Bayangan Berdarah Jilid 23

Mode Malam
JILID 23

Suma Kan pun segera menjura, katanya, “Siauw-heng, siauwte percaya remalanku ampuh tapi kali ini aku tidak berhasil menghitung kalau kau adalah Siauw-heng yang memiliki ilmu silat amat lihay, untuk kesalahan ini aku harus dihukum untuk turut ambil bagian dalam usaha ini”

“Maksud baik cuwi sekalian siauwte merasa amat berterima kasih” Dengan perasaan terharu Siauw Ling menjura dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan para jago untuk membantu dirinya.

“Walaupun luka yang kami derita belum sembuh namun kamipun rela membantu usaha Siauw-heng!” ujar Thay-san Jie Hauw pula.

Sementara Siauw Ling hendak mengucapkan terima kasih mendadak Hong Coe telah bangkit berdiri sambil berkata, “Sam-ya thayjien harap kau jangan salahkan diri hamba. budak punya mata ternyata tak berbiji dan tidak kenali kehadiran Sam-ya”

“Tidak berani…. tidak berani, nona Hong! sejak hari ini kedudukan kita adalah sama, kita harus saling berhubungan bagaikan saudara sendiri”

“Budak tidak berani mempunyai pikiran tersebut….”

Mendadak terdengar Sun Put Shia menghembuskan napas panjang2 dan berkata, “Be Cong Piauw Pacu masukkan pula aku sipengemis tua dalam daftarmu itu !”

Siauw Ling pernah menyaksikan kehebatan ilmu silatnya. ia merasa amat gembir karena bisa peroleh bantuan pengemis ini buru-buru ia menjura.

“Terima kasih atas kesediaan loocianpwee!”

Sun Put Shia tertawa hambar, ia tidak menjawab.

Agaknya Be Boen Hwie sama sekali tidak menduga kalau para enghiong yang ada dalam ruangan ternyata suka memberi bantuannya. bukan saja kekuatan mereka makin bertambah bahkan mencerminkan pula persatuan di tubuh para jago segera ia berkata, “Atas bantuan yang akan cuwi berikan atas nama Siauw-heng cayhe ucapkan banyak terima kasih….”

Ia menjura kepada semua orang setelah itu sambungnya, “Sebelum memasuki perkampungan Pek Hoa San Cung untuk menolong orang kau telah menyusun rencana dan ambil keputusan untuk turun tangan pada kentongan kedua malam ini….”

Dari dalam sakunya ia ambil keluar secarik saputangan warna putih kemudian katanya kembali, “Apabila cuwi sekalian mempunyai saputangan warna putih ambillah keluar dan kenakan dilengan kiri sebagai tanda.”

setelah itu sambil melirik sekejap ke arah Siang Hwie katanya

“Apakah Siang-heng masih ada pesan lain?”

Siang Hwie tersenyum.

“Bukankah cuwi sekalian sudah merasa amat lapar? aku sipencuri tua segera akan menghadiahkan sedikit bahan makanan buat kalian.”

Kalau tidak diungkap mungkin tidak mengapa, setelah dikatakan maka semua jago merasakan perutnya keroncongan, bahkan Sun Put shia serta Siauw Ling pun merasakan perutnya sangat lapar sehingga sukar ditahan lagi.

Dari sakunya Siang Hwie ambil keluar sebuah buntelan warna putih dan ambil keluar sebungkus kain putih yang segera dibagikan kepada para jago, tiap orang mendapat sebungkus disamping secarik kain putih sebagai tanda.

Menanti Be Boen Hwie membuka bungkusan kain putih itu dan mencium bau harum ikan daging sambil tertawa ia lantas berseru, “Aaaah kiranya bubuk daging sapi!”

“Bubuk daging sapi ini aku sipencuri tua dapatkan dari luar perkampungan Pek Hoa San Cung maka jumlahnya terbatas sekali, aku cuma bisa menolong cuwi sekalian untuk menahan lapar untuk sewaktu2″

Sembari berkata ia ambil keluar satu bungkus dan didahar lebih dahulu.

Demikianlah setelah menghabiskan satu bungkus bubuk daging sapi, maka semangat para jago pun pulih kembali.

Menanti para jago itu sudah dibagi kelompok penolong dan kelompok bertahan Be Boen Hwie pun pejamkan mata bersemedi lebih dahulu.

Udara semakin gelap dan malampun menjelang tiba angin berhembus kencang diluar benteng menimbulkan suara berisik.

Sun Put Shia menengok keluar tampaklah awan tebal menutupi seluruh jagad malam itu amat gelap sekali, tidak nampak bintang dilangit dan tak tampak musuh disekeliling tempat itu. suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, keadaanpun gelap gulita karena tak ada lampu.

Malam itu benar2 suatu malam yang gelap gulita.

Si Pencuri Sakti diam2 menghitung waktu, menanti kentongan pertama telah lewat mendadak ia bangun berdiri sambil berseru, “Kita harus segera berangkat!”

Setelah bersantap apalagi mengatur pernapasan beberapa saat lamanya semangat para jago telah menjadi segar kembali.

Walaupun luka yang diderita Thay-san Jie Haauw tidak ringan namun setelah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya kekuatannya telah pulih kembali, mereka segera membalut lukanya siap turun tangan menghadapi musuh.

Menyaksikan semua jago telah bangun berdiri, sambil tersenyum Sun Put Shia lantas berkata, “Mari, biarlah aku sipengemis tua yang membuka jalan”

Siang Hwie percepat langkahnya mendekati kesisi tubuh sipengemis tua itu lalu katanya, “Bagaimana kalau aku sipencuri tua jadi pembantu Sun Put Shia?”

Seraya berkata sepasang tangannya diayun ketengah udara, dua gulung bayangan hitam sebesar kepalan segera meluncur ketengah angkasa.

Blumm….! Bluumm….! diiringi ledakan keras ketika dua gulung bayangan hitam sebesar kepalan itu meluncur dua tiga tombak dari mereka dan menumbuk diatas pohon segera meledak dan memancarlah kobaran api warna biru yang segera menyambar semua benda disekelilingnya.

Begitu dahsyat jilatan api itu, dengan cepatnya kebun bunga itu sudah berkobar dalam lautan api.

Meminjam cahaya api itulah para jago bergerak kedepan, mereka tidak temukan sesosok bayangan manusiapun se-olah2 boesu berbaju hitam tersebut telah lenyap ditelan oleh kegelapan.

Setelah menyapu sekeliling tempat itu diam2 Siauw Ling berpikir, “Mungkinkah orang it benar2 sudah membuyarkan diri….”

Belum habis ia berpikir tiba-tiba terdengar desiran tajam menyambar datang, dua batang anak panah telah meluncur ke arah mereka.

Sebatang anak panah meluncur ke arah Sun Put Shia yang sedang membuka jalan sedang anak panah lainnya mengancam ke arah Be Boen Hwie.

sun Put Shia segera ayun tangan kanannya untuk menyambut anak panah itu, ia rasakan tenaga luncur panah tersebut luar biasa sekali sehingga hampir2 saja lepas tangan, hatinya jadi tergerak segera teriaknya keras, “Kekuatan anak panah itu sangat kuat harap cuwi sekalian ber-hati2!”

Sementara itu anak panah yang datang belakangan telah tiba dihadapan Be Boen Hwie, orang she Be ini segera ayun kipasnya membabat rontok anak panah tersebut.

Kobaran api yang membakar kebun bunga itu berkobar makin besar dan makin luas namun tidak tampak sesosok bayangan manusiapun yang muncul.

“Mari ikuti diri cayhe?” seru Siang Hwie setelah menentukan arah, ia berputar menuju ke arah sebelah kiri.

Sejak meluncur datangnya dua batang anak panah tadi lama sekali tidak terlihat gerakan lainnya bahkan sepanjang empat lima tombak telah mereka lalui namun tak ada seorangpun yang menghadang atau mencegat jalan pergi mereka.

Menanti mereka berpaling kembali, tampaklah kobaran api yang membakar kebun bunga tadi telah padam. jelas hal ini menunjukkan bahwa sekeliling kebun bunga yang terbakar tadi bukannya tak ada manusia melainkan mereka tak ada yang turun tangan mencegah.

Awan menutupi jagad semakin tebal hujanpun sebentar lagi akan membasahi permukaan bumi. begitu gelap suasana ketika itu sehingga lima jari sendiri pun sukar terlihat meskipun para jago memiliki ketajaman mata yang melebihi manusia biasa, namun berada ditengah pepohonan yang lebat mereka hanya dapat menangkap pemandangan sekitar lima depa dihadapannya belaka.

Dengan suara lirih Siang Hwie segera berkata, “Suruh mereka gunakan tangan kiri untuk memegang baju orang yang berada didepannya, gunakan tangan kanan untuk bersiap sedia menghadapi setiap serangan musuh yang setiap saat mungkin akan membokong kita!….”

