Sepasang Garuda Putih Jilid 24

Mode Malam
Mereka berhenti di bawah sebatang pohon beringin yang besar dan amat tua. Jayawijaya menyusut keringat yang membasahi lehernya. Wajahnya yang tampan itu kemerahan karena sinar matahari yang sudah naik tinggi dan sinarnya mulai panas membakar. Joko Waras memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian dan keheranan?

"Eh, adimas Joko, kenapa engkau memandangi aku seperti itu?" kata Jayawijaya sambil balas memandang.

Joko Waras menghela napas panjang dan bertanya. "Kakang Jayawiya, benarkah sejak dulu engkau tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan dan aji kesaktian sama sekali?”

Jayawijaya menggeleng kepalanya. "Menurut kata ayah, di antara orang yang mempelajari aji kesaktian banyak yang tersesat, mengandalkan aji kesaktiannya untuk memaksakan kehendaknya. Karena itu aku tidak suka mempelajarinya. Banyak macam ilmu yang lebih patut dipelajari, yakni ilmu-ilmu yang berguna, baik bagi orang lain mau pun bagi diri sendiri. Juga banyak ilmu yang memperindah kehidupan ini, seperti ilmu kesenian, seni tari, seni suara, seni rupa dan masih banyak lagi.”

"Akan tetapi tanpa menguasai seni belai diri engkau sudah diganggu dan dijahati orang, seperti halnya kakang Saptoko itu. Sesudah dia mempelajari suatu ilmu silat dariku, baru dia sanggup menghalau orang jahat yang hendak merampas Saritem. Apa bila dia tidak mempelajari ilmu itu, tentu niat jahat Ki Blekok akan terlaksana dan ketidak adilan terjadi di dusun Lentur itu.”

"Aku tidak percaya kalau hal itu akan terjadi. Buktinya, engkau muncul dan menolongnya. Kemunculanmu itulah yang menolong mereka dan kemunculanmu itu bentuk perlindungan dari Hyang Widhi. Kalau Hyang Widhi tidak menghendaki suatu kejahatan terjadi, tentu ada saja jalan keluar untuk menanggulanginya.”

"Akan tetapi andai kata kita tidak kebetulan lewat di dusun itu?”

"Juga belum tentu kejahatan itu terjadi. Mungkin Sang Hyang Widhi akan memberikan perlindungan dalam bentuk lain, mungkin saja ada orang lain yang tiba-tiba muncul untuk mencegah terjadinya kejahatan itu. Akan tetapi mungkin juga Sang Hyang Widhi sudah menghendaki hal itu terjadi maka pertolongan dari mana pun juga tidak akan berhasil menggagalkan peristiwa itu.”

"Wah, kalau begitu sama halnya dengan Sang Hyang Widhi merestui perbuatan jahat!”

"Jangan dinilai secara demikian, adi Joko. Rencana dan keputusan Sang Hyang Widhi merupakan rahasia besar bagi kita. Kita hanya dapat tunduk dan menyerah dengan penuh kesadaran dan kepercayaan bahwa apapun yang dikehendaki Hyang Widhi pasti terjadi dan kejadian itu tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan itulah kenyataan atau kebenaran yang bebas dari pada pendapat baik dan buruk, benar dan salah.”

"Walah, kepalaku menjadi pening kalau begini, kakang Jayawijaya. Sungguh banyak aku mendengar tentang ilmu kehidupan, akan tetapi seperti yang kau gambarkan tadi sungguh membingungkan hatiku. Katanya Gusti itu Maha Suci, Maha Murah dan Maha Adil. Akan tetapi kalau sampai membiarkan seorang laki-laki memaksa seorang wanita menjadi isterinya dan tidak ada yang menolong wanita itu, mana itu dapat dibilang adil?”

"Dalam hal keadilan pun, Keadilan Sang Hyang Widhi sama sekali tidak bisa diukur dengan keadilan anggapan manusia. Anggapan manusia itu selalu berpamrih. Manusia baru menganggap adil kalau keadilan itu menguntungkan dirinya, karena itu keadilan versi manusia ini di mana-mana bertabrakan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Keadilan Sang Hyang Widhi itu maha luas dan tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Karena itu, satu-satunya sikap kita adalah menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi itu telah dikehendaki oleh Hyang Widhi dan itu sudah benar dan adil.”

"Kalau begitu, kita tinggal diam saja dan tidak melakukan apa-apa, menyerahkan saja kepada kekuasaan Tuhan untuk bertindak?”

