coba

Bayangan Berdarah Jilid 03

Mode Malam
JILID 3

Setelah berpikir sejenak dengan nada serius ujarnya, “Perduli kejahatan Djen Bok Hong telah menumpuk bagaikan gunung hutang darah bagai samudra, tetapi bagaimanapun juga dia adalah saudara angkatku perduli dia ada maksud membawa aku masuk ke dalam lingkaran setan atau memancing aku masuk ke dalam perangkap kini kayu sudah jadi sampan menyesalpun sudah terlambat. Sehari aku belum memutuskan hubungan persaudaraan sehari pula aku tak bisa berdiri sebagai musuh dengan dirinya. Aku rasa persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu, pelajaran guruku masih mendengung disisi telinga membantu yang lemah menindas yang jahat merupakan tugas yang harus aku jalankan….”

“Djen Bok Hong hanya ingin menggunakan kepandaian silat serta kemampuanmu untuk bantu dia berbuat jahat”. Sela Kiem Lan dengan wajah keren “bilamana dibicarakan sesungguhnya antara dia dengan dirimu sama sekali tiada perasaan persaudaraan jikalau ia memandang dirimu sebagai saudara, budak rasa tidak seharusnya secara diam-diam ia bermaksud mencelakai dirimu”.

Perlahan-lahan Siauw Ling menghela napas panjang.

“Aaaaai…. walaupun perkataanmu sedikitpun tak salah tapi aku Siauw Ling tak seharusnya meninggalkan bahan tertawaan bagiku dikemudian hari sebelum hubungan persaudaraan diputuskan aku akan terus bersabar”.

Mendadak terdengar suara derakan kaki kuda memotong ucapan yang belum selesai tiga ekor kuda jempolan dengan cepatnya menyongsong kedatangan mereka.

Orang yang berada dipaling depan adalah seorang dara berbaju hijau. Air mukanya keren penuh keseriusan wajahnya memandang kedepan tak berkedip.

Kuda kedua ditunggangi oleh seorang kakek tua berjenggot putih sepanjang dada matanya bulat besar dengan mulut yang lebar sikapnya amat berwibawa.

Ketika si kakek tua itu melihat munculnya Siauw Ling disana mendadak air mukanya berubah hebat. Buru-buru ia melengos dan cepat-cepat jalankan kudanya lewat dari sisi kereta.

Siauw Ling merasa kedua orang penunggang kuda itu sepertinya tidak asing baginya, setelah lama ia baru teringat kembali bilamana mereka berdua bukan lain adalah Pat So Sin Liong atau Naga Sakti berlengan Delapan Toan Pok Tjeng yang pernah ditemuinya diatas loteng rumah makan kota Koei Cho bersama sinona baju hijau yang melakukan serangan bokongan terhadap diri Tjioe Tjau Liong tempo dulu.

Orang pada kuda ketiga adalah seorang lelaki kurus kering berbaju abu-abu, kumisnya melintang dengan jenggot yang panjang terurai kebawah, sepasang matanya tajam luar biasa.

Ketika menemukan Siauw Ling dalam kereta tersebut mendadak ia tarik tali les kudanya tersebut sehingga binatang tunggangan yang semula berlari cepat kini lewat dari sisi kerata dengan gerakan lambat.

Melihat kejadian tersebut Siauw Ling segera menyerahkan tali les kuda tersebut ketangan Kiem Lan, sedang ia sendiri menerobos masuk ke dalam ruangan kereta.

Dari sakunya ia ambil keluar kertas yang diberikan Kiem Hoa Hudjien kepadanya waktu itu dan dibaca isi surat tersebut.

Sepanjang perjalanan kau pasti akan menemui hadangan-hadangan. Hati-hati terhadap kedua orang budak tersebut.

Selama ini Siauw Ling selalu bersabar tidak membaca surat yang diberikan Kiem Hoa Hudjien kepadanya hal ini disebabkan ia ingin mengandalkan kecerdasan sendiri untuk coba menjernihkan kecurigaan-kecurigaan yang mencekam dalam dadanya kemudian dicocokkan dengan apa yang ditulis dalam kertas tersebut sama tidak dengan apa yang ia pikir dihati.

Untuk pertama kalinya ia terjunkan diri ke dalam dunia kangouw tidak disangka telah terjerumus ke dalam perkampungan Pek Hoa San Tjung yang bahaya dan penuh keseraman tanpa sadari ia telah terseret ke dalam suatu pergolakan Bulim yang maha dahsyat ia merasa seseorang perduli memiliki kepandaian silat seberapa lihaypun jangan harap bisa lancar berkelana di dalam dunia kangouw apabila tidak diimbangi dengan kecerdasan dengan kecerdasan dalam menghadapi segala perubahan.

Bilamana tidak berbuat demikian maka jangan harap bisa menghadapi kelicikan Bulim dengan gampang dan lancar.

Dan kini Tong Sam Kauw serta Giok Lan sama sama telah dipaksa menelan pil pengerut tulang sekalipun Siauw Ling tidak terlalu menguatirkan diri mereka berdua lagi tapi hatinya tetap risau sehabis membaca surat tersebut dia segera robek dan melumat2 kertas tadi hingga hancur lalu dibuang keluar kereta.

Sedangkan dalam hati pemuda ini mulai berpikir ia merasa kedua orang budak yang dimaksudkan dalam surat tersebut tentu mengartikan diri Kiem Lan serta Giok Lan walaupun kejadian cocok seperti apa yang diduga Kiem Hoa Hudjien tapi perubahan yang kemudian terjadi sedikit berbeda.

Karena Kiem Lan rela menempuh bahaya menghianati Djen Bok Hong, hal ini membuat rencana sang Toa Cungcu yang telah disusun dengan rapi dan cermat terpaksa harus mengalami hancur berantakan bagaikan mengalirnya air disungai.

Kini Siauw Ling tidak begitu menguatirkan akan ancaman yang datang dari Kiem Lan lagi sebab jebakan yang diatur Djen Bok Hong disisi tubuhnya kini sudah hancur berantakan.

Justru yang membuat dia murung adalah keadaan dari Giok Lan serta Tong Sam Kauw yang telah dipaksa menelan pil racun pengerut tulang saat ini mereka sudah berubah jadi manusia-manusia tolol untuk tinggalkan dia ditengah jalan sudah tak mungkin dibawa sertapun ia tak mengerti bagaimana caranya menolong bebaskan mereka dari pengaruh racun hatinya bingung dan kacau.

Masih ada lagi kata-kata dari Kiem Hoa Hudjien yang mengatakan ditengah perjalanan pasti menemui hadangan bila ditinjau nada ucapan yang jelas amat mantap dan tegas rasanya sebelum Kiem Hoa Hudjien mempunyai pegangan yang kuat tidak mungkin berani beritahu urusan ini dengan begitu tegas dan serius.

Kedua persoalan yang penuh mengandung kecurigaan tiada hentinya berputar dalam benaknya tapi ia tidak berhasil juga memperoleh sebab2 yang rasanya sesuai dengan jalan pikirannya.

Ketika itulah mendadak dari luar ruangan kereta terdengar suara Kiem Lan sedang berseru keras.

“Samya didepan ada orang menghadang perjalanan kita.”

Kereta bergerak makin perlahan sehingga akhirnya berhenti sama sekali.

Siauw Ling menyingkap horden melangkah keluar dari kereta sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap kesekeliling tempat itu.

Tampak olehnya diantara pepohonan yang tumbuh lebat disisi jalanan secara lapat-lapat tampak bayangan manusia bergerak lewat.

Empat orang lelaki bersenjata tajam berdiri sejajar ditengah jalan menghadang jalan pergi mereka.

Diantara mereka dua orang adalah lelaki kekar berusia pertengahan seorang kakek tua berjubah panjang serta seorang hwesio berpakaian lhasa.

setelah beberapa bulan lamanya menemui berbagai pergolakan Siauw Ling telah pandai memeriksa keadaan pihak lawannya perlahan lahan sinar mata yang tajam menyapu sekejap wajah keempat orang itu ia dapat mengerti bilamana si kakek tua serta sihwesio itu memiliki tenaga sinkang yang amat sempurna.

Tampak si kakek berjubah hijau merangkap tangannya menjura, “Apakah saudara berasal dari perkampungan Pek Hoa San Tjung?” tegurnya.

“Tidak salah” Siauw Ling mengangguk perlahan, “entah ada urusan apa Lotiang menghadang perjalanan kami?”

Seorang lelaki kekar yang berdiri disebelah kiri segera membentak keras.

“Apakah kau adalah Sam Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San Tjung?”

“Tidak Salah.”

“Dan saudarakah yang bernama Siauw Ling?” sambung si lelaki yang berada disebelah kanan.

Bagus sekali diam-diam pikir Siauw Ling dihati kiranya kalian sudah selidiki jelas keadaan maupun asal usulku.

Sedang diluaran ia menyahut sopan”

“Benar cayhe adalah Siauw Ling.”

Mendadak terdengar si kakek berbaju hijau itu menghela napas panjang.

“Aaaaai…. Siauw Tayhiap baru saja berkelana di dalam dunia persilatan, namamu telah tersohor dan menggetarkan Bulim tidak disangka ternyata suka menggabungkan diri dengan pihak perkampungan Pek Hoa San Tjung sungguh sayang, sungguh sayang.”

Melihat sikap Siauw Ling beberapa orang itu tahu sekali lagi mereka menganggap dirinya sebagai si Siauw Ling palsu dalam keadaan dan situasi seperti ini iapun tidak gampang baginya untuk memberikan penjelasan hingga dia sampai percaya. Terpaksa pemuda ini menjawab sekenanya, “Cayhe dengan Tjuwi sekalian tidak saling mengenal. Tiada ikatan dendam sakit hati pula diantara kita, entah apa maksud Tjuwi sekalian menghadang jalan pergi cayhe?”

Sinar mata si kakek tua berbaju hijau itu berkilat ia melirik sekejap ke arah kereta berkuda itu lalu ujarnya, “Sam Tjung tju tolong tanya barang apa yang ada di dalam kereta tersebut?”

Semula Siauw Ling agak tertegun tapi sebentar kemudian ia berhasil menguasai perasaan sendiri.

“Orang yang ada di dalam kereta adalah beberapa orang kawan cayhe yang ikut melakukan perjalanan.”

Sreeeet si lelaki kekar yang ada disebelah kiri dengan tidak sabaran mencabut keluar golok dari punggungnya.

“Jikalau tak ada benda yang lain dalam kereta, bagaimana kalau kami melakukan pemeriksaan sejenak?” serunya dingin.

Alis Siauw Ling berkerut sepasang matanya memancarkan cahaya tajam agaknya ia ada maksud mengumbar hawa amarah.

