Sepasang Garuda Putih Jilid 17

Mode Malam
"Orang muda, jangan banyak cerewet! Lekas serahkan buntalanmu itu bila engkau ingin hidup!" bentak pemimpin perampok yang berewokan.

"Kalian menginginkan buntalan pakaianku ini? Boleh, kalau kalian memang membutuhkan pengganti pakaian, ambillah."

Dia melepaskan buntalannya dan menyerahkannya kepada kepala perampok. Si brewok itu menyambar buntalan itu dengan tangannya, lalu membuka buntalan. Ternyata benar hanya terisi beberapa stel pakaian yang sederhana, tidak dapat dibilang mewah dan tidak berharga. Dia mengerutkan alisnya dengan kecewa dan melemparkan buntalan pakaian itu ke atas tanah.

Karena agaknya tidak bisa mendapatkan barang berharga dari pemuda itu, dia bermaksud untuk menghinanya saja sebagai tindakan bersenang-senang dan iseng untuk menebus kekecewaannya.

"Sekarang lepaskan semua pakaianmu, itu pun harus diserahkan kepada kami!" bentak Si Brewok.

"Sobat, ini sudah keterlaluan namanya! Aku sudah menyerahkan semua pakaianku, akan tetapi andika masih menghendaki yang kupakai. Apa andika ingin agar aku bertelanjang bulat?"

"Ha-ha-ha, tidak peduli engkau akan bertelanjang seperti monyet, yang penting taatilah perintah kami. Hayo, cepat lucuti pakaianmu atau kami akan menggunakan kekerasan!"

"Tidak, terpaksa aku tidak dapat menuruti permintaanmu yang keterlaluan itu," jawab Jayawijaya sambil mengerutkan alisnya dan menentang pandang mata tujuh orang itu dengan berani.

"Apa?" Kepala rampok membentak sambil melolot. "Berani andika menolak perintahku? Apa andika ingin mampus?"

Sambil berkata demikian dia melangkah maju dan menggunakan lengan tangannya yang besar itu untuk mendorong dada Jayawijaya. Dorongan itu kuat sekali tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh Jayawijaya terjengkang roboh. Akan tetapi dia tidak merasakan nyeri dan segera dia bangkit berdiri, matanya dengan berani menentang mereka.

"Kalian jahat! Kalian tentu akan memetik buah dari perbuatan kalian sendiri!" katanya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka si brewok.

Sikap dan kata-kata pemuda ini membuat para perampok itu menjadi marah sekali. Srat-srat-srat! Mereka mencabut golok yang tergantung di pinggang. Pemuda itu roboh hanya oleh dorongan tangan, akan tetapi bersikap demikian berani menentang mereka!

"Monyet tak berguna! Sekarang aku akan mencabut nyawamu!" bentak si brewok sambil mengangkat goloknya tinggi-tinggi dengan sikap mengancam.

Jayawijaya tetap berdiri tenang dan sedikitpun dia tidak berkedip menghadapi ancaman tujuh orang yang memegang golok itu.

"Kalau Sang Hyang Widhi belum menghendaki aku mati, golok-golokmu itu tak ada artinya dan tidak akan mampu membunuhku!" katanya dengan penuh keyakinan.

Tentu saja tujuh orang itu merasa ditantang. Si brewok lalu menerjang maju, goloknya ditebaskan ke arah leher pemuda itu dengan maksud sekali serang akan membikin putus leher itu. Akan tetapi, ketika golok itu sudah dekat sekali dengan leher Jayawijaya yang sama sekali tidak mengelak, golok itu terpental kembali dengan kuatnya sehingga hampir terlepas dari pegangan kepala perampok, seolah ada hawa yang amat kuat melindungi leher itu! Jayawijaya hanya mundur selangkah.

Kepala perampok menjadi heran dan penasaran sekali, lalu bersama enam orang anak buahnya dia menyerang kembali. Tujuh golok menyambar-nyambar ke tubuh Jayawijaya namun semua golok terpental kembali setelah mendekat tubuh pemuda itu.

Endang Patibroto yang mengintai peristiwa itu, berdiri terlongong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Belum pernah ia melihat hal yang seaneh itu. Jayawijaya jelas tidak memiliki ilmu kepandaian atau kesaktian. Buktinya ketika didorong tadi ia terjengkang roboh. Akan tetapi mengapa golok-golok itu tidak dapat melukainya, bahkan tidak dapat menyentuh tubuhnya?