“Baik! aku sipengemis tua akan berjalan lebih dahulu untuk buka jalan. apabila ada mara bahaya aku sipengemis tua segera akan beritahu kepada kalian semua”

Sehabis berkata ia lantas berjalan lebih dahulu.

“Merepotkan diri Sun-heng!” sahut Siang Hwie, ia lantas perintahkan orang yang ada di belakangnya untuk mencekal ujung baju sendiri. Para jago mengikuti permintaannya dan segera maju kedepan secara lambat2.

Ditengah perjalanan tiba-tiba tercium bau amis menggulung datang, begitu amis bau itu sehingga membuat perut terasa jadi mual.

Sebelum Siang Hwie mengetahui apa yang terjadi, dengan suara berat Sun Put Shia telah berseru, “Ada sekawanan ular berbisa sedang bergerak datang suruh mereka siapkan senjata hadapi ular itu dengan berhati2!”

Sembari bicara ia telah melepaskan dua babatan membinasakan puluhan ekor ular yang mendekati tubuhnya.

Belum sempat Siang Hwie menyampaikan keadaan tersebut kepada para jago agar mereka suka membentuk lingkaran untuk bersama2 menghadapi serangan ular berbisa itu, secara otomatis para jago telah membentuk gerakan melingkar.

Haruslah diketahui para jago yang ikut dalam rombongan tersebut sebagian besar merupakan jago-jago kangouw yang sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, pengalaman serta pengetahuan mereka amat luas sekali. ketika mencium bau ular berbisa mereka segera tahu bahwa dengan jalan barisan melingkar saja mereka baru dapat bertahan terhadap serangan rombongan ular itu.

Dari dalam sakunya Siang Hwie ambil keluar sebuah batu api dan menyulutnya.

Meminjam sinar api tersebut maka tampaklah kurang lebih empat depat dihadapan mereka membujur dua ekor ular yang amat besar, dibelakang ular2 itu mengikuti kawanan ular yang tak terhitung jumlahnya.

Sementara itu Sun Put Shia telah mengundurkan diri dan bergabung dengan para jago untuk ber-sama2 menghadapi ancaman bahaya.

“Susah buat kita untuk melawan ular beracun begitu banyaknya, lebih baik dibakar saja dengan api!” kata Be Boen Hwie.

Belum habis ia berkata api ditangan Siang Hwie telah padam.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki beberapa orang ini, apabila berada ditengah siang bolong meskipun ada ber-puluh2 bahkan be-ribu2 ekor ular pun mereka tidak akan pandang sebelah mata, tapi keadaan pada saat ini jauh berbeda suasana begitu gelap gulita sehingga untuk melihat lima jari sendiripun susah meskipun para jago memiliki gerak gerik yang lincah tak urung merasa bergidik juga.

Dengan cepat Siang Hwie mengeluarkan batu korek apinya kembali untuk membuat obor pada saat itulah gerombolan ular itu sudah berapa tujuh delapan mereka.

Bau amis yang sangat memuakkan berhembus datang tiada hentinya membuat perut jadi mual.

Dari tempat kejauhan terdengarlah suara seseorang yang amat nyaring berkumandang datang.

“Kalian sudah terkurung ditengah kepungan kawanan ular berbisa, asal aku turunkan perintah maka kawanan ular itu akan segera menerjang kedepan dari empat arah delapan penjuru malam ini gelap gulita susah memandang pemandangan dihadapannya meskipun kalian memiliki serangkaian ilmu silat yang amat lihay belum tentu bisa menghadapi serbuan kawanan ularku yang akan muncul dari delapan penjuru ini….!!

——————–

37

Ia merandek sejenak, setelah itu sambungnya.

“Thian mengharapkan umatnya berbuat kebajikan, loohu tidak ingin melakukan perbuatan yang merugikan orang lain apabila membinasakan dirimu. Mulai sekarang hingga waktu setengah hio nanti akan kuberi kesempatan bagi kalian untuk berpikir, apakah kalian hendak melakukan duel melawan kawanan ular itu ataukah hendak menyerah. Loohu akan gunakan tambur sebagai tanda apabila tambur kesepuluh telah dibunyikan cuwi sekalian belum juga menyerah maka loohu segera akan menggerakkan barisan ular ini.”

Selesai bicara tamburpun dibunyian satu kali.

Sun Put Shia mengawasi keadaan disekeliling tempat itu dengan sinar mata tajam. ia temukan ular yang ada disekitar mereka sedang menjulurkan lidah mereka tiada hentinya, para jago telah terkepung ketat dan ular2 itu pun sudah siap melakukan terjangan.

Pengalamannya amat luas, sekilas pandang ia dapat tahu kalau ular2 berbisa itu sudah dilatih dan dipelihara oleh seorang ahli ular. alisnya langsung berkerut, pikirnya, “Entah berapa banyak ular beracun yang berkumpul di dalam hutan ini! kalau ingin lolos dari barisan ular ini rasanya bukan suatu pekerjaan gampang….”

Untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengambil keputusan bagaimana harus bertindak menghadapi kejadian itu.

“Siang-heng apakah kau dapat melepaskan api?” bisik Be Boen Hwie lirih.

Karena setelah dipikir bolak balik ia merasa kecuali menggunakan api rasanya tak ada cara lain, yang lebih tepat lagi untuk menghadapi kawanan ular tersebut.

Obor yang dibuat Siang Hwie kembali padam ditangah kegelapan ia berbisik lirih, “Kita bisa pikirkan cara untuk melepaskan api, apakah pihak perkampungan Pek Hoa San Cung tidak bisa memikirkan akan hal tersebut? mungkin mereka sudah bikin persiapan”

“Ditinjau dari situasi yang kita hadapi saat ini rasanya cuma menggunakan api saja baru dapat mengundurkan ular tersebut, apabila Shen Bok Hong sudah bikin persiapan maka kitapun hanya bisa bertindak sambil berpikir coba kita lihat dahulu permainan setan apa lagi yang hendak mereka lakukan kemudian kita baru cari akal untuk menghadapinya.”

Mendadak terdengar Suma Kan berkata,

“Harap cuwi sekalian berlega hati. menurut ramalan yang barusan siauwte lakukan diantara kita tak seorangpun yang akan mati binasa terpagut ular berbisa itu.”

Ditengah situasi yang kritis dan berbahaya ternyata ia masih ada waktu senggang untuk meramal, meskipun perbuatannya membuat orang jadi mesem namun tak urung mendatangkan pula hiburan bagi mereka.

Kata Sun Put Shia, “Sekeliling tempat ini jarang ada pepohonan, rumputpun jarang sekali, meskipun melepaskan apipun belum tentu bisa mendesak mundur kawanan ular tersebut”.

“Tapi kitapun tak bisa duduk sambil menanti mati bukan?” sela Be Boen Hwie.

“Ia telah memberi batas waktu bagi kita untuk berpikir, inilah kesempatan baik buat kita untuk mencari akal guna menghadapi kawanan ular ini!”

“Aaai….! seandainya Tiong Chiu Siang Ku berada disini rasanya kitapun tidak bakal terkurung dalam barisan ular!” keluh Siang Hwie sambil menghela napas panjang.

Kawan2 Bu-lim dikolong langit semuanya tahu kalau Sang Pat adalah seorang manusia yang paling banyak mengumpulkan barang2 berharga, barang antik serta barang2 aneh. Boleh dibilang sejak jaman dahulu kala sampai sekarang cuma dia seorang yang punya koleksi barang sebanyak itu maka tidak aneh kalau siapapun percaya hanya dialah yang punya benda untuk menaklukkan kawanan ular.

Tong…. kentongan kedua sudah dibunyikan.

“Mengulur waktu terus bukan suatu tindakan yang tepat” pikir Siauw Ling. “Aku harus menemukan suatu cara yang tepat untuk menghadapi keadaan ini….”

Sembari berpikir dengan langkah lebar ia lantas berjalan memasuki barisan ular itu.

Ternyata secara tiba-tiba ia punya satu pikiran aneh, ia menduga ular besar yang membawa jalan bagi rombongan ular tersebut kemungkinan besar merupakan pemimpin dari kawanan ular itu, maka ia merasa apabila dua ekor ular besar tadi dibinasakan niscaya berisan ular itu akan hancur berantakan.

Walaupun apa yang dipikirkannya mungkin benar dan ia memiliki sepasang mata yang amat tajam, bukanlah suatu pekerjaan enteng baginya untuk menemukan dua ekor ular raksasa yang membawa jalan diantara laksaan ekor ular itu.

