Budi Ksatria Jilid 03

Mode Malam
Jilid 3

MENYAKSIKAN senjata rahasianya berhasil dipukul rontok pihak musuh dengan gunakan tangan kosong, Tong Lo Thay-thay segera tertawa dingin, teriaknya lantang, “Ketiga batang peluru pengejar nyawaku itu berujung tajam dan berduri lembut di sekujur tubuhnya, pada ujung duri telah terkandung racun keji yang maha hebat, siapa terkena senjata itu segera akan muncul bin tik merah pada mulut lukanya, sepeminuman teh kemudian kadar racun akan bekerja dan setengah jam kemudian seluruh tubuh akan jadi lemas, segenap kekuatan untuk melawan hilang lenyap tak berbekas, tiga jam kemudian jiwanya akan melayang, kecuali obat penawar keluarga Tong kami di kolong langit tak ada orang yang mampu mengobati luka itu….”

Rupanya sedari tadi Siauw Ling telah mengenakan sarung tangan kulit ular yang kebal terhadap senjata. meskipun senjata rahasia dari keluarga Tong sangat lihay, sama sekali tidak ambil pusing.

Setelah berhasil memukul rontok senjata rahasia itu, Siauw Ling segera mengundurkan diri kesisi It-bun Han Too.

“Siapa kau?” kembali Shek Bok Hong membentak keras.

Siauw Ling menyadari bahwa kepandaiannya menyampok jitu senjata rahasia, mungkin telah memancing kecurigaan Shen Bok Hong terhadap dirinya, tapi terdesak oleh keadaan terpaksa ia musti bertindak demikian.

Iapun mengerti, terlalu banyak bicara di saat seperti ini berarti semakin besar kemungkinan rahasianya ketahuan, satu-satunya tindakan yang tepat adalah tidak perdulikan tegur Shen Bok Hong sambil pejamkan mata pura-pura, sedang mengerahkan tenaga untuk melawan racun senjata rahasia.

Terdengar Tong Lo Thay-thay berseru kembali.

“Ia sudah terluka oleh racun keji yang tepat di ujung senjata rahasiaku, beberapa saat lagi dia pasti akan mati keracunan, saat ini kita tak perlu menyerang dengan jalan menempuh bahaya”

Sebenarnya Shen Bok Hong masih curiga, tetapi setelah mendengar seruan dari Tong Lo Thay-thay, kemudian melihat pula sikap Siauw Ling seolah-olah benar keracunan, rasa curiga yang semula berkecamuk dalam benaknya kontan lenyap tak berbekas.

Kim Hoa Hujin pentangkan matanya lebar2 mengawasi diri Siauw Ling, hatinya tetap sangsi dan ia tak tahu benarkah pemuda itu terluka oleh serangan senjata rahasia beracun itu.

Pek-li Peng yang paling kuatir diantara beberapa orang itu, ia segera mendekati pe muda itu sambil tanyanya dengan suara setengah berbisik, “Toako, parahkah luka yang kau derita?”

Siauw Ling tidak tega menyaksikan gadis kesayangannya ini gelisah tak karuan, terpaksa dengan ilmu menyampaikan suara ia menjawab, “Aku sama sekali tidak terluka, mengulur waktu pada saat ini paling menguntungkan bagi posisi kita, karena itu aku akan tetap berpura-pura terluka”

Shen Bok Hong bukan seorang yang bodoh, selama ini dia awasi terus setiap gerak-gerik dari Siau Leng, melihat bibirnya bergerak lirih tahulah gembong iblis itu bahwa lawannya sedang bercakap2 dengan ilmu menyampaikan suara, rasa curiga yang semula telah lenyap kini berkecamuk kembali da lam benaknya.

Sementara itu Pek-li Peng merasa lega setelah mengetahui Siauw Ling sama sekali tidak terluka, dengan gemas ia pelototi sekejap nenek tua itu, pikirnya, “Hmm! cepat atau lambat akan kusuruh kau rasakan lihaynya jarum perak Han-peng gin-ciam milikku!”

Tiba-tiba dari celah tebing berkumandang suara gemuruh yang amat keras, seluruh belahan dinding tebing itu mendadak mulai bergeser ke arah samping.

Dengan terkejut Siauw Ling berpaling dan memandang sekejap ke arah It-bun Han Too, serunya, “Sianseng….”

It-bun Han Too tak dapat mengendalikan rasa girang serta luapan emosinya lagi, ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa…… haaaaah …. haaaah …. aku berhasil membuka pintu masuk istana terlarang…. aku berhasil membuka pintu itu ….”

Beberapa patah kata itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, membuat sekujur badan Shen Bok Hong gemetar keras, hampir saja ia tak sanggup mengerahkan tenaganya dan terjatuh ke bawah tebing.

Tong Lo Thay-thay segera mengerahkan tenaganya menjejak diri di atas tebing, tubuhnya bagaikan burung elang segera menerjang ke arah celah tebing tadi sambil melancarkan pukulan dahsyat.

Pek-li Peng geserkan badannya ke samping, telapak kiri berkelebat balas melancarkan pula sebuah serangan.

Meskipun usia Tong Lo Thay-thay sudah tua, rambutnya telah berubah semua tapi ilmu silatnya benar-benar sangat ampuh, ditambah pula pengalamannya yang sangat luas, tentu saja orang muda tak bisa menangkan dirinya.

Melihat datangnya serangan dari Pek-li Peng, ia segera mengepos tenaga dan tubuhnya secara mendadak melayang turun ke bawah.

Tentu saja nenek tua ini tak mau menyambut datangnya serangan itu dengan keras la wan keras, terutama sekali selama tubuhnya masih terapung di tengah awang2.

Ia mengepos tenaga dan segera melayang ke bawah semakin cepat.

Dengan tindakan itu maka serangan yang dilancarkan Pek-li Peng segera mengenai sasaran kosong, angin pukulan yang maha hebat tadi menyambar lewat tepat di atas batok kepala Tong Lo Thay-thay

Dalam pada, itu baik Shen Bok Hong mau pun Kim Hoa Hujin semuanya dengan gerakan secepat kilat telah menerjang naik ke atas dinding tempat pijakan kaki itu.

Siauw Ling kuatir It-bun Han Too setelah masuk ke dalam Istana Terlarang ia tutup kembali pintu istana tersebut, seluruh perhatiannya ditujukan ke arah orang itu dan tak sempat baginya untuk perhatikan keadaan sekelilingnya lagi.

Dengan begitu hanya Pek-li Peng seorang diri yang harus menghalangi serbuan beberapa orang itu, Setelah pukul mundur Tong Lo Thay-thay tadi, gadis itu segera putar telapak siap menghalangi yang masuk Shen Bok Hong. siapa tahu belum sempat ia berbuat sesuatu mendadak terasalah segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menerjang ke arah dadanya.”

Pek-li Peng kaget dan segera berpaling, tampaklah orang yang melancarkan serangan bukan lain adalah Tong Lo Thay-thay .

Kiranya ketika tubuh nenek tua itu meluncur ke bawah tanah, ia telah putar badannya menggunakan peluang tersebut, sepasang kakinya bergelantungan pada ujung tebing sementara telapaknya didorong ke muka menyerang Pek-li Peng yang sementara itu sudah tidak menahan perhatian lagi kepadanya.

Bertarung di atas lekukan tebing yang sempit terutama sekali kedua belah pihak adalah sama-sama jago kelas satu, merebut posisi baik adalah masalah yang paling penting.

Serangan yang dilancarkan Tong Lo Thay-thay barusan sangat mempengaruhi mati hidupnya, karena itu bisa dibayangkan betapa hebat dan kejinya serangan tersebut.

Pek-li Peng yang sedang siap menyerang Shen Bok Hong, setelah merasakan datangnya serangan ancaman secara tiba-tiba dari Tong Lo Thay-thay , terpaksa ia putar badan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Tong Lo Thay-thay bukanlah manusia sembarangan, dari dahsyatnya serangan gadis itu, ia tahu bahwa musuhnya amat tangguh.

Dalam keadaan begini ia tak berani menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras. tiba-tiba telapaknya menekan ke bawah. jari tangan kanannya laksana tombak segera menotok jalan darah Kee Bun di tubuh Pek-li Peng, sementara tangan kirinya mencengkeram tubuh Siauw Ling.

Jalan darah Kee Bun adalah salah satu jalan darah penting di tubuh manusia, bila mana sampai tertotok jalan darah tersebut maka orang itu kalau tidak mati akan menderita luka parah.

