close

Bayangan Berdarah Jilid 27

JILID 27

Memandang bayangan punggung Siauw Ling yang berlalu, Siauw HUjien menghela napas panjang.

“Aaai….! waktu masih kecil bocah ini amat lemah dan berpenyakitan, sungguh tak disangka setelah berlarian selama beberapa tahun ditempat luaran telah berubah jadi kuat dan kekar,” serunya. “Aaai….! keluarga Siauw kami cuma diberkahi keturunan seorang saja, apabila sewaktu kecil ia berbadan sehat, aku ingin sekali kawinkan dirinya dengan seorang gadis yang cantik”

Kim Lan serta Giok Lan sama2 tersenyum, namun mereka tak tahu harus menjawab bagaimana.

Memandang kedua orang dayang itu, Siauw Hujien berkata lebih jauh, “Kalian berdua berwajah bersih, menarik lagi pula cerdik. Apabila kalian suka, akan kusuruh Ling-jie untuk menerima kalian sebagai….”

“Hujien, budak sekalian tak punya rejeki sebaik itu” buru-buru Giok Lan menukas. “Maksud baik Hujien biarlah budak terima di dalam hati dengan rasa penuh terima kasih saja, asal dikemudian hari budak sekalian diperbolehkan melayani diri Hujien, hal ini sudah lebih dari cukup.

“Soal ini tak usah kalian kuatirkan, kita bicarakan dikemudian hari saja….”

Per-lahan-lahan nyonya Siauw pun berbaring kembali.

Dalam pada itu dengan langkah lambat Siauw Ling keluar dari gua, memandang keadaan cuaca ia merasa kentongan kedua sudah lewat, sianak muda itu menarik napas panjang dan per-lahan-lahan berjalan kedepan.

Pikirannya terasa kalut dan wajahnya kelihatan murung serta kesal, ia merasa banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, budi dari orang tuanya masih belum dibalas tapi ia sudah harus mati, apabila kematiannya disebabkan melakukan suatu perbuatan yang menggemparkan kolong langit it umasih agak terlalu mendingan, tapi ia harus berkorban demi menolong seorang gadis yang sama sekali tiada hubungannya dengan dia….

Karena melamun, tanpa terasa ia sudah berjalan sejauh dua li dari goa tersebut.

Mendadak terdengar suara yang sangat ia kenal berkumandang datang.

“Aku lihat cara ini tidak bagus, akal dari Siang-heng lebih tepat!” suara itu dingin dan tawar, itulah suara dari Tu Kioe.

Siauw Ling segera merasakan hatinya tergerak ia menghentikan langkah kakinya dan mendengarkan lebih jauh dengan seksama.

Angin gunung berhembus sepoi2 membuat daun dan rumput berbunyi gemirik, surar gemerisik itulah yang sudah menutupi langkah kaki dari Siauw Ling sehingga Tu Kioe sekalian sama sekali tidak sadar akan kehadiran sianak muda itu.

Terdengar suara Siang Hwie menyambung.

“Sang-heng, bagaimana tindakan kita selanjutnya? harap kau kasih jawaban!”

Sang Pat yang selalu tertawa haha hihi, mendadak menghela napas panjang dan berkata, “Selamanya akal aku orang she Sang paling banyak tapi karena peristiwa ini pikiranku kacau dan butek. Siauw toako, adalah seorang jujur dan selalu pegang janji, sekalipun kita berlutut dan mohon berulang kalipun belum tentu ia sudi mengingkari janji.”

“Kiem Lan serta Giok Lan dua orang dayang itupun menaruh rasa hormat terhadap Siauw toako mu itu, setelah ia memberi pesan agar kedua orang dayang itu jangan menceritakan peristiwa ini kepada Hujien, aku rasa mereka berduapun tidak akan berani buka suara.”

“Tidak salah aku lihat dengan terpaksa kita harus bertindak mengikuti cara dari sipencuri tua.”

“Bagus sekali, kalau memang demikian adanya sekarang juga aku sipencuri tua akan berangkat untuk mencari Be Boen Hwie.”

“Seandainya besok pagi Siauw-toako tidak menjumpai dirimu dan bertanya, apa yang harus kami jawab?” tanya Tu Kioe.

“Ia tak mungkin akan menanyakan diriku, seandainya yang tidak terlihat adalah Sang-Loo-toamu atau Tu-Loo-jie tentu ia akan bertanya se-dalam2nya sedang aku sipencuri tua, ia tak akan mengurusi diriku”

“Seandainya dia menanyakan hal ini?”

“Katakan saja kalianpun tidak tahu kemana aku pergi.”

“Baik, kita kerjakan demikian saja, kami tunggu kabar baikmu disini”

“Kalianpun harus segera pulang, daripada nanti menimbulkan kecurigaan di dalam hatinya”

Buru-buru Siauw Ling berkelebat dan menyembunyikan diri dibalik semak belukar.

——————–

40

Menanti Siauw Ling mengintip lagi keluar tampaklah tiga sosok bayangan manusia berkelebat keluar dari balik semak.

Tiong Chiu Siang Ku kembali kelembah sedang sipencuri sakti Siang Hwie berlalu seorang diri keluar lembah.

Walaupun dalam hati Siauw Ling tidak begitu tahu rencana mereka pasti ada hubungannya dengan peristiwa lima hari kemudian dimana ia akan menyumbangkan darahnya untuk menolong jiwa putri dari Tok Chiu Yok Ong.

Dalam hati diam2 pemuda ini merasa terharu pikirnya ;

“Sungguh tak nyana Tiong Chiu Siang Ku yang mencintai harta bagaikan jiwa sendiri serta Siang Wie yang tersohor dalam Bu-lim karena ilmu mencurinya begitu memperhatikan nasib teman…. apabila dikolong langit terdapat banyak orang yang berwatak demikian, maka dunia pasti aman.”

Namun pikiran lain segera berkelebat dalam benaknya, ia merasa seorang lelaki sejati lebih baik mati daripada mengingkari janji, ia harus berusaha untuk menghalangi niat mereka.

Berpikir sampai kesitu dengan langkah lambat segera balik ke dalam lembah.

Keesokan harinya ketika para jago sama2 berkumpul, tidak salah lagi sipencuri sakti Siang Hwie tidak nampak hadir diantara mereka.

Siauw Ling tetap bersabar untuk tidak menanyakan persoalan ini kepada diri Tion Chiu Siang Ku, kedua orang itupun pura2 tidak tahu Suma Kan lah yang kelihatan merasa heran, sehingga tak tahan lagi ia bertanya ;

“Kemana perginya Siang-heng?”

“Sipencuri tua itu sudah dasarnya punya watak suka mencuri, kalau tiga hari tidak mencuri barang, sepasang tangannya terasa jadi gatal, entah ia sedang mencuri dalam keluarga mana lagi?”

Mendengar ucapan itu diam2 Siauw Ling berpikir dalam hatinya.

“Apabila kemarin malam secara tak sengaja kudengar pembicaraan kalian, mungkin setelah mendengar perkataanmu itu aku jadi percaya seratus persen….”

Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam sekejap mata empat hari sudah lewat. Besok adalah waktu perjanjian antara Siauw Ling dengan Tok Chiu Yok Ong.

Semalam Siauw Ling tak bisa tidur, pikirannya terasa kalut sekali sebelum fajar menyingsing ia telah membangunkan Tiong Chiu Siang Ku sambil berkata ;

“Saudaraku berdua, masih ingatkah hari apakah ini hari?”

“Tentu saja ingat, bukankah ini hari adalah saat perjanjian antara toako dengan Tok Chiu Yok Ong untuk memberikan darah segar guna menolong putrinya?”

Kalau kelamaan Siauw Ling merasa pikirannya kacau, kini ia malah bisa tenangkan hatinya, sianak muda itu tertawa hambar.

“Daya ingatmu sungguh baik sekali.” pujinya.

“Aku rasa Tok Chiu Yok Ong mengucapkan kata2 itu sekenanya, belum tentu ia sungguh2 datang menepati janji” kata Tu Kioe.

“Seandainya ini hari ia tidak datang berarti ia sudah mengingkari janji, dikemudian hari toakopun tak usah pegang janji apabila bertemu kembali dengan dirinya” sambung Sang Pat.

“Apabila mengikuti watak Tok Chiu Yok Ong sejak pagi tadi ia pasti sudah tiba disini, selewatnya tengah hari nanti kitapun tak usah menantikan kedatangannya lagi”

Kiranya Tiong Chiu Siang Ku telah berjanji dengan Siang Hwie, apabila kentongan ketiga paa hari keempat ia belum balik juga, ini berarti sipencuri sakti itu sudah berhasil mengundang jago yang cukup ampuh untuk menghadang si raja obat tersebut, dan Tiong Chiu Siang Ku pun tak usah turun tangan sendiri.

