Bayangan Berdarah Jilid 08

Mode Malam
JILID 8

Ia letakkan cawan sendiri kemeja, lalu menyodorkan ketiga mangkok berisikan masakan itu kehadapan sang pemuda.

Pada mangkok yang pertama berisikan selapis benda berwarna putih salju lapisan itu mirip dengan minyak babi yang telah membeku dalam mangkok.

Pada mangkok yang kedua berisi tiga buah bulatan berwarna merah tawar, kecuali warnanya sangat aneh bentuknya mirip dengan kentang.

Sedang pada mangkok yang ketiga berisikan kuah kental berwarna hijau tua, entah berisikan benda apakah dibalik kuah itu.

Sambil angkat sumpit kembali Pak Thian Coen cu berkata, “Keponakan Chee Siauw li sudah lama menanti kedatanganmu diruang belakang ayoh cepat cicipi masakan ini.”

Ia segera menggerakkan sumpit sambil menuding mangkok pertama katanya, “Mangkok ini berisi telapak beruang seribu tahun keponakan Chee silahkan.”

Siauw Ling mengambil sesendok dan dimasukkan ke dalam mulut rasanya betul2 lezat sehingga tak terasa ia berpikir, “Pak Thian Coen cu betul2 seorang manusia yang pintar merasakan nikmatnya masakan….”

Sambil menuding bulatan2 merah yang ada dalam mangkok kedua kata Pak Thian Coen cu lagi, “Ini yang dinamakan Cing Ceng Soat Lian cu keponakan Chee silahkan mencicipi sebutir….”

Siauw Ling menggerakkan sumpitnya mengambil sebutir bulatan itu dan dimasukan ke dalam mulut sebelum ia telan mendadak terdengar suara langkah kaki berkumandang datang.

Dari balik kabut dupa yang tebal perlahan-lahan muncul seorang nona berbaju putih.

“Siang Soat apa maksudmu datang kemari?” tegur Pak Thian Coen cu dingin.

Dengan penuh rasa hormat Siang Soat menjura.

“Budak mendapat perintah untuk mengundang Chee Kongcu.”

Agaknya Pak Thian Coen cu menaruh rasa sayang terhadap putrinya dia segera mendehem dan berpaling ke arah Siauw Ling.

“Ilmu memasak dari Siauw li lebih hebat beberapa kali lipat dari kepandaian para koki istana es. Aku rasa ia tentu sudah memperhatikan hidangan untuk keponakan Chee bagaimana kalau kau pergi mengunjungi dirinya.”

Perlahan-lahan Siauw Ling mengambil keluar Soat Lian cu dari mulutnya dan berpaling ke arah Chee Toa nio.

Chee Toa nio tersenyum.

“Sewaktu kau berjumpa dengan Kuncu tempo dulu usiamu masih sangat kecil tidak nyana Kuncu masih memikirkan dirimu hingga sekarang ayoh cepat menemui Kuncu apa yang kau nantikan lagi duduk termangu2 disana.”

Dengan perasaan apa boleh buat Siauw Ling bangun berdiri dan berlalu mengikuti Siang Soat.

Setelah keluar dari ruang besar berkabut tebal dan menerobosi dua buah halaman besar sampailah mereka di dalam sebuah ruang kecil mungil tapi amat indah bentuknya.

Seorang dara bergaun merah keperak2an duduk diatas sebuah kursi ditengah ruangan kepalanya tertunduk rendah membawa beberapa bagian perasaan malu menanti Siauw Ling dengan dipimpin Siang Soat telah tiba di dalam ruangan ia masih menunduk.

Siang Soat segera berbisik disisi telinga Siauw Ling, “Dialah Kuncu kami ia sudah lama menantikan dirimu dalam ruangan ini nah cepat hunjuk hormat.”

Habis berkata dengan genit ia mengerling sekejap ke arah sang pemuda kemudian buru-buru berlalu dari ruangan tersebut.

Kini dalam ruang kecil yang indah dan mungil tinggal Siauw Ling serta si dara berbaju merah itu dua orang masing-masing duduk saling berhadapan tanpa seorangpun yang bukan suara terlebih dahulu.

Walaupun beberapa kali Siauw Ling bermaksud memecahkan kesunyian yang mencekam tapi ia sama sekali tiada bayangan apapun terhadap peristiwa yang pernah tempo dulu karena itu pemuda ini merasa bingung harus membuka pembicaraan dari mana.

Suasana hening selama seperminum teh lamanya akhirnya si dara berbaju merah itu buka suara terlebih dahulu.

“Berkat rahmat Thian, cayhe baik2 saja moga2 Kuncupun demikian.”

“Chee Siangkong masih ingatkah kau akan peristiwa yang terjadi tempo dulu.”

Kena ditanya soal tempo dulu Siauw Ling termangu2 dengan bimbang dia pandang gadis tersebut dengan mendelong.

“Chee Siangkong kenapa kau tidak bicara? apa kau sudah lupa?” sambung dara berbaju merah itu lebih lanjut.

“Kuncu lama berdiam dalam istana es yang jauh dari Tionggoan dalam kemewahan yang berlimpah sedang cayhe tidak lebih hanya seorang gelandangan” kata Siauw Ling sambil menyeka keringat yang mengucur keluar makin deras.

“Aaaach….kiranya disebabkan perbedaan tingkat kau malu bicara” tukas si dara sambil tersenyum. “Aku masih mengira kau sudah melupakan sumpah kita tempo dulu….?”

“Ooouw….akhirnya berhasil kujawab juga pertanyaan yang paling sukar ini” diam2 Siauw Ling menghembuskan napas panjang.

Terdengar si dara berbaju merah itu melanjutkan kembali kata2nya, “Waktu itu walaupun kita masih anak kecil yang tidak tahu urusan tapi terhadap pembicaraan yang pernah kita lakukan dahulu tak terlupakan hingga kini mengikuti bertambahnya usia, ingatan tersebut semakin nyata.”

Perlahan 2 dia mendongak memandang sekejap wajah Siauw Ling lalu tambahnya, “Ternyata wajahmu jauh lebih tampan dari apa yang kupikir dalam hati selama ini.”

Sepasang pipinya berubah merah dengan perasaan jengah ia mengerling kemudian menunduk.

Sejak memasuki ruangan Siauw Ling belum pernah memandang sekejappun ke atas wajah dara berbaju merah itu. Kini setelah sepasang mata bertemu ia baru merasa bahwa dara yang berasal dari istana es ini mempunyai kecantikan yang luar biasa.

Tampak alisnya melentik sepasang mata bening berkaca, hidungnya mancung dengan bibir yang kecil sungguh mempesonakan sekali.

Dengan malu2 gadis itu tertawa ujarnya lagi, “Beberapa kali aku mendesak Tia untuk membawa kau untuk mengunjungi istana es di Pak Hay tapi setiap kali ia melupakan hal ini. Haaaai karena urusan ini aku harus beberapa kali menangis dan ribut akhirnya Tia baru membawa aku mendatangi daratan tionggoan untuk mendatangi kau.”

Agaknya ia dibikin mabok oleh kenangan lama setelah berpikir sebentar sambungnya, “Ketika kita bermain2 dibelakang istana es tempo dulu kau minta aku jadi pengantin perempuan aku terus tidak mau dan akhirnya kau jengkel dan terus menangis. Setelah melihat kau aku baru menyetujui aaai walaupun kejadian ini sudah berlangsung beberapa tahun yang silam serasa barusan terjadi didepan mata saja.”

Kali ini Siauw Ling dibikin gelagapan sampai tidak dapat mengucapkan sepatah katapun terhadap kejadian tempo dulu pemuda ini sama sekali tidak tahu.

Walaupun dara berbaju merah itu mengucapkan dengan begitu mempesonakan begitu kesengsem namun bagi Siauw Ling hanya kosong dan putih bagaikan kertas kosong.

Untung dara berbaju merah itu tidak sampai menunggu jawaban dari sang pemuda telah menyambung kembali, “Entah apa sebabnya selama banyak tahun ini aku selalu dikesalkan oleh kenangan indah yang terjadi tempo dulu. Aaaai apakah kau juga berperasaan seperti apa yang kupikirkan.”

Siauw Ling merasa benaknya kacau tak terpikirkan olehnya barang sepatah kata jawabanpun.

“Eeeeei….kenapa kau tidak berbicara?” tegur si dara berbaju merah itu dengan suara halus.

“Kuncu….” Siauw Ling mendehem.

“Jangan memanggil aku dengan sebutan Kuncu” tukas gadis itu dengan cepat.

“Lalu kau suruh aku memanggil dirimu dengan sebutan apa?”

“Seperti kita masih kecil aku memanggil kau dengan sebutan saudara Giok dan kau sebut aku dengan nama yang dahulu saja.”

“Dia panggil aku dengan sebutan adik Giok” diam2 pikir Siauw Ling dengan hati cemas. “Ini membuktikan usianya jauh lebih tua dari pada Chee Giokaku seharusnya panggil dia enci, tetapi enci apa siapa namanya apalagi aku Siauw Ling tidak pernah kenal dengan dia mana boleh panggil gadis ini sebagai enci?”

Pikiran ini bagaikan roda berputar ribuan kali dalam benaknya sekalipun begitu belum juga ia peroleh jawaban yang tepat.

“Eeei kenapa?” dara berbaju merah itu berseru lagi sambil mengedipkan matanya. “Apakah kau lupa dengan namaku?”

Siauw Ling tertawa jengah.

“Tidak salah untuk sesaat cayhe lupa dengan nama Kuncu.”

“Jadi selama banyak tahun ini kau belum pernah teringat akan diriku?” seru dara berbaju merah itu dengan air muka berubah.

“Benarkah cucu Chee Toa nio yang lenyap masih merindukan dirinya aku tidak tahu” pikir Siauw Ling dalam hati. “Bagaimana aku boleh mewakili orang lain untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang menyulitkan ini….”

Karena dalam hati berpikir demikian tak terasa perasaan itu muncul dalam wajahnya alis berkerut air muka penuh diliputi oleh kemurungan yang tebal.

Diatas selembar wajah dara berbaju merah yang dingin tersungginglah suatu senyuman yang penuh kesedihan ujarnya lambat2, “Selama banyak tahun ini apakah kau telah jatuh cinta dengan perempuan lain?”

“Tidak” jawaban dari Siauw Ling ini meluncur keluar tanpa ia sadari.

Seketika itu juga kemurungan yang meliputi wajah si dara berbaju merah tersapu bersih ia tertawa hambar.