"Sama sekali salah! Sang Hyang Widhi telah menciptakan kita dengan serba sempurna dan lengkap, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mempergunakan segala kesempurnaan ini di dalam kehidupan. Untuk menjaga diri, untuk mempertahankan hidup ini, untuk menikmati kebahagiaan dalam kehidupan dan sudah menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk berusaha membela kebenaran dan keadilan umum untuk menentang tindak kejahatan."

"Jadi kita harus berusaha. Kalau usaha kita itu gagal, kita lalu menyerahkan kepada keputusan Sang Hyang Widhi?”

"Begitulah, adi Joko. Ada dongeng yang indah sekali tentang hal itu."

"Dongeng? Coba ceritakan kakang. Aku suka mendengar dongeng yang indah-indah.”

"Di jaman dahulu hidup seorang janda bersama seorang anaknya. Mereka hanya hidup berdua saja dan tidaklah aneh kalau janda itu amat mencinta puteranya. Janda itu hidup saleh dan beribadah, tak pernah lupa bersembahyang untuk mohon doa restu dari Sang Hyang Widhi. Pada suatu hari ketika ia sedang mencari kayu bakar bersama puteranya yang berusia lima tahun itu, muncul seekor harimau yang menerkam puteranya sehingga anak itu tewas dengan tubuh penuh luka. Janda itu merasa hancur hatinya dan ia merasa bahwa Hyang Widhi tidak adil. Mengapa bukan ia yang diterkam harimau, melainkan puteranya yang sama sekali belum mengenal dosa? Dengan tekad besar seorang ibu yang kehilangan anaknya iapun ke Suralaya, tempat tinggal para dewata untuk memohon supaya diperkenankan menghadap Sang Hyang Widhi untuk menyampaikan protesnya, ia diterima oleh kepala dewa. Ketika janda itu menyampaikan permohonan dan ulasannya, kepala dewa berkata kepadanya,

Nyi Rondo, tidak begitu mudah untuk dapat menghadap Sang Hyang Widhi. Sebelum andika menghadap beliau, marilah lebih dulu andika melihat layar masa depan, setelah itu baru andika tentukan apakah andika ingin menghadap Hyang Widhi ataukah tidak.

"Janda itu menurut saja diajak ke sebuah taman. Dari taman yang letaknya tinggi itu ia dapat melihat kota-kota dan pedusunan terbentang luas di hadapannya. Kemudian, ia melihat seorang pemuda menunggang kuda dan pemuda itu dengan buasnya membunuhi banyak orang sambil merampasi barang-barang berharga. Pemuda itu kuat sekali, siapa yang maju melawannya tentu dibunuhnya dan dia tidak pandang bulu dalam pembunuhan yang semena-mena itu. Wanita dan kanak-kanak juga dibunuhnya secara kejam sekali, melihat ini, janda yang lembut hati itu tidak tega menyaksikan lebih lama lagi. Ia menutupi kedua matanya dan mengeluh,

Aduh Gusti, untuk apa saya harus melihat segala kekejaman yang tiada taranya ini? Apa hubungannya dengan permohonan saya supaya anak saya yang terkasih itu dihidupkan kembali.

Kepala Dewa yang menyertainya segera menutup layar masa depan itu dan berkata,

Nyi Rondo, ketahuilah bahwa anak muda itu bukan lain adalah puteramu sendiri setelah menjadi dewasa. Karena andika seorang yang hidup saleh dan beribadah amal, maka Sang Hyang Widhi tidak tega untuk menghancurkan perasaan hatimu menyaksikan apa yang akan terjadi dengan puteramu setelah dewasa. Karena itulah maka selagi masih kecil puteramu dimatikan, agar andika terbebas dari derita bathin yang maha hebat. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah engkau masih ingin menghadap Sang Hyang Widhi untuk minta agar puteramu itu dihidupkan kembali?

Sambil bercucuran air mata, janda itu menggeleng kepalanya kuat-kuat dan menjerit,

Tidak! Biarkan anak itu mati. Aku tak ingin melihat dia menjadi dewasa dan jahat seperti itu. Kini mengertilah aku mengapa Sang Hyang Widhi mematikannya. Segala kehendak Sang Hyang Widhi terjadilah karena kehendakNya selalu benar!’”

Jayawijaya berhenti mendongeng dan memandang kepada Joko Waras.

