Bayangan Berdarah Jilid 01

Mode Malam
JILID 1

Giok Lan yang diancam agaknya merasa sangat terperanjat, lama sekali ia baru memohon dengan nada yang halus:

“Hudjien harap kau memberi belas kasihan kepadaku. Budak sedikitpun tidak berani menunjukkan niat yang jelek terhadap diri Sam ya.”

“Hmmm! kau tak usah memohon kepadaku” potong Kiem Hoa Hudjien dengan nada yang dingin. Selamanya aku bisa bicara bisa melakukan setiap ucapan yang telah diutarakan tak pernah plin plan besok akan kubicarakan soal ini dengan Toa Tjungtju kalian.”

Giok Lan agaknya mengerti memohon lebih jauhpun percuma dengan menahan perasaan hatinya ia membungkam.

Ketika itu Tok So Yok Ong sudah menghentikan pekerjaannya mengisap darah ia lepaskan pipa besi yang menghubungkan lengan Siauw Ling dengan darah itu lalu bangun berdiri dan berdiri dibelakang. pintu pisau belati dicekal ditangan kiri siap melancarkan serangan.

Di dalam hatinya ia sudah ambil keputusan asalkan ada orang yang mendorong pintu dan berjalan masuk maka ia akan menggunakan cara yang tercepat untuk melakukan serangan bokongan.

Dengan kelihayan kepandaian silat yang dimiliki Tok So Yok Ong rasanya jikalau sampai melancarkan serangan bokongan maka serangan tersebut tentu luar biasa dahsyatnya kendati seorang jago kelas wahidpun susah menjaga diri dan sedikit-sedikitnya terluka parah ataupun binasa.

Terdengar Kiem Hoa Hujien yang berada diluar ruangan berkata kembali, “Dalam kuil kuno yang bobrok ini kecuali terdapat dua buah peti mati kosong bayangan setanpun tidak kelihatan aku rasa ia tak mungkin lari kesini mari kita cari ketempat lain saja.”

Suara itu makin lama makin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.

Jelas Kiem Hoa Hujien dengan membawa Giok Lan telah jauh meninggalkan tempat itu.

Melihat harapannya kembali musnah Siauw Ling menghela napas panjang pikirnya, “Aaaaai….mereka cari aku dimana-mana tidak ketemu siapa tahu justru aku berada di dalam kamar tepat disisi mereka mungkinkah memang nasibku sangat pendek?”

Tok So Yok Ong sendiri ketika mendengar perempuan-perempuan itu sudah berlalu perlahan-lahan ia balik ketempat semula, seraya memelototi pemuda she Siauw tajam-tajam ujarnya dingin, “Bocah apakah kedua orang perempuan itu sedang mencari dirimu?”

Tetapi ia tidak memberi kesempatan bagi Siauw Ling untuk berbicara mendadak pipa besi itu laksana kilat telah ditusuk lagi ke dalam nadi Siauw Ling mungkin ia teringat apabila jalan darah pemuda itu

sudah ditolok sehingga bicara banyak dengan pemuda itupun tak ada gunanya.

Dari luar kamar kembali terdengar suara langkah kaki yang ramai dan kacau paling sedikit ditempat itu sudah kedatangan lebih dari dua orang jago.

Mendengar munculnya kembali suara langkah manusia Siauw Ling segera mengharapkan orang itu adalah Tiong Cho siang ku yang telah pergi dan kini balik kembali, mungkin mereka berdua berhasil memperoleh kabar apabila dirinya tak berada di dalam perkampungan Pek Hoa San cung dan sekali lagi balik kekuil kuno ini untuk melakukan pencarian.

Dengan pusatkan semua perhatian ia coba mendengar keluar ia menghadapkan dari suara pembicaraan orang-orang itu dapat membedakan siapakah mereka itu.

Tetapi akhirnya ia kecewa karena orang-orang itu tanpa mengucapkan sepatah katapun telah berlalu langkah kaki manusia itu makin lama makin menjauh.

Tok So Yok Ong agak ragu-ragu sejenak mendadak ia tusukan pipa besi yang lain ketubuh dara cantik itu kemudian meloncat keluar dari jendela.

Jelas ia tak sabaran untuk menunggu lebih jauh ia siap memancing pergi orang-orang itu atau sekalian membinasakannya sehingga pekerjaan ganti darah bisa cepat selesai.

Sejak pipa besi yang berjuang lain ditusukan ke dalam tubuh dara, Siauw Ling merasa darah dalam tubuhnya perlahan-lahan mulai mengalir keluar lagi bayangan maut mulai bermunculan di dalam benaknya.

“Aduh celaka!” serunya di dalam hati. “Jika begitu terus maka darahku akan habis dan akupun bakal mati konyol.”

Teringat orang tuanya yang masih hidup bakal berpisah dengan terpaut dunia yang lain teringat Gak Siauw Tjha yang tidak pernah dijumpai sejak lima tahun berselang entah masih hidupkah gadis itu. Mulai kini tak bakal berjumpa lagi dengan dirinya….

Ditengah kekecewaan serta kecemasan mendadak terdengar suara helaan napas panjang kiranya dara yang berbaring disisinya telah bangun terduduk. Seluruh tubuh Siauw Ling tergetar keras pikirannya seketika itu juga tersadar kembali.

Dengan gunakan sepenuh tenaga ia berpaling

dan memandang sekejap ke arah gadis itu hanya mulutnya tetap terkunci rapat-rapat tak sepatah katapun dapat diucapkan.

Agaknya gadis itu sendiripun telah menemukan adanya Siauw Ling berbaring dan bertanya dengan suara halus, “Siapakah kau? dimanakah ayahku?”

Beberapa parah kata itu dapat didengar Siauw Ling dengan sangat jelas tapi tak mungkin baginya untuk memberi jawaban.

Terpaksa pipa besi yang menancap ditangan kirinya mendadak dicabut orang kemudian terdengar suara helaan napas yang amat lemah berkumandang memecahkan kesunyian.

“Aaaai…. kembali Tia mencelakai orang sekalipun ia benar-benar bisa menolong diriku tetapi harus mencelakai pula jiwa orang lain dibayar dengan satu nyawa apa gunanya.”

Dari tengah kegelapan Siauw Ling dapat melihat wajah gadis itu pucat pasi bagaikan mayat tangannya yang kurus tinggal kulit pembungkus tulang perlahan-lahan menekan ubun-ubun sendiri kemudian ujarnya kembali dengan suara lirih, “Aku harus minta maaf kepadamu karena tindakan ayahku yang kasar. Tia mengira ilmu pertabibannya sangat lihay setiap hari mencari seorang yang bertulang bagus untuk ditukar dengan darah jelek dalam badanku walaupun aku tidak setuju dengan cara perbuatannya ini, karena sering kali aku jatuh tidak sadarkan diri selama beberapa hari….”

Ia merandek sejenak. Kemudian tanyanya dengan nada penuh keheranan, “Heeei, kenapa kau tidak berbicara?”

“Sudah tentu aku tidak bisa bicara!” batin Siauw Ling di dalam hati kecilnya. “Sekalipun banyak ucapan yang hendak kuutarakan juga percuma saja!”

“Oooouw! sekarang aku tahu sudah! tentu jalan darahmu sudah tertotok oleh ayahku bukan?”

“Betul!” kembali Siauw Ling berseru dalam hatinya. “Setelah mengetahui hal ini maka ia membebaskan jalan darahku!”

Terdengar gadis itu melanjutkan kembali kata-katanya, “Sungguh minta maaf! aku tidak dapat membebaskan jalan darahmu yang tertotok! terpaksa kita harus menanti hingga ayahku kembali kemudian baru kuminta bantuannya membebaskan dirimu sekarang aku hanya bisa bantu membalutkan mulut lukamu saja!”

Siauw Ling hanya merasakan lengan kirinya seperti dibalut dengan sesuatu benda tetapi kekuatannya sangat lemah sehingga hampir-hampir tidak merasa sama sekali tak terasa pikirnya dihati, “Gadis ini sungguh lemah sehingga mencekal barangpun tidak kusangka seorang ayah yang ganas, keji serta telengas bisa memiliki seorang putri yang begitu halus, ramah dan berhati mulia. Kenapa Thian harus memberikan keadaan yang begitu tidak mujur kepadanya?”

Mendadak ia teringat kembali akan dirinya yang pernah menderita penyakit aneh dimana semua urat nadinya buntu dan tersumbat sama sekali. Berbagai pengobatan susah menyembuhkan dan keadaannya tentu diakhiri dengan suatu kematian.

Dan akhirnya bukan saja urat-urat nadi yang tersumbat, bahkan berhasil pula mempelajari serangkaian ilmu silat yang sangat lihay.

Sebaliknya gadis ini sudah menderita penyakit ini selama banyak tahun belum juga mati. Ini menunjukkan apabila penyakitnya bukan termasuk penyakit yang sangat berbahaya. Di kolong langit mungkin masih ada obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya.

Sewaktu otaknya sedang berputar keras mendadak muncul sesosok bayangan manusia di dalam ruangan itu. Tahu-tahu Tok So Yok Ong telah muncul disana.

Sepasang matanya yang tajam dan menggidikkan menyapu sekejap wajah Siauw Ling serta gadis tersebut kemudian ia dekapan kakinya ke atas tanah dan menghela napas panjang.

“Bocah kapan kau bangun kembali?”

“Sudah lama aku sadar kembali, bahkan telah membalutkan pula mulut lukanya. Tia cepat kau bebaskan jalan darahnya yang tertotok.”

Mendengar permintaan putri kesayangannya sekali lagi Tok So Yok Ong menghela napas panjang.

“Aaaaai….perhitungan manusia tak dapat melampaui perhitungan Thian. Bocah apakah kau benar-benar harus menderita siksaan serta penderitaan dari penyakit berbahayamu itu?”

Tangannya cepat menyambar membebaskan diri Siauw Ling dari pengaruh totokan jalan darah bisu.

Siauw Ling menghembuskan napas panjang menyegarkan kembali dadanya yang penuh dengan kemangkelan ujarnya, “Penyakit putrimu dapat dipertahankan sampai bertahun-tahun lamanya, ini membuktikan apabila penyakitnya tak bisa disembuhkan lagi.”

“Itulah disebabkan ilmu pertabiban Loohu sangat lihay sehingga bisa mempertahankan jiwanya selama beberapa tahun tak buyar.”

“Kolong langit bukan seluas daun kelor aku tidak percaya penyakit putrimu sungguh-sungguh, tak dapat ditolong lagi walaupun kau berjualan sebagai raja obat menurut pikiranku belum semua obat yang ada dikolong langit sudah kau kenali.”

