coba

Bayangan Berdarah Jilid 24

Mode Malam
JILID 24

Selesai membinasakann boesu tersebut, Siauw Ling melanjutkan usahanya merampas obor tersebut.

Mendadak terdengar jeritan tajam berkumandang dari sisi pohon, sesosok bayangan hitam loncat keluar dari pepohonan dan menubruk ke arahnya.

Siauw Ling tidak sempat putar badan lagi, laksana kilat ia putar telapak kirinya mengirim sebuah babatan.

Bluumm….! dengan telak serangannya bersarang ditubuh bayangan tersebut, terdengar jerit melengking menggema diangkasa, tubuh bayangan tadi mencelat ke arah belakang.

Dari jeritan itu Siauw Ling dapat menangkap suara tersebut tidak mirip suara manusia ia jadi tercengang. ketika ia menengok tampaklah bayanganhitam itu sudah mencelat dua tombak jauhnya dari kalangan dan lenyap dibalik pepohonan.

Sementara ia masih berdiri tertegun, kembali muncul sesosok bayangan hitam dari sisi kiri langsung menubruk ke arahnya.

Kali ini Siauw Ling sudah bikin persiapan, ia mengempos tenaga badannya mendadak mundur tiga depa ke belakang, telapak kanannya berkelebat mencengkeram bayangan hitam itu.

Siauw Ling segera melihat ke arah bayangan tersebut, ternyata mahluk yang dicekal olehnya saat ini bukan lain adalah seekor monyet berbulu hitam. ia jadi jengkel. sambil melemparkan monyet tadi kedepan makinya, “Sialan…. sampai monyetpun digunakan untuk mencelakai orang….”

Tiba-tiba Kiem Lan percepat langkahnya mendekati sianak muda itu, serunya, “Siangkong cepat mundur!”

Walaupun dalam hati Siauw Ling tidak ingin kembali, namun ia tahu ucapan tersebut pasti mengandung maksud tertentu maka ia segera mengundurkan diri.

“Apakah mahluk hitam yang barusan kau tangkap adalah seekor monyet berbulu hitam?” tanya Kiem Lan kemudian.

“Benar hm, agaknya permainan setan dari perkampungan Pek Hoa San Cung sudah hampir habis digunakan.”

“Apakah kau tergigit?

“Karena kurang hati2 tangan kiriku sudah kena tergigit oleh monyet itu.”

“Bagian mana yang tergigit?” tanya Kiem Lan cemas. “Cepat salurkan hawa murni dan tutup seluruh peredaran darah, kemudian papas kutung tangan kirimu ini.”

“Kenapa?”

“Ditubuh serta mulut monyet itu penuh mengandung racun keji, apabila kau tidak cepat-cepat mengutungkan tangan kirimu itu, maka setelah daya racunnya bekerja kau akan menjadi gila. jangan dikata budak sekalipun Loo-ya serta Hujien tidak akan kau kenali lagi.”

“Aaaa, benarkah ada kejadian seperti ini?”

“Siangkoan urusan tak boleh ditunda lagi” seru Kiem Lan sambil mengucurkan air mata saking gelisahnya. “Pada saat ini tiada waktu bagi budak untuk banyak bicara, cepat-cepatlah kutungi dahulu lengan kirimu….”

Diam2 Siauw Ling atur napas melakukan pemeriksaan, ia tidak temukan tanda-tanda keracunan maka serunya.

“Aku baik sekali!”

“Siangkoan benarkah kau tidak merasakan tanda-tanda keracunan?”

“Apakah aku sedang membohongi dirimu?”

“Sungguh aneh sekali, seluruh tubuh monyet itu mengandung racun keji dan daya karyanya luar biasa, jangan dikata kena tergigit sekalipun tersentuh dengan bulu tubuhnya pun sudah cukup membuat seseorang keracunan, bahkan daya kerja racun itu cepat sekali tetapi siangkong….”

Siauw Ling tahu, ia bisa tidak terluka sebab lengannya memakai sarung tangan dari kulit ular yang kebal terhadap segalam macam racun, diam2 ia bersyukur segera bisiknya lirih, “Kalau begitu cepat-cepatlah beritahu kepada mereka, hati2 dengan racun ditubuh monyet2 itu”

Kiem Lan ingin mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia batalkan niat tersebut, akhirnya ia putar badan dan segera menyampaikan pesan dari Siauw Ling itu kepada Sun Put Shia.

Di dalam beberapa waktu yang amat singkat itulah, situasi dalam kalangan sudah berubah kembali, dari balik pepohonan per-lahan-lahan muncullah belasan orang boesu berbaju hitam, ditangan kiri mereka membawa tameng dan ditangan kanannya mencekal sebuah tabung besi yang panjangnya beberapa depa dengan besar seibu jari.

“Aaah! delapan belas Kiem Kong” bisik Kiem Lan dengan nada terperanjat.

“Apa sih yang dimaksud delapan belas Kiem Kong?”

“Boesu bertameng ini semuanya berjumlah delapan belas orang dan kesemuanya merupakan jago-jago pilihan dari Shen Toa Cungcu….”

Karena sudah kebiasaan memanggil dengan sebutan Toa Cungcu,maka tanpa sadar ia sudah salah bicara, buru-buru gantinya, “Mereka semua adalah jago-jago pilihan Shen Bok Hong yang digabung jadi satu, bukan saja diatas tameng terdapat lima bilah pedang pendek dan mengandung racun keji bahkan di dalam tabung besi yang ada ditangan kanan merekapun tersimpan jarum2 terbang yang sangat beracun, tabung itu semuanya ada dua belas buah, dengan meminjam perlindungan dari tameng2 itu mereka melakukan pertarungan jarak dekat dengan pihak musuh, jarum racun dalam tabungpun sangat halus bagaikan bulu, barang siapa yang terhajar pasti mati, senjata macam ini paling susah untuk dihadapi….”

Ia menghela napas panjang, kemudian sambungnya, “Terhadap delapan belas Kiem Kongnya ini shen Bok Hong amat sayang sekali, ia tidak akan membiarkan mereka menghadapi musuh secara sembarangan, sungguh tak nyana pada malam ini ia sudah melanggar kebiasaannya”.

“Sungguhkan ucapanmu itu?” tanya Sun Put Shia setelah tertegun beberapa saat lamanya.

“Budak sama sekali tidak berbohong barang sekejap katapun”.

“Delapan Kiem Kong dari kulit Siauw-lim-Si sudah menjagoi dunia, kini Shen Bok Hong meniru dengan delapan belas Kiem Kong, sekalipun bertambah dengan jumlah orang satu kai lipat apa yang perlu kita takuti?” seru Be Boen Hwie.

Walaupun sun Put Shia membungkam namun ia tak berani memandang enteng pihak lawan, sebab sebagai orang yang berpengetahuan luas ia tahu senjata tameng merupakan suatu senjata yang sukar digunakan, jurus maupun cara penggunaannya berbeda jauh dengan jurus senjata biasa. Dalam dunia persilatan jarang ada orang yang menggunakan senjata semacam ini.

Dan ternyata beberapa orang itu bisa menggunakan senjata tameng yang sukar dipelajari, tentu saja ia tak berani pandang enteng pihak lawan, ditambah pula senjata rahasia beracun yang ada di dalam tabung, ia sadar bahwa kedelapan belas orang itu merupakan jago-jago yang tangguh.

Menanti ia berpaling ke belakang, tampaklah para jago berdiri dengan wajah serius, agaknya semua orang telah merasa bahwa mereka sudah berjumpa dengan musuh tangguh.

“Shen Bok Hong telah mengerahkan be-ratus2 prang Boesu nya untu kmelawan kami, walaupun korban berjatuhan sangat banyak namun mereka menerjang terus tiada hentinya, hal ini sudah cukup melelahkan para jago, kini apabila semangat bertempur mereka kena dirontokkan lebih dahulu oleh keangkeran musuh, maka kita bakal runyam….”

Karena berpikir demikian, ia lantas mendongak dan tertawa ter-bahak2, serunya, “Be Cong Piauw Pacu, ucapanmu sedikitpun tidak salah, ratusan orang Boesu pun tak bisa mengurung kita, masa cuma delapan belas orang belaka bisa meng-apa2kan kita, harap cuwi sekalian berjaga ditempat semula, biarlah aku sipengemis tua menjajal lebih dahulu kekuatan mereka.”

Walaupun diluaran ia bicara seenaknya se=olah2 tidak pandang sebelah matapun terhadap lawan, tapi dalam kenyataan ia berpikiran panjang ia tidak ingin para jago menempuh bahaya lebih dahulu.

Sipencuri sakti Siang Hwie mendadak menyambung, “Nama besar Sun Loocianpwee sudah lama tersohor dikolong langit, ilmu silatnya lihay dan kami percaya dengan kepandaian cianpwee masih sanggup untuk menghadapi orang2 ini, namun menurut penglihatan aku sipencuri tua, untuk menghadapi manusia2 semacam mereka ada baiknya kalau Loo cianpwee menggunakan senjata tajam”

“Haaa…. haaa…. ucapan Siang-heng tepat sekali sinar matanya berputar, tiba-tiba ia lihta adanya sebatang pohon besar kurang lebih empat lima depa dihadapannya, dengan langkah lebar ia segera berjalan kesisi pohon, kemudian memeluk batang pohon itu dan diiringi bentakan keras, pohon tadi dicabut keluar se-akar2nya.

