Sepasang Garuda Putih Jilid 30

Mode Malam
Kalinggo yang bertanding dekat ayahnya melihat robohnya ayahnya. Dia menjadi kaget, sedih dan marah besar. Akan tetapi lawannya adalah Jarot, seorang pemuda sakti murid Bhagawan Dewondaru.

Semenjak tadi mereka berkelahi dengan tangan kosong dan dia sudah terdesak terus. Sekarang, melihat ayahnya roboh dia menjadi nekat dan mencabut sebatang keris yang besar dan berwarna keemasan. Dengan keris di tangan dia menubruk dan menyerang ke arah dada Jarot.

Pemuda Pasisiran ini mengelak cepat dan keris itu meluncur di sampingnya. Cepat dia membalik dan mengetuk lengan kanan Raden Kalinggo dengan tepi tangannya yang miring.

"Dukk...!” Akan tetapi Raden Kalinggo hanya meringis kesakitan. Kerisnya tidak terlepas dari pegangannya. Memang pemuda ini mempunyai kekebalan dan kekuatan yang cukup hebat. Dia bahkan mengamuk semakin hebat dan menghujani Jarot dengan serangan kerisnya secara bertubi-tubi.

Jarot mengelak ke sana sini dan merasa bahwa kalau dilanjutkan, mungkin dia akan kewalahan karena lawannya sudah mengamuk secara membabi buti. Maka diapun lalu menghunus kerisnya dan tampak sinar hitam berkelebat. Itulah keris pusaka Nogo lreng yang berwarna hitam.

"Trangg...!" Ketika keris keemasan ditangan Raden Kalinggo menusuk lagi ke arah perut Jarot, pemuda ini dengan trengginas menangkis dari samping sehingga keris Kalinggo menyimpang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Jarot untuk memukulkan tangan kirinya ke depan, tepat mengenai dada Kalinggo.

"Bukk!" Kalinggo terhuyung ke belakang, tangan kirinya menekan dadanya yang terasa nyeri dan napasnya terengah.

Akan tetapi pukulan ini membuatnya semakin marah dan tanpa mempedulikan rasa nyeri di dadanya yang membuat napasnya sesak, dia menerjang dengan nekat, menggunakan kerisnya menusuk dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Jarot! Penyerangan ini sungguh nekat tanpa mempedulikan pertahanannya sendiri yang terbuka. Jarot menghindar ke kiri dengan cepat dan keris di tangan kanannya menyambar ke samping.,

"Crottt...!"

Keris itu menusuk lambung dan Jarot cepat mencabutnya kembali sambil melompat ke belakang agar jangan sampai terpercik darah yang menyembur keluar dari lambung Kalinggo.

Kalinggo berteriak keras dan tubuhnya langsung terguling roboh. Kerisnya terlepas dari pegangannya dan dengan kedua tangan dia mendekap luka di lambungnya yang mengucurkan darah. Akan tetapi tidak lama dia menegang dan menghembuskan napas terakhir, tewas dalam kubangan yang dibuat darahnya sendiri.

Tejolaksono dan Endang Patibroto dikeroyok oleh para senopati lainnya. Akan tetapi suami isteri ini mengamuk seperti banteng terluka. Siapa saja yang berani menghadang tentu segera roboh terpelanting oleh tamparan atau tendangan mereka. Keduanya tidak menggunakan senjata, hanya dengan tangan kosong saja mereka merobohkan puluhan prajurit yang berani mengeroyok mereka.

Amukan suami isteri ini menggetarkan semua prajurit Blambangan, tetapi menambah semangat para prajurit Panjalu. Juga kemenangan yang diperoleh Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti membuat anak buah mereka menjadi bersemangat sekali. Mereka semua mengamuk, membuat pasukan Blambangan menjadi kocar kacir dan terdesak mundur terus sampai di pintu gapura Blambangan di mana sudah siap menjaga sebagian dari pasukan Blambangan yang diperkuat dan dipimpin Wasi Karangwolo, Adipati Menak Sampar sendiri, dibantu Wasi Shiwamurti, Ki Shiwananda, dan Ni De wi Durgomala dan beberapa orang senopati, juga belasan orang perwira Blambangan. Agaknya sekali ini Adipati Menak Sampar mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan Blambangan!