“Jadi kau merasa kedudukan Tia terlalu tinggi dalam dunia persilatan sehingga kau merasa rendah diri dan malu.”

“Soal ini….soal ini….”

“Tidak usah ini itu lagi ibu paling sayang diriku dan Tia selama ini selalu mendengarkan perkataan ibuku sekembalinya ke dalam istana es biarlah aku suruh ibu memerintahkan Tia membawa kau pulang keistana es kemudian biar Tia menurunkan seluruh kepandaian silatnya kepadamu dikemudian hari kau yang menggantikan Tia menjabat sebagai ciangbunjien istana es….”

“Jangan….jangan….” Siauw Ling jadi cemas dan berseru kalang kabut.

“Siapa yang bilang tidak boleh aku pasti akan melakukan hal ini untukmu….”

Ia merandek sejenak tanpa memberi kesempatan kepada Siauw Ling untuk bicara ia sudah mendahului kembali, “Sudahlah kita jangan membicarakan urusan ini lagi coba kau lihat wajahku sekarang kalau dibandingkan dengan dahulu lebih jelek atau lebih cantik?”

“Kuncu berwajah cerah kecantikannya tiada tandingan dikolong langit….”

“Nah….nah kau panggil aku dengan sebutan Kuncu lagi apakah kau tak bisa memanggil dengan namaku?”

“Siapa yang tahu siapa namamu….” pikir Siauw Ling dalam hati, untuk beberapa waktu ia gelagapan.

Dengan sedih dara berbaju merah itu menghela napas panjang.

“Adik Giok apakah kau sudah betul2 lupa siapakah namaku?”

“Waaaah….waaaah bahaya” pikir Siauw Ling dengan hati gelisah. “Kalau begini terus rahasiaku bisa terbongkar lebih baik aku cari alasan untuk mohon diri….”

Sewaktu ia pamit mendadak muncul seorang dayang berbaju putih masuk ke dalam ruangan dengan membawa nampan kumala diatas nampan terdapat dua cawan terpaksa ia bersabar dan bungkam.

“Chee Siankong silahkan minum teh” ujar dayang berbaju putih itu sambil menggusurkan cawan air teh itu ketangan sang pemuda.

Siauw Ling segera menerima cawan itu dan diletakkan diatas meja sedang ia sendiri buru-buru bangun dan memberi hormat.

“Eeeeei Chee Tiankong sejak kapan kau belajar adat istiadat bau macam begini?” goda sipelayan sambil tertawa cekikikan.

Mendadak terdengar dara berbaju merah itu menghela napas panjang.

“Aaaaai….sewaktu bermain diistana es dilautan utara tempo dulu ia selalu memanggil aku dengan sebutan Kuncu. Aaaai bagaikan terhadap orang asing saja.”

“Tempo dulu baik kau maupun aku masih bocah yang tidak tahu urusan” buru-buru Siauw Ling membela diri sendiri. “Dan kini kita semua sudah tumbuh jadi dewasa sudah tentu antara lelaki dan perempuan ada batas2nya.”

Dayang berbaju putih itu melirik sekejap ke arah mereka berdua akhirnya sambil tersenyum diam2 mengundurkan diri dari sana.

Sepeninggalnya dayang tadi senyuman yang semula menghiasi bibir dara berbaju merah itu lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya hawa amarah menghiasi wajahnya.

Agaknya gadis ini makin dipikir makin kesal dan marah mendadak ia sambar cawan pualam yang ada dimeja dan dibantingnya ke atas tanah.

Praaaak cawan tadi hancur berkeping2 sedang air teh muncrat membasahi seluruh badan Siauw Ling.

Sebetulnya waktu itu Siauw Ling lagi memikirkan satu cara yang baik untuk mohon diri sehingga rahasianya tidak sampai bocor mendengar suara pecahan cawan pemuda ini jadi tertegun dan meloncat kaget.

Segera ia berpaling tampak olehnya dengan wajah penuh kegusaran sepasang mata dara berbaju merah itu memancarkan cahaya tajam agaknya ia hendak marah2.

Rasa kaget yang menyerang pemuda tersebut kali ini tak tertahan lagi pikirnya, “Demi aku Chee Toa Nio tiada sayang2nya mengikat permusuhan dengan para enghiong hoohan dikolong langit tujuannya tidak lebih hanya meminta aku suka menyaru sebagai cucunya Chee Giok untuk menghadiri perjamuan ini siapa sangka dibalik kejadian tersebut sebenarnya tersangkut pula suatu kisah cinta yang berbelit2 setelah aku menyanggupi untuk pikul kesemuanya ini ada baiknya menyelesaikan dulu persoalan ini sampai akhir bilamana sampai terjadi hal2 yang tidak menyenangkan bukankah yang terkena adalah Chee Toa Nio sendiri?”

Karena berpikir demikian pikirannya terluka dan sambil tersenyum ia berpaling ke arah gadis berbaju merah itu.

“Peng jie apakah kau marah padaku?”

“Siapa yang suruh kau panggil aku Peng jie? aku apamu? kau anggap dirimu sesuai untuk panggil aku dengan sebutan Peng jie?” karena masih mendongkol dara berbaju merah itu marah2.

Kena disemprot dengan kata2 yang tajam Siauw Ling kembali dibikin kelabakan sehingga kebingungan dan bungkam.

“Aku tidak ingin kau menyanjung2 dan cari muka dengan diriku” maki gadis itu lebih lanjut. “Melihat aku marah hatimu ketakutan lantas mau merayu diriku? Hmm dalam hati sejak semula sudah tidak teringat dengan diriku omongan mesra palsu tidak sudi kudengarkan lagi.”

Melihat gadis itu masih marah2 Siauw Ling menghela napas panjang.

“Kuncu untuk sementara waktu aku berharap kau jangan marah2 dulu bagaimana kalau dengarkan dulu sepatah dua patah kata cayhe?”

“Aku tidak mau dengar kau cepat gelinding pergi dari sini….” jerit dara berbaju merah itu dengan suara yang melengking.

Melihat sepasang matanya memancarkan cahaya penuh napsu membunuh dan agaknya ingin turun tangan Siauw Ling terpaksa bangun berdiri seraya menjura.

“Jikalau Kuncu begitu benci diriku cayhe lebih baik mohon diri sampai disini saja.”

Sembari putar badan ia berlalu.

“Berhenti” mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang bentakan gusar dari gadis itu.

Terpaksa Siauw Ling putar badan.

“Kuncu ada petunjuk apa lagi?” tanyanya sambil menjura.

“Apa yang hendak kau katakan tadi?”

“Cayhe sama sekali bukan Chee Giok oleh karena itu sama sekali tidak tahu peristiwa yang pernah terjadi tempo dulu hal ini membuat Kuncu bersedih hati….”

“Kau bukan Chee Giok? lalu siapa kau?” jelas gadis ini dibikin melengak dengan berita tersebut.

“Cayhe Siauw Ling.”

“Siauw Ling….Siauw Ling….”

“Tidak salah cayhe telah mendapat budi pertolongan dari Chee Toa Nio maka dari itu aku sanggupi permintaannya untuk menyaru sebagai cucunya Chee Giok yang lenyap tak berbekas….”

Ia merandek dan menghela napas panjang tambahnya, “Pada mulanya Chee Toa Nio sama sekali tidak pernah menceritakan kisah cinta antara Chee Giok dengan dirimu kalau sejak dulu cayhe tahu akan kejadian seperti ini tentu saja tak akan kuterima permintaannya….”

“Kenapa?” timbrung si dara berbaju merah itu tiba-tiba.

“Cinta kasih seseorang adalah suatu kejadian yang amat penting cayhe menyaru sebagai Chee Giok sehingga mendatangkan salah tanggapan dari nona sebagai sahabat karib bila aku mengaku terus menerus bukankah tindakanku ini merupakan suatu perbuatan dosa yang amat besar.”

Dari sepasang mata dara berbaju merah itu segera memancarkan cahaya penuh hawa napsu membunuh.

“Setelah mengetahui perbuatan suatu perbuatan dosa kau tahu apa yang harus kau lakukan?”

“Menurut pendapat nona?” sahut Siauw Ling tertegun.

“Nama baik seorang gadis serta kesuciannya lebih penting dari kematian kau menyaru sebagai Chee Giok mengakibatkan kesucianku menderita kerugian besar dikemudian hari mungkin saja kau bisa berbangga dengan orang lain dengan mengatakan Kuncu dari istana es lautan utara pernah berbuat demikian dengan kau coba pikir kau suruh aku bagaimana punya muka untuk tancapkan kaki lagi dalam dunia….”

“Kalau aku seorang she Siauw adalah manusia rendah macam itu aku tak akan mengaku kalau aku sedang menyaru nama orang lain.”

“Hmm kendati kau licik bagai rase dan pintar putar balik omonganpun aku tak akan percaya kepadamu kecuali kau segera gorok leher bunuh diri.”

“Seorang lelaki sejati tak akan jeri terhadap suatu kematian” ujar Siauw Ling sambil menghembuskan napas panjang. “Kalau nona merasa aku orang she Siauw telah menghina dirimu dan menginginkan jiwaku aku rela saja menuruti omonganmu tapi dalam keadaan dan waktu seperti ini aku tak boleh mati.”

“Bagi seorang makhluk manusia persoalan yang paling dibenci paling menyiksa batinnya adalah suatu kematian pepatah mengatakan dari dulu hingga kini manusia tak terhindar dari suatu kematian kalau soal matipun aku tidak takut persoalan apa yang tak dapat kau utarakan?”

“Manusia mati meninggalkan nama burung lewat meninggalkan suara walaupun aku Siauw Ling tidak berharap namaku tetap harum seratus keturunan kemudian akupun tidak ingin meninggalkan nama busuk selaksa tahun kemudian kalau nona percaya kepada aku Siauw Ling harap kau suka memberi kebebasan kepadaku selama beberapa tahun agar aku bisa membersihkan diri dari segala fitnaan serta nama busuk dalam dunia persilatan setelah aku tentu akan datang menyerahkan diri menanti keputusan hukuman dari nona.”

“Ehmm walau apa yang kau ucapkan sangat menarik hati tapi sayang aku tak bisa percaya.”

Alis Siauw Ling langsung melentik sepasang matanya memancarkan cahaya tajam katanya dengan nada serius, “Sekalipun nona percaya harus percaya tidak percayapun harus percaya. Maaf aku mohon diri terlebih dahulu.”

Selesai berbicara ia putar badan dan berjalan dengan langkah besar.