Bau amis yang memualkan tersiar keluar menyelimuti seluruh angkasa. tampaklah kalau ular dari pelbagai jenis ular beracun menongol keangkasa dan bergerak kesana kemari jangan dikata terpagut. cukup memandang rombongan ular itupun sudah membuat hati berdebar keras dan bulu kuduk pada bangun berdiri.

Agaknya kawanan ular itu dikekang dan dikendalikan oleh sesuatu yang tersembunyi, walaupun kepalanya diangkat ke atas sambil menjulurkan lidah dan siap melakukan tubrukan namun ular2 itu tetap tak berkutik dari tempatnya semula.

Siauw Ling memang diakui memiliki ilmu silat yang sangat lihay namun berhadapan dengan ular beracun yang begitu banyak tak urung ia gelagapan sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang datang dari belakang tubuhnya. ketika ia berpaling tampaklah Suma Kan telah datang menghampiri dirinya sambil berbisik, “Sewaktu siauwte ada dilautan Timur tempo dulu aku pernah belajar ilmu menangkap binatang beracun. sebenarnya menangkap ular merupakan kepandaian dasarku tetapi setelah menghadapi kawanan ular yang begitu banyak dewasa ini siauw-te merasa tidak tega untuk turun tangan Tetapi tidak seharusnya kalau kita biarkan mereka mengurung kita semua dalam barisan ular. kita harus mencari akal untuk mengahancurkan barisan ular tersebut”.

“Ucapan Suma heng sedikitpun tidak salah” Siauw Ling mengangguk. “Tetapi siauw-tepun merasa bingung bagaimana kita harus turun tangan menghadapi kawanan ular itu? seandainya siauw re harus menghadapi sepasukan musuh tanpa pikir panjang akan kuserbu orang itu tapi menghadapi barisan ular ini….”

“Memang agak sulit buat kita untuk menghadapi kawanan ular ini, Siauwte punya akal bagus.”

“Suma-heng, kalau kau punya akal cepat katakan, mari kita rundingkan dengan akalmu itu” dengan cepat sianak muda itu menyambung.

“Gerak-gerik kawanan ular ini laksana sebuah barisan, aku duga tentu ada orang yang mengendalikan ular2 itu secara diam2. aku pikir asalkan kita berhasil menemukan orang yang mengendalikan kawanan ular itu dan menangkap dirinya, niscaya kawanan ular itu bisa kita paksakan untuk ditarik kembali. bukankah begitu?”

“Hm ucapanmu bukankah sama artinya perkataan tak berguna” pikir Siauw Ling di dalam hati, “Tak usah kau ucapkan pun aku sudah tahu akan cara ini!”

Namun tanyanya juga.

“Tolong tanya apakah cara yang berhasil Suma-heng dapatkan itu!”

“Kita berusaha untuk membuat obor kemudian seorang membawa sebuah obor dan membentuk sebuah barisan memanjang, dengan tangan kiri mencekal obor tangan kanan membawa senjata kita terjang keluar barisan ular itu.”

“Em…. cara ini memang termasuk sebuah cara untuk kmencari selamat” kembali sianak muda itu berpikir. “Tapi kita harus mencari obor2 ditu dimana? …. aaai…. agaknya semua cara yang ia usulkan tak berguna semua!”

Tong…. kembali suara tambur bertalu memecahkan kesunyian.

Jantung Siauw Ling tergetar keras. segera pikirnya,

“Para jago bisa terkurung disini karena urusanku, aku tak boleh duduk berpeluk tangan belaka sambil menunggu kematian, Bagaimanapun juga aku harus menempuh bahaya….”

Karena berpikir demikian ia lantas berkata dengan suara lirih, “Dewasa ini situasi dan keadaan sangat mendesak, terpaksa aku harus coba menerjang kedepan dengan menempuh bahaya”

Ia patahkan sebuah ranting kayu kemudian setelah dicekal erat2 teriaknya.

“Daripada kita menunggu sampai barisan ular itu menunjukkan kelihayannya lebih baik kita serbu lebih dahulu. Cayhe akan bukakan jalan bagi kalian semua”.

Ia putar ranting ditangannya kemudian disapu kedepan.

Angin pukulan men-deru2, kawanan ular terbang melayang, dalam sekali serangan ia suah membinasakan be-ratus2 ekor ular.

Melihat kehebatan sianak muda itu Suma Kan segera simpan senjata roda emasnya dan tertawa ter-bahak2.

“Haa…. haa…. haa…. menggunakan ranting sebagai ganti senjata, suatu cara yang bagus sekali untuk menghadapi kawanan ular” serunya.

Iapun mematahkan sebuah ranting kemudian dicekalnya erat2.

Cara ini dengan cepat ditiru oleh para jago lainnya, maka dalam sekejap mata semua orang sudah mencekal sebatang ranting sebagai senjata.

Kebun bunga itu tidak luas arenanya namun daun tumbuh subur dan rindang, ketika ranting itu disapu keluar dengan disertai tenaga dalam maka terhembuslah segulung angin serangan yang maha dahsyat, ular2 itu tak kuat menahan diri, banyak diantaranya yang mati terbabat jadi dua bagian.

Begitulah di dalam sekejap mata ribuan ekor ular beracun itu telah mati binasa tersapu angin pukulan yang dilancarkan oleh para jago namun jumlah ular yang berhasil dibinasakan sama sekali tidak berkurang bahkan jumlahnya makin lama semakin banyak.

Dalam pada itu kentongan kesepuluh sudah dibunyikan, kawanan ularpun segera menerjang dari delapan arah empat penjuru dan menyerang para jago dengan dahsyatnya.

Walaupun begitu kekuatan yang terpancar keluar lewat ranting2 kayu dari para jagopun tidak kalah hebatnya. satu tombak disekeliling tubuh mereka terbungkus oleh selapis hawa murni, tak mungkin bagi kawanan ular itu untuk mendesak tiba.

Tiba-tiba terdengar suara suitan aneh yang tinggi melengking berkumandang datang, suaranya tinggi dan sangat menusuk telinga membuat hati setiap orang tergetar keras.

“Hati2….” Suma Kan segera berteriak lantang “Suitan itu menandakan kalau pawang ular itu sedang memberi petunjuk kepada kawanan untuk menyerang, harap cuwi sekalian pertinggi kewaspadaan!”

Baru saja ucapan itu selesai diutarakan mendadak dua titik cahaya hijau menerjang datang ke arah para jago, makin lama jaraknya terpaut semakin dekat, cahaya hijau itupun semakin kuat dalam sekejap mata kedua titik hijau tadi sudah berada kurang lebih dua tombak dihadapan para jago.

Siauw Ling adalah jago paling lihay diantara jago lainnya, dengan sepasang matanya yang tajam ia dapat lihat benda itu merupakan sepasang mata dari seekor ular raksasa ia tertegun dan segera bertanya kepada Suma Kan.

“Suma-heng makluk yang sedang bergerak datang bukan lain adalah seekor ular raksasa bagaimana kita harus menghadapi dirinya?!”

Suma Kan mengamati pula mahluk itu beberapa saat hatinya merasa sangat kaget

“Sungguh besar ular raksasa ini….!” batinnya.

Ia lantas berseru.

“Siauw-heng lebih baik kita sambit dan lukai dulu sepasang matanya dengan senjata rahasia beracun!”

“Terima kasih atas petunjukmu Suma-heng!”

Kendati mereka berdua ber-cakap2 namun selama ini batang ranting ditangan mereka sama sekali tidak berhenti, sebentar kesana sebentar kemari dalam sekejap mata kembali be-ratus2 ekor ular kena disapu sampai patah jadi dua bagian.

Pada saat itulah…. mendadak dari kawanan ular sebelah utara terjadi kegaduhan, kawanan ular itu sama2 menyingkir kekedua belah samping dan membuka sebuah jalan.

Kejadian anehh ini mencengangkan para jago mereka sama2 berpaling maka terlihatlah seorang boesu berbaju hitam sedang berlari mendekat dengan amat cepatnya. dimana ia bergerak kawanan ular sama2 menyingkir kesamping.

Siauw Ling amat terperanjat.

“Ilmau silat apakah yang dimiliki orang itu? sungguh luar biasa” pikirnya dalam hati. “Bukan saja ia dapat bergerak dengan leluasa ditengah kurungan kawanan ular bahkan ular2 itu pun tak berani mendekati tubuhnya”

Ketika itu dalam genggamannya sudah siap dua batang ranting dipersiapkan untuk menghajar sepasang mata ular raksasa itu sebagai senjata tetapi setelah menyaksikan kelihayan orang itu hatinya tergetar, ia batalkan niatnya untuk menghadapi sang ular dan bersiap2 menghadapi si orang berbaju hitam itu lebih dahulu.

“Toako pertolongan siauwte datang agak terlambat harap kau suka memberi maaf atas keteledoranku ini” mendadak terdengar serentetan suara yang sangat dikenal berkumandang datang tatkala ia sudah siap untuk turun tangan.