Mendadak satu ingatan bagus berkelebat lewat dalam benaknya diam-diam ia berpikir.

Kecuali keempat orang ini di dalam hutan masih banyak jago-jago lihay, aku rasa berkumpulnya banyak jago pasti ada sebab-sebab tertentu…. Dalam kereta aku tidak menyimpan barang yang tak boleh diperiksa orang lebih baik biarkan saja ia melakukan pemeriksaan sehingga mereka menjadi jelas sendiri jikalau aku tidak membawa sesuatu apapun.

Berpikir akan hal tersebut hawa amarahpun jadi sirap kembali ia tertawa hambar.

“Jikalau Tju-wi ada maksud memeriksa, nah silahkan periksa sendiri….” serunya.

Ia segera menyingkir kesamping sembari memerintahkan Kiem Lan untuk membuka horden kereta.

“Kiem Lan coba kau buka horden tersebut agar mereka bisa melakukan pemeriksaan”

Tindakan Siauw Ling yang ramah dan lapang dada ini agaknya jauh berada diluar dugaan kedua orang lelaki kekar serta si kakek tua berbaju hijau itu mereka bertiga saling bertukar pandangan sekejab kemudian perlahan lahan berjalan mendekati kereta,

“Apakah orang yang berada di dalam kereta terdiri dari kaum perempuan?” tiba-tiba si kakek tua berbaju hijau itu menegur dengan alis berkerut.

Hati Siauw Ling sedikit bergerak kembali pikirnya, “Hingga kini Tong Sam Kauw mengenakan pakaian perempuan jika tahu begini sejak tadi aku suruh Kiem Lan menggantikan pakaiannya dengan baju lelaki”

Ia segera mengangguk,

“Sedikitpun tidak salah.”

“Antara lelaki dan perempuan tidak boleh saling bersentuhan kami tidak ingin mengganggu keluarga Sam Tjung tju bagaimana kalau sam Tjung tju suka sedikit merepotkan untuk bawa mereka turun dari atas kereta?….”

Siauw Ling mengiakan ia segera bimbing Giok Lan serta Tong Sam Kauw turun dari kereta.

Setelah kereta tersebut jadi kosong sinar mata si kakek tua berbaju hijau itu baru menyapu seluruh benda dalam ruangan kereta tersebut dengan pandangan mata tajam.

“Entah bolehkah kami periksa kedua peti kayu yang berada dalam kereta itu?” tanyanya kemudian

Siauw Ling merasa amat murung dan mangkal sekali lagi pikirnya, “Entah apa maksudnya beberapa orang ini berbuat demikian? benda ada sebenarnya yang sedang dicari?”

Sekalipun dalam hatinya timbul perasaan gusa dan mendongkol ia tetap berbisik ke arah Kiem Lan dengan suara lirih.

“Bawa turun kedua buah peti kayu ini agar bisa mereka periksa.”

Kiem Lan ragu-ragu sebentar akhirnya ia naik ke dalam kereta untuk bopong turun kedua buah peti kayu itu.

Peti kayu tadi bercat warna merah diantara peti tergantung sebuah gembokan emas dua lembar segel menyegel peti tadi dengan rapi.

Pada dasarnya peti-peti ini adalah hadiah uang diberikan Djen Bok Hong serta Tjioe Tjau Liong untuk dipersembahkan kepada orang tuanya apa isi peti itu hingga kini Siauw Ling sendiripun tidak tahu.

Kembali si kakek tua berbaju hijau itu dengan sepasang mata yang tajam menyapu sekejap seluruh isi ruangan kereta menanti ia tidak berhasil temukan benda lain yang perlu dicurigai orang tua itu baru berpaling dan berkata kepada diri Siauw Ling.

“Bagaimana kalau merepotkan Sam Tjung Tju suka membuka kedua peti kayu ini agar bisa kami periksa isinya?”

Hawa gusar yang berkobar dalam dada Siauw Ling mulai bergelora, tetapi sebisanya ia tekan hawa gusar tersebut di dalam hati.

“Disiang hari bolong Tju wi sekalian membawa begitu banyak jago menghadang perjalanan kami, setelah selesai memeriksa peti kayu ini cayhe masih ingin menuntut keadilan dari cu wi sekalian”

Hawa gusar yang berkobar dalam dada Siauw Ling mulai bergelora, tetapi sebisanya ia tekan hawa gusar tersebut di dalam hati.

“Disiang hari bolong Tju wi sekalian membawa begitu banyak jago menghadang perjalanan kami, setelah selesai memeriksa peti kayu ini cayhe masih ingin menuntut keadilan dari cu wi sekalian” serunya dingin.

sinar matanya segera dialihkan ke Kiem Lan tambahnya, “Coba kau buka kedua peti kayu ini.”

“Hamba tidak punya kunci”, sahut Kiem Lan dengan suara serak.

Disadarkan hal tersebut Siauw Ling baru ingat bahwa ia sendiripun tidak mempunyai kunci pembuka peti kayu itu Djen Bok Hong hanya beritahu kepadanya bahwa diatas kereta terdapat dua buah peti yang berisikan hadiah untuk dia bawa pulang tetapi tidak serahkan kunci tadi kepadanya.

Setelah termenung sebentar ia berkata, “Kalau begitu kau babat putus saja gembok emas itu.”

Kiem Lan kerutkan alisnya, tapi ia tidak berani membangkan dari dinding kereta, gadis ini cabut sebilah pedang kemudian beberapa kali babatan putuskan gembokan emas diatas peti-peti itu.

“Kini kunci telah tertebas lepas, silahkan Cuwi membuka sendiri” kata Siauw Ling kemudian seraya menjura ke arah si kakek tua tersebut.

Agaknya si kakek tua itu merasa agak menyesal dalam hatinya sebelum turun tangan membuka peti itu terlebih dahulu ujarnya berat, “Semisalnya kami sekalian tidak memperoleh sesuatu dari peti ini loolap segera akan minta maaf dihadapan Siauw heng.”

Perlahan-lahan ia membuka peti kayu yang ada disebelah kiri.

Tampak bubuk beterbangan memenuhi angkasa diikuti bau sengak obat yang sangat menusuk hidung menyambar keempat penjuru.

Secara tiba-tiba ia dadanya kena dihantam oleh suatu pukulan dahsyat kakek tua berbaju hijau itu berubah wajah dengan sempoyongan badannya mundur dua langkah ke belakang.

Kedua orang lelaki kekar itu segera maju kedepan melongok ke dalam peti itu dan mendadak mereka berdua sama menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu.

Sihweesio berpakaian Ihasa yang selama ini membungkam ikut mengalihkan sinar matanya ke arah peti mendadak dia merangkap tangannya didepan dada seraya memuji keagungan sang Buddha.

“Omitohud….”

Dari sikap kaget tercengang serta berduka yang diperlihatkan keempat orang itu kendati Siauw Ling bisa menduga ketidak beresan urusan ini tetapi benda apa yang berada dalam peti itu ia sendiripun tidak tahu.

Siauw Ling segera melangkah maju kedepan dan melongok ke dalam peti mati itu air mukanya kontan berubah hebat.

Kiranya di dalam peti kayu itu penuh dialasi dengan bubuk putih hampir mencapai separuh peti diantara bubuk putih tadi menggeletakkan sebuah batok kepala manusia.

Agaknya batok kepala itu sudah direndam lama sekali di dalam air obat mimik maupun raut mukanya masih bisa dikenal dengan sangat jelas.

Batok kepala itu penuh bercambang matanya bulat melotot keluar dengan rambut riap-riap tidak karuan sekalipun hanya sebuah batok kepala tapi sulit bagi setiap orang untuk membayangkan bagaimana gagahnya keadaan orang ini tempo dulu.

Siauw Ling berdiri tertegun mendadak ia membuka penutup peti kayu yang lain.

Tampak di dalam peti yang kedua terletak dua buah surat putih yang sudah hampir menguning disamping itu terdapat pula sebatang pedang pendek berwarna kuning emas serta sebuah cermin antik yang terbuat dari tembaga.

Agaknya si kakek tua berbaju hijau itu mempunyai iman yang kuat setelah merasa terkejut beberapa saat dengan cepat ia dapat pulihkan kembali ketenangannya.

“Barang bukti sudah tertera didepan mata entah Sam Tjungtju masih ingin mengatakan alasan apa lagi?” tegurnya dingin.

Siauw Ling sama sekali tidak menyangka ia bakal difitnah oleh saudara angkatnya sendiri perlahan-lahan ia menghela napas panjang.

“Aaaai….tidak kusangka rencana mereka” mendadak ia merandek dan berubah nada ucapan. “Batok kepala siapakah yang berada di dalam peti ini?”

Kedua orang lelaki kekar yang sedang menangis tersedu-sedu diatas tanah tiba-tiba meloncat bangun seraya meloloskan golok dari sarungnya.

Satu dari kiri yang lain dari kanan hampir bersamaan waktunya menyerang diri Siauw Ling jurus serangannya ganas dan telengas jelas mereka ada maksud mencabut nyawa pemuda ini.

Buru-buru Siauw Ling meloncat kesamping untuk berkelit dari datangnya serangan tersebut.

“Untuk sementara kalian berdua jangan marah dulu” serunya berat. “Cayhe ada beberapa patah kata penting hendak kusampaikan.”

Tetapi kedua orang lelaki kekar itu sudah mendekati histeris, bagaikan orang kalap mereka terjang terus kedepan tanpa menghiraukan keselamatan sendiri.

Mereka tidak ingin memberi kesempatan lagi Siauw Ling untuk mengajukan pembelaan lagi sepasang golok secara beruntun melancarkan serangan gencar cahaya golok berkilauan menusuk pandangan mata seketika itu juga mereka kurung tubuh Siauw Ling di dalam kepungan bayangan-bayangan golok mereka.

Dengan tetap bertangan kosong Siauw Ling berputar kesana kemari menghindarkan diri dari babatan cahaya tajam selama ini ia hanya menghindar terus tanpa melancarkan sebuah serangan balasanpun.

Dalam sekejap mata kedua orang lelaki kekar itu sudah melancarkan dua puluh buah serangan lebih. Tetapi tak sebuah serangan mereka berdua berhasil melukai Siauw Ling kendati mereka tetap ngotot tak mau berhenti.

Si kakek tua berbaju hijau yang menonton jalannya pertarungan dari samping agaknya sudah dapat melihat bilamana kepandaian silat yang dimiliki Siauw Ling beberapa kali lipat jauh lebih tinggi dari kepandaian kedua orang itu jikalau dia sampai melancarkan serangan balasan mungkin sejak semula kedua orang lelaki kekar tersebut sudah roboh terluka dibawah serangan pemuda she Siauw.