Tak dapat dicegah lagi terjadilah pertempuran hebat, perang campuh yang gegap gempita. Para pemimpin kedua pihak juga segera saling berhadapan dan Retno Wilis sudah membisikan siasatnya untuk menghadapi para wasi sakti itu. Bagus Seto segera menghadang Wasi Shiwamurti yang menjadi musuh lamanya. Retno Wilis menghadapi Ki Shiwananda. Endang Patibroto menghadapi Ni Dewi Durgomala. Adapun Wasi Karangwolo dihadapi Jarot yang dibantu oleh Ki Haryosakti dan.Ki Bajramusti, sedangkan Adipati Menak Sampar sendiri yang juga sakti dihadapi Ki Patih Tejolaksono!

Terjadilah perang tanding yang luar biasa serunya! Wasi Shiwamurti yang maklum bahwa lawannya yang masih muda itu memiliki aji kesaktian yang amat hebat, menjauhkan diri dari yang lain dan mengajak lawannya untuk bertanding di atas sebuah bukit, agak menjauh dari perang campuh itu. Bagus Seto mengikuti ke mana Sang Wasi itu pergi dan mereka kini berhadapan di atas lereng bukit itu.

"Bagus Seto, andika ini orang muda. tidak pandai menghormati orang yang lebih tua, bahkan berani menentang aku yang datang dari negara jauh. Beginikah sikap satria di Nusa Jawa, satria dari Panjalu? Apakah gurumu mengajarkanmu untuk tidak pandai menghormati orang yang lebih tua dari-mu?"

"Paman Wasi Shiwamurti, penghormatan seseorang terhadap orang lain bukan ditinjau dari segi usianya, melainkan dari sikap dan perbuatannya. Paman wasi dating dari jauh, sepantasnya dihormati. Akan tetapi melihat bagaimana paman bersikap dan berbuat di sini, selain membantu pihak pemberontak Blambangan juga menyebar luaskan agama sesat untuk melemahkan rakyat dengan cara paksa dan kekerasan, bagaimana paman menuntut penghormatan? Sebaiknya kalau paman pulang saja ke Cola dan jangan menimbulkan kekacauan di s ini."

"Babo-babo, Bagus Seto. Jauh-jauh kami diperintahkan raja kami untuk membantu Blambangan dan mengadakan kontak dengan Bali Dwipa, menyebar agama kami untuk membahagiakan rakyat. Bagaimana andika berani mengatakan bahwa kami menyebar agama untuk mengacaukan rakyat. Buktinya, para pengikut kami mendapatkan kebahagiaan dan mereka merasa senang menjadi anggota kami!"

"Kesenangan yang sesat, pengumbaran nafsu yang semena-mena dan yang menyeret jiwa ke dalam kegelapan. Wasi Shiwa-murti, andika yang sudah mempelajari berbagai Weda, masih berpura-pura tidak melihat hal ini? Mustahil kalau andika tidak mengetahui bahwa agama yang andika ajarkan itu sesat dan keji!"

"Bagus Seto, jangan dikira bahwa aku takut kepadamu! Sambutlah ini!" Wasi Shiwamurti mengangkat tongkat kepala naga ke atas menggerak-gerakkan ke arah langit dan seketika langit menjadi gelap tertutup mendung dan awan mendung itu menyambar turun ke arah Bagus Seto seolah hendak menelan pemuda itu!

Bagus Seto yang melihat ini, dengan tenang mengeluarkan setangkai bunga cernpaka putih dari rambut kepalanya dan mengangkat setangkai bunga itu ke atas kepalanya, lalu melontarkannya ke arah gumpalan awan hitam yang menyerang ke arahnya.

"Byarrr...!" Tampak sinar terang dan awan gelap itu ambyar dan lenyap. Bunga cempaka putih sudah turun kembali ke tangan Bagus Seto yang menyimpannya kembali ke rambut kepalanya.

Melihat serangannya dapat dipunahkan pemuda itu, Wasi Shiwamurti menjadi marah sekali. Tongkat kepala naga itu didorongkan ke arah sebuah batu sebesar kerbau.

