Bayangan Berdarah Jilid 18

Mode Malam
JILID 18

Hanya syarat yang paling berat adalah mereka harus mengorbankan masa mudanya, mengorbankan waktu yang paling berharga dimasa mudanya buat majikan.

Karena itu, sepasang dayang pengiring ciangbunjien keluarga Tong selalu mendapat penghargaan serta rasa hormat dari seluruh anggota keluarga.

Sepasang dayang dari ciangbunjien ini bukannya sama sekali tidak boleh menikah hanya sebelum kawin dia harus mendapat ijin dahulu dari ciangbunjiennya kemudian mengembalikan seluruh ilmu silat yang pernah dipelajari.

Per-lahan-lahan Be Boen Hwie angkat kepalanya tampak dari sebelah Utara lambat2 muncul seorang nenek tua berambut uban berbaju hijau dengan membawa sebuah tongkat.

Disisi kiri kanan nenek itu mengikuti dua orang dara cantik berusia dua puluh tahunan berbaju ringkas warna biru dan menggembol pedang.

Dayang cilik pembawa jalan segera menghantar nenek itu ambil tempat duduk sementara sepasang dayang berbaju biru menyoren pedang itu tidak duduk sebaliknya satu dikiri yang lain dikanan berdiri dibelakang Tong Loo Thay-thay.

Dalam pada itu seruan lantang kembali berkumandang datang

“Hek, Pek Jie-loo dari gunung Tiang-pek san tiba!”

Siauw Ling mengerutkan alisnya, ia berpikir.

“Macam apalagi manusia yang bernama Hek Pek Jie-loo ini? akan kulihat lebih seksama lagi”

Ketika ia menengok, tiba-tiba ditemuinya air muka Be Boen Hwie memancarkan rasa terperanjat, pikirannya segera bergerak, pikirnya.

“Aaah orang she Be itupun kelihatan kaget jelas manusia yang disebut Hek Pek Jie-loo adalah seorang jagoan Bu-lim yang tersohor”

Ketika ia melongok lagi kedepan, tampak seorang dayang cantik mengiringi dua orang manusia yang mengenakan pakaian berbeda lambat2 berjalan mendekat.

Orang yang ada disebelah kiri memakai baju serba putih dengan topi warna putih, perawakannya tinggi jenggotnya putih memanjang sedada.

Sedangkan orang yang ada disebelah kanan memakai baju serba hitam, topinya menuruti dari kepala sampai leher. yang terlihat cuma sepasang mata serta hidungnya.

“Mungkin kedua orang inilah yang disebut Pek Jie Loo” pikir Siauw Ling.

Dibawah petunjuk dayang cantik tadi. |Hek Pek Jie Loo ambil tempat duduk.

Irama musik yang berkumandang dari balik bebungahan tiba-tiba berubah, dari irama lembut kini berubah menjadi cepat dan keras. Dari atas kain yang menjulur dari puncak loteng tadi mendadak muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur kebawah menginjak kain angkin tadi.

Cukup meninjau dari ilmu meringankan tubuh serta nyalinya. seluruh hadirin dibikin terkesiap bayangan manusia itu laksana kilat menyambar kebawah lapat2 mulai kelihatan jelas bentuk bayangan, dia adalah seorang lelaki setengah baya yang berperawakan tinggi besar, sepasang keningnya menonjol jauh kedepan dengan alis tebal, mulut besar bajunya potongan sastrawan dengan jenggot hitam terurai sepanjang dada.

Orang ini bukan lain adalah Toa cungcu dari perkampungan Seratus Bunga, si bayangan berdarah Shen Bok Hong.

Ketika berada kurang lebih tiga tombak dari permukaan tanah, mendadak Shen Bok Hong melangkah setindak kedepan, badannya meninggalkan angkin tadi dan melayang turun kebawah bagaikan burung elang.

Siauw Ling mengerti sinar mata orang she Shen ini amat tajam dan teliti ia tak berani banyak memandang buru-buru kepalanya melengos kesamping.

Tampak Shen Bok Hong menjura kepada para hadirin kemudian berseru.

“Tjuwi sekalian jauh2 datang kemari dan suka memenuhi undangan aku orang she Shen, untuk budi ini siauwte mengucapkan banyak terima kasih.

Para jago yang ada dikalangan sebagian besar bangun berdiri untuk balas memberi hormat.

Perlahan-lahan Toa Cungcu dari perkampungan seratus bunga ini menempati kursi utama sinar matanya menyapu empat penjuru kemudian ujarnya kembali.

“Masih ada beberapa orang tamu yang berasal dari tempat jauh belum tiba, aku pikir Cu-wi sekalian tentu sudah lapar, kita tak usah menunggu mereka lagi”

Seraya berkata ia angkat tangan kanannya dan diulapkan satu kali.

Dari balik bebungahan segera muncul beberapa orang dayang cantik menghidangkan sayur dan arak.

Agaknya dayang2 ini sudah memperoleh didikan yang keras, gerak gerik mereka gesit dan lincah namun teratur dan tidak simpang siur dalam sekejap mata sayur dan arak telah dihidangkan.

Sekilas pandang diam2 Siauw Ling menghitung manusia yang telah hadir dalam perjamuan malam ini, satu meja diisi tiga orang dan disana tersedia sepuluh meja dus berarti ada dua, tiga puluh orang yang hadir, dalam hati segera pikirnya.

“Apakah Shen Bok Hong hanya mengundang tamu sedemikian dikitnya? sungguh aneh sekali, mengapa Tjioe Cau Liong serta Kiem Hoa Hujien sekalian tidak kelihatan munculkan diri untuk menemani para tetamu? apakah mereka dikirim untuk melakukan sesuatu?”

Sementara ia masih berpikir, Shen Bok Hong telah angkat cawan araknya sambil berseru lantang.

“Ini hari siauwte merepotkan TJuwi sekalian datang kemari sebenarnya punya dua persoalan yang diumumkan, pertama, sejak ini hari aku Shen Bok Hong akan munculkan diri kembali dalam dunia persilatan dan kedua, ingin memperkenalkan seorang jago muda kepada Tjuwi sekalian.”

Walaupun suaranya rada serak parau, namun setiap patah kata diutarakan amat nyata membuat semua orang merasakan hatinya tergetar keras.

Tong Loo Thay Thay yang telah berubah tiba-tiba mengetukkan tongkat kepala burung hong nya ke atas tanah lalu berseru,

“Sudah banyak tahun aku mengasingkan diri dari pergaulan dunia persilatan, tak kusangka dimasa tuaku ternyata harus meninggalkan Su Tzuan dan melakukan perjalanan ribuan li untuk menghadiri pertemuan yang diadakan Shen Toa Cungcu!”

“Hal ini menandakan bila hujien sangat memandang Shen Bok Hong, cayhe merasa sangat berterima kasih.”

“Hee…. hee…. walaupun usiaku sudah melewati tujuh puluh tahun namun paling benci bicara putar kayun macam begini” kembali Tong Loo Thay Thay berseru sambil tertawa dingin. “Ini hari aku datang, besok pagi akan kembali ke Su Tzuan mungkin aku tak dapat menghadiri pertemuan para enghiong yang hendak Shen Toa Cungcu adakan besok siang”

“Kau datang kemari dengan ter-buru-buru kemudian pulang dengan ter-gopoh2 apakah hujien tidak merasa tindakan ini salah besar?”

“Soal ini tak perlu Toa Cungcu kuatirkan setiap keputusan yang sudah kutetapkan tak ingin dirubah kembali”

“Jikalau memang demikian adanya, cayhe pun tidak ingin terlalu memaksa, namun kesudian Hujien mengunjungi perjamuan ini telah membuat nama besar perkampungan Seratus Bunga dari cayhe ini semakin cemerlang….”

Sepasang alis yang putih dari Tong Loo Thay Thay kontan berkerut habis mendengar ucapan itu, cepat ia menukas.

“Tiga puluh tahun sudah aku menjabat ciang bunjien dari keluarga Tong, belum pernah aku memperoleh paksaan macam ini. Kali ini Shen Toa Cungcu dapat memaksa aku tinggalkan Su Tzuan, hal ini menunjukkan bahwasanya kau betul2 manusia hebat”

“Haa…. haa…. tong Hujien terlalu merendahkan diri”

Setelah beberapa saat meninjau keadaan situasi Siauw Ling pun bisa menyadari apa sebabnya orang yang hadir dalam perjamuan malam ini berjumlah tidak banyak. Ternyata pihak perkampungan seratus bunga sudah adakan persiapan, mereka2 yang diundang dalam perjamuan ini kebanyakan adalah jago-jago yang patut dicurigai, tentu orang she sen itu berharap bisa cepat-cepat diketahui siapa musuh siapa kawan daripada mereka mengacau dalam perjamuan besok siang….”