Mendadak bayangan manusia berkelebat didepan mata, tanpa meninggalkan sedikit suarapun tahu2 dara berbaju merah itu sudah melewati dirinya dan menghadang didepan tubuh.

“Nona sungguh indah gerakan badanmu” puji Siauw Ling sambil mundur dua langkah ke belakang.

“Dikolong langit siapa yang tak kenal dengan ilmu langkah Chiet Hoan Poh atau tujuh langkah setan dari istana es yang telah menggetarkan sungai telaga apa perlunya kau memuji lagi.”

Beberapa kali Siauw Ling ketanggor batunya marah juga dibuatnya diam2 pikirnya, “Karena merasa bersalah maka setiap kali aku bersikap mengalah kepadamu kalau kau tidak juga tahu diri. Hmm jangan salahkan akupun akan berlaku kasar.”

Tak tertahan lagi ia tertawa dingin.

“Cukup kudengar dari namanya tujuh langkah setan sudah dapat kuketahui kalau ilmu tersebut bukan dari aliran lurus.”

“Oooouw….jadi kau ingin coba?” teriak dara berbaju merah itu gusar.

“Tentu saja” sahut Siauw Ling sambil melirik hawa murninya dari pusar mengelilingi seluruh badan.

Walaupun diluaran ia bicara sangat enteng padahal dalam hati sama sekali tidak berani memandang enteng ilmu langkah yang dimiliki gadis berbaju merah ini diam2 ia sudah melakukan persiapan.

Tampak si dara berbaju merah itu menggerakkan badannya yang langsing lalu berputar dua kali mendadak badan gadis tadi lenyap sebagai gantinya muncul dua sosok bayangan merah yang datang menyerang dari dua jurusan yang berlawanan.

Melihat kehebatan ilmu tersebut Siauw Ling baru merasa terperanjat.

“Aaaakh kiranya ilmu tujuh langkah setan mempunyai keistimewaan dalam hal ini” serunya.

Karena tidak tahu harus menyerang arah mana yang benar terpaksa sepasang telapak tangannya bersama2 didorong kedepan menghajar dua sosok bayangan manusia tersebut.

Mendadak terlihat bayangan tadi mundur ke belakang meloloskan diri dari datangnya serangan bayangan tubuh lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya muncullah sinona berbaju merah itu kurang lebih empat lima depa dari hadapan sang pemuda.

Terdengar gadis tadi tertawa cekikikan dari tempatnya berdiri.

“Bagaimana dengan ilmu tujuh langkah setan itu?” godanya manja.

“Hmm menggunakan ilmu sesat melamurkan pandangan orang tidak terhitung suatu ilmu silat yang lihay.”

“Setelah kuciptakan badanku jadi dua sosok bayangan dan menyerang kau dari dua jurusan yang berlawanan bagaimana kau bisa tahu mana yang asli dan mana yang palsu? jangan asal buka suara saja menghina ilmu silat orang.”

“Hmm gampang sekali aku bisa gunakan sepasang telapakku untuk menyerang kedua belah jurusan secara berbareng.”

“Kelihayan dalam ilmu tujuh langkah setan tidak terbatas sampai disitu saja bagaimana kalau aku menciptakan tiga sosok bayangan untuk menyerang kau secara berbareng?”

“Disamping sepasang telapak aku masih punya kaki untuk melancarkan tendangan.”

“Dan bilamana aku menyerang dengan empat sosok bayangan manusia?”

“Aku masih punya sepasang tangan dan sepasang kaki.”

“Kalau aku menciptakan diri jadi lima sosok bayangan manusia sekaligus….” desak dara itu tak mau kalah.

“Dalam soal ilmu kepandaian silat tidak akan segampang apa yang kau bicarakan barusan” tukas Siauw Ling dengan cepat. “Cayhe duga nona sendiripun susah untuk menciptakan diri jadi empat sosok bayangan manusia sekaligus.”

“Aaaai….aku tak bisa tapi ayahku bisa ia dapat menciptakan diri jadi lima sosok bayangan manusia” gadis itu menghela napas panjang.

“Ilmu silat aliran sesat tak perlu diherankan lagi sekalipun bisa menciptakan diri jadi tujuh sosok bayangan apa lucunya.”

“Sebenarnya ilmu langkah ini bukan ilmu sesat kepandaian ini hanyalah kepandaian ilmu langkah yang maju mundurnya mengikuti jalan kecepatan berputar asal langkah ini bisa dilatih hapal ditambah pula dengan kecepatan berputar maka seseorang akan berhasil menciptakan diri jadi beberapa sosok badan. Kalau kau tidak paham yaa sudahlah jangan banyak bicara apa maksudmu mengatakan bahwa ilmu tersebut sebagai ilmu sesat, hati2 kalau Tia ikut mendengar badanmu pasti akan dilumat sampai hancur.”

“Heeee….heee….heee ilmu tujuh langkah setan ayahmu mungkin memang sangat lihay” seru Siauw Ling tertawa dingin. “Tapi belum tentu bisa melumat aku orang she Siauw sampai hancur lebur.”

“Oooouw,,,jadi kau belum percaya bahwa ayahku jauh lebih hebat dari dirimu?” teriak si dara berbaju merah itu sangat gusar. “Nah bagaimana kelihayanku?”

Badannya menubruk kedepan melancarkan serangan.

Gerakan tubuhnya sangat cepat tampak bayangan merah berkelebat lewat telapak tangan gadis itu tahu2 sudah tiba didepan dada Siauw Ling pemuda itu segera melayangkan tangan menangkis lalu balas mengirim sebuah serangan.

Demikianlah dalam ruangan segera berlangsung suatu pertarungan sengit yang saling berusaha merebut posisi yang menguntungkan perubahan telapak maupun jari tangan dilakukan dengan secepat-cepatnya dan setelengas mungkin.

Beturut2 Siauw Ling berebut menyerang sebanyak dua puluh jurus tapi ia sama sekali tak berhasil menguasai pihak lawan. Saat inilah ia baru percaya apabila ilmu tujuh langkah setan yang dimiliki gadis ini benar2 merupakan ilmu silat dahsyat.

Karena terbukti walaupun berada dalam desakannya yang gencar dara itu sama sekali tak mundur satu langkah atau menghindar satu juruspun.

Sebaliknya si dara berbaju merah itupun dibikin kaget oleh kelihayan ilmu silat Siauw Ling pikirnya, “Omongan orang ini terlalu membual sikapnya sombong dan jumawa ternyata bukan lagi mengibul kosong dia benar2 punya sedikit kepandaian yang boleh diandalkan….”

“Peng jie” mendadak terdengar sebuah teguran berat berkumandang datang. “Kalian sedang saling menjajal kepandaian silat atau lagi melakukan suatu perkelahian sungguh2?”

Mendengar teguran itu sambil tertawa dara berbaju merah itu segera menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang.

“Aku sedang mencoba kepandaian yang dimiliki Giok heng” jawabnya.

Siauw Lingpun mendongak tampak olehnya Pak Thian Coen cu serta Chee Toa nio berdiri berbareng saat itu mereka sedang memandang dirinya serta sang dara berbaju merah dengan terpesona.

Jelas si kakek tua ini sama sekali tidak berhasil dikelabui oleh ucapan anak gadisnya kepada wajahnya penuh diliputi kecurigaan.

Lain halnya dengan Chee Toa Nio agaknya ia sudah mengerti kalau kedua orang itu bukan sedang menjajal ilmu air mukanya berubah hebat sebentar ia kelihatan kaget sebentar lagi merasa gusar perasaannya susah diraba pada saat ini.

Selama ini perempuan tua tersebut memahami jelas bagaimanakah watak dari Pak Thian Coen cu sekali berbuat salah dia tak akan memperdulikan kawan lama atau bukan begitu turun tangan segera cabut jiwa orang itu.

“Kiranya Giok heng adalah seorang jago yang memiliki kepandaian silat lihay kalau bukan aku yang mendesak dirinya mungkin sekarangpun aku masih belum tahu kalau memiliki kepandaian yang lihay.”

Dalam pembicaraan tersebut ia berjalan mendekati Siauw Ling kemudian menggandeng tangannya untuk diajak masuk ke dalam ruangan.

Menanti bayangan punggung kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan Pak Thian Coen cu baru berkata lambat2, “Hujien cucumu sebenarnya memperoleh didikan ilmu silat dari siapa saja?”

“Kecuali memperoleh ilmu silat warisan keluarga iapun pernah menerima beberapa petunjuk dari beberapa orang loocianpwee sehingga pelajaran yang ia pelajari sangat kacau karena urusan inilah pernah beberapa kali aku menasehati dirinya agar jangan terlalu banyak mencampur adukkan ilmu silat yang dipelajari seharusnya ia pilih beberapa macam ilmu silat yang bagus untuk dilatih dengan rajin sehingga memperoleh kemajuan yang pesat tapi….”

“Menurut pengawasan loohu” tukas Pak Thian Coen cu tiba-tiba. “Bukan saja cucumu memperoleh petunjuk dari jago-jago lihay bahkan ilmu silatnya sudah berhasil mencapai puncak kesempurnaan walaupun loohu belum berhasil menyelidiki keseluruhannya tapi aku percaya sepasang mataku belum pernah salah melihat….”

Mendengar ucapan itu diam2 Chee Toa Nio merasa terkesiap tapi diluaran ia tetap tersenyum.

“Kalau Coen cu dapat melihat keberhasilan cucuku dalam hal ilmu silat ini berarti suatu hal yang patut digirangkan oleh kelurga Chee kami.”

“Oleh karena itu loohu berani ambil kesimpulan bahwa ilmu silat yang dimilikinya bukan hasil pelajaran darimu” sambung Pak Thian Coen cu lebih lanjut dengan nada dingin.

“Aku mengundurkan diri dari keramaian Bulim dan hidup terpencil tidak lebih disebabkan bocah ini ditambah pula beberapa orang sahabat karib ayahnya semasa hidup sangat menyukai bakatnya sering mereka datang berkunjung kegubuk untuk memberi petunjuk ilmu silat kepadanya ada kalanya hanya tiga hari ada kalanya sampai beberapa bulan mereka baru pergi aku yang mengerti mereka tidak membawa maksud jahat sama sekali tidak melarang perbuatan mereka2 itu.”

“Oooouw….kiranya begitu tidak aneh kalau ilmu pukulan ilmu totokan yang digunakan cucumu sama sekali berlainan dengan ilmu silat aliran keluarga Chee kalian.”

