Bayangan Berdarah Jilid 29

Mode Malam
JILID 29

Cahye cuma ingin memohon kepada mereka dengan kata2 baik, seandainya mereka tidak ingin ikut cayhe pun tidak akan memaksa.”

“Baikah, kalau begitu loohu akan bersihkan dahulu racun jahat yang telah kusebarkan disekeliling mulut gua.”

Bicara sampai disitu, Si Raja Obat Bertanan Kejipun segera melangkah kemulut gua dan membersihkan racun jahat yang telah disebarkan di situ, kemudian teriaknya lantang, “Tauke berdua, Liong-tauw toako kalian mengundang kamu berdua masuk ke dalam gua!”

Dalam pada itu Tiong Chiu Siang Ku sedang menanti dengan hati cemas, mereka tidak tahu bagaimanakah perubahan yang telah terjadi di dalam gua. mendengar seruan si raja obat tersebut, buru-buru mereka meloncat masuk ke dalam gua.

Terlihatlah Siauw Ling berdiri di dalam gua dengan wajah segar bugar, peristiwa ini benar2 diluar dugaan mereka, setelah tertegun kedua orang itu segera menjura dalam2.

“Toako baik2kah kesehatanmu?”

“Aku sangat baik!”

“Apakah Yok Ong sudah berubah pikiran?” tanya Sang Pat sambil alihkan sinar matanya ke arah si Raja Obat Keji.

“Loohu telah berjanji dengan Siauw Ling untuk masuk keselat mencari sejenis obat mujarab guna mengobati putriku, entah apakah kalian berdua ada kegembiraan untuk ikut?”

Sang Pat kembali alihkan sinar matanya ke arah Siauw Ling dan bertanya ;

“Toako, benarkah yang dikatakan Tok Chiu Yok Ong barusan?”

“Kapan sih Loohu pernah berbohong?” tegur Yok Ong kurang senang.

“Hemmm, sekalianpun apa yang kau ucapkan adalah kata sejujurnya, kami Tiong Chiu Siang Ku belum tentu mau percaya” jengek Tu Kioe dingin.

Teringat bahwasanya ia masih membutuhkan bantuan kedua orang itu, Tok Chiu Yok Ong mendehem ringan dan menahan sabar.

“Apa yang ia ucapkan sedikitpun tidak salah” terdengar Siauw Ling membenarkan. “Aku sudah menyanggupi tawarannya untuk pergi mencari obat dengan batas waktu dua bulan, apabila tak dapat menemukan bahan obat2an tersebut.”

“Batas waktu dua bulan adalah janjimu dengan putriku….” dengan cepat Si Raja Obat Bertangan Keji menukas.

“Apabila batas waktu dua bulan sudah lewat, dan obat yang dicari belum ketemu apakah kau masih ingin menggunakan darah toako kami untuk menolong jiwa putrimu!” sambung Tu Kioe dengan suara yang dingin.

“Menurut pendapat loohu mungkin tiada harapan lagi bagi loohu untuk minta darah segar Siauw Ling!?

“Kenapa?”

“Sebab putriku tak bisa hidup lewat dari dua bulan”

Tu Kioe tertawa dingin.

“Sebetulnya keadaan putrimu memang patut dikasihani, sudah belasan tahun ia hidup dalam keadaan menderita. seandainya ia sudah mati, Yok Ong bisa melepaskan diri dari suatu ikatan beban yang sangat berat…. ejeknya.

Air muka Tok Chiu Yok Ong ke atas berubah hebat.

Kau mengharapkan putriku cepat mati…. Hmm, agaknya kau sudah bosan hidup?” teriaknya.

Sang Pat takut Tu Kioe melanjutkan ejekannya dengan kata2 yang sinis sehingga mengakibatkan bentrokan berkerasan, buru-buru ia menukas.

“Yok Ong, harap jangan marah, dalam dunia persilatan dewasa ini siapa yang tidak tahu kalau Tu Loo-jie paling sinis dalam setiap perkataannya? janganlah disebabkan satu persoalan kecil hingga merusak masalah besar, demi putrimu aku minta Yok Ong bisa sedikit sabarkan diri.”

Si Raja Obat Bertangan Keji mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi lebih jauh.

Terdengar Tu Kioe dengan suaranya yang datar dan dingin ketus berkata kembali ;

“Setelah Liong-tauw toako menyanggupi kami yang jadi saudaranya tentu saja akan mengikuti toako untuk melakukan perjalanan.”

“Aku minta saudara berdua jangan memaksakan diri.”

“Ha ha ha ha asal kami bisa mengikuti toako walaupun pergi keujung langit, terjun kelautan apipun merupakan suatu hal yang patut digirangkan” tukas Sang Pat seraya tertawa ter-bahak2.

“Aaaai….! lebih baik saudara berdua jangan pergi, tapi kalau kalian ingin ikut, siauw-hengpun tak bisa menghalangi”

“Dari mulut orang lain loohu dengar kalian Tiong Chiu Siang Ku memelihara dua ekor anjing yang amat cerdik entah dapatkah binatang2 itu dibawa serta?” mohon Tok Chiu Yok Ong.

“Kita bawa seekor saja”

“Kapan kita hendak berangkat?”

“Bagaimana menurut pendapat toako?” Sang Pat segera berpaling ke arah Siauw Ling.

“Sebenarnya aku hendak mohon pamit lebih dahulu dari orang tuaku, tapi…. aaai….! mengingat perjalanan kita kali ini sukar diramalkan bagaimanakah nasib kita selanjutnya, aku rasa tak perlu kita ganggu mereka berdua lagi….”

“Apakah tiada persoalan yang dikerjakan lagi, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?”

Pada saat dan keadaan seperti ini, lebih baik Yok Ong mendengarkan semua perintah dari toako kami” sela Tu Kioe.

“Dimanakah anjing raksasa kalian berdua?” terdengar Siauw Ling bertanya.

“Harap toako tunggu sebentar disini, cayhe segera pergi mengambil anjing itu dan kemudian kita segera berangkat”.

Tanpa menunggu jawaban lagi Sang Pat putar badan dan loncat keluar dari dalam gua.

Menanti Sang Pat sudah berlalu, Siauw Ling segera berpaling memandang sekejap ke arah Si Raja Obat Bertangan Keji dan ujarnya, “Yok Ong, tempat dimana terdapat jamur batu berusia seribu tahun itu merupakan suatu tebing curam yang dikelilingi bukit yang terjal, dari puncak bukit tergantunglah sebuah air terjun yang amat besar, dari atas puncak hingga ke dasar bukit tingginya ada ribuan tombak, bukan begitu saja bahkan dinding tebing itu tegak lurus dan penuh ditumbuhi lumut, jangan dikata sulit ditemukan letaknya, sekalipun beruntung bisa ditemukanpun sulit untuk menuruni dinding tebing tersebut guna mengambil jamur batu yang tumbuh disana”.

“Seandainya tempat itu letaknya sangat bahaya secara bagaimana tempo dulu Siauw-heng bisa mendatangi tempat itu yang kemudian berlalu pula dari sana?”

Siauw Ling termenung sejenak, setelah melirik sekejap ke arah Tu Kioe ia menjawab ;

“Secara kebetulan saja aku tiba ditempat itu!”

Maka iapun lantas menceritakan secara bagaimana Tiong Chiu Siang Ku memaksa dia untuk menyerahkan anak kunci Istana Terlarang, kemudian secara bagaimana ia jatuh ke dalam sungai, ditolong orang, diantar ke dalam sebuah gua yang letaknya diatas dinding tebing yang curam, dalam gua itu terdapat kakek kurus yang menahan dia untuk tinggal disitu, kemudian secara bagaimana ia bentrok dengan pemuda berbaju hijau sehingga lari kegua bagian belakang, terjatuh ke dalam jurang, secara kebetulan makan jamur batu dan seterusnya….

“Letak tebing itu amat curam dan berbahaya kemudian secara bagaimana kau bisa berlalu dari sana?” tanya Yok Ong.

“Kalau dibicarakan mungkin sulit dipercayai orang, kebetulan sekali ada seekor burung rajawali yang amat besar datang kesitu untuk makan jamur batu, aku lantas naik ke atas punggung burung itu dan meninggalkan dinding tebing yang curam tadi.”

“Sekalipun Loohu tidak mau percayapun, sekarang rasanya harus mempercayai juga kisahmu itu.”

Dalam pada itu Tu Kioe tunduk ter-sipu2 tatkala mendengar Siauw Ling mengisahkan kembali pengalamannya ketika dipaksa sampai tercebur ke dalam sungai, untuk beberapa saat lamanya ia tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Dewasa ini cuma ada satu jalan saja untuk mendapatkan jamur batu tersebut” terdengar Siauw Ling berkata kembali. “Yaitu dengan menggunakan tali kita turun dari belakang gua batu tersebut tetapi….

“Tetapi kenapa?” dengan cepat Yok Ong bertanya. “Kecuali cara ini, apakah tiada cara lain yang lebih bagus?”

“Apabila Yok Ong mengharap bantuan dari cayhe untuk menemukan jamur batu berusia seribu tahun itu, lebih baik sungkanlah sedikit dalam pembicaraan” tegur Siauw Ling dingin.