Kemarin malam Siang Hwie tidak balik, dus berarti sipencuri sakti itu telah berhasil mengundang bala bantuan yang cukup tangguh.

Dengan mulut membungkam Siauw Ling mendengarkan pembicaraan kedua orang itu lalu sambungnya dengan hambar, “Sudah sepantasnya kalau kita sambut kedatangannya ditengah jalan….”

“Apa?” seru Tu Kioe dengan nada kaget, hampir saja ia loncat ke atas. “Kita harus menyambut pula kedatangannya?”

“Tidak salah, kita harus sambut kedatangan mereka berdua, kemungkinan besar ditengah jalan mereka akan menemui hadangan dari musuh2nya”.

Mendengar ucapan ini wajah Tu Kioe yang dasarnya sudah berwarna hijau membesi kini berubah jadi abu2, sepasang matanya melotot bulat2 dan berdiri disamping dengan mulut membungkam.

Sang Pat pun rada tertegun, tapi dengan cepat ia menggeleng.

“Tak usah, seandainya mereka berdua benar2 telah berjumpa dengan musuh besarnya, inilah keberuntungan kita, apa perlunya kita harus susah payah menyambut kedatangannya?”

“Seandainya benar2 tiada hubungan dengan kita sih mendingan, aku tahu justru hal ini ada sangkut pautnya dengan kita”.

“Apa sangkut pautnya?” seru Sang Pat serta Tu Kioe hampir berbareng setelah saling berpandangan sekejap.

“Seandainya Siang Hwie telah mengundang jago-jago lihay dan menghadang jalan pergi Tok Chiu Yok Ong berdua ditengah jalan, bukankah peristiwa ini ada sangkut pautnya dengan diri kita?”

“Hubungan Siang Hwie dengan toako biasa2 saja, aku lihat dia tak bakal buang tenaga besar itu”

“Tidak salah” Tu Kioe menyambung. “Aku lihat lebih baik toako jangan berpikir yang bukan2″

“Bagaimana seandainya Siang Hwie berbuat demikian dengan memandang diatas wajah kalian berdua? atau ia sudah menerima permintaan bantuan dari kalian berdua?”

Air muka Tiong Chiu Siang Ku berubah hebat mereka tak bisa mengakui, dengan ter-mangu2 kedua orang itu berdiri mematung ditempat semula.

Siauw Ling tersenyum, ujarnya kembali ;

“Selamanya saudara berdua selalu menghormati diriku dan tak pernah membangkang perintahku ini hari adalah saat ajal dari siauwlong kenapa kalian berdua malah tak mau mendengarkan perkataan siauw-heng?”

Saking terharunya Tiong Chiu Siang Ku mengucurkan air mata, mereka segera menjura dan menyahut ;

“Silahkan toako memberi perintah, toako minta kami terjun keair kami segera terjun keair suruh terjun kami keapi masuk keapi, apabila ucapan kami lain dihati lain dibibir, maka Thian akan membasmi kami dari muka bumi”.

Siauw Ling segera menjinjing jubahnya dan jatuhkan diri berlutut ke atas tanah, katanya, “Kedudukan saudara berdua dalam dunia persilatan sangat tinggi dan dihormati umat Bu-lim tapi kalian sudi menurunkan derajat sendiri dengan mengakui aku orang she Siauw sebagai kakak padahal pembicaraan soal usia serta tingkatan, aku masih bukan apa2nya kalau dibandingkan dengan kalian berdua….”

“Harap toako segera bangun berdiri” buru-buru Tiong Chiu Siang Ku pun jatuhkan diri berlutut ke atas tanah. “Kalau ada perkataan kita bicarakan secara baik2, kalau begini terus apakah toako ingin siauw-te belah dada dan korek keluar hati kami untuk menunjukkan kesetiaan kami?”

Siauw Ling tahu apa yang dikatakan kedua orang itu bisa dilakukan benar2, maka ia segera bangun berdiri.

“Cinta kasih saudara berdua membuat siauw-heng merasa amat berterima kasih sekali.” katanya.

“Selama hidup Tiong Chiu Siang Ku tidak pernah takluk kepada orang lain, tapi terhadap toako, rasa hormat kami melebihi apapun juga” sambung Sang Pat dengan air mata bercucuran.

“Apabila toako ada pesan katakanlah terus terang, perduli siauw-te sekalian mampu untuk melaksanakannya dengan kekuatan yang kami miliki atau tidak, tentu akan kami laksanakan dengan se-baik2nya, sekalian mati juga tidak menyesal.”

“Aku telah menyanggupi permintaan dari Tok Chiu Yok Ong, maka janji yang telah kuucapkan tak boleh diingkari kembali, budi yang diberikan ibu kepadaku dalam bagaikan lautan, sekalipun harus berkorban jiwa sudah jadi kewajibanku untuk menyelamatkan ibuku, maka setelah siauw-heng mati nanti aku sangat mengharap saudara suka merawat orang tua siauw-heng baik2, dengan demikian siauw-hengpun bisa mati dengan meram!”

Selesai mendengarkan perkataan itu mendadak Sang Pat mendongak dan tertawa ter-bahak2, suaranya keras bagaikan pekikan naga sakti sehingga menembusi angkasa dan menggema tiada hentinya.

“Apa yang kau tertawakan?” tegur Siauw Ling tertegun.

“Seandainya toako benar2 mati karena kehabisan darah, maka aku serta Tu Kioe tentu akan adu jiwa dengan Tok Chiu Yok Ong, dia memiliki ilmu melepaskan racun lewat benda lain, dan di dalam pertarungan tersebut kemungkinan besar Saiuw-te berdua bakal mati konyol, bukankah ini berarti setelah kematian toako, aku serta Tu Kioe pun segera akan menyusul dirimu ke alam baka?” kata Sang Pat.

“Aku takut setelah Loo Hujien mendengar kabar sedih ini, beliau bakal sedih dan amat berduka, perbuatan toako dengan memberikan darah untuk menolong jiwa ibumu bakal merupakan pekerjaan sia2 belaka” sambung Tu Kioe.

Setiap patah yang diucapkan keluar penuh mengandung rasa persaudaraan yang akrab, namun nada ucapannya masih kedengaran dingin dan kaku.

Siauw Ling segera mengerutkan dahinya, ia berkata.

“Maksud hati saudara berdua sungguh membuat siauw-heng merasa tidak setuju….

“Baiklah!” tiba-tiba Sang Pat berseru dengan wajah menunjukkan kebulatan tekadnya. “Kami menyanggupi permintaan toako, setelah kau kehabisan darah dan menemui ajalnya siauwte sekalian akan berusaha mengatur kedua orang tuamu terlebih dahulu, kemudian baru mencari Tok Chiu Yok Ong dan mengajaknya berduel sampai titik darah penghabisan.”

Dalam hati Siauw Ling mengerti, sekalipun dinasehati lebih jauh juga percuma maka ia menghela napas panjang.

“Aaai….! saudaraku berbuat dengan demikian bukan berarti siauw-heng tiada kesempatan sama sekali untuk melanjutkan hidup, mungkin saja aku masih dapat hidup segar dikolong langit?” katanya.

“Seseorang yang darah dalam tubuhnya telah dikeluarkan semua, masih dapat hidup dikolong langit lebih jauh kejadian ini sungguh membuat siauwte kurang percaya” seru Tu Kioe.

“Tok Chiu Yok Ong pandai sekali dalam soal pertabiban, dan pandai pula menggunakan obat2 mujarab, setelah siauw-heng memberikan darah di dalam tubuhku dan bilamana ia suka sembuhkan kelemahan tubuhku dengan obat mujarab, aku rasa kesempatanku untuk hidup lebih jauh masih amat besar sekali”

“Sekalipun dia memiliki kemampuan untuk berbuat demikian, aku takut tiada kesabaran dalam hatinya untuk melakukan hal itu, kalau tidak kenapa ia bisa bergelar si raja obat bertangan keji?”

“Aku menolong jiwa putrinya, membantu dia menyelesaikan harapan yang selama ini terkandung dalam hatinya, aku rasa tak mungkin ia biarkan aku mati tanpa ditolong, aku harap saudara berdua tak perlu menguatirkan persoalan ini lagi”

“Dia mau menolong atau tidak itu terserah pada dirinya sendiri, orang lain tak dapat memaksakan harapan ini, satu2nya cara yang paling baik adalah jangan kau berikan darah dalam tubuhku….”

