Sepasang Garuda Putih Jilid 25

Mode Malam
--- ada 4 halaman yang hilang ---

Kedua tangannya siap untuk memukul, dan ia berkata dengan suara terputus-putus saking marahnya.

"Engkau... kau..." akan tetapi ia menahan diri dan melanjutkan, "Kakang Jaya apa yang engkau lakukan ini?"

Sikap Jayawijaya tenang sekali akan tetapi kini pandang matanya terhadap Joko Waras menjadi lain, penuh kekaguman dan terheran-heran setelah mengetahui bahwa ‘pemuda’ yang sakti ini ternyata adalah seorang gadis!

“Dan ketika kau jatuh pingsan dan agaknya terluka pukulan di bawah pundak, maka aku berusaha untuk mengurut-urut bagian yang ada bekas pukulan itu dengan harapan mudah-mudahan bekas luka pukulan itu dapat disembuhkan. Kemudian karena itu aku telah melihat bagian...“ maka disambungnya dengan wajah yang kemerahan. "Maafkan aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa andika adalah seorang wanita."

Joko Waras yang memang telah diketahui bahwa ia sebenarnya seorang gadis, meraba bagian dada yang terpukul dan menekannya. Tidak lagi terasa nyeri! Lalu diperiksanya. Warna kehitaman di dadanya yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melarikan diri, kini pun telah lenyap! Lukanya yang mengandung racun telah disembuhkan! Hawa beracun yang terkandung di dalamnya sudah bersih.

Ia merasa takjub dan semakin tidak mengerti akan keadaan Jayawijaya. Tadi ketika ia berlutut karena pengaruh sihir, Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh! Bahkan ketika Wasi Shiwamurti yang amat sakti itu kemudian mengirim pukulan jarak jauhnya kepada Jayawijaya, pemuda ini sama sekali tidak bergeming, ia malah terjengkang sendiri. Dan lukanya hanya dengan urutan jari tangan pemuda itu telah menyembuhkan lukanya yang mengandung hawa beracun. Pemuda macam apakah ini? Ketika diajak untuk melarikan diri, terseret di belakangnya ternyata ia tidak dapat berlari cepat.

“Aku tahu dan bukan itu saja, aku bahkan dapat menebak bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang bernama Retno Wilis!" Dalam hatinya, Jayawijaya merasa agak rikuh ketika teringat ucapan Endang Patibroto yang hendak menjodohkan dia dengan Retno Wilis! Akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan dikatakannya kepada gadis itu.

"Akan tetapi apakah sebelum ini andika tidak menduga bahwa aku seorang wanita?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya.

"Siapa yang dapat menduga? Selain penyamaranmu sempurna, juga siapa yang mengira bahwa orang muda yang sakti mandraguna itu seorang gadis? Aku sendiri sukar untuk dapat mempercaya, akan tetapi ketika aku teringat bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang sakti mandraguna, aku menjadi tidak merasa heran lagi.”

Retno Wilis kembali meraba dadanya dan menggosok-gosok bagian yang tadi terkena pukulan Wasi Shiwamurti.

"Kakang Jaya, aku merasa heran sekali. Andika tidak berkepandaian, akan tetapi bagaimana dapat menyembuhkan luka pukulan ini demikian cepatnya?" Ia memandang dengan penuh selidik. "Andika menggunakan ilmu apakah untuk menyembuhkan ini?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya.

"Aku tidak mempergunakan ilmu apapun juga. Aku hanya mengurut-urut dan berdoa semoga Yang Maha Kasih akan menyembuhkanmu. Akan tetapi sudahlah, adi... eh, diajeng Retno. Kurasa sebaiknya andika tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda. Kalau engkau seorang wanita, tentu orang-orang itu tidak akan bersikap kejam kepadamu."

"Kaupikir begitukah, kakang? Agaknya engkau belum mengenal benar watak orang-orang jahat itu. Akan tetapi kalau engkau menghendaki, baiklah, aku akan berganti pakaian." Retno Wilis membawa buntalannya pergi ke balik semak belukar dan di situ ia berganti pakaian, yaitu pakaiannya yang seperti biasa ia pakai, pakaian serba putih yang sederhana namun membuat ia tampak cantik jelita dan agung.