“Yang lebih aneh lagi” sambung Chee Toa Nio lebih lanjut. “orang2 itu hanya suka memberi pelajaran ilmu silat kepadanya tapi tak menyetujui untuk angkat dia sebagai muridnya.”

“Itulah sebabnya mereka tahu diri sendiri tak mampu untuk menjadi gurunya.”

“Aaaakh….Coen Cu terlalu memuji menurut pandanganku hal ini kemungkinan sekali disebabkan tingkatan kedudukan orang yang berhubungan dengan kami kebanyakan merupakan tingkatan yang sama dengan ayahnya kalau sampai terima dirinya sebagai murid bukankah sebutan akan kacau balau tidak keruan?”

“Di dalam Bulim tiada perbedaan mana yang tua mana yang muda siapa yang mencapai tingkat kesempurnaan terlebih dahulu ialah yang tertinggi pendapat loohu jauh berbeda dengan pandangan Toa Nio. Orang2 itu tidak suka menerima cucumu sebagai murid hal ini disebabkan mereka tahu diri dari gerakan badan yang lincah serta serangan yang mantap dari cucumu sewaktu tadi bergebrak melawan Siauw li loohu rasa ilmu silatnya sudah boleh disebut mencapai puncak kesempurnaan.”

“Aaaakh kau hanya meninjau dari jalannya jurus serangan belaka” tukas Chee Toa Nio sambil tertawa. “Hanya berdasarkan hal itu saja mana kau boleh mengambil suatu perbandingan yang demikian mantap?”

“Jika ia tidak memiliki kepandaian silat yang mencapai puncak kesempurnaan aku rasa sejak semula sudah kena dirubuhkan oleh Siauw li….”

“Oooouw kiranya begitu….”

Tidak menunggu Chee Toa Nio menyelesaikan kata2nya Pak Thian Coen cu sudah menyambung kembali, “Ilmu silat yang dimiliki Siauw li telah memperoleh seluruh kepandaian yang dimiliki loohu yang kurang hanyalah belum mencapai puncak kesempurnaan Pak Hay Ciang Hoat maupun Pak Hay Cian Hoat paling mengutamakan serangan yang gencar dan apa yang loohu lihat tadi rasanya Siauw li telah mengeluarkan seluruh tenaga.”

“Tapi kepandaian silat putrimu jauh lebih hebat dari ilmu silat cucuku” kembali perempuan ini menukas.

“Kalau ia tidak memiliki kepandaian silat lihay mengapa kepandaian silat keponakan Chee bisa begitu mantap kendati kena diserang oleh Siauw li dengan bermacam2 perubahan dapat memecahkannya satu per satu inilah yang menyebabkan loohu timbul rasa curiga di dalam hati.”

Perlahan-lahan ia berpaling sepasang matanya dengan memancarkan cahaya yang menggidikkan melototi wajah Chee toa Nio tak berkedip.

“Yang datang benarkah keponakan Chee?”

“Dikolong langit ada manusia siapa yang sudi menyaru seorang boanpwee macam dia.”

“Dengan diri keponakan Chee rasanya loohu sudah beberapa kali bertemu muka karena tadi tiada pikiran aku tidak memperhatikan terlalu cermat kini setelah kuingat kembali rasanya Chee Giok yang ada dalam pandangan loohu jauh berbeda dengan orang ini aku rasa banyak perbedaan terdapat pada diri mereka.”

“Aku rasa seorang bocah yang masih kecil sering terjadi banyak perubahan. Putrimu pun jauh berbeda dengan apa yang berada dalam ingatanku.”

“Bukan itu yang loohu maksud! aku gemar mempelajari ilmu perbintangan maupun ilmu raut muka yang tersisa dalam ingatan Loohu soal keponakan Chee bukan raut wajahnya melainkan bakat serta sikapnya.”

“Sewaktu cucuku berjumpa dengan Coen cu waktu itu usianya tidak lebih baru sepuluh tahun” tukas perempuan she Chee ini cepat. “Wajahnya itu masih kekanak2an bagaimana bisa kita ketahui sikapnya.”

“Tapi aku rasa bakat serta susunan tulangnya tak bakal berubah bukan?”

Chee Toa Nio kontan merasakan hatinya tergetar keras pikirnya, “Orang ini bukan saja memiliki kepandaian silat yang sangat lihay iapun teliti sekali banyak persoalan yang tak pernah kuduga ia bisa berpikir sampai disana…. setelah kini menjumpai hal yang mencurigakan ia lantas mendesak terus menerus aku harus berhati2.”

Sewaktu ia sedang berpikir terdengar Pak Thian Coen cu telah berkata kembali, “Hujien, dapatkah kau panggil keponakan Chee datang kemari agar loohu bisa memeriksa dirinya dengan teliti.”

Sewaktu Chee Toa Nio ada maksud menampik dengan kata2 halus kebetulan pada waktu itu Siauw Ling serta si dara berbaju merah ini melangkah datang lambat2.

Melihat munculnya pemuda itu tidak menunggu Chee Toa Nio buka suara Pak Thian Coen cu sudah mendahului, “Keponakan Chee mari datanglah kemari Loohu ada beberapa pertanyaan hendak kutanyakan kepadamu.”

Diam2 Chee Toa Nio merasa sangat terperanjat melihat tindakan dari Pak Thian Coen cu ini sebenarnya ingin sekali ia memberi tanda kepada pemuda itu tapi karena iapun tahu sirasul sakti dari langit utara ini sangat cermat maka dia batalkan maksudnya berbuat demikian.

“Eeeei….Tia memanggil dirimu” terdengar dara berbaju merah itu menjawil ujung baju Siauw Ling.

“Aaaai entah apa maksudnya memanggil aku?” sembari bergumam Siauw Ling melangkah kedepan.

Sepasang mata gadis berbaju merah itu dengan tajam melototi wajah ayahnya sedang ia sendiri mengikuti dari belakang Siauw Ling dalam jarak tujuh delapan depa.

Pada waktu itulah mendadak si dara berbaju merah itu menjawil ujung baju sang pemuda dan berbisik, “Sstt….kau harus hati2 ayahku mengandung maksud tidak baik terhadap dirimu.”

Mendengar peringatan ini Siauw Ling tertegun tapi sebentar kemudian ia sudah meneruskan langkahnya kedepan dan berhenti kurang lebih empat lima langkah dihadapan Pak Thian Coen cu.

“Entah Loocianpwee ada petunjuk apa?” tanyanya seraya menjura penuh rasa hormat.

“Kau kemarilah loohu ada pertanyaan hendak ditanyakan kepadamu.”

Teringat akan peringatan yang diucapkan si dara berbaju merah itu kepadanya dalam hati Siauw Ling timbul juga rasa curiga yang menebal diam2 ia salurkan hawa murninya mengadakan persiapan lalu melanjutkan langkahnya kedepan.

“Giok jie….” mendadak Chee Toa Nio mendehem.

“Hujien loohu harap kau jangan banyak bicara” tegur Pak Thian Coen cu sambil tertawa dingin.

Agaknya Chee Toa Nio menaruh rasa hormat serta jeri terhadap Pak Thian Coen cu kena ditegur ia benar2 membungkam.

Sepasang mata Pak Thian Coen cu dengan memancarkan cahaya menggidikkan melototi diri Siauw Ling tak berkedip.

“Bocah kau bukan Chee Giok” serunya ketus.

Sebelum Siauw Ling memberi jawaban mendadak bayangan merah berkelebat lewat si dara berbaju merah itu sudah muncul menghadang dihadapan Siauw Ling sembari berseru manja.

“Tia siapa yang bilang dia bukan adik Giok?”

Pada mulanya Pak Thian Coen cu agak tertegun lalu ia mendongak dan tertawa terbahak2.

“Haaa….haaa tidak salah tidak salah sepasang mata Loohu memang sudah melamur aku sudah salah melihat orang….”

Sinar matanya segera berputar memandang ke arah Chee Toa Nio sambungnya, “Hujien tak usah marah kaum muda mudi memang sering berpura2 lalu bersungguh2 kita sebagai angkatan lebih tua ada baiknya jangan banyak ikut campur.”

“Tidak salah tidak salah cinta2an antara kaum muda mudi lebih baik tak usah kita turut campur” seru Chee Toa Nio tertawa terkekeh2.

Sambil melanjutkan tertawanya kedua orang itu berlalu dan lenyap dibalik ruangan.

Menanti bayangan kedua orang itu sudah lenyap dari balik kabut si dara berbaju merah itu baru menyeka keringat dingin yang mengucur keluar membasahi keningnya.

“Sungguh berbahaya sungguh berbahaya….”

“Bahaya? apanya yang bahaya?” tanya Siauw Ling kebingungan.

“Hmm orang lain sudah menolong dua lembar jiwa kalian tua dan muda apakah kau sama sekali tidak tahu?”

“Maksudmu ayahmu….”

“Sedikitpun tidak salah jika tadi kau menjawab pertanyaan ayahku maka saat ini kau sudah menggeletak mati diatas lantai.”

“Hmm masa begitu gampang ayahmu bisa membunuh aku dalam sebuah serangan saja” pikir pemuda itu dalam hati dengan rasa tidak puas.

Sedang diluaran ia berkata lambat2, “Tapi cayhe sudah melakukan persiapan2.”

“Aku sama sekali tidak menyangka Tia bisa timbul napsu membunuhnya setelah berjumpa denganmu karena itu aku lupa beritahu kepadamu kalau Tiaku berhasil melatih sebuah ilmu pukulan yang maha sakti disebut orang sebagai Im Hong Sin Hu Ciang atau ilmu telapak angin dingin membetot nyawa.”

“Hmm cukup kudengar dari namanya sudah dapat diduga kalau ilmu ini adalah semacam ilmu silat jahat” pikir Siauw Ling dalam hati.

Ketika si dara berbaju merah itu melihat Siauw Ling sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget dan tercengang setelah mendengar nama ilmu pukulan tersebut dalam hati diam2 jadi jengkel pikirnya, “Pada suatu hariaku akan suruh kau ikut mencicipi bagaimana rasanya ilmu telapak angin dingin pembetot nyawa ini….”

Di dalam ia berpikir demikian diluar ujarnya, “Ilmu Si Hun Ciang atau pembetot nyawa saja sudah merupakan sebuah ilmu pukulan yang luar biasa dahsyatnya setiap kali melancarkan serangan apabila orang itu tidak mati tentu terluka parah ditambah pula ilmu ini digabung dengan ilmu Han Im Khie kang yang luar biasa maka namanya diubah jadi Im Hong Si Hun Ciang atau ilmu telapak angin dingin pembetot nyawa….”

