Sepasang Garuda Putih Jilid 15

Mode Malam
Retno Wilis cepat menghampiri pembaringan itu kemudian dengan kakinya ia mendorong pembaringan itu, sehingga pembaringan terguncang keras.

Sang demang terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ia menggosok-gosok matanya dengan punggung tangan kemudian bangkit duduk, akan tetapi mendadak ada sebatang pedang ditodongkan pada dadanya. Ia terbelalak memandang dan melihat bahwa yang menodong dadanya dengan pedang adalah seorang wanita yang cantik jelita akan tetapi matanya mencorong menakutkan.

"Apa... ada apa ini... siapa andika?" tanya sang demang.

"Jangan mencoba untuk berteriak karena pedang ini tentu akan menembus dadamu!" Retno Wilis mengancam.

Kini Demang Kebolinggo sudah sadar sepenuhnya bahwa kamarnya kemasukan maling wanita yang mangancamnya. Dia adalah seorang laki-laki yang sedikit banyak memiliki ilmu bela diri. Dia menganggap bahwa wanita itu berani karena memegang pedang. Tiba-tiba dia membuang tubuh ke kiri sehingga terlepas dari todongan lalu kakinya menendang ke arah tangan Retno Wilis yang memegang pedang. Retno Wilis terkejut, tidak mengira bahwa demang itu akan melakukan perlawanan. Maka ia lalu menarik pedangnya dan ketika melihat kaki demang itu mencuat dalam tendangan, ia mengetuk kaki itu dengan tangan kiri yang dimiringkan.

"Dukk...!”

Kaki itu terpental kembali dan Demang Kebolinggo mengeluh kesakitan. Kakinya terasa seperti patah. Namun dia masih belum mau mengalah. Setelah melompat turun dari pembaringan, dia lalu menubruk dan memukul dengan tangannya. Dengan cepat Retno Wilis menghindar dan tangan kirinya menampar, mengenai leher demang itu dan tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh demang itu terpelanting roboh.

"Hemm, apakah engkau ingin kubunuh dengan pedang ini?" bentak Retno Wilis, sambil menodongkan pedangnya di dada Demang Kebolinggo yang sudah bangkit duduk sambil menggosok-gosok lehernya yang terasa nyeri sekali. Baru sekarang dia maklum bahwa wanita itu adalah seorang yang digdaya. Diapun tahu bahwa wanita itu tidak ingin membunuhnya. Kalau demikian halnya, tentu dia sudah mati sekarang. Wanita itu hanya merobohkannya dengan tangan saja, bukan menyerang dengan pedang.

Pada saat itu, Harjadenta yang mendengar suara gedebukan dalam kamar, merasa khawatir dan diapun melompat masuk melalui jendela. Hati Demang Kebolinggo menjadi lebih gentar lagi melihat masuknya seorang pemuda ke dalam kamarnya. Dia tahu bahwa dia telah kalah dan harus menurut apa yang dikehendaki mereka.

"Ada apakah?" tanya Harjadenta kepada Retno Wilis.

"Dia mencoba-coba hendak melawanku," jawab Retno Wilis sambil tetap menodongkan pedangnya ke dada Demang Kebolinggo.

Melihat munculnya seorang pemuda membuat Demang Kebolinggo merasa semakin tidak berdaya. Akan tetapi dia merasa bahwa selama ini dia tidak melakukan kesalahan apapun, maka dengan tabah dia lalu menegur,

"Andika berdua ini orang-orang muda mempunyai keperluan apakah? Mengapa masuk ke rumahku dan memaksaku seperti dua orang maling?"

"Hemm, andika sudah berbuat kesalahan besar masih pura-pura bersih dan menggertak kami?” bentak Retno Wilis.

"Kesalahan besar apakah yang kulakukan? Aku selama menjadi demang bersikap bijaksana dan adil terhadap rakyatku."

"Bagus! Sekarang aku hendak bertanya, apakah engkau mendukung pendirian candi baru para penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durga dan Bathara Kala di ujung padukuhan ini?"

"Benar, aku mendukungnya, akan tetapi kenapa? Mereka mendirikan agama baru, bukan melakukan kejahatan dan pendirian mereka itu telah mendapat restu pula dari Sang Adipati di Nusabarung." Demang Kebolinggo membantah.