Terdengar Tong Loo Thay Thay dengan suara keras telah menghardik.

“Maksud kedatanganku kemari rasanya Shen Toa Cungcu tentu sudah paham bukan?”

“Loo Hujien usiamu sudah lanjut namun tabiatmu masih berangasan dan terburu napsu, apakah kau tidak takut watak jelekmu ini akan merusak kesehatanmu sendiri?” ujar Shen Bok Hong sambil tertawa. lambat2 ia ambil cawan araknya dan minum satu tegukan.

Disindir semacam ini, Tong Loo Thay Thay tak dapat menahan diri lagi, ia naik pitam.

“Aku tidak ingin bersilat lidah dengan dirimu persoalan diantara kita akan diselesaikan pada saat ini? atau hendak diundur beberapa saat.”

“Pada saat ini kentongan pertama belum lewat. sampai fajar nanti masih amat lama lebih baik Loo Hujien bersantap dan minum arak sampai kenyang lebih dahulu setelah aku Shen Bok Hong mengumumkan diri untuk terjun kembali dalam dunia persilatan. apakah kau takut aku bisa melarikan diri,

Walaupun Tong Loo Thay Thay teramat gusar sampai hatinya merasa tidak sabaran namun seakan2 ada sesuatu benda yang berada ditangan Shen Bok Hong sebagai barang sandera membuat mereka tak berani banyak berkutik, tongkatnya segera diketukan ke atas tanah dan berseru penuh kebencian.

“Aku tidak akan menanti lewat dari kentongan ketiga?”

“Baik! sebelum kentongan ketiga, cayhe pasti akan memberikan pertanggungan jawab kepada Tong Hujien.”

Tong Loo Thay Thay tidak berbicara lagi, ia segera pejamkan mata, dan duduk tak berkutik.

Tampak tusuk kondenya tiba-tiba terjatuh ke atas tanah, rambutnya yang telah beruban kibar kalut terhembus angin malam.

“Tong Loo Thay Thay bisa begini gusar tentu hatinya diliputi penuh kemasgulan serta kekesalan” pikir Siauw Ling. “Hawa gusar memburu tusuk kondenya terlepas tenaga lweekang semacam ini betul2 mengejutkan hati”

Sementara itu Shen Bok Hong telah angkat cawan araknya dan meneguk satu tegukan lagi ujarnya sambil tertawa.

“Diantara Tjuwi sekalian bilamana diantaranya pernah mengikat tali permusuhan dengan cayhe silahkan cepat-cepat diutarakan.”

Pikiran Be Boen Hwie sedikit bergerak, sewaktu ia bermaksud bicara. mendadak terdengar Suma Kan yang berada dihadapannya sudah berebut berkata.

“Cayhe Suma Kan ingin mohon petunjuk Shen Toa Cungcu akan dua hal.”

Sepasang mata Shen Bok Hong bagaikan sambaran kilat menyapu tubuh Suma Kan dan berhenti diatas wajahnya, dengan sepasang alis berkerut tanyanya.

“Suma-heng ada urusan apa?”

Jelas Shen Bok Hong merasa tindakan Suma Kan ini sedikit ada diluar dugaan.

Suma Kan mendehem perlahan kemudian jawabnya.

“Aku pikir jago-jago Bu-lim yang diundang untuk menghadiri perjamuan dalam perkampungan Seratus Bunga ini lebih dari seratus orang mengapa dalam perjamuan yang diselenggarakan ini cuma diundang dua, tiga puluh orang belaka sebenarnya apa maksud Toa Cungcu sebenarnya? inilah persoalan pertama yang membuat siauw-te tidak paham!”

“Bagus!” Shen Bok Hong tertawa hambat. “Masih ada satu persoalan lagi silahkan sekalian diutarakan kemudian cayhe akan menjawab pertanyaan tersebut satu persatu!”

“Cayhe baru untuk pertama kalinya memasuki daerah Tionggoan, dengan orang2 perkampungan anda tidak saling mengenal tentu saja tak bisa dibicarakan punya ikatan dendam atau permusuhan mengapa anda mencantumkan nama cayhe diantara nama2 kerbaumu? inilah pesoalan kedua yang tidak siauw-te pahami”

Mendengar ucapan itu pikiran Be Boen Hwie rada bergerak, pikirnya.

“Orang ini kelihatan seperti orang gila padahal dalam kenyataan dia adalah seorang manusia yang cerdik dan berpikiran panjang….”

Shen Bok Hong mendongak tertawa ter-bahak2.

“Haa…. haa…. mengapa Suma heng ingin sekali mencari mati? hali ini malah membuat aku orang she Shen rada tidak paham?”

Suma Kan tertawa dingin.

“Jikalau Shen Loo-toa tiada maksud membinasakan diriku sekalian, mengapa….”

“Maksudmu aku menaruh semacam racun keji di dalam arak serta sayur tersebut?” sambung Toa Cungcu dari perkampungan Seratus bunga itu sambil tertawa bergelak.

“Perbuatan rendah semacam ini dengan kedudukan Shen Toa Cungcu yang tinggi tentu saja tak akan dilakukan apalagi orang2 yang hadir dalam perjamuan ini adalah tokoh2 lihay dari dunia persilatan, racun yang ada dalam sayur serta arak tidak mungkin bisa meracuni seluruh hadirin”

Air muka Shen Bok Hong berubah hebat dengan cepat ia menghardik dengan nada dingn

Suma Kan kalau kau ada maksud menghasut para jago yang kuundang dengan segala macam perkataan tak senonoh jangan salahkan kalau aku orang she Shen akan bertindak telengas dan memberi kematian untukmu.”

Diantara para jago yang hadir dalam perjamuan saat ini, sebagian besar pernah mendengar akan kekejian serta keganasan Shen Bok Hong dalam berkelana didunia persilatan tahun berselang. Sekarang melihat air muka Shen Bok Hong mendadak berubah hebat, bahkan diantara ucapannya sudah mencapaikan ancaman agar Suma Kan tidak banyak campur tangan dalam urusan tersebut. tak kuasa mereka sama2 memandang ke arah orang itu.

Melihat sinar mata para jago sama2 dialihkan ke arahnya Suma Kan kegirangan setengah mati. ia mendongak tertawa terbahak2.

“Hahaha…. walaupun perbuatan Shen Bok Hong semuanya ada diluar dugaan dan tertutup sehingga semua jago dikolong langit kena dikibulin namun tak akan berhasil mengelabuhi sepasang mata Suma Kan….” serunya.

Shen Bok Hong tertawa dingin, mendadak serunya,

“Manusia kurang ajar yang tahu diri bicara seenaknya dengan maksud menghasut, sungguh terkutuk! Pengawal! tangkap orang itu.

Dari balik bebungahan muncul suara sahutan diikuti sua sosok bayangan manusia meluncur ke arah Suma Kan.

Melihat perbuatan serta tindakan yang telah dilakukan Suma Kan, timbul rasa simpatik dalam hati Be Boen Hwie.

“Suma-heng, perlu bantuan siauwte?” ia bertanya dengan nada berat.

“Tak usah” sinar matanya segera dialihkan ketengah kalangan.

Tampak olehnya dua orang yang menerjang ke arahnya telah berhenti tepat didepan mata orang yang ada disebelah kiri berusia dua puluh lima, enam tahunan, memakai baju ringkas warna hijau dan menggembol pedang di punggung, Sedangkan orang yang ada disebelah kanan memakai baru warna merah, air mukanya dingin kaku sema sekali tidak menunjukkan perasaan.

Siauw Ling yang ada disampingpun angkat kepala memandang sekejap ke arah kedua orang itu lalu bisiknya kepada Be Boen Hwie dengan suara lirih.

“Be-heng, orang berbaju hijau yang ada di sebelah kiri adalah murid pertama Shen Bok Hong yang bernama Tang Hong Tjiang sedangkan si orang berbaju merah yang ada disebelah kanan bukan lain adalah salah satu dari Delapan manusia bayangan berdarah yang diciptakan Shen Bok Hong”

Dalam pada itu kedua orang tadi sama2 berhenti kurang lebih empat, lima depa didepan Suma Kan si orang berbaju hijau yang ada di sebelah kiri segera menegur dingin.

“Kau hendak mengerahkan diri? ataukah memaksa kami harus turun tangan?”

Suma Kan tertawa ter-bahak2.

“Ha…. ha…. Dalam arak yang dihidangkan Toa Cungcu tak ada racunnya, dalam hidangan tak ada bisa namun disetiap bangku yang kalian duduki telah disebari racun keji ulat emas yang paling dahsayt!” serunya.

