Bayangan Berdarah Jilid 10

Mode Malam
JILID 10

“Budak sedang memikirkan suatu cara yang baik untuk mengatasi persoalan ini” kata Kiem Lan. “Tapi setelah dipikir bolak balik belum juga memperoleh suatu cara yang bagus.”

“Urusan sudah jadi begini apa perlunya kalian murung tak usah dipikirkan lagi besok pagi kita bertindak sesuai dengan keadaan.”

Mendadak Giok Lan menegakkan badannya.

“Samya” serunya cemas. “Apakah kau punya pegangan untuk menangkan Toa Cungcu?”

“Soal ini susah untuk dibicarakan Djen Bok Hong jadi orang licik dan banyak akal. Dari luaran susah bagi kita untuk meninjau keadaan sebenarnya cuma perduli kepandaian silatnya seberapa lihay jadi orang seberapa licik aku Siauw Ling sama sekali tidak takut.”

“Samya, budak ada beberapa patah kata yang terasa tidak seharusnya dikatakan kalau kami salah bicara harap Samya jangan marah.”

“Katakan.”

“Walaupun kepandaian silat yang dimiliki Samya sangat lihay keberanian susah ditandingi, tapi dengan kekuatan kau seorang hendak menangkan kerubutan jago-jago lihay dari perkampungan Pek Hoa San cung aku rasa bukan suatu pekerjaan yang sangat mudah, aku rasa satu2nya jalan untuk menghadapi kejadian besok kalau bisa bersabar2lah terus. Kalau tak bisa bersabar dan harus bergebrak kita tak bisa bertempur terlalu ngotot. Samyapun tak usah mengurusi keselamatanku serta Kiem Lan. Usahakan dulu untuk menerobos keluar dari kepungan….”

ooooo0ooooo

Alis Siauw Ling langsung berkerut cepat-cepat ia menukas, “Jadi putra manusia tidak bisa berbakti pada orang tuanya sudah merupakan suatu dosa yang besar apalagi menyebabkan orang tua menderita sekalipun mati susah untuk mencuci bersih dosa2 ini.”

“Samya maksud Djen Bok Hong menculik Looya serta Hujien justru bertujuan hendak menaklukkan Samya asal Samya bisa menjaga diri sebaik2nya maka usaha Djen Bok Hong selama ini akan sia2 belaka.”

Berhubung banyak persoalan yang merasa tidak leluasa untuk diutarakan secara terus terang terpaksa budak ini mengajak Siauw Ling berputar2 dulu kemudian baru mengutarakan maksudnya yang sebenarnya.

Siauw Ling seorang pemuda yang cerdik sudah tentu ia dapat menangkap maksud dayang ini yang mengharapkan ia batalkan saja pertemuan besok siang alisnya berkerut.

“Untuk urusan ini kalian berdua tak usah merasa cemas aku sudah punya rencana sendiri justru kalian berdualah yang tidak perlu ikut aku menghadiri pertemuan besok siang gunakanlah kesempatan ini untuk melarikan diri.”

Giok Lan tertawa sedih.

“Budak sekalian tak akan menyesal walaupun harus mati justru Samya sendiri.”

“Cukup kita tak usah membicarakan soal ini lagi” potong Siauw Ling cept sambil goyangkan tangan berulang kali. “Kalian berdua harus pergi beristirahat.”

Giok Lan tak berani banyak bicara lagi sepasang mata segera dipejamkan untuk atur pernapasan.

Semalam lewat dengan cepatnya dalam sekejap matahari telah terang tanah.

Siauw Ling menghembuska napas panjang sinar mata perlahan-lahan menyapu sekejap suasana disekelilingnya tampak Kiem Lan serta Giok Lanpun duduk berjejer belum sadar dari semedinya.

Melihat wajah yang sayu dari mereka berdua timbullah suatu perasaan iba dalam hati Siauw Ling pikirnya, “Aaaai….mungkin satu malaman hati mereka tidak tenang jelas barusan saja pikiran mereka bisa tenang dan mulai mengatur pernapasan….”

Karena kasihan ia tidak mau menyadarkan mereka diam2 pemuda ini bangun berdiri dan berjalan keluar maksudnya hendak berlatih ilmu silat.

Mendadak….

Suara langkah kaki manusia berkumandang memecahkan kesunyian dipagi hari mendengar suara itu Siauw Ling merasa hatinya agak bergerak.

“Mungkinkah siempunya burung telah kembali.”

Braaak pikiran kedua belum berkelewat, lewat pintu ruang sudah terbuka lebar.

Kiem Lan serta Giok Lan sama2 meloncat bangun saking kagetnya sikap mereka terkejut sedang mata terpelotot bulat2.

Sebaliknya Siauw Ling yang sudah mendengar dahulu suara langkah kaki orang itu dalam keadaan begini sama sekali tidak terperanjat sikapnya sangat tenang.

Seorang lelaki dengan mata melotot bulat dan seluruh badan berlepotan darah berdiri tegak didepan pintu.

Bagaimanakah raut muka orang ini susah dibayangkan karena seluruh wjaah maupun badannya ternoda oleh darah kering hanya saja sepasang matanya jelas melotot penuh kegusaran.

Agaknya ia ingin mengucapkan sesuatu tapi badannya tidak takut menahan diri lagi setelah bibirnya bergerak dan belum sempat kata2nya meluncur keluar ia sudah roboh terjengkang ke atas tanah.

Kiem Lan dan Giok Lan berseru tertahan buru-buru mereka lari menghampiri orang itu untuk membimbingnya bangun.

“Jangan pegang dia” teriak Siauw Ling tiba-tiba.

Mendengar suara bentakan kedua orang dayang itu tertegun dan menghentikan langkahnya lalu mundur dua langkah ke belakang.

Perlahan-lahan Siauw Ling bangun berdiri berjalan kesisi orang itu dan berjongkok untuk memeriksa keadaan lukanya.

“Ehmm….luka yang ia derita sangat parah” kata pemuda ini sesaat kemudian. “Diseluruh badan ada enam tempat bekas luka senjata isi perutpun menderita luka yang amat parah. Aiii….”

“Ia masih bisa ditolong?” tanya Kiem cepat.

“Soal ini susah untuk dibicarakan tapi kitapun tak boleh berpeluk tangan meligat orang berada diambang kematian.”

“Seluruh badannya berlepotan darah” kata Giok Lan dari samping kalangan. “Untuk mengobati luka dibadannya kita harus mencuci dulu darah yang menodai badannya.”

“Tidak salah….cepat kalian berdua ambil air.”

Sedang Siauw Ling segera mengeluarkan tangannya untuk ditekankan diatas dadanya terasa jantung masih berdetak walaupun amat lemah.

Diam2 hawa murninya disalurkan keluar segulung aliran panas dengan cepat keluar sudah masuk ke dalam tubuh siluka itu melalui jalan darah Sian Khie Hiat.

Dengan tenaga kweekangnya yang amat sempurna setelah menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh orang itu semula denyutan jantungnya lemah kini berdebar kembali seperti sedia kala sedang sepasang matapun perlahan-lahan dibuka.

Saat ini sinar matanya amat sayu ia memandang wajah Siauw Ling beberapa saat kemudian memperdengarkan suara helaan napas yang lemah.

“Siapa kau?” tanyanya lirih.

“Cayhe Siauw Ling kalau luka Heng thay hanya terbatas pada luka luar saja tanpa diberatkan oleh luka dalam rasanya tidak susah bagiku untuk turun tangan menolong.”

“Jangan goyangkan badanku” seru orang itu sambil pejamkan kembali sepasang matanya. “Di dalam peti mati sebelah selatan ada seekor burung beo.”

Napasnya tersengkal2 setelah merandek sejenak sambungnya lebih lanjut, “Lepaskan burung itu kemudian masukkan badanku ke dalam peti mati itu asal aku bisa bertahan dua belas jam maka aku….”

