coba

Bayangan Berdarah Jilid 28

Mode Malam
JILID 28

Cinta kasih seorang ayah terhadap putrinya nampak jelas diatas wajah si raja obat yang tersohor akan kekejamannya itu.

Gadis berambut panjang itu mendadak tersenyum sehingga nampak sebaris giginya yang putih bersih.

“Ooouw ayah! di dalam ingatanku, kali ini boleh dikata aku sadar dalam keadaan yang paling bagus. bukankah perkataan yang kuutarakan sangat banyak sekali?”

Benar anakku, belum pernah kau mengucapkan kata2 yang demikian banyaknya seperti ini hari.”

“Tetapi sedikitpun aku tidak merasa kecapaian.”

Bibir si raja obat itu bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, namun akhirnya ia batalkan maksudnya itu.

Jarang sekali ia menjumpai putrinya tersenyum, saat ini tatkala ia jumpai putrinya tampak gembira, si orang tua ini merasa tidak tega untuk menghalanginya.

“Siauw Ling” gadis itu berkata kembali. “Ayahku bilang seandainya darah dalam tubuhku telah diganti dengan darahmu maka aku bisa sembuh dari penyakit ini, dan kesehatanku bisa pulih kembali seperti orang lain, benarkah ucapannya ini?”

Tok Chiu Yok Ong melototkan sepasang matanya bulat2 dan mengawasi wajah Siauw Ling dengan sinar mata memohon.

Siauw Ling menghela napas panjang.

“Aaai…. ayahmu pandai sekali dalam ilmu pertabiban, mungkin apa yang ia ucapkan memang tidak salah”.

“Apakah kaupun percaya dengan perkataan ayahku?”

Sementara Siauw Ling hendak menjawab, Si raja obat bertangan keji telah berbicara lebih dahulu.

“Bagaimana? ayahmu tidak membohongi dirimu bukan!”

Gadis berambut panjang itu meraba jidat Siauw Ling, dan berkata, “Siauw Ling, tahukah kau setelah darah dalam tubuhmu diberikan kepadaku, setelah jiwaku tertolong bagaimanakah keadaanmu?”

“Sukar diduga mati hidupku!”

“Tidak bakal mati!” sela si raja obat.

Gadis itu menarik kembali tangannya dari jidat sianak muda itu, terusnya.

“Setelah kau menolong jiwaku yang tak berguna ini, maka kau akan mati dan selamanya terkubur di dalam tanah….”

Siauw Ling menghela napas panjang, pikirnya

“Selama belasan tahun ia berbaring dalam keadaan sakit, semestinya dalam hati gadis ini mempunyai cita2 untuk hidup yang sangat kuat, mengapa ia malahan tidak memilikirkan keselamatan sendiri barang sedikitpun….”

Terdengar gadis itu berkata lagi.

“Apabila kau sudah tahu bahwa kau bakal mati setelah darah dalam tubuhmu dialirkan ke dalam tubuhku, kenapa kau tidak menampik permintaan dari ayahku?”

“Ilmu pertabiban yang dimiliki ayahmu tiada tandingannya dikolong langit, dia telah beritahu kepadaku, seandainya pergantian darah ini dilakukan dengan hati2 maka jiwaku tidak akan sampai mati binasa”

“Aaai…. antara kau dan aku tiada hubungan sanak maupun keluarga, bahkan kitapun tidak saling mengenal, kenapa kau rela memberikan darahmu untuk menolong jiwaku?”

“Ayahmu paksa aku berbuat demikian, siapa yang kesudian menolong dirimu?” pikir Siauw Ling di dalam hati.

Sementara ia hendak menjawab, Tok Chiu Yok Ong telah berkata lebih dahulu.

“Siauw kongcu ini adalah seorang pendekar sejati yang berjiwa besar dan berhati bijak, karena ia melihat kau cerdik lagipula menawan hati namun sepanjang tahun selalu menderita sakit, maka ia merasa sayang dan rela untuk memberikan darahnya untuk menolong jiwamu”.

“Ooouw…. ayah, cintamu padaku benar2 dalam bagaikan lautan. tetapi perbuatan serta tingkah lakumu justru merupakan hal2 yang tidak kusukai….”

“Bocah. dimanakah letak kesalahanku?”

“Bukankah orang lain berbuat demikian karena terpaksa dan didesak olehmu terus2an? kenapa ayah bilang dialah yang rela menyerahkan darahnya untuk menolong jiwaku?”

“Tentang soal ini…. tentang soal ini….”

Sinar matanya mendadak dialihkan ke atas wajah Siauw Ling tegurnya dingin.

“Siapa suruh kau ngaco belo?”

Suatu perasaan kesal dan mangkel muncul dari dasar hati Siauw Ling, sementara ia hendak mengumbar hawa amarahnya mendadak sinar matanya terbentur dengan tubuh sang gadis yang sudah belasan tahun menderita sakit itu, ia merasa iba sekali.

Maka per-lahan-lahan ia berkata.

“Nona apa yang diucapkan ayahmu sedikitpun tidak salah, aku memang rela memberikan darahku untuk menolong jiwamu.”

“Bocah, maksud baik dari Siauw-thayhiap tidak sepantasnya kalau kau sia2kan”

Gadis berambut panjang itu menghela napas panjang.

“Aaai…. kalau demikian keadaannya aku semakin tidak bisa menerima kebaikan hatinya ini”

“Kenapa?”

Sekilas rasa sedih berkelebat diatas wajahnya yang pucat, sahut gadis itu ;

“Kau pernah melepaskan darah dalam tubuhnya dan aku telah mengunci lima naga untuk membalas budinya, kini diantara kita berdua sudah tidak hutang apa2 lagi seandainya sekarang kau hendak menggunakan darahnya lagi untuk menolong jiwaku, ayah! kau suruh aku membalas budi kebaikannya dengan apa?”

“Bocah! kau sudah tiba pada saat yang tak bisa di-tunda2 lagi, sekalipun aku bermaksud memperpanjang hidupmu namun sekarang aku sudah tak sanggup lagi, apakah kau benar2 tega membiarkan ayahmu merasakan pukulan batin yang lebih hebat?”

Per-lahan-lahan gadis itu mencekal tangan kanan Tok Chiu Yok Ong dengan tangan kanannya yang kurus kering, lalu berkata dengan lembut ;

“Ooouw…. ayah! kalau begitu biarkanlah putrimu mati dalam keadaan suci bersih dan tak bernoda!”

“Wan-jie, seandainya kau mati bagaimana dengan diriku? usiaku sudah lanjut, apakah kau suruh aku hidup seorang diri?”

Dari kelopak mata sang gadis yang cekung mengucur keluar titik-titik air mata.

“Ayah! jika kau menolong jiwaku dengan menggunakan darahnya, kau akan membuat aku menanggung sesal sepanjang masa, daripada demikian lebih baik biarkanlah putrimu mati dengan hati tenang!”

“Wan-jie!” tiba-tiba Tok Chiu Yok Ong angkat telapak kanannya. “Apabila kau tidak mau mendengarkan perkataan ayahmu, akan kutotok jalan darahmu dan segalanya akan berjalan dengan kekerasan!”

“Ayah, bilamana kau ingin berbuat demikian maka putrimu akan mati lebih dahulu!”

Sementara Tok Chiu Yok Ong akan menjawab, mendadak dari luar gua berkumandang datang suara dari si sie-poa emas, “Yok Ong, bagaimanakah keadaan dari siauw toako kami? apakah cayhe boleh turun untuk menjenguknya?”

“Aku sangat baik, tak usah kalian masuk kedalam” sahut Siauw Ling cepat.

Tatkala Sang Pat mendengar suara jawaban ini berasal dari Siauw Ling, segera serunya kembali, “Toako, baik baiklah berjaga diri. Siauw-te sekalian akan menanti diluar gua….”

Maksud dari ucapan itu jelas sekali menunjukkan bahwa mereka sudah siap menerjang ke dalam gua apabila Siauw Ling memberi tanda.

Terdengar suara Tu Kioe yang dingin kaku berkumandang datang ;

“Yok Ong, setiap satu jam kami berdua akan memeriksa keadaan dari toako kami atau mendengar suaranya, apabila keadaan tidak beres hati2 dengan selembar jiwa anjingmu”

“Sebelum mendapat ijin loohu, kalian dilarang masuk kedalam. Apabila kalian membangkang loohu tidak mau tanggung seandainya jiwa Siauw Ling terancam bahaya”

“Diluar gua kami sudah menyiapkan banyak sekali kayu2 kering, apabila toako kami menemui suatu kejadian yang ada diluar dugaan. Hmm! akan kupersilahkan Yok Ong serta putrimu menginap terus disini untuk selamanya….”