“Bocah, kau harus tahu jikalau Loohu sendiri dan tak sanggup untuk menyembuhkan penyakitnya. Aku rasa dikolong langit tak akan manusia kedua yang bisa sembuhkan penyakitnya itu!”

Tiba-tiba terdengar gadis itu menimbrung dari samping. “Diatas tubuhnya masih ada beberapa buah jalan darah yang belum dibebaskan. Mengapa tidak kau bebaskan dulu kemudian baru diajak berbicara!”

“Bocah! tahukah kau bahwa kepandaian silat yang dimilikinya.”

Mendadak ia menghentikan ucapannya sampai separuh jalan telapak tangan laksana kilat berkelebat lewat membebaskan Siauw Ling dari pengaruh kelima buah jalan darahnya.

“Kenapa dia?” seru gadis tersebut.

Belum sempat si orang berbaju hitam menyahut Siauw Ling telah meloncat duduk.

Tok So Yok Ong pun mendadak meloncat kedepan seraya berkata, “Tubuh Siauw li sangat lemah urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dia orang mari kita bertanding ditempat luaran saja. Jangan kau lukai dirinya.”

Diam-diam Siauw Ling salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan. Setelah dirasakan aliran darahnya lancar ia tertawa hambar.

“Apa yang kau cemaskan? cayhe tak ingin berkelahi dengan dirimu. Apa maksudmu mendesak aku terus menerus.”

“Bilamana dua ekor harimau berkelahi salah satu tentu terluka” seru gadis tersebut mendadak sambil berpaling. “Walaupun ayahku ada maksud untuk mencelakai dirimu tetapi kesemuanya ini demi aku jikalau badanku sehat walafiat sudah tentu ia tak akan menangkap dirimu untuk ditukar darahnya dengan darahku. Bila kau benci dengan ayahku balaskan dahulu diatas badanku. Aaaai, apalagi kepandaian silat yang dimiliki ayahku sangat dahsyat belum tentu kau berhasil mengalahkan dirinya.”

Siauw Ling mencabut keluar jarum perak yang menancap diatas jalan darah Thian Tu Hiat nya kemudian perlahan-lahan bangkit berdiri.

“Manusia seganas dan sekeji kau tidak kusangka mempunyai seorang putri yang berhati welas asih dan mulia. Aaaai, diantara kalian berdua ayah beranak yang satu busuk yang lain mulia keadaan kalian benar-benar berbeda bagaikan langit dan bumi.”

“Kau berani menasehati loohu?” teriak Tok So Yok Ong sangat gusar sekali.

Tangan kanannya diayun, dengan jari tangan ia melancarkan sebuah totokan kilat.

Dengan sebal Siauw Ling berkelit kesamping kemudian mengundurkan diri dua langkah ke belakang.

“Bocah keparat kalau berani ayo kita adu kekuatan diluar kamar jika kau bisa.”

Mendadak Tok So Yok Ong mundur ke belakang dengan kekuatan, dengan nada yang jauh lebih ramah ujarnya lagi, “Jangan melukai putriku selama hidup belum pernah ia melakukan perbuatan jahat.”

Kiranya setelah Siauw Ling mundur dua langkah ke belakang tepat ia sudah berdiri disisi gadis tersebut. Asalkan ia menginjakkan kakinya keras-keras ke lantai maka dada gadis tersebut tentu akan hancur berantakan.

Ketika melancarkan serangan dalam keadaan gusar tadi Tok So Yok Ong sama sekali melupakan apabila jarak antara putrinya dengan pihak musuh hanya terpaut dua langkah saja.

Menanti dia tersadar kembali buru-buru badannya mundur ke belakang dan coba menggunakan kata-kata untuk menghalangi pemuda she Siauw melukai putrinya karena itu ia tantang sang pemuda untuk keluar dari ruangan.

Siapa nyana Siauw Ling sama sekali tak terpancing oleh ucapannya malah perlahan-lahan ia berjongkok ke atas tanah.

Dengan kejadian ini Tok So Yok Ong makin terperanjat lagi sehingga terasa sukmanya mau melayang dari badan ucapan yang semula hendak memanasi hati lawan kini berganti untuk memohon.

Siauw Ling mendongak dengan sepasang mata memancarkan cahaya tajam dipelototinya wajah si orang berbaju hitam itu kemudian tertawa dingin tiada hentinya.

“Hey orang tua ketahuilah bila kuingini jiwanya maka dalam sekali hantaman saja nyawanya bisa kucabut.”

Tok So Yok Ong semakin cemas lagi mendengar ancaman tersebut.

“Jangan lukai dirinya. Siauw li berbadan lemah tak bertenaga cukup kau bentur sedikit dirinya saja maka jiwanya mungkin bisa melayang.”

“Yok Ong asalkan kau bisa menggunakan separuh saja rasa cinta kasihmu terhadap putrimu untuk diberikan kepada umat manusia lainnya aku tanggung nama busukmu Tok So Yok Ong segera akan berubah jadi Sin So Yok Ong atau si raja obat bertangan sakti.”

“Jangan ganggu putriku jangan ganggu putriku” terdengar Tok So Yok Ong masih ribut dengan hati cemas ada urusan kita bisa rundingkan baik-baik asalkan loohu bisa melakukan apapun aka kusetujui.”

Sekali lagi Siauw Ling menunduk untuk melihat wajah gadis itu tampak olehnya dara tersebut telah pejamkan matanya rapat-rapat napasnya teratur jelas sudah tidur dengan pulasnya tak terasa ia jadi tertegun pikirnya dihati, “Tidurnya kenapa begitu cepat? barusan saja ia masih ajak aku bicara kenapa dalam sekejap mata sudah tidur pulas?”

Mendadak cahaya api berkelebat lewat Tok So Yok Ong telah memasang obor yang diangkatnya tinggi-tinggi ke atas kemudian perlahan-lahan berjalan mendekat wajahnya penuh diliputi rasa kaget dan gusar.

“Asalkan kau berani mengganggu putriku sehingga ia mati” terdengar si orang berbaju hitam itu bergumam seorang diri. “Maka aku akan membinasakan seribu sampai sepuluh laksa orang gadis cantik sebagai gantinya.”

“Eeeei, apa maksudmu membinasakan gadis-gadis yang tak berdosa itu?” seru Siauw Ling tertegun semisalnya putrimu mati ditanganku seharusnya sang pembunuh adalah aku dan patutlah misalnya kau membalas dendam kepadaku.”

“Hmm, aku akan membunuh sepuluh laksa gadis cantik untuk mengawani dia berangkat keakhirat sehingga ditengah perjalanan yang jauh ia tidak sampai menderita siksaan, tidak sendirian dan tak ada orang yang menemani dia bermain. Setelah itu aku akan membunuh kau untuk membalaskan sakit hatinya dan terakhir akan kuracuni seluruh jago yang pandai silat dikolong langit.”

Seluruh tubuh Siauw Ling tergetar keras sehabis mendengar ancaman yang diutarakan orang itu pikirnya dihati, “Orang ini sungguh keji dan buas sekali, cinta kasihnya terhadap putrinyapun sangat berlebih-lebihan. Aku rasa semisalnya dia kehilangan putri kesayangannya mungkin ancaman itu benar-benar akan dilakukan….”

“Kau tidak melukai dirinya bukan?” tampak Tok So Yok Ong menunduk untuk pandang sekejap wajah gadis itu.

“Sekalipun cayhe tidak becus. Aku masih belum begitu bejat untuk mencelakai seorang gadis yang sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan apalagi ia mempunyai budi menolong jiwa.”

“Tidak salah” sambung si raja obat bertangan keji cepat-cepat. “Jikalau bukan siauw li yang memberi nasehat, tentu nyawamu sudah lenyap.”

Ketika dilihatnya gadis itu sama sekali tidak terluka hatipun jauh lebih tenang perlahan-lahan si orang berbaju hitam itu menghela napas panjang.

“Sungguh kasihan Siauw li harus menolong jiwamu malah sebaliknya mencelakai dirinya sendiri. Kembali ia akan tersiksa di dalam penderitaan akibat penyakitnya.”

“Ayo keluar” mendadak Siauw Ling bangun berdiri. “Kita ketanah lapang sebelah muka.”

“Mau apa?”

“Aku harus baik-baik memberi pelajaran kepadamu.”

Mendengar ucapan itu Tok So Yok Ong meloncat bangun siap mengumbar hawa amarahnya tetapi berhasil menahan sabar, ujarnya lirih, “Sekalipun kepandaian silat yang kau miliki tidak lemah bukan tandingan Loohu.”

Sebenarnya ia ingin memaki dan mendamprat Siauw Ling dengan beberapa patah kata tetapi melihat pemuda itu masih berdiri di sisi putrinya dan dalam sekali gerakan tangan saja kemungkinan besar putrinya akan terluka dengan paksakan diri ditahannya rasa gusar yang berkobar dalam dadanya itu.

Melihat orang itu ragu-ragu justru karena dia berada disisi putrinya mendadak dengan langkah lebar Siauw Ling berlalu beberapa langkah kedepan.

“Aku rasa bila diriku tidak jauh meninggalkan putrimu kau tak berani berbuat apa-apa terhadap diriku. Nah sekarang seharusnya kau tak usah kuatirkan aku hendak mencelakai putrimu pagi bukan.”

Dengan pandangan tajam Tok So Yok Ong memperhatikan sekejap wajahnya kemudian mengangguk berulang kali.

“Usiamu masih sangat muda tapi semangat jantanmu luar biasa loohu tidak ingin mencari banyak urusan lagi dengan dirimu sekarang kau boleh berlalu.”

“Eeeei. Hal ini mana bisa jadi, kau menotok jalan darahku, melepaskan darah dari badanku apakah demikian saja urusan bisa dianggap beres? jika tidak kuberi sedikit peringatan kepadamu kau masih anggap aku jeri.”

“Jadi kau sungguh-sungguh ingin menantang Loohu untuk bergebrak” seru Tok So Yok Ong dingin.

Siauw Ling berpikir sebentar akhirnya dia menggeleng.

“Sudahlah kau melepaskan darah dibadanku sehingga hampir aku mati tetapi putrimu telah menolong jiwaku, hutang piutang ini kita beresi sampai disini saja.”

Ia mendorong pintu dan melangkah keluar dengan langkah lebar.

Tok So Yok Ong tidak menghalangi lagi perjalanan pemuda ini dengan termangu-mangu ia memandang banyangan punggung Siauw Ling hingga lenyap dibalik pintu luar.