Jelas ia sudah kelelahan belum habis ucapannya diutarakan mulut telah membungkam kembali.

Siauw Ling sendiripun tahu dalam keadaan seperti ini banyak mengucapkan sepatah kata berarti mengurangi suatu bagian harapan untuk hidup karena itu walaupun banyak persoalan yang tidak ia ketahui terpaksa pemuda ini pendam niatnya di dalam hati pemuda ini.

Pada waktu itu Kiem Lan serta Giok Lan dengan membawa segentong air telah berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dari dalam sakunya Giok lan mengambil keluar secarik sapu tangan. Setelah dibasahi dengan air gentong perlahan-lahan diusapkan ke atas wajah orang itu.

Setelah nona darah bersih, muncullah sebuah mulut luka yang amat besar dan dalam diatas kening sebelah kirinya memanjang ke atas batok kepala, darah segar mengucurkan keluar tiada hentinya dari mulut luka tersebut.

Melihat luka itu sangat parah Giok Lan berpaling memandang sekejap wajah Siauw Ling.

“Samya” katanya. “Luka yang ia derita sangat parah mungkin sulit bagi kita untuk melakukan pertolongan….”

Mendadak sepasang mata orang itu yang semula terkatup kini terpentang kembali.

“Jangan ganggu diriku.”

Karena harus menggerakkan matanya darah mengucur keluar semakin deras dari mulut luka.

Giok Lan berhenti mengusap ia memandang sekejap wajah Siauw Ling dan berseru, “Samya, kita tak punya obat2an mungkin sulit bagi kita untuk menolong.”

“Ehmmm….dia minta kita menggotong badannya dan dimasikkan ke dalam peti mati itu kemudian lepaskan burung beo hijau asalkan bisa bertahan selama dua belas jam maka jiwanya bisa tertolong.”

“Tidak salah” sambung orang yang terluka itu cemas. “Cepat kalian masukkan aku ke dalam peti mati dua belas jam kemudian kemari lagi.”

Ia marandek sejenak untuk tukar napas lalu tambahnya, “Tolong ambilkan sepucuk surat yang ada di dalam dadaku….” belum habis ucapan itu diutarakan mendadak dia membungkam jelas orang ini merasa terlanjur bicara.

“Heng thay berkata demikian aku duga tentu ada tujuan tertentu” ujar Siauw Ling tidak mau mendesak tahu lagi rahasia orang itu. “Akupun tak akan terlalu memaksakan diri untuk menolong kau cuma da satu persoalan hendak cayhe katakan kepadamu. Burung beo yang ada di dalam peti mati itu sudah cayhe lepaskan berhubung makanan serta minumannya sudah mengering cayhe tidak tega melihat burungmu itu mati kelaparan.”

“Sudah berapa lama kalian lepaskan burung itu?” seru orang ini dengan nada cemas.

“Mungkin satu dua jam yang lalu” jawab Siauw Ling setelah termenung sebentar.

“Bagus sekali pada saat sang surya lenyap dibalik gunung besok hari harap kalian datang lagi kemari sekarang cepatlah masukkan aku ke dalam peti mati itu.”

Walaupun dalam hati Siauw Ling merasa keheranan dengan sikap orang ini dimana berulang kali minta dirinya dimasukkan ke dalam peti mati. “Apa mungkin peti mati bisa membantu dirimu untuk merawat luka yang demikian parahnya itu?”

Tetapi setelah dilihatnya ucapan orang itu begitu bersungguh2 terpaksa ia menurut juga untuk memasukkan badannya ke dalam peti mati.

“Heng thay apakah kau percaya penuh dalam dua belas jam kemudian pasti orang yang datang memberi bantuan?”

“Kecuali burung beoku menemui peristiwa ditengah jalan.”

Bicara sampai disitu ia tak tahan lagi sepasang matanya dipejamkan kembali rapat2.

“Kalau besok cayhe masih bisa hidup dikolong langit tentu akan kupenuhi janjimu ini dan datang menjenguk saudara” kata Siauw Ling sambil menekan peti mati tersebut. “Kalau tidak beruntung kami harus menemui ajalnya sudah tentu tak bisa datang lagi.”

Sepasang mata yang semula telah terpejam mendadak terpentang kembali.

“Kenapa?”

“Cayhe telah mengadakan suatu perjanjian dengan seseorang bagaimana akhir pertemuan ini masih susah diduga mulai sekarang.”

Sepasang mata yang sudah sayu dari orang itu memandang wajah Siauw Ling tajam2 lama sekali ia baru berkata kembali, “Bocah kau harus kembali kalau loohu masih hidup dikolong kangit boleh pergi keujung langit mencari dirimu kalau loohu tidak beruntung menemui ajalnya disini bukankah….”

Napasnya tersengal2 sehingga sulit baginya untuk melanjutkan kembali kata2nya, “Baiklah asalkan cayhe berhasil mempertahankan jiwaku aku pasti akan datang kemari perlukah aku menutupi peti mati ini.”

“Kalian harus mempertahankan diri bagaimanapun juga jiwa kalian harus tetap dipertahankan” ujar orang itu lagi dengan seluruh tenaga yang dimiliki.

Melihat orang itu sudah merasa sulit untuk bicara Siauw Ling tidak membiarkan ia banyak bicara lagi.

“Aku pasti datang silahkan Heng thay baik2 beristirahat disini….”

Perlahan-lahan ia menutup peti mati itu dengan hanya meninggalkan sedikit celah sebagai lubang pernapasan kemudian putar badan keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintu kayu tersebut.

“Samya agaknya orang itu menjumpai banyak persoalan yang hendak dibicarakan dengan dirimu” bisik Kiem Lan seraya diluar ruangan kuil.

“Mungkin ia minta aku membantu dirinya untuk menyelesaikan upacara yang terakhir.”

Ia mendongak untuk menghela napas tambahnya, “Jarak saat ini dengan siang hari masih ada beberapa jam mari meminjam kesempatan ini kita belajar beberapa macam ilmu pukulan ikuti saja beberapa petunjukku untuk menghadapi serangan lawan walaupun waktu sudah sangat mendesak sehingga susah mendatangkan hasil yang memuaskan rasanya masih bermanfaatkan pula untuk menambah pengetahuan kalian di dalam menghadapi serangan lawan.”

Tidak menunggu jawaban lagi ia membawa kedua orang dayang itu memasuki sebua hutan diluar kuil ditempat itu ia memberi petunjuk dua jurus serangan kepada mereka berdua setelah itu barulah bersama2 berangkat menuju keperkampungan Pek Hoa San cung.

Ditengah perjalanan mereka menjumpai sebuah kedai mendadak Kiem Lan berhenti dan berbisik lirih, “Samya siang hari masih ada satu jam bagaimana kalau kita bersantap dulu dikedai ini?”

“Tidak salah setelah memasuki perkampungan Pek Hoa San cung kita tak boleh makan maupun minum barang2 mereka.”

Mereka bertigapun bersantap di dalam kedai itu walaupun yang disantap hanyalah nasi kasar dan teh pahit tapi bagi ketiga orang ini sudah cukup lezat.

Selesai bersantap mereka segera berangkat menuju keperkampungan Pek Hoa San cung.

Tjioe Tjau Liong sejak semula telah menantikan kedatangan mereka diluar perkampungan begitu melihat munculnya Siauw Ling disana dengan langkah lebar ia segera menyambut.

“Siauw heng masih mengira Samte telah lupa dengan janji pertemuan kita ini hari?” tegurnya.

“Hubungan persaudaraan diantara kita sudah putus harap Djie Tjung tju jangan menyebut aku dengan sebutan itu lagi” tukas Siauw Ling dingin.

“Empat samudra merupakan kawan ujung langit bagaikan tetangga walaupun hubungan persaudaraan diantara kita sudah putus. Apa salahnya kalau kita saling membahasai pihak lawan dengan saudara? seorang lelaki sejati tidak suka memandang rendah derajat lawan. Siauw heng apakah tidak merasa caramu berpikir terlalu picik?”