“Sekalipun kalian melepaskan api, belum tentu kamu berdua bisa mengurung diri loohu”

“Tetapi putrimu tidak akan tahan merasakan siksaan yang amat dahsyat itu….

Tok Chiu Yok Ong mendengus dingin, ia tidak menggubris Tiong Chiu Siang Ku lagi, sambil berpaling dan memandang sekejap ke arah putrinya ia berseru. “Wan-jie, sudah kau dengar?”

“Sudah!”

“Untuk menolong selembar jiwamu, aku telah bersusah payah dan putar otak peras keringat; apakah kau sama sekali tak dapat menghargai susah payah ayahmu ini?”

“Aaaai….! menolong jiwaku tapi mencelakai orang lain, apa gunanya?”

“Aku tanggung setelah melepaskan darah dalam tubuhnya, Siauw Ling masih berada dalam keadaan sehat wal-afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.”

“Ayah. Sudahlah…. lebih baik bawalah aku kedepan kuburan ibuku, bangunlah sebuah gubuk disana, mungkin karena pengaruh hawa gunung kesehatanku bisa pulih kembali seperti orang lain.”

Kendati Tok Chiu Yok Ong memiliki ilmu pertabiban yang lihay, ilmu silat yang luar biasa namun ia tak sanggup menghadapi putri kesayangannya sendiri. terdengar ia menghela napas panjang.

“Wan-jie aku mempunyai satu akal, mungkin dengan cara ini hatimu akan merasa lebih tenteram.”

“Apakah caramu itu?”

“Cara ini harus mendapat persetujuan lebih dulu dari Siauw-heng” kata si raja obat itu sambil berpaling ke arah sianak muda tersebut.

“Katakanlah lebih dahulu dan akan cayhe dengar, setelah itu cayhe baru akan beri keputusan.”

“Soal ini loohu harus bertanya lebih dahulu kepada siauw-li, kemudian baru bisa minta pendapat dari Siauw-heng.”

“Persoalan apa sih?” tanya gadis itu.

Tok Chiu Yok Ong tertawa.

“Seandainya aku menjodohkan dirimu dengan Siauw Ling lebih dulu kemudian baru menolong jiwanya dengan darahnya, hatimu tentu akan tenteram bukan?”

Mula2 gadis itu rada tertegun kemudian tertawa getir.

“Putrimu jelek dan tinggal kulit pembungkus tulang, apakah ayah tidak tahu akan hal ini?”

“Wan-jie, hal ini disebabkan kau sudah terlalu lama disiksa oleh penyakit maka kau jadi kurus dan tinggal kulit pembungkus tulang, suatu saat penyakitmu telah sembuh, kecantikan wajahmu akan pulih kembali. bukannya aku sengaja mengibul, gadis cantik yang ada dikolong langit ini mungkin sukar untuk menandingi kehebatan dirimu”

“Aaaai…. sejak aku mengerti urusan, wajahku selalu begini, sekalipun ayah menyanjung diriku setinggi langit, belum tentu bisa menambah beberapa bagian kecantikan wajahku”

“Wan-jie apa yang aku katakan adalah kata2 sejujurnya, kenapa kau begitu tak percaya dengan perkataanku?”

Dengan tangannya yang kurus gadis itu meraba wajahnya sendiri, lalu katanya, “Ayah, engkau kepingin mau menjodohkan putrimu dengan orang lain bukankah hal ini disebabkan karena kau membunuh orang itu.”

Wan-jie, asal kau mau maka aku bisa merundingkan persoalan ini dengan diri Siauw Ling.”

“Aaai…. jadi kau hendak menjodohkan aku dengan dirinya yang kemudian akan menggunakan darahnya untuk menolong jiwanya.”

“Memang demikian adanya.”

“Aku bisa hidup dia mati, bukankah putrimu harus menjanda terus sampai akhir hayatku!”

Ayah dan anak dua orang ini saling jawab menjawab se-olah2 disisi mereka sama sekali tidak ada orang.

Haruslah diketahui sejak kecil ia menderita sakit, selama belasan tahun sebagian besar waktunya dihabiskan dalam keadaan tidak sadar jarang pula ia berbicara dengan orang lain, dengan sendirinya rasa malu yang ada di dalam hatinya sangat tipis. apa yang ia pikirkan segera diutarakan secara gamblang.

“Seandainya kau benar2 jadi bininya Siauw Ling, dus berarti aku adalah mertuanya, coba kau pikir masa ada mertua ingin mencelakai menantunya? tentu saja aku akan berusaha keras untuk mempertahankan jiwanya!”

Rupanya gadis itu sudah terlalu banyak menggunakan tenaganya, ia tampak lelah dan tidak bicara lagi, sambil pejamkan matanya ia bersandar di dinding goa.

Per-lahan-lahan sinar mata si Raja Obat Bertangan Keji itu dialihkan ke atas wajah Siauw Ling kemudian menegur.

“Siauw Ling, apa yang barusan loohu bicarakan bersama siauw-li, tentu sudah kau dengar semua bukan?”

“Aku lihat Yok Ong tak perlu buang tenaga dengan percuma”.

“Kenapa?”

“Walaupun cayhe tidak ingin mencampuri urusan kalian berdua, tetapi berhubung persoalan ini ada hubungannya dengan diriku, maka terpaksa cayhe harus ikut mencampurinya”.

Aku hendak menjodohkan seorang gadis yang begini cantik sebagai istrimu, apakah perbuatanku ini salah?”

Siauw Ling tertawa hambar.

“Pada saat ini menyembuhkan penyakit putrimu jauh lebih penting daripada persoalan lain, labih baik kita tak usah membicarakan soal yang tak berguna”.

“Tidak bisa jadi, kita harus bicarakan dulu sampai jelas”.

“Tidak usah dibicarakan!”

“Tidak, harus diterangkan lebih dahulu”

Siauw Ling termenung kemudian berpikir.

“Walaupun Tok Chiu Yok Ong menjengkelkan tetapi putrinya amat ramah dan penuh welas kasih, aku tak boleh melukai hatinya….”

Segera ujarnya.

“Cayhe telah dijodohkan dengan gadis lain maka maksud baik ini tak bisa kuterima”.

“Aku kira persoalan besar apa yang meragukan hatimu, kalau soal ini sih gampang sekali bereskan saja dirinya atau biarlah loohu yang turun tangan menbinasakan gadis itu”.

“Suatu akal yang keji….” batin sianak muda itu, namun ia tersenyum dan berkata ;

“Sekalipun akal dari Yok Ong baik, sayang ilmu silat yang dimiliki orang itu sangat lihay, penjagaan yang ada disekitar rumahnya pun ketat, sulit untuk didekati.”

“Tidak mengapa, asal kau beritahukan kepada loohu siapakah orang itu, hal itu sudah cukup. sekalipun dia adalah putri dari sri baginda sekarangpun loohu akan cari akal untuk membinasakannya.”

Siauw Ling pejamkan matanya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Kiranya jawaban sianak muda itu hanya bermaksud untuk menghindarkan diri dari desakan lawan, maka tatkala ditanya namanya ia membungkam dan tak sanggup menjawab.

“Kenapa tidak kau katakan? apakah kau sedang membohongi diri loohu?” kembali si raja obat bertangan keji itu menegur dengan nada yang dingin.

“Seandainya urusan ini terbongkar, perasaan putrinya akan tersinggung.” pikir Siauw Ling.

Saking cemasnya buru-buru ia berseru, “Apa yang cayhe ucapkan adalah kata2 yang sejujurnya.

“Kalau memang jujur, kenapa kau tidak dapat menyebutkan nama gadis itu!”

“Apakah Yok Ong ingin mengetahuinya?”

“Tentu saja aku ingin tahu!”

“Sekalipun kuucapkan, belum tentu Yok Ong suka percaya maka aku kira lebih baik tak usah dikatakan saja.”

“Haa…. haa…. sudah setengah umur loohu berkelana di dalam dunia persilatan tidak pernah kubiarkan orang lain menyebrangi pasir ke dalam kelopak mataku,”

Karena didesak terus menerus Siauw Ling semakin bingung, dalam keadaan gelisah mendadak ia teringat akan putri dari Pak-Thian Coen Cu, segera pikirnya, “Urusan sudah jadi begini, terpaksa aku harus menggunakan namanya untuk menghindari rasa malu yang bakal kuterima ini hari.”