“Tahan” dengan suara yang keras bagaikan ledakan guntur disiang bolong ia membentak.

Kesadaran kedua orang lelaki kekar yang hampir dikacaukan oleh kesedihan yang melebihi takaran itu segera jadi terang kembali oleh bentakan ini buru-buru mereka tarik kembali senjatanya seraya meloncat mundur ke belakang.

Sreeet! kini gantian si kakek tua berbaju hijau yang cabut keluar pedangnya dari sarung.

“Loohu ingin mohon petunjuk dari kepandaian silat Sam Cungcu” serunya.

Walaupun diluaran ia berhasil mempertahankan ketenangannya tetapi jelas kelihatan apabila dihati ia merasa sedih jauh melebihi kesedihan yang dialami kedua orang lelaki tersebut.

Setelah cabut keluar pedangnya dari sarung tanpa bertanya putih hitam lagi ia segera melancarkan serangan dengan jurus Giok Lie To Suo atau gadis perawan melempar peluru menusuk dada pemuda she Siauw ini.

“Saudara jangan keburu turun tangan bagaimana kalau mendengarkan dahulu beberapa patah kata pembelaanku?” seru Siauw Ling amat cemas.

Ketika Siauw Ling sedang berbicara si kakek tua itu sudah mengirim delapan buah tusukan gencar setiap tusukan merupakan serangan yang keji dan telengas jauh lebih lihay beberapa kali lipat dari pada permainan golok kedua orang lelaki kekar itu.

Dibawah desakan delapan buah serangan gencar Siauw Ling kena dipaksa mundur empat langkah ke belakang.

Melihat hal tersebut Kiem Lan jadi kuatir tak tertahan lagi teriaknya keras-keras, “Samya hati-hati dalam keadaan gusar mereka bisa melancarkan serangan dengan jurus-jurus pedang yang keji dan telengas menjumpai keadaan seperti ini tiada berguna banyak beribut dengan mereka.”

Maksud dari ucapannya adalah memberitahu kepada Siauw Ling agar menggunakan ilmu silat menguasai dahulu orang ini kemudian baru diterangkan dengan melalui kata-kata.

Siapa nyana justru karena ia banyak bicara telah memancing perhatian dari kedua orang lelaki kekar itu.

Mereka membentak keras yang satu menerjang ke arah Kiem Lan sedang yang lain menubruk ke arah Giok Lan.

Melihat tindakan mereka yang begitu berangasan dan buas Kiem Lan jadi amat terperanjat pedangnya dikebaskan merintang jalan pergi lelaki-lelaki itu kehadapan Giok Lan kemudian tegurnya dengan suara yang dingin, “Kalian benar-benar tidak tahu aturan sebelum bicara terang sudah menyerang dengan buas.”

“Asalkan orang dari perkampungan Pek Hoa San cung rata-rata merupakan penjahat yang telah banyak melakukan kejahatan sepasang tangan kalian sudah penuh berlepotan darah sekalipun mati juga tidak patut disayangkan….” bentak lelaki itu keras.

Menggunakan jurus Heng Sauw Tjian Kiem atau menyapu runtuh selaksa prajurit ia babat pinggang dayang tersebut.

Kiem Lan mengerti baik ilmu silat maupun gerakan tubuhnya sukar dibandingkan dengan kelihayan Siauw Ling bilamana ia balas menyerang maka tidak sampai sepuluh jurus tentu akan terluka ditangan orang ini terpaksa pedangnya diputar balik kemudian dengan menggunakan jurus Kiem Sie Tjau Wan atau serat emas melingkari pergelangan menyapu urat nadi lelaki itu.

Karena Kiem Lan keburu meloncat kehadapan adiknya Giok Lan, lelaki kekar lainnya jadi kehilangan lawan bergebraknya setelah menubruk tempat kosong tubuhnya segera berputar seraya ayunkan golok mengancam gadis ini.

Di dalam hati Kiem Lan tahu Giok Lan serta Tong Sam Kauw sama-sama telah menelan pil beracun walaupun daya bekerja racun tersebut belum mulai bekerja, tetapi kesadarannya sudah punah tidak mungkin lagi bagi mereka untuk menghadapi musuh lagi.

Dengan mengepos napas panjang segera berputar sedemikian rupa melindungi kedua orang itu.

Pada saat ditengah kalangan berlangsung dua grup pertarungan sihweesio berbaju Ihasa yang mendekati peti itu kemudian pungut pedang emas yang ada di dalam peti dan disembunyikan ke dalam sakunya.

Siauw Ling dapat melihat perbuatan hweesio ini dengan sangat jelas meledaklah hawa amarah yang ditekan terus selama ini bentaknya, “Sebenarnya kalian bermaksud membalaskan dendam bagi saudara-saudara kalian ataukah hanya ingin merampas barang-barang milikku?”

Ditengah suara bentakan yang keras telapak tangannya dibalik balas melancarkan serangan angin pukulan menderu-deru mengancam pergelangan kanan si kakek tua berbaju hijau yang mencekal pedang.

Merasakan datangnya angin serangan si kakek tua itu segera miringkan badannya meloloskan diri dari ancaman tersebut selagi ia siap getarkan pedang melancarkan serangan kembali. Siapa sangka saat itulah dari Siauw Ling berikutnya telah menerjang kedepan terlebih dahulu.

Karena harus berkelit si kakek tua itu kehilangan posisinya yang baik dibawah serangan telapak berantai yang gencar kakek tua itu terdesak sehingga mundur ke belakang secara beruntun.

Haruslah diketahui serangan telapak berantai yang dimainkan Siauw Ling barusan adalah sebuah ilmu yang maha dahsyat di dalam dunia persilatan keistimewahan dari ilmu ini justru terletak pada kecepatan geraknya yang melebihi sambaran petir sehingga mendatangkan kerepotan dan gelagapan bagi mangsanya.

Setelah beruntun Siauw Ling melancarkan enam belas buah serangan berantai si kakek tua berbaju hijau itu sudah kena didesak mundur sejauh enam tujuh depa lebih. Mendadak si pemuda itu menarik kembali serangannya seraya menubruk kehadapan sihweesio berIhasa itu.

“Kembali!” bentaknya dingin.

Hweesio ini, walaupun memakai baju Ihasa yang longgar dan besar sebenarnya ia memiliki perawakan yang kurus kering.

Mendengar teguran tersebut ia membuka sedikit matanya yang semula terpejamkan.

“Barang apa yang kau minta kembali.”

“Sebilah pedang emas kau anggap aku tidak melihat perbuatanmu mengambil pedang tadi dari dalam kotak.”

“Sekalipun sudah kau lihat mau apa?” jengek sihweesio kurus sambil tertaw hambar. “Pokoknya barang itupun bukan milik kalian orang-orang perkampungan Pek Hoa San cung.”

Siauw Ling makin gusar melihat keketusan sang hweesio ia naik pitam dan marah-marah.

“Cukup dari mimikmu yang kicik dan sikapmu yang ketus dapat kuduga kau bukan paderi yang saleh yang berasal dari perguruan hormat.”

“Omitohud” seru sang hweesio. “Menurut pandangan sicu, maka pinceng mirip apa?”

“Aku lihat kau mirip seorang perampok ditengah samudera dan seorang pencoleng yang suka mencuri ayam.”

Sekalipun kena dihina dan dimaki sihweesioa itu sama sekali tidak jadi marah. Ia hanya tertawa hambar.

“Pedang emas ini adalah barang milik kawan karib pinceng. Benda ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teka teki hidupnya pinceng, akan aku simpan dulu benda ini untuk beberapa waktu kemudian akan kuserahkan kepada keturunannya….”

Ia merandek sejenak untuk menghela napas panjang kemudian sambungnya lebih lanjut, “Sudah ada puluhan tahun lamanya pinceng mengasingkan diri dari keramaian dunia terutama persoalan yang menyangkut dunia persilatan. Selama ini pinceng belum pernah bergebrak melawan siapapun juga tetapi demi kawan karib yang mempunyai hubungan sangat akrab dengan pinceng mau tak mau aku harus munculkan diri untuk selidiki peristiwa ini sebelum persoalan berhasil dibikin jelas pinceng tidak ingin bergebrak melawan siapapun.” 

“Tapi sewaktu pinceng melihat adanya pedang emas di dalam kotak hatiku tergetar keras tetapi sebagai seorang paderi pinceng tidak ingin turun tangan sesuka hati setelah kupikir beberapa saat rasanya jauh lebih baik bilamana pedang emas ini untuk sementara pinceng yang simpan dikemudian hari setelah kutemukan pembunuh yang sebenarnya barulah loolap turun tangan balaskan dendam kematian kawan karibku ini. Usia siauw sitju masih muda tindakanmu masih polos pinceng tidak ingin banyak cari urusan dengan dirimu.”

Siauw Ling yang mendengar ucapan itu jadi melengak.

“Jika demikian adanya pedang emas ini mempunyai suatu hubungan yang erat dengan suatu kisah sedih pada masa yang silam?”

“Bukan pedang emas ini saja bahkan seisi peti itu mempunyai hubungan yang erat dengan hutang berdarah yang telah terikat hampir meliputi seluruh penjuru Bulim.”

Hawa gusar yang bergelora dalam dada Siauw Ling langsung punah dan mereka sehabis mendengar ucapan itu diam-diam pikirnya di dalam hati, “Memandang manusia tak boleh berdasarkan wajahnya belaka seperti hweesio ini sekalipun wajahnya menunjukkan seorang manusia berwatak licik tetapi ia benar-benar seorang paderi yang saleh.”

Dengan cepat ia tangkap tangannya menjura.

“Tolong tanya siapakah sebutan Tay suhu?”

“Pada dasarnya pinceng memiliki perawakan badan yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang keadaanku mirip pohon yang kering kerontang ditengah timbunan salju karena itu orang menyebut pinceng dengan sebutan Ku Bok” sahut sang hweesio kurus sembari tertawa hambar.

“Oooouw….kiranya Ku Bok Thaysu, cayhe ucapkan selamat berjumpa Thaysu mempunyai pikiran yang panjang cayhe harap kau suka menasehati kedua orang heng thay tersebut untuk sementara bersabar sebelum urusan dibikin jelas cayhe tidak ingin menciptakan banyak pembunuhan diantara kalian.”

“Omitohud asalkan siauw sitju mempunyai ingatan demikian ini cukup memperlihatkan kemuliaan hatimu.”

“Terima kasih atas pujian thaysu” Siauw Ling tertawa hambar.

Perlahan-lahan Ku Bok thaysu berpaling ke arah si kakek tua berbaju hijau itu ujarnya, “Sitju, pinceng berharap untuk sementara waktu kau suka menasehati mereka jangan turun tangan secara gegabah. Seharusnya kau bikin terang dulu persoalan ini.”