Siauw Ling merasa gusar, tapi ia tekan rasa gusar tersebut dalam rongga dadanya.

“Kalau begitu aku harus merepotkan Tiioo heng untuk membawa jalan….” jengkelnya sambil tertawa hambar.

Tjioe Tjau Liong tersenyum, sinar matanya beralih ke atas wajah kedua orang budak itu.

“Bagaimana dengan kedua orang dayang ini?”

“Sudah tentu akan masuk ke dalam bersama2 aku Siauw Ling.”

Suatu senyuman mengejek melintas diatas wajah manusia she Tjioe ini.

“Bagus sekali derajat kedua orang budak ini sudah dinaikkan beberapa kali lipat oleh Siauw heng” ejeknya sinis.

“Djie Cungcu” seru Kiem Lan dingin. “Kita kakak beradik sudah menjadi penghianat2 dari perkampungan Pek Hoa San cung kalian kalau bicara harap Djie Cungcu sedikit tahu kesopanan budak2 terus siapa yang kau maksudkan?”

“Bangsat kerparat” teriak Tjioe Tjau Liong mencak2. “Berani betul kau budak laknat berani cari gara2 dengan aku?”

Sembari berteriak telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan ke arah budak2 itu.

Siauw Ling yang berdiri disisinya dengan cepat menggerakkan tangan kanan mencengkeram pergelangan kanan Tjioe Tjau Liong yang sedang melancarkan serangan.

“Tjioe heng kau ingin bergebrak pada saat ini juga?” tantangnya.

Tjioe Tjau Liong seketika itu juga merasakan seluruh tulang belulangnya linu dan sakit walaupun semua tenaga sudah dikeluarkanpun percuma saja akhirnya ia menghela napas panjang.

“Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepada budak2 ini aku tidak bermaksud menantang Siauw heng untuk bergebrak.”

Sepasang mata Siauw Ling berkilat selapis hawa napsu membunuh melintasi seluruh wajahnya.

“Djie Cungcu kau dengar baik2″ ujarnya keren. “Apalagi orang tua cayhe terluka barang seujung rambutpun aku Siauw Ling tentu akan membasmi seluruh isi perkampungan Pek Hoa San cung ini dan orang pertama yang akan menerima kematian adalah Djie Cungcu pribadi.”

Sembari berkata ia lepaskan cengkeramannya pada pergelangan kanan Tjioe Tjau Liong.

Mendengar ucapan tersebut sang Djie Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung tertawa terbahak2.

“Haaa….haaa….kalau kupandang dari ucapanmu agaknya Siauw heng merasa paling benci dengan diri cayhe?”

“Sedikitpun tidak salah….”

Setelah melihat hawa amarahnya yang berkobar2 dalam dada Siauw Ling orang she Tjioe ini tidak berani mencari gara2 lagi ia takut dirinya kena dikecudangi lagi oleh pemuda tersebut.

“Baiklah biar siauwte membawa jalan buru-buru.”

Dengan langkah cepat ia segera berlalu.

Siauw Ling pun mengikuti dari belakangnya dengan kencang ketika itulah Giok Lan mempercepat langkahnya mendekati pemuda tersebut.

“Samya harap tenangkan hatimu jangan sampai membikin pikiran jadi kawau balau.”

Siauw Ling menghembuskan napas panjang ia tertunduk sedih.

“Aaaai….kedua orang tuaku sudah tua dan berbadan lemah mana ia sanggup menahan siskaan ini?”

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba diruang tengah perjamuan telah dimulai dengan Djen Bok Hong dikursi pertama disamping itu terdapat pula seorang kakek tua kurus kering berbaju hitam duduk saling berhadap2an dengan Toa Cungcu.

Kulit maupun badan orang ini kaku wajahnya kukoay susah dilukiskan kalau bukan sepasang biji matanya berputar2 mungkin orang lain akan menganggapnya sebagai sesosok mayat hidup.

Terhadap orang ini Siauw Ling mempunyai suatu kenangan yang sangat mendalam karena dia bukan lain adalah Tok so Yok Ong yang ditemuinya sewaktu ada dikuil bobrok tempo dulu.

Halaman yang demikian luasnya hanya teratur sebuah meja perjamuan kecuali dihadiri oleh Djen Bok Hong serta Tok So Yok Ong tak kelihatan seorang manusiapun.

Ketika Tok So Yok Ong melihat munculnya Siauw Ling disitu mendadak dari sepasang matanya memancarkan cahaya tajam tiada hentinya ia perhatikan tubuh pemuda tersebut.

Menjumpai si raja obat bertangan keji terbayang kembali dalam benak Siauw Ling akan peristiwa yang mengerikan malam itu tak kuasa lagi hatinya merasa bergidik.

Djen Bok Hong tersenyum melihat kehadiran mereka bertiga dengan cepat ia bangkit berdiri menjura.

“Mari….mari….kalian bertiga silahkan duduk” ujarnya mempersilahkan.

Jelas dari maksud ucapan itu memandang Kiem Lan, Giok Lan sebagai tetamunya pula.

Dengan langkah lebar Siauw Ling berjalan mendekati meja perjamuan cari kursi untuk duduk.

Kiem Lan, Giok Lan pun mengikuti jejak Siauw Ling duduk dikedua belah sisinya.

Sepanjang waktu kedua orang dayang ini menaruh rasa hormat dan jeri yang luar biasa terhadap Djen Bok Hong kini mengharuskan mereka duduk saling berhadapan sebagai musuh hati mereka kebat kebit juga dibikinnya.

Kembali Djen Bok Hong tertawa hambar sembari angkat cawan sendiri katanya, “Nona berdua sungguh beruntung bagaikan sepasang mutiara yang bersinar Siauw heng bisa memandang tinggi kalian membuat cayhepun harus mengucapkan selamat kepada kamu berdua.”

“Toa Cungcu terlalu memuji” sahut Giok Lan sambil menjura. “Budak sekalian hormati watak Samya yang gagah perkasa….”

“Haaa….haaaa….jadi maksud kalian aku tidak sesuai untuk menerima penghormatan kalian?” sindir Djen Bok Hong tertawa terbahak2.

Giok Lan kontan merasa jantungnya berdebar keras air mukanya berubah merah padam.

“Budak tidak bermaksud demikian.”

“Haaa….haaa….beberapa patah kata guyon jangan kalian anggap sungguh2.”

Air mukanya mendadak berubah jadi keren sambungnya, “Peraturan perkampungan Pek Hoa San cung kami selamanya keras dan disiplin barang siapa yang berani berhianat selamanya kami tidak kasih ampun kepada mereka ini hari aku ingin mempertontonkan beberapa ornag penghianat dihukum.”

Bicara sampai disitu ia ulapkan tangannya kemudian bertepuk tangan dua kali.

Dari balik pepohonan serta bunga berkumandang suitan panjang diikuti dari puncak loteng Wang Hoa Loo muncul suara sautan.

Jantung Siauw Ling berdebar semakin keras tak kuasa iapun ikut mendongak ke atas.

Tambang bambu panjang perlahan-lahan muncul dari atap loteng Wang Hoa Loo diujung bambu panjang itu terikatlah seorang lelaki setengah telanjang yang hanya memakai celana pendek.

Jarak permukaan tanah dengan puncak loteng Wang Hoa Loo sudah ada puluhan tombak tingginya, ditambah pula orang itu digantung diatas bambu panjang yang dijalurkan dari pucuk loteng keadaannya sangat mengerikan.

“Orang ini secara diam2 ada maksud menghianati diriku” ujar Djen Bok Hong sambil memandang si orang yang digantung diatas tiang. “Oleh karena itu ia berhak untuk merasakan bagaimanakah rasanya kalau ditembusi dengan berpuluh2 batang anak panah.”