Karena berpikir demikian maka jawabnya, “Yok Ong, tahukah kau akan Pak Thian Coen Cu?”

“Pernah kudengar namanya, aku rasa orang ini jarang sekali datang kedaratan Tionggoan….

“Tidak salah, selama ini ia berdiam di dalam istana Es yang terletak di samudra Pak-Hay, tidak pernah ia mencampuri pertikaian yang ada didaratan Tionggoan, tetapi belakangan ini sering kali ia muncul disini, bahkan selama lima tahun belakangan paling sedikit Pak Thian Coen Cu sudah dua kali memasuki daratan Tionggoan, entah Yok Ong tahu tidak akan jejaknya?”

“Ehmm, sedikitpun tidak salah” Tok Chiu Yok Ong mengangguk.

“Sejak memasuki daratan Tionggoan untuk kedua kalinya, hingga detik ini ia belum meninggalkan tempat ini, aku rasa Yok Ong pun mengetahui bukan akan berita ini?”

“Tidak salah, pada saat ini ia sedang bersiar disekitar daerah Kanglam….”

“Tahukah Yok Ong bahwa dalam perjalanannya kedaratan Tiongoan kali ini, ia telah membawa serta putrinya?”

“Pembantunya sangat banyak, benarkah dia membawa serta putri kesayangannya loohu tidak berani memastikan”.

“Baik, sekarang cayhe hendak memberitahukan kepada diri Yok Ong, dia telah datang ke daratan Tionggoan ber-sama2 putrinya”.

“Kenapa? apakah kau mempunyai hubungan istimewa dengan putrinya Pak Thian Coen Cu?”

“DItinjau dari nada ucapan Tok Chiu Yok Ong rupanya dia menaruh rasa jeri dan hormat terhadap diri Pak Thian Coen-Cu….” pikir Siauw Ling di dalam hati.

“Sedikitpun tidak salah, cayhe kenal dengan putrinya!”

“Kalau sudah kenal lalu bagaimana?”

“Setelah saling mengenal, kami telah jatuh cinta….”

“Jadi yang kau maksudkan sebagai tunanganmu adalah putri dari Pak Thian Coen Cu ini?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Loohu rada sangsi benarkah ucapanmu itu?”

Siauw Ling menghembuskan napas panjang lalu tertawa hambar, sementara dalam hati ia berpikir. “Lebih baik sih kau jangan sungguh2 percaya….”

Namun diluaran ia mengiakan.

“Apabila Yok Ong tidak percaya, akupun tak bisa berbuat apa2!”

Melihat tingkah lakunya yang ringan dan seenak sendiri, Si Raja Obat Bertangan Keji malah menaruh curiga.

“Orang ini berwajah tampan, lagipula gagah. Seandainya ia benar2 telah berjumpa dengan putrinya Pak Thian Coen Cu, memang tidak mengherankan apabila gadis itu tertarik kepadanya.”

Karena berpikir demikian, ia lantas berkata.

“Apakah kau anggap loohu benar2 tidak mampu untuk membinasakan putrinya Pak Thian Coen Cu?”

Dalam pada itu Siauw Ling telah pejamkan sepasang matanya, mendengar suara itu ia segera membuka matanya kembali dan mengerling sekejap ke arah si Raja Obat.

“Jadi Yok Ong punya keyakinan bahwa ilmu silatmu jauh berada diatas kepandaian silat Pak Thian Coen Cu?” serunya.

“Sekalipun ilmu silat yang loohu miliki masih bukan tandingannya, apakah aku tak dapat melukai dirinya dengan obat?”

Cayhe telah menyanggupi permintaan Yok Ong untuk menyumbangkan darahku guna menolong putrimu, mati hidupku sukar diramalkan, sekalipun jiwaku berhasil diselamatkan dalam waktu singkatpun sulit bagiku untuk menghalangi kemauan Yok Ong, maka aku rasa bicara lebih banyakpun tak berguna….!”

Berbicara sampai disitu, ia pejamkan matanya dan tidak menggubris diri Tok Chiu Yok Ong lagi.

Karena terdesak oleh keadaan ia telah mengucapkan kata2 yang kosong, kini hatinya terasa sangat tidak tenteram, teringat apabila berita ini sampai tersiar keluar sehingga merusak nama baik putrinya Pak Thian Coen Cu, entah betapa besarnya dosa yang telah dibuat.

Terdengar gadis berambut panjang itu menghela napas panjang lalu berkata ;

“Ooouw…. ayah, orang lain sudah mempunyai kekasih hati, aku rasa ayahpun harus melenyapkan maksud hati tersebut.

“Bocah, sekalipun apa yang ia ucapkan adalah kata sejujurnya, hal inipun tidak terlalu penting”

“Kenapa?”

“Dia kenal dengan putrinya Pak Thian Coen Cu, namun hubungan cinta mereka berdua belum diketahui oleh Pak Thian Coen Cu sendiri. Sebaliknya perkawinanmu dengan dirinya ditunjang sendiri oleh ayahmu, asal kita cari mak comblang dan mendahuluinya, aku rasa putrinya Pak Thian Coen Cu pun tak bisa berbuat apa2″

“Ayah, bukankah perbuatanmu ini sama halnya dengan suatu perkawinan yang dipaksakan.”

“Asal kau menyanggupi, aku bisa mengatur bagimu.”

Dalam hati gadis berambut panjang itu merasa cemas bercampur mendongkol, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan putrinya membungkam, Si Raja Obat Bertangan Keji segera tertawa ter-bahak2.

“Haa…. haa…. apabila kau tidak menampik, itu berarti kau sudah setuju untuk diatur olehku….”

Ia merandek sejenak kemudian serunya lantang.

“Kao-heng, Tu-heng silahkan masuk ke dalam gua. Loohu ada persoalan yang hendak dirundingkan dengan kalian berdua”.

Pada waktu itu Tiong Chiu Siang Ku yang menanti diluar goa sudah mulai merasa gelisah tetapi berhubung persoalan ini menyangkut mati hidupnya Siauw Ling maka mereka tak berani menerjang kedalam.

Kini mendengar sapaan dari Tok Chiu Yok Ong, tanpa membuang waktu lagi mereka segera melayang turun ke dalam goa.

Mula2 Sang Pat melirik dahulu sekejap ke arah Siauw Ling, kemudian baru bertanya.

“Yok Ong mengundang kami sekalian masuk kemari, entah ada urusan apa?”

“Apakah Yok Ong telah berobat niat?” sambung Tu Kioe dengan suara yang dingin.

“Loohu ingin menanyakan satu persoalan dengan kalian berdua!”

“Silahkan Yok Ong utarakan keluar, kami berdua akan mendengarkan dengan seksama.”

Tok Chiu Yok Ong berpaling dan melirik sekejap ke arah Siauw Ling, kemudian ujarnya.

“Benarkah kalian menginginkan agar loohu bisa menyelamatkan selembar jiwa Siauw Ling?”

Masalah ini merupakan syarat yang paling penting” jawab Tu Kioe. “Bukankah sudah berulang kali kami terangkan, apabila jiwa toako kami tak bisa dipertahankan maka putrimulah yang mula pertama harus menanggung penderitaan.”

Si Raja Obat Bertangan Keji tertawa hambar.

“Seandainya kalian berdua ingin menolong Siauw Ling, maka kalian harus pula melakukan suatu pekerjaan bagi Loohu!” katanya.

“Pekerjaan apa?”

“Loohu ingin merepotkan kalian berdua untuk jadi mak comblang, sebab loohu ingin mengawinkan putriku.”

Sang Pat melirik sekejap ke arah gadis berambut panjang yang kurus kering dan duduk bersandar diatas dinding itu, lalu tanyanya.

“Entah Yok Ong ingin menjodohkan putrimu dengan siapa?”

“Siauw Ling!”

“Dengan toako kami?” seru Sang Pat tertegun.

“Sedikitpun tidak salah….”

Tu Kioe mendehem ringan lalu berseru.

“Aku rasa putrimu rada tidak….”

Sebenarnya ia hendak mengatakan bahwa putrinya tidak sesuai untuk dijodohkan dengan toakonya, tapi sebelum kata2 tersebut sempat meluncur keluar lewat bibirnya mendadak ia teringat bahwa jiwa Siauw Ling masih berada di dalam genggaman Tok Chiu Yok Ong, maka buru-buru ia tutup mulut.