Ketika ia muncul dari balik semak belukar, ternyata Jayawijaya berdiri membelakangi semak belukar itu. Retno Wilis tersenyum. Benar-benar seorang pemuda yang sopan dan luar biasa sekali. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang yang aneh seperti Jayawijaya ini yang sekaligus telah menarik hatinya dan menimbulkan kekagumannya. Bayangkan saja, seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki ilmu kanuragan, namun berani menentang para datuk besar, bahkan berani menentang seorang sakti mandraguna seperti Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya!

"Kakang Jaya...!” Retno Wilis memanggil.

Jayawijaya memutar tubuhnya menghadapi Retno Wilis dan dia memandang dengan mata tidak berkedip, terpesona oleh apa yang dilihatnya! Dia melihat seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh tahun, rambutnya hitam agak berombak dan panjang sampai ke pinggang, berpakaian putih bersih dan meski sederhana pakaian itu tak menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan pinggang ramping dan padat berlekuk-lengkung sempurna.

Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar pada dahinya dan di depan telinganya, alisnya melengkung hitam matanya seperti sepasang kejora, mulutnya manis menggairahkan dengan bibir yang merah basah, dihias lesung pipit di kiri mulutnya, dagunya runcing dan lehernya panjang, hidungnya kecil mancung. Terlebih lagi ketika itu Retno Wilis sedang memandangnya dengan senyum simpul dan kedua tangannya sedang berusaha untuk menggelung rambutnya yang panjang.

"Kaukah itu...? Benarkah engkau... Adi Waras... eh, diajeng Retno Wilis?" Tanya Jayawijaya agak tersendat-sendat karena apa yang dilihatnya benar-benar melebihi semua bayangannya tentang gadis itu. Begitu pandainya gadis itu menyamar sehingga tadi wajahnya agak kecoklatan, tidak seperti sekarang begitu putih kekuningan. Bahkan kedua matanya juga berbeda, kini demikian indahnya dan bersinar-sinar cemerlang dan bening.

"Aih, kakang Jaya, apakah engkau pangling? Aku Retno Wilis atau Joko Waras yang tadi."

"Engkau cantik jelita seperti seorang bidadari dari kahyangan, diajeng." Pujian itu demikian jujur dan polos, tidak mengandung rayuan.

Mendengar ini, Retno Wilis tidak menjadi marah, bahkan mukanya yang putih mulus kulitnya itu kini menjadi kemerahan dan matanya mengerling tajam. Biasanya, pujian akan kecantikannya yang keluar dari mulut laki-laki mengandung rayuan, akan tetapi sekali ini sama sekali lain. Jayawijaya mengucapkannya dengan setulus hati penuh kejujuran dan tidak disembunyikan, terbuka dan polos.

"Terima kasih atas pujianmu, kakang Jayawijaya, akan tetapi... ah, kukira ada orang-orang berdatangan!" kata Retno Wilis yang pendengarannya amat tajam terlatih.

Baru saja ia berkata demikian, tampak bayangan empat orang dan di situ telah berdiri Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda! Kiranya Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda juga berada bersama kedua orang Wasi tadi, hanya tadi belum memperlihatkan diri dan ketika mereka mengadakan pengejaran terhadap Jayawijaya dan Retno Wilis, kedua orang itu pun ikut mengejar.

Wasi Shiwamurti tidak mengenal Retno Wilis, akan tetapi tiga orang yang lain segera mengenalnya. Wasi Karangwolo pernah bertanding melawan Retno Wilis, juga Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda pernah bentrok dengan gadis perkasa itu.

"Kakang Wasi Shiwamurti, inilah gadis puteri Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono dari Panjalu!" Kata Wasi Karangwolo kepada kakak seperguruannya.

"Ia bersama kakaknya yang bernama Bagus Seto yang telah menentang penyebaran agama kita, Kakangmas Wasi!" kata pula Ni Dewi Durgomala.

Melihat sikap mereka, Jayawijaya sudah melangkah maju dan melindungi Retno Wilis. Dia membusungkan dada, dengan penuh keberanian menentang pandang mata mereka dan berkata dengan suara nyaring.

"Kalian adalah orang-orang beragama, apakah tidak malu untuk mengganggu seorang gadis? Sepatutnya kalian bicara baik-baik, bukan menggunakan kekerasan seperti orang yang tidak mengenal sopan santun!"

