Sepasang Garuda Putih Jilid 08

Mode Malam
Retno Wilis cukup cerdik untuk tidak melepaskan sang adipati ketika ia telah memperoleh perahu. Kalau begitu halnya, tentu anak buah Nusabarung itu akan beramai-ramai mengejar dengan perahu dan kalau sampai mereka tersusul, celakalah ia dan kakaknya. Kalau perahu mereka digulingkan, mereka akan tidak berdaya berada dalam air sehingga akhirnya tentu dapat tertangkap atau terbunuh. Baru setelah tiba di pantai daratan, Retno Wilis berkata kepada Adipati Martimpang.

"Sekarang kami bebaskan andika, Adipati Martimpang. Aku hanya berpesan agar andika tidak menjodohkan puterimu dengan orang-orang kasar dan sombong seperti Kalinggo. Kasihan sekali sang puteri kalau terjatuh ke tangan orang-orang seperti itu. Nah, selamat tinggal!" Retno Wilis lalu pergi bersama kakaknya.

Adipati Martimpang hanya dapat memandang kepada dua bayangan putih itu yang menuju ke timur, perlahan-lahan ditelan kegelapan malam. Ketika orang-orangnya mendarat, Adipati Martimpang tidak menyuruh mereka melakukan pengejaran, melainkan memerintahkan mereka kembali ke pulau Nusabarung.

Persidangan di kadipaten Blambangan itu berlangsung dengan tertib. Adipati Menak Sampar dari Blambangan adalah seorang yang bertubuh tinggi besar, bermuka merah dan berkumis melintang sehingga tampak berwibawa sekali. Memang dia memegang tampuk pemerintahan dengan tangan besi, dengan galak dan tak mengenal ampun dia menghukum hamba sahaya yang berbuat kesalahan, menghukum pula para pamong praja yang bertindak salah. Karena itu, Adipati Menak Sampar ditakuti semua orang.

Usia Adipati Menak Sampar sudah empat puluh tahun, akan tetapi dari sekian banyak isterinya, dia hanya mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Dyah Ayu Kerti, seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang cantik jelita. Ibu gadis ini juga seorang puteri dari Bali-dwipa yang cantik jelita, maka tidak mengherankan kalau anaknyapun demikian cantiknya.

Dalam persidangan itu para pamong praja memberi laporan tentang tugas mereka masing-masing. Setelah Sang Adipati memberi nasihat dan beberapa usul kepada pembantunya, persidangan itu segera dibubarkan karena ada laporan dari para pengawal bahwa di luar kadipaten ada beberapa orang tamu penting mohon menghadap Adipati Menak Sampar. Mendengar bahwa pimpinan para tamu itu adalah utusan yang datang dari negeri Cola di India, Sang Adipati bergegas membubarkan persidangan dan tak lama kemudian dia telah menanti para tamunya di ruangan tamu.

Setelah para tamu dipersilakan masuk ke dalam ruangan tarnu, maka bermunculanlah seorang kakek yang berusia kurang lebih enam puluh lima tahun bersama seorang wanita yang usianya sudah empat puluh tahun namun masih tampak cantik jelita dan genit, dan seorang laki-laki gagah perkasa bertubuh raksasa berusia empat puluhan tahun.

Sesudah mempersilakan ketiga orang tamunya untuk mengambil tempat duduk, Adipati Menak Sampar lalu berkata, "Selamat datang di kadipaten Blambangan, paman pendeta." Ia menyebut pendeta karena kakek itu memang berpakaian jubah panjang seperti seorang pendeta. "Kami merasa belum mengenal paman, siapakah nama paman yang mulia dan dari mana paman datang?"

"Heh-heh-heh, Kanjeng Adipati yang gagah perkasa! Saya bernama Wasi Siwamurti dan saya datang ke Blambangan sebagai utusan Sang Mahaprabu di Negeri Cola."

Adipati Menak Sampar mengangguk-angguk. "Meski pun letaknya amat jauh, Negeri Cola adalah sahabat kami. Tidak tahu ada urusan apakah paman datang ke Blambangan?"