Ketika suara itu berkumandang masuk ke dalam telinga Siauw Ling sianak muda ini segera kenali suara itu sebagai suara dari Sang Pat si Sie Poa emas. hatinya bersyukur dan lega.

“Oooouw….! sungguh berbahaya, hampir2 saja bencana merenggut jiwa kami semua, untung ia keburu datang!” pikirnya.

Dengan ilmu menyampakan suara ia lantas berseru.

“San-heng siauw-heng berada disini!”

Mendengar suara itu boesu berbaju hitam itu putar arah dan berlari menuju ke arah Siauw Ling berada.

Kembali terlihat kawanan ular itu sama2 menyingkir kesamping, secara otomatis mereka memberikan sebuah jalan buat si orang berbaju hitam itu.

Siauw Ling segera bergerak mundur memberikan sebuah tempat pijak buat dirinya ambil kesempatan itu boesu berbaju hitam tadi meloncat masuk dan berhenti disisi Siauw Ling

Suma Kan merasa amat cemas tatkala menyaksikan seorang boesu berbaju hitam berhasil menerjang datang. tangan kirinya langsung bergerak dan sebuah serangan sudah dilepaskan membabat punggung orang itu.

Untung Siauw Ling cukup waspada dan berpandangan tajam. ia putar telapak menyambut datangnya serangan dari Suma Kan lalu serunya

“Jangan menyerang orang sendiri!”

Orang yang barusan datang tidak lain adalah Sie Poa emas Sang Pat terlihatlah ditangannya mencekal sebuah benda yang besarnya bagaikan telur ayam, serentetan bau belirang yang amat menusuk penciuman tersiar keluar tiada hentinya.

Dalam pada itu kawanan ular diempat penjuru sama2 menyingkir kembali kesamping. mereka julurkan lidah siap menubruk kemuka namun tak seekorpun diantara ular2 itu berani bergerak mendekat.

Bahkan ular raksasa yang memancarkan cahaya hijau dari sepasang matanyapun sama sekali tidak berkutik.

“Benda apakah yang kau bawa di dalam genggaman itu?” Siauw Ling menegur lirih. “kenapa begitu lihay? sampai kawanan ularpun tak berani mendekati dirimu?”

Sang Pat tertawa dan menjawab, “Benda ini bukan lain adalah inti dari belirang dan merupakan obar beracun paling utama untuk melawan kawanan ular. Asalkan ada benda ini ditangan maka pelbagai macam ular tak berani mendekat, kita bisa hentikan bergeraknya kawanan ular itu tanpa membuang banyak tenaga!”

“Oouw kiranya begitu Cuwi sekalian harap segera berhenti bergerak!” teriak Siauw Ling kepada sahabat2nya.

Sejak dimulainya pertarungan melawan kawanan ular, sudah ada beberapa jago yang diantaranya merasa napasnya ter-sengkal2 sebab kepandaian silat mereka rada cetek, kini mendengar seruan Siauw Ling merekapun sama2 berhenti.

Tampaklah Boe-su berbaju hitam yang berdiri disisi Siauw Ling mendadak ayunkan telapaknya, kawanan ular yang ada diempat penjuru segera sama2 mengundurkan diri ke belakang.

Setelah ada pengalaman atas kehadiran Siang Hwie yang menyaru sebagai boesu berbaju hitam kehadiran Sang Pat kali ini tidak begitu mengagetkan para jago lagi.

“Harap cuwi sekalian suka mengikuti dibelakang tubuhku” kata Boesu berbaju hitam itu secara tiba-tiba kemudian ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Dimana ia tiba kawanan ular sama2 menyingkir kesamping, terbukalah sebuah jalan lewat bagi para jago untuk meninggalkan tempat itu.

Suitan panjang kembali berkumandang, kali ini segulung demi segulung saling menyambung tiada berkeputusan, mengikuti suitan tadi kawanan ular disekeliling tempat itu sama2 bergerak namun tak seekorpun berani menubruk ke arah para jago.

Dengan demikian dalam sekejap mata Sang Pat sudah membawa kawanan jago itu lolos dari kurungan barisan ular.

Ketika mereka mendongak maka tampaklah sebuah loteng yang sangat tinggi telah menjulang dihadapan mereka, ternyata mereka sudah tiba dipusat perkampungan seratus bunga yaitu loteng Penengok Bunga.

Ketika itu suasana diatas loteng Wang Hoa Loo gelap gulita, tak nampak sedikit cahayapun suasana sunyi senyap dan sangat hening.

Menuding ke arah sekelompok bayangan hitam San Pat berkata

“Ditempat itulah dua orang tua kita terkurung dan ditahan. Sipengemis cilik, Tu Kiee, Kiem Lan, Giok Lan semuanya sedang berjaga2 disekeliling kamar hitam dan siap menanti saat yang baik untuk turun tangan. Perbuatan kita ini sudah mengacaukan penjagaan Shen Bok Hong mimpipun ia tak menyangka kalau kita bisa menyusup ke dalam Boesu berbaju hitamnya, nona Giok Lan hapal dengan keadaan dalam perkampungan iapun mendapat simpatik dari setiap orang, banyak sekali enci dan adik di dalam perkampungan Pek Hoa San Cung ini secara diam2 memberi bantuan kepadanya. atas bantuannya itulah maka pekerjaan kita dapat berjalan dengan lancar.

Siauw Ling sangat terharu sekali, tanyanya dengan nada berat.

“Apakah ayah dan ibuku benar2 berada di dalam kamar hitam itu?”

“Menurut kabar berita yang berhasil didapatkan nona Giok Lan, kedua orang tua itu benar2 ada disana”.

“Ada orang yang menjaga ruang tahanan tersebut?”

“Tentang soal ini aku kurang tahu, aku cuma lihat pintu berwarna hitam yang ada didepan ruangan tadi selalu tertutup rapat2, kami tidak berani mendekati tempat itu secara gegabah dan tidak leluasa pula untuk menjenguk ke dalam sambil membobolkan pintu maka adakah pengawal yang menjaga ruang hitam tadi kami kurang begitu jelas”

Siauw Ling termenung dan berpikir sejenak dengan seksama akhirnya ia berseru, “Baiklah! mari kita masuk kedalam!”

“Menurut perkataan nona Giok Lan katanya rumah hitam itu dibangun sangat kuat sekali dangan pelbagai macam ilmu silatpun tidak sanggup untuk menjebolkan pintu itu” kata Sang Pat.

“Apakah tiada cara lain untuk memasuki ruangan itu?”

“Lebih baik seandainya kita berhasil mendapatkan kunci pintu itu kalau tidak terpaksa kita harus gunakan tenaga atau pedang mustika mematahkan tiang penyangga di dalam pintu besiitu”.

Kembali Siauw Ling berpikir sejenak tiba-tiba serunya,

“Sekeliling tempat ini merupakan sebuah tanah datar yang sangat tidak menguntungkan posisi kita, tak baik buat kita untuk berdiam terlalu lama disini mari kita menuju keluar rumah hitam itu”.

Sang Pat tidak menjawab ia segera membawa saudara angkatnya itu mendekati rumah hitam tersebut.

Tampaklah dua orang Boesu berbaju hitam berdiri menjaga didepan pintu dengan wajah angker.

Siauw Ling segera siapkan ilmu jari Siuw-Loo-Sin-Cienya untuk membinasakan kedua orang itu namun untung sebelum ia sempat turun tangan Sang Pat sudah menegur, “Sahabat Tu! cepat kemari!”

Beosu berbaju hitam yang disebelah kiri mengiakan. buru-buru ia lari mendekat sambil bertanya, “Loo-toakah?” apakah kau telah berjumpa dengan Lion Tauw Toako?”

Ternyata orang itu bukan lain adalah Liong Bian Thiat Pit sipena besi berwajah dingin Tu Kioe adanya.

Diam2 Siauw Ling bersyukur, pikirnya, “Aah sungguh beruntung aku tidak turun tangan lebih dahulu, kalau tidak niscaya aku akan menyesal sepanjang masa….”

“Bagaimana dengan beberapa orang Boesu berbaju hitam itu?” tanya Sang Pat dengan suara lirih.

“Agaknya beberapa orang keparat cilik itu sudah menaruh curiga kepada kita maka siauwte serta sipengemis cilik segera turun tangan membinasakan mereka semua”.

“Apakah nona Giok Lan sudah kembali?”

“Belum!”

“Saudara Tu!” Siauw Ling segera menegur dengan suara lirih.

Tu Kioe berpaling, ia awasi sejenak sianak muda itu sambil menjura jawabnya, “Toako, setelah kau menyaru hampir2 saja siauwte tidak kenali dirimu lagi.

Siauw Ling tersenyum.