Wasi Shiwamurti mengangkat tangan kirinya mencegah kawan-kawannya yang sudah siap untuk bergerak menyerang itu. Dia memandang Jayawijaya penuh selidik, juga agak gentar. Tadi dia sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pemuda ini. Mampu menolak semua sihirnya, bahkan ketika dia menyerang dengan pukulan sakti jarak jauh, pemuda itu sama sekali tidak bergeming apa lagi roboh. Sebaliknya malah dia sendiri terjengkang karena tenaga dan hawa sakti pukulannya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri.

Kini melihat sikap pemuda seperti menasihati itu, dia menjadi semakin terheran-heran. Siapakah sesungguhnya pemuda yang memakai nama Jayawijaya ini? Dari perguruan mana? Tampaknya demikian lemah lembut dan tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi mengapa semua serangannya gagal? Dia tidak berani sembrono lagi dan mencegah kawan-kawannya untuk turun tangan.

"Heh, Jayawijaya. Kami melakukan kekerasan karena gadis ini berulang kali menentang kami. Demikian juga ibunya, Endang Patibroto selalu menentang dan memusuhi kami!"

"Tidak mungkin diajeng Retno Wilis memusuhi kalian kalau kalian tidak melakukan kesalahan dan kejahatan. Kalian memaksa penduduk untuk memeluk agama baru, tentu saja ia menentang kalian! Kalian yang memulai, bukan diajeng Retno Wilis!"

"Akan tetapi kami menyebarkan agama kami sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian!” bantah Wasi Shiwamurti.

"Penyebaran agama secara wajar tentu tidak akan menimbulkan pertentangan. Akan tetapi kalian menggunakan kekerasan, itulah persoalannya," kata pula Jayawijaya dan Retno Wilis mendengarkannya dengan heran. Pemuda ini mengajak orang-orang tersesat itu untuk bercakap-cakap dan agaknya Wasi Shiwamurti melayaninya, seolah mereka itu berbantahan dan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Padahal baru saja kakek itu berusaha keras untuk membunuh ia dan Jayawijaya.

"Hemm, kalau begitu, mari kita bicarakan hal ini dan menghadap Sang Adipati di Blambangan. Kita bicarakan dengan baik-baik seperti yang kaukehendaki," kata Wasi Shiwamurti dan teman-temannya juga memandang kepada Wasi itu dengan heran. Kenapa Wasi Shiwamurti bersikap seperti sahabat terhadap pemuda itu?

Tentu saja dalam hatinya Retno Wilis tidak sudi diundang menghadap Adipati Blambangan karena ia tahu bahwa hal itu sama saja dengan memasuki goa penuh dengan srigala yang buas. Akan tetapi Jayawijaya menyambut undangan itu dengan suara gembira!

"Begitulah seharusnya! Kalau kami diundang secara terhormat, tentu kami mau datang, akan tetapi kalau kalian menggunakan kekerasan, kami bahkan menolak. Kebetulan karena aku pun ingin bicara dengan sang adipati, menasihatinya agar dia tidak menggunakan cara kekerasan dalam penyebaran agama, melainkan dengan halus dan kalau ada yang memasuki agama baru itu, dengan suka rela bukan dengan paksaan."

Retno Wilis terbelalak keheranan. Jayawijaya menerima undangan itu? Gila! Sama saja dengan memasuki perangkap! Akan tetapi ia tahu bahwa pada saat seperti itu, melawan pun tidak akan ada gunanya. Kedigdayaannya masih kalah jauh untuk melawan mereka.

Baru melawan Wasi Shiwamurti seorang saja, ia sudah kalah. Apa lagi kalau Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda ikut maju mengeroyok. Ia tentu akan tertawan juga. Dan kalau dipikir dan diperhitungkan, ikut sebagai tamu yang diundang dengan hormat jauh lebih baik dari pada ikut sebagai tawanan!

Dan anehnya, hatinya tidak merasa khawatir. Entah mengapa, ia merasa aman bersama Jayawijaya, merasa tenang dan sama sekali tidak takut, bahkan yakin bahwa pemuda aneh itu tentu akan mampu melindunginya. Dekat dengan Jayawijaya ia merasa seperti kalau ia dekat dengan kakaknya, Bagus Seto.

