Bayangan Berdarah Jilid 20

Mode Malam
JILID 20

Ia merandek sejenak lalu terusnya, “Kalian anggap diri sendiri amat cerdik, kau anggap setelah dalam kebun tak ada yang menghalangi kalian lantas tingkah lakumu tidak diketahui? bicara terus terang semua gerak gerikmu diawasi orang secara diam2, semua perbuatan kalian dengan cepat telah sampai diatas loteng Wang Hoa Loo”

“Jadi kedatangan Hujien ketempat inipun tak akan lolos dari pengawasan mereka?” tanya Suma Kan.

“Dalam perjamuan yang diadakan malam tadi agaknya Shen Bok Hong mendapat pahit getir yang susah diutarakan keluar, sekembalinya diatas loteng Wang Hoa Loo ia termenung terus sepatah katapun tidak bicara, mungkin pada saat ini ia masih belum thau keadaan sejelasnya. Orang ini ganas dan licik, sebelum memahami duduknya perkara tidak nanti melakukan tindakan secara smbarangan kedatanganku kesini tentu saja tidak akan lolos dari pengawasan orang2 Perkampungan seratus unga meski demikian mereka tidak akan bsia membuntuti diriku dan mengawasi semua gerak gerikku”

“Sekalipun ia belum tahu duduk perkara sebenarnya, tetapi kedatangan Hujien ketempat ini pasti akan menimbulkan perhatian khususnya terhadap dirimu” sela Be Boen Hwie.

“Maka dari itu janganlah kalian bertindak secara gegabah….”

Tiba-tiba perempuan itu tutup mulut, wajahnya berubah hebat hardiknya dingin, “Siapa?”

Dengusan berat berkumandang datang dari tempat luaran tetapi dengan cepat suasana pulih kembali dalam keheningan.

“Hm! akan kusuruh dia rasakan penderitaan yang paling hebat” jengek Kiem Hoa Hujien sambil tertawa dingin.

Mendadak se-olah2 teringat satu masalah penting terusnya, “Membicarakan dari watak Shen Bok Hong malam ini ia pasti sedang mencari akal untuk menghadapi kalian. aku tidak leluasa berdiam terlalu lama disini apalagi membantu kalian”

Diatas wajahnya yang ayu terlintas segumpil senyuman pedih tambahnya,

“Harap kalian bertiga baik2 menjaga diri.”

Mendadak ia putar badan dan berlalu,

Bibir Siauw Ling bergetar ingin mengucapkan sesuatu, namun niatnya segera dibatalkan,

Gerakan tubuh Kiem Hoa Hujien amat cepat. dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Seperginya perempuan suku Biauw itu, Siauw Ling berpaling memandang jenasah Hong Tju yang berbaring dilantai tiba-tiba ia menghela napas panjang katanya.

“Aku lihat perhitungan mengenai nasib tak boleh dipercaya seratus persen.”

“Oooouw maksud ucapan Heng thay barusan seakan2 sedang menegur diri siauwte? Suma Kan segera menyela.

“Suma-heng mengatakan raut muka nona Hong bukan raut muka seorang yangberumur pendek teapi bagaimana kenyataannya?! ia mati karena terpagut ular beracun.”

Sepasang alis Suma Kan langsung berkerut,

“Ditinjau dari raut mukanya dia memang tidak bernasib jelek apalagi berumur pendek?” cobanya membela diri.

“Kita menggunakan nyawa seorang nona kecil untuk menempuh bahaya tindakan ini bukan merupakan suatu tindakan seorang enghiong Ho-han!” kata Be Boen Hwie ikut memberikan pendapatnya.

“Jadi menurut pendapat Be-heng?”

“Maksud siauwte setiap perbuatan dari umat manusia ikuti saja takdir, kalau benar dalam saku Suma-heng membawa obat pemunah dari racun ular tersebut berikan dulu dua butir kepada sang nona agar racun ular yang mengeram dalam tubuhnya bisa punah kemudian kita baru berusaha menyembuhkan luka dalamua. Seumpama kita tetap berpeluk tangan dan biarkan nona ini menemui ajalnya begitu saja, siapa yang bisa tenteram melihatnya?

Suma Kan melirik sekejap ke arah Hong coe kemudian mengangguk.

“Baiklah!”

Dari dalam saku ia ambil keluar sebuah botol porselen dan ambil keluar tiga butir pil berwarna merah ia menelan sebutir lalu serahkan dua butir lainnya kepada Be Boen Hwie serta Siauw Ling, ujarnya, “Kalianpun telanlah dahulu sebutir pil pemunah agar jangan sampai terkena racun ular tersebut!”

Siauw Ling serta Be Boen Hwie segera menerima obat pemunah tadi dan menelannya.

Suma Kan tarik napas panjang, seluruh jalan ditubuhnya ditutup rapat kemudian baru maju membimbing bangun batok kepala Hong Tju.

Siauw Ling yang ada disamping mengawasi dengan seksama, ia temukan wajah Hong Tju telah dilapisi oleh hawa hijau yang tebal jelas ia sudah keracunan hebat?

Dari dalam botol porselen tadi, kembali Suma Kan ambil keluar dua butir pil pemunah tangan kiri mengerahkan tenaga untuk paksa membuka rahang Hong Tju kemudian memasukkan kedua butir pil tadi ke dalam mulutnya.

Dalam pada itu seluruh tubuh Hong Tju telah mendingin dan kaku, napasnya telah berhenti, meski obat tersebut telah masuk ke dalam mulut namun sukar ditelan ke dalam perut.

Siauw Ling segera maju kedepan, tangannya menekan dada Hong Tju dan merasakan detak jantung gadis ini telah lama berhenti, tak kuasa ia hela napas panjang.

“Aaaai….! napasnya telah berhenti jantungpun telah berhenti berdetak, ucapan Kiem Hoa Hujien sedikitpun tidak salah meski ada obat mujarab tidak akan bisa menghidupkan dirinya kembali” bisik pemuda itu lirih.

“Siapa yang bilang jiwa budak ini tak tertolong lagi?” tiba-tiba dari tempat luaran berkumandang datang suara teguran yang amat dingin.

Be Boen Hwie terkesiap pikirannya.

“Betapa sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini, mengapa tindak tanduknya sama sekali tidak menimbulkan suara?”

Ketiga orang itu sudah menyadari bahwa ucapan Kiem Hoa Hujien tidak bakal salah, malam ini terlalu sulit bagi mereka untuk melewatinya dengan aman tetapi urusan sudah jadi begini mereka terpaksa duduk sambil menanti kedatangan musuh. Maka dari itu meski mereka sedang berusaha menolong Hong Tju, sepasang mata dan telinganya telah dipentangkan mengawasi situasi diluar ruangan.

Ketika semua orang angkat kepala, terlihatlah seorang manusia aneh berperawakan kurus kering dengan memakai baju serba hitam berdiri didepan pintu. kulit wajahnya kaku dan kasar persis seperti sesosok mayat hidup

Menjumpai orang itu Siauw Ling terkesiap. hampir2 saja ia menyebut nama Tok Chiu Toa Ong si Raja Obat Tangan beracun.

Sementara itu dengan alis berkerut Be Boen Hwie telah menegur.

“Anda adalah?”

“Seluruh umat Bu-lim yang ada dikolong langit rada takuti benda2 beracun dari Kiem Hoa Hujien namun Loohu sama sekali tidak jeri”

“Lalu siapakah kau?” tanya Suma Kan seraya secepat kilat masukkan kembali botol porselen tadi ke dalam saku.

“Loohu adalah Tok-Chiu-Yoa-Ong Si Raja Obat bertangan keji, terang2an bocah ini masih bisa tertolong, siapa yang bilang ia tak tertolong lagi?”

Walaupun diluaran ia bicara dengan Suma Kan sepasang matanya dengan tajam mengawasi Siauw Ling dari atas hingga kebawah.

Diam2 Siauw Ling terperanjat segera ia berpikir, “Apakah dia sudah tahu akan wajahku yang sebenarnya?”

Buru-buru sinar matanya ditarik kembali dan berdiri dengan mulut membungkam.

“Hm! sungguh besar omonganmu” jengek Suma Kan.

“Hendak kau buktikan bagaimana cara Loohu menyelamatkan jiwanya?”

“Sudah lama kudengar akan kelihayan ilmu pertabiban orang ini” pikir Be Boen Hwie. “Hanya sayang tabiatnya kukoay meski memiliki kepandaian seperti Hia Tuo namun tak sudi menolong harus menggantungkan apakah ia senang atau tidak, ditambah pula ilmu silatnya luar biasa, sebagian besar orang Bulim pada menaruh tiga bagian rasa jeri kepadanya sekarang Hong Tju sudah mati. tetapi ia bilang masih bisa tertolong kenapa aku tidak bisa panasi hatinya dengan akta2? kalau jiwanya bisa tertolong itulah yang dicari, kalau tidak tertolong kita pun tak bisa berbuat lain.”

Karena punya pikiran demikian dengan nada dingin segera ia mengejek.

“Ia sudah putus nyawa dan mati. Hm meski anda memiliki ilmu pertabiban yang amat lihay aku kira belum tentu bisa selamatkan jiwanya dan hidupkan kembali nona ini.”