"Bukan pendirian candi itu yang kumaksudkan, melainkan tindakan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda terhadap para muda mudi di Bulumanik!"

"Mereka berdua hanya memimpin pembangunan candi! Tindakan apa yang mereka lakukan?"

"Andika tidak mendengar apakah telingamu yang tuli, tidak melihat ataukah matamu yang buta. Setiap malam Respati mereka mengadakan pesta cabul di candi itu dan mengorbankan banyak pemuda dan gadis yang bodoh sehingga mereka menurut saja kehendak dua pimpinan yang cabul itu. Mustahil kalau andika tidak mengetahui hal itu!" Retno Wilis menghardik.

Wajah ki demang menjadi merah dan dia menundukkan mukanya.

"Mereka mengadakan pesta itu... kukira itu adalah upacara keagamaan mereka... dan tentang para muda itu, mereka tidak dipaksa, mereka malakukan dengan sukarela. Apa yang dapat kuperbuat?"

"Andika bodoh dan tidak patut menjadi pemimpin rakyat. Mereka melakukan kecabulan itu bukan dengan sukarela, melainkan karena bujukan dan kekuatan sihir. Relakah andika melihat para warga Bulumanik diseret ke dalam kesesatan seperti itu? Dua orang pimpinan pembangunan candi itu adalah manusia-manusia iblis yang sesat dan cabul, yang membawa para muda itu ke dalam kesesatan pula. Apakah hal demikian itu akan andika biarkan saja?"

"Habis, apakah yang harus kami lakukan? Kalau aku melarang pembangunan candi baru itu, berarti aku menentang perintah Kanjeng Adipati di Nusabarung!" bantah Ki Demang itu.

"Bukan melarang pembangunan candi, melainkan melarang diadakannya pesta cabul itu. Kalau andika tidak melarang, berarti andika ikut menjerumuskan para muda di sini untuk menjadi sesat dan jahat. Dan kalau demikian halnya, percuma andika menjadi demang di sini, lebih baik andika dibunuh saja!" gertak Retno Wilis dan kini dara perkasa itu sudah menempelkan pedang Sapudenta di leher Ki Demang Kebolinggo.

"Ampunkan aku. Baik, aku akan melarang pesta gila-gilaan itu."

"Bagus! Andika telah berjanji. Untuk sementara kutitipkan kepalamu kepadamu, akan tetapi kalau lain hari kami lewat disini dan melihat bahwa pesta cabul itu masih diadakan, aku akan mengambil kepalamu!" Retno Wilis menggerakkan pedangnya.

"Wirrr... sratt...!” Sebagian rambut kepala Ki Demang Kebolinggo putus dan berhamburan ke bawah. Wajah demang itu menjadi pucat sekali.

"Aku akan melakukan pemeriksaan. Jika betul mereka merusak para muda di Bulumanik, tentu akan kularang dan kulaporkan kepada Sang Adipati di Nusabarung." Ucapan Ki Demang Kebolinggo ini bukan hanya karena dia diancam, akan tetapi memang keluar dari hatinya.

Kalau tadinya dia mendiamkan saja orang-orang itu mengadakan pesta pora di candi, hal itu adalah karena dia tak mau mencampuri urusan agama baru dan merasa tidak berhak. Akan tetapi apa bila mereka itu merusak para pemuda dan gadis daerah kekuasaannya, bagaimana pun juga dia harus bertindak dan kalau perlu melarang kegiatan cabul itu.

"Baik, kami percaya padamu!" kata Retno Wilis dan gadis ini lalu menyarungkan kembali pedangnya. Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan-teriakan banyak orang.

"Tangkap maling!"

"Tangkap penjahat!"

Kurang lebih dua puluh orang prajurit mengepung tempat itu dengan senjata di tangan. Melihat ini, Retno Wilis dan Harjadenta sudah siap pula untuk menyambut pengeroyokan mereka. Akan tetapi Ki Demang Kebolinggo sudah melompat ke depan dan mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu berseru,

"Tahan...! Jangan kalian salah paham. Dua orang ini bukan maling bukan pula penjahat, mereka adalah sahabat-sahabatku yang datang berkunjung padaku."

Tentu saja para prajurit itu terkejut dan melangkah surut.

"Pergilah kalian dan jangan ganggu kami!" kata pula Ki Demang Kebolinggo dan semua prajurit lalu pergi.