“Mari kita menengok kesana apakah sudah ditemukan cara lain untuk membuka pintu rumah hitam ini?” ia bertanya.

“Sudah beberapa kali siauwte serta sipengemis cilik berusaha untuk membobolkan pintu ini namun setiap kali usaha kami selalu gagal.”

“Kalau begitu biarlah siauwte periksa sendiri sahut Siauw Ling cepat, ia sangat menguatirkan keselamatan orang tuanya maka dengan langkah lebar sianak muda itu berjalan kerumah hitam.

Terlihatlah bangunan rumah yang disebut rumah hitam itu berwarna hitam semua. tak diketahui terbuat dari benda apakah bangunan tersebut diam2 Siauw Ling kerahkan tenaganya lalu dengan tangan kanan ia dorong pintu hitam itu keras2.

Terasa pintu tadi kuat dan sangat kokoh dorongannya barusan sama sekali tidak menunjukkan hasil apapun.

Siauw Ling kerutkan dahiniya, ia sangat tidak puas dengan kejadian itu. Hawa murninya segera disalurkan sekali lagi, lalu dengan sekuat tenaga menendang pintu besi itu.

Hasilnya pintu hitam tadi tetap tak berkutik barang sedikit jua.

“Aaah…. agaknya kecuali mendapatkan kunci dari pintu hitam ini tak mungkin bagi diriku untuk membuka pintu tersebut dengan cara lain” pikir Siauw Ling.

Sementara itu masih kebingungan, kembali muncul seorang boesu berbaju hitam yang punya perawakan kecil pendek lari menuju ke arahnya.

Siauw Ling segera mengempor tenaga, sebelum telapaknya didorong kemuka suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera batalkan niatnya dan turunkan telapaknya kembali.

Boesu berbaju hitam itu segera menjura ke arah Be Boen Hwie seraya menegur, “Be-ya budak adalah Giok Lan dimanakah Sam-ya sekarang berada?”

Kiranya Giok Lan pun tak dapat membedakan dimanakah majikannya berada setelah Siauw Ling menyaru sebagai pembantu dari Be Boen Hwie.

Memperoleh pertanyaan itu sinar mata Be Boen Hwie segera digeserkan ke atas wajah Siauw Ling.

Giok Lan mendusin, buru-buru ia bongkokkan badan menjura seraya menyapa

“Budak Giok Lan menghunjuk hormat buat Siauw ya….”

Mendadak ia teringat bahwa Siauw Ling sudah melarang mereka menyebut dirinya dengan sebutan tersebut, buru-buru dayang itu tutup mulut kembali.

“Barusan Siang-heng serta saudara Sang beritahu kepadaku, tentang keberhasilan kita sekarang ini tidak lain berkat bantuan nona yang amat besar” kata sianak muda itu.

“Sam-ya kosen dan lihay, budak tidak berani menerima pahala tersebut….” ia merandek sejenak kemudian meneruskan, “Budak berhasil mendapatkan satu gebung kunci2 pintu cuma entah kunci yang mana yang merupakan kunci pintu hitam ini”

Sembari berkata dari sakunya ia ambil keluar ber-puluh2 batang kunci berwarna hitam dan segera diserahkan kepada majikannya.

Siauw Ling terima kunci itu lalu diperiksa dengan seksama sedikitpun tidak salah diatas pintu besi ia temukan adanya sebuah lubang kunco

“Tentang pekerjaan ini lebih baik serahkan saja kepada aku sipencuri tua!” bisik Siang Hwie segera.

Siauw Ling mengiakan, ia lantas angsurkan kunci2 tadi kepadanya.

Siang Hwie terima kunci itu lalu diperiksa sejenak. kemudian iapun memeriksa lubang kunci diatas pintu hitam setelah itu sambil menggelang serunya, “Nona Giok kau salah ambil, tak ada sebuah kuncipun yang cocok dengan lubang kunci diatas pintu hitam ini”,

Giok Lan merogoh ke dalam sakunya dan kembali mengambil keluar dua batang kunci lalu diserahkan ketangannya.

“Disini masih ada dua buah kunci lagi” katanya “Kalau inipun tidak benar maka sia2lah usahaku selama ini”

Siang Hwie memeriksa sekejap dua buah kunci itu kemudian ia ambil salah satu diantaranya dan dimasukkan kealam lubang kunci diatas pintu.

Tangannya berputar kekiri lalu berputar pula kekanan beberapa kali, diiringi suara bercuitan terbukalah pintu besi tadi.

Melihat pintu besi itu akhirnya terbuka juga Siauw Ling kegirangan segera pujinya, “Kepandaian sakti Siang-heng betul2 luar biasa siauw-te merasa sangat kagum”.

Dimulut ia ajak Siang Hwie berbicara sementara badannya sudah bergerak masuk ke dalam ruangan hitam itu.

“Sam-ya hati2!” Giok Lan memperingatkan dengan hati cemas.

Belum habis ia berseru, tubuh Siauw Ling yang sudah menerjang masuk ke dalam ruangan tiba-tiba mengundurkan diri kembali keluar.

“Kenapa?” Sang Pat segera bertanya dengan nada lirih.

“Di dalam ruangan kembali terdapat sebuah pintu besi yang kuat dan kokoh.

Aaaai….! aku takut usaha kita selama ini akan sia2 belaka….

Giok Lan tidak dengan cepat ia terjang masuk ke dalam ruangan ketika tangannya meraba tidak salah lagi disana kembali terdapat sebuah pintu besi yang sangat kuat.

Siang Hwie menyusul masuk dari belakang ia membuat api dan menyinari sekeliling tempat itu.

Sebagai seorang pencuri sakti ia punya pengalaman yang sangat dalam membongkar kunci2 pintu, maka sekali pandang lubang kunci tadi mendadak ia tersenyum serunya, “Aaaai kalian tak usah kuatir cuma pekerjaan enteng semacam ini tak bakal menyusahkan aku pencuri tua”

“Jadi maksud Siang-too cianpwee, kau punya keyakinan untuk membuka pintu besi ini?” tanya Giok Lan cemas.

“Marilah kita coba.”

Dari sakunya sipencuri tua itu mengambil keluar sebuah Kunci serba bisa kemudian dimasukkan ke dalam lubang kunci dan diputarnya beberapa kali, setealh itu telapaknya langsung hamtamkan ke atas kunci besi itu.

Braaak! diiringi suara kera, pintu besi itu segera terbentang lebar.

Kiranya di dalam pemeriksaannya sekilas pandang tadi Siang hwie menemukan apabila kunci pintu itu hanya sebuah kunci biasa dan bukan terbuat secara istimewa, maka dalam hatinya ia sudah punya keyakinan untuk membuka pintu tadi.

“Sudah terbuka pintunya?” tanya Siauw Ling sambil menyerbu kedalam.

“Untung tidak ku-sia2kan harapanmu!”

Sekali tendang Siauw Ling membuka pintu besi itu kemudian menerjang masuk kedalam.

Laksana kilat Giok Lan, membuat sebuah obor sebagai penerangan, seketika itu juta seluruh ruangan yang gelap jadi terang benderang bagaikan disiang hari.

Dimana cahaya obor memancarkan sinarnya. tampaklah diujung ruangan duduk seorang kakek tua yang berambut kusut dan berpakaian kumal.

Disisi kakek tua tadi duduk seorang nyonya setengah baya yang berambut kusut dan berpakaian kumal pula.

Sekilas pandang Siauw Ling kenali kedua orang itu bukan lain adalah orang tuanya ia segera menubruk maju jatuhkan diri berlutut dan berseru, “Putramu yang tak berbakti Siauw Ling datang menghunjuk hormat buat ayah dan ibu berdua!”

Walaupun rambut kakek tua itu kusut dan bajunya kumal namun wajahnya kelihatan tenang dan mantap secara lapat2 menunjukkan wibawa yang sangat besar.

Tampak ia membuka matanya secara perlahan-lahan setealh memperhatikan sejenak wajah Siauw Ling segera ujranya.

“Apakah kau adalah Ling-jie?”

“Benar, aku adalah Siauw Ling putra yang tak berbakti” buru-buru sianak muda itu menyahut “Budi kebaikan orang tua belum sempat kubalas, sekarang aku malah mencelakai kau orang tua, dosa ini sangat besar, silahkan ayah memberi hukuman kepadaku….”

“Aaaai…. sungguh banyak perubahan pada dirimu, sampai ayahpun tidak kenal akan dirimu kembali?”

Kiranya sewaktu masih kecil Siauw Ling berbadan lemah dan banyak sakit. lagipula saat ini ia sedang menyaru, maka walaupun mereka adalah ayah ibu kandungnya, namun kedua orang tua itu tak kenali dirinya lagi.

“Dia bukan Ling-jie!” terdengar nyonya setengah baya itu berseru keras. “Kita jangan sampai terjebak di dalam perangkapannya?”