“Ehmmm….perkataan Thaysu memang cengli” kakek itu mengangguk ia lantas berpaliang dan berseru: ” Untuk sementara kalian berhenti bergebrak dahulu.”

Agaknya terhadap si kakek tua berbaju hijau ini kedua orang lelaki kekar itu bersikap sangat menghormat setelah mendengar teguran tadi mereka segera tarik kembali senjata goloknya dan mundur ke belakang.

Padahal yang sebenarnya dihati kakek tua berbaju hijau maupun kedua orang lelaki kasar sama-sama sudah mempunyai perhitungan sendiri. Ilmu pukulan kilat berantai yang dimainkan Siauw Ling bukan saja gencar dan hebat bahkan luar biasa sekali sekalipun si kakek tua berbaju hijau itu andalkan ketajaman pedangnya percuma saja.

Apalagi pertarungan antara kedua orang lelaki kekar tersebut melawan Kiem Lan tidak berhasil memperoleh hasil apapun berpuluh-puluh jurus serangan golok mereka lancarkan satu demi sati berhasil dipunahkan oleh Kiem Lan mereka semakin tahu gebrak lebih lama berarti mencari malu buat diri sendiri.

Setelah semua orang menarik diri dari kalangan pertarungan Siauw Ling menghela napas panjang seraya rangkap tangannya menjura ke arah si kakek tua berbaju hijau itu ujarnya, “Tolong tanya siapakah nama besar Heng thay? dan batok kepala siapakah yang berada dalam peti itu?”

“Loohu Tang Kong Seng berasal dari perguruan Ih Heng Bun” sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap batok kepala yang menggeletak di dalam peti lalu sambungnya, “Batok kepala yang ada di dalam peti tersebut adalah batok kepala Tjian bunjien angkatan kesembilan dari perguruan kami. Mereka semua adalah anak muridnya hubungan guru dan murid erat bagaikan ayah beranak tidak dapat disalahkan mereka susah menekan rasa gusar yang berkobar dalam dada mereka.”

“Dan kau apanya?”

“Aku adalah sutenya!” dia miring badan untuk melirik kembali batok kepala tersebut kemudian ujarnya lagi, “Aku rasa perkampungan kalian sudah lama sekali menyimpan batok kepala ini bukan?”

Siauw Ling menggeleng.

“Tentang soal ini cayhe kurang tahu” katanya.

“Walaupun siauw heng belum lama terjunkan diri ke dalam dunia persilatan tetapi nama besarmu sudah tersohor disegala penjuru dunia. Entah apa sebabnya kau suka menggabungkan diri dengan pihak perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Tentang soal ini….” akhirnya setela meragu setengah harian lamanya Siauw Ling tertawa getir. “Alasan dibalik kejadian ini maaf bilamana aku tak bisa menceritakan dihadapan umum.”

Sekali lagi sinar mata Tang Kong Seng menyapu benda-benda yang berada di dalam peti katanya, “Siauw Ling heng terus terang kuberitahu kepadamu orang-orang yang ikut hadir dalam kalangan saat ini bukan terdiri dari perguruan Ih Heng Bun kami saja….”

“Tentang soal itu aku sudah tahu” Siauw Ling mengangguk dan melirik sekejap ke arah hutan yang terbentang didepan mata. “Di dalam hutan tersebut banyak terdapat jago-jago lihay yang sedang mengawasi tindak tanduk siauwte.”

“Lalu entah tindakan apa yang hendak Sam Cungcu gunakan untuk menyelesaikan persoalan ini.”

“Cayhe sendiri justru lagi bingung tindakan apa yang sepatutnya cayhe lakukan aku ingin mohon petunjuk dari Cuwi sekalian.”

“Soal ini sih rasa sulit” ujar Tang Kong Seng setelah melengak beberapa saat lamanya. “Menurut pandangan loohu jago-jago lihay yang bersembunyi dalam hutan itu bukan saja terdiri dari jago-jago Siauw lim pay bahkan jago dari ketiga partai besar lainpun ikut hadir.”

“Ooouw….kenapa? apakah mereka pada berdatangan untuk bikin penyelesaian dengan diriku.”

“Pihak perkampungan Pek Hoa San cung sudah terlalu banyak berhutang darah dengan jago-jago Bulim kau sebagai Sam Cungcu sekalipun tidak ikut di dalam perebutan keji itu tapi kau bakal terseret oleh nama busuk pihak perkampungan Pek Hoa San cung. Untuk lewat dari sini dalam keadaan selamat aku rasa bukan suatu pekerjaan yang gampang.”

Sepasang alis Siauw Ling kontan berkerut.

“Kendati jago-jago dari sembilan partai besar merupakan kaum pendekar budiman yang dihormtai semua kaum Bulim tetapi kalian tak boleh memaksa orang keterlaluan cayhe sekalipun masih bersabar tadi kalianpun harus tahu kesabaran seseorang ada batas-batasnya.”

“Memang kemungkinan besar mereka datang dengan tanpa membedakan mana merah mana putih tapi kedatangan orang-orang itu jelas dengan membawa rasa dendam dan benci yang meluap” sambung Ku Bok Thaysu tidak menanti pemuda itu menyelesaikan kata-katanya. “Jikalau kedudukan mereka harus diganti dengan kau Sam Cungcu belum tentu kau memiliki kesabaran yang melebihi mereka Siauw sitju jikalau kau suka mendengarkan nasehat dari pinceng maka berlapang dadalah sedapat mungkin bersabarlah sampai sebisa jangan sampai membiarkan peristiwa ini dinodai dengan ceceran darah.”

Mendadak hweesio ini pejamkan mata merangkap tangannya didepan dada setelah memuji keagungan sang Buddha sambungnya lebih lanjut, “Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Siauw sitju jauh melebihi dugaan loolap jikalau ini hari Siauw sitju tidak suka mantapkan diri untuk bersabar dan menghindarkan diri dari bentrokan-bentrokan kekerasan dikemudian hari badai pembunuhan berdarah pasti akan melanda dunia persilatan selamanya tak bisa tenang dan keadaan kacau balau susah ditahan. Pinceng sudah lama mengasingkan diri dan jarang berkelana dalam dunia persilatan selama ini aku tidak berjodoh bisa berjumpa dengan sibayangan berdarah Djen Bok Hong Djen Cungcu tetapi cukup kudengar dari gelar serta musuh-musuhnya dia menduga dia adalah seorang jagoan yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi setelah ini hari dapat berjumpa dengan Sam Cungcu makin kuatlah dugaan pinceng.”

“Seorang lelaki sejati boleh dibunuh tak boleh dihina” potong Siauw Ling dingin. “Bilamana orang kangouw memandang aku orang she Siauw sebagai seorang penjahat yang banyak melakukan kejahatan hal ini merupakan suatu persoalan yang susah dibantah lagi.”

“Bangga atau malu semuanya muncul dari hati kecil sendiri ini hari para jago berkumpul disini untuk menuntut kau Siauw Sam Cungcu kemungkinan besar suatu drama berdarah yang menggidikan hati kita segera berlangsung. Mengapa kau tak coba menerima segala penghinaan untuk mengganti saat pengembalikan nama bersihmu.”

Siauw Ling yang mendengar ucapan itu hatinya sedikit bergerak.

“Terima kasih atas petunjuk dari Thaysu” tak terasa serunya.

Ketika ia mendongak kembali tampak olehnya dari balik hutan perlahan-lahan muncul empat puluh orang lebih jago-jago lihay baik berdandankan sebagai kaum beragama maupun rakyat biasa.

Orang-orang itu ada sebagian telah mencabut keluar senjata tajamnya ditangan mereka berjalan mendekat dengan wajah penuh diliputi hawa napsu membunuh.

Siauw Ling segera silangkan tangannya didepan dada seraya berbisik lirih kepada diri Kiem Lan.

“Baik-baik melindungi mereka berdua cepat naik dan tunggu aku di dalam kereta.”

Kiem Lan mengiakan ia bimbing Tong Sam Kauw serta Giok Lan naik ke atas kereta.

Menanti beberapa orang gadis itu sudah pada naik semua. Siauw Ling menghembuskan napas panjang ia coba buang segala kemangkelan serta kemurungan dari dalam dadanya.

Para jago yang barusan munculkan diri dengan cepat mengurung seluruh kalangan dalam sekejap mata Siauw Ling telah berada ditengah-tengah kepungan yang rapat.

Dari ujung sebelah barat muncul seorang pemuda berpakaian kabung yang berwajah murung dan sedih mendadak terdengar ia menjerit tertahan.

“Aaaach! surat peninggalan ayahku.”

Dengan cepat ia jatuhkan diri berlutut dihadapan peti tersebut dan mencekal sepucuk surat erat-erat.

Mengikuti beralihnya sinar mata para jago Siauw Lingpun berpaling ke atas sampul surat tersebut.

Tampak diatas sampul itu tertera beberapa patah kata yang berbunyi, “Ditujukan buat istriku yang tercinta Boen Oh.”

Sikap pemuda itu amat gugup tangannya yang mencekal surat tersebut gemetar tiada hentinya.

Dua puluh pasang mata para jago yang ikut hadir disekeliling kalangan bersama-sama mengalihkan pandangannya ke atas surat yang dicekal pemuda itu.

Walaupun mereka tak seorangpun yang menegur diri Siauw Ling tetapi pemuda she Siauw sendiri mulai timbuk perasaan kurang tenang dia merasa orang-orang ini sebagian besar bahkan seluruhnya memandang ia sebagai seorang musuh besar yang terikat dendam sedalam lautan.

Teringat akan hal itu tak kuasa lagi ia menghela napas panjang.

Siapa nyana justru karena suara helaan napas inilah memancing meledaknya suara tertawa dingin memenuhi empat penjuru kalangan.

Situasi yang dihadapi saat ini amat aneh dan sunyi. Tak seorangpun yang buka suara juga tak ada yang memaki atau ajak Siauw Ling berbicara tetapi situasi semacam ini makin mempertegang hati Siauw Ling maupun para jago-jago itu. Agaknya secara diam-diam semua orang telah melakukan persiapan dalam pertarungan sengit yang mempengaruhi mati hidupnya diri sendiri.

Dengan kumpulan seluruh kekuatan yang ada Siauw Ling coba menenangkan hatinya, ia ingin buka suara untuk pecahkan suasana yang demikian sunyi dan tenang ini, tetapi selalu gagal untuk mengutarakan kata-kata yang pertama.