Tentu saja mereka semua merasa heran karena tadi ada seorang penjaga yang melihat atasannya itu berkelahi, dan kalau kedua orang itu benar sahabat yang datang bertamu, mengapa mereka tahu-tahu telah berada di dalam? Dari mana mereka lewat? Akan tetapi karena Ki Demang Kebolinggo sendiri yang melarang mereka, tentu saja mereka tidak berani membantah dan tidak berani pula banyak bertanya.

Retno Wilis mengangguk-angguk senang.

"Melihat sikapmu ini, kami percaya bahwa andika tentu akan memegang teguh janji untuk mengadakan pemeriksaan dan melarang perbuatan cabul yang merusak para muda."

"Percayalah, karena aku sendiri tidak suka akan kejahatan." kata Ki Demang Kebolinggo dengan suara mantap.

"Jika begitu sekarang kami hendak pergi. Selamat tinggal, Ki Demang!" Sekali melompat, Retno Wilis telah lenyap dari depan demang itu, disusul Harjadenta yang sekali lompat sudah menghilang ditelan kegelapan.

Ki Demang Kebolinggo menghela napas panjang. Dia tahu bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang gagah perkasa untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, orang-orang yang memiliki kesaktian. Akan tetapi ia pun telah mendengar bahwa para pimpinan agama baru itu merupakan orang-orang sakti pula. Dia menjadi serba salah. Akan tetapi di dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan untuk membujuk para anggota dan pimpinan agama baru itu agar tidak lagi melakukan perbuatan yang melanggar kesusilaan. Kalau perlu dia akan melaporkan kepada Adipati di Nusabarung.

Dua orang muda itu berjalan berdampingan di bawah sinar bulan yang masih terang. Beberapa kali Harjadenta ingin membuka mulut bicara, akan tetapi dibatalkannya. Begitu sukar dia bicara setelah berdampingan dengan Retno Wilis. Semua kata-kata yang telah disusunnya semenjak dia bertemu dengan gadis perkasa itu, seolah runtuh semua dan dia tidak tahu harus bicara dari mana dan bagaimana.

"Andika diam saja sejak tadi. Ada apakah, kakangmas Harjadenta?" akhirnya Retno Wilis yang bertanya. Mereka sedang berjalan kembali ke pondokan Mbok Rondo Gati.

"Ah, aku... aku mengenang kembali peristiwa di candi itu, diajeng. Kalau tidak ada engkau dan kakangmas Bagus Seto,entah bagaimana jadinya dengan diriku."

Retno Wilis tersenyum. "Engkau tentu akan jadi pengikut dan teman yang baik sekali dari Ni Dewi Durgomala." Ia menggoda.

"Ihhh! Amit-amit! Aku tentu akan mencari jalan untuk membunuh perempuan iblis itu!" kata Harjadenta dengan marah.

"Kenapa? Ia cantik sekali." kembali Retno Wilis menggoda.

"Aku benci sekali pada perempuan itu. Ia telah mencuri pusaka guruku, dan ia seorang wanita tak tahu malu."

"Engkau tentu tidak mau mengkhianati gadis yang menjadi tunanganmu, bukan?"

"Wah, diajeng, aku tidak mempunyai tunangan!"

"Akan tetapi engkau tentu telah mempunyai gadis pilihan hati yang menjadi kekasihmu," Retno Wilis berkata dengan lugu dan terus terang.

"Sungguh mati aku tidak mempunyai kekasih. Dan tentang gadis pilihan hati, memang ada, akan tetapi aku tidak berani mengakuinya."

"Eh, kenapa kakangmas?"

"Aku merasa rendah diri. Aku, seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan bodoh, sungguh tidak berhak dan tidak pantas mencintai seorang dara seperti itu. Pantasnya dia menjadi jodoh seorang pangeran atau seorang pria yang benar-benar sepadan dengan dirinya."

Retno Wilis berhenti melangkah. "Hemm, apakah gadis pilihan hatimu itu seorang puteri istana, kakangmas?"

"Lebih dari sekedar puteri istana biasa."

Retno Wilis mengerutkan alisnya. "Kalau begitu ia tentu puteri kahyangan?"