"Nah, demikianlah dongengnya, adi Joko. Di dunia ini banyak terjadi peristiwa yang bagi pandangan manusia tampaknya tidak adil sama sekali. Akan tetapi manusia tidak tahu apa yang tersembunyi di balik itu semua.”

Joko Waras menghela napas panjang.

"Ahhh, aku mengerti sekarang apa yang kau maksudkan, kakang Jaya. Jadi engkau dalam kehidupan ini berikhtiar sekuat tenagamu, dengan landasan penyerahan kepada kehendak Sang Hyang Widhi, dan akan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas! Dan agaknya dengan bekal senjata seperti itu engkau berani menentang kejahatan dan berani pula menentang orang-orang sakti!”

"Aku bukan menentang orangnya, melainkan perbuatannya yang jahat. Tidak mungkin aku membiarkan perbuatan jahat dilakukan orang di depan mataku tanpa aku berusaha untuk mencegahnya.”

"Kakang Jayawijaya, kita sudah menjadi sahabat baik akan tetapi aku belum mengenal riwayatmu. Maukah engkau menceritakan, siapa orang tuamu dimana engkau tinggal dan sekarang ini engkau hendak pergi ke mana dan apa yang sedang dan hendak kaulakukan?”

Menghadapi hujan pertanyaan itu, wajah yang selalu lembut itu tersenyum. "Adi Joko, engkau sudah tahu bahwa namaku adalah Jayawijaya. Aku berasal dari Tengger di mana ayahku menjadi sesepuh perkampungan Tengger. Ayah bernama Panji Kelana dan hidup di Tengger sebagai pertapa dan sesepuh. Banyak orang berguru kepada ayah, akan tetapi banyak pula yang kecewa karena ayah tidak mengajarkan apa-apa kecuali ilmu menyerah dengan mutlak kepada kekuasaan Hyang Widhi seperti yang kuterangkan kepadamu tadi. Ibuku sudah tiada dan aku meninggalkan Tengger atas perintah ayah agar aku mencari pengalaman hidup berkecimpung di dunia ramai. Akan tetapi ayah berpesan agar aku selalu membela kebenaran dan keadilan karena orang yang membela kebenaran dan keadilan, yang menentang tindak kejahatan adalah orang yang akan selalu dilindungi oleh kekuasaan Hyang Widhi. Dan orang yang merasa yakin bahwa dirinya dilindungi kekuasaan Hyang Widhi, tidak takut menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga.”

"Jadi engkau sekarang sedang dalam perjalanan merantau untuk meluaskan pengalaman hidupmu?”

"Benar, adi Joko.”

"Wah, kalau begitu tentu banyak sekali yang kaualami dan apakah engkau tidak pernah bertemu dengan orang-orang jahat yang mencoba untuk mengganggumu?”

"Banyak aku bertemu dengan orang-orang yang menjadi hamba nafsunya dan mereka berusaha untuk mencelakai aku, akan tetapi berkat perlindungan kekuasaan Hyang Widhi, selalu ada saja jalan keluar bagiku dan sehingga kini aku masih dalam keadaan sehat dan selamat. Yang memprihatinkan hatiku adanya banyak orang jahat yang hendak memaksa rakyat berganti agama sesat. Kalau hal ini dibiarkan, amat berbahaya sekali. Rakyat diajar untuk menjadi bodoh dan menjadi hamba nafsu daya rendah yang akan menyeret mereka ke jurang kegelapan.”

Joko Waras membelalakkan matanya.

"Ahh, engkau tahu juga tentang hal itu? Apakah engkau tahu juga bahwa para pimpinan agama baru itu memimpin rakyat untuk membangun candi-candi Trimurti yang lama? Apakah engkau tahu juga apakah agama baru itu?”

"Aku mengerti. Aku sudah pernah bertemu dengan Wasi Karangwolo yang memimpin pembuatan candi yang menyembah Shiwa, Durga dan Kala. Aku pernah menegurnya karena dia memaksakan agama baru kepada rakyat pedusunan.”

Joko Waras tahu bahwa Wasi Karangwolo tentu seorang pemimpin agama baru yang sakti, maka tanyanya, "Dan apa yang diperbuat olehnya kepadamu, kakang Jaya?"

“Dia berusaha membunuhku, lalu menawanku, akan tetapi akhirnya aku dapat lolos juga, berkat pertolongan seorang bibi yang sakti mandraguna."

"Siapa nama bibi itu?" tanya Joko Waras ingin sekali tahu.