Sekeluarnya dari ruangan itu Siauw Ling menghembuskan napas panjang. Ia mengitari ruangan yang terletak dua buah peti mati itu.

Terlihat olehnya penutup peti mati sudah terbuka isi peti itupun kosong melompong tak kelihatan sesuatu apapun tak terasa pikirnya dalam hati, “Tiong Cho Siang Ku menyimpan surat rahasia di dalam peti mati itu sudah tentu mereka menutupnya kembali peti tersebut baik-baik tapi kini penutup peti mati telah terbuka jelas suratpun telah diambil oleh mereka. Mungkin sekali telah terjatuh ke tangan Kiem Hoa Hujien serta Giok Lan berdua yang baru saja datang.”

Teringat akan surat yang ditinggalkan di dalam peti itu mendadak hatinya tergetar sangat keras batinnya lebih jauh, “Untuk menyelidiki rahasiaku Tiong Cho Siang Ku telah menyelundup masuk ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung. Teringat akan penjagaan yang begitu kuat sekalipun silat yang dimiliki Tiong Cho Siang ku sangat lihaypun rasanya tidak gampang untuk mengundurkan diri dari perkampungan Pek Hoa San cung dalam keadaan selamat….”

Pikirannya dengan cepat berputar mendadak ia meloncat keluar dari ruang itu kemudian mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya lari balik ke arah perkampungan.

Menanti tubuhnya hampir mendekati perkampungan Pek Hoa San cung, Siauw Ling secara mendadak baru teringat kembali apabila dirinya adalah seorang Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San cung sekalipun Tiong Cho Siang Ku menemui mara bahaya bagaimanapun juga ia tidak leluasa untuk turun tangan memberi pertolongan. Maksud pemuda ini ia akan menyaru dengan wajah yang lain.

Baru saja ingatan berkelebat di dalam benaknya mendadak terlihat Tjioe Tjau Liong berjalan menghampiri dengan langkah lambat-lambat.

“Samte selama ini kau telah pergi kemana?” tegurnya cepat,

“Aaaaai! peristiwa ini susah diceritakan dengan sepatah dua patah kata saja” seru Siauw Ling setelah menenangkan pikirannya yang sangat kacau. “Hampir-hampir saja seluruh darah dalam tubuh Siauwte telah dihisap orang sampai habis.”

Wajah Tjioe Tjau Liong semula diliputi keseriusan serta dingin sehabis mendengar ucapan tersebut kontan kelihatan tercengang.

“Ooouw….sudah terjadi peristiwa ini? siapa orang yang begitu bernyali?”

Siauw Ling tidak langsung memberi jawaban setelah melihat perubahan wajah sang Djie tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San cung ini, pikirnya dihati, “Aku tak boleh menceritakan kisah yang sesungguhnya kepada orang lain. Aku harus mengarangkan ceritera bohong buatnya.”

Sebetulnya Siauw Ling bukan manusia yang berhati licik ataupun seorang yang cerdik menggunakan akal busuk. Tetapi semenjak mendengar ucapan Kiem Hoa Hujien rasa waspadanya mulai dipertingkatkan. Apalagi sejak kejadian Djen Bok Hong menipu lukisan Giok Siancunya hanya dengan beberapa patah yang sangat biasa saja. Hal ini makin memperingatkan dirinya akan keadaan yang sangat berbahaya.

Ditambah pula sewaktu berada dalam kuil kuno tadi ia mendengar pembicaraan Tiong Cho Siang Ku berdua beberapa bukti ini makin memberi kepadanya apabila ia sudah terperosok masuk ke dalam lembah kehinaan.

Agaknya sebelum Djen Bok Hong mengundurkan diri dari peredaran Bulim dia adalah seorang jago kalangan Hek to yang sangat lihay dan agaknya diantara dia dengan partai-partai kalangan lurus memiliki dendam sakit hati yang sangat mendalam akhirnya setelah ia terluka parah ia menetap di dalam perkampungan Pek Hoa San cung.

Diluaran ia hanya menetap disana, karena telah mengundurkan diri dari dunia persilatan padahal yang benar ia sedang menyusun suatu kekuatan untuk merajai Bulim terutama sekali anak buahnya yang telah disebar dan diselundupkan ke dalam perguruan-perguruan besar lainnya serta persengkokolannya dengan beberapa pentolan iblis sakti hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sangat menggemparkan Bulim.

Terdengar Tjioe Tjau Liong dengan nada keheranan bertanya kembali, “Sam te! kau sudah berjumpa dengan siapa! kenapa ia hendak melepaskan darah dibadanmu sampai habis?”

Siauw Ling tersadar kembali dari lamunannya dengan hati terperanjat buru-buru sahutnya penuh kecemasan, “Orang itu bernama Tok So Yok Ong. Karena sedikit siauwte berlaku ceroboh jalan darahku kena ditotok kemudian ia hisap darah dibadanku untuk menolong jiwa putrinya.”

Belum sempat ia menyusun suatu kisah bohong pertanyaan Tjioe Tjau Liong sudah mendesak datang bertubi-tubi dalam keadaan gelisah terpaksa ia ngaku terus terang apa adanya kejadian yang telah berlangsung.

“Tok So Yok Ong adalah seorang tabib yang sakti dari dunia kangouw” terdengar Tjioe Tjau Liong berseru. “Agaknya orang ini ada hubungan yang sangat erat dengan toako mungkin setelah itu tahu kedudukanmu maka dirimu lantas dilepaskan kembali?”

“Bukan aku ditolong oleh putrinya.”

Mula-mula Tjioe Tjau Liong tersenyum, kemudian dengan wajah keren dan alis berkerut tanyanya kembali, “Sekarang dimanakah orang itu?”

Dalam hati Siauw Ling tahu berbohongpun tak ada gunannya maka dari itu terpaksa jawabnya, “Dia berada disebuah kuil besar yang telah bobrok diarah sebelah utara.”

“Nah itulah dia maka toako menguatirkan keselamatanmu ia sudah mengirim dua belas rombongan jago untuk mencari jejakmu. Sekarang ia menanti beritamu diatas loteng Wang Hoa Loo, mari kita pergi menjumpai dirinya.”

“Siauwtepun pikir seharusnya aku pergi mohon ampun dari toako!” pemuda itu mengangguk.

“Watak toako selalu keren berwibawa dan tak seorangpun dari anggota perkampungan kita yang tidak menghormati dirinya, tetapi terhadap dirimu ia begitu sayang dan setiap perbuatannya melanggar kebiasaan, bukannya aku sebagai kakakmu hendak menegur dirimu ada baiknya lain kali kau sedikit berhati-hati dan mawas diri!”

Pada hari-hari biasa orang ini selalu bersikap ramah terhadap diri Siauw Ling tetapi kini mendadak dengan wajah keren telah menegur dan menasehati pemuda tersebut.

Bilamana Siauw Ling belum mengetahui keadaan sebenarnya dari perkampungan Pek Hoa San cung serta tidak mengetahui keadaan dirinya yang sangat berbahaya mungkin setelah mendengar teguran itu ia sudah membantah tetapi saat ini ia cuma tertawa hambar.

“Setelah berjumpa dengan Toa tjungtju, Siauwte tentu akan mohon maaf dihadapannya.”

Perlahan-lahan Tjioe Tjau Liong mendehem perlahan.

“Aaaaiii! keadaan Bulim sangat berbahaya ada kalanya mengandalkan kepandaian silat sajapun percuma saja kau belum pernah berkelana belum mempunyai pula pengalaman yang luas sudah tentu sulit untuk menghadapi manusia-manusia berhati picik dan licik. Lebih baik lain kali jangan sembarangan berjalan seorang diri ditempat luaran.”

Siauw Ling kontan santrap marah sehabis mendengarkan ucapan tersebut. Hawa amarah berkobar di dalam dadanya susah tertahan.

“Teguran Djie Cungcu sedikitpun tidak salah tetapi tujuan siauwte turun gunung sebenarnya adalah ingin pulang untuk menjenguk orang tuaku. Siapa sangka tanpa sengaja sudah berjumpa dengan Tjioe heng kemudian setelah mengalami kejadian yang berliku-liku angkat saudara pula dengan Toa cungcu tapi kau harus tahu pakaian yang indah serta makanan yang lezat tidak dapat menahan rasa rindu siauwte untuk menjenguk orang tuaku besok pagi siauwte ingin berpamitan dengan kalian berdua untuk berangkat pulang kerumah.” 

Seketika itu juga Tjioe Tjau Liong berdiri tertegun.

“Toako sangat baik dan sayang kepadamu aku akan menyetujui permintaanmu ini.”

“Orang hidup dikolong langit mengutamakan kebaktian kepada orang tua” potong Siauw Ling lebih jauh. “Jikalau kalian berdua sebagai kakak itu memandang aku ini sebagai saudara seharusnya sikap kalian adalah memuji kebaktian Siauwte terhadap orang tuaku.”

“Aaaaaaai….urusan ini kita bicarakan saja setelah berjumpa dengan Toako sendiri” akhirnya Tjioe Tjau Liong menghela napas panjang.

Dengan langkah lebar ia berjalan maju kedepan. Tidak selang beberapa saat kemudian loteng Wang Hoa Loo sudah berada didepan mata tampak ruangan loteng penuh bermandikan cahaya yang gemerlapan.

Selama perjalanan menuju loteng Wang Hoa Loo secara diam-diam Siauw Ling memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, setelah dilihatnya sesuatu tetap sunyi senyap ia lantas tahu bila Tiong Cho Siang Ku belum datang kesana.

Tjioe Tjau Liong langsung membawa Siauw Ling naik keloteng tingkat ketiga belas. Waktu itu Djen Bok Hong lagi duduk disamping jendela menikmati pemandangan malam.

Ketika melihat munculnya kedua orang itu ia segera bangun dan tertawa.

“Djie te, samt te silahkan duduk.”

Siauw Ling yang mengikuti dibelakang Tjioe Tjau Liong sewaktu melihat si Toa Tjungtju mempersilahkan mereka duduk terpaksa iapun ikut menjura memberi hormat.

Perlahan-lahan dari dalam sakunya Djen Bok Hong mengambil keluar segulung lukisan lalu diangsurkan kedepan.

“Lukisan Giok Siantju ini sudah Siauw heng periksa” katanya sambil tertawa. “Walaupun coretannya indah dan mantap, seluruh lukisan dibuat sangat hidup. Aku rasa tidak begitu mempesonakan seperti yang disiarkan dalam Bulim. Kau baik-baiklah menyimpan benda ini dan jangan sampai hilang, kalau tidak maka kau tak akan bisa mempertanggung jawabkan benda tersebut dihadapan Kiem Hoa Hujien.”