Perkataan tersebut seketika menggemparkan seluruh kalangan, walaupun sebagian besar para hadirin belum pernah mengunjungi Se-Ih dan belum pernah melihat sendiri bagaimana macamnya racun keji ulat emas tersebut, namun kebanyakan sudah pernah mendengar bahwasanya racun keji Ulat emas merupakan racun paling dahsyat diantara racun-racun lainnya yang ada didaerah Biauw.

Setiap orang merasa hatinya tercekat, air muka berubah hebat dan suasana makin gempar.

Dari sepasang mata Shen Bok Hong terlintas hawa membunuh tetapi dalam sekilas mata wajahnya pulih kembali dalam ketenangan ia tertawa ter-bahak2.

“Haa…. haa…. Suma-heng, kau adalah manusia bodoh yang sedang mengigau disian ghari bolong” serunya.

“Hmm! Toa Cungcu kau memang bisa mengelabuhi sepasang mata para enghiong dari seluruh kolong langit namun jangan harap bisa lolos dari sepasang mata aku Suma Kan”

Tang Hong Ciang yang berdiri dihadapan Suma Kan sudah bikin persiapan tapi berhubung Shen Bok Hong menyampaikan perintah selanjutnya ia tetal bertahan diri.

Shen BOk Hong yang licik dan banyak akal setelah memeriksa keadaan disekelilingnya serta menemukan air muka para jago dihiasi hawa marah, ia lantas sadar bilamana pada saat ini ia menyelesaikan Suma Kan maka para jago yang hadir dalam kalangan akan percaya kalau mereka telah tersengat oleh racun keji Ulat Emas saat itu suatu pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi.

Menemukan para jago yang hadir dalam kalangan rata2 berkepandaian tinggi, jikalah pertempuran in isampai dibiarkan terjadi sekalipun kemenangan ada dipihak perkampungan Seratus Bunga namun korban yang berjatuhan tentu tak sedikit.

Ia tak ingin menempuh bahaya besar seperti ini, orang she Shen ini merasa tindakan pertama yang harus dilakukan adalah menenangkan kembali hawa gusar yang menyerang para jago kemudian menghilangkan kecurigaan yang mulai menempel dalam benak mereka setelah itu baru membereskan pengacau tersebut.

Setelah ambil keputusan ia tertawa tergelak.

“Suma-heng! serunga, “Umpama kau pernah mengikat permusuhan dengan diriku atau pernah menaruh dendam terhadap perkampungan Seratus Bunga, lebih baik tantanglah kami secara terang2an atau langsung menegur perkampungan kami. apakah kau tidak merasa malu dengan tindakanmu menghasut para jago?”

“Setiap patah kata yang cayhe utarakan adalah kata2 jujur, kalau Shen Cungcu masih juga mungkir….

Shen Bok Hong tidak biarkan ia bicara lebih jauh, kembali ia tertawa terbahak2 sambil menukas.

“Setiap orang yang hadir disini adalah jago berkepandaian tinggi, tenaga lweekang mereka pasti sangat lihay. benarkah keracunan asal mengerahkan tenaga untuk periksa bukankah segera akan dirasakan!”

“Tentang soal ini, aku pikir Shen Toa Cungcu sudah bikin persiapan….”

“Suma-heng mungkin ada sedikit sinting” seru Shen Bok Hong menukas kembali. Apa yang dia ucapkan tak bisa dipercaya. seandainya Cu-wi tidak percaya silahkan salur tenaga untuk memeriksa diri sendiri, kalau keracunan bukankah kalian akan segera tahu, orang ini mungkin sengaja berbuat demikian untuk memisahkan hubungan aku orang she Shen dengan kalian, lama kelamaan aku sendiripun tidak tahan lagi….”

Ia segera ulapkan tangannya sambi berseru.

“Tangkap manusia pengacau ini”

Sejak semula Tang Hong Ciang sudah bersiap sedia, begitu perintah dilepaskan, tangan kanan orang she Tang tersebut segera meluncur kedepan mencengkeram pergelanan kanan Suma Kan.

Merasakan datangnya ancaman, tangan kanan Suma Kan ditarik kembali meloloskan diri dari serangan, kemuidan tangan kirinya laksana kilat menyapu keluar.

Be Boen Hwie yang duduk sambil menonton jalannya pertarungan, hanya terpaut empat lima langkah dari kalangan, setiap kali ia dapat merasakan deruan angin serangan yang kuat dari mereka berdua, terutama serangan balasan dari Suma Kan, diam2 ia memuji akan kehebatan ilmu silatnya.

Ilmu silat yang dimiliki Tang Hong Ciang mendapat warisan langsung dari Shen Bok Hong tentu saja sangat luar biasa, tangan kanan segera diayun menyambut datangnya serangan tadi dengan keras lawan keras.

“Braaak….!” diiringi bentrokan keras angin puyuh berputar masing-masing pihak tergetar mundur satu langkah ke belakang.

Agaknya Tang Hong Ciang tidak menyangka manusia sinting yang tidak kelihatan istimewa ini sebetulnya memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, tak kuasa ia dibikin tertegun beberapa saat lamanya.

Disaat ia masih tertegun Suma Kan melancarkan serangan berantai. Dalam sekejap mata ia sudah mengirim delapan jurus serangan memaksa Tang Hong Ciang mundur dua depa ke belakang.

Menjumpai murid pertamanya Tang Hong Ciang terdesak kalah terus menerus, Shen Bok Hong merasa amat malu, timbul hawa gusar dalam hatinya.

Sementara ia bersiap sedia untuk turun tangan sendiri. mendadak dari posisi bertahan muridnya she Tang itu telah berubah jadi posisi menyerang. berturut2 ia melancarkan tiga buah serangan memaksa Suma Kan mundur satu langkah ke belakang, ambil kesempatan itu tangan kanannya segera diangkat ke atas.

Selama pertarungan berlangsung, lelaki berbaju merah yang punya wajah dingin kaku itu selalu berdiri disisi Suma Kan bagaikan patung, sedikitpun tidak bergerak.

Namun setelah Tang Hong Ciang ulapkan tangannya, keadaan tiba-tiba berubah.

Orang berbaju merah itu ayun tangan kanannya, tanpa menimbulkan sedikit suarapun membabat punggung Suma Kan.

“Hati2 serangan bokongan!” segera Be Boen Hwie memberi peringatan.

Sekalipun Suma Kan sedang menghadapi musuh tangguh macam Tang Hong Ciang, pendengarannya masih cukup tajam, buru-buru ia ayun tangan kirinya membabat ke belakang.

Sebenarnya ia ingin menghindari datangnya serangan bokongan tersebut, namun berhubung didepan sedang digencet musuh sedang sebelah kiri adalah meja orang lain sebelah kanan ada meja maka terpaksa ia ayunkan telapaknya untuk menangkis.

Sewaktu sepasang telapak saling bertemu Suma Kan merasakan hatinya tercekat.

“Kurang ajar….” pikirnya “Tenaga lweekang yang dimiliki orang ini jauh lebih dahsyat daripada si orang berbaju hijau itu jikalau kedua orang ini menggencet aku dari depan dan belakang, maka dalam pertarungan malam ini keadaanku yang lebih berbahaya daripada rejeki….

Sementara ia masih termenung, si orang berbaju merah itu sudah melancarkan serangannya meneter dia habis2an.

Serangan si orang berbaju merah itu benar2 hebat, satu jurus lebih hebat dari jurus sebelumnya keganasan sulit diduga. sedangkan serangan Tan Hong Ciang mengutamakan kegesitan menggencet dari depan dan belakang dengan dua macam tenaga yang berbeda sungguh suatu kerja sama hebat.

Suma Kan yang harus menahan serangan dari depan dan membendung gencaran serangan dari si orang berbaju merah, setelah lewat dua, tiga puluh jurus kemudian Suma Kan terdesak hebat, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.

Setelah berlangsungnya pertarungan ini, pandangan para jago terhadap Suma Kan berubah seratus delapan puluh derajat, pikir mereka.

“Sungguh tak disangka manusia sinting macam diapun memiliki ilmu silat sedemikian dahsyat….”

Be Boen Hwie pun ikut dibikin terharu oleh semangat jantan Suma Kan, melihat dia mulai keteter dan sebentar lagi bakal roboh ia tidak tega, mendadak sambil bangun berdiri tangan kirinya mendorong meja ke arah depan sementara tangan kanan menerima datangnya serangan dari Tong Hong Ciang.

“Suma-heng! serunya. “Pusatkan seluruh perhatian untuk menghadapi si orang berbaju merah itu, orang ini serahkan saja kepada siauw-te”

Ditengah pembicaraannya salurkan tenaganya mengunci tiga serangan berantai dari Tang Hong Ciang.