"Bibi itu adalah Endang Patibroto, isteri Ki Patih Tejolaksono dari Kerajaan Panjalu. Orangnya hebat sekali, cantik jelita, gagah perkasa dan sakti mandraguna. Akan tetapi sayang...”

"Sayang? Kenapa, kakang?" Tanya Joko Waras dengan jantung berdebar. Orang sedang membicarakan ibu kandungnya!

"Sayang bahwa dia terlalu ganas. Sepak terjangnya seperti seekor burung rajawali yang tidak mengenal ampun. Aku ngeri menyaksikan sepak terjangnya.”

"Bagi seorang ksatria, kalau bertemu dengan orang-orang jahat, dia tentu akan turun tangan membasminya, kakang. Itu bukan ganas namanya, melainkan adil.”

"Hemm, engkau boleh menganggap demikian, akan tetapi aku tidak, adi Joko. Betapa jahatpun seorang manusia, dia harus diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali menjadi orang baik-baik. Sekarang ganti engkau, adi Joko. Ceritakanlah keadaan dirimu kepadaku. Aku merasa amat kagum dan juga heran melihat engkau, adi Joko.”

"Mengapa heran? Apakah keadaan diriku mengherankan dan aneh, kakang? Bukankah aku seorang pemuda biasa seperti yang lain?”

"Sama sekali tidak biasa! Engkau seorang pemuda remaja yang aneh sekali. Bayangkan saja. Usiamu masih begini muda, paling banyak tujuh belas tahun.”

"Walah! Aku sudah dua puluh tahun, kakang!”

"Benarkah? Akan tetapi engkau tampak jauh lebih muda dan semuda ini engkau telah memiliki aji kesaktian yang hebat. Nah, ceritakanlah riwayatmu, adi Joko. Riwayatmu tentu juga hebat sekali. Siapa orang tuamu? Siapa gurumu dari mana engkau berasal dan hendak pergi ke mana?”

Joko Waras tersenyum. Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa ia merasa begitu dekat dengan pemuda ini. Perasaan hatinya begitu senang dan aman berdekatan dengan Jayawijaya.

"Sudah kukatakan, namaku Joko Waras dari pegunungan Kidul di barat sana. Kedua orang tuaku masih hidup dan yang menjadi guruku adalah mendiang Nini Bumigarbo yang tentu saja tidak kaukenal. Seperti juga engkau, aku pergi merantau untuk menambah pengalaman dan pengetahuan, akan tetapi aku tidak pergi seorang diri. Aku pergi berdua dengan seorang kakakku yang bernama Joko Slamet. Dalam perjalanan kami selalu memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran dan keadilan.”

Jayawijaya memandang tajam, dan bertanya, "Di mana sekarang kakakmu itu? Dia tentu seorang yang sakti mandraguna pula.”

"Dibandingkan dengan dia, maka kepandaianku tidak ada artinya, kakang. Kakakku itu selain sakti mandraguna, juga bijaksana dan aku tanggung kalau bertemu dan bercakap-cakap dengan dia, engkau tentu akan merasa akrab dan cocok sekali. Banyak kemiripan di antara kalian berdua, hanya bedanya dia memiliki kesaktian dan engkau tidak. Kami sengaja berpencar dan kami berdua memasuki kadipaten Blambangan dengan mengambil jalan masing-masing untuk bertemu kelak di Blambangan.”

Setelah berkata demikian Joko Waras memandang Jayawijaya. Ia melihat betapa pemuda itu memejamkan kedua matanya seperti orang bersamadhi. Ia merasa heran, akan tetapi mendiamkan saja, dan akhirnya menjadi kesal dan menegur,

"Kakang Jayawijaya, aku bercerita seperti burung berkicau tiada hentinya, dan engkau malah tertidur pulas!"

Jayawijaya membuka matanya dan melihat Joko Waras marah-marah, dia tersenyum lalu berkata dengan sabar dan lembut, "Adi Waras, aku sama sekali tidak tidur nyenyak, aku mendengar semua ceritamu. Cerita itu mengingatkan aku pada Bibi Endang Patibroto.”

"Ehh? Kenapa engkau tiba-tiba teringat kepadanya, kakang Jaya?" Joko Waras menatap tajam wajah pemuda itu, penuh selidik.