Kiem Lan meloncat kesisi Sun Put Shia pedangnya bergerak cepat membabat ranting disekeliling pohon tersebut, dalam sekejap mata pohon tadi tinggal sebuah batang pohon yang gundul.

Sun Put Shia segera angkat batang pohon yang panjangnya satu tombak dua depat itu lalu berjalan mendekati delapan belas Kiem Kong yang sudah bersiap2 sejak tadi.

Siauw Ling selama ini berdiri dibelakang pepohonan, ia awasi boesu itu dengan pandangan mendelong, agaknya sianak muda ini sedang mencari akal untuk menghadapi musuh2nya.

Sun Put Shia segera tertawa tergelak.

“Loote harap kau mundur, biarlah aku sipengemis tua coba2 dahulu kekuatan mereka, apabila aku sipengemis tua tidak sanggup barulah kau bantu diriku” serunya.

Setelah menyaksikan Siauw Ling memiliki ilmu silat yang lihay dan merupakan seorang jago muda yang belum pernah dittemui dalam kolong langit, maka timbullah rasa kagumnya terhadap sianak muda ini, tentu saja dalam pembicaraan maupun sikap, ia jauh lebih sungkan.

“Mana, mana, ilmu silat loo cianpwee sangat lihay, cayhe percaya kau pasti berhasil menghancurkan mereka dan rebut kemenangan” jawab Siauw Ling cepat.

Sementara mereka masih berbicara, Sun Put Shia telah berdiri dihadapan kawanan boesu tersebut dengan wajah serius, hawa murninya segera disalurkan ketelapak siap menghadapi segala kemungkinan.

Para boesu bersenjata tameng itupun telah membentuk sebuat barisan berbentuk kipas, sebelum mereka sempat melancarkan sertangan lebih dahulu Sun Put Shia telah mendahului mereka menyambut kedatangannya.

Dalam pada itu dibelakang boesu2 bersenjata tameng tersebut berdiri berpuluh2 batang obor yang memancarkan cahaya tajam, beberapa tombak disekeliling kalangan terang benderang laksana disiang hari.

Siauw Ling awasi sejenak sitauasi dalam kalangan tersebut, ia merasa agaknya barisan itu yang sedang dibentuk boesu bersenjata tameng itu belum siap sama sekali, buru-buru ia kirim suara kepada Sun Put Shia dengan ilmu menyampaikan suara, “Cianpwee, mumpung barisan yang hendak mereka bentuk belum siap, serang dan hancurkan dahulu posisi mereka”.

Sun Put Shia menurut, ia membentak keras, batang pohonnya dengan jurus “Ci-to-Oei-Liong” atau Naga Kuning Tegak Memanggut langsung disapu ke arah kawanan Boesu bersenjata tamen yang berada disekitarnya.

Agaknya boesu2 itu tahu kelihayannya, mereka tak berani menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras, buru-buru tubuhnya melengos dan melinduni badanya dengan tameng.

Menyaksikan serangannya tidak mengenai sasaran, Sun Put Shia siap putar badan menyerang kembali, siapa sangka pada saat itulah terasa cahaya tajam berkelebat, dua orang boesu bersenjata tameng telah melancarkan serangan bokongan dari samping dengan kecepatan laksana kilat.

Sun Put Shia terperanjat, segera pikirnya, “Sungguh cepat gerakan tubuh mereka, agaknya kepandaian yang mereka miliki tidak kalah dengan jago Bu-lim kelas wahid!”

Pikirannya berputar, tangannya tidak berhenti sekuat tenaga ia putar batang kayu itu kemudian menyapu keluar bagaikan sebatang toya.

Dua orang boesu yang melancarkan bokongan ini agaknya tidak menyangka kalau sun Put Shia bisa menggunakan batang pohon yang besar dan berat itu tidak kalah lincahnya dengan senjata biasa, boesu yang ada disebelah kanan tidak sempat menyingkir lagi, tamengnya segera didorong kedepan untuk menangkis datangnya serangan dengan keras lawan keras.

“Bluumm….! Boesu itu kena terhajar pental sampai sejauh tujuh delanan depa dalam bentrokan itu, untuk beberapa saat ia tak sanggup bangun kembali.

sungguh tajam pisau yang ada diatas tameng tersebut, walaupun Sun Put shia berhasil mementalkan tubuh boesu tersebut namun batang pohon nya pun kena terbabat sepanjang dua depa oleh pisau lawan.

“Aku rasa boesu2 bersenjata tameng ini merupakan jago paling ampuh di dalam perkampungan Pek Hoa San-cung, apabila sun Put shia menderita kekalahan ditangan mereka, mungkin dengan kekuatanku seorang tak bakal bisa menangkan mereka, ada baiknya aku turun tangan berbareng dan sama2 menghadapi musuh!”

Berpikir sampai disitu, ia lantas meloncat ke depan dan melayang ke arah Boesu berbaju hitam yang kena dirobohkan oleh Sun Put Shia itu.

Gerakan tubuhnya sangat cepat, dalam sekali loncatan ia sudah menendang tubuh Boesu itu sampai mencelat jauh dan merampas tamengnya.

Namun sayang sekali, pedang diatas tameng itu patah dua bilah oleh gerakan batang kayu yang digunakan sun Put shia untuk menghantam Boesu tadi.

Ketika Siauw Ling merampas tameng itulah, seorang boesu telahdari boesu telah melompat kedepan menolong rekannya.

Baru saja Siauw Ling mencekal tameng tersebut, serangan dari boesu berbaju hitam itu sudah mendekat, tamengnya segera didorong kedepan untuk menangkis.

Laksana kilat Siauw Ling mundur lima depa ke belakang dengan tameng ditangan kanannya dan melancarkan dengan telapak rangan kiri bersama2 ia bendung datangnya serangan musuh, kemudian badannya melayang delapan depa ke samping dan menyongsong ke arah boesu lain.

Ternyata di dalam sekejap mata, ada empat orang boesu telah menyerang Sun Put Shia dari empat penjuru.

Ilmu silat yang dimiliki boesu bersenjata tameng itu lihay semua. kalau dibandingkan dengan boesu berbaju hitam ilmu silat mereka terlihat lebih dahsyat, meskipun Sun Put Shia mencekal batang pohon namun bukan pekerjaan gampang baginya untuk menghadapi serangan yang datang dari empat penjuru itu.

Terdengar suara bentrokan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, dengan tamengnya Siauw Ling berhasil paksa mundur seorang boesu yang mengancam Sun Put Shoa dari belakang sehingga terdesak dua langkah ke belakang.

Sun Put Shia tidak mau unjukkan kelemahan. dengan suatu gerakan yang amat cepat ia putar batang pohon memukul mundur musuh yang datang dari kedua belah sayap. kemudian mengirim pula satu tendangan menghajar boesu yang datang dari depan, dalam sekali serangan ia mengancam tiga musuh yang berbeda.

Walaupun begitu Sun Put Shia sudah tiada berkemampuan lagi untuk menghadapi serangan dari belakang. seandainya Siauw Ling tidak turun tangan tepat pada waktunya, niscaya pengemis itu sudah terluka dalam serangan tadi.

Setelah bergebrak sebanyak beberapa jurus, Sun Put Shia mulai merasa bahwa ia sudah berjumpa dengan musuh tangguh, ditambah pula serangan2 dari senjata aneh itu, ia merasa semakin kepayahan.

Tiba-tiba terdengar Siauw Ling berseru dengan ilmu menyampaikan suara, “Mari kita ber-sama2 menghadapi serangan musuh dengan punggung menempel punggung!”

Sun Put Shia putar batang kayu itu dengan jurus “Hong-cian-Jan-Im” atau Angin puyuh menyapu awan, ia paksa mundur musuh dari depan serta sayap kiri kemudian serunya pula dengan suara berat, “Hati2 dengan jarum beracun yang ada ditangan kanan mereka….

Belum selesai ia berseru, pihak lawan sudah mulai turun tangan, Boesu yang ada disebelah Timur tiba-tiba mengayunkan tangan kanannya, serentetan cahaya ke-perak2an segera meluncur ke depan.

Siauw Ling putar tamengnya membentuk serentetan cahaya tajam, seluruh jarum beracun yang mengancam datang berhasil ia rontokkan semua.

Dalam pada itu batang pohon yang berada di tangan Sun Put Shia telah terbabat hingga tinggal separuh setelah beberapa kali bentrok dengan senjata lawan. tidak mungkin senjata tersebut digunakan lagi, apabila ia ingin bergebrak lebih lanjut melawan delapan belas Kiem Kong, maka pengemis itu harus berganti senjata lagi.

