Bayangan Berdarah Jilid 04

Mode Malam
JILID 4

Cepat larikan kereta ini untuk lanjutkan perjalanan tapi aku tak usah terlalu cepat biarlah kuda2 itu mengejar datang.

Sembari memberi perintah ia sendiri menerobos masuk ke dalam kereta.

Kiem Lan bungkam dalam seribu bahasa ia segera naik ke atas kereta menggetarkan cambuk dan melarikan kereta kuda itu melanjutkan perjalanan kedepan.

Kereta kuda dengan timbulkan suara derapan roda yang santar dan kebulan debu yang tebal berlari cepat.

Suara derapan kaki kuda para pengejar makin lama terdengar makin santar agaknya kuda itu telah berhasil menyandak sampai dibelakang kereta.

Tiba-tiba suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi ruang angkasa bercampur dengan derapan kaki kuda, tak perlu menoleh lagi Kiem Lan tahu Djen Bok Hong telah turun tangan keji membinasakan orang2 yang mengejar dari belakang itu.

Cukup ditinjau dari jeritan ngeri yang terdengar dapat diduga orang itu apabila tidak mati seketika itu juga paling sedikit roboh tidak sadarkan diri karena terluka parah.

Diam2 Kiem Lan menghela napas panjang pikirnya, “Orang2 itu sudah terlalu membenci Pek Hoa Cungcu yang sembunyi di dalam kereta sembari lepaskan senjata rahasia membinasakan para pengejar tersebut. Kesalahpahaman terhadap Sam ya akan semakin menebal lagi mereka pasti mencatat hutang berdarah ini atas nama Sam ya dikemudian hari sekalipun Siauw Sam ya ada maksud mangkirpun susah untuk jelaskan persoalan ini…. Aaaai perbuatan Toa tjungtju dari perkampungan Pak Hoa San cung ini sungguh keji jikalau Sam ya dimusuhi oleh pelbagai perguruan serta partai dalam dunia KangOuw ia terpaksa mencari persekongkolan untuk tancapkan kaki dikolong langit dan satu satunya jalan baginya adalah kembali buat orang2 perkampungan Pek Hoa san tjung rela diperintah oleh mereka.”

Semakin dipikir dayang ini tidak salah lagi cara berpikirnya timbullah hawa gusar dalam hatinya dengan cepat disambar berulang kali.

Dengan berbuat demikian kecepatan lari kereta itupun bertambah lipat ganda, laksana sambaran2 kilat kereta kuda tadi bergerak menuju ke arah depan.

“Kiem Lan perlahan sedikit”, mendadak terdengar suara Djen Bok Hong yang serak dan hambar kembali berkumandang keluar dari balik ruangan kereta.

Walaupun di dalam hati Kiem Lan merasa benci terhadap Djen Bok Hong hingga merasup ketulang sumsum tapi setiap kali ia berjumpa dengan Djen Bok Hong atau mendengar suaranya maka semangat membantahnya rontok kembali.

Oleh karena itu setelah mendengar suara bentakan dari Djen Bok Hong tanpa dikuasai lagi ia tarik tali les dan perlambat larinya kereta.

Terdengar suara derapan kaki kuda makin mendekati kereta yang mereka tumpangi disusul suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memenuhi angkasa.

Jantung Kiem Lan terasa berdebar keras pikirnya, “Aaaaaai dendam berdarah ini kembali dicatat dalam nota atas nama Siauw Sam ya….”

Kereta melanjutkan larinya diatas jalan raya ada kalanya dari belakang kereta berkumandang keluar suara jeritan2 ngeri yang mendirikan bulu roma.

Kiem Lan yang secara diam2 menghitung jumlah suara jeritan2 ngeri ini dapat mengetahui apabila orang yang mati ada sembilan orang. Kesembilan hutang darah inipun semuanya tercatat atas nama Siauw Ling.

Berhenti mendadak dari balik kereta berkumandang keluar suara bentakan dari Djen Bok Hong.

Dari balik kereta perlahan lahan berjalan turun Djen Bok Hong yang tinggi besar dan bongkok ia ayun telapak tangannya yang besar ke atas lalu ditepuk2kan ke atas pundak Kiem Lan.

“Lan Jie baikkah sikap Siauw Samya terhadap dirimu? tanyanya sambil tertawa.

Wajahnya dihiasi dengan suatu senyuman ramah dan halus. Senyuman macam ini amat jarang menghiasi wajah orang ini dan meninggalkan suatu kenangan yang tajam dalam benaknya Kiem Lan

Ia teringat kembali ketika pada suatu malam kegadisannya direbut oleh Djen Bok Hong dengan paksa waktu itu iapun menjumpai senyuman yang ramah dan halus macam begini.

Bagi Kiem Lan senyuman tersebut mendatangkan perasaan yang muak dan sakit hati dalam benaknya, perlahan-lahan ia menunduk.

“Siauw Sam ya adalah naga diantara manusia, mana mungkin ia bisa penuju terhadap budak, sekalipun menaruh simpatik perasaan itupun tidak lebih karena merasa iba dan kasihan pada busak sekalian

oooooooOoooooo

“Ia meminta agar bisa membawa serta dirimu serta Giok Lan hal ini menunjukkan apabila ia menaruh simpatik kepada kalian ujar Djen Bok Hong sambil tertawa. Asalkan kau dapat baik2 melayani Samya dikemudian hari pasti kujodohkan dirimu dengan dirinya.”

“Budak hanya bunga yang telah layu dan pohon Liuw yang telah mengering, tidak berani budak mempunyai pikiran macam begitu.”

“Bergaul terlalu lama bisa menimbulkan cinta, tiap hari layani dirinya lama kelamaan ia bisa menaruh cinta terhadap kalian….”

“Setelah Siauw Sam ya sadar dari pingsannya kau kularang untuk menceritakan kejadian yang barusan berlangsung juga kularang kau beri tahu kepadanya akan kehadiranku disini….”

“Apakah kau telah menaruh racun dalam tubuh Sam ya?” Teriak Kiem Lan sangat cemas ia terperanjat.

Djen Bok Hong tertawa hambar.

“Apakah kau menyukai Siauw Sam ya?”

“Sam ya bersikap baik ramah dan sayang kepada budak sekalian….”

“Asalkan kau bisa menyelesaikan semua tugas yang kuperintahkankepadamu dikemudian hari aku pasti akan suruh Sam Ya untuk terima kamu sebagai gundiknya” potong Djen Bok Hong dengan wajah berat. “Tapi jika kau berani menghianati diriku bagaimana rasanya walaupun tak perlu kuterangkan kau bisa mengerti sendiri bukan.”

Ia tarik napas panjang2 sambungnya, “Sejak saat ini Sam yamu telah mengikat tali permusuhan dengan orang2 Bu lim manapun kau tak usah kuracuni badannya pun jangan harap ia mampu menghadapi tuntutan balas jago-jago Bu lim sejak kini kecuali ia balik keperkampungan Pek Hoa San cung jangan harap bisa selamat dan tancapkan kaki dalam Bulim dengan aman, Nah sekarang kau telah paham pikirlah baik2! aku mau berangkat.”

“Toa cungcu harap menanti sebentar, budak masih ada urusan yang hendak diutarakan” seru Kiem Lan terburu-buru.

“Giok Lan Moay moay serta nona Tong telah menelan racun penyusut tulang, waktu bekerja racun tersebut sudah hampir tiba. Toa cungcu kau berbuatlah mulia menghadiahkan mereka dengan dua butir pil pemunah racun tersebut.”

“Bila kuhadiahkan kedua butir pil pemunah racun itu kepada mereka berdua setelah Sam cung cu sadar dan menanyakan urusan ini, bagaimana jawabmu”

“Soal ini budak rasa….”

“Sudahlah” potong Djen Bok Hong cepat, “urusan ini sudah kuatur sebaik mungkin kau tidak usah kuatir lagi sekarang kau boleh naik ke dalam kereta dan melanjutkan perjalanan.”

Kiem Lan tidak berani banyak cakap lagi ia segera meloncat naik ke dalam kereta mengayunkan cambuk dan melarikan kereta untuk melanjutkan perjalanan.

Tujuh delapan lie dengan cepat telah dilalui perlahan-lahan gadis ini menghentikan kuda dan berpaling

Hatinya masih tidak tenang ia berpaling untuk memeriksa apakah dalam kereta masih ada bayangan dari Djen Bok Hong, setelah tidak berhasil ditemui jejak orang itu ia baru menerobos masuk ke dalam kereta.

Tampak Siauw Ling menggeletak dalam kereta sepasang matanya terpejamkan rapat2, dibeberapa mulut lukanya telah dibubuhi obat dan darah telah berhenti mengalir.

Perlahan-lahan Kiem Lan menguruti jalan darahnya disekeliling tubuh pemuda sedikitpun tidak salah ia temukan jalan darah Siauw Ling telah tertotok.

Agaknya Djen Bok Hong sengaja memberikan kesempatan buat Kiem Lan untuk melepaskan pengaruh totokan ditubuh Siauw Ling yang tertotokpun berhasil dibebaskan.

Terdengar Siauw Ling menghela napas panjang dan perlahan-lahan membuka sepasang matanya ia memandang sekejap wajah Kiem Lan lalu memandang pula mulut lukanya yang telah dibalut.

“Kau yang obati dan membalut luka2ku” tegurnya,

Terpaksa Kiem Lan mengangguk,

“Karena budak melihat luka Sam ya mengucurkan darah tiada hentinya maka terpaksa aku ambil keputusan sendiri untuk membubuhi obat diatas luka2 tersebut.”

“Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu….” seru Siauw Ling sambil meloncat duduk.

Ia berpaling memandang sekejap Tong Sam Kauw serta Giok Lan kemudian sambungnya lebih lanjut, “Aaaaai…. Jikalau bukan mereka berdua telah dipaksa menelan pil beracun penyusut tulang saat ini dengan sangat mudah kita berhasil menerjang lolos dari kepungan dan tak perlu melukai begitu banyak orang lagi.”

“Sam ya tak usah terluka banyak berpikir baik2lah memelihara lukamu.”

