Bayangan Berdarah Jilid 25

Mode Malam
JILID 25

Bala bantuan dari perkampungan Pek Hoa San Cung mengalir datang tiada hentinya, sela Sang Pat. “Meskipun Toan Bok Cheng sinaga sakti berlengan delapan serta Ciang Toa Hay sipendekar pincang sekalian telah dibatnu oleh Suma Kan serta Siang Hwie, rasanya merekapun tak bisa bertahan terlalu lama”.

“Tentang soal ini cayhe sudah bikin persiapan entah bagaimana keadaan luka Siauw-heng? apakah sudah dapat berjalan?”

“Aaah, tidak mengapa” Kiem Lan nyeletuk, “Seandainya ia tak sanggup berjalan sendiri, biarlah kugendong….”

“Tak usah merepotkan dirimu” seru Siauw Ling sambil meloncat bangun dari atas tanah. “Luka kecil diluar kulit ini tidak terhitung seberapa!”

“Siauw-heng, kau harus berjaga diri demi keselamatan seluruh umat Bu-lim dikolong langit, jangan terlalu memaksa….” kata Be Boen Hwie memperingatkan.

“Tidak perlu dikuatirkan!” dengan langkah lebar ia lantas maju kedepan.

Sang Pat serta Kiem Lan dengan cepat membuntuti disisi kiri dan sisi kanan sianak muda itu.

Suara bentakan keras serta jeritan ngeri berkumandang datang tiada hentinya, jelas pertarungan sengit yang berlangsung antara kedua belah pihak berjalan dengan amat serunya.

Walaupun Siauw Ling ada maksud untuk putar badan memberi bantuan kepada para jago, namun luka dipunggungnya terasa amat sakit sekali, sadarlah sianak muda ini bahwa ia tak punya tenaga untuk bertempur lebih jauh, tak terasa sambil menghela napas panjang lambat2 melanjutkan perjalanan ke arah depan.

Dalam sekejap mata lima li sudah dilewati, dihadapan mereka terbentang sebuah jalan raya yang melintasi sebuah selat sempit dijepit oleh dua buah bukit yang menjulang tinggi keangkasa didepan mulut selat berdiri seorang lelaki kekar bercambang.

Siauw Ling kenali orang itu sebagai Lam-Ih Poh Thian Seng.

“Poh-heng, apakah semua persiapan telah selesai?” tegur Be Boen Hwie sambil maju kedepan dan menjura.

“Semua persiapan telah selesai, silahkan Be-heng serta cuwi sekalian beristirahat ditikungan bukit sana, kami telah siapkan makanan buat cuwi semua serta kuda2 jempolan sebagai ganti kaki”.

“Aaah, ternyata mereka sudah bikin persiapan yang cermat” pikir Siauw Ling diam2. “Entah rencana siapa ini….”.

Sementara masih berpikir, para jagopun telah melewati dua buah bukit yang tinggi dan menembusi selat sempit tersebut, setelah melewati selat tadi pemandangan secara tiba-tiba berubah.

Tampaklah dihadapan mereka terbentang sebuah tanah rumput yang sangat luas, ringkikan kuda berkumandang tiada hentinya. Tidak salah lagi disitu benar2 sudah tersedia puluhan ekor kuda jempolan lengkap dengan pelananya.

“Silahkan Siauw-heng serta cuwi sekalian beristirahat sebentar ditempat ini” bisik Be Boen Hwie lirih. “Siauw-te akan menyambut para jago yang sedang mengundurkan diri dari pos pertama”.

“Setelah beritirahat beberapa waktu, siauw-te merasa kesehatan badanku telah pulih kembali, aku siap mengikuti Be-heng berangkat kesitu” sambung Siauw Ling.

“Kami telah siapkan tanda yang saling berhubungan tak usah kita lari balik lagi kesana, siauwte tidak berani merepotkan diri Siauw-heng”

“Aaaai…. demi aku Siauw Ling cuwi sekalian harus bertempur mati2an, mana boleh aku tetap berpeluk tangan belaka?”

“Tetapi luka Siauw-heng….”

“Tak usah kau kuatirkan!”

Be Boen Hwie merasa kurang leluasa untuk menghalangi niatnya lagi, terpaksa ia menyahut ;

“Boleh, boleh saja kalau Siauw-heng ingin turun melihat keadaan, namun lebih baik jangan turun tangan.”

“Cayhe akan ikut berangkat guna melindungi toako” seru Sang Pat sambil bangun berdiri.

Sebetulnya Siauw Ling ingin mencegah, namun menyaksikan ketulusan hatinya terpaksa ia membungkam.

Demikian tiga orang itu segera lari kemulut selat, dimana situasi-pun telah berubah sama sekali.

Ketika itu dimulut selat telah bertambah dengan empat lima orang jago bersejatakan terhunus.

Sekilas memandang para jago disana, Siauw Ling segera kenali hampur separuh dari antara mereka.

Pemuda ganteng berpakaian berkabung yang ada dipaling kiri mencekal sebilah pedang yang panjangnya tidak sampai dua depa, dia bukan lain adalah putra dari ciangbunjien Thay-Khek-Boen aliran Selatan yang tersohor akan ilmu pedang Hwee-Hong-Cap-Pwee-Kiam, Sak Hong Sian adanya.

Disisi Sak Hong Sian berdiri seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang berdiri dengan angker, dia bukan lain adalah Tiam Koen dari perguruan Thay-Kek-Boen aliran selatan pula.

Kemudian adalah seorang kakek berbaju yang menyoren pedang, secara lapat2 Siauw Ling kenali orang itu sebagai Tang Kong Seng dari perguruan It-Heng-Boen.

Orang yang paling kiri dan berdiri disisi Poh Thian Seng punya perawakan tinggi besar, wajahnya merah dan dipinggangnya tersoren palu berantai perak. membawa gendewa serta anak panah, dia bukan lain adalah sin-Ciam-Ceng-Kan-Koen, sipanah sakti yang menggetarkan jagad Tong Goan Khie.

Kecuali lima orang jago yang menghadang di depan selat, dibalik batu karang sisi bukit tampak bayangan manusia berkelebat kesana kemari jelas disanapun sudah siap jago-jago lihay.

Suatu ingatan berkelebat dalam benak Siauw Ling pikirnya ;

Kiranya mereka bersembunyi dibalik semak belukar dibelakang dinding bukit itu tidak aneh kalau aku tak berhasil menemukan jejak mereka.

Tong-heng silahkan melepaskan tanda rahasia dan panggil mereka agar segera mengundurkan diri” seru Be Boen Hwie.

Tong Goan Khie mengiakan ia ambil keluar anak panah lalu dipasang diatas gendewa kemudian melepaskan panah bersuara tersebut ketengah angkasa.

Bluumm….! tatkala anak panah tadi meluncur keangkasa mendadak meledak dan menciptakan segulung asap berwarna putih.

Orang perkampungan Pek Hoa San Cung bertempur dengan cara mengerubut, harap cuwi sekalian tak usah sungkan2 dan turun tangan keji terhadap mereka, bisa membunuh seorang binasakan orang2 itu!” seru Be Boen Hwie lagi dengan suara berat.

“Ehmm, aku tahu,” Poh Thian Seng mengangguk. “sialhkan Be-heng beristirahat, persoalan ditempat ini tak perlu anda kuatirkan akan kami selesaikan sekuat tenaga.”

“Baiklah siauwte hanya akan menonton dari balik batu karang pokoknya aku tidak bakal turun tangan!”

“Kalau begitu silahkan mengikuti Siauwte?”

Tiba-tiba orang she Poh itu angakat tangannya ke atas kepala dan membuat kode satu lingkaran.

Para jago yang sedang menhadang ditengah jalan dengan cepat menggeserkan tubuhnya masing-masing bersembunyi dibalik semak belukar dibelakang batu karang itu.

Siauw Ling serta Sang Pat mengikuti dibelakang Be Boen hwie, dibawah petujuk Poh Thian Seng langsung menuju ke belakang batu karang di sebelah kanan bukit.

Kiri kanan serta muka belakang batu karang itu penuh tumbuh rumput lebat sehingga tempat tersebut amat rahasia dan tertutup, lagi pula medan penglihatan dari atas sangat luas.

Baru saja beberapa orang itu menyembunyikan diri tampaklah empat ekor kuda laksana kilat berlari mendekat.

“Aaah mereka telah berhasil menerobos hadangan2 yang kita pasang pada pos pertama….” seru Be Boen Hwie dengan suara lirih.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita lukai dahulu beberapa orang diantara mereka agar orang itu tahu rasa?”

Ia pertinggi suaranya dan melanjutkan.

“Tong-heng orang2 yang ada diatas kuda merupakan boe-su dari pekampungan Pek Hoa San Cung harap Tong-heng tak usah sungkan2 dalam melancarkan serangan.”

Dari situasi yang dihadapinya ini, Siauw Ling mengerti dalam kelompok Bu-lim lapisan kedua ini Poh Thian Seng-lah pemimpinnya.

Sementara ia berpikir, desiran anak panah menderu2, boe-su yang berada dikuda pertama mendadak menjerit ngeri dan roboh ke atas tanah

“Gelar sipanah sakti dari Tong Goan Khie benar2 bukan nama kosong belaka” puji Siauw Ling dalam hati. “Jarak sejauh inipun masih bisa dicapai dengan anak panahnya begitu hebat.