Djen Bok Hong yang selalu berwajah keren penuh wibawa pada saat ini sikapnya telah berubah seratus persen! suatu senyuman yang sukar diduga maksudnya menghiasi seluruh wajah.

Siauw Lingpun tidak banyak bicara seraua menerima lukisan itu katanya lirih, “Siauwte datang mohon ampun!”

“Eeeei, kau sudah melakukan kesalahan apa? kenapa nada ucapanmu begitu serius?”

Siauw Ling tertegun beberapa saat lamanya tak mengucapkan sepatah katapun ia berpaling memandang sekejap wajah Tjioe Tjau Liong kemudian sahutnya, “Siauwte meninggalkan perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Kau sebagai Tjungtju sudah seharusnya bertindak dan pergi sesuka hatimu apalagi aku sudah menjatuhi maksudmu ini aku rasa kau tak ada urusan yang patut diampuni bukan?” potong Djen Bok Hong sambil tertawa.

“Tapi merepotkan toako harus mengirim dua belas rombongan jago untuk mencari jejakku.”

Djen Bok Hong goyangkan tangannya melarang Siauw Ling berkata lebih lanjut.

“Asalkan kau aman tak terjadi urusan apapun akupun boleh berlega hati urusan sekecil ini rasanya tak penting untuk dibicarakan.”

Ia bangun berdiri dan tertawa sambungnya, “Waktu sudah tidak pagi kalianpun harus pergi beristirahat.”

“Siauwte masih ada urusan hendak dilaporkan kepada toako” buru-buru Siauw Ling berseru.

“Urusan apa?” perlahan-lahan Djen Bok Hong duduk kembali ke atas kursinya asalkan aku bisa melakukan tentu tak akan kutolak.”

“Sejak Siauwte mempelajari ilmu silat telah lama berpisah dengan orang tuaku rasa rindu yang mencengkeram hati Siauwte sukar ditahan lagi. Karena itu maksudku ingin berangkat balik kekampung untuk menjenguk mereka.”

“Sebagai manusia harus mengutamakan kebaktian jikalau demikian adanya entah Sam te kapan berangkat?”

Diam-diam Siauw Ling memperhatikan perubahan wajah Djen Bok Hong ketika dilihatnya ia tidak menunjukkan rasa tidak senang segera sambungnya lebih jauh, “Secara mendadak siauwte ingin menjenguk orang tuaku rasa rindu susah ditahan lagi bagaikan anak panah yang tekah dipasang diatas gendewa aku rasa besok pagi segera berangkat.”

“Baiklah” ujar Djen Bok Hong sambil tertawa dan mengangguk. “Besok siang aku akan mengadakan perjamuan untuk menghantar keberangkatanmu.”

“Aaakh siauwte tidak berani merepotkan diri Toako.”

“Sebenarnya aku sebagai kakakpun harus ikut berangkat untuk menjenguk orang tuamu berdua tetapi saat ini dalam perkampungan sedang banyak urusan rasanya kurang leluasa untuk berangkat terlalu jauh menggunakan waktu setengah harian ini biarlah Siauwte persiapkan beberapa macam hadiah nah sekarang turunlah untuk beristirahat.”

Siauw Ling merasa sangat terharu pikirnya dihati, “Jika ditinjau dari cara yang melakukan pekerjaan jelas Toako adalah seorang yang berperasaan mengapa orang-orang pada mengecap dia sebagai manusia paling jahat?”

Belum sempat pikiran kedua berkelebat lewat Tjioe Tjau Liong sudah bangun berdiri seraya menjura mohon diri terpaksa Siauw Ling ikut menjura dan bersama-sama turun dari loteng.

Baru saja kedua orang itu keluar dari loteng Wang Hoa Loo lampu yang semula menyinari ruangan mendadak padam seluruhnya.

Melihat hal tersebut diam-diam Tjioe Tjau Liong berbisik lirih, “Terhadap Sam te boleh dikata Toako merasa sayangnya luar biasa setelah Sam te kembali kekampung untuk menjenguk kedua orang tua cepat-cepatlah balik kemari agar Toako jangan selalu merindukan dirimu….”

“Soal ini baru bisa siauwte tentukan setelah berjumpa dengan orang tuaku.”

Ia merandek sejenak lalu tanyanya lagi, “Apakah malam ini dalam perkampungan Pek Hoa San cung kedatangan musuh yang menyelundup masuk.”

“Tidak ada. Eeeei mengapa samte menanyakan persoalan ini?”

Dalam keadaan terperanjat, satu ingatan cerdik berkelebat di dalam benak pemuda she Siauw ini.

“Aku teringat akan tantangan Kiem Hoa Hujien untuk mengajak Tiong Lam Jie bergebrak. Hal ini kesemuanya dikarenakan peristiwa dari pihak Bu tong pay karena itu pihak Bu tong pay tentu tak akan berpeluk tangan belaka. Mungkin sekali mereka mengirim orang untuk datang menjenguk gerak gerik kita.”

“Ehmm perkataan ini memang sangat beralasan” Tjioe Tjau Liong mengangguk setelah merandek sejenak tambahnya, “Mari, aku hantar kau kembali.”

“Tidak perlu, tidak perlu Siauwte bisa pulang sendiri.”

Dengan menjura sebagai perpisahan, buru-buru Siauw Ling balik kerumah Lan Hoa Tjing Sinya.

ooo0ooo

Tampak Giok Lan, Kiem Lan duduk saling berhadap-hadapan diruangan tengah, melihat munculnya Siauw Ling mereka sama-sama meloncat bangun seraya lari menyambut.

Terdengar Giok Lan menghembuskan napas panjang.

“Sam ya! akhirnya kau kembali juga kami sudah mencari kau kemari serunya penuh rasa lega.”

Siauw Ling yang masih teringat akan diri Tiong Cho Siang Ku dengan nada memberi jawaban tapi menyerupai pula pertanyaan ujarnya, “Apakah malam ini ada orang yang menyatroni perkampungan Pek Hoa San cung?”

“Budak menemani Kiem Hoa Hujien pergi mencari sam ya sekembalinya dari tempat luaran sama sekali tidak mendengar berita apapun!”

“Budak selalu berjaga diruangan tengah. Berita tanda bahaya sama sekali tidak terdengar!” sambung Kiem Lan dari samping.

“Aaaakh! kalau begitu sungguh aneh sekali!” pikir Siauw Ling dengan rasa tercengang. “Dengan ketetapan penjagaan dalam perkampungan Pek Hoa San cung asalkan Tiong Cho Siang Ku menyelundup masuk ke dalam perkampungan tak membunyikan tanda bahaya? apakah kedua orang itu lain dimulut lain dihati dan tidak datang kemari! atau mungkin ditengah jalan mereka sudah berubah pikiran lain mengundurkan dirinya kembali?”

Sembari berpikir ia menyingkap horden dan berjalan masuk ke dalam kamar.

Giok Lan telah menyulut lilin merah untuk menerangi seluruh ruangan seraya bekerja ujarnya, “Sam ya, apakah ingin makan sedikit?”

“Tidak perlu! aku harus baik-baik beristirahat dan kalianpun seharusnya pergi tidur.”

Kiem Lan saling bertukar pandangan sekejap dengan adiknya Giok Lan. Bibir tampak bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu tetapi akhirnya dibatalkan dan perlahan-lahan mengundurkan diri dari sana.

Sepeninggalnya kedua orang dayang itu Siauw Ling mulai duduk bersemedi mengatur pernapasan.

Selama ini dalam hatinya selalu murung apakah tenaga sinkangnya mendapat gangguan karena banyaknya darah yang telah dihisap orang, tetapi setelah ia salurkan tenaga dan atur pernapasan terasalah keempat anggota badannya segar sama sekali tak terganggu.

Haruslah diketahui sewaktu Tok So Yok Ong melepaskan darah dari tubuh Siauw Ling, berhubung mendapat berbagai macam gangguan maka darah yang berhasil dihisap keluar sama sekali tidak banyak.

Tetapi dalam pandangan Siauw Ling, peristiwa ini sangat menakutkan pikirannya selama ini ia selali menganggap darah di dalam badannya paling sedikit telah hilang separuh.

Terasa hawa murni perlahan-lahan berputar mencapai loteng tingkat kedua belas dan akhirnya ia lelap dalam keadaan lupa segalanya.

Menanti ia tersadar kembali dari semedinya sang surya telah memancarkan cahayanya menyoroti seluruh jagat.

Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan pertandingan silat antara Kiem Hoa Hujien melawan Tiong Lam Djie Hiap pada pagi ini, dengan cepat ia meloncat bangun tanpa sisir rambut dan cuci muka lagi segera lari keruang tengah.

Tampak Giok Lan serta Kiem Lan menyoren pedang telah menanti didepan ruangan.

“Apakah Kiem Hoa Hujien sudah datang kemari?” buru-buru tanyanya kepada kedua orang dayang tersebut.

“Belum” jawab Giok Lan. “Hanya Djie Tjungtju telah datang untuk mengajak Samya pergi melihat pertandingan, karena budak melihat Samya belum bangun maka tidak kupanggil dirimu.”

“Sudah berapa lama ia pergi?”

“Tidak sampai satu jam.”

“Waah….sudah cukup waktu untuk menentukan siapa menang siapa kalah siapa hidup siapa mati.”

Ia cepat-cepat lari kemuka atau secara tiba-tiba teringat akan sesuatu segera ia berpaling kembali.

“Tadi apa yang kau ucapkan?”

“Budak melarang Djie Tjungtju masuk” sahut Giok Lan sambil tertawa sedih. “Aaaai bagaimanapun juga budak adalah seorang yang hampir mendekati ajalnya. Membuat dosa kepada Djie Tjungtjupun tidak mengapa….”

“Makin didengar pikiranku makin bingung. Sebenarnya apa yang telah terjadi?”

Giok Lan mengusap kering bekas air mata dipipinya kemudian tertawa paksa.

“Aku rasa pertandingan antara Kiem Hoa Hujien melawan Tiong Lam Djie hiap sudah dimulai lebih baik Samya pergi menonton keramaian dahulu.”

Perlahan-lahan Siauw Ling melirik sekejap wajah kedua orang dayang itu dilihatnya sepasang mata mereka merah membengkak jelas baru saja menangis sedih, tak terasa lagi ia menghela napas panjang.

“Apakah Djie Tjungtju paksakan hendak menerjang masuk kedalam?” tanyanya.