Tiba-tiba agaknya Siauw Ling telah teringat akan suatu urusan yang maha penting buru-buru tanyanya, “Setelah aku jatuh tidak sadarkan diri apakah orang2 itu melakukan pengejaran terhadap kita orang.”

“Setelah budak menolong Samya naik ke dalam kereta segera menjalankan kereta berkuda ini secepat-cepatnya adakah orang yang melakukan pengejaran budak merasa kurang tahu.”

Karena dalam hati ada rahasia yang sedang disembunyikan maka sewaktu berbicara ia tundukkan kepalanya rendah2 selama ini tak berani mendongak barang sebentarpun.

Kembali Siauw Ling menghela napas panjang.

“Itulah dia aaai mereka menaruh rasa benci dan dendam terhadap diri kita walaupun hawa kegusaran susdah dihindari tapi cara mereka mendesak orang sungguh keterlaluan terutama sekali sikapnya yang ceroboh dan menyerang orang tanpa bertanya hijau putih dahulu benar2 membuat orang merasa tidak tahan.”

“Sam ya tak usah marah2 lagi dunia kangouw memang bukan suatu halangan berkelana yang baik asalkan diri sendiri sudah melibatkan diri dalam soal kedunia kangouwan maka susah bagi diri sendiri untuk menyingkir dari balas membalas yang tiada hentinya.”

“Sekalipun ucapanmu tidak salah tetapi seharusnya mereka tanyakan dulu persoalan itu sampai jelas kemudian baru turun tangan.”

“Kedatangan mereka dengan membawa rasa dendam benci dan sakit hati ditambah pula menemukan tanda bukti didepan mata, tidak aneh kalau mereka kehilangan daya pengendalian terhadap diri sendiri sehingga menyerang tanpa menangkan putih hijau lagi.”

“Ehmmm…. perkataanmu memang tidak salah jikalau persoalan ini kau dipikirkan lebih teliti lagi memang urusan ini tak bisa salahkan mereka.”

Pemuda ini merandek sejenak untuk tukas napas kemudian sambungnya, “Toa Cungcu kumpulkan seluruh tanda bukti permusuhannya dengan orang2 itu di dalam keretaku sebagai barang hadiah bukankah tindakannya bermaksud hendak mencelakai diriku? agar kau punya mulut susah menerangkan persoalan ini sampai jelas? caranya ini sungguh keji dan keterlaluan.”

Kiem Lan menghela napas panjang bibirnya agak bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya dibatalkan.

Siauw Ling mendongak memandang atap kereta lalu bergumam seorang diri.

“Aku Siauw Ling sama sekali belum pernah melakukan suatu pekerjaan yang menyalahi perkampungan Pek Hoa San cung mereka kenapa mereka ada maksud mencelakai diriku.”

“Sam ya” sambung Kiem Lan dengan nada sedih. “Walaupun kepandaian silat yang kau miliki sangat lihay tapi tidak mungkin bagi dirimu untuk memusuhi seluruh jago yang ada dikolong langit, kita harus berusaha mencari satu akal untuk menerangkan persoalan dihadapan mereka.”

“Persoalan telah jadi kokoh bagaikan gunung karang, barang bukti telah terbentang didepan mata kau suruh aku menggunakan cara apa untuk menerangkan persoalan ini kepada mereka?”

“Agaknya Ku Bok Thaysu dapat memahami keadaan dari Samya lebih baik Sam ya mencari dirinya dan diajak berunding.”

“Aaaaaaaa sebutlah aku mempunyai dua orang saudara cuma sayang mereka tak ada disini dengan nama serta kedudukan kedua orang ini mungkin sedikit banyak mereka bisa sedikit menahan persoalan ini.”

“Samya, maaf apabila budak terlalu banyak bicara, entah siapakan dan macam apakah kedua orang saudara itu?”

“Tiong Cho Siang Ku.”

“Aaaaaakh, Tiong Cho Siang Ku?” Kiem lan berteriak tertahan saking kagetnya. “Budak pernah dengar orang berkata….”

“Kedua orang ini bukan saja memiliki ilmu silat yang lihay bahkan pengetahuan serta pengalamannya sangat luas potong Siauw Ling dengan cepat permainan siasatnya busuk macam apapun yang ada dikolong langit jangan harap bisa lolos dari pandangan mata mereka berdua hanya sayang kedua orang itu tidak berada disini.”

“Sam ya setelah kau memiliki kedua orang pembantu yang demikian lihaynya kita harus cepat-cepat cari mereka guna minta bala bantuannya” kata Kiem Lan setelah termenung sebentar.

“Tapi secara bagaimana kita hendak mencari jejak mereka? dunia sedemikian luasnya kita harus kemana untuk mencarinya? Bilamana urusuan tidak dijanjikan dahulu.”

“Eeeei…. apakah antara Samya dengan Tiong Cho Siang ku pernah menjanjikan sebuah tanda rahasia apabila masing pihak bermaksud mengajak berjumpa?”

“Aaaaakh benar ada” seketika itu juga semangat Siauw Ling bangkit kembali “jikalau kau tidak sadarkan aku masih tidak teringat akan persoalan ini.”

“Nah itulah dia asalkan sepanjang jalan Samya meninggalkan tanda rahasia untuk menunjukkan jejakmu bukankah Tiong Cho Siang ku segera akan berangkat untuk berjumpa?”

Siapa sangka mendadak senyuman kegirangan yang semula menghiasi wajah Siauw Ling kini lenyap kembali.

“Bila mereka berdua tidak melewati tempat ini bukankah tanda rahasia yang kutinggalkan hanya sia2 belaka” katanya sambil menghela napas panjang.

“Asalkan anak murid Tiong Cho Siang ku bisa menjumpai kode rahasia itu bukankah sama saja mereka bisa sampaikan kabar ini kepada mereka berdua?”

“Sungguh sayang kedua orang itu tidak mempunyai seorang anak muridpun.”

“Kini urusan sudah jadi begini Samya pun tak usah terlalu murung dan bersedih hati nama besar mereka Tiong Cho Siang Ku tersohor diseluruh kolong langit sekalipun mereka tidak mempunyai anak murid sedikit banyak punya mata2 juga yang tersebar diseluruh dunia persilatan apakah mereka tak dapat mengenali kode rahasia ini untuk disampaikan kepada mereka.”

“Baiklah” akhirnya Siauw Ling menyetujui juga “perduli Tiong Cho Siang Ku dapat melihat kode rahasia yang kutinggalkan atau tidak bagaimanapun juga berbuat demikian tidak ada salahnya Sewaktu kau menjalankan kereta nanti sedikit menaroh perhatian setiap kali menjumpai simpang jalan harus berhanti beritahu kepadaku biar aku tinggalkan kode rahasia disana.”

Kiem Lan mengiakan ia tidak berani berpaling karena dalam hatinya mempunyai rahasia yang malu diketahui pemuda ini.

Hatinya bimbang dan kebingungan tak diketahui olehnya haruskah ia ceritakan soal kunjungan Djen Bok Hong kepada diri Siauw Ling atau tidak dia takut bilamana Siauw Ling berhasil menemukan rahasia hatinya lantas timbulkan hal2 yang tidak enak.

Karena itu selama ini ia selalu melengos dan tidak berani berbentrokan pandangan mata dengan sang pemuda,

Kereta berkuda kembali melanjutkan perjalanannya ditengah jalan raya suara putaran roda bergema tiada hentinya meninggalkan dua gulung debu yang mengepul memenuhi angkasa.

Dengan paksakan diri Kiem Lan mengempos semangat untuk perhatikan suasana disekeliling tampat itu menanti kereta tiba disebuah simpang tiga ia segera berhanti dan berpaling

“Samya!” serunya keras, “Kita telah tiba disebuah simpang tiga yang agaknya merupakan jalan yang paling penting dan sering dilalui orang, silahkan Samya meninggalkan tanda rahasia disini.”

Tempo dulu sewaktu Siauw Ling terkurung ditengah tebing yang curam ia pernah salah makan jamur berusia ribuan tahun yang mujarab dimana badannya yang semula lemah tak bertenaga telah berubah jadi kuat dan sehat dan kini sekalipun ia sudah banyak kehilangan darah tapi setelah beristirahat sebentar tenaganya pulih kembali seperti sedia kala.

Mendengar ucapan tersebut ia segera keluar dari kereta dan meloncat turun.

“Samya kau lukamu sudah pulih seperti sedia kala?” seru Kiem Lan tertegun melihat kegesitan sang pemuda.

Agaknya Siauw Ling sendiripun tidak menyangka apabila lukanya dapat pulih secepat ini smula ia agak tertegun kemudian tertawa hambar.

“Aku sudah baik bagaimana dengan lukamu? agak ringan.”

Sejak ia melakukan pertarungan sengit melawan para jago Bulim berdampingan dengan Kiem Lan tanpa disadari dari dasar hatinya timbullah perasaan kuatir dan sayang yang aneh terhadap gadis ini.

Mendengar pertanyaan itu alis Kiem Lan melenting. Suatu senyuman gembira menghiasi bibirnya.

“Terima kasih atas perhatian Samya luka budakmu sudah agak ringan.”

“Kalau begitu bagus sekali kau harus baik2 merawat lukamu itu setelah sembuh aku hendak menurunkan beberapa jurus ilmu pedang kepadamu sehingga dikemudian hari kalau bergebrak melawan orang tidak sampai dilukai lagi dengan gampang.”

Kiem Lan tertawa manis.

“Sekalipun budak harus mati juga tidak sayang harap Samya baik2 berjaga diri.”

“Perjalanan dikemudian hari masih panjang dan mengembang. Kita harus banyak bekerja sama dalam menghadapi segala persoalan.”

Habis mengucapkan perkataan itu dia berjalan menuju ketepi simpang tiga tadi dan meninggalkan tanda rahasia disana.

Walaupun dimulut Kiem Lan tidak bicara tetapi sepasang matanya terus menerus memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, ia takut pada saat itu ada orang yang mengejar datang sehingga tak bisa terhindar lagi suatu pertarungan sengit yang mengerikan segera akan berlangsung.