Desiran tajam berkumandang tiada hentinya, kembali beberapa batang anak panah menembusi angkasa meluncur kedepan.

Agaknya para boesu diatas kuda itu sudah waspada, mereka segera menyebarkan diri dan menerjang kedepan.

Kendati reaksi mereka cukup cepat dalam menghadapi situasi tersebut, tak urung mereka terlambat juga selangkah, kembali seorang lelaki kekar roboh terjengkang dari atas kuda termakan anak panah itu.

Dua orang penunggang terakhir dari perkampungan Pek Hoa San Cung itu sama sekali tidak dibikin gentar karena menyaksikan rekannya terluka, bukannya mundur mereka malah melarikan kudanya semakin kencang untuk menerjang datang.

“Be-heng, harap kau suka menonton jalannya pertarungan dari sini, siauw-te akan turun tangan menghadang musuh itu” bisik Poh Thian Seng.

“Poh-heng, silahkan melaksanakan tugasmu!”

Poh Thian Seng tersenyum, ia loncat turun dari tempat persembunyiannya dan langsung menuju kemulut selat.

Dalam pada itu dari balik semak belukar di belakang batu cadas secara beruntun para jago munculkan diri dan menghadang jalan pergi boesu2 tersebut.

Sak Hong Sian ciangbunjien dari pergurunan Thay-Khek-Bun aliran selatan turun tangan lebih dahulu pedang pendeknya dikebaskan langsung menyerang seseorang yang ada disebelah kiri.

Serangannya dilancarkan cepat laksana kilat cahaya pedang berkelebat memenuhi angkasa.

Orang yang ada diatas kuda adalah seorang lelaki berbaju serba hijau, melihat datangnya serangan dia tarik kudanya untuk menghindar, kemudian ambil kesempatan itu dia cabut keluar golok Yan Ling-to yang tersoren di punggungnya.

Serangan pertama mengenai sasaran kosong Sak Hong-sian melancarkan serangan yang kedua.

Ternyata ilmu silat yang dimiliki lelaki berbaju hijau itu tidak lemah goloknya segera disabet ke luar sehingga membawa deruan angin tajam terjadilah suatu pertarungan yang seru melawan Sak Hong Sian.

Pemuda she Sak itu melancarkan babatan berulang kali namun mereka tetap mempertahankan posisi sama kuat hal ini membuat hatinya sangat gelisah pedangnya diputar semakin kencang.

Terdengar Tiam Koen berbisik lirih, Ilmu silat aliran Thay Kheh Bun kami mengutamakan tenang menghadapi gerak apabila Ciangbunjien bernapsu dan mengikuti emosi maka hal ini merupakan suatu pelanggaran besar terhadap pantangan perguruan kami.

Tidak salah lagi setalah Sak Hong-sian menjadi tenang dan bertarung dengan hati mantap serangan pedangnya tampak semakin dahsyata dan semakin membahayakan.

Beberapa kali lelaki berbaju hijau itu ingin turun dari kudanya namun setiap kali kena dipaksa oleh ujung pedang Sak Hong-sian sehingga tak mungkin baginya untuk turun.

Dikala Sak Hong-sian untuk turun tangan Tang Kong-seng dari It-Heng-bun pun ikut turun tangan menyerang lelaki lain dari perkampungan Pek Hoa San Cung itu.

Tang Kong-seng seorang jago kawakan yang punya banyak pengalaman dalam menghadapi serangan musuh serangan2 yang dilontarkan mengandung kekerasan diantara kelembutan inilah letak keistimewaan dari ilmu silat perguruan It-Heng Boen.

Setelah bergebrak puluhan gebrakan dua orang lelaki berbaju hijau itu mulai tak sanggup mempertahankan diri Sak Hong-sian mendapat hasil lebih dahulu, sekali tusuk ia lukai kuda jempolah milik lawannya.

Kuda itu terluka dan meringkik panjang sepasang kaki depan pun segera diangkat ke atas.

Lelaki berbaju hijau itu babat goloknya dengan jurus Lek Peng Thian Lam atau mendobrak hancur langit selatan, ia tutup tubuh sendiri rapat2 kemudian loncat turun dari atas kuda.

Tentu saja Sak Hong Sian tidak akan membiarkan dia meloloskan diri, badannya maju mendesak, pedangnya menangkis miring babatan golok lawan kemudian telapak kirinya diayun kemuka.

Serangan ini datangnya tepat pada saatnya, baru saja lelaki itu meloncat turun dari atas kuda dan belum mencapai permukaan tanah, serangan sianak muda itu sudah meluncur tiba.

Bruuk…. dengan telah serangan tadi bersarang diatas punggung sebelah kiri lelaki itu.

Terdengar orang itu mendengus berat, tak kuasa badannya roboh kedepan.

Sak Hong Sian meloncat kedepan mengirim sebuah tusukan, ujung pedangnnya segera menembusi dadanya, darah segar mengucur keluar dengan derasnya membasahi lantai, suatu tendangan susulan membuat mayat lelaki tadi mencelah jauh dari sisi kalangan.

Pada saat itu Tang Kong Seng telah mengeluarkan jurus ampuh perguruan It Heng Bun-nya yaitu jurus “Cion-Lang-Tiap-Poo” atau ombak menggulung riak membuih, cahaya pedang berlapis-lapis menyilaukan mata seketika itu maka ia membelah tubuh lelaki jadi dua bagian.

Beberaoa orang itu mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengan Shen Bok Hong, maka dari itu terhadap setiap anggota perkampungan Pek Hoa San Bung merekapun membenci sampai merasuk ke tulang, setiap serangan dilancarkan pasti keji dan telengas.

Ketika kedua orang itu berhasil membinasakan musuh2nya, dari atas jalan raya melayang datang enam tujuh sosok bayangan manusia dengan cepatnya.

Dibelakang bayangan manusia itu dengan kencang mengikuti puluhan orang Boesu berbaju hitam.

Orang yang melarikan diri paling depan tiada hentinya melepaskan senjata rahasia untuk menghadang pengejaran boesu2 berbaju hitam itu.

Tong Goan Khie segera pentang gendewa melepaskan anak panah, dalam sekejap mata tiga orang Boesu berbaju hitam telah roboh binasa termakan anak panah tersebut.

Beberapa saat kemudian, para jago telah makin mendekati mulut selat pos kedua.

Siauw Ling yang bersembunyi dibelakang batu dapat melihat Ciang Toa Hay serta Toan Bok Cheng telah berubah jadi manusia darah, Sam-Yang-Sin-Tan sipeluru sakti Liok Koei Cang dengan tangan kanan membawa senjata Hwie-Liong Pang, lengan kirinya telah basah oleh darah, agaknya iapun menderita luka yang sangat parah.

Dalam keadaan terluka sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Cheng masih melepaskan juga senjata rahasianya untuk menghadang jalan maju musuh2 itu.

Sigadis berbaju hijau yang berwajah dingin dan agung itu, saat ini keadaannya mengerikan, rambut panjangnya terurai dan seluruh badannya penuh berlepotan darah.

Disamping itu terdapat pula seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang bersenjatakan pedang, agaknya pahanya terluka sehingga sewaktu berlari lagaknya mirip sedang me-lompat2.

Suma Kan serta Siang Hwie berada dibarisan paling belakang, sambil bertempur mereka mundur terus ke belakang.

Cukup ditinjau dari keadaan beberapa orang itu, jelaslah sudah bahwa pertempuran yang barusan berlangsung tentu amat mengerikan.

Poh Thian Seng menyingkir kesamping memberi jalan lewat buat Ciang Toa Hay sreta Toan Bok Cheng sekalian lewat, kemudian membentak keras dan lintangkan badannya menghadang jalan pergi boesu2 dari perkampungan Pek Hoa San Cung itu.

Empat lima orang boesu yang sedang melakukan pengejaran segera berhenti mereka terperanjat tatkala menyaksikan dihadapan mereka kembali muncul hadangan para jago-jago tangguh.

Poh Thian Seng mendongak, ia temukan boesu berbaju hitam yang berkumpul disitu makin lama semakin banyak, dalam sekejap mata puluhan orang sudah berkumpul disitu, dari tempat kejauhan pun debu mengepul, agaknya terdapat ber-puluh2 ekor kuda sedang berlari mendatang.

Dalam pada itu Tong Goan Khie sudah masukkan kembali gendewa serta anak panahnya, ia lepaskan senjata bandulan berantainya siap menghadapi musuh.

Sak Hong Sian, Tang Kong Seng, Tiam Koen sekalian berlima berdiri berjajar ditengah jalan, dengan begitu selat yang lebarnya cuma beberapa tombak tadi seketika tersumbat sama sekali.

Dalam waktu singkat empat lima puluh orang Boesu berbaju hitam telah berkumpul disana dengan senjata terhunus, semua aneh sekali, mereka tidak segera melancarkan serangan se-akan2 sedang menantikan sesuatu.

Siauw Ling yang dapat menyaksikan keampuhan serta pengaruh perkampungan Pek Hoa San Cung diam2 menghela napas panjang pikirnya,

“Shen Bok Hong betul2 seorang manusia yang luar biasa, cukup ditinjau dari keberhasilannya mendidik boesu begitu banyak apabila tidak memiliki kecerdikan serta kewibawaan yang besar, mungkin sulit untuk melaksanakannya….”

Siauw Ling pernah bergebrak melawan boesu2 tersebut, walaupun ilmu silat mereka ada yang lihay namun ada pula yang cetek, tapi kalau ditarik kesimpulan mereka semua boleh terhitung sebagai jago-jago kangouw kelas wahid.