"Sambutlah batu ini!" bentaknya dan ketika dia mengerahkan tenaganya, batu sebesar kerbau itu melayang ke arah Bagus Seto dengan cepatnya. Bagus Seto melolos ikat kepalanya dan menyambut batu besar itu dengan kebutan kain pengikat kepala.

"Darrr...!" Batu besar itu begitu kena dikebut kain putih pengikat kepala, menjadi hancur berantakan dan pecahannya terlempar ke kanan kiril

Wasi Shiwamurti terkejut akan tetapi belum mau mengaku kalah. Dia sudah menerjang dengan tongkat kepala naga itu, menyerang dengan dahsyat. Tongkatnya menyambar-nyambar, mengeluarkan angin bersiutan sehingga menggerakkan daun-daun pohon di sekitarnya, bahkan membuat pakaian putih Bagus Seto berkibar-kibar.

Namun pemuda itu sama sekali tidak merasa gentar. Tubuhnya bagaikan berubah menjadi bayangan atau awan, diserang bagaimanapun oleh tongkat kepala naga itu tidak pernah dapat tersentuh, seolah sebelum hantaman tiba, angina pukulan tongkat itu telah membuat tubuhnya mengelak. Diapun membalas dengan kebutan kain putih pengikat kepalanya.

Akan tetapi Wasi Shiwamurti juga amat tangkas dan tubuhnya kebal sehingga serangan balasan Bagus Seto juga tidak mengenai sasaran, atau kalau hanya mengenai pundak atau bagian tubuh yang tidak berbahaya, kebutan itu meleset dan tidak melukai lawan.

Adu kesaktian yang terjadi di bukit, jauh dari perang campuh itu berlangsung dahsyat sekali. Kalau dilihat dari jauh, yang tampak hanyalah gulungan sinar tongkat kepala naga yang bergelombang dan berlenggang-lenggok seolah-olah seekor naga yang bermain di angkasa, mengejar sesosok bayangan yang bergerak seperti awan. Pemandangan yang menakjubkan! Tiba-tiba tongkat bertemu dengan kebutan kain pengikat kepala yang berwarna putih itu.

"Plakk...!" Hebat sekali pertemuan antara dua tenaga sakti yang tersalur lewat dua senjata ampuh itu dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah!

Maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan pemuda itu dengan ilmu sihir atau mengadu senjata, Wasi Shiwamurti lalu mencoba untuk mengeluarkan senjata pamungkasnya. Dia menancapkan tongkatnya di atas tanah, lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya sampai tampak asap mengepul di antara kedua telapak tangannya. Setelah itu, dalam jarak belasan langkah itu dia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Bagus Seto.

Pemuda ini sudah menduga serangan apa yang akan dilakukan lawannya. Begitu melihat Wasi Shiwamurti menancapkan-tongkatnya lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya, dia sudah menduga bahwa lawan hendak mempergunakan aji pukulan jarak jauh mempergunakan hawa sakti yang mungkin beracun. Maka diapun sudah menyimpan kain pengikat kepalanya dan diapun menekuk kedua lututnya, merendahkan tubuhnya dan membuka kedua tangan lalu menyambut serangan itu dengan dorongan kedua telapak tangannya yang putih ke arah depan. Dua tenaga sakti yang mujijat itu bertemu di tengah-tengah. Udara bagaikan tergetar dan terguncang hebat dengan adanya pertemuan dua hawa sakti yang amat kuat itu.

"Blarrrr...!" Tubuh Bagus Seto bergerak-gerak terguncang akan tetapi kuda-kuda kedua kakinya masih tetap tegak, sedangkan tubuh Wasi Shiwamurti terhuyung ke belakang sampai beberapa langkah, mukanya berubah pucat dan dari kepalanya mengepul uap putih! Jelas bahwa dia masih kalah kuat setingkat dibandingkan murid Ki Tunggaljiwo dan Bhagawan Ekadenta yang sakti ini! Diapun menyadari kekalahannya, maka dengan suara agak terengah dia berkata.

"Bagus Seto, sekali ini aku mengaku kalah. Tetapi jagalah andika, tak berapa lama lagi aku akan mendatangimu di Panjalu mengajak seorang kakak guruku untuk menantangmu bertanding lagi satu lawan satu untuk menentukan pihak mana yang lebih unggul!"