Sinar mata Siauw Ling yang tajam menatap wajah Tu Kioe; hal ini membuat si Thiat Pit Leng Bin buru-buru mendehem dan menghentikan perkataan ditengah jalan.

Lama sekali ketiga orang itu berdiri saling berpandangan, menanti fajar telah menyingsing dan jagad sudah terang per-lahan-lahan Siauw Ling bangun berdiri sambil berseru “

“Kita harus berangkat!”

“Kemana?” tanya Tu Kioe dengan alis berkerut.

“Menyambut kedatangan Tok Chiu Yok Ong!”

“Sejak kapan ucapan dari siauw-heng tak pernah dipenuhi?”

Tiong Chiu Siang Ku saling berpandangan sekejap, mereka tidak banyak bicara lagi, mengikuti dibelakang Siauw Ling segera berlalu dari tempat itu.

Sekeluarnya dari lembah, tampaklah bukit ber-sambung2an membentang didepan mata, kabut tebal menyelimuti seluruh jagad membuat Siauw Ling tertegun dan berpikir, “Begitu luasnya daerah pegunungan ditempat ini, entah para jago lihay dibawah pimpinan Siang Hwie itu bersembunyi ditempat mana? seandainya mereka memancing Tok Chiu Yok Ong berdua dengan menggunakan namaku sehingga terjerumus ke dalam lembah gunung yang terpencil dan sukar dicapai manusia…. maka jejak mereka sulit ditemui….”

Tatkala Tiong Chiu Siang Ku menyaksikan Siauw Ling berhenti sambil termenung, mereka lantas tahu pastilah sianak muda itu dibikin murung karena tak tahu dimanakah para jago menyembunyian diri, diam2 timbullan suatu harapan dalam hati mereka, pikirnya, “Semoga sipencuri sakti Siang Hwie berhasil memancing Tok Chiu Yok Ong untuk memasuki suatu tempat yang terpencil dan tersembunyi kemudian baru turun tangan disana….”

Sementara mereka masih termenung, tiba-tiba terdengar Siauw Ling berseru, “Saudara berdua, mari kita percepat perjalanan kita!”

Habis berkata ia salurkan hawa murninya lebih dahulu berkelebat menuju kedepan.

Terpaksa Tiong Chiu Siang Ku harus kerahkan pula ilmu meringankan tubuhnya untuk menyusul dari belakang.

Mereka bertiga adalah sama2 jagoan Bu-lim kelas satu, perjalanan kali ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Kurang lebih dua jam kemudian sampailah mereka di dalam selat dimana pernah digunakan Be Boen Hwie serta sekalian anak buahnya untuk menghadang jalan pergi Shen Bok Hong.

Kiranya secara tiba-tiba Siauw Ling teringat akan tempat itu sebagai suatu daerah yang amat berbahaya. walaupun ia tak tahu sampai kapan Tok Chiu Yok Ong baru tiba namun ia sadar bahwa Siang Hwie sekalian tentu tahu jalan mana yang akan ditempuh si raja obat itu, seandainya mereka ingin menghadang jalan perginya, tempat inilah merupakan daerah yang paling cocok untuk turun tangan.

Oleh karena itulah dengan ter-gesa2 ia lari ketempat itu.

Tempat daerah pegunungan tersebut tetap seperti sedia kala, pada mulut selat yang sempit tidak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Dibawah sorotan sinar mata, tampaklah noda darah menggenangi permukaan tanah dan memantulkan cahaya tajam.

Siauw Ling segera berjongkok untuk memeriksa noda darah yang menggenangi permukaan tanah, tampak darah itu baru saja mengental dan jelas baru mengucur keluar kurang lebih setengah jam berselang, air mukanya kontan berubah hebat.

Ia segera berpaling ke arah Tiong Chiu Siang Ku dan menegur, “Apakah kalian tetapkan tempat ini sebagai daerah penghadangan sesuai dengan apa yang kalian rencanakan?”

“Ide ini muncul dari benak Siang Hwie” jawab Sang Pat sambil menjura dalam. “Sudah empat hari ia tidak kembali, maka siauwte pun tidak tahu mereka akan menghadang dan turun tangan terhadap diri Tok Chiu Yok Ong ditempat mana.

Siauw Ling memeriksa perubahan air mukanya dan tahu kalau Sang Pat bicara jujur, iapun tidak bertanya lebih jauh. sambil berjongkok ia melakukan pemeriksaan lebih jauh dengan harapan dari darah segar yang menodai permukaan tanah tadi bisa mencari tahu ke arah mana mereka pergi.

Tu Kioe melirik sekejap ke arah Sang Pat kemudian berbisik dengan ilmu menyampaikan suara ;

“Sungguh tak nyana pandai benar sipencuri tua itu melaksanakan tugasnya bukan saja bersih bahkan tiada berbekas sekali, seandainya ia benar2 berhasil membinasakan Tok Chiu Yok Ong, dikemudian hari kita harus baik2 menyampaikan rasa terima kasih kepadanya.

Sang Pat menggeleng dan menyahut dengan gunakan ilmu menyampaikan suara pula ;

“Tok Chiu Yok Ong jadi orang liciknya luar biasa, ilmu silat yang ia milikipun sangat lihay aku rasa tidak segampang itu dirinya berhasil dibokong sampai roboh.”

“Ia datang kemari dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita putrinya, tentu saja kedatangannya tidak akan disertai jago-jago lihay dari perkampungan Pek Hoa San Cung, dengan kekuatannya seorang diri ditambah harus membawa putrinya yang sudah kempas kempis tinggal menunggu ajalnya, sekalipun ilmu silat yang ia miliki lebih hebatpun belum tentu sanggup menghadapi kerubutan para jago”.

“Oleh sebab itulah ia pasti akan ber-hati2 dalam setiap tindakannya, tak bakal ia berani bertindak gegabah….”

Mendadak terdengar Siauw Ling berseru, “Harap saudara berdua suka mengikuti diriku!”

Selesai berkata ia berlari lebih dahulu menuju ke arah selatan.

Ternyata tatkala sianak muda itu melakukan penelitian terhadap noda darah yang menggenangi permukaan tanah, ditemuinya titik-titik darah memanjang ke arah selatan, se-akan2 ada seseorang yang terluka lari menuju ke arah sana.

Tetapi berhubung titik darah itu sangat kecil dan terkena pula sorotan sinar matahari maka apabila tidak diperhatikan dengan seksama sulit untuk menemuinya.

Begitulah Sang Pat serta Tu Kioe dengan terpaksa mengikuti dibelakang Siauw Ling dari menuju ke arah selatan.

Sembari lari Tu Kioe berseru, “Apabila toako berhasil menemukan jejak Tok Chiu Yok Ong dengan mengikuti titik-titik darah di atas tanah, aku si Tu Loo-jie tentu akan putuskan hubunganku dengan sipencuri tua.”

“Seandainya benar-benar terjadi begini, tak bisa kita salahkan sipencuri tua itu. selamanya Siang Hwie bekerja cermat dan teliti, mungkin saja disebabkan peristiwa ini berlangsung amat tergesa-gesa sehingga tiada kesempatan lagi baginya untuk menutupi bekas-bekas tersebut.

Dalam pada itu walaupun Siauw Ling tahu bahwasanya kedua orang saudaranya kasak kusuk membicarakan soal Tok Chiu Yok Ong namun berhubung ia tak tahu bertanyapun percuma maka ia pura-pura berlagak pilon.

Setelah melewati puluhan tombak sampailah mereka dipuncak dinding tebing, disitu tumbuh rerumputan yang sangat tebal, sulit bagi Siauw Ling untuk meneruskan pencariannya dengan mengikuti noda darah yang membekas diatas permukaan tanah.

Menjumpai keadaan medan begini curam, terpaksa Siauw Ling memotong jalan dengan menembusi dinding tersebut.

Beberapa saat kemudian tujuh delapan li kembali telah ditempuh, pegunungan memanjang jauh keujung langit, lembah yang sempit tersebar dimana-mana, bayangan dari Tok Chiu Yok Ong tidak berhasil juga ditemukan.

Menyaksikan kegagalan sianak muda itu Tu Kioe merasa amat girang hatinya, pikirnya.

“Kini tengah hari sudah lewat, seandainya Siang Hwie berhasil membinasakan putri kesayangan dari Tok Chiu Yok Ong, maka tiada alasan lagi bagi si raja obat itu untuk memaksa Siauw Ling menyerahkan darah segar dalam tubuhnya.”

Sementara itu Siauw Ling telah berhenti berlari, ia berdiri dipuncak bukit dan memandang keempat penjuru.