Menanti Siauw Ling telah menyelesaikan pekerjaannya meninggalkan kode rahasia disana beruntung tak ada orang yang mengejar datang.

Siauw Ling segera naik ke dalam keretanya belum sempat ia duduk baik Kiem Lan telah mengayunkan cambuknya melarikan sang kereta kencang2 kedepan.

Siauw Ling sama sekali tidak menduga Kiem Lan bisa menjalankan keretanya begitu tergesa2 tidak tahan lagi badannya sempoyongan dan roboh tepat di dalam pelukan Giok Lan.

Tampak seluruh tubuh Giok Lan gemetar keras kemudian menjerit ngeri.

“Aduuuuuuh….sakit.”

Siauw Ling terperanjat dengan cepat ia bangun terduduk dan berpikir keras dalam hatinya.

“Agaknya racun pengerut tulang ini bukan saja dapat membinasakan orang secara diam2 bahkan yang paling hebat lagi seseorang segera akan kehilangan seluruh kepandaian silatnya bila ditinjau dari kepandaian yang dimiliki Giok Lan dengan tumbukanku yang tidak sengaja ini tidak seharusnya ia menjerit kesakitan macam begini.”

Selagi ia masih berpikir kembali terdengar Giok Lan menjerit lengking lalu bergelinding2 dalam kereta.

Siauw Ling kontan merasakan hatinya tergetar keras, buru-buru ia alihkan matanya ke arah gadis itu.

Tampak seluruh anggota badan Giok Lan mulai berkerut, suara jeritan lengking sangat menusuk telinga membuat hati orang bergidik.

Larinya kereta dengan cepat berhenti, horden disingkap dan muncullah Kiem Lan sambil meloncat masuk ke dalam ruangan.

Tapi ketika melihat keadaan Giok Lan yang bergelinding2 dalam kereta air mukanya langsung berubah henat dengan sedih ia mengucurkan air mata.

Setelah rasa terkejut lewat Siauw Ling pun dapat menenangkan kembali hatinya, dengan cepat tangan kanannya bergerak berturut2 menotok tiga buah jalan darah ditubuh Giok Lan.

Suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berhenti tubuh yang bergelindingpun untuk sementara jadi tenang kembali tapi air muka Giok Lan masih kelihatan begitu menderita dan tersiksa sehingga mendatangkan rasa iba dihati orang lain.

“Aaaai….sungguh lihay pil pengerut tulang ini” seru Siauw Ling sambil menghela napas panjang.

Kiem Lan berdiam diri ia melirik sekejap ke arah Tong Sam Kauw yang ada pula di dalam kereta sewaktu dilihatnya gadis itu tetap duduk tak berkutik dengan wajah yang tenang dan sama sekali tidak kelihatan daya racunnya mulai bekerja hatinya jadi tercengang.

“Mereka berdua sama2 menelan pil pengerut tulang kenapa hanya enci Giok Lan seorang yang kambuh? sedangkan Tong Sam Kauw tiada urusan” serunya keheranan.

“Benar!” sambung Siauw Ling sesudah berpikir sejenak. “Jikalau dihitung dengan jari hari belum sampai tiba saatnya bekerjanya racun yang mengeram ditubuh mereka hanya saja seluruh tubuh kedua orang ini tak boleh terkena tumbukan ataupun menderita sedikit lukapun karena bila terjadi hal ini maka daya kerja racun tersebut akan mulai bekerja sebelum waktunya. Tadi secata tidak sengaja tubuhku bertumbukan dengan badan Giok Lan inilah sebabnya mengapa racun yang mengeram dalam tubuhnya mulai bekerja.”

Air mata Kiem Lan jatuh bercucuran bagaikan sumber mata air, perlahan-lahan ia mengambil keluar sebuah sapu tangan dan mengusap keringat yang mengucur keluar membasahi seluruh wajah Giok Lan.

Kiranya setelah beberapa buah jalan darah ditubuh Giok Lan kena ditotok oleh Siauw Ling mulutnya tak dapat bicara badan tak dapat berkutik tapi rasa sakit karena berkerutnya obat2 serta tulang sama sekali tak hilang saking harus menahan rasa sakit yang luar biasa keringat mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Sembari gertak gigi akhirnya Kiem Lan melancarkan satu totokan jalan darah pingsan ditubuh encinya setelah itu dia berpaling ke arah Siauw Ling katanya, “Samya budak harus mati dan rela menerima hukuman dari Samya.”

“Eeeei….Kiem Lan apa maksud ucapanmu itu?” kedengaran Siauw Ling agak melengak oleh ucapan tersebut.

“Didasar hati kecil budak masih tersembunyi sebuah rahasia yang belum diberitahukan kepada diri Samya.”

Siauw Ling segera tertawa hambar.

“Rahasia apa?”

“Toa Cungcu telah datang.”

“Apa?” Siauw Ling tersentak kaget seluruh badannya tergetar keras. “Toa Cungcu telah datang? kenapa sedikitpun aku tidak merasakan?”

“Waktu itu Samya terlalu banyak kehilangan darah dan amat letih telah jatuh tidak sadarkan diri.”

“Jadi orang yang membubuhi obat luka serta membalut luka2ku adalah Toa Cungcu?” seru Siauw Ling sembari tundukkan kepala memandang sekejap luka dilengannya.

“Benar” dengan sedih Kiem Lan mengangguk. “Toa Cungcu telah bantu membimbing Samya masuk ke dalam kereta kemudian membubuhi obat diluka Samya, tapi iapun sudah mengikatkan beberapa buah dendam berdarah bagi dirimu.”

“Mengikatkan dendam berdarah?” seru Siauw Ling keheranan.

“Benar. Toa Cungcu telah bersembunyi di dalam kereta lalu entah menggunakan ilmu silat apa secara beruntunan telah melukai sembilan orang jago Bulim yang mengejar dibelakang kereta.”

“Kau dapat melihat kesemuanya ini?” potong sang pemuda cepat.

“Walaupun budak tidak melihat dengan mata kepala sendiri tapi dapat mendengar suara jeritan ngeri yang bergema seluruhnya ada sembilan kali jadi aku berani memastikan ada sembilan orang yang terkena serangan.”

“Entah bagaimana dengan luka mereka.”

“Jika didengar dari suara jeritan ngeri yang pendek dan menyayatkan hati. Aku rasa orang itu susah untuk hidup lebih lanjut.”

Dari sepasang mata Siauw Ling kontan memancarkan serentetan cahaya tajam yang dingin dan menggidikkan.

“Sekarang Toa Cungcu ada dimana?” bentaknya gusar.

“Setelah Toa Cungcu melukai orang2 itu secara beruntun ia memerintahkan budak untuk menghentikan kereta dan memeringatkan budak jangan menceritakan peristiwa ini kepada diri Samya kemudian sekalian berkelebat ia telah berlalu.”

“Kenapa sedikitpun aku tidak tahu?” kembali Siauw Ling memotong ucapan budak itu ditengah jalan.

“Sewaktu Toa Cungcu mengempit tubuh Samya naik ke dalam kereta tangannya sekalian menotok jalan darah Samya sudah tentu Samya sama sekali tidak tahu.”

“Dan tadi kau yang bebaskan jalan darahku?” Kiem Lan mengangguk.

“Kereta berkuda ini sudah menjadi tanda yang jelas nagi jago-jago Bulim untuk mencari balas. Jikalau kita melanjutkan kembali perjalanan kita dengan menumpang kereta ini maka banyak kesulitan yang kita temui sepanjang perjalanan.”

“Aaaaaai!” potong Siauw Ling sambil menghela napas panjang. “Aku tahu kau suruh aku membuat kereta untuk menghindarkan diri dari pengejaran para jago dan cegatan2 mereka….”

“Walaupun Samya adalah seorang jago yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi tapi luka parah dibadanmu belum benar2 sembuh mungkinkah bagimu untuk mengadakan perlawanan terhadap serangan2 yang datang dari para jago-jago Bulim itu. Menurut pendapat budakmu lebih baik untuk sementara waktu kita menghindarkan diri terlebih dahulu dari cegatan lawan kemudian menanti luka2 kita telah sembuh.”

“Aku mengerti maksud baikmu” timbrung Siauw Ling sambil menggelengkan kepala berulang kali. “Tapi urusan ini mempunyai sangkut paut yang amat besar dengan peristiwa dikemudian hari sekarang memang kita bisa saja buang kereta dan melarikan dari intaian serta cegatan2 lawan. Tapi dengan berbuat demikian dikemudian hari kita bakal jumpai kesulitan dalam menerangkan persoalan ini kepada mereka.”

“Setiap manusia bila tak menemui kesulitan dikemudian hari saat ini pasti menemui kesulitan didepan mata, budak rasa kesalah pahaman saat ini tak dapat diterangkan kembali dengan andalkan ucapan Samya seorang. Maksud budak hanya untuk sementara menghindarkan diri dari bentrokan2 kekerasan untuk kemudian kita berusaha kembali….”

“Sebagai seorang lelaki sejati dalam perbuatan maupun tindakan aku tak ingin bersembunyi2. Terutama sekali Giok Lan serta nona Tong telah menelan pil pengerut tulang dan daya bekerja racunpun makin mendekat. Jikalau kita harus melepaskan kereta dan melarikan diri dengan menyaru sekalipun bisa menghindarkan diri dari pengamatan para jago Bulim hal ini dapat membingungkan pula anggota perkampungan Pek Hoa San cung yang ditugaskan dengan demikian kita bakal mencelakai nyawa kedua orang itu?”

Perlahan-lahan Kiem Lan menghela napas panjang.

“Samya bisa memiliki semangat jantan, jiwa mulia budak merasa sangat beruntung dapat mengiringi diri Samya.”

“Kau tak usah menyanjung diriku lagi” potong Siauw Ling sambil tertawa getir. “Aku seorang lelaki sejati ternyata tak dapat melindungi keselamatan kalian beberapa orang sebaliknya malah mengandalkan bantuanmu untuk meloloskan hal ini bila dipikir lagi perlahan-lahan sungguh aku harus merasa malu.”