Tok Chiu Yok Ong mendehem ringan.

“Seandainya kuambil darahmu, sama saja dengan aku bisa sembuhkan penyakit putriku, dengan selembar jiwamu loohu tukar dengan petunjukmu untukmu, untuk menemukan obat mujarab tadi, apakah loohu harus berterima kasih kepadamu?” ia berseru.

Siauw Ling merasa apa yang ia ucapkan sedikitpun tidak salah, mulutnya langsung membungkam, lama sekali ia tertegun kemudian baru berkata, “Perkataan Yok Ong sedikitpun tidak salah, hanya saja pada waktu itu cayhe sama sekali tak mengerti ilmu silat dan selalu berbaring dalam ruang perahu, ketika dihantar masuk ke dalam gua itupun kebanyakan lewat jalan air, hingga kini sulit bagiku untuk mengingatnya kembali.”

“Ditengah sungai Soh-kang yang dikelilingi be-ribu2 puncak terjal, tempat itu tentu saja letaknya diantara selat Sam Nia, kita bisa menyewa sebuah perahu yang dijalankan disepanjang sungai, dengan berdiri diluar ruang perahu kita bisa teliti tebing2 yang ada disana, seandainya tempat itu rada mirip, kita segera mendakinya dan berusaha menemukan gua yang kau maksudkan.”

“Aku rasa memang cuma cara ini saja yang bisa kita gunakan.”

Tu Kioe yang selama ini membungkam dalam seribu bahasa, mendadak menyela, “Puluhan li sekeliling kota Koei-Chiu banyak tersebar mata2 dari perkampungan Pek Hoa San Cung, apabila kita melakukan perjalanan dengan bergerombol, jejak kita pasti akan diketahui oleh mereka.”

“Seandainya ada orang perkampungan Pek Hoa San Cung yang akan menyusahkan kalian, biar loohu yang hadapi, kalian Tiong Chiu siang Ku tak perlu ikut turun tangan.”

“Tentu saja kami bersaudara akan berpeluk tangan menonton harimau bertarung, seandainya pada waktu itu Yok Ong ingin mohon bantuan dari kami bersaudara, maka kita harus bicarakan dulu untung ruginya!”

“Sepanjang hidup loohu tidak pernah mohon bantuan orang lain. kalian boleh berlega hati”.

“Yok Ong, janganlah mengunggulkan diri sendiri, lihat saja bagaimana akhirnya nanti”

Sementara kedua orang itu masih bersilat lidah, Sang Pat telah balik kembali ke dalam gua.

“Apakah anjing raksasa itu sudah kau bawa datang?” Tok Chiu Yok Ong segera menegur.

Terhadap si raja obat itu, Sang Pat sama sekali tidak ambil gubris. Kepada Siauw Ling ia segera menjura dan berkata, “Anjing raksasa telah siap, kami menantikan perintah dari toako untuk berangkat!”

Per-lahan-lahan Siauw Ling bangun berdiri dan mengajak, “Mari kita berangkat!”

Berjalan keluar dari gua, mendadak ia berhenti dan ujarnya kembali ; Tidak bisa jadi membiarkan orang tuaku tetap berada ditengah bukit ini bukan suatu cara yang bagus, Suma-heng serta Kim Lan, Giok Lan belum tentu sanggup melindungi keselamatan kedua orang tua itu.”

“Tentang soal ini toako boleh berlega hati” Sang Pat tersenyum. “Dibawah perlindungan para jago yang dipimpin Siang Hwie, kedua orang tua itu sudah diantar ketempat yang lebih aman.”

“Mereka telah dihantar kemana?”

Sang Pat melirik sekejap ke arah Tok Chiu Yok Ong kemudian tertawa ter-bahak2.

“Maksud jahat untuk mencelakai orang boleh ada, pikiran waspada tak boleh tidak ada. Toako boleh berlega hati, tempat itu pokoknya aman sekali.”

Tok Chiu Yok Ong mendengus dingin, ia bopong tubuh putrinya dan berlalu lebih dahulu dari sana dengan langkah lebar.

Sang Pat bersuit rendah, dari balik semak belukar meloncat keluar seekor anjing besar berwarna hitam yang segera mengikuti dibelakang tubuh Sie-poa emas itu.

Demikianlah, dibawah pimpinan Si Raja Obat Bertangan Keji mereka telah tiba dimulut lembah, mendadak ia berhenti dan berkata, “Walaupun loohu tidak takut dengan orang2 dari perkampungan Pek Hoa San Cung, namun apabila jejakku diketahui oleh mereka tentu akan dilaporkan ke dalam perkampungan Pek Hoa San Cung, seumpama Shen Bok Hong sampai melakukan pengejaran sendiri, keadaan jadi rada repot, lebih baik kita melakukan perjalanan setelah malam tiba nanti.”

“Apakah Yok Ong amat jeri terhadap Shen Bok Hong?” jengek Tu Kioe.

“Loohu dengan dia telah mengikatkan diri jadi saudara angkat, kenapa aku harus jeri kepadanya.

Tu Kioe masih ada maksud menyindir si raja obat tersebut, namun kena dibentak Siauw Ling sehingga ia segera membungkam.

Dalam pada itu Sang Pat telah mengambil keluar rangsum kering dari sakunya lalu dibagikan kepada beberapa orang itu.

Dari dalam sakunya Tok Chiu Yok Ong pun ambil keluar sebuah botol porselen, ia ambil dua butir pil tersebut dan dengan sangat hati2 sekali dimasukkan ke dalam mulut putrinya.

Menyaksikan cintanya Yok Ong terhadap putrinya, diam2 Siauw Ling menghela napas panjang pikirnya, “Ia memiliki ilmu racun yang tiada tandingannya dikolong langit, seandainya ia tidak mempunyai seorang putri berpenyakitan yang mengurangi ambisinya untuk menjadi jagoan, mungkin banyak peristiwa besar yang telah ia lakukan, kejahatannya mungkin tidak berada dibawah shen Bok Hong….”

Setelah duduk mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, kentongan pertamapun telah tiba dan saat itulah mereka melakukan perjalanan kembali, dibawah penciuman sang anjing yang tajam, sepanjang perjalanan mereka berhasil melepaskan diri dari pengawasan orang2 perkampungan Pek Hoa San Cung dan tiba ditepi sungai pada kentongan keempat.

Awan mendung menutupi seluruh angkasa cuaca gelap gulita hingga sulit untuk melihat lima jari sendiri. yang terdengar hanyalah gulungan ombak yang memecah tepian, tidak nampak cahaya lampu barang sedikitpun jua.

“Malam gelap angin kencang, sebuah perahu nelayanpun tidak nampak, agaknya kita harus menunggu sampai fajar menyingsing” gumam Tu Kioe dengan nada dingin.

“Sedetik lebih lama kita harus menunggu, berarti sedetik pula harapan toakomu untuk hidup berkurang!” kata Yok Ong.

Sang Pat mendehem ringan, tiba-tiba ia bertanya ;

“Yok Ong, bagaimana dengan ilmu merenangmu?”

“Loohu tidak kenal ilmu dalam air!”

“Kita beberapa ekor itik daratan, apabila sampai berjumpa dengan perahu penyamun, bukankah bakal runyam dan berabe?”

“Apabila keadaan tidak beres, loohu akan turun tangan meracuni mereka lebih dahulu.”

“Cayhe akan pergi adu untung” Sang Pat segera bangun berdiri. “Coba akan kucari sebuah perahu penumpang yang suka mengangkut kita beberapa orang….”

Seraya berkata ia lantas berlalu dari situ.

Kurang lebih setengah jam kemudian, Sang Pat muncul kembali dengan ter-gesa2.

“Cayhe telah berhasil mendapatkan perahu penumpang yang suka mengangkut kita menuju keselat Sam-Nie, ayoh cepat naik ke dalam perahu!”

Tok Chiu Yok Ong menggendong tubuh putrinya dengan mengikut dibelakang sang Pat berjalan disepanjang tepi sungai, kurang lebih tujuh delapan lie kemudian tidak akan salah lagi mereka menjumpai sebuah perahu dengan dua tiang layar berlabuh ditepi sungai.

Suasana dalam perahu itu gelap gulita tidak nampak sedikit cahaya lampupun.

Sang Pat segera melompat dulu ke dalam geladak perahu dan langsung masuk ke dalam ruangan.

Siauw Ling, Tu Kioe, Yok Ong sekalian mengikuti dari belakang.

Tu Kioe membuat obor, tatkala cahaya menerangi ruang perahu tersebut tampaklah diatas lantai bergelimpangan tujuh delapan sosok tubuh manusia.

“Sebetulnya apa yang telah terjadi?” tegur Siauw Ling dengan sepasang alis berkerut.

“Orang2 yang menggeletak dilantai perahu semuanya adalah anak buah dalam perahu itu” sahut Sang Pat sambil tertawa. “Tatkala aku tiba disini, mereka sedang berkumpul dalam ruangan sambil berjudi, aku tawarkan mereka untuk mengangkut kita menuju keselat Sam-Nia, namun ditolak oleh mereka.