Begitu teringat akan Bagus Seto, hatinya menjadi lebih besar lagi. Kakaknya tentu sudah memasuki Blambangan dan kalau terjadi sesuatu dengan dirinya, tentu kakaknya akan mengetahuinya dan akan menolongnya.

"Kalau begitu, kami undang kalian berdua untuk mengikuti kami, menghadap Sang Adipati Menak Sampar di Blambangan," kata Wasi Shiwamurti dan suaranya terdengar ramah dan halus!

"Kakang Jaya...!” Retno Wilis hendak memrotes, akan tetapi Jayawijaya menggerakkan tangannya menenangkan gadis itu sambil berkata lembut dan tenang.

"Tidak mengapa, diajeng. Kita mendapat undangan dengan hormat dan karena kita tidak bersalah, Sang Hyang Widhi akan selalu melindungi kita."

"Kakang Wasi...!” Wasi Karangwolo menegur kakak seperguruannya karena telah bersikap sehalus itu terhadap kedua orang muda yang dimusuhi itu. Akan tetapi Wasi Shiwamurti juga mengangkat tangan memberi isarat agar kawan-kawannya diam dan tidak membantah.

Demikianlah, Jayawijaya dan Retno Wilis dikawal oleh empat orang tokoh itu memasuki pintu gerbang kota kadipaten Blambangan. Para prajurit yang berjaga di situ juga terbelalak melihat betapa dua orang itu dikawal masuk dalam keadaan tenang dan sama sekali bukan sebagai tawanan. Wasi Shiwamurti segera menyuruh seorang perwira untuk melapor kepada Sang Adipati Menak Sampar bahwa mereka mohon menghadap.

Adipati Menak Sampar sendiri terkejut mendengar bahwa Wasi Shiwamurti membawa dua orang muda, terutama Retno Wilis yang namanya menggiriskan itu, datang menghadap kepadanya, bukan sebagai tawanan melainkan sebagai tamu! Dia merasa heran dan cepat bersiap siaga untuk menyambut mereka di Balai Agung.

Karena Wasi Karangwolo berkedudukan sebagai penasihat Sang Adipati, dan tiga orang tokoh agama Shiwa-Durgo-Kala itu merupakan tamu-tamu terhormat, maka ketika menghadap Adipati Menak Sampar mereka tidak duduk di atas lantai, melainkan duduk di atas kursi yang telah disediakan. Juga disediakan dua kursi untuk Jayawijaya dan Retno Wilis sehingga mereka benar-benar dianggap sebagai tamu! Setelah diadakan tegur sapa resmi dan memberi penghormatan kepada sang adipati, Wasi Shiwamurti lalu melapor dengan suara lembut.

"Sang Adipati, kami datang membawa serta dua orang tamu ini. Mereka ini adalah Retno Wilis, puteri dari Kipatih Tejolaksono dari Panjalu, dan yang seorang lagi bernama Jayawijaya. Mereka datang untuk memperbincangkan tentang penyebaran agama baru di wilayah Blambangan."

Sang Adipati mengangguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata penuh selidik. Ketika memandang kepada Retno Wilis, dia terpesona oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi mendengar akan sepak terjang Retno Wilis, hatinya diliputi kengerian dan juga hamper tidak dapat percaya bahwa gadis cantik jelita seperti itu dapat menjadi seorang ganas dan sakti menakutkan.

"Hemm, Retno Wilis dan Jayawijaya, apakah yang andika berdua hendak sampaikan kepada kami mengenai penyebaran agama itu?" tanya Adipati Menak Sampar kepada dua orang muda itu dengam suara yang dibuat sewibawa mungkin. Akan tetapi suara itu sama sekali tidak menggetarkan atau menimbulkan rasa hormat kepada dua orang muda itu.

Retno Wilis hanya memandang dengan dingin dan tidak hendak menjawab karena ia ikut menjadi tamu itu sebetulnya hanya untuk mengikuti kehendak Jayawijaya saja. Ia membiarkan pemuda itu yang menjawabnya dan hal ini agaknya juga dimengerti oleh Jayawijaya. Dia menatap wajah sang Adipati dan dia lalu berkata.