Mendadak gadis itu menghela napas panjang sambungnya lebih lanjut, “Ketika Tia mengajak kau berbicara tadi secara diam2 hawa pukulan Im Hong Si Hun Ciang sudah dipersiapkan asal kau menjawab pertanyaannya sehingga perhatian agak bercabang maka Tia akan menggunakan kesempatan tersebut melancarkan sebuah pukulan angin dingin pembetot nyawa untuk membinasakan dirimu.”

“Aku tidak percaya kalau ilmu pukulan angin dingin pembetot hati itu bisa membinasakan seseorang dalam sekali pukulan saja” pikir sang pemuda lagi di dalam hati.

Karena tidak percaya air mukapun menunjukkan perasan tersebut.

Agaknya si dara berbaju merah itu dapat melihat perubahan wajah Siauw Ling terdengar ia menghela napas dan menggeleng.

“Bukankah kau tidak percaya atas ucapanku?”

“Bukannya cayhe tidak percaya hanya ada sedikit heran.”

“Apa yang kau herankan?”

“Sewaktu nona mengetahui kalau cayhe bukan Chee Giok wajahmu menunjukkan kemarahan yang memuncak dan agaknya ingin sekali menghukum mati cayhe pada saat itu juga entah apa sebabnya setelah menjumpai ayahmu maka rasa gusar yang semula kau perlihatkan lenyap tak berbekas dari musuh jadi kawan bahkan melindungi pula keselamatanku.”

Si dara berbaju merah itu segera tertawa cekikikan.

“Hati orang perempuan sudah diraba bagaikan jarum didasar samudra sebentar girang sebentar marah membuat aku sendiripun susah untuk meraba apalagi kau tentu saja kau tak bakal tahu.”

Mendadak air mukanya berubah serius dengan keren sambungnya, “Nama Siauw Ling yang kau beritahukan kepadaku bukan nama palsu lagi bukan?”

“Seratus persen tak akan palsu lagi.”

“Lalu tahukah kau siapa namaku?”

“Cayhe belum menanyakan siapa nama Kuncu” pemuda itu menggeleng.

Siauw Ling dibikin apa boleh buat terpaksa ia rangkap tangannya menjura.

“Tolong tanya siapa nama nona?”

“Tidak berani budak she Pek Li” sahut dara berbaju merah itu sambil balas menjura.

“Bagus sekali” pikir Siauw Ling dalam hati. “Kiranya kau hendak repotkan aku untuk banyak bertanya lagi satu pertanyaan.”

Terpaksa sambungnya, “Nama nona?”

“Terima kasih atas pertanyaan Siangkong budak hanya bernama tunggal Peng saja.”

Ia merandek lalu tertawa geli.

“Walaupun aku jarang berkelana dalam daratan Tionggoan” sambungnya terus. “Tapi sering mempelajari buku syair dari daratan tionggoan kalian kata budak disini cocok tidak pengguanaannya?”

“Bagus, bagus cocok….cocok.”

Pek Li Peng tersenyum.

“Jika begitu lain kali kalau aku menyaru sebagai putri daratan Tionggoan maka semuanya bakal lancar.”

“Cara nona berbicara tidak celat tindak tanduk tidak kaku dan seratus persen merupakan putri daratan Tionggoan perlu apa kau harus menyaru.”

“Hal ini dikarenakan ibuku adalah penduduk asal daratan Tionggoan sejak kecil aku telah memperoleh didikan dari ibu sehingga sangat suka dengan segala hal yang menyangkut soal daratan Tionggoan.”

Siauw Ling perlahan-lahan mendongak memeriksa keadaan cuaca lalu ia berpaling.

“Cayhe rasa aku harus mohon diri terlebih dulu.”

Mendengar pemuda itu pamitan Pek Li Peng menundukkan kepalanya rendah2 katanya sedih, “Walaupun datang dengan menyaru sebagai Chee Giok tapi aku selalu tidak dapat mengubah pandanganku….”

“Soal ini tidak penting berkat bantuan nona yang menolong diri cayhe lolos dari bahaya dalam hati aku merasa sangat berterima kasih sejak ini hari tentu akan kubantu diri nona untuk mencari dapat jejak Chee Giok dan menyampaikan rasa cinta kasih nona terhadap dirinya. Kalau aku berjumpa tentu akan kusuruh ia segera berangkat keistana es guna menjumpai dirimu.”

Pek Li Peng mendongak sinar matanya penuh mengandung rasa sedih memandang sekejap wajah Siauw Ling bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya dibatalkan kembali.

Setelah berdiam diri beberapa saat diambilnya keluar beberapa tusuk konde pualam dari rambutnya dan diserahkan ketangan pemuda itu.

“Harap Siauw heng suka menerima tusuk konde ini.”

“Maksud nona?” tanya Siauw Ling tertegun.

“Dikemudian hari apabila Siauw heng berjumpa dengan Chee heng berikanlah tusuk konde ini kepadanya dan minta ia dengan membawa tusuk konde ini segera datang keistana es di Pak Hay untuk menjumpai diriku.”

“Harap nona berlega hati” sahut Siauw Ling sambil menyambut tusuk konde itu. “Bila cayhe tidak berhasil menjumpai Chee Giok aku pasti akan mengembalikan tusuk konde ini kapada Kuncu.”

Pek Li Peng tidak menjawab hanya ujarnya, “Tusuk konde ini terbuat dari batu kumala berusia ribuan tahun yang ada diatas gunung Thian san kasiatnya dapat memusnahkan berbagai macam racun bila kau selalu membawanya disaku mungkin bisa banyak membantu dirimu.”

Siauw Ling tidak banyak bicara ia menjura mohon diri.

“Cayhe mohon diri terlebih dahulu” katanya sambil putar badan berjalan keluar dari ruangan.

“Berhenti kau hendak kemana?” tiba-tiba Pek Li Peng membentak lirih.

“Aku hendak mencari Chee popo.”

“Aaaai….lebih baik kau jangan pergi mencari dirinya ayahku sudah menaruh curiga dengan kau aku rasa bila kau nekad pergi kesana maka jiwamu akan terancam.”

“Kendati begitu cayhe tak boleh meninggalkan Chee Loocianpwee begitu saja.”

“Aku bisa bantu kau membawanya keluar….”

Gadis itu berpaling dan menggape seorang dayang berbaju serba putih segera lari mendekat.

“Siang Soat” kata Pek Li Peng sambil menuding diri Siauw Ling. “Hantar Siauw ya ini keluar dari sini dan menanti kedatanganku dikuil San Sin Bio kurang lebih tiga li dari sini….”

Siang Soat mengiakan ia segera berpaling dan tertawa.

“Siauw ya silahkan….”

“Cayhe tidak kenali jalanan disini silahkan nona berjalan terlebih dahulu….”

“Kalau begitu maaf budak akan membuka jalan” dayang itu segera berlalu terlebih dahulu.

Sekeluarnya dari pintu besar dari sudut dinding segera muncul dua orang lelaki berbaju putih menghadang jalan pergi mereka.

Siang Soat maju menyongsong dan membisikkan sesuatu ditelinga mereka berdua orang lelaki berbaju putih itu mengangguk dan mengundurkan diri lagi keposnya masing-masing.

Jarak tiga li yang sangat pendek ini mereka lalui setelah menjumpai empat buah pos penjagaan tapi semua penjaga dapat diundurkan setelah Siang Soat membisikkan sesuatu ketelinga mereka.

Menanti dayang berbaju putih ini selesai mengundurkan penjaga pada pos yang terakhir mereka telah tiba didepan kuil San Sin Bio.

Sambil menghembuskan napas panjang ia berpaling dan tertawa ke arah Siauw Ling ujarnya, “Huu….beruntung aku tidak sampai mengecewakan perintah Kuncu.”

“Terima kasih atas bantuan nona.”

“Aaaakh….Siauw ya terlalu memuji” dayang ini merandek sejenak kemudian terusnya, “Di dalam daerah sekitar tiga li semuanya ada tiga puluh enam kelompok peronda jaga dari pengawal istana es kami perduli siang maupun malam penjagaan tidak pernah berhenti tapi hal ini cuma terbatas dalam lingkungan tiga li saja diluar tiga li kendati langit ambrukpun mereka akan berpeluk tangan menonton tapi gerak gerik yang terjadi dalam lingkungan penjagaan mereka tak akan mereka lepaskan barang sedikitpun jua.”

“Tapi mengapa nona bisa mengundurkan mereka tanpa mencabut senjata dan berhasil menghantar cayhe sampai disini?”

Siang Soat tertawa.

“Rata2 mereka pada tahu kalau aku adalah dayang kepercayaan Kuncu karena itu sedikit banyak mereka jeri kepadaku dan tidak berani berbuat kesalahan dengan diriku.”

“Kalau begitu Kuncu kalian paling galak seisi istana?”

“Hujien….”

“Sedikitpun tidak salah Hujien adalah ibu kandung Kuncu bahkan Looya kamipun paling takut dengan Hujien….”

Mendadak tampak dua sosok bayangan manusia meluncur datang buru-buru dayang itu membungkam.

Datangnya bayangan manusia itu amat cepat laksana kilat menyambar dalam sekejap mata mereka sudah tiba didepan mata.

Mereka bukan lain adalah Pek Li Peng serta Chee Toa Nio dua orang.

“Merepotkan Kuncu….” buru-buru Siauw Ling menyongong seraya menjura.

“Semoga kalian berdua selamat tiba ditempat tujuan maaf aku tak dapat menghantar terlalu jauh.”

“Aaaai….” Chee Toa Nio menghela napas panjang. “Harap Kuncu suka sedikit merepotkan untuk beritahu kepada ayahmu bahwa aku harus berlaku karena keadaan terdesak….”

“Loocianpwee boleh berlega hati dihadapan Tia biar boanpwee yang usahakan aku tanggung karena urusan ini tak akan menimbulkan rasa dendam dalam hati Tia.”

“Besok pagi aku segera akan menyaru dan melakukan perjalanan mencari cucuku sampai diujung langitpun setelah berjumpa dengan dirinya aku pasti akan membawa dia datang berkunjung keistana es untuk mohon maaf dihadapan ayahmu.”

“Aku rasa tidak perlu lagi berbuat demikian” tukas Pek Li Peng seraya mengerling sekejap wajah Siauw Ling. “Kalau Loocianpwee berhasil menjumpai Giok te sampaikan saja salamku kepadanya aaai….”

“Permainan semasa kecil mana boleh dianggap sungguhan saat ini boanpwee sudah banyak lebih sadar.”