Ketika itulah mendadak suara desiran angin tajam berkumandang memecahkan kesulitan sebatang anak panah meluncur keluar dari loteng pertama tepat menghajar paha orang itu.

Suara jeritan bergema sangat menyayatkan hati butiran darah muncrat keempat penjuru.

“Walaupun orang ini ada maksud berhianat tapi belum melakukan sesuatu gerakan” sambung Djen Bok Hong lebih lanjut. “Maka biarlah ia sedikit merasakan siksaan diatas tiang penggantungan.”

Kembali ia ulapkan tangannya ke atas, seketika anak panah berhamburan bagaikan hujan deras dari pelbagai tingkat loteng mengarah tubuh orang itu.

Jeritan ngeri bergema sangat mengerikan darah muncrat bagaikan hujan gerimis dalam sekejap mata seluruh badan orang itu sudah dipenuhi dengan anak2 panah.

“Ooouw….sangat menarik. kematiannya sangat memuaskan” seru Toa Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung seraya melirik wajah Siauw Ling.

Suasana hening beberapa saat lamanya atau secara tiba-tiba ia bersuitan kembali.

Bambu panjang tadi perlahan-lahan ditarik kembali sebagai gantinya dari loteng sebelah barat muncul kembali dua batang bambu yang diatas masing-masing bambu terikat dua kursi diatas kursi duduk seorang laki2 dan perempuan.

Setelah melihat dengan teliti siapa yang duduk diatas kursi itu seketika itu juga Siauw Ling merasa nyawanya seperti melayang diawang2. Matanya melotot keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Orang itu bukan lain adalah orang tuanya sendiri.

“Siauw heng sudah melihat jelas siapakah mereka” jengek Djen Bok Hong tersenyum.

Hawa bergidik muncul dari dasar hati Siauw Ling seluruh badannya merinding keras.

“Sudah….sudah kulihat cepat turunkan” serunya cemas.

“Haaaaa….haaaaa….haaaaa….enteng sekali kau bicara hubungan persaudaraan diantara kita sudah putus apakah kau merasa ucapan ini tidak sedikit keterlaluan?”

Keringat dingin mengucur keluar semakin deras sambil menyeka keringat kembali Siauw Ling berseru, “Apa yang hendak kau katakan cepat diutarakan keluar….”

“Haaaa….haaaaa….haaa….tali yang mengikat kursi itu diatas bambu walaupun kelihatan sangat tipis dan kecil tapi kuatnya luar biasa Siauw heng tak perlu kuatir tali itu bisa putus ditengah udara.”

“Usia kedua orang tuaku sudah lanjut cukup digantung ditempat tinggi sudah mengejutkan hati mereka mungkin sekali perbuatanmu ini membuat mereka jadi ketakutan” kata sang pemuda sedih.

“Kalau Siauw heng belum memutuskan hubungan persaudaraan dengan aku orang she Djen maka kedua orang tuamu sama pula dengan kedua orang tuaku aku akan menghormatinya sebagai seorang angkatan lebih tua….”

Siauw Ling merasakan setiap patah kata yang diucapkan orang itu bagaikan sebuah palu besi yang menggodam hatinya jantung berdebar keras keringat mengucur semakin deras memikirkan kelamatan orang tuanya.

Lama sekali akhirnya ia berhasil juga menekan perasaan tersebut ke dalam hati katanya tenang, “Peristiwa yang telah berlalu tak akan balik kembali lebih baik kita bicarakan persoalan yang terjadi didepan mata….”

“Baik” Djen Bok Hong tertawa hambar. “Siauw heng bersiap sedia hendak menggunakan tindakan apa untuk menolong aah ibumu?”

“Urusan sudah jadi begini Toa Cungcu pun tak perlu jual maal lagi apa yang hendak kau suruh aku Siauw Ling lakukan cepat diterangkan sejujur2nya.”

Djen Bok Hong tersenyum.

“Baik kita bicarakan secara blak2an saja asal kau bisa mendapatkan batok kepala Hong tiang dari kuil Siauw limsi maka ayahmu akan kami lepaskan.”

“Hong tiang dari kuil Siauw lim si?” seru Siauw Ling melengak.

“Tidak salah dengan kepandaian silat yang dimiliki Siauw heng rasanya tidak susah untuk mendapatka batok kepala Hong tiang dari kuil Siauw lim si.”

“Toa Cungcu” tiba-tiba Giok Lan menyela dari samping. “Budak ada beberapa patah kata hendak diutarakan entah sesuaikah kuucapkan?”

“Baik katakanlah.”

“Toa Cungcu minta Samya mengambil batok kepala Hong tiang dari kuil Siauw lim sie untuk melepaskan Looya seorang rasanya untuk membebaskan Hujien masih ada syarat lain pula.”

“Oooouw….sungguh teliti pendengaranmu.”

Siauw Ling terkejut ia merasakan hawa mangkel menerjang naik ke atas kerongkongan mendadak sambil bangun berdiri ia berteriak gusar, “Kalau aku tidak setuju.”

“Gampang sekali terpaksa aku harus menahan ayah ibumu untuk selamanya di dalam perkampungan Pek Hoa San cung ini.”

“Kepandaian silat Toa Cungcu sangat lihay sudah lama aku Siauw Ling mendengarnya sungguh kebetulan ini hari aku ingin minta pelajaran darimu.”

“Haaa….haaa….aku percaya kau Siauw Ling bukan seorang tukang pukul kasaran….”

Mendadak air mukanya berubah jadi keren dengan dingin terusnya, “Sekalipun kau ada maksud untuk menantang aku bergebrak itu merupakan urusan dikemudian hari saat ini jiwa kedua orang tuamu masih berada dalam genggamanku asalkan aku ulapkan tangan maka mereka berdua akan mati tertembus oleh hujan anak panah.”

Mendengar ancaman itu Siauw Ling mendongak memandang ayah ibunya yang tergantung diangkasa semangat jantannya seketika hancur luluh dengan sedih ia menghela napas panjang.

“Katakanlah masih ada syarat apalagi?”

“Dengan batok kepala Hong tiang kuil Siauw lim untuk mengganti nyawa ayahmupun merupakan perbuatan satu nyawa dibayar dengan satu nyawa aku rasa tidak saling merugikan bukan? sedangkan mengenai ibumu urusan makin gampang lagi.”

“Apa yang hendak kau lakukan?” seru Siauw Ling sambil menekan pergolakan dalam dadanya.

“Haaaa….haaaa….haaa….gampang sekali asalkan kau suka menyelundupkan masuk kegunung Bu tong san….”

“Membinasakan Boe Wie Tootiang agar orang2 Bu tong pay membenci aku hingga merasup ketulang sumsum?” sambung Siauw Ling dingin.

“Kau mempunyai hutang budi dengan Boe Wie Tooiang tentu mereka tak akan mencurigai dirimu asalkan kau bisa turun tangan keji tanpa ia sadari bukankah urusan akan berlangsung dengan sangat gampang?”

Siauw Ling mendongak menghembuskan napas panjang saking sedihnya tak sepatah katapun bisa diutarakan lagi.

Sikap Djen bok Hong semakin dingin lagi sambungnya, “Kita tetapkan saja perjanjian ini dnegan beberapa patah kata tersebut kalau kau bisa memperoleh batok kepala Boe Wie Tootiang, cayhe secara melepaskan ibumu. Kalau kau bisa memperoleh batok kepala Tjiangbun tjiang dari Siauw lim sie aku lepaskan ayahmu perkataan ini tak bisa diubah2 lagi.”

Siauw Ling menunduk sedih, air mata jatuh bercucuran.

“Tidak ada cara lainnya lagi?” Djen Bok Hong segera menggeleng. “Kita batasi waktu sampai tiga bulan, di dalam tiga bulan ini cayhe bisa merawat ayah ibumu sebaik2nya.”