Mengingat keadaan yang mendesak terpaksa Saiuw-te totok jalan darah mereka kemudian datang mohon petunjuk toako”.

Siauw Ling menghela napas panjang, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia batalkan maksud tersebut.

Sebaliknya Si Raja Obat Bertangan Keji segera menunjukkan jempolnya sambil berseru ;

“Kecerdikan Sang-heng, benar2 membuat siauw-te merasa sangat kagum….!”

“Apabila bukan disebebkan toako kami, aku orang she Sang tak akan sudi melakukan perbuatan semacam ini.” jengek si Sie-poa emas.

Telapak kanannya diayun berulang kali jalan darah para pelaut yang ada dalam ruanganpun segera bebas semua.

Tok Chiu Yok Ong yang kebentur pada batunya merasa mendongkol sekali, sambil membopong putrinya ia duduk disudut ruangan, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa.

Tu Kioe menyulut lilin yang ada diatas meja, lalu dari sakunya ambil keluar sekeping uang emas serta dua butir mutiara yang segera diletakkan diatas meja, katanya dingin ;

“Kalian ada orang2 yang sering hilir mudik dipelabuhan, dalam kelopak mata kalian tentu tidak dimasuki pasir, uang emas serta mutiara ini boleh kalian terima asal saat ini juga jalankan perahu dan hantar kami kesungai Soh-Kang”.

Menyaksikan dua butir mutiara itu besarnya seperti mata kancing, para pelaut itu tertegun dan berdiri melongo, mereka tidak menyangka bakal ketiban rejeki….

Seorang lelaki berusia empat puluh tahunan segera bertanya setelah melirik sekejap ke arah mutiara tersebut ;

“Apakah kalian hendak menuju keselat Sam-Nia?”

“Apakah anda adalah pemilik perahu ini?”

“Hamba adalah Sioe Soen, ada urusan apa silahkan toa-ya segera berlayar!”

“Malam ini sangat gelap dan angin berhembus kencang, ombak menggulung sangat tinggi, sebenarnya sukar bagi kami untuk menjalankan perahu. Namun apabila toa-ya memang inginkan demikian hamba sekalian akan jual nyawa bagimu….”

Setelah merandek sejenak, segera teriaknya ;

“Bocah bocah sekalian, pasang layar tarik jangkar dan kita segera berlayar….!”

Para pelaut mengiakan dan segera lari keluar dari ruangan untuk melakukan tugasnya masing-masing.

Terdengar suara seruan saling sahut menyahut berkumandang memecahkan kesunyian, perahu itu per-lahan-lahan meninggalkan pantai dan berlayar mengikuti hembusan angin.

Setalah perahu berlayar, Siauw Ling memandang sekejap ke arah Tok Chiu Yok Ong lalu berkata ;

“Yok Ong harap kau suka meletakkan putrimu ke atas pembaringan, biarlah ia tidur dengan nyenyak.”

Tok Chiu Yok Ong memandang sekejap ke arah Siauw Ling lalu menghela napas panjang, ia menurut dan membaringkan tubuh putrinya ke atas pembaringan kayu yang tersedia di dalam ruang perahu.

Perahu yang mereka tumpangi merupakan perahu besar dengan sepasang layar, lagipula route yang biasa mereka layari adalah selat Sam-Nia, dengan pengalaman yang dimiliki pelaut2 inilah walaupun berada ditengah malam buta yang berombak besar, perahu mereka bisa berlayar dengan tenangnya.

Per-lahan-lahan Siauw Ling berjalan keluar dari ruang perahu, berdiri digeladak memandang ketempat kejauhan, tampaklah cahaya terang mulai muncul diufuk Timur menandakan fajar telah menyingsing.

“Jie-ya! masuk dan beristirahatlah didalam.” Cioe Soen buru-buru datang menghampiri. “Hembusan angin masih kencang dan gulungan ombak masih menghebat, kau harus segera berdiri yang mantap kalau tidak…. waaah! bisa berabe lhooo….”

“Tak usah kau kuatirkan” sahut Siauw Ling sambil tersenyum. “Cayhe ingin menyaksikan pemandangan fajar menyingsing dari atas sungai”

Cioe Soen masih ingin mengucapkan sesuatu lagi, namun keburu ditukas Tu Kioe dengan nadanya yang dingin, “Tak usah kau cemaskan, lebih baik janganlah campuri urusan orang lain”

Raut wajah Tu Kioe yang hijau membesi sangat menakutkan sekali bagi yang memandang, kena dibentak Cioe Soen pemilik perahu itu tak berani banyak bicara lagi, buru-buru ia berjalan ke belakang buritan dan mengawasi anak buahnya bekerja.

Berdiri diatas geladak Siauw Ling alihkan sinar matanya mengawasi empat penjuru, ia berharap dari pemandangan yang terbentang didepan mata saat ini bisa mengenang kembali peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun berselang.

Tampak ombak ditengah sungai saling gulung menggulung, disamping riak yang memecah tatkala membentur tubuh perahu sulit baginya untuk mengingat kembali perjalanan yang pernah ia lakukan pada masa silam.

Tak kuasa lagi sianak muda itu menghela napas panjang dan kembali ke dalam ruang perahu.

Ia mengatakan gua batu tersebut terletak di antara selat Sam Nia, hal itu hanyalah menurut dugaannya, bagaimana yang sebenarnya ia sendiri tak berani ambil keputusan.

Perahu bergerak menentang ombak, walaupun rada lambat namun arah yang dituju adalah jalan air menuju keselat Sam Nia.

Siauw Ling duduk ditepi jendela sambil memandang ombak yang saling berkejaran, hatinya bimbang dan kacau bagaikan naik turunnya ombak ditengah sungai, teringat bahwa perjalanannya ini masih sulit diramalkan untung ruginya, ia merasa sedih sekali.

Tengah hari telah tiba, pemilik perahu masuk ke dalam ruang perahu menghidangkan makan siang yang terdiri dari daging serta arak, hidangannya rata2 amat lezat.

Tok Chiu Yok Ong yang sangat menguatirkan keselamatan putrinya yang lemah, pada saat ini tak tahan untuk berseru kepada Cioe Soen, “Hey, sampai kapan kita baru akan memasuki selat Sam Nia?”

“Sendainya Loo Thian-ya memberikan perjalanan yang lancar buat kita semua, sebelum matahari terbenam nanti kita sudah akan memasuki daerah selat itu, tapi seandainya hembusan angin tetap mengencang dan kita harus bergerak menentang arus, mungkin besok malam baru akan tiba.”

“Sepasang lengan loohu mempunyai tenaga sakti seberat ribuan kati, entah dapatkah kubantu kalian semua agar perahu ini bisa bergerak lebih cepat?”

“Kami tidak berani merepotkan kau orang tua!”

“Loohu bukan ada maksud untuk membantu kalian semua, tetapi berhubung tubuh putriku terlalu lemah ia tidak kuat untuk merasakan penderitaan yang terlalu panjang diatas perahu yang terombang ambing oleh ombak.

“Ooouw…. kiranya begitu.”

“Jadi bisa dipakai tidak?”

“Kendati tenaga kau orang tua lebih besarpun, percuma saja! sebab kau orang tua tidak akan berhasil melawan kekuatan alam.”

“Kalau begitu loohu tak bisa membantu kalian?”

“Sedikitpun tidak salah, lebih baik kau orang tua beristirahat di dalam ruang perahu saja.”

Selesai berkata, pemilik perahu she Cioe itu buru-buru keluar dari ruang perahu.

Kurang lebih satu jam kemudian, mendadak terlihat Cioe Soen muncul kembali di dalam ruang perahu dengan wajah penuh senyuman, kepada Tok Chiu Yok Ong katanya, “Kau orang tua boleh legakan hati, hembusan angin mendadak terjadi perubahan besar mungkin malam hari ini juga kita bisa sampai di mulut selat!”

“Apakah kita tak dapat memasuki selat tersebut pada malam ini juga?”

“Tidak bisa, perjalanan disekitar selat Sam Nia amat berbahaya, bukan saja di-mana2 terdapat dasar sungai yang cetek, batu cadaspun tersebar di mana2. Kendati hamba hapal sekali dengan perjalanan air disekitar sana, namun tidak berani untuk menempuh bahaya melakukan perjalanan pada malam hari.”

“Hmmm! apabila putriku yang lemah tak dapat menahan siksaan dalam perjalanan perahu yang panjang, awas…. jangan harap kalian bisa hidup lebih lama.”

Cioe Soen tertegun, diam-diam ia mengundurkan diri dari ruang perahu.

Arah hembusan angin telah berubah perahu pun bergerak dengan dorongan angin, sebelum sang surya turun gunung mereka sudah tiba di mulut selat yang tersohor akan bahayanya itu.

Pada saat itulah Cioe Soen berseru lantang, “Bocah2 sekalian, gulung layar dan turunkan jangkar….

Malam itu mereka menginap semalam diluar selat Sam Nia, keesokan harinya pagi2 sekali Si Raja Obat Bertangan Keji telah memerintahkan pemilik perahu itu untuk melanjutkan perjalanan memasuki selat.