Senjata yang paling baik tentu saja tameng yang berhasil dirampas dari tangan musuh, bukan saja digunakan untuk menghadapi serangan jarum beracun itu,

Otaknya berputar dan sang badan segera mendesak kedepan, tiba-tiba batang kayu ditangannya menyodok ke atas menangkis datangnya serangan tameng dari samping. sedang tangan kanannya tiba-tiba berkelebat keluar, laksana kilat mencengkeram pergelangan orang itu.

Menyaksikan datangnya ancaman dari lawan, lagipula tamengnya kena ditangkis senjata lawan maka tak mungkin lagi bagi orang itu untuk menghindar, terpaksa ia loncat kesamping.

Siapa sangka Sun Put Shia tidak meneruskan serangannya. tiba-tiba ia melancarkan sebuah semacam sentilan jari.

Serentetan desiran tajam segera meluncur ke depan dan tepat menghajar pergelangan orang itu, tak kuasa lagi kelima jarinya mengendor dan senjata tameng itupun terjatuh ke atas tanah.

Selama pertarungan berlangsung, Siauw Ling selalu mengawasi situasi disekelilingnya, melihat Sun Put Shia melancarkan serangan dengan segenap tenaga untuk merampas tameng lawan, semangatnya pun berkobar, ia segera menghalau pergi datangnya ancaman dari kedua belah sayap serta dari arah belakang.

Terdengar suara bentrokan nyaring berkumandang tiada hentinya, Sun Put Shia yang berhasil merobohkan pihak lawan dengan cepat merampas senjata tamengnya.

Kini setelah senjata itu ada ditangan, semangatnya makin berkobar. Senjata tameng itu diputar kesana kemari melancarkan serangan2 hebat.

Pertarungan kemudian berlangsung amat seru sekali, walaupun dalam genggaman boesu2 itu membawa jarum beracun, namun berada dalam situasi macam begitu mereka tak berani sembarangan melancarkan serangan sebab takut melukai sahabat sendiri.

Sementara itu Siauw Ling berdiri dalam posisi punggung menempel punggung dengan Sun Put Shia sembari memutar tameng untuk menghadapi serangan dari empat penjutu, mereka merundingkan siasat untuk menghadapi musuh dengan ilmu menyampaikan suara.

Terdengar Sun Put Shia berkata, “Loo-te, ilmu silat yang dimiliki beberapa orang ini benar2 jauh lebih dahsyat dari boesu berbaju hitam, apabila kita bertarung lebih jauh dengan mereka mungkin sitauasi tidak menguntungkan bagi kita, lebih baik kita turun tangan bergabung dan melukai dahulu beberapa orang diantara mereka, entah bagaimana menurut maksudmu?”

“Yang paling cayhe kuatirkan adalah jarum beracun diatangan mereka, apabila ada tiga empat orang turun tangan berbareng dan senjata rahasia dilepaskan dari delapan penjuru meski kita punya senjata tameng untuk melindungi badan rasanya sulit untuk menghindarkan diri dari ancaman ini”.

“Namun kalau kita teruskan pertarungan ini, hanya akan merugikan posisi kita belaka….” seru Sun Put Shia seraya menghalau serangan yang datang dari sayap kiri dan sayap kanan.

Se-konyong2 terdengar suara tambur bergema dengan cepasnya, mengikuti suara tambur tersebut para boesu melancarkan serangan kilat, mereka membagi diri jadi dua bagian dan menyerang datang laksana gelombang ditengah samudra.

Setiap boesu yang datang menyerang, hanya melepaskan tiga buah serangan untuk kemudian secara otomatis mengundurkan diri.

Siauw Ling merasa bahwa bertarung dengan cara bergilir ini sangat merugikan pihak mereka, agaknya pihak musuh dengan andalkan jumlahnya yang banyak hendak melelahkan Siauw Ling berdua lebih dahulu kemudian baru membinasakan mereka.

Setelah melakukan bentrokan beberapa kali, baik Siauw Ling maupun Sun Put shia sama2 merasa bahwa Boe-su yang disebut delapan belas Kiem Kong dari perkampungan Pek Hoa san Cung ini benar2 merupakan jago Bulim yang maha dahsyat, tenaga lweekang yang mereka miliki amat sempurna.

Sun Put Shia sendiri merasa kaget, tercengang bercampur keder sehabis menerima tujuh kali serangan berantai yang berarti ia sudah kekerasan sebanyak tiga kali tujuh dua puluh satu jurus buru-buru serunya dengan ilmu menyampaikan suara, “Loo-te, boesu2 itu memiliki senjata tajam namun mereka tidak menggunakan senjata sebaliknya mengajak kita adu kekerasan, aku duga mereka pasti ada rencana busuk tertentu.”

Siauw Ling sadar, iapun tahu apabila pertarungan semacam ini diteruskan lebih jauh maka keselamatan orang tuanya bakal terancam, segera sahutnya, “Tidak aneh, apakah loo cianpwee mempunyai cara bagus untuk menghadapi pihak lawan?”

“Maksud loohu, bilamana kita bertempur terus dengan cara begini maka tenaga kita akan terbuang dengan percuma, maka aku ingin melancarkan serangan dengan menempuh bahaya, kita lukai dahulu satu dua orang diantaranya! ….bagaimana menurut pendapat loo-te?”

“Cayhe pun punya maksud berbuat demikian, namun lebih baik kalau kita turun tangan secara serentak”.

“Dalam hati aku sipengemis tua mempunyai suatu urusan yang sangat mencurigakan sekali, maka aku tidak ingin melukai pihak mereka lebih dahulu”.

“Urusan apa yang mencurigai dirimu?”

“Aku sipengemis tua merasakan bahwa para boesu bersenjata tameng ini mempunyai tenaga lweekang yang amat sempurna sekali, apabila ditinjau dari keadaan pada umumnya orang2 semacam ini seharusnya memiliki kesempurnaan tenaga dalam bagaikan hasil latihan selama tiga puluh tahun, tidak mungkin kehebatan orang itu bisa dididik oleh shen Bok Hong dalam beberapa puluh tahun yang isngkat.

“Aaaa…. benar” pikir Siauw Ling di dalam hati. “Kalau dibicarakan dari ilmu silat yang dimiliki orang2 itu, agaknya mereka tak berada dibawah kepandaian Tiong-Chiu-Siang-Ku, namun apa sebabnya mereka suka jadi antek Shen Bok Hong?”

Segera sahutnya, “Cayhe pun merasa ilmu silat serta kesempurnaan tenaga lweekang yang dimiliki para boesu itu jauh diatas kepandaian jago-jago Bu-lim biasa!”

Begitulah sambil bercakap2 dengangunakan ilmu menyampaikan suara, merekapun merubah cara berkelahi melawan delapan belas Kiem Kong tersebut.

“Loo-te, apakah kau berhasil menemukan dari ilmu silat yang digunakan mereka?” kembali Sun Put shia bertanya.

“Pengalaman maupun pengetahuan cayhe cetek sekali, aku tak berhasil mengetahui asal usul ilmu silat mereka.”

“Agaknya loohu berhasil meraba jalannya jurus serangan dari orang2 itu, aku rasa jurus serangan mereka mirip dengan ilmu silat partai siauw-lim, maka dari itulah timbul kecurigaan dalam hatiku dan tidak ingin melukai mereka sebab mengikat tali permusuhan dengan pihak Siauw-lim merupakan suatu peristiwa yang sangat tidak kuharapkan”

Siauw Ling merasakan bahwa serangan2 yang dilancarkan delapan belas Kiem Kong itu makin lama semakin aneh dan tenaganya makin lama semakin kuat, ia amat terperanjat segera ujarnya, “Sekalipun mereka adalah anak murid dari partai Siauw-lim, namun terbukti pada saat ini mereka berbakti bagi pihak perkampungan Pek Hoa San Cung, seandainya kita ampuni jiwanya maka ia akan melukai kita dan kitapun jangan harap bisa menerjang keluar dari tempat ini”

Sun Put Shia termenung sejenak lalu berkata, “Keadaan mendesak sekali, kendati dugaan aku sipengemis tua tidak melesetpun rasanya tak ada cara lain daripada kita turun tangan terhadap mereka….”

Ia membentak keras kemudian menerjang kedepan.

Tenaga serangan yang memancar keluar dari tamengnya makin menghebat, setiap boesu yang bersentuhan dengan senjatanya niscaya terpental ke belakang sampai ber-puluh2 langkah jauhnya,

Siauw Ling berpaling, tatkala ia lihat Sun Put Shia sudah mulai melancarkan serangan iapun segera turun tangan.

Dengan tangan kanannya ia putar senjata tameng untuk membendung serangan musuh tangan kirinya melancarkan ilmu totok Siauw-Loo-Sin-Cie untuk merobohkan lawan.

Ilmu jari Siuw-Loo-ci merupakan ilmu andalan Liuw-Sian-cu dikala berkelana dalam dunia persilatan tempo dulu, kehebatannya sungguh tak terkirakan, barang siapa yang termakan serangan tadi seketika roboh ke atas tanah

Dalam sekejap mata ada empat orang musuh yang telah terluka dan roboh diatas tanah termakan oleh ilmu jari saktinya itu.