Terlihatlah sewaktu Ciang Toa Hay serta Toan Bok Cheng berhasil melewati pertarungan para jago dan berjalan doa tombak lebih kedepan tiba-tiba mereka roboh terjengkang ke atas tanah.

Kiranya setelah melangsungkan pertarungan sengit beberapa saat lamanya dan menderita luka parah dipelbagai tempat, sebetulnya mereka berdua sudah tidak tahan, namun dengan andalkan tenaga dalam hasil latihan sepuluh tahun dengan paksakan diri mereka masih sanggup mempertahankan diri, tetapi setelah lewat dari medan yang penuh dengan bahaya, ketegangan merekapun semakin mengendor, dalam keadaan seperti ini hawa murni segera buyar dan merekapun roboh ke atas tanah.

“Aaaai…. sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Cheng serta sipendekar pincang Ciang Toa Hay merupakan jago-jago kelas satu dalam dunia persilatan yang punya nama terkenal, sungguh tak nyana saat ini harus menderita luka seperah itu” ujar Sang Pat sambil menghela napas panjang.

Sementara ia ada maksud bangun berdiri dan membopong kedua orang itu menyingkir dari sana, tiba-tiba dari balik semak disisi selat muncul dua orang lelaki kekar yang segera membopong kedua orang tua itu masuk ke dalam rerumputan.

Dalam pada itu Sipadri pemabok serta pengemis kelaparan yang bersemedi dibelakang bukit telah selesai dengan latihannya, namun sewaktu menyaksikan luka yang diderita Toan Bok Ceng mereka saling berpandangan dan menghela napas sedih.

“Luka yang diderita Siauw Ling tidak enteng” kata Sipengemis kelaparan kemudian dengan suara lirih ; “Apabila ia harus turun tangan lagi mungkin mulut lukanya akan pecah, sejak pertarungan yang berlangsung barusan ini secara lapat2 kita bisa merasakan bahwa dia adalah satu satunya lawan paling tangguh dari Shen Bok Hong, demi kesel’

amatan umat Bulim dikemudian hari, kita tak boleh membiarkan dia sampai menderita lagi.

“Tidak salah!” Sipadri pemabok manggut sambil bangun berdiri. “Kita harus pergi kesitu dan menasehati dirinya agar jangan turun tangan lagi….”

Ia merandek lalu tertawa getir dan menyambung ;

“Aku rasa luka yang diderita Sun Put Shia. Tiang-loo dari Kay Pang tidak enteng, cuma dikarenakan ia malu memperlihatkan luka tersebut dihadapan para jago maka ia berlalu seorang diri. Aai….! semoga saja ia pandai menyembunyian diri sehingga jejaknya tidak sampai ditemukan oleh orang2 perkampungan Pek Hoa San Cung”.

Sepanjang hidupnya entah sudah berapa banyak pengalaman seram yang mereka jumpai, boleh dikata mereka adalah jago kawakan yang banyak pengalaman, namun hati mereka dibikin keder juga setelah mengalami pertempuran sengit di dalam perkampungan Pek Hoa San Cung.

Sipengemis kelaparan berpaling memandang sekejap ke arah Giok Lan sekalian, lalu ia berseru ;

“Nona, harap kau suka baik2 merawat luka yang diderita oleh dua orang itu!”

Habis berkata ia bangkit berdiri dan berlalu ber-sama2 sipadri pemabok.

Sementara itu situasi diluar mulut selatpun kembali terjadi perubahan, para bow-su berbaju hitam yang datang dari perkampungan Pek Hoa San cUng telah membentuk sebuah barisan didepan sana, namun barisan itu tidak segera melancarkan serbuan sebaliknya se-akan2 sedang menunggu kedatangan seseorang.

Siauw Ling berpaling sekejap ke arah Be Boen Hwie lalu ujarnya.

“Be-heng, jumlah musuh jauh lebih besar daripada kekuatan kita, tidak pantas kalau kita melawan dengan kekerasan, lebih baik kita mencari sebuah akal bagus untuk mengundurkan musuh tangguh itu?”

“Aaai….! kecuali anak murid Kay-pang serta partai Siauw-lim yang dapat mengimbangi kekuatan dari perkampungan Pek Hoa San Cung mungkin partai lain tidak mempunyai begitu banyak murid yang bisa memberi perlawanan terhadap serangan2 mereka” bisik Be Boen Hwie sembil menghela napas panjang.

Maksud dari ucapan tersebut sudah jelas sekali, ia sudah tidak punya keyakinan untuk kmerebut kemenangan dari pertarungan yang bakal berlangsung nanti.

Teringat betapa ngeri dan berbahayanya situasi mereka sewaktu bertempur setengah malaman dalam perkampungan Pek Hoa San Cung diam2 Siauw Ling bergidik dia sadar apabila Soen Put Shia tidak membantu dirinya niscaya lebih banyak jago yang akan gugur dalam perkampungan tersebut ia lantas menghela napas panjang.

Apabila Beheng dapat berusaha untuk menghubungi partai2 besar dan ajak mereka untuk bekeraja sama

Sembilan partai besar memang bersumber dari satu aliran namun pendapat tiap perguruan masing masing berbeda” tukas Be Boen Hwie sambil menggeleng. Lagipula belum sampai beberapa tahun Siauw-te berkelana dalam dunia persilatan. Sembilan partai besar tidak akan pandang sebelah matapun terhadap diri Siauw-te.

Sementara mereka masih berbicara, tiba-tiba dari balik bukit melayang datang dua sosok bayangan manusia.

Dengan ketajaman mata Siauw Ling sekilas pandang ia segera kenali orang itu sebagai Chan Yap Cheng dari partai Bu-tong ia kenakan pakaian ringkas dengan sebilah pedang tersoren di pinggang.

Di samping kanan Chan Yap Ceng adalah seorang lelaki kekar bercambang, bermata gede, berwajah persegi dan sangat berwibawa, dia adalah pendekar kedua dari Tiong-Lam siang-HIap Theng It Loei adanya.

“Siauw-heng, sudah kau lihat lelaki bercambang itu?” bisik Be Boen hwie lirih.

“Orang itu adlaah Theng It Loei pendekar kedua dari Tiong-Lam-Siang-Hiap, sedangkan sianak muda yang jalan disisinya pun bukan manusia sembarangan, diapun seorang pendekar sejati”

“Entah siapakah orang itu? apakah kau kenal?”

“Kenal, dia adalah sute dari Boe-Wie Tootiang Chan Yap Cheng adanya!”

“Ooouw….! kiranya Chan thayhiap, sudah lama suaiwte mendengar nama besarnya”.

“Kedatangan mereka berdua tentu hendak membantu kita untuk menghadapi serangan musuh”.

“Aku dengar antara partai Bu-tong dengan pihak perkampungan Pek Hoa san Cung pernah mengikat tali permusuhan?”

“Tidak salah”

“Perduli kedatangannya untuk membantu atau cuma menonton, sudah sepantasnya kalau kita sambut kedatangannya”.

“Tidak salah, memang seharusnya begitu”.

Be Boen Hwie segera bangkit berdiri dan menyambut kedatangan kedua orang itu dengan langkah lebar, setelah menjura segera tegurnya.

“Theng ji-hiap, selama berpisah apakah kau dalam keadaan sehat saja? masih kenalkan dengan cayhe Be Boen Hwie?”

Theng It Loei balas memberi hormat lalu menjawab ;

“PErbuatan Be-heng masuh ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung, dewasa ini sudah tersiar keseluruh dunia persilatan, keberanian serta kegagahanmu sungguh membuat cayhe merasa kagum”

“Aaai….! apabila dibicarakan sungguh menyesal sekali….”

“Haa…. haa…. haa…. orang lain mungkin tidak tahu akan kelihayan perkampungan Pek Hoa San Cung, namun siauwte mengetahui jelas akan hal ini. Be-heng dapat keluar dari perkampungan Pek Hoa San cung dalam keadaan selamat dan aman tenteram, bukan saja keberanian dan pengetahuan, ilmu silatmu pun punya kehebatan melebihi orang”.

“Aaai…. siauwte dapat keluar dari perkampungan Pek Hoa San Cung dengan selamat, hal ini….”

“Haaa…. haa…. perduli dengan cara apapun Be-heng berhasil meloloskan diri, yang jelas keluar dari perkampungan Pek Hoa San Cung bukanlah suatu pekerjaan gampang” kembali Theng It Loei menukas sambil tertawa tergelak.

Ia berpaling memandang ke arah Shan Yap Cheng lalu menambahkan.

“Saudara ini adalah adik seperguruan dari Boe Wie Tootiang, ciangbunjien dari Bu-tonh-pay dewasa ini, Chan Yap Cheng….”

“Sudah lama cayhe mendengar nama besar Chang-heng sungguh beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa” Be BOen Hwie segera menjura.

“Sudah lama pula siauwte mendengar nama besar serta kecerdikan dari Be Cong Piauw Pacu yang memimpin propinsi Hoo-lam, Auw Pak, Auw Lam serta Kiang-sie, sudah lama pula cayhe merasa kagum ;

“Terima kasih, terima kasih.”

Tiba-tiba suitan panjang yang berkumandang dari belakang tubuh mereka memotong ucapan Be Boen Hwie yang belum selesai diutarakan.