Terdesak oleh keadaan, terpaksa Pek-li Peng harus geserkan badannya meloloskan diri dari datangnya ancaman itu.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah Tong Lo Thay-thay mengepos tenaga dan meloncat naik ke atas lekukan celah.

Siauw Ling segera menyadari akan bahaya yang mengancam, ia putar badan dan melancarkan sebuah pukulan.

Sebelum nenek tua itu sempat berdiri tegak, tahu-tahu serangan yang dilancarkan Siauw Ling telah tiba di depan mata.

Tidak sempat baginya untuk berpikir panjang lagi. dengan cepat kilat ia mendorong kakinya pula untuk menyambut datangnya ancaman tersebut…..

Kedudukan Siauw Ling jauh lebih beruntung, sebelum Tong Lo Thay-thay sempat berpikir tegak tahu-tahu sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya.

Meskipun Tong Lo Thay-thay telah berusa ha keras untuk mempertahankan tubuhnya, tak urung ia kewalahan juga menghadapi da tangnya terjangan angin pukulan yang begitu dahsyat kakinya terasa jadi enteng dan tubuhnya segera terjatuh ke dalam jarang.

Di bawah sorot cahaya obor. tampaklah raut wajah Tong Lo Thay-thay yang diliputi rasa terkejut, bayangan bersama nona Sam seketika terbayang kembali dalam benak pemuda ini.

Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia cengkeram tangan kiri si nenek tua itu kemudian menyentaknya ke atas, tubuh Tong Lo Thay-thay yang semula sudah terjatuh ke dalam jurang itupun segera terangkat kembali naik ke atas tebing.

Tindakan Siauw Ling itu seketika membuat Tong Lo Thay-thay berdiri tertegun, ia tidak mengira kalau jiwanya bakal diselamatkan oleh pemuda tersebut.

Setelah angkat naik tubuh Tong Lo Thay-thay tadi, Siauw Ling segera putar badan sambil melancarkan sebuah pukulan tangan kiri ke arah Shen Bok Hong…..

Dalam pada itu Shen Bok Hong sudah hampir tiba diantara lekukan celah tersebut sejengkal lagi tangannya bakal menempel pada ujung celah tadi, tapi serangan yang di lancarkan Siauw Ling keburu tiba.

Shen Bok Hong yang licik rupanya sengaja suruh Kim Hoa Hujin naik ke atas tebing dahulu, Pek-li Peng yang menyaksikan kehadiran perempuan itu segera menyambut dengan sebuah serangan, menggunakan kesempatan baik itulah gembong iblis itu sekuat tenaga “berusaha naik ke atas celah2 dinding bukit tadi.

Dalam pada itu merasakan datangnya serangan tangan yang dahsyat, Shen Bok Hong segera mengepos tenaga dalamnya, tangan kiri lak sana kilat mencengkeram ujung tepi celah bukit tersebut, sementara telapak kanan di ayun ke atas menyambut datangnya serangan yang dilancarkan Siauw Ling.

Dalam suatu benturan yang sangat keras, ia rasakan betapa dahsyatnya daya tekanan yang menghajar tubuhnya, hampir saja cekalan pada ujung tebingnya terlepas, sekarang ia baru sadar bahwa lawannya terlalu tangguh.

Dengan ilmu jari Kim-Kong Ci ia tancapkan kelima jari tangan kirinya di atas tebing baru, tubuhnya miring ke samping dengan cara bergelantungan dengan begitu ia punahkan sebagian dan tenaga ancaman pemuda itu.

Pada saat yang bersamaan tubuh Kim Hoa Hujin terhajar oleh sebuah pukulan yang dilancarkan oleh Pek-li Peng, kuda kudanya gempur dan tubuhnya segera terlempar ke dalam jurang.

Sorot mata Siauw Ling berkilat, dengan tangan kanan ia cengkeram urat nadi Tong Lo Thay-thay, badannya melangkah maju setindak ke muka, kakinya diangkat dan segera menginjak tangan kiri Shen Bok Hong yang menancap di atas karang.

Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Siauw Ling, andaikata injakan tersebut berhasil mengenai tangan kiri Shen Bok Hong, maka bisa dibayangkan tulang tangan gembong iblis itu pasti akan hancur berantakan ….

Tapi Shen Bok Hong bukanlah seorang manusia bodoh, setelah menyabut datangnya serangan dari Siauw Ling tadi, iapun menyadari bahwa musuhnya terlalu tangguh, dalam keadaan begini ia harus menempuh bahaya untuk rebut naik ke atas celah dinding itu.

Maka hawa murni yang dimilikinya segera disalurkan semua ke tangan kiri. tubuhnya mendadak melayang naik ke atas.

Menanti kaki kiri Siauw Ling yang diinjakkan ke tangan Shen Bok Hong tiba disasaran, bayangan iblis itu telah tinggalkan batu karang dan loncat naik ke atas.

Hanya terpaut beberapa mili saja. injakan Siauw Ling mengenai sasaran yang kosong.

Dalam pada itu suara gemuruh yang berkumandang dari lambung bukit telah berhenti, dari lekukan celah dinding dimana beberapa orang itu berada muncullah sebuah pintu gua setinggi beberapa tombak dengan lebar tiga depa.

It-bun Han Too tanpa menggubris rekan-rekan lainnya segera tundukkan dan menerobos masuk lebih dahulu ke dalam pintu istana.

Siauw Ling jadi amat gelisah, buru-buru teriaknya, “Peng ji! cepat menerobos masuk ke dalam istana!”

Dimana Pek-li Peng berdiri saat itu tepat menghalangi antara Siauw Ling serta Teng Lo Thay-thay dengan pintu istana, tidak menanti si anak muda itu menyelesaikan kata-katanya, ia sudah menerobos masuk lebih dahulu ke dalam istana.

Tong Lo Thay-thaypun ikut terseret oleh Siauw Ling masuk ke dalam pintu istana terlarang.

Sejak Siauw Ling menyelamatkan jiwa nenek tua itu dari ancaman bahaya, ia merasa tidak leluasa untuk melepaskan Tong Lo Thay-thay ini dengan begitu saja, karenanya tanpa berpikir panjang terpaksa ia bawa ser ta nenek tadi masuk ke dalam pintu.

Suasana dalam gua gelap gulita susah melihat kelima jari tangan sendiri, bayangan tubuh dari It-bun Hat Too telah lenyap tak berbekas.

“Oooh…. toako, kau ada dimana?“ terdengar seruan Pek-li Peng yang lembut berkumandang datang.

Padahal jaiak antara mereka berdua hanya terpisah beberapa depa saja, namun karena gelap, suasana dalam goa itu membuat Pek-li Peng tak dapat mengetahui dimana Siauw Ling berada.

“Peng-ji, aku berada disini cepatlah kemari!”

Pek-li Peng segera lari menghampiri berasalnya suara tadi.

“Tong Lo Thay-thay……” bisik Siauw Ling, sebelum ucapan itu selesai diutarakan tiba-tiba terasa desiran angin tajam menyambar lewat, kembali sesosok bayangan manusia menerobos masuk ke dalam istana.

Dari perawakan tubuhnya yang tinggi besar serta gerakan tubuhnya yang cepat, siapapun akan tahu bahwa orang itu bukan lain adalah Shen Bok Hong, kepala kampung dari perkampungan Pek Hoa Sanceng.

Siauw Ling dengan cepat menotok dua buah jalan darah dari Tong Lo Thay-thay, sementara dia siap mengejar Shen Bok Hong, Pek-li Peng yang berada di sisinya telah lancarkan dulu dua serangan senjata rahasia…..

Selama ini kendati Shen Bok Hong belum tahu asal usul yang sebenarnya dari kedua orang itu, tapi ia tahu bahwa mereka berdua sangat lihay, karena itu sebelum menerobos masuk ke dalam pintu hawa murninya telah dipersiapkan lebih dahulu.

Tatkala Pek-li Peng ayunkan tangan kanannya tadi. ia segera merasakan datangnya bahaya, telapak kanan diayun ke muka dan ke dua batang jarum perak tadi disampok jatuh ke tanah.

Dengan ketajaman mata Siauw Ling, ia dapat melihat bahwa dalam genggaman Shen Bok Hong telah bertambah dengan sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam.

Pemuda tidak banyak bicara, sepasang telapaknya diayun ke muka melancarkan dua buah serangan dahsyat.

Shen Bok Hong tertawa dingin, dia ayun pula tangan kanannya untuk menyambut da tangnya serangan tersebut, kemudian tegurnya dingin, “Sebenarnya siapakah kau?”