"Juga lebih dari sekedar puteri kahyangan. Ia seorang dara yang tiada cacat, seorang wanita yang sempurna, baik keelokan lahirnya maupun batinnya. Ia cantik jelita, gagah perkasa, bijaksana dan budi pekertinya seperti dewi. Ia tiada keduanya di dunia ini...”

"Huh, wanita seperti itu hanya terdapat dalam angan-anganmu saja, kakangmas, bukan seorang manusia dari darah daging!" Retno Wilis merasa penasaran sekali.

"Tidak diajeng. Ia seorang manusia seperti juga kita, hanya ia manusia pilihan."

"Hemm, ingin aku bertemu dengan wanita seperti itu. Di mana ia berada? Di awang-awang? Atau di antara bintang-bintang?" Retno Wilis mengejek.

"Kalau dibilang jauh, ia jauh sekali, di luar jangkauanku, akan tetapi kalau dibilang dekat, ia dekat sekali berada di hadapanku." kata Harjadenta dengan jantung berdebar tegang karena dia sudah membuka rahasia hatinya dan merasa takut kalau-kalau Retno Wilis akan marah.

"Ehh...?" Retno Wilis memandang tajam dan mukanya berubah merah, bukan karena marah melainkan karena jengah, "Kau... kau maksudkan diriku?"

Harjadenta merasa kedua kakinya lemas tak bertenaga, kemudian ia menjatuhkan dirinya berlutut.

"Ampunkan aku, diajeng... tidak semestinya aku bersikap lancang, aku tahu betapa tidak pantasnya bagi seorang seperti aku mencintaimu, akan tetapi itulah kenyataannya. Kalau engkau marah, nah, makilah aku, pukullah aku...”


Retno Wilis membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu.

"Kakang Harjadenta, kuminta jangan sekali-kali engkau membicarakan tentang hal ini lagi padaku. Aku tidak menyalahkanmu, akan tetapi aku... sama sekali aku tidak mempunyai pikiran mengenai cinta." Setelah berkata demikian, gadis itu berlari cepat meninggalkan pemuda itu.

Harjadenta menghela napas panjang, merasa tak enak hati, akan tetapi juga lega karena sudah mengeluarkan isi hatinya. Dan memang tidak mengharapkan bahwa cintanya akan diterima oleh Retno Wilis. Dia merasa bahwa dirinya tidak berharga untuk mempersunting bunga yang amat mulia itu. Retno Wilis puteri Patih Panjalu, ia seorang wanita yang sakti mandraguna, namanya terkenal sekali. Sedangkan dia hanya seorang pemuda yatim piatu yang miskin, keturunan orang tua dari dusun, sungguh ibarat burung dia hanya seekor burung gagak dan Retno Wilis adalah seekor burung merak yang amat indah!

Dengan lemas dia pun bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke pondokan Mbok Rondo Gati. Setibanya di rumah sederhana itu, dia mendengar berita yang mengejutkan. Para tetangga sedang berkumpul di rumah itu dan ternyata Mbok Rondo Gati telah mati menggantung diri setelah mendapat kenyataan bahwa kedua orang anaknya sudah mati dan hanyut di Kali Mayang.

Agaknya ia tidak lagi dapat menahan kesedihan hatinya. Ia hanya memiliki kedua orang anaknya itu, dan kini mereka telah mati dalam keadaan amat menyedihkan, mayat mereka hanyut di Kali Mayang dan tidak dapat ditemukan. Saking sedihnya, setelah tiga orang muda yang menjadi tamunya pergi, ia lalu menggunakan sabuk pinggangnya untuk menggantung diri sampai mati!

Ketika Bagus Seto yang tidak ikut Retno Wilis dan Harjadenta pergi ke rumah Ki Demang, tiba di rumah pondokan itu, dia menemukan Mbok Rondo Gati telah tewas dan tergantung di ruangan belakang. Tentu saja dia terkejut sekali dan cepat menurunkan tubuh Mbok Rondo Gati dari gantungan, namun wanita tua itu telah tewas. Bagus Seto lalu memberi-tahu para tetangga yang berdatangan melayat.

Retno Wilis yang mendahului Harjadenta pulang ke pondokan, terkejut mendengar akan kematian Mbok Rondo Gati. Akan tetapi ia bisa mengerti. Memang wanita itu hanya akan menderita sengsara dalam hidupnya, tanpa kedua orang anaknya yang dicintainya. Kalau ia hidup terus, tentu setiap hari ia hanya akan menangisi kematian kedua orang anaknya.