Ketika berpaling, tampaklah para boesu berbaju hitam berkumpul dimulut selat sama2 memisahkan diri jadi dua bagian dan berdiri dengan wajah serius.

Tiga ekor kuda jempolan lambat2 berjalan melewati kawanan Boe-su itu dan mendekati Poh Thian Seng sekalian.

Menyaksikan orang yang ada diatas kuda, Be Boen Hwie sangat terperanjat sehingga tanpa sadar ia berseru ;

“Aaaah! Shen Bok Hong telah tiba….”

“Kami datang untuk membantu, biarlah pertempuran babak pertama serahkan kepadaku” buru-buru Thang It Loei menyambung, selesai berkata maju kedepan dengan langkah lebar.

“Gerakan Be-heng memasuki perkampungan Pek Hoa San Cung telah menggetarkan seluruh dunia persilatan,” bisik Chan Yap Ceng lirih. “Su-hengku beserta beberapa orang jago dari partai Siauw-lim sebentar lagi akan tiba disini, harap Be-heng jangan putus asa dan patah semangat!”

Tanpa menunggu jawaban dari Be Boen Hwie lagi ia segera berlalu mengikuti dibelakang Theng It Loei.

Mendengar kabar berita orang she be inipun berlega hati, pikirnya, “Seandainya pihak Bu-tong serta Siauw-lim telah kirim orang datang kemari, maka posisiku pun semakin kuat, tak usah menguatirkan kekuatan musuh lagi….”

Pada waktu itu Chan Yap Ceng serta Theng It Loei telah menggabungkan diri dengan rombongan Poh Thian Seng sekalian, sejata dihunus dan menghadang ditengah jalan.

Be Boen Hwie segera lari masuk ke dalam barisan para jago, dan bersiap sedia pula menghadapi segala kemungkinan.

Tampaklah Shen Bok Hong yang berperawakan tinggi besar namun bongkok itu duduk diatas sebuah kuda berwarna putih salju, sepasang matanya yang tajam per-lahan-lahan menyapu sekejap para jago kemudian menegur, “Apakah Sun Put Shia sipengemis tua itu berada disini?”

Para jago yang hadir dalam kalangan ini sebagian besar tidak ikut bertempur di dalam perkampungan Pek Hoa San CUng, maka tak seorangpun dapat menjawab pertanyaan itu.

Be Boen Hwie tertawa dingin.

“Kau menanyakan tentang Sun Loo cianpwee?” jengeknya. “Karena ada urusan ia sudah pergi, apabila Shen cungcu ada urusan katakan saja kepada diri cayhe”.

Sinar matanya menyapu ke arah dua orang jago yang ada dibelalkang Shen Bok Hong, mereka adalah si kakek hitam dan si kakek putih atau bukan lain adalah sepasang kakek hitam putih dari gunung Tiang-pek-san yang ada dipropinsi Kwang-tong.

Nama besar Hek-Pek-Jie-Loo sudah tersohor diluar perbatasan, ilmu silatnya sangat lihay dan disegani orang, namun bagi jago kangouw jarang ada kenal akan mereka, kecuali Be Boen Hwie yang pernah berjumpa dengan mereka sewaktu ada di dalam perkampungan Pek Hoa San Cung.

“Kau bukan tandinganku” dengus Shen Bok Hong sambil tertawa dingin. “Aku hendak cari pengemis tua itu untuk bikin perhitungan”.

Mendadak Poh Thian Seng cabut keluar senjatanya dan membentak, “Perduli siapapun yang hendak kau cari, jangan harap bisa melewati tempat ini sebelum melangkahi mayatku”.

“Dengan andalkan kekuatan cuwi sekalian, kamu ingin menghalangi jalan pergi aku orang she Shen?” ejek Shen Bok Hong sambil tertawa sinis.

“Shen Bok Hong, jangan sombong dulu, walaupun ilmu silatmu lihay belum tentu semua orang jeri kepadamu” hardik Theng It Loei dengan gusarnya.

“Tiam Jie-hiap usiamu benar2 amat panjang” jengek Shen Bok Hong sambil melirik sekejap ke arah Tiam It Loei.

Diluaran meski Tiam It Loei bicara ketus namun dalam hati iapun paham bahwasanya Shen bOk Hong memiliki ilmu silat yangluar biasa dahsyatnya seandainya ia disuruh satu lawan satu maka tidak sampai sepuluh gebrakan mungkin ia sudah keok….

Tidak menanti orang she Tiam itu buka suara sinar mata Shen Bok Hong telah dialihkan ke atas wajah Be Boen Hwie dan berkata lebih jauh, Aku orang she Shen dengar, pertarungan sengit yang telah terjadi di dalam perkampungan Pek Hoa San Cung kali ini adalah muncul dari rencana kau orang she Be entah benarkah kabar berita yang tersiar luas ini.

“Kalua benar kenapa?”

Shen BOk Hong tertawa hambar.

Walaupun berita yang tersiar diluaran mengatakan demikian namun aku orang she Shen merasa rada sangsi….” sahutnya.

Ia tertawa nyaring, dan sambungnya lebih jauh.

Bukannya aku orang she Shen terlalu pandang rendah kau Be Boen Hwie tapi aku percaya Be Thay-hiap tidak bakal memiliki kemampuan sedahsyat itu coba bayangkan saja Soen Put Shia pun tidak mampu kalau dugaan aku orang she Shen tidak salah pengemis tua itu semestinya sudah menderita luka parah.

Ucapan ini membuat Be Boen Hwie terperanjat diam2 pikirnya ;

Orang ini sungguh lihay apa yang diduga ternyata tepat sekali.

Terdengar Shen Bok Hong tertawa panjang dengan nada yang amat dingin, lalu sambungnya lagi, Aku tahu diantara kalian semua pasti ada seorang jago yang memiliki ilmu silat sangat lihay bukan saja cuwi sekalian bukan tandingannya bahkan Soen Put Shia pun jeri tiga bagian terhadap dirinya kedatangan aku orang she Shen bukan lain adalah ingin menjumpai jago tersebut.

Poh Thin-seng sekalian belum tahu bagaimana ngeri dan seramnya pertarungan yang terjadi dalam perkampungan Pek Hoa San Cung tapi tatkala mereka dengar bahwasanya Soen Put Shia si Tiangloo dari Kay pang yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatanpun ikut serta di dalam pertempuran tersebut, hati mereka sudah dibikin terkejut kini mendengar pula bahwa ada seseorang memiliki ilmu silat jauh diatas Sun Put Shia, hati mereka semakin terperanjat lagi dibuatnya.

Tampak Be Boen Hwie termenung sejenak lalu bertanya ;

“Shen toa cungcu, dapatkah kau menebak siapakah orang itu?”

Ucapan ini sama artinya telah mengakui kebenaran dari ucapan Shen Bok Hong tadi, maka para jago sama2 jadi melengak.

“Benarkah terdapat seorang jagoan yang demikian lihaynya?” pikir mereka hampir berbareng.

“Walaupun cayhe tidak tahu nama dari orang itu, tapi aku duga ia telah menyusup ke dalam perkampungan Pek Hoa San Cung kami dengan jalan menyaru!” jawab Shen Bok Hong dingin.

“Heeh…. heeh…. aku tidak percaya kalau Shen Toa Cungcu benar2 tidak tahu”.

“Tahu atau tidak rasanya bukanlah suatu persoalan yang penting, masalah yang paling pentig pada saat ini adalah menyuruh orang itu segera munculkan diri untuk menemui aku orang she Shen”.

“Apabila Shen Toa Cungcu tahu tapi tak mau utarakan keluar, aku lihat lebih baik tak usah menemui dia lagi!”

Shen Bok Hong tersenyum mengejak, ia sapu sekejap wajah para jago yang berbaris rapi dihadapannya lalu berkata!

“Apakah cuwi sekalian benar2 ada maksud untuk bergebrak melawan aku orang she Shen?”

“Seandainya Shen Toa Cungcu tidak dengarkan nasehat kami, terpaksa kami harus melakukan kesalahan!” timbrung Chen Yap Cing tiba-tiba.

Sinar mata Shen Bok Hong berkilat, ia sapu sekejap wajah jago Bu Tong Pay itu lalu menegur, “Suhengmu Boe Wie Tootiang apakah ikut datang kemari?”

Ucapan tersebut diam2 membuat Ceng Yap Cing kagum, batinnya.

“Sungguh tajam pandangan mata orang ini ia betul2 manusia luar biasa hanya sekali bertemu dengan aku ternyata sampai sekarang ia masih ingat asal usulku!”

Sementara otaknya masih berputar, tiba-tiba terdengar suara pujian kepada Budha berkumandang datang.

Dalam sekejap mata tampaklah seorang tootiang menggembol pedang dengan diiringi dua orang hweesio berjubah warna putih berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Toojien itu berwajah angker dan gagah, dia bukan lain adalah jie suheng dari Cheng Yap Cing, yaitu Im Yang-cu adanya.

Sedang dua orang padri yang mengikuti dibelakang adalah seorang kakek tua serta seorang lelaki berusia empat puluh tahunan.

Sang padri berusia empat puluh tahunan itu memanggul sebuah poo-thung dan berjalan dengan langkah gagah, sedang sang hweesio yang sudah berusia lanjut dengan pejamkan sepasang matanya serta merangkap tangannya didepan dada berjalan dibelakang Im Yang-cu.