“Toako?” tegur Sang Pat setelah mendehem ringan. “Puncak bukit yang terdapat disini tersebar di-mana2, sulit bagi kita untuk menemukan jejak mereka dalam keadaan seperti ini, aku lihat lebih baik tak usah kita cari lebih lanjut!”

Siauw Ling berpaling memandang sekejap ke arah Sang Pat akhirnya ia menghela napas panjang, “Baiklah mari kita berangkat.”

Tiong Chiu Siang Ku saling berpandangan dengan hati penuh kegirangan, saking gembiranya sehingga perasaan hati tersebut segera menghiasi wajah mereka berdua.

Dengan kerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu, mereka kembali ke dalam gua dengan mengikuti jalan semula.

Sepanjang perjalanan Tiong Chiu Siang Ku kelihatan mulai gembira lagi mereka banyak bicara dan banyak tertawa. bahkan memuji tiada hentinya kecerdikan dari Siang Hwie sipencuri sakti itu.

Walaupun Siauw Ling tidak buka suara namun ia merasa terharu oleh tingkah laku kedua orang saudaranya, diam2 ia berpikir di dalam hati ;

“Orang Bu-lim kebanyakan bilang Tiong Chiu siang-Ku suka dengan harta kekayaan, terhadap siapapun mereka hanya tahu soal keuntungan dan tak pernah membicarakan soal hubungan persahabatan maupun persaudaraan, tapi terhadap aku siuaw Ling mereka begitu sayang dan memperhatikan, rasa persaudaraannya tebal dan berat bagaikan bukit, mati hidupku ternyata merisaukan pula hati mereka….”

Perjalanan kembalipun dilakukan dengan kecepatan penuh, tidak selang dua jam kemudian mereka telah balik ketempat semula.

Tampak Siauw Hujien dibawah kawalan Kim Lan serta Giok Lan sedang menikmati pemandangan alam disekeliling tempat itu, sepanjang jalan wajahnya kelihatan segar dan penuh kegembiraan.

Per-lahan-lahan Siauw Ling berjalan menghampiri ibunya, setelah menjura dalam2 ia menyapa.

“Ibu, apakah kesehatan badanmu sudah rada baikan?”

Dengan sinar mata penuh kasih sayang Siauw Hujien menatap wajah Siauw Ling kemudian tertawa, sahutnya ;

“Sebenarnya aku tidak menderita penyakit parah apapun, hanya saja rasa rinduku terhadap dirimu luar biasanya, lama kelamaan jadilah penyakit ini. Aaai….! kini aku bisa bertemu kembali dengan dirimu, penyakit apa lagi yang bakal kuderita?”

Rasa sayang yang diperlihatkan ibunya ini sangat menusuk perasaan Siauw Ling, ia merasa hatinya seperti di-iris2 dengan pisau belati membuat keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya, kepalanya tertunduk dan berkata ;

“Ananda tidak berbakti dan telah banyak menyusahkan diri ibu, sekalipun mati dosaku ini belum bisa ditebus!”

Sementara dalam hati ia berpikir, “Seandainya ibuku tahu bahwa aku telah menyanggupi permintaan orang untuk serahkan darah dalam tubuhku guna menyembuhkan penyakitnya, betapa sedih dan berduka hatinya….”

Terdengar Siauw Hujien berkata kembali sambil tertawa, “Ling-jie kedua orang nona ini sungguh baik sekali.”

“Ucapan ibu sedikitpun tidak salah, mereka memang nona2 yang sangat baik”.

“Ling-jie, kemana saja ku selama ini?” mendadak nyonya itu menegur dengan alis berkerut, “ketika pagi2 tadi aku bangun dari tidurku sudah tidak melihat dirimu!”

“Ananda telah pergi berjumpa dengan beberapa orang sahabat serta merundingkan beberapa persoalan penting….”

“Aaaaai…. sebenarnya kau bukan orang kangouw, kenapa tidak kau tinggalkan penghidupan kangouw yang serba seram dan menakutkan ini? setiap hari aku selalu menguatirkan keselamatanmu”.

“Petunjuk ibu memang tepat sekali….”

“Tidak boleh jadi” mendadak suara yang amat berat menyambung perkataan itu. “Kini Ling-jie sudah jadi salah satu pemimpin Bu-lim dia tidak boleh melepaskan diri begitu saja tanpa ada suatu pertangguan jawab apapun!….”

Dengan cepat Sang Pat berpaling, tampaklah orang yang barusan bicara itu bukan lain adalah Siauw Thayjien, ia sedang melangkah datang.

“Selama beberapa hari ini apa yang kudengar dan kulihat adalah perbuatan saling bunuh membunuh, balas membalas antara sesama orang kangouw, selama Ling-jie masih ada di dalam dunia persilatan, hatiku mana bisa tenang?” seru Siauw Hujien.

Dengan pandangan tajam Siauw Thayjien menatap sekejap wajah putranya kemudian berpaling dan bisiknya kepada Siauw Hujien ;

“Sejak kecil ia menderita penyakit aneh yang sukar disembuhkan, apabila tiada orang lihay dari Bu-lim yang memberikan obat mujarab serta mewariskan ilmu silat kepadanya, ia tak bakal bisa hidup lewat dari dua puluh tahun, karena jiwanya tertolong oleh tokoh sakti dunia persilatan maka sudah sepantasnya kalau iapun berbakti demi keadilan Bu-lim, seandainya ia tidak beruntung dan mati, anggap saja kematiannya sama halnya dengan mati karena sakit.”

Air muka Siauw Hujien berubah hebat.

“Hmmm! dikolong langit tiada seorang ayah pun yang meng-harap2kan putranya cepat mati” tegurnya.

Habis bicara, dibawah bimbingan Giok Lan serta Kim Lan ia segera berlalu dari situ.

Menanti bayangan tubuh dari nyonya itu sudah lenyap dari pandangan, Siauw Thayjien baru berpaling dan berkata sambil menghela napas panjang.

“Bocah, Tok Chiu Yok Ong telah datang!”

Ucapan ini bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong membuat wajah Tiong Chiu Siang Ku berubah hebat, dadanya seperti dihantam dengan martil besar untuk setengah harian lamanya mereka tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, wajahnya pucat pias bagaikan mayat dan keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya.

Sedangkan Siauw Ling pun kelihatan tertegun tapi dengan cepat ia bisa menguasai diri dan wajahnya kelihatan jauh lebih tenang daripada keadaan biasanya.

“Kini si raja obat itu berada dimana?” ia bertanya.

“Ia datang dengan membawa putrinya yang sudah amat lemah sekali, sudah lama dia ber-cakap2 dengan diriku. Nah ikutilah aku!”

Selesai berkata Siauw Thayjien putar badan dan berjalan kedepan.

Wajahnya amat serius dan setiap langkahnya terasa berat bagaikan dibebani dengan besi yang amat berat.

Sedang Siauw Ling tetap menjaga ketenangan hatinya, dengan langkah lebar ia mengikuti di belakang ayahnya.

Tiong Chiu Siang Ku lah yang mengenaskan keadaannya. mereka diliputi ketegangan sehingga seluruh tubuhnya gemetar keras, jelas kedua orang itu sedang menahan suatu pergolakan keras dalam hatinya.

Kurang lebih sepuluh tombak kemudian sampailah mereka disebuah semak belukar yang amat lebat.

Siauw Thayjien berhenti, sebelum ia sempat buka suara dari balik rerumputan telah berkumandang datang suara teguran dari Tok Chiu Yok Ong ;

Siauw Ling, janjimu pada lima hari berselang apakah saat ini masih berlaku?”

“Ucapan seorang lelaki sejati berat bagaikan gunung thay-san, sekalipun mati juga tidak menyesal. kenapa tidak berlaku?”

Tampak rumput tersingkap dan per-lahan-lahan muncullah Tok Chiu Yok Ong, terdengar ia berkata lebih jauh.

“Sipencuri sakti Siang Hwie dengan memimpin delapan orang jago lihay telah menghadang perjalananku, tahukah kau akan peristiwa ini?”

“Setelah cayhe tahu akan kejadian ini, maka sengaja aku melakukan perjamuan untuk menyambut kedatangan Yok Ong.”

“Hmm! cuma andalkan kekuatan sipencuri tua itupun hendak menghadang jalan pergi dari aku si raja obat bertangan keji, kalau sampai hal ini bisa terjadi bukankah sia2 belaka loohu berkelana dalam dunia persilatan selama puluhan tahun lamanya?” tukas Tok Chiuu Yok Ong dingin.

“Yok Ong, kau sudah hidup setengah abad lebih, apakah kau tidak merasa bahwa usiamu terlalu panjang?” tegur Sang Pat.