“Seandainya siauw-li benar2 telah dikawinkan dengan Siauw Ling, dus berarti dia adalah menantu loohu.”

“Waduhhh…. kalau begitu tingkatan kami jadi makin rendah setingkat….” pikir Sang Pat dalam hati.

Namun ia mengiakan juga ;

“Sedikitpun tidak salah!”

“Aku tidak ingin putriku kehilangan suaminya sebelum menikah sehingga membiarkan dia menjanda sejak muda!”

“Cengli sekali!”

“Maka dari itu, loohu pasti akan berusaha keras untuk mempertahankan selembar jiwanya Siauw Ling….

“Lebih baik lagi kalau tidak sampai melepaskan darah segarnya!” sela Tu Kioe.

“Asal kalian berdua suka bertindak jadi mak comblang sehingga perkawinan putriku dengan toako kalian berhasil, maka toako kalian pasti tak menderita siksaan akibat pelepasan darah ini”.

“Masalah ini menyangkut persoalan besar, kami tidak berani mengambil keputusan, hal ini harus dibicarakan dahulu dengan toako kami” kata Sang Pat.

“Dan alangkah baiknya kalau Yok Ong bisa menyingkir sebentar, agar pembicaraan kami bersaudara bisa berjalan dengan leluasa” sambung Tu Kioe.

Tok Chiu Yok Ong melirik sekejap ke arah putri kesayangannya, melihat ia pejamkan matanya se-olah2 sudah tertidur pulas si raja obat ini termenung sejenak, akhirnya ia membopong putri kesayangannya dan meninggalkan gua batu tersebut.

Sepeninggalnya Yok Ong, Sang Pat segera berjongkok dan berbisik lirih.

“Toako, apa yang diucapkan Si raja oabt bertangan keji apakah telah kau dengar semua?”

“Sudah!”

——————–

41

Apa yang dipikirkan si orang tua itu cuma mementingkan diri sendiri, ia tidak mau melihat dulu bagaimana sih tampang putrinya ngomel Tu Kioe. Sang Pat mendehem ringan, kemudian berkata, “Sejak jaman kuno hingga sekarang ada banyak orang yang cerdik tidak terlalu memikirkan soal tetek bengek, kenapa untuk sementara waktu tidak toako sanggupi permintaannya?”

“Masalah ini menyangkut nama baik seorang gadis, mana boleh kusanggupi permintaannya hanya sebagai suatu permainan belaka?”

“Demikian saja….” akhirnya Sang Pat berbisik “Toako tak usah bicara, semuanya biarlah siauw-te menanggapi, sehingga dikemudian hari Tok Chiu Yok Ong menegur, tanggung jawab ini bisa toako jatuhkan pada diri siauwte”.

“Aku lihat hal ini tak bisa dijalankan” sela Tu Kioe. “Si raja obat bertangan keji adalah seorang manusia pintar yang berotak panjang, mana dia sudi tertipu? ia tentu akan paksa toako untuk menyanggupi sendiri persoalan ini”.

“Aaai….! perhatian yang kalian berdua berikan kepada diriku membuat aku Siauw Ling merasa amat berterima kasih sekali, tetapi sebagai seorang lelaki sejati, berani menyanggupi harus berani pula bertanggung jawab, kita tak boleh sembarangan memberikan janji”.

Sang Pat menghela napas panjang.

“Siauwte rasa toako terlalu keras kepala dalam menanggapi masalah ini” katanya.

Pada saat itulah terdengar suara dari Tok Chiu Yok Ong berkumandang datang ;

“Bagaimana dengan hasil pembicaraan kalian bertiga?”

Sang Pat segera menatap wajah Siauw Ling dengan sinar mata memohon, ujarnya, “Toako, ijinkanlah siauw-te untuk menanggulangi masalah ini, biarlah aku yang menghadapi si raja obat tersebut”.

“Boleh, asal jangan sampai kau rusak nama baik orang lain, dan jangan memberikan janji yang tak menentu”.

“Loohu akan turun kebawah….” tiba-tiba terdengar Tok Chiu Yok Ong berseru.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu2 ia sudah berada di dalam gua kembali.

“Bagaimana dengan pembicaraan kalian bertiga?” tegurnya seraya meletakkan tubuh gadisnya ke atas tumpukan rumput kering.

“Toako kami….” kata Sang Pat sambil menggeleng.

“Apakah ia tidak menyanggupi pamitanku?” teriak Tok Chiu Yok Ong dengan gusarnya. “Apakah putri dari si raja obat bertangan keji tidak pantas jadi bininya?”

“Aku rasa Yok Ong pasti sudah tahu bukan akan watak dari toako kami, ia tak suka seenaknya memberi janji, tapi sekali berjanji sampai matipun tak akan menyesal”.

“Tidak salah. Siauw Ling memang mempunyai kegagahan seorang lelaki sejati dan kejujuran seorang koen-cu.”

“Seandainya ia dapat merubah sedikit saja dari tabiatnya, maka ini hari jangan harap Yok Ong bisa mendapatkan darahnya” sela Tu Kioe dingin.

“Loohu cuma ingin menanyakan masalah perkawinan putriku, apakah Siauw Ling sudah menyetujui?”

“Cayhe telah menyampaikan perkataan dari Yok Ong kepada toako kami.”

“Apakah ia menolak!”

“Seandainya ia menolak begitu saja, tentu saja persoalan ini tak usah dibicarakan lagi.”

“Lalu apa yang ia katakan!”

“Ia pejamkan mata membungkam dalam seribu bahawa, se-olah2 sama sekali tidak mendengar akan perkataan kami.”

“Heee…. heee…. heee…., arak kehormatan ditampik ingin cari arak hukuman, kau anggap loohu tidak punya cara untuk memaksa dia menyanggupi permintaanku ini?” jengek Yok Ong tertawa dingin.

“Cayhe cuma pernah mendengar kaum lelaki yang memaksakan suatu perkawinan, belum pernah kudengar kalau ada orang perempuan yang memaksakan perkawinan…. huuu…. sungguh aneh sekali.”

“Justru karena itulah sengaja hendak loohu lakukan agar mata kalian melek semua!”

“Kalau kau hendak memaksakan suatu perkawinan, hal ini semestinya tiada sangkut pautnya dengan pelepasan darah toako kami untuk menolong putrimu, rasanya sekalipun kami turun tanganpun tidak sampai melanggar perintah dari toako” sambung Tu Kioe dingin.

Serentetan cahaya yang menggidikkan hati terpancar keluar dari mata Tok Chiu Yok Ong, ia menyapu sekejap ke arah Tiong Chiu Siang Ku kemudian mengancam ;

“Apakah kalian berdua ingin menjajal kelihayan dari loohu?”

Tu Kioe mendengus dingin, dari sakunya ia ambil sebuah gelang perak lalu berkata.

“Dalam suatu petempuran, kedua belah pihak bebas menggunakan cara apapun, dan seandainya kami sampai salah tangan melukai putrimu, hal inipun terjadi karena apa boleh buat”.

Ucapan ini membuat Tok Chiu Yok Ong tertegun, lama sekali ia baru berteriak, “Kalian berdua adalah jago-jago kenamaan, seandainya kalian sampai memaksa atau melukai seorang gadis yang lemah dan berpenyakitan, macam beginikah yang disebut seorang enghiong?”

“Seandainya Yok Ong menggunakan racun, terpaksa cayhepun harus turun tangan melukai putrimu”

“Jadi kalian berdua hendak menggunakan kelemahan ini untuk menggertak loohu?”

“Ucapan Yok Ong terlalu berat, kami cuma berharap bisa membicarakan persoalan ini dengan diri Yok Ong secara tenang dan damai!”

Tok Chiu Yok Ong melirik sekejap ke arah putrinya lalu berkata;

“Silahkan kalian berdua berbicara!”

“Suatu transaksi perdagangan selamanya dimulai dengan tawar menawar, dan aku orang she Sang boleh dibilang termasuk salah satu jago yang sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini tetapi mengenai masalah jadi memanjang, belum pernah aku orang she Sang melakukannya, jadi apabila ada perkataan yang kurang sedap didengar moga2 Yok Ong bisa memaafkan”.

Si raja obat bertangan keji mendengus dingin. bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya maksud tersebut dibatalkan.

