng…”

Kim Hoa Hujin tertawa dingin tiada hentinya, jelas dia hendak berang tapi akhirnya dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyabarkan diri katanya.

“Tong hujin, aku lihat kau sangat mencurigai diriku?”

“Terhadap setiap manusia yang berasal dan perkampungan Pek Hoa Sanceng aku tak berani mempercayainya, sebab setiap manusia yang berasal dari sana adalah manusia-manusia yang berbahaya”

Kim Hoa Hujin tertawa hambar.

“Keluarga Tong yang berasal dan propinsi Su-chuan adalah suatu perguruan besar yang selamanya berdiri tersendiri dalam dunia persilatan, jarang sekali perguruanmu itu berhubungan dengan perguruan lain dalam wilayah Tiong-goan, tapi kenapa sekarang tunduk dan mudah diperintah oleh pihak perkampungan Pek Hoa Sanceng?”

“Aaaah…sungguh kebetulan sekali” batin Siauw Ling yang berada disisi kalangan, “apa yang sedang diributkan oleh Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay justru merupakan masalah yang ingin kuketahui. ..”

Karena itu walau melihat kedua orang itu sedang cekcok mulut, namun pemuda itu tetap membungkam seribu bahasa.

Terdengar Tong Lo Thay-thay menjawab.

“Tua muda puluhan lembar jiwa dari keluarga Tong kami telah terjatuh ke dalam cengkeraman Shen Toa Cungcu, aku tak tega menyaksikan keturunan keluarga Tong mati konyol semua ditanganku maka dengan menahan penderitaan serta penghinaan kuturuti perintahnya serta melaksanakan titahnya “

Ia berhenti sebentar, kemudian terusnya kembali, “Kalau Hujin, apakah kau memang rela diperintah dan menyumbangkan tenaga bagi Shen Toa Cungcu?”

“Meskipun Shen Bok Hong telah melepaskan racun keji ke dalam tubuhku sehingga mati hidupku dikuasai olehnya, tetapi hal itu bukankah alasan utama bagiku untuk tetap berdiam di daratan Tionggoan” sahut Kim Hoa hujin.

“Lalu apa sebabnya kau masih tetap tinggal disini?”

Kim Hoa bujin mendongak dan segera tertawa terkekeh2.

“Haaah…… haaah……. haaah….kenapa aku masih tetap tinggal di daratan Tionggoan? bukan lain karena aku ingin membantu seorang saudaraku!!

“Oooh…! jadi kau masih ada saudara di daratan Tionggoan?”

“Saudara sekandung sih tak ada, tapi aku punya seorang saudara angkat….”

“Siapakah saudara angkatmu itu?”

“Dia adalah seorang pendekar besar yang mempunyai nama tersohor di kolong langit, setiap umat manusia yang mengenali dan mengetahui akan dirinya…..”

“Hujin,” sela Tong Lo Thay-thay cepat, ”aku lihat lebih baik kau tak usah jual mahal lagi, katakan keluar!”

“Baiklah, akan kusebutkan nama saudaraku itu sekalipun kau beritahukan kepada Shen Bok Hong aku juga tidak takut, saudaraku itu bukan lain adalah Siauw Ling!”

“Siauw Ling? Siauw Ling yang pernah menjadi Sam Cungcu dan perkampungan Pek Hoa Sanceng?”

(Untuk mengetahui kisah tersebut silahkan membaca: Rahasia Kunci Wasiat.)

“Sedikitpun tidak salah!” sahut Kim Hoa Hujin sambil mengangguk.

“Aku pernah berjumpa dengan dirinya dia memang satu-satunya musuh tangguh yang berani menentang kekuasaan Shen Bok Hong pada saat ini!”

“Benar!” kata Kim Hoa hujin sambil tertawa,” saudaraku itu berjiwa ksatria dan bernyali baja. Ia memiliki ilmu silat yang maha sakti. Setiap kali Shen Bok Hong bertemu dengan dirinya, ía tentu dibikin pusing tujuh keliling…. cuma ada satu hal yang kurang bagus pada dirinya, tetapi wajahnya terlalu tampan hingga membuat setiap perempuan yang berjumpa dengan dirinya tentu akan terpesona dan terpikat olehnya, aku dengar Tong Sam Kau juga pernah ada hubungan dengan dirinya, benarkah itu?”

“Ngaco belo…” diam-diam Pek-li Peng memaki di dalam hati, “Toako aku bukan manusia semacam itu ….”

Sementara itu Tong Lo Thay-thay telah menjawab, “Aaah…! mereka hanya pernah mengenal satu sama lainnya saja, yang benar sama sekali tak ada hubungan apa apa…..”

Tiba-tiba Kim Hoa Hujin tarik kembali senyuman di atas wajahnya. dengan sikap serius ia berkata, “Andaikata secara tiba-tiba Siauw Ling munculkan diri di dalam Istana Terlarang dan terjadi pertarungan melawan Shen Bok Hong, kau bakal berpihak kepada siapa….”

“Aaah! Siauw Ling tak mungkin bakal muncul dalam Istana Terlarang secara tiba-tiba” tukas Tong Lo Thay-thay, kenapa aku musti buang banyak tenaga untuk memikirkan persoalan itu?”

“Segala perbuatan yang tak mungkin dilakukan orang lain kemungkinan besar dapat dilakukan Siauw Ling, siapa tahu kalau dia sudah masuk ke dalam Istana Terlarang dan sekarang berdiri di sekitar kita”

Meskipun Tong Lo Thay-thay tahu bahwa Kim Hoa Hujin hanya bergurau saja dengan dirinya tetapi tak urung ia berpaling juga untuk menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru katanya.

“Aaah! hal ini sama sekali tak mungkin terjadi…. . .”

Kim Hoa Hujin tertawa terkekeh2, suaranya keras dan nyaring sehingga menggetarkan seluruh ruangan tersebut.

Tong Lo Thay-thay yang ditertawakan olehnya jadi bingung dan tak habis mengerti tak tertahan lagi ia bertanya, “Eeeey…..apa yang sedang kau tertawakan? Apa yang telah salah kukatakan?”

“Rahasia dari Siauw Ling tak boleh kubocorkan pada saat ini” pikir Kim Hoa Hujin di dalam hati. Lebih baik aku tetap memegang rahasia saja….”

Karena berpikir demikian, sambil tersenyum sahutnya, “Aaah…… aku mana berani mentertawakan Tong Hujin?”

Dalam pada itu Pek-li Peng yang mendengar gelak tawa Kim Hoa Hujin yang dianggapnya jalang itu jadi tak senang hati, pikirnya dalam hati, “Kenapa gelak tawa dari perempuan ini begitu jalang? Dia tentulah seorang perempuan cabul yang berbahaya, aku tak boleh membiarkan toako berdiri terlalu dekat dengan dirinya….”

Karena berpendapat demikian, ia segera tarik lengan kanan Siauw Ling dan diajak mengundurkan diri ke sudut ruangan.

Tindak tanduknya yang sangat aneh ini bukan saja seketika membuat Kim Hoa Hujin jadi keheranan, sekalipun Siauw Ling sendiri juga kebingungan setengah mati, dengan suara lirih segera bisiknya, “Peng ji, apakah yang hendak kau lakukan?”

Pek-li Peng mengerling sekejap ke arah Kim Hoa Hujin, lalu sahutnya, “Aku muak dan benci sekali dengan gelak tawa dari Kim Hoa Hujin….”

Siauw Ling tersenyum, pikirnya, “Oooh….! Kiranya begitu, tindak tanduk Kim Hoa Hujin memang terlalu binal dan terlalu terbuka, perbuatannya sama sekali tidak menuruti adat istiadat bangsa Han yang masih kolot…. tapi hal ini tidak bisa salahkan dirinya yang sedari kecil sudah dididik secara adat suku Biau.”

Setelah berada di sudut ruangan, pemuda merasa tidak enak hati kalau hanya berpeluk tangan belaka, maka ia segera dekati dinding batu dan meraba raba sekitar dinding tadi.

Kiranya ia takut kalau Kim Hoa Hujin mengetahui akan sikap dari Pek-li Peng itu sehingga membuat perempuan tersebut merasa sakit hati, maka sengaja ia perlihatkan sikap tadi dimana dalam pandangan orang lain seolah olah kepergiannya ke sudut ruangan adalah untuk mencari sesuatu alat rahasia yang mencurigakan disitu.