“Ibu, apakah kau sudah tidak kenali, kembali suara ananda?”

Sepasang mata nyonya itu berkedip, lama sekali ia baru menjawab, “Walaupun suaranya mirip namun kulit tubuh putraku putih bersih. sedangkan wajahmu kuning ke pucat2an”

“Ibu, pada saat ini diatas wajah ananda sedang dipolesi dengan obat untuk menyaru”

Giok Lan segera angkat tinggi obornya dan ikut berlutut ke atas tanah.

Hujien dia benar2 adalah Siauw Ling….” serunya.

Nyonya itu tertawa dingin, seraya jengeknya

“Sebetulnya kau adalah seorang pria atau seorang gadis?”

Kiranya ketika Giok Lan memakai baju hitam wajahnya dipolesi dengan angus dan menyaru sebagai Boesu berbaju hitam namun suaranya sama sekali tidak berubah dan tetap merdu dan lembut bagaikan nyanyian burung nuri.

“Budak adalah Giok Lan” segera dayang itu memperkenalkan diri.

“Apabila kau adalah seorang budak apa sebabnya memakai baju seorang pria?”

“Budak sudah terbiasa berkelana dalam dunia kangouw. dalam keadaan terpaksa kami harus berbuat demikian”

“Ehm….! mungkin ia berbuat demikian karena ingin menolong kita” sambung kakek tua itu sambil mengangguk.

“Orang ini bukan putraku” seru nyonya setengah baya tersebut sambil menuding ke arah Siauw Ling. “Sedangkan perempuan berbaju lelaki ini tiada hubungan sanak maupun keluarga dengan kita mengapa mereka harus menolong kita?”

Terdengar suara bentakan keras serta bentrokan senjata suah mulai berkumandang datang dari luar rumah hitam itu agaknya pertarungan sudah mulai berlangsung.

Dengan air mata bercucuran Siauw Ling kembali memohon, “Ooh ibu! ananda benar2 adalah Siauw Ling. aku adalah Ling-jie yang dibesarkan dalam bopongan ibu….”

“Hm! jangan bicara lebih banyak lagi” hardik nyonya itu. “Sekalipun kalian tidak beri makan beberapa hari lagi dan menyiksa kami lebih berat namun, kesadaranku tidak akan berkurang.”

“Ayah, apakah kau bisa kenali suara ananda” Siauw Ling segera berpaling ke arah kakek tua itu.

“Aaah…. walaupun aku tak bisa mendapatkan bayanganmu seperti dahulu namun suaramu memang mirip seperti Ling-jie, dan dari sikap serta tingkah lakumu aku duga memang kau benar2 adalah Ling-jie!”

“Ayah harap kau suka menerangkan tentang ananda dihadapan ibu….”

“Aaaa….” kembali Siauw thay jien menghela napas panjang. “Selama beberapa waktu ibumu harus mengalami pelbagai pengalaman yang menyeramkan, mengerikan serta menyiksa batinnya ia sudah peroleh pukulan batin yang sangat besar. sehingga untuk beberapa waktu mungkin terlalu sulit bagiku untuk memberi keterangan kepadanya. Aaaai…. dalam kenyataan aku serta ibumu sudah jadi burung di dalam sangkar mau dibunuhpun gampang sekali, aku percaya tak mungkin pihak mereka mengirim seseorang untuk menyaru sebagai putraku!”

Mendadak suatu ingatan berkelebat dalam hati Siauw Ling, pikirnya, “Ketika aku meninggalkan rumah, waktu itu aku baru berusia dua tiga belas tahunan badanku lemah dan berpenyakitan setiap saat kemungkinan besar mati. Sebaliknya sekarang bukan saja badanku kekar dan tegap bahkan mendapat pula didikan ilmu silat dari tiga orang guruku, ditambah pula obat penyaruan sudah mengubah wajah asliku sekalipun kedua orang tuaku tidak disiksa oleh musuhpun, tak mungkin mereka bisa kenali diriku. persoalan paling penting yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana caranya menyelamatkan kedua orang tuaku dari mara bahaya kemudian kubersihkan wajahku dari penyaruan. sampai waktunya aku rasa mereka bakal kenali diriku dengan sendirinya”

Karena berpikir demikian ia lantas mengubah rencananya kepada Giok Lan ia berbisik, “Nona harap kau dengan Kiem Lan suka melindungi ibuku….”

“Budak terima perintah”

Pada saat itulah dari tempat luar berkumandang datang suara dari Sun Put Shia sedang berteriak, “Pada saat ini waktu berharga bagaikan emas tak baik untuk kita berdiam terlalu lama disini ayoh cepat kita terjang keluar”

Siauw Ling segera berjongkok sambil berkata. “Ayah, bagaimana kalau ananda menggendong dirimu untuk keluar dari sini?”

Mendadak Siauw Ling maju kedepan, ia putuskan dahulu tali yang membelenggu tubuh kedua orang itu dengan pisau belati. lalu katanya

“Siauw-heng menurut penglihatan aku sipencuri tua lebih baik kita totok jalan darah dari orang tua itu, haruslah diketahui dalam usaha kita menerjang keluar dari perkampungan Pek Hoa San Cung, mungkin suatu pertarungan sengit tak bisa terhindar lagi, bilamana kedua orang tuamu tidak kenal ilmu silat, lebih baik jalan darahnya ditotok saja. sebab hal ini jauh lebih aman.”

“Ucapan Siang-heng sedikitpun tidak salah!”

Giok Lan segera maju kedepan menotok jalan darah Siauw Hujien lalu melepaskan ikat pinggang dan menggendong tubuh nyonya itu dipunggungnya.

Siang Hwie menyusul dari belakang dan menotok pula jalan darah dari Siauw Thayjien.

Melihat kejadian itu Siauw Ling menghela napas panjang, gumamnya seorang diri, “Keadaan memaksa aku harus bertindak demikian, harap ayah dan ibu suka memaafkan kelancanganku ini”

Sementara ia hendak menggendong pula ayangnya tiba-tiba Tu Kioe berseru, “Toako tunggu sebentar!”

“Ada urusan apa?”

Ilmu silat Toako sangat lihay kau sangat dibutuhkan tenaganya dalam penyerbuan kita nanti maka ada baiknya empek diserahkan saja kepada siauwte daripada nantinya toako merasa kurang leluasa dalam setiap gerak gerikmu”

Siauw Ling merasa ucapan ini tidak salah maka iapun setuju.

“Apabila demikian adanya, terpaksa aku harus merepotkan dirimu!”

Tu Kioe masuk ke dalam ruangan, berjongkok dan menggendong Siauw Thayjien dipunggungnya.

“Saudara Tu, nona Giok Lan harap kalian suka mengikuti dibelakang tubuhku!” seru Siauw Ling kemudian setelah kedua orang itu selesai mengikat tubuh orang tuanya dengan tubuh mereka.

“Toako tak usah kuatir!”

Dengan langkah lebar Siauw Ling keluar dari dalam ruangan ketika itu ia temukan Sun Put Shia sedang putar sepasang telapaknya membendung serangan dari sekelompok Boesu berbaju hitam.

Sang Pat segera ambil keluar senjata Sie poa emasnya dari saku dan ia loncat didepan Tu Kioe.

Be Boen Hwie serta Suma Kan masing-masing berjalan kesisi kanan dan melindungi dari sayap kanan.

Sedangkan sipendeta pemabok serta sipengemis kelaparan melangkah kekiri melindungi sayap kiri.

Siang Hwie membuntuti dibelakang Tu Kioe sedang Kiem Lan membuka jalan bagi Giok Lan dan Hong Coe mengikuti dibelakang Giok Lan.

Thay-san Jie Hauw pun merasa semangatnya berkobar, mereka segera siapkan senjata untuk menghadapi musuh tangguh.

Dalam pada itu dari balikkebun bunga disekeliling rumah hitam itu sudah bermunculan bayangan2 manusia, suasana gelap gulita tak nampak sedikit cahayapun, agaknya pihak lawan sedang siapkan kekuatan untuk menghancurkan Siauw Ling sekalian.

Tiba-tiba Siauw Ling berpaling, kepada Sang Pat serta Sing Hwie serunya, “Luka yang diderita Thay-san Jie Hauw belum sembuh sama sekali harap kalian berdua suka menggantikan kedudukan mereka dengan berjaga dibarisan belakang”

Sang Pat mengiakan ia loncat ke belakang duluan.

Siang Hwie adalah seorang pencuri berwatak sombong dan paling benci diatur atau diperintah orang namun menyaksikan sikap Sang Pat terhadap Siauw Ling begitu menghormat terpaksa sambil menahan rasa mangkel iapun berpindah ke belakang.