Menyaksikan kedahsyatan Siauw Ling dimana dalam beberapa saat tekah berhasil merobohkan beberapa orang, sedangkan ia sendiri tidak berhasil melukai barang seorang musuhpun, Sun Put Shia merasa malu bercampur menyesal, senjata tamengnya segera diperketat dan melancarkan serangan dengan segenap tenaga.

Hawa lweekangnya amat sempurna, serangan yang dilancarkan amat dahsyat apalagi setelah ia menyerang dengan segenap tenaga, tameng dalam genggamannya laksana gulungan ombak ditengah samudra meluncur dan menghantam keluar dengan hebatnya hingga memaksa orang2 berbaju hitam itu terdesak mundur ke belakang.

Dalam pada itu sipencuri sakti Siang Hwie serta Sie-poa emas Sang Pat ketika menyaksikan dua orang rekan mereka belum berhasil juga menjebolkan kepungan musuh kendati sudah bergebrak sangat lama, buru-buru maju membantu sebab mereka takut kedua orang rekannya terluka.

Tampaklah Sun Put shia menunjukkan kesaktiannya, senjata tameng ditangannya berputar laksana kitiran, para penyerang segera terdesak munduk ke dalam hutan bunga.

“Tidak aneh Shen Bok Hong berani pandang enteng para jago yang ada dikolong langit” bisik Siang Hwie. “Ternyata perkampungan Pek Hoa San Cung benar2 merupakan sarang naga goa macan, kecuali delapan belas Kiem Kong entah masih ada jago lihay apa lagi yang ia miliki?”

“Sejak Shen Bok Hong menderita kekalahan ditangan para jago dari kolong langit tempo dulu semestinya kita lakukan pencarian besar2an dan melenyapkan dia dari muka bumi, kini sayapnya telah melebar, tidak gampang bagi kita semua untuk memusnahkan kekuatan yang ia miliki!”

“Benar. menurut penglihatan aku sipencuri tua sekalipun para jago dari partai besar bersatu padu untuk melawan dirinya pun belum tentu bisa menghadapi Shen Bok Hong gembong iblis itu.”

Ia merandek sejenak kemudian menambahkan, “Tiang-loo dari partai Kay-Pang Sun Put Shia ternyata masih hidup dikolong langit bahkan mendatangi perkampungan Pek Hoa San Cung; bagaimanapun juga kehadirannya jauh diluar dugaan siapapun, si orang tua ini boleh dikata merupakan salah satu musuh tangguh Shen Bok Hong.

Sebenarnya kedatangan kedua orang itu adalah bermaksud membantu Siauw Ling berdua untuk bertempur, setelah menyaksikan kedua tokoh itu mulai melancarkan serangan balasan dan boesu2 yang terluka semakin banyak, merekapun segera mengundurkan diri ke belakang pohon dan membicarakan soal masalah dunia kangouw.

Terdengar sie-poa emas Sang Pat berkata, “Menurut pendapat siauw-te, Siauw-toako kita inilah baru merupakan bintang penolong dari dunia persilatan, sejak kini cuma dia seorang yang bisa menandingi Shen Bok Hong dan cuma dia seorang pula yang dapat menghalangi ambisinya untuk menguasahi kolong langit.”

Dalam hati Siang Hwie mereasa tidak puas. ia ada maksud membantah ucapan tersebut. tiba tiba dilihatnya Siauw Ling membuang tameng tersebut dengan tangan kanannya, dalam sebuah tendangan kilat ia sudah robohkan boesu tadi dan menotok jalan darahnya.

Cara bertarung macam ini kontan saja membuat sipencuri sakti Siang Hwie berdiri tertegun. segera tanyanya kepada Sang Pat, dengan suara lirih

“Ilmu silat apakah yang berhasil dilatih oleh Siauw-toako mu yang masih muda belia itu?”

Dalam kenyataan Sie-poa emas Sang Pat sendiripun dibikin tertegun ketika menyaksikan Siauw Ling merampas pisau yang tajam diatas tameng dengan tangan kosong, kini mendengar pertanyaan dari Siang Hwie ia jadi melongo dan tak sanggup bicara, lama sekali ia baru berkata, “Lion-Tau toako kami ini punya kepandaian yang luar biasa, ilmu silatnya dari pelbagai partai serta perguruan ia pahami semua, boleh dikata tak ada kepandaian silat dikolong langit yang tak ia kenal”.

“Dengan tangan kosong merampas pedang, sedang tangannya tidak terluka, sudah hidup separuh abad aku sipencuri tua namun baru kali ini aku saksikan kehebatan semacam ini”.

“Kalau begitu saksikanlah kehebatan toako kami ini”.

Ia tak tahu kalau Siauw Ling memakai sarung tangan berkulit ular yang tidak mempan senjata. maka sebagai jawabannya ia oceh saja sekenanya.

Siauw Ling benar2 tunjukkan kelihayannya, hawa murni disalurkan melindungi badan, kemudian dengan ilmu jari Siuw-Loo-Cie melukai musuh dalam sekejap mata kembali delapan orang roboh terluka.

Sun Put Shia tak mau tunjukkan kelemahannya seluruh hawa murni yang ia miliki disalurkan ke atas tameng lalu berputar dan menghajar senjata lawan dengan keras lawan keras, para boesu yang termakan hantaman tamengnya pasti tergetar mundur ke belakang dengan sempoyongan.

Beberapa saat kembali berlalu, sepuluh dari jumlah delapan belas Kiem Kong itu sudah ada separuh roboh binasa atau terluka, sisanya kalau bukan pergelangan jadi pecah dan darah mengucur tentulah sudah kehabisan tenaga, dalam gencetan Siauw Ling sera Sun Put Shia mereka semakin kepayahan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara gembrengan dibunyikan bertalu2, kobaran api obor pun segera padam semua.

Delapan belas Kiem Kong yang dijagokan perkampungan Pek Hoa San Cung saat ini sudah tak bisa dikatakan sebagai suatu kekuatan lagi mereka sudah hancur tercerai berai oleh hajaran Siauw Ling serta Sun Put Shia.

Mendadak…. suasana disekeliling hutan bunga jadi gelap gulita, semuanya hitam pekat dan apapun tak kelihatan.

Menggunakan kesempatan dikala kegelapan melanda seluruh jagad, delapan belas Kiem Kong yang tidak terluka segera melarikan diri ter-birit2 dari medan pertempuran.

“Kalau kita tidak berlalu saat ini, mau tunggu sampai kapan lagi?” seru Be Boen Hwie dengan cepat.

Ia segera pimpin para jago untuk bergabung dengan Siauw Ling sekalian kemudian menerjang keluar.

Siauw Ling berpaling, tiba-tiba ia menemukan Sun Put Shia berjalan sambil memegang perut sendiri, hatinya jadi terperanjat.

“Loocianpwee, kenapa kau!” tegurnya.

“Aaah, tidak mengapa” sahut sun Put Shia hambar dan melepaskan tangannya, kemudian melewati para jago dan berjalan paling depan.

Agaknya pihak perkampungan Pek-Hoa-San-Cung menduga asal mereka kirim delapan belas Kiem Kong maka para jago tentu akan terhadang, siapa sangka Sun Put Shia serta Siauw Ling amat lihay, semua jago mereka kena diobrak abrik maka dalam perjalanan selanjutnya mereka tidak temukan hadangan2 lagi.

Sipencuri sakti Siang Hwie mempercepat langkahnya, setelah berada disisi Siauw Ling ia berbisik, “Agaknya Sun Loocianpwee rada sedikit kurang beres, kita harus bertindak lebih hati2″

Siauw Ling mengangguk, ia membuntuti dibelakang Sun Put Shia dan secara diam2 mengawasi gerak geriknya.

Beberapa saat kemudian para jago telah meninggalkan perkampungan Pek Hoa San Cung.

Setelah melangkah keluar dari perkampungan para jago sama2 menghempaskan napas panjang. ketegangan yang menyelimuti wajah merekapun seketika mengendor.

Giok Lan yang menggendong Siauw Hujien tiba-tiba percepat langkahnya mendekati Siauw Ling kemudian berkata, “Siangkong, cepat berputar ke arah sebelah utara, tempat ini adalah sebuah tanah gersang….”

Belum habis ia berkata, tiba-tiba terdengar suitan panjang berkumandang datang disusul dari hadapan para jago muncul lima buah lentera berwarna merah.

Diatas setiap lentera berwarna merah itu bertuliskan kata2 “Hwie-Pit” atau Menghindar dari tulisan warna putih.

Tulisan putih diatas bendera merah, tampak nyata sekali huruf2 tersebut.

Menyaksikan munculnya lentera tersebut, Giok Lan mendepakkan kakinya ke atas tanah dengan hati cemas lalu menghela napas panjang.

“Aaai…. sedikitpun tidak salah, mereka sudah mengatur barisan Ngo-Liong-Toa-Tin”.