Cioe Soen tak berani membangkang, perahu pun bergerak kembali memasuki mulut selat, tampak jalan air yang mereka tempuh makin lama semakin bahaya, aliran sungai amat deras dan batu cadas yang besar dan tajam berserakan di mana2.

Dua belah samping jalan air itu adalah dinding bukit yang tinggi, curam dan terjal.

Si Raja Obat bertangan keji serta Siauw Ling berdiri berjajar didepan geladak, memandang dinding tebing yang terbentang sepanjang perjalanan, si orang tua itu tiada hentinya bertanya kepada Siauw Ling dimana letak gua batu tersebut.

Walaupun Siauw Ling mempunyai sepasang mata yang tajam, namun untuk sesaat itupun tak sanggup untuk menemukan letak gua batu itu, ia cuma bisa mengandalkan sedikit ingatannya dalam benak untuk bergerak lebih jauh, walaupun tiada keyakinan namun ia berusaha terus untuk meng-ingat2nya kembali….

Sehari telah lewat dengan cepatnya, senja haripun menjelang tiba….

Cioe Soen tidak berani menempuh bahaya ditengah kegelapan malam, kembali ia mencari suatu tempat yang beraliran air rada tenang untuk buang sauh disana.

Dalam keadaan seperti ini, walaupun si Raja Obat Bertangan Keji merasa amat gelisah, namun iapun tak bisa berbuat lain kecuali bersabar.

Siauw Ling sendiri walaupun tidak buka suara rasa gelisah yang bergolak dalam hatinya jauh melebihi Tok Chiu Yok Ong, sambil berdiri diujung perahu ia putar otak tiada hentinya.

Haruslah diketahui, tatkala lima tahun berselang Siauw Ling dihantar masuk ke dalam gua batu yang misterius oleh seseorang, tubuhnya amat lemah dan berpenyakitan, selama itu ia berbaring terus di dalam ruang perahu. Menanti orang itu menghentikan perahunya dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, ia baru dapat melihat sejenak keadaan sekitar tempat itu kendati begitu kejadian yang sudah lewat lama, mana sanggup ia ingat kembali?

Sementara ia masih merasa gelisah, mendadak terdengar suara dayung menyampok air sebuah sampan kecil berkelebat lewat dari sisi perahu mereka meluncur kedepan.

Walaupun ditengah kegelapan malam, Siauw Ling sempat menyaksikan orang yang berada diatas sampan kecil itu adalah seorang lelaki yang memakai caping lebar dengan baju jas hujan, pada jenggotnya memelihara jenggot kambing yang panjang. Hatinya segera bergerak.

“Bukankah manusia macam inilah yang menghantar aku datang kemari pada lima tahun berselang?” pikirnya.

Kenangan lama segera berkelebat dalam benaknya, ia merasa sampan kecil itu persis seperti sampan yang pernah mereka tumpangi pada beberapa tahun berselang.

Sungguh cepat gerakan sampan kecil itu, tatkala Siauw Ling masih berpikir sampan kecil tadi sudah berada puluhan tombak dari sisi perahunya.

Siauw Ling merasa kesempatan baik ini tak boleh dibuang saja, tanpa berpikir panjang lagi ia enjotkan badannya melayang ke arah sampan kecil itu.

Tok Chiu Yok Ong yang sedang menjaga putrinya dalam ruang perahu, kendati ia ada didalam, sepasang matanya terus menerus mengawasi gerak gerik Siauw Ling, ia kuatir sianak muda itu secara mendadak melarikan diri.

Kini menjumpai ia meloncat ketengah udara meninggalkan perahu, hatinya jadi sangat gelisah tanpa banyak bicara lagi tubuhnya pun berkelebat menerjang keluar dari ruang perahu.

Dimana sinar matanya memandang, tampaklah Siauw Ling sedang melayang ke arah sebuah sampan kecil yang sedang bergerak cepat ke arah depan, ia segera menghempos tenaga dan ikut mengejar kedepan.

Tindak tanduk Si Raja Obat Bertangan Keji yang secara mendadak ini dengan cepat memancing perhatian dari Tiong Chiu Siang Ku, mereka berduapun buru-buru lari keluar dari ruang perahu.

Dalam pada itu Siauw Ling serta Tok Chiu Yok Ong telah melayang ke atas sampan kecil sedangkan sampan kecil itu sudah berada tiga empat tombak dari perahu besar yang mereka tumpangi.

Bercerita tentang Siauw Ling tatkala tubuhnya sedang melayang ke atas sampan kecil, si kakek tua berbaju rumput kering itu waspada sekali, mendadak tangan kanannya dibalik melancarkan sebuah babatan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke arah depan…. Siauw Ling tahu apabila ia bersikeras menyambut datangnya serangan tersebut niscaya tubuhnya akan dipaksa tercebur ke dalam sungai, segera ia mengempos tenaga ia melayang keangkasa dan menyingkir tiga depa kesamping, segulung angin pukulan segera menyambar lewat sisinya.

Ambil kesempatan itulah ia segera melayang ke atas sampan kecil itu.

“Ilmu kepandaian yang amat bagus” puji si-kakek tua itu sedikitpun tidak menunjukkan rasa jeri.

Dengan tangan kiri menggerakkan dayungnya untuk menahan sang sampan kecil jangan sampai bergerak mengikuti aliran sungai, telapak kanannya membali, dengan menggunakan sebuah bambu panjang ia sapu tubuh musuhnya memakai jurus “Heng-Sauw-Ciam-Kim” atau Menyapu rontok selaksa prajurit.

Setelah sepasang kaki Siauw Ling menginjak diatas sampan, nyalinya semakin besar, kaki kanan diangkat lantas ditekuk dan menghantam tubuh kakek tua itu, sementara telapak kirinya diiringi segulung angin pukulan yang dahsyat didorong keluar.

Semakin dekat ia menerjang kemuka, makin kecil tenaga serangan dari bambu panjang itu, tatkala bambu tadi mendekati tubuhnya Siauw Ling telah tiba kurang lebih dua depa disisi kakek tua itu, tubuhnya segera mundur sempoyongan termakan tenaga dorongan Siauw Ling.

Pada saat itulah, Tok Chiu Yok Ong dengan menggunakan kesempatan tersebut telah melayang pula ke atas sampan, tegurnya dingin ;

“Siauw Ling, kau akan melarikan diri?”

Tangan kanan Siauw Ling laksana kilat mencengkeram bambu panjang pihak lawan, tidak sempat menjawab teguran dari Yok Ong lagi, buru-buru serunya kepada kakek tua berbaju rumput kering tadi ;

“Heng-thay, cayhe ada urusan hendak ditunjukan kepada dirimu!”

Dari kecepatan Siauw Ling dalam mencengkeram bambu panjangnya tadi, si kakek tua itu sadar bahwa ia telah berjumpa dengan musuh tangguh sambil meloncat bangun hardiknya dingin ;

“Ada urusan apa?”

“Aliran sungai terlalu deras, tidak leluasa bagi kita berdua untuk bercakap-cakap dalam keadaan seperti ini, dapatkan Heng-thay menjalankan sampan kecilmu ketempat yang lebih aman kemudian baru kita berbicara lebih jauh?”

Selama ini Tok Chiu Yok Ong selalu berdiri dibelakang Siauw Ling dengan tangan kanan menggenggam racun, sepasang matanya mengawasi gerak gerik sianak muda itu tajam2, asal Siauw Ling ada maksud melarikan diri, ia segera akan melepaskan racun.

Dengan sepasang mata yang tajam si kakek tua bercaping lebar tadi mengawasi wajah Siauw Ling beberapa saat, ketika ia merasa bahwa dirinya tidak kenal dengan sang anak muda yang berada dihadapannya, ia merasa tercengang.

“Kita tidak pernah saling mengenal!” serunya dengan sepasang alis berkerut.

“Cayhe sama sekali tidak ada maksud jahat, harap Heng-thay suka menenangkan sampanmu terlebih dahulu kemudian kita bicara lebih jauh”.

“Heeh…. heeh…. sekalipun kau punya maksud jahat, akupun tidak akan takut” jengek sang kakek tua tadi sambil tertawa dingin.

Sepasang tangannya menggerakkan dayung dan menghentikan sampan kecil itu pada aliran sungai yang rada tenang, lalu terusnya, “Siapakah anda? ada urusan apa?”

“Seandainya daya ingat cayhe tidak salah, kecuali sampan kecil milih Heng-thay ini semestinya masih ada soerang rekan lagi” kata Siauw Ling seraya mengawasi sekejap keadaan diempat penjuru.

“Sebenarnya siapakah anda?” tegur kakek tua itu tidak sabaran. “Kalau anda cuma mengajukan kata2 yang tak berguna kepada diri cayhe jangan salahkan kalau cayhe tidak akan berlaku sungkan2 lagi,” Siauw Ling tertawa.

Lima tahun berselang kita pernah saling berjumpa muka, atas bantuan anda serta rekan anda itulah aku berhasil kalian selamatkan dari dasar sungai.”

Si kakek tua itu mengawasi Siauw Ling dari atas hingga kebawah, namun dengan cepat ia menggeleng kembali.

“Cayhe sudah tidak ingat lagi” katanya.