Peristiwa yang di kolong langit kadang-kadang memang sama sekali diluar dugaan, It-bun Han Too telah melakukan pemeriksaan yang seksama di seluruh dinding ruangan itu, walau sudah bekerja keras beberapa waktu namun tak ada hasil yang berhasil didapatkannya. Sebaliknya rabaan Siauw Ling kali ini yang sebetulnya sama sekali tidak bermaksud kebetulan sekali dengan telak mengena di atas tombol rahasia tersebut.

Pemuda itu segera merasakan dinding ruangan dimana tangannya sedang meraba itu mendadak bergerak ke belakang, dan tahu-tahu muncullah sebuah pintu rahasia yang lebarnya beberapa depa, pada permukaan pintu rahasia tadi tampak sebuah gelang pegangan yang terbuat dari batu kumala.

Perubahan yang terjadi diluar dugaan ini segera menarik perhatian Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay, mereka berdua dengan cepat merudung kedepan.

Entah apa gunanya gelang kumala yang terdapat di atas pintu rahasia ini….” pikir Siauw Ling kembali, tanpa banyak bicara ia segera tarik gelang tersebut ke belakang.

Kraaak……! Kraaak……! diiringi suara gemericikan yang nyaring, tiba-tiba seluruh ruangan bergoncang keras, diikuti ruangan itu mulai bergeser ke arah samping.

Siauw Ling segera pusatkan seluruh perhatiannya ke arah pintu rahasia tadi sambil secara diam-diam melakukan persiapan, andaikata ruangan itu menunjukkan gejala berbahaya maka ia akan himpun segenap tenaganya untuk melakukan penghadangan agar ketiga orang perempuan itu sempat lolos terlebih dahulu dari mara bahaya.

Siapa tahu dugaannya sama sekali meleset setelah berkumandangnya suara gemericikan nyaring tadi, pemandangan yang berada dihadapan mereka tiba-tiba berubah sama sekali.

Pada dinding batu yang semula halus licin dan mengkilap itu, kini secara tiba-tiba muncul sebuah lorong rahasia yang mampu dilalui dua orang secara berbareng.

Siauw Ling berpaling sekejap ke belakang dia lihat Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay ketika itu sedang berdiri menjublak dengan mata mendelong….”

Jelas perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam ruangan itu telah membuat mereka terpesona dan terkesiap….

Siauw Ling perhatikan lorong itu dengan seksama, dia lihat dalam lorong rahasia itu mencapai puluhan tombak, dimana lorong tadi kemudian berbelok ke arah sebelah kiri. Ujarnya.

“Aku akan melakukan pemeriksaan sebentar ke dalam lorong rahasia ini, harap kalian bertiga suka menanti diluar, sebelum ada seruanku harap jangan bertindak secara gegabah….”

“Tidak, aku hendak ikut serta dengan dirimu!” seru Pek-li Peng

Seruan ini segera membuat Kim Hoa Hujin jadi tertegun, pikirnya, “Kalau ditinjau dari nada suaranya serta tingkah laku dari orang ini, rupanya dia adalah seorang gadis yang sedang menyaru sebagai kaum pria, tapi siapakah dia?”

Satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya tanpa sadar ia berseru dengan suara lantang.

“Kau adalah Kim Lan!”

Pek-li Peng tidak tahu siapakah yang bernama Kim Lan, melihat sepasang mata Kim Hoa Hujin menatap dirinya dengan tajam tanpa berkedip ia merasa sangat tidak puas sambil mendengus dingin tertegun, “Apa yang kau lihat?”

Siauw Ling takut sekali kalau kedua orang itu sampai terjadi pertarungan buru-buru dia menarik lengan Pek-li Peng dan diajak menerobos masuk ke dalam lorong rahasia.

Terdengar Kim Hoa Hujin mengoceh kembali.

“Jika kau adalah Kim Lan atau Giok Lan dua orang dayang, sikapnya tak akan sekurang ajar itu terhadap diriku…. jelas kalau bukan kedua orang dayang itu, kau pastilah Gak Siau Cha!”

Sementara itu Siauw Ling serta Pek-li Peng baru saja berbelok ke arah kiri tampaklah sebuah mutiara bergelantungan disitu. Meski cahaya mutiara itu tidak seterang cahaya lentera, namun secara samar2 pemandangan di sekitar sana dapat dilihat jelas.

“Toako” bisik Pek-li Peng dengan suara lirih. “Nama Gak Siau Cha sangat ku kenal sekali, agaknya pernah kudengar ada orang yang menyebutnya….”

“Dia adalah seorang pendekar wanita yang tersohor sekali dalam dunia persilatan tentu saja kau pernah mendengarnya!”

“Hmm!” seru Pek-li Peng sambil tersenyum, “Kim Hoa Hujin telah menganggap diriku sebagai Gak Siau Cha “

Tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya dan mencekal lengan Siauw Ling erat-erat, tanyanya, “Toako, kau kenal dengan Gak Siau Cha?”

Siauw Ling terkesiap, segera pikirnya, “Pikiran bocah perempuan ini terlalu sempit dan cupat, sedang sekarang pun aku tak punya waktu untuk memberi keterangan kepadanya, terpaksa untuk sementara waktu aku harus membohongi dirinya lebih dahulu….. “

Karena berpikir demikian, ia lantas menjawab.

“Setiap jago Bu lim sering kali melakukan perjalanan di daratan Tionggoan pasti akan mengetahui siapakah Gak Siau Cha itu, sedangkan siauheng? Tentu saja pernah berjumpa dengan dirinya.“

“Oooh…..! Kiranya begitu, rupanya Gak Siau Cha bukanlah seorang pendekar yang benar-benar luar biasa “

“Kenapa?”

“Bukankah Gak Siau Cha adalah seorang gadis?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Kim Hoa Hujin toh tidak tahu siapakah aku sebenarnya? tetapi ia mengetahui bahwa Gak Siau Cha kemungkinan besar dapat melakukan perjalanan bersama-samamu, hingga salah menganggap diriku sebagai Gak Siau Cha. Hmmm!… aku sih tak akan berbuat sembarangan macam nona Gak itu….”

Siauw Ling merasa amat tidak tenteram hatinya sewaktu mendengar ucapannya melukai martabat Gak Siau Cha, tetapi diapun merasa kesulitan jika memberi penjelasan lebih lanjut kepadanya, karena itu dengan berlagak pilon ia mendengus.

Sementara itu mereka telah tiba di ujung lorong rahasia itu, Siauw Ling segera mendorong sebuah pintu batu hingga terbuka.

Setelah memasang obor Siauw Ling menyapu sekejap ke arah ruangan itu, ia lihat kamar tersebut mirip sekali dengan sebuah kamar baca. Sebuah lampu lentera yang masih nampak persediaan minyaknya terletak di atas sebuah meja tulis.

Pemuda itu segera mendekati lampu tadi dan menyulutnya suasana dalam ruangan seketika berubah jadi terang benderang.

Tampaklah di belakang sebuah meja batu dan di atas sebuah kursi kayu duduk sesosok kakek tua berwajah penuh welas asih yang berjenggot sepanjang dada, walaupun matanya terpejam namun senyuman manis masih menghiasi bibirnya orang itu kelihatan segar seolah-olah seseorang yang sedang tidur.

Suara langkah kaki manusia berkumandang memecahkan kesunyian, ketika ia berpaling terlihatlah Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay secara beruntun muncul pula dalam ruangan itu.

“Mungkinkah orang ini adalah Raja Seruling Thio Hong?” pikir Siauw Ling dalam hati sambil menatap wajah kakek itu.

Apa yang dipikirkan oleh pemuda tersebut pada saat ini hanyalah satu yakni berusaha keras untuk menemukan Raja Seruling Thio Hong serta berharap bisa meraba ilmu silat seruling kumalanya hingga dalam janji di dasar tebing Toan hun gay tiga bulan kemudian, ia dapat membantu diri Gak Siau Cha

“Tong Hujin,“ terdengar Kim Hoa Hujin bertanya, “ apakah orang ini adalah Raja Seruling Thio Hong?”

“Ditengah jidat Raja Seruling Thio Hong terdapat sebuah tahi lalat berwarna hitam jika orang ini punya tahi lalat maka dia tentulah Raja Seruling Thio Hong.

“Bodoh amat diriku ini!“ pikir Siauw Ling dalam hati, “sewaktu berada dalam ruangan tadi bukankah Tong Lo Thay-thay pernah berkata di atas jidat Raja Seruling Thio Hong terdapat tahi lalat berwarna hitam? kenapa aku tidak ingat?”