Sewaktu para jago mendengar Giok Lan mengeluh akan kelihayan delapan belas Kiem Kong dalam kenyataan apa yang ia katakan memang benar, seandainya tiada Sun Put Shia serta Siauw Ling yang berhasil mengobrak abrik kedelapan belas jago lihay itu mungkin para jago sudah hancur remuk ditangan kedelapan belas Kiem Kong.

Kini menyaksikan pula ketegangan yang menyelimuti wajah Giok Lan, para jago jadi tertegun.

“Apakah yang dimaksudkan dengan barisan Ngo-Lion-Toa-Tin itu?” tanya Siang Hwie dengan suara lirih.

——————–

38

Shen Bok Hong punya ambisi besar untuk bangkit kembali didunia persilatan dan menjagoi kolong langit, oleh sebab itu setelah menyembunyikan diri ke dalam perkampungan Pek Hoa San-cung, ia curahkan segenap perhatiannya untuk melakukan persiapan. dibawah didikan serta jerih payahnya ia berhasil membentuk tiga kelompok kekuatan yang dapat membinasakan para jago dikolong langit, ketiga kelompok kekuatan itu terdiri dari delapan bayangan berdarah, delapan belas Kiem Kong serta barisan Ngo-Liong-Toa-Tin ini!”

“Bagaimanakah barisan Ngo-Liong-Toa-Tin ini apabila dibandingkan dengan Delapan belas Kiem Kong?” tiba-tiba Sun Put Shia bertanya seraya berpaling.

“Menurut apa yang budak ketahui, barisan Ngo Liong Toa Tin merupakan keberhasilannya yang paling top dari Shen Bok Hong sepanjang usahanya untuk membentuk kekuatan baru, bagaimanakah keadaan sebenarnya meski budak kurang tahu, namun sudah jadi kenyataan bahwa barisan Ngo-Liong-Toa-Tin jauh lebih dahsyat daripada delapan belas Kiem Kong.”

Mendengar jawaban itu, Sun Put shia yang tak pernah pandang tinggi jago kangouw pun tiba-tiba menghela napas panjang.

“Aaaai….! seandainya barisan Ngo-Liong-Toa-Tin benar2 lebih hebat dari delapan belas Kiem Kong….”

Suara getaran yang amat dahsyat berkumandang memenuhi angkasa memotong ucapan Sun Put Shia yang belum selesai.

Meskipun sipengemis tua itu tidak melanjutkan kata2nya, namun para jago mengerti apa yang dimaksudkan, jelas ia sedang mengartikan bilamana barisan Lima Negara benar2 dahsyat dari Delapan Belas Kiem Kong maka sulitlah bagi mereka semua untuk meloloskan diri dari sana dalam keadaan selamat.

Diam2 Siauw Ling memeriksa keadaan sekitar sana, ia tahu Sun Put Shia sudah menderita luka dalam yang sangat parah, berhubung tenaga dalamnya amat sempurna maka ia masih sanggup menahan luka itu sehingga tidak sampai kambuh.

Menengok pula ke arah kalangan, ia lihat disisi lima buah lentera merah itu masing-masing berdiri seorang manusia aneh yang kukoay sekali bentuknya.

Suma Kan mendengus dingin, lalu berkata, “Sekalipun dandanan mereka jauh lebih anehpun, tidak bakalan bisa mengederkan hati orang itu!”

Kiranya manusia aneh yang berdiri dibawah lima buah lentera merah itu punya wajah yang mengerikan sekali, seluruh tubuh mereaka berwarna merah, rambut merah terurai sampai ke bahu, dibawah leher penuh dengan sisik berwarna merah sehingga mirip sekali dengan seekor ikan sepasang tangannya amat panjang dengan kuku sepasang tiga coen, wajahnya berselimutkan selapis cairan berwarna merah pula dan tinggal sepasang matanya yang tajam serta memancarkan cahaya ke-biru2an.

Per-lahan-lahan Siauw Ling cabut keluar pedang panjang dari sisi pinggang Giok Lan, kemudian berkata dengan suara berat, “Harap cuwi sekalian suka berdiri ditempat dan jangan bergerak cayhe akan pergi menjajal kekuatan mereka”.

Sambil mencekal pedang ia lantas maju kedepan.

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki sianak muda ini sudah menimbulkan rasa kagum dihati tiap jago, semua orang mengetahui bilamana iapun tak sanggup menghadapi kelima orang manusia kukoay itu, niscaya keadaan mereka lebih banyak celaka dari pada selamat.

“Siangkong, aku ikut dirimu” tiba-tiba Kiem Lan berseru.

“Buat apa kau ikuti diriku?”

“Budak menguasai kata2 sandi dari perkampungan Pek-Hoa-San-Cung, mungkin saja dapat membantu siangkong”.

“Tak usah, aku hendak menjajal sebentar….”

“Bagaimana kalau aku sipengemis tua yang mengiringi dirimu?” seru Sun Put Shia sambil tampil kedepan.

“Jangan. Loocianpwee….”

Sebenarnya ia hendak mengatakan bahwa loocianpwee sudah terluka dalam, mana bisa bertempur lagi, tetapi teringat akan nama besarnya buru-buru serunya, “Loocianpwee, kau harus memimpin para jago lebih baik jaga diri sambil membantu para jago, biarlah cayhe menjajal lebih dahulu, kemungkinan sekali dari pertarungan ini loocianpwee akan menemukan cara untuk menghancurkan barisan ini”.

“Aaai….! kalau begitu ber-hati2lah dalam setiap tindakan”.

“Tak usah cianpwee risaukan!”

Dengan langkah lebar Siauw Ling segera maju kedepanm ia pilih lampu lentera yang ada ditengah, kemudian hawa murni disalurkan keseluruh badan dan maju menghampiri.

Sejak selesai bertarung melawan delapan belas Kiem Kong, Siauw Ling menyadari akan kelihayan orang2 perkampungan Pek Hoa San Cung maka ia tak berani pandang rendah pihak lawan.

Kurang lebih lima enam depa dari manusia2 aneh berbaju merah itu ia berhenti, lalu mengobat abitkan pedangnya menciptakan dua kuntum bunga pedang setelah itu tegurnya dengan suara dingin ;

“Anda sekalian mengira setelah memakai baju serta dandanan kukoay lantas bisa mengejutkan hati orang dan membuat kami keder?”

Orang yang aneh berbaju merah itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, hanya sepasang matanya yang tajam mengawasi wajah Siauw Ling tak berkedip.

Maksud Siauw Ling dalam mengutarakan ucapan tersebut tidak lain untuk memancing kegusaran orang2 berbaju merah itu, agar mereka turun tangan terlabih dahulu kemudian mencari tahu asal usul dari ilmu silat yang mereka miliki.

Dalam genggaman manusia2 berbaju merah itu tidak mencekal senjata tajam, namun memelihara kuku yang sangat panjang, jelas senjata utama meraka adalah sepasang telapaknya dan serangan yang dilancarkan pasti lihay dan aneh.

Maka Siauw Ling pun bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, siapa sangka orang2 berbaju merah itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, mereka tidak menyerang juga tak berkutik, hanya dengan sepasang matanya mengawasi wajah Siauw Ling.

Kedua belah pihak saling berpandangan kurang lebih seperminum teh lamanya, lama kelamaan Siauw Ling tak dapat menahan sabar lagi sepasang matanya mengawasi sekejap ke arah orang2 berbaju merah itu, setelah dirasakan tiada jebakan disitu maka ia maju kedepan sambil membentak, “Lihat pedang!”

Cahaya tajam berkelebat menembusi angkasa laksana kilat ia tusuk dada orang berbaju merah itu.

Sreeet….! ujung pedang menusuk telak diatas dada manusia aneh berbaju merah itu, namun senjata tersebut tak bisa menembusi tubuhnya, se-akan2 ujung pedang tadi sudah menutul diatas selembar kepingan baja yang keras.

Kiranya orang berbaju merah itu mengenakan pakaian lapis baja yang bersisik, entah terbuat dari bahan apakah pakaian itu sehingga tusukan pedang pun tedak mempan.

Meskipun ujung pedang Siauw Ling tak berhasil menembusi tubuhnya, namun daya serangan yang terpancar keluar tidak lemah, tubuh orang berbaju merah itu seketika terpukul sampai mundur tiga empat langkah ke belakang.

Siauw Ling tarik kembali serangannya dan berpikir, “Agaknya berjumpa muka jauh lebih baik daripada mendengar nama besarnya belaka, Kiem Lan serta Giok Lan memuji lima naga berbaju merah ini setinggi langit, tak tahunya cuma manusia tak berguna yang tak sanggup menerima sebuah seranganpun.”

Sementara ia masih berpikir, tiba-tiba tubuh manusia berbaju merah itu bergoyang keras kemudian roboh ke atas tanah.

Perubahan yang terjadi diluar dugaan ini membuat Siauw Ling serta para jago yang hadir dalam kalangan jadi tertegun dan mengawasi orang yang berbaju merah yang roboh diatas tanah itu dengan mata mendelong.

“Apa yang terjadi?” tanya sipencuri sakti Siang Hwie sambil menghampiri Siauw Ling dengan langkah lebar.