Mendadak terdengar suara derapan kaki kuda berkumandang datang memecahkan kesunyian yang mencekam.

Dengan hati bergidik Kiem Lan berseru tertahan.

“Samya ada orang datang kita cepat berlalu” teriaknya.

Dengan cepat ia menyingkap horden yang menutupi kereta itu.

“Aaaach….tidak sempat….” seru Siauw Ling.

Belum selesai dia berkata mendadak terdengar suara desiran tajam berkumandang datang serentetan cahaya tajam dengan menerobosi horden melayang masuk kedalam.

Siauw Ling kerutkan alisnya dengan sebat ia menangkap datangnya senjata rahasia tersebut.

“Samya! ruangan dalam kereta terlalu sempit agak susah bagi kita untuk berkelit, lebih baik kita keluar dari kereta saja” bisik Kiem Lan lirih.

“Baik kau baik2lah menjaga kedua orang itu sehingga jangan sampai mereka kena dicelakai.”

“Budak akan berjuang sepenuh tenaga.”

Ia tahu kepandaian yang dimilikinya tak bakal bisa menyamai seperti kepandaian Siauw Ling dimana dengan sebab dia dapat menangkap senjata rahasia dengan cepat pedangnya diloloskan kemudian menghadang dihadapan Giok Lan serta Tong Sam Kauw.

Ketika Siauw Ling telah melonca keluar dari kereta dan mendongak tertampak olehnya dua ekor kuda jempolan dengan gagah telah berhenti kurang lebih tujuh delapan depa dihadapannya.

Orang pertama mempunyai wajah persegi dengan sepasang mata yang bulat besar berwajah merah bercahaya jenggot putih sepanjang dada dan memakai jubah warna biru.

Dia bukan lain adalah sinaga sakti berlengan delapan Toa Bok Ceng.

Disisinya berdiri seorang dara berbaju hijau yang mempunyai paras cantik dan menyoren sebilah pedang pada punggungnya.

Setelah menyapu sekejap wajah kedua orang itu Siauw Ling segera merangkap tangannya menjura.

“Oooouw….kiranya Toa Bok Ceng thayhiap.”

“Musuh buyutan selalu merasa jalan didunia terlalu sempit. Disini kembali kita berjumpa” potong Toa Bok Ceng dingin.

Siauw Ling tersenyum.

“Kalian berdua terus menerus mengintit diri cayhe. Entah apa maksud kalian?”

“Hmmm….tak usah kami repot2 turun tangan nanti bakal muncul orang lain yang datang mencari balas dengan dirimu.”

Ia berpaling sekejap ke arah si dara berbaju hijau itu tambahnya, “Soat jie, mari kita pergi.”

Sekali sentak tali les ia larikan kudanya melanjutkan perjalanan.

Sang dara berbaju hijau itu menyahut iapun keprak kudanya menguntil dari belakang Toa Bok Ceng.

Melihat kedua orang itu berlalu tanpa mencari urusan dengan dirinya Siauw Ling jadi tercengang dengan termangu2 dipandangnya bayangan punggung kedua orang itu hingga lenyap dari pandangan.

“Apa maksud mereka terus menerus menguntit” pikirnya di dalam hati. “Mengapa setelah berjumpa dengan aku lantas keprak kuda tinggal pergi? urusan dalam dunia kangouw sungguh banyak yang aneh dan mengherankan….”

“Samya mari kita lanjutkan perjalanan” terdengar suara yang halus dari Kiem Lan berkumandang dari sisinya menyadarkan pemuda ini dari lamunan.

Siauw Ling menghembuskan napas panjang.

“Aaaai! benar ia pasti bertujuan demikian” gumamnya seorang diri.

“Samya apa kau kata?” seru Kiem Lan keheranan.

“Aku maksudkan sinaga sakti berlengan delapan Toa Bok Ceng tentu datang kemari untuk memeriksa bagaimana dengan lukaku! Kiem Lan aku lihat banyak bahaya yang akan kita temui selama perjalanan kita selanjutnya.”

“Bukan saja mara bahaya akan banyak dijumpai asalkan kau tak mau buang kereta dan melanjutkan perjalanan dengan menjura mungkin selama hidup tak bakal menemui suatu haripun dengan hati tenang” pikir Kiem Lan di dalam hati.

Tapi diluaran ia menyahut dengan suara halus.

“Orang budiman selalu mendapat perlindungan Thian terhadap manusia sejati macam Samya tentu akan mendapat bantuan dari Thian.”

Siauw Ling tidak banyak bicara lagi perlahan-lahan ia naik ke dalam kereta dan menyingkap horden kereta.

Dilihatnya seluruh tubuh Giok Lan basah kuyup oleh keringat wajahnya menunjukkan kesakitan sehingga keadaannya amat mengerikan sebaliknya Tong Sam Kauw masih tetap bersikap bodoh dan termangu2 sama sekali tidak terjadi perubahan pada dirinya.

Kiem Lanpun tidak banyak beribut dia ayun cambuk melarikan kudanya untuk melanjutkan perjalanan.

Baru saja mereka melanjutkan perjalanan sejauh dua tiga li mendadak terdengar beberapa kali suara ringkikan keras beberapa ekor kuda jempolan penarik kereta bersama2 roboh binasa diatas tanah.

Melihat kejadian itu Kiem Lan tertegun.

“Samya keempat ekor kuda kita kena dibokong orang dan sama2 roboh binasa.”

Padahal tak perlu ia bicara Siauw Ling sudah turun dari kereta untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti.

Akhirnya ia menghela napas panjang.

“Keempat ekor kuda kita sama2 kena terbokong senjata rahasia yang sangat beracun, hanya saja senjata rahasia tersebut sangat kecil benuknya sehingga waktu itu kita semua sama sekali tidak merasa….”

“Mungkinkah hal ini hasil dari perbuatan Toan Bok Tjeng?”

“Mungkinkah dia….”

Mendadak Kiem Lan tertawa.

“Demikianpun baik juga. Hal ini akan memaksa Samya untuk lepaskan kereta dan melanjutkan perjalanan dengan menyaru.”

“Urusan tak akan gampang apa yang kau pikirkan, aku rasa merekapun telah menyusun suatu rencana….”

Belum habis pemuda ini menyelesaikan kata2nya mendadak terdengar suara suitan nyaring berkumandang datang.

Siauw Ling segera mendongak, terlihat olehnya beberapa li disekitar daerah sebelah selatan kecuali sebuah perkampungan tak terlihat rumah penduduk lainnya lagi.

Suara suitan nyaringa tadi justru muncul dari dalam perkampungan tersebut.

Kiem Lan pun berpaling menyapu sekejap keadaan disekeliling tempat itu, lalu ujarnya, “Samya kita harus berusaha mencari satu akal untuk melanjutkan kembali perjalanan kita!”

Siauw Ling termenung berpikir sejenak, kemudian ujarnya, “Kau boponglah Giok Lan biar aku membawa barang yang ada dalam kereta kita cari dulu sebuah tempat yang bisa digunakan untuk meneduh dari curahan hujan, setelah memberi tempat beristirahat bagi kedua orang itu kita baru berusaha kembali….”

“Apakah kita akan menuju keperkampungan tersebut?” tanya Kiem Lan kemudian sambil memandang ke arah perkampungan yang ada ditempat kejauhan.

“Sudah kau dengar suara suitan panjang yang sangat nyaring tadi?”

“Dengar! kenapa?”

“Justru suara suitan itu bermaksud memancing perhatian kita….”

“Benar! mereka sengaja mengatur suatu jebakan untuk memancing kita masuk perangkap.”

Siauw Ling tertawa getir.

“Saat ini setapak demi setapak kita telah terjebak ke dalam kepungan mereka, cukup ditinjau dari matinya keempat ekor kuda jempolan tersebut dapat kita ambil kesimpulan apabila mereka sudah tidak membicarakan soal peraturan Bulim lagi mereka bersiap sedia menggunakan tindakan yang melanggar peraturan Bulim untuk menghadapi kita sejak kini kita harus bersikap sangat hati2 kemungkinan besar setiap saat kita bisa menerima serangan bokongan dari mereka.”

“Pendapat tinggi dari Samya membuat pikiran yang picik dari budakmu sedikit terbuka.”

“Sekalipun keadaan kita berada dalam suasana bahaya tapi posisi kita belum sampai menderita kalah” sambung Siauw Ling lebih kanjut. “Yang menyusahkan kita justru kedua orang nona yang telah dicekoki obat penyusut tulang. Jikalau tidak kita atur tempat yang aman bagi mereka dan kita bawa kedua orang itu menyambut kedatangan pihak lawan maka hal ini akan menyulitkan posisi kita.”

“Samya kalau begitu kau berangkatlah seorang diri” seru Kiem Lan kemudian dengan nada sedih.

“Bagaimana dengan kalian?”

“Budak bisa mohon bantuan dari pihak perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Kecuali Toa Cungcu masih berada disekitar tempat ini. Dari sini menuju keperkampungan Pek Hoa San cung ada ratusan lie jauhnya. Bagaimana mereka bisa tahu tentang kesulitanmu!”

“Soal ini tiada halangan dalam saku budak masih mempunyai mercon penembus langit dari perkampungan Pek Hoa San cung, asalkan tanda tersebut aku lepaskan maka berita ini dengan cepat akan sampai ditelinga Toa Cungcu….”

“Kenapa? apakah mercon penembus langit ini mempunyai kekukoayan yang istimewa?” tanya Siauw Ling tercengang.

“Perkataan budak masih belum selesai” kemudian sambungnya lebih lanjut, “Sewaktu Toa Cungcu hendak menyerahkan ketiga buah mercon penembus langit tersebut kepada budak, ia pernah berkali2 memperingatkan benda tersebut bila tidak sangat penting mercon ini jauh lebih penting daripada tanda perintah Kiem hoa Leng asalkan mercon ini dilepaskan walaupun aku berada ribuan lie jauhnya dari perkampungan Pek Hoa San cung berita ini tidak sampai beberapa jam akan sampai ditangan Cungcu.”

“Benar secara diam2 ia tentu mengirim orang untuk mengawasi semua gerak gerik kita, sudah tentu setiap saat mereka dapat melihat peledakan mercon penembus langit tersebut.”