Sewaktu ia perhatikan raut wajah kakek itu, tampaklah jidat orang itu bersih dan sama sekali tidak tampak tahi lalatnya.

Siauw Ling segera tertegun, gumamnya seorang diri, “Kalau begitu orang ini juga bukan Raja Seruling Thio Hong!”

Sementara itu Kim Hoa Hujin telah memperhatikan kembali raut wajah Pek-li Peng makin dilihat ia merasa semakin yakin bahwa lawannya adalah seorang gadis yang sedang menyaru sebagai pria, hanya saja ia tak dapat menebak siapakah gerangan orang itu.

Sorot matanya berputar, tiba-tiba ia temukan di bawah meja batu itu terdapat laci yang tidak tertutup rapat, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya.

Dengan cepat ia melangkah maju ke depan, setelah mengitari Siauw Ling serta Pek-li Peng, ia tarik kursi kayu itu kemudian menggeserkan jenazah dari kakek tua berjenggot panjang tadi.

Pada dasarnya Pek-li Peng sudah menaruh rasa tak senang terhadap Kim Hoa Hujin, melihat perempuan itu mendahului mereka seperti hendak mencari sesuatu, hawa amarahnya segera memuncak. Bentaknya dengan suara dingin, “Jangan bergerak!”

Sambil membentak telapak tangannya laksana kilat membabat ke arah depan dengan dahsyatnya….

“Entah siapakah orang ini?” batin Kim Hoa Hujin dalam hati. “Hmmm! Coba kujajal menyambut pukulannya itu….”

Berpikir demikian, tangan kanannya segera diluruskan sejajar dada, ia sambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras

Blaaam….! Ditengah benturan keras, kedua belah pihak merasakan lengan kanan masing-masing jadi tergetar keras dan kaku, ternyata dalam benturan itu masing-masing pihak berada dalam posisi yang seimbang, siapapun tidak berhasil merebut keuntungan.

“Sungguh hebat ilmu orang ini!” pikiran tersebut segera terlintas dalam benak kedua orang itu.

Pek-li Peng yang menyaksikan Kim Hoa Hujin masih tetap berdiri di tempat semula walaupun sudah menyambut serangannya dengan keras lawan keras, hawa amarahnya semakin berkobar.

Sambil meletakkan kotak kayu dalam bopongannya ke atas tanah, ia segera menerjang maju kedepan.

Gerak-geriknya ini dilakukan sangat cepat bagaikan sambaran kilat, menanti Siauw Ling hendak mencegah sudah keadaan terlambat.

Kim Hoa Hujin menyadari bahwa ia telah berjumpa dengan musuh tangguh. Karenanya dengan sekuat tenaga ia sambut datangnya serangan lawan, perempuan ini tak berani bertindak secara gegabah.

Pek-li Peng sangat bernafsu sekali, serangan gencar dilancarkan secara bertubi-tubi semua ancaman ditujukan ke tempat-tempat berbahaya di tubuh Kim Hoa Hujin namun walaupun sudah mengirim dua belas jurus serangan berantai, sayang kesemuannya berhasil dipunahkan Kim Hoa Hujin.

Sebenarnya Siauw Ling ingin turun tangan untuk melerai pertarungan ini, tetapi setelah menyaksikan rasa benci Pek-li Peng terhadap Kim Hoa Hujin maka ia batalkan niatannya tersebut. Pemuda itu berharap agar pertarungan itu bisa menyalurkan rasa dongkol yang selama ini mencekam dalam hatinya, ia merasa jika situasi sudah kritis barulah ia akan melerai.

Karena berpendapat demikian, maka pemuda itupun segera undurkan diri k esamping sambil berpeluk tangan belaka.

Dalam pada itu situasi dalam gelanggang pertarungan telah berubah, setelah Pek-li Peng melancarkan serangan bertubi-tubi, maka kali ini giliran Kim Hoa Hujin lah yang melancarkan serangan balasan, ilmu pukulan jari dilancarkan dengan sempurna dan dahsyatnya.

Pukulan-pukulan berantai yang lembut tapi mengandung ancaman yang besar ini dilancarkan dengan gencar oleh Kim Hoa Hujin dalam waktu singkat limabelas jurus telah berlalu namun kedua belah pihak belum kelihatan ada tanda-tanda untuk meredakan pertarungan.

Menyaksikan kejadian itu Siauw Ling segera mengetahui jika ia tidak keburu turun tangan maka di bawah serangan gencar Kim Hoa Hujin yang tiada hentinya ini, sulit bagi Pek-li Peng untuk rebut posisi baik dan lama kelamaan mungkin sekali gadis itu akan terluka.

Karena berpikir demikian tiba-tiba ia menerjang masuk ke dalam gelanggang pertempuran, telapak kanannya diayun menciptakan selapis bayangan telapak yang kuat untuk membendung serangan dari Kim Hoa Hujin, bentaknya, “Tahan!”

Kim Hoa Hujin mengiakan dan segera mundur tiga langkah ke belakang, tegurnya?”

“Apakah kau adalah saudara Siau?”

“Tidak salah aku adalah Siauw Ling!” jawab si anak muda itu sambil melepaskan topeng kulit yang menutupi wajahnya.

“Aaaah! Siau Tayhiap!“ seru Tong Lo Thay-thay seolah-olah baru menyadari akan sesuatu, “Sepantasnya kalau sedari tadi aku telah menduga akan dirimu!”

Dalam ingatan boanpwee, Tong locianpwee adalah musuh yang paling gigih dalam usaha menentang kekuasaan serta penindasan dari Shen Bok Hong sungguh tak nyana peristiwa yang terjadi di kolong langit kadang-kadang diluar dugaan, beberapa bulan tak berjumpa ternyata locianpwee telah bekerja sama dengan Shen Bok Hong “ kata Siauw Ling sambil bongkokkan diri memberi hormat.

Tong Lo Thay-thay menghela napas sedih setelah mendengar perkataan itu, sahutnya, Apa boleh buat? aku didesak oleh keadaan dan mau tak mau harus berbuat demikian…..“

“Saudara Siau,“ ujar Kim Hoa Hujin pula, “puluhan lembar jiwa keluarga Tong terancam oleh mara bahaya, mati hidup mereka telah berada dalam cengkeraman Shen Bok Hong, andaikata Tong Lo Thay-thay tak mau menerima perintah dari Shen Bok Hong maka kemungkinan besar keluarga Tong di propinsi Su chuan bakal lenyap dari permukaan bumi.“

“Perbuatan serta tindak tanduknya dari Shen Bok Hong memang terlalu keji dan tak tahu aturan, tentu saja dalam kejadian ini tak dapat menyalahkan Tong cianpwee. “

“Meskipun mati hidup keluarga Tong kami berada dalam kekuasaan Shen Bok Hong tetapi akupun tak ingin terlalu lama dikuasai olehnya….“ sambung Tong Lo Thay-thay

Mendadak ia berhenti bicara dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya

Kim Hoa Hujin melirik sekejap ke arah Pek-li Peng, tiba-tiba ia bertanya, “Saudaraku siapa sih nona ini?”

Siauw Ling tidak langsung menjawab, kepada Pek-li Peng katanya, “Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin bukan orang luar, hapuslah angus yang melekat di atas wajahmu itu dan temuilah mereka dengan wajah aslimu!…..”

“Dalam Istana Terlarang tidak terdapat angus lagi, jika kuhapus angus ini kemana aku harus mencari lagi untuk memulihkan penyaruanku ini?” jawab Pek-li Peng.

“Kalau nona ini tak mau bertemu dengan kami dengan raut wajah aslinya, sudahlah jangan terlalu dipaksa,“ kata Kim Hoa Hujin, “Saudara Siau beritahu saja asal usulnya yang sebetulnya!”

“Jangan beritahukan kepadanya!” seru Pek-li Peng

Siauw Ling gelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya dalam hati, “Sedari kecil ia sudah terbiasa dimanja oleh ayah dan ibunya, apa saja kemauannya selalu dituruti hingga lama kelamaan membuat tabiatnya berubah jadi kasar dan cari menang sendiri, kalau aku tidak berusaha untuk memadamkan kesombongannya, entah berapa banyak orang lagi yang akan disalahi olehnya….”

Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Peng-ji, Kim Hoa Hujin sudah beberapa kali melepaskan budi pertolongan kepadaku andaikata tiada bantuan serta pertolongannya mungkin tulang belulang toako pada saat ini sudah mendingin……..”