Ia tidak melihat pemuda itu menggunakan anggota tubuhnya untuk menangkis atau pun mengelak, tetapi golok-golok itu terpental membuat penyerangnya terhuyung ke belakang. Sungguh suatu penglihatan yang luar biasa anehnya.

Dia teringat kata-kata pemuda itu bahwa dia tidak mempunyai ilmu apa-apa dan satu-satunya ilmu yang menjadi pegangannya hanya penyerahan kepada Sang Hyang Widhi! Benarkah penyerahan dapat menciptakan suatu pengaruh tidak tampak yang dapat melindunginya dari mala petaka? Endang Patibroto tidak dapat membayangkan hal ini!

Ia sendiri percaya akan kekuasaan Hyang Widhi, Yang Maha Pencipta atau Yang Maha Kuasa yang kekuasaannya tergabung dalam Trimurti. Yang Maha Pencipta, Yang Maha Melindungi dan Yang Maha Pembasmi. Akan tetapi kalau ia disuruh menyerah dengan ancaman seperti itu di depan mata, kiranya penyerahannya akan menghilang dan ia tentu akan mempergunakan segala kesaktiannya untuk melindungi dirinya. Akan tetapi pemuda itu dapat melindungi dirinya dengan iman dan penyerahan yang mutlak dan hasilnya, Hyang Widhi agaknya melindunginya dengan suatu kemujijatan!

Setelah membacok dan menusukkan golok mereka tanpa hasil dari yang mengakibatkan golok mereka terpental dan tubuh mereka terhuyung ke belakang, para perampok itu menjadi ketakutan. Mereka mengira bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang sakti mandraguna, maka mereka lalu memutar tubuh dan melarikan diri pontang panting dengan ketakutan.

Jayawijaya tersenyum dan mengambil buntalannya dari atas tanah. Dia menggendong lagi buntalannya setelah membersihkannya dari tanah, kemudian melanjutkan perjalanannya seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya. Karena yakin sepenuhnya bahwa Hyang Widhi yang melindunginya, maka dia sama sekali tidak merasa sombong, karena dia sendiri tidak melakukan sesuatu. Hanya di dalam hatinya tak ada henti-hentinya dia mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi yang sudah melindunginya dari mara bahaya.

Sudah sering kali dia mengalami hal seperti itu, yakni selalu terlepas dari bahaya secara ajaib. Dia sudah terbiasa dan karenanya, keyakinan imannya dan penyerahannya menjadi semakin mendalam. Dia percaya sepenuhnya bahwa Yang Menciptakannya tidak akan membiarkan dia terancam malapetaka. Dia tidak menggantungkan kepada perlindungan Hyang Widhi, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi diri sendiri, akan tetapi kalau usahanya itu telah sampai di puncaknya dan tidak berhasil, dia hanya menyerahkan diri kepada Hyang Widhi. Semua usahanya selalu berlandaskan penyerahan yang ikhlas dan sepenuh iman.

Dia tidak tahu bahwa Endang Patibroto masih terus membayanginya dari jauh, karena wanita ini tertarik sekali dan ingin melihat perkembangannya dan apa yang akan dialami oleh pemuda yang luar biasa itu.

Ia sendiri harus mengakui bahwa beberapa kali ia terhindar dari mara bahaya secara yang tidak disangka-sangka, akan tetapi ia menganggap hal itu sebagai suatu kebetulan saja. Tidak seperti pemuda itu yang seolah-olah melihat Tangan Sang Hyang Widhi selalu melindunginya!

Jayawijaya melanjutkan perjalanannya. Hari telah menjelang senja dan melihat sebuah dusun di depan, dia bermaksud untuk mencari tempat untuk mondok dan melewatkan malam. Di sudut dusun itu, agak terpencil, dia melihat sebuah rumah yang lumayan besarnya. Dia segera memasuki pekarangan rumah itu. Ruangan depan rumah itu sunyi saja, tidak tampak seorang-pun, akan tetapi lampu gantung di ruangan itu sudah dinyalakan orang.

"Kulonuwun...!” Jayawijaya mengucapkan salam.

Ada jawaban dari dalam dan keluarlah seorang laki-laki dan seorang wanita yang usianya sudah lima puluh tahunan. Dua orang itu menyambut kedatangan Jayawijaya dengan ramah.

"Anakmas siapakah dan ada keperluan apakah mengunjungi rumah kami?" tanya yang pria.

"Nama saya Jayawijaya dan karena kemalamn di jalan, saya mohon kepada paman dan bibi agar dapat menerima saya bermalam di sini untuk malam ini."