"Sebelum saya menjelaskan maksud kunjungan saya ini, perkenalkan lebih dulu wanita ini adalah Ni Dewi Durgomala yang menjadi murid saya, dan ini adalah Ki Siwananda putera saya."

Adipati Menak Sampar memandang kepada keduanya dan berkata, "Selamat datang di Blambangan." Yang dijawab oleh keduanya dengan hormat dan menyatakan terima kasih mereka.

Wasi Siwamurti mengeluarkan sepucuk surat dari saku jubahnya lalu menyerahkannya kepada Adipati Menak Sampar.

"Kedatangan saya ini diantar oleh sepucuk surat dari Sang Prabu untuk paduka, Kanjeng Adipati."

Adipati Menak Sampar menerima surat itu kemudian membacanya. Isinya adalah surat pengantar dari Raja Cola yang menyatakan bahwa Wasi Siwamurti adalah seorang pendeta yang diutus ke Jawadwipa untuk menyebarkan Agama Siwa.

"Akan tetapi, kalau untuk menyebar-luaskan Agama Siwa, kenapa paman Wasi datang ke Blambangan?" tanya Adipati Menak Sampar.

"Saya ingin sekali menyebarkan agama kami di daerah Panjalu dan Jenggala sampai ke Blambangan dan Bali-dwipa. Dan terutama sekali karena di sini saya mempunyai saudara yang telah lama membantu paduka, yaitu Wasi Karangwolo."

Wajah Adipati Menak Sampar menjadi berseri ketika mendengar ucapan itu. "Ah, paman Wasi masih saudara dengan pamanda Wasi Karangwolo?"

"Memang dia adalah adik-seperguruan saya, Kanjeng Adipati. Kabar terakhir yang saya dapat mengatakan bahwa dia telah menjadi penasihat paduka di sini. Benarkah itu dan di mana dia berada?"

"Benar sekali, paman. Paman Wasi Karangwolo adalah penasihat kami dan dia sedang menjadi utusan Blambangan pergi ke Nusabarung bersama adik seperguruannya yang bernama Wasi Surengpati."

"Ahh, jadi Surengpati juga sudah berada di sini? Bagus sekali. Kalau begitu saya akan mendapat pembantu-pembantu yang dapat diandalkan."

"Yang ingin kami ketahui, mengapa paman Wasi hendak menyebar luaskan agama Siwa ke Panjalu dan Jenggala."

"Seperti Kanjeng Adipati tentu telah memaklumi, kerajaan yang kini telah menjadi dua itu adalah musuh besar Negeri Cola. Kami hendak menyebar luaskan agama Siwa untuk memecah belah. Kalau sudah terjadi pemecah belahan kepercayaan, maka tentu Panjalu dan Jenggala akan menjadi lemah dan mudah diserbu dan ditundukkan."

"Bagus sekali! Hal itu cocok dengan keinginan kami, paman Wasi. Sejak dahulupun kami bermusuhan dengan Panjalu dan biar pun kami pernah ditundukkan dan dikalahkan, namun kami tidak pernah mau mengakui mereka sebagai kerajaan yang menguasai kami. Bahkan kami mengutus Paman Wasi Karangwolo juga untuk mengadakan persekutuan dengan Nusabarung untuk menentang kerajaan Jenggala yang mengakui Blambangan sebagai daerah kekuasaannya."

"Akan tetapi, kerajaan Jenggala cukup kuat, apa lagi kalau dibantu oleh Panjalu. Pasukan mereka kuat sekali dan mereka memiliki banyak senopati yang sakti mandraguna."

"Kami tahu, paman Wasi. Akan tetapi kami sudah mendapatkan janji dari Bali-dwipa untuk membantu kami."

"Bagus sekali kalau begitu. Akan tetapi, gerakan senjata itu sebaiknya ditunda dulu. Baru setelah dengan penyebar-luasan agama yang dapat memecah belah mereka, kita pukul dengan kekuatan senjata."

Selagi mereka bercakap-cakap, masuklah seorang pengawal yang melaporkan bahwa Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati telah datang dan mohon menghadap Sang Adipati Menak Sampar. Mendengar laporan ini, Adipati Menak Sampar menjadi gembira sekali.