"Bibi Endang Patibroto menceritakan kepadaku bahwa ia mencari kedua orang anaknya, seorang laki-laki bernama Bagus Seto dan anak perempuan bernama Retno Wilis. Menurut Bibi Endang Patibroto, kedua orang putera-puterinya itu memiliki kesaktian, oleh karena itu, bertemu dengan andika dan mendengar tentang kakak andika, aku teringat akan cerita Bibi Endang Patibroto itu. Alangkah cocoknya kalau andika dan kakak andika menjadi anak-anaknya. Akan tetapi, menurut ceritanya, kedua anaknya itu adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan, sedangkan andika dan kakak andika keduanya laki-laki.”

Joko Waras menelan ludahnya untuk menenteramkan hatinya yang sempat berdebar.


"Akan tetapi engkau melihat sendiri bahwa aku dan kakakku keduanya adalah laki-laki, kakang Jaya.”

"Itulah yang membuat aku tadi seperti melamun karena menurut penilaianku, engkau dan kakakmu itu sungguh pantas menjadi putera-putera Bibi Endang Patibroto."

"Sudahlah, jangan membayangkan yang bukan-bukan, kakang Jaya. Sekarang aku hendak bertanya, engkau hendak melanjutkan perjalanan ke mana, kakang?"

"Ke mana saja hati dan kakiku membawanya, Adi Waras. Aku tertarik sekali mendengar ceritamu tadi. Engkau dan kakakmu berpencar memasuki Blambangan. Kalau boleh aku mengetahui, apa yang hendak kalian lakukan di Blambangan?”

"Kami berdua hendak menyelidiki keadaan di Blambangan, kakang. Kami mendengar bahwa Blambangan dan Nusabarung sedang menghimpun kekuatan untuk memusuhi Jenggala dan Panjalu, dan juga kami telah melihat ada usaha untuk meracuni rakyat Jenggala dengan pemujaan agama baru. Sebagai seorang kawula Panjalu, tentu saja kami tidak rela melihat hal ini. Kami akan melakukan penyelidikan di Blambangan untuk kemudian kami laporkan kepada Kerajaan Panjalu.”

"Wah, kalau begitu andika adalah seorang telik sandi (mata-mata) yang dikirim Panjalu untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan?”

"Bukan telik sandi yang dikirimkan pemerintah. Kami kakak beradik tadinya hanya hendak merantau dan meluaskan pengalaman menambah pengetahuan. Setelah tiba di sini kami melihat kenyataan-kenyataan yang membahayakan Panjalu dan Jenggala. Maka, secara suka rela kami melakukan penyelidikan, bukan sebagai utusan Panjalu atau Jenggala.”

Jayawijaya mengangguk-angguk.

"Aku mengerti dan hal itu sungguh menarik hati sekali. Tujuan andika berdua amat baik dan sekiranya andika tidak berkeberatan, aku-pun suka untuk memasuki Blambangan dan ikut pula mencegah agar para pemuja Shiwa Durgo-Kala itu tidak menyesatkan orang-orang dengan agama baru mereka.”

"Akan tetapi perjalanan ini berbahaya sekali, kakang Jaya. Para pemimpin agama baru itu merupakan orang-orang sakti yang tentu akan membunuhmu kalau mereka mengetahui bahwa engkau menentang niat mereka.”

Jayawijaya tersenyum.

"Sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku berlindung di dalam Kekuasaan Hyang Widhi, aku tidak takut ancaman yang bagaimanapun juga. Kalau Gusti Yang Maha Kuasa telah menentukan bahwa aku harus mati, aku pun tidak akan berkeberatan atau menyesal. Sebaliknya, kalau Yang Maha Kuasa belum menghendaki aku mati, ancaman dari manapun juga datangnya tidak akan mampu membunuhku.”

"Begitu tebalkah keyakinanmu, kakang?”

"Setebal bumi, Adi Waras.”

"Baiklah kalau begitu, Kakang Jaya. Semoga keyakinan dan imanmu akan benar-benar mendatangkan perlindungan bagi dirimu dari Hyang Widhi, kalau-kalau aku tidak mampu melindungimu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kita harus berhati-hati karena ini sudah dekat dengan tapal batas Kadipaten Blambangan.”

Matahari telah naik tinggi, tengah hari telah lewat ketika mereka tiba di perbatasan Kadipaten Blambangan. Dari sebuah lereng bukit mereka melihat bahwa di depan terdapat sebuah dusun, masih agak jauh hanya tampak gentengnya saja. Karena mereka merasa haus, maka melihat dusun ini mendatangkan semangat kepada mereka sehingga mereka berjalan lebih cepat agar segera tiba di dusun itu untuk mencari minuman pelepas haus. Tiba-tiba saja muncul seorang kakek di depan mereka, menghadang jalan. Joko Waras menahan langkahnya, diturut oleh Jayawijaya dan mereka memandang kakek itu penuh perhatian.