“Heng-thay masih belum dapat mengingatnya kembali.”

“Tidak ingat”

Haruslah diketahui lima tahun berselang perawakan tubuh Siauw Ling kecil lagi kurus dan lama berpenyakitan, sedangkan kini ia tumbuh jadi dewasa dengan badan yang kekar dan gagah sekalipun benak si kakek tua ini dibelah pun belum tentu ia dapat mengingatnya kembali.

Siauw Ling berpaling memandang sekejap ke arah Si Raja Obat Bertangan Keji, kemudian ujarnya kepada si kakek tua itu ;

“Lima tahun berselang, setelah anda serta teman anda menolong cayhe dari sungai, kalian telah membawa aku ke dalam sebuah gua yang dihuni oleh seorang kakek tua yang menderita sakit, orang itu berdiam dalam sebuah gua yang letaknya jauh diatas tebing bukit, kecuali itu kalian sering kali menawan bocah2 berusia belasan tahun untuk dikirim kemari. ucapan cayhe ini tentu bisa anda pahami bukan?”

Sepasang mata orang itu berkedip, ia memandang kembali Siauw Ling sekejap kemudian menjawab, “Tidak salah, lima tahun berselang benar2 pernah terjadi peristiwa ini, seandainya orang itu adalah kau maka kau pastilah Siauw Ling bukan?”

“Sedikitpun tidak salah, cayhe memang Siauw Ling adanya.”

Si kakek tua itu menarik napas panjang.

“Bukankah kau telah mati terjatuh ke dalam jurang?” tanyanya.

Siauw Ling tidak ingin menceritakan kisah yang sebenarnya, maka ia menyahut sekenanya ;

“Cayhe belum ditakdirkan untuk mati, secara kebetulan saja jiwaku berhasil diselamatkan orang”.

“Pada saat ini dunia persilatan sedang digemparkan oleh nama Siauw Ling, aku rasa orang itu pastilah anda bukan?”

Perduli siapapun yang mengungkap persoalan ini, Siauw Ling tentu merasakan serba salah dan sulit untuk memberi penjelasan, maka ia berkata, “Dewasa ini banyak orang yang punya nama kembar, mungkin saja orang itu adalah Siauw Ling yang lain!”

Si Kakek tua itu mendengus dingin.

“Benarkah anda adalah Siauw Ling atau bukan , cayhe tidak ingin bertanya lebih jauh, entah apa maksudmu datang kemari dengan membawa serta begitu banyak orang?”

Aku tak boleh membocorkan niat kami untuk mengambil jamur batu berusia seribu tahun” pikir sianak muda itu. “Lebih baik kurangi saja pembicaraan yang tak berguna dengan dirinya.”

Segera ia berkata ;

“Pertama. cayhe ingin mengenang kembali kejadian masa lampau, kedua. aku ingin menyambangi si kakek tua yang berpenyakitan itu sekalian mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Seandainya kau benar2 bermaksud demikian, datanglah seorang diri kan sudah cukup, mengapa kau bawa serta orang yang begitu banyak?” jengek si kakek tua itu sambil tertawa dingin.

Habis berkata sinar matanya beralih memandang sekejap ke arah Sepasang pedagang dari Tiong Chiu yang berdiri diujung geladak.

“Walaupun cayhe datang bersama beberapa orang sahabat, namun kami tidak mengandung maksud jahat….”

“Tidak bisa!”

Tok Chiu Yok Ong yang selama ini membungkam diri mendadak berseru dengan nada yang dingin, “Siapa bilang tidak bisa? bisa juga harus bisa tak bisapun harus bisa….”

“Siapa kau?” bentak kakek tua itu.

“Loohu adalah si raja obat bertangan keji.”

Mendadak telapaknya berkelebat kedepan mencengkeram tubuh si kakek tua itu dengan suatu serangan kilat.

Si kakek tua itu tidak jadi gugup ia mundur sambil silangkan bambu panjangnya didepan dada.

“Tok Ciu Yok Ong” serunya “Sudah lama cayhe dengar akan kehebatanmu menggunakan racun yang dikatakan tiada tandingan dikolong langit sungguh beruntung kita bisa berjumpa muka pada ini hari.”

Si Raja Obat Bertangan Keji tertawa hambar, “Kau sudah terkena racun dari loohu!” serunya.

Mula2 kakek itu tampak tertegun, kemudian tertawa hambar pula.

“Apakah Yok Ong hendak menggertak diriku?”

“Hmm, kalau kau tidak percaya silahkan kerahkan hawa murnimu untuk mencoba.”

Orang itu menurut dan salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan, sedikitpun tidak salah ia temukan dalam badannya menunjukkan tanda-tanda keracunan, wajahnya segera berubah hebat

“Nama besar menggunakan racun benar2 bukan nama kosong belaka!”

Ia putar badan dan siap terjun ke dalam sungai.

“Heng-thay, tunggu sebentar!” buru-buru Siauw Ling berseru.

“Seandainya lima tahun berselang aku tidak menolong dirimu dari dalam sungai ini, ini hari aku tidak akan menderita keracunan ditangan orang itu” teriak kakek tadi dengan penuh kegusaran.

Tok Chiu Yok Ong mendengus dingin,

“Bukan saja loohu memiliki ilmu melepaskan racun yang tiada tandingannya dikolong langit, loohu pun mempunyai kepandaian untuk menguasahi sifat serta daya kerja suatu jenis racun. Pada saat ini tubuhmu sudah keracunan, bukan saja sifat racun tadi amat ganas bahkan termasuk jenis yang paling ganas diantara racun-racun yang loohu miliki, setelah daya kerja racun itu mulai menunjukkan reaksinya, seluruh tubuhmu akan berkerut, setelah merasakan siksaan hebat selama tiga hari tiga malam ajalmu baru tiba….”

Ia merandek sejenak. kemudian tambahnya ;

“Orang yang terkena racun jenis ini paling takut dengan air, apabila tubuhmu tergenang oleh air dingin maka racun dalam tubuhmu akan segera bekerja….”

“Berendam di dalam air bisa mengakibatkan racun dalam tubuh mulai bekerja, cayhe merasa rada sangsi” kata kakek itu sambil mengelus jenggot kambingnya.

Walaupun ia bicara tidak percaya namun sikap si kakek tua tersebut benar2 tidak berani terjun ke dalam air lagi, sebab ia percaya dengan kemampuan si Raja Obat Bertangan Keji yang sudah tersohor akan kelihayan serta kekejamannya.

“Selama hidup loohu tidak pernah bicara bohong, mau percaya atau tidak terserah kepadamu!”

Siauw Ling yang ikut menyaksikan kejadian itu merasa sangat tidak senang hati dengan perubahan si Raja Obat itu, terdengar ia menegur, “Yok Ong, sebenarnya apa maksudmu melepaskan racun melukai dirinya?”

“Apabila aku tidak melepaskan racun keji ke dalam tubuhnya, mungkin pada saat ini ia sudah loncat ke dalam air dan melarikan diri”.

“Cayhe membawa serta diri Yok Ong datang kemari adalah bermaksud mencari obat, aku toh tidak suruh kau melukai orang cari permusuhan perbuatanmu ini….”

Tok Chiu Yok Ong tahu kata2 selanjutnya dari sianak muda ini pasti tidak enak didengar, buru-buru ia menukas ;

Loohu cuma bermaksud menghalangi niatnya untuk melarikan diri belaka…. aku sama sekali tiada maksud lain”.

Mendadak dari sakunya ia ambil keluar sebutir obat penawar dan dilemparkan ke arah si kakek tua itu sambil berkata ;

“Sambut obat penawar ini. dan cepat telan maka racun dalam tubuhmu segera akan punah”.

Orang itu tidak banyak bicara. ia sambut obat penaawar tadi dan segera dimasukkan ke dalam mulut.

“Pejamkan mata dan atur pernapasan” suara Yok Ong berkumandang kembali.

Rupanya orang itu sudah dibikin jeri oleh kehebatan Tok Chiu Yok Ong dalam menggunakan racun ternyata ia menurut dan segera pejamkan mata untuk mengatur pernapasan.

Pada saat itulah dalam ilmu menyampaikan suara Tok Chiu Yok Ong berbisik kepada Siauw Ling, “Mumpung ia sedang pejamkan matanya, cepatlah totok jalan darahnya!”

Dengan dingin Siauw Ling melirik sekejap ke arah si raja obat bertangan keji, tubuhnya tetap tak berkutik.

Pada saat ini rasa kagum Tok Chiu Yok Ong terhadap kegagahan serta kejujuran Siauw Ling telah makin menebal. melihat sianak muda itu tidak menggubris ucapannya ia tertawa riku namun mulutnya segera membungkam dalam seribu bahasa.

Setelah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, si kakek tua itupun perlahan-lahan membuka matanya kembali, setelah menandang sekejap ke arah Siauw Ling serta si raja obat bertangan keji bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu.

Namun dengan cepat Siauw Ling telah berkata lebih dulu.

“Apakah racun yang bersarang ditubuh Heng-thay telah bebas sama sekali?”