"Bagus, persilakan mereka langsung menghadap ke sini!" Setelah pengawal pergi dia lalu berkata kepada Wasi Siwamurti, "Paman Wasi, sungguh kebetulan sekali dua orang adik seperguruan andika yang kami utus ke Nusabarung telah datang kembali."

Pertemuan antara tiga pendeta dan dua orang murid itu amat menggembirakan. Setelah saling memberi salam dan menanyakan keselamatan masing-masing, mereka lalu duduk dan kesempatan ini digunakan oleh Adipati Menak Sampar untuk bertanya kepada kedua orang utusannya itu.

"Bagaimana kabarnya dengan tugas andika berdua, Paman Wasi Karangwolo?"

"Kami sudah bercakap-cakap dengan Sang Adipati Martimpang tentang kerja-sama kita dan kami melihat bahwa Kadipaten Nusabarung juga sudah mengadakan persiapan dengan baik. Nusabarung sudah menghimpun pasukan dan menambah jumlah prajurit mereka, bahkan sebagian pasukan sudah dipersiapkan di pantai daratan untuk menjaga kalau-kalau ada gerakan pasukan Jenggala ke sana."

"Bagus sekali kalau begitu. Dengan adanya Nusabarung yang sudah siap, kita sudah mempunyai sekutu di garis depan. Nusabarung dapat menjadi benteng pertama kita untuk membendung kalau-kalau ada pasukan dari barat menyerang daerah kita."

"Akan tetapi ada berita buruk, Kanjeng Adipati. Biar pun Nusabarung sudah mengadakan persiapan, ternyata telah ada dua orang sakti dari Panjalu yang dapat menyelinap masuk dan membikin kacau Nusabarung."

Adipati Menak Sampar terkejut, demikian pula tiga orang tamunya yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ah, bagaimana mereka begitu ceroboh sehingga ke masukan telik sandi? Siapakah dua orang sakti dari Panjalu itu?"

"Ceritanya begini, Kanjeng Adipati. Pada waktu kami berdua tiba di Nusabarung, Adipati Martimpang sedang mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan jodoh puterinya. Banyak orang muda yang memasuki sayembara, di antaranya bahkan Kalinggo, putera Senopati Rajahbeling dari Blambangan. Tetapi yang keluar sebagai pemenang sayembara adalah seorang pemuda bernama Joko Wilis yang datang dari pegunungan Wilis. Joko Wilis ini mengalahkan semua peserta, bahkan juga mengalahkan Senopati Wisokolo dari Nusabarung yang menjadi penguji dalam sayembara itu. Pemuda itu tangguh dan sakti mandraguna. Dialah yang kemudian diterima menjadi calon mantu dan pengganti Adipati Martimpang. Kami berdua merasa penasaran sekali mengapa Adipati Martimpang memilih dia, bukan Kalinggo. Kami datang agak terlambat sehingga tidak sempat membekalinya dengan aji yang dapat mengalahkan Joko Wilis."

"Kemudian bagaimana, Paman Karangwolo?" tanya Sang Adipati dengan hati tertarik.

Wasi Karangwolo melanjutkan. "Setelah menangkan sayembara, Joko Wilis tak bersedia dinikahkan dengan Dyah Candramanik, namun minta ditangguhkan satu tahun lagi. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Dyah Candramanik melaporkan kepada ayahnya bahwa Joko Wilis itu sesungguhnya seorang wanita yang menyamar!"

"Ahh, seorang wanita? Mengapa ia menyamar dan mengikuti sayembara memilih jodoh itu?"

"Hal itulah yang mendatangkan kecurigaan dan kami lalu membantu Adipati Nusabarung untuk menangkapnya. Kami berdua berhasil menawannya dan mempengaruhinya dengan sihir, ia mengaku bernama Retno Wilis dan siapakah gadis itu? Bukan lain adalah puteri Ki Patih Tejolaksono dan puteri Endang Patibroto."