Dengan tenang Bagus Seto menjawab, "Aku selalu akan menunggu dan siap untuk menghadapimu, Paman Wasi Shiwamurti. Selama andika belum menyadari kekeliruanmu, aku akan selalu menentangmu."

“Bagus, tunggu saja pembalasanku!" Setelah berkata demikian, Wasi Shiwamurti mencabut tongkat kepala naga dari atas tanah, lalu dia melarikan diri dengan amat cepatnya ke balik bukit, tidak mau mempedulikan lagi perang campuh yang masih berlangsung di kaki bukit.

Pertandingan antara Wasi Karangwolo yang dikeroyok tiga tidak berlangsung lama. Biar pun Wasi Karangwolo adalah seorang yang sakti mandraguna, pandai pula berilmu sihir dan kerisnya amat berbahaya menyambar-nyambar, namun dia dikeroyok tiga oleh Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti yang ketiganya juga tidak asing dengan ilmu sihir. Semua ilmu sihir yang dikeluarkan oleh Wasi Karangwolo dapat dipunahkan tiga orang itu. Keris Nogo Ireng di tangan Jarot sudah hebat berbahaya, tombak di tangan Haryosakti juga ganas, terutama sekali golok besar di tangan Ki Bajramusti.

Tiga orang pengeroyok ini membuat Wasi Karangwolo kewalahan dan terdesak hebat. Akhirnya sebuah bacokan golok dari Ki Bajramusti menyambar dan mengenai pundaknya. Wasi Karangwolo berteriak kesakitan dan terhuyung ke belakang. Dia tidak mampu menangkis atau mengelak lagi ketika tombak di tangan Ki Haryosakti menusuk dan menembus lambungnya. Ketika tombak dicabut, tubuh Wasi Karangwolo jatuh nglumpruk (terkulai) dan dia tidak bergerak lagi, tewas seketika.

Tiga orang itu lalu mengamuk, merobohkan banyak prajurit Blambangan yang berani menghadapi mereka. Amukan tiga orang yang gagah perkasa ini membuat pasukan Blambangan kocar-kacir.

Sementara itu, Retno Wilis juga sudah mendesak Ki Shiwananda yang memang sudah merasa jerih menandingi dara perkasa yang sakti mandraguna ini. Permainan ruyungnya yang berat itu mulai kacau berhadapan dengan Pedang pusaka Sapudenta di tangan Retno Wilis. Beberapa kali Ki Shiwananda mencoba untuk mempengaruhi dara ini dengan sihirnya. Namun Retno Wilis yang pernah menerima gemblengan dari Nini Bumigarbo tidak miris (gentar) menghadapi semua pengerahan sihir itu dan dapat menolaknya sehingga kembali mereka harus bertanding mengadu kedigdayaan dan ilmu kanuragan.

"Tran-cringg...!" Ruyung bertemu dengan Pedang Sapudenta dengan kerasnya dan karena Retno Wilis mengerahkan seluruh tenaganya ketika beradu senjata, ruyung itu patah menjadi dua potong! Wajah Ki Shiwananda menjadi pucat sekali, akan tetapi pada saat itu Retno Wilis sudah menggerakkan kaki kanannya menendang.

"Bukkkk!" Keras sekali tendangan itu sehingga tubuh Ki Shiwananda terpental dan dia terjatuh dekat para prajurit Panjalu yang menonton pertarungan itu. Tak dapat dicegah lagi, hujan senjata menimpa tubuh Ki Shiwananda yang tidak lagi mampu mengerahkan kekebalannya karena perutnya yang tertendang tadi merasa nyeri sekali dan melenyapkan tenaganya. Tubuhnya hancur di bawah hujan bacokan itu.

Retno Wilis hanya menonton dan menahan napas. Berkat bimbingan kakaknya, ia tidak ingin membunuh lawan, akan tetapi lawannya terjatuh ke tangan para prajurit yang menghabisi nyawanya. Bagaimanapun juga, Ki Shiwananda maju berperang maka sudah lumrah kalau dia tewas dalam peperangan. Ia lalu membalikkan tubuh dan melihat Bagus Seto melangkah menuruni bukit, agaknya sudah ditinggalkan Wasi Shiwamurti. Dan dilihatnya pula bahwa Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti juga sedang mengamuk, agaknya sudah pula menewaskan Wasi Karangwolo yang tadi mereka keroyok.