Dua orang itu mengamati wajah Jayawijaya dan melirik ke arah buntalan di punggungnya. "Ah, boleh saja, anakmas. Silakan masuk, akan tetapi maaf, tempat kami kotor dan jelek."

"Paman terlalu merendahkan diri. Rumah ini cukup bersih dan indah. Apakah paman dan bibi hanya berdua saja tinggal di rumah ini?"

"Ya, kami hanya tinggal berdua. Kebetulan ada sebuah kamar kosong untuk andika bermalam. Silakan duduk. Kami tadi sedang siap untuk makan malam, maka marilah andika bersama kami makan malam, anakmas Jayawijaya."

"Terima kasih, paman dan bibi baik sekali," kata Jayawijaya dan diapun ikut masuk ke ruangan dalam.

"Duduklah dulu sebentar, anakmas. Kami berdua akan mempersiapkan hidangan malam untuk kita bertiga," kata laki-laki itu dan dia bersama isterinya lalu meninggalkan Jayawijaya seorang diri saja di ruangan itu.

Jayawijaya duduk di atas bangku dan menanti dengan hati senang. Beruntung, pikirnya, sekali ketuk sebuah rumah sudah diterima dengan ramah. Sementara itu, Endang Patibroto mendekati rumah itu dan mengintai dari belakang. Ia melihat sepasang suami isteri setengah tua itu sedang sibuk di dapur.

"Dia tentu seorang priyayi," kata yang wanita kepada yang pria.

"Buntalannya itu tentu mengandung isi yang berharga."

"Sekali ini kita akan untung besar."

"Akan tetapi di mana kita taruh racun ini?" tanya si pria sambil mengeluarkan sebuah bungkusan kain berwarna hitam.

"Jangan ditaburkan pada makanan karena kita akan makan bersama. Sebaiknya dimasukkan ke dalam air teh dan kita suguhi dia air teh itu dulu sebelum makan. Dia tentu haus dan akan minum air teh itu." Pria itu lalu membuka bungkusan dan ternyata di dalamnya terdapat bubuk berwarna biru. Dia lalu menuangkan isi bungkusan itu ke dalam sebuah poci minuman.

“Apa itu tidak akan terasa olehnya?"

“Tidak akan terasa. Kita beri teh yang kental sehingga rasa pahitnya akan disangka pahitnya teh."

Endang Patibroto terkejut sekali. Dua orang pemilik rumah itu bermaksud untuk meracuni Jayawijaya! Ia mengambil keputusan untuk terus mengamati dan nanti akan turun tangan mencegah kalau pemuda itu hendak minum air teh karena betapapun juga, ia tidak ingin pemuda itu keracunan. Apakah penyerahannya akan dapat menolak bekerjanya racun? Endang Patibroto tidak mau membiarkan ini terjadi.

Setelah hidangan dan minuman selesai disiapkan, suami isteri itu lalu membawa hidangan ke ruangan tengah di mana pemuda itu masih duduk di atas bangku.

"Ah, kami hanya mempunyai suguhan sederhana ini, anakmas. Nasi jagung dan sayur lodeh. Mari silakan minum dulu, karena andika tentu kehausan!" kata tuan rumah sambil menuangkan air teh dari poci itu dalam sebuah cangkir dan memberikannya kepada Jayawijaya.

Pemuda itu menerima cangkir teh dan menghaturkan terima kasih lalu membawa cangkir itu ke mulutnya tanpa ragu. Di luar jendela, Endang Patibroto sudah siap dengan sebuah batu kecil untuk ditimpukkan kalau pemuda itu benar-benar hendak minum air teh dari dalam cangkir. Tetapi ia tidak tergesa-gesa karena hendak melihat perkembangannya.

Cangkir itu sudah menempel di bibir Jayawijaya, namun tiba-tiba Jayawijaya menjauhkan cangkir dan mengerutkan hidung dan alisnya. Dia menaruh kembali cangkir teh itu ke atas meja. Suami isteri yang memandang dengan mata penuh harap menjadi kecewa melihat pemuda itu tidak jadi minum air tehnya dan meletakkan cangkir di atas meja.

"Ada apa, anakmas?" tanya si wanita. "Mengapa andika tidak minum air teh yang kami suguhkan?"

Jayawijaya menggelengkan kepalanya. "Entah mengapa, bibi. Akan tetapi mulutku tidak mau minum air teh itu," katanya dengan polos.