Diam2 Siauw Ling menghitung jumlah orang dipihaknya, mendadak ia temukan bahwa segulung angin Peng Im lenyap tak berbekas tak tahan segera tanyanya, “Saudara Tu kemana perginya Peng Im?”

“Pengemis cilik itu sangat cerdik, ia sudah menguasahi tanda rahasia dari para boesu berbaju hitam untuk mengadakan hubungan, harap toako tak usah menguatirkan keselamatannya jawab Tu Kioe.

“Aaai…. semoga saja ia aman tenteram dan tidak menjumpai peristiwa apapun”

Selesai berseru dengan langkah lebar ia segera maju kedepan.

Dalam pada itu ber-puluh2 orang Boesu berbaju hitam yang menghalangi jalan pergi mereka tak sanggup menahan serangan dahsyat dari Sun Put Shia, mereka kena digempur sampai mundur terus ke belakang.

Dengan begitu kecuali kerlipan cahaya yang memancar keluar dari balik pepohonan, beberapa tombak dari mereka serta berkelebatnya bayangan manusia suasana telah pulih dalam kesunyian.

Loteng Wang Hoa Loo yang tinggi menjulang keangkasa itupun tak nampak adanya cahaya lampu ditengah kegelapan loteng tersebut berdiri dengan angkernya laksana bayangan iblis yang mengerikan.

Buru-buru Siauw Ling berjalan mendekati Sun Put Shia lalu berkata dengan suara lirah, “Loocianpwee kau sudah menghadapi serangan musuh berulang kali, selama ini tiada kesempatan bagimu untuk beristirahat, pada saat ini silahkan cianpwee mengundurkan diri untuk beristirahat biarlah tugas membuka jalan serahkan kepada cayhe”.

Sun Put Shia sudah tahu kalau sianak muda ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, bahkan kalau membicarakan soal kehebatan ia masih jauh diatas kepandaiannya sendiri. mendengar ucapan itu segera sahutnya, “Tenaga lweekang Siauw-heng amat lihay….”

Ia merandek sepasang matanya menyapu sekejap ke arah pepohonan diempat penjuru, kemudian sambungnya kembali;

“Apakah pembicaraan soal kekuatan tak mungkin pihak perkampungan Pek Hoa San Cung lepas tangan begitu saja, kini mereka menghentikan penyerangan aku rasa pihak mereka tentu sedang mempersiapkan suatu rencana busuk.”

“Boanpwee pun punya perasaan demikian kemungkinan besar mereka sedang mengatur barisan yang amat keji disekeliling kebun bunga yang hendak kita lalui.”

“Seandainya kita dapat melalkukan gerakan yang cepat laksana kilat, ambil kesempatan sebelum persiapan mereka selesai. maka aku rasa kita pasti akan berhasil menembusi kurungan mereka.

“Boanpwee pun punya rencana demikian”

“Kalau begitu janganlah buang waktu dengan percuma lagi?”

“Aku berharap bantuan dari loocianpwee suka menghadapi segala kemungkinan serta mengawasi seluruh pasukan, agar jangan sampai rombongan kita terbelah oleh serangan musuh.”

“Aku sipengemis tua akan berusaha sekuat tenaga!”

“Kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih dahulu atas bantuan dari cianpwee!”

Sianak muda itu percepat langkahnya menerjang ke dalam hutan bunga yang membentang di hadapannya.

“Kekuatan musuh amat kuat dan jumlah kita amat sedikit” seru Sun Put Shia dengan suara berat “Maka dari itu kita harus melakukan pertarungan kilat, aku minta cuwi sekalian suka turun tangan dengan segenap tenaga. asal kita bisa menerjang laksana kilat maka tidak sulit bagi kita semua untuk meloloskan diri dari perkampungan Pek Hoa San Cung.”

Dalam kenyataan tak usah Sun Put Shia memberi peringatan, sipendeta pemabok, pengemis kelaparan, Be Boen Hwie serta Suma Kan yang ada di sayap kiri serta sayap kanan sudah percepat langkahnya membuntuti Siauw Ling yang sudah ada didepan kini mendengar seruan tersebut langkah mereka semakin dipercepat.

Tiba-tiba Kiem Lan percepat langkahnya mendekati Siauw Ling kemudian berseru lirih, “Kita terjang ke arah Barat!”

Siauw Ling mengiakan, ia putar badan dan ganti menyerbu ke arah Barat.

Setelah berjalan tiga empat tombak jauhnya toba2 terdengar desiran angin tajam berkumandang memecahkan kesunyian, serentetan anak panah meluncur ke arah mereka.

Para jago segera putar senjata tajam masing-masing untuk menyampok rontok anak2 panah itu.

Pada waktu itulah dari balik hutan bunga berkumandang keluar suara dari Cioe Cau Liong berseru mengancam

“Kalian semua telah terjebak di dalam kepungan yang sangat kuat apabila kalian tidak buang senjata menyerah kalah maka itu berarti kalian sudah mencari jalan mati buat diri sendiri….”

Dari permbicaraan tersebut Siauw Ling merasa Cioe Cau Liong berada kurang lebih empat tombak dihadapannya namun berhubung tubuhnya tertutup oleh lebatnya pepohonan maka ia tak sanggup menemukan tempat persembunyiannya.

Hujan anak panah yang dilepaskan tadi tak lebih hanya menghadang sejenak terjangan para jago, dibawah pimpinan Siauw Ling kembali mereka menerjang ke arah hutan.

“Cuwi sekalian harap segera berhenti apabila kalian tak suka mendengarkan nasehay cayhe jangan salahkan kalau pihak perkampungan Pek Hoa San Cung kita akan turun tangan keji!” suara ancaman dari Cioe Cau Liong kembali berkumandang keluar.

Dari suara itu Siauw Ling merasa bahwa Ketua kedua dari perkampungan seratus bunga ini sudah berpindah tempat.

Siauw Ling amat gusar sekali namun ia tak mau buka suara sebab ia sadar bahwa apabila ia buka suara maka pihak lawan tentu akan kenali siapakah dia dari ucapan tersebut.

Ketika Sioe Sau Liong selesai mengakhiri ucapannya mendadak terdengar suara bambu yang sangat berisik berkumandang keluar dari balik hutan.

Suara itu amat keras dan nyaring disusul dari balik hutan sekeliling tempat itu penuh dengan suara bambu yang dipukul keras2.

Siauw Ling berhenti dan melakukan pencarian disekeliling tempat itu dengan berhentinya sianak muda itu para jago lainnya pun sama2 berhenti.

Tiba-tiba terdengar Sun Put Shia berseru, “Kita jangan sampai terkena siasat mereka!”

Weeess….! sebuah pukulan angin kosong dilepaskan ke arah pepohonan yang berada beberapa tombak dihadapannya.

Tenaga lweekang Sun Put Shia amat sempurna, dalam serangannya ini disertai angin pukulan yang maha dahsyat, daun dan bunga segera berguguran.

Laksana kilat Siauw Ling pun mengikuti jejak Sun Put Shia. ia segera meloncat ke dalam pepohonan tersebut.

Tampaklah dua orang boesu berbaju hitam menggeletak kaku ditempat itu, jiwa mereka sudah melayang termakan oleh angin pukulan Sun Put Shia yang maha dahsyat itu.

Setelah kejadian ini, suasana disekeliling hutan segera menjadi sunyi senyap kembali suara bambu lenyap tak berbekas, begitu sunyi dan hening suasananya sehingga mendatangkan rasa bergidik bagi siapapun.

“Cepat lepaskan mantel, siap sedia menghadapi serangan senjata rahasia!” mendadak terdengar Sun Put Shia berteriak.

Sebelum ia selesaikan ucapan tersebut desiran tajam telah berkumandang datang. sebuah anak panah bersuara dengan dahsyatnya meluncur tiba.

Mengikuti desiran anak panah bersuara tadi, desiran angin tajam seketika berkumandang dari empat penjuru.

Dalam sekejap mata, hujan anak panah bermunculan dari delapan arah empat penjuru.

Suasana amat gelap gulita sehingga susah melihat pemandangan dihadapannya dalam keadaan seperti ini harus pula menghadapi hujan anak panah, meski ilmu silat yang dimiliki para jago amat lihaypun tak urung dibikin kelabakan juga.

Ditengah desiran angin tajam, terdengar suara dengusan berat berkumandang ketengah udara beruntun Thay-san Jie Hauw termakan oleh anak panah.

Luka yang diderita kedua orang itu belum sembuh sama sekali, kini termakan oleh anak panah, gerakan tubuhnya jadi lamban tidak ampuh lagi dibawah hujan anak panah yang amat dahsyat secara beruntun tubuh mereka terkena puluhan batang anak panah lagi, diiringi jeritan ngeri kedua orang jago tersebut roboh binasa ke atas tanah.