Tok Chiu Yok Ong melirik sekejap ke arah sie-poa emas itu, namun ia tidak menggubris perkataan orang, sambungnya lebih lanjut ;

“Dengan menggunakan sedikit akal loohu berhasil memancing sipencuri tua itu menuju tempat lain dan bertemu dengan para jago yang dikirim keperkampungan Pek Hoa San Cung untuk mencari jejakmu, bagaimanakah hasil pertarungan diantara mereka? aku rasa hal ini harus dilihat dari nasib masing-masing. Justru karena memandang diatas wajahmu maka loohu tidak menghadapi mereka dengan gunakan racun!”

“Siauw toako kami selamanya pegang janji dan jujur, setiap perkataannya berat bagaikan gunung thay-san, setelah ia menyanggupi perkataanmu maka janjinya ini tak bakal diingkari lagi….” seru Tu Kioe secara mendadak.

“Justru karena aku percaya kepadanya, maka kulepaskan Siang Hwie sekalian dengan begitu saja” tukas si raja obat.

“Walaupun toako kami telah setuju, tapi masih ada orang yang tidak menyetujui permintaanmu itu”.

“Siapa?”

“Bukan lain cayhe Tu Kioe adanya!” jawab Thian Pit Ling Bin sambil menuding hidung sendiri.

“Hee…. hee…. hee…., kau mau apa?”

“Gampang sekali, apabila kau ingin mendapatkan darah segar dalam tubuh toakoku, maka kau harus berhasil melangkahi mayat dari Tiong Chiu Siang Ku lebih dahulu….”

“Saudara Tu!” tegur Siauw Ling tiba-tiba.

“Toako, kau hendak pegang janji tapi siauwte pun hendak perlihatkan rasa persaudaraanku terhadap dirimu” seru Tu Kioe dengan wajah serius dan keren. “Apabila kau halangi niat siauwte ini, maka saat ini juga siauw-te akan bunuh diri lebih dahulu dihadapan toako”.

“Saudara berdua, dengarkan dahulu perkataanku” seru Siauw Ling setelah tertegun beberapa saat.

“Siauw-te sekalian akan mendengarkan ucapan toako dengan seksama, silahkan toako memberikan perintah”.

“Siauw-heng berikan darah dalam tubuhku untuk menolong orang lain, belum tentu disebabkan perbuatan ini aku terus mati….”

“seandainya cuwi sekalian suka bekerja sama dengan loohu, maka loohu akan berusaha untuk selamatkan jiwanya” sambung Tok Chiu Yok Ong.

Sang Pat menghela napas panjang, sambil memandang ke arah Tu Kioe ia berkata.

“Saudara Tu, urusan sudah jadi begini rasanya kitapun jangan menyusahkan toako lebih jauh, asal Tok Chiu Yok Ong mengabulkan permintaan kami dan mempertahankan jiwa toako, lebih baik kita sanggupi saja ajakannya untuk bekerja sama”.

“Selamanya Loohu jadi orang paling benci terikat oleh segala macam peraturan Bu-lim, tapi cuma satu yang tak pernah kuingkari yaitu tentang janji”.

“Setalah kau ambil darahnya, apakah ilmu silat yang dimiliki Siauw toako masih bisa dipertahankan?” tanya Tu Kioe.

“Tentang soal ini loohu tidak berani menjamin, hal ini harus dilihat bagaimanakah rejekinya”.

“Apabila ia tidak dapat mempertahankan ilmu silatnya lagi. bukankah berarti jauh lebih baik mati daripada hidup!”.

“Tidak mengapa” mendadak Siauw Ling menyela. “Mula2 siauw-heng pun bukan orang Bu-lim, apabila ilmu silatku punah maka ambil kesempatan ini siauw-heng pun akan mengundurkan diri dari dunia persilatan”.

“Baiklah kita tetapkan demikian saja, tak usah dirundingkan lebih jauh….” mendadak Siauw thayjien menukas.

“Ucapan Lo Pek memang benar….” buru-buru Sang Pat menjura. sinar matanya segera beralih ke atas wajah Tok Chiu Yok Ong dan melanjutkan ;

“Entah Yok Ong hendak mengajak kami untuk bekerja sama secara bagaimana….”

“Apabila kalian ingin mempertahankan jiwa Siauw Ling, maka darah yang dilepaskan dari tubuhnya tak boleh berlangsung terlalu cepat, kita harus mencari suatu tempat yang terpencil untuk bekerja, kalian berduapun harus bantu melindungi diriku aku membutuhkan waktu tujuh hari sambil melepaskan darah dalam tubuhnya sembari kupulihkan tenaganya dengan obat2an mujarab”.

“Baiklah, kami akan ikuti permintaan dari Yok Ong”.

“Entah Yok Ong hendak bekerja mulai kapan?” tanya Siauw Ling sambil mendongak memeriksa keadaan cuaca.

“Maksud loohu makin cepat tentu saja makin baik, pada saat ini perubahan situasi dalam dunia persilatan tak menentu, apabila waktunya di-tunda2 lagi aku takut hal ini akan mendatangkan ketidak beruntungan bagimu”.

“Bagaimana kalau kita bekerja malam nanti? agar cayhe ada kesempatan untuk berpamitan dengan ibuku!”

“Tak perlu” tukas Siauw Thayjien “Saat ini ibumu sedang berada dalam keadaan tidak tenteram, apabila kau berpamitan malah akan menambah kesedihan hatinya belaka.”

“Kalau begitu mohon ayah menjelaskan kesulitan yang ananda alami dihadapan ibu” seru Siauw Ling seraya jatuhkan diri berlutut ke atas tanah.

“Aku bisa memberikan penerangan kepadanya kau tak usah cemas hati lagi!”

Selesai menjalankan penghormatan besar sebanyak tiga kali kepada ayahnya, Siauw Ling segera bangun berdiri dan ujarnya kepada si-raja obat itu

“Yok Ong apakah kau sudah mendapatkan tempat yang baik untuk mulai melepaskan darah?”

“Tentang soal ini Loohu sudah siapkan sejak semula.”

“Berapa jauh jaraknya dari sini?” sela Tu Kioe.

“Tidak sampai sepuluh lie.”

“Yok Ong harap kau menanti sejenak” seru Sang Pat. “Cayhe akan meninggalkan pesan lebih dahulu kemudian baru berangkat.”

“Hmmm! Loohu akan menanti disini, tapi kalian jangan terlalu lama mengulur waktu.

Sang Pat mendengus dingin, ia tidak menjawab dan segera berlalu. Kurang lebih seperminum teh kemudian ia telah balik lagi.

“Siauw-heng, masih ada pekerjaan apa lagi yang hendak kau lakukan?”

Siauw Ling tertawa hambar.

“Mari kita segera brangkat!” sahutnya.

“Baiklah kalau begitu, loohu akan membawa jalan!”

Begitulah dibawah pimpinan Tok Chiu Yok Ong, Siauw Ling, Sang Pat serta Tu Kioe segera berangkat menuju ketempat yang telah disiapkan untuk pelepasan darah.

Menanti dua buah bukit sudah dilewati, senjapun telah menjelang tiba dan suasana diliputi kegelapan.

Sambil menuding sebuah tonjolan batu besar diatas dinding bukit seberang, Tok Chiu Yok Ong berkata.

“Dibelakang batu karang yang amat besar itulah tempatnya, disana terdapat sebuah goa kecil yang bisa memuat empat lima orang, siauwli telah menanti disitu.

Sang Pat tertawa dingin.

“Yok Ong, agaknya kau sangat hapal dengan daerah sekitar tempat ini” serunya. “Ternyata pandai benar kau mencari tempat yang begitu terpencil, rahasia dan strategisnya”.

“Terlalu memuji, terlalu memuji, kepandaian loohu di dalam menguntit orang, mencari orang tiada bandingannya dikolong langit, hanya saja tiada seorangpun yang tahu akan keistimewaanku ini”.

Tu Kioe mendehem lalu berkata pula ;

“Ucapan toako kami berat bagaikan bukit Thay-san, karena itulah harapan Yok Ong baru bisa tercapai, apabila berganti orang lain yang menjumpai peristiwa besar yang menyangkut mati hidupnya….”

Siauw Ling tahu bahwasanya kedua orang saudaranya hendak menggusarkan hati Tok Chiu Yok Ong dari pembicaraan tersebut, agar ia turun tangan terlebih dahulu, kemudian dengan alasan hendak membela diri, mereka akan bergebrak melawan dirinya.

Maka buru-buru ia mencegah.

“Saudara Tu, tak usah membicarakan persoalan ini!”