“Siauw sicu” mendadak terdengar suara Ku Bok Thaysu yang halus dan lirih bagaikan nyamuk bergema masuk ke dalam telinganya. “Coba pertahankan diri keadaan dan situasi yang kau hadapi detik ini sangat mempengaruhi nasibmu dalam dunia kangouw kemudian hari kau harus coba menggunakan ketenangan yang tinggi serta imam yang tebal untuk menyambut kedatangan suasana penuh hawa membunuh ini perubahan besar segera akan terjadi sedetik lagi.”

Siauw Ling tertawa getir degan perasaan apa boleh buat ia melirik sekejap ke arah Ku Bok Thaysu.

Mendadak terdegar sang pemuda yang berlutut diatas tanah dan mencekal surat akhir peninggalan ayahnya bergumam seorang diri.

“Selama hidup Tia bersikap terus terang dan mulia tak sebuah urusanpun yang patut dirahasiakan didepan umum sedang ibu karena merindukan Tia selama hampir sepuluh tahun lamanya tidak beruntung menemui ajalnya pada sebulan berselang putramu dengan memberanikan diri akan membuka dan membaca surat tia yang ditunjukkan buat kau ibu.”

Agaknya para jago yang ada diempat penjuru pada kenal dengan sang pemuda berpakaian kabung ini bahkan menaruh rasa hormat kepadanya tetapi sikap merekapun seperti menghadapi orang asing tak seorangpun ada saat ini buka suara menghibur dirinya.

Tampak ia membuka sampul surat itu dan mengambil keluar surat yang ada didalamnya lalu dibentang kedepan dengan demikian para jago yang ada disekeliling tempat itu termasuk Siauw Ling dapat membaca isi surat itu dengan jelas.

Tampak surat itu berbunyi sebagai berikut, “Buat istriku yang tercinta!”

“Aku telah kena dikurung dalam perkampungan Pek Hoa San cung setelah mengalami siksaan keji dengan tujuh belas macam ragam yang berbeda badanku kini jadi cacad seumur hidup. Bila kau menjumpai suratku ini berarti kau menjumpai diriku untuk terakhir kalinya. Aku berharap dengan mengingat-ingat hubungan suami istri diantara kita selama ini sudilah kau memelihara satu-satunya putra kita hingga dewasa.”

Dibawahnya tertera tanda tangan yang berbunyi Tjangbunjien angkatan kedua belas dari perguruan Thay Khak Bun aliran Sak Tjoen san.

Ucapan yang terdapat dalam isi surat itu kebanyakan merupakan pesan-pesan terakhir buat istri tercintanya tetapi tanda tangan yang tertera dipaling belakang surat ini jauh berlawanan dengan isi surat tersebut.

Setelah berpikir sejenak akhirnya Siauw Ling mengerti mengapa isi surat tersebut depan dan belakangnya bertentangan.

Aaaach benar pikirnya. Tentunya setelah Sak Tjoen san selesai menulis surat ini ia tidak berharapan besar untuk menyampaikan surat kepada istri tercintanya. Oleh karena itu diakhir surat tersebut sengaja dia cantumkan nama maupun kedudukannya sehingga semisalnya surat ini terjatuh ketangan kawan-kawan Bulim dengan perantara mereka surat ini tiba disampaikan ketangan orang-orang perguruan Thay Khek Bun aliran selatan.

Terdengar suara helaan napas sedih mengiringi selesainya membaca isi surat tersebut jelas para jago yang hadir disekeliling tempat itu rata-rata menaruh simpatik terhadap diri Sak Coen San.

Air mata yang jatuh berlinang dari kelopak mata pemuda berpakaian kabung itu makin deras sehingga setetes demi setetes berjatuhan diatas kertas surat itu ditambah pula dengan tangan yang gemetar keras tanpa ia sadari surat tadi tercabik-cabik hingga tidak karuan lagi bentuknya.

Mendadak terdengar suara seseorang yang berat berkumandang datang, “Sak Ciangbunjien tak usah terlalu bersedih hati nama pendekar ayahmu telah tersohor diseluruh penjuru dunia kangouw setiap jago Bulim yang sealiran dengan kita rata-rata menghormati dirinya baik-baiklah Ciangbunjien menjaga kesehatan badan agar dikemudian hari dapat digunakan untuk menuntut balas atas kematian ayahmu.”

Baru saja ucapan itu selesai diutarakan dari antara kerumunan para jago muncul dua orang kakek tua yang berusia lima puluh tahunan yang langsung berjalan kekedua belah sisi pemuda itu dengan langkah lebar.

Terdengar si kakek kedua berkata dengan suara lantang, “Tjiangbunjien memikul tugas berat untuk mengembangkan perguruan kita disamping itu masih ada beban berat untuk menuntut balas dendam berdarah sedalam lautan janganlah bersedih hati sehingga merusak kesehatan badan.”

Mendengar kata-kata nasehat tersebut perlahan-lahan pemuda berbaju berkabung itu bangun berdiri dan menghela napas panjang.

“Susiok berdua harap suka mewakili aku menyimpankan surat wasiat ini” Ia serahkan surat tersebut ketangan si kakek tua yang berdiri disebelah kiri, lalu sambungnya, “Jikalau tidak beruntung aku gugur dalam pertempuran ini harap kalian berdua dengan andalkan surat ini suka mengumpulkan seluruh anak murid perguruan Thay Khek Bun untuk mengangkat orang lain untuk menggantikan kedudukanku sebagai Tjiangbunjien. Kita tak boleh membiarkan perguruan Thay Khek Bun hancur dan lenyap dari peredaran Bulim karena kematianku.”

Dengan tangan mengusap kering bekas air mata yang membasahi wajahnya kemudian dengan sepasang mata memancarkan cahaya tajam yang penuh mengandung hawa mendendam ujarnya kepada diri Siauw Ling, “Kau orang kah Sam Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San cung?”

“Siauwte adalah Siauw Ling” segera pemuda ini rangkap tangannya menjura.

“Kematian ayahku di dalam perkampungan Pek Hoa San cung rasanya tidak bakal palsu bukan setelah ada surat sebagai tanda bukti” seru pemuda berbaju kabung itu tegas. “Dendam sakit hati atas kematian ayahku lebih dalam dari samudra ini hari dihadapan para jago sebagai saksi aku ingin menuntut balas dendam berdarah ini dari tangan Sam Tjungtju hutang nyawa bayar nyawa hutang uang bayar uang silahkan kau turun tangan.”

Siauw Ling menghela napas panjang.

“Sak heng walaupun apa yang kau ucapkan sedikitpun tidak salah tetapi siauwte pun mempunyai kesulitan sendiri dapatkah kau memberi suatu kesempatan bagi cayhe untuk membela diri.”

Belum lagi ia selesai bicara mendadak terdengar suara isak tangis yang amat sedih berkumandang datang seorang perempuan berpakaian kabung dengan membawa sebuah Leng pay berlari mendatang.

Perempuan itu ditangan kanan membawa Leng pay tangan kiri menutupi muka sendiri dengan menangis terisak berlari mendekat.

Gerakan tubuhnya itu amat cepat bagaikan sambaran kilat dalam waktu sekejap mata dia sudah berjalan mendekat dan langsung menerjang masuk ketengah kalangan.

Ketika para jago melihat munculnya seorang perempuan dengan pakaian berkabung dan membawa Leng pay mereka segera menyingkir kesamping memberi jalan.

Perempuan itu langsung menerjang masuk ketengah kalangan tersebut keluar pedang yang tersoren dipunggung teriaknya keras, “Siapa yang menjabat sebagai Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung?”

Melihat dikalangan muncul seorang perempuan berpakaian kabung Siauw Ling jadi tercengang.

“Sungguh aneh sekali” diam-diam pikirnya dihati. “Agaknya siang-siang ini tidak perjanjian terlebih dulu tetapi mengapa mereka bisa datang bersamaan waktunya.”

Tetapi pemuda ini tak sempat untuk berpikir lebih lanjut karena perempuan muda berbaju kabung itu seraya ayunkan pedang telah menuding ke arahnya sembari membentak gusar.

“Kau orangkah si Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San cung?”

Siauw Ling tidak bisa mungkir terpaksa ia mengangguk.

“Tidak salah….”

“Bagus sekali akan kubunuh dirimu terlebih dahulu untuk membalaskan dendam sakit hati atas kematian suamiku.”

Sreeet dengan disertai suara desiran tajam pedang itu langsung menusuk kelambung Siauw Ling.

Pemuda she Siauw hanya merasakan datangnya tusukan pedang itu amat keji dan telengas hatinya tergetar keras.

“Sungguh telengas serangan perempuan ini” pikirnya dihati. “Bahkan jauh lebih ganas dari pada permainan ilmu pedang Tang Kong Seng bila aku tak turun tangan balas menyerang tentu akan terluka dibawah serangan pedangnya.”

Sewaktu pikiran maish berputar perempuan muda berpakaian kabung itu secara beruntun telah melancarkan delapan buah tusukan.

Walaupun dengan andalkan ilmu meringankan tubuhnya yang lihay setelah bersusah payah Siauw Ling berhasil juga menghindarkan diri dari serangan kedelapan buah tusukan dahsyat itu tapi iapun sudah dibikin repot dan kelabakan tidak karuan.

Sewaktu siperempuan muda berbaju kabung itu melihat Siauw Ling berhasil menghindarkan diri dari kedelapan buah serangan gencarnya tanpa melancarkan serangan balasan barang sejuruspun pada mulanya agak tertegun lalu diiringi isak tangis yang amat keras.

Pedang yang berada ditangannya mengikuti isak tangisnya gemetar tiada hentinya bahkan serangan yang dilancarkanpun makin lama semakin ganas setiap serangan tentu mengancam jalan darah yang mematikan.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kedelapan jurus serangan lawan tadi Siauw Ling telah menyadari bilamana dirinya sudah berjumpa dengan musuh tangguh dia ada maksud turun tangan melancarkan serangan balasan.

Siapa nyana mendadak perempuan muda itu malah menangis tersedu-sedu tidak kuasa timbullah sifat gagah dalam hatinya.

“Aku Siauw Ling adalah seorang lelaki sejati” pikirnya dihati. “Apa gunanya mengumbar hawa amarah dengan seorang perempuan lemah.”

Tampak permainan pedang perempuan muda berbaju kabung itu makin lama makin ganas semakin gencar seranganpun makin dahsyat mengarung seluruh penjuru membuat pemuda she Siauw terperosot ke dalam posisi yang sangat berbahaya.

Walaupun dengan paksakan diri kembali Siauw Ling berhasil mempertahankan diri sebanyak tiga empat puluh jurus tetapi keadaannya sudah amat mengenaskan ia gelagapan kalang kabut dan terdesak hebat.

Justru saat itulah permaianan pedang sang perempuan muda tersebut telah mencapai detik-detik yang paling indah serangan meluncur keluar tiada hentinya bagaikan air bah.