Sungguh cepat langkah kaki dari dua orang padri serta seorang toojien itu, dalam sekejap mata mereka sudah tiba di dalam barisan para jago.

Terlihatlah padri tua itu mengedipkan matanya lalu menghardik dengan nada berat ;

“Shen Toa cuncu. masih ingatkah kau dengan seorang sahabat lama yang pernah kau temui dua puluh tahun berselang?”

Shen Bok Hong melirik sekejap ke arah padri tua itu, mendadak wajahnya berubah hebat.

“Kau belum mati?” serunya tertahan.

“Omintohud, kali ini pinceng telah membuat kecewa harapan Shen Toa Cungcu”.

Walaupun dengan peristiwa lampau terpaut dua puluh tahun lamanya tapi aku orang she Shen percaya pada saat ini masih punya kemampuan untuk mencabut jiwamu”.

Dua puluh tahun berselang loolap nyaris lolos dari cengkeraman mautmu apabila dua puluh tahun kemudian loolap harus mati juga ditanganmu maka akan kuanggap hal ini sebagai takdir.

Shen Bok Hong tertawa dingin mendadak dia berpaling ke arah Hek Pek Jie-loo dan membisikkan sesuatu dengan nada lirih.

Ucapan itu dikirim dengan ilmu menyampaikan suara oleh karena itu para jago cuma melihat Hek Pek Jie-loo mengangguk tiada hentinya namun tak mendengar apa yang diucapkan Shen Bok Hong kepada mereka.

Dalam pada itu Be Boen Hwie pun segera diam2 memeriksa keadaan situasi ditempat itu berhubung dengan hadirnya rombongan Cheng Yap Cing serta Im Yang-cu sekalian maka kekuatan dipihak para jago semakin bertambah kuat ia sadar bahwa dengan ekuatan yang mereka punyai sekarang sudah mampu untuk membendung serbuan dari Shen Bok Hong maka hatinya para jago jadi lega.

Kini pihak Bu-tong serta Siauw-lim telah terjunkan diri ke dalam kancah ini pikirnya di dalam hati. “Aku rasa partai2 besar lainnya sudah mulai sadar dengan keadaan situasi yang mereka hadapi sekarang, seandainya sembilan partai besar dapat bersatu padu dan melawan Shen Bok Hong dengan segenap tenaga, meski perkampungan Pek Hoa San Cung penuh dengan manusia pandai, rasanya kamipun tak usah jeri….”

Pada saat itulah, mendadak dari tempat kerjauhan berkumandang datang dua buah suitan nyaring yang tinggi melengking menembusi angkasa disusul suara gembrengan yang dipukul ber-talu2 memecahkan kesunyian.

Ditengah siang hari bolong, suara suitan serta gembrengan itu kedengaran bagitu ngeri dan menyeramkan….

Dalam pada itu Siauw Ling yang bersembunyi ditempat yang tinggi dapat menyaksikan seluruh perubahan dalam kalangan dengan jelas, iapun segera berpikir ;

“Seandainya dua orang padri itu bisa membendung Shen Bok HOng dan Im Yang-cu serta Tiam It Loei bisa membendung Hek Pek Jie-loo dari luar perbatasan, rasanya dengan kekuatan para jago yang dibantu Cheng Yap Cing masih cukup mampu untuk membendung boesu2 berbaju hitam itu….”

Mendadak suara suitan serta gembrengan kembali berkumandang datang.

Si Sie-poa emas Sang Pat yang selama ini selalu mendampingi Siauw Ling segera berbisik lirih, “Sungguh aneh sekali, perkumpulan Sin Hong Pay yang selamanya bergerak dikala malam telah tiba, kenapa kali ini munculkan diri ditengah siang hari bolong?”

Tatkala mereka berpaling, terlihatlah empat lelaki kikar sambil menggotong sebuah patung arca yang tinggi besar dan berwajah bengis telah muncul disana.

Didepan patung arca berwajah bengis itu berjalan empat orang lelaki berbaju hitam yang masing-masing orang membawa sebuah gembrengan itu tiada hentinya.

Suara gembrengan itu panjang dan berat mendatangkan perasaan sedih dan tidak tentram bagi yang mendengarkan.

Sinar mata Siauw Ling dialihkan ke arah belakang patung arca berwajah bengis itu, tampaklah dibelakang patung tersebut mengikuti ber-puluh2 orang jago yang tinggi pendek itu.

Seumpama pihak Sin-Hong Pay punya suatu gerakan yang harus dikerjakan disiang hari bolong biasanya mereka hanya mengutus muridnya untuk menyelesaikan masalah tersebut, tapi kini pemimpin mereka muncul sendiri hal ini membuktikan kalau pergerakan tersebut luar biasa sekali. apa maksud kedatangannya.

Terasa suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya kepada Sang Pat segera bisiknya ;

“Cepat turun kebawah dan beritahu kepada Be Cong Piauw Pacu untuk menasehati para jago menyingkir kesamping dan memberi jalan lewat buat mereka, biarlah partai Sin Hong Pay bentrok lebih dahulu dengan Shen Bok Hong kemudian kita baru ambil langkah2 berikutnya.”

Sang Pat mengiakan, ia segera turun kebawah dan lari kesisi Be Boen Hwie bisiknya.

“Cayhe datang dengan membawa perintah dari toako!”

“Apa pesannya? cepat katakan” sahut Be BOen Hwie cepat, kini ia sudah merasa amat kagun terhadap Siauw Ling maka setiap ucapannya dituruti dengan seksama.

“Harap Be-heng suka menasehati para jago agar menyingkir saja kesamping, jangan se-kali2 terbitkan keonaran dengan orang2 Sin Hong Pay….”

Be Boen Hwie termenung sejenak kemudian mengangguk.

“Ehm, aku tahu,”

Setelah merandek sejenak sambungnya lebih jauh.

Nama besar Sang-heng maupun kedudukanmu jauh diatas aku orang she Be. ucapanmu berat bagaikan bukit, bagaimana kalau saat ini kau munculkan diri dan menasehati para jago?”

“Tak perlu nama serta kedudukan Be-heng sedang menanjak2nya, saat ini kau mendapat penghargaan tinggi dari para jago, lebih baik kau saja yang tampil kedepan.

Selesai bicara ia berkelebat kesisi batu karang dan balik kembali kesisi Siauw Ling.

Pembicaraan kedua orang itu dilakukan dengan suara lirih, lagi pula Sang Pat telah menyaru maka Im Yang-cu sekalian mengira dia cuma seorang bawahan dari Be Boen Hwie maka tak seorangpun yang ambil perhatian.

Dalam pada itu empat orang lelaki kekar yang menggotong patung arca tersebut sudah berada dua tombak dibelakang para jago.

Meskipun para jago dari partai Sin Hong Pay pun menyaksikan senjata terhunus ditangan para jago dan pertarungan hampir meledak diantara orang2 itu, namun mereka berlagak pilon dengan langkah lebar orang2 itu masih juga teruskan langkahnya kedepan.

“Cepat menyingkir kesamping dan buka jalan” Be Boen Hwie segera menghardik keras.

Keadaan terlalu memaksa membuat ia tiada kesempatan lagi untuk mengajak para jago berunding, maka tanpa berpikir panjang lagi ia segera menghardik para jago.

Im Yang-cu beserta dua orang padri itu segera menyingkir kesamping lebih dahulu.

Disusul Cheng Yap Cing, Tiam It Loei sekalian para jago pun mengikuti jejak rekannya menyingkir kesamping.

Tanpa mengucap rasa terima kasih orang2 partai Sin Hong Pay dengan busungkan dada segera berjalan lewat.

Empat orang lelaki yang membawa gembrengan besar dan berjalan dipaling depan itu langsung menuju ke arah Shen Bok Hong.

Menjumpai datangnya kekuatan lain, Shen Bok Hong tetap berdiri dengan angkernya, sepasang matanya yang tajam menatap patung arca tersebut dengan tak berkedip, sedang terhadap lelaki pembawa gembrengan yang makin mendekati tubuhnya ia sama sekali tidak ambil gubris.

Sejak partai Sin Hong Pay munculkan diri di dalam dunia persilatan, mereka hanya terkenal yang akan kekejiannya belaka, namun tak seorang menjumpai wajah sebenarnya dari pay-cu mereka, semua orang hanya tahu bahwa semua perintah partai muncul dari balik sebuah patung arca yang tinggi besar dan berwajah bengis.

Meski Shen Bok Hong sendiripun sudah menyusupkan mata2nya ke dalam tubuh Sin Hong Pay namun orang itupun tidak sanggup menerangkan keadaan dari partai itu dengan seksama.

Se-olah2 dalam partai Sin Hong Pay, setiap tingkat setiap jabatan diliputi oleh kabut misteri.

Sementara itu empat orang lelaki pembawa gembrengan sudah makin mendekati tubuh Shen Bok Hong, namun toa cungcu dari Perkampungan Pek Hoa San cung itu tetap berdiri tak berkutik.

Asal empat orang lelaki itu maju selangkah lebih kedepan, niscaya mereka akan menubruk tubuh shen Bok Hong dan mengakibatkan terjadinya bentrokan kekerasan.

Namun keempat orang lelaki itu tidak berbuat demikian, mendadak mereka berhenti berbunyi berkumandanglah irama musik yang merdu merayu namun hanya sebentar saja irama musik itupun sirap dan lenyap dari angkasa.

Serentetan suara suitan lengking yang aneh berkumandang keluar dari balik patung arca yang tinggi besar itu.