"Sang adipati, sebetulnya bukan keinginan kami untuk datang ke sini, akan tetapi kami diundang oleh Wasi Shiwamurti untuk menghadap andika dan untuk bicara tentang penyebaran agama baru itu. Kami sungguh tidak setuju dengan cara penyebaran agama baru yang menggunakan paksaan dan kekerasan. Kami menentang itu karena hal itu sebetulnya menyalahi prikemanusiaan. Siapa saja boleh berganti agama sesuka hatinya asalkan agama yang baru itu tidak memaksakan kehendak para penyebarnya dengan ancaman. Karena kami sudah diundang ke sini, maka kebetulan sekali kami hendak menegur andika dengan cara penyebaran agama itu."

Ucapan itu tegas, tenang, tidak menjilat akan tetapi juga dengan cukup sopan. Muka sang adipati sudah mulai merah. Pemuda yang kelihatan seperti pemuda dusun walau pun wajahnya amat tampan itu menyebutnya dengan "andika" begitu saja. Padahal seluruh kawula Blambangan menyebutnya "paduka". Dia melirik ke arah puterinya yang hadir di situ.

Puterinya itu adalah anak tunggalnya yang terkasih, bernama Dyah Ayu Kerti. Ibunya seorang puteri Bali dan Dyah Ayu Kerti yang berusia kurang lebih tujuh-belas tahun itu adalah seorang gadis yang teramat cantik jelita. Sejak tadi, Dyah Ayu Kerti memandang kepada dua orang tamu itu, terutama kepada Jayawijaya. Pandang matanya melekat kepada pemuda itu. Entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menarik hatinya dan membuatnya terpesona. Apalagi ketika pemuda itu sudah bicara, suaranya seperti menembus ke hatinya dan kata-katanya demikian menarik, membuat Dyah Ayu Kerti memandang tanpa berkedip.

Pada saat itu, Jayawijaya sudah selesai bicara dan Adipati Menak Sampar melirik kepada puterinya. Melihat puterinya memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan mulut sedikit ternganga, Adipati Menak Sampar mengerutkan alisnya. Tidak sepantasnya kalau puterinya mendengarkan semua percakapan itu. Pula, nanti mungkin akan terjadi kekerasan di situ kalau dia memerintahkan agar para senopatinya menangkap dua orang muda itu. Dia tidak mau puterinya terlibat dalam kekerasan dan berada dalam bahaya. Maka diapun segera berkata kepada puterinya.

"Anakku Dyah Ayu Kerti, engkau sebaiknya masuk ke dalam dan menemani ibumu. Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku. Masuklah, nini."

Dyah Ayu Kerti memandang kepada ayahnya, lalu menengok dan memandang lagi kepada Jayawijaya. Akan tetapi biar pun ia tidak ingin meninggalkan tempat itu, ia tidak mau membantah perintah ayahnya. Ia Ialu menyembah dan mengundurkan diri, sebelum memasuki pintu tembusan, kembali ia mengerling ke arah Jayawijaya. Setelah puterinya masuk ke dalam, Adipati Menak Sampar lalu menjawab ucapan Jayawijaya tadi.

"Orang muda, sesungguhnya semua ucapanmu tadi salah alamat. Ketahuilah bahwa Kadipaten Blambangan sama sekali tidak menyebar agama baru, akan tetapi yang menyebar adalah para pendeta dari Negeri Cola di dunia barat, yang dipimpin oleh Sang Wasi Shiwamurti. Bagaimana cara mereka menyebar agama adalah hak mereka, dan andika sama sekali tidak mempunyai hak untuk mencampuri. Apalagi kalau terjadi di daerah Blambangan, kami tidak ingin orang luar mencampurinya tanpa seijin kami!"

"Sang Adipati, kalau peristiwa itu terjadi di daerah Blambangan, tentu saja hal itu dapat dimengerti dan kamipun tidak akan mencampurinya. Tetapi banyak peristiwa pemaksaan memeluk agama baru itu terjadi di luar daerah Blambangan dan Nusabarung, bahkan menjalar ke daerah Panjalu dan Jenggala. Karena itu kami terpaksa menentangnya. Dan kami menegur kepada andika sama sekali bukan salah alamat, karena para penyebar agama itu menjadi tamu kadipaten Blambangan maka kadipaten Blambangan pula yang harus bertanggung-jawab!"