Akhirnya saking tak tahan menghadapi desakan gencar pihak lawan mendadak Siauw Ling membentak keras telapak tangannya dikirim kedepan mengirim sebuah serangan yang maha dahsyat memaksa mundur siperempuan muda itu ke belakang.

Ketika sinar mata semua orang dialihkan kembali ke atas tubuh pemuda ini terlihatlah oleh mereka tangan kanan Siauw Ling ketika itu sedang menekan pundak kiri sendiri darah segar mengucur keluar melalui celah-celah jari tangannya jelas luka bekas bacokan ini tidak ringan.

“Omitohud” seru Ku Bok Thaysu dengan suara lirih. “Ketengangan serta kemantapan hati Siauw sitju benar-benar sangat mengagumkan pinceng ikut kagum atas kehebatanmu.”

Suara itu sangat kecil dan lirih beberpa orang yang berada disekitarnya ikut mendengar sisanya boleh dikata sama sekali tidak tahu bila hweesio ini barusan telah buka suara.

Air muka Siauw Ling pucat pasi bagaikan mayat dengan wajah serius ujarnya kepada siperempuan muda itu, “Suamimu mungkin benar-benar terluka oleh orang-orang anggota perkampungan Pek Hoa San cung tetapi aku ini sama sekali bukan pembunuh yang menghabiskan jiwa suamimu aku menggabungkan diri dengan perkampungan Pek Hoa San cung beberapa bulan saja tetapi semisalnya Hujien bersikeras menuduh cayhelah sipembunuh suamimu aaaai persoalan ini tak sanggup kuterangkan tapi sebelum kejadian aku ingin memberitahukan dulu kepadamu jika kau turun tangan lagi maka cayhe akan melakukan serangan balasan.”

“Bila bukan seseorang memiliki kepandaian silat macam kau belum mereka bisa membinasakan suamiku” potong perempuan muda itu dengan suara keras.

“Kenapa? jadi kau anggap aku adalah pembunuh suamimu?” agaknya Siauw Ling sudah mulai naik pitam.

“Sedikitpun tidak salah! karena hanya kepandaian silat sedahsyat ini saja yang berkemampuan untuk membinasakan suamiku.”

“Hujien terlalu memuji diriku” seru Siauw Ling apa boleh buat ia tertawa getir.

Perempuan muda itu tidak bicara lagi pedangnya digetar sekali lagi melancarkan sebuah tusukan kilat.

Dalam hati Siauw Ling tahu luka yang diderita pada pundak kirinya sangat berat bilamana ia tidak melancarkan serangan balasan mungkin sulit untuk berkelit dari sepuluh jurus seranganpun.

Tangan kanannya segera digetarkan kedepan secepat kilat ia melancarkan sebuah serangan mengancam pergelangan kanan sang perempuan muda yang mencekal pedang.

Merasa datanganya ngin serangan amat tajam buru-buru perempuan itu menekan pedangnya kebawah meloloskan diri dari hajaran telapak Siauw Ling kemudian dengan jurus Hwee Hong Suo Liuw atau angin berpusing pohon Liuw melambai balas membabat kemuka.

Siauw Ling segera buyarkan serangan seraya berebut maju kehadapan perempuan muda itu tangan kiri berkelebat mengancam wajah pihak lawan memaksa perempuan itu terpaksa harus menarik kembali pedangnya sambil mundur dua langkah ke belakang.

Keganasan serta ketelengasan jurus pedang yang digunakan siperempuan muda berbaju kabung ini sudah diketahui para jago sejak semula ia memang benar-benar memiliki perubahan yang tiada terhingga.

Tetapi kecepatan gerak Siauw Ling serta ketajaman angin pukulannya jauh diluar dugaan semua orang. Perduli bagaimana banyaknya serangan lawan serta bagaimana telengas dan dahsyatnya serangan pedang itu asalkan tertekan oleh desiran angin pukulan Siauw Ling segera punah dan kehilangan daya kekuatannya.

“Lepas tangan” mendadak terdengar Siauw Ling membentak keras.

Braaak sebuah pukulan dengan telak menghajar pergelangan tangan sang perempuan muda yang mencekal pedang itu seketika senjata tajam tersebut terpental ketangah udara dan lepas dari cekalan.

Melihat pedangnya kena disapu jatuh oleh pihak lawan pihak perempuan muda itu menutup wajah sendiri dengan ujung baju kiri lalu menangis tersedu-sedu tanpa banyak bicara lagi ia putar badan berlalu dari sana.

Kedatangannya sangat mendadak dan kepergian cepat laksana sambaran kilat bahkan pedangnya yang terjatuh ke atas tanahpun tidak sempat dipungut kembali.

Dengan termangu-mangu Siauw Ling memandang bayangan punggung sang perempuan muda yang kari menjauh dan itu akhirnya lenyap dari pandangan dalam hati dia merasa amat menyesal bercampur kecewa ingin sekali ia salurkan keluar rasa mangkel dan mendongkol yang mencekam seluruh benaknya.

Luka bacokan pada pundak kirinya semakin parah lagi darah segar bagaikan sumber mata air mengucur keluar membasahi seluruh pakaiannya.

Ku Bok Thaysu yang ada disisi kalangan diam-diam memperhatikan terus perubahan air muka Siauw Ling yang pucat pasi bagaikan mayat diam-diam dia merasa jantungnya bergetar keras.

“Orang ini memiliki bakat alam yang sangat luar biasa wajahnya cemerlang dan bercahaya tajam jelas ilmu silatnya telah mencapai taraf kesempurnaan” pikirnya dihati. “Dikemudian hari dia pasti akan menjadi seorang jago lihay yang sukar dicarikan tandingan dalam Bulim bila ini hari kita orang mendesak dirinya hingga memancing hawa gusarnya dan mengakibatkan suatu pembunuhan secara besar-besaran maka ini berarti pula orang-orang Bulim memaksa ia berbuat jahat pembunuhan berdarah yang bakal terjadi dikemudian hari pasti makin mendahsyat lagi ada baiknya Loolap bantu dirinya membebaskan diri dari kesulitan ini….”

Pada waktu itu sang pemuda berpakaian kabung yang ada disisinya telah mencabut keluar sebilah pedang pendek yang panjanganya tidak lebih dari dua perlahan-lahan ia berjalan mendekati Siauw Ling.

“Cayhe Sak Hong Sian mohon petunjuk kepandaian silat dari Sam Tjungtju!” serunya.

Di dalam hati Siauw Ling merasa gemas dan getir ia tidak menyangka orang-orang ini tidak menanyakan merah atau putih dengan bersikeras memaksa dirinya terus menerus perasaan hati yang semula tenang perlahan-lahan mulai dibakar dengan hawa amarah.

Karena dalam hati ada kesulitan. Pemuda ini sampai lupa menyalurkan hawa murninya mencegah menanti Sak Ho siang menantang ia bergebrak, Siauw Ling baru sadar kembali dari lamunan.

“Ayahmu mati ditangan siapa? apakah kau sudah melakukan penyelidikan yang jelas?” tegurnya dinging.

“Perkampungan Pek Hoa San cung apakah andalkan hal ini masih belum cukup?”

“Setelah saudara mengetahui perbuatan ini adalah hasil kerja orang-orang perkampungan Pek Hoa San cung kenapa kau tidak langsung pergi kunjungi perkampungan tersebut?”

“Dendam sakit hati dalam bagaikan samudra mati hidup tidak perlu kuatirkan. Jangan dikata hanya sebuah perkampungan Pek Hoa San cung belaka sekalipun sarang Naga gua harimau aku seorang she Sak juga tidak pikirkan dalam hati hanya saja selama ini cayhe belum berhasil mendapatkan bukti yang nyata karena itu kami tak berani bertindak gegabah sehingga dijadikan bahan tertawaan orang dikemudian hari. Ini hari surat wasiat ayahku telah ditemukan dan peristiwa ini benar-benar bisa melukai orang tuaku atau bukan sebagai Sam Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung kau ikut bertanggung jawab atas kematian ayahku ini. Kedudukan seorang Cungcu dalam perkampungan Pek Hoa San cung sangat terhormat sekalipun kau tidak secara langsung terlibat dalam peristiwa ini. Bila mengatakan kejadian yang sebenarnya kaupun tidak tahu hal ini sungguh membuat orang kurang percaya.”

“Setelah cuwi tidak mempercayai pembelaan cayhe baiklah terpaksa kita harus tentukan mati hidup kita diatas kepandaian silat” seru Siauw Ling dingin.

Jelas ia mulai dibikin gusar oleh desakan-desakan pihak lawan.

“Cayhe memang sedang menanti petunjukmu.”

Bagaimanapun juga Siauw Ling adalah seorang pemuda yang masih berdarah panas ditambah lagi pundak kirinya terluka parah ia tidak bisa menyebarkan diri lagi.

Dengan cepat ia mengepos hawa murni mengelilingi seluruh badan lalu bentaknya keras, “Setelah cuwi sekalian mencap aku orang she Siauw sebagai seorang bajingan yang banyak melakukan kejahatan aku orang she Siauw pun terpaksa akan bunuh kalian beberapa orang untuk menambah pengetahuan kalian semua.”

“Silahkan Sam Cungcu cabut keluar senjata tajam” ujar Sak Hong Sian mempersilahkan.

Walaupun dia berada dalam kesedihan tetapi sikapnya masih bisa mepertahankan kegagahan seorang ciangbunjien sebuah perguruan besar.

“Cayhe akan menerima serangan dengan andalkan sepasang kepalan ini saja.”

Mendadak pemuda she Siauw ini merasa kepalanya pening hampir-hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak.

Kiranya karena terlalu banyak darah yang mengucur keluar ditambah dengan pikiran yang amat kacau gusar mendongkol membuat daya tahannya semakin berkurang.

“Jikalau Sam tjungju tidak ingin cabut keluar senjata tajammu terpaksa cayhe harus melakukan kesalahan.”

Pedangnya digetarkan keras dengan jurus Pek Hok Ti Ling atau bangun putih mengibaskan sayap membabat ke arah pinggang lawan.

Siauw Ling pun tidak mengalah lagi telapak tangannya diayun dengan jurus Thian Loei Sin Tji atau guntur langit membelah bumi menghantam pergelangan kanan Sak Hong sian yang mencekal pedang.

Kiranya ilmu telapak kilat berantai dari Lam Ih Kong ini walaupun mencari menang dengan andalkan kecepatan secara diam-diam mengandung pula keistimewaan dari ilmu telapak berbagai perguruan setipa jurus serangan yang dilancarkan keluar bersamaan menyerang terkandung pula gerakan untuk menghindarkan diri dari serangan musuh dari dua gerakan yang berlainan yang menggabungkan jadi satu jurus tidak aneh kalau setiap gerakan jauh lebih cepat satu tindak dari gerakan lawan.