Semua orang terkejut mendengar nama sepasang suami isteri itu. Mereka menganggap dua orang itu sebagai musuh besar. Bahkan Wasi Siwamurti juga mendendam kepada mereka yang dianggap telah menyebabkan kematian mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, dua rekannya yang menjadi utusan Negeri Cola dan sama-sama penyembah Bathara Siwa.

"Adi Wasi Karangwolo, lalu bagaimana kelanjutannya?" Wasi Siwamurti bertanya kepada adik seperguruannya.

Wasi Karangwolo menceritakan selanjutnya. "Kami berdua sudah menguasai Retno Wilis dan ketika kami sedang mengorek keterangan darinya apakah ia datang sebagai utusan Panjalu dan menjadi telik-sandi, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bernama Bagus Seto dan diakui sebagai kakak dari Retno Wilis. Pemuda itu ternyata sakti mandraguna. Dengan lemparan setangkai cempaka putih dia bisa menyadarkan Retno Wilis yang dapat membebaskan diri dan mengamuk. Kami sudah mengerahkan pasukan untuk menangkap ia kembali, akan tetapi tiba-tiba ia dapat menangkap dan menyandera Adipati Martimpang sehingga ia berhasil meloloskan diri ke pantai daratan sambil menyandera sang adipati. Kami tidak berdaya dan terpaksa membiarkan ia lolos."

Semua yang mendengar cerita ini tertegun.

"Tidak salah lagi, Retno Wilis dan Bagus Seto itu tentulah telik-sandi yang dikirim Panjalu atau Jenggala untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung. Kalau demikian lebih baik kita mendahului mereka, bergabung dengan Nusabarung dan menyerang Jenggala," kata Sang Adipati Menak Sampar.

"Nanti dulu, Kanjeng Adipati," kata Wasi Karangwolo. "Sebenarnya Adipati Nusabarung juga menghendaki demikian, akan tetapi kami mencegahnya. Kini belum tiba waktunya kita menyerang Jenggala. Kami akan lebih dulu bertindak menyebar-luaskan agama kami untuk menarik rakyat berpihak kepada kami. Kalau terjadi perpecahan di antara mereka karena agama, tentu keadaan mereka menjadi lemah dan itulah saatnya bagi kita untuk melakukan penyerbuan."

"Apa yang dikatakan Adi Karangwolo memang benar, Kanjeng Adipati. Pasukan Jenggala dan Panjalu kuat sekali. Kita harus membuatnya lemah lebih dahulu melalui penyebaran agama. Saya bersama murid saya Ni Dewi Durgomolo dan anak saya Ki Siwananda akan membantu supaya mereka memasuki agama kami dan kalau sudah begitu halnya, maka akan mudah membujuk rakyat Jenggala dan Panjalu untuk berpihak kepada kita."

Adipati Menak Sampar mengangguk-angguk tanda setuju. Dia mengerti bahwa agama penyembah Bathara Siwa, Bathara Kala dan Bathari Durga ini, mudah berkembang biak dan para pendetanya memiliki pengaruh yang amat besar terhadap umatnya.

"Kalau begitu kami bisa menyetujui dan kami serahkan kepada Paman Wasi Karangwolo dan Paman Wasi Surengpati, dibantu oleh Paman Wasi Siwamurti bersama dua orang muridnya. Andika bertiga dapat menggunakan bantuan pasukan setiap saat andika bertiga memerlukannya," kata Adipati Menak Sampar.

Perundingan ditutup dengan jamuan makan bagi para tamu, yaitu Wasi Siwamurti, Ki Siwananda dan Ni Dewi Durgamolo…..

********************

Bagus Seto dan Retno Wilis melakukan perjalanan dengan santai menuju ke timur. Pada suatu siang yang cerah, mereka berhenti dan beristirahat di bawah sebatang pohon asam yang besar. Mereka duduk di atas batu-batu yang banyak berserakan di bawah pohon, menggunakan sapu tangan untuk menghapus keringat yang membasahi leher mereka.

Matahari amat terik dan sinarnya menyengat tubuh. Nyaman memang mengaso di bawah pohon asam itu. Angin semilir seperti mengipasi tubuh mereka.