Mendengar ucapan itu, Kim Hoa Hujin tertawa terkekeh-kekeh.

“Haaah…. haaah…. haaah…. saudaraku kalau berbicara janganlah terlalu sungkan-sungkan.

Dalam pada itu ketika Pek-li Peng melihat Siauw Ling berbicara dengan wajah serius ternyata benar-benar tak berani mengumbar wataknya lagi, ia bungkam dalam seribu bahasa.

Siauw Ling melirik sekejap ke arah Pek-li Peng, kemudian berkata, “Berada dihadapan Tong locianpwee serta cici aku tidak berani mengelabui atau berbohong, nona ini bukan lain puteri dari Pek thian Cungcu yang bernama Pek-li Peng….. “

“Oooh…..! Kiranya tuan puteri dari istana Pak Peng Kiong!” Kim Hoa Hujin berseru tertahan.

Setelah mengetahui bahwa Kim Hoa Hujin beberapa kali pernah menolong jiwa Siauw Ling, sebenarnya di dalam hati Pek-li Peng telah berjanji tak akan menyulitkan perempuan itu lagi, tetapi setelah menyaksikan sikapnya yang genit dan jalang, hawa amarahnya segera berkobar kembali, jengeknya dengan suara dingin, “Kalau benar mau apa?”

Kim Hoa Hujin tertawa hambar, ia tidak menanggapi seruan tersebut sebaliknya sambil berpaling ke arah Siauw Ling katanya, “Saudaraku mau tak mau cici merasa kagum terhadap dirimu “

Siauw Ling tahu bahwa kata-kata selanjutnya tentu tak enak didengar, buru-buru sambungnya, “Selama berada dihadapan Shen Bok Hong mau tak mau terpaksa siaute harus berlagak tidak kenal dengan kalian berdua, bila aku telah melakukan kesalahan harap kalian berdua suka memaafkan”

Habis berkata ia segera memberi hormat.

“Kau bisa menyaru sebagai pekerja kasar untuk menyusup masuk ke dalam lembah bukit yang ketat sekali penjagaannya, kemudian berhasil pula menerobos masuk ke dalam Istana Terlarang kecerdasan serta keberanian yang kau tunjukkan benar-benar membuat orang merasa sangat kagum” sambung Kim Hoa Hujin dengan cepat, “Cukup meninjau dari hal ini, tak salah lagi jika seluruh umat bulim di kolong langit sama-sama menyanjung dirimu sebagai pahlawan yang berani menentang kekuasaan Shen Bok Hong!”

“Betul,” kata Tong Lo Thay-thay pula, Shen Bok Hong tidak takut langit, tidak takut bumi, seluruh umat persilatan yang ada di kolong langit dewasa ini tak seorangpun yang dipandang olehnya, tetapi kalau setiap kali menyebut Siau Tayhiap, wajahnya pasti berubah dan kepalanya pening tujuh keliling.

Tiba-tiba Kim Hoa Hujin mundur dua langkah ke belakang, ujarnya, “Saudara Siau, di bawah meja batu terdapat laci yang tidak tertutup rapat, mungkin sekali di dalam laci tersebut terdapat barang berharga, saudaraku! cepatlah buka laci tersebut dan periksa isinya!”

“Laci itu ditemukan cici, jika dalam laci itu terdapat barang, sepantasnya jika barang-barang itu menjadi milik cici!” ujar Siauw Ling setelah melirik sekejap ke arah meja batu itu.

Kim Hoa Hujin tertawa.

“Meskipun Shen Bok Hong merasa rada pusing terhadap diriku, tetapi dia masih tetap menguasai hidup matiku, setiap saat mungkin jiwaku dapat dibereskan olehnya. Andaikata dalam laci itu benar-benar terdapat kitab ilmu silat yang ditinggalkan sepuluh tokoh sakti itu, benda tersebut juga tiada gunanya bagi cici!”

“Aaaai….! Selama siaute masih bisa hidup di kolong langit, aku pasti akan berusaha untuk melepaskan belenggu yang dipasang Shen Bok Hong di tubuh para jago bulim di kolong langit”

Pek-li Peng yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba merasa agak simpati terhadap Kim Hoa Hujin. Ia merasa walaupun tingkah laku perempuan itu agak terbuka dan binal tetapi jiwa ksatrianya belum padam.

Terdengar Tong Lo Thay-thay berseru pula dengan nada cemas.

“Siau Tayhiap! jika kau hendak turun tangan maka cepatlah turun tangan, jalan masuk menuju ke ruang rahasia ini belum tertutup, setiap saat kemungkinan besar Shen Bok Hong serta It-bun Han Too bakal menyusul kemari….”

Siauw Ling menyadari akan pentingnya masalah tersebut, tanpa sungkan-sungkan lagi dengan langkah lebar ia maju mendekati meja batu itu, laci yang tidak tertutup rapat tadi dibuka dan tampaklah isinya hanyalah selembar kertas putih belaka.

Dengan cepat ia ambil kertas itu, terbacalah di atas kertas itu tertera beberapa huruf yang berbunyi demikian,

“Semua barang yang berada dalam Istana Terlarang telah kubawa pergi, jika perjalanan kalian terasa sia-sias…. yaaah apa boleh buat? Maaf….maaf….”

Diujung bawah kertas tadi sama sekali tidak tertera nama seseorang atau lambang yang menunjukkan seseorang.

Siauw Ling berdiri menjublak setelah membaca tulisan tersebut, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata apapun.

Kim Hoa Hujin mengerti akan bahasa Han sehabis membaca isi surat tersebut kontan ia berteriak, “Aaah…. tak masuk akal perkataan orang ini tak dapat dipercaya!”

“Kenapa?” tanya Siauw Ling sambil meletakkan surat tadi ke atas meja batu.

“Menurut analisa serta dugaan It-bun Han Too serta Shen Bok Hong, orang yang ikut masuk ke dalam Istana Terlarang semuanya berjumlah sepuluh orang, bila jenazah ini dihitung juga maka kita baru menemui delapan sosok jenazah, itu berarti masih ada dua sosok mayat lagi yang belum ditemukan.

Sementara itu Tong Lo Thay-thay juga membaca isi surat tadi, ia segera menyambung, “Pendapatku persis seperti pendapat Kim Hoa Hujin, kemungkinan besar salah satu diantara sepuluh orang tokoh sakti inilah yang menulis surat tersebut untuk menggoda kita”

“Tidak mungkin! Sepuluh tokoh maha sakti itu adalah manusia yang jujur dan luar biasa tak mungkin mereka akan membohongi diri kita. Lagipula tulisan di atas surat itu nampak masih baru….”

“Jadi kalau begitu, kau yakin ada orang yang pernah mengunjungi tempat ini sebelum kehadiran kita?”

“Menurut dugaanku memang demikian lah keadaannya….” sahut Siauw Ling, setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “jika dugaanku tidak salah maka apa ditulis di atas kertas putih itu baru berusia tidak sampai tiga bulan lamanya”

“Maksud toako, orang itu baru tiga bulan berselang meninggalkan Istana Terlarang?” seru Pek-li Peng.

“Sedikitpun tidak salah….. “ sorot matanya menyapu sekejap wajah Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay, kemudian meneruskan.

“Umat bulim yang ada di kolong langit semuanya mengetahui bahwa terdapat sepuluh tokoh maha sakti yang terjebak di dalam Istana Terlarang, sebagian besar diantara mereka hanya punya angan-angan untuk mendapatkan pusaka peninggalan sepuluh tokoh maha sakti itu tanpa menunjukkan gerakan yang nyata, tetapi ada sebagian kecil orang yang telah mengorbankan seluruh kekuatan serta pikirannya untuk menemukan jejak Istana Terlarang. Puluhan tahun berlalu bagai sehari, tak pernah mereka kendorkan perjuangan untuk mencapai apa yang dicita-citakan, sekalipun hanya sebagian kecil saja tapi kalau dihitung jumlahnya hampir mencapai ratusan orang banyaknya, diantara mereka terdapat pula manusia-manusia yang cerdas serta memiliki ilmu silat maha sakti”

“Sekalipun orang itu cerdas dan berilmu tinggi, tetapi selam ia tak menguasai ilmu bangunan tak mungkin orang itu mampu memasuki Istana Terlarang” sela Tong Lo Thay-thay.

“Seseorang membutuhkan waktu selama dua puluh tahun untuk berhasil ilmu silat yang maha sakti, jika ia membuang waktu selama duapuluh tahun lagi untuk mendalami pelajaran ilmu bangunan, maka kepandaian tersebut tak mampu dikuasai olehnya?”