Sekalipun barusan jurus serangan pedang Sak Hong Sian dilancarkan terlebih dahulu dan serangan pukulan Siauw Ling dilancarkan terakhir tetapi angin pukulan pemuda she Siauw ini sampai sasarannya terlebih dahulu hal ini memaksa Sak Hing sian terpaksa harus punahkan posisi menyerang jadi kedudukan bertahan.

Dalam hati Siauw Ling sendiripun tahu ia sudah kehilangan banyak darah bergebrak terlalu lama sangat tidak menguntungkan posisi apalagi para jago yang mengepung dirinya diempat penjuru tidak berjumpa dibawah belasan.

Jika ia mengulur waktu lagi maka dirinya akan mati konyol karena itu sembari mengerahkan tenaga sinkang untuk menghentikan aliran darah. Ia keluarkan ilmu telapak kilat berantai dengan gerakan cepat meneter pihak lawan.

Dalam sekejap mata sembilan jurus sudah meluncur keluar memenuhi seluruh angkasa.

Derakan pedang ditangan Sak Hong sian sudah kehilangan daya serangannya ia terdesak untuk memilih posisi bertahan untuk menyelamatkan diri.

Ilmu silat perguruan Thay Khek Bun aliran selatan justru keistimewaannya terletak pada tenaga yang lunak jurus serangannya telengas tapi tidak ganas dan paling lihay dalam hal pertahanan.

Tidak aneh kalau pemuda itu sama sekali tidak kelihata kalah sekalipun harus menerima sembilan buah serangan gencar Siauw Ling yang datanganya berantai.

Ilmu telapak berantai dari Lam Ih Kong adalah suatu ilmu silat yang mengandalkan kekerasan ditambah pula tenaga sinkang Siauw Ling luar biasa bila digunakan tenaganya mencapai delapan bagian maka tak usah diragukan lagi pihak lawan pasti roboh binasa.

Tapi sungguh sayang berhubung pertama terlalu banyak darah yang mengalir keluar sehingga menyebabkan tenaga sinkangnya terpukul hebat kedua ia harus menutup pernapasan guna mencegah mengalirnya darah lebih deras hal ini menyebabkan pemuda ini tak sanggup melancarkan serangan dengan separuh tenaga.

Setelah sembilan jurus lewat bukan saja musuh tangguh belum berhasil dikalahkan bahkan ia mulai merasa tenaganya tidak sanggup untuk mempertahankan diri lebih lama.

Terdengar Sak Hong Sian membentak keras mendadak pedxang ditangannya dari posisi bertahan kini mengubah diri dalam kedudukan menyerang.

Bila dipandang sepintas lalu kelihatan ilmu pedangnya tidak begitu gentar tapi serangan mengalir keluar tiada putusnya. Melayang dan menyambar susah diduga membabat menotok susah ditahan.

Inilah ilmu pedang Hwe Hong Tjap Pwee Kiam atau delapan belas jurus ilmu pedang angin berpusing dari perguruan Thay Khek Bun aliran selatan yang telah menjagoi Bulim. Sekalipun hanya terdiri dari delapan belas jurus belaka tapi setiap jurus masih mengandung tiga buah perubahan besar sehingga keseluruhannya memiliki lima puluh empat perubahan.

Lima puluh empat perubahan dengan gerakan kebalikan dan lima puluh empat dengan gerakan lurus jadi jumlah seluruhnya ada seratus delapan perubahan enam gerakan bergabung menjadi satu jurus hal ini menambah kekejian serta ketelengasan ilmu pedang itu.

Setelah Siauw Ling berhasil mempertahankan diri dari desakan ketiga jurus serangan pedang lawan ia mulai merasakan bahwa dirinya tak sanggup mempertahankan diri lebih lanjut pikirnya dihati, “Seharusnya sejak tadi aku patut menyadari bahwa setelah banyak darahku yang hilang tidak tepat apabila menghadapi muswuh dengan gunakan ilmu telapak ajaran Gi Hu apabila dalam keadaan seperti ini aku bisa mendapatkan sebilah pedang ditangan. Dengan andalkan ilmu pedang ajaran suhu kendati tak berhasil menangkan pihak lawan paling sedikit bisa mempertahankan diri dalam keadaan seimbang dengan ambil kesempatan itupun aku bisa autr pernapasan untuk memulihkan kembali tenaga sinkangku yang telah benyak berkurang. Setelah tenaga pulih barulah kuhadapi dirinya dengan serangan ilmu telapak berantai.”

Kiranya Tjung San Pek adalah seorang jago lihay yang memahami segala macam ilmu kepalan, ilmu telapak maupun ilmu pedang dari pelbagai perguruan maupun partai yang ada dikolong langit. Walaupun sewaktu ada dilembah Sam Sin Kok pemuda she Siauw pernah lama mengikuti dia belajar ilmu silat dalam waktu sesingkat itu Tjung San Pek tidak berhasil menurunkan seluruh jurus kepandaian silat yang diingat-ingatnya dalam hati terpaksa ia ajarkan serangkaian ilmu pedang yang subur dengan perubahan kepada diri pemuda ini kemudian menerangkan cara bagaimana menghadapi serangan lawan.

Jurus ilmu pedang yang diajarkan kepada Siauw Ling ini bukan lain adalah ilmu pedang maha sakti yang diciptakan olehnya sendiri setelah berada dalam lembah Sam Sin Kok tersebut.

Oleh karena itulah ilmu silat yang dimiliki Siauw Ling sangat aneh sekali ia tidak berhasil mengetahui rangkaian ilmu pedang macam apapun tapi setelah ilmu pedang pihak lawan mengeluarkan perubahan-perubahan yang paling lihay dalam benaknya segera timbullah suatu ingatan bagus dan menjadi paham kembali jurus apa yang harus ia gunakan untuk memecahkan serangan tersebut.

Lain halnya dengan ilmu pedang Hwee Hong Tjap pwee Kiem ini selama hidup Siauw Ling belum pernah mendengar maupun menemuinya oleh karena itu pada serangan puluhan jurus pertama ia belum dapat meraba jalannya jurus serangan lawan bahkan keadaannya terdesak dan selalu berada dalam keadaan bahaya.

Selagi ia merasa gelisah itulah mendadak terdengar Sak Hong Sian membentak, “Kena.”

Ujung pedang berkelebat lewat tahu-tahu serangan tersebut telah mengancam didepan dadanya.

Walaupun Siauw Ling dapat melihat datangnya serangan tersebut tapi ia tak sanggup menghindarkan diri terpaksa badannya berkelit kesebelah kiri.

Siapa nyana ujung pedang Sak Hong sian yang semula mengancam dada bagian depan mendadak menekan kebawah lalu berputar santar mengancam tubuh bagian sebelah kiri.

Inilah salah sebuah jurus terlihay dari ilmu pedang delapan belas jurus angin berpusing yang bernama Hwee Liuw Sian Tang atau pusaran mengiringi angin menumpas.

Sejak Siauw Ling menutupi seluruh jalan darah diatas lengan kirinya untuk mencegah lebih banyak darah yang mengalir keluar seluruh lengan kirinya sudah kehilangan kegesitan serta kelincahan.

Justru datang ancaman dari pedang San Hong Sian adalah lengan kirinya yang terluka dalam keadaan terburu-buru ia mengempos napas mundur ke belakang.

Tapi sayang tindakannya terlambat satu tindak tahu-tahu lengannya kembali tertusuk oleh ujung pedang lawan pakaian terobek darah bercucuran.

Sewaktu ujung pedang Sak Hong Sian berhasil menusuk lengan Siauw Ling dan para jago berseru kagum mendadak tampak pemuda she Siauw ini ayunkan tangan kanannya mengeluarkan ilmu sintilan Siauw Loo sin Tji yang maha dahsyat segulung angin desiran menembus angkasa langsung menghajar lengan kanan Sak Hong Sian.

Tubuh pemuda she Sak itu kontan terpukul sehingga mundur sempoyongan pedang ditangannya tahu-tahu mengendor dan jatuh ke atas tanah.

Setelah berturut-turut Siauw Ling menderita luka sebanyak dua kali kali ini harus pula menyalurkan hawa murninya untuk melancarkan ilmu sintilan.

Siauw Loo sin Tji guna melukai Sak Hong sian jalan darah yang semula tertutup terbuka kembali darah segar bagaikan sumber mata air mengucur keluar membasahi seluruh bajunya.

Kebanyakan para jago yang hadir disekeliling kalangan tidak mengenali ilmu sintil Siauw Loo sin Tji yang maha lihay itu melihat Siauw Ling setelah dua kali terluka cukup ayunkan tangan saja Sak Hong sian telah roboh rata-rata hatinya merasa tergetar keras wajah mereka berubah hebat menunjukkan rasa bergidik.

Dari antara gerombolan manusia dengan cepat muncul dua orang kakek tua berusia lima puluh tahunan yang seorang berjongkok untuk bimbing bangun Sak Hong sian sedang yang lain meloloskan pedang dari dalam sarung.

“Tiam Koen dari perguruan Thay Khek Bun aliran selatan mohon petunjuk dari Sam cungcu.”

Tidak menunggu jawaban dari Siauw Ling lagi ia segera pasang kuda-kuda siap melancarkan serangan.

Mendadak terdengar suara teguran yang nyaring dan merdu berkumandang datang memecahkan kesunyian.

“Justru karena hatinya ramah dan keliwat mulia berturut-turut ia rela menderita luka sebanyak dua kali kalian mengaku diri kalian sebagai seorang jago Bulim yang tersohor mengapa saat ini ia hendak menggunakan siasat roda kereta untuk menghadapi seorang yang telah terluka? terhitung enghiong macam apakah kalian? jikalau kalian benar-benar kepingin bergebrak marilah biar aku yang temani kalian beberapa jurus.”

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut seorang kacung buku berbaju hijau yang mencekal pedang telah menghadang dihadapan Siauw Ling.

Kacung buku itu bukan lain adapah penyaruan dari Kiem Lan.

Melihat munculnya seorang kacung buku menatang ia bergebrak Tiam Koen segera menarik kembali pedangnya seraya mundur selangkah ke belakang.

“Eeeei….kau seorang gadis atau seorang lelaki?” tegurnya cepat.

Kiranya Kiem Lan yang cemas karena melihat para jago Bulim itu hendak menggunakan sistim pertarungan bergilir untuk menghadapi Siauw Ling ia telah lupa menutupi suara kegadisannya.