Harjadenta merasa heran sekali dan juga terkejut mendengar akan kematian Mbok Rondo Gati.

"Apa yang telah terjadi?” tanyanya kepada Bagus Seto.

"Ia menggantung diri, tidak dapat menahan kesedihan hatinya mendengar kedua anaknya telah mati." jawab Bagus Seto singkat.

"Ah, mengapa ia melakukan hal ini? Mengapa ia memilih mati menggantung diri?" tanya Harjadenta yang merasa kasihan kepada janda itu.

"Ia menderita sekali dengan kematian kedua anaknya dan agaknya ia hendak mengakhiri kedukaannya itu dengan membunuh diri," kata Retno Wilis.

"Hemm, apakah dengan cara membunuh diri orang akan dapat melepaskan diri dari kedukaan? Apakah kedukaan itu terpisah dari dirinya? Kedukaan adalah ulah hati akal pikiran dan akan mengikuti orang sampai kepada kematiannya sekali pun." kata Bagus Seto lirih, seperti kepada diri sendiri.

"Akan tetapi, apa yang meyebabkan ia melakukan perbuatan nekat itu, kakangmas Bagus Seto?" Tanya Harjadenta.

"Karena kedukaan menggelapkan hati akal pikirannya. Kemilikan mendatangkan kemelekatan, dan inilah yang menjadi akar dari kedukaan. Memiliki sesuatu, baik yang dimilikinya itu berupa harta, kedudukan, atau anak, menimbulkan kemelekatan dan kalau sudah melekat, sekali dipisahkan tentu akan menimbulkan luka dihati. Padahal, memiliki tidak akan lepas dan pada perpisahan dengan yang dimilikinya. Akan tiba saatnya dia harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh yang dimiliki, dan kalau hal ini terjadi, timbullah duka yang menggelapkan hati akal pikiran. Karena itu, orang yang bijaksana boleh mempunyai namun tidak memiliki."

"Nanti dulu, kakang! Di sini aku menjadi bingung. Apa bedanya mempunyai dan memiliki?"

"Yang kumaksudkan, mempunyai itu hanya lahiriah saja. Aku mempunyai harta, aku mempunyai kedudukan, aku mempunyai anak. Mempunyai ini hanya lahiriah dan kita bersikap dan berbuat sesuatu terhadap apa yang kita punyai secara wajar dan sesuai dengan kewajiban kita. Akan tetapi tidak memiliki, karena memiliki ini berarti melekatkan yang kita punyai itu ke dalam batin, menjadi satu dengan kita, dan kemilikan itu menguasai diri kita lahir batin. Mempunyai itu dengan kesadaran bahwa yang dipunyai itu hanyalah titipan saja, bukan miliknya. Yang memiliki hanya Hyang Widhi, dan kita ini hanya dititipi saja. Kita harus menjaga sebaiknya apa yang dititipkan kepadakita, dan kita harus rela apabila yang dititipkan kepada kita itu sewaktu-waktu diambil kembali oleh yang menitipkan, diambil kembali oleh Yang Memiliki."

"Hebat, kakangmas Bagus Seto! Keteranganmu sungguh amat jelas dan gamblang. Akan tetapi, apakah hal itu akan dapat meringankan penderitaan batin orang yang sedang berduka? Dapatkah kita melawan duka?" tanya Harjadenta.

"Duka timbul dari akal pikiran yang mengenang masa lalu. Kita teringat akan masa lalu yang penuh kesenangan, maka setelah kita dipisahkan dari kesenangan ini, timbullah iba diri yang menjadikan duka. Kalau kita senantiasa memandang saat ini, tidak mengenang masa lalu, maka segala apapun yang telah terjadi kita sadari bahwa hal ituudah dikehendaki Hyang Widhi dan tidak mungkin dapat diubah pula. Dengan kesadaran seperti itu, hanya memandang saat ini, kita akan menghadapi segala sesuatu dengan tabah dan semua ingatan ditujukan untuk menanggulangi keadaan saat ini. Iba diritiada kesempatan untuk masuk ke dalam batin dan kita terhindar dari kedukaan yang berlarut-larut sehingga sampai membunuh diri seperti halnya Mbok Rondo Gati."