“Entahlah, aku cuma menusuk dadanya satu kali tahu2 ia mundur sempoyongan dan roboh terjengkang ke atas tanah!”

“Aaaah, sungguh aneh sekali, mungkin masih ada alasan tertentu dibalik kejadian ini?”

“Aku sendiripun merasa rada tercengang, tetapi kenyataan membuktikan kalau mereka sudah roboh, mari kita terjang keluar dengan menggunakan kesempatan baik ini!

“Tidak salah! berangkatlah lebih dahulu untuk membuka jalan, aku sipencuri tua akan panggil mereka semua!”

Ia putar badan lari balik kemudian menggape para jago untuk sama2 melarikan diri.

Baris Ngo-Liong-Hwie-Tin yang dipuji setinggi langit oleh Giok Lan serta Kiem Lan ternyata cuma biasa saja, bahkan tak sanggup menghadapi sebuah serangan dari Siauw Ling.

Orang berbaju merah yang kena dihajar roboh tadi masih tetap berbaring dengan tenang diatas tanah, sewaktu para jago berjalan lewat disisinya tidak tampak ada reaksi apapun dari antara mereka.

Dalam sekejap mata para jago sudah lari keluar dari perkampungan Pek Hoa San Cung dan ternyata sepanjang perjalanan mereka tidak berjumpa lagi dengan hadangan2.

“Sungguh aneh sekali” terdengar Suma Kan berkaok. “Lima orang manusia berbaju merah itu bukan saja berdandan kukoay bahkan posisi yang ditempati mengandung barus yang luar biasa, tapi apa sebabnya mereka tak sanggup menghadapi sebuah serangan?”

Setelah keluar dari perkampungan Pek Hoa San Cimg, rasa tegang diwajah para jagopun mengendor, teringat pertempuran sengit yang baru saja berlangsung, mereka merasa sangat beruntung dapat keluar dari sarang naga gua macan dengan selamat.

Be Boen Hwie berpaling memandang sekejap ke arah Kiem Lan lalu bertanya dengan suara lirih, “Shen Bok Hong adalah seorang manusia licik yang berakal banyak, mungkinkah sengaja ia mengatur siasat untuk menjebak kita?”

“Tidak mungkin!” Kiem Lan menggeleng. “Walaupun budak kurang begitu menguasai akan keadaan sebenarnya dari barisan lima naga tersebut namun kalau ditinjau dari pakaian yang dikenakan beberapa orang itu agaknya bukan lain adalah sisik naga yang dibuat Shen Bok Hong dengan susah payah….”

“Manusia hendak membuat “Liong-Ka” sisik naga? aaah, pekerjaan ini luar biasa sekali” seru siang Hwie. “Semestinya kita harus mencopot sisik naga itu dari tubuh mereka tadi!”

Mendengar ucapan ini diam2 para jago merasa geli, pikirnya, “Waduuh…. waduuh…. agaknya watak mencuri sudah mendarah daging pada tubuh kakek tua ini!”

“Besar kecil dari sisik naga itu dibuat dan dibikin sesuai dengan potongan badan lima naga” kata Kiem Lain sambil tertawa hambar. “Seandainya orang lain yang mengenakannya tentu saja tidak cocok!”

“Nona, tahukah kau Liong-Ka tersebut terbuat dari apa?” sela Be Boen Hwie.

“Darimanakah Shen Bok Hong berhasil mendapatkan sisik2 tersebut budak kurang tahu, tetapi yang jelas sisik2 itu terdiri dari benang2 serat yang dikumpulkan jadi satu dengan daya pantul yang besar, bacokan golok serta pedang sukar untuk melukainya….”

Dayang itu berpaling memandang sekejap ke arah Siauw Ling,menyaksikan sianak muda itu mendengarkan dengan seksama ia melanjutkan kembali, “Untuk membuat lima stel pakaian Liong-Ka ini, Shen Bok Hong telah mengutus jago-jago kampungnya untuk mengumpulkan ber-puluh2 orang tukang jahit tersohor dan bekerja selama tiga tahun baru berhasil merampungkan lima stel pakaian tersebut, dari hal ini bisa disimpulkan kalau barisan Lima Naga itu sangat diandalkan sekali!”

“Sungguh aneh sekali, mengapa orang2 itu tidak kuat menahan sebuah seranganpun?” timbrung Siang Hwie.

“Disinilah letak kesulitan budak untuk memberi jawaban!”

“Orang itu tak kuat menahan sebuah seranganpun, meski hal ini mengherankan namun lebih mencengangkan lagi adalah tak berkutiknya empat orang aneh yang lain. apa sebabnya mereka berpeluk tangan belaka membiarkan rekannya terhajar?” sambung Giok Lan.

“Siauw-heng sebenarnya jurus pedang apakah yang kau gunakan?” akhirnya Be Boen Hwie bertanya.

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Siauw Ling sudah cukup menggetarkan hati para jago, karena dalam pertarungan melawan musuh makin lihat lawannya semakin lihay pula ilmu silat yang diperlihatkan hal inilah yang membuat para jago menaruh curiga, mungkinkah secara tiba-tiba Siauw Ling memperlihatkan kelihayannya.

“Benarkah kau she Siauw?” mendadak Suma Kan berseru.

Teringat barntuan yang diberikan orang asing ini sepanjang pertempuran yang barusan terjadi sianak muda itu merasa tidak pantas kalau ia merahasiakan namanya lebih jauh, maka ia manggut.

“Cayhe adalah Siauw Ling!” katanya

“Dan dia adalah Siauw Ling yang cia dan tulen!” sambung Be Boen Hwie.

Sun Put Shia yang selama ini membungkam dalam seribu bahasa tiba-tiba putar kepala memandang Siauw Ling, lalu menegur, “Apakah kau bernama Siauw Ling?”

“Tidak salah!”

“Tatkala Loohu turun dari gunung, nama besarmu sudah kudengar dan ternyata kelihayanmu benar2 bukan nama kosong belaka!”

Siauw Ling tahu yang dimaksudkan pastilah Siauw Ling gadungan alias Lan Giok Tong namun iapun sadar masalah ini tidak gampang untuk dijelaskan maka iapun bungkam dalam seribu bahasa.

“Ayoh kita cepat berangkat….” tiba-tiba Sie-poa emas Sang Pat berseru.

“Kenapa?” tanya Suma Kan tercengang.

“Sudah tiba saatnya Shen Bok Hong menyelesaikan latihannya, sewaktu ia mengetahui bahwa kita berhasil lolos dari perkampungan Pek Hoa San Cung, gembong iblis itu pasti akan melakukan pengejaran”

Belum selesai ia berkata terdengar suitan tajam berkumandang datang dari kejauhan disusul suara derap kaki kuda bergema semakin mendekat.

Para jago yang hadir disana kebanyakan merupakan jago-jago kawakan, belasan ekor kuda banyaknya, jelas pasukan pengejar dari pihak perkampungan Pek Hoa San Cung sudah melakukan pengejaran.

Be Boen Hwie angkat kepala memandang sekejap keadaan disekelilingnya, lalu berseru, “Mari kita bergeser ke arah Timur-laut!”

Tanpa banyak bicara ia memimpin jalan dan bergerak dengan cepatnya.

Siauw Ling tahu, perbuatan orang she Be itu tentu mengandung maksud tertentu, tanpa bertanya lagi ia tarik tangan Sang Pat dan berkata, “Mari kita berada dipaling belakang untuk menyambut kedatangan mereka”

“Bagus!” jawab Sang Pat sambil tertawa, “Orang yang bergabung dengan pihak musuh kebaynyakan merupakan jago-jago berhati keji, kita tak usah ajak mereka membicarakan soal peraturan Bu-lim lagi”.

Siauw Ling tidak paham dengan maksud ucapannya, terpaksa ia membungkam dalam seribu bahasa.

Terdengar suara derap kaki kuda makin lama semakin mendekat, dibawah cahaya bintang secara lapat2 tampaklah kuda2 jempolan bergerak mendekat dengan cepatnya.

Siauw Ling segera berjongkok dan memungut dua buah batu gunung siap disambit keluar.

Sedangkan Sang Pat merogoh ke dalam sakunya ambil keluar sebuah kotak kumala, membuka kotak tadi dan menebarkan isi kotak tersebut ke atas tanah.

“saudaraku, apakah isi dari kotak itu?” tanya Siauw Ling.

“Ooouw….! hanya suatu permainan kecil, harap toako jangan mentertawakan!….”

“Menggunakan tentara tidak akan melupakan siasat, terhadap manusia2 rendah macam mereka sudah tentu kita tak perlu menggunakan cara yang jujur!”

“Isi kotak kumala ini….”

Mendadak orang she Sang itu membungkam.

Siauw Ling angkat kepala, tampaklah dua ekor kuda jempolan melampaui rombongan mereka dan mendesak tiga empat tombak lebih ke depan, jelas Sang Pat tidak ingin rahasianya diketahui musuh maka ia putus ucapannya ditengah jalan.

Dalam pada itu, dua ekor kuda jempolan tersebut sudah berlari diatas benda yang disebarkan Sang Pat diatas tanah itu.