Melihat kematian Thay san Jie Hauw, suatu ingatan berkelebat dalam benak Siauw Ling pikirnya, “Terlalu parah buat kami untuk menghadapi hujan panah ditengah kegelapan yang mencekam aku harus berusaha untu kmelukai tukang2 panah itu, dengan demikian kami baru bisa lolos dari kurungan.

Dalam pada itu tampak sipengemis kelaparan sedang putar kuali besinya menyampok rontok anak panah itu.

Menyaksikan senjata sipengemis kelaparan yang luar biasa. lagipula anak panah yang datang dari arah kiri terlalu minim sianak muda itu merasa bahwa setengah jam lagi pun dari posisi sayakp kiri tak akan terancam mara bahaya.

Keadaan Be Boen Hwie serta Suma Kan yang ada disayap kanan, sebaliknya rada ngotot ditengah hujan anak panah yang sangat rapat mereka putar senjata roda emas serta kipas sedemikian rupa sehingga membentuk selapis dinding cahaya yang kuat.

Tu Kioe serta Giok Lan yang bertanggung jawab untuk melindungi keselamatan Siauw Thayjien serta Siauw Hujien sama2 berjongkok ke atas tanah senjata pit besi serta pedang mereka menyampok rontok sisa anak panah yang berhasil lolos dari kurungan cahaya kipas serta roda.

Dengan cepat Siauw Ling mengawasi situasi medan. ia tahu bilamana keadaan tersebut dibiarkan berlangsung terus, maka dipihaknya bakal jatuh korban lebih besar. ia gigit bibir lalu berseru kepada Sun Put shia, “Loocianpwee. apakah kau sudah temukan dimanakah tukang panah itu berkumpul?”

Sambil menyampok rontok anak panah itu sun Put Shia mengangguk.

“Agaknya ini hari aku sipengemis tua harus membuka pantangan untuk membunuh!” serunya

“Silahkan loocianpwee suka turunkan perintah agar mereka tetap tertahan disini dan jangan bergerak, cayhe ingin mengiringi loocianpwee untuk membersihkan tukan2 panah disekeliling tempat ini, entah bagaimana menurut pendapat loocianpwee!”

“Haaa…. haaa…. bagus. bagus sekali. kalau meemang kau punya keberanian ini, tentu saja aku sipengemis tua akan mengiringi kemauanmu.”

“Kalau begitu cayhe akan bukakan jalan buat cianpwee!”

Ditengah bentakan keras badannya meloncat kedepan, tangan kirinya mencekap sebuah ranting kayu yang dipungut dari atas tanah untuk pukul rontok anak panah tersebut. sedangkan tangan kanannya menyambut datangnya anak panah yang kemudian dilempar kembali dengan disertai tenaga dahsyat.

Sun Put Shia mengintil dari belakang dengan menggunakan ilmu mreingankan tubuh “Pat Loh Kan San” setelah menerjang ke dalam gutan sebelah kanan teriaknya.

“Harap cusi sekalian suka berjaga2 ditempat semula. aku sipengemis tua akan melakukan pembersihan lebih dahulu.

Dengan kerahkan segenap kemampuannya kedua orang itu menerjang masuk ke dalam hutan laksana kilatan cahaya kilat.

Mendadak tampak cahaya api berkelebat ditengah hutan mendadak muncul sebuah obor.

Dibawah sorotan cahaya api tampaklah puluan orang tukang panah sedang mementang gendewa dan melepaskan anak panah.

Sepasang telapak Sun Put Shia dengan cepat bekerja keras angin pukulan men-deru2 sebelum ia tiba ditempat dimana dua orang tukang panah yang berada paling dekat dengan dirinya sudah roboh binasa.

Siauw Ling pun menayunkan telapak kirinya diikuti sang tubuh menerjang kemuka, babatan telapak tendangan kaki dalam sekejap mata berhasil melukai empat orang.

Obor yang muncul secara tiba-tiba tadi telah banyak membantu usaha kedua orang itu dalam melaksanakan tugasnya ketika cahaya api masih berkilat tadi kedua orang tokoh sakti tersebut menunjukkan kelihayannya menghantam, menotok menendang dan membabat, dalam sekejap mata puluhan orang tukang panah sudah roboh binasa.

Tukang2 panah lainnya yang nyaris lolos dari kematian jadi keder setelah menyaksikan kelihayan kedua orang itu mereka tak berani berdiam diri lebih lama lagi disana buru-buru putar badan dan melarikan diri tunggang langgang.

Tukang2 panah yang diserang Siauw Ling berdua merupakan pasukan inti yang menghalangi jalan pergi para jago setelah mereka kena dibasmi maka hujan anak panahpun semakin berkurang.

Sipengemis kelaparan sambi putar kuali besi ditangannya segera buka jalan lebih dahulu membawa rombongan Siauw Ling sekalian meneruskan perjalanan ke arah depan.

Sun Put Shia serta Siauw Lingpun segera menggabungkan diri dengan para jago setelah selesai membasmi kawanan musuh penyerbuan dilanjutkan lagi ke arah muka.

Selama ini Giok Lan selalu menguatirkan keselamatan Siauw Hujien, ketika hujan badai telah berhenti buru-buru tanyanya kepada Kiem Lan, “Cici, coba periksalah yang seksama apakah Siauw Hujien terluka atau tidak?”

Kiem Lan memeriksa seluruh tubuh Siauw Hujien kemudian mengeleng.

“Tidak!”

“Aaai…. cici kalau begitu cepatlah membantu siangkong, beritahu kepadanya situasi dalam perkampungan ini”

Kiem Lan mengiakan, sebelum ia sempat menyusul Siauw Ling tiba-tiba terdengar suitan panjang yang amat nyaring telah berkumandang datang.

Dalam pada itu hujan panah pun telah berhenti. sekalipun satu dua batang anak panahpun tak kelihatan muncul dalam gelanggang, agaknya mereka sudah keluar dari daerah hujan panah yang disiapkan pihak perkampungan Pek Hoa San Cung.

Mendadak Sun Put Shia berhenti. katanya dengan suara berat, “Aku berharap cuwi sekalian suka menyembunyikan diri lebih dahulu, biarlah aku sipengemis tua memeriksa keadaan lebih dahulu, Shen Bok Hong adalah seorang manusia licik yang banyak akal, entah jebakan2 apalagi yang sudah ia siapkan….”

Belum habis ia berkata mendadak tiga tombak dihadapan mereka berkelebat serentetan cahaya obor.

Tampaklah obor yang diangkat ke atas itu berputar tiada hentinya, diikuti cahaya api segera bermunculan dari empat penjuru, dalam sekejap mata ber-puluh2 buah obor sudah muncul dihadapan j=para jago.

Obor2 tadi muncul dalam posisi setengah lingkaran dengan demikian maka jalan pergi para jago kembali terhadang.

Sun Put shia segera ulapkan tangan kanannya para jago sama2 berjongkok ke atas tanah.

Tampaklah obor2 tersebut tiada hentinya bergoyang se-akan2 ada seseorang yang sedang mengadakan hubungan dengan orang lain.

Siauw Ling mendongak memeriksa keadaan cuaca, ia rasa kentongan ketiga sudah tiba mendadak hatinya bergerak pikirnya, “Apabila aku tidak berusaha untuk menerjang keluar dari perkampungan Pek Hoa San Cung sebelum Shen Bok Hong mendusin mungkin lebih banyak kesulitan yang bakal kujumpai….”

Buru-buru serunya dengan suara lirih, “Loocianpwee harap memimpin pasukan menanti disini, cayhe akan melakukan pemeriksaan sejenak kedepan sana”

Sun Put Shia tahu ilmu silatnya lihay maka ia tidak menghalangi maksud sianak muda itu.

Siauw Ling segera meloncat kedepan, melampaui pepohonan dan menerjang kehadapan sebuah obor yang sedang bergoyang.

Ia sambar obor tadi dengan telapaknya namun sebelum usahanya sempat terlaksana tiba-tiba cahaya golok berkelebat lewat, dari pepohonan sebelah kiri telah menyambar datang sebilah golok langsung membabat pergelangannya.

Siauw Ling memakai sarung tangan terbuat dari kulit ular, ia tidak takut golok maupun pedang. lima jari tangan kanannya segera dipentangkan mencengkeram golok tersebut lalu ditarik sekuat tenaga.

Tubuh boesu berbaju hitam yang mencekal golok itu seketika tertarik keluar dari tempat persembunyiannya, Siauw Ling putar telapak kiri segera membabat ke arah dada orang itu.

Dalam keadaan seperti ini Siauw Ling sedang merasa gelisah sekali, serangannya dilancarkan cepat lagi berat. sebelum boesu berbaju hitam itu sempat men-jerit2 kaget dadanya sudah terhajar telak. tak ampun lagi ia muntah darah segar dan roboh binasa.
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 23"

Post a Comment

close