“Benar” sahut Kiem Lan mengangguk. “karena dia memaksa maka Giok Lan Moay cabut pedang merintangi jalan perginya dan ngotot tak mau mengalah dengan membawa gusar Djie Tjungtju segera berlalu. Bila ia mengadukan Giok Lan dihadapan Toa Tjungtju dengan kata-kata yang tak baik mungkin….”

Giok Lan tiba-tiba menggeleng tidak membiarkan Kiem Lan bercerita lebih lanjut serunya, “Kiem Lan cici jangan membuang waktu Samya untuk menonton keramaian lagi.”

“Eeeei kalian berpakaian ringkas serta menggembol pedang apakah kamu berduapun ingin ikut melihat keramaian?”

“Kedudukan budak sekalian sangat rendah mana punya rejeki sebesar ini untuk ikut menonton” seru Giok Lan sedih.

“Kami kakak beradik dua orang sedang menunggu petugas yang datang menangkap kami” sambung Kiem Lan dari samping. “Sebelum Samya bangun dari tidur apabila mereka telah datang, maka kami berdua sudah punya rencana untuk melakukan perlawanan terhadap para petugas itu.”

“Dan kini Samya telah bangun kamipun tidak perlu melawan para petugas itu lagi” sela Giok Lan pula mengiringi pembicaraan encinya.

Mendengar kesemuanya ini Siauw Ling mengedipkan matanya, tiba-tiba ia berseru, “Ayo cepat, kita bersama-sama pergi menonton keramaian.”

“Tidak lebih baik budak tidak pergi. Harap Samya suka baik-baik berjaga diri.”

“Setelah Samya kembali dari nonton keramaian” sambung Kiem Lan kembali dari samping kemungkinan besar budak sekali sudah tidak berada di dalam pesanggrahan Lan Hoa Tjing si lagi selama beberapa hari ini Samya harus berhati-hati terhadap makanan dan minuman.”

“Ehmm sekarang aku rada sedikit paham” Siauw Ling mengangguk tiada hentinya. “Kalian ikutlah aku pergi.”

“Budak sekalian bukannya tidak ingin pergi tapi kami benar-benar tak bisa pergi Samya kau pergilah sendiri” seru Giok Lan menggeleng.

Sepasang mata Siauw Ling berkilat.

“Giok Lan kau sungguh-sungguh tidak takut mati?”

“Kegagahan Samya semangat lelaki sejati yang kau perlihatkan belum pernah budak sekalian temui selama hidup sekalipun mati juga tidak kecewa.”

“Ehmm….” Siauw Ling mengangguk sinar matanya kini dialihkan ke atas wajah Kiem Lan. “Dan kau takut mati tidak?”

“Sekalipun budak tidak ingin matipun tak mungkin bisa asalkan Samya sehat walafiat budak matipun rela.”

“Bagus sekali setelah kalian tidak takut mati apa yang perlu kalian takuti lagi? pada saat ini ayo ikut aku pergi nonton keramaian.”

“Walaupun kami berdua tidak takut mati tetapi tidak ingin mencelakai Samya” seru kedua orang budak itu hampir berbareng.

Siauw Ling tertawa hambar.

“Aku tidak takut mati ayo kalian ikuti diriku.”

Saking terharunya kedua orang itu sampai menangis dan jatuhkan diri berlutut.

“Samya adalah seorang yang budiman dan berhati mulia, budak berdua merasa sangat berterima kasih semoga saja Samya jangan terlalu melawan perintah Toa Tjungtju karena….”

“Kalian tidak usah banyak bicara lagi aku bisa ambil keputusan sendiri nah sekarang bangunlah.”

Ia lantas bimbing bangun kedua orang dayang tersebut.

“Moay-moay” kata Kiem Lan sambil mengusap air matanya. “Setelah bangun berdiri setelah Samya ngotot membawa kita ikut serta lebih baik kita menurut saja malang kesana melintang kesini akhirnya juga mati apa yang perlu ditakuti?”

“Benar sebelum kita mati masih bisa membantu diri Samya pula.”

Melihat tingkah laku kedua orang dayangnya Siauw Ling tertawa.

“Cepatlah kalian usap kering air mata dipipi kalian jangan nanti dikira orang aku sedang menganiaya kalian berdua.”

Kedua orang dayang itu saling berpandang dan tertawa setelah mengusap keringat bekas air mata dengan mengikuti dari belakang Siauw Ling berlari ke arah muka.

Sang surya jauh telah berada ditengah awang-awang tiga li diluar perkampungan Pek Hoa San cung didepan sebuah tanah lapang berumput sedang berlangsung suatu pertarungan yang maha sengit.

Sewaktu Siauw Ling muncul disana seketika itu juga hatinya tergetar keras.

Tampak Loo djie dari Tiong Lam Siang Hiap Teng It Loei menggeletak kaku dibawah sebatang pohon Yang Liuw agaknya ia telah menderita luka yang amat parah.

Im Yang Tju serta Tjan Yap Tjing dengan wajah penuh kesedihan masing-masing berdiri disisi Teng It Loei terutama sekali Tjan Yap Tjing.

Sepasang matanya memancarkan cahaya berapi-api bibirnya kelihatan berdarah.

Tjioe Tjau Liong tetap memakai perlente, bergendong tangan berdiri disisi Ih Boen Han To dibelakang kedua orang itu berdiri pula empat orang pemuda yang menyoren pedang.

Pakaian yang dikenakan keempat orang pemuda tersebut sangat aneh sekali. Dua orang memakai baju berwarna merah padam yang menyolok sedang dua orang lainnya memakai baju warna putih, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Sedang yang berbaju merah padam bagaikan darah.

Ketika Giok Lan melihat hadir keempat orang itu air mukanya kelihatan berubah hebat bisiknya kepada diri Siauw Ling, “Samya sudah lihat keempat orang itu? dua orang berbaju putih dan dua orang berbaju merah.”

“Sudah kulihat kenapa?”

“Itulah anggota Pet Toa Hiat Im atau delapan orang sukma bayangan berdarah yang diciptakan Toa Cungcu tak kusangka dari delapan sukma bayangan berdarah kini sudah ada empat orang yang hadir. Aku berani memastikan kali ini pihak Bu tong pay akan kalah total sekalipun mereka berhasil menangkan Kiem Hoa Hujienpun sama saja seluruh pasukannya bakal musnah….”

Mendadak Tjioe Tjau Liong berpaling buru-buru budak ini tutup mulut.

Sewaktu Tjioe Tjau Liong melihat Siauw Ling hadir sama kedua orang dayang agaknya ia merasa sedikit ada diluar dugaan setelah tertegun sejenak ia baru menggape ke arah sang pemuda.

Siauw Ling percepat langkahnya berjalan menghampiri, tetapi dengan cepat seluruh perhatiannya telah terhisap oleh pertarungan yang berlangsung dengan serunya ditengah kalangan.

Tampak pedang Thiat Kut San dari Ke Thian Ih sebentar naik sebentar turun dengan perubahan yang sangat banyak, cahaya merah sebentar menyambar lewat disusul bayangan hitam mendesir memekikan telinga. Semua serangan ditujukan ke arah jalan darah ditubuh Kiem Hoa Hujien.

Kiranya kipas dari Ke Thian Ih terdiri dari sebagian warna merah dan sebagian lagi warna hitam dengan begitu sewaktu berkelebatpun memancarkan cahaya yang berbeda pula.

Senjata yang digunakan Kiem Hoa Hujien juga sangat aneh sekali ditangan kirinya memainkan sebuah kelabang besar yang sedang mementangkan cakarnya sedang ditangan kanan memutar seekor ular aneh bersisikkan bintik-bintik merah.

Ular itu hanya sebesar jari tangan tetapi panjangnya mencapai tiga empat depa tubuh ular melingkar ditangan kanan Kiem Hoa Hujien sedang kepala ular sebentar menyambar sebentar menyusut dengan melancarkan serangan dibarengi pertahanan yang kuat.

Siauw Ling yang melihat kejadian itu jadi tertegun dibuatnya.

“Menggunakan ular aneh serta kelabang sebagai senjata bergebrak sungguh susah dipikirkan….”

“Sam te kau sudah datang terlambat satu langkah sebuah pertarungan sengit telah kau lampaui.”

“Apakah Teng It Loei terluka dibawah patukan ular berbisa dari Kiem Hoa Hujien?”

“Teng It Loei mengandalkan ilmu kepalannya menjagoi seluruh kolong langit” sela Ih Boen Han To dari samping. “Dalam pertarungan yang pertama masing-masing tidak menggunakan senjata.”

“Bagaimana? kalau begitu Teng It Loei terluka zdibawah serangan Kiem Hoa Hujien?”

“Tidak salah Teng It Loei mengandalkan ilmu kepalannya yang tiada tandingan dikolong langit. Siapa sangka justru kecudang dibawah serangan kepalan pula. Nama besar Tiong Lam Djie hiap kemungkinan besar akan hancur di dalam pertarungan sengit kali ini.”

Ketika Siauw Ling memperhatikan kembali jalannya pertarungan ditengah kalangan, ia temukan permainan jurus dari Kiem Hoa Hujien benar-benar aneh dan telengas, tidak terasa pikirnya di dalam hati, “Tidak kusangka bukan saja perempuan ini pandai menggunakan beratus-ratus macam racun bahkan kepandaian silat yang dimilikipun sangat luar biasa. Jikalau ia benar-benar berniat untuk menjadi pembantu setia Djen Bok Hong dan bekerja sama di dalam perjuangannya mencapai cita-cita yang diimpikan rasanya tidak sukar bagi mereka untuk menguasai seluruh kalangan dunia persilatan!”

Terdengar Ih Boen Han To tiba-tiba berkata, “Sam Tjungtju kepandaian silatmu sangat lihay rasanya tidak sulit untuk meninjau siapa yang bakal menang dan siapa pula yang bakal kalah, entah dapatkah kau memberi bayangan siapakah yang bakal unggul di dalam pertarungan.”

Dengan teliti dipandangnya pertarungan dikalangan! pemuda itu merasakan pertempuran yang sedang berlangsung susah untuk diberikan suatu bayangan yang tepat dalam saling serang menyerang yang berlangsung dikalangan masing-masing pihak menggunakan perubahan jurus yang sama-sama lihay untuk mempertahankan diri dan berusaha pula untuk merubuhkan lawan.