Tampak percikan cahaya api berkelebat disusul serentetan suara ringkikkan kuda berkumandang memenuhi angkasa.

Ketika Siauw Ling menengok ke arah api, tampaklah cahaya api berwarna ke-hijau2an sedang membakar kaki kuda itu.

Sewaktu orang yang ada dibelakangnya menyaksikan rekan didepannya mengalami celaka buru-buru ia putar kudanya siap melarikan diri namun terlambat….

Terlihat cahaya api berkilauan memenuhi angkasa, seluruh tubuh kuda itu seketika terbakar dengan hebatnya.

Dua orang jago yang menunggang diatas kuda jempolan itu buru-buru meninggalkan kuda tunggangannya, mereka mencelat dua tombak jauhnya dari tempat kejadian dan melanjutkan pengejaran dengan berlarian.

Suara ringkikkan yang memanjang bergema memecahkan kesunyian, kedua ekor kuda itu meloncat2 kesakitan.

Ditengah malam yang gelap terlihatlah kobaran api berwarna hijau itu makin lama berkobar semakin besar, dalam waktu singkat dua ekor kuda itu sudah terbakar mati.

Kuda2 pengejar dibelakang yang menyaksikan peristiwa ini sama2 tarik les kudanya kemudian berputar dan melanjutkan pengejaran.

“SUngguh sayang, sungguh sayang,” seru Sang Pat “Orang2 dari perkampungan Pek Hoa San Cung benar2 sangat licik, seandainya mereka mengejar berbareng niscaya semua pasukan akan terbakar habis.”

Dalam pada itu dua orang lelaki kekar yang kudanya terbakar tadi sudah mengejar hampir dekat dengan Siauw Ling berdua.

Sianak muda itu segera ayun pergelangan kanannya, dua butir batu melesat keluar diiringi desiran tajam langsung menghajar ke arah dua orang itu.

Ditengah kegelapan yang mencekam tak mungkin bagi kedua orang itu untuk menghindar, mereka terhajar telak terkena dan roboh.

Untung dalam kegelapan yang mencekam sulit bagi Siauw Ling untuk mengarah tepat jalan darah, dengan demikian meski serangan bersarang ditubuh musuh namun bukan tempat berbahaya.

Walaupun begitu kekuatan serangan Siauw Ling amat dahsyat sekalipun bukan tempat bahaya yang terhajar, namun cukup membuat mereka kesakitan dan pengejaranpun segera terhenti.

Kuda2 pengejar dari arah belakang dengan cepat menyusul mereka berdua dan meneruskan pengejaran ke arah depan.

Sepasang mata Siauw Ling mengawasi sekejap keadaan disekeliling tempat itu lalu kepada Sang Pat bisiknya, “Dewasa ini kita semua sudah lapar, dahaga dan lelah, sukar untuk melangsungkan pertarungan lagi, ditinjau dari gerak gerik pengejar2 itu rasanya ilmu silat yang mereka miliki tidak lemah, seandainya kita bisa memilih suatu posisi yang baik dan sempit, dengan kekuatan kita berdua rasanya tidak sulit untuk menghalangi jalan pergi mereka.

Terlihatlah kuda2 itu laksana terbang sudah semakin mendekat, Siauw Ling berdua pun dengan cepat kena disusul.

“Jangan melibatkan diri dalam suatu pertarungan sengit” seru Siauw Ling memperingatkan. “Cukup kita halangi perjalanan mereka dan jangan sampai merkea berhasil melampaui kita, itu sudah cukup”.

“Tidak salah, tidak salah ucapanmu itu!” sahut sie-poa emas Sang Pat sambil ambil keluar senjatanya dari dalam saku.

Dari jawaban tersebut secara lapat2 Siauw Ling dapat mendengar bahwa napasnya ter-sengkal2, segera ia berpikir di dalam hati, “Seandainya kami berdua sampai terkurung kembali oleh boesu2 dari perkampungan Pek Hoa San Cung ini, niscaya dalam pertarungan sengit yang kemudian berlangsung banyak jago-jago diantara kami bakal roboh terluka ataupun binasa….”

Sementara ia masih berpikir, mendadak terdengar suara Be Boen Hwie berkumandang datang;

“Siauw-heng, harap jangan bertempur lebih jauh”

Siauw Ling segera loncat ketengah jalan menghalangi perjalanan para pengejar lalu bentaknya

“Saudata Sang Pat, cepat mundurlah lebih dahulu!”

Sang Pat tahu ilmu silatnya sangat lihay, iapun tidak sungkan2 dan mengundurkan diri lebih dahulu.

Dalam waktu singkat seekor kuda pengejar telah menerjang tiba, Siauw Ling ayun telapaknya melancarkan sebuah babatan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur kedepan, melihat datangnya serangan orang yang ada diatas kudapun mendorong pula sepasang telapaknya menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras.

Daya serangan dari Siauw Ling amat dahsyat dalam suatu bentrokan yang maha dahsyat orang itu terpental dan jatuh terbanting dari atas pelana kudanya.

Namun orang itu tidak lemah, ketika tubuhnya menempel diatas tanah ia segera melejit dan melancarkan tubrukan kembali ke arah Siauw Ling.

Orang ini benar2 bandel dan tidak takut mati meskipun sudah terpental jatuh dari atas pelana oleh serangan Siauw Ling, namun hatinya sama sekali tidak keder bahkan berani melancarkan serangan kembali.

Dikala lelaki itu sedang menubruk ke arah Siauw Ling kembali ada dua orang penunggang kuda menerjang tiba sepasang pedangnya langsung menyerang tubuh sianak muda itu.

Bukan mundur sebaliknya Siauw Ling maju ke depan, mendadak ia menerjang dua langkah ke muka meloloskan diri dari datangnya ancaman pedang yang muncul dari kiri dan kanan, setelah itu dengan telapaknya ia sambut datangnya serangan lelaki itu.

Kali ini hawa murninya sudah disalurkan ke atas telapak, ,menanti sepasang telapak saling membentur hawa murnipun segera meluncur keluar dengan dahsyatnya.

Terdengar lelaki itu mendengus berat, badannya mundur enam tujuh langkah ke belakang dan roboh ke atas tanah.

Luka dalam yang ia derita kali ini parah sekali, untuk beberapa saat lelaki itu tak sanggup bangun berdiri.

Walaupun Siauw Ling berhasil melukai seorang musuh, namun dengan adanya kejadian ini maka empat lima orang pengejar telah keburu tiba.

Tampak cahaya golok berkilauan, hawa pedang memenuhi angkasa, dua bilah golok dan dua bilah pedang secara serentak menyerang tiba.

Siauw Ling segera kirim telapak kirinya kedepan menggetar mundur musuh yang ada disebelah kiri, sedangkan tangan kanannya berkelebat mencengkeram sebilah pedang yang menuduk tiba, mentah2 ia seret orang itu jatuh dari atas kuda kemudian diiringi sebuah tendangan kilat dari sianak muda itu, orang tadi mencelat dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Walaupun ilmu silat yang dimiliki sianak muda ini sangat lihay namun setelah mengalami pertempuran sengit beberapa waktu lamanya, tak urung iapun merasa kecapaian, ketika perhatiannya sedang dipusatkan untuk merampas senjata musuh, tiba-tiba punggungnya terasa amat sakit, sebuah tusukan telah bersarang ditubuhnya.

Sebetulnya Siauw Ling mempunyai hawa khiekang yang melindungi tubuhnya, tak mungkin serangan bokongan bisa melukai tubuhnya, tetapi karena tenaganya sudah berkurang setelah melangsungkan pertarungan seru, kedua ia lupa menyalurkan hawa khie-kangnya, maka tusukan ini membuat ia menderita luka yang tidak ringan.

Siauw Ling segera putar pedangnya menyapu keluar.

Triiing…. triing…. triiing…. diiringi suara dentingan yang amat nyaring, empat bilah pedang berhasil ia sampok lepas semua.

Suara bentakan2 keras berkumandang dari arah depan, agaknya rombongan para jagopun sudah berlangsung suatu pertarungan sengit.

Dalam keadaan seperti ini Siauw Ling tak bisa memikirkan luka diatas punggungnya lagi, buru-buru ia salurkan haw murninya untuk mencegah lebih banyak darah mengalir keluar. pedangnya berkelebat membentuk selapis bunga pedang, ditengah jeritan ngeri seorang musuh roboh binasa.

Ia mulai melancarkan serangan kilat untuk cari kemenangan, serangan2 yang dilancarkanpun mengugnakan jurus yang aneh dan sakti.

Suara rintihan berkumandang saling susul menyusul, dalam sekejap mata kembali Siauw Ling sudah melukai lima orang dan berhasil lolos dari kepungan.

Ia paling menguatirkan keselamatan orang tuanya, maka tiada kegembiraan sama sekali untuk bergebrak lebih jauh, sambil mengempos tenaga tubuhnya lari ke arah depan.