“Racun yang bersarang ditubuhnya adalah racun yang loohu lepaskan, kemudian obat penawar yang ia telanpun obat penawarku. tentu saja racun yang bersarang ditubuhnya telah punah sama sekali” sambung Yok Ong dengan cepat.

Sedangkan si kakek tua itu mengangguk.

“Agaknya sudah punah sama sekali.”

“Bagus sekali!” seru Siauw Ling, “Lima tahun berselang anda telah menyelamatkan selembar jiwaku dari dasar sungai, namun hingga kini siauw te belum pernah menanyakan nama dari Heng-thay, entah sukakah anda memberi tahukan namamu?”

Cayhe adalah Song Poo!”

“Ooouw…. kiranya Song-heng….! cayhe ada satu urusan entah dapatkah anda menolongnya?”

“Harus dilihat dulu persoalan apakah itu?”

“Lima tahun berselang setelah siauwte berhasil kalian tolong dan dihantar ke dalam gua batu itu hingga kini kenangan lama telah terhapus sama sekali dari benakku, entah sudikah kiranya Song heng mengantar kami kesitu.”

“Lebih baik membawa kami semua” Tok Chiu Yok Ong menambahkan dari samping.

“Seandainya Song-heng sudi membawa serta kami semua, hal ini tentu saja kebenaran sekali tetapi apabila kau punya kesulitan siauw-tepun tidak akan memaksa.”

Song Poo termenung sejenak, setelah itu ia menjawab.

“Tabiat kongcu kami kurang baik, sekalipun cuwi sekalian tidak bermaksud jahat, apabila kunjungan kalian tiba secara mendadak mungkin bisa membangkitkan kegusarannya.”

“Apabila ia berani bersikap kurang ajar terhadap diri Loohu sekalian, akan kusuruh dia merasakan pula bagaimanakah kalau badan keracunan” sambung Yok Ong cepat.

Siauw Ling melirik sekejap ke arah si raja obat bertangan keji, kemudian bertanya, “Bagaimana menurut pendapat Song-heng?”

“Seandainya kehadiran Siauw-heng memang tiada maksud jahat, siauw-te sih mempunyai satu cara untuk digunakan.”

“Harap Song-heng suka memberi petunjuk!”

“Aku minta cuwi sekalian menanti beberapa waktu di dalam perahu, cayhe akan pergi melaporkan kunjungan kalian kepada kongcu kami lebih dahulu, kemudian cuwi sekalian baru datang kesitu.”

“Apabila kau telah pergi lantas tidak kembali lagi, kemanakah kami harus pergi mencari dirimu?” sela Yok Ong.

“Setelah cayhe menyanggupi, tidak akan kuingkari janji dengan tidak munculkan diri kembali.”

“Seandainya kongcu kalian tidak mengijinkan?”

Song Poo termenung lagi beberapa waktu, lalu menjawab ;

“Seandainya memang demikian halnya, cayhe pun tak bisa berbuat lain. Seandainya kongcu kami tidak mau menerima kunjungan kalian, cayhe akan datang kemari untuk memberitahukan penolakan tersebut kepada cuwi sekalian.”

Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan si kakek kurus kering yang berpenyakitan itu.

“Bukankan di dalam gua masih ada seorang kakek tua yang berpenyakitan?….” tanyanya.

Song Poo menghela napas panjang.

“Aaaaaiiii….! dia adalah majikan tua kami, tahun berselang beliau telah menghembuskan napasnya yang terakhir!”

Mendengar kabar ini, Siauw Ling pun ikut menghela napas sedih, pikirnya, “Lima tahun berselang tatkala aku diantar masuk ke dalam gua itu, hanya si orang tua itu saja bersikap baik kepadaku , sebenarnya aku ada maksud memberikan beberapa potong jamur batu berusia seribu tahun apabila berhasil kudapatkan nanti agar penyakitnya bisa sembuh, sungguh tak nyana ia sudah keburu mati lebih dulu….”

Terdengar Song Poo berkata kembali ;

“Sejak majikan tua menghembuskan napasnya yang terakhir, kongcu lah yang meneruskan jabatan majikan tua!”

“Kongcu yang kaku maksudkan apakah sipemuda berbaju hijau yang pernah kujumpai lima tahun berselang itu?”

“Majikan tua kami cuma punya seorang putra tunggal belaka, seandainya kau pernah bertemu, aku rasa tidak bakal salah lagi….”

“Seumpama kata aku sekalian melepaskan kau pulang, tapi kemudian kau ditahan oleh kongcu kalian dan tidak membiarkan kau datang kemari…. bagaimana jadinya?”

“Kalau sampai terjadi begitu keadaanlah yang memaksa aku tak berkutik, namun menurut pendapat cayhe hal ini tak mungkin terjadi.”

“Walaupun begitu, tetapi kami sekalianpun mau tak mau harus bikin persiapan. Cayhe sih punya satu cara yang sempurna dan sama2 tidak merasa dirugikan”.

“Apakah caramu itu?”

“Kami sekalian mengikuti dibelakangmu mendatangi gua batu tadi dan bersembunyi ditempat kegelapan, Song-heng boleh masuk untuk melaporkan kunjungan kami terlebih dahulu kepada kongcu kalian, apabila ia sudi menyambut kedatangan kami tentu saja kami akan menyambangi dirinya dengan peraturan dunia persilatan, tetapi seandainya ia tak mau menyambut kedatangan kami, maka kamipun tidak berani merepotkan diri Song-heng lagi, setengah jam kemudian kami sekalian bisa mendatangi sendiri gua batu tersebut.”

“Tentang soal ini…. aku rasa kurang leluasa….”

“Apabila terlalu bagimu berarti mengurangi satu bagian kesempatan bagi kami untuk menang” tukas Tok Chiu Yok Ong. “Menurut pendapat loohu, lebih baik kerjakan saja persoalan ini menurut cara tersebut, apabila kau tidak setuju, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan.”

Diam2 Song Poo berpikir dalam hati ;

“Entah orang ini telah belajar silat dari siapa? dahulu badannya lemah dan menderita penyakit parah sekarang penyakitnya telah sembuh bahkan memikili pula serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat….”

Terdengar Siauw Ling berkata, “Pada saat ini waktu berharga bagaikan emas aku minta andapun jangan mengulur waktu lebih jauh.”

Mendadak Song Poo menggertak gigi dan berkata;

“Apabila cayhe tidak berhasil mendapatkan persetujuan dari kongcu, silahkan cuwi sekalian masuk sendiri ke dalam gua batu untuk berjumpa dengan kongcu kami.”

“Kalau memang demikian adanya, terpaksa kami harus merepotkan diri Song-heng”

Si Raja Obat Bertangan Keji segera membopong putrinya, sambil memandang bukit karang yang menjulang tinggi keangkasa katanya;

“Dapatkah kau jalankan sampan kecil ini ketepian?”

Song Poo menggerakkan dayungnya menjalankan sampan kecil menuju ketepi sungai.

Siauw Ling pun mengundang datang Tiong Chiu Siang Ku kemudian ber-sama2 naik kedaratan dan langsung mendaki bukit karang.

Dinding tebing tersebut bukan saja tegak lurus bahkan curam sekali para jago harus menggunakan tangan serta kakinya baru bisa mendaki ke atas.

Si Raja Obat Bertangan Keji harus menggendong putrinya, tak mungkin baginya mendaki dengan bantuan sepasang telapak, maka Siauw Ling pun dengan menggunakan seutas tali menarik tubuh Yok Ong naik ke atas.

Sang Pat mengikuti terus dibelakang Song Poo secara diam2 ia mengawasi gerak geriknya.

Tatkala mereka sudah mendaki hampir seratus tombak tingginya dari permukaan tanah, tibalah rombongan tersebut disebuah jalan gunung yang kecil.

Pada saat itulah Song Poo berpaling memandang sekejap ke arah Siauw Ling sekalian kemudian berkata, “Berjalan seratus tombak kesebelah Barat merupakan goa batu tempat tinggal kongcu kami, bagaimana kalau cuwi sekalian berhenti lebih dahulu disini?”

“Aku rasa sama saja bukan seandainya kita berhenti diluar goa batu itu saja?”

“Aaai….! sepuluh tombak disekitar goa sudah dipasang alat jebakan, buat apa sih cuwi sekalian pergi menempuh bahaya?”

“Apabila benar2 ada jebakan disana, terpaksa kita harus membutuhkan bantuan anda untuk menunjukkan jalan” sela Yok Ong.

Rupanya Song Poo menyadari ia sudah salah bicara, maka mulutnya segera membungkam dalam seribu bahasa, tanpa banyak cakap lagi ia meneruskan langkahnya kedepan.

Setelah berada dijalan gunung yang datar, Siauw Ling tak perlu membantu diri si raja obat bertangan keji lagi. ia segera berjalan lebih cepat mengikuti dibelakang Song Poo, ujarnya;

“Song-heng, tahukah kau disekitar sepuluh tombak dari gua telah dipasang beberapa banyak alat jebakan?”

———————

42

Bukan jebakan berupa jagoan berupa jagoan yang tersembunyi, di dalam goa batu kecuali kongcu kami cuma ada dua orang budak serta cayhe berempat saja, tidak cukup jumlah orang kita, mana bisa dikirim jagoan untuk membokong kalian?”