“Seandainya loohu bisa menghidupkan kembali bocah perempuan ini lalu bagaimana?”

Be Boen Hwie tertegun.

“Menolong jiwa orangpun masih di-embe2li dengan syarat! tidak aneh kalau diatas gelar si Raja Obatnya masih ditambahi pula dengan gelar Bertangan keji,” pikirnya.

Segera ia menjawab

“Menolong selembar jiwa manusia jauh lebih menangkan berbuat kebajikan banyak tahun meski cayhe sekalian bukan anggota perkampungan Pek Hoa San Cung, namun tidak tega melihat seseorang mati dengan begitu saja tanpa ditolong.”

Orang yang menderita sakit parah dan hampir mati dikolong langit detik ini berjumlah puluhan ribu orang meski Loohu dilahirkan dengan delapan lenganpun tidak akan bisa menyelamatkan seluruh umat dunia” sambung Tok Chiu Yok Ong cepat.

Teringat akan kegagahan serta kebaktian Hong Tju yang rela mati demi kebenaran, Be Boen Hwie segera berkata.

“Baiklah? katakan, dengan syarat apakah kau hendak menyelamatkan jiwa nona ini?”

“Siapakah orang itu?” tanya Si Raja Obat itu sambil menuding ke arah Siauw Ling.

Be Boen Hwie melirik sekejap ke arah Siauw Ling melihat pemuda itu membungkam segera sahutnya.

“Dia adalah pembantu cayhe?”

Dari nada ucapan si raja obat barusan Siauw Ling tahu bahwa penyaruannya tidak diketahui olehnya iapun berlega hati.

“Benda apa yang kau inginkan?” kembali orang she Be itu bertanya.

“Aku menginginkan darah ditubuhnya….”

“Apa?” Be Boen Hwie terkesiap. “Buat apa kau inginkan darah segar ditubuhnya?”

“Untuk menolong orang, menolong seseorang yang hampir menemui ajalnya!” sewaktu berbicara jelas tampak sekali wajah si raja obat ini diliputi rasa berduka.

“Menolong jiwa orang kenapa harus memakai darah segar? pikir orang she Be itu “Tetapi ilmu pertabiban si raja obat bertangan keji amat lihay tidak mungkin ia bisa tanpa sebab2 tertentu….”

Haruslah diketahui pada jaman itu masih jarang orang menggunakan darah untuk penyembuhan suatu penyakit tentu saja berita tersebut cukup mengejutkan bagi yang mendengar.

Si raja obat bertangan Keji melirik sekejap ke arah Hong Coe lalu berkata kembali.

“Kalau orang ini dibiarkan ber-larut2 loohu pun tidak akan bisa menolong lagi sanggup atau tidak dengan permintaanku tadi? harap Be-heng segera ambil keputusan”

Wataknya dingin sombong dan suka menyendiri, hal ini sudah diketahui umum. tetapi pada saat ini nada ucapannya halus dan lunak jelas menunjukkan bahwa hatinya sedang merasa cemas.

“Pembantu dari siauwte ini meski pernah belajar silat, tetapi badannya lemah sekali, bagaimana kalau siauwte yang rela menyumbangkan darah ditubuhku!”

“Tidak bisa. tidak bisa.” dengan cepat si raja obat menggeleng, “Loohu sudah mengarungi seluruh pelosok dunia selama ini hanya temukan darah dua orang saja yang bisa digunakan?”

“Siapa kedua orang itu?”

“Seorang adalah Siauw Ling Sam CUngcu dari perkampungan Pek Hoa San Cung, sedangkan yang lain adalah pembantu dari Be-heng ini. Aaaai pembantu dari Be-heng benar2 memiliki tulang yang bagus dan tidak kalah dengan Siauw Ling, hanya sayang ia tidak punya rejeki seperti Siauw Ling sebaliknya hanya berhasil jadi pembantu Be-heng belaka,”

Mendengar ucapan itu Be Boen Hwie terkesiap kembali ia berpikir.

“Agaknya ketepatan menduga ditinjau dari ilmu pertabiban jauh lebih tepat dari ilmu meramal”

Dalam pada itu dengan sengaja menyerakkan suaranya Siauw Ling bertanya.

“Berapa banyak darah segar yang kau butuhkan dari badanku!”

“Aaaaai seandainya kau sudi menyumbangkan seluruh darah segar yang ada di dalam tubuhmu bukan saja untuk sementara bisa selamatkan jiwa orang itu bahkan memberikan pula harapannya untuk sehat kembali seperti sedia kala”

“Siapakah orang itu? kok mendapat perhatian begitu besar dari Yok-Ong?”

“Loohu tidak ingin membohongi kalian, orang itu bukan lain adalah putriku sendiri”

“Ooouw kiranya begitu” batin orang she Be. “Meski keji Si raja obat bertangan Keji masih menyayangi putrinya sendiri dengan begitu tebal sungguh suatu kejadian yang tak disangka….”

Kembali terdengar Tok-Chiu-Yok-Ong bergumam seorang diri, “Seandainya Be-heng sudimemerintahkan pelayanmu untuk hadiahkan seluruh darah segar di tubuhnya sehingga jiwa siauw-li tertolong loohu rela mengikuti Be-heng selama sepuluh tahun sebagai pembantu setil, perintah keair aku akan keair, perintah keapi akan kuterjang lautan api!”

Dengan cepat Be Boen Hwie geleng kepala.

“Walaupun ia mengikuti siauw-te namun menghadapi masalah besar yang menyangkut keselamatnnya cayhe tidak berani ambil keputusan sendiri” katanya.

“Siauw-jien dengan Yok-Ong tidak bisa dikatakan punya ikatan sahabat” sambung Siauw Ling. “Semakin tidak bisa dikatakan lagi kalau siauw-jien harus menolong selembar jiwa putrimu tetapi dengan dasar hati yang welas dan iklas diri siauw-jien sendiri aku rela menghadiahkan darah segarku hanya tidak kuketahui berapa banyak yang dibutuhkan Yok-Ong?”

Memandang dua cawan air teh yang terletak diatas meja Tok-Chiu-Yok-Ong menjawab, “Secawan darah segar ditambah dengan obat mujarab yang kubuat bisa menyelamatkan jiwa siauw-li selama satu bulan”

“Baik! siauw-jien akan hadiahkan secawan darah segar untuk anda…. sinar matanya berputar pemuda itu memandang sekejap ke arah Hong Coe lalu menambahkan, “Tetapi Yok-Ong harus menyelamatkan dahulu jiwa gadis ini!”

“Soal ini tidak sulit!”

Tiba-tiba si raja obat itu melangkah maju dekati tubuh Hong Coe, tangan kanannya bergerak berulang kali kemudian baru berhenti.

Ketika semua orang alihkan sinar matanya tampaklah diatas dada serta pundak Hong Coe telah tertancap enam batang jarum perak.

Keenam batang jarum perak tadi menembusi enam buah jalan darah penting yang saling bersambungan. kena rangsangan yang datang secara tiba-tiba dari keenam buah jalan darah tersebut darah yang semula telah berhenti tiba-tiba bergolak kembali. golakan tersebut menghasilkan goncangan pula di dalam jantung yang mengakibatkan jantung mulai berdetak kembali bibirnya bergetar membuat obat pemunah dari Suma Kan segera tertelan ke dalam perut.

Menyaksikan Hong Tju yang telah mati jadi hidup kembali setealh keenam batang jarum perak tadi ditusukkan ke dalam badan, Be Boen Hwie merasa terkejut bercampur keheranan pikirnya.

“Nama besar Tok Chiu Yok Ong benar2 bukan nama kosong belaka ia memang betul2 hebat.”

Sepasang mata Tok Chiu Yok Ong dengan tajam mengawasi tubuh Hong Tju ketika melihat tangan kakinya mulai bergerak tiba-tiba ia turun tangan mencabut jarum perak itu, kemudian tangan kanannya bergerak menotok kesana menabuk kemari dengan cepatnya.

Gerakan tangannya amat cepat begitu cepat sampai Be Boen Hwie tak dapat melihat jalan darah apa saja yang ditotok dan ditabok olehnya.

Terdengar Hong Coe menghembuskan napas panjang lalu membuka sepasang matanya kembali.

Tok-Chiu-Yok-Ong segera berhenti bekerja, mundur dua langkah ke belakang, ambil keluar dua butir pil dan diserahkan ketangan Be Boen Hwie sambil berpesan, “Berikan pil ini kepadanya lalu biarkan dia tidur selama empat jam setelah keringat racun mengucur keluar kesehatannya akan sembuh dengan cepat”

“Terima kasih Yok ong”

Sepasang mata Hong Coe berputar ketika menjumpai Tok Chiu Yok Ong ada disana buru-buru ia bangun dan jatuhkan diri berlutut.

“Terima kasih atas pertolongan Yok Ong!”

“Hmm tak usah berterima kasih kepadaku terima kasihlah kepada orang yang menolong dirimu itu”

Seraya berkata si raja obat ini menuding ke arah Siauw Ling.

Hong Coe segera berpaling ke arah pemuda itu ia tercengang dan keheranan namun gadis itu menjura pula dalam2 sambil berkata, “Terima kasih atas pertolongan anda!”