Sang Pat tertawa ter-bahak2 dan berkata, “Perkawinan anatara lelaki dan perempuan, meskipun terjadi atas perintah orang tua, namun dalam soal jodoh haruslah didasari dahulu oleh rasa saling cinta mencintai dari kedua belah pihak yang bersangkutan….”

“Nah itulah dia, sekarang bukankah loohu ada minat dan kalian berdua jadi mak comblang, apa yang dibutuhkan lagi….”

“Orang lain mencari menantu dasarnya muncul karena suka terhadap sang pria dan ingin putrinya bahagia, tetapi maksud Yok Ong mencari menantu adalah didasarkan karena maksud2 lain, maka dari itu aku lihat lebih baik masalah perkawinan kita bicarakan lagi setelah penyakit yang diderita putrimu telah sembuh”

Sinar mata Tok Chiu Yok Ong berkilat, ia tertawa dingin dan serunya, “Kalian berdua putar kayun sejauh itu kiranya mengandung maksud lain, sayang sekali aku si Raja Obat Bertangan Keji bukanlah seorang bocah yang baru berusia tiga tahun, tidak gampang aku kena ditipu orang, soal perkawinan boleh saja tak usah dibicarakan, Loohu akan menggunakan darah dalam tubuhnya untuk menolong jiwa putriku lebih dahulu….”

Ia merandek sejenak kemudian tambahnya, “Jadi kalian berduapun tak usah jadi mak comblang lagi, sekarang silahkan berlalu!”

“Bangsat! kau anggap kami berdua bisa dipanggil terus datang dihardik lantas pergi!” Tu Kioe mencak kegusaran. “Kau anggap kami adalah budak yang bisa diperintah?”

“Yok Ong, aku harap dalam berbicara tahulah sedikit kesopanan” tegur Sang Pat pula. kami Tiong Chiu Siang Ku bukanlah lampu lentera yang kehabisan minyak.”

Tu Kioe pun menjengek dingin, “Kami cuma pernah mendengar kehebatan Tok Chiu Yok Ong dalam penggunaan racun, belum kudengar kalau ilmu silat Yok Ong sangat lihay, ini hari kami berdua memang ada maksud untuk mohon petunjuk dari dirimu….”

Sejak semula Tiong Chiu Siang Ku memang sudah ada maksud untuk mencari kesempatan bisa bentrok dengan diri si raja obat ini.

Dan kini kesempatan baik yang di-nanti2kan telah tiba. tentu saja mereka tidak ingin melepaskannya begitu saja.

Air muka Tok Chiu Yok Ong berubah hebat, dengan gusar teriaknya, “Apabila kalian berdua ingin menjajal kelihayan loohu, jangan salahkan loohu akan bertindak kejam terhadap kalian berdua”

“Bagus sekali!” Sang Pat tertawa hambar. “Apabila Yok Ong memang sudah menantang perang secara blak2an. kami dua bersaudarapun terpaksa harus menerima tantangan tersebut, namun sebelum kejadian cayhe ingin menerangkan terlebih dahulu, kami cuma minta petunjuk ilmu silat Yok Ong, seandainya Yok Ong sampai menggunaka racun maka jangan salahkan kalau kami dua bersaudara sampai melukai putrimu….”

Dari dalam sakunya ia ambil keluar senjata sie-poa emasnya dan menambahkan ;

“Silahkan Yok Ong pun mencabut keluar senjatamu kalau mau bergebrak mari kita bergebrak sampai salah satu pihak modar.”

Tok Chiu Yok Ong benar2 amat gusar sehingga sepasang matanya berapi2 teriaknya seraya tertawa dingin.

“Ruangan dalam gua ini terlalu sempit kalau mau bertempur ayoh kira laksanakan diluar gua”

Sang Pat menggoyangkan senjata Sie-poa emasnya hingga menimbulkan suara berisik yang keras, ia geleng kepala.

“Selama maksud jahat orang masih terkandung badan, rasa was2 harus selalu ada di dalam hati, seandainya putrimu tak ada disisi kami dan Yok Ong menggunakan racun, bukankah kami dua bersaudara bakal jatuh kecundang ditanganmu?”

“Loohu berjanji tidak akan menggunakan racun terhadap kalian berdua.”

“Tahu orangnya tahu wajahnya belum tentu hatinya, aku rasa huruf Tok Chiu bertangan keji yang berada didepan Yok Ong atau Si raja obat bukan diberikan orang secara kosong. Menurut pendapat cayhe sekalipun bertarung ditempat inipun tiada salahnya.”

“Benar” Sang Pat menyambung. “Sekalipun kami berdua, namun kami tak akan turun tangan berbareng, cayhe akan mohon petunjukmu terlebih dahulu!”

Seluruh tubuh Tok Chiu Yok Ong gemetar keras, jelas hatinya merasa amat gusar hingga mencapai pada puncaknya, dengan nada gemetar teriaknya.

“Ini hari apabila kalian sampai melukai putriku, bukan saja kalian Tiong Chiu Siang Ku bakal mati konyol, bahkan seluruh umat Bu-lim pun akan tertimpa bencana yang besar, aku akan membuat badai berdarah diseluruh kolong langit untuk mengiringi kematian putriku.”

“Siapa menang siapa kalah sukar diduga mulai sekarang, Yok Ong pun tak usah mengucapkan kata2 semacam itu lebih dulu.” seru Tu Kioe. “Kami Tiong Chiu Siang Ku sudah berulang kali mengalami badai serta ombak yang bagaimana dahsyatpun, kami tak akan gentar dengan gertak sambalmu itu.”

Sang Pat segera menerjang kedepan dan berkata.

“Yok Ong, untuk menjaga gengsi kau pasti tak sudi turun tangan lebih dahulu. Nah, biarlah siauw-te mulai lebih dulu.”

Senjata sie-poa emasnya segera digetarkan, serentetan cahaya tajam yang berkilauan dengan cepat menghajar kedepan.

Tok Chiu Yok Ong menyingkir kesamping meloloskan diri dari ancaman, namun ia tidak melancarkan serangan balasan.

Walaupun dalam hati si raja obat ini merasa mendongkol setengah mati, namun teringat putrinya berada disitu dan takut dalam pertarungan nanti putrinya terluka, maka dengan paksa ia menekan hawa gusar yang berkobar dalam dadanya.

Sang Pat tertawa ter-bahak2.

“Bagaimana?” jengeknya. “Apakah Yok Ong ada maksud mengalah tiga jurus kepadaku?”

Senjata sie-poa emasnya diputar, dengan gerakan Burung bangau mementang sayap, ia hajar kembali tubuh musuhnya dari samping.

Sekali lagi Tok Chiu Yok Ong berkelit kesamping tanpa melancarkan serangan balasan.

Sementara Sang Pat hendak mendesak lebih jauh, tiba-tiba Siauw Ling membuka matanya dan menghardik ;

“Tahan!”

Sang Pat tidak berani membangkang, ia tarik senjata Sie-poanya dan mundur tiga langkah ke belakang.

“Toako, adakah petunjuk buat siauw-te?” tanyanya.

“Disini sudah tak ada urusan kalian lagi, silahkan kamu berdua mengundurkan diri,”

“Tapi…. Tok Chiu Yok Ong telah memandang siauw-te sekalian untuk bergebrak, persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan masalah toako….” bantah Tu Kioe.

“Tak usah bicara lagi, silahkan kalian mengundurkan diri dari gua batu ini!”

Tiong Chiu Siang Ku saling bertukar pandangan, akhirnya mereka menghela napas panjang dan mengundurkan diri.

Dengan pandangan tajam si Raja Obat bertangan keji menyaksikan kedua orang mengundurkan diri dari gua setelah itu ia baru mengundurkan diri ketempat semula.

Jalan darah Siauw Ling tertotok, sulit baginya untuk putar badan sehingga sulit baginya untuk melihat permainan setan apakah yang sedang dilakukan si raja obat tersebut, tapi teringat bahwa orang ini adalah jagoan yang pandai menggunakan racun, ia lantas menduga dia sudah membokong kedua orang saudaranya. tak tahan lagi segera tanyanya.

“Yok Ong, apakah kau telah melepaskan racun untuk membokong kedua orang saudaraku?”

“Kau orang she Siauw adalah seorang Koen-cu yang dapat dipercaya setiap perkataannya, kau boleh disebut seorang lelaki sejati, tetapi kedua orang saudaramu itu, loohu tidak berani menghadapinya.”