“Hmmm! diantara kita berdua toh tiada hubungan apa-apa, rasanya kau tak usah tahu siapakah daku!”

Sesosok bayangan manusia kembali berkelebat masuk ke dalam ruangan istana, dia bukan lain adalah Kim Hoa Hujin

Melihat akan hal isi, pemuda kita segera berpikir dalam bati: . “Kalau pintu istana tidak segera ditutup. orang-orang dari perkampungan Pek Hoa Sanceng yang masuk kemari kian lama akan kian bertambah banyak, bila sampai begini keadaannya….wah! bisa berbenih….”

Kim Hoa Hujin yang terlempar jatuh ke bawah bukit kiranya secara kebetulan telah diterima oleh Ciu Cau Liong sehingga sama sekali tidak terluka, dengan cepat ia merambat naik lagi ke atas bukit.

Karena tiada orang yang menghadang jalan perginya lagi, maka dengan cepat sekali ia berhasil mendaki sampai ke atas celah bukit tadi dan masuk ke dalam Istana Terlarang.

Shen Bok Hong terbahak-bahak, suaranya bagaikan amukan banteng membuat seluruh ruang gua itu mendengung keras.

Siauw Ling segera mengumpulkan tenaga dalamnya di sekujur badan, setelah menotok dua buah jalan darah di tubuh Tong Lo Thay-thay kemudian meletakkan tubuh si nenek tua itu di atas tanah, dia tarik tangan Pek-li Peng sambil bisiknya lirih, “Peng-ji, ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong sangat lihay dan luar biasa ampuhnya, dan tak boleh menerima setiap pukulannya dengan keras lawan keras, serang saja dengan pukulan-pukulan jarak jauh, mengerti”

Rupanya pemuda ini bisa menyelami perasaan gadis tersebut, Pek-li Peng yang selalu dimanja oleh kedua orang tuanya sedari kecil, terutama dengan kedudukannya sebagai putri dari istana es tentu akan merasa tidak tenang hati menghadapi kecongkakan Shen Bok Hong ia takut gadis ini tak dapat menahan diri dan melangsungkan pertarungan sengit melawan gembong iblis tersebut, andaikata sampai terjadi hal demikian maka keadaan pasti akan bertambah runyam.

Pek-li Peng segera merasakan tangannya yang digenggam Siauw Ling terasa hangat dan nyaman hingga merasuk ke seluruh tubuhnya, dalam hati ia merasa malu bercampur girang, segera sahutnya dengan suara lembut.

“Aku akan turuti perkataan toako, aku tentu tak akan menyerang dirinya dengan gerakan keras lawan keras….”

Kraaak… Kraaak… Kraaak…! mendadak terdengar suara denyitan nyaring bergeletar memecahkan kesunyian, tatkala semua orang berpaling maka terlihatlah pintu masuk Istana Terlarang yang semula terbentang lebar, pada waktu itu perlahan-lahan merapat kembali.

Sorot cahaya lemah yang semula memancar masuk lewat pintu depan dan menerangi empat dinding kuat dalam lorong itu seketika lenyap tak berbekas, gua itu kian terasa bertambah gelap gulita.

Terdengar suara It-bun Han Too berkumandang keluar dari dalam gua, Sepuluh tokoh sakti dunia persilatan yang tempo dulu terkurung di dalam Istana Terlarang tak seorangpun berhasil meloloskan diri dari kurungan ini, bisa dibayangkan betapa kuat dan kokohnya pintu tersebut”

Cahaya api berkilauan dari balik lorong, seketika muncullah sebuah obor yang segera menerangi seluruh gua tersebut.

Siauw Ling berpaling ia melihat, It-bun Han Too berada kurang lebih dua tombak dari tempat dimana ia berada saat ini. tempat itu persis merupakan persimpangan jalan.

Kiranya lorong di belakang tubuh It-bun Han Too tersebut terbagi menjadi dua bagian, satu berbelok ke sebelah kiri dan yang lain berbelok ke sebelah kanan.

Shen Bok Hong berada kurang lebih satu tombak di belakang Siauw Ling, sedangkan Kim Hoa Hujin berdiri disisi tubuh gembong iblis lihay tersebut.

Siauw Ling segera melepaskan genggamannya pada tangan Pek-li Peng, dalam hati ia cepat ambil perhitungan, pikirnya, “It-bun Han Too tahu bahwa Shen Bok Hong dengan sangat mudah dapat membinasakan dirinya, iapun tahu bahwa dirinya masih bukan tandingan dari Peng ji, tapi dalam keadaan begini ternyata ia berani memasang obor penerangan, jelas ia pasti sudah meyakinkan akan sesuatu hal…..”

Sementara itu Shen Bok Hong telah melirik sekejap ke arah Tong Lo Thay-thay yang menggeletak di atas tanah, lalu berkala dengan nada dingin, “It-bun Han Too kau berani mengkhianati diriku, dan mengingkari janji kita semula, itu berarti bahwa kekuatan perjanjian tersebut telah musnah sama sekali, setiap saat aku dapat turun tangan untuk membinasakan dirimu!…..”

“Haaaah…. haaah…. haaaah, suasana dalam gua ini gelap gulita, bagi aku orang she It-bun gampang saja kalau ingin melarikan diri dari hadapanmu, tahukah kau mengapa aku musti unjukkan diri kembali? itu tidak lain karena aku tak takut terhadap ancamanmu itu!” sahut It-bun Han Too sambil tertawa terbahak-bahak.

Shen Bok Hong segera tertawa dingin.

“Apa kau anggap aku orang she-Shen benar-benar tidak berani membinasakan dirimu?” ancamnya sengit.

It-bun Han Too gelengkan kepalanya.

“Sekalipun aku orang she It-bun benar-benar menepati janji dan bekerja sama dengan dirimu, masa sehabis perkara di dalam istana terlarang, kau Shen Bok Hong tak akan membereskan jiwaku? aku sudah memahami sampai dimanakah tabiat jelekmu itu. sekarang juga mati dan lain kalipun juga mati, kenapa aku musti mandah dibelenggu tanpa berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri?”

“Pada detik inipun setiap saat saku bisa menyelesaikan jiwa anjingmu, apa kau mampu untuk membendung niatku tersebut?”

“Aku percaya selembar jiwa Shen Toako Cungcu jauh lebih berharga daripada jiwaku, bukan begitu?” jawab It-bun Han Too tenang diiringi senyuman manis.

“Heeeh…… heeeh….. heeeh…. aku tidak mengerti akan maksud ucapanmu itu!”

“Aku memang mengakui bahwa Shen Te-cungcu adalah seorang pemimpin besar dari dunia persilatan, tapi bagaimanakah kemampuanmu itu dibandingkan dengan sepuluh tokoh sakti pada masa yang silam? dengan tenaga gabungan mereka bersepuluh pun tidak mampu keluar dari Istana Terlarang, apalagi kalau Cuma tenaga kau Shen Bok Hong seorang?”

“Bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku? Haaah….. haaaa…. haaah…. sudah tentu aku bisa pergi datang sekehendak hatiku sendiri, kalau kau bunuh aku It-bun Han Too, maka berarti pula suatu ketika kaupun bakal mati kelaparan di dalam Istana Terlarang ini, bukankah keadaannya hanya terpaut lima puluh langkah dengan seratus langkah belaka?”

“Bagus sekali pikir Siauw Ling di dalam hati, “Setelah kau bohongi kunci istanaku dan membuka pintu istana terlarang, sekarang kau berani omong besar dihadapanku …. sungguh kurangajar!”

Sekalipun dalam hati berpikir demikian, ucapan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, sebab itu menyadari betapa berbahayanya situasi di dalam Istana Terlarang dewasa ini, kesiapsiagaan It-bun Han Too terhadap Shen Bok Hong jauh melebihi perhatiannya terhadap dia sendiri.

Tetap mempertahankan kakek tua yang li cik dan banyak akal ini berarti pula suatu keuntungan besar bagi dirinya, sebab dimanapun juga It-bun Han Too masih mampu untuk beradu kecerdikan dengan gembong iblis tersebut.

Sementara itu Shen Bok Hong telah berkata kembali dengan nada dingin, “Apakah kau tidak takut kubunuh dirimu setelah keluar dari Istana Terlarang?”

“Oooh, kalau itu sih urusan belakangan nanti, memohon orang lebih baik memohon pada diri sendiri, sampai waktunya siapa tahu kalau aku telah berhasil menemukan cara yang tepat untuk menghadapi Shen Toa Cungcu?”