Dia seorang kakek yang usianya kurang lebih enam puluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang sedang besarnya itu tampak masih tegak dan kokoh. Walau pun gerak geriknya lembut, namun di balik kelembutan itu bersembunyi kekuatan yang dahsyat. Dia memakai jubah sederhana berwarna kuning seperti yang biasa dipakai para pendeta. Rambutnya sudah berwarna dua, namun jenggot dan kumisnya sudah putih semua. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat berkepala naga yang panjangnya sama dengan tinggi badannya. Melihat dua orang muda itu, kakek itu tersenyum lebar dan mengangkat tangan kanannya ke atas kepala seperti orang melambai.

"Dua orang muda, perlahan dulu! Siapakah andika berdua dan hendak memasuki wilayah Blambangan ada keperluan apakah?”

Pertanyaan itu dilakukan dengan suara halus. Akan tetapi Joko Waras yang melihat pendeta itu dapat menduga bahwa dia bukanlah seorang pendeta yang hidup suci, dapat ia lihat dari sinar matanya yang mengandung kekejaman. Maka, sebelum Jayawijaya menjawab, dia mendahului,

"Kakek, minggirlah dan beri kami jalan. Kami adalah orang-orang muda yang sedang mengembara, tidak mempunyai urusan denganmu. Minggirlah!”

Akan tetapi mendadak tampak sesosok bayangan berkelebat dan di dekat kakek itu berdiri seorang kakek lain. Kakek ini usianya kurang lebih enam puluh dua tahun, pakaiannya mewah dan dia pesolek sekali, rambutnya tersisir licin dan berminyak, sikapnya kewanitaan. Dia melirik ke arah Jayawijaya lalu berkata kepada kakek pertama,

"Kakang Wasi, pemuda yang lebih tinggi itulah yang pernah kutemui bersama dengan Endang Patibroto. Mereka itu tentu telik sandi yang akan menyelidiki Blambangan!”

Melihat kakek ke dua ini, teringatlah Jayawijaya akan peristiwa yang dialaminya beberapa pekan yang lalu. Kakek itu adalah Wasi Karangwolo yang dilihatnya membujuk penduduk dusun untuk beralih agama baru di sertai ancaman. Bahkan dia telah diserang oleh kakek itu dan kemudian muncul Endang Patibroto yang mengalahkan kakek itu. Mendengar ucapan Wasi Karangwolo, Jayawijaya lalu berkata dengan lembut, namun dengan suara mengandung penuh teguran.

"Mengapa andika selalu mencari permusuhan dan keributan? Dulu aku melihat andika membujuk dan memaksa rakyat untuk berganti agama, sekarang andika menghadang perjalanan kami. Siapakah andika berdua dan ada maksud apa menghadang perjalanan kami?”

Ketika mendengar keterangan Wasi Karangwolo bahwa pemuda itu pernah bersama Endang Patibroto, Wasi Shiwamurti, yaitu kakek pertama tadi, mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk.

"Bagus, kiranya dia pernah bersama Endang Patibroto? Hei, orang muda. Ketahuilah bahwa aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah adik seperguruanku bernama Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat Adipati Menak Sampar di Blambangan. Kalau engkau menyayang nyawamu sendiri, mari ikut dengan kami dan tunjukkan di mana adanya Endang Patibroto sekarang."

Joko Waras yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan saja, ketika melihat Wasi Karangwolo segera mengenal kakek itu. Wasi Karangwolo itu bersama Wasi Surengpati pernah mempergunakan sihir dan menawannya, setelah penyamarannya sebagai Joko Wilis diketahui Dyah Candramanik puteri Adipati Nusabarung dan oleh puteri itu dilaporkan kepada ayahnya. Untung kakaknya Bagus Seto membebaskannya dari tempat tahanan dan ia pun mengamuk lalu menyandera Adipati Martimpang, yaitu Adipati Nusabarung sehingga dia dapat lolos dari kepungan para prajurit dan senopati Nusabarung.

Hatinya sudah menjadi marah sekali melihat Wasi Karangwolo yang tidak mengenalnya sebagai Retno Wilis. Dia lalu melangkah maju dan dengan suara lantang menegur dua orang kakek itu dengan berani.