Walaupun tabiat Suma Kan tidak mau mengalah tetapi iapun tahu bahwa dirinya sulit untuk menahan serangan gabungan dua orang sekaligus jikalau pertarungan itu dipaksakan niscaya ia bakal binasa atau terluka parah. Oleh karena itu terhadap bantuan yang diberikan Be Boen Hwie ia merasa amat berterima kasih.

Tanpa banyak bicara lagi ia pusatkan seluruh tenaganya untuk menghadapi si orang berbaju merah itu.

Lelaki baju merah inipun hebat, baik jurus pukulan maupun serangan telapaknya makin lama semakin dahsyat, kehebatan serta kekejian serangannya membuat orang bergidik

Jurus2 serangan dalam ilmu silat walaupun mengutamakan menyerang untuk memaksa orang bertahan namun di dalam jurus serangan pada umumnya secara lapat2 separuh bagian mengandung posisi bertahan.

Lain halnya dengan serangan2 dari si orang berbaju merah ini semuanya bersifat menyerang bahkan kadang kala buat pertahanan diri sendiripun tak ada, karena itu tidak aneh kalau gencaran serangannya sangat dahsyat.

Setelah menyadari betapa dahsyatnya tenaga lweekang yang dimiliki si orang berbaju merah itu ia tidak melakukan pertarungan keras lawan keras lagi, dengan gerakan yang cepat dan gesit ia paksa orang itu harus mempertahankan diri.

Dipihak lain Be Boen Hwie yang melangsungkan pertarungan seimbang, baik dalam menyerang maupun bertahan masing-masing pihak memiliki keistimewaan yang berbeda, walaupun dua puluh jurus telah lewat keadaan masih tetap seperti sedia kala tak ada yang menang dan tak ada yang kalah.

Shen Bok Hong yang selama in mengikuti jalannya pertarungan segera menyadari bahwa pertarungan ini tak mungkin bisa diselesaikan dalam waktu singkat hatinya mulai tidak sabaran, pikirnya.

“Kalau pertarungan seperti ini dilangsungkan terus entah sampai kapan baru bisa selesai? peristiwa ini akan sangat mempengaruhi nama besar perkampungan Seratus Bunga….”

Berada dalam situasi seperti ini apalagi berada didepan mata umum, tidak leluasa baginya untuk kumpulkan anak buahnya mengerubuti ber-sama2. hatinya amat serba salah.

Dengan kecerdikannya yang tersohor. ternyata ia gagal untuk mendapatkan sesuatu cara yang sempurnya.

Dari tengah kalangan pertemuan yang sedang berlangsung mendadak berkumandang suara dengusan berat, seluruh hadirin segera alihkan sinar matanya ke arah mana berasalnya suara itu.

Ketika angkat muka tampaklah Be Boen Hwie maupun Tang Hong Ciang sama2 mundur empat langkah dan berdiri saling berhadapan muka.

Ternyata di dalam pertarungan sengit barusan masing-masing pihak telah saling beradu kekerasan satu kali. Dalam hal tenaga lweekang maupun ilmu silat mereka seimbang karena itu mereka sama2 tergetar mundur empat langkah ke belakang.

Para jago memusatkan seluruh perhatiannya untuk menonton jalannya pertarungan tersebut namun tak seorangpun yang buka suara mencegah atau mencampuri urusan tersebut.

Terdengar Tang Hong Ciang tertawa dingin serunya.

“Sudah lama kudengar nama besar Be Cong Piauw Pacu, setelah berjumpa hariini baru kurasakan bahwa nama besarmu bukan kosong belaka”

Sreet! ia loloskan pedangnya dari sarung.

“Terima kasih, terima kasih” jawab Be Boen Hwie sambil tersenyum, dari sakunya ia ambil keluar sebuah kipas dan dibentangkan lebar.

“Siauw-te ingin mohon petunjuk Be Cong Piauw Pacu dalam kepandaian senjata”

“Akan kuiringi keinginanmu tersebut”

Tang Hong Ciang segera ayunkan pedangnya mengobat abitkan kekanan kiri, seketika terlintas cahaya pelangi ke-perak2an yang memenuhi angkasa, namun ia belum mulai dengan serangannya.

Melihat bagaimana caranya orang itu mengayunkan pedangnya Be Boen Hwie tidak berani memandang enteng pihak lawan, kipas ditangannya segera diayun kedepan, hawa murninya disalurkan mengelilingi badan sementara otaknya berputar mencari akal bagaimana caranya membendung serangan musuh.

Dalam pada itu pertarungan antara silelaki berbaju merah melawan Suma Kan telah mencapai puncak ketegangan tiba-tiba Suma Kan menggunakan serangkaian ilmu telapak yang aneh.

Bayangan telapak berkibar memenuhi angkasa bagaikan salju yang berhamburan dari langit ditengah kegencaran serangan terebut hawa pukulan menekan tiada hentinya.

Pandangan para jago terhadap orang she Suma kembali berubah, mereka merasa ilmu silat orang sinting ini seperti hal orangnya, sukar diduga dan dimengerti.

Walaupun lelaki berbaju merah itu ganas dan berani serangannya berat bagaikan godam namun semuanya terkurung oleh gerakan telapak Suma Kan yang cepat dan ringan ia gagal memperkembangkan jurus serangannya untuk memperkuat daya pengaruhnya.

Shen Bok Hong sendiripun tidak menyangka kalau Suma Kan adalah seorang pendekar lihay, apalagi bantuan yang diberikan Be Boen Hwie, mimpipun ia tidak pernah berpikir sampai disitu dengan demikian perhitungannya semula mengalami perubahan besar.

Kecuali Shen Bok Hong mengirim jago-jago lihay lagi untuk memperkuat posisi mereka, untuk beberapa saat sulit baginya untuk menentukan siapa menang siapa kalah.

Ketika itu Tong Loo Thay Thay angkat kepalanya memandang keadaan cuaca, kemudian ujarnya dingin.

“Shen Bok Hong waktu yang kita janjikan sudah hampir tiba.”

“Hujien boleh berlega hati” jawab Shen Bok Hong sambil meneguk arak. Setiap kata yang telah Shen Bok Hong katakan tidak pernah berubah”

“Persoalan diantara kita lebih baik cepat-cepat diselesaikan, agar akupun lebih cepat berangkat kembali ke Su Tzuan.”

“Oooow jadi Hujien sudah yakin pasti dapat menangkan diri cayhe!”

“Paling sedikit aku bisa paksa kau berpandangan dan bagaimanakah senjata rahasia dari keluarga Tong kami?”

Shen Bok Hong tertawa terbahak2.

“Heee…. heee…. heee…. tentang soal ini aku Shen Bok Hong sudah sejak semula, ilmu melepaskan senjata rahasia dari keluarga Tong asal Su Tzuan memang sudah tersohor dikolong langit, sepanjang ratusan tahun tak pernah mundur, tentu saja kalian memiliki suatu keistimewaan. hanya saja….”

“Hanya saja kenapa?” setu Tong Loo Thay Thay dengan air muka berubah hebat.

“Hanya saja selama hidup cayhe paling tidak takut terhadap segala macam senjata rahasia”

“Hmm apakah kau tak merasa kegaian untuk bicara besar?” jengek sinenek kembali sambil tertawa dingin.

“Seandainya Hujien tidak percaya lagi kau bakal tahu kalau ucapan cayhe bukan gertak sambal belaka.

Dari tengan kalangan terdengar suara gelak tertawa dari Suma Kan diiringi dengusan marah menggemparkan seluruh kalangan.

Ketika semua orang berpaling tampak silaki berbaju merah itu dengan sepasang mata melotot gusar dan sepasang telapak diayun kesana kemari memperdengarkan raungan amarah yang gegap gempita, suaranya seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.

Sebalinya Suma Kan tetap bersikap tenang dengan langkah ringan ia menggerakkan sepasang telapaknya melayani serangan2 gencar dari silelaki berbaju merah itu.

Ia tidak mau melangsungkan adu tenaga dalam dengan lelaki berbaju merah lagi sebab ia telah menemukan apabila lelaki berbaju merah itu agaknya sudah kehilangan akal sehat, seperti binatang buas saja menerjang dan menerkam tiada hentinya.

Dipihak lain pertarungan antara Be Boen Hwie melawan Tang Hong Ciangpun sudah mencapai puncak ketegangan. masing-masing pihak berusaha untuk mencari kemenangan.

Diluar kalangan ada dua orang yangjauh lebih gelisah dari mereka yang sedang melangsungkan pertarungan orang itu adalah Siauw Ling serta Shen Bok Hong.