Memang ketika dia hendak minum tadi, mulutnya langsung menolak karena air teh itu seperti mengeluarkan bau yang memuakkan.

"Denmas!" tuan rumah itu berkata dengan nada suara kasar. "Kami dengan sungguh hati menerima kedatanganmu dan menyuguhkan makanan dan minuman seadanya. Kalau andika tidak mau minum air teh kami, berarti andika menghina dan memandang rendah kepada kami!"

"Ayo minumlah, denmas!" isterinya juga membujuk Jayawijaya.

Pemuda itu merasa tidak enak untuk menolak. Sekali lagi dia mengambil cangkir itu dan menempelkan di mulutnya. Akan tetapi, baru saja air teh menyentuh bibirnya, dia sudah menyemburkan keluar dan menaruh cangkir itu di atas meja kembali.

"Ada apakah, denmas? Apakah air teh kami tidak enak?" tanya si wanita.

Jayawijaya menggeleng kepala. "Bukan tidak enak, entah mengapa mulutku tidak dapat menerimanya." Dia sendiri pun merasa heran mengapa ketika air teh menyentuh bibirnya, bibir itu seperti terkena api rasanya.

Tiba-tiba laki-laki tuan rumah itu menjadi marah. "Orang muda, andika sungguh menghina kami! Aku tidak terima diperhina seperti ini. Andika ternyata seorang yang tidak mengenal budi dan sudah sepatutnya dihajar!" Berkata demikian, orang itu menyambar sebatang arit dari dinding.

Isterinya juga segera memegangi kedua tangan Jayawijaya dan berkata, "Engkau seorang pemuda yang tidak tahu diri! Cepat, pakne, hajar dia!" Ia memegangi kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan kuatnya.

Laki-laki itu lalu melangkah maju dan aritnya diayun ke arah kepala Jayawijaya.

"Wuuuttt... crok...! Aduuhhh...!”

Wanita itu menjerit dan pundaknya terluka mengeluarkan darah. Ternyata ketika arit tadi menyambar ke arah kepala Jayawijaya, entah bagaimana arit itu menyimpang kemudian mengenai pundak wanita itu!

Pria itu terbelalak melihat aritnya melukai isterinya sendiri. Dia menjadi marah dan sekali lagi membacokkan aritnya ke arah kepala Jayawijaya. Pemuda itu hanya berdiri tenang saja, namun arit yang menyambar ke kepalanya itu pun tiba-tiba menyeleweng, bahkan terlepas dari tangan pria itu dan meluncur turun melukai pahanya sendiri!

Pria dan wanita itu segera mengaduh-aduh akan tetapi mereka agaknya menduga bahwa pemuda itu tentu memiliki ilmu yang tinggi, maka keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah minta ampun.

"Ampunkan kami yang telah berani mengganggu paduka..." kata laki-laki itu ketakutan.

"Ampunkan saya, kanjeng..." Isterinya juga meratap.

Jayawijaya mengerti apa yang terjadi. Minuman itu tentu mengandung racun, maka Kekuasaan Hyang Widhi yang menghalangi mulutnya untuk minum kemudian ketika kakek itu menyerangnya, Kekuasaan Gaib itu pula yang membuat arit itu melukai suami isteri itu sendiri. Diam-diam dia mengucap syukur dan memuji Sang Hyang Widhi yang sudah melindunginya.

"Paman dan bibi. Kalau andika berdua tidak suka menerima kedatangan saya,mengapa tidak mengatakan terus terang saja? Mengapa harus menggunakan daya upaya untuk mencelakakan saya? Kalau andika berdua ingin minta ampun, mintalah ampun kepada Sang Hyang Widhi, karena perbuatan andika berdua itu merupakan dosa terhadap Sang Hyang Widhi, bukan terhadap saya." Dia lalu mengambil pula buntalan pakaian yang tadi diletakkan di atas meja, mengikatkan di punggungnya dan melangkah keluar dari rumah itu dengan lenggang seenaknya, seolah tidak pernah terjadi sesuatu dalam rumah itu.

Suami isteri itu masih terus berlutut menyembah-nyembah dengan ketakutan. Endang Patibroto yang mengintai dan menyaksikan semua itu, kembali menjadi bengong terlongong. Seorang pemuda yang hebat! Belum pernah selama hidupnya dia melihat atau mendengar akan adanya seorang pemuda yang berada dalam perlindungan Yang Maha Kuasa sedemikian ajaibnya. Pemuda yang sukar dicari bandingannya. Pemuda seperti itulah yang patut menjadi suami puterinya, Retno Wilis! Dengan pikiran ini, Endang Patibroto lalu berlari menyusul pemuda itu.