Untuk beberapa saat lamanya Tong Lo Thay-thay, Kim Hoa Hujin serta Pek-li Peng tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, mulut mereka terbungkam dalam seribu bahasa.

Lama sekali…. Kim Hoa Hujin baru menyambung kembali, “Kalau demikian keadaannya,maka kita harus menantikan kedatangan dari Shen Bok Hong serta It-bun Han Too untuk bersama-sama mencicipi bagaimana rasanya bersama-sama mencicipi bagaimana rasanya orang yang dirundung kecewa dan putus harapan.“

“Benar!”dan orang yang akan merasakan pukulan paling hebat adalah Shen Bok Hong, sebab untuk menemukan letak Istana Terlarang serta berusaha untuk membukanya, entah ia sudah membuang berapa banyak pikiran, tenaga serta kemampuan untuk mengusahakannya…..hasil yang pahit ini pasti akan terasa sekali olehnya!”

“Siau Tayhiap, jika dugaan ku tidak salah maka orang yang mampu mendahului kita masuk ke dalam Istana Terlarang ini pastilah lihai dan jauh melebihi It-bun Han Too” kata Tong Lo Thay-thay, “Aaai…. orang itu mampu masuk keluar Istana Terlarang dan membawa pergi semua barang penting yang ada disini tanpa tinggalkan bekas, kehebatannya benar-benar luar biasa sekali”

Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba terdengar suara bergemerincingan menggema datang.

Dengan cepat Siauw Ling kembali mengenakan topeng kulit manusianya, hawa murni dihimpun ke dalam tubuh dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

“Mungkin Shen Bok Hong serta It-bun Han Too berhasil temukan tempat ini….” usik Kim Hoa Hujin.

“Jika Shen Bok Hong berhasil temukan tempat ini, aku harap kalian berdua tetap menjaga keadaan seolah-olah diantara kita tak pernah kenal satu sama lainnya”, pesan Siauw Ling, “ sebab dalam keadaan serta situasi semacam ini, aku tidak ingin membiarkan Shen Bok Hong serta It-bun Han Too mengetahui akan asal usulku!”

Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay saling berpandangan sekejap, namun mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Suara gemerincingan itu kembali bergema memecahkan kesunyian, kurang lebih sepeminuman teh kemudian suara itu berhenti.

Namun meja batu itu perlahan-lahan bergeser kesamping, dan dari permukaan tanah muncullah sebuah mulut gua.

Pek-li Peng melirik sekejap ke arah mulut gua itu, kemudian bisiknya lirih, “Oooh..! toako, lain kali kau harus berhati-hati, rupanya dalam ruangan ini penuh berisikan alat rahasia….”

Belum habis ia berkata, tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tampaklah It-bun Han Too pertama-tama munculkan diri lebih dahulu dari mulut gua tadi.

“Oooh…. rupanya tujuan hanya satu” pikir Siauw Ling, meskipun mereka masuk lewat pintu rahasia tapi akhirnya sampai juga ke tempat ini….. “

Belum habis ingatan itu berkelebat, Shen Bok Hong menyusul dibelakang It-bun Han Too telah muncul pula dari balik gua.

Rupanya kedua jago lihai itu sama sekali tidak mengira Siauw Ling sekalian tiba di tempat itu selangkah lebih dahulu dari mereka, tanpa terasa mereka berdua berdiri tertegun.

Siauw Ling tetap berdiri tak berkutik di tempat semula, sepasang matanya yang tajam tiada hentinya menyapu wajah mereka berdua.

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, terdengar It-bun Han Too mendehem ringan, tegurnya, “Bagaimana caranya kalian bisa sampai di tempat ini?”

“Kami selangkah demi selangkah masuk kemari!“ jawab Kim Hoa Hujin dengan cepat.

It-bun Han Too melirik sekejap ke arah lorong rahasia itu, kemudian bertanya kembali, “Apakah lorong rahasia ini berhubungan dengan ruang tengah?”

“Siapakah yang berhasil temukan pintu rahasia untuk masuk ke dalam ruangan ini?” tanya It-bun Han Too sambil berpaling ke arah Tong Lo Thay-thay.

“Akulah yang menemukannya” sahut Siauw Ling cepat.

“Bagaimana caranya kau temukan pintu rahasia itu?”

“Kuhantam dinding batu dengan telapakku dan pintu itu secara otomatis membuka sendiri….” Ia angsurkan kertas putih tersebut ketangannya dan melanjutkan aku rasa lebih baik kau periksa dulu isi surat ini!”

It-bun Han Too menyambut surat itu dan dibaca isinya, kemudian ia bertanya kembali, “Kau dapatkan kertas putih itu dimana?”

“Dalam laci di bawah meja batu itu!”

“It-bun heng” seru Shen Bok Hong dengan suara dingin, “andaikata yang ditulis dalam kertas putih itu merupakan kenyataan bukankah usaha kita untuk memasuki Istana Terlarang selama ini hanya sia-sia belaka?….”

It-bun Han Too tidak menanggapi seruan lawannya itu, ia menyapu sekejap wajah Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay kemudian ujarnya, “Apakah hujin berdua ikut masuk ke dalam ruangan ini tepat dibelakang tubuhnya?”

“Sedikitpun tidak salah” jawab Tong Lo Thay-thay, “kami masuk ke dalam ruangan ini dengan membuntuti dibelakang tubuhnya.

“Apakah kalian berdua melihat pula dia ambil keluar kertas putih itu dari dalam laci?”

“Pertama-tama akulah yang menemukan terlebih dahulu kalau laci itu tidak tertutup rapat” sahut Kim Hoa Hujin, “sementara aku hendak melakukan pemeriksaan siapa tahu enghiong ini jauh lebih cepat dari gerakanku, dia buka laci tersebut dan ambil keluar surat itu”

Dengan teliti It-bun Han Too memeriksa kembali isi surat tersebut, kemudian ujarnya, “Kalau ditinjau dari tulisan di atas kertas ini, jelas usianya baru beberapa bulan, andaikata surat ini tidak palsu maka tiga bulan berselang sebelum kita semua masuk ke dalam Istana Terlarang, telah ada orang yang masuk mendahului kita bahkan membawa pergi semua barang yang berada di dalam Istana Terlarang ini….”

Shen Bok Hong menyapu sekejap wajah Siauw Ling tiba-tiba sindirnya, “Atau mungkin diantara kita beberapa orang terdapat seorang jago yang benar-benar cerdik, dimana pada beberapa bulan berselang ia menulis dahulu sepucuk surat kemudian disembunyikan di dalam saku, setelah itu surat itu dipergunakan setelah berada di dalam Istana Terlarang….”

“Hmm! Surat ini aku dapatkan dari dalam laci, mau percaya atau tidak terserah pada kalian berdua sendiri,” dengus Siauw Ling dengan nada dingin dan ketus, “aku rasa kalian tak usah menilai orang dengan pikiran yang picik!”

Dengan sorot mata yang tajam Shen Bok Hong menyapu sekejap empat dinding dalam ruangan itu, kemudian meneliti pula meja batu itu, akhirnya sambil menghela napas panjang katanya, “Aku percaya bahwa surat itu bukanlah surat palsu yang sengaja dibuat, dan aku percaya pula tidak ada orang yang sedang mempermainkan kita, tetapi peristiwa itu merupakan suatu kejadian yang sungguh-sungguh telah terjadi….”

“Akupun percaya bahwa isi surat itu merupakan suatu kejadian yang nyata” ujar It-bun Han Too pula sambil mengembalikan kertas putih itu ketangan Siauw Ling, “Dan sembilan puluh persen kejadian itu benar-benar sudah berlangsung.

“Ooooh….! Jadi kalau begitu It-bun heng masih ada sepuluh persen tidak percaya? Sela Shen Bok Hong.

“Tegasnya kita masih ada satu hal yang patut dicurigai dan itu merupakan satu-satunya pengharapan, asal kita dapat membuktikan kecurigaan tersebut maka kita dapat segera mengundurkan diri dari Istana Terlarang, sedang pengharapan itu tergantung pada nasib serta rejekinya masing-masing”

“Apa kecurigaanmu itu? Dan apapula pengharapannya? Berada dalam keadaan situasi seperti ini aku rasa It-bun heng tak perlu jual mahal lagi..!”