Yang penting adalah saat ini, aku ingin membicarakan lebih dulu masalah di depan mata sekarang diri Toa Cungcu!”

“Baik! apa yang ingin kau bicarakan? cepat utarakan keluar…” dari nada ucapan ini bisa diketahui bahwa Shen Bong Hong sudah kena terdesak oleh keadaan.

It-bun Han Too memandang sekejap diri Siauw Ling serta Pek-li Peng, kemudian tanyanya, “Siapakah kedua orang ini? apakah Toa Cungcu kenal dengan mereka berdua?”

Shen Bok Hong menggeleng.

“Mereka berdua bukan anggota perkampungan Pek Hoa Sanceng kami, tentu saja aku tidak kenal, akupun tak tahu siapakah mereka berdua!”

“Bagaimanakah pendapat Toa Cungcu mengenai ilmu silat yang mereka miliki?”

“Terhitung lihay, hebat dan ampuh!”

It-bun Han Too tertawa hambar.

“Jadi kalau begitu Toa Cungcu telah turun tangan bergebrak melawan mereka berdua?” tanyanya.

“Betul, aku telah beradu pukulan dengan mereka!”

“Kalau begitu bagus sekali, posi si kita sekarang adalah terbagi dalam tiga bagian dengan sudut segi tiga. bagaimana menurut pendapat kalian semua?”

Siauw Ling tidak buka suara dan tetap membungkam sebab ia telah mengambil keputusan dalam hati, bila tidak terpaksa oleh keadaan ia tak akan buka suara.

Tampak Shen Bok Hong memandang sekejap ke arah Siauw Ling, lalu balik bertanya, “Jadi maksud It-bun Heng, kita enam orang hanya terbagi dalam tiga rombongan saja?”

“Sedikit pun tidak salah, Tong Lo Thay-thay, Kim Hoa Hujin Shen Toa Cungcu terdiri dari satu rombongan, mereka berdua terdiri dari satu rombongan dan aku sen diri? tentu saja terhitung pula sebagai satu rombongan!”

“Heeeeh…. heeeeeh…. heeeeeh …. sekarang aku dapat mengerti maksud hatimu,” ejek Shen Bok Hong sambil tertawa dingin, “It-bun heng menyebut dirinya sebagai satu rombongan, bukankah itu berarti pula bahwa kau seorang diri berhak mendapatkan sepertiga dari barang peninggalan di dalam Istana Terlarang? sedangkan kami lima orang harus puas dengan dua pertiga sisanya, It-bun heng! apakah kau tidak merasa sedikit keterlaluan dalam pembagian ini?”

Sekalipun posisiku jauh lebih menguntungkan daripada kalian semua, toh keadaan itu jauh lebih baik daripada mati konyol di dalam Istana Terlarang ….? aku tidak percaya kalau kesepuluh tokoh sakti da ri dunia persilatan itu mampu hidup selama beribu2 tahun di dalam lambung bukit yang gelap gulita ini”

“Betul!” pikir Siauw Ling dalam hati, “Sekalipun ilmu silat yang kita miliki sampai dimana libaynya pun. tidak mungkin aku harus hidup sepanjang tahun di dalam lambung bukit yang gelap gulita ini, lagipula janjiku dengan enci Siau Cha tinggal tiga bulan …. aku harus berusaha keras tinggalkan tempat ini …”

Sementara itu terdengar It-bun Han Too telah berseru pula dengan suara keras, “Seandainya saudara sekalian ada yang tidak setuju dengan pendapatku ini, harap secepatnya mengajukan pendapat serta alasan ya!”

Siauw Ling yang teringat akan janjinya dengan Gak Siau Cha sudah terlalu mendesak hingga tak mungkin baginya untuk berdiam terlalu lama dalam Istana Terlarang, dengan cepat anggukan kepalanya lebih dahulu tanda setuju.

Melihat si anak muda itu telah anggukkan kepala tanda setuju. Shen Bok Hong segera tertawa dingin, ujarnya, “Sekalipun kau anggap aku orang she-Shen telah menyetujui usulmu itu, tapi aku rasa kaupun belum tentu mempunyai kemampuan untuk melindungi benda yang berhasil kau dapatkan itu”

“Aaah ..! itu toh urusan belakangan nanti, atau paling sedikit sebelum kita tinggalkan Istana Terlarang, maka kedudukan kita bertiga adalah seimbang dan sederajat”

Tiba-tiba Shen Boa Hong berdiri tertegun, ia cekal tubuh Tong Lo Thay-thay lalu menepuk bebas beberapa buah jalan darahnya yang tertotok.

Tong Lo Thay-thay membuka matanya dan tarik napas panjang-panjang, sorot matanya melirik sekejap ke arah Siauw Ling sedang bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat tersebut dibatalkan, perlahan lahan dia undurkan kiri ke belakang tubuh Shen Bok Hong.

Ketika itulah sambil membawa obor It-bun Han Too maju mendekati, serunya dengan suara lantang, “Dewasa ini diantara ketiga rombongan yang ada boleh dibilang kekuatan di pihak Shen Toa Cungcu yang dianggap paling kuat, dan jumlah anggotanyapun paling banyak, tetapi bila kau hendak menggunakan kelebihan kekuatanmu itu untuk memaksa diriku…maka terpaksalah, posisi kita akan berubah jadi tiga lawan tiga!”

Sambil berkata ia segera berjalan menghampiri tubuh Siauw Ling.

Pada saat yang bersamaan obor yang dipegang dalam genggamannya habis terbakar, cahaya api seketika padam dan suasana dalam gua itupun berubah jadi gelap gulita.

Blaaam ..! Blaaam…! di tengah kegelapan terdengar dua benturan keras yang memecahkan kesunyian, segulung desiran angin pukulan yang sangat kuat mengibarkan ujang baju yang dikenakan It-bun Han Too.

Kejadian ini segera mencemaskan hati jago tua itu. dengan perasaan gelisah ia loncat mundur tiga langkah ke belakang, Sebuah obor baru kembali telah dipasang.

Menanti ia berpaling ke arah para jago lihay, tampaklah semua orang telah berdiri kembali pada posisi semula.

Kiranya Shen Bok Hong yang jengkel terhadap It-bun Han Too sangat mengharapkan dapat menangkap orang itu dalam keadaan hidup-hidup, kemudian baru menghadapi Siauw Ling berdua dan membinasakan mereka, setelah musuh berhasil disingkirkan barulah memaksa kembali It-bun Han Too untuk menuruti kehendak hatinya.

Karena itu sejak tadi ia telah bersiap sedia bila obor di tangan It-bun Han Too padam, secepat kilat dia akan turun tangan menawan dirinya hidup?.

Siapa tahu walang kadung mencaplok orong-orong di belakangnya telah mengintai burung jalak, Siauw Ling yang sudah curiga terhadap tingkah laku Shen Bok Hong telah mengawasi terus setiap gerak-geriknya. Ia tahu gembong iblis tersebut hendak turun tangan keji terhadap It-bun Han Too, maka hawa murni segera disiapkan ke seluruh badan.

Sedikitpun tidak salah, ketika cahaya api padam Shen Bok Hong segera menerjang maju ke depan dengan gerakan secepat kilat, serangannya langsung menyambar ke arah tubuh It-bun Han Too.

Sejak tadi ia telah mengincar incar letak posisinya yang baik, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.

Tapi Siauw Ling telah bertindak lebih dahulu, tatkala Shen Bok Hong sedang menerjang ke muka, dia segera lintangkan tubuhnya ke depan dan menghadang jalan perginya.

Tapi disebabkan cahaya api baru saja padam, kedua belah pihak belum mampu memandang dalam kegelapan, semua serangan terpaksa harus digantungkan dengan jalan da ya ingatan serta ketajaman pendengar belaka.

Dalam kegelapan itulah masing-masing pihak telah saling beradu tenaga sebanyak dua kali .

Shen Bok Hong terkejut juga merasakan kelihayan musuhnya, dalam hati ia segera berpikir, “Siapakah orang ini? sungguh lihay ilmu silat yang dimilikinya….aku tak boleh pandang enteng orang ini!”

Mengetahui bahwa ia tak berhasil meneruskan rencananya, maka dengan cepat ia mundur kembali ke tempat semula.

Menanti It-bun Han Too telah memasang obor baru, kedua orang itu telah kembali pula ke tempat semula.