"Anakmas Jayawijaya!" tegurnya.

Pemuda itu menoleh dan melihat Endang Patibroto, dia tersenyum. Senyum itu demikian lembut dan penuh pengertian, pikir Endang Patibroto.

"Wah, kita bertemu lagi, kanjeng bibi Endang Patibroto!" kata Jayawijaya dengan girang.

"Aku kebetulan lewat di sini juga dan melihat andika," kata Endang Patibroto. "Dan andika dari mana sajakah?" tanyanya untuk memancing pemuda itu menceritakan peristiwa yang tadi dialaminya. Akan tetapi pemuda itu tersenyum.

"Aku hendak mencari tempat untuk melewatkan malam, kanjeng bibi."

"Aku pun demikian. Akan tetapi tidak enak kiranya bila kita mengganggu penduduk dusun. Mungkin mereka malah mencurigai kita."

"Habis, kanjeng bibi hendak bermalam di mana?"

"Seorang pengembara seperti aku ini tidur di manapun boleh saja. Aku melihat ada gubuk di tengah ladang, bagaimana kalau kita melewatkan malam di sana?"

"Baiklah, aku akan senang sekali, kanjeng bibi."

Mereka berdua lalu keluar dari dusun itu dan benar saja, di luar dusun terdapat ladang yang luas dan tampak beberapa buah gubuk di tengah ladang.

"Nah, aku dapat bermalam di gubuk ini, dan andika bermalam di gubuk yang berada di sana itu. Bukankah tempat ini cukup menyenangkan?"

"Menyenangkan sekali, kanjeng bibi.”

"Sekarang buatlah api unggun, selain untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin, juga aku ingin memanggang juadah (uli). Aku tadi membelinya dari dusun sana. Lumayan untuk menghilangkan lapar." Endang Patibroto lalu membuka buntalan pakaiannya dan dari situ dia mengeluarkan sebuah bungkusan daun pisang dan ternyata di dalamnya terdapat juadah yang putih dan besar.

Jayawijaya lalu sibuk membuat api unggun di dekat gubuk, sedangkan Endang Patibroto menusuk beberapa potong juadah dengan sebilah bambu lalu memanggang sate juadah itu. Jayawijaya yang melihat bahwa Endang Patibroto tak membawa minuman lalu berkata sambil bangkit berdiri.

"Kanjeng bibi, biar aku memanjat pohon kelapa itu untuk mengambil buah kelapa untuk kita minum."

Endang Patibroto tersenyum. Ia ingin melihat bagaimana caranya pemuda itu mengambil buah kelapa. Kalau ia kehendaki, dengan sekali sambit saja ia akan dapat meruntuhkan dua butir buah kelapa.

"Baik sekali, anakmas Jayawijaya."

Jayawijaya lalu menghampiri pohon kelapa yang berada tak jauh dari situ dan memanjat pohon kelapa dengan perlahan. Endang Patibroto mengamati dan menjadi semakin heran. Pemuda itu betul-betul seorang pemuda lemah yang tidak memiliki kadigdayaan, pikirnya. Mengambil buah kelapa saja dengan cara memanjat seperti orang biasa. Akan tetapi dia mendiamkannya saja dan mendengar suara berdebuk dua kali ketika pemuda itu menjatuhkan dua butir buah kelapa dari atas.

Setelah juadah yang dipanggangnya menjadi matang, mereka berdua lalu makan. Endang Patibroto tidak mau memperlihatkan kesaktiannya, maka ia menggunakan sebilah pisau yang dibawanya untuk melubangi buah kelapa. Mereka makan juadah panggang dan minum dawegan (kelapa muda) dan terasa nikmat sekali.

Setelah makan, mereka duduk menghadapi api unggun. Endang Patibroto menatap wajah yang tampan itu, yang kelihatan aneh karena ada sinar merah api unggun bermain-main di wajah itu. Ia melihat betapa sinar mata pemuda itu amat lembut dan penuh pengertian. Ia merasa seolah-olah pemuda itu mengetahui semua yang terkandung dalam hatinya melalui pandang mata yang lugu itu.

"Anakmas Jayawijaya, bolehkah aku mengetahui, berapakah usiamu sekarang?" Endang Patibroto bertanya sambil lalu.

"Sudah dua puluh tiga tahun, kanjeng bibi."

“Engkau tentu sudah menikah atau bertunangan?"