“Karena cucuku Kuncu telah melakukan perjalanan sejauh ribuan li sudah seharusnya kalau Giok jie mengunjungi istana es untuk mohon maaf atas hal ini setelah aku menemukan dirinya tentu akan kubawa cucuku untuk mengunjungi istana es Kuncu silahkan kembali dan akupun mohon diri terlebih dahulu.”

Setelah menjura dengan membawa Siauw Ling mereka berlalu dari sana.

Pek Li Peng berdiri termangu2 menanti kedua sosok bayangan manusia itu sudah lenyap dari pandangan dengan membawa serta Siang Soat ia kembali ke dalam istananya.

Sepanjang perjalanan tak ada kejadian penting yang mereka jumpai ketika Chee Toa Nio serta Siauw Ling tiba kembali didepan gubuk waktu itu Kiem Lan sedang menanti kembalinya Sam Cungcu mereka dengan hati cemas.

Melihat pemuda itu kembali ia segera lari menyambut.

“Sam ya baik2kah kau selama perjalanan?” tanyanya dengan nada kuatir.

“Masih beruntung baik2 saja ada orang yang datang mengunjungi gubuk kita?”

“Tidak ada” Kiem Lan menggeleng. “Sejak Sam ya pergi hingga ini hari tak seorangpun yang datang mencari gara2 disini.”

“Ehmm….orang itu sungguh boleh dipercaya” puji Siauw Ling seraya mengangguk.

Ketika itu Giok Lan serta Tong Sam Kauw sama2 lari keluar dari ruangan, setelah menjura kepada diri Chee Toa Nio tanya mereka hampir berbareng, “Hmmm Cungcu siapa yang kau puji?”

“Be Boen Hwie?”

“Be Boen Hwie? kenapa dia?” sela Chee Toa Nio.

“Ia menyanggupi untuk melarang enghiong hoohan dari kolong langit mencari gara2 disini sebelum malam nanti ternyata ucapannya bisa dipercaya.”

“Kalau ia tidak punya sifat bisa dipercaya bagaimana orang itu bisa menaklukan para jago Bulim yang ada di Ih Ouw Siang serta Kan empat keresidenan besar.”

“Samya! Loocianpwee kalian baru saja pulang dari tempat kejauhan silahkan beristirahat dulu” timbrung Kiem Lan tiba-tiba.

Setelah mendengar ucapan itu Chee Toa Nio pun teringat kembali akan janji Siauw Ling dengan diri Be Boen Hwie karena mengingat dalam pertemuan ini mungkin akan terjadi kembali suatu pertempuran ini sengit ia lantas menghela napas panjang.

“Aaaai….aku memang harus pergi beristirahat” katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.

Menanti nenek itu sudah berlalu Siauw Ling mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Tong Sam Kauw serta Giok Lan.

“Bagaimana dengan luka kalian berdua? sudah baikkah?” tanyanya lirih.

“Sudah pulih seperti sedia kala” jawab Tong Sam Kauw cepat. “Setelah mendengar kisah dari nona Kie Lan aku baru tahu selama ini telah banyak menyusahkan dirimu.”

“Budakpun sudah banyak menerima budi Sam ya dalam penghidupanku selama ini mungkin susah untuk membalas kebaikan ini” sambung Giok Lan pula sambil memberi hormat.

“Kita berasal dari sampan yang sama senang derita kita pikul bersama buat apa kalian mengucapkan kata2 yang menyangkut soal hutang budi segala….” seru Siauw Ling tertawa.

Semua orang membungkam beberapa saat suasana jadi sunyi tak kedengaran sedikit suarapun.

Akhirnya Tong Sam Kauw buka suara terlebih dahulu katanya, “Orang2 ini tiada kaitan permusuhan dengan kita orang kenapa dia bersikeras terus mendesak diri kita nanti malam kalau ia datang lagi akan kusuruh ikut merasakan bagaimana rasanya senjata rahasia beracun keluarga Tong dari kerajaan Su Tzuan kami.”

“Eeeeei jangan….jangan….” buru-buru Siauw Ling goyangkan tangannya mencegah. “Dalam keadaan semacam ini kita jangan melukai orang secara sembarangan. Walaupun kita tak bersalah tapi kesalahan ini terletak kepada bakti kita terhadap perkampungan Pek Hoa San cung jangan dikata dengan kekuatan kita berapa orang tak bisa melawan kekuatan para enghiong dari kolong langit sekalipun mampupun kita tak boleh membunuhi orang secara sembarangan kalau bukan jiwa kita terancam lebih baik nona jangan sembarangan mengeluarkan senjata rahasia beracunmu….”

Ia merandek sejenak sinar matanya menyapu sekejap wajah ketiga orang itu lalu terusnya, “Kalian berdua bisa bebas dari pengaruh racun keji pembusuk tulang aku rasa ini hal ini berada diluar dugaan Toa Cungcu malam ini perduli akan damai atau bertempur kita tetap harus melanjutkan perjalanan mengambil sedikit kesempatan ini baik2lah kalian bertiga beristirahat untuk pulihkan tenaga.”

Kiem Lan serta Giok Lan saling bertukar pandangan dan tertawa jawabnya berbareng, “Sam ya pun seharusnya baik2 beristirahat setelah melewati rintangan ini semua hal masih tergantung dari tenaga Sam ya untuk mengatasinya.”

Setelah harian lewat dengan amat cepat dalam sekejap mata sang surya sudah lenyap disebelah barat sang rembulanpun muncul diawang2.

Perlahan-lahan Siauw Ling bangun berdiri bisiknya kepada Kiem Lan sekalian, “Asal orang2 mereka tidak sampai menyerbu ke dalam gubuk lebih baik kalian bertiga jangan turun tangan.”

Setelah meninggalkan pesan2 dengan langkah lebar pemuda ini berjalan keluar.

Dibawah sorotan sang rembulan tampak Be Boen Hwie dengan memakai seperangkat pakaian singsat warna biru dan mencekal senjata kipas ditangan telah menanti disana.

“Maaf cayhe datang sedikit terlambat sehingga mengharuskan Be heng lama menanti” buru-buru Siauw Ling menjura.

“Bukan Siauw heng yang datang terlambat adalah cayhe yang datang kepagian.”

Siauw Ling yang mendongak memperhatikan sekejap rembulan yang ada diawang2 lalu ujarnya, “Siauw te tidak lama terjunkan diri ke dalam dunia persilatan tidak banyak jago yang kukenal sudah tentu tak banyak permusuhan pula yang kuikat dengan para jago Bulim entah apa sebabnya para jago demikian bersikeras hendak menyusahkan diri Siauw te?”

“Siauw heng gagah perkasa dan merupakan seorang lelaki sejati apa yang kau ucapkan dapat kami percaya tapi para jago memusuhi kalian bukan terhadap pribadi Siauw heng sendiri tapi disebabkan oleh Siauw heng datang dari perkampungan Pek Hoa San cung….”

Ia merandek untuk menghela napas panjang kemudian sambungnya, “Tempo dulu Djen Bok Hong sudah banyak menciptakan pembunuhan keji dalam kalangan dunia persilatan permusuhan yang diikat sangat banyak dan boleh dikata mencapai rekor selama ini.”

“Kemudian secara tiba-tiba Djen Bok Hong mengundurkan diri dan lenyap dari keramaian dunia kangouw selama banyak tahun walaupun para jago pernah mengadakan pencarian secara besar2an selama beberapa tahun hasilnya tetap nihil. Aaaai….semua orang menyangka tempat persembunyiannya tentu diatas sebuah gunung yang tinggi atau di dalam hutan yang lebat serta jarang dijejaki manusia karena itu kebanyakan mereka masuk ke dalam hutan mencari jejaknya lama sekali pencarian ini berlangsung dan akhirnya muncul berita dalam Bulim yang mengatakan manusia she Djen itu sudah mati. Berita ini entah muncul dari siapa yang jelas dengan cepat tersebar luas dalam Bulim dengan demikian pencarian yang sedang berlangsungpun makin mengendor dan akhirnya bubar tidak disangka ternyata orang itu bersembunyi di dalam perkampungan Pek Hoa San cung….”

Bibir Siauw Ling bergerak ingin mengucapkan sesuatu tapi ia batalkan kembali maksudnya.

Terdengar Be Boen Hwie menghela napas panjang sambungnya lebih lanjut, “Bila kupikir saat ini, dapat kuduga berita kematian Djen Bok Hong yang tersiar dalam bulim pasti berita kosong yang sengaja ia sebar sendiri.”

“Setelah dua tahun pencarian yang sia2 dari para jago berita ini memang merupakan umpan yang paling empuk untuk termakan oleh semua orang sehingga siapapun pada waktu itu percaya akan kematiannya. Sungguh sayang waktu itu tak seorangpun yang pernah berpikir bahwa berita ini hanya berita bohong yang sengaja disiarkan Djen Bok Hong sendiri….kalau tidak mungkin saat ini muncul berita yang sangat menggemparkan dimana Djen Bok Hong munculkan dirinya kembali ke dalam dunia persilatan.”

Siauw Lingpun ikut menghela napas panjang.

“Apakah waktu itu Be heng sudah terjunkan diri ke dalam dunia persilatan?” tanyanya.

“Sewaktu Siauw te munculkan diri ke dalam dunia kangouw walaupun Djen Bok Hong sudah mengundurkan diri tapi semua peristiwa ini dapat kudengar dari mulut suhuku jadi tidak bakal salah lagi.”

“Watak Be heng sangat gagah kepandaian silatmu lihay luar biasa suhumu tentu seorang jago aneh yang mempunyai nama besar di dalam Bulim.”

“Suhuku sudah meninggal….” kata Be Boen Hwie sedih.

Ia mendongak memandang rembulan diawang2 setelah menghembuskan napas sambungnya, “Karena termakan sebuah pukulan berat dari Djen Bok Hong isi perut suhuku terluka parah sepanjang hidup ia tak dapat belajar ilmu silat lagi demi berhasil menurunkan seluruh kepandaian silatnya kepada siauwte beliau rela bertahan dan bergelut dengan penyakitnya selama lima tahun, sepanjang lima tahun ini siauwte dengan mata kepala sendiri melihat kambuhnya penyakit itu satu kali setiap kali. Siksaan yang begitu hebat menciptakan rasa dendam serta rasa marah yang tak terpendamkan dalam dadaku….”

“Oooouw….kiranya begitu tidak aneh kalau Be heng bisa menaruh benci yang merasuk ketulang sumsum terhadap diri Djen Bok Hong.”