Siauw Ling kuatir Be BOen Hwie menderita kekalahan ia takut berhubung persoalan ini akan mengakibatkan usahanya menolong kedua orang tuanya menjumpai kegagalan, ingin sekali ia membantu Be Boen Hwie secara diam2 namun setiap kali ia batalkan niatnya.

Sedangkan Shen Bok Hong tidak ingin sebelum pertemuan dimulai, dihadapan umum mengundang anak buahnya lagi untuk rebut kemenangan dengan jumlah banyak sehingga melukai Suma Kan serta Be Boen Hwie, apalagi tempat duduknya terlalu jauh dari kalangan pertempuran, sekalipun ia bermaksud membantu Tang Hong Ciang secara diam2pun tidak mungkin.

Dalam pada itu irama musik yang berkumandang keluar dari balik bebungahan telah berhenti, suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun kecuali deruan angin pukulan yang memekakkan telinga.

Seperminum teh kembali sudah lewat, mendadak Suma Kan yang berada ditengah kalangan berseru lantang.

“Harap Cuwi sekalian cepat tinggalkan kursi, orang2 dari perkampungan Seratus bunga mulai melepaskan racun keji ulat emas”

Para jago yang hadir dalam kalangan saat ini rata2 merupakan jago kawakan yang berpengalaman sangat luas walaupun belum pernah melihat sendiri cara melepaskan racun keji dari daerah Biauw, namun mereka pernah mendengar, kebanyakan racun-racun semacam itu dilepaskan dalam air teh atau arak, sehingga seseorang tanpa sadar telah keracunan dan terpengaruh oleh racun tadi, sepanjang hidup tak berani berkhianat kembali.

Kini mendengar Suma Kan berseru demikian mereka lantas berpendapat mungkin ada cara pelepasan racun keji lain kecuali melalui minuman serta makanan.

Walaupun para jago sedikit tidak percaya tetapi peringatan yang diutarakan Suma Kan sampai berulang kali membuat mereka tanpa sadar mulai salurkan tenaga murninya untuk melakukan persiapan.

Sebagian besar bahkan semua tamu yang diundang Shen Bok Hong dalam perjamuan malam ini kebanyakan adalah mereka2 yang dicurigai, ia sudah bersiap menarik mereka2 yang bisa digunakan dan membasmi mereka yang membandel agar dalam pertemuan para enghiong besok siang tak terjadi kericuhan kembali.

Tetapi jago-jago yang diundang kebanyakan adalah jago kawakan yang punya pengalaman sangat luas, Shen Bok Hong sadar dengan nama jeleknya tempo dulu dalam dunia persilatan, orang2 ini tentu sudah bikin persiapan. Menaruh racun dalam arak atau makanan sulit untuk menjebak lawan bahkan kemungkinan malah terbongkar rahasianya. oleh sebab itu ia bermaksud mencari satu cara lain untuk meracuni para jago itu tanpa mereka sadari sendiri.

Shen Bok Hong tahu Kiem Hoa Hujien adalah jago melepaskan racun keji nomor wahid dari daerah Biauw, ia lantas mengajak perempuan itu berunding dan menetapkan satu cara pelepasan racun itu.

Ia minta Kiem Hoa Hujien yang melepaskan racun keji Ulat Emas paling lihay itu sehingga membuat para jago tanpa sadar keracunan semua.

Saat ini waktu buat Kiem Hoa Hujien untuk melepaskan racun telah sampai. namun kena dibongkar rahasianya oleh Suma Kan, timbul rasa benci yang bukan buatan terhadap orang ini. kepingin sekali ia membinasakan orang itu jadi abu.

Tetapi justru ilmu silat Suma Kan amat lihay, sampai salah satu dari delapan manusia bayangan berdarahnya pun gagal merobohkan dirinya.

Walaupun dalam hati Shen Bok Hong merasa amat gelisah, namun tabiatnya yang licik banyak akal membuat ia tetap bersikap tengan sementara otaknya berputar kencang mencari cara paling bagus untuk mengatasi situasi.

Setelah meninjau situasi beberapa saat, ia mengambil kesimpulan kecuali dia turun sama2 mengerubuti Suma Kan,

Tetapi saat ini Shen Bok Hong sendiri sudah mengikat perjanjian lebih dahulu dengan Tong Loo Thay Thay. jagoan senjata rahasia beracun yang paling tersohor dari kolong langit jikalau ia turun tangan sendiri kemungkinan bisa timbulkan niat nenek itu untukturun tangan. Sebaliknya kalau ia mengumpulkan anak buahnya untuk mengerubuti Suma Kan, kemungkinan akan menimbulkan rasa puas dihati para jago sehingga akhirnya suatu pertarungan massal tak terhindarkan.

Lama sekali ia termenung, memikirkan beratus2 macam cara namun selalu gagal mendapatkan akal yang paling bagus,

Sementara Shen Bok Hong sedang mencari akal bagus, situasi pertarungan ditengah kalangan pun kembali terjadi perubahan besar.

Tampak serangan telapak Suma Kan makin lama makin gencar, semakin aneh. harapan si lelaki berbaju merah untuk merebut kemenanganpun makin lama makin tipis.

Namun kenekatan serta kegigihan si orang berbaju merah itu mempertahankan diri, membuat semua jago dalam perjamuan terkesiap.

Ternyata sejak semula lelaki berbaju merak itu sudah terdesak kalah. beberapa kali terluka ditangan Suma Kan, namun setiap kali pula ia menggunakan jurus adu jiwa untuk mematahkan mara bahaya tersebut dan tetap mempertahankan posisi seimbang.

Diantara para jago yang hadir disana cuma Siauw Ling seorang yang paham apa sebabnya bisa terjadi begini, ternyata delapan manusia bayangan berdarah yang diciptakan Shen Bok Hong ini sudah memperoleh latihan istimewa, bukan saja ilmu silatnya lihay, berani mati dan sangat bernyali bahkan kesadarannya boleh dikata sudah punah sama sekali.

Terdengar Suma Kan kembali berteriak.

“Kali ini cayhe dengan taruhan nyawa melangsungkan pertarungan sengit, serta tiada sayangnya mengikat tali permusuhan dengan pihak perkampungan Seratus Bunga bukan lain disebabkan muncul dari hati yang ramah, aku tidak tega melihat Tjuwi terkena racun keji. Aku rasa kalian semua sudah melihat sendiri bukan pertarungan ini benar2 terjadi, seandainya kalian mau percaya perkataan cayhe, cepatlah tinggalkan tempat duduk kalian itu.”

Sembari berteriak, perlahan ia mundur ke belakang.

Pada saat ini sudah ada separuh bagian para jago yang mendengarkan peringatan itu. bangun berdiri dan mengundurkan diri.

Walaupun Shen Bok Hong cukup licin namun setelah melihat usahanya menemui kegagalan, ia tak dapat menahan diri lagi.

Seumpama ia biarkan para jago mengundurkan diri semua maka racun keji yang dilepaskan Kiem Hoa Hujien akan tak ada gunanya lagi, dalam keadaan cemas tanpa memperdulikan kegusaran yang mungkin timbul dari para jago lagi ia tertawa dingin dan menghardik.

“Orang ini berlagak sinting dan bicara tidak karuan, kalau tidak memberi hukuman kepadanya, perkampungan Seratus Bunga mana bisa tancapkan kaki dalam dunia persilatan lagi?”

Setelah bergumam sendiri mendadak ia angkat tangan kanannya dan bertepuk tangan tiga kali.

Dari balik pepohonan segera bergema irama musik yang aneh sekali, dua orang gadis berbaju putih lambat2 munculkan diri.

Dengan ilmu menyampaikan suara Shen Bok Hong memberi petunjuk kepada kedua orang gadis itu mendadak kedua orang dara tadi berbelok ke arah Suma Kan.

Diantara para jago kebanyakan berpengalaman luas, selama ini mereka selalu mengawasi gerak gerik Shen Bok Hong dari gerakan bibirnya mereka tahu orang itu sedang mengirim pesanan dengan ilmu menyampaikan suara. hanya mereka tak tahu apa yang sedang dibicarakan.

Irama musik yang aneh menambah keseraman serta kemisteriusan suasana tersebut.

Tampak kedua orang dara berbaju putih itu mendekati punggung Suma Kan kemudian sama2 meloloskan senjata dan melancarkan serangan mematikan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun.

Pada mulanya jurus serangan dari kedua orang gadis itu tidak begitu hebat namun setelah lewat empat lima jurus daya tekanannya semakin hebat cahaya pedang berkilauan, serangannya makin gencar seketika Suma Kan didesak balik kedepan tempat duduknya.