Jayawijaya tersenyum. Mukanya yang tersinar api unggun itu menjadi makin kemerahan.

"Ah, belum kanjeng bibi. Dalam keadaan seperti saya sekarang ini, sama sekali saya tidak mempunyai pikiran untuk menikah."

"Kenapa? Bukankah pernikahan itu suatu hal yang lumrah bahkan menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk memperoleh keturunan?"

"Benar apa yang kanjeng bibi katakan. Akan tetapi saya kira urusan perjodohan adalah ketentuan dari Hyang Widhi. Pula, berkumpulnya seorang suami dan seorang isteri bukan sekedar untuk memperoleh keturunan belaka, melainkan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang bahagia. Dan syaratnya, di antaranya adalah tercukupinya sandang-pangan-papan. Sedangkan orang seperti saya ini, seorang perantau yang tidak mempunyai papan tertentu, panganpun sedapatnya dan sandangpun yang hanya saya bawa ini. Bagaimana saya dapat mempunyai pikiran untuk berjodoh, kanjeng bibi?"

Endang Patibroto tersenyum senang,

“Pemuda yang berpikiran luas,” pikirnya. "Akan tetapi kalau andika mendapatkan seorang isteri yang baik, kalian berdua akan dapat bekerja sama menanggulangi segala kesulitan hidup, anakmas."

"Agaknya saya masih belum memikirkan jodoh saya. Saya hanya menyerahkan kepada Hyang Widhi untuk mengaturnya."

"Anakmas Jayawijaya, apakah engkau masih mempunyai seorang ibu?"

"Kanjeng ibu sudah meninggal dunia ketika saya berusia sepuluh tahun. Sejak itu saya hanya tinggal berdua dengan kanjeng rama di sebuah puncak dari pegunungan Tengger."

"Ahh, kasihan sekali, andika, anakmas. Sejak berusia sepuluh tahun sudah ditinggal mati ibu."

Jayawijaya tersenyum. "Tak ada yang perlu dikasihani, kanjeng bibi. Ibu meninggal dunia sudah menjadi kehendak Hyang Widhi dan apa pun yang ditentukan Hyang Widhi adalah baik dan benar, mengandung hikmah yang mendalam. Saya hanya hidup berdua dengan kanjeng rama dan merasa cukup berbahagia, kanjeng bibi."

"Hemm, seorang muda seperti andika, bagaimana mengerti akan bahagia? Bahagia itu apakah, anakmas?"

"Bahagia itu adalah suatu perasaan, kanjeng bibi. Kalau seseorang sudah merasai cukup dengan segala yang ada, yang menganggap bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Sang Hyang Widhi, kalau sudah tidak ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak berbahagia, nah, orang itulah yang dapat merasakan bahagia."

Endang Patibroto tersenyum. Teringat dia akan pendapat suaminya, Tejalaksono. Seperti itu pulalah pendapat suaminya, akan tetapi agaknya suaminya belum menemukan intinya seperti yang diperoleh pemuda luar biasa ini.

"Wah, kalau begitu, anakmas Jayawijaya ini tidak pernah merasa berduka atau kecewa, selalu merasa bahagia?"

"Kanjeng bibi Endang Patibroto, saya hanyalah seorang manusia biasa, tiada bedanya dengan orang lain. Bagaimana saya dapat terlepas dari semua perasaan itu? Akan tetapi, kalau saya mengalami kedukaan, hal itu tak akan berlangsung lama karena saya percaya dengan penuh keyakinan bahwa segala keadaan itu hanya dapat terjadi bila dikehendaki oleh Hyang Widhi. Dan kalau sudah demikian, maka saya dapat menerima apa saja yang terjadi dengan diri saya tidak akan menganggapnya sebagai hal yang mendukakan atau menggirangkan. Saya manusia biasa yang lemah dan dengan segala kekurangan saya, kanjeng bibi. Tidak seperti kanjeng bibi yang sakti mandraguna."

"Anakmas Jayawijaya, sekarang aku mulai percaya bahwa tidak ada ilmu yang lebih hebat dari pada ilmu menyerah dengan penuh keimanan kepada Hyang Widhi seperti yang andika lakukan. Aku kagum sekali, anakmas."

"Setiap orang manusia dapat bersikap seperti itu, kanjeng bibi. Jadi tidak ada yang patut dikagumi."

“Dengar, anakmas Jayawijaya. Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku sedang mencari anak-anakku Retno Wilis dan Bagus Seto. Setelah bertemu dan berkenalan denganmu, timbul niat di hatiku untuk menjodohkan anakku Retno Wilis dengan andika! Bagaimana pendapatmu, anakmas Jayawijaya?"