Jelas dibalik ucapan tersebut ia mengartikan kalau dalam tiga bulan Siauw Ling tidak dapat memperoleh batok kepala Ciangbujien dari Siauw lim pay serta batok kepala dari Boe Wie Tootiang maka ia akan mulai menyiksa kedua orang tua Siauw Ling.

Siauw Ling sendiripun tahu banyak bicara tak ada gunanya perlahan-lahan ia bangun berdiri sambil menekan pergolakan dalam dadanya.

“Tiga bulan kemudian cayhe pasti akan muncul kembali dalam perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Kau harus ingat usia orang tuamu sudah lanjut badannya lemah sekali aku rasa ia tidak akan kuat menahan siksaan badan” sambung Djen Bok Hong lebih lanjut. “Ketika Siauw heng muncul kembali dalam perkampungan Pek Hoa San cung cayhe berharap perkampungan Pek Hoa San cung cayhe berharap kau telah berhasil memperoleh batok kepala Ciangbunjien dari Siauw lim pay serta batok kepala dari Boe Wie Tootiang.”

Siauw Ling merasakan beberapa patah kata dari Djen Bok Hong ini bagaikan sebilah pisau belati yang menghujam dalam dadanya seluruh badan gemetar keras tanpa bicara lagi ia putar badan dan berlalu.

Kiem Lan, Giok Lan saling bertukar pandangan merekapun sama2 bangun berdiri.

“Budak sekalian mohon diri” ujarnya berbareng.

“Haaa….haaa….nona berdua harus baik2 menjaga serta merawat Siauw Ling jangan biarkan ia sakit karena mendongkol bukan saja badannya akan rusak bahkan akan mencelakai pula kedua orang tuanya.”

“Toa Cungcu boleh berlega hati” seru Giok Lan dingin. “Budak rasa masih sanggup untuk menasehati Samya.”

“Bagus sekali maaf aku tak dapat menghantar kalian.”

Kembali Kiem Lan, Giok Lan menjura lalu putar badan mengejar Siauw Ling dan keluar dari perkampungan Pek Hoa San cung.

Pikiran pemuda she Siauw pada saat ini kacau balau tidak karuan dadanya bergolak dan kebingungan dengan tiada arah tujuan ia berjalan terus kedepan hingga akhirnya berhenti ditepi sungai.

Kiem Lan, Giok Lan pun tahu saat ini pikirannya sedang kacau mereka tidak berani banyak bicara untuk memberi nasehat karenanya selama ini selalu membungkam terus sambil menguntil dari belakangnya.

Tapi sungai itu sangat sunyi dan liar ombak menggulung saling berkejaran tak tampak sebuah sampanpun hilir mudik diatas sungai.

Memandang segulung ombak yang berkejaran Siauw Ling berdiri termangu2 sepertanak nasi lamanya ia bungkam dalam seribu bahasa.

“Ssst….coba kau lihat agaknya kesadaran Samya sudah mulai pudar” bisik Kiem Lan lirih kepada Giok Lan. “kita harus mencari suatu akal untuk menyadarkan dirinya.”

Belum sempat mereka melakukan sesuatu mendadak Siauw Ling menghembuskan napas panjang dan berpaling.

“Aku sangat baik kalian tak usah repot ataupun kebingungan.”

Giok Lan mengedipkan sepasang matanya.

“Dalam keadaan dan situasi semacam ini kita harus menggunakan kecerdasan serta ketabahan untuk menghadapi situasi yang kritis Samya kau harus baik2 berjaga diri untung saja tiga bulan tidak terhitung pendek mungkin sekali dalam jangka waktu selama ini kita berhasil mendapatkan suatu cara untuk menolong Looya serta Hujien.”

Siauw Ling menghela napas panjang.

“Aku sudah putus hubungan persaudaraan dengan Djen Bok Hong serta Tjioe Tjau Liong lain kali tak usah menyebut aku dengan sebutan Samya lagi.”

“Budak sekalian sudah terbiasa memanggil dengan sebutan Samya kalau tidak kami harus memanggil apa?” kata Kiem Lan.

“Panggil saja aku dengan Siauw Ling.”

“Kalau sebutan ini budak tidak berani” buru-buru Giok Lan menggeleng.

“Kita sama2 manusia dari mana datangnya tingkat terhormat dan tingkat bawah mengapa tidak boleh memanggil aku sebutan Siauw Ling.”

“Untuk memanggil dengan nama asli budak sekalian kendati punya nyalipun tidak berani menyebut jikalau Siauw ya memang begitu pandang kami enci dan adik, budak memanggil diri Siauw ya dengan sebutan Siangkong saja….”

“Sesuka kalian mau panggil apa saja….” perlahan-lahan ia duduk ke atas tanah.

Giok Lan ikut berlutut disisinya sambil menghibur dengan kata2 halus, “Budak sudah banyak menerima budi kebaikan dari siangkong setiap hari ingin sekali kami balas budi kebaikan ini dan kini Looya serta Hujien kena dikurung dalam perkampungan Pek Hoa San cung tentu mereka tak ada orang yang merawat maksud budak lebih baik aku kembali saja keperkampungan mohon Djen Bok Hong suka mengijinkan budak untuk merawat Looya serta Hujien Siangkong ada Kiem Lan cici yang merawat rasanya sudah cukup.”

“Apa? kau mau pulang keperkampungan pek Hoa San cung?” seru Siauw Ling tertegun.

“Tidak salah aku mau merawat Looya serta Hujien.”

“Sudahlah kau tak usah banyak buang pikiran Djen Bok Hong tak akan setuju dengan permintaanmu ini.”

“Kalau budak biarkan dia memusnahkan ilmu silatku dan mengatakan kedatanganku karena mendapat perintah dari Samya mungkin ia bisa menyetujuinya.”

“Tidak bisa” seru Siauw Ling sambil menggeleng.

Mendadak terdengar suara gelak tertawa yang keras memutuskan ucapan Siauw Ling yang belum selesai.

Pemuda itu segera berpaling kurang lebih satu tombak dibelakangnya berdiri seorang lelaki kurus kering berbaju hitam dengan angkernya orang itu bukan lain adalah Tok So Yok Ong.

Siauw Ling yang pada dasarnya sedang menekan hawa mangkel di dalam dada melihat munculnya orang ini meledaklah hawa amarahnya.

“Apa yang kau inginkan?” bentaknya sambil meloncat bangun. “Sudah bocan hidup?”

Tok So Yok Ong tenang saja ia tertawa hambar.

“Aku ingin membicarakan soal jual beli dengan kau.”

“Jual beli apa?”

“Bukankah kau iangain menolong orang tuamu yang terkurung?”

“Bisa menolong keluar kedua orang tua cayhe aku Siauw Ling matipun rela.”

Si raja obat bertangan keji tertawa hambar.

“Tahukah kamu dikolong langit pada saat ini hanya Loohu seorang yang bisa menolong sepasang orang tuamu?” ujarnya kembali.

“Baik katakan, apa syaratmu.”

“Sekalipun Loohu tidak bicara, seharusnya dalam hati kau paham sendiri bukan.”

“Mengambil darah badanku untuk menolong jiwa putrimu.”

“Tidak salah” si raja obat bertangan keji mengangguk. “Cuma kali ini Loohu sudah mempersiapkan obat untuk memulihkan kesehatanmu sembari melepaskan darah aku kasih obat tambah darah untukmu dengan demikian walaupun jiwa putri pun Loohu selamat, jiwamu pun tidak sampai terancam, orang tuamupun bisa ditolong bukankah ini yang dinamakan satu batu mendapat tiga hasil.”

Loocianpwee” mendadak Giok Lan menimbrung dari samping. “Budak ada beberapa patah kata rasanya tidak enak kalau tidak diutarakan keluar.”

“Cepat katakan.”

“Sekalipun terhitung Loocianpwee berhasil menolong Siauw Loo ya serta Siauw Hujien dengan lancar tindakanmu ini bukankah akan mengakibatkan pencarian secara besar2an oleh orang2 perkampungan Pek Hoa San cung….”