Tok Chiu Yok Ong adalah seorang jagoan berhati licik tentu saja iapun dapat menebak maksud hati Tiong Chiu Siang Ku, teringat akan keselamatan putrinya maka terpaksa ia harus bersabar diri.

Sementara dalam hatinya dia memuji.

“Siauw Ling benar2 seorang lelaki sejati. ia patut dikagumi….”

Demikianlah dibawah petunjuk Tok Chiu Yok Ong mereka bergerak naik ke arah tonjolan batu cadas tersebut dengan bantuan pohon siong serta batu2 cadas yang menonjol keluar.

Sedikitpun tidak salah. dibelakang batu cadas tersebut terdapatlah sebuah gua alam yang amat besar.

Tatkala Siauw Ling melongok kedalam, ia saksikan pada ujung goa batu itu tidurlah seorang gadis diatas rumput kering yang tebal, tubuhnya ditutupi dengan sebuah selimut warna merah, rupanya gadis itu dalam keadaan pulas.

Tok Chiu Yok Ong menghela napas panjang terdengar ia berkata, “Kecantikan wajah siauwli tiada tandingannya dikolong langit, kecerdikannya jauh diatas kecerdikan loohu sendiri, sayang ia menderita penyakit yang parah sehingga tubuhnya tinggal kulit pembungkus tulang belaka….”

“Menurut penglihatan cayhe, kemungkinan besar putrimu telah menemui ajalnya” sela Tu Kioe dengan nada dingin.

Ucapan ini menggusarkan hati Tok Chiu Yok Ong.

“Omong kosong” bentaknya. “Ilmu pertabiban yang loohu miliki tiada tandingannya dikolong langit, walaupun loohu gagal menyembuhkan penyakit yang diderita siauwli, namun untuk memperpanjang usianya bukanlah suatu masalah yang sulit bagiku. aku bisa memberikan kehidupan selama sepuluh tahun lebih kepadanya….”

“Apabila Yok Ong bisa memberikan kehidupan selama sepuluh tahun buat putrimu, kenapa tidak kau tunda lagi sekian waktu agar kau mempunyai kesempatan untuk mencarikan obat yang mujarab baginya?” sambung Sang Pat dengan cepat.

Maksud tujuan Tiong Chiu Siang Ku untuk membatalkan niat Yok Ong tiada kunjung padam mereka berharap dengan cara lunak maupun kekerasan pada saat2 terakhir Tok Chiu ok Ong bisa membatalkan niatnya untuk mengambil darah Siauw Ling.

Terdengar Tok Chiu Yok Ong berkata ;

“Penyakit yang diderita siauw-li merupakan suatu penyakit yang jarang sekali ditemui dalam kolong langit selama seribu tahun belakangan, sekalipun loohu pandai ilmu pertabiban, namun sayang sekali ilmu tersebut belum sanggup untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya. per-lahan-lahan sinar matanya yang tajam dialihkan ketubuh Siauw Ling, lalu tambahnya, “Kecuali menggunakan darah yang berada dalam tubuhnya untuk menggantikan darah yang telah rusak di dalam tubuh putriku.”

“Aku tidak percaya kalau dikolong langit ini sama sekali tak ada obat2an yang dapat digunakan untu kmenyembuhkan penyakit putrimu!”

“Obat mujarab sukar didapatkan, ada atau tidak sama saja bagiku”.

Mendadak Sang Pat menepuk perutnya yang gendut dan bersru, “Kami Tiong Chiu Siang Ku mempunyai kekayaan yang menandingi sebuah negeri, barang2 mustika yang berhasil kami kumpulkan boleh dibilang banyak hinga sukar dihitung dengan jari….”

“Sekalipun seluruh harta kekayaan kalian Tiong Chiu Siang Ku digunakan sampai habispun belum tentu dapat memperoleh obat mujarab yang bisa menyembuhkan penyakit putriku” tukas Tok Chiu Yok Ong.

“Yok Ong kau salah sangka….”

“Dimana kesalahan loohu?”

“Barang2 mustika yang kami berdua kumpulkan bukan terbatas dalam benda berharga seperti intan permata mutiara serta benda-benda lainnya, tetapi disamping itu kamipun mengumpulkan bahan obat2an yang sukar dicari dalam kolong langit. Kemungkinan besar diantara tumpukan obat2an tersebut terdapat suatu bahan obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit putrimu”.

“Menurut apa yang loohu ketahui, selama puluhan tahun belakangan ini belum pernah kudengar bahwa dikolong langit terdapat bahan obat2an yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit siauwli”.

“Bagaimana dengan Teratai salju yang dihasilkan digunug Thian-san?….”

“Percuma!” sahut Tok Chiu Yok Ong seraya menggeleng.

“Jinsom berusia seribu tahun, apakah bisa digunakan?”

“Walaupun jinsom berusia seribu tahun penting sekali artinya, namun bahan obat2an tersebut bukanlah bahan obat yang terutama”.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan? katakanlah terus terang! kemungkinan besar kami Tiong Chiu Siang Ku bisa carikan bahan obat2an itu bagimu”.

“Apabila kalian bersikeras ingin tahu, baiklah! akan loohu beritahukan kepadamu….”

Ia merandek sejenak, lalu terusnya.

“Sian-Chi yang sudah matang atau Hoo So Hu yang berusia seribu tahun…. kedua macam bahan obat tersebut merupakan bahan yang terutama asal bisa mendapatkan salah satu saja diantaranya maka tidaklah terlalu sulit untuk dicampurkan dengan bahan obat2an lainnya, hmmm, aku rasa dua macam bahan obat2an yang amat langka ini belum tentu bisa kalianmiliki.”

Tu Kioe termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata, “Sepuluh tahun berselang, dari luar perbatasan pernah dikirim masuk sebuah Hoo So Hu yang berusia seribu tahun, seandainya Sri Baginda tidak melahapnya sampai habis biarlah kami pergi mencuri benda tersebut bagimu, kemungkinan besar sisa benda mustika tadi masih bisa digunakan untuk menolong selembar jiwa putrimu. Hanya saja jarak dari sini menuju ke ibu kota terlalu jauh letaknya, entah sempatkah bagi kami untuk berangkat kesitu?”

“Peristiwa yang telah berlangsung sepuluh tahun berselang, apa gunanya dibicarakan saat ini?” jengek Tok Chiu Yok Ong sambil tertawa dingin. “Loohu akan segera turun tangan, dan kalian berduapun sudah waktunya untuk mengundurkan diri dan ber-jaga2 diluar gua”.

Sang Pat mendehem berat, serunya, “Cayhe masih ada sepatah dua patah kata ingin diutarakan, harap Yok Ong bisa bekerja setelah selesai mendengarkan perkataanku itu “

“Apa yang ingin kau katakan lagi? cepat utarakan keluar pada saat ini waktu berharga bagaikan emas, bagi Loohu sedetikpun tidak ingin terbuang dengan sia2″.

“Buat apa kau ter-gesa2 macam cacing kepanasan?” jengek Tu Kioe dengan suaranya yang dingin. “Seandainya kau benar2 bisa memenuhi harapanmu dan berhasil menolong jiwa putrimu, saat itulah kau sudah tiada bertenaga untuk menghalangi niat kami untuk mencabut selembar jiwamu….”

Tok Chiu Yok Ong tertawa dingin, tukasnya ;

“Loohu telah menyanggupi untuk menolong jiwa Siauw Ling, namun hal ini membutuhkan kerja sama yang erat dengan kalian berdua, apabila kalian masih saja banyak curiga, aku rasa kita tak perlu bekerja sama lagi “

Sang Pat berpaling dan memandang sekejap ke arah Tu Kioe, kemudian berkata ;

“Baik! selama orang berada dibawah wuwungan rumah, bagaimanapun juga kepala harus ditundukkan, tetapi akupun hendak menerangkan lebih dahulu, selesai melepaskan darah, apabila Siauw Ling toako kami masih tetap hidup tentu saja urusan beres begini saja, tetapi seandainya ia mendapat cedera atau cacad…. Hmmm! kami pun akan suruh Yok Ong merasakan bagaimanakah tersiksanya apabila kehilangan putri kesayangannya yang tercinta”

“Apabila kalian masih ngoceh terus tiada hentinya disini, detik ini juga loohu akan batalkan perjanjian tadi”.

Ternyata ucapan ini mendatangkan daya pengaruh yang amat besar, Tiong Chiu Siang Ku tidak berani banyak bicara lagi, mereka segera putar badan dan berlalu.

Menanti kedua orang itu sudah berlalu, sinar mata Tok Chiu Yok Ong baru dialihkan ke atas wajah Siauw Ling, katanya, “Perlukah loohu menotok jalan darahmu?”