“Bagaimana saya harus menjawabnya, kanjeng bibi? Saya sama sekali belum mempunyai pikiran untuk berjodoh, karena itu saya tidak dapat menyanggupi atau menolak uluran tangan bibi yang memberi kehormatan sebesar itu kepada saya."

''Percayalah, anakmas. Puteriku itu seorang dara yang cantik jelita luar biasa, dan ia sakti mandraguna, bahkan lebih sakti dari pada aku sendiri. Andika tentu akan jatuh cinta kalau bertemu dengannya."

Jayawijaya tersenyum ramah.

"Mungkin saja saya akan jatuh cinta padanya, akan tetapi bagaimana kalau ia tidak cinta pada saya? Cinta dua orang yang akan menjadi suami isteri tidak dapat hanya bertepuk tangan sebelah, kanjeng bibi. Tetapi bagaimana pun juga, saya percaya akan kekuasaan Hyang Widhi. Kalau memang antara kami dijodohkan oleh Hyang Widhi, tidak akan ada rintangan yang dapat menghalanginya, akan tetapi kalau Hyang Widhi tidak menghendaki perjodohan kami, tiada ada sesuatupun yang dapat mendorong atau memaksa. Nah, kita semua lihat saja jalannya kekuasaan Hyang Widhi yang sempurna dan ajaib."

"Semoga saja Hyang Widhi akan memenuhi harapanku dan akan mempertemukan kalian berdua, anakmas. Sekarang, anakmas mengaso dan tidurlah di gubuk sana itu, aku akan tidur di gubuk ini."

"Baik, selamat tidur, kanjeng bibi." Pemuda itu lalu bangkit dan berjalan menuju ke gubuk yang tak berapa jauh dari gubuk itu, bayangannya diikuti pandang mata Endang Patibroto.

Wanita perkasa ini merasa kagum bukan main, tetapi diam-diam ia pun merasa khawatir. Seorang seperti Jayawijaya, apakah sekali waktu tak akan celaka oleh perbuatan manusia jahat? Apakah selanjutnya kekuasaan Hyang Widhi akan terus melindunginya? Dia sendiri tidak mempunyai kadigdayaan untuk melindungi diri sendiri.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jayawijaya sudah bangun dari tidurnya dan membersihkan tubuhnya dengan air bersih yang mengalir di dekat pematang ladang itu. Ketika dia berjalan mendekati gubuk yang semalam menjadi tempat tidur Endang Patibroto, ternyata wanita itu pun sudah bangun dari tidurnya, bahkan sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.

"Andika sudah bangun, anakmas? Aku hendak melanjutkan perjalananku menuju ke Nusabarung. Aku akan mengunjungi Nusa Barung untuk mencari anak-anakku." Lalu ia menatap, wajah pemuda itu dan bertanya, "Andika sendiri hendak kemana, anakmas?"

"Mungkin saya juga akan mengunjungi Nusabarung. Sudah lama saya mendengar tentang pulau itu, dan melihat bahwa dusun Pandakan juga termasuk daerah Nusabarung, maka saya pikir tentu penyebaran agama baru yang dipaksakan itu datangnya dari sana."

"Kalau benar datangnya dari sana, apa yang akan andika lakukan, anakmas? Tentu para pimpinan agama itu merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Apa yang akan andika perbuat untuk menghalangi mereka?"

"Setidaknya saya dapat menyadarakan mereka bahwa cara yang mereka tempuh itu tidak benar. Mereka boleh saja menyebarluaskan agama mereka akan tetapi dengan cara yang benar dan penuh damai. Rakyat kan dapat menilai mana agama yang baik dan mana yang tidak baik. Kalau memakai cara paksaan, akibatnya para pemeluk agama itu pun hanya berpura-pura saja karena takut."

"Andika akan menegur mereka dan mengatakan begitu?"

"Benar, kanjeng bibi. Saya tidak mempunyai cara lain untuk menyadarkan mereka."

"Kalau mereka menolak caramu menyadarkannya dan bahkan menyerangmu, bagai mana?"

"Saya bermaksud baik bagi mereka sendiri, kalau sampai terjadi hal itu, saya hanya menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi saja."

Endang Patibroto menggeleng kepalanya, akan tetapi ia merasa tidak berhak untuk melarang.