"Kalau begitu, kematian Mbok Rondo Gati ini juga sudah menjadi kehendak Hyang Widhi, kakangmas?" tanya Retno Wilis dengan nada membantah.

"Tentu saja. Apa lagi soal mati dan hidup, semua berada sepenuhnya di tangan Hyang Widhi. Akan tetapi yang kita persoalkan bukan kematiannya yang sudah sewajarnya begitu, melainkan cara kematian itu terjadi. Cara yang ditempuh Mbok Rondo Gati bukan cara yang benar dan hanya akah menjadi beban keadaannya sesudah mati. Kita harus selalu waspada terhadap daya-daya rendah yang akan menjerumuskan kita ke dalam kesesatan."

"Apakah daya-daya rendah itu, kakang?" tanya Retno Wilis.

"Daya-daya rendah adalah setan-setan nafsu yang selalu mengejar kesenangan dan kepuasan melalui badan danpikiran kita, tidak lagi mempedulikan caranya mengejar, pokoknya asal bisa mendapatkan yang diinginkan untuk memuaskan dan menyenangkan diri. Karena pengejaran tanpa pantangan itulah maka kita terseret melakukan hal-hal tercela demi mendapatkan kepuasan dan kesenangan. Dan bekerjanya nafsu menyeret kita tidak berhenti sampai terlaksana dan tercapainya yang kita kejar, karena setelah tercapai, nafsu mendorong kita untuk mengejar lain kesenangan lagi yang dianggap lebih menyenangkan dari pada yang kita peroleh. Maka, terjadilah lingkaran setan di mana kita dipermainkan tiada hentinya, terseret melakukan perbuatan tercela demi tercapainya yang kita kejar."

"Wah, jahat sekali kalau begitu. Nafsu merupakan musuh pribadi yang harus dihancurkan dan dimatikan!" kata Retno Wilis.

"Keliru pendapat itu, diajeng Retno Wilis," kata Bagus Seto. "Nafsu tidak mungkin kita matikan karena tanpa adanya nafsu, kita tidak dapat hidup. Nafsu telah ada semenjak kita lahir, menjadi peserta kita yang amat berguna bagi kelangsungan hidup. Nafsu yang membuat kita enak makan, melihat dan merasakan keindahan, mendengarkan kemerduan, bahkan nafsu pula yang menjadi sarana perkembang biakan manusia. Kita tidak dapat membunuh nafsu karena nafsu merupakan peserta penting."

"Menjadi peserta penting akan tetapi juga menjadi penggoda yang amat berbahaya?" tanya Harjadenta.

"Benar sekali. Nafsu menjadi peserta penting kalau dia berfungsi tetap sebagai peserta atau sebagai pembantu yang baik. Akan tetapi jangan biarkan dia merajalela, kalau dia merajalela dan dari pembantu berubah menjadi majikan dan kita menjadi pembantunya, celakalah kita yang akan diseret ke dalam perbuatan jahat."

"Semua keteranganmu sudah jelas, kakangmas Bagus Seto dan aku berterima kasih sekali mendapat penerangan darimu. Kesimpulannya, kalau aku tidak salah, kitaharus dapat mengendalikan nafsu sehingga dia akan tetap menjadi hamba kita. Bukankah demikian?"

"Benar, dimas. Akan tetapi mengendalikan nafsu itu lebih mudah dikatakan dari pada dikerjakan. Nafsu telah menyusup ke dalam diri kita, sampai ke hati akal pikiran, sehingga rasanya tidak mungkin bagi manusia biasa seperti kita untuk dapat mengendalikan nafsu."

"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, kakang? Nafsu pembantu penting akan tetapi juga penyeret yang jahat, dan kita tak dapat mengendalikannya. Lalu bagaimana? Engkau membuat kita tidak berdaya!”

"Memang manusia adalah makhluk lemah dan tidak berdaya, adikku! Bagus sekali kalau dapat menyadari akan kelemahan kita ini. Akan tetapi engkau lupa, diajeng. Di dalam ketidak-berdayaan kita, ada satu Kekuasaan yang mutlak, Kekuasaan yang Satu dan hanya Kekuasaan itulah yang akan dapat mengembalikan nafsu kita pada tempat semula, yaitu menjadi pembantu yang baik. Kekuasaan Mutlak itu bukan lain adalah Ke kuasaan Hyang Widhi. Kita sendiri tidak berdaya, tetapi kita dapat menyerahkan diri kepada Hyang Widhi, mohon bimbingannya dengan penuh kepercayaan, keikhlasan dan penyerahan. Bila Hyang Widhi sudah berkenan menjamah kita dengan sentuhan suci dari TanganNya, tidak ada hal yang tidak mungkin."