“Rasa benci Siauwte terhadap Djen Bok Hong walaupun lebih mengutamakan dendam suhuku, tapi permusuhanku dengan perkampungan Pek Hoa San cung bukan disebabkan dendam pribadi. Sejak Siauwte memperoleh kepercayaan dari para jago empat keresidenan besar dan mengangkat diriku sebagai Bengtju, menurut apa yang siauwte ketahui banyak2 Bulim dari empat keresidenan ini mati karena mendapat siksaan Djen Bok Hong. Para jago yang siauw heng ketemui sepanjang jalan inipun datang karena hal yang sama, aku rasa kau bisa percaya bukan perkataanku ini bukan….”

“Apa yang cayhe lihat sudah sangat banyak dapat kupercayai apa yang Be heng katakan tidak bohong aaai….sekali cayhe salah melangkah untuk berpaling sudah terlambat. Kalau kalian suruh aku memusuhi orang2 perkampungan Pek Hoa San cung hal ini tak bisa kulakukan, sekalipun tindak tanduk Djen Bok Hong tidak benar, tapi cayhe pun tidak seharusnya mengkhianati dirinya. Cuma Siauwte bersumpah tak akan membantu pihak perkampungan Pek Hoa San cung untuk melakukan kejahatan.”

Be Boen Hwie termenung sebentar lalu menghela napas panjang.

“Setelah Siauw heng berkata demikian siauwtepun tidak berani banyak memaksa tapi malam ini aku bisa memperoleh kata2 sumpah dari diri Siauw heng rasanya pertemuan malam ini tidak terlalu mengecewakan.”

“Dikemudian hari asal cayhe bisa berjumpa kembali dengan Djen Bok Hong tentu akan kuusahakan sedapat mungkin untuk mengubah wataknya dan banyak berbuat kebajikan….”

“Watak Djen Bok Hong sudah keburu rusak mungkin Siauw heng tak bakal berhasil menyadarkan dirinya” tukas Be Boen Hwie. “Semoga saja Siauw heng pribadi bisa menjauhkan diri dari kejahatan dan berbuat amal ucapan dari Siauwte ini harap Siauw heng berpikir tiga kali selamat berpisah dan sampai jumpa lain kesempatan.”

Setelah menjura ia putar badan berlalu.

“Be heng tunggu sebentar” seru Siauw Ling cemas.

“Siauw heng masih ada perkataan apa lagi?” perlahan-lahan Be Boen Hwie berpaling.

“Pembicaraan kita dibawah sorotan rembulan telah menambah banyak pengetahuanku setelah aku orang she Siauw terperosok ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung akupun tidak berani banyak bicara lagi sejak ini aku akan berusaha menggunakan segala kemampuanku untuk menghindarkan diri dari pertikaian antara jago-jago Bulim dikolong langit dengan pihak perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Siauw heng suka mendengarkan nasehat cayhe siauwte merasa sangat berterima kasih sekali.”

“Masih ada satu persoalan lagi cayhe mohon bantuan dari diri Be heng….”

“Asal dapat kulakukan aku orang she Be tentu tak akan menampik.”

“Permusuhan yang diikat pihak perkampungan Pek Hoa San cung dengan kawan2 Bulim sudah terlalu banyak cayhe dengan kedudukan sebagai Sam Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung muncul dalam dunia kangouw sedikit banyak akan mendapat gangguan serta rintangan2 dari jago kolong langit hal ini tak dapat salahkan mereka berbuat demikian terhadapku. Hanya saja sikap mereka ingin sekali membinasakan aku Siauw Ling seketika itu juga membuat hatiku risau ucapan tak pernah mereka gubris. Aaaai dalam keadaan seperti ini memaksa siauwte terpaksa harus melawan tapi cayhe sangat tidak ingin karena urusan ini mengakibatkan kesalah pahaman semakin mendalam dan mengalir darah karena ini oleh sebab itu siauwte mohon bantuan Be heng suka membantu cayhe memberi penjelasan kepada para enghiong hoohan dikolong langit dengan ucapan dari Be heng rasanya para jago tentu akan mempercayainya.”

“ucapan ini tak berani cayhe terima” sahut Be Boen Hwie setelah termenung sebentar. “Bila dibicarakan dari soal ini siauwte tak berani memastikan bisa melerai pertikaian antara para jago dengan diri Siauw heng tapi aku akan menggunakan segenap tenagaku untuk menasehati beberapa orang.”

“Untuk itu cayhe ucapkan terima kasih lebih dahulu demi terhindar dari banyak pertikaian siauwte telah ambil keputusan untuk segera melanjutkan perjalanan aku akan berusaha menghindari pertemuan2 dengan orang2 Bulim.”

“Aaaai semoga Siauw heng suka berjaga diri” seru Be Boen Hwie sambil menghela napas.

Dalam beberapa kali loncatan saja ia sudah lenyap dari pandangan.

Siauw Ling segera kembali ke dalam gubuk sepeninggalnya orang she Be waktu itu Tong Sam Kauw, Kiem Lan serta Giok Lan telah menyelesaikan bekalannya.

“Mari kita berangkat!” serunya pemuda itu sambil menyapu sekejap wajah mereka bertiga.

Tanpa menanti jawaban lagi ia meloncat terlebih dahulu keluar.

Pada waktu itulah dari balik ruangan terdengar suara Chee Toa Nio berkata, “Semoga kalian berempat selamat mencapai tujuan, maaf aku tak bisa menghantar.”

“Bantuan Loo popo selama ini tak akan aku orang she Siauw lupakan selama hidup, dikemudian hari kalau ada jodoh pasti akan kubalas budi kebaikan ini.”

“Setelah kalian berempat pergi akupun akan meninggalkan rumah reyotku ini” terdengar Chee Toa Nio berkata kembali dari balik ruangan. “Usiaku sudah lanjut sejak ini akan hidup terlunta2 dimanapun sampai kapan aku tetap hidup susah dikatakan dari sekarang hanya harapanku apabila dikemudian hari Siauw Siangkong bisa menjumpai cucuku Chee Giok harus kau suka baik2 menjaga dirinya.”

“Asal berjumpa tentu akan kuusahakan sedapat mungkin, selamat berpisah dan semoga Loo popo baik2 menjaga diri.”

Sesudah menjura ke arah gubuk dengan langkah lebar ia berlalu.

Satu lelaki toga orang gadis dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh berkelebat lewat laksana empat gumpul asap ditengah sorotan rembulan.

Dalam sekejap mata mereka sudah menerobosi hutan dan meneruskan perjalanannya kedepan.

“Siapa?” mendadak terdengar suara bentakan memecahkan kesunyian.

Tiga tombak dari arah mereka muncul desiran anak panah yang memekikkan telinga.

Sambaran anak panah mendatangkan suara yang aneh dan menggidikkan hati ditengah malam yang sunyi.

Dengan kumpulkan tenaga murninya dipedang Siauw Ling menggerakkan senjatanya dengan jurus Fu Im Yen Gwat atau awan melayang menutup rembulan.

Pedangnya dengan menciptakan serentetan cahaya keperak2an menghantam diatas anak panah tersebut sedang dimulut ia membentak, “Ayo cepat jalan!”

Tong Sam Kauw meraup jarum beracunnya melakukan persiapan sekali loncat ia memimpin jalan terlebih dahulu.

Giok Lan serta Kiem Lan pun meloloskan pedangnya dari sarung dengan berjalan2 keriring mereka mengikuti dari belakang Tong Sam Kauw.

Setelah melihat beberapa kali pertarungan sengit yang terjadi antara Siauw Ling dengan para jago di dalam hati Kiem Lan tahu kalau dalam perjalanan yang penuh kesulitan ini mereka bakal jumpai berpuluh2 macam cegatan dari para jago Bulim.

Karena itu meminjam kesempatan sewaktu Siauw Ling mengadakan pertemuan dengan Be Boen Hwie ia membuka peti dan memilih beberapa macam barang yang berharga menjadi dua buntalan lalu digantungkan pada punggungnya serta Giok Lan seorang satu, sedang barang lain semuanya dibuang begitu saja.

Pedang Siauw Ling yang menghantam anak panah tadi membuat panah tersebut sedikit miring kesamping hatinya segera bergerak pikirnya, “Datang anak panah ini sangat dahsyat kalau tidak kutaklukkan dulu orang ini tentu akan menimbulkan bencana dikemudian hari….”

Teringat hal ini dia segera mengepos semangat dengan gerakan Pat Poh Teng Gong atau delapan langkah mencapai langit yang merupakan ilmu meringankan tubuh tingkat atas diterjangnya dari arah mana datangnya serangan tersebut.

Angin tajam berdesir mendadak dari balik pepohonan kembali meluncur keluar sebuah serangan bandulan berantai yang menyapu ke arah pinggang Siauw Ling.

Walaupun Siauw Ling dapat melihat datangnya serangan bandulan berantai itu sangat luar biasa tapi menghadapi situasi semacam ini ia lebih mengutamakan serangan cepat.

Mau tak mau ia harus menempuh bahaya mencari kemenangan pedangnya digerakkan menutul ke arah bandulan berantai tersebut.

“Bangsat kau cari mati….” seru orang yang ada dikegelapan itu sambil tertawa dingin.

Bandulan berantai tadi tak bisa dicegah lagi segera menyapu pedang tersebut.

Traaaang Siauw Ling merasa pergelangan kanannya jadi kaku hampir2 saja pedang terlepas dari tangan.

Sebaliknya setelah bandulan berantai itu termakan oleh tangkisan pedang Siauw Ling gerakanpun semakin lambat.

Siauw Ling tidak mau menyia2kan kesempatan itu lagi pedang ditangan kanan menghajar kedepan tangan kirinya secepat kilat mencengkeram bandulan rantai tersebut.

Terasa segulung tenaga tekanan yang besar menbetot rantai itu ke belakang membuat Siauw Ling yang masih mencengkeram rantai tersebut ikut meninggalkan permukaan dan melayang ketempat kegelapan.

Sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar muncul dari balik pohon wajahnya merah dengan badan yang kekar dia bukan lain adalah si panah sakti penyapu jagat Tong Yen Khie.

Tampak tangan kirinya mencegkeram rantai senjata tangan kanannya diayun kedepan sebuah telapak besar bagaikan raksasa membabat ke arah tubuh Siuaw Ling.

Siauw Lingpun segera menggerakkan telapak kanannya menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Braaak….! lengannya kontan jadi kaku dan linu membuat pemuda ini jadi sangat terperanjat pikirnya, “Sungguh dahsyat tenaga sakti yang dimiliki orang itu.”