Retno Wilis memandang ke atas. Banyak buah asam bergantungan di dahan. Tiba-tiba ia melihat sepasang burung sedang bercumbu di atas dahan. Ia tersenyum geli sehingga Bagus Seto juga memandang ke atas.

Diapun melihat sepasang burung itu dan tersenyum juga, bukan menertawakan burung-burung itu melainkan menertawakan adiknya yang tersenyum melihat burung-burung itu bercumbu.

"Burung-burung tak tahu malu," kata Retno Wilis melihat kakaknya tersenyum.

"Eh? Kenapa, diajeng? Burung-burung itu berkasih-kasihan, hal itu sudah sewajarnya dan sudah sesuai dengan kehendak Hyang Widhi. Mengapa kau katakan tidak tahu malu?"

"Apakah itu yang dinamakan cinta, kakangmas?"

"Benar, dan cinta itu suci adanya, walau pun di dalam cinta itu terkandung nafsu berahi."

"Apakah cinta manusia juga mengandung nafsu, kakang?"

"Tentu saja. Di dunia ini, di antara tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, cinta tentu mengandung nafsu berahi, cinta semua makhluk mengandung pamrih sebab disenangkan hatinya. Tidak ada cinta tanpa pamrih, karena itu semua cinta bergelimang nafsu."

"Akan tetapi cinta antara suami-isteri adalah suci, bukan kakang? Suami isteri kadang mengalah demi membahagiakan masing-masing pihak, tanpa pamrih."

Bagus Seto tersenyum. "Biar pun dengan menyesal, terpaksa harus kukatakan, bahwa cinta antara suami isteri juga tidak terbebas dari pada nafsu, akan tetapi hal itu adalah sewajarnya karena nafsu berahi inilah yang merupakan syarat berkembang biaknya manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan. Berarti bahwa sejak kita lahir, kita sudah disertai nafsu, jadi sudah sesuai dengan kehendak Hyang Widhi."

"Aku menjadi bingung, kakang. Kalau semua cinta dilumuri nafsu, maka cinta itu kotor, kakang. Bukankah nafsu itu merupakan sesuatu yang buruk dan dapat menyeret manusia ke jurang kesengsaraan?"

"Sama sekali tidak demikian, adikku. Nafsu berahi, seperti juga nafsu lain, merupakan hal yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya nafsu berahi dalam cinta kasih, maka manusia tidak akan berkembang biak seperti sekarang ini. Akan tetapi seperti juga nafsu lain, nafsu berahi juga amat berbahaya kalau sudah menguasai dan memperhamba manusia. Kalau seseorang telah diperhamba nafsu berahi maka dia akan mengejar kesenangan melalui nafsu berahinya sedemikian rupa sehingga dia dapat melakukan hal-hal yang sesat, seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan lain-lain."

"Ah, aku menjadi ngeri memikirkan soal cinta-kasih kalau begitu. Akan tetapi benar-benarkah tidak ada cinta-kasih yang bersih dari pada nafsu bagi manusia?"

"Tidak ada, adikku. Tidak akan ada cinta kalau tidak ada nafsu. Nafsu itu menyenangkan, nafsu itu hendak memuaskan diri, hendak menyenangkan diri sendiri. Seorang baru mencinta jika yang dicinta itu menarik hatinya, menyenangkan hatinya melalui kecantikan, keluhuran budi, kepandaian, harta benda dan sebagainya. Pendeknya, orang disenangkan dahulu hatinya barulah jatuh cinta. Dapatkah seorang wanita mencinta seorang pria atau seorang pria mencinta seorang wanita bila mana yang dicintanya itu ternyata tidak dapat melakukan hubungan badan? Tentu saja tidak! Bagaimana pun buruknya kenyataan ini, betapa pun sarunya, namun kenyataannya demikianlah. Oleh karena itu, banyak terjadi bahwa cinta seseorang dapat berubah dan berbalik menjadi benci, mengapa? Karena kalau disenangkan dia mencinta, kalau sekali waktu dia disusahkan, dia menjadi marah dan cintanya berubah menjadi benci. Demikianlah ulah nafsu, adikku. Berbahagialah orang yang dapat mengikuti dan mengerti akan gerak-gerik nafsu yang menguasai diri sendiri."