“Kita bisa mencari suatu tempat yang tersembunyi asal tempat itu terpencil mereka tak bakal bisa menemukan diri kita.”

“Bersembunyi untuk sementara sih bisa tapi selamanya aku rasa tidak mungkin apalagi Loocianpwee sudah lama bersahabat dengan Djen Bok Hong rasanya kau tahu bukan bagaimanakah wataknya.”

“Tentang soal ini Loohu sudah punya rencana.”

“Kalau putrimu hanya ingin mengganti darah saja untuk menyelamatkan jiwanya mengapa harus menggunakan darah yang ada ditubuh Samya?” seru Giok Lan. “Budak rela menyumbangkan seluruh darah yang ada ditubuhku untuk menolong putrimu.”

“Budakpun rela menyumbangkan darahku untuk menolong putrimu” sambung Kiem Lan cepat.

Si raja obat bertangan keji dengan cepat menggeleng.

“Kalau urusan ini demikian gampangnya Loohu setiap saat dapat mencari sepuluh atau delapan orang untuk diambil darahnya, apa perlunya membicarakan soal jual beli ini dengan kalian” ujarnya dingin.

“Jika demikian adanya kau harus menggunakan darahnya baru bisa?”

“Sudah ada sepuluh tahun lamanya Loohu mencari diantara seribu bahkan puluhan orang tapi hanya dua orang saja yang bisa digunakan untuk mengganti darah putriku.”

“Yang satu adalah cayhe, lalu siapa orang yang lain?” tanya Siauw Ling tak tertahan.

“Sekarang dikolong langit hanya tinggal kau seorang, karena orang kedua sudah lama mati.”

“Siapa.”

“Beritahu kepadamu pun tiada halangan tapi dengan usiamu yang sedemikian kecil mana mungkin dengan orang itu. Dia adalah Gak Im Kauw.”

Seluruh badan Siauw Ling tergetar keras, buru-buru ia menghembuskan napas panjang.

“Gak Im Kauw, nama besarnya sudah tersohor dimana2, cayhe menaruh hormat kepadanya.”

Si raja obat bertangan keji mendehem berat katanya tiba-tiba, “Loohu tidak bisa lama berdiam diri kalau kau setuju cepat ambil keputusan.”

“Baik aku setuju” jawab Siauw Ling dengan wajah yang kukuh. “Tapi cayhe harus melihat dulu kedua orang tuaku sudah lolos dengan selamat….”

“Hal ini sudah tentu malam ini pada kentongan ketiga kita berjumpa muka dalam kuil bobrok dimana kita pernah berjumpa untuk pertama kalinya disana Loohu akan beritahu kepadamu bagaimana caranya menolong ayah serta ibumu.”

“Baik kita tetapkan demikian.”

Sekali loncat Tok So Yok Ong berkelebat pergi lalu dalam sekejap mata sudah lenyap dari pandangan.

Menanti bayangan punggung dari si raja oebat bertangan keji sudah lenyap dari pandangan Giok Lan baru berpaling dan memandang sekejap ke arah Siauw Ling.

“Siangkong kau benar2 setuju untuk melepaskan darah buat menolong putrinya?”

“Sebagai manusia tidak bisa berbakti untuk orang tua hal ini merupakan suatu tindakan yang salah apalagi sepasang orang tuaku menderita disebabkan aku jangan dikata melepaskan darah dibadanku sekalipun suruh aku hancur leburkan badankupun tak akan kutolak.”

“Tapi si raja obat bertangan keji bukan termasuk orang2 baik.”

“Aku tahu tapi demi menolong jiwa putrinya ia tak akan melakukan siasat licik kitapun tak usah memikirkan persoalan ini terlalu jauh.”

“Kalau si raja obat bertangan keji setelah melepaskan darah Siangkong dan menolong jiwa putrinya lalu menangkap kembali Looya serta Hujien untuk dijebolkan ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung bukankah Siangkong akan tertipu mentah2?”

“Aaaai….dalam keadaan seperti itu sekalipun tidak mati seluruh kepandaian silatku akan punah kendati Djen Bok Hong menangkap sepasang orang tuakupun percuma saja kalau ilmu silatku sudah punah ia pasti tak mau mengurusi tentang kedua orang tuaku lagi.”

Giok Lan menghela napas panjang.

“Asal kau masih bisa bernapas Djen Bok Hong tak akan melepaskan dirimu apalagi kalau Siangkong kehilangan ilmu silatnya kau akan memperoleh hinaan cemohan serta siksaan yang hebat orang2 kangouw memang dasarnya keji dan bahaya Siangkong tak usah membicarakan soal kepercayaan serta peraturan Bulim lagi dengan mereka.”

“Menurut pendapatmu bagaimana baiknya?” tanya Siauw Ling.

“Maksud budak lebih baik kita menjanjikan suatu tempat yang bersembunyi untuk bertemu kita turun tangan bersamaan waktunya untuk menolong Looya serta Hujien entah bagaimana maksud Siangkong?”

“Menggunakan tentara tidak bosan mengeluarkan siasat makin licik siasat itu makin sempurna kita boleh saling bermain siasat dengan Tok So Yok ong apa kau kira Tok So Yok Ong sendiri tidak mengadakan persiapan?”

“Aaaai….” Kiem Lan menghela napas panjang. “Jumlah tenaga kita tidak banyak sekalipun berhasil menolong Looya serta hujien juga sulit untuk mengejar kita.”

“Orang budiman selalu dilindungi Thian, Siangkong tidak perlu terlalu murung akan soal ini” hibur Giok Lan cepat.

Siauw Ling mendongak dan menghembuskan napas panjang.

“Orang itu berjanji hendak menjumpai kita di dalam kuil bobrok sore nanti sedang Tok So Yok Ong berjanji hendak menjumpai kita pada kentongan ketiga ditempat yang sama tidak kusangka kuil bobrok ini mempunyai jodoh dengan aku Siauw Ling”

“Siangkong” kata Giok Lan kemudian setelah memeriksa sejenak suasana disekeliling perkampungan Pek Hoa San cung. “Banyak tersebar pos2 pengintai yang mengawasi semua gerak gerik kita maksud budak lebih baik kita berputar dulu satu kalangan untuk mengacaukan perhatian mereka setelah itu secara diam2 baru berusaha untuk telundup masuk ke dalam kuil itu.”

“Baiklah aku ikuti saja pendapatmu.”

Sembari berkata ia lari menuju ke arah selatan.

Demikianlah mereka dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan cepat berlari kedepan dalam sekejap mata sepuluh li sudah dilewati.

Seperminum teh kemudian Siauw Ling sambil tersenyum berhenti berlari sinar matanya menyapu sekejap kesekelilingnya.

Ditempat itu hanya terdapat sebuah rumah gubuk disekelilingnya merupakan tanah ladang yang amat luas.

“Siangkong” seru Giok Lan sambil tersenyum. “Mari kita beristirahat di dalam rumah gubuk itu sekeliling tempat ini merupakan tanah ladang yang luas sekali pandang bisa mengawasi pemandangan sejauh seratus tombak kalau para pengintai dari perkampungan Pek Hoa San cung datang mengawasi kita paling mudah bagi kita untuk menemukannya.”

“Benar!” sambung Kiem Lan sambil mengangguk. “Lebih baik lagi kalau kita berusaha menangkap seorang atau dua orang pengintai mereka untuk paksa mengirim berita palsu sehingga mengacaukan pengawasan mereka dengan demikian gerakan kita akan lebih leluasa.”

“Siauw moay pun punya maksud demikian.”

Agaknya nyali kedua orang nona ini sudah bertambah besar, sudah tentu saja tindakan mereka ini mendatangkan rasa heran diatas Siauw Ling pikirannya, “Selamanya kedua orang ini menaruh rasa hormat terhadap Djen Bok Hong. Mengaoa sikap mereka saat ini bagaikan berobah dengan orang yang lain….”