"Aduh, kakangmas Bagus Seto. Terima kasih, terima kasih atas segala petunjukmu itu. Hatiku lega sekarang dan makin menguatkan batinku untuk menyerahkan diri ke Tangan Hyang Widhi sebagai dasar dari segala ikhtiar kita."

"Benar, adimas. Kalau sudah menyerah kepada Hyang Widhi, bukan berarti kita lalu menganggur dan segalanya terserah kepada Hyang Widhi. Itu pandangan keliru. Kita sudah diberi kelengkapan tubuh yang sempurna, maka kita harus mempergunakan setiap anggota tubuh sesuai dengan fungsinya. Hanya saja, segala ikhtiar itu harus dilandaskan kepasrahan dan penyerahan tadi, sehingga apapun hasil dari ikhtiar kita, akan kita terima dengan ikhlas."

Semalam itu mereka tidak tidur, hanya berbincang-bincang di sudut ruangan itu. Pada keesokan harinya, jenazah Mbok Rondo Gati dikuburkan orang dan setelah selesai pemakanan, tiga orang muda itu lalu berpamit dari para tetangga dan meninggalkan kota Bulumanik. Mereka berjalan bersama menuju ke Kali Mayang. Matahari telah naik tinggi dan setelah tiba di tempat di mana mereka menambatkan perahu mereka, Bagus Seto berkata kepada Harjadenta.

"Adimas Harjadenta, sekarang kita harus berpisah. Engkau kembalilah ke Gunung Raung untuk menyerahkan pusaka Ki Carubuk kepada gurumu, dan kami akan melanjutkan perantauan kami ke timur."

Harjadenta mengerutkan alisnya, memandang kepada Bagus Seto lalu kepada Retno Wilis, dan berkata, "Sesungguhnya aku ingin sekali dapat pergi merantau bersama kalian untuk meluaskan pengalaman, kakangmas Bagus Seto. Aku merasa bertemu dengan guru-guru baru yang membuka kedua mataku melihat kenyataan hidup dan aku ingin banyak belajar dari kalian."

Bagus Seto tersenyum dan memegang pundak Harjadenta.

"Ada waktunya kelak kita dapat bertemu kembali, adimas Harjadenta. Akan tetapi pesan gurumu itu harus kau selesaikan dulu, keris pusaka gurumu itu harus kau kembalikan dulu kepada gurumu, dan setelah urusan itu selesai, engkau dapat saja merantau seorang diri. Bekalmu sudah lebih dari cukup. Engkau bijaksana dan cukup tangguh untuk menjaga diri sendiri. Nah, sampai jumpa, adimas." Sesudah berkata demikian, Bagus Seto berjalan menyusuri Kali Mayang menuju ke selatan.

Harjadenta menggunakan kesempatan selagi berdua dengan Retno Wilis untuk berkata, "Diajeng, sekali lagi maafkanlah kelancanganku kepadamu semalam."

"Engkau tidak bersalah, kakangmas. Engkau mempunyai hak untuk mencintai siapa saja termasuk aku. Tetapi aku sendiri belum berpikir tentang cinta. Engkau akan kukenang sebagai seorang sahabatku yang baik. Selamat tinggal!" Retno Wilis lalu melompat dan mengejar kakaknya.

Harjadenta mengikuti mereka dengan pandang matanya sampai mereka itu lenyap dari pandangannya. Dia menghela napas panjang, tiba-tiba saja merasa betapa hidupnya sepi dan kosong. Kembali dia menghela napas, kemudian mendorong perahunya ke sungai dan menaiki perahunya, mendayung ke hulu untuk kembali ke pegunungan Raung.

Pemuda itu berjalan dengan santai. Lenggangnya lembut dan bebas, dan pada wajahnya yang tampan itu selalu terbayang senyum yang mendalam, senyum penuh pengertian dan pandang matanya menembus.