Karena tidak tahu ia harus menyebut Siauw Ling dengan sebutan apa maka ia bicara sekenanya.

“Nona tak usah banyak adat” Siauw Ling balas menjura. “Lukamu baru saja sembuh,lebih baik masuklah ke dalam kamar untuk atur pernapasan dan tenangkan diri.

Hong Coe berpaling ke arah Be Boen Hwie serta Suma Kan, sikapnya gugup dan gelagapan.

“Ucapannya sedikitpun tidak salah” Tok Chiu Yok Ong membenarkan dengan suara dingin “Kau memang seharusnya cepat-cepat atur pernapasan kenapa masih saja berdiri termangu2 disini”

“Biar cayhe yang antar nona duduk bersemedi di dalam kamar” Be Boen Hwie bertindak cepat mencekal tangan kanan Hong Coe dan memayang masuk ke dalam ruangan.

Dalam hati Hong Coe masih merasa ragu tetapi Be Boen Hwie sebagai seorang majikan ternyata membimbing dirinya masuk ke dalam jelas perkataan tersebut tak bakal salah lagi, maka sambil melangkah ke dalam ruang belakang ia berkata.

“Tempat ini adalah kamar istirahat Beya, budak tidak berani menggunakannya”

“Nona adalah seorang pendekar gagah, cayhe merasa sangat kagum bersemedilah di dalam kamar ini dan tak usah cabangkan pikiran yang bukan2, perduli kau dengar suara apapun diluar tak usah keluar menengok, tetaplah berada disini mengatur pernapasan.”

“Budak turut perintah!”

“Nah baik2lah beristirahat”

Sehabis bicara ia tutup pintu kamar dan mengundurkan diri.

Menanti berada diluar tampaklah pada waktu itu tangan kanan Siauw Ling mencekal sebuah cawan, ujung baju tangan kiri sudah digulung tinggi, sementara Tok Chiu Yok Ong sedang siap mencengkeram lengan pemuda itu.

“Tunggu sebentar!” segera serunya.

Gerakan Siauw Ling sangat cepat, mendengar suara itu ia tarik kembali lengannya.

“Bagaimana? kau menyesal tegur si raja obat bertangan keji sambil menyapu wajah Be Boen Hwie dengan pandangan dingin.

“Semua urusan yang telah cayhe setujui tidak pernah disesali kembali”

“Lalu mengapa kau halangi aku mengeluarkan darah dari tubuh pembantumu?”

“Bagaimana kalau cayhe yang wakili Yok-Ong untuk mengeluarkan darah dari tubuhnya?”

“Apakah kau tahu bagaimana cara mengambil darah?”

“Tentang soal ini terpaksa menanti petunjuk dari Loocianpwee!”

Agaknya Tok-Chiu-Yok-Ong ingin mengumbar hawa amarahnya tapi ditahan kembali per-lahan-lahan ia ambil keluar sebuah tabung tembaga yang runcing ujungnya sambil menyerahkan benda tadi ujarnya, “Tusuk ke atas urat nadi dilengan kirinya lalu kerahkan sedikit tenaga, darah segar segera akan mengucur keluar”

“Harap Loocianpwee suka mundur dua langkah ke belakang” perintah Be Boen Hwie sambil menerima tabung tembaga itu.

Kiranya Be Boen Hwie takur si orang tua ini turun tangan keji terhadap Siauw Ling sewaktu melepaskan darah maka ia bersikeras untuk dilakukan sendiri pekerjaan itu.

Tok-Chiu-Yok-Ong turut perintah dan mundur ke belakang berjaga didepan pintu ia berseru, “Cepat turun tangan loohu akan menjaga keamanan diluar ruangan!”

Be Boen Hwie tidak langsung bekerja ia periksa dulu tabung tembaga itu setelah dirasakan benda tersebut tiada beracun maka ia cekal lengan kiri Siauw Ling dan tusuk urat nadi permuda itu sementara tangan kanannya mengerahkan tenaga dalam menekan dipunggungnya, hawa murni yang menerjang ke dalam badan membuat darah segar mengucur keluar dengan derasnya.

Tidak selang beberapa saat kemudian cawan tersebut telah penuh dengan darah segar.

Be Boen Hwie segera lepaskan tabung lalu diangsurkan bersama2 cawan berisi darah itu.

“Yok Ong silahkan terima benda ini”

Tok Chiu Yok Ong menerima tabung tembaga tadi ,memandang ke arah darah segar tadi ia segera mengawasi wajah Siauw Ling seraya berkata.

“Dikemudian hari bila loohu berhasil menyelamatkan jiwamu maka akan kupinjam seluruh darah segar yang ada di dalam tubuhmu.”

“Urusan dikemudian hari lebih baik dibicarakan nanti sama.”

“Hm? sampai waktunya kau suka meminjamkan itu lebih bagus, tidak mau dipinjamkanpun kau harus pinjamkan tak akan kubiarkan kau bertingkah.” habis bicara ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Menanti si Raja Obat bertanga keji telah berlalu, Be Boen Hwie baru menghela napas panjang.

“Aaaai bagaimana pesanmu?”

“Hanya secawan darah, tidak terhitung seberapa?”

Ia berpaling ke arah Suma Kan dan melanjutkan

“Agaknya perhitungan bintang Suma sianseng harus dipercayai juga kebenarannya!”

“Aaai! liku2nya persoalan ini sungguh berada diluar dugaan, siauw-te sendiripun tak pernah menyangka”

Mendadak…. se-akan2 teringat satu masalah besar Be Boen Hwie segera berkata dengan alis berkerut, “Secara beruntun Kiem Hoa Hujien serta Tok Chiu Yok Ong telah tiba disini aku rasa kejadian ini tak akan bisa mengelabuhi ketajaman mata Shen Bok Hong

Keadaan kita malam ini benar2 bahaya dan setiap saat bakal terancam. kita harus bikin persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan.

“Kalau begitu biarlah malam ini siauw-te pun berdiam disini mungkin bisa membantu diri kalian dalam menghadapi segala kemungkinan”

Sinar matanya lantas dialihkan ke arah Siauw Ling dan bertanya

“Setelah Heng-thay kehilangan darah, apakah merasakan sesuatu yang tidak beres?”

“Aaah tidak mengapa”

“Kalau begitu bagus sekali. mari kita padamkan semua lampu sembari atur pernapasan kita tunggu kehadiran musuh”

“Tunggu sebentar,jangan padamkan dahulu lampu itu” tiba-tiba Be Boen Hwie mencegah.

“Apakah Be-heng ada usul?”

“Meskipun Shen Bok Hong berwatak keji dan bahaya tetapi dewasa ini para jago dari seluruh kolong langit sedang berkumpul di perkampungan Pek Hoa San Cung aku rasa ia tidak akan turunkan derajat sendiri dengan melakukan penyerangan secara besar2an, menurut maksud cayhe justru kebalikan dari usul Suma-heng

“Silahkan kau menerangkan usulmu itu!”

“Menurut siauwte, dari pada kita menanti kedatangan musuh dengan padamkan semua lampu jauh lebih baik kita pasang obor disekeliling ruangan kita sehingga suasana jadi terang benderang Pertama kita bisa pinjam cahaya obor tersebut untukmengawasi pihak lawan yang hendak menyerang datang. Kedua, kitapun bisa memancing perhatian para jago lainnya jikalau Shen Bok Hong berani mengutus anak buahnya untuk melancarkan serangan secara besar2an bukankah tindakannya ini sama halnya dengan membuka rahasia sendiri dihadapan umum?”

“Sedikitpun tidak salah” seru Suma Kan sambilmengangguk, “Seandainya mereka berani melancarkan serangan secara besar2an, kemungkinan besar kita malah bisa mengundang pembantu yang jauh lebih banyak.”

Setelah merandek sejenak ujarnya kembali.

“Hanya saja untuk menerangi sekeliling ruangan kita, paling sedikit kita membutuhkan enam buah obor. lagipula obor harus dijaga jangan sampai padam ditengah malam, darimana kita dapatkan obor2 tersebut!

“Aaaai! sayang sekali beberapa orang sahabat cayhe belum tiba semua ditempat ini” kata Siauw Ling “Kalau mereka berada disini tentu ada akal bagus yang bermunculan.”

“Kau maksudkan Tiong Chiu Siang Ku? tanya Be Boen Hwie.

“Terutama Sang Pat, ia miliki otak yang cerdas serta akal yang banyak, pengetahuannyapun amat luas, jarang sekali ada persoalan yang berhasil mengelabuhi dirnya.

Be BOen Hwie tersenyum.

“Sejak tadi siauwte telah awasi keadaan disekeliling tempat itu, dalam pepohonan yang lebat sana terdapat beberapa batang obor bahkan memiliki persediaan minyak yang cukup untuk menerangi semalam suntuk, biar aku pergi ambil enam buah”

Seraya berkata ia melangkah keluar

“Bagaimana kalau cayhe temani Cong Piauw Pacu?”

“Tidak usah, lebih baik kau banyak beristirahat!”

Dalam beberapa kali loncatan, Be Boen Hwie telah lenyap dibalik kegelapan.