Karena berpikir demikian tanpa terasa ia sudah bertanya, “Eeeeei….agaknya nyali kalian berdua sudah jauh lebih besar?”

Giok Lan tertawa lucu.

“Apakah Siangkong merasa rada heran?” serunya.

“Kalian sudah lama hidup dibawah kekuasaan Djen Bok Hong selamanya memandang dia sebagai dewa, mengapa sekarang kalian punya nyali berani mencari gara2 dengan dirinya.”

“Hal ini dikarenakan kami sudah memahami akan satu persoalan.”

“Persoalan apa yang sudah kalian pahami?”

“Siangkong bersikap sangat baik kepada kami budak sekalian bukan saja akan membantu Siauwya sekuat tenaga sekalipun mai juga tidak menyesal inilah sebabnya mengapa nyali budak berdua bertambah berani.”

Ketika pembicaraan sedang berlangsung mereka sudah mendekati rumah gubuk tersebut.

Diluar rumah gubuk yang terpencil ini bertumpuk2 gandum disimpan disana kecuali itu tak tampak benda lainnya lagi.

Dengan langkah lebar Siauw Ling segera masuk kedalam.

“Aaaakh tempat ini tidak jelek” katanya memuji. “Kita bisa beristirahat disini menanti sore hari sudah tiba baru kembali kekuil bobrok tersebut.”

Giok Lan tidak menjawab hanya secara tiba-tiba ia mencabut keluar pedangnya sambil mengasi tumpukan gandum disisinya.

“Ayoh cepat menggelinding keluar kalau tidak akan kubakar tumpukan gandum ini” teriaknya keras.

Siauw Ling mengerutkan dahi selagi mau bertanya mendadak Giok Lan mengedipkan matanya terpaksa ia tahan sabar.

Kiem Lan pun menengus dingin.

“Enci mari kita keluar kita bakar saja tumpukan gandum ini.”

Kedua orang ini satu tanya satu menjawab yang dikatakanpun kata2 kosong belaka sedang dari balik tumpukan gandum itu tidak kelihatan sesuatu gerakanpun.

“Beri aku korek api! kita bakar dari kedua belah pihak” teriak Kiem Lan kembali.

Baru saja ucapannya itu meluncur keluar tumpukan gandum membelah dua dan meloncat keluarlah seorang pengemis cilik berambut awut2an serta berkaki telanjang sambil memandang kedua orang dayang itu ia tertawa terbahak2.

“Haaa….haaa….bagus2 sekali ternyata nona berdua berhasil juga menipu keluar aku sipengemis dari tempat persembunyian.”

Sinar mata Giok Lan berputar setelah memperhatikan sekejap sipengemis cilik itu bentaknya, “siapa kau?”

“Seorang pengemis peminta2″ jawab sipengemis sambil tertawa. “Kuda dikolong langit dimanapun bisa menjumpai bangsat apa perlunya kau keheranan.”

“Hmm gerak gerikmu gesit jelas seorang jago Bulim yang pandai bersilat.”

“Kalau benar gimana?”

“Sering kudengar ornag berkata dalam dunia persilatan ada sebuah partai pengemis” tiba-tiba Kiem Lan menyela. “Anggota dari partai ini kebanyakan kaum pengemis tetapi kepandaian silat yang dimiliki sangat lihay apakah kau naggota Kay pang?”

“Dan kalian adalah anggota perkampungan Pek Hoa San cung?” pengemis itu balik bertanya.

Selama ini Siauw Ling hanya membungkam terus sambil berdiri disisi kalangan terhadap tanya jawab antara sipengemis dengan kedua orang dayanganya ia tidak ambil gubris.

Oleh karena itu pengalamannya sangat cetek setelah mendengar pertanyaan sipengemis segera jawabnya, Tidak salah cuma sekarang kami sudah bukan anggota perkampungan Pek Hoa San Cung lagi.

Walaupun watak sipengemis itu kukoay dan banyak akal tapi ia dibikin melengak juga dengan jawaban sang dayang.

Mengapa? tanyanya.

Sekarang kami sudah melepaskan diri dari ikatan perkampungan Pek Hoa San Cung.

Mendadak ia merasa dirinya sudah terlanjur bicara, buru-buru sambungnya, “Apa maksudmu bertanya demikian jelasnya?”

Kalau apa yang kalian berdua ucapkan adalah kata sejujurnya disini Cayhe memberikan ucapan selamat dulu kepada kalian seru sipengemis sambil tertawa.

Apa yang kau tanyakan sudah kami jawab semua sedangkan pertanyaan yang kami tanyakan seharusnya kaupun memberi jawaban.

“Sekalipun kalian adalah orang2 perkampungan Pek Hoa San cung aku juga tidak takut tidak salah aku adalah anggota Kay Pang seperti apa yang sering kau dengar.”

Dari Cung San Pek yang sering bercerita Siauw Ling dapat tahu bahwa partai Kay Pang merupakan partai terbesar didaratan Tionggoan seratus tahun berselang, jumlah anggotanya sangat banyak dan tersebar baik didaerah utara maupun diselatan.

Jago-jago lihay mereka sangat banyak mengungguli kekuatan partai besar lainnya bahkan partai Siauw Lim yang dianggap sebagai sumber dari segala ilmu silatpun tidak bisa menandingi kekuatannya.

Tiga puluh tahun berselang mendadak ditubuh Kay pang terjadi suatu perubahan drastis. Para tianglo dari partai itu saling berebut jadi ketua sehingga mengakibatkan terjadinya suatu pembunuhan besar2an diantara sesama anggota.

Pihak yang kalah akhirnya bersekongkol dengan pihak luar untuk menghantam pihak yang menang. Hal mana tentu saja mengakibatkan pertarungan tersebut semakin mengerikan.

Di dalam pertempuran ini akhirnya kedelapan belas Orang Tianglonya sama2 tewas. Ini mengakibatkan pula banyak ilmu silat lihay dari partai mereka ikut dibawa kekubur.

Sejak kejadian itu pamor Kay Pang makin merosot kendati begitu kalau dibicarakan dalam jumlah anak muridnya perkumpulan mereka masih terhitung sebagai partai besar.

Perlahan-lahan sinar mata sipengemis itu dialihkan ke atas tubuh Siauw Ling dan memperhatikan dari atas hingga kebawah

Ooooouw…. kiranya Sam Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San tjung, sudah lama aku sipengemis cilik mendengar nama besarmu serunya cepat.

Dari mulut Ih, Ouw, Siang, Kan, Tjung Piauw Pa Tju, aku sipengemis cilik telah mendengar nama besar dari Siauw heng.

Saat ini Be Boen Hwie ada dimana? Ini hari Siauw te masih banyak persoalan yang harus diselesaikan, besok siang bagaimana kalau kita berjumpa lagi disini.

Peng Im termenung sejenak, akhirnya ia mengangguk.

Baik, kita berjanji begitu saja….

Ia merandek sejenak lalu sambungnya, Untuk sementara aku mengalah dan berikan tempat ini untuk kalian bertiga.

Sekali loncat ia melayang keluar dari gubuk dalam sekejap mata sudah lenyap dari pandangan.

Siauw Ling menghela napas panjang perlahan-lahan ia melangkah keujung gubuk dan duduk bersila, ujarnya, Orang yang hendak kita jumpai sore nanti masih sulit diduga bagaimana keadaannya. Lebih baik kita duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan.

Tanpa buang banyak waktu Kiem Lan menuju kepojokan gubuk dan mulai duduk bersemedi.

Mendadak….

Suara ringkikan kuda berkumandan dari tempat kejauhan makin lama semakin mendekat, bahkan jumlah yang datang tidak sedikit,

Tampaklah dari tempat kejauhan meluncur datang kereta kuda dengan cepatnya.