“Dalam perkampungan Pek Hoa San cung banyak dipelihara burung2 merpati pengirim berita” ujar Kiem Lan lebih jauh. “Asalkan orang yang menguntit kita dapat menemukan adanya peledakan mercon penembus langit tersebut ia segera akan menulis sepucuk surat yang digantungkan dikaki burung merpati dan melepaskannya untuk melaporkan hal tersebut kepada diri Toa Cungcu.”

“Nah itulah dia.”

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan keempat penjuru mendadak ia menemukan kurang lebih satu li dibawah sebuah pohon besar berdiri tersendiri sebuah rumah gubuk segera ujarnya, “Mari kita menuju kerumah petani itu setelah memberi tempat beristirahat bagi kedua orang itu kita bicarakan lagi soal yang lain.”

Tanpa banyak pikir lagi ia berjalan terlebih dahulu kedepan.

Kiem Lan dengan membopong Giok Lan dan menggandeng tangan Tong Sam Kauw berjalan didepan sedang Siauw Ling dengan membawa dua buah peti kayu menyusul dari belakang.

Agaknya seluruh ilmu silat yang dimiliki Tong Sam Kauw telah punah semua sewaktu melangkah pergi jalannya amat lambat sehingga jarak satu li harus ditempuh dalam waktu sepertanak nasi lamanya.

Rumah gubuk itu berdiri sendiri dibawah sebuah pohon yang amat besar. Pohon itu lebat dan dihadapannya hanya terdapat tanah seluas setengah hektar, disekeliling gubuk sepanjang tahun tertutup terus dari cahaya sinar matahari sehingga dinding gubuk penuh dengan lumut.

Kedua lembar pintu terbuat dari bambu, saat ini setengah terbuka setengah tertutup sama sekali tidak terdengar suara sedikitpun.

Siauw Ling mendehem berat, sapanya, “Adakah orang didalam?”

“siapa?” tanya seseorang dari balik ruangan gubuk dengan suara yang serak itu.

“Cayhe sedang melakukan perjalanan melewati tempat ini tidak beruntung dua orang anggota kami menderita sakit sehingga tak sanggup untuk melanjutkan perjalanan kembali untuk sementara kami ingin beristirahat sejenak dirumah hujien. Entah dapatkah?”

Pintu rumah terbuka dan muncullah seorang nenek tua berambut putih dengan mencekal sebuah tongkat dari bambu ujarnya lambat2, “Gubuk ditanah gersang tidak antas untuk menyambut kedatangan tamu terhormat bila Koanjien tidak menampik silahkan masuk kedalam.”

Melihat kehalusan ucapan perempuan tua itu Siauw Ling merasakan hatinya sedikit bergerak pikirnya, “Bila kutinjau dari ucapan sinenek tua ini amat halus dan sopan jelas dia adalah seorang terpelajar yang pandai bersastra.”

Buru-buru sahutnya, “Terima kasih atas kebaikan hati Popo.”

Ia melangkah terlebih dahulu masuk ekdalam gubuk.

Gubuk tani itu hanya terdiri dari dua bilik yang sebuah besar yang lain kecil kecuali sebuah ruangan tetamu masih ada sebuah ruangan dalam yang ditengahnya terpisah oleh bambu dan didepan pintu tertutup sebuah kain horden warna biru.

Sebuah meja persegi berdiri didekat dinding belakang diatas meja terletak sebuah teko air teh serta dua cawan putih yang besar lagi kasar.

Sinenek tua itu melirik sekejap ke arah Giok Lan yang berada dipunggung Kiem Lan lalu sembari membereskan rambutnya yang putih katanya, “Dirumah seribu tahun aman keluarga rumah sehari saja menderita.”

“Khek koan tak usah sungkan asal ada permintaan katakan saja kepadaku.”

“Aaach! kami hanya perlu beristirahat sebentar kemudian segera berangkat” kata Siauw Ling sambil tersenyum. “Tidak berani terlalu merepotkan diri popo.”

Kembali sinenek tua memperhatikan diri Siauw Ling serta Giok Lan sekejap katanya, “Karena usiaku sudah tua, badan lemah banyak penyakit, maaf aku tak dapar melayani Cuwi terlalu lama.”

Dengan bantuan tongkat bambu selangkah demi selangkah ia masuk keruang belakang.

Dengan termangu2 Siauw Ling memperhatikan bayangan punggung sinenek tua itu lenyap dari pandangan, pikirnya dalam hati, “Nenek tua ini tidak mirip seseorang kelahiran dusun.”

Mendadak.

“Chee Loo nio kau ada didalam?” suara seseorang yang berat berkumandang datang.

“Ada urusan apa kau datang mencari diriku?” suara sahutan sinenek muncul dari dalam ruangan.

Ketika Siauw Ling alihkan sinar matanya keluar tampak seorang lelaki kekar berbaju singsat telah berdiri kurang lebih satu tombak diluar gubuk ketika itu ia sedang rangkap tangannya menjura.

“Cayhe menerima perintah dari majikan. Ada urusan hendak dirundingkan dengan loocianpwee.”

Dari ruangan dalam muncul suara jawaban dari Chee Toa nio, “Ini hari kesehatanku tidak beres apalagi dalam rumah kedatangan tamu terhormat, aku tidak terima tamu lagi ada urusan kita bicarakan dikemudian hari saja.”

“Tapi urusan ini amat penting bagaimanapun juga harus.”

“Aku bilang ini hari tidak terima tamu, kau sudah dengar belum?” teriak Chee Toa nio sangat gusar.

“Urusan ini ada sangkut pautnya dengan tetamu yang ada dirumah kau orang tua. Urusan tak bisa diperpanjang lagi.”

Berturut2 ia mengulangi kembali kata2nya sampai beberapa kali tapi tak kedengaran suara jawaban dari Chee Toa nio lagi.

Mendadak Siauw Ling bangun berdiri, bisiknya kepada diri Kiem Lan, “Orang itu ada maksud mencari kita aku akan menanyakan persoalan ini sampai jelas.”

Sewaktu ia ada maksud bangkit keluar mendadak terdengar lelaki yang ada diluar gubuk menjerit kaget lalu putar badan lari terbirit2 dri sana.

Dari dalam ruangan kembali berkumandang keluar suara dari Chee Toa nio, “Manusia tak tahu diri sudah kasih muka kepadamu kau masih juga tidak mau tahu. Hmmm dasarnya tidak mau minum arak kehormatan memilih arak hukuman.”

“Samya!” bisik Kiem Lan lirih setelah mendengar ucapan sinenek tua itu. “Sinenek tua itu adalah seorang jago lihay yang sedang mengasingkan diri.”

Siauw Ling mengangguk ia membungkam dala seribu bahasa.

“Kalian boleh beristirahat dengan lega hati” terdengar Chee Toa nio melanjutkan kata2nya. “Walaupun gubukku jelek dan tidak bagus kelihatannya tapi sangat aman untuk orang beristirahat.”

“Terima kasih atas kehadiran Loo popo!”

“Cuma Cuwi pun tak dapat terlalu lama berdiam disini. Dalam dua jam kemudian cuwi harus sudah meninggalkan tempat ini. Aku rasa dua jam cukup panjang buat kalian untuk beristirahat serta merawat luka bukan!”

Pada dasarnya Siauw Ling punya watak sombong dan tinggi hati mendengar ucapan itu segera sambungnya, “Loo popo boleh berlega hati, kami pasti tak akan menyusahkan diri Loo popo, tidak sampai dua tajam cayhe sekalian segera akan berangkat.”

“Oooouw sungguh besar omonganmu!”

Siauw Ling tidak menggubris ucapan sinenek tua itu lagi sembari mengangkat kedua buah peti kayu itu serunya, “Kiem Lan mari kita berangkat, mereka pasti akan mendesak kita sehingga menemui jalan buntu mungkin sekali kita harus turun tangan melakukan pertarungan sengit dengan mereka.”

“Samya….” seru Kiem Lan sedih.

“Sudahlah tak usah bicara lagi mari kita berangkat” Siauw Ling ulapkan tagannya mencegah gadis itu melanjutkan kata2nya.

Kiem Lan tidak berani banyak bicara sembari menggandeng tangan Tong Sam Kauw dengan mengikuti dibelakang Siauw Ling berjalan keluar.

Mendadak tampak horden bergoyang disusul ujung baju tersampok angin. Tahu2 Chee Toa nio telah munculkan dirinya didepan pintu mencegat jalan pergi mereka.

“Tunggu sebentar” bentaknya dingin.

Diam2 Siauw Ling melakukan persiapan sewaktu dilihatnya nenek tua menghadang jalan pergi mereka.

“Loo poo, kau ada petunjuk apa lagi yang hendak disampaikan kepadaku?”

“Apakah kalian hendak pergi dengan demikian saja?”

“Kalau kami hendak pergi dengan demikian saja lalu kau mau apa?”

Mendengar ucapan sang pemuda ini Chee Toa nio tersenyum.

“Tinggalkan dulu sedikit barang! terus terang saja kukatakan rumah gubukku ini selamanya tak pernah menerima tetamu dengan sia2 belaka.”

“Aaaach! bila kutinjau dari situasi yang kuhadapi saat ini kalau tidak bergebrak tidak mungkin bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat” pikir Siauw Ling dalam hatinya. “Tidak kusangka disebuah tempat pegunungan yang sunyi bisa berdiam seorang jago Bulim lihay yang mempunyai watak aneh.”

Diam2 hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh badan siap menghadapi serangan yang setiap saat dapat tiba sembari melepaskan peti kayu yang ada ditangannya ke atas tanah ia berkata, “Entah apa yang diinginkan Loo popo dari diri cayhe?”

“Heee….heee….kelihatannya kau ada maksud hendak bergebrak melawan diriku?”

“Keadaan terpaksa membuat cayhe harus berbuat demikian walaupun cayhe masih ada maksud untuk menghindarkan diri dari banyak urusan tapi niatku ini tak bakal bisa terpenuhi.”