Retno Wilis merasa heran sekali akan kepandaian Jayawijaya untuk berdebat. Juga ia merasa lucu. Biasanya, menghadapi orang-orang seperti para wasi sesat ini, ia tidak perlu banyak cakap, melainkan tangan kaki yang bicara mengadu kesaktian. Tetapi Jayawijaya berdebat dengan mulut dan pemuda itu sedikitpun tidak merasa gentar!

Diam-diam Retno Wilis bersikap waspada. Ia tidak dapat percaya terhadap kejujuran orang-orang seperti Wasi Shiwamurti dan Wasi Karangwolo. Orang-orang seperti itu biasanya berhati palsu, tidak pantang melakukan kecurangan dan kekerasan dalam bentuk apapun juga. Ia merasa bahwa mereka berada di dalam sarang harimau yang penuh binatang buas dan keadaan mereka berbahaya sekali.

Bagaimana kalau sang adipati itu memerintahkan para punggawanya untuk menangkap mereka berdua? Kalau Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Nini Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda turun tangan terhadap mereka, apa yang dapat ia lakukan? Melawan mereka pasti ia akan kalah dan Jayawijaya biar pun memiliki pengaruh mujijat, belum dapat diandalkan untuk menundukkan mereka karena pemuda itu tidak dapat dan tidak mau berkelahi!

Ia teringat akan pengalamannya di Nusabarung ketika ia dikeroyok banyak punggawa Nusabarung dan keadaannya berada dalam bahaya. Ia mampu meloloskan diri dengan menangkap Adipati Martimpang dan menjadikannya sebagai sandera. Ingatan ini yang menimbulkan pikirannya untuk berbuat yang sama di kadipaten Blambangan itu.

Kalau terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan ia dan Jayawijaya, ia akan menawan Adipati Menak Sampar dan menyanderanya agar ia dan Jayawijaya bisa lolos dari tempat itu!

Diam-diam Retno Wilis sudah siap sedia, seluruh urat syarafnya menegang, siap untuk bergerak. Dengan satu kali loncatan saja ia akan dapat tiba di dekat adipati itu kemudian menyanderanya, demikian pikirnya.

Ketika Adipati Menak Sampar mendengar bantahan Jayawijaya, wajahnya yang biasanya sudah merah itu menjadi semakin merah. Tubuhnya yang tinggi besar bergerak gelisah di atas kursinya dan kumisnya yang melintang itu seperti menjadi semakin kaku.

"Jayawijaya, berani engkau bicara seperti itu di depan kami! Ingat, andika sekarang berada di tempat kami dan sekali kami menggerakkan tangan memberi isyarat, orang-orangku akan menangkap kalian, bahkan dengan mudah kami dapat membunuh kalian!"

Inilah yang dinanti-nanti oleh Retno Wilis. Begitu mendengar ucapan adipati itu, terutama kalimat terakhir yang nadanya mengancam, secepat kilat ia sudah meloncat ke depan dan sebelum ada orang dapat mencegahnya, bahkan sebelum Adipati Menak Sampar dapat berkutik, tangannya sudah mencabut pedang pusaka Sapudenta dan ditempelkannya pedang itu ke leher Adipati Menak Sampar sambil menghardik dengan suara yang nyaring.

"Siapa berani mengganggu kakang Jayawijaya, pedangku akan memenggal leher Adipati Menak Sampar!"

"Diajeng Retno Wilis! Jangan, jangan bunuh orang...!” Jayawijaya berseru kepada Retno Wilis. Ia khawatir kalau-kalau Retno Wilis betul-betul akan memenggal leher sang adipati!

Wasi Shiwamurti adalah seorang yang berpengalaman. Sekali pandang dan dengar saja, tahulah dia bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan Retno Wilis membunuh sang adipati, maka cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah menangkap kedua lengan Jayawijaya dan dipuntirnya ke belakang. Di detik lain Jayawijaya telah ditelikungnya dan pemuda itu tidak mampu bergerak.

"Retno Wilis! Kalau engkau mengganggu Sang Adipati, pemuda ini akan kuhancurkan kepalanya!" bentak Wasi Shiwamurti dan diam-diam dia merasa heran dan juga girang sekali.