Empat orang lelaki pembawa gembrengan tersebut segera mundur ke belakang, kiranya irama merdu tadi merupakan berita yang menghubungkan tempat luaran dengan orang yang ada di dalam patung arca tersebut.

Walaupun para jago tidak mengerti suara suitan tersebut mengeartikan apa, namun mereka tahu pastilah dengan suara tersebut orang yang ada di dalam patung arca menitahkan langkah2 selanjutnya dari beberapa orang lelaki kekar itu.

Shen Bok Hong tetap berdiri ditengah jalan dengan wajah dingin dan serius, sinar matanya menatap patung arcat ersebut tajam2.

Suara suitan yang berkumandang keluar dari balik patung arca itu makin lama makin lirih dan akhirnya sirap, suasana disekeliling tempat itupun pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencekam….

Dalam pada itu Tiam It Loei serta Cheng Yap Cing sekalian ada maksud menyaksikan kelihayan dari Sin Hong Paycu, maka mereka dengan membawa para jago sama2 mengundurkan diri lima depa ke belakang.

Sesuai denagn kebiasaan dalam dunia persilatan sikap para jago ini mengartikan bahwa pihak mereka tidak akan mencampuri urusan yang terjadi diantara kedua belah pihak yang saling berhadapan itu.

Walaupun nada ucapannya tidak sungkan namun suara tersebut amat mempesonakan hati sehingga membuat orang terasa terbuai ke dalam alam impian.

Diam2 Shen Bok Hong mengempos tenaga murninya lalu tertawa dingin dan menyahut, Sedikitpun tidak salah cayhe adalah orang she Shen entah Pay-cu ada urusan apa?”

Dia adalah seorang manusia cerdik tatkala mendengar suara yang amat mempesonakan hati tadi dengan cepat hatinya merasakan ketidak beresan dari suara tersebut.

Ia merasakan dibalik suara yang merdu dan empuk itu terkandung sesuatu kekuatan yang cukup untuk membetot sukma manusia maka dengan cepat hawa murninya disalurkan melindungi badan.

Ooouw….” kembali suara yang amat merdu itu berkumandang keluar dari balik patung

“Sudah lama aku dengar nama besar dari Shen Toa CUng-cu sungguh beruntung ini hari kita dapat saling berjumpa.”

“Hmm! jelas ada seorang gadis ingusan bersembunyi dibalik patung arca yang tinggi besar dan menyeramkan” pikir Shen Bok Hong “Dia cuma kepingin meminjam keseraman wajah dari patung tersebut untuk menguasahi anak buahnya, entah patung tersebut terbuat dari apa? seandainya terbuat dari kayu, dalam sekali hajar pasti patung itu bakal hancur dan kemisteriusan dari partai sin Hong Pay pun dengan cepat akan tersingkap”

Belum habis ia berpikir suara merdu merayu kembali berkumandang keluar dari balik patung arca itu ;

“Shen Bok Hong rencana busuk apa yang sedang kau pikirkan?”

Tidak nanti orang she Shen itu buka suara kembali ia berkata lebih jauh ;

“Shen Bok Hong, pada saat ini cuma ada dua jalan bagimu dan kau boleh pilih salah satu diantaranya.”

“Silahkan diterangkan!”

“Kita boleh bekerja sama untuk membasmi habis para jago yang menghalangi perjalananmu, bisa digunakan” kita gunakan, dan bagi mereka yang tak bisa dipakai kita musnahkan ilmu silatnya”

Sebagai manusia yang berwatak banyak curiga, Shen Bok Hong jadi tercengang mendapat tawaran tersebut, pikirnya ;

“Sin Hong Pay-cu ini tidak saling kenal mengenal dengan diriku, di-hari2 biasapun antara partai Sin Hong Pay dengan perkampungan Pek Hoa San Cung tak pernah terjalin hubungan, kenapa sin Hong Pay-cu ajukan tawaran untuk bekerja sama di dalam perjumpaannya yang pertama ini?….”

Ia merasa banyak hal yang mencurigakan menyelimuti tawaran tersebut, dengan kecerdikannya ternyata Shen Bok Hong gagal untuk menebak maksud hati Sin Hong Pay-cu maka untuk sesaat ia tak berani ambil pusing keputusan.

Terdengar sin Hong Pay-cu melanjutkan kembali katanya, “Jalan yang kedua adalah kita melakukan pertarungan sengit saat ini juga….”

“Hal ini sungguh aneh sekali” tukas Shen Bok Hong. “Antara partai anda dengan perkampungan kami belum pernah terjalin hubungan apa2 di hari2 biasa, kita tak dapat dikatakan sebagai sahabat maupun musuh, apakah kau tidak merasa ucapanmu itu rada keterlaluan?”

Shen Bok Hong kau harus tahu bahwa diantara dua jago tak boleh hidup berbareng disatu jagad yang sama menurut pengamatanku selama ini maksud dan tujuan kita hampir bersamaan dan cara berpikirpun hampir sama maka bilamana kau tidak ingin bermusuhan mari kita bekerja sama lebih baik sekarang juga kita tetapkan hubungan kita sebagai musuh atau sahabat.

Haruslah diketahui pembicaraan yang dilangsungkan kedua orang pemimpin tersebut semuanya dilakukan dengan ilmu menyampaikan suara orang lain cuma meyaksikan bibir shen Bok Hong berkemak kemik namun tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

Kendati Shen Bok Hong adalah seorang manusia yang cerdik tak urung ia dibikin kebingungan juga oleh sikap Sin Hong Pay-cu ini merasa orang itu terlalu lucu dan bersipat ke-kanak2kan sedikitpun tiada rasa was2 atau prasangka.

Namun kalau ditinjau kembali dari nama besar serta kemisteriusan partai tersebut di dalam dunia persilatan ia merasa tidak mungkin Sin Hong Pay-cu adalah seorang manusia yang tak berotak.

Tetapi bagaimanapun juga Shen Bok Hong adalah seorang manusia yang licik, banyak akal dan keji, setelah termenung sejenak akhirnya ia mendapatkan pula suatu akal untuk menghadapi masalah tersebut, ujarnya, “Seandainya partai anda ada maksud bekerja sama dengan perkampungan kami, dengan senang hati cayhe sambut baik maksud baik anda, hanya saja kita berdua tidak pernah saling kenal lagipula kejadian ini muncul secara mendadak maka sebagai manusia yang tak ingin melakukan perbuatan yang menempuh bahaya, sukalah paycu kasih waktu buat diriku untuk berpikir, seandainya paycu memang benar2 ada maksud bekerja sama dengan cayhe, semestinya paycu bertemu dengan aku dalam wajah yang sebenarnya”.

“Baik! kalau memang demikian adanya harap anda suka menyingkir memberi jalan, malam ini pada kentongan ketiga aku menantikan kehadiranmu dalam kuil Loe-Couw Bio kurang lebih lima belas li disebelah selatan kota Koei Chiu”.

“Baik kita tetapkan dengan sepatah kata ini”.

Selesai mengucapkan kata2 tersebut Shen Bok Hong segera menyingkir kesamping sambil ulapkan tangannya.

Para boesu berbaju hitam yang ada dibelakangya sama2 menyingkir kekedua belah samping sisi jalan dan membuka sebuah jalan lewat buat orang2 sin Hong Pay.

terdengar suara gembrengan dibunyikan kembali, empat orang lelaki kekar itu segera menggotong kembali patung arca tersebut dibawah pengawalan ber-puluh2 orang lelaki kekar mereka berlalu dari sana.

Di dalam dugaan Cheng Yap Cing sekalian, perkumpulan sin Hong Pay pasti akan melakukan pertarungan melawan Shen Bok Hong sekalian siapa sangka perubahan yang terjadi diluar dugaan mereka, ternyata Shen Bok Hong suka menyingir memberi jalan dan pihak Sin Hong Pay tanpa banyak ribut berlalu dari situ.

“Waah…. agaknya usaha kita barusan adalah sia2 belaka….” bisik Be Boen Hwie kepada Im Yang-cu.

“Tujuan kita adalah menghalangi Shen Bok Hong, walaupun kita gagal memancing mereka untuk saling membunuh, namun dengan adanya kejadian ini pihak kitapun tidak usah kehilangan banyak korban karena harus bentrok dengan pihak Sin Hong Pay”

Per-lahan-lahan Be Boen Hwie angkat kepalanya ia lihat para boesu berbaju hitam yang ada dibelakang Shen Bok Hong kira2 berjumlah empat lima puluh orang. dengan kekuatan yang mereka miliki saat ini masih sanggup untuk membendung serangan musuh. Satu2nya masalah yan gpaling rumit pada saat ini adalah siapakah yang mampu menghadapi Shen Bok Hong?

Setelah berpikir sejenak kembali bisiknya kepada Im Yang-cu ;

“Menurut apa yang cayhe ketahui, musuh yang paling tangguh pada saat ini hanya seorang, asal ada seseorang bisa menghadapi Shen Bok Hong rasanya sisa kekuatan lainnya tak perlu kita takuti”.

Im Yang-cu berpikir sejenak kemudian ia menjawab ;

“Ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong sangat lihay sekali, apabila kita harus hadapi dirinya seorang lawan seorang rasanya tak seorangpun yang mampu berbuat demikian”.

“Maksud Tootiang, kita harus menghadapi dirinya dengan cara bergilir?”

“Rasanya dewsa ini cuma cara itu yang paling bagus!”