"Kalian ini dua orang kakek tua bangka, lagi kalian adalah pendeta, seharusnya mencari jalan terang untuk bekal kematian kalian. Akan tetapi kalian bahkan berbuat jahat dan hendak memaksa orang. Pendeta macam apa kalian!”

Wasi Shiwamurti sampai terbelalak saking kaget, heran dan marahnya. Dia, seorang wasi yang disanjung-sanjung banyak orang, dipuja-puji seperti seorang dewa titisan Bathara Shiwa, kini dimaki-maki oleh seorang bocah! Saking marahnya dia sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata sampai beberapa lamanya. Dia merasa serba salah. Kalau meladeni seorang bocah yang tampaknya belum dewasa, berpakaian seperti bocah petani itu, sungguh merendahkan martabatnya. Akan tetapi kalau tidak dilayani dan dihajar, bocah ini sungguh menghina sekali.

"Keparat, engkau bocah masih ingusan berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepadaku?”

"Mengapa tidak berani? Kalian memang pendeta-pendeta yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Sepantasnya kalian ini menjadi maling atau perampok!" kata Joko Waras.

Wasi Shiwamurti menahan kemarahannya dan membentak, "Jangan kalian mati tanpa nama! Katakan siapa nama kalian?”

Jeko Waras mengacungkan jempolnya menunjuk ke arah dada sendiri, lalu menunjuk dengan jempolnya ke arah Jayawijaya sambil berkata, "Aku bernama Joko Waras dan kakang ini bernama Jayawijaya. Agaknya kalian ini biang keladinya penyebaran agama baru yang menyesatkan rakyat. Benarkah itu?”

Wasi Shiwamurti mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang terluka. Suara gerengannya menggetar-getar dengan amat kuatnya dan terdengarlah suaranya yang lantang dan mengandung wibawa kuat sekali. Ternyata dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya.

”Joko Waras dan Jayawijaya, berlututlah kalian!”

Joko Waras terkejut bukan main karena ada dorongan yang luar biasa kuatnya memaksanya untuk menekuk kedua lututnya, ia tahu bahwa itu adalah gerengan ilmu sihir yang amat kuat. Ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan, namun ia kalah kuat dan tak dapat tertahankan lagi kedua lututnya tertekuk dan ia sudah jatuh berlutut di depan kakek itu.

Akan tetapi Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh. Bentakan dan perintah itu lewat begitu saja seperti angin lalu dan tidak mempengaruhinya, bahkan dia cepat mengangkat bangun Joko Waras sambil berkata. "Adi Waras, tidak perlu berlutut di depan mereka. Bangunlah."

Dan seketika Joko Waras terlepas dari pengaruh yang memaksanya berlutut itu. Ia tidak sempat terheran-heran mengapa Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh oleh sihir itu bahkan dapat menyadarkan dan membebaskannya dari pengaruh sihir. Ia marah sekali kepada kakek yang menamakan dirinya Wasi Shiwamurti itu.

Karena maklum dia berhadapan dengan seorang wasi yang maha sakti, Joko Waras lalu membungkuk dan mencengkeram tanah berpasir itu dan ketika ia mengerahkan tenaga saktinya, segenggam tanah berpasir itu telah menjadi pasir sakti Pancaroba dan ia mengeluarkan bentakan sambil melontarkan pasir itu ke arah muka Wasi Shiwamurti.

Sang Wasi terkejut juga melihat serangan dahsyat ini. Namun dengan tenang ia mengebutkan lengan jubahnya yang lebar dan pasir yang berbahaya dan mematikan itu runtuh semua ke atas tanah. Joko Waras tidak mau berhenti sampai di situ saja. Walau pun serangannya gagal, ia menerjang maju dan menyerang dengan Aji Wisolangking, pukulan yang mengandung racun berbahaya, yang dahulu merupakan ilmu andalan dari gurunya, yaitu Nini Bumigarbo!

Wasi Shiwamurti semakin terkejut pada waktu melihat betapa "bocah ingusan" itu dapat menyerangnya dengan ilmu pukulan sedahsyat itu. Dia menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis.

"Wuuuttt... desss...!"' Dan wasi itu terdorong mundur sampai tiga langkah!