“Harimau yang baru turun dari gunung kau sungguh tidak takut mati, semangat jantan kau sibocah cilik sungguh membuat diriku serasa amat kagum.”

Ia merandek sejenak lalu sambungnya lebih lanjut, “Kau harus menerima tiga buah seranganku dengan menggunakan cara apapun, mau berkelit atau menerima dengan kekerasan sesuka hatimu asalkan kau bisa menerima serangan2ku itu tanpa menderita luka. Aku segera akan melepaskan kalian untuk melanjutkan kembali perjalanan.”

Terbayang kembali dalam benak Siauw Ling akan pengalamannya selama melakukan perjalanan beberapa hari ini hawa gusar memuncak dan tak bisa ditahan lagi ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Heee….heee….asalkan Loo popo ada maksud menantang aku untuk bergebrak cayhe pasti akan mengiringinya dengan senang hati.”

Chee Loo nio tertawa.

“Selama hidup aku paling suka terhadap enghiong hoohan yang bersemangat jantan dan pemberani bocah cilik ternyata aku tidak jelek.”

Ditengah ucapan yang diiringi suatu senyuman toya ditangan kanannya mendadak dialihkan ketangan kiri sedang tangan yang semula akan melepaskan tongkat tersebut membabat keluar mengirim sebuah serangan dahsyat.

Siauw Ling membalikkan tangan kanannya menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras ia tidak ingin menunjukkan kelemahan ataupun menghindar.

Braaak! terdengar suara bentrokan keras bergema memenuhi angkasa diiringi pusaran angin tajam mereka berdua sama2 berdiri ditempat semula tanpa bergerak sedikitpun juga jelas di dalam serangan mengadu kekerasan barusan keadaan mereka adalah seimbang.

Chee Loo nio berseru tertahan, tangan kanannya segera ditarik kembali laksana kilat cepatnya kembali mengirim sebuah babatan dahsyat kedepan.

Diam2 Siauw Ling menggertak gigi, telapak kanannya diayun kemuka sekali menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Pundak Chee Loo nio bergoyang keras membuat badannya teratur sedangkan Siauw Ling tanpa dikuasai lagi mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Kiem Lan yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan segera berpaling ke arah Siauw Ling dilihatnya air muka pemuda itu tenang2 saja sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda terluka hatinya jadi lega kembali dia menghembuskan napas panjang2.

Setelah terjadi bentrokan kedua senyuman yang semula menghiasi wajah Chee Loo nio lenyap tak berbekas telapak kanannya walaupun diangkat ke atas tapi tidak berani dibabat keluar jelas di dalam serangannya yang terakhir ini dia masih belum mempunyai pegangan yang kuat untuk mengalahkan diri Siauw Ling oleh karena itu ia tak berani turun tangan gegabah.

Tampak nenek tua itu perlahan-lahan menarik kembali telapak tangannya.

“Siapakah gurumu? berasal dari perguruan mana kau bocah cilik?” tegurnya dingin.

“Suhuku tak mempunyai perguruan. Maaf nama besarnya tak dapat kuberitahukan.”

Sepasang mata Chee Loo nio memancarkan cahaya tajam mendadak dengan penuh kegusaran.

“Bocah cilik kau sombong benar beranikah kau menerima seranganku yang terakhir ini.”

Telapak kanannya diayun dengan sekuat tenaga membabat keluar.

“Kenapa tidak berani?” sahut sang pemuda sinis telapak kanan diangkat dan sekali lagi ia menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Sepasang telapak tangan kembali saling beradu menimbulka suara getaran yang memekikkan telinga.

Oleh tenaga tekanan yang maha dahsyat dari pihak lawan seketika itu juga Siauw Ling merasakan matanya berkunang2 berturut2 ia mundur empat lima langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Chee Loo nio sendiripun tak sanggup bediri tegak badannya tak kuasa mundur empat lima langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Chee Loo nio sendiripun tak sanggup berdiri tegak badannya tak kuasa mundur tiga langkah ke belakang.

Perlahan-lahan Siauw Ling menghembuskan napas panjang.

“Tiga jurus telah berlalu, entah Loo popo masih ada lagi….” tanyanya.

“Silahkan” sinenek tua she Chee segera menyingkir memberi jalan buat tetamunya untuk berlalu.

Siauw Lingpun tidak banyak bicara lagi sembari menjinjing kedua buah peti kayu itu dia berjalan keluar dengan langkah lebar.

Pada saat itulah kurang lebih empat lima tombak diluar gubuk berdiri dua orang lelaki kekar berbaju singsat dan menggembol golok pada punggungnya. Ketika itu dengan sepasang mata melotot bulat2 mereka sedang mengawasi seluruh gerak gerik pemuda kita.

Melihat ada orang yang sedang mengawasi mereka. Kiem Lan percepat langkahnya mengejar kesisi Siauw Ling lalu bisiknya lirih, “Samya agaknya kedua orang itu sedang menantikan kedatangan kita.”

“Ehmm….orang yang menyaru sebagai aku Siauw Ling mungkin memiliki nama yang amat tersohor dikolong langit, setiap orang menghormati dirinya. Kiem Lan tahukah kau apa sebabnya mereka bersifat demikian?”

“Budak tidak mengerti.”

“Hal ini dikarenakan tindakannya terlalu keji, telengas dan tidak tahu ampun, orang yang mereka bunug sudah sangat banyak sehingga memaksa orang lain menghirmati dirinya jeri kepadanya dan tidak berani secara gegabah mencari satroni dengan dirinya jikalau mereka hendak paksa kita memojok kesudut jalan buntu aku Siauw Lingpun terpaksa sedikit memperlihatkan kelihayanku dihadapan mereka….”

Dalam hati Kiem Lan pun tahu majikan Siauw Ling beberapa hari ini selalu tertekan kendati ia memiliki kepandaian silatnya yang lihay tapi tak sejuruspun yang bisa ia keluarkan ditambah pula saat bekerjanya racun yang mengeram dalam tubuh Giok Lan serta Tong Sam Kauw hampir tiba hal ini makin membuat hatinya gelisah dan cemas.

Lama kelamaan jiwa yang tertekan serta rasa gelisah yang mengacaukan pikirannya berubah menjadi suatu rasa benci dendang di dalam benaknya benci dan dendam yang muncul dalam keadaan gusar kebanyakan memaksa seseorang ambil keputusan tanpa berpikir panjang inilah sebabnya iaada maksud turun tangan melakukan pembunuhan.

Sudah tentu saja cara berpikir dari pemuda tersebut menimbulkan rasa bergidik dihati Kiem Lan.

Inilaj harapan dari Djen Bok Hong dengan mengatur siasat keji tersebut dengan berbagai macam akal ia berusaha menciptakan suatu suasana pembunuhan berdarah yang dilakukan Siauw Ling terhadap para jago-jago dunia persilatan justru yang dilakukan Toa Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung adalah memaksa ia berada dalam keadaan terpojok lalu menggunakan waktu selagi dia jengkel dan gelisah suatu pembunuhan yang keji membuat pemuda ini tak bisa tancapkan kakinya kembali ke dalam Bulim dan memberikan peluang yang besar baginya untuk sesuka hati menggunakan tenaga ini.

Terdengar suara bentakan keras yang memotong lamunan Kiem Lan ditengah jalan.

“Kau orangkah Sam Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung?”

“Kalau benar mau apa” sahut Siauw Ling dingin perlahan-lahan ia meletakkan kotak kayu ke atas tanah kemudian meloloskan pedang tersoren yang ada punggungnya.

“Samya bersabarlah beberapa saat jangan sampai menjatuhkan diri ke dalam lembah penyesalan yang tiada tepian” bisik Kiem Lan halus setelah dilihatnya ada maksud turun tangan.

Waktu itu napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Siauw Ling setelah pedangnya diloloskan dari sarung ia kumpulkan semua tenaga singkang untuk siap turun tangan membinasakan pihak lawan dibawah serangannya.

Tetapi setelah mendengar peringatan Kiem Lan hawa napsu membunuh perlahan-lahan lenyap tak berbekas pedang yang ada ditanganpun melemas kembali.

“Apa maksud kalian berdua mencari diriku?” tegurnya.

“Selama perjalanan Sam Cungcu datang kemari secara beruntun telah membinasakan sembilan orang jago-jago lihay dari kalangan Bulim sungguh hebat kepandaianmu! sungguh keji hatimu” jengek seorang lelaki yang berdiri disebelah kiri.

Sinar mata Siauw Ling dengan tajam menyapu sekejap wajah kedua orang itu terlihat olehnya dari sikap maupun cara mereka berpakaian tidak mirip dengan cara berdandan seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan dandanan mereka tidak lebih hanya mirip bawahan seseorang.

Melihat seorang bawahanpun berani bersikap begitu tak tahu adat, begitu kurang ajar terhadap dirinya kembali Siauw Ling naik pitam, sepasang matanya memancarkan cahaya dingin yang menggidikkan hati.

“Hmmmm kalian berdua benar2 tidak takut mati?” tegurnya ketus.

Lelaki yang ada disebelah kanan segera mendongak dan tertawa terbahak2.

“Haaaaa….haaaaa….haaaaaa….kami mengakui kepandaian silat yang kami miliki tak sanggup menandingi kepandaian silatmu mungkin hanya sebuah jurus ilmu pedangmu sudah cukup merubuhkan kita, tapi kami mempunyai semangat jantan seorang pendekar semangat tidak takut mati. Semua enghiong hoohan yang ada dikolong langit pada membenci dirimu hingga merasuk ketulang sumsum, saudara kami yang mati dibawah pedangmu pasti akan mendapatkan penghargaan dari seluruh enghiong hoohan yang ada dikolong langit mereka boleh bangga sekalipun mati juga tak perlu menyesal.”

Siauw Ling tertegun mendengar ucapan tersebut akhirnya ia menghela napas panjang.

“Jika kedatangan kalian berdua mencari diriku adalah bermaksud mencari kematian buat diri sendiri.”

“Kami sih bukan orang bodoh yang suka mencari mati konyol buat diri sendiri” sahut silelaki yang ada disebelah kiri. “Kedatangan kami dikarenakan sedang menjalankan perintah majikan kami untuk menyampaikan suatu persoalan kepada diri Sam Cungcu.”