Tidak selang seperminum teh kemudian tampak orang she Be itu sudah balik sambil membawa enam buah obor, langkahnya ter-gesa2.

Suma Kan yang berdiri disisinya dapat mendengar napasnya ter-sengkal2, agaknya baru saja orang she Be itu melangsungkan suatu pertarungan sengit, segera ia terima obor tersebut sambil berbisik, “Apakah kau jumpai hadangan yang ketat?”

“Walaupun tidak dihadang namun empat penjuru penuh denganjago tangguh dalam keadaan gelisah beruntun siauw-te melancarkan serangan mematikan dan melukai dua orang diantaranya setelah berhasil merampas enam buah obor aku segera balik”

“Berulang kali kita musuhi orang orang perkampungan Pek Hoa San CUng lama kelamaan Shen Bok Hong tidak akan bisa menahan diri, kemungkinan besar ia sedang kumpulkan anak buahnya untuk mempersiapkan suatu serangan balasan yang dahsyat, urusan tak boleh terlambat lagi ayoh cepat kita pasang obor2 tersebut.

Sambil membawa obor2 tersebut Suma Kan segera melangkah keluar dengan langkah lebar.

Agaknya sejak tadi ia sudah mengukur jarak dari ruangan dengan pepohonan, dengan cepat keenam buah obor tadi sudah dipasang disekeliling ruangan, dengan demikian tiga tombak dari ruangan segera terang benderang bermandikan cahaya sinar.

Setelah menyaksikan jilatan api obor mencapai satu depa tingginya kecuali menjumpai angin puyuh serta hujan deras tak bakal padam, Be Boen Hwie segera padamkan lampu dikamar.

“Sialhkan kalian berdua duduk semedi dahulu” katanya sambil tertawa…. “Biar siauw-te berjaga lebih duluan”

Suma Kan tersenyum.

“Saat ini kentongan sudah berlalu, malam yang panjangpun tinggal dua jam lagi, aku rasa kesempatan bagi Shen Bok Hong untuk melancarkan serangan balasan hanya tinggal satu jam belaka”

Demikianlah ketiga orang itu secara bergilir melakukan penjagaan sedikitpun tidak berani teledor.

Siapa sangka kejadian benar2 berada diluar dugaan ketiga orang itu, hingga fajar menyingsing dan menyinari seluruh jagad tidak pernah terjadi suatu peristiwa apapun

Menyaksikan sinar sang surya telah menerangi seluruh permukaan, Suma Kan segera melangkah keluar dari ruangan dan memadamkan obor2 tersebut.

——————–

35

Siauw Ling serta Be Boen Hwie menguatirkan keadaan luka Hong Coe, mereka segera melangkah masuk ke dalam ruangan, tampak Hong Coe tidur dengan nyenyak diatas pembaringan, napasnya teratur dan wajahnya mulai memerah dadu sedikitpun tidak menunjukkan kalau ia baru sembuh dari sakit.

Menyaksikan keadaan itu Be Boen Hwie menghembuskan napas panjang ujarnya.

“Aaaai agaknya racun ular yang mengeram ditubuhnya telah punah. Tok Chiu Yok Ong benar2 memiliki kepandaian untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati.”

“Seandainya orang ini dapat tinggalkan jalan sesat kembali kejalan yang benar suka menolong umat manusia entah berapa banyak orang yang berhasil diselamatkan. Sayang seribu kali sayang wataknya angkuh tinggi hati dan tidak suka menolong manusia. sehingga me-nyia2kan kepandaian pertabibannya yang lihay,”

Sementara ber-cakap2, Suma Kan pun telah berjalan masuk terdengar ia menyambung.

“Kesempatan hidup gadis ini sudah pulih kembali. kalian berdua tak usah menguatirkan keselamatannya lagi, saat ini tinggal dua jam mendekati perjamuan siang nanti kita harus menggunakan kesempatan yang baik ini untuk beristirahat sebentar, kemungkinan besar di dalam perjamuan orang gagah yang diadakan siang nanti bakal terjadi suatu pertarungan sengit.”

“Tidak salah” Be Boen Hwie membenarkan, “Setelah Shen Bok Hong lepaskan kesempatan untuk menyerang kemarin malam, aku rasa disiang hari bolong macam begini tidak akan ia utus orang untuk melancarkan serangan kepada kita.”

Ketiga orang itu segera mengundurkan diri dari ruangan menutup pintu dan duduk bersemedi diruang tengah.

Tenaga lweekang Siauw Ling amat sempurna, tidak selang satu jam kemudian ia sudah segar kembali dan selesai bersemedi.

Ketika buka mata ia menjumpai kedua orang rekannya masih bersemedi agaknya sedang mencapai puncak terakhir, ia tidak ingin mengganggu mereka berdua maka badannya segera bangun berdiri.

Tiba-tiba tersengar langkah kaki manusia berkumandang datang ia cukup waspada. Pemuda itu kembali duduk ke atas tanah, pejam mata dan duduk tak berkutik.

Tampak Hong Coe dengan langkah yang menggiurkan lambat2 berjalan keluar dari ruangan, setibanya diruang tengah matanya mengawasi ketiga orang itu dengan mendelong kemudian menunduk dan termenung agaknya ia sedang mempertimbangkan suatu masalah besar.

Menyaksikan tingkah laku gadis itu hati Siauw Ling rada bergerak segera pikirnya, “Kemarin ia rela menempuh bahaya karena dipaksa oleh keadaan maka dengan pertaruhkan keselamatannya ia hantar kedua macam binatang berbisa itu ke dalam loteng Wang Hoa Loo setelah berada dibawah pengawasan Shen Bok Hong selama banyak tahun aku rasa kesadarannya sudah dikuasai, meski punya niat berhianat ia tak berani bertindak secara gegabah. Benarkah ia ada maksud tinggalkan jalan sesat kembali kejalan yang benar masih sulit diduga, ditinjau dari air mukanya jelas ia sedang merencanakan sesuatu, aku harus bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan….”

Karena berpikir demikian maka pemuda Siauw Ling tetap duduk tak berkutik sementara hawa murninya telah dipersiapkan diseluruh tubuh.

Beberapa saat lamanya Hong Coe berpikir tiba-tiba ia menghela napas dan berjalan ke arah Suma Kan, “Aaaah, kebiasaan lama memang sukar dirubah. kiranya manusia macam Giok Lan dan Kiem Lan jarang sekali ditemui dikolong langit,”

Ilmu jari Siauw Loo Sin Ci nya segera dipersiapkan asalkan Hong Coe memperlihatkan suatu tindakan yang tidak beres, ia akan melancarkan suatu serangan mematikan yang amat dahsyat.

Tetapi Hong Coe tidak berbuat apa2, ia mengitari tubuh Suma Kan dan berjalan keluar dari ruangan.

“Hendak berbuat apakah budak ini?” kembali Siauw Ling berpikir dengan sepasang alis berkerut.

Karena gadis itu tiada maksud mencelakai Be Boen Hwie serta Suma Kan maka Siauw Ling pun tidak melakukan suatu tindakan, menanti dayang itu sudah keluar dari pintu ia baru mengempos napas meloncat bangun dan melayang ke belakang ruangan dimana pemuda itu mengintip keluar.

Agaknya Hong Coe merasa ketakutan sekali, tingkah lakunya amat ber-hati2 sambil berjalan kedepan tiada hentinya ia menengok kekanan kekiri.

Siauw Ling semakin keheranan ditinjau dari keadaannya jelas gadis itu bukan berlalu karena hendak menghianati mereka tapi semestinya ia sadar betapa bahayanya keadaan sendiri apa gunanya menempuh bahaya dengan percuma?

Sementara ia masih termenung Hong Coe sudah masuk ke dalam barisan bunga dan lenyap dari pandangan.

“Aduuh celaka entah dayang ini sedang merencanakan siasat apa?”

Ia segera alihkan sinar matanya kedepatn, tampak diantara pepohonan bayangan manusia bergerak kian kemari. pakaian mereka ber-corak2, ada yang memakai pakaian ringkas ada pula yang memakai jubah panjang bahkan banyak diantara mereka menggembol senjata hatinya seketika lega segera pikirnya, “Pertemuan para enghiong yang diadakan siang ini sudah hampir tiba para enghiong hoohan dari pelbagai tempat mungkin sudah berkumpul semua orang2 macam ini paling sulit diatur tidak mungkin paksakan mereka untuk ikuti peraturan Tidak mungkin Shen Bok Hong melakukan suatu tindakan terhadap Hong Coe dihadapan orang banyak….”

Kurang lebih seperempat jam kemudian tiba-tiba nampak Hong Coe muncul kembali dari balik pepohonan dengan langkah ter-gesa2 ditangannya membawa baki kayu.

Kali ini langkahnya amat cepat boleh dikata gadis itu sudah berada didepan pintu.

Buru-buru Siauw Ling berkelebat mundur lima langkah ke belakang. ilmu meringankan tubuhnya amat sempurna dalam setiap gerak gerik sama sekali tidak membawa suar.