“Kalau bukan berupa jagoan, lalu berupa apa?”

“Berbagai jenis binatang beracun!”

“Ber-jenis2 binatang beracun? jadi maksudmu termasuk banyak jenis binatang?”

“Tidak salah. diantaranya tentu saja terdapat ular beracun serta kelabang dan lain2nya”.

Mendengar perkataan itu Siauw Ling segera berpikir di dalam hatinya, “Ular beracun serta kelabang walaupun tidak termasuk binatang yang menakutkan, tetapi ditengah malam yang buta apabila binatang2 itu membokong secara mendadak, hal ini memang sangat berbahaya sekali bagi keselamatan kami semua….”

Sementara itu Sang Pat telah ambil keluar senjata sie-poa emasnya, terdengar ia berseru ;

“Loo-jie, loloskan senjatamu, menghadapi ular beracun serta kelabang kita tak perlu sungkan2″

Mendadak Tok Chiu Yok Ong dengan langkah lebar berjalan kedepan, sambil mengejar ke belakang tubuh Song Poo serunya ;

“Loohu tidak takut ular beracun!”

Song Poo berpaling memandang sekejap ke arah Yok Ong, lalu berkata ;

“Apabila cuwi sekalian mau percaya kepada cayhe, biarkanlah cayhe berjalan lebih dahulu agar cayhe bisa berusaha untuk mengundurkan ular2 beracun itu”.

“Nah, silahkan anda berjalan lebih dahulu” sahut Yok Ong.

Song Poo tidak bicara banyak, ia segera berjalan lebih dahulu beberapa tombak kedepan, mendadak dari sakunya ia ambil keluar sebuah genta tembaga dan membunyikannya ber-talu2.

Ditengah malam yang sunyi, suara keleningan itu berkumandang hingga ketempat yang amat jauh sekali.

“Aduuuh celaka…. kita tertipu!” bisik Sang Pat lirih “Ia telah menyampaikan tanda bahaya dengan suara keleningan itu!”

“Bukankah kedatangan kita kesini bukan bermaksud untuk mencari gara2?” jawab Siauw Ling. “Sekalipun ia sudah mengirimkan tanda bahaya, rasanya juga tidak mengapa.”

Sementara itu secara diam2 Tok Chiu Yok Ong telah menyiapkan racunnya untuk melancarkan serangan, namun sepanjang perjalanan mereka benar2 tidak menjumpai adanya serangan dari binatang2 beracun.

Setelah berjalan puluhan tombak jauhnya, mendadak Song Poo berhenti dan berkata ;

“Kita sudah tiba ditempat tujuan.”

Buru-buru Siauw Ling maju kedepan dan mendongakkan kepalanya ke atas, ia lihat disisi sebuah batu cadas yang tinggi besar benar2 terdapat sebuah pintu batu yang tertutup rapat.

“Benarkah tempat ini adalah gua batu yang pernah kau kunjungi tempo dulu?” tegur Yok Ong.

Siauw Ling memperhatikan sekejap keadaan disekeliling tempat itu, kemudian menyahut, “Berhubung kejadian itu sudah berlangsung lama, lagipula ditengah kegelapan malam, sulit bagiku untuk mengingatnya kembali”

“Kalau begitu mari kita berusaha untuk membuka pintu batu itu terlebih dahulu.”

Diam2 Siauw Ling salurkan hawa murninya keseluruh badan, telapak kanannya segera ditempelkan ke atas pintu batu. lalu bisiknya kepada diri Song Poo, “Song-heng yang akan membuka pintu? atau cayhe membukanya sendiri.”

“Pintu batu ini kuatnya luar biasa, sekalipun kekuatan lengan anda mempunyai tenaga sakti sebesar ribuan katipun mungkin sulit untuk membukanya.”

Diam2 Siauw Ling kerahkan tenaganya untuk mencoba, sedikitpun tidak salah pintu tersebut benar2 sangat kuat.

“Apabila cayhe tidak dapat mendorong buka pintu ini, terpaksa aku akan berusaha untuk menghancurkannya” ia berseru.

Sang Pat segera membopong sebuah batu gunung yang besar dan berat kemudian berseru.

“Toako, harap menyingkir kesamping!”

Ia angkat batu besar tadi siap menghantamkan ke atas batu besar itu.

“Tunggu sebentar!” terdengar Song Poo berseru.

“Pada waktu itu Tu Kioepun sudah mengangkat sepotong batu cadas siap disambitkan ke arah pintu, mendengar seruan song Poo segera tegurnya dengan nada dingin, “Sekalipun pintu batu ini lebih kuat lagipun aku rasa tak akan sanggup menahan tenaga gempuran kami.”

“Apabila cuwi sekalian tiada maksud memusuhi kongcu kami, aku harap sebelum melakukan suatu perbuatan pikirlah tiga kali lebih dahulu!”

“Kini persoalannya sudah bagaikan anak panah yang berada diatas busur, sekalipun tak bisa dimaafkan oleh kongcu kalian, hal inipun merupakan suatu kejadian yang apa boleh buat.”

Mendadak Song Poo maju selangkah kedepan, jari tangannya tahu2 menutup kesisi sebuah batu cadas yang ada disamping pintu batu itu.

Gelegaaar…. terdengar suara yang memekakkan telinga, berkumandang dari atas menuju ke bawah lama sekali baru sirap.

Menyaksikan hal itu Siauw Ling berpikir di dalam hati, “Kiranya mereka menggunakan gelindingan batu menyampaikan suara untuk memberi isyarat guna minta pintu!”

Kurang lebih sepertanak nasi telah berlalu, suara gelindingan batu sudah lama sirap namun belum nampak juga pintu batu itu terbuka.

Per-tama2 Si Raja Obat Bertangan Keji lah yang merasa tidak sabaran, dengan penuh kegusaran serunya kepada Song Poo.

“Apabila kau berani memperlihatkan permainan setan dihadapanku, loohu akan suruh kau merasakan siksaan yang paling hebat.”

“Istana Batu letaknya sangat dalam sekali, bagaimanapun juga kita harus memberi kesempatan bagi mereka untuk membuka pintu setelah mendengar isyarat tersebut” sahut Song Poo dingin.

Sementara mereka masih berbicara…. krraaak…. tiba-tiba pintu batu terbentang lebar.

Cuaca amat gelap, apalagi suasana dalam gua walaupun beberapa orang itu memiliki ketajaman mata yang luar biasa namun pemandangan yang berhasil mereka lihatpun hanya benda2 yang berada beberapa tombak didepan saja.

“Pintu batu telah terbuka, silahkan cuwi sekalian masuk kedalam!” seru Song Poo dingin.

Siauw Ling tidak banyak bicara, ia segera maju kedepan masuk ke dalam goa lebih dahulu.

“Biarlah cayhe yang membawa jalan!” serunya.

Tapi dengan cepat Tu Kioe berebut maju kedepan lebih dahulu sambil berseru, “Jangan, biarlah siauw-te yang membuka jalan!”

Ia cabut keluar senjata pit bajanya dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Terasa jalan kecil yang berada di dalam goa batu itu ber-liku2 terus menembus kelambung bukit, namun jalannya rata sehingga siapapun bisa menduga bahwa goa alam yang semula ada disana telah diperbaiki oleh tenaga manusia.

Sang Pat dengan kencang mengikuti dibelakang Song Poo, terdengar ia berkata, “Song-heng, seandainya di dalam goa batu ini terjadi suatu perubahan maka orang pertama yang akan siauwte celakai adalah diri Song-heng sendiri”

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, mendadak tampak cahaya lampu secara lapat2 memancar datang.

Dengan ketajaman pandangan mata beberapa orang itu, walaupun hanya sekilas cahaya yang amat lirih namun cukup memberikan penerangan bagi mereka se-olah2 berada disuatu tempat yang terang benderang.

Tu Kioe segera mempercepat langkah kakinya berbelok pada suatu tikungan, ketika ia angkat kepala tampaklah sebuah lampu lentera tergantung kedalam.

Dibawah sorotan sinar lentera, terbaca pula dua hurup “Pek” terukir diatas sebuah dinding batu yang rata dan licin.

“Song-heng!” seru Sang Pat dengan suara mendalam. “Sumbu dalam lentera ini masih kelihatan baru, agaknya baru saja disulut?”

“Sedikitpun tidak salah”.

“Jadi ini berarti sebelum kami tiba disini, telah ada orang menyulut lampu lentera tersebut, kemudian mengundurkan diri?”

“Memang demikian adanya”.

“Kedua huruf tersebut ditulis diatas dinding tebing pada sebuah tikungan, apakah tulisan itupun menandakan suatu peringatan?” sambung Tu Kioe dari samping.

“Apabila dibunuh sebelum diperingatkan perbuatan itu merupakan suatu perbuatan yang salah besar. Apabila cuwi sekalian tidak mau berhenti juga setelah membaca peringatan tersebut, maka seandainya bertemu, dengan mara bahaya maka kalian harus menanggung resikonya sendiri.”