“Kecurigaan itu adalah mengenai jumlah jenazah yang berhasil kita temukan berikut jenazah yang ditemukan dalam ruang baca ini kita baru menemukan delapan sosok mayat, padahal menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan mengatakan bahwa ada sepuluh tokoh sakti yang masuk ke dalam Istana Terlarang, itu berarti masih ada dua sosok mayat yang belum berhasil kita temukan, jika kedua sosok mayat yang lain berhasil kita temukan, maka anggaplah kita berhasil membuktikan bahwa dalam Istana Terlarang memang benar-benar pernah berkumpul sepuluh tokoh sakti.”

“…. Ehmm! Kecurigaan ini memang masuk diakal” sahut Shen Bok Hong sambil mengangguk, “Tapi apapula satu bagian pengharapan itu?”

“Pengharapanku adalah semoga orang itu tidak ambil bersih seluruh barang yang berada di dalam Istana Terlarang….”

“Jadi maksudmu di tempat ini masih ada barang berharga?” sela Shen Bok Hong dengan sorot mata berkilat….

“Aku tak berani menegaskan secara yakin aku hanya berharap bisa terjadi peristiwa tersebut”

“Baiklah, barusan aku serta It-bun heng telah menempuh perjalanan yang penuh dengan mara bahaya, berkat kecerdasan serta kelihayan dari It-bun heng kami berhasil lolos dari semua marabahaya, sekarang aku harap It-bun heng tetap mengepalai rombongan untuk menemukan dua sosok mayat yang lain!”

Rupanya ketika Shen Bok Hong berhasil mengejar masuk ke dalam ruang rahasia itu dengan duduk di atas kursi roda, sampailah ia di depan sebuah lorong batu yang menjorok masuk kedalam, tanpa pikir panjang ia terus menerjang masuk kedalam.

Sebab hanya itulah satu-satunya jalan yang ada, berhubung tiada pilihan lain terpaksa dia menerobos masuk kedalam.

Lorong itu berliku-liku dan dari bawah naik ke atas, bentuknya mirip sekali dengan sebuah tangga.

Shen Bok Hong dengan perawakannya yang tinggi besar harus melewati, lorong rahasia yang makin ke dalam makin sempit, akhirnya tanpa disengaja ia telah melanggar tombol rahasia yang menyebabkan tubuhnya segera terjebak dalam perangkap.

Untung It-bun Han Too mendengar suara berisik itu dan memburu datang, dengan pedang mustikanya ia berhasil menghancurkan alat rahasia tersebut dan menyelamatkan jiwa Shen Bok Hong.

Meskipun diluaran ketua perkampungan Pek Hoa Sanceng ini tidak menyatakan rasa terima kasihnya, tetapi setelah kejadian itu rasa permusuhannya terhadap It-bun Han Too sudah jauh berkurang.

Demikianlah, kedua orang itu segera meneruskan perjalanannya menyusuri lorong rahasia tadi, pelbagai rintangan yang membahayakan jiwa harus mereka alami, siapa sangka mereka muncul kembali di sudut lain dari ruangan tengah.

Sementara itu Siauw Ling serta Kim Hoa Hujin sekalian telah masuk ke dalam kamar baca rahasia, melihat itu Shen Bok Hong serta It-bun Han Too segera menyusul kesitu.

Tampak It-bun Han Too pejamkan matanya termenung sebentar, lalu ujarnya, “Bila dugaanku tidak keliru, maka Istana Terlarang seharusnya berhenti sampai di ruangan ini saja!”

“It-bun heng kau dapat berkata demikian tentu didasari oleh alasan yang kuat bukan? Apa alasan mu itu?” tanya Shen Bok Hong.

“Setelah kuselidik keadaan disekeliling ruangan ini, segera timbul satu pendapat dalam benakku bahwa tidak mungkin lagi bagi kita untuk meneruskan ke arah lebih depan lagi.

“Kenapa?”

“Sebab sekeliling Istana Terlarang sudah berada sangat dekat sekali dengan letak sungai bawah tanah yang punya daya alir yang luar biasa derasnya itu, kendati Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian memiliki kepandaian luar biasa, mau tak mau dia mesti memperhitungkan pula daya tekanan yang ditimbulkan oleh aliran deras sungai bawah tanah tersebut!”

“Apa yang diucapkan It-bun heng memang masuk diakal, tetapi sebelum menyaksikan sendiri bukti yang nyata, sungguh membuat hati sukar percaya..”

“Jika kita berhasil menemukan dua sosok jenazah yang lain, maka kitapun dapat membuktikan kebenaran dari ucapan It-bun sianseng” sambung Tong Lo Thay-thay cepat.

“andaikata berita yang tersiar dalam dunia persilatan tidak keliru dan benar-benar terdapat sepuluh tokoh maha sakti yang masuk ke dalam Istana Terlarang, menurut dugaan ku dua sosok jenazah yang lain kemungkinan besar berada di dalam ruang baca ini pula!”

“Jadi menurut dugaan It-bun heng, disamping ruangan batu ini masih terdapat ruang cadangan lainnya?” seru Shen Bok Hong dengan sepasang alis berkerut.

“Betul!”jawab It-bun Han Too sambil mengangguk, sekalipun otak Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian amat cerdik, bangunan Istana Terlarangnya amat luar biasa dan ruang cadangannya rumit sekali, tetapi aku yang kesemuanya itu pasti berada dalam radius sepuluh tombak dari sekeliling tempat ini….”

Ia tempelkan telinganya di atas dinding batu, setelah memeriksa dengan seksama katanya kembali, “Ruang batu ini tak mungkin menjorok lebih ke dalam lagi, sebab satu tombak setelah lapisan dinding ruangan merupakan dasar sungai dalam permukaan bumi yang deras sekali aliran airnya”

“Sungguhkan perkataanmu itu?”

“Jika Toa Cungcu tidak percaya apa salahnya kau tempelkan pula telingamu di atas dinding ruangan dan coba melakukan pemeriksaan sendiri?”

“Aaah! Aku takut tiada hasil yang dapat kutangkap….!” seru kepala kampung perkampungan Pek Hoa Sanceng ini, walaupun demikian tubuhnya maju juga kedepan dan telinganya segera ditempelkan ke atas dinding.

Sedikitpun tidak salah, suara gemuruh air yang santer bagaikan guntur membelah bumi secara lapat-lapat berkumandang datang…..

“Sudah kau dengar Shen Toa Cungcu?” tegur It-bun Han Too

“Sudah”

“Dan kau sudah membuktikan bukan kalau ucapanku sama sekali tidak berbohong.

Siauw Ling yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba menyela, “Kemungkinan besar para jago yang masuk ke dalam Istana Terlarang hanya delapan orang, persoalan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha untuk mengenali lebih dahulu siapakah orang ini, dengan begitu kita pun jadi tahu dua sosok jenazah yang belum ditemukan adalah jenazah siapa, dari kedudukan orang itu kitapun bisa menilai apakah mereka sungguh-sungguh berani datang ke Istana Terlarang atau tidak”

Perkataan ini diutarakan mantap dan seolah-olah ucapan dari seorang jago kawakan yang sangat hapal sekali dengan keadaan dunia persilatan, hal ini membuat Shen Bok Hong serta It-bun Han Too semakin tak mampu menduga asal usulnya yang sebenarnya.

Dengan sorot mata tajam bagaikan pisau belati, Shen Bok Hong menatap wajah Siauw Ling tanpa berkedip, ujarnya, “Bukankah kau yang masuk ke dalam ruangan ini terlebih dahulu? Apakah telah kau perhatikan jenazah ini?”

“Tentu saja sudah kuperhatikan!”

“Lalu siapakah dia?”

“Waah..! pertanyaan ini sungguh bikin kepalaku jadi pusing” pikir Siauw Ling dalam hati, “Terhadap para tokoh sakti yang masuk ke dalam Istana Terlarang kebanyakan hanya kudengar dari pembicaraan orang saja, mana mungkin aku sanggup mengenali siapakah orang ini? Jika aku sudah tahu, buat apa musti bertanya kepada kalian lagi!”

Berpikir sampai disitu, ia lantas menjawab, “Aku lihat orang ini bukan Raja Seruling Thio Hong!”

“Siapa bilang dia adalah Thio Hong? orang itu bukan si Raja Seruling” sahut It-bun Han Too cepat.

“It-bun heng, kalau didengar dari ucapanmu rupanya kau kenal dengan orang ini?”

“Ehmm! Menurut pengelihatanku, orang ini semestinya Hoa sim Loojin kakek perubah wajah Say Thian Gie!”

“Kakek perubah wajah?”