Hong Coe ter-buru-buru balik ke dalam kamar dengan hati kuatir dikejar orang setelah masuk ke dalam ruangan ia baru temukan Siauw Ling sedang berdiri empat depa dihadapannya. segera ia mengangguk dan tertawa.

“Be-heng apakah kau sudah lama mendusin?” tanyanya lirih.

“Oouw baru saja ketika nona hendak meninggalkan ruangan ini cayhe baru saja mendusin”

“Selembar jiwa Budak sebenarnya sudah mati terima kasih atas kesediaan cuwi sekalian menolong selembar jiwaku”

“Daripada mengatakan ia ditolong oleh Tok Chiu Yok Ong sehingga membuat hatinya tidak tenteram lebih baik peristiwa ini jangan diceritakan” pikir Siauw Ling dalam hati.

Maka ia lantas berkata, “Nona terluka karena harus menghantar binatang beracun tersebut seandainya kita gagal menolong jiwamu inilah baru terhitung peristiwa besar yang patut disesalkan”

Sinar matanya per-lahan-lahan dialihkan ke atas baki tersebut tampak diatas baki tersebut sudah tersedia empat macam sayur serta sepiring bakpao.

Hong Coe pun melirik sekejap ke atas baki kemudian ujarnya dengan suara lirih, “Menurut apa yang budak ketahui dalam pertemuan para enghiong yang diadakan siang nanti Shen Bok Hong telah mempersiapkan tujuh macam siasat untuk melukai para jago, kedudukan budak terlalu rendah aku cuma tahu salah satu diantaranya yaitu melepaskan racun secara diam2….”

Ia berpaling memeriksa sekejap keluar ruangan kemudian terusnya “

“Shen Bok Hong punya seorang sahabat karib ia telah mempersiapkan semacam obat beracun yang tidak berwarna maupun berbau. katanya racun tersebut merupakan semacam racun yang amat ganas.”

Dayang itu merandek sejenak untuk tukar napas lalu tambahnya.

“Katanya meski bubuk beracun itu ditelah seseorang, sang korban sama sekali tidak akan merasa tujuh hari kemudian racun tersebut baru mulai menunjukkan tanda-tanda bekerjanya secara lambat….”

“Apakah bubuk beracun itu dicampurkan ke dalam arak serta hidangan?

“Bagaimana cara mereka menyebarkan bubuk beracun itu dan bubuk beracun itu hendak disebarkan dimana budak tidak mendengar maka tidak berani bicara sembarangan. tetapi aku rasa tidak bakal lain dicampur dalam arak serta sayur. oleh karena itu budak mencuri dahulu sedikit sayur agar cuwi sekalian bersantap dahulu sampai kenyang, dengan demikian siang nanti tak usah ikut bersanatp sehingga bisa terhindar dari keracunan.”

Sementara kedua orang itu bercakap2 Be Boen Hwie serta Suma Kan telah selesai bersemedi. pertama2 Suma Kan meloncat bangun lebih dahulu sambil berkata.

“Nona darimana kau bisa tahu kalau makanan yang berhasil kau curi ini tidak beracun?”

“Tentang soal ini budak tidak tahu tetapi menurut dugaanku mereka tidak akan melepaskan racun pada saat ini.”

“Pada saat ini siauwte memang merasa rada lapar!” ujar Be BOen Hwie “Kalau dalam makanan ini memang tidak beracun, mari kita bersantap dahulu untu menangsal perut.”

Perlahan-lahan HOng Coe letakkan baki itu ke atas meja, lalu berkata.

“Setelah budak bangkit hidup kembali dari kematian perasaan jeriku terhadap suatu kematian sudah jah sekarang, tetapi terhadap Shen Toa Cungcu aku masih merasa amat takut sekali.”

“Kiem Lan, Giok Lan pun demikian adanya….” seru Siaw Ling tapi ia segera sadar dan cepat membungkam.

“Apa? saudara Be juga kenal dengan enci Kiem Lan serta enci Giok Lan?” tanya Hong Coe cepat.

“Berada dalam keadaan seperti ini, kalau aku tutup mulut ia pasti curiga, kini sudah terlanjur bicara lebih baik diteruskan saja….”

Karena berpikir demikian Siauw Ling lantas mendehem dan menyahut, “Tidak salah, kedua orang nona itu sering berada sama2 cayhe!”

“Setelah kedua orang nona itu meninggalkan perkampungan Pek Hoa San Cung apakah kedudukan mereka masih tetap sebagai seorang dayang?”

“Aduuuh celaka” kembali Siauw Ling berpikir. “Kalau bicara lagi rahasia ini akan terbongkar karena ia lihat kedudukanku adalah seorang pelayan maka dianggapnya Giok Lan serta Kiem Lan tentu pula sebagai seorang dayang karena sering berkumpul dengan aku”

Agaknya Be Boen Hwie mengerti kesulitan dari Siauw Ling, dengan cepat ia menimbrung, “Walaupun kedua orang nona itu selalu merendahkan diri dengan menyebut diri sebagai dayang namun kami semua anggap mereka sebagai saudara sekandung”

“Mungkinkah kedua orang nona Lan itu ikut serta menghadiri pertemuan orang gagah yang akan dibuka ini hari?”

“Mereka tidak mungkin datang” sahut Siauw Ling cepat.

“Sayang…. sayang sekali!”

“Apa yang patut disayangkan?” Be Boen Hwie keheranan.

“Diantara rombongan dayang yang berada di dalam perkampungan Pek Hoa San Cung nama mereka berdua paling terkenal, ilmu silatnyapun paling lihay dalam seratus orang saudara senasib setiap orang menaruh rasa hormat kepadanya, kalau kedua orang nona Lan itu ikut datang maka gerak gerik kita bakal leluasa”

“Oouw tidak kusangka Kiem Lan serta Giok Lan mempunyai kegunaan sebegitu besar?” pikir Siauw Ling

Dalam pada itu Hong Coe telah melanjutkan kembali kata2nya, “Seandainya nona Kiem Lan serta Giok Lan berseru mengajak kita berontak maka diantara seratus orang dayang ada separuh bagian akan ikuti dirinya”

Walaupun Siauw Ling dan Be Boen Hwie bekerja sama menghadapi musuh sebenarnya dalam hati kecil masing-masing mempunyai rencana yang tersendiri.

Tetapi setelah mengalami peristiwa besar dalam perjamuan kemarin malam masing masing pihak malah rada was was walaupun kerangkengan belum terhapus sama sekali, namun rencana mereka tidak berani diutarakan secara gegabah dalam keadaan seperti ini.

Sinar mata Hong Coe berputar ia menatap wajah Be Boen Hwie tajam2. kembali tanyanya

“Kiem Lan dan Giok Lan sekarang berada di mana?”

Selama ini ia selalu mengira Siauw Ling hanya seorang pelayan belaka, sulit baginya untuk mengetahui persoalan ini maka ia tidak bertanya secara langsung kepada pemuda itu.

Pertama Be Boen Hwie tertegun lebih dahulu kemudian tertawa hambar.

“Tempat persembunyian dari kedua orang nona ini sulit bagiku untuk mengutarakan keluar. harap nona Hong suka memaafkan diriku.”

Dari dalam saku ia ambil keluar sebuah sumpit terbuat dari gading, setelah dicobakan ke atas makanan yang dibawa Hong Coe dan membuktikan bahwa makanan tadi benar2 tidak beracun mereka bertiga barulah mulai bersantap.

Setengah harian lewat dengan cepatnya, dalam sekejap mata siang hari telah menjelang datang.

Saat inilah pertemuan orang gagah yang diselenggarakan Shen Bok Hong akan dibuka.

Dari atas loteng Wang Hoa Loo terdengar suara genta dipukul bertalu2 seorang lelaki berbaju ringkas warna hijau muncul secara tergesa2, orang itu berhentikurang lebih empat lima langkah dari pintu, sambi lmenjura serunya

“Apakah Beya ada?”

“Ada urusan apa” tanya Be Boen Hwie sambil melangkah keluar dari ruangan.

“Hamba mendapat perintah untuk mengundang Be Toa ya, Be Cong Piauw Pacu yang menguasahi propinsi Hoo-lam, Auw-pak Auw Lam serta Kiang-si untuk….”

“Cayhelah orangnya….”

“Dalam ruangan seratus bunga telah disediakan kursi buat Be-ya, hamba mendapat perintah untuk mengundang Be-ya menghadiri perjamuan”

“Emm sudah tahu,”

Orang berbaju itu segera menjura putar badan dan berlalu.

Sepeninggalnya orang itu Be Boen Hwie melirik sekejap ke arah Hong Coe lantas bertanya.

“Nona hendak menghadiri perjamuan bersama kami? ataukah tetap menanti dalam ruangan ini”

Tiba-tiba Hong Coe jatuhkan diri berlutut diatas tanah seraya menganggukkan kepalanya ia berkata, “Mendapat kasih sayang dari Be-ya budak merasa amat berterima kasih

“Ada perkataan silahkan diutarakan sambil berdiri” kata Be Boen Hwie sambil balas memberi hormat. “Harap nona segera bangun penghormatan sebesar ini tak berani cayhe terima”

Per-lahan-lahan Hong Coe bangun berdiri lalu berkata, “Sekalipun semasa hidup budak tak bisa mengikuti disisi Be-ya dan mendengarkan perintahmu semoga setelah mati aku bisa selalu berada disisi Be-ya….”