Sang Pat mendongak memperhatikan sekejap jalan gua itu, tampak luas gua tersebut ada lima tombak tingginya dengan luas empat depa, seandainya dalam lorong tersebut dipasang alat jebakan, memang sulit bagi seseorang untuk menghindarkan diri.

“Toako, untuk sementara waktu harap menanti disini, bagaimana kalau biar siauw-te melakukan pemeriksaan lebih dahulu?” terdengar Tu Kioe bertanya.

“Urusan sudah jadi begini, kita cuma punya jalan maju dan tiada jalan mundur, sekalipun di dalam lorong itu telah dipasangi alat jebakan yang bagaimana bahayanyapun terpaksa harus kita terjang terus sampai kedalam.”

Sementara mereka masih berbicara, mendadak lampu lentera itu ber-goyang2 lalu padam.

Tu Kioe langsung mendengus dingin, jengeknya ;

“Bertindak sembunyi2 macam cucu kura2 begitukah yang disebut seorang enghiong? seorang lelaki gagah!”

Tiba-tiba terdengar Sang Pat mendongak tertawa ter-bahak2.

“Haaa…. haaa…. bagus sekali! setelah lampu dipadamkan, kalian anggap kami Tiong Chiu Siang Ku lantas terhadang jalan perginya?”

Terasa cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh ruangan, dalam lorong batu yang gelap tadi seketika terang benderang oleh sorotan cahaya hijau yang amat cemerlang.

Kiranya pada saat itulah Sang Pat telah ambil keluar sebuah mutiara sebesar buah lengkeng yang memancarkan cahaya tajam, sinar berwarna ke-hijau2an tersebut bukan lain adalah cahaya yang terpancar dari mutiara itu,

“Aaah, mutiara Ya-Beng-Coe” teriak Tok Chiu Yok Ong kegirangan.

“Tidak salah, memang mutiara Ya-Beng-Coe!” sahut Sang Pat sambil tertawa “Kami Tiong Chiu Siang Ku tersohor sebagai pedagang yang terkaya dikolong langit, hanya sebutir mutiara macam begini belumlah terhitung sebagai suatu benda yang mustika.”

Terdengar suara Song Poo yang dingin berkumandang kembali ;

“Sekalipun gua batu ini berhasil kalian terangi hingga jelas bayangan disiang hari, namun apabila cuwi ingin menghindarkan diri dari pelbagai perangkap yang ada disini, masih tetap bukanlah merupakan suatu pekerjaan gampang.”

Tiba-tiba Tu Kioe ulur tangan kirinya serta mencengkeram pergelangan kanan Song Poo, kemudian menjenek, “Mereka telah melupakan satu persoalan, yaitu sebelum kami menemui ajalnya masih cukup ada kesempatan bagi kami beberapa orang untuk membinasakan diri Song-heng”.

“Ha ha ha ha apabila aku Song Poo masih memikirkan tentang soal mati hidupku, tidak nanti kubawa kalian masuk ke dalam lorong batu ini.

Tok Chiu Yok Ong yang berdiri disisi kalangan selama ini membungkam terus dalam seribu bahasa mendadak tangan kanannya bergetar keras…. sreeet! sreeeet! secara beruntun ia telah menepuk sepasang bahu Song Poo. kemudian berkata, “Tu-heng, sekarang kau boleh lepaskan dirinya, aku sudah melepaskan tulang sendi pada sepasang bahunya.”

Dibawah sorotan sinar mutiara, tampaklah Song Poo kesakitan sehingga keringat mengucur membasahi seluruh tubuhnya, namun ia tetap menggertak gigi menahan sakit, mengerang sedikitpun tidak.

Menyaksikan kejantanan orang itu, dalam hati Sang Pat memuji, pikirnya, “Daya tahan orang ini terhadap siksaan benar2 mengagumkan sekali, dia tidak malu dikatakan sebagai seorang lelaki sejati”.

Tiba-tiba Siauw Ling melangkah maju kesisi tubuh Song Poo, sepasang tangannya bergerak cepat menyambung kembali tulang sendi pada bahunya, kemudian ia berseru, “Song-heng, silahkan berangkat!”

Tindakan ini rupanya jauh berada diluar dugaan Song Poo, ia lantas berpaling memandang sekejap ke arah sianak muda itu.

“Sebenarnya apa maksudmu?” ia bertanya.

“Bukankah diantara kita tak pernah saling mengikat tali permusuhan? cayhe tidak tega menyaksikan Song-heng menahan penderitaan akibat tulang sendi yang dilepas”.

“Seorang lelaki sejati tidak akan takut terhadap suatu kematian, apalagi hanya sedikit penderitaan akibat tulang sendi yang terlepas, tak usah kau cemaskan!”

“Bagaimanapun juga diantara kita berdua tidak pernah terikat tali permusuhan, lagipula kedatangan kami kesinipun tidak mengandung maksud untuk memusuhi kongcu kalian, maka tidaklah beralasan bagi kami untuk menyiksa dirimu. Terus terang saja cayhe utarakan, kedatangan kami kesini hanyalah bermaksud ingin menikmati pemandangan air terjun yang ada dibelakang gua sana….”

“Maksud tujuan kalian membuat cayhe merasa sangat tidak percaya”.

“Apabila Song-heng tidak percaya, cayhepun tak bisa memaksa dirimu untuk mempercayainya, dan kini Song-heng boleh berlalu dari sini”.

“Sungguhkah aku boleh pergi?” tanya Song Poo rada tercengang.

“Selamanya belum pernah cayhe bicara bohong”

Diam2 Song Poo salurkan hawa murninya keseluruh tubuh untuk memeriksa apabila terdapat suatu tanda yang aneh, ternyata semuanya lancar dan tiada tanda-tanda yang mencurigakan.

Terdengar Siauw Ling menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh dengan nada lirih ;

“Apabila kau berjumpa dengan kongcu kalian nanti, sampaikan salamku kepadanya”.

“Cayhe pasti akan berusaha keras untuk menundukkan kongcu kami sehingga beliau memberi ijin bagi cuwi sekalian untuk memasuki gua ini”.

“Kalau memang demikian adanya, tentu saja hal ini lebih bagus lagi. Daripada diantara kedua belah pihak sampai terjadi hal2 yang tidak menggembirakan”.

“Tetapi akupun hendak menerangkan terlebih dahulu, sudikah kongcu kami memberi ijin kepada kalian, cayhe sendiri tidak berani menjamin seratus persen”.

“Apabila kongcu kalian tidak memberi ijin kepada kami, itu berarti dia hendak mendesak cayhe sekalian untuk mengambil langkah kekerasan”.

Song Poo tidak banyak bicara lagi, ia segera menjura seraya berseru, “Baik2lah cuwi sekalian menjaga diri!”

Dengan langkah lebar ia berlalu dari sana.

Siauw Ling berdiri dipaling depan, memandang hingga bayangan punggung Song Poo lenyap dari pandangan ia baru berkata dengan suara berat, “Cayhe akan membuka jalan bagi kalian, harap Yok Ong berjalan ditengah rombongan”.

“Siauw-heng, loohu ada satu persoalan yang makin kupikir makin tidak kumengerti, dapatkah kau menjelaskannya kepadaku?”

“Persoalan apa?” walaupun Siauw Ling sudah tahu apa yang hendak ditanyakan si raja obat ini, namun tak tahan ia bertanya pula.

“Mengapa kau lepaskan orang she Song itu? tindakanmu ini bukankah suatu tindakan yang bodoh? apabila ia masih berada disini, seandainya kita sampai bertemu dengan mara bahaya, bukankah tak perlu kita coba sendiri?”

“Semua tanggung jawab serahkan saja kepada aku orang she Siauw, harap Yok Ong tak usah menguatirkan tentang persoalan ini”.

Selesai berbicara, ia segera melangkah maju kedepan.

Tok Chiu Yok Ong tidak berbicara apa2 lagi, dengan langkah lebar ia menyusul dibelakang Siauw Ling, dan sebagai penutup barisan adalah Tiong Chiu Siang Ku yang jalan bersanding.

Kurang lebih setelah mereka masuk empat lima tombak ke dalam lorong tersebut dan telah melewati empat lima buah tikungan, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang, “Berhenti!”

Siauw Ling menurut dan segera berhenti. sesuai dengan peraturan Bu-lim dengan cepat ia menjura lalu berkata ;

“Cayhe Siauw Ling, ada urusan hendak mohon dengan tuan rumah ini.”

Perempuan di dalam gua ini rupanya merasa tercengang atas sikap Siauw Ling yang sungkan, ia rada tertegun sejenak kemudian baru menyahut ;

“Apabila Cuwi sekalian ada maksud hendak bertemu dengan majikan kami sudah sepantasnya kalau menunggu diluar gua, perbuatan kalian yang menerjang masuh ke dalam gua terang2an ini menunjukkan apabila kalian mengandung maksud tertentu”.

“Hemmm, anggap saja kami punya maksud lain, kalian mau apa?” sela Tok Chiu Yok Ong.

“Siapa kau? begitu tak tahu adat dalam pembicaraan?” bentak suara tadi dengan gusar.

“Loohu adalah si Raja Obat Bertangan Keji!”

“Belum pernah kami dengar nama anda!”
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 29"

Post a Comment

close