“Benar! kepandaiannya menyamar diri sangat lihai dan beraneka ragam, walaupun sudah puluhan tahun lamanya berkelana di dalam dunia persilatan namun tak seorang manusiapun yang pernah melihat raut wajah aslinya, termasuk juga para tokoh maha sakti yang terjebak di dalam Istana Terlarang!”

“Kalau sepuluh tokoh maha sakti yang berada dalam Istana Terlarang pun tak ada yang kenal dengan raut wajah sebenarnya dari Kakek perubah wajah, darimana kau bisa tahu kalau dia adalah Kakek perubah wajah Say Thian Gie?” pikir Siauw Ling dalam hati.

Terdengar It-bun Han Too melanjutkan kembali kata-katanya, “Katanya dalam berkumpul dan berjumpa dengan siapaun dalam satu hari Kakek perubah wajah Say Thian Gie pasti akan muncul dan bertemu dengan dirimu dalam tiga macam raut wajah yang berbeda satu sama lainnya, siapapun tak bisa menduga raut wajah aslinya, karena itulah meski sahabat karib yang telah berhubungan selama puluhan tahun dengan dirinya pun sulit untuk membedakan mana raut wajah asli dan mana raut wajah palsu”

“Jika orang ini Say Thian Gie mungkin raut wajah yang sekarang ini adalah raut wajah aslinya?” tanya Shen Bok Hong.

“Raut wajah yang asli atau palsu aku tak berani memastikan”

“Kalau kau memang tak berani memastikan, darimana pula kau bisa mengatakan jika orang ini adalah Kakek perubah wajah Say Thian Gie?” sela Kim Hoa Hujin.

“Gampang sekali untuk membedakan soal ini, kalau dia memang bukan Raja Seruling Thio Hong ataupun orang lain, maka pastilah sudah bahwa orang ini adalah Kakek perubah wajah Say Thian Gie”

Siauw Ling yang mendengar sampai disitu, dalam hati kecilnya segera berpikir kembali, “Seseorang yang telah melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan selama puluhan tahun namun tak seorang manusiapun yang mampu mengenali wajah aslinya, kemampuannya itu sungguh luar biasa dan mengagumkan sekali.

Berikut ia membayangkan nasib dari kakek misterius yang memilliki ilmu silat maha sakti itu, hanya disebabkan nama serta kedudukan akhirnya dia harus menemui ajalnya dalam Istana Terlarang.

Terdengar Shen Bok Hong berkata pula.

“Aku orang she Shen merasa amat kagum dengan pendapat It-bun heng yang begitu tinggi, kalau memang begitu delapan puluh persen orang ini pastilah Kakek perubah wajah Say Thian Gie”

It-bun Han Too menghela napas panjang.

“Aaaai.. Senyum sebelum layu, welas sebelum ajal, kecuali Say Thian Gie seorang siapa lagi yang dapat menampakkan senyuman seramah ini sesaat sebelum ajalnya?”

“Aku sudah lama sekali mendengar serta mengagumi nama besar Kakek perubah wajah tapi hingga kini belum pernah menyaksikan raut wajahnya, mungkinkah wajahnya sekarang adalah raut wajah aslinya? Ujar Tong Lo Thay-thay dari samping.

“Sahabat karibnya yang telah berhubungan selama puluhan tahunpun tak pernah menyaksikan raut wajah aslinya, darimana kita bisa tahu jika raut wajah ini yang asli atau yang palsu?”

“Tetapi dia toh sudah mati?” sambung Kim Hoa Hujin dengan suara dingin, “Seseorang yang telah mati tak mungkin bisa merubah raut wajahnya lagi!”

“Oooh..! jado maksud hujin, sekarang kita boleh merusak penyamarannya itu untuk melihat bagaimanakah raut wajah aslinya?”

“Bukankah ucapan itu muncul dari mulut It-bun sianseng sendiri? Aku rasa kau tak usah mengembalikan lagi ucapan tersebut kepadaku!”

It-bun Han Too segera menggeleng.

“Selama hidupnya loocianpwe ini selalu berusaha keras untuk melindungi serta merahasiakan raut wajah aslinya hingga tidak sampai diketahui orang lain, kini dia telah meninggal dunia, kenapa kita musti merusak penyaruannya untuk melihat raut wajah aslinya? Aku rasa lebih baik tak usahlah kita lakukan!”

“Bagus sekali” pikir Siauw Ling dalam hati. “aneh, kenapa secara tiba-tiba It-bun Han Too berubah jadi begitu welas asih dan tahu diri?…”

“Aku tidak berani menyamakan diri dengan pendapat dari It-bun sianseng….” ujar Kim Hoa Hujin kembali, “coba pikirlah, selama hidup tak seorang manusia pun yang pernah menyaksikan raut wajah asli Kakek perubah wajah, sampai matipun raut wajah aslinya tidak diketahui oleh umum. Dalam hati ia pasti akan merasa tersiksa sekali, meskipun bila kita rusak penyamarannya pada saat ini merupakan suatu tindakan yang kurang menghormat, tetapi tindakan kita yang membongkar penyaruannya itu bagi dirinya merupakan suatu perbuatan yang baik, siapa tahu dengan perbuatan itu kita justru telah mengurangi siksaan batinnya dialam baka…..”

Ia berpaling ke arah Shen Bok Hong dan menambahkan, “Bagaimana pendapat Shen Toa Cungcu tentang pendapatku ini?”

“Apa yang diucapkan kalian berdua sama-sama beralasan dan masuk diakal, sulit bagiku untuk mengambil pertimbangan yang jitu”

It-bun Han Too segera berpaling ke arah Siauw Ling dan bertanya, “Apa pandanganmu mengenai persoalan ini?”

“Aku rasa tak ada salahnya jika kita lihat raut wajah aslinya….”

Mendengar perkataan itu, Kim Hoa Hujin segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya, “Pendapat umum berharap demikian, It-bun sianseng! Apa yang hendak kau katakan lagi?”

“Kalau memang begitu, akupun tak akan kukuh dengan pendirian ku lagi”

Sambil berkata jago cerdik she It-bun itu segera mengundurkan diri dua langkah ke belakang

Kim Hoa Hujin segera menghampiri jenazah kakek tua itu, sambil mengangkat tangan kanannya ia berkata.

“Akan kuperiksa dulu apakah di atas wajahnya mengenakan topeng kulit manusia atau tidak?”

Sementara tangan Kim Hoa Hujin hampir menyentuh raut wajah kakek tua baju hitam itu, mendadak It-bun Han Too berseru, “Tunggu sebentar”

Kim Hoa Hujin berpaling dan memandang sekejap ke arah It-bun Han Too, kemudian katanya, “It-bun sianseng, permainan setan apakah yang berhasil kau dapatkan sehingga mampu menakuti hatiku dan merasa aku batalkan niat ini?”

“Ada satu persoalan mau tak mau harus kuutarakan lebih dahulu sebelum kau bertindak!”

“Persoalan apa? Cepat katakan!!”

“Kakek perubah wajah adalah seorang jago budiman, ia telah menggunakan pelbagai macam cara untuk membuat wajahnya sama sekali berubah hingga orang lain sulit untuk mengenali kembali wajah aslinya, hal ini pastilah dilakukan karena ia mempunyai kesulitan sendiri. Menurut pikiranku, setelah dia ada maksud melindungi raut wajah aslinya dengan pelbagai macam cara, maka disaat melakukan penyaruan tersebut ia pasti memikirkan pula pelbagai macam cara untuk melindungi penyaruannya itu”

“Oooh….! Jadi maksudmu disaat aku turun tangan merusak penyamarannya ini kemungkinan besar bisa ketimpa bencana yang sama sekali tidak terduga?..

“Apa yang kuucapkan hanya merupakan dugaan pribadiku sendiri, sedangkan mengenai benar atau tidaknya aku tak berani memastikan….”

Sebenarnya pikiran Kim Hoa Hujin sangat lapang dan perasaan hatinya sama sekali tidak tercekam oleh rasa takut atau kuatir, tetapi sesudah mendengar perkataan It-bun Han Too ini rasa curiga segera menyelimuti benaknya, untuk beberapa waktu lamanya ia hanya berdiri menjublak saja tanpa berani melakukan pekerjaan gegabah.

Shen Bok Hong segera berbatuk ringan, ujarnya, “It-bun heng, apakah Kakek perubah wajah gemar menggunakan racun atau binatang berbisa?”