Setelah Suma Kan didesak dalam keadaan yang penuh bahaya ia harus pusatkan segenap pikirannya untuk menghadapi serangan, tak ada waktu lagi baginya untuk berteriak memberi peringatan.

Sementara itu para jago yang sudah diperingati oleh Suma Kan kembali terhisap perhatiannya oleh sitauasi yang terjadi secara mendadak ini, karena lupa untuk meninggalkan tempat duduknya.

Siauw Ling yang ada disisi kalangan diam2 mulai mengawasi jurus pedang kedua orang dara berbaju putih itu ia merasa serangannya ganas, aneh dan telengas, jauh lebih hebat daripada kepandaian bayangan berdarah ciptaan Shen Bok Hong itu, hatinya terkesiap segera pikirnya

“Darimana Shen Bok Hong berhasil mengumpulkan gadis2 berkepandaian demikian lihaynya? orang ini tak boleh dipandang enteng, se-akan2 di dalam perkampungan seratus bunga yang kecil sudah tersembunyi ratusan jago Bu lim yang berkepandaian lihay.”

Pada saat pikirannya melayang jauh Suma Kan ditengah kalangan sudah menunjukkan tanda-tanda kalah.

serangan pedang kedua orang dara berbaju putih itu cepat bagaikan hembusan angin. seketika memaksa Suma Kan jadi kalang kabut dan susah melayaninya.

Shen Bok Hong mendongak memeriksa keadaan cuaca kemudian pikirnya di dalam hati.

“Setengah Hioo lagi Kiem Hoa Hujien akan melepaskan racun ulat emas aku harus berusaha untuk mengundurkan waktu setengah hioo lagi, dengan demikian seluruh jago yang ada di dalam kalangan akan keracunan semua dan tenaganya bakal bisa kugunakan semua”

Sementara ia masih berpikir dua orang lelaki bersenjata golok mendadak bangun berdiri, sambil ayun senjatanya mereka berbareng menyerbu ketengah kalangan.

“Heng tahy jangan gelisah, kami akan membantu dirimu.” hardiknya sang golok segera bekerja membabat kedua orang gadis itu.

Ilmu silat yang dimiliki kedua orang lelaki ini tidak lemah, babatan golok mereka secara lapat2 disertai deruan angin tajam.

Tampak kedua orang dara berbaju putih itu mendadak menyebarkan diri, satu menahan serangan gabungan dari kedua orang lelaki tersebut sedangkan yang lain tetap menerjang Suma Kan habis2an.

Menemukan situasi makin lama semakin tidak menguntungkan dan keadaan tersebut tak bisa ditunda lebih jauh, Siauw Ling bermaksud turun tangan sendiri untuk membebaskan Suma Kan dari mara bahaya sebab kalau tidak berbuat demikian tidak sampai sepuluh jurus lagi Suma Kan pasti akan terluka oleh babatan pedang dara berbaju putih itu.

Namun iapun ragu2, sebab kalau dia sampai berbuat demikian maka Shen Bok Hong bakal mengetahui rahasianya.

Sementara ia merasa serba salah, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya ia teringat akan diri Tong Loo Thay Thay.

“Mengapa aku tidak mencari akal untuk paksa dia turun tangan? pikirnya.

Ketika ia berpaling, terlihat Tong Loo Thay Thay sedang pusatkan perhatiannya menonton jalannya pertarungan ditengah kalangan, terutama jurus pedang dari dara berbaju putih itu, sampai2 niatnya untuk menantang Shen Bok Hong bergebrakpun untuk sementara waktu terlupakan.

Keadaan Suma Kan makin lama semakin bahaya. gerakan tubuh dara berbaju putih itu amat gesit, jurus pedangnya telengas membuat Suma Kan tak sanggup mempertahankan diri. ditambah pula terjangan2 silelaki berbaju merah posisinya semakin terjepit, Siauw Ling yang ikut memperhatikan jurus pedang kedua orang dara berbaju putih itu iapun berpendapat jurus pedangnya yang berbeda dengan jurus pedang pada umumnya. seluruh serangan mengambil gerakan berbalikan. semua ancaman ditujuka ketempat2 yang sukar diduga.

Pertarungan antara Be Boen Hwie melawan Tang Hong Ciang pun sudah mencapai titik ketegangan, hanya cara bergebrak berbeda jauh dengan Suma Kan.

Waktu saing berpandangan lebih banyak daripada waktu bergebrak, namun setiap serangan yang dilepaskan tentu dahsyat dan mengerikan.

Ber-turut2 Tang Hong Ciang mengirim dua serangan berantai namun semuanya kena dikunci oleh Be Boen Hwie.

Walaupun Be Boen Hwie berhasi memunahkan dua serangan tersebut, hatinya tercekat juga, asalkan Tang Hong Ciang menambahi tenaga kua bagian lagi dalam serangannya niscaya ia sudah terluka oleh babatan pedangnya.

Ambil kesempatan semua orang pusatkan perhatian ketengah kalangan, Siauw Ling memungut selembar daun kemudian diatas daun tadi diukirnya beberapa patah kata yang kira2 berbunyi,

“Situasi amat berbahaya, harap turun tangan”

Setelah menimbang jarakanya dengan Tong Loo Thay Thay salurkan hawa murninya kemudian dengan ilmu Hwei Sian Hoat yang paling diandalkan Liauw Siancu dalam berkelana tempo dulu, lembaran daun tadi segera meluncur kedepan.

Ketika daun tadi berada beberapa tombak jauhnya mendadak membuat gerakan berputar dan melayang ke arah Tong Loo Thay Thay.

Walaupun Siauw Ling mengirim daun tadi dengan tenaga jari Hwie Sian Tji, namun berhubung daun itu terlalu ringan sulit mencapai tempat jauh, lagi pula jarak Tong Loo Thay Thay dengan dirinya lebih lima tombak mungkinkah diterima oleh nenek tersebut ia kurang yakin,

Tampak daun tadi melayang langsung ke arah Tong Loo Thay Thay nemun sayang ketika tinggal dua depa jauhnya tenaga sambitan telah habis.

“Ah sayang….” diam2 Siauw Ling gegetan, “Jikalau aku menambahi sedikit tenaga lagi niscaya daun tadi akan terjatuh ketangan Tong Loo Thay Thay.”

Sementara ia berpikir mendadak seorang dayang cantik berbaju biru yang ada dibelakang Tong Loo Thay Thay ayunkan tangannya mengisap daun tadi ketangannya.

Melihat kejadian ini Siauw Ling kegirangan, pikirnya.

“Semoga saja ia serahkan daun tadi ketangan Tong Loo Thay Thay….”

Siapa sangka setelah dayang cantik tadi mencekal daun tersebut tanpa dipandang sekejap pun dibuang kembali ke atas tanah.

Ketika itu perhatian semua jago ditujukan ketengah kalangan dimana sedang berlangsung suatu pertarungan sengit jarang atau hampir boleh dikata tak seorangpun yang memperhatikan perbuatan Siauw Ling menyambit mengirim berita.

“Aduuh celaka agaknya aku harus berbuat repot lagi” seru Siauw Ling dengan hati kecewa.

Ia tahu berbuat demikian adalah suatu tindakan yang sangat menempuh bahaya, sinar mata Shen Bok Hong amat tajam walaupun pertama kali ia berhasil mengelabuhi dirinya namun kali ini belum tentu ia seuntung tadi.

Ia bukan takut konangan sehingga terjadi bentrokan langsung dengan Shen Bok Hong, yang dikuatirkan adalah keselamatan orang tuanya, cinta kasih ayah dan ibu membuat Siauw Ling tak berani memperlihatkan kedudukannya.

Mungkin sekali dayang cantik yang memungut daun tadi secara tiba-tiba merasakan diatas daun ada tulisannya. dengan ujung kaki ia mencungkil kembali daun tersebut, kemudian dilihat sekejap dan segera dimasukkan ke dalam kantong senjata rahasia.

“Wah celaka dua belas.” Kembali Siauw Ling mengeluh. “Seharusnya diatas daun itu aku cantumkan nama Tong Loo THay Thay walaupun dewasa ini ia sudha memungut daun itu dan membaca tulisannya, namun tak tahu siapa yang dimaksudkan, inilah kesalahanku sendiri…. hanya budak tersebutpun menjengkelkan setealh mengambil daun tadi mengapa tadi tak diserahkan kepada majikannya….”

Sementara ia tidak tengan. mendadak dayang cantik itu menunduk dan membisikkan sesuatu kesisi telinga Tong Loo Thay Thay.

Seluruh rambut Tong Loo Thay Thay yang telah beruban berkibar kencang, sambil memukul meja ia berteriak.