“Bukankah nona berada dalam keadaan baik2? mengapa mengucapkan kata2 macam itu?”

Hong Coe tertawa getir

“Perduli budak mengikuti Be-ya menghadiri perjamuan atau tetap berdiam disini, aku tiak akan lolos dari kematian, tetapi sebelum budak menemui ajalnya rahasia hatiku bisa kuutarakan meski harus mati aku akan mati dengan mata meram”

“Bagaimana akhir dari pertemuan orang gagah yang diselenggarakan hari ini aku sendiripun tak berani memastikan mengapa nona ucapkan kata2 semacam itu? sudahlah jangan pikirkan yangbukan2 lebih dahulu”

“Seandainya nona benar2 ada maksud tinggalkan jalan sesat kembali kejalan yang benar harap kau suka mengikuti kami sekalian menghadiri pertemuan orang gagah ini” tiba-tiba Suma Kan menimbrung dari samping. “Meski akhirnya mati kita mati dalam keadaan yang terhormat”

“Ketika untuk pertama kali Kiem Lan serta Giok Lan hendak melepaskan diri dari perkampuangn Pek Hoa San Cung ia bersikap seperti nona saat ini” sambung Siauw Ling “Tetapi bukankah sampai sekarang mereka masih tetap hidup dengan sehat walafiat”

“Aai….” Hong Coe menghela napas panjang. “Cuwi sekalian menaruh perhatian besar buat keselamatan budak hal ini membuat aku merasa sangat terharu sekali”

“Nona kau tak usah takut2 ikutilah kami menghadiri pertemuan itu dengan nyali besar” kata Suma Kan penuh semangat.

Hong Coe termenung sejenak akhirnya sambil menggertak gigi ia mengangguk.

“Paling batner kita tak akan lolos dari kata mati, baiklah, akan kupertaruhkan selembar jiwaku untuk mengikuti kalian.”

Suma Kan tertawa,

“Tiak bakal terjadi sesuatu, raut muka nona bukan raut muka seorang manusia yang berumur pendek, cayhe berani menjamin bahwa kau tidak akan menjumpai bahaya kecuali terkejut”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang samtar berkumandang datang. seorang lelaki berbaju hijau telah muncul didepan pintu. dan berteriak lantang.

“Perjamuan segera dibuka harap Be Cong Piauw Pacu segera menghadiri pertemuanini!”

Mari kita segera berangkat!” ajak Be Boen Hwie sambil tertawa. ia segera melangkah keluar lebih dulu.

“Silahkan nona mengikuti dibelakang Be Cong Piauw Pacu, cayhe akan melindungi dirimu dari belakang” ujarnya Suma Kan menambahkan,

Kena dibakar hatinya oleh beberapa orang itu nyali Hong Coe jadi besar ia segera mengikuti dibelakang Be Boen Hwie berjalan keluar disusul Suma Kan dan terakhir Siauw Ling!

Setelah melewati kebun bunga yang lebat, sampailah mereka disebuah ruangan yang luas dan megah.

Diatas pintu masuk tergantung sebuah papan naman dengan empat tulisan besar berwarna emas tulisan itu berbunyi Peremuan Besar Para Enghiong,

Ruangan ini dibangun secara darurat, tingginya dua tombak dengan luas tujuh delapan depa persegi tikar hijau menutupi atap dengan lapisan kain putih, empat puluh delapan tonggak besar menahan bangunan darurat tersebut dengan kokohnya.

Dalam ruangan arak dan sayur telah dihidangkan sebagian besar undangan sudah harid ditempatnya masing-masing.

Seorang dayang berbaju hijau dengan sulaman bunga merah didepan dadanya segera menyambut kedatangan mereka.

“Tolong tanya siapa nama anda?” ia bertanya lirih.

“Be Boen Hwie!”

“Ooouw kiranya Be Toa-ya. Be Cong Piauw Pacu yang menguasai propinsi Hoo lam, Auw-Pak serta Kiang Si.” seru dayang berbaju hijau itu sambil tertawa. sinar matanya beralih ke atas wajah Hong Coe tiba-tiba ia tertegun

“Aaah…. enci Hong Coe?”

“Benar aku adanya!”

“Buat apa enci datang kemari?”

“Mengikuti Be Toa-ya sama2 menghadiri pertemuan ini” jawab Hong Coe sambi tertawa getir.

Sepasang alis gadis berbaju hijau itu berkerut wajahnya kelihatan bimbang dan ragu, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia membungkam. putar badan dan membawa jalan.

Sambil berjalan masuk ke dalam ruangan sinar mata Siauw Ling berputar tajam kesekeliling tempat itu ia tidak temukan Tiong Chiu Siang Ku serta Kiem Lan berada disana tapi teringat bahwa kemungkinan besar mereka telah menyaru maka iapun tidak berpikir lebih jauh.

Gadis berbaju hijau itu membawa Be Boen Hwie sekalian menuju kemeja perjamuan nomor dua dari kiri dan berkata lirih, “Disinilah tempat duduk Be-ya!”

“Terima kasih nona!” Be Boen Hwie berjalan kedepan dan ambil tempat duduk.

Setelah menjura gadis berbaju hijau itu segera mengundurkan diri.

Suma Kan serta Siauw Lingpun secara berpisah ambil tempat duduk hanya Hong Coe seorang kelihatan ragu2, ia ingin ikut duduk namun tidak berani melaksanakan niatnya.

“Nona tak usah takut, cepat ambil tempat duduk” bisik Be Boen Hwie lirih.

Hong Coe pejam mata dan segera ambil tempat duduk.

“Budak ada satu persoalan ingin mohon bantuan kalian bertiga!” katanya kemudian.

“Urusan apa?”

“Seandainya jejak budak diketahui Shen Toa Cungcu harap cuwi sekalian jangan membiarkan ia berhasil menawan diriku dalam keadaan hidup2. Aaai seandainya sampai terjadi hal ini mungkin kekuatan untu bunuh diripun tak punya lagi harap kalian bertiga suka membantu diriku”

“Bantu kau mencari mati?” Suma Kan menegaskan.

“Benar, bantu aku agar cepat-cepat mati daripada kena ditangkap dan merasakan siksaan dari orang2 perkampungan Pek Hoa San Cung….”

Sementara perkataannya belum selesai diutarakan dalam ruangan terjadi kegaduhan yang segera memotong ucapan dari Hong Coe.

Ketika semua orang angkat kepala tampaklah Shen Bok Hong dengan kenakan pakaian ala siucay bertindak masuk ke dalam ruangan. tiada hentinya ia memberi hormat kepada hadirin.

Badannya yang bongkok sama sekali tidak mengurangi wibawa Shen Bok Hong terhadap orang lain langkahnya tetap mantap dan gagah.

Cioe Cau Liong mengikuti dari belakang shen Bok Hong tiada hentinya pula ia menjura ke arah para hadirin.

“Cuwi sekalian suka memberi muka kepada kami banyak2 terima kasih” serunya berulang kali.

Beruntung Kiem Hoa Hujien serta Tok Chiu Yok Ong pun munculkan diri dari dalam ruangan rombongan tersebut ditututp dengan munculnya seorang pemuda tampan yang menyoren pedang dipunggungnya.

“Tentulah orang ini yang menyaru sebagai diriku….” Siauw Ling segera berpikir dalam hatinya.

Dalam pada itu Shen Bok Hong telah ambil tempat duduk dikursi utama disusul Kiem Hoa Hujien sekalian duduk disisinya.

Perlahan-lahan ia angkat cawan arak, lalu kepada para jago yang hadir dalam ruangan itu ujarnya

“Cuwi sekalian sudai memberi muka kepada orang she shen, siauwte merasa amat berterima kasih harap kalian suka meneguk habis secawan arak ini sebagai rasa terima kasihku.”

Habis berkata sekali teguk ia habiskan isi cawan tersebut.

Para jago yang hadir dalam ruangan sama2 angkat cawan araknya masing-masing, namun yang benar2 meneguk arak tersebut sampai habis hanya sedikit sekali. sebagian besar cuma menempelkan cawan tadi diatas bibir pura2 menunjukkan gerakan seseorang yang lagi meneguk arak, namun dengan cepat arak itu diletakkan kembali ke atas meja.

Haruslah diketahui sebelum Shen Bok Hong mengasingkan diri di dalam perkampungan Pek Hoa San Cung, nama kejinya sudah tersohor di seluruh kolong langit, baik orang2 dari kalangan Hekto maupun dari kalangan Pekro, swtiap kali mengungkap nama sibayangan berdarah Shen Bok Hong tentu merasa pusing kepala dan mengalah tiga bagian kepadanya.

Dengan matanya yang tajam Shen Bok Hong menyapu wajah para jago yang hadir dalam ruangan ketika menyeksikan cuma ada tiga lima orang belaka yang benar2 meneguk habis isi cawan tersebut ia lantas tersenyum.