Kiem Lan kelihatan rada tertegun tapi sebentar kemudian ia sudah berseru, “Perduli aku lelaki atau perempuan menangkan dulu Pookiam ditanganku kemudian baru bicara lagi.”

“Hmm aku rasa orang-orang perkampungan Pek Hoa San cung baik yang lelaki maupun yang perempuan sudah seharusnya mati semua.”

Pedangnya diangkat lantas mengirim sebuah tusukan kedepan.

Melihat datangnya serangan Kiem Lan tidak ingin terlalu banyak buang tenaga sinkang untuk menangkis datangnya sernagan lawan dengan keras lawan keras badannya miring kesamping untuk berkelit kemudian balas mengirim sebuah tusukan.

Setelah saling bergebrak masing-masing pihakpun segera mengeluarkan seluruh kepandaian silat yang dimilikinya untuk berusaha merubuhkan pihak lawan secepatnya.

Cahaya pedang berkelebat menyilaukan mata desiran angin tajam menghembus memenuhi angkasa setiap serangan baik dari Tiam Koen maupun dari Kiem Lan sama-sama ditujukan kebagian tubuh yang paling berbahaya dari pihak lawannya.

Ketika Siauw Ling dapat melihat permainan ilmu pedang si kakek tua itu luar biasa bagusnya dan jelas tidak berada dibawah kepandaian Sak Hong sian ia segera menyadari apabila Kiem Lan bukan tandingan orang itu ditambah lagi Giok Lan serta Tong Sam Kauw yang ada di dalam kereta telah dicekoki dengan pil beracun penyusut tulang kecuali tinggal mereka dan melarikan diri sendiri satu-satunya jalan baginya saat ini hanyalah memaksa mundur para jago Bulim.

Setelah ambil meputusan dihati, hawa amarahpun mulai memuncak. Sembari merobek ujung pakaian untuk membalut luka sendiri dia berpaling ke arah Ku Bok Thaysu ujarnya dingin, “Thaysu rasanya kau dapat melihat dengan mata sendiri apabila orang ini tidak suka mendengarkan uraianku juga tidak mau melepaskan diriku. Mereka ada maksud menghukum mati diriku cayhe sudah dua kali mengalah dua kali menderita luka pedang bilamana mereka mendesak lagi diriku keterlaluan jangan salahkan aku orang she Siauw segera akan membuka pantangan membunuh.”

“Omitohud! dendam dan napsu menimbulkan angkara murka harap sicu mau bersabar beberapa saat lagi. Menanti seorang lawan karib loolap telah tiba disini dengan adanya ornag itu yang munculkan diri napsu membunuh yang telah menyelimuti seluruh kalangan ini hari pasti segera bersapu bersih. Loolap jarang berkelana dalam dunia kangouw sedikit orang yang kukenal.”

“Walaupun aku mempunyai maksud untuk meleraipun rasanya tiada berkekuatan untuk melaksanakannya.”

“Jikalau thaysu mengerti tiada berkekuatan lebih baik jangan mengurusi persoalanku lagi.”

“Omitohud perjalanan seratus li sudah ditempuh sembilan puluh bagian setelah sicu bersabar beberapa saat kenapa tidak bersabar sejenak lagi?”

Sinar mata para jago yang ada disekeliling tempat itu bersama-sama dialihkan ke atas tubuh mereka berdua yang sedang kasak kusuk tiada hentinya jelas orang-orang yang ada dikalangan rata-rata tidak kenal Ku Bok Thaysu ini.

“Lepas tangan” mendadak terdengar Tiam Koen membentak keras.

Pedangnya dengan menggunakan gerakan melengket mengancam pergelangan kanan Kiem Lan.

Dalam keadaan bahaya dan kritis seperti itu Kiem Lan tetap tak mau lepaskan pedangnya sang telapak sebelah kiri mendadak mengirim sebuah babatan menghajar dada Tiam Koen sedang pergelangan tangan ditarik ke belakang kemudian menekan kebawah.

Walaupun perubahan yang dilakukan sangat cepat sayang dia tak sanggup meloloskan diri dari datangnya sambaran pedang Tiam Koen yang cepat laksana sambaran petir itu.

Dimana cahaya tajam berkelebat lewat. Butiran darah segar muncrat memenuhi angkasa lengan Kiem Lan yang putih dan halus tahu-tahu sudah membekas sebuah guratan darah yang panjangnya ada tiga coen.

Sambil gertak gigi menahan rasa sakit Kiem Lan getarkan lengannya balas melancarkan serangan drag segar bersamaan dengan berkelebatnya senjata muncrat satu tombak lebih jauhnya menodai pakaian yang dikenakan para jago disekeliling kalangan.

Setelah dapat beristirahat sebentar kekuatan badan Siauw Ling boleh dikata sudah pulih kembali kini melihat Kiem Lan terluka oleh serangan pedang lawan ia jadi amat gusar.

Diiringi suara bentakan keras tangannya kembali mengayun kedepan dengan gerakan ilmu menyentil Siauw Loo sin Tji.

Segulung suara desiran tajam segera menembusi angkasa menghantam kemuka.

Terdengar Tiam Koen mendengus berat tahu-tahu badannya roboh terjengkang ke atas tanah.

Setelah Siauw Ling berhasil menotok roboh Tiam Koen tubuhnya mendesak maju dua langkah kedepan sesampainya disisi Kiem Lan segera ujarnya dengan nada berat, “Berikan Pookiam itu kepadaku simpan pti dan jalankan kereta melanjutkan perjalanan.”

“Tapi luka dari samya.”

“Tidak terlalu mengganggu….”

Tangannya dengan cepat merebut Pookiam yang ada ditangan Kiem Lan kemudian digetarkan membentuk selapis cahaya tajam menghadang jalan maju para jago yang sedang mendesak kedepan.

Sambil menahan rasa sakit dilengan Kiem Lan putar badan dibawah perlindungan cahaya pedang Siauw Ling yang kuat dan kokoh ia tutup kembali peti kayu yang menggeletak ditanah kemudian meloncat naik ke dalam kereta mencekal tali les dan larikan kendaraan tersebut kedepan.

Gerakan pedang Siauw Ling segera berubah berturut-turut ia melukai dua orang lelaki kekar yang berdiri disisinya.

“Siapa yang berani menghadang diriku mati” bentaknya keras.

Sembari mengepos seluruh tenaga sinkang yang dimilikinya pedang tersebut diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan selapis cahaya tajam bagaikan curahan hujan deras.

Dalam sekejap mata seorang lelaki kekar kembali kena terbabat luka.

Melihat kelihayan serta kehebatan Siauw Ling para jago mulai keder dan bergidik siapapun tidak berani maju lebih kedepan.

Menggunakan kesempatan sewaktu para jago rada merandek itulah Siauw Ling menerjang masuk ke dalam gerombolan para jago ditengah perputaran cahaya pedang yang tajam sekali lagi ia melukai dua orang.

Kiem Lan yang menjalankan keretanya menguntit dibelakang Siauw Ling dibawah perlindungan pemuda ini dengan cepat melarikan kereta tersebut menerjang keluar dari kepungan.

Sejak Siauw Ling mengeluarkan tenaga saktinya hati para jago mulai dibikin keder setelah berhasil meloloskan diri dari kepungan ia berlarian sejauh empat lima li kemudian baru berhenti.

Ia berpaling memandang sekejap wajah Kiem Lan bibirnya bergerak seperti sedang mengucapkan sesuatu tapi belum sempat ucapannya meluncur keluar ia telah roboh ke atas tanah.

Ternyata dalam keadaan luka parah ia tak sempat menyembuhkan luka tersebut ditambah pula harus mengumpulkan tenaga sinkangnya untuk turun tangan mulut luka segera memecah kembali.

Setelah berlarian beberapa saat darah yang mengucur keluar semakin banyak dan susah untuk mengumpulkan tenaga kembali.

Menanti ia berpaling melihat Kiem Lan tidak kekurangan sesuatu apapun. Hatinya jadi lega karena hawa murni buyar iapun roboh terjengkang ke atas tanah.

Melihat pemuda itu roboh Kiem Lan berseru kaget segera ia meloncat turun dari kereta untuk bimbing bangun diri Siauw Ling teriaknya berulang kali, “Samya, Samya….”

Sembari berseru ia mendorong badan Siauw Ling berulang kali.

Lama sekali baru kelihatan pemuda tersebut membuka mata sinar matanya sayu tak bersinar dengan nada yang lemah katanya, “Kiem Lan jangan takut aku tak akan mati cepat bimbing aku naik ke dalam kereta dan segera berangkat.”

Agaknya beberapa patah kata ini diutarakan dengan kumpulkan seluruh tenaga yang dimilikinya begitu selesai berbicara ia pejamkan matanya kembali.

Sembari gertak gigi menahan rasa sakit dilengan Kiem Lan bimbing Siauw Ling masuk ke dalam kereta.

Tapi belum sempat ia melangkah naik mendadak terdengar suara teguran seseorang yang amat dingin berkumandang datang.

“Beratkah lukanya?”

Suara ini tidak keras, tapi bagi pendengaran Kiem Lan bagaikan suara guntur yang membelah bumi disiang hari bolong. Seluruh tubuhnya gemetar keras dan Siauw Ling yang dibopongpun jatuh kembali ke atas tanah.

Tampak sebuah tangan yang putih bersih mendadak lewat mencengkeram tubuh Siauw Ling yang hendak terjatuh ketanah kemudian perlahan-lahan dibaringkan.

Dengan sepasang mata penuh air mata buru-buru Kiem Lan jatuhkan diri berlutut diatas tanah.

“Budak tidak tahu akan kehadiran Toa Tjungtju sehingga tak dapat menyambut dari kejauhan mohon Tjungjtu suka mengampuni kesalahanku ini.”

Sejak gadis ini mendengar suara tersebut ia tidak berani mendongak untuk memandang orang ini tapi suara ini sangat dikenalnya karena tak usah lagi ia sudah tahu siapakah yang telah datang.

Terdengar suara hambar dingin dan serak kembali memenuhi angkasa.

“Kau boleh berdiri hmm kau anggap kedatangan serta kepergianku bisa kau ketahui dengan gampang.”

Perlahan-lahan Kiem Lan mendongak tampak olehnya dengan tubuh itu Djen Bok Hong yang bongkok tahu-tahu sudah berdiri beberapa depa dihadapannya. Sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat dan ujung bibirnya tersungging suatu senyuman tawar.

Mendadak.

Suara derapan kaki kuda diiringi ringkikan panjang berkumandang datang beberapa ekor kuda jempolan dengan menimbulkan debu yang tebal laksana kilat meluncur datang.

Buru-buru Djen Bok Hong angkat tangannya melemparkan badan Siauw Ling ke dalam kereta kemudian serunya: 

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 03"

Post a Comment