Air muka It-bun Han Too berubah hebat, sambil mengamati sekejap diri Shen Bok Hong serta Siauw Ling ujarnya penuh kemarahan, “Bila kalian semua tidak pingin mati konyol di dalam Istana Terlarang, lebih baik hindarilah keinginan kalian untuk mencelakai jiwaku!”

Ia mendehem ringan, dan menambahkan, “Aku segera akan membawa jalan, harap kalian mengikuti di belakangku….”

Tidak menanti jawaban lagi, dengan langkah lebar ia segera berjalan masuk ke dalam lorong, Siauw Ling, Pek-li Peng, Shen Bok Hong. Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay segera mengikuti di belakang orang itu masuk ke dalam lorong.

Ketika tiba di persimpangan jalan, tiba-tiba It-bun Han Too berbelok ke samping kiri. Terpaksa Siauw Ling sekalianpun ikut berbelok ke arah kiri dan meneruskan perjalanannya menembusi lorong itu.

Puluhan tombak kemudian, pemandangan yang muncul di depan mata tiba-tiba berubah.

Lorong batu yang semula lebarnya cuma beberapa depa, mendadak semakin melebar hingga akhirnya muncullah sebuah tanah lapang yang datar seluas empat lima tombak persegi.

Dari dalam sakunya It-bun Han Too ambil keluar kembali sebatang lilin, dengan demikian suasana terasa bertambah terang benderang, dengan ketajaman mata beberapa orang itu baik suasana maupun pemandangan di sekeliling sana dapat terlihat dengan mata jelas.

“Orang ini betul? banyak pengalaman dan teliti” pikir Siauw Ling dalam hati, ”Ternyata dalam sakunya telah tersedia pula lilin yang begini terang.

Memandang empat penjuru sekeliling tempat itu. terlihatlah di atas dinding lorong terdapat banyak sekali ruang batu, ketika diam-diam dihitung ternyata jumlahnya mencapai enam buah.

Di depan setiap ruang batu itu terlapis sebuah pintu terbuat dari baja, tiga buah pintu baja tertutup rapat dan tiga pintu baja yang lain setengah tertutup.

Shen Bok Hong mendehem ringan, tiba-tiba ujarnya memecahkan kesunyian yang mencekam, “It-bun heng, beberapa buah ruangan batu itu mungkin dibangun oleh si Ahli bangunan bertangan sakti Pau It Thian untuk tempat tinggal sepuluh Tokoh sakti dunia persilatan itu?”

“Sebelum masuk ke dalam ruang itu serta memeriksa keadaan di dalam situ, aku tak dapat menerangkan keadaan yang sebenarnya, harap Shen Toa Cungcu sudah bersabar diri!”

Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya kembali.

“Ada satu hal sebelumnya terpaksa harus kuterangkan lebih dahulu. Istana Terlarang adalah hasil karya yang teragung dan terhebat dari Ahli bangunan bertangan sakti Pau It Thian, bukannya aku sengaja menakut-nakuti kalian semua, perlukah kuterangkan lebih dulu bahwa pada setiap sudut Istana Terlarang ini kemungkinan besar telah dipasang alat rahasia yang

sangat lihay, satu kali kita bertindak kurang hati-hati, mungkin kita akan terjebak di dalam kurungan alat rahasia tersebut. Oleh sebab itu alangkah baiknya bila gerak-gerik kalian semua mengikuti saja di belakangku!”

“Seandainya di ruangan ini terdapat benda berharga yang tak ternilai harganya, It-bun heng tentu akan mengambilnya lebih dulu bukan? sedang sisanya baru akan dibagi rata oleh kami sekalian?” seru Shen Bok Hong.

It-bun Han Too mendengus dingin.

“Hmm. kalau berbicara dari ilmu silat, aku memang bukan tandingan dari kalian semua…..!”

“Tapi It-bun heng pandai dalam hal alat-alat rahasia ilmu bangunan serta menguasai pintu masuk keluar Istana Terlarang ini, karena itu kau memaksa kami tersudut dan terpaksa harus mendengarkan perintah dari It-bun heng,“ sambung Shen Bok Hong cepat.

“Kau tak usah kuatir, aku telah ambil ke putusan untuk bertindak secara adil dan merata, ketiga belah pihak sama-sama mendapat bagian sesuai dengan bagiannya, aku tidak nanti akan berbuat licik macam tingkah laku Shen Toa Cungcu!”

“Seandainya di dalam Istana Terlarang benar-benar kedapatan benda berharga, aku rasa nilai berharganya satu dengan lain barang tak akan sama, aku ingin tahu bagaimana caranya kau bagi barang! yang tak sama nilainya itu secara adil dan merata?”

Meskipun Siauw Ling tidak ikut angkat sua ra, tapi dalam hati ia setuju dengan pertanyaan yang diajukan Shen Bok Hong itu, pikirnya, “Perkataan itu sedikitpun tidak salah, nilai dari Satu benda tak sama satu sama lainnya, secara bagaimana ia bisa membaginya secara adil dan merata”?”

Rupanya It-bun Han Too juga menduga bahwa Siauw Ling pun memikirkan persoalan itu, sorot matanya perlahan lahan menyapu sekejap ke atas wajah Shen Bok Hong serta Siauw Ling, kemudian katanya.

“Aku rasa apa yang kalian semua pikirkan saat ini tidak akan jauh berbeda dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Shen Bok Hong, memang benar benda yang tertinggal dalam Istana Terlarang tidak sama nilainya satu sama lain, kamu semua tentu ingin tahu bukan bagai mana caranya aku bagi benda-benda tadi secara adil diantara kami bertiga?”

Siauw Ling mengangguk tapi mulutnya tetap membungkam.

“It-bun Heng, bila kau tiada pendapat, bagaimana kalau dengarkan dulu cara yang akan kuusulkan ini?” sela Sheng Bok Hong.

“Baik, silahkan Shen Bok Hong utarakan usulmu itu!”

“Kita letakkan saja benda yang kita dapatkan itu di suatu tempat tertentu, kemudian bukankah It-bun Han Too telah membagi kita berenam menjadi tiga kelompok? Nah! dari masing-masing kelompok kita utus seorang wakil kemudian dari jarak yang sama kita kasih komando lalu kita sama-sama berebutan mendapatkan benda itu, bagai mana menurut pendapatmu?….”

Mendengar usul tersebut, It-bun Han Too mendongak dan segera tertawa terbahak bahak.

“Haah…. haaaah….. haaaaa…… ilmu silat yang dimiliki Shen Toa Cungcu jauh lebih lihay daripada diriku, saudara yang tidak ingin mengunjukkan diri inipun memiliki ilmu silat yang jauh lebih hebat dari kita, apalagi Shen Toa Cungcu dibantu oleh Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin. sedangkan saudara inipun mempunyai teman pembantu, bagaimana dengan aku? hanya sebatang kara tanpa teman, bukan saja dalam posisi aku kalah dalam kekuatanpun aku kalah, adilkah usulmu itu?”

“Hmm…kalau begitu aku tak usah banyak bicara lagi, silahkan It-bun heng utarakan usulmu itu!“ seru Shen Bok Hong sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Maksudku lebih baik kita tak usah beradu tenaga ataupun beradu kecerdikan, marilah kita dapatkan benda itu menurut rejekinya masing-masing”

Siauw Ling tidak habis mengerti apa yang dimaksud oleh It-bun Han Too dengan usulnya itu, tapi ia tetap menahan sabar dan membungkam dalam seribu bahasa.

“It-bun heng. aku harap kau bisa memberi penjelasan lebih jauh, agar kami semua dapat menangkap apa yang kau maksudkan!” kata Shen Bok Hong dengan cepat.

“Usulku ini tidak jauh berbeda dengan apa yang diusulkan Shen Toa Cungcu barusan, cuma aku harus menanti sampai tiga macam benda berharga berhasil kita temukan barulah barang-barang itu kita letakkan di suatu tempat tertentu, kemudian aku akan menggunakan tiga biji mata uang sebagai undian siapa yang berhasil menembak jumlah biji paling banyak dialah yang pertama-tama memilih lebih dahulu ketiga macam benda berharga itu, kemudian giliran kedua jatuh pada orang yang berhasil mendapat jumlah biji mata uang lebih sedikit dari orang pertama, sedang mereka yang mendapat jumlah biji mata uang paling sedikit— ayah, apa boleh buat lagi, terpaksa dia harus puas dengan benda berharga yang masih tersisa itu….”

“Tidak? aku tidak setuju dengan caramu itu….!” seru Shen Bok Hong sambil gelengkan kepalanya.