Ternyata pemuda yang sangat ditakutinya itu sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk melepaskan diri, bahkan mencoba pun tidak! Sama sekali tidak disangkanya bahwa sedemikian mudahnya dia menangkap pemuda yang disangkanya maha sakti itu.

"Diajeng Retno! Lepaskanlah Sang Adipati. Bukan karena aku takut mati, akan tetapi karena tidak baik kalau engkau sampai membunuh orang demi aku. Aku tidak akan rela!"

Retno Wilis menjadi serba salah. Ancamannya dengan menyandera Sang Adipati ternyata gagal dan tidak ada gunanya. Selain Wasi Shiwamurti tidak mau melepaskan Jayawijaya, juga ia tidak dapat membunuh sang adipati karena Jayawijaya menentang keras! Dengan perasaan menyesal dan gemas karena Jayawijaya tidak mendukung siasatnya menyandera sang adipati, terpaksa Retno Wilis melepaskan adipati itu. Akan tetapi sebelum ia melepaskan pedangnya dari leher Adipati Menak Sampar, ia berkata dengan suara penuh wibawa kepada Wasi Shiwamurti.

"Aku hanya mau membebaskan Adipati Menak Sampar kalau kalian mau berjanji bahwa kalian tidak akan membunuh Kakang Jayawijaya!"

Tidak ada yang memberi jawaban atas ucapan Retno Wilis itu. Para wasi dan kawan-kawannya berdiam diri, dan Wasi Shiwamurti masih saja menelikung kedua lengan Jayawijaya ke belakang tubuhnya. Retno Wilis menggigit bibirnya dengan marah sekali dan ia berkata kepada Adipati Menak Sampar,

"Adipati Menak Sampar, berjanjilah bahwa engkau tidak akan memperkenankan mereka membunuh kakang Jayawijaya, atau kalau engkau tidak mau berjanji, demi pari dewa, aku akan membunuhmu sekarang juga kemudian mengamuk, kalau perlu mengorbankan nyawaku di sini. Akan tetapi engkaulah yang akan mati lebih dulu!" Setelah berkata demikian, ia menekan pedangnya ke leher adipati itu.

Wasi Shiwamurti menggertak dan berseru keras, "Retno Wilis! Kalau engkau tidak cepat melepaskan Sang Adipati, aku akan membunuh Jayawijaya!"

Retno Wilis membalas dengan kata-kata lantang, "Wasi Shiwamurti! Begitu engkau membunuh kakang Jayawijaya, kepala Adipati Menak Sampar akan menggelinding dari lehernya, kemudian aku akan mengamuk dan percayalah, sebelum aku mati kalian keroyok, aku pasti telah membunuh banyak di antara kalian! Tidak ada gunanya engkau menggertak!"

Merasa betapa pedang itu ditekankan di kulit lehernya dan tahu bahwa gadis perkasa itu bukan hanya menggertak kosong belaka, Adipati Menak Sampar menjadi ketakutan sekali.

"Paman Wasi Shiwamurti, jangan bunuh Jayawijaya!" teriaknya dengan mata terbelalak ketakutan. "Retno Wilis, aku berjanji bahwa aku tidak akan memperkenankan mereka membunuh Jayawijaya!"

"Engkau berani bersumpah?" desak Retno Wilis.

"Aku, Adipati Menak Sampar, bersumpah tidak akan membunuhnya!"

"Aku ingin engkau berjanji dan bersumpah sebagai Adipati Blambangan, bukan pribadi Menak Sampar yang tidak kupercaya!" kata pula Retno Wilis.

"Baiklah, sebagai Adipati Blambangan, aku bersumpah tidak akan membunuh atau menyuruh bunuh Jayawijaya. Paman Wasi bebaskan pemuda itu!"

Mendengar ini, dengan apa boleh buat Wasi Shiwamurti melepaskan kedua lengan Jayawijaya yang tadinya dia telikung ke belakang tubuhnya. Begitu terlepas dari cengkeraman wasi itu, Jayawijaya mendekati Retno Wilis dan berkata kepada gadis itu,

"Diajeng Retno Wilis, harap engkau suka melepaskan Sang Adipati."