Setelah berlarian beberapa waktu dan melewati sebuah tikungan, sianak muda itu melihat banyak sekali sahabat2 kangouw dengan senjata terhunus sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan para pengejar dari perkampungan Pek Hoa San Cung.

Dalam sekilas pandang, Siauw Ling kenali diantara para jago iBu-lim terdapat Pat-Chiu-Sin-Liong sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Cheng serta gadis berbaju hijau yang cantik namun serius, disamping itu terdapat pula sipendekar pincang Ciang Toa Hay beserta dua orang muridnya.

Lima orang itu berdiri berjejer didepan menghadang musuh yang mengejar datang.

Dibelakang mereka berdiri pula seorang jagoan berbaju merah dan bersenjata Hwee-Lion-Pang dia bukan lain adalah Sam-Yang-Sin-Tan sipeluru sakti Liong Koei Cang.

Sejak semula Be Boen Hwie sudah menanti disisi kalangan, sewaktu melihat Siauw Ling berlari mendekat buru-buru serunya ;

“Cepat lari kemari, makanlah sedikit dan segera beristirahat!”

Siauw Ling lari ke arah depan, Toan Bok Ceng segera menyingkir kesamping memberi jalan buat sianak muda itu untuk menerjang masuh kedalam.

Buru-buru Be Boen Hwie membawa Siauw Ling berputar ke dalam sebuah tikungan sambil berkata ;

“Cepatlah beristirahat dan makan….”

Mendadak ia menemukan darah membasahi tubuh sianak muda itu, segera serunya tercengang;

“Kau terluka?”

Ia tahu ilmu silat yang dimiliki Siauw Ling sangat lihay, dalam pertarungan sengit yang terjadi di dalam perkampungan Pek Hoa San Cung pun ia tidak terluka, tentu saja menghadapi para pengejar yang tidak lihay, tak mungkin ia bisa terluka.

Mula2 ia anggap darah diatas tubuhnya merupakan darah musuh yang mengotori bajunya namun setelah dilihat lebih jauh ia merasa keadaan tidak beres, ia temukan diatas punggung sianak muda itu terdapat sebuah mulut luka dan darah mengucur keluar tiada hentinya dari sana.

Siauw Ling merasakan sepasang kakinya jadi lemas, buru-buru ia gunakan pedang untuk menahan tubuhnya, dan per-lahan-lahan duduk ke atas tanah.

Ternyata setelah Be Boen Hwie mengungkap soal luka, Siauw Ling baru sadar bahwa darahnya sudah banyak yang mengalir keluar, maka setelah ketegangan mengendor pertahanan badanpun jadi lemah.

Pada waktu itu para jago sama2 beristirahat sambil bersantap mereka berharap kesehatan serta kekuatan mereka cepat pulih kembali seperti sedia kala sehingga daya tempur didapatkan kembali.

Berita terlukanya Siauw Ling dengan cepat tersiar keluar, mula2 Kiem Lan yang datang menghampiri sambil bertanya dengan nada cemas ;

“Beratkah lukamu?”

“Aah tidak mengapa!”

“Siangkong, kau harus menanggung keselamatan kami semua, maka kau harus baik2 menjaga kesehatan badan, dimanakah letak mulut lukamu? cepat bawa kemari, biarlah kubalut dan beri obat!”

“Kalau begitu aku harus merepotkan dirimu” seru Siauw Ling sambil per-lahan-lahan putar badan.

Menyaksikan mulut luka yang terbentang diatas punggungnya sangat dalam, Kiem Lan semakin kuatir, diam2 ia berdoa ;

“Semoga saja jangan sampai melukai jantung atau tulangnya….”

Dengan sapu tangan ia segera membalut mulut luka itu dengan teliti dan seksama.

Dalam pada itu para jago yang sedang beristirahat sama2 menghampiri sianak muda itu tatkala mereka mendengar berita tersebut.

Menyaksikan kekuatiran semua orang, Siauw Ling malahan merasa kurang tenteram, ia segera berseru ;

“Pada saat ini waktu berharga bagaikan emas, setiap saat kemungkinan besar kita akan bergebrak melawan para jago dari perkampungan Pek Hoa San Cung, luka yang cayhe derita lirih sekali dan tak perlu cuwi kuatirkan….”

Tiba-tiba ia tidak menemukan Sun Put Shia ada diantara para jago, wajahnya nampak tertegun.

Menyaksikan perubahan air muka Siauw Ling, Kiem Lan tercengang.

“Siangkong, bagian mana yang kurang beres?” segera tegurnya.

“Apakah cuwi sekalian tidak berjumpa dengan Sun Put Shia Loocianpwee?….” tanya sianak muda itu seraya putar sinar matanya ke atas wajah Be Boen Hwie.

Para jago tertegun dan saling berpandangan dengan mulut melongo.

Ternyata di dalam keadaan lapar, dahaga dan lelah para jago tiada berkesempatan untuk memikirkan orang lain, maka mereka tidak tahu sejak kapan Sun Put Shia melenyapkan diri.

“Ilmu silat yang dimiliki pengemis tua ini lihay sekali” ujar Suma Kan cepat, “Aku rasa tak mungkin ia jumpai mara bahaya. cuwi sekalian tak perlu terlalu menguatirkan keselamatannya!”

“Aaaai…. namun luka dalam yang ia derita sangat parah!”

Terdengar jeritan ngeri berkumandang datang seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan dengan tangan kanan mencekal pedang, seluruh badan berlepotan darah buru-buru lari mendekat,

Sang Pat segera loncat bangun, tangan kanannya berkelebat cepat menotok dua buah jalan darah dibahu kiri orang itu.

Siauw Ling berpaing, ia segera kenali orang itu sebagai murid pendekar pincang Ciang Toa Hay. ketika itu sebuah lengan kirinya sudah dibabat orang sampai putus dua bagian, meskipun Sang Pat telah menotok dua buah jalan darahnya untuk menghentikan darah yang mengalir keluar namun darah segar masih mengucur keluar tiada hentinya.

Dengan pedangnya orang itu menahan sang tubuh yang hendak roboh ke atas tanah, lalu ujarnya.

“Suhu memerintahkan cayhe untuk beri kabar kepada cuwi sekalian, harap kalian segera berangkat sebab bala bantuan dari pihak perkampungan Pek Hoa San Cung makin lama datang semakin banyak, walaupun suhu serta Toan Bok Loocianpwee telah mempertahankan kedudukan dengan segenap tenaga, namun disebabkan lebih lama, harap cuwi sekalian cepat-cepat berangkat….”

Sehabis mengucapkan kata2 itu, ia tak kuat menahan diri dan segera roboh ke atas tanah.

Para jago adalah tokoh2 Bulim nomor wahid, selesai bersantap dan beristirahat sejenak, semangat serta tenaga merekapun telah pulih kembali seperti sedia kala.

Be Boen Hwie tampil kedepan membopong lelaki itu kemudian berseru ;

“Siapakah diantara cuwi sekalian membawa obat luar luka yang mujarab?”

“Aku sipencuri tua punya obat tersebut” jawab Sipencuri Sakti Siang Hwie sambil maju kedepan dengan langkah lebar, dari sakunya ia ambil keluar obat luka luar, merobek secarik kain lalu membalutkan luka orang itu.

Jago-jago yang hadir ketika itu, sebagian besar merupakan pentolan2 Bulim satu daerah, pada hari2 biasa mereka berwatak tinggi hati dan sombong, jangan harap mereka suka mengobati luka orang dengan turun tangan sendiri.

Namun situasi pada saat ini jauh berbeda, hal mana membuat manusia nagkuh itu punya perasaan menanggulangi bencana bersama, mereka sudah melupakan soal nama, kedudukan serta tabiatnya yang angkuh.

Tampak Hong Coe menghampiri seraya berkata ;

“Be-ya, serahkan saja orang menderita luka parah ini kepada budak!”

Menyaksikan kekompakan serta rasa gotong royong dari para jago Be Boen Hwie segera mendongak dan tertawa terbahak2.

“Haaaa…. haaa…. seandainya para jago dikolong langit bisa bersatu padu dan bekerja sama semacam kita ini hari, sekalipun silat Shen Bok Hong sepuluh kali lipat lebih hebatpun tak usah kita takuti lagi!”

Suma Kan yang selama ini membungkam disisi kalangan tiba-tiba ambil keluar senjata gelang emasnya dan berseru ;

“Siapakah diantara cuwi sekalian suka mengikuti siauw-te untuk pergi menghadang datangnya bala bantuan dari pihak musuh?”

“Aku sipencuri tua akan mengiringi kehendakmu!” sahut Siang Hwie.

Mereka berdua segera enjotkan badan dan berlalu untuk membantu para jago bertempur melawan musuh.

Sepeninggalnya kedua orang itu Be Boen Hwie angkat kepala memandang sekejap situasi disekeliling tempat itu, lalu ujarnya.

“Kurang lebih lima li didepan sana, cayhe telah mengatur persiapan jebakan kedua, asal kita bisa melanjutkan perjalanan sejauh lima li lagi maka kita bakal bertemu dengan para jago yang telah dipersiapkan di pos kedua itu….”

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 24"

Post a Comment