Retno Wilis mengerutkan alisnya yang kecil hitam melengkung indah itu. Ia teringat akan mendiang Adiwijaya. Orang yang dianggap sebagai pamannya atau bahkan pengganti orang tuanya sendiri itu mencintanya tanpa pamrih, mencintanya dengan hati bersih dan suci, bahkan rela mengorbankan dirinya untuknya!

"Akan tetapi, kakang. Bukankah terdapat cinta-kasih antara sahabat yang benar-benar bersih dari nafsu, cinta-kasih murni antara dua orang sahabat yang setia?”

"Tidak ada, adikku. Cinta antara dua orang sahabat juga bergelimang nafsu, walau pun bukan nafsu berahi. Cinta seorang sahabat itu tentu didorong karena dia menganggap orang yang dicintanya itu baik terhadapnya, menyenangkan dan menguntungkan. Selama ada penilaian antara baik dan buruk, tentu cinta yang timbul karena penilaian itu ditunggangi nafsu."

"Kalau begitu di dunia ini tidak terdapat cinta-kasih sejati, cinta-kasih yang suci dan murni?"

"Tentu saja ada, diajeng Retno Wilis.Tengoklah ke sekelilingmu. Semua yang tampak ini berguna bagi kehidupan manusia. Pohon-pohon, bahkan pohon asam ini amat berguna bagi manusia. Buahnya untuk masak, daunnya untuk jamu dan kayunya masih dapat digunakan untuk membangun rumah dan kayu bakar. Lihat bunga-bunga indah itu. Tampak oleh mata manusia demikian indah menyenangkan. Baunya juga harum amat menyegarkan bagi penciuman. Lihat sinar matahari, demikian indah dan mendatangkan terang, juga menghidupkan. Rasakan semilirnya angin yang demikian menyejuk dan menyegarkan. Lihatlah, di sekeliling kita. Tanah tersedia untuk kita, menghasilkan segala macam kebutuhan hidup manusia. Semua itu diberikan tanpa pamrih, tanpa memandang bulu dan terus menerus. Bukan hanya manusia yang mendapat limpahan berkah ini, melainkan juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. Nah, semua itulah cinta kasih, adikku. Itulah sifat Hyang Widhi, yaitu Kasih."

Retno Wilis memandang kakaknya. Matanya yang indah itu terbelalak dan berseri.

"Kakang, engkau membuka mataku! Betapa buta aku selama ini tidak melihat dan tidak merasakan lagi adanya berkah dan cinta-kasih suci yang berlimpah ruah diberikan kepadaku!"

"Itulah, adikku. Itulah pekerjaan nafsu yang selalu menarik perhatian kita sehingga kita selalu mengejar kesenangan, mengejar sesuatu yang tidak ada pada kita. Nafsu tidak mengenal puas, tidak mengenal cukup, akan selalu mendorong kita untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Akhirnya nafsu menyeret kita ke dalam perbuatan yang sesat dan jahat. Aku girang bahwa engkau merasa terbuka matamu, diajeng."

Setelah bercakap-cakap dan tidak merasa gerah lagi, kedua orang kakak beradik itu hendak melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi pada saat itu terdengar orang bertembang dengan suara yang berat dan dalam.

"Rumangsane mung nalongso
Susah sajeroning urip
Sakabehing kang tinuju
Olehe namun kuciwo
Sing dioyak-oyak teko luput
Luwih becik s ing narimo
Opo paringing Hyang Widhi
"

Arti tembang itu adalah:

Rasanya hanya nelangsa,
susah dalam kehidupan,
semua yang diharapkan,
hanya mendapat kecewa,
yang dikejar-kejar tak dapat,
lebih baik yang menerima,
apa yang diberikan Hyang Widhi.

Bagus Seto dan Retno Wilis tidak jadi meninggalkan tempat di bawah pohon asam itu dan menanti orang yang bertembang itu datang dekat. Dia seorang paman tani berusia hampir lima puluh tahun, bercelana hitam tak berbaju, bajunya berada di atas tumpukan singkong yang dipikulnya dalam dua buah keranjang.