Hal ini terjadi karena dia masih memandang rendah sehingga ketika menangkis tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Akan tetapi akibat benturan dua tenaga sakti itu membuat dia mundur tiga langkah dan hal ini sungguh amat mengejutkan! Wasi Shiwamurti menjadi marah bukan main. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, lalu dia melontarkan tongkatnya ke atas.

"Wuss...!” Tampak asap mengepul dan keluarlah dari angkasa seekor naga hitam yang menggiriskan.

Melihat ini Joko Waras terbelalak dan perasaan ngeri mencekamnya. Tetapi Jayawijaya mendorongkan kedua tangannya ke arah naga hitam itu sambil berkata lembut,

"Hong... air boyo sedyo rahayu...!”

Seketika naga hitam itu jatuh ke atas tanah dan berubah lagi menjadi tongkat berkepala naga milik Wasi Shiwamurti. Dapat dibayangkan betapa kagetnya sang wasi melihat ini. Ilmu sihirnya yang paling diandalkan itu begitu saja dipunahkan oleh pemuda itu! Joko Waras juga merasa heran dan girang sekali melihat ini, maka iapun menyerang lagi dengan Aji Wisolangking, mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah sang wasi itu. Melihat ini, sekarang Wasi Shiwamurti tidak berani memandang rendah dan dia mengerahkan seluruh tenaga, menggunakan tangan kanan menangkis pukulan itu dan tangan kirinya menyambar ke depan, tepat mengenai bawah pundak kanan bagian depan dari Joko Waras.

"Desss...!” Joko Waras terpelanting dan sampai bergulingan saking hebatnya pukulan itu. Ia merasa betapa dada bagian atas di bawah pundak kanan itu nyeri bukan main.

“Jangan pukul Adi Waras!" teriak Jayawijaya ketika melihat Joko Waras dihantam sampai terguling-guling dan dia maju menghampiri Wasi Shiwamurti untuk mencegahnya menyerang lagi kepada Joko Waras.

Wasi Shiwamurti yang tadi melihat betapa ilmu sihirnya dipunahkan oleh Jayawijaya, menyangka bahwa pemuda itu tentu memiliki kesaktian yang tinggi. Maka melihat pemuda itu menghampirinya, dia lalu memapaki dengan pukulan yang menggunakan kedua tangannya didorongkan ke arah dada pemuda itu. Pukulan ini hebat sekali, lebih hebat dari pada pukulan tangan kiri yang merobohkan Joko Waras tadi. Kalau terkena pukulan dahsyat ini, tentu Jayawijaya akan remuk dadanya dan tewas seketika!

Akan tetapi terjadi keanehan yang luar biasa. Ketika kedua tangan Wasi Shiwamurti dengan tenaga sepenuhnya mendorong ke depan, tiba-tiba wasi itu merasakan betapa kedua tangannya bertemu dengan hawa yang maha dahsyat dan demikian kuatnya hawa itu sehingga tubuhnya terjengkang roboh dan terbanting keras seolah-olah dia yang terkena pukulannya itu! Sebetulnya peristiwa ini adalah sederhana saja dan sama sekali tidak aneh atau mengherankan. Harus diketahui bahwa Jayawijaya adalah seorang pemuda yang sejak kecil sekali sudah diajarkan dan ditanamkan iman dan penyerahan yang total dan ikhlas kepada kekuasaan Tuhan sehingga kalau ada bahaya mengancamnya, seolah-olah dia selalu terlindungi oleh Kekuasaan yang maha kuat dan tidak tampak. Pukulan Wasi Shiwamurti memang hebat, terbentuk dari latihan dan penggunaan aji kesaktian, akan tetapi apa artinya semua ilmu kedigdayaan dan kesaktian yang dapat dipelajari manusia kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan?

Joko Waras yang terkena pukulan hebat itu, walau pun menderita nyeri yang hebat tetapi ia masih sadar. Melihat Wasi Shiwamurti terjengkang, dia khawatir sekali kalau sampai sang wasi menyerang lagi dan membunuh Jayawijaya. Maka dia cepat-cepat melompat, menyambar tangan Jayawijaya kemudian ditariknya pemuda itu melarikan diri dari tempat berbahaya itu. Baru Wasi Shiwamurti saja sudah merupakan lawan yang terlalu tangguh, apa lagi kalau dibandingkan Wasi Karangmolo! Dengan pikiran ini Joko Waras menahan rasa nyerinya dan terus mengajak lari Jayawijaya yang ditariknya itu memasuki sebuah hutan yang terdapat di lereng bukit itu.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 24"

Post a Comment