“Silahkan Yok Ong turun tangan!”

Tok Chiu Yok Ong tidak mau bicara. secara beruntun ia menotok tiga buah jalan darah penting ditubuh Siauw Ling lalu ujarnya kembali.

“Apabila kau ingin menyelamatkan selembar jiwamu maka aku minta kau bisa bekerja sama dengan loohu.

“Apa perintah Yok Ong, silahkan kau utarakan keluar.

“Loohu mengerti bahwa ilmu silat yang ku miliki sangat lihay sekalipun darahmu telah kutotok namun aku belum sanggup untuk menjamin bahwa kau tidak akan menggunakan tenaga dalam untuk memperlambat aliran darah maka dari itu kau harus bekerja dengan loohu agar darah dalam tubuhmu bisa menjalar dengan lancar, dengan demikian loohu pun bisa melakukan segala usaha untuk menghindari suatu pertikaian berdarah yang tak berguna.”

Siauw Ling tertawa hambar.

“Apabila aku Siauw Ling adalah seorang kurcaci yang takut mati, aku tidak bakal menyerahkan diri dengan begini saja” katanya.

“Kalau begitu loohulah yang sudah menilai seorang Koen-cu dengan pandangan picik seorang siauw-jien.”

Ia bopong tubuh Siauw Ling untuk kemudian diletakkan disisi tubuh putrinya.

“Aku Siauw Ling telah menerima budi kebaikan dari suhu, Gie-hu serta Liuw Sian-cu, aku mengira dengan andalkan ilmu silat yang diwariskan ketiga orang loocianpwee itu aku bisa melakukan suatu pekerjaan yang berguna bagi umat Bulim. siapa sangka nasibku jelek dan aku harus berakhir dalam keadaan begini….”

Mendadak jalan darah dalam tubuhnya terasa kaku, tahu2 Tok Chiu Yok Ong telah melancarkan totokan.

“Loohu akan segera melepaskan darah dalam tubuhmu” hardik si raja obat itu.

Dalam pada itu jalan bisu dari Siauw Ling sudah tertotok. kecuali kesadarannya masih bertahan ia sudah tak dapat berbicara maupun berkutik lagi.

Terasa baju pada lengan kirinya disingkap orang, diikuti rasa sakit menyerang ke dalam hati, urat nadinya sudah ditusuk oleh sebuah benda.

Terdengar Tok Chiu Yok Ong berkata kembali dengan nada penuh cinta kasih dan rasa sayang ;

“Wan-jie, tahanlah sedikit penderitaan, sejak kini kau akan seperti bocah2 lainnya, dapat tertawa dan bergurau didepanku, kemudian seluruh ilmu pertabiban serta ilmu silat yang kumiliki akan kuwariskan kepadamu, aku ingin mendidik dirimu jadi seorang enghiong yang tiada tandingannya dikolong langit selama lima tahun.”

“Dalam lima tahun yang singkat kau hendak mendidik seorang gadis yang sama sekali tak kenal akan ilmu silat jadi seorang enghiong yang tiada tandingan dikolong langit, ucapanmu ini sedikit terlalu membual.” pikir Siauw Ling di dalam hati.

Terdengar Tok Chiu Yok Ong berkata lebih jauh, “Wan-jie, ayahmu dianggap sebagai manusia yang berdiri diantara kaum lurus dan kaum sesat, hal ini disebabkan tindak tanduk ayahmu selamanya kukoay merasa girang atau gusar sukar diduga oleh orang-orang, namun perduli bagaimanapun pandangan orang lain selama hidupku, ayahmu memang sudah membunuh banyak orang, demi dirimu tiada halangan bagiku untuk membunuh beberapa orang lagi, aku hendak menggunakan ilmu pertabiban yang tiada tandingan dikolong langit ini untuk menciptakan dirimu jadi seperti jagoan yang lihay serta seorang jagoan yang mempunyai tenaga dalam paling sempurna.”

Siauw Ling yang mendengar ucapan itu, hatinya merasa terperanjat, pikirnya di dalam hati.

Seandainya Tok Chiu Yok Ong benar2 memiliki kemampuan untuk berbuat demikian, dalam tiga lima tahun mendatang rasanya besar kemungkinan baginya untuk mendidik putrinya yang sama sekali tak kenal akan ilmu silat, jadi seorang jagoan yang amat lihay.”

Terdengar helaan napas sedih memotong ucapan si Raja Obat bertangan keji belum habis diutarakan.

Diikuti suara yang lemah tak bertenaga berkumandang memecahkan kesunyian, “Oooh…. ayah! kembali kau celakai orang!”

“Ayah sedang mengobati penyakitmu! tenangkan hatimu sayang….”

“Bukankah kau sudah tahu bahwa harapanku untuk hidup tipis sekali. mengapa kau harus mengambil darah orang lain?”

“Bocah, darah yang dimiliki orang ini berbeda jauh dengan darah orang orang biasa. selesai darahmu diganti maka kesehatanmu akan pulih kembali, seperti orang2 lain”

“Kenapa?”

“Rahasia yang terkandung dalam soal ini kecuali ayahmu seorang, dikolong langit mungkin tiada orang kedua yang memahaminya….”

Ia menghembuskan napas panjang dan melanjutkan

“Wan-jie berhubung darah tubuhnya cocok sekali dengan jenis darah yang kau miliki dan yang paling penting lagi, dia pernah makan suatu benda yang jarang ada dan punya kasiat hebat. menurut dugaan ayahmu mungkin dia pernah makan Sian-Chi atau Hoo-So-Hu berusia seribu tahun atau mungkin juga bahan obat sejenisnya”.

Ucapan ini membuat Siauw Ling melamun kembali, pikirnya.

“Secara tidak sengaja aku telah makan jamur batu berusia ribuan tahun yang mana telah membantu tenaga dalamku. tetapi keberhasilan ini justru akan mencabut pula jiwaku…. aai…. aku lihat setiap persoalan yang ada dikolong langit ini dimana ada kebaikan tentu ada pula keburukannya”.

Terdengar suara dengusan napas meburu bergema diseluruh goa, kemudian gadis itu berseru.

“Ooouw…. ayah! orang yang kau maksudkan apakah Siauw Ling?”

“Sedikitpun tidak salah! putri Tok Chiu Yok Ong memang jauh lebih cerdik dari orang lain, sekali tebak ternyata tepat sekali, kini Siauw Ling berbaring disisimu….”

Belum habis ia berkata, tiba-tiba terdengar gadis itu menjerit lengking dan berteriak keras, “Lepaskan dia!”

Terdegnar suara helaan napas bergema dari sisi tubuhnya.

Walaupun Siauw Ling tak dapat berpaling dan matanya dapat melirik kesitu, namun ditinjau dari suara tersebut rupanya ada seseorang yang sedang meronta bangun.

Terasa lenganya jadi mengendor, benda yang menembusi urat nadinya secara mendadak dicabut orang.

Diikuti terdengar Tok Chiu Yok Ong menghela napas panjang dan berkata sedih ;

“Wan-jie, sambil membopong dirimu ayahmu telah mengarungi hampir seluruh penjuru dunia, dengan susah payah akhirnya aku berhasil menemukan seseorang yang dapat menyembuhkan penyakit anehmu, apakah kau tidak mau menghargai jerih payah ayahmu selama ini?”

Si Raja Obat bertangan keji tersohor karena kejam dan telengasnya, setiap kali turun tangan tentu membunuh orang, tetapi terhadap putri kandungnya ia bersikap halus dan penuh kasih sayang.

Suara yang lemah lembut tadi berkumandang kembali, “Ayah sayang padaku tentu saja putrimu mengerti, kau membopong aku dan mengarungi empat penjuru dunia kejadian ini semakin membuat hatiku menyesal. Aaai…. ayah, budi kebaikanmu dalam bagaikan lautan, entah sampai kapan putrimu baru dapat membalasnya….”

“Asal kau suka mengabulkan permintaan ayah dan darah yang rusak dalam tubuhmu mau diganti dengan darah segar, itu berarti kau telah membalas budi ayahmu!”

“Sehari aku hidup lebih lama didunia berarti sehari pula aku telah menyiksa ayah, lebih baik aku mati saja”.

“Asal darahmu yang rusak telah diganti dengan darah dari Siauw Ling, kesehatan badanmu akan pulih kembali seperti orang lain, kau tidak akan terbelenggu oleh iblis penyakit”.

“Dan bagaimana dengan Siauw Ling? untuk menyelamatkan selembar jiwaku bukankah dia bakal mati karena kehabisan darah?”