"Kalau begitu, mudah-mudahan usahamu itu berhasil baik, anakmas Jayawijaya. Nah, selamat tinggal, aku pergi dulu."

"Selamat jalan, kanjeng bibi."

Endang Patibroto meninggalkan pemuda itu melakukan perjalanan ke Nusabarung.

Adipati Martimpang membuka persidangan itu, dihadap oleh para ponggawa, termasuk lima orang senopatinya yang digdaya, yaitu Ki Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki Krendomolo, Ki Damarpati dan Ki Surodiro. Selain para ponggawa dan senopati, di situ terdapat pula Wasi Surengpati, tokoh dari Goa Iblis yang kini oleh Adipati Martimpang diangkat menjadi seorang penasihat.

Mereka berbicara mengenai penyusunan kekuatan di Nusabarung dengan bertambahnya prajurit yang sekarang jumlahnya sudah mencapai tiga ribu orang. Setengah dari jumlah itu dipusatkan di pantai daratan untuk menjaga pintu depan Nusabarung dan setengahnya lagi berada di pulau itu.

Seorang penyelidik melaporkan bahwa di Jenggala atau Panjalu belum terlihat tanda-tanda adanya gerakan pasukan yang bergerak ke timur, bahkan pasukan Panjalu banyak yang dikerahkan ke selatan dan barat untuk menundukkan para raja muda dan adipati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Panjalu.

"Bagaimana dengan usaha para wasi untuk menyebarkan agama baru kalian? Sampai di mana perkembangan dan hasilnya, kakang Wasi Surengpati?" tanya Adipati Martimpang kepada penasihatnya.

Wasi Surengpati sekarang tidak lagi berpakaian kotor dekil seperti dulu. Pakaiannya serba indah dan baru, rambutnya juga mengkilat karena diminyaki dan disisir, matanya yang lebar itu bersinar-sinar dan hidungnya yang pesek tampak semakin pesek lagi ketika dia menyeringai.

"Ahh, heh-heh-heh, sudah mendapat banyak kemajuan, Kanjeng Adipati. Banyak orang dusun yang sudah menjadi anggota perkumpulan kami dan banyak candi didirikan orang. Mereka yang sudah menjadi anggota agama kami itu merupakan kekuatan yang dengan mudah bisa kita gunakan untuk menyerang musuh atau untuk mencetuskan pertentangan antara para pemeluk agama lain. Dengan demikian maka keadaan di wilayah Jenggala dan Panjalu akan menjadi lemah."

"Bagus, kalau begitu. Apakah andika tidak menemui halangan?"

Wasi Surengpati menghela napas panjang.

"Wah, baru-baru ini memang ada beberapa orang di antara para penduduk dusun yang mencoba untuk menentang kami, akan tetapi dengan mudah kami singkirkan mereka. Hampir di setiap dusun yang termasuk wilayah Nusabarung sudah ada perwakilan agama kami, ha-ha-ha."

"Kalau begitu kita harus cepat memberi kabar kepada Kadipaten Blambangan agar Wasi Karangwolo dan terutama Wasi Shiwamurti tahu bahwa gerakan kita di Nusabarung telah berhasil."

"Harap jangan khawatir, Kanjeng Adipati. Saya sudah mengirim utusan ke sana, karena Kakang Wasi Shiwamurti perlu mengangkat kepala-kepala agama untuk memimpin orang-orang yang berada di dusun-dusun. Dan pengangkatan itu baru sah kalau dilakukan oleh Sang Wasi Shiwamurti."

Tiba-tiba seorang pengawal masuk ke ruangan itu. Melihat ini, Adipati Martimpang segera menegurnya, "Heh, pengawal, mau apa engkau menghadap tanpa kami panggil?"

"Ampunkan hamba, Kanjeng Adipati. Di luar ada seorang wanita yang hendak menghadap paduka, dan ketika kami larang, ia mengamuk dan merobohkan banyak pengawal!"

"Kakang Wasi Surengpati, coba andika keluar dan lihat siapa wanita itu. Kalau ia hanya seorang pengacau, tangkap dan hajar." Adipati Martimpang memerintah dengan marah.

Wasi Surengpati lalu keluar sambil membawa tongkat ularnya. Langkahnya menunjukkan betapa ia sadar akan harga dirinya, dadanya dibusungkan dan langkahnya dibuat segagah mungkin. Seakan-akan dia berteriak kepada semua orang agar melihat bahwa dia yang ditugaskan menangkap pengacau dan kalau dia turun tangan, semua tentu akan menjadi beres.....!

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 17"

Post a Comment