“Apakah Tootiang punya keyakinan bisa membendung serangannya?”

“Pinto ada maksud menghadapi Shen Bok Hong bersama2 kedua orang thaysu itu”

“Bagus sekali, asalkan Shen Bok Hong sudah terbendung maka sisanya tidak sulit untuk dihadapi.”

Sementara itu para boesu berbaju hitam yang ada dibelakang Shen Bok Hong telah memecah diri jadi beberapa regu, senjata tajam segera diloloskan dari sarungnya, hawa membunuh menyelimuti seluruh angkasa.

Agaknya asal Shen Bok Hong turunkan perintah maka Boesu2 berbaju hitam itu segera akan menyerang para jago dari pelbagai arah.

———————

39

agaknya secara tiba-tiba Cheng Yap Cing teringat akan suatu masalah yang penting lambat lambat ia berjalan menghampiri Be Boen Hwie dan berkata ;

Be-heng cayhe mempunyai satu persoalan yang mana ingin ditanyakan kepada diri Be-heng.

Asal siauw-te tahu pasti akan kukatakan”

Dalam tanya jawab antara Be-heng dengan Shen Bok Hong tadi agaknya pernah menyinggung seorang tokoh sakti yang punya ilmu silat amat lihay entah benarkah ucapan tersebut?”

Memang ada kejadian semacam ini” sahut Be Boen Hwie setelah termenung sejenak. Hanya saja pada saat ini orang itu merasa kurang leluasa untuk munculkan diri maka menanti setelah mara bahaya ini sudah berlalu cayhe tentu akan aturkan pertemuan ini.

Sepasang alis Cheng Yap Cin melentik, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya maksud tersebut dibatalkan.

Sementara itu Siauw Ling yang bersembunyi dibalik batu cadas dapat menyaksikan situasi dibawah dengan amat jelas, membicarakan dari keadaan pada saat ini ia merasa bahwa kekuatan para jago cukup untuk melakukan pertarungan tersebut.

Dengan posisi yang menguntungkan dimana terdapat jalan gunung yang sempit, serta jebakan2 yang telah diatur dari balik semak belukar kedua belah sisi jalan, meskipun kekuatan Shen Bok Hong luar biasa, tidak mungkin anak buahnya bisa menghadapi serbuan yang datang dari delapan penuru, asal ada orang bisa menahan Shen Bok Hong maka dalam pertarungan kali ini pihak perkampungan Pek Hoa San Cung pasti akan mengalami kerugian besar.

Berpikir sampai kesitu tanpa sadar semangatnya berkobar kembali, ingin sekali ia loncat keluar dari tempat persembunyian dan bertarung sendiri melawan orang she Shen itu.

Selama ini si sie-poa emas Sang Pat selalu mengawasi tingkah laku Siauw Ling, menyaksikan sepasang alis sianak muda itu melentik dan sikapnya se-akan2 hendak loncat keluar dari tempat persembunyiannya, buru-buru bisiknya lirih, “Dewasa ini angin taupan sedang melanda seluruh dunia persilatan, kemudi perahu dari Bu-lim serta keselamatan dari seluruh jago berada ditangan toako semua. harap kau jangan bertindak secara gegabah mengingat luka toako yang demikian parah.”

“Aaai…. apabila kesempatan baik yang ada pada saat ini dibuang percuma, entah sampai kapan baru bisa menemukan kesempatan baik seperti ini lagi? sampai kapan aku baru bisa berduel seorang lawan seorang dengan Shen Bok Hong?”

“Kemunculan Shen Bok Hong di dalam dunia persilatan telah menggetarkan seluruh Bu-lim” kata Sang Pat sambil tersenyum, “Keadaannya sudah bagaikan menunggang dipunggung harimau. mau loncat turunpun tak mungkin lagi. kesempatan dikemudian hari masih banyak sekali, harap toako jangan kuatir….”

Siauw Ling termenung berpikir, sejenak, lalu berkata, “Saudaraku, bukan siauwte sengaja bicara sesumbar namun ditinjau dari para jago yang hadir pada saat ini mungkin tak seorangpun merupakan tandingan dari Shen Bok Hong harap kau suka sampaikan maksud dari Siauw-heng agar pra jago jangan terburu napsu sehingga terima tantangan berduel melawan Shen Bok Hong apabila ada tiga orang jago yang bertarung mengerubuti dirinya, se-bisa2nya lakukan pertarungan dengan hati2, jangan sampai jatuh korban dipihak kita”

“Siauw-te akan segera sampaikan perintah dari toako ini”

Habis berkata kembali ia menyusup ke dalam semak belukar dan turun kebawah bukit.

Sementara itu shen Bok Hong melepaskan Sin Hong Pay, dengan tajam ia mengawasi para jago alisnya tanpa terasa berkerut kencang.

“Selamanya Tiong-Lam Jie-Hiap tak pernah berpisah satu sama lainnya, sang Loo-jie ada disisi tentu loo-toanya sebentar lagi bakal tiba” pikirnya di dalam hati.

Ia merasa dengan hadirnya Tiam It Loei disana, jelas Ke thian It pun tentu ada disekitar sama, apalagi Im Yang-cu serta Cheng Yap Chin pun muncul bersamaan waktunya disana, kemungkinan besar Boe Wie Tootiang pun telah datang pula.

Ia merasa dengan hadirnya jago-jago lihay tersebut, maka tak mungkin lagi baginya untuk merampas kemenangan apalagi Sun Put Shia serta lihay yang tak diketahui namanya pun ada disana kekalahan total jelas berpihak kepadanya.

Meskipun menang kalah merupakan suatu kejadian yang biasa, namun dengan kekalahan tersebut ia merasa bakal mempengaruhi sekali dengan kewibawaannya.

Sungguh tak malu Shen Bok Hong disebut sebagai seorang jago lihay meski menghadapi musuh tangguh ia tetap bisa menjaga ketenangan jiwanya serta dapat pula berpikir panjang atau untung ruginya pertarungan itu.

Semula jagoan yang ber-jaga2 dalam selat tersebut cuma Poh Thian Seng serta beberapa orang jago belaka, tetapi dengan adanya perubahan tersebut dalam waktu singkat makin banyak jago-jago lihay yang menggabungkan diri di dalam barisan tersebut. diantara para jago itu, kecuali sang padri tua yang jarang berkelana dalam dunia persilatan boleh dikata semuanya merupakan jago kenamaan, terutama sekali Im Yang-cu dari Bu Tong-pay serta Tiam It Loei dari Tiang Lam….

Tampak Poh Thian Seng berjalan menghampiri Im Yang-cu setelah menjura ujarnya ;

“Tootiang, nama anda tersohor dikolong langit setiap orang menghormati dirimu aku rasa di dalam pertarungan yang bakal berlangsung hari ini ada baiknya Tootiang suka memegang pucuk pimpinan.

“Aah, pinto tidak berani menerima jabatan ini”

“Tootiang, harap kau tak usah menampik lagi, silahkan kau terima pucuk pimpinan tersebut”.

“Ucapan Poh-heng sedikitpun tidak salah” Be Boen Hwie menyambung. “Apabila Toa-heng suka memegang pucuk pimpinan dalam mengadapi pertempuran ini hari, keadaan kita pasti akan lebih baik lagi”

Im Yang-cu ada maksud menampik, namun Tiam It Loei yang ada disampingnya sudah tidak sabaran lagi, segera selanya ;

“Hey hidung kerbau, jangan saling dorong mendorong tarik menarik lagi. orang lain menghargai dirimiu. buat apa sih kau masih pasang gaya jual mahal?”

Hubungan Tiam It Loei dengan pihak Bu-tong Pay amat akrab, maka bukan saja terhdap Im Yang-cu, sekalipun dihadapan Boe Wie Tootiang yang selamanya keren dan seriuspun ia sama saja bicara seenaknya sendiri.

Im Yang-cu tidak marah, sambil tersenyum ia menyahut, Kalau memang demikian adanya. maka pinto akan terima perintah ini!”

“Cayhe menanti perintah dari totiang!” Poh Thian Seng segera manjura.

Im Yang-cu tersenyum. ia melangkah ke hadapan Shen Bok Hong dan menegur, “Shen Toa cungcu, sungguh tak nyana ini hari kembali kita saling berjumpa ditempat ini”.

“Hmm! letak Bu-tong san dekat sekali dengan perkampungan Pek Hoa San Cung, sekalipun ini hari kita tak pernah saling berjumpa, kesempatan bertemu dikemudian hari masih banyak sekali”.

“Ucapan Shen Toa Cungcu sedikitpun tidak salah. partai Bu-tong pay kami memang merupakan duri dalam mata Shen Toa CUngcu, apabila tidak cepat-cepat dicabut bakal mendatangkan bencana dikemudian hari”.

Shen Bok Hong mendengus dingin, ia tidak menggubris ucapan dari Im Yang-cu lagi.

“Shen Toa CUngcu selamanya memandang tinggi diri sendiri, aku rasa kau tentu tidak akan pandang sebelah matapun terhadap diriku bukan….”.

“Mana…. mana….”.

Sinar mata Im Yang-cu menyapu sekejap ke atas wajah Hek-Pek Jie-Loo serta boesu2 berbaju hitam itu, kemudian ia berkata kembali, “Aku rasa setelah ini hari kita saling berjumpa, suatu pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi”.

“Hanya andalkan kau Im Yang-cu seorang?”