Yang masih bertanding adalah Endang Patibroto melawan Ni Dewi Durgomala dan Ki Patih Tejolaksono sendiri yang masih bertarung melawan Adipati Menak Sampar yang masih gigih membuat perlawanan sungguh pun dia terus terdesak mundur. Endang Patibroto juga mendesak Ni Dewi Durgomala yang kelihatan sudah merasa jerih. Akan tetapi tempat itu terkepung ratusan prajurit sehingga ia tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri lagi. Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan Endang Patibroto.

Retno Wilis yang kini sudah berdekatan dengan Bagus Seto, hanya menonton saja dan tidak mau membantu karena mereka maklum bahwa ayahnya dan ibunya tidak akan kalah.

"Di mana Wasi Shiwamurti?" tanya Retno Wilis.

"Dia sudah melarikan diri." jawab Bagus Seto lirih. Biar pun dia tidak bertanya, Retno Wilis menerangkan.

"Ki Shiwananda tewas di bawah puluhan senjata para prajurit setelah aku merobohkannya. Aku tidak sengaja membunuhnya."

Bagus Seto menyentuh lengan adiknya.

"Engkau tidak bersalah. Memang sudah tiba saatnya dia tewas dikeroyok banvak senjata. Agaknya itulah karmanya," kata Bagus Seto seperti hendak menghibur adiknya.

"Ibu tentu akan dapat mengalahkan Ni Durgomala," kata Retno Wilis sambil menuding ke arah Endang Patibroto yang mendesak lawannya dengan hebat.

Bagus Seto menghela napas panjang.

"Kanjeng Ibu Endang Patibroto memang seorang wanita yang sakti mandraguna pilih tanding. Beliau pantas untuk menjadi seorang panglima perang wanita."

"Dan kanjeng romo juga tidak akan kewalahan menandingi sang Adipati Menak Sampar," kata pula Retno Wilis sambil memandang kepada ayahnya yang masih bertanding melawan adipati Blambangan itu.

"Kanjeng romo jelas tidak akan membunuh sang adipati, melainkan hendak menawannya dan beliau bertindak benar. Sebaiknya kalau adipati Blambangan ditangkap hidup-hidup untuk dihadapkan kepada Gusti Prabu di Panjalu, atau Jenggala."

Apa yang dikatakan Retno Wilis dan kakaknya memang benar adanya. Tak lama kemudian Ni Dewi Durgomala mengeluarkan suara melengking, mirip tangis bercampur tawa dan tangan kirinya memukul dengan jari-jari terbuka dan kukunya membentuk cakar. Dari ke lima jari tangannya itu menyambar sinar menghitam dan hal ini membuat Retno Wilis terkejut dan mengkhawatirkan ibunya karena ia tahu bahwa yang dikeluarkan Ni Dewi Durgomala itu adalah ilmu yang keji dan jahat sekali. Memang Ni Dewi Durgomala telah mengeluarkan aji pamungkasnya. Aji ini kalau dikerahkan, dapat membunuh lawan dalam jarak jauh, karena angin yang menyambar dari pukulan itu membawa hawa beracun yang amat jahat.

Namun Endang Patibroto juga sudah waspada dan maklum bahwa lawan mengajak mengadu nyawa dengan mengerahkan semua aji pamungkas yang dimilikinya. Maka iapun menyambut dengan Aji Gelapmusti yang digabung dengan Aji Pethit Nogo. Tangan kanannya menyambut pukulan jarak jauh Ni Dewi Durgomala itu dengan aji Gelap Musti, sedangkan tangan kirinya membalas dengan hantaman Aji Pethit Nogo.

"Bresssss... auugghhh...!"

Tubuh Ni Dewi Durgomala terlempar sampai lima meter jauhnya dan ia terbanting roboh muntah darah dan tewas seketika. Akan tetapi Endang Patibroto juga terhuyung dan mukanya menjadi pucat sekali.