“Urusan apa? silahkan kalian mengutarakan keluar, cayhe pasti pentang telinga untuk mendengarkan.”

“Majikan kami telah menyiapkan sebuah meja perjamuan” sambung silelaki yang ada disebelah kanan. “Mereka menantikan jawabanmu beranikah kau orang menghadiri perjamuan yang telah disiapkan itu?”

Sebelum Siauw Ling memberi jawabannya silelaki yang ada disebelah kiri berebut bicara terlebih dahulu katanya lebih lanjut, “Pepatah mengatakan pertemuan belum pasti suatu pertemuan yang baik perjamuan belum tentu suatu perjamuan yang menyenangkan. Dalam perjamuan kali ini kecuali majikan kami sendiri masih ada lagi jago-jago lihay dari kolong langit termasuk kaum paderi dari pihak Siauw lim pay. Kini majikan kami hanya memerintahkan diri kami menyampaikan hal tersebut kepadamu mau pergi atau tidak itu terserah dirimu sendiri.”

“Kami orang2 Bulim paling mengutamakan keterus terangan dan tidak menggunakan senjata rahasia membokong orang lain” tambah silelaki yang ada disebelah kanan cepat.

“Tapi tindakan kalian orang2 perkampungan Pek Hoa San cung terlalu keji kejam dan telengas, yang kalian utamakan hanyalah membokong orang dengan cara yang rendah. Kami tak akan menggunakan hal tersebut untuk menghadapi dirimu dalam perjamuan nanti, jikalau Sam Cungcu tidak berani menghadapi perjamuan ini silahkan kau beritahukan hal tersebut kepada kami hanya saja dengan demikianlah sejak ini hari kamipun akan unjuk gigi dengan gunakan cara yang rendah macam perkampungan Pek Hoa San cung kalian untuk menghadapi kamu semua penyerangan akan kami lakukan tanpa pemberitahuan lagi.”

Siauw Ling tidak banyak cingcong dia masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung lantas berseru lantang, “Silahkan kalian berdua membawa jalan cayhe rela menjumpai majikan kalian.”

Agaknya kedua orang lelaki tersebut sama sekali tidak menyangka kalau Siauw Ling suka memilih pergi menghadapi perjamuan yang telah diadakan mereka kelihatan agak tertegun kemudian saling bertukar pandangan sekejap.

“Ternyata Sam Cungcu belum kehilangan semangat seorang jantan kami kakak adik berdua akan berjalan selangkah terlebih dahulu untuk membawa jalan.”

“Tunggu sebentar!”

Waktu itu kedua orang lelaki kekar tersebut siap hendak putar badan, mendnegar teguran tersebut mereka sama2 berhenti.

“Mengapa apakah Sam Cungcu berubah pendirian?”

“Setiap ucapan yang telah cayhe utarakan sekalipun harus menaiki gunung golok atau menerobosi lautan pedang selamanya tak pernah kupungkiri kembali harap kalian berdua suka tunggu sebentar cayhe akan atur urusan pribadiku sebentar….”

Ia berpaling dan memandang sekejap wajah Kiem lan lalu bertanya, “Kalian pergilah, bawa mereka balik keperkampungan Pek Hoa San cung….”

“Samya tak perlu menguatirkan keselamatan kami” potong Kiem Lan cepat. “Silahkan kau menghadiri perjamuan tersebut dengan hati tenang. Jikalau dapat dijelaskan baik2lah jangan sampai turun tangan menggunakan kekerasan.”

“Soal ini aku sudah tahu” tukas Siauw Ling seraya mengangguk. “Hanya saja waktu bekerjanya racun yang mengeram ditubuh mereka hampir sampai, jikalau kau tidak bawa mereka kembali keperkampungan Pek Hoa San cung bukanlah ini sama artinya kita telah mencelakai mereka berdua?”

“Bagaimanakah perasaan hati nona Tong budak tidak berani memastikannya” ujar Kiem Lan dengan sedih. “Tapi perasaan hati enci Giok Lan dapat kuketahui dengan sangat jelas, dia rela mati keracunan dari pada balik kembali keperkampungan Pek Hoa San cung.”

Siauw Ling termenung dia mendongak memnadang langit dan berpikir lama sekali.

“Bagaimana menurut pendapatmu?” akhirnya dia bertanya.

“Jikalau Samya merasa bahwa kami bertiga tidak merepotkan dirimu. Kami sekalian rela mengiringi disisi Samya.”

Siauw Ling termenung iapun mengetahui dikolong langit kecuali berada disisinya sudah tak ada tempat lagi bagi Kiem lan serta Giok Lan untuk hidup aman, terpaksa ia menghela napas panjang.

Seraya putar badan dengan langkah lebar ia berjalan kemuka.

Kedua orang lelaki kekar yang selama ini ada disisi kalangan dapat mencuri dnegar pembicaraan kedua orang itu. Walaupun mereka belum berhasil mendapatkan keterangan yang jelas dibalik peristiwa tersebut tapi secara lapat2 mereka dapat menduga apabila di dalam hati Siauw Ling tersembunyi suatu kesulitan yang susah diutarakan keluar.

Siauw Ling dengan menjinjing kedua buah peti kayu itu melanjutkan perjalanannya kedepan disusul oleh Kiem Lan dengan tangan kanan memayang punggung Giok Lan tangan kiri menggandeng tangan Tong Sam Kauw.

Demikianlah dibawah bimbingan kedua orang lelaki kasar sebagai petunjuk jalan mereka melakukan perjalanan sejauh tujuh delapan li kemudian menikung masuk ekdalam sebuah hutan yang lebat.

Mendadak Kiem Lan percepat langkahnya mendekati sisi tubuh Siauw Ling bisiknya lirih.

“Samya kesemuanya ini adalah akibat dari siasat licik dan keji atur Toa Cungcu hal tersebut tak bisa menyalahkan diri Samya sendiri juga tak bisa menyalahkan orang lain harap Samya suka bersabar untuk bikin jelas dulu duduknya persoalan.”

Siauw Ling berpaling memandang sekejap wajah Giok Lan serta Tong Sam Kauw mendadak ia tersenyum.

“Jikalau bukan dikarenakan Toa Cungcu telah mengatur dua buah beban berat yang membingungkan hatiku mungkin sejak semua hilang sudah kesabaranku.”

Pada saat itulah silelaki kekar pembawa jalan berteriak keras, “Sam Cungcudari perkampunga Pek Hoa San cung datang memenuhi undangan.”

Siauw Ling mendongak terlihat olehnya diatas sebuah tanah lapang yang luas dan lebar berdiri seorang lelaki kekar bercambang yang berusia empat puluh tahunan sepasang matanya bulat besar bercahaya sikapnya gagah segera ia busungkan dada dengan langkah lebar berjalan menghampiri.

Kedua orang lelaki kekar sipembawa jalan buru-buru menyingkir kesamping memberi jalan.

Setibanya ditepi lapangan Siauw Ling meletakkan kedua kotak itu ke atas tanah kemudian merangkap tangannya menjura.

“Cayhe datang untuk memenuhi undangan tolong tanya dimanakah tuan rumah berada?”

Sejak Siauw Ling munculkan dirinya disana silelaki bercambang itu dengan sepasang mata yang tajam tiada hentinya memperhatikan seluruh tubuh pemuda tersebut dari atas hingga kebawah menanti Siauw Ling menyapa seraya menjura ia baru tarik kembali sinar matanya dan balas memberi hormat.

“Cayhe adalah sang tuan rumah bila kudengar dari nada ucapan tentu kaulah Sam Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung bukan?”

“Sedikit tidak salah aku orang she Siauw datang untuk memenuhi undangan, entah ada urusan apa kau mengundang diriku datang kemari?”

Mendadak silelaki bercambang itu mendongak tertawa terbahak2 tangannya bergerak datang mencengkeram pergelangan kanan Siauw Ling sedang diluaran katanya lantang, “Tidak kusangka dengan wajah Sam Cungcu yang demikian tampa serta menarik hati bisa memiliki watak keji dan telengas memandang manusia sungguh tak boleh hanya memandang wajah belaka.”

Siauw Ling yang merasakan pergelangan kanannya dicengkeram iapun tidak mau berdiam diri jari2 tangan kanannya berputar balik balas mencengkeram pergelangan sang lelaki kekar tersebut.

Kedua belah tangan dengan cepat saling mencengkeram suasana jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Lama sekali baru terlihat silelaki bercambang itu melepaskan cengkeramannya pada tangan kanan Siauw Ling dan berseru memuji, “Sam Cungcu sungguh dahsyat kepandaian silatmu.”

“Terlalu memuji, terlalu memuji entah siapak nama besar Heng thay?”

“siauwte Poh Thian seng.”

Sejak masing-masing pihak saling mencekal tangan pihak lawannya dan berakhir dengan hasil seimbang mereka mulai menaruh rasa sayang pada masing-masing pihak dengan sendirinya rasa permusuhan dihati merekapun jauh berkurang.

“Entah apa maksud Poh heng mengirim orang untuk mengundang siauwte datang kemari?” kembali Siauw Ling bertanya.

“Oooouw ada beberapa orang kawan Bulim yang ingin berjumpa dengan diri Sam Cungcu sudah tentu termasuk siauwte salah satu diantaranya.”

Mendengar ada jago-jago Bulim yang ingin berjumpa dengan dirinya sepasang mata Siauw Ling dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu tapi tak sesosok bayangan manusiapun yang berhasil ia jumpai.

“Entah jago-jago dari manakah yang ingin menemui diriku?” serunya kemudian.

“Sudah tentu siauwte akan perkenalkan mereka kepada diri Sam Cungcu.”

Bicara sampai disitu mendadak ia bertepuk tangan ke arah balik hutan sebelah timur.

Dari balik pepohonan perlahan-lahan muncullah seorang hweesio berjubah abu2 dengan usia kurang lebih lima puluh tahunan.