“Maka dari itu kau telah meracuni mereka secara diam2?”

“Itu sih tidak, hanya saja loohu telah menyebarkan racun keji disekitar gua batu ini, seandainya mereka hendak masuk kembali ke dalam gua untuk bikin keonaran lagi, jangan salahkan loohu kalau mereka bakal keracunan.”

Mendengar ucapan itu Siauw Ling menghela napas panjang.

“Aaai….! apabila Yok Ong ingin menolong jiwa putrimu, kitapun tak usah mengulur waktu lebih jauh, lebih baik totok saja jalan darah putrimu kemudian secepatnya mengganti darah rusak yang ada di dalam tubuhnya, setelah itu bawalah putrimu kesuatu tempat yang terpencil untuk merawat sakitnya, dengan demikian kesehatannya akan cepat pulih kembali.”

“Apabila terlalu cepat loohu melepaskan darahmu jiwamu bakal terancam mara bahaya”

“Sekalipun darahku dilepaskan secara per-lahan-lahanpun, cayhe belum tentu bisa hidup, setiap janji yang kuucapkan tidak pernah kusesalkan kembali, soal mati hidup sudah tidak pikirkan lagi”

Tok Chiu Yok Ong menghela napas panjang.

“Sudah puluhan tahun lamanya loohu melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, banyak pula kujumpai enghiong hoohan yang dikagumi banyak orang, namun belum pernah kujumpai manusia yang gagah perkasa dan berjiwa besar macam dirimu”

“Tak usah Yok Ong memuji diriku, aku berbuat demikianpun disebabkan keadaan yang terpaksa”

Tok Chiu Yok Ong ambil keluar tabung kulitnya, sambil mengangkat jarum panjang ujarnya.

“Selama beberapa tahun berselang loohu selalu berada ditengah gunung yang terpencil untuk mencari bahan obat2an yang mujarab dengan harapan berhasil menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit siauwli, siapa sangka jerih payahku selama banyak tahun sia2 belaka, maka dari itu terpaksa aku harus siapkan jarum panjang serta tabung kulit dengan harapan bisa menemukan seseorang yang bisa digunakan darahnya untuk mengganti darah siauwli yang telah rusak, orang yang berhasil kujumpai hanya Siauw-heng seorang. Aaai…. keadaan ini sebenarnya merupakan suatu keadaan yang terpaksa!”

Siauw Ling tidak menggubris perkataan orang per-lahan-lahan ia pejamkan matanya dan berkata, “Yok Ong, silahkan mulai melepaskan darah!”

“Perlukah loohu menotok jalan darahmu?”

“Seandainya Yok Ong tidak percaya dengan daya tahan cayhe, lebih baik totok saja jalan darahku”.

“Seandainya pelepasan darah ini hendak dilakukan cepat, Loohu harus menggunakan tenaga dalam untuk menggerakkan darah dalam tubuhmu disamping itu akupun harus mengurut beberapa buah jalan darah ditubuh siauwli, tatkala jarum menembusi urat walaupun penderitaan tidak begitu besar, tetapi pelepasan darah yang terlalu cepat bisa menimbulkan perasaan ngeri terhadap kematian, menurut pendapat Loohu, lebih baik kutotok saja beberapa buah jalan darahmu.”

“Pada saat ini keadaan aku orang she Siauw bagaikan seekor kambing yang hendak disembelih apa yang hendak Yok Ong lakukan tak perlu dirundingkan lagi dengan diriku.”

Tok Chiu Yok Ong pun tidak bicara lagi, ia menggerakkan tangan kanannya dan secara beruntun menotok dua buah jalan darah dari Siauw Ling, setelah itu katanya.

“Seandainya kutotok jalan darah pingsanmu, walaupun kau tak kenal penderitaan namun hal ini akan mempengaruhi kelancaran dari peredaran darahmu, terpaksa aku minta Siauw-heng suka bersabar sebentar.”

Jalan darah bisu Siauw Ling sudah tertotok, walaupun ia dapat mendengar ucapan tersebut namun sulit baginya untuk menjawab.

Terasa lengan kirinya amat sakit, jarum panjang yang berlubang ditengahnya itu telah ditusukkan ke dalam urat nadinya.

Diikuti sebuah telapak ditekankan ke atas dadanya, segulung tenaga dalam segera menyerang keisi tubuhnya.

Dengan adanya tekanan ini, peredaran darah dalam tubuhnya mengalir semakin cepat, segera lapat2 ia dapat mendengar suara gemerisikan yang halus sekali.

“Mungkin kali ini aku bakal habis sudah….” pikir Siauw Ling di dalam hati.

Sementara ia masih berpikir, mendadak lengan kirinya terasa mengendor, jarum yang menembusi urat nadinya mendadak dicabut orang, sedangkan telapak yang menekan didepan dadanya pun ditarik kembali.

Terdengar suara helaan napas panjang dari si Raja Obat Bertangan Keji bergema memecahkan kesunyian diikuti ia menegur.

“Bocah, apa yang kau lakukan?”

“Ooouw…. ayah, bukankah kau hendak menjodohkan aku dengan diri Siauw Ling?” tanya sang gadis dengan suara yang lemah.

“Sedikitpun tidak salah! setelah Siauw Ling setuju untuk mengawini dirimu sebagai istrinya, kendati kau terima darahnya dan aku rasa bukan suatu hal yang patut disesalkan.”

“Aku tidak percaya dengan perkataan ayah, dia gagah lagi tampan, mana ia sudi kawin dengan aku yang jelek tak ketulungan ini.”

“Wan-jie, kau jangan lupa bahwa ayahmu adalah seorang tabib sakti yang tiada ada tandingannya dikolong langit, dan kau adalah putri kesayanganku, asal kau senang dengan seseorang, orang itu harus kawin dengan dirimu.”

“Apabila kau inginkan aku percaya, maka Siauw Ling mengakui sendiri dihadapanku!”

Permintaan putrinya ini membuat Tok Chiu Yok Ong merasa serba salah sama sekali ia termenung kemudian baru berkata ;

“Baiklah! tetapi kaupun harus menyetujui lebih dahulu sebuat syaratku….!”

“Apakah syaratmu itu?”

“Seandainya Siauw Ling telah mengakui dihadapanmu bahwa dia hendak mengawini dirimu, kau harus menurut perkataan dari ayahmu dan menerima darahnya. Aaai…. Wan-jie, selamanya kau memikirkan nasib orang, kenapa tidak memikirkan pula rasa sayang ayahmu terhadap kau?”

“Bebaskan dulu jalan darahnya, biarlah dia mengucapkan sendiri kata2 tersebut….”

Tok Chiu Yok Ong dibikin apa boleh buat terpaksa ia bebaskan jalan darah Siauw Ling diikuti ujarnya dengan ilmu menyampaikan suara ;

“Siauw-heng, pepatah kuno mengatakan: mau bunuh orang bunuhlah sampai mati, mau menolong orang menolonglah sampai hidup, mau menghantar Buddha hantarlah sampai See-Thian, setelah kau sanggupi untuk menolong putriku, aku harap kau suka membantu sampai selesai”

Per-lahan-lahan Siauw Ling membuka matanya memandang sekejap ke arah si Raja Obat Bertangan Keji, menyaksikan wajahnya yang penuh dengan nada memohon ia tidak tega, setelah menghela napas, matanya dipejamkan kembali.

Terdengar gadis itu berkata, “Siauw Ling, ayahku bilang kau hendak mengawini diriku, perkataannya bohong bukan?”

Sekali lagi Siauw Ling membuka matanya, tampak Tok Chiu Yok Ong pada waktu itu sedang memandang ke arahnya dengan keringat dingin yang mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh wajahnya, ia lantas menjawab, “Ayahmu sedikitpun tidak membohongi dirimu”

“Kau suka mengawini diriku sebagai istrimu, tahukah kau siapa namaku….?” tanya gadis itu sambil tertawa.

“Bukankah kau bernama Wan-jie?” ujar Siauw Ling setelah termenung sejenak.

“Ayah membohongi aku karena dia hendak menolong jiwaku, agar aku suka menerima darahmu sekarang kenapa kaupun membohongi aku? Wan-jie, adalah nama kecil yang diberikan ayah kepadaku, namaku yang sebenarnya adalah Lam-kong Giok”

“Lam-kong Giok. Aaai….! ayahmu pernah memberitahukan kepadaku, hanya untuk sesaat tak ingat lagi dalam benakku”

“Ooouw…. ayah! bebaskanlah jalan darah diatas lengan serta tubuhnya, agar ia bisa bangun duduk dan berbicara dengan aku”

“Bukankah ia sudah mengakui dihadapanmu? tak usah bicara lagi, kini kita harus melanjutkan pelepasan darah!”