Tak terasa ia menyahut, “Bila ditinjau dari hasil pertarungan sampai saat ini mereka berdua masih setali tiga uang dalam dua puluh tiga puluh jurus masih susah untuk menentukan siapa menang siapa kalah menurut pandangan cayhe menang kalah paling sedikit baru bisa dilihat setelah bergebrak ratusan jurus lagi jikalau Ih Boen heng punya pendapat yang tinggi siauwte akan bentang telinga mendengarkan uraianmu.”

“Menurut pendapat cayhe kemenangan berada ditangan Kiem Hoa Hujien bahkan tidak sampai seratus jurus kemudian.”

“Bagaimana kau bisa berpendapat demikian?”

“Ke Thian Ih dipengaruhi oleh napsu untuk membalas dendam baru saja turun tangan ia telah mengeluarkan seluruh kepandaian yang dimilikinya dan menyerang dengan gencar. Hal ini justru melanggar pantangan terbesar bagi seorang jago silat terutama sekali menghadapi manusia macam Kiem Hoa Hujien ia makin mudah untuk dikalahkan….”

“Ehhmmm….perkataannya sedikitpun tidak salah” pikir Siauw Ling di dalam hati, sedang diluaran katanya, “Walaupun jurus serangan yang dilancarkan Ke Thian Ih sangat ganas dan gencar tetapi pertahanan dilakukan amat rapat. Aku rasa perubahan belum tentu terjadi menurut dugaan Ih Boen heng?”

“Baik ilmu silat maupun jurus serangan yang digunakan Kiem Hoa Hujien kebanyakan beraliran aneh, apalagi senjata yang digunakan binatang hidup yang bisa menjulur menarik semaunya, walaupun pertahanan Ke Thian Ih sngat kuat inipun hanya bisa digunakan untuk sementara waktu saja.”

Beberapa patah kata ucapan ini diucapkan dengan nada tinggi. Semua orang yang hadir dikalangan dapat mendengar dengan jelas.

Di dalam pertarungan jago-jago kelas wahid yang paling ditakutkan adalah pecahnya seluruh perhatian. Ketika Ke Thian Ih mendengar ada orang meneriakkan salahnya cara bertarung mendadak permainan jurusnya berubah dari penyerangan yang gencar ia berubah jadi kedudukan bertahan yang ketat….

Justru ketika Ke Thian Ih mengubah caranya bertempur itulah mendadak Kiem Hoa Hujien melancarkan dua jurus serangan yang maha dahsyat memaksa orang itu terdesak mundur dua langkah ke belakang.

Setelah serangannya berhasil merebut posisi yang menguntungkan, Kiem Hoa Hujien segera menggerakkan tangan kanannya melancarkan satu swerangan yang jatuh lebih gencar. Ular merah ditangannya mendadak menerjang satu depa lebih panjang mengancam wajah Ke Thian Ih.

Buru-buru Ke Thian Ih menggerakkan kipas ditangan kanannya untuk coba menggagalkan serangan tersebut tetapi gerakannya ini sudah keburu dikunci oleh serangan kelabang ditangan kiri Kiem Hoa Hujien.

Untuk beberapa saat untuk menangkis datangnya serangan tersebut Loo toa dari Tiong Lam Djie hiap ini menemui kesulitan dalam keadaan gugup dan terburu-buru tubuhnya menjatuhkan diri ke belakang. Kakinya menjejak! badanpun bersalto beberapa kali menghindar sejauh lima depa ke belakang.

Walaupun pengalaman Siauw Ling dalam dunia kangouw belum banyak tetapi ia sudah mendapat didikan yang ketat dari tiga orang jago lihay. Apalagi yang diketahui Tjung San Pek amat luas. Tiap jurus serangan dari tiap perguruan ia mengerti dimana letak kelihayannya serta dimanakah letak kelemahannya. Setelah melihat Ke Thian Ih kehilangan posisinya yang baik seketika itu juga ia menjadi sadar kembali bila Ih Boen Han To sebenarnya sedang menipu diri Ke Thian Ih.

Dalam keadaan cemas, dengan melupakan diri ia telah berteriak keras, “Akhh! pendapat Ih Boen sianseng belum tentu benar. Bilamana Ke Thian Ih ngotot menyerang disamping bertahan paling banter akan timbulkan keadaan sama-sama menderita luka.”

Ke Thian Ih yang sudajh berulang kali kena direbut posisi baiknya, kekalahan sudah berada diambang pintu tetapi setelah mendengar ucapan dari Siauw Ling ini kontan saja semangatnya berkobar.

Kipasnya dengan jurus Wan Teh Huan Im atau dasar pergelangan membalik Mega menggulung pihak lawan dari bawah menuju ke atas sedangkan tangan kirinya dengan jurus Hun Swie Fu Liong atau memisah air membelenggu naga dari Siong Yang Toa Kloe Djien Nah So hoat tidak menanti badannya berdiri tegak bersama-sama dilancarkan keluar.

Kiem Hoa Hujien yang mencekal kemenangan diwaktu itu sedang menerjang maju kemuka ia sama sekali tidak menyangka kalau dalam keadaan kritis itu dari posisi bertahan Ke Thian Ih bisa berubah menjadi posisi menyerang.

Tampak dua sosok bayangan manusia berbentrok menjadi satu kemudian masing-masing pihak meloncat mundur lima depa ke belakang.

Pundak kiri Kiem Hoa Hujien terluka, darah segar mengucur keluar dengan derasnya sedangkan air muka Ke Thian Ih pucat pasi bagaikan mayat jari manis ditangan kirinya membengkak satu kali lipat.

Jelas di dalam bentrokan yang terjadi dalam waktu kilat itulah masing-masing pihak sudah menderita luka.

Dengan menahan rasa sakit dipundak kirinya Kiem Hoa Hujien tertawa dingin seraya menjengek.

“Kau telah kena digigit ular Ci Lian Coa ku perduli tenaga kweekangmu telah mencapai sempurna apapun jangan harap bisa mengeluarkan racun ganas itu dalam dua jam kemudian kau pasti mati.”

“Di dalam kipas Hong Hwee San ku inipun tersembunyi dua belas batang jarum beracun sebenarnya sudah lama tidak kugunakan lagi” kata Ke Thian Ih dengan wajah serius. “Tetapi menghadapi kau manusia berhati ganas digunakanpun tidak perlu disayangkan lagi ketika kipasku menyambar diatas pundak kirimu kedua belas batang jarum beracun telah kuhamburkan semua di dalam dua belas jam kemudian jarum tersebut dengan mengikuti aliran darah akan menyerang ke dalam jantungmu sekalipun berjumpa dengan tabib tersohorpun jangan harap bisa menolong selembar wajahmu.”

Melihat akhir dari pertarungan ini dengan gemas Ih Boen Han To sekejap ke arah Siauw Ling ujarnya dingin, “Jikalau bukan Sam Cungcu terlalu banyak bicara pada saat ini Ke Thian Ih sudah terluka kena digigit ular beracun dari Hujien dan tidak sampai kedua belah pihak sama-sama menderita luka parah.”

Otak Siauw Ling dengan cepat berputar, sahutnya dengan nada dingin, “Jikalau bukan kau yang mulai dulu untuk memanasi hatiku, kita sama-sama tak banyak bicara pada saat ini belum tentu kedua belah pihak menyelesaikan pertarungannya.”

“Jadi Sam Cungcu ada maksud hendak membantu orang lain?” seru Ih Boen Han To sangat gusar.

“Masing-masing pihak sama-sama bicara apakah akupun tidak boleh coba menangkan pembicaraan tersebut.”

Mendadak terdengar suara suitan keras memotong percekcokan diantara kedua orang itu Can Yap Cing dengan mencekal pedang telah berlari datang seraya berseru, “Ih Boen Han Ti dengan berakhirnya pertarungan ini dengan hasilnya yang sangat mengerikan rasanya kau tak bisa cuci tangan lagi sudah lama kudengar nama besar dari majikan Sian Kie Su Loe mari ini hari juga kita selesaikan persoalan diantara kita.”

Walaupun berada di dalam keadaan gusar ia masih bisa mempertahankan kesopanan dan tidak mengeluarkan sepatah kata-kata kotorpun.

Ih Boen Han To adalah seorang tua bangka yang berhati licik kendati tidak ingin melibatkan diri dalam persoalan ini tapi demi menjaga nama baiknya terpaksa ia menjawab, “Tjan Siauw hiap adalah jago berbakat dri Bu tong pay siauwte bisa memperoleh petunjuk tinggi sungguh merupakan suatu keuntungan bagiku.”

Seraya membawa peti emasnya ia melangkah kedepan.

“Tahan” mendadak Siauw Ling membentak keras.

Dengan langkah lebar pemuda itupun berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dalam anggapan Ih Boen Han To pemuda ini hendak turun tangan mewakili dirinya hatinya jadi kegirangan.

“Bangsat cilik ini mempunyai kepandaian silat tidak lemah biarlah dia bentrok dengan Tjan Yap Tjing dan sama-sama menemui ajalnya” pikirnya dihati.

Segera ujarnya cepat, “Bilamana Sam Tjungtju ingin mencoba kelihayan itu pedang aliran Bu tong pay baiklah biar siauwte mengalah.”

Siauw Ling sama sekali tidak menggubris diri Ih Boen Han To sinar matanya dialihkan ke atas wajah Tjan Yap Tjing seraya ujarnya, “Jikalau saudara ingin berkelahi harap tunggu sebentar.”

“Pertarungan ini hari sebelum mati tak akan kuakhiri baiklah aku orang she Tjan mencoba dulu kepandaianmu.”

Ia sudah salah menganggap Siauw Ling hendak menantang ia untuk diajak bertempur sudah tentu saja dia orang tidak ingin memperlihat kelemahannya.

Sinar mata Siauw Ling berputar ia melirik sekejap ke arah Ke Thian Ih serta Kiem Hoa Hujien, lalu ujarnya, “Ilmu silat sumbernya berasal dari satu masing-masing partai serta perguruan memiliki kepandaian yang istimewa dan bagus dan siapapun tak dapat menganggap dirinya tak ada tandingan dikolong langit. Sebagaimana hasil terakhir dari pertarungan kali ini dan kalian semua dapat melihat sendiri baik Ke Thian Ih maupun Kiem Hoa Hujien sama-sama terluka parah ini membuktikan bila apa yang aku ucapkan bukan kosong belaka. Setelah peristiwa yang mengenaskan terjadi, rasanya menolong orang jauh lebih penting entah bagaimana tanggapan Cuwi sekalian.”

Sambil mengebut ujung jubahnya Im Yang Cu maju kedepan.

“Perkataan dari Sam Cungcu sedikitpun tidak salah tetapi entah kau hendak menolong dengan cara apa.”