“Sekalipun dia gemar menggunakan racun masa wajah sendiri dipolesi dengan bisa?” batin Siauw Ling.

Tampak It-bun Han Too menggeleng dan menyahut, “Apakah dia gemar menggunakan racun? Rasanya belum pernah kudengar ada orang yang membicarakannya!”

Tiba-tiba Kim Hoa Hujin mengambil keluar sebatang tusuk konde berwarna emas, ujarnya, “Peduli amat dia gemar menggunakan racun atau tidak, aku harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan”

Sambil berkata dengan tusuk konde emasnya itu ia gurat raut wajah Kakek perubah wajah.

Siapa tahu ketika ujung tusuk konde emas itu menyentuh di atas wajah Kakek perubah wajah, terasalah ujung benda itu seolah-olah menyentuh di atas sebuah batu karang yang keras sekali.

“Oooh….! Sungguh keras wajahnya….” seru Kim Hoa Hujin dengan suara keras.

Sekalipun wajahnya tidak mengenakan obat penyaru, setelah mati sekian banyak tahun kulit serta tubuhnya juga telah mengeras….” sela It-bun Han Too

Namun Kim Hoa Hujin segera menggeleng, bantahnya, “Dalam perasaanku, yang tersentuh oleh ujung tusuk konde bukanlah wajah yang terdiri dari kulit dan daging…”

“Coba berikan tusuk konde itu kepadaku,“ ujar Shen Bok Hong.

Setelah menerima tusuk konde tersebut dari tangan Kim Hoa Hujin, ia segera mengetuk wajah Kakek perubah wajah beberapa kali, setelah itu ujarnya pula, “Aaah! Benar memang bukan kulit tubuh.”

Orang ini sangat licik dan banyak akal, ia tak mau menanggung resiko dicap sebagai orang yang merusak penyamaran Kakek perubah wajah, setelah mengetuk beberapa kali tusuk konde itu diserahkan kembali ketangan Kim Hoa Hujin.

Perempuan ini segera menyambut tusuk konde tadi, setelah hawa murni disalurkan ke dalam tubuh, ujung tusuk konde dengan tajamnya menembusi kerak kulit penyaruan diwajah kakek itu.

Kraaak….! Ujung tusuk konde menembusi setengah cun ke dalam kerak keras tersebut, kemudian sambil menarik kembali senjatanya dia berseru, “Saudara sekalian harap membantu aku periksa wajahnya apakah kulit tubuhnya sudah mengering dan layu atau belum?”

Siauw Ling sekalian segera alihkan sorot matanya, ke arah wajah kakek baju hijau tadi, secara lapat lapat mereka temukan beberapa buah retakan.

Jelas di atas wajahnya Kakek perubah wajah telah membubuhi obat penyaru yang sangat tebal, dengan begitu membuktikan pula bahwa raut wajah yang dapat dilihat oleh para jago saat ini, bukanlah raut wajah aslinya.

“Aaaah….! Bukan raut wajah yang sebetulnya….” seru Shen Bok Hong.

“Baik! Akan kudongkel kerak keras di atas wajahnya ini hingga kalian dapat melihat wajah aslinya “seru Kim Hoa Hujin, sambil berkata hawa murninya disalurkan ketangan kanan dan segera dicongkel keluar.

Sedikitpun tidak salah, kerak keras selapis demi selapis rontok ke bawah dan hancur berantakan dilantai.

Dengan cepat Kim Hoa Hujin menggerakkan tusuk konde emasnya, dalam waktu singkat seluruh obat penyamar yang telah mengeras itu sudah bersih dari raut wajahnya hingga tampaklah wajah asli dari Kakek perubah wajah

Meskipun ujung tusuk konde telah melukai wajah kakek itu, tetapi garis besar raut wajahnya masih dapat terlihat dengan nyata.

Ketika mereka perhatikan dengan seksama, tampaklah raut wajah Kakek perubah wajah kurus kering dan berkeriput, hidungnya entah kenapa hanya tinggal separuh bagian saja, bila dibandingkan dengan raut wajah diluar tadi sungguh jauh berbeda.

Menyaksikan hal itu Kim Hoa Hujin menghela napas panjang, katanya, “Rupanya rasa suka akan keindahan tak terlepas dari setiap manusia, walaupun Kakek perubah wajah sudah berumur lanjut dan punya nama besar, namun ia masih belum dapat menghilangkan perasaan tersebut, hanya disebabkan kekurangan sebagian dari hidungnya sepanjang masa ia tak sudi bertemu orang dengan wajah aslinya.

Tiba-tiba It-bun Han Too maju kehadapan kakek perubah wajah, kemudian dengan dengan hormat sekali ia memberi hormat, ujarnya, “Budi luhur yang telah locianpwee perlihatkan sungguh patut dipuji dan dihormati”

“It-bun heng seru Shen Bok Hong sambil berbatuk ringan, aku rasa belum pernah mendengar ada orang berkata bahwa Kakek perubah wajah pernah melakukan pekerjaan ksatria yang patut dipuji dan dihormati…. kenapa sikapmu terhadap dirinya begitu menghormat sekali? apa sebabnya kau sampai berbuat demikian?”

“Bila kita tinjau dari keahliannya dalam ilmu menyaru wajah, bagi dia orang tua menyamar jadi seorang pemuda tampan yang mempesonakan hati bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu susah, tetapi ia tak sudi berbuat demikian malah sebaliknya menyamar sebagai seorang kakek tua yang rambutnya telah beruban dan suka mengasingkan diri dari dunia persilatan, perbuatannya itu apakah tidak pantas disebut sebagai tindakan seorang kuncu yang patut dikagumi?”

“Benar, pikir Siauw Ling dalam hati, rupanya ia maksudkan andaikata kakek perubah wajah menyamar menjadi seorang pemuda tampan yang romantis, dengan kepandaiannya yang sangat lihai, pastilah ia sanggup menciptakan suatu peristiwa yang romantis menggetarkan seluruh dunia persilatan….”

Walaupun berpikir demikian, tetapi ia tetap membungkam.

“Maksudmu, seandainya dia menyamar jadi seorang pemuda tampan yang mempesonakan hati, maka dunia persilatan pasti akan dibikin gempar oleh tindak tanduknya itu?”ujar Kim Hoa Hujin.

“Nyonya berasal dari wilayah Biau dan tidak tahu tentang persoalan dalam daratan Tionggoan kami….” seru It-bun Han Too dengan suara dingin.

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Akan kukisahkan sebuah cerita untuk nyonya, nanti kau akan menyadari bahwa terdapat perbedaan antara adat istiadat serta tata kesopanan antara manusia di daratan Tionggoan dengan penduduk pribumi di wilayah Biau…”

“Baik akan kudengarkan kisahmu itu!”

“Kurang lebih seratus tahun berselang, di daratan Tionggoan khususnya dalam dunia persilatan telah muncul seorang pendekar pedang, ilmu silatnya yang dimiliki orang itu tak begitu tinggi tetapi perbuatan telah mengobrak abrik seluruh dunia persilatan, setiap peristiwa yang terjadi pasti mempunyai sangkut pautnya dengan seorang perempuan….”

Dia alihkan sorot matanya ke arah Shen Bok Hong dan melanjutkan, “Aku rasa Shen heng tentu tahu bukan dia adalah iblis cinta yang tersohor itu”

“Ehmm! Akupun pernah mendengar orang berbicara tentang peristiwa itu….. “

“Di jaman itu, dia merupakan kekasih yang diidam-idamkan dan diimpi-impikan oleh setiap gadis muda….

Kim Hoa Hujin segera tertawa, serunya, “Kejadian itu toh sudah berlangsung pada seratus tahun berselang, urusan yang sudah lewat buat apa hubungannya pula dengan persoalan yang kita hadapi sekarang?”

“Heeeh…..heeeh..heeeeh.. aku toh sudah bilang nyonya yang berasal dari wilayah Biau picik sekali pengetahuannya, ternyata dugaanku sedikitpun tidak salah”

Kim Hoa Hujin mengerutkan alisnya setelah mendengar perkataan itu, dia membantah, “Walaupun aku dibesarkan dalam wilayah Biau, tetapi sudah banyak kitab bangsa Han yang kubaca…..”

It-bun Han Too mendongak dan tertawa terbahak-bahak

“Haaah….haaah….haaah…. kalau berbicara tentang membaca buku, di kolong langit dewasa ini aku rasa jarang sekali terdapat manusia yang sanggup mengalahkan aku It-bun Han Too….”
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 06"

Post a Comment

close