Tak terasa lagi tangan kirinya melepaskan cekalan pada rantai senjata kemudian melancarkan sebuah sentilan dengan ilmu menotok Siuw Loo Sin Ci.

Sreeeet segulung desiran tajam dengan cepat menghajar diatas lutut sebelah kanan Tong Yen Khie.

ooooooo0oooooooo

Tong Yen Khie sama sekali tidak menyangka totokan dari Siauw Ling ternyata menggunakan ilmu menotok yang paling sulit dipelajari dalam dunia kangouw.

Terasa lutut kanannya jadi kaku seluruh badan kehilangan keseimbangannya dan jatuh terjengkang kedepan.

Dengan gerakan tubuh yang cepat Siauw Ling mendesak lebih jauh tangan kanannya mengambil kesempatan itu berturut2 melancarkan tiga totokan ke atas tubuh Tong Yen Khie.

“Uuuuh….sungguh beruntung” pikirnya dihati.

Setelah putar badan buru-buru ia lari kedepan melalui jalan kecil yang terbentang didepan mata.

Baru saja berlari sepuluh tombak mendadak dari arah depan kedengaran suara bentrokan senjata yang amat ramai dalam hati ia segera mengerti tentu Tong Sam Kauw sekalian sudah menjumpai kaum penghadang.

Diam2 ia menghela napas panjang pikirnya, “Agaknya untuk meloloskan diri dari kepungan malam ini aku harus mengeluarkan tenaga….”

Ketika itu ia sudah mengitari hutan dan tiba dikalangan pertarungan.

Tampaklah tiga orang lelaki berpakaian ringkas sedang bergebrak dengan serunya melawan Tong Sam Kauw, Kiem Lan serta Giok Lan.

Pertarungan keenam orang ini amat seru cahaya golok bayangan pedang berkelebat tiada hentinya dibawah sorotan rembulan.

Karena buru-buru melakukan perjalanan Siauw Ling lupa memungut kembali pedangnya yang terpukul pental oleh serangan bandul berantai dari Tong Yen Khie tadi kini setelah menjumpai pertarungan sengit ia baru teringat apabila senjatanya sudah hilang.

Setelah tertegun sejenak mendadak teringat kembali olehnya akan sarung tangan kulit ular hadiah Liuw Sian Cu kepadanya sesaat meninggalkan lembah San Sin Kok.

Dengan cepat diambilnya sarung tangan itu dari saku kemudian dikenakan pada sepasang tangan.

Sarung tangan kulit ular ini mempunyai warna yang sama dengan kulit manusia setelah dikenakan ditangan susah bagi orang untuk membedakan mana sarung mana kulit badan yang asli.

“Lepas tangan” tiba-tiba terdengar Tong Sam Kauw membentak keras.

Pedangnya ditangan bergerak mengencang langsung membabat pergelangan kanan lelaki yang ada ditengah.

Serangan ini datangnya sangat cepat kalau lelaki itu bersikeras tak mau lepas senjata maka pergelangannya pasti akan terluka.

Mendadak cahaya golok berkelebat lewat dari samping menyambar datang sebelah golok menangkis datangnya serangan Tong Sam Kauw yang gencar.

Karena kena ditangkis gerakan perempuan muda ini jadi rada merandek ketika itulah pihak lawan buru-buru tarik kembali serangannya.

Tong Sam Kauw tak bisa berkutik terpaksa tangannya merogoh saku meraup keluar segenggam jarum beracun.

“Kalian bertiga apakah ingin menjajal bagaimana lihaynya jarum Chiat Tok Oei Hong Ciam dari keluarga Tong keresidenan Su Tzuan.”

“Nona Tong jangan turun tangan” melihat kejadian itu Siauw Ling jadi cemas dan berteriak.

Ditengah suara bentakan keras bagaikan segulung angin yang menerjang kedepan telapak kirinya diayun menangkis bacokan yang mengarah Kiem Lan sedang tangan kanan dengan jurus Sin Liong Tan Cau atau naga sakti pentangkan cakar mencengkeram pergelangan kanan lelaki tersebut.

Dimana hawa kweekang meluncur keluar golok tadi tahu2 sudah kena direbut.

Melihat kedahsyatan pemuda tersebut dimana serangan goloknya ditangkis dengan tangan kosong tanpa menderita luka sedikitpun lelaki itu jadi terperanjat.

“Oooouw….” makinya. “Ilmu silat apakah ini….”

Belum habis pikirannya berkelebat lewat goloknya sudah kena direbut oleh Siauw Ling.

Setelah mencekal senjata ditangan kegagahan Siauw Ling makin berlipat ganda sembari menangkis datangnya bacokan dari kedua orang lelaki tersebut bentaknya, “Cepat pergi!”

Tong Sam Kauw masukkan kembali jarum tawon tujuh racunnya ke dalam saku kemudian sambil kebaskan pedang ia berangkat terlebih dahulu.

Kiem Lan serta Giok Lan mengikuti dari belakang Tong Sam Kauw dalam sekejap mata mereka bertiga sudah berada tiga tombak jauhnya.

Siauw Ling bersenjatakan golok segera mengeluarkan jurus2 serangannya secara berantai membungkus ketiga orang itu dalam lapisan golok yang menyilaukan mata.

Orang2 itu benar2 terdesak mereka dibikin kalang kabut dan tak berani pecahkan perhatian untuk mengurusi Tong Sam Kauw sekalian lagi.

Ditengah pertarungan yang sengit mendadak Siauw Ling melancarkan sebuah tendangan menghajar pinggang salah seorang lelaki itu.

Orang tadi mendengus dan jatuh terpental sejauh lima enam depa dari sisi kalangan.

Setelah dalam satu jurus berhasil merubuhkan lawan golok Siauw Ling makin berketat serangannya dengan jurus Huang Hong Leng Tiap atau tawon kalap lupu cabul memaksa seorang lelaki diantara dua orang yang tersisa mundur ke belakang.

“Hmm bila aku Siauw Ling ingin cabut nyawa kalian dalam sepuluh gebrakan saja kalian sudah mati bergelimpangan” seru pemuda itu dengan nada yang dingin. “Tapi kita tiada ikatan permusuhan disini.”

Setelah membuang golok dengan langkah lebar ia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Ketika orang lelaki kekar itupun sadar bahwa apa yang diucapkan pemuda itu bukan kata2 kosong belaka dengan mulut bungkam mereka berdiri disisi kalangan tidak berani menghadang lagi.

Dalam sekajap mata Siauw Ling telah menyusul Tong Sam Kauw sekalian yang berangkat terlebih dahulu.

Waktu itu sang rembulan sudah ada ditengah awang kentongan ketiga sudah berlalu.

Sembari memandang pemandangan disekelilingnya Tong Sam Kauw menghela napas panjang.

“Aaaai….bagi kita mungkin tidak terlalu sulit untuk meloloskan diri dari kepungan para jago tapi dapatkah kita lolos dari siasat licik yang diatur Djen Toa Cungcu terhadap kita?”

Siauw Ling mendongak dan iapun menghela napas panjang.

“Kalau mereka paksa aku sampai tiada jalan lagi tanpa perduli hubungan persaudaraan lagi aku Siauw Ling tidak sudi menyerah dibelenggu.”

Kiem Lanpun menghela napas panjang ia mau bicara tapi akhirnya membatalkan maksud tersebut.

Kembali Tong Sam Kauw memperhatikan suasana disekelilingnya lalu berkata lagi, “Mungkin kau belum tahu bagaimana kejinya Djen Bok Hong aku pernah mendengar nenekku menceritakan kisah yang pernah terjadi tempo dulu sungguh hebat sekali bukan saja para jago dikolong langit bahkan nenekku pun kelihatan terkejut dan kagum setiap kali mengungkap nama Djen Bok Hong….”

“Aku tidak takut kepadanya” tukas Siauw Ling serius. “Yang kusungkan hanyalah hubungan persaudaraan yang masih ada hingga sekarang sekali hubungan ini putus aku Siauw Ling tentu akan bantu orang2 Bulim melenyapkan pengacau ini….”

Mendadak terdengar suara helaan napas panjang berkumandang dari tempat kegelapan beberapa tombak diluar keempat orang itu.

Dibawah sorotan sinar bulan tampak beberapa sosok bayangan putih bagaikan kilat berkelebat keluar dari pepohonan dan lenyap ditengah kegelapan.

Perubahan yang terjadi diluar dugaan ini membuat Siauw Ling tertegun seketika itu juga ingin sekali dia mengejar tapi pihak lawan sudah lenyap tak berbekas.

“Aku lihat agaknya ada beberapa hweesio melayang pergi” seru Tong Sam Kauw memecahkan kesunyian.

“Dari mulut Ih Boen Han To akupun pernah dengar dia berkata bahwa dari kuil Siauw Lim si ada delapan orang hweesio berkepandaian lihay yang khusus mengurusi pertikaian2 yang sering terjadi dalam Bulim” kata Kiem Lan. “Mereka disebut orang sebagai Pat Toa Kiem Kong.”

“Emmm….” Siauw Ling mengangguk. “Kecuali pederi2 lihay dari kuil Siauw lim rasanya dalam Bulim jarang dijumpai jago-jago lihay yang mempunyai kecepatan gerak semacam ini.”

“Mereka bersembunyi ditempat kegelapan dengan maksud hendak menghadang jalan pergi kita tak disangka mereka mendengar ucapan Samya yang sebenarnya mereka berubah niat dan buru-buru pergi.”

“Aaaakh….aku kira mereka bukan pederi dari kuil Siauw lim mungkin orang itu adalah mata2 dikirim Djen Bok Hong” sela Tong Sam Kauw berikan pendapat.

“Menurut apa yang budak ketahui” ujar Kiem Lan kembali. “Diantara orang2 Pek Hoa San cung tak ada seorangpun yang mengenakan jubah pendeta warna abu2 asal nona mlihat beberapa orang itu mengenakan jubah pendeta abu2 dia pasti bukan anggota dari perkampungan Pek Hoa San cung.”

Siauw Ling mendongak memeriksa cuaca kemudian ujarnya, “Mari kita percepat lari kita untuk melanjutkan perjalanan.”

Tanpa menunggu jawaban lagi ia lari kedepan.

Keempat orang ini sama2 memiliki serangkaian ilmu silat yang lihay setelah mereka tinggalkan kereta melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sepanjang jalan tidak ditemui para jago yang melakukan hadangan lagi. 
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 08"

Post a Comment

close