“Shen Bok Hong, aku sudah tak sabar menunggu lebih jauh, kalau kau tidak ingin mencari tempat lain ayoh kita bereskan persoalan kita ditempat ini saja!”

Ketika itu menang kalah sudah tertera, keadaan Suma Kan sangat berbahaya, kedua orang lelaki yang turun tangan membantupun terjebak dalam situasi kritis, mereka telah tergulung ke dalam hawa pedang sang dayang berbaju putih itu, dalam sepuluh gebrakan lagi mereka pasti berhasil merobohkan Suma Kan serta kedua orang lelaki itu.

Bahkan sepuluh gebrakan lagi Kiem Hoa Hujien pun akan mulai melepaskan racun kejinya seandainya sampai semuanya berlangsung beres maka para jago akan terkurung semua.

Waktu itu Shen Bok Hong sedang membayangkan hasil yang bakal dicapai dengan hati bangga, siapa sangka mendadak Tong Loo Thay thay pukul meja sambi menantang perang.

Sepasang alis Toa Cungcu dari perkampungan seratus bunga ini kontan berkerut, serunya dengan nada dingin.

“Hujien mengapa kau begitu gelisah?”

“Aku buru-buru mau pulang ke Su Tzuan” teriak Tong Loo Thay Thay dngan wajah penuh kegusaran. “Tidak sudi aku berdiam lebih lama lagi dalam perkampungan Seratus Bungamu ini”

Ia sambar tongkat kepala burung Hongnya kemudian membentak keras.

“Harap Cuwi sekalian menyingkir jauh2 agar senjata rahasiaku tidak sampai salah melukai kalian semua”

Senjata rahasia dari keluarga Tong di Su Tzuan sudah tersohor puluhan tahun lamanya dalam dunia persilatan bahkan sebagian besar beracun kecuali obat pemunah dari keluarga Tong sendiri tak ada obat penolong lagi.

Bentakan sinenek tersebut ternyata amat manjur para jago yang berada disekitar Tong Loo Thay Thay sama2 menyingkir.

Sambil menhentakkan tongkat ke atas tanah selangkah demi selangkah Tong Loo Thay Thay maju kedepan teriaknya lagi.

“Shen Bok Hong ayoh cepat terima tantanganku ini!”

Melihat dirinya didesak terus menerus hawa amarah dalam hati Shen Bok Hong berkobar dengan hebatnya, namun ia tetap berusaha untuk menenangkan diri, lambat2 ia bangun berdiri.

“Kalau memang Hujien memaksa cayhe harus bergebrak juga pada saat ini, terpaksa aku orang seh Shen akan mengiringi kemauanmu itu.”

“Shen Bok Hong!” jengek Tong Loo Thay Thay sambil tertawa dingin. “Sebelum kita muali bergebrak, terlebih dahulu aku hendak mengutarakan beberapa patah kata, cayhe ingin para jago bertindak sebagai saksi daripada nantikah kalah dengan hati tidak puas”

“Haa…. haa…. mungkin yang kalah bukan aku Shen Bok Hong!”

“Segera akan kita ketahui siapa menang siapa kalah. tak usah kita orang bersilat lidah….”

Setelah merandek sejenak ujarnya kembali.

“Pertarungan kita hari ini jauh berbeda dengan pertarungan pada umumnya siapa punya kepandaian boleh dikeluarkan semua, siapa mati atau terluka bukan urusan”

“Tentang soal ini sudah cayhe duga, keluarga Tong kecuali memiliki beberapa macam senjata rahasia yang dahsyat cayhe tak bisa menduga kalian memiliki ilmu silat apalagi yang mengejutkan.

“Baik. terimalah sebuah babatan taongkatku”

Tongkat kepala burung Hongnya dikebaskan kedepan dengan gerakan Thay san Ya teng atau Gunung Thay san menekan kepala membabat keluar.

Ujung baju kiri Shen Bok Hing segera dikebaskan kedepan. segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat dengan cepat mengunci datangnya babatan tongkat Tong Loo Thay Thay yang disertai dengan deruan angin tajam itu,

Menjumpai kedahsyatan lawan, para jago tercekat hatinya.

“Ah ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong betul2 luar biasa….” pikir mereka hampir berbarng.

Tong Loo Thay Thay sendiripun amat terperanjat, namun saat ini ia sudah terlanjur turun tangan, keadaannya laksana menunggang mau turunpun tak mungkin terpaksa dengan keraskan kepala pergelangan diputar, dengan jurus Heng-san-Cian-Kiem atau Menyapu Hancur Selaksa Prajurit, tongkatnya menyapu sejajar dada.

Shen Bok Hong tertawa ter-bahak2, ujung baju kanannya dikebaskan kedepan menahan datangnya serangan itu sementara badan maju kedepan, ujung baju kiri menyapu ke atas kepala.

Tong Loo Thay-Thay tekuk pergelangannya menarik kembali tongkat tersebut kemudian badannya laksana kilat mundur tiga langkah ke belakang.

Gerakan Shen Bok Hong tidak sampai disitu ia mendesak kedepan ujung bajunya yang longgar melancarkan serangan berantai, dalam sekejap mata dariposisi bertahan ia berebut posisi menyerang.

Para jago yang menonton jalannya pertarungan itu diam2 bergidik juga, pikir mereka,

“Walaupun senjata rahasia beracun dari keluarga Tong sangat lihay tetapi ilmu silatnya biasa saja. Tong Loo Thay-Thay ini disebut juga nomor wahid dari keluarga Tong dewasa ini. tak disangka dalam bergebrak melawan Shen Bok Hong belum sampai lima jurus pihak lawan berhasil merebut posisi, bahkan kelihatan sekali ia keteter hebat alangkah dahsyatnya ilmu silat Toa Cungcu ini,,,”

Serangan2 ujung baju Shen Bok Hong sepintas lalu kelihatan tidak cepat, tetapi arah ancamannya aneh sekali dan sulit dihindari bahkan kadang kala sampai separuh jalan berubah arah,

Baru bergebrak sepuluh jurus, Tong Loo Thay Thay sudah didesak mundur sampai sejauh enam tujuh depa.

Melihat Ciangbunjien keluarga Tong yang tersohor diseluruh kolong langit berhasil didesak sampai kalang kabut oleh serangan tangan kosongnya, ia jadi amat bangga, sambil tertawa ejeknya.

“Ilmu silat dari keluarga Tong dari Su Tzuan tidak lebih begini saja….”

Sebelum kata2 itu selesai diutarakan, mendadak ia mendengus dingin, badannya mundur ke belakang sementara sepasang ujung baju menari tiada hentinya.

Tampak seklilas cahaya keperak2an menyebar keempat penjuru ditengah keyutan baju Shen Bok Hong yang dahsyat dan jatuh rontok ke atas tanah.

Senjata rahasia keluarga Tong benar hebat, para jago yang ada dalam kalangan tak seorangpun yang berhasil melihat jelas bagaimana Tong Loo Thay Thay melepaskan jarum peraknya untuk membebaskan diri dari bahaya dan mendesak mundur Shen Bok Hong.

Dengan adanya kejadian ini posisi Shen Bok Hong pun merebut kembali dengan tongkat kepala ularnya Tong Loo Thay Thay mulai merebut posisi menyerang menggencet musuhnya habis2an.

Mendadak terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati berkumandang memecahkan kesunyian. diikuti kemudian berjatuhannya senjata tajam.

Ternyata dua orang lelaki yang turun tangan membantu Suma Kan tadi sudah menggeletak mati oleh babatan pedang dayang itu.

Setelah berhasil membunuh kedua orang itu dengan sinar mata dingin dayang cantik berbaju putih itu menyapu sekejap seluruh kalangan kemudian selangkah demi selangkah mendekati Suma Kan.

Waktu itu Suma Kan sudah terkurung hebat oleh serangan dayang berbaju putih serta lelaki berbaju merah itu. kini bila ditambah dengan seorang lawan lagi maka Suma Kan akan kepayahan, mungkin tidak sampai tiga jurus pun ia sudah roboh binasa.

Siauw Ling sadar apabila ia tidak segera turun tangan maka situasi akan terjadi perubahan, diam2 ia salurkan hawa murninya ketangan kemudian dengan ilmu jari Siauw loo sin tji ia menotok ketengah udara mengancam dayang cantik berbaju putih tersebut.

Kelihatan sekali dayang berbaju putih itu akan berhasil, mendadak ia berseru tertahan dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Waktu ituSuma Kan sudah merasa ia bakal mati, siapa sangka tiba-tiba musuhnya roboh sendiri. semangatnya berkobar. sepasang kepalanya bergerak cepat mendesak mundur lelaki berbaju merah, kemudian dengan ujung baju membesut keringat dan dengan ujung kaki mencukil pedang dayang yang roboh ke atas tanah itu.