Perlahan Siauw Ling mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Kiem Hoa Hujien.

“Hujien apakah racun ular Ci Lian Coamu ada obat pemusnah?”

“Saudara cilik apakah kau sungguh-sungguh ingin menolong jiwanya?” tanya Kiem Hoa Hujien sambil tertawa sedih.

“Juga untuk menolong dirimu jikalau kau percaya kepadaku serahkanlah obat pemusnah racun ular Ci Lian Coa tersebut kepadaku,”

Kiem Hoa Hujien ragu-ragu sejenak, akhirnya dia merogoh ke dalam saku mengambil keluar sebutir pil berwarna hitam dan diangsurkan kedepan.

Siauw Ling menerima pil tadi lalu sinar matanya dialihkan ke atas wajah Ke Thian Ih.

“Ke Toay hiap apakah jarum beracun dari kipas Hong Hwee San mu pun ada obat pemusnahnya?”

“Tiong Lam Djie heng selamanya hidup bersama mati berbareng luka yang diderita saudara cayhe itu sangat parah kesempatan hidup sangat sedikit aku Ke Thian Ih sebagai saudaranya apakah tega untuk hidup seorang diri?”

“Jadi maksud Ke Thay hiap ingin mengadu jiwa dengan diri Kiem Hoa Hujien?” seru Siauw Ling dengan alis berkerut.

“Benar kami akan adu jiwa sampai titik darah penghabisan.”

“Jikalau cayhepun menyanggupi untuk menolong Teng Djie hiap entah maukah Ke Thay hiap memberi obat pemusnah dari racun jarum rahasia tersebut untuk menolong jiwa Kiem Hoa Hujien?” seru pemuda itu secara tiba-tiba dengan sinar mata berkilat.

“Jikalau bisa berbuat begitu sudah tentu cayhe menyetujui.”

“Bagus sekali”, pemuda itu mengangguk “asalkan yang diderita bukan luka beracun cayhe percaya masih bisa menyembuhkannya.”

Ia ambil obat pemusnah dari tangan Kiem Hoa Hujien kemudian dilempar ke arahnya.

“Racun ular dibadanmu segera akan bekerja silahkan menelan pil pemusnah ini terlebih dulu.”

Melihat tindakan yang diambil oleh Siauw Ling, Ih Boen Han To segera menoleh ke arah Tjioe Tjau Liong seraya bisiknya lirih, “Tjioe heng, adik saudara sungguh goblok sekali dikolong langit mana ada orang yang menolong pihak musuh terlebih dahulu kemudian baru berusaha menolong diri sendiri. Bilamana setelah kejadian ini Ke Thian Ih menyesal dan tidak ingin tolong sembuhkan racun yang diderita Kiem Hoa Hujien bukankah kerugaian yang kita derita sangat besar? Tjioe heng mengapa kau berpeluk tangan tidak mengurusi?”

Tampak Ke Thian Ih miringkan badannya dengan langkah lambat berjalan mendekati Kiem Hoa Hujien ujarnya, “Jarum racun yang kusembunyikan di dalam kipas dapat bergerak mengikuti aliran darah jikalau waktu berlarut lebih lama mungkin susah untuk ditolong kembali jikalau kau ingin menolong jiwamu cepatlah tutup dahulu seluruh jalan darah yang ada disekeliling pundak kiri untuk menahan mengalirnya jarum beracun tersebut.”

Kiem Hoa Hujien tidak banyak bicara ia menurut dan kerahkan tenaga untuk menutup seluruh jalan darah yang ada disekeliling pundak kirinya.

Setelah itu Ke Thian Ih baru berpaling ke arah Siauw Ling sambil mengambil keluar sebuah besi semberani berbentuk telapak kuda katanya lagi, “Hisap dulu jarum beracun yang bersarang dalam tubuhnya kemudian baru diberi obat pemusnahku!”

Siauw Ling segera menerima angsuran besi semberani itu.

“Ke Thayhiap! kaupun cepatlah menelan pil tersebut sehingga jangan sampai racun ular bersarang lebih berat!”

Ke Thian Ih menerima angsuran obat itu kemudian ditelan ke dalam perut. Ketika itulah Siauw Ling mengeluarkan ilmu sentilannya yang maha dahsyat untuk menotok jalan darah bisu dari Ke Thian Ih kemudian membimbing tubuh Ke Thian Ih untuk duduk.

“Ke Thay hiap silahkan duduk disini untuk mengatur pernapasan dengan demikian racun ularpun bisa cepat-cepat hilang.”

Jari tangannya dengan cepat bekerja kembali menotok empat buah jalan darahnya diatas sepasang kaki serta lengannya.

Diluaran semua orang melihat Ke Thian Ih sedang salurkan hawa murninya untuk mengatur pernapasan padahal yang nyata seluruh jalan darahnya telah tertotok sehingga tubuhnya tak dapat berkutik.

Setelah Siauw Ling meletakkan Ke Thian Ih diatas ia berjalan menghampiri Kiem Hoa Hujien.

“Hujien, bagaimana kalau kau hisap keluar dulu jarum-jarum beracun tersebut dari dalam tubuhmu?”

Kiem Hoa Hujien yang pada hari biasa sombong kali ini tidak banyak bicara lagi dia terima besi semberani tersebut merobek pakaiannya dan menghisap keluar lima batang jarum beracun.

Mendadak dengan langkah lebar Ih Boen Han To berjalan mendekati tengah kalangan.

“Hujien apakah kau sungguh-sungguh terkena jarum beracun?” tanyanya.

Siauw Ling menarik kembali besi semberaninya kemudian dengan ambil kesempatan itu menotok beberapa buah jalan darah ditubuh perempuan ini.

Tjan Yap Tjing yang melihat Ih Boen Han To berjalan mendekati tengah kalangan ia segera menggetarkan pedangnya menghadang.

“Ih Boen Han To” tegurnya dingin. “Jikalau kau ingin menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan jahat lagi maka dugaanmu kali ini bakal meleset.”

Ih Boen Han To melangkah setindak kedepan tubuhnya tahu-tahu sudah berada disisi Kiem Hoa Hujien, tangannya dengan cepat mencengkeram tubuh perempuan itu.

Sejak semula Siauw Ling sudah memperhatikan segala gerak geriknya melihat orang itu melancarkan serangan mendadak tangan kanannya berbalik dengan jurus Thian Way Lay Im atau luar langit muncul mega ia menghajar kedepan.

Merasakan serangan lawan datangnya sangat dahsyat dengan gerakan yang sangat cepat Ih Boen Han To menarik kembali tangan kanannya belum sempat ia melancarkan serangan balasan Siauw Ling sudah mengirim pukulan yang kedua.

Ilmu telapak berantai itu dari Lam Ih Kong sudah terkenal kecepatan gerakannya, setelah Siauw Ling berhasil merebut posisi yang menguntungkan maka hampir boleh dikata Ih Boen Han To sudah tidak memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan lagi.

Tampak bayangan telapak berkelebat tiada hentinya dalam sekejap mata dia sudah mengirim serta jago bagaimana lihay tetapi belum pernah menjumpai serangan segencar dan secepat ini hatinya kontan jadi terperanjat.

“Entah bangsat cilik ini belajar ilmu pukulan secepat ini dari siapa?” pikirnya dihati. “sungguh pukulannya dahsyat bagaikan gulungan ombak ditengah sungai Tiang Kang membuat orang susah menghindar maupun bertahan.”

Tanpa terasa rasa jerinya terhadap diri Siauw Lingpun bertambah satu bagian lagi.

Dalam hati sejak semula Siauw Ling sudah punya rencana setelah berhasil mendesak mundur Ih Boen Han To mendadak ia berbalik menyerang Tjan Yap Tjing yang berdiri pula ditengah kalangan.

Buru-buru Tjan Yap Tjing menggerakkan pergelangan kanannya dengan membentuk selapis cahaya pedang menghadang datangnya serangan pemuda itu.

Melihat cahaya sambaran pedang lawan Siauw Ling menarik kembali serangannya segera maju selangkah mendekati tubuh lawan serangan kedua kembali menyambar keluar.

Ketika Tjioe Tjau Liong melihat Siauw Ling secara mendadak melancarkan serangan ke arah Ih Boen Han To hatinya terkejut bercampur cemas tetapi belum sempat ia menegur mendadak Siauw Ling telah mengalihkan serangannya ke arah Tjan Yap Tjing.

Kecepatan gerak yang diperlihatkan Siauw Ling sungguh bagaikan sambaran petir membelah bumi baru saja Tjan Yap Tjing mengirim tiga buah serangan gencar, Siauw Ling sudah melancarkan tiga belas pukulan memaksa jago Bu tong pay ini harus mundur dua langkah ke belakang.

Dalam keadaan seperti ini bukan saja Tjan Yap Tjing diam-diam merasa terperanjat bahkan Im Yang cupun kelihatan tergetar hatinya.

Dalam waktu yang sangat singkat baik pihak lawan maupun pihak kawan sama-sama mempunyai penilaian yang lain terhadap pemuda she Siauw ini. Setelah Siauw Ling berhasil merebut kembali posisi yang menguntungkan di dalam penyerangan barusan ini mendadak ia menarik kembali serangannya sambil meloncat mundur dua langkah ke belakang.

“Jikalau kita berdua melanjutkan pertarungan ini kemungkinan sekali akan membahayakan nyawa kedua orang yang sedang terluka!” ujarnya keren. “Bila partai kalian mempercayai cayhe bagaimana kalau saudarapun ikut mundur ke belakang!”

Tjan Yap Tjing yang melihat pihak lawan walaupun berhasil mencekal posisi yang menguntungkan tetapi sengaja masih melindungi wajahnya segera menarik kembali pedangnya sehabis mendengar ucapan tersebut.

“Aku rasa saudara bukan seorang yang suka berbohong baiklah cayhe turuti permintaanmu.”

Perlahan-lahan ia mundur ke belakang.

Setelah melihat jago muda dari pihak Bu tong pay ini mengundurkan diri sinar mata Siauw Ling kembali menyapu sekejap keempat penjuru perintahnya kembali, “Harap masing-masing pihak mundur kembali satu tombak ke belakang.”

Semua jago yang hadir dikalangan tidak mengerti Siauw Ling sedang mempersiapkan permainan apa tetapi mereka menurut saja dengan mundur ke belakang.