Begitu melihat wajah sang hweesio tersebut Siauw Ling segera merasakan wajah paderi ini sangat dikenal olehnya. Hanya untuk sesaat ia lupa ditempat manakah ia pernah berjumpa dengan dirinya.

Terdengar Poh Thian seng sembari menuding ke arah hweesio tersebut ia memperkenalkan dirinya dengan sang pemuda.

“Thaysu ini adalah Ci Kuang Thaysu dari perguruan Siauw Lim pay!”

“Selamat berjumpa selamat berjumpa” seru Siauw Ling buru-buru seraya menjura.

“Omitohud” Ci Kuang Thaysu merangkap telapaknya memuji keagungan Buddha. Ia membalas menjura.

Kembali Poh Thian seng bertepuk tangan dua kali, dari balik hutan sebelah selatan muncullah seorang lelaki berperawakan kekar dengan dada lebar, jenggot putih terurai sepanjang dadanya sedang dipunggungnya tergantung senjata roda bergigi Jiet Gwat Cing Loen.

Orang ini bagi Siauw Ling mendatangkan kesan yang mendalam karena ia sekali pandang ia segera mengenali kembali siapakah dirinya, bibir bergerak akan menyapa atau secara mendadak hatinya agak bergetak ia paksa menahan sabar.

Sembari menuding ke arah lelaki tersebut Poh San Cu Thayhiap orang menyebut dirinya sebagai Sin So Thiat Tan atau sitangan sakti peluru besi.

“Coe Thayhiap cayhe Siauw Ling” kembali sang pemuda menjura.

“Telah lama kudengar nama besarmu, ini hari bisa berjumpa sungguh amat beruntung….”

“Ehmm….orang ini bukan saja konyol dan bersifat kekanak2an bahkan otaknya bebal tak bisa digunakan untuk berpikir” batin Siauw Ling dalam hatinya. “Setelah kulaporkan namaku ternyata ia berlagak pilon pura2 tidak mendengar.”

Haruslah diketahui lima tahun berselang Siauw Ling tidak lebih hanya seorang bocah cilik yang berbadan lemah dan penyakitan karena untuk pertama kalinya ia melakukan perjalanan bersama2 Gak Siauw Tjha dimanapun ia merasa semua kejadian merupakan pemandangan yang baru dan aneh bagi dirinya setiap manusia yang dijumpai tentu mendatangkan kesan yang mendalam, dalam hatinya sekalipun begitu belum tentu orang lain jika masih ingat dengan dirinya.

Kembali terdengar suara tepukan tiga kali dari hutan sebelah barat perlahan-lahan muncul dua orang manusia.

Orang pertama seorang hweesio kepala gundul yang memakai jubah Ihasa. Wajahnya penuh berkelepotan minyak dengan dipunggungnya menggembol sebuah cupu besar yang terbuat dari besi.

Mengikuti dari sisinya adalah seorang pengemis bebaju kusut dan dengkil dengan memakai sepatu rumput, rumput awut2an dan membawa sebuah kuali besi yang besar.

Sembari menuding kedua orang itu sekali lagi Poh Thian seng memperkenalkan jagoannya kepada diri Siauw Ling.

“Mereka berdua adalah jago-jago kukoay yang dihormati dan tersohor dikolong langit hingga saat ini sihweesio pemabok serta sipengemis kelaparan.”

“Lama mengagumi nama besar kalian berdua” Siauw Ling segera menjura memberi hormat.

Sihweesio pemabok membuka sedikit sepasang matanya yang sipit karena kebanyakan minum air kata2 setelah memperhatikan sesaat seluruh wajah Siauw Ling ia mulai bergumam seorang diri.

“Ooouw sayang! sungguh sayang….”

Tangannya berbalik melepaskan cupu2 besi yang tergantung pada punggungnya membuka penutup dan meneguk isi arak sepuas2nya kemudian barulah menambahkan, “Sungguh sayang sebutir mutiara harus terjatuh ke dalam tong berisi kotoran manusia.”

“Hmm! apa perlunya kau bicara dengan manusia macam dia, usus serta isi perutnya telah mati semua kau bicara dengan ia macam bicara dengan patung belaka eeeei kawan lebih baik simpan sedikit tenaga buat memetik khiem tanduk kerbau saja!” jengek sipengemis kelaparan.

Kontan Siauw Ling berkerut keningnya setelah mendengar jengekan tersebut pikirnya, “Orang ini kalau bicara kenapa begitu ngaco belo entah siapa yang sedang ia maki?”

Padahal dalam hati iapun tahu orang yang sedang dimaki oleh sipengemis tersebut bukan lain adalah dirinya sendiri hanya saja ia tidak mau mengakui begitu saja sebelum orang itu mengungkap nama seseorang belum tentu yang dimaki adlah dirinya.

Kali ini Poh Thian seng bertepuk empat kali ketengah udara dari hutan sebelah utara perlahan-lahan muncul seorang kakek tua berjenggot putih tangannya mencekal sebuah tongkat dan kaki kirinya pincang orang itu bukan lain adalah Po Hiap atau sipendekar pincang Tjiang Toa Hay yang pernah dijumpai Siauw Ling sewaktu berada dalam perkampungan Pek Hoa San cung.

Dibelakang si orang tua tersebut menguntil datang dua orang yang satu seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan seorang yang lain seorang pemuda berusia dua puluh tahunan mereka berdua sama2 telah meloloskan pedang ditangan empat buah sinar mata penuh mengandung rasa benci dan mendendam melototi wajah Siauw Ling tak berkedip.

Sewaktu Siauw Ling menjumpai guru murid tiga orang ini hatinya seketika itu juga berdebar keras pikirnya, “Hati mereka bertiga tentu masih mendendam terhadap diriku karena mereka kena diusir keluar dari perkampungan Pek Hoa San cung gara2 diriku jikalau ini hari ada mereka bertiga yang bikin rusak suasana maksudku untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya pasti menemui kegagalan.”

Ternyata sipendekar pincang Ciang Toa Hay masih mengingat sakit tempo hari, tidak menanti Poh Thian seng memperkenalkan dirinya kepada pemuda tersebut ia sudah keburu bicara terlebih dulu.

“Sam Cungcu bagaimana keadaanmu sejak perpisahan? entah masih ingatkah kau orang dengan kami guru murid tiga orang?”

“Siauwte mana berani melupakan diri sipendekar pincang Ciang Toa Hay Ciang heng.”

“Hmm! bulan yang lalu dibawah pimpinan Djen Bok Hong Sam Cungcu telah gebah turun kami guru murid bertiga dari atas loteng Wang Hoa Loo sikap gagah serta keren pada saat ini tidak akan kami guru murid bertiga lupakan sepanjang hidup” seru Ciang Toa Hay kembali dengan nada yang dingin.

Siauw Ling tertawa hambar.

“Kesalah pahaman antara aku dengan kalian guru murid bertiga rasanya makin lama terperosok makin mendalam aku lihat peristiwa ini tak dapat dijelaskan dengan ucapan kata2 belaka.”

“Haaa….haaaa….semisalnya berita ini aku orang she Tjiang dengar dari kabar selentingan yang tersiar dalam Bulim mungkin saja berita tersebut bisa salah tapi kejadian ini kualami dan kulihat sendiri dengan sepasang kata dan telingaku apakah aku bisa salah melihat dirimu?”

Siauw Ling segera merasakan beribu2 bahkan berjuta2 kata bergolak hendak meluncur keluar dari bibirnya justru ia bingung harus bicara dari mana terlebih dahulu untuk sesaat ia kebingungan dan akhirnya menghela napas panjang lalu membungkam dalam seribu bahasa.

“Apabila kalian berdua orang pernah saling kenal cayhepun tak usah memperkenalkan kalian lagi” kata Poh Thian seng kemudian ia merandek sejenak untuk tukar napas lalu sambungnya lebih lanjut, “Ini hari walaupun kami mengundang Sam Cungcu datang kemari sungguh sayang sama sekali tidak menyediakan perjamuan kami hanya ingin menanyakan beberapa macam persoalan dari Sam Cungcu serta penyelesaiannya.”

Nada ucapan tersebut sangat mendesak orang untuk berada dalam posisi tersudut.

Semangat Siauw Ling segera berkobar setelah mendengar ucapan tersebut katanya, “Cuwi silahkan mengajukan pertanyaan asalkan Siauw Ling tahu pasti akan kuutarakan.”

“Jika kau suka berbuat demikian itu jauh lebih bagus lagi kita sebagai orang2 yang sering melakukan perjalanan dalam Bulim memang seharusnya berani bertanggung jawab setelah berani berbuat.”

“Omitohud” terdengar Tji Kuang Thaysu merangkap tangannya memuji keagungan sang Buddha. “Tadi secara beruntun Sam Cungcu berhasil membinasakan sembilan orang jagoan lihay ini mengartikan kepandaian silat yang kau miliki sangat lihay seorang sulit loolap ikut menemui ajalnya ditangan Sam Cungcu hal ini hanya bisa salahkan kepandaian silatnya kurang sempurna sehingga sepatutnya yang lemah menemui ajal tapi loolap ingin mencari tahu apa sebabnya Sam Cungcu melakukan tindakan sekeji itu untuk cabut nyawanya?”

Siauw Ling mendehem perlahan sebelum ia mencari jawaban yang tepat untuk menanggapi persoalan tersebut mendadak terdengar Coe Kun San berteriak pula lantang, “Sinelayan dari karesidenan Sam Siang jadi orang ramah dan mulia orang Bulim tak ada seorang pun yang tidak menaruh hormat kepadanya dendam sakit hati apakah yang terikat antara dirimu dengan dia orang sehingga kau begitu tega menggunakan senjata rahasia beracun untuk melukai jiwanya? dendam ini aku orang she Coe sudah pastikan untuk menuntut kembali, bila tak kupikul beban ini bukankah sama artinya hubungan akrab selama tiga puluh tahun lamanya akan hanyut bagaikan air disungai Yang Tse? bukankah tindakanku ini akan ditertawakan seluruh jago kangouw?” 
------
Serial Pedang Kayu Harum sudah beres semua diupload gan, untuk membacanya silahkan klik disini 😉🤗
------

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 04"

Post a Comment