Sebelum menarik kembali pedang pusakanya, Retno Wilis yang teringat akan sesuatu berkata lagi, "Adipati Menak Sampar, katakan sekali lagi bahwa engkau akan membebaskan kakang Jayawijaya!"

"Baik, kami membebaskan Jayawijaya, Sekarang juga dia boleh meninggalkan tempat ini dan kami tidak akan mengganggunya sama sekali."

Setelah sang adipati berjanji akan membebaskan Jayawijaya, barulah lega rasa hati Retno Wilis dan iapun melepaskan ancamannya, mundur dan tangannya masih memegang pedang pusakanya. Melihat ini, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda lalu bergerak mendekati sang adipati untuk memberi perlindungan. Adipati Menak Sampar kini menjadi marah sekali. Mukanya yang tadinya pucat berubah merah dan dia berkata dengan mata melotot kepada Retno Wilis.

"Retno Wilis, berani sekali engkau menghina kami. Kami terpaksa harus menawanmu! Terserah engkau hendak menyerah menjadi tawanan atau memaksa kami menggunakan kekerasan terhadap dirimu!"

Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat dan dua orang senopatinya, yaitu Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan Senopati Kurdolangit yang tinggi kurus, telah memimpin belasan orang prajurit pengawal untuk mengepung dara perkasa itu.

Melihat ini, Jayawijaya berseru dengan penasaran. "Sang Adipati Menak Sampar! Andika adalah seorang adipati yang disembah oleh orang-orang sedaerah Blambangan, apakah engkau tidak malu untuk menjilat ludah sendiri yang telah dikeluarkan? Engkau sudah berjanji untuk membebaskan kami. Mengapa sekarang engkau hendak menawan diajeng Retno Wilis?"

"Ha-ha-ha!" Sang Adipati Blambangan itu tertawa bergelak penuh ejekan. "Siapa yang melanggar janji? Kami memang berjanji untuk membebaskan Jayawijaya, dan sekarang pun engkau boleh pergi, kami tidak akan mencegahmu. Akan tetapi kami tidak pernah berjanji untuk membebaskan Retno Wilis! Karena itu ia harus menjadi tawanan kami!"

Retno Wilis teringat akan hal ini dan ia gemas sekali. Dalam keadaan tegang ingin menyelamatkan Jayawijaya ia sampai lupa kepada dirinya sendiri.

"Sang Adipati Menak Sampar, andika seorang adipati yang besar dan tentu tidak akan bertindak sewenang-wenang dan tanpa alasan. Alasan apa yang andika pakai untuk menawan diajeng Retno Wilis?"

"Hemmm, dia seorang telik sandi dari Kerajaan Panjalu! Itu alasan pertama. Dan alasan kedua, dia sudah berani menawan dan menghina kami sebagai sandera. Dan alasan itu telah cukup untuk menawannya! Retno Wilis, menyerahlah atau kami akan menggunakan kekerasan!" bentak Sang Adipati.

Retno Wilis mempererat pegangannya pada gagang pedangnya, siap untuk melawan dan mengamuk. Akan tetapi pada saat itu Jayawijaya melangkah maju menghampirinya dan berkata kepadanya dengan lembut.

"Sarungkan pedangmu, diajeng. Sang Adipati Menak Sampar, apa bila engkau tidak mau membebaskan diajeng Retno Wilis dan hendak menawannya, maka aku pun ingin menyertainya menjadi tawanan."

"Ha-ha-ha, ini adalah kemauanmu sendiri, Jayawijaya, jangan katakan bahwa kami yang melanggar janji. Retno Wilis, serahkan pedangmu dan menyerahlah."

Retno Wilis menyarungkan pedangnya menuruti permintaan Jayawijaya dan menjawab dengan suara dingin.

"Senjata merupakan nyawa kedua bagi seorang pendekar. Aku tidak akan menyerahkan pedangku selama nyawaku belum meninggalkan badan! Tawanlah kami, aku tidak akan melawan."

Sang Adipati Menak Sampar maklum akan kehebatan wanita yang sudah amat terkenal ini. Dia tidak ingin mengorbankan orang-orangnya yang tentu banyak yang akan tewas kalau wanita itu mengamuk.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 25"

Post a Comment