Bagus Seto cepat menghampiri Endang Patibroto dan mengambil bunga cempaka putih dari rambut kepalanya. Dengan bunga cempaka di tangan, dia mendekati ibunya dan mendekatkan bunga itu di depan hidung Endang Patibroto.

"Sedotlah, kanjeng ibu. Hawa beracun itu akan tersapu bersih." Endang Patibroto menurut. Ia menyedot aroma bunga itu dengan hidungnya dan seketika napasnya terasa lega dan sesaknya menghilang.

Mereka lalu memandang ke arah Ki Patih Tejolaksono yang masih bertanding melawan Adipati Menak Sampar. Tejolaksono bertangan kosong dan Adipati Menak Sampar menggunakan sebatang keris yang besar dan panjang.

"Mampuslah engkau, Tejolaksono!" bentaknya.

Untuk sekian kalinya keris itu meluncur dan menusuk ke arah dada Tejolaksono. Ki Patih Panjalu ini miringkan tubuhnya. Keris menancap di bawah lengannya, lalu dikempitnya dan tangannya menebak ke arah dada lawan.


Tubuh Menak Sampar terjengkang dan keris itu terlepas dari tangannya. Tejolaksono membuang keris itu dan melangkah maju.

"Menyerahlah, Adipati Menak Sampar!" katanya tegas.

Akan tetapi Adipati Menak Sampar mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka dan dia sudah menubruk maju seperti seekor biruang menerkam mangsanya. Kedua lengan yang besar dan panjang itu menerkam dari kanan kiri untuk meringkus tubuh Ki Patih Tejolaksono yang terbilang kecil kalau dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. Namun Ki Patih Tejolaksono bergerak cepat dan sudah mengelak, kemudian dari samping dia menampar dengan Aji Bajra Dahono, mengenai pundak Sang Adipati.

"Plakkk... aduuuhhh...!" Terkena pukulan Aji Bajra Dahono, tubuh Sang Adipati terkulai dan mendesah kepanasan, Tejolaksono lalu meringkusnya dan tanpa diperintah Jarot lalu maju membawa tali dan mengikat kedua pergelangan tangan Adipati Menak Sampar sehingga dia tidak mampu berkutik lagi.

Setelah melihat para pimpinan sudah dikalahkan semua para pasukan Blambangan menjadi kecut hatinya dan semangat perlawanan merekapun membuyar. Pada saat itu Ki Patih Tejolaksono berseru nyaring.

“Adipati Menak Sampar telah menyerah! Kalian yang melawan akan dibunuh yang menyerah akan diampuni!"

Mendengarr bentakan yang amat nyaring itu, sebagian besar pasukan Blambangan lalu membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut, menyerah!

Ki Patih Tejolaksono lalu menggiring Adipati Menak Sampar memasuki kadipaten yang sudah dikuasai oleh para perwira Panjalu dan para prajurit pengawal. Di tengah ruangan itu telah berkumpul keluarga Sang Adipati, lengkap dengan semua isteri dan selirnya. Juga hadir Dyah Ayu Kerti, puteri Sang Adipati yang cantik jelita. Melihat puteri ini, hati Jarot berdebar dan dia memandang penuh pesona, akan tetapi karena hatinya telah terlebih dulu terpikat kepada Retno Wilis, maka diapun menghilangkan perasaannya yang hanyut oleh kejelitaan puteri Adipati Menak Sampar itu.

"Bagaimana, Sang Adipati Menak Sampar? Apakah andika sudah takluk sekarang?" tanya Ki Patih Tejolaksono.

"Hemm, pasukanku telah hancur, aku telah kalah bertanding. Apa lagi yang dapat kulakukan selain menyerah? Aku menyerah terhadap kekuasaan kerajaan Jenggala dan Panjalu."

"Bagus kalau begitu. Anakmas Jarot, lepaskan ikatan tangan Sang Adipati”, perintah Tejolaksono dan Jarot segera melaksanakan perintah itu.

Tejolaksono meninggalkan para perwira pembantu dan lima ribu pasukan Panjalu dan Jenggala untuk menjaga dan mengatur ketenteraman di Kadipaten Blambangan, kemudian menggiring Sang Adipati Menak Sampar berikut semua keluarganya menuju ke Jenggala.