Setelah pedangnya berhasil dicekal bagaikan harimau tumbuh sayap ia balas melancarkan serangan gencar, dalam sekejap mata orang berbaju merah itu sudah terkurung dalam cahaya pedangnya.

Siauw Ling yang berhasil dalam serangannya segera berpikir.

“Jurus pedang kedua orang dayang berbaju putih ini paling ganas aku harus robohkan dulu mereka berdua kemudian baru bisa merebut posisi lebih menguntungkan”

Karena berpikir demikian kembali ia menggunakan ilmu Siuw-loo-sin-tji menotok ke arah dayang berbaju putih itu.

Segulung desiran angin tajam segera meluncur kedepan.

Ketika itu dayang berbaju putih tadi sedang tertegun karena rekannya tiba-tiba roboh, sebelum ingatan kedepan berkelebat lewat segulung desiran angin tajam telah menghantam jalan darah Put-yong-hiat dipinggangnya, pedang segera terlepas dan ia roboh ke atas tanah.

Perubahan secara mendadak membuat para jago kebingungan, mereka tak bisa membedakan lagi mana kawan mana lawan, dengan hati tercekat puluhan pasang mata menyapu berbareng keempat penjuru.

Jurus pedang yang aneh dari sepasang dayang berbaju putih itu mendatangkan rasa takut bagi para jago namun robohnya mereka berdua secara tiba-tiba makin mengerikan hati para jago.

Semua orang tahu tentu ada orang turun tangan secara diam2 melukai kedua orang dayang tersebut hanya tak jelas siapakah orang tersebut dan melukainya dengan kepandaian apa.

Buru-buru Shen Bok Hong melancarkan dua serangan dahsyat mendesak mundur Tong Loo Thay-Thay kemudian badannya yang tinggi besar rada bongkok melayang ketengah udara menghampiri kedua orang dayangnya yang roboh ketanah, satu tangan sesosok badan, diperiksanya dengan seksama kemudian ia menghardik.

“Tahan!”

Tang Hong Ciang mengiakan dan mundur lima depa ke belakang.

Be Boen Hwie pun segera melipat kipasnya ia tidak mengejar pihak lawan lebih jauh.

Terdengar Tang Hong Ciang bersuit rendah lelaki berbaju merah tadi segera menarik serangannya mundur ke belakang.

Suma Kan pun menarik kembali serangannya tidak mengejar lebih jauh.

Dengan sepasang tangannya Shen Bok Hong melempar kedua orang dayang tersebut kepada Tang Hong Ciang.

“Bawa mereka mundur ke belakang” perintahnya.

Dengan suatu gerakan cepat Tang Hong Ciang masukkan pedangnya ke dalam sarung kemudian menerima tubuh kedua orang dara tadi, lalu bersama2 lelaki berbaju merah itu mengundurkan diri kebalik bebungahan.

Menanti Tang Hong Ciang telah mengundurkan diri, Shen Bok Hong beru tertawa dingin tiada hentinya.

“Sahabat dari mana yang memiliki ilmu jari amat dahsyat, membuat aku Shen Bok Hong betul kagum.”

Sembari berkata sepasang matanya dengan tajam menyapu keempat penjuru.

Siauw Ling segera menarik kembali sinar matanya dan duduk tenang dikursinya, sementara raut mukanya menunjukkan se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu.

“Sahabat!” Shen Bok Hong kembali berseru. “Maaf kalau aku Shen Bok Hong tidak baik dalam melayani kehadiranmu setelah kini kau berani melukai dayang perkampungan Seratus bunga kami dengan ilmu jari Kiem Kong Tji, aku rasa ilmu silatmu tentu sangat lihay, setelah berani berbuat mengapa tak berani mengaku?”

Beberapa kali ia ulangi bentakan itu nemun tak kedengaran seorang manusiapun yang memberi jawaban.

Kendati Shen Bok Hong adalah seorang cerdik dalam keadaan seperti ini ia gagal untuk memperoleh jawaban.

Tampak Tong Loo Thay-Thay sambil mengetuk tongkatnya berseru.

“Shen Bok Hong, pertarungan kita belum selesai, siapa menang siapa kalah belum diputuskan, ayoh kita teruskan lagi”

“Hmm! apakah Hujien punya keyakinan untuk menang? lebih baik kita teruskan saja nanti” jawab Toa Cungcu ini dengan nada dingin.

Diluar ia berbicara, hatinya amat gelisah jikalau ia gagal menemukan sang pembokong maka kesalahan ini akan terhitung amat besar.

Tong Loo Thay Thay hanya bergebrak sebanyak duapuluh jurus melawan Shen Bok Hong tetapi ia harus melepaskan empat kali jarum beracunnya, untuk merebut posisi. seandainya senjata rahasia keluarga Tong tidak lihay sehingga membuat Shen Bok Hong rada jeri. niscaya sejak tadi Tong Loo Thay Thay sudah terluka ditangan orang itu.

Saat ini senjata rahasia yang dibekal sudah tak banyak lagi. apapula senjata rahasia tersebut tak mungkin melukai Shen Bok Hong karena itu sedikit banyak iapun sudah dibikin rada was2 hanya saja untuk menjaga nama baik keluarga Tong, mau tak mau ia harus meneruskan tantangannya.

Dan sekarang Shen Bok Hong sudah mengutarakan maksudnya dengan senang hati ia ambil kesempatan itu untuk mengundurkan diri.

Suasana dalam kalangan seketika menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikitpun juga suarapun, saking tenangnya sampai hembusan napaspun kedengaran.

Dengan sepasang mata yang tajam Shen Bok Hong menyapu wajah setiap orang namun gagal menemukan sedikit titik terang, ia lantas tertawa dingin.

“Saudara, kau memiliki ilmu silat yang lihay” serunya. “Kenapa perbuatanmu sembunyi2 seperti cucu kura2, apakah tidak takut kehilangan pamor seorang lelaki sejati?”

“Gendang senja genta fajar, tak bakal bisa mengejutkan seseorang. Be-heng mari kita pergi” mendadak siperamal sakti dari lautan Timur Suma Kan berseru.

Pada saat ini pandangan Be Boen Hwie terhadap Suma Kan telah berubah, ia merasa walaupun orangnya latah namun memiliki il mu silat yang sangat lihay, hanya sayang pengalamannya sangat cetek dan selalu ingin menonjolkan diri sehingga salah dianggap sebagai orang sinting, segera jawabnya.

“Bagaimana? apakah Suma heng sudah menemukan mereka hendak melepaskan racun keji ulat emas?”

“Kalau perhitungan siauwte tidak salah mereka sudah mulai melepaskan racun-racun keji tersebut,

Tanya jawab antara mereka berdua dilakukan dengan suara keras, tujuan mereka bukan lain adalah berharap agar para jago bisa mendapat peringatan terakhir dan segera mengundurkan diri dari tempat bahaya.

Melihat para jago sama sekali tak bergerak hatinya Be Boen Hwie menggembuskan napas panjang sambil mengundurkan diri serunya keras,

“Suma-heng, tahukah kau sampai seberapa jauh jarak yang bisa tercapai racun keji ulat emas itu? kita harus mengundurkan diri sampai dimana baru bisa lolos dari ancaman mara bahaya?”

“Menurut pengetahuan siauwte kalau orang yang melepaskan racun adalah seorang ahli serta memiliki tenaga lweekang yang sempurnya maka jaraknya bisa mencapai sejauh lima li, tetapi hal ini berlaku kalau korbannya satu orang sedangkan apabila yang dihadapi adalah para jago dalam kalangan seperti ini maka jaraknya tak akan jauh kalau kita bisa mengundurkan diri sampai suatu jarak tertentu maka bisa lolos dari mara bahaya itu.

Mengikuti dibelakang Be Boen Hwie, Siauw Ling pun mengundurkan diri ketepi kebun sebelah Barat.

Agaknya para jago yang ada dalam kalangan sudah dibikin jeri oleh ucapan Suma Kan, masing-masing segera tinggalkan tempat duduknya dan mengundurkan diri ketepi kebun….

Shen Bok Hong yang gagal menemukan manusia yang membokong dayangnya sedang mendongkol sekali, melihat para jago mengundurkan diri semua dan rencananya yang sudah tersusun masak2 gagal total ia makin membesi Suma Kan sampai merasuk ketulang sumsum pikirnya.

Sepintas lalu orang ini kelihatan gila. tak disangka dialah seorang manusia cerdik, kalau ini hari tidak kuusahakan untuk membasmi dirinya mungkin dikemudian hari akan merupakan bibit bencana bagiku….”
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 18"

Post a Comment

close