Pemuda ini berusia dua puluh dua tahun, wajahnya masih nampak muda sekali, namun bila melihat sinar matanya, orang akan mengira dia lebih tua dari usia sesungguhnya. Rambutnya yang hitam panjang digelung ke atas, dahinya lebar. Sepasang alis yang tebal melindungi sepasang mata yang mencorong penuh kekuatan batin tapi mata itu bersinar lembut penuh sinar kasih. Hidungnya mancung dan mulutnya amat menarik, karena mulut itu selalu dihias senyum penuh kesabaran. Dagunya yang berlekuk keras itu menunjukkan bahwa ia memiliki pendirian yang kuat. Tubuhnya sedang saja dan gerak-geriknya lembut, tidak menunjukkan kekuatan yang kasar.

Siapakah pemuda yang lemah lembut itu? Pakaiannya sederhana saja, seperti pakaian seorang petani biasa, namun kalau melihat gerak-geriknya yang lembut, dia berbeda dari petani yang biasa bekerja kasar. Namanya Jayawijaya, seorang pemuda yang datang dari pegunungan Tengger. Ayahnya adalah seorang pendeta yang kini bertapa mengasingkan diri di sebuah puncak pegunungan Tengger. Jayawijaya meninggalkan tempat pertapaan ayahnya karena hendak pergi merantau untuk meluaskan pengetahuan dan pengalaman, dan ayahnya mendukung keinginannya itu.

Jayawijaya tiba di sebuah dusun pada siang hari itu. Dia memasuki dusun itu dengan maksud mencari makanan karena perutnya terasa lapar. Akan tetapi baru saja dia memasuki dusun Pandakan itu, dia merasa heran sekali karena keadaannya sunyi sekali, seolah tidak ada penduduknya. Akan tetapi dia mendengar suara banyak orang yang datangnya dari tengah dusun. Dia segera menuju ke tempat itu.

Di tengah-tengah dusun itu terdapat sebuah balai dusun, sebuah bangunan panggung yang cukup besar dan kiranya di situlah para penduduk dusun itu berkumpul. Dia lalu ikut berdiri di luar panggung untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Di tengah-tengah panggung itu dia melihat seorang pria berusia enam puluh tahun lebih, berpakaian sebagai pendeta namun mewah, pakaiannya dari kain halus yang bersih berwarna kuning, kedua lengannya memakai hiasan lengan dari emas, rambutnya juga tersisir rapi dan mengkilap karena diberi minyak dan dia pesolek, juga gayanya agak kewanitaan ketika bicara, suka menjilat bibirnya seperti gaya seorang wanita yang centil.

Pendeta itu bukan lain adalah Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat kadipaten Blambangan. Bersama selosin anak buahnya dia sedang mempropagandakan agama penyembah Shiwa-Durga-Kala dan membujuk penduduk dusun Pandakan itu untuk masuk menjadi anggota agama baru itu.

"Sekarang sudah tiba saatnya andika sekalian memasuki perkumpulan agama kami yang menjanjikan kehidupan bahagia bagi kalian. Dengan memasuki agama kami ini maka hasil panen kalian akan menjadi baik, dan kalian akan dijauhkan dari bencana banjir, musim kering dan sebagainya lagi. Percayalah, kalian akan mendapat berkah dari Sang Hyang Bathara Shiwa, Sang Hyang Bathari Durgo, dan Sang Hyang Bathara Kala. Dan barang siapa yang tidak mau masuk menjadi anggota agama kami ini, dia akan dikutuk hidupnya dan akan menjadi sengsara seperti seekor anjing!"

Jayawijaya mendengar ini dan dia mengerutkan alisnya. Orang bebas untuk memuji-muji agama sendiri akan tetapi kalau disertai ancaman seperti itu, namanya sudah tidak benar lagi.

"Agama lain yang kalian peluk itu hanya mendatangkan kesengsaraan serta kemiskinan belaka dan kalian membuat hati para dewata tak senang sehingga akan mengutuk kalian. Maka mulai sekarang jadilah anggota agama kami dan sekalian akan hidup berbahagia."

Tiba-tiba saja seorang penduduk dusun yang mempunyai nyali lebih besar berkata, "Kami selama ini memeluk agama kami yang lama dan kami hidup berbahagia! Kalau belum ada bukti bahwa agama baru ini membahagiakan kami, bagaimana kami dapat percaya?"

Suara para penduduk menjadi riuh rendah mendukung pernyataan ini.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 15"

Post a Comment