Rombongan pasukan yang menang perang ini singgah di Nusabarung untuk mengambil tawanan Adipati Martimpang dari Nusabarung sekeluarganya untuk juga dibawa sebagai tawanan ke Jenggala. Ki Patih Tejolaksono singgah di istana Jenggala, melaporkan tentang kemenangannya dan bahwa kedua orang adipati yang memberontak itu telah dijadikan tawanan dan dibawa menghadap. Akan tetapi Sang Prabu di Jenggala menolak dan berkata,

"Kakang Patih Tejolaksono, sebenarnya yang menggerakkan pasukan untuk menaklukkan kedua orang adipati yang memberontak adalah Panjalu, dan kami dari Jenggala hanya membantu belaka. Oleh karena itu, kedua orang tawanan ini dan sekeluarganya kami pasrahkan kepada andika untuk dibawa menghadap Paman Prabu di Panjalu dan terserah kepada beliau untuk memutuskannya. Juga sampaikan salam hormat dan terima kasihku kepada beliau yang telah menenteramkan daerah Jenggala yang dilanda pemberontakan."

Karena penolakan ini, Ki Patih Tejolaksono terpaksa membawa dua rombongan tawanan itu terus ke Panjalu. Kedatangan pasukan yang menang perang ini disambut meriah oleh rakyat Panjalu. Gamelan dibunyikan dimana-mana dan rakyat menyambut dengan sorak sorai di sepanjang jalan. Sang Prabu di Panjalu juga menyambut kedatangan Ki Patih Tejolaksono dan para senopati dengan gembira. Ketika mendengar pelaporan Ki Patih Tejolaksono tentang kemenangan di kedua kadipaten itu, dan betapa Sang Prabu di Jenggala menyerahkan pengadilan terhadap para tawanan kepada Sang Prabu di Panjalu, beliau mengangguk-angguk senang.

"Hei, Adipati Menak Sampar, benar benarkah andika sekarang telah menyadari kesalahan andika dan benar-benar telah takluk kepada Panjalu dan Jenggala?" tanya Sang Prabu Panjalu kepada adipati itu yang menghadap sambil menundukkan kepalanya.

Sang Adipati Menak Sampar yang sudah tidak berdaya itu lalu menyembah dan berkata lirih, "Hamba telah menyadari kesalahan hamba, dan hamba telah menyatakan takluk, terserah kepada kebijaksanaan paduka untuk menjatuhkan pidana terhadap hamba sekeluarga, Kanjeng Gusti."

"Dan bagaimana dengan andika, Adipati Martimpang dari Nusabarung?" tanya pula Sang Prabu kepada Adipati Martimpang.

"Hambapun sudah menyadari kesalahan hamba, kalau diperkenankan hamba mohon pengampunan dan selanjutnya terserah kepada kebijaksanaan paduka, Kanjeng Gusti."

"Bagus, jika andika berdua telah mengakui kesalahan, kamipun bisa mempertimbangkan. Tetapi sebelum kami memperoleh keputusan dari musyawarah yang akan kami adakan dengan para nayaka-praja, kalian menjadi tawanan terhormat dan akan diperlakukan dengan baik. Kakang Patih Tejolaksono terserah bagaimana andika akan mengaturnya untuk menawan kedua keluarga bekas adipati ini. Pilihkan tempat pengasingan di daerah istana dan suruh awasi mereka."

"Sendiko dawuh, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Tejolaksono dan dia segera membawa pasukan pengawal untuk mengawal dua keluarga tawanan itu menuju kebagian belakang istana dan menahan mereka di dua bagian ruangan belakang, lalu memerintahkan para pengawal untuk menjaga mereka, akan tetapi juga agar mereka diperlakukan dengan hormat dan baik sesuai dengan kehendak Sang Prabu.

Setelah memberi pujian dan hadiah kepada semua orang yang berjasa, persidangan lalu dibubarkan. Ki Patih Tejolaksono mengundang semua orang yang telah membantunya dalam peperangan itu untuk singgah di gedungnya.....

********************

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 30"

Post a Comment