Menanti semua orang sudah mundur Siauw Ling baru membimbing bangun Ke Thian Ih untuk meletakkan disisi Kiem Hoa Hujien sedang ia sendiri duduk ditengahnya meletakkan besi semberani ketanah dan sepasang tangannya sama-sama digerakkan menepuk jalan darah dipundak kedua belah pihak bisiknya lirih, “Jalan darah disepasang kakimu serta jalan darah Tjing Bun pada iga kalian sudah kena aku totok dengan ilmu penotok khusus perguruanku siapapun tidak bakal dapat berkutik ataupun bangun melarikan diri, tetapi tenaga kweekang kalian sama sekali tidak hilang, jikalau masing-masing pihak masih ingin coba menyerang pihak lawan maka kalian berdua bakal sama-sama menemui ajalnya.”

Ia merandek sejenak setelah menyapu sekejap wajah kedua orang itu sambungnya, “Jikalau kalian tidak ingin bergebrak lagi satu sama lain mengartikan bahwa diantara kalian sebenarnya tidak terikat dendam yang sangat mendalam sehingga harus diselesaikan dengan suatu pertarungan mati-matian. Ada pepatah mengatakan permusuhan bukannya tak bisa diselesaikan terutama sekali kalian berdua tidak saling mengenal tidak terikat pula dendam sedalam lautan. Hanya karena sepatah dua patah kata saja apa gunanya bergebrak menggunakan kekerasan? jikalau semua orang bisa bertindak dengan hati tenang rasanya dalam Bulim tak akan terjadi bentrokan-bentrokan serta pertumpahan darah yang harus mengorbankan banyak jiwa.”

Ia merandek sejenak lalu dengan wajah serius tambahnya, “Ke Thayhiap setelah kau menelan obat pemusnah tersebut jikalau luka sudah terasa baikan mengangguklah sebagai tanda bila obat tersebut manjur bilamana lukanya lebih parah menggelenglah!”

Dalam keadaan seperti ini Ke Thian Ih maupun Kiem Hoa Hujien sama-sama merasa menyesal dan kecewa, tetapi kena dipaksa oleh keadaan terpaksa mereka mandah juga diperintah orang.

Setelah termenung lama sekali Ke Thian Ih perlahan mengangguk berulang kali.

“Jika begitu ini obat tersebut adalah benar. Nah sekarang keluarkanlah obat pemusnahmu sendiri.”

Ke Thian Ih masukkan tangannya ke dalam saku untuk mengambil keluar sebuah botol porselen lalu diletakkan ke atas tanah dan memperlihatkan ketiga jari tangannya.

Kiranya Kiem Hoa Hujien serta Ke Thian Ih sama-sama sudah tertotok jalan darah bisunya sehingga tak mungkin lagi bagi mereka untuk buka suara.

Siauw Ling segera menerima botol itu.

“Apakah harus menelan tiga butir pil sekaligus?” tanyanya lagi.

Ke Thian Ih mengangguk.

Siauw Ling membuka penutup botol itu untuk mengeluarkan tiga butir pil kemudian diberikan ketangan Kiem Hoa Hujien.

“Bagus sekali, sekarang kau telanlah obat ini! walaupun kau pandai menggunakan beratus-ratus macam racun, rasanya belum tentu seluruh racun ada dikolong langit kau pahami.”

Teringat akan persoalan ini menyangkut mati hidupnya, terpaksa Kiem Hoa Hujien menerima pil itu dan ditelannya tanpa banyak cakap lagi.

Setelah itu Siauw Ling mengembalikan botol tadi ketangan Ke Thian Ih dan berkatalah seraya memandang wajah Kiem Hoa Hujien, “Apakah Teng Djie hiap juga keracunan!!”

Kiem Hoa Hujien menggeleng.

“Kalau begitu terluka oleh pukulan tenaga dalam?”

Kali ini Kiem Hoa Hujien mengangguk.

Demikianlah Siauw Ling segera membebaskan jalan darah bisu ditubuh kedua orang itu.

“Nah sekarang kalian berdua boleh berbicara lagi.”

Dari sepasang matanya Kiem Hoa Hujien memancarkan serentetan cahaya yang maha aneh untuk melototi wajah Siauw Ling tak berkedip, perlahan-lahan ujarnya, “Tjioe Djie Tjungtju berada dibelakang tubuhmu, semua perbuatan yang kau lakukan ini hari semuanya sudah ia lihat sekembalinya ke dalam perkampungan ia akan laporkan semua peristiwa ini kepada Djen Bok Hong.”

Siauw Ling tertawa getir.

“Aku baru pertama kali ini menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw pengalaman Bulim sama sekali tidak kumiliki. Aaai karena sekali melangkah menjelaskan sepanjang tahun sekalipun aku menyesal agak terlambat perbuatan Toa Tjungtju sangat jahat tetapi ia bagaimanapun juga adalah toakoku aaai.”

Sebagai penutup dari cerita ini ia menghela napas panjang.

“Pada sepuluh tahun yang lalu Djen Bok Hong pernah menimbulkan suatu pembunuhan berdarah yang menggemparkan seluruh dunia persilatan dimana-mana ia melakukan pembunuhan yang berakibatkan marahnya semua jago di dalam Bulim” sambung Ke Thian Ih dari samping. “Akhirnya dibawah pimpinan tjiang bunjien dari Siauw lim sie sendiri dengan membawa delapan belas orang pendeta membentuk barisan tersebut tetapi orang ini mempunyai kepandaian yang melebihi orang lain dalam keadaan menderita luka parah ia masih berhasil juga meloloskan diri dari barisan tersebut. Aaaai….! tidak kusangka sepuluh tahun kemudian ia kembali akan munculkan dirinya di dalam dunia persilatan.”

Menanti orang itu selesai berkata Siauw Ling baru merogoh ke dalam sakunya mengambil keluar sebutir pil seraya katanya, “Pil bulat ini adalah pemberian suhuku kemujarabannya sangat luar biasa bahkan dapat menolong orang yang hampir mendekati kematian asalkan adik saudara bukan terluka kena pukulan beracun tidaklah susah untuk menyembuhkan luka kembali.”

Ia serahkan obat pemusnah ketangan Ke Thian Ih sekalian totok bebas jalan darah yang berada disepasang kakinya.

“Budi yang amat besar dari saudara selama hidup tak akan kami dua bersaudara Tiong Lam lupakan pada suatu hari tentu kubalas budi kebaikan ini.”

Ke Thian Ih bangun berdiri dan berlalu dengan langkah lebar.

Tampak orang itu berbicara beberapa patah kata dengan Im Yang cu serta Tjan Yap Tjing dalam nada yang rendah kemudian bersama-sama putar badan dan berlalu.

“Saudara cilik orang lain sudah pada pergi kenapa kau belum bebaskan jalan darah yang tertotok?” tiba-tiba Kiem Hoa Hujien menegur.

Buru-buru Siauw Ling membebaskan diri Kiem Hoa Hujien dari pengaruh totokan katanya, “Berkat perhatian serta cinta kasih darimu cayhe merasa sangat berterima kasih sekali semoga sejak ini hari hujien suka mengurangi pekerjaan jahat dan banyaklah melakukan pekerjaan mulia yang menguntungkan seluruh umat Bulim….”

“Urusan dikemudian hari kita bicarakan lain kali saja.” Kiem Hoa Hujien tersenyum dan bangun berdiri. “Ini haru beruntung kau sudah menolong jiwaku tetapi menerima pula semua perintahku entah sejak ini hari seharusnya aku memandang kau sebagai musuh ataukah sebagai kawan?”

“Hubungan kita selanjutnya sebagai teman atau lawan ini semua tergantung kemauan hujien sendiri” sahut Siauw Ling.

Kiem Hoa Hujien tertawa.

“Usiamu masih sangat muda tetapi memiliki kegagahan yang sangat luar biasa cuma sayang bergaul justru dengan manusia sebangsa Djen Bok Hong.”

“Bilamana dugaanku tidak salah kemudian hari kalian berdua kakak beradik tentu akan melangsungkan suatu pertarungan saling membunuh yang amat seru.”

Waktu itu Tjioe Tjau Liong serta Ih Boen Han To sudah pada datang menghampiri terpaksa Siauw Ling menelan kembali kata-kata yang siap meluncur keluar dari bibirnya.

“Hujien apakah lukamu sudah sembuh?” terdengar Ih Boen Han To menegur dengan suara datar.

“Terima kasih atas perhatianmu.”

Buru-buru perempuan ini putar badan seraya berlalu.

Setelah perempuan itu berlalu Tjioe Tjau Liong segera berpaling dan memandang sekejap wajah Siauw Ling.

“Sam te kau sudah menolong Ke Thian Ih….”

“Juga menolong Kiem Hoa Hujien” sambung pemuda dengan cepat.

“Bila Toako sampai tahu aku takut….”

Agaknya Djie Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San cung ini merasa terlanjur bicara dengan cepat ia membungkam kembali.

“Soal ini sih tak perlu Djie ko kuatirkan bila Toako menyalahkan diriku biarlah siauwte memikul dosa itu sendiri.”

Kini Tjioe Tjau Liong alihkan sinar mata ke arah Kiem Lan serta Giok Lan yang berdiri jauh lebih dari sana, ujarnya tiba-tiba, “Nyali kedua orang budak ini sungguh tidak kecil berani benar mereka datang untuk menonton keramaian?”

“Ooow….soal ini lebih baik Djieko jangan menyalahkan dirinya karena kedatangan mereka adalah siauwte yang paksa mereka berdua untuk ikut.”

“Sam te belum lama tiba disini, banyak peraturan perkampungan itu yang masih belum dipahami tapi kedua orang budak ini terang-terangan sudah tahu masih berani melanggar.”

Sinar mata Siauw Ling berputar. Ia memperhatikan sejenak wajah kedua orang pemuda berbaju merah serta dua orang berbaju putih itu, tertampak olehnya wajah si orang berbaju merah makin lama semakin merah sedang kedua orang yang berbaju putih makin lama semakin pucat tanpa terasa ia sudah pertinggi kewaspadaannya.

“Air muka keempat orang itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun” pikirnya dihati. “Sepintas lali mirip mayat-mayat saja aku rasa mereka adalah jago-jago yang sangat lihay.”

Sembari tertawa segera ujarnya kepada diri Tjioe Tjau Liong, “Setelah Toako menghadiahkan kedua orang itu untuk melayani siauwte sebagai dayang pribadi sudah tentu mereka tak akan berani melanggar perintah siauwte jika Djieko menegur, naah! tegur saja diri siauwte sepuas hatimu.”

Tjioe Tjau Liong langsung dibikin tertegun setelah mendengar ucapan itu.

“Urusan ini sudah kuputusi sendiri, baiklah kita menanti keputusan dari Toako….”
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 01"

Post a Comment

close