“Ayah, kau masih ingat dengan suatu kejadian yang pernah terjadi dimasa lampau?”

“Kejadian apa?”

“Aku sudah lupa kejadian itu berlangsung ketika aku berumur berapa, tetapi aku masih ingat ayah memuji diriku. katanya: Oooh Wan-jie! kau memang amat cerdik sejak dilahirkan. persoalan yang ada dalam hati ayah selamanya tak dapat mengelabuhi dirimu.”

“Aaah benar putri dari Tok Chiu Yok Ong tentu saja sukar ditandingi orang lain.”

“Apabila ayah sudah tahu bahwa kau tak dapat membohongi diriku, kenapa setiap kali kau masih membohongi diriku?”

Tok Chiu Yok Ong melengak, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup diucapkan sepatah katapun.

“Ayah cuma tahu menolong diriku walau dengan pengorbanan bagaimana besarpun, seandainya aku mati bukankah susah payahmu selama ini pun bakal berakhir?”

“Ah….” Tok Chiu Yok Ong menghela napas panjang. “Sekalipun ayah membohongi dirimu, hal inipun kulakukan karena aku sayang sekali kepadamu!”

“Ayah, kalau kau benar2 menyayangi putrimu kau harus bebaskan jalan darah dari Siauw Ling nanti akan kuberitahukan satu cara untuk menolong diriku!”

“Kau amat cerdik, ayah percaya dengan perkataanmu!”

Tanpa banyak bicara lagi Si Raja Obat Bertangan Keji ini segera menggerakkan tangan kanannya dan membebaskan jalan darah Siauw Ling yang tertotok.

Per-lahan-lahan Siauw Ling duduk, tampak Lam-kong Giok yang kurus sedang bersandar diatas dinding sambil memandang dirinya dengan senyum dikulum.

“Ayah telah membebaskan jalan darahnya, Nah sekarang katakanlah apa caramu untuk menyembuhkan penyakit yang kau derita itu?”

Lam kong Giok memutar biji matanya yang bulat gede untuk memandang sepasang kaki Siauw Ling lalu menegur.

“Bukankah jalan darah pada sepasang kakinya belum dibebaskan?”

Mendengar perkataan ini Tok Chiu Yok Ong segera tertawa ter-bahak2.

“Haa…. haa…. Wan-jie, selama banyak tahun, jarang sekali kau berada dalam keadaan sadar seperti hari ini”.

Seraya berkata ia menepuk bebas jalan darah disepasang kaki sianak muda itu.

“Ilmu pertabiban yang ayah miliki tiada tandingannya dikolong langit, benarkah itu?”

“Tentu saja benar”.

“Aku mempunyai satu persoalan yang tidak kupahami, dapatkah ayah menerangkan kepadaku?”

“Persoalan apa?”

“Mengapa darah dari Siauw Ling dapat digunakan untuk menolong jiwaku?”

“Gampang sekali, hal ini disebabkan ia pernah makan sejenis obat sehingga membuat darahnya berbeda dengan darah orang lain”.

“Nah, itulah dia, jadi darah yang ada ditubuhnya bukanlah darah mujarab yang dibawanya sejak lahir, kenapa ayah tidak menanyakan kepadanya benda apakah yang telah ia makan dan benda itu tumbuh dimana?”

Tok Chiu Yok Ong berseru tertahan dan menepuk batok kepala sendiri.

“Aaah, sedikitpun tidak salah, kenapa aku tak dapat berpikir sampai kesana?….”

Sinar matanya segera dialihkan ke arah Siauw Ling, katanya lebih jauh, “Apa yang diucapkan siauw-li, apakah sudah Siauw-heng dengar?”

“Sudah kudengar semua!”

“Seandainya Siauw-heng suka mengaku terus terang benda apakah yang telah kau makan dan benda tersebut tumbuh dimana, maka Siauw-heng pun tak usah memberikan darahmu untuk menolong putriku”

Siauw Ling termenung sejenak, kemudian menjawab, “Benda itu adalah sejenis tumbuhan berwarna abu2 yang berbentuk seperti payung dan tumbuh didinding sebuah tebing….”

“Aaah, benda itu adalah jamur batu berusia seribu tahun, benda inilah yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit putriku, entah benda itu tumbuh dimana?”

“Diatas sungai Soh-Kang diantara selat Sam Nia, sulit bagi cayhe untuk menyebutkan nama tempat itu”.

“Masih ingatkah kau dengan tempat itu?”

“Secara lapat2 masih ingat, mungkin tempat itu masih dapat kita temukan”.

“Kalau begitu bagaimana kalau Siauw-heng membawa loohu pergi kesitu?”

Siauw Ling termenung sejenak lalu mengangguk.

“Baiklah! tetapi cayhepun harus menerangkan lebih dahulu” serunya.

“Loohu akan mendengarkan dengan seksama, nah katakanlah!”

“Jamur batu itu tumbuh diatas dinding tebing yang letaknya disuatu tempat yang tidak nampak langit juga tidak nampak bumi, bahkan secara kebetulan telah cayhe makan hingga habis sebagian besar, sisanya tinggal sedikit sekali, lagipula daya ingat cayhe tentang tempat itu sudah samar sekali….”

“Tidak mengapa, asal kau masih ingat bahwa jamur batu itu belum kau makan sampai habis, itu sudah cukup”.

“Tempat itu dikelilingi oleh puncak2 gunung yang amat banyak serta saling bersambungan, dimanakah letak tepat dari dinding tebing yang ditumbuhi jamur batu itu cayhe sendiri tak bisa menunjukkan dengan tepat….”

“Apakah kau tak dapat ingat akan letak keistimewaan dari tempat itu?” tukas Yok Ong.

“Diatas dinding tebing itu terdapat sebuah air terjun yang amat besar sekali.”

“Asal ada tanda ini, rasanya tidak terlalu sulit untuk menemukan.”

Siauw Ling menghela napas panjang, katanya.

“Apa yang bisa cayhe ingat cuma begini minim, aku rasa bukan satu dua hari saja tebing curam yang terletak diantara be-ratus2 puncak itu dapat ditemukan. sedangkan kesehatan putrimu….”

Berbicara sampai disini mendadak ia membungkam.

“Dengan ilmu pertabiban yang loohu miliki, aku masih bisa menunda usianya selama sebulan lagi, seandainya dalam sebulan ini kau masih belum berhasil menemukan dinding tebing yang ditumbuhi jamur batu itu, terpaksa aku harus menggunakan darahmu untuk menolong jiwa putriku.”

“Tidak mengapa” mendadak Lam-kong Giok menyela. “Jangan dikata sebulan sekalipun dua bulan aku masih sanggup untuk mempertahankan diri.”

“Bocah, janganlah mengucapkan kata2 yang bersifat gurau,” tegur Tok Chiu Yok Ong dengan nada tercengang. “Kena apa kau berbicara yang bukan2? ilmu pertabiban yang aku miliki tiada tandingannya dikolong langit, menurut pemeriksaan nasib yang kulakukan, keadaanmu sudah tiba pada saat yang dinamakan lampu lentera kehabisan minyak, seandainya aku tidak mempunyai obat mujarab serta ilmu jarum, barangkali untuk hidup selama sepuluh haripun sulit bagimu, batas waktu sebulanpun sudah menguras hampir seluruh tenaga serta kemampuanku….”

Tidak memberi kesempatan bagi putrinya untuk berbicara, ia tarik napas panjang2 dan meneruskan.

“Siauw thay-hiap adalah seorang koen-cu yang pegang janji, ia tidak akan berubah niat sebelum janjinya terpenuhi. kini kau memberikan batas waktu dua bulan baginya, padahal aku tidak punya keyakinan untuk mempertahankan usiamu lebih dari sebulan, bukankah hal ini berarti kau akan menyusahkan diriku?”

“Ayah. Kau telah melupakan satu hal yang memberi tenaga bagiku untuk melanjutkan hidup.”

“Tenaga apa yang kau maksudkan?”

“Tenaga yang timbul dalam hatiku untuk melanjutkan hidup….”