“Mana yang kurang baik?”

“Di dalam dunia persilatan hanya ada orang beradu kecerdikan serta kekuatan belum pernah ada orang adu nasib seperti yang kau usulkan barusan”

“Ada satu hal lagi aku harus terangkan lebih dahulu kepada kalian semua, keadaan dari kita berenam saat ini adalah hidup bersama mati pun bersama, ada rejeki kita nikmati berbareng ada bencana kita tanggulangi serentak, perduli siapapun bila ada maksud mencelakai diriku, maka sisa yang lain tak akan keluar dari istana terlarang ini dalam keadaan hidup, sekalipun berhasil mendapatkan semua benda berharga yang ada di sini, tapi apa gunanya?”

Shen Bok Hong tertawa.

“Bila caramu ini tidak adil, sekalipun aku orang she-Shen tidak membinasakan dirimu, kau anggap orang lain dapat mengampuni dirimu?”

“Dalam posisi segi tiga ini bukan saja kelompokku yang paling minim jumlahnya, ilmu silat yang kumilikipun paling lemah, perduli dari golongan manapun yang akan turun tangan aku pasti akan menemui ajalnya seketika itu juga. Tapi kecuali diriku seorang, kamu semua tak seorangpun yang mampu membuka pintu Istana Terlarang, dan inilah kekuatan yang paling kuandalkan untuk membendung penindasan dari kalian semua. Karena itu kecuali kalau kamu semua ingin terkubur hidup-hidup dalam Istana Terlarang, lebih baik janganlah punya pikiran lain terhadap diriku”

“It-bun Han Too!” teriak Kim Hoa Hu-jin dengan gusar, “Kami tak akan segoblok itu dengan membinasakan dirimu detik ini juga. meskipun maut tidak menakutkan tapi siksaan hidup merupakan suatu kejadian paling menakutkan, aku tidak percaya kalau tubuhmu terdiri dari otot kawat tulang besi yang tak takut disiksa….”

Siauw Ling merasa amat gelisah melihat sikap dari perempuan itu, tapi ia takut Shen Bok Hong kenali suaranya hingga asal usulnya berhasil diketahui, terpaksa ia tetap membungkam terus.

Sementara itu Shen Bok Hong sendiripun sedang memperhatikan diri Siauw Ling serta Pek-li Peng, pikirnya dalam hati, “Entah siapakah kedua orang ini? besar amat rasa sabar mereka, hingga kini tak sepatah katapun yang diucapkan keluar …….”

Karena berpikir demikian, ia lantas berkata, “Baik! aku orang she Shen menyetujui usulmu itu……”

Habis berkata ia lantas berpaling ke arah Siauw Ling, pikirnya lagi, “Ayoh, kali ini terpaksa kau harus buka suara!”

Siapa tahu Siauw Ling masih tetap mengangguk dan sama sekali tidak buka suara.

“Baik!” kata It-bun Han Too kemudian. “Kalau memang kalian semua telah setuju dengan usulku ini. maka kitapun akan mendapatkan benda-benda berharga tadi dengan andalkan rejeki, nasib serta pengetahuan masing-masing…..“

Selesai berkata ia segera berjalan memasuki sebuah ruangan yang pintu bajanya setengah terbuka.

Shen Bok Hong segera miringkan tubuhnya dan berebut menguntit lebih dahulu di belakang It-bun Han Too.

Siauw Ling tak mau unjukkan kelemahannya, buru-buru ia maju ke depan dan mengikuti pula di belakang It-bun Han Too.

Melihat lawannya berdesakan dengan dia, Shen Bok Hong segera mengerahkan tenaga dalamnya mengangkat kaki dan menjejak jalan darah Hong-Si-hiat di kaki kiri Siauw Ling.

Ia selalu melihat lawannya yang satu ini tetap membungkam dalam seribu bahasa, hatinya merasa amat curiga dan dalam hati ia berharap bisa memaksa dirinya untuk buka suara.

0000O000

Siauw Ling yang merasa dirinya diserang tangan kirinya dengan cepat menekan ke bawah, segulung angin desiran tajam memencar keluar dari ujung jarinya menotok jalan darah Hiat hay di kaki kanan Shen Bok Hong. sedang kaki kirinya yang melangkah ke depan tetap dilanjutkan seperti rencana semula.

Andaikan Shen Bok Hong tidak takut terluka dan melanjutkan tumbukannya pada jalan darah Hong-si di kaki Siauw Ling, maka totokan si anak muda itu yang bersarang di jalan darah Hiat-haynya kemungkinan besar akan membuat kaki kanannya cacad.

Mengetahui ancaman yang merugikan posisinya itu. Shen Bok Hong tak berani ambil resiko besar, terpaksa ia putar kaki kanannya untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Siauw Ling menempuh bahaya cari kemenangan, maksud Shen Bok Hong terpaksa harus tank kembali kakinya dan menyingkir ke samping. Dengan kejadian ini maka sebaliknya Siauw Ling lah yang berhasil merebut posisi lebih menguntungkan, kaki kirinya tiba lebih dahulu mengikuti tepat di belakang It-bun Han Too.

Tapi gerakan tubuh Shen Bok Hong cukup cepat, selelah menghindarkan diri dari ancaman totokan lawan ia berebut kembali menerjang ke muka.

Selisih mereka berdua hanya terpaut beberapa mili saja, pada saat yang hampir bersamaan mereka berdua Sama-sama membuntuti di belakang It-bun Han Too.

Ketika tiba di depan pintu baja yang setengah terbuka itu, mendadak It-bun Han Too berhenti, ujarnya, “Sekarang kita harus memilih satu orang untuk membuka pintu baja itu dan masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan dalam ruangan tersebut”

“It-bun heng kenapa kau tidak lakukan sendiri pekerjaan tersebut….?”

“Haaah… haaah…. haaah…. kau adalah salah seorang yang berhak mendapatkan sepertiga dari barang pusaka yang tertinggal dalam Istana Terlarang ini, seandainya di atas pintu ada racunnya hingga membuat aku mati karena keracunan, bukankah kejadian ini justru akan menguntungkan kalian semua?”

“Jadi maksud It-bun heng?” tanya Shen Bok Hong menegaskan.

“Dari kalian dua kelompok harus diutus seorang wakil untuk membuka pintu baja itu”

“Menurut pendapat It-bun heng, kelompok mana yang harus mengirimkan wakilnya lebih dahulu?”

“Jumlah anggota kelompok di pihak Shen Toa Cungcu paling banyak, bagaimana kalau dari pihakmu lebih dahulu mengirimkan seorang wakil?”

Shen Bok Hong melirik sekejap ke arah Tong Lo Thay-thay. kemudian katanya, “Nyonya tua, tolong bukalah pintu baja yang setengah terbuka itu!”

Tong Lo Thay-thay mengiakan, ia berjalan mendekati pintu baja tadi lalu diperhatikan dengan seksama, tiba-tiba dari sakunya dia ambil keluar sebuah sarung tangan terbuat dari kulit menjangan, setelah dikenakan di tangan kanan ia tarik pintu baja itu hingga terbuka.

“Di atas pintu apa ada racunnya?” tanya Shen Bok Hong kemudian setengah berbisik.

“Perduli ada racun atau tidak, tak ada salahnya bukan kalau aku bertindak lebih berhati hati dengan mengenakan sarung tangan?” jawab Tong Lo Thay-thay.

Dengan tangan kiri membawa lilin, It-bun Han Too segera melongok ke dalam ruangan itu. Disitu ia lihat sesosok tubuh manusia yang memakai baju perlente merangkak di atas pembaringan batu dengan sebilah pedang pendek tertancap di atas punggungnya.

Mendadak Shen Bok Hong menyerobot masuk ke dalam ruang batu itu dengan gerakkan sangat cepat, ketika tangannya meraba tubuh manusia tadi, jubah perlente yang dikenakan segera hancur dan berguguran ke atas tanah sehingga tinggal seperangkat tulang manusia yang putih.

Pedang pendek tadi menembusi jauh ke dalam kerangka manusia itu, di bawah sorot cahaya lilin tampak kilatan cahaya tajam yang menyilaukan mata.

“Orang ini pastilah salah satu diantara sepuluh tokoh sakti dari dunia persilatan, setelah punggungnya tertusuk pedang ia melarikan diri ke dalam ruang batu ini, dalam lukanya yang parah ia tentu bersandar di pembaringan batu ini hingga menemui ajalnya. Pedang pendek tersebut puluhan tahun lamanya terbengkalai tanpa karatan, aku duga benda itu pastilah sebuah benda yang sangat berharga,“ kata It-bun Han Too.