“Pinto sadar bahwa kekuatanku masih bukan tandinganmu. tapi apabila kau ingin bertempur pinto pasti akan melayani Shen Toa Cungcu dalam beberapa begrakan?”

Diam2 Shen Bok Hong memperhitungkan kekuatan sendiri, pikirnya, “Kalau didengar dari ucapan hidung kerbau ini, agaknya mereka sudah bikin persiapan seandainya sipengemis tua serta jago yang tak kuketahui namanya pun berada disini, setelah pertempuran pecah nanti mereka pasti akan munculkan diri dan membantu mereka secara mendadak saat itu bila aku ingin mengundurkan diri rasanya bukan suatu pekerjaan gampang….”

Karena berpikir demikian, ia lantas berkata dengan nada dingin ;

“Apakah kau ingin aku orang she Shen suka menetapkan cara untuk bertarung?”

“Sedikitpun tidak salah, seandainya Shen Toa CUngcu ingin bergebrak maka pinto sekalian pasti akan melayani kemauanmu itu?”

Mendadak Shen Bok Hong mendongak dan tertasa ter-bahak2. suaranya bagaikan auman binatang terluka, begitu keras sampai menggetarkan telinga semua orang.

Diam2 para jago dibikin terperanjat oleh kelihayan orang itu, pikir mereka hampir berbareng

“Sungguh amat sempurna tenaga lweekang yang dimiliki orang ini….!”

Menanti suara tertawanya sirap, mendadak tangannya diulapkan.

Sebutir batu cadas telur itik mendadak melayang ketengah udara dan jatuh ke dalam tangan Shen Bok Hong, sepasang matanya melotot bulat dan mengawasi wajah Im Yang-cu tak berkedip.

Segulung hawa seram yang menggidikkan hati menyelimuti seluruh angkasa membuat Im Yang-cu yang memiliki iman kuatpun tak urung merasa bergidik juga.

Terdengar Shen Bok Hong tertawa dingin mendadak serunya, “Nih, terimalah batu tersebut”

Batu cadas yang dicekal ditangan kanannya tiba tiba dilemparkan ke arah Im Yang-cu.

Tatkala sang too tiang dari Bu-tong Pay ini menyambut datangnya batu cadas itu, sepasang alisnya kontan berkerut sebab ia merasakan batu tersebut terasa sangat panas hingga menyengat badan.

Berada dibawah tontongan para jago. Im Yang-cu tentu saja merasa kurang enak untuk membuang batu cadas itu ke atas tanah, terpaksa ia salurkan hawa murninya untuk melawan hawa panas itu.

Siapa sangka baru saja hawa murninya disalurkan ke dalam tangan, batu cadas itu mendadak hancur jadi bubuk dan tersebar ke atas tanah.

“Haaa…. haaa….” Shen Bok Hong tertawa tergelak “Kau tentunya mengerti akan maksud aku orang she Shen bukan?”

Ia merandek sejenak, kemudian sambil ulapkan tangannya berseru kembali ;

“Pertempuran ini hari tak usah kita langsungkan lagi!”

Badannya berputar, setelah loncat naik ke atas pelana ia segera kaburkan binatang tunggangan itu meninggalkan kalangan.

Hek-Pek Jie-Loo serta para boesu berbaju hitam itu buru-buru menyusul dari belakang Tampak debu mengepul memenuhi angkasa. dalam sekejap mata semua musuh telah meninggalkan tempat itu.

Tindakannya kali ini benar2 berada diluar dugaan semua orang, para jago jadi tertegun dibuatnya.

Tampak diantara rombongan para boesu itu mendadak ada seorang Boesu berbaju hitam jatuh dari atas kuda, setelah terjungkir balik beberapa kali ia menyembunyian diri dibalik semak.

Puluhan ekor kuda lainnya masih tetap meneruskan perjalanannya kedepan tak seorangpun yang berpaling untuk memandang orang berbaju hitam yang terjatuh itu.

Sedangkan Im Yang-cu sekalian walaupun melihat akan hal itu namun ia tidak pikirkan di dalam hati. mereka hanya merasakan bahwa setiap orang dari perkampungan Pek Hoa San Cung berhati dingin dan keji, terhadap mati hidup seorang rekannya ternyata tidak ambil perduli barang sedikitpun jua.

Tampak debu mengepul makin lama semakin jauh dan akhirnya lenyap tak berbekas.

Memandang dimana bayangan kuda itu lenyap Im Yang-cu menghembuskan napas panjang ujarnya

“Tingkah laku serta tindakan Shen Bok Hong selamanya aneh dan sukar diduga oleh siapapun juga….”

Sungguh aneh sekali! mendadak terdengar Cheng Yap Cin berseru, “Orang itu sama sekali tidak terluka!”

Siapa yang kau maksudkan?

Boesu berbaju hitam itu ternyata ia tidak terluka.

Para jago sama2 angkat kepala terlihatlah orang berbaju hitam itu sendan merangkak bangun dari atas rumput kemudian berjalan menghampiri para jago.

“Hati2….” Be Boen Hwie segera memperingatkan. “Shen Bok Hong adalah seorang manusia licik yang mempunyai banyak akal setan, entah permainan setan apakah yang sedang disiapkan orang itu, jangan sampai kita terjebak dalam siasatnya. Harap cuwi sekalian suka menunggu disini, cayhe akan maju kesana untuk melakukan pemeriksaan”.

“Siauwte akan menemani Be-heng” sela Cheng Yap Cing.

“Baiklah!” demikianlah kedua orang itu segera berlari menyongsong kedatangan si orang berbaju hitam itu.

Tatkala jarak mereka dengan orang berbaju hitam itu tinggal dua tombak, mendadak Be Boen Hwie berhenti sambil menghardik ;

“Berhenti!”

Orang berbaju hitam itu menurut dan berhenti kemudian sambil menjura berkata, “Siapakah yang bernama Be Boen Hwie, Be Cong Piauw Pacu?”

“Cayhelah orangnya. Sahabat, kau ada urusan apa?”

“Cayhe mendapat pesan dari seseorang untuk menyampaikan sepucuk surat rahasia kepada diri Be Cong Piauw Pacu kemudian harap Be Cong Piauw Pacu suka sampaikan surat tadi kepada orang yang dimaksudkan dalam sampul tersebut!” ujar orang berbaju hitam itu seraya mengambil sepucuk surat dari dalam saku.

“Letakkan surat itu diatas tanah dan harap sahabat segera mundur satu tombak ke belakang” bentak Be Boen Hwie kembali.

Orang berbaju hitam itu menurut dan meletakkan surat tadi ke atas tanah kemudian lambat2 mundur setombak ke belakang.

Dalam jarak satu tombak Be Boen Hwie percaya sekalipun si orang berbaju hitam itu mau main gila ia masih sempat untuk berkelit, maka dengan langkah lebar ia maju kedepan.

Tampaklah diatas sampul surat itu bertuliskan kata2 sebagai berikut ;

“Harap Be Boen Hwie Cong Piauw Pacu suka menyampaikan surat ini kepada Siauw Ling”

Gaya tulisannya halus dan indah, jelas tulisan seorang perempuan.

Dengan teliti Be Boen Hwie memeriksa dahulu apakah diatas sampul surat tersebut dipolesi racun atau tidak, setelah yakin aman ia ambil surat tadi dari atas tanah.

“Surat ini berasal dari siapa?”

“Sebagai imbalan buat menghantarkan surat ini cayhe peroleh kebebasan, mengenai siapakah yang menulis surat tersebut dalam surat telah tercantum jelas sipenerima surat akan mengetahui sendiri sehabis membaca surat tersebut. Nah, cayhe mohon diri lebih dahulu!”

Selesai berkata ia putar badan dan menuju ke arah Selatan, arahnya bertolak belakang dengan arah yang diambil Shen Bok Hong tadi.

Menanti orang itu sudah berlalu, dengan langkah lebar Cheng Yap Cin baru maju mendekat sambil bertanya, “Surat itu berasal dari siapa?”

“Tentang soal ini cayhe kurang tahu!”

“Apakah surat itu ditulis buat Be-heng?”

“Bukan surat itu buat seorang sahabatku” jawab Be Boen Hwie sambil memasukkan surat itu ke dalam saku.

Menyaksikan orang she Be itu tidak ingin berbicara banyak tentang surat tersebut, terpaksa Cheng Yap Cin pun tidak mendesak lebih jauh.

Mereka berdua segera kembali ke dalam barisan, terdengar Im Yang-cu bertanya lirih.

“Apa yang telah dilakukan boesu berbaju hitam yang tinggal disana tadi?”

“Tiada perbuatan apapun yang ia lakukan” tukas Cheng Yap Cin cepat. “Ia cuma mengirim sepucuk surat pribadi belaka”.

Sengaja ia mengucapkan kata “Pribadi”, dengan demikian Im Yang-cu merasa kurang enak untuk bertanya lebih jauh.

Sedikitpun tiada salah, para jago yang hadir disanapun tiada seorangpun yang menanyakan persoalan itu lagi.

Be Boen Hwie takut sekali karena persoalan ini menimbulkan salah paham dalam hati para jago, ingin sekali ia menjelaskan namun terasa pula sulit baginya untuk buka suara kecuali apabila mengisahkan pula asal usul dari Siauw Ling.
------
Serial Pedang Kayu Harum sudah beres semua diupload gan, untuk membacanya silahkan klik disini 😉🤗
------

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 25"

Post a Comment