“Harap kalian suka makan dan minum dengan hati lega sebelum cuwi sekalian meneguk arak sampai mabok dan sayur belum dihidangkan sampai bermacam lima aku Shen Bok Hong tidak akan melepaskan racun di dalam sayur serta arak tersebut”

Maksud ucapannya setelah arak dan hidangan dipersembahkan maka ia akan mulai melepaskan racun.

“Ooouw…. jadi maksudh Shen-heng kita cuma boleh mencicipi sayuran serta arak wangi ini belaka dan tidak boleh bersantap dengan se-puas2nya?” tegur seseorang dengan suara berat.

Siauw Ling berpaling, ia temukan orang yang barusan bicara adalah seorang lelaki berjubah ungu berjenggot putih dan berdiri sambil mencekal cawan arak dengan gagahnya.

Shen Bok Hong tertawa hambar.

“Hal ini harus ditinjau dulu orang itu anggap aku orang she Shen sebagai sahabat atau sebagai musuh?”

“Sudah dua puluh tahun lamanya aku tak pernah menginjakkan kakinya dalam dunia persilatan, kali ini aku hadir atas undanganmu sedikit banyak aku telah memeberi muka kepadamu….”

“Terima kasih, terima kasih. Gan-heng ada petunjuk apa? silahkan diutarakan secara terus terang.”

Siauw Ling yang ikut mendengar merasa harinya rada bergerak, segera pikirnya.

“Shen Bok Hong benar2 congkak dan tinggi hati, dalam setiap perkataannya selalu tak mau berlaku sungkan kepada orang lain. tetapi terhadap kakek tua berjenggot putih berjubah ungu dan seh Gan ini ia bersikap hormat, tentu orang ini adalah seorang jago yangluar biasa.”

Terdengar kakek berjubah ungu itu berkata “Seandainya dalam sayur dan arak sudah dicampuri dengan racun, apakah racun itu pu bisa membedakan mana sahabat maana musuh?”

“Haaa…. haaa…. maksud Ganheng apakah ingin memaksa siauwte untuk membeberkan siasat serta rencana yang terkandung dalam hatiku kepada seluruh jago gagah dikolong langit?”

“Dalam bekerja Shen-heng selalu bersiap sedia terhadap segala bencana yang kemungkinan terjadi meski kau bongkar rahasia tersebut aku rasa belum tentu akan mencelakai semua orang.”

“Haaaa…. haa…. Gan-heng benar2 kau memahami watakku?”

Orang she Shen itu merandek sejenak kemudian ujarnya

“Seandainya orang itu bersahabat dengan aku orang she Shen maka tidak sepantasya kalau ia menaruh curiga apakah dalam arak serta sayur itu beracun atau tidak meski ada racun sepantasnya ia percaya atas kemampuan aku orang she Shen untuk mengobatinya, lalu apa halanannya kalau sampai benar keracunan?”

“Kalau orang itu berpihak sebagai musuh!”

“Tidak sedikit orang kangouw yang memahami akan cara menggunakan racun, kalau dia adalah musuh dari aku orang she Shen, maka sepantasnya kalau ia bersiap siaga terhadap segala kemungkinan.

Lalu apakah dalam arak serta sayuran yang dihidangkan saat ini telah dicampuri racun.”

“Harap Gan-heng berlega hati, dalam arak serta sayur dihidangkan saat ini akubelum perintahkan untuk dicampuri dengan racun. silahkan Gan-heng meneguk dengan hati lega.”

Tiba-tiba si kakek berbaju ungu itu mendongak dan meneguk habis isi cawan tersebut kemudian duduk kembali dan membungkam.

Siauw Ling secara diam2 mengawasi situasi dalam ruangan dapat temukan bahwa sebagian besar jago yang hadir dalam ruangan itu pada menaruh rasa sikap hormat dan kagum kepada kakek berjenggot putih tadi, tanpa terasa ia lantas berpikir,

“Entah siapakah si kakek berjubah ungu berjenggot putih ini? didengar dari ucapannya mungkin keududkan orang ini hampir seimbang dengan kedudukan Shen Bok Hong dalam kalangan persilatan,

Tiba-tiba sebuah tangan menongol datang dari balik meja menangkap tangan kiri Siauw Ling

“Siauw-heng” tersengar orang itu menegur lirih

“Jangan takut?”

Siauw Ling berpaling, tampak olehnya sinar matanya Shen Bok Hong tajam-tajam sedang menatap wajah Hong Coe tajam2, dari sikap maupun perubahan air mukanya menunjukkan suatu wibawa yang luar biasa.

Meski Hong Coe telah menghindarkan diri dari bentrokan mata dengan Shen Bok Hong namun tangan kirinya yang mencekal Siauw Ling gemertar keras tiada hentinya jelas ia merasa teramat takut sekali.

“Apakah disana Hong Coe? terdengar suara Shen Bok Hong menegur dengan suara serak.

“Jangan perdulikan dirinya. tunjukkan sikap se-olah2 berlagak pilon dan tidak tahu” bisik Siauw Ling cepat,

Siapa sangka secara tiba-tiba Hong Coe melepaskan diri dari cekalan Siauw Ling lalu lambat2 meninggalkan tempat duduk dan jatuhkan diri berlutut dihadapan Toa Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung itu.

“Budak benar adalah Hong Coe!” kepalanya ditundukkan rendah2 dan tak berani diangkat kembali

“Kau sibudak ingusan mau apa datang kemari?” tegur Shen Bok Hong sambi tertawa hambar

“Budak, budak….” untuk sesaat Hong Coe dibikin gelagapan, setengah harian lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun,

“Ayoh cepat undurkan diri dari ruangan ini kalau kau tetap berada disini bukankah para enghiong dari seluruh kolong langit akan mentertawakan kita dari perkampungan Pek Hoa San Cung sama sekali tidak kenal peraturan?”

Hong Coe mengiakan, per-lahan-lahan ia bangun berdiri melirik sekejap ke arah Be Boen Hwie dan melangkah keluar dari ruangan.

Menyaksikan hal tersebut diatas Be Boen Hwie kerutkan dahi segera ia berpikir, “Tak kusangka nyali budak ini demikian kecil dan tak berguna, sekalipun ingin melindungi dirinya sulit bagiku untuk mencari alasan yang tepat….”

Tampak dayang itu berjalan dua langkah kedepan lalu berhenti, putar badan dan kembali jatuhkan diri berlutut.

“Budak ada satu persoalan ingin dilaporkan kepada cungcu!” katanya,

“Sudah pergilah dulu!” tukas Shen Bok Hong sambil ulapkan tangannya. “Ada laporan sampaikan saja dikemudian hari!”

“Budak telah menerima perhatian dari Be-ya dimana beliau sudi menerima diriku harap Cungcu suka mengabulkan permintaannya ini”

Mendengar ucapan itu Shen Bok Hong segera berpaling menatap wajah Be Boen Hwie tajam2.

“Be-heng benarkah perkataan dari budak ini?”

Merah padam selembar wajah Be Boen Hwie, lama sekali ia tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Haruslah diketahui apabila ia mengaku persoalan ini dihadapan para enghiong maka perbuatannya sama artinya telah mengakui dosa2 sendiri menggaet dayang dari perkampungan Pek Hoa San Cung untuk berhianat dengan majikannya.

Ia ada maksud menampik tetapi menyaksikan wajah Hong Coe yang sedih dan mengenaskan itu ia jadi bungkam.

Sementara itu Shen Bok Hong telah mendongak tertawa ter-bahak2.

“Be Cong Piauw Pacu bukanmanusia sembarangan mana ia sudi kesemsem dengan seorang dayang dari perkampungan Pek Hoa San Cung kami, sudahlah kau tak usah pikirkan yang bukan2, ayoh cepat undurkan diri dari ruangan ini”

“Tapi Toa Cungcu telah berjanji….”

“Tidak salah aku memang berkata apabila diantara orang gagah yang kuundang kali ini ada yang tertarik dengan salah satu diantara kalian. maka kalian boleh langsung meminangkepada aku Shen Bok Hong bagaimana juga hal ini harus tergantung pula apakah orang lian tertarik kepadamu atau tidak, apakah kau suruhpun cung cu jadi mak comblang? kini Be Cong Piauw Pacu sama sekali tidak bicara Hm? tentu kau sendirilah yang mengarang cerita bohong ini, ayoh segera undurkan diri.”

Perlahan-lahan Hong Coe bangun berdiri, sementara siap putar badan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar Be Boen Hwie berseru lantang.

“Nona tunggu sebentar.”

Sinar mata para jago sama2 dialihkan ke arah Be bOen Hwie agaknya semua orang ingin melihat bagaimana caranya ia selesaikan situasi yang serba runyam ini.

Pada waktu itu selembar wajah Be Boen Hwie telah berubah merah padam tetapi ia keraskan kepala bangun berdiri juga, kepada Shen Bok Hong sambi menjura katanya.

“Apabila Toa Cungcu sudi menghadiahkan nona Hong kepada cayhe, siauwte merasa sangat berterima kasih?”

Shen Bok Hong tersenyum!

“Budak sadar bukan pasangan yang setimpal bagi Be-ya” buru-buru Hong Coe menukas. “Budak rela jadi gundik.”

Shen Bok Hong tidak menggubris ucapannya, ia menatap wajah Be Boen Hwie dan bertanya.