Shen Bok Hong sambar gagang pedang tadi dan cabut keluar pedang pendek tersebut kerangka manusia yang masih berbentuk utuh tadi segera hancur dan berantakan di atas lantai setelah senjata tadi dicabut keluar It-bun Han Too mendehem berat, katanya lagi, “Shen Toa Cungcu, pedang pendek itu termasuk salah satu diantara benda peninggalan dalam Istana Terlarang!”

“Apakah harus kuserahkan kepadamu untuk disimpan lebih dahulu?” jengek Shen Bok Hong ketus.

“Kalau Toa Cungcu ingin membawanya lebih dahulu juga boleh….”

Ia berhenti sejenak, lalu terusnya dengan suara keras, “Meskipun kita tidak tahu siapakah orang ini, tapi yang pasti dia adalah salah satu d antara sepuluh tokoh sakti dunia persilatan yang masuk ke dalam Istana Terlarang, bukti ini rasanya tak usah diragukan lagi. Sesudah kita temukan orang ini, gambaran garis besarpun bisa kita peroleh, pastilah jago-jago lihay lain yang terjebak dalam istana terlarang telah mati semua di tempat ini”

Shen Bok Hong tetap bungkam dalam seri bu bahasa ia permainkan pedang pendek tadi dan tiba-tiba… cahaya tajam berkilauan, bagaikan menusuk tahu pintu baja yang amat keras tadi telah ditembusi oleh pedang pendek itu hingga tinggal gagangnya belaka.

“Pedang bagus! Pedang bagus!” puji Siauw Ling dalam hati. ”Sungguh tajam dan luar biasa senjata mustika itu…….”

Terdengar Shen Bok Hong tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Haaah…. haaaah…. haaaaah…. It-bun heng, sekalipun pintu besar Istana Terlarang terbuat dari baja murni atau baja campuran, aku pikir kekuatannya tak akan melebihi ampuhnya pintu baja ini. Dengan senjata tajam di tangan rasanya aku tak usah menerima ger tak sambal dari It-bun heng lagi untuk tetap menuruti perkataanmu!”

Dengan cermat Siauw Ling perhatikan pedang pendek itu, ia lihat panjangnya hanya mencapai enam cun, dalam hati lantas berpikir kembali, “Entah pedang itu milik siapa? dan apa namanya? sudah empat puluh tahun lamanya benda itu terpendam di dalam Istana Terlarang….”

Dalam pada itu It-bun Han Too telah berkata dengan suara dingin, “Seandainya pedang mustika itu dapat di gunakan untuk merusak pintu depan Istana Terlarang, mengapa kesepuluh tokoh sakti dunia persilatan itu mudah terkurung di dalam Istana ini dan tidak coba menggunakan ketajaman pedang tadi untuk menjebol pintu?”

Tong Lo Thay-thay yang berdiri di sisi Shen Bok Hong, tiba-tiba buka suara dan berkata, “Menurut apa yang kuketahui, diantara sepuluh tokoh sakti dunia persilatan yang terkurung di dalam istana terlarang, semuanya terdapat dua bilah pedang mustika yang dibawa kecuali pedang pendek ini pasti masih ada pedang lainnya lagi

“Bagi seorang jago yang ahli dalam ilmu pedang,“ pikir Siauw Ling, “bila ia berhasil mendapatkan bantuan dari sebilah pedang mustika yang demikian tajamnya, keadaannya tentu ibarat harimau tumbuh sayap……”

Sementara itu Shen Bok Hong dengan sorot mata yang tajam sedang menyapu sekejap seluruh ruangan itu untuk mencari sarung pedang tersebut, karena tidak ditemukan ia lantas tertawa keras.

“It-bun heng!“ serunya, “ bila kau memaksa aku orang she Shen terus menerus, jangan salahkan kalau aku terpaksa harus coba menempuh bahaya sendiri……..”

Air mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, tambahnya, “Andaikata It-bun heng terlalu memaksa diriku, siapa tahu terpaksa aku orang she-Shen akan coba mengandalkan ketajaman pedang pendek ini untuk merobohkan pintu masuk Istana Terlarang “

Maksud ucapan itu sudah amat jelas seka li, seolah-olah pedang itu sudah menjadi miliknya sedang janji yang mereka ucapkan tadi dianggap sebagai angin lalu belaka.

It-bun Han Too segera alihkan sorot matanya memandang sekejap ke atas wajah Siauw Ling kemudian tanyanya, “Apakah kau masih siap memegang janji yang telah kita ucapkan tadi?…”

Siauw Ling mengangguk dan tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Shen Bok Hong segera mengerutkan dahinya, dengan nada tidak senang ia menegur, “Hey, saudara apa kau bisu dan tak dapat berbicara?”

Siauw Ling melotot sekejap ke arah Shen Bok Hong, tapi ia tetap membungkam dan tak berbicara.

“Shen Toa Cungcu!” ujar It-bun Han Too kembali, “Bila kau tak mau menuruti janji yang telah kita tetapkan tadi, itu berarti kau hendak paksa diriku untuk bergabung dengan saudara ini. atau dengan perkataan lain posisi kita akan berubah jadi tiga lawan tiga….”

Ia menyapu sekejap wajah Siauw Ling, kemudian menambahkan, “Asal saudara ini mampu untuk menghadapi Shen Toa Cungcu, maka andaikata sampai terjadi pertarungan, siapa menang siapa kalah masih susah diramalkan mulai sekarang.”

“Shen Bok Hong pada saat ini terlalu jumawa dan angkuh,“ pikir Siauw Ling dalam hati, “kalau aku tidak berusaha untuk menjerikan batinnya, ia pasti tak mau tunduk pada janji semula…”

Belum habis ia berpikir, terdengar Shen Bok Hong telah tertawa terbahak bahak.

“Haaah… haaah… haaaah… kau maksudkan saudara ini? mungkin saja ia memang tandinganku, tapi sebelum kusaksikan sendiri kelihayan yang sebenarnya dari saudara ini, aku tidak rela mempercayainya dengan begitu saja.

Siauw Ling tidak banyak bicara. tiba-tiba ia maju dua langkah ke depan dan lancarkan sebuah pukulan ke atas pintu baja tersebut..

Blaam…! ditengah suara getaran keras yang memekikkan telinga, di atas pintu baja segera muncullah lima buah bekas telapak tangan yang tertera sangat dalam.

Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit ular sakti dan tidak takut terluka, apalagi serangan tersebut dilancarkan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, meskipun di atas pintu baja segera muncul bekas tela pak yang dalam, tapi Siauw Ling sendiri merasakan pula lengan kanannya jadi linu dan laku. wajahnya berubah menjadi merah dan napasnya agak tersengal.

Untung dia kenakan topeng kulit manusia sehingga orang lain tidak melihat perubahan tersebut. Setelah atur napas sebentar, perlahan lahan ia undurkan diri kembali ke belakang.

Selama ini ia selalu membungkam, tapi baik Shen Bok Hong maupun It-bun Han Tco tahu bahwa dia bukan seorang bisu, dalam hati diam-diam mereka merasa amat kagum atas kesabarannya.

Dengan langkah lebar Shen Bok Hong maju ke muka, setelah meneliti sekejap bekas telapak tangan di atas pintu baja itu katanya, “Sungguh hebat tenaga pukulan yang dimiliki saudara itu!”

“Tidak salah” kata It-bun Han Too pula setelah ikut meneliti pula bekas telapak tangan di atas pinta baja tersebut, ”Shen Toa Cungcu, tolong tanya apakah kau memiliki kemampuan pula untuk berbuat yang sama?”

Siauw Ling mati-matian tak mau bicara karena dia takut Shen Bok Hong mengetahui siapakah sebenarnya dia, tapi hal ini justru membuat It-bun Han Too secara otomatis dan tanpa berpikir panjang telah berpihak kepadanya.

Terdengar Shen Bok Hong mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaah….. haaah……. haaah….. bekas telapak ini dihasilkan oleh daya kekuatan sebesar seribu kati, aku orang she Shen percaya masih mampu untuk melakukan hal yang sama”

“Mengapa Shen Toa Cungcu tidak mencobanya pula?” ejek It-bun Han Too cepat, “Aku orang she-Shen tidak ingin membuang tenaga sebesar itu dengan percuma.”