“Wan-jie, kenapa secara tiba-tiba kau bisa timbul keinginan yang keras untuk melanjutkan hidup?!” tanya si raja obat bertangan keji setelah termenung sejenak.

Sepasang mata Lam kong Giok yang sayu mendadak dialihkan ke atas wajah Siauw Ling kemudian menyahut.

“Aku berbuat demikian agar ayah tidak melepaskan darahnya lagi untuk menolong jiwaku.”

Tok Chiu Yok Ong kembali termenung, kemudian ia tertawa terbahak2.

“Heee…. heee…. aku paham sudah.”

Merah jengah selembar wajah Lam-kong Giok yang kurus, per-lahan-lahan ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan ayahnya dan memejamkan sepasang matanya.

Tok Chiu Yok Ong segera berpaling ke arah Siauw Ling seraya menegur. “Siauw thayhiap, sudah kau dengar apa yang dikatakan siauwli?”

“Sudah”

“Kalau begitu bagus sekali, putriku telah menetapkan batas waktu dua bulan bagimu, walaupun aku adalah ayahnya namun akupun tidak ingin mengubah batas waktu yang ia tetapkan, salama dua bulan mendatang loohu tidak akan mengambil darahmu, tetapi selewatnya dua bulan apabila jamur batu berusia seribu tahun ini belum berhasil juga kau temukan, terpaksa aku harus meminjam darahmu lagi”

“Seandainya putrimu tak dapat hidup lebih dari dua bulan….”

“Hal ini harus dianggap sebagai takdir yang menentukan batas hidupnya, aku yang jadi ayahnya tak dapat berbuat apa2 lagi”

Tiba-tiba sekilas sinar mata yang amat tajam berkelebat diatas wajahnya, ia melanjutkan ;

“Tahukah kamu apa sebabnya putriku memberikan batas waktu selama dua bulan kepadamu?”

“Putrimu berhati welas, ia tidak tega mencelakai orang….”

“Karena ia sendiri tahu bahwa dia tak dapat hidup lebih dari dua bulan!….” tukas Tok Chiu Yok Ong dengan suara keras.

Siauw Ling jadi tertegun.

“Hal ini membuat cayhe semakin tidak paham”

“Siauw-li telah menaruh bibit cinta terhadap diri anda, ia rela mati dari pada mencelakai jiwamu.”

“Tentang soal ini…. tentang soal ini….”

“Tak usah tentang ini itu lagi, walaupun putriku ada maksud untuk menolong selembar jiwamu, tetapi aku Tok Chiu Yok Ong tidak mempunyai kebesaran jiwa untuk berbuat demikian”

“Lalu bagaimanakah menurut pendapat Yok Ong?”

“Apabila dalam sebulan kau gagal untuk menemukan kembali tebing curam yang ditumbuhi jamur batu tersebut, berarti putriku bakal mati namun berhubung dia punya janji lebih dahulu maka sekalipun ia bakal mati jiwanya tak dapat ditolong kembali, akupun tak bisa mengambil darah dalam tubuhmu. Oleh sebab itu seandainya putriku mati, jamur batupun tak usah kau cari lagi. Loohu akan mengubur tubuhmu dalam satu liang dengan putriku, agar dalam perjalanannya menuju kealam baka putriku bicara dan teman bergurau.”

“Jadi maksud Yok Ong, kau hendak mengubur tubuh cayhe ber-sama2 jenasah putrimu?” seru Siauw Ling dengan hati terjelos.

“Sedikitpun tidak salah, entah bagaimanakah menurut pendapatmu?” Siauw Ling tertawa hambar.

“Apa yang Yok Ong pikirkan benar2 bagus, namun belum tentu bisa cayhe setujui, apabila kau ingin membawa aku pergi mencari jamur batu berusia seribu tahun itu maka per-tama2 kau harus bebaskan dulu jalan darahku yang tertotok cayhe kan sudah menyetujui untuk memberikan darahku untuk menolong orang? kenapa kau hendak pula mengubur diriku bersama jenasahnya? Tetapi, apabila Yok Ong memang ada maksud berbuat demikian, cayhe pun akan memberikan satu cara kepadamu”

“Apa caramu itu?”

“Dengan mengandalkan kepandaian silat masing-masing. kita langsungkan susatu pertarungan yang akan menentukan mati hidup kita.”

“Ilmu silatmu sangat lihay, terdiri pula kepandaian2 sakti dari pelbagai perguruan Sekalipun loohu tidak akan sampai menderita kekalahan namun akupun tidak punya keyakinan untuk menang. Loohu tidak akan sudi melakukan pekerjaan yang begini menempuh bahaya….”

“Kecuali andalkan ilmu silat untuk menentukan mati hidup kita, cayhe belum dapat menemukan suatu cara lain yang bisa Yok Ong gunakan untuk memaksa aku dikubur bersama dengan jenasah putrimu”.

“Yaah…. bagaimanapun juga pengalaman dan pengetahuan orang muda memang jauh lebih cetek dari jago kawakan, apakah loohu tidak dapat membokong dirimu?”

“Membokong?” bagaimana kau hendak membokong?”

“Beritahukan kepadamu pun tidak mengapa, ilmu melepaskan racun dengan meminjam benda lain yang loohu miliki sudah tersohor dikolong langit, apabila batas waktu sebulan untuk menemukan jamur batu tersebut hampir habis dan kau belum berhasil juga menemukan benda itu, secara diam2 loohu akan melepaskan racun terlebih dahulu ke dalam tubuhmu, setelah putriku mati maka aku paksa kau untuk dikubur bersama putriku. saat itulah racun dalam tubuhmu bekerja, tentu saja kau takkan sanggup melawan kehendak loohu.”

“Tidak sepantasnya kau ceritakan rencanamu ini kepadaku, setelah cayhe tahu akan soal ini persiapan dan penjagaan atas keselamatan tubuhku tentu akan kutingkatkan!”

“Apabila kaupun bisa menghindari bokonganku bukankah gelar Si Raja Obat Bertangan Keji yang diberikan orang lain kepadaku hanya suatu nama kosong belaka.”

“Seandainya apa yang ia katakan adalah sejujurnya kemampuan orang ini benar2 mengerikan sekali” pikir Siauw Ling di dalam hati.

Diluaran ia lantas berkata.

Yok Ong, kaupun tak usah membual terlebih dahulu, rasanya belum terlambat apabila kita bicarakan persoalan ini dikemudian hari.”

“Loohu percaya kau takkan sanggup untuk menghindarkan diri….”

Ia merandek sejenak lalu katanya.

“Sekarang kita harus menetapkan lebih dahulu satu masalah penting.”

“Masalah apa?”

Kau belum memberikan persetujuan apakah suka mengantar loohu serta putriku untuk mencari jamur batu berusia seribu tahun itu”

“Dengan memandang diatas kebajikan hati putrimu sudah cukup membat cayhe untuk tidak menampik tawaran ini”

“Jadi kau sudah menyanggupi?”

“Mana…. mana…. apabila ucapanpun tak bisa dipercaya, dikolong langit tak ada orang yang bisa dipercaya lagi”

Telapak kanannya bergerak berulang kali membebaskan jalan darah Siauw Ling yang masih tertotok.

Setelah jalan darahnya bebas Siauw Ling pun meloncat bangun dan melepaskan otot2 kaki dan lengannya, kemudian bertanya, “Cuma kami bertiga saja?”

“Tiong Chiu Siang Ku mempunyai pengalaman serta pengetahuan yang luas, apabila kau bisa membawa serta mereka berdua, hal ini jauh lebih baik lagi”.

“Bila kubawa serta kedua orang saudaraku, apakah kalian ayah dan anak tidak merasa terlalu dipencilkan?”

Tok Chiu Yok Ong tertawa.

“Apabila membicarakan dalam soal ilmu silat, hanya kau seorangpun sudah cukup untuk menghadapi diriku, jadi sekalipun ditambah Tiong Chiu Siang Ku berduapun tiada berbeda bagiku”

“Maukah mereka ikut serta dalam perjalanan ini sulit bagi cayhe untuk menebaknya, aku harus ajak mereka untuk berunding lebih dahulu”.

“Menurut penglihatan loohu, sikap mereka berdua terhadap dirimu sangat menghormat, jangan dikata hendak kau ajak untuk ber-sama2 mencari jamur batu berusia seribu tahun, sekalipun hendak kau ajak mereka naik kegunung golok masuk kekuali minyak mendidihpun mereka berdua tidak akan menampik”.

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 28"

Post a Comment