“Seandainya Be-heng mencintai dayang ini seharusnya sejak semula kau sampaikan niatmu ini kepada aku orang she Shen.”

Ia mendongak dan tertawa terbahak2.

“Haaa…. haaa…. apabila ia sudah jadi nyonya Be Cong Piauw Pacu aku Shen Bok Hong pun tidak boleh memandang dirinya sebagai seorang dayang lagi.”

Sindiran serta ejekan ini benar2 tajam, bagaikan sebilah pisau belati menusuk ke dalam hati Be Boen Hwie, lelaki ini bungkam dalam seibu bahasa, namun ia cukup sabar meski dihina tetap tenang.

Suasana dalam ruangan berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, seakan2 pikiran para jago sedang dicurahkan untuk mempertimbangkan peristiwa ini!

Selembar wajah Be Boen Hwie telah berubah merah padam, sinar matanya menyapu sekejap keseluruh hadirin lalu berpikir, “Aku Be Boen Hwie adalah seorang enghiong yang dihormati segala lapisan golongan dalam dunia persilatan mana boleh pinang seorang dayang dari perkampungan Pek Hoa San Cung sebagai istri. Seandainya peristiwa ini sampai tersiar ke dalam dunia kangouw bukankah aku akan diolok2 dan ditertawakan orang banyak….”

Kembali ia akan menampik tapi wajah Hong Coe yang murung dan mengenaskan membuat hatinya tidak tega untuk berbuat demikian.

Terdengar Shen Bok Hong melanjutkan kata2nya, “Be-heng adalah seorang jago ternama dalam dunia persilatan, perkataannya berat bagaikan bukit Thay-san aku percaya ia tidak akan membohongi seorang dayangku. Hmm! tentu dayang ini sendirilah yang bicara sembarangan dan ada maksud menghina nama baik Be-heng, jiwanya tak boleh diampuni lagi.”

Ujung baju kanannya dikebaskan keluar segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat segera meluncur keluar.

“Aku Be Boen Hwie adalah seorang enghiong hoohan, seorang lelaki sejati tidak sepantasnya sebagai seorang lelaki sejati hanya berpeluk tangan belaka menyaksikan seorang nona cilik terancam mara bahaya” pikir orang she Be itu kembali.

Segera ia membentak keras, “Tunggu sebentar!” telapaknya didorong iapun melancarkan sebuah pukulan untuk menghalau datangnya ancaman tersebut.

Tenaga dalam Shen Bok Hong telah mencapai puncak kesempurnaan mau menyerang atau menarik kembali tenaganya telah berjalan sesuai dengan kemauan hatinya. Mendengar bentakan itu pergelangan kanannya segera ditarik ke belakang menarik balik tenaga serangannya mentah2.

“Be-heng ada petunjuk apa?” tanyanya sambil tertawa.

“Mewakili nona Hong, cayhe mohonkan ampun dari Shen Toa Cungcu!”

“Be-heng apakah kau tidak merasa agak keterlaluan mencampuri urusanku?” tegur Shen Bok Hong sambil tertawa hambar. “Budak itu adalah dayang dari perkampungan Pek Hoa San Cung kami, hendak kuhukum dengan cara apapun bukan urusanmu. Be-heng tak usah banyak bertanya….”

Ia merandek lalu tertawa terbahak2, tambahnya, “Tentu saja apabila Be-heng ada maksud memperistri dirinya cayhe bisa bersikap lain!”

“Berada dihadapan para enghiong Hoohan dari kolong langit, apabila aku sanggupi persoalan ini maka aku harus memperistri dirinya” pikir Be Boen Hwie “Kalau kutolak kemungkinan besar jiwa Hong Coe tak tertolong lagi”

Untuk sesaat ia merasa serba salah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sementara itu air mata telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah Hong Coe, terdengar ia berkata dengan nada sedih, “Aku hanya seorang perempuan rendah yang tak berguna, tidak seimbang kalau dijodohkan dengan Be-ya. Be Toa-ya harap kau tak usah mengurusi diriku lagi!”

Dia adalah seorang nona cilik yang berusia enam tujuh belasan tetapi dikatakan dirinya adalah seorang perempuan rendah ucapan ini benar2 mengejutkan para hadirin, sinar mata para jago segera dialihkan semua ke arahnya.

Hong Coe yang lemah lembut tiba-tiba jadi gagah dan pemberani, dengan semangat menyala2 ia angkat kepala, menuding ke arah Shen Bok HOng dan mulai memaki, “Shen Bok Hong! hukuman paling berat dalam perkampungan Pek Hoa San Cung tidak lebih adalah kematian belaka”

“Budak cilik kau sudah edan!” bentak Shen Bok Hong.

Ditengah bentakan itu tangan kirinya diayun kedepan melancarkan sebuah totokan dahsyat.

Sejak semula Suma Kan telah bersiap sedia menyaksikan Shwn Bok Hong melancarkan serangan, iapun segera mengirim sebuah pukulan menghalau datangnya serangan tersebut.

“Mengapa tidak membiarkan dia selesaikan dulu perkataannya?” ia berseru.

“Urusan rumah tangga perkampungan Pek HOa San Cung tak perlu dicampuri orang luar!”

“Hm! seluruh jago dari kolong langit pada berkumpul semua ditempat ini meski cayhe tidak ikut campur mungkin orang lai akan turun tangan juga”

Agaknya penghianatan dari Hong Coe benar2 merupakan suatu kejadian diluar dugaan Shen Bok Hong meski dia adalah seorang cerdik dan banyak akal kali ini ia tak dapat tenangkan diri.

Ia sadar apabila membiarkan Hong Coe bicara lebih lanjut maka satu2nya jalan hanya membinasakan dayang tersebut.

Tanpa menggubris diri Suma Kan lagi ujung bajunya segera dikebas keluar, dua rentetan cahaya kebiru2an segera meluncur ke arah tubuh Hong Coe.

Suma Kan merasa amat cepat ia sambar sebuah teko arak dan buru-buru dilempar kedepan sementara tubuhnya pun ikut bergerak menyambar ke arah Hong Coe!

Disaat Suma Kan melemparkan teko arak tadi ketengah udara, tiba-tiba muncul dua rentetan cahaya berkilat menyambar keluar menyambut dua rentetan cahaya biru tersebut.

“Traaaaang traaang….!”ditengah suara berdentingan keras empat batang senjata rahasia sama2 jatuh rontok didepan tubuh Hong Coe.

Keempat batang senjata rahasia itu bukan lain adalah dua batang teratai perak kecil serta dua batang jarum beracun yang panjangnya dua coen lebih, yang lebih hebat lagi jarum tadi berhasil menancap di dalam teratai perak tersebut.

Menyaksikan kehebatan itu para jago sama2 terkesiap pikir mereka hampir berbareng,

“Kekuatan Shen Bok Hong betul2 luar biasa ternyata ia berhasil menembusi teratai perak tersebut dengan dua batang jarum beracun”

“Braaak” ketika itulah teko arak yang dilempar Suma Kan menyambar lewat dari hadapan Hong Coe.

Menantikan Suma Kan tiba-tiba disisi badan gadis tersebut dua batang jarum beracun dari Shen BOk Hong telah dipukul rontok maka ia enjotkan badan meloncat balik ketempat duduknya semula.

Sepasang mata Shen Bok Hong berkilat, ia menengok kekanan kekiri dengan seksama, agaknya ia sedang mencari siapakah jago yang melepaskan serangan teratai perak tersebut.

“Sungguh tidak lemah kepandaian orang itu” pikir Be Boen Hwie “Ia bisa melepaskan dua batang teratai perak tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, kemudian menyampok rontok jarum beracun dari Shen Bok Hong entah siapakah dia.”

Sementara ia masih melamun, tiba-tiba terasa desingan angin tajan menyambar datang, tahu2 serentetan cahaya putih telah mengancam dihadapannya.

Ternyata teko arak yang dilempar Suma Kan tadi, entah terhantam oleh kekuatan siapa, saat ini mental balik dan menerjang ke arah Be Boen Hwie. Kipas ditangan orang she Be itu segera dipentangkan lebar2 dengan salurkan hawa murni ia sampok teko tadi.

Teko arak yang sedang melayang datang secara tiba-tiba terhadang oleh selapis tenaga yang amat dahsyat benda itu segera berputar ditengah udara lalu berputar arah dan melayang ke arah Shen Bok Hong.

Agaknya Toa Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San Cung telah dibikin gusar oleh tingkah laku tetamunya, ia segera berseru, “Saudara yang melepaskan teratai perak tadi benar2 membuat siauwte merasa kagum, hanya sayang ia bertindak sembunyi2 tidak mirip perbuatan seorang enghiong hoohan!”

Sembari berkata dengan suatu gerakan yang ringan ia kebas teko arak yang sedang mengancam ke arahnya.

Termakan sampokan tersebut, teko tadi berputar kembali ke udara sebanyak dua kali lalu meluncur kedepan menyambar tujuh, delapan meja perjamuan dengan membawa desiran angin tajam.
------
Serial Pedang Kayu Harum sudah beres semua diupload gan, untuk membacanya silahkan klik disini 😉🤗
------

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 20"

Post a Comment