Ditengah dataran yang sunyi dan terpencil secara tiba-tiba muncul sebuah kereta kuda yang lari kencang2 kejadian ini sudah tentu luar biasa sekali.

Sewaktu Giok Lan bermaksud menyadarkan Kiem Lan mendadak horden kereta tersingkap dan meloncat keluar seorang perempuan genit berbaju serba putih sebuah sulaman bunga dari benang emas didadanya.

Terdengar perempuan muda itu tertawa terkekeh2 Eeei…. apakah Sam Cungcu ada disini? tegurnya lirih.

Orang ini bukan lain adalah Kiem Hoa Hujien yang memiliki banyak benda beracun.

Giok Lan tahu ia tak bakal sanggup menghadang dirinya karena itu sengaja ia menegur dengan mempertinggi suaranya.

Hujien baik2kah selama ini?

Jelas meminjam kesempatan ini ia hendak memberikan peringatan buat Siauw Ling serta Kiem Lan.

Bagaikan segulung angin taupan Kiem Hoa Hujien langsung menerjang masuk ke dalam ruangan.

Waktu itu Siauw Ling sudah tersadar dari semedinya, diam2 iapun telah mengadakan persiapan.

Setibanya di dalam ruangan Kiem Hoa Hujien mengeluarkan tangannya yang putih dan halus untuk membereskan rambutnya lalu tertawa.

Haaa…. beruntung kau belum pergi terlalu jauh.

Terhadap Kiem Hoa Hujien ini Siauw Ling merasa bimbang bercampur benci, segera jawabnya, Mengapa?

Saudara cilik urusan segampang ini masa kau tak bisa berpikir? Kalau kau sudah pergi jauh mana aku bisa menemukan dirimu sedemikian gampang?

Tiada tempat berteduh yang tepat, empat penjuru sebagai tempat tinggal.

Kau anggap Shen Bok Hong bisa melepaskan dirimu?

Aku tidak jeri terhadap dirinya….

Sudahlah jangan bicara begitu Kiem Hoa Hujien tertawa bukankah kau setuju untuk membunuh Hong Tiang dari Siauw Lim Sie?

Selama ini kuil Siauw Lim sie dipandang jago-jago daratan Tionggoan sebagai tulang punggung dunia persilatan, aku duga penjagaan disana tentu sangat ketat. Dengan kekuatan kau seorang mana mungkin berhasil membunuh mati sang Ciangbun Hongtiang dari Siauw Lim Sie.

Siauw Ling dapat meresapi alasan2 yang benar dari ucapan perempuan ini tak kuasa ia menunduk sedih dan menghela napas panjang.

Perkataan hujien sedikitpun tidak salah.

Kiem Hoa Hujien tertawa senang.

Sejak kita berkenalan baru untuk pertama kali ini kau memuji diriku…. serunya.

Perlahan lahan Siauw Ling mendongak ke atas butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Eeeei…. mengapa kau suka membantu diriku, tanya Siauw Ling melengak.

Kiem Hoa Hujien tertawa terkekeh2.

Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku. Baik2lah kalian merawat dirinya jangan bertindak secara gegabah. Nah aku pergi dulu….

Dalam sekali loncat ia sudah berada diluar ruangan.

Sambil memandang bayangan kereta yang makin menjauh Giok Lan menghela napas.

Pikiran Siauw Ling dipenuhi dengan persoalan, lama sekali ia berusaha belum berhasil juga, perlahan-lahan ia bangun berdiri dan mengalihkan sinar matanya keluar jendela.

Pemuda ini menemukan rerumputan diluar jendela sedikit bergoyang walaupun waktu itu tidak ada angin berhembus.

Kurang lebih seperminum teh kemudian rumput tadi kembali bergoyang lalu pulih lagi seperti sedia kala,

Kali ini rumput itu tersingkap lebih besar, jelas dibalik semak seseorang yang sedang mengintai.

Kembali sepeminum teh berlalu mendadak rumput tadi tersingkap lebar dan muncullah selembar wajah yang penuh keseriusan dengan sepasang mata yang besar jeli melongok ke dalam ruangan.

Wajah orang ini sangat dikenali Siauw Ling, dalam sekali pandang saja ia sudah mengetahui sebagai sinona berbaju hijau yang dijumpai waktu membokong Cioe Cau Liong dirumah makan kota Koei Cho.

Tampak sepasang mata yang besar jeli dilapisi hawa napsu membunuh dengan tajam memandang keadaan dalam ruangan.

Disertai serentetan cahaya tajam dengan membawa desiran perlahan meluncur masuk ke dalam ruangan langsung mengancam dada Siauw Ling.

Tangan kanan Siauw Ling dengan cepat menyambut datangnya senjata rahasia tersebut. Tanpa banyak bergerak ia simpan senjata rahasia tersebut ke dalam saku dan tetap duduk tak berkutik….

Tampak sepasang mata yang penuh dengan napsu dendam itu muncul kembali dari balik jendela dengan mendelong ia melototi wajah Siauw Ling lalu mengalihkan sinar matanya ke arah kedua orang dayang itu….

Tampak selembar wajah yang mencuri lihat dari balik jendela perlahan-lahan lenyap dari pandangan, jelas ia tidak bermaksud membokong kedua orang dayang tersebut.

Hanya ada satu hal yang membuat Siauw Ling tidak paham, badannya tidak terdapat luka. Badannya tidak terdapat luka, badanpun tetap tak berkutik. Apakah gadis itu tak dapat melihat kalau ia sedang berpura2.

Beberapa saat kemudia Giok Lan serta Kiem Lan berturut2 telah sadar dari semedinya. Gadis itu bangun berdiri membuka pintu, setelah memeriksa cuaca katanya lagi,

Sang surya sudah hampir lenyap dibalik gunung. Paling banyak setengah jam kemudian hari akan gelap, bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat?

Baik, ayoh berangkat kata Siauw Ling.

Setelah keluar dari gubug dengan ilmu meringankan tubuh ia berlari menuju kekuil.

Siauw Ling langsung menuju keruang belakang dimana terdapat peti mati, membuka penutup dan melongok kedalam,

Tapi peti mati itu kosong, orang yang terluka tadi sudah lenyap dari sana.

Ia sudah menipu kita, bisik Giok Lan lirih,

Sebelum ucapan itu selesai diutarakan, mendadak terdengar suara terbangnya seekor burung melayang masuk ke dalam ruangan. Seekor burung beo telah muncul dari balik senja.

Burung beo itu terbang mengelilingi ruangan satu kali kemudian baru perlahan-lahan terbang keluar.

Di bawah bimbingan sang burung beo ketiga orang itu dibikin lupa arah manakah mereka pergi.

Setelah berjalan kurang lebih tujuh delapan li sampailah beberapa orang itu didepan sebuah rumah petani.

Dengan dipimpin oleh Siauw Ling, kedua dayang itu ikut melangkah masuk kedalam.

Malam hari sudah tiba hal mana menambah kegelapan dalam ruangan tersebut sehingga sulit melihat lima jari sendiri.

Dengan dasar tenaga lweekang yang sempurna dari Siauw Ling, sepasang matanya berhasil dilatih sangat tajam sehingga dapat melihat ditempat kegelapan bagai ditempat terang saja.

Kurang lebih enam tujuh langkah didepan mereka berdirilah sesosok bayangan perempuan.

Kalian bertiga silahkan ikut aku masuk kedalam,

Sembari berkata ia putar badan berlalu.

Dengan pedoman bayangan punggung sigadis itu Siauw Ling melangkah kedepan diikuti Kiem Lan serta Giok Lan dari belakang.

Tampak gadis itu menerobos ruangan belakang membuka pintu kecil dan berjalan terus kemuka melintasi sebuah jalanan kecil yang sunyi dan terpencil….
------
Serial Pedang Kayu Harum sudah beres semua diupload gan, untuk membacanya silahkan klik disini 😉🤗
------

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 10"

Post a Comment