Tok Chiu Yok Ong tidak langsung menjawab ia termenung lebih dahulu kemudian baru sahutnya ;

“Tidak sulit seandainya kau ingin menyelamatkan jiwa Siauw Ling, sembari memberi obat darah kepadanya ayah akan menhisap pula darah segarnya, namun perbuatan ini membutuhkan waktu yang amat lama sekali, sedangkan badanmu begitu lemah, mana kau sanggup untuk menahan siksaan serta penderitaan selama ini?”

“Aaai! ayah, kau bisa memaksa orang lain untuk menyerahkan darah segarnya, namun kau tidak akan berhasil memaksa putrimu untuk menerima pemberian darahnya.”

“Lalu bagaimanakah menurut pendapatmu?”

“Harap ayah siapkan dahulu obat penambah darah baginya, setelah itu aku baru mau menerima pemberian darahnya.”

Siauw Ling yang selama ini mengikuti pembicaraan kedua orang itu dalam hati merasa tercengang, pikirnya ;

“Watak dari ayah dan anak dua orang ini sungguh jauh berbeda, sang ayah berwatak keji dan kejam. dalam melakukan setiap perbuatan yang dipikirkan hanyalah keberanian belaka tanpa banyak memikirkan bagaimanakah atas segala perbuatannya. sedangkan sang anak berhati welas dan penuh cinta kasih, setiap perbuatannya se-akan2 tidak ingin melukai orang lain.”

Terdengar Tok Chiu Yok Ong melanjutkan kata2nya ;

“Obat mujarab yang kugembol sekarang sudah cukup untuk menambah darahnya. jadi kita tak usah mempersiapkan bahan obat2an lagi.”

“Ooouw…. ayah, masih ingatkah kau dengan kejadian yang menimpa ibuku?”

“Senyuman serta ucapan ibumu masih terukir dalam2 di dalam benakku. selama hayat masih dikandung badan aku tidak akan melupakannya!” sahut Si raja Obat sedih.

“Selama hidupnya ibu selalu mencintai dan menghormati dirimu, tetapi perkataan yang telah beliau ucapkan sesaat hendak menghembuskan napas yang terakhir apakah masih ayah ingat dengan baik?”

“Sampai mati2an tidak akan kulupakan!”

“OOuw….! apa yang dikatakan ibuku?”

“Dia bilang…. dia bilang….”

Si Raja Obat bertangan keji yang hari biasa selalu tenang dan dingin, rupanya dibikin bergolak hatinya oleh keadaan tersebut untuk beebrapa saat lamanya ia tak sanggup melanjutkan kata2nya.

“Ayah, mungkin kau sudah melupakan pesan ibuku, tetapi putrimu masih mengingatnya baik2 sesaat ibu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir ia cuma mengucapkan tujuh patah kata; Aku benci karena kau telah menipu diriku, bukankah begitu?….

Air mata jatuh berlinang membasahi wajah Tok Chiu Yok Ong dan menetes diatas tangan Siauw Ling.

“Tidak salah, ibumu berkata demikian!” sahutnya lirih.

“Oouw ayah! apabila kau membohongi pula putrimu, kendati penyakit aneh yang kuderita bisa sembuh namun sepanjang masa aku tak akan gembira dan bahagia”

“Apakah kau tak bisa menghargai cinta kasihku dan jerih payahku selama ini? apakah kau inginkan setelah aku kehilangan ibumu lantas harus kehilangan anakku pula?”

Sang gadis berpenyakitan yang berbaring disudut goa mendadak meronta bangun dan berseru.

“Ilmu pertabiban yang ayah miliki tiada tandingannya dikolong langit, apakah kau tidak mempunyai cara lain untuk menyembuhkan penyakit putrimu? apakah kau harus mengambil darah orang lain baru bisa menyelamatkan jiwaku….”

Per-lahan-lahan ia menjulurkan tangan kanannya yang pucat pias dan kurus kerontang itu dan melepaskan pipa penghisap darah dari tangan Siauw Ling, terusnya.

“Ayah, bila putrimu telah mati maka hatimu tidak akan sedih lagi. kau mencintai diriku apakah orang tua dari Siauw Ling tidak menyayangi pula putranya?”

Tok Chiu Yok Ong yang terkenal karena egois dan banyak akal, saat ini dibikin membungkam dalam seribu bahasa oleh ucapan putrinya yang berpenyakitan, akhirnya ia menghela napas panjang.

“Bocah, berbaringlah lebih dahulu, kalau ada perkataan kita bicarakan per-lahan-lahan saja”.

Sinar mata Siauw Ling berputar, ia jumpai seorang gadis berambut panjang duduk disudut gua. matanya cekung dan badannya tinggal kulit pembungkus tulang. walaupun kurus sekali namun tak dapat menutupi kecantikan wajahnya.

Tampak ia angkat tangannya membereskan rambutnya yang menutupi wajah, lalu ujarnya dengan lembut.

“Ooouw ayah! bebaskanlah jalan darahnya aku hendak berbicara beberapa patah kata dengan dirinya.”

Tok Chiu Yok Ong dibikin apa boleh buat, terpaksa ia membebaskan jalan darah bisu dari sianak muda.

“Siauw Ling?” katanya, “Sejak dilahirkan siauw-li telah mengidap penyakit aneh, setiap hari ia terbelenggu dalam cengkeraman elmaut, namun hatinya tulus dan penuh kasih sayang dalam menjawab pertanyaannya aku minta kau berhati2 sehingga tidak sampai melukai dirinya.

Siauw Ling tertawa hambar, ia tidak menggubris perkataan dari si Raja Obat itu.

Gadis berambut panjang itu menggerakkan tubuhnya, seraya menatap wajah Siauw Ling dengan sepasang matanya yang bulat besar ia menegur, “Kaukah yang bernama Siauw Ling?”

“Sedikitpun tidak salah”.

“Surat yang kutulis untukmu apakah sudah kau terima?”

“Sudah, dan terima kasih buat bantuan nona. Harap maafkan diri cayhe tak dapat menjura kepadamu karena beberapa jalan darahku masih tertotok, semoga saja nona suka memaafkan.”

“Aaai…. sejak kecil badanku lemah dan berpenyakitan, kecuali ayah dan ibuku jarang sekali aku berkenalan dengan orang lain. Kau boleh anggap sebagai salah satu orang yang paling kukenal….”

Kita sudah pernah bertemu dua tiga kali banyaknya” pikir Siauw Ling di dalam hati. “Setiap kali aku harus berada dalam keadaan yang penuh dengan bahaya. ayahmu menotok jalan darahku, melepaskan darahku untuk menolong jiwamu, tidak aneh kalau kau masih selalu teringat akan diriku….”

Di dalam hati ia berpikir demikian, namun diluaran ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Terdengar gadis itu berkata lebih jauh dengan nada sedih ;

“Kau tentu merasa heran bukan mengapa aku ucapkan kata2 semacam ini? padahal seandainya kau adalah aku, kaupun akan berbuat yang sama. Seseorang yang sepanjang tahun menderita sakit, selama belasan tahun jarang sekali hidup dalam keadaan sadar, bisa berkenalan dengan seseorang hal ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat berharga!”

Napasnya tersengkal, setelah merandek sejenak terusnya, “Dikala aku berada dalam keadaan sadar, ayahku seringkali menyebut namamu.

Dia bilang asalkan darah dalam tubuhku bisa diganti dengan darah segarnya, maka aku bisa mendapatkan kembali kesehatan badanku, aku bisa bergembira dan bermain seperti orang lain, maka dari itu namamu sudah terukir dalam sekali dalam benak maupun hatiku

“Ooouw…. kiranya begitu!”

“Bukan demikian saja, aku masih ingat bukankah kita pernah saling berjumpa?”

“Tidak salah, kita memang pernah saling berjumpa, tetapi setiap kali berada ditengah kegelapan, dari mana Nona masih ingat selalu?”

“Walaupun cuma sekilas pandang namun potongan badanmu serta raut wajahmu telah meninggalkan kesan yang samar2 dalam hatiku setelah kupikirkan dan kubayangkan siang maupun malam akhirnya bayangan yang masih samar2 itu telah berubah makin jelas separuh dari bayangan tersebut adalah hasil ingatanku sedang separuhnya lagi adalah ciptaanku sendiri.”

“Selama ini kau selalu berada dalam keadaan tidak sadar. bisa sadarpun jarang sekali, sungguh tak nyana kau masih punya minat untuk memikirkan persoalan itu….” batin Siauw Ling.

“Wan-jie….” terdengar Tok Chiu Yok Ong berseru. “Kau sangat lelah, beristirahatlah sebentar.”
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 27"

Post a Comment