“Toa Cungcu!” ujar It-bun Han Too kemudian sambil angsurkan tangannya ke depan, “harap kau suka serahkan pedang pendek itu kepadaku, agar aku bisa menyimpannya untuk sementara waktu, setelah kita berhasil mengumpulkan tiga macam benda mustika barulah benda itu kita bagi menurut perjanjian”

Shen Bok Hong termenung dan berpikir sejenak, akhirnya dia angsurkan pedang mustika itu ke tangannya sambil berkata diiringi tertawa, “Baiklah, disimpan dulu oleh It-bun heng pun sama saja!”

Setelah menerima pedang pendek tersebut, It-bun Han Too kembali berkata, “Shen Toa Cungcu, semoga kau dapat sela lu pegang janji sehingga kita semua bisa mengundurkan diri dari Istana Terlarang dalam keadaan hidup dan selamat”

Untuk sesaat suasana diliputi keheningan, tiba-tiba Kim Hoa Hujin buka suara memecahkan kesunyian, katanya setelah memandang sekejap tulang manusia yang berserakan di atas lantai itu.

“Entah siapakah orang ini? ditinjau dari pakaian perlente yang ia kenakan, semasa hidupnya ia tentu seorang jago yang terpandang dan terkemuka”

“Benar, rupanya ia seorang yang terkemuka,“ sambung It-bun Han Too, “sayang kita tiada waktu lagi untuk membicarakan asal-usul orang itu!”

Dengan tangan kanan memegang pedang, tangan kiri memegang lilin ia segera berjalan menuju ke pintu baja lainnya yang setengah terbuka.

Para jago segera mengikuti di belakang tubuhnya.

Ketika tiba di depan pintu baja kedua, kembali It-bun Han Too menghentikan langkahnya, sambil berpaling memandang sekejap ke arah Siauw Ling ujarnya, “Kesempatan yang kuberikan selalu adil dan merata, kali ini tiba giliran pada rombonganmu untuk mengirim wakil guna membuka pintu baja ini…..”

Siauw Ling dengan langkah lebar segera maju ke depan, sambil membuka pintu baja tadi pikirnya di dalam hati.

“Sekalipun di atas pintu sudah dipolesi racun keji, aku juga tak perlu takut!”

Dalam perkiraan beberapa orang itu, setelah di dalam ruang yang pertama mereka temukan mayat, dalam ruang batu ini tentu ada mayat atau kerangka manusia pula.

Siapa tahu kenyataannya jauh diluar duga siapapun juga, ternyata di dalam ruang batu kedua mereka tidak menemukan sesuatu benda apapun.

It-bun Han Too menyinari seluruh ruangan itu dengan cahaya lilinnya, setelah diperhatikan beberapa saat dan tidak ditemukan juga sesuatu yang aneh, mendadak ia bergumam sendiri, “Aaaa! benar …. benar …”

“It-bun heng, apa yang sedang kau gumamkan seorang diri?” tegur Shen Bok Hong cepat.

“Kecuali kerangka manusia berbaju perlente yang kita temukan dalam ruang batu pertama tadi, kemungkinan besar kita tak akan temukan lagi mayat lain yang menggeletak sendirian ditempai lain”

“Mengapa?”

“Andaikata dugaanku tidak salah, sesaat sebelum menemui ajalnya kesepuluh tokoh sakti yang terkurung di dalam Istana Terlarang ini tentu berkumpul jadi satu dan merundingkan cara keluar dari kurungan istana ini….”

“Lalu siapakah orang berbaju perlente itu? mengapa ia mati sendirian di tempat lain?”

“Kemungkinan besar orang itu adalah Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian, dia adalah orang yang dibenci oleh semua jago, oleh sebab itu orang she-Pau tadi mati sendirian di tempat lain”

“Orang ini benar-benar amat cerdik.”

Seandainya jalan hidupnya bisa condong ke arah yang benar, pastilah dia akan dihormati serta dikagumi seorang sebagai pendekar luar biasa.

Tampak Shen Bok Hong mengangguk tanda membenarkan.

“Benar, perkataan dari It-bun heng memang sangat beralasan,” katanya.

Ia mendongak dan tertawa tergelak, lalu tambahnya lagi, “Sekarang aku orang she Shen baru merasa bahwa aku telah bertambah lagi dengan seorang musuh tangguh”

“Aaah, Shen Toa Cungcu terlalu memuji diriku”

“Ehmmm… memang akulah yang teledor sehingga melupakan diri It-bun heng sebagai seorang sarjana yang luas sekali pengetahuannya…..”

Ia berhenti sejenak, lalu terusnya, “Apakah kita akan memeriksa pula ruang pintu batu lain yang pintunya setengah terbuka itu?

“Shen Toa, Cungcu tak usah kuatir, setiap perkataan yang telah kuucapkan pasti akan kupegang teguh bagaikan kokohnya bukit baja.”

Dengan langkah lebar ia dekati pintu baja yang setengah terbuka itu, kemudian dengan kaki kirinya ia jejak pintu tadi hingga terbuka lebar.

Ketika para jago menengok keadaan dalam ruangan itu, ternyata ruangan itupun kosong melompong tiada sesuatu benda apapun.

Shen Bok Hong mendehem ringan, ujarnya kemudian, “Sekarang, kita harus berusaha untuk membuka ketiga buah ruangan yang pintu bajanya tertutup rapat itu. Bagaimana pendapat mu It-bun Heng?”

“Kalian tak usah gelisah,” sahut It-bun Han Too sambil ayunkan pedang pendek di tangannya, “Dengan pedang mustika yang amat tajam ini, tidak sulit bagi kita untuk membuka ketiga buah pintu baja yang tertutup rapat itu!”

Dengan langkah lebar ia dekati pintu baja pertama yang tertutup rapat, pedangnya segera bekerja membacok pintu baja itu.

Pedang pendek ini benar-benar tajamnya luar biasa, sekali babat kunci baja di atas pintu segara kutung jadi beberapa bagian dan rontok ke atas tanah.

“It-bun heng, berhati-hatilah” teriak Shen Bok Hong setengah menyindir, seandainya dalam ruangan terdapat jebakan hingga melukai dirimu, maka semua kita akan ikut terkurung dan mati di dalam Istana Terlarang ini!”

It-bun Han Too tertawa dingin.

“Seandainya kau benar-benar terluka oleh jebakan yang sengaja diatur oleh Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian, aku rasa peluang bagi kalian semua untuk tinggalkan tempat mi memang tidak terlalu besar……”

Sambil berkata kakinya segera mengait dan menarik pintu baja itu hingga terpentang lebar.

Ketika semua orang menengok ke dalam, terlihatlah ditengahi ruang batu terdapat sebuah pembaringan terbuat dari batu di atas pembaringan batu tadi terletaklah sebuah tongkat sian-ciang serta sebuah kotak yang terbuat dari kayu cendana.

Tiba-tiba Shen Bok Hong melesat ke depan, bagaikan burung walet kembali ke sarang dia loncat masuk ke dalam ruangan batu itu dan tangan kanannya segera menyambar kotak kayu cendana tersebut.

Kali ini Siauw Ling telah bikin persiapan dia pungut dua biji batu dan digenggam da la m tangan, menanti Shen Bok Hong ulurkan tangan kanannya hendak menyambar kotak kayu itu, sebiji batu segera disambit Siauw Ling dengan kecepatan bagaikan kilat.

Meskipun hanya sebutir batu gunung, tapi disentil di bawah pengaruh tenaga lweekang Siauw Ling yang amat dahsyat, sambaran batu tersebut jauh lebih dahsyat dari pada titiran bintang yang jatuh dari langit, bahkan disertai pula desiran angin tajam.

Shen Bok Hong segera menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya, dengan cepat tangan kanannya ditarik kembali ke belakang.

Batu gunung tersebut segera menghantam dinding batu dengan kerasnya….

Ploook! hancuran batu bermuncratan keempat penjuru dan rontok ke atas tanah.

Setelah melepaskan serangan batu tadi, tubuh Siauw Ling dengan cepat ikut menerjang masuk pula ke dalam ruangan batu, dengan tangkas ia hadang di depan tubuh Shen Bok Hong.

Menyaksikan usahanya digagalkan lagi oleh lawannya yang seorang ini, nafsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah kepala kampung dari perkampungan Pek Hoa Sanceng ini, dia tertawa dingin, sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dilancarkan ke muka.

Siauw Ling berkelit dengan tangkas, kepalannya didorong ke muka balas mengirim pula satu pukulan, angin tajam menderu deru dan terbukti betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 03"

Post a Comment