Orang itu bertubuh kurus, tulang-tulangnya menonjol di bawah kulitnya yang coklat karena banyak terbakar sinar matahari. Otot-ototnya juga menonjol, menunjukkan bahwa otot-otot itu sering dipergunakan untuk memikul berat dan bekerja keras. Kakinya telanjang. Seluruh penampilan kakek ini, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, menunjukkan kesederhaan yang polos, tidak dibuat-buat, kesederhanaan yang mendekati kemiskinan.

Namun wajah itu berseri, matanya memandang polos ke depan, kosong dan tidak peduli. Ketika tiba dekat pohon asam yang lebat itu, dia berhenti melangkah, lalu menghampiri tempat teduh itu, melepaskan pikulannya yang berat. Dengan tangan kanannya dia menanggalkan sebuah caping dari kepalanya dan mengipasi dadanya yang berkeringat dengan caping itu, kemudian dia memandang kepada Bagus Seto dan Retno Wilis dan tampak keheranan dalam sinar matanya.

Bagus Seto tersenyum kepadanya dan bertanya, “Paman, Kidung Pangkur yang kau tembangkan tadi indah sekali!"

Kakek itu tersenyum dan seketika wajahnya yang penuh keriput itu tampak segar dan muda
.
"Wah, denmas, tembangku hanya tembang orang dusun."

"Benar, paman, aku tertarik sekali, terutama isi tembang itu. Apakah engkau merasa setuju kalau ada orang yang mempunyai cita-cita untuk meraih keadaan yang lebih baik?"

Petani itu menggunakan baju hitamnya yang tadi ditaruh di atas tumpukan singkong untuk menghapus keringat dari leher dan mukanya.

"Mengharapkan sesuatu yang tidak ada hanya merupakan penyiksaan diri belaka, denmas. Kalau hasilnya luput, kita akan merasa nelangsa dan kecewa, sebaliknya kalau dapat, kita tetap saja tidak puas dan mengharapkan yang lebih baik atau lebih banyak. Dari pada mengharapkan yang tidak-tidak, lebih baik menerima apa yang diberikan oleh Hyang Widhi." Petani itu memandang ke arah pikulannya, mungkin menaksir-naksir berapa yang akan didapatnya dari penjualan sepikul singkong itu.

"Akan tetapi kalau begitu hidup ini tidak akan ada kemajuan, paman. Siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang berusaha untuk memperbaiki kehidupan kita? Dengan usaha keras tentunya."

"Oooh, tentu saja, denmas. Kita harus bekerja setiap hari, karena apakah artinya hidup ini tanpa bekerja? Kita bekerja sekuat tenaga setiap hari, tanpa mengharapkan apa-apa dan apa yang datang sebagai hasil pekerjaan kita itu, itulah anugerah dan berkah Hyang Widhi yang harus kita terima dengan penuh rasa sukur, tanpa mengharapkan yang bukan-bukan." Petani itu bicara dengan bahasa yang bersahaja, akan tetapi menyentuh perasaan Bagus Seto.

"Jika begitu pandangan hidup paman, maka paman menyerah dengan penuh kepasrahan kepada Hyang Widhi untuk menentukan keadaan hidup paman?"

"Tentu saja, denmas. Hyang Widhi berkuasa mengatur segalanya. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk menolak apa yang sudah ditentukan Hyang Widhi. Tugas kita hanya bekerja sebaik mungkin dan setelah itu maka aku pasrah kepada Hyang Widhi. Apa pun yang diberikan kepadaku akan kuterima dengan penuh rasa syukur. Kalau sudah begitu, maka kehidupan ini terasa nikmatnya, nikmat dari berkah Hyang Widhi yang tidak ada henti-hentinya kepada kita."


"Diajeng Retno, inilah contohnya seorang yang berbahagia!" kata Bagus Seto kepada adiknya.

Biar pun ucapan petani singkong itu amat sederhana, namun ucapannya mengandung arti yang amat dalam sehingga Retno Wilis masih belum mengerti benar. Ia memandang kepada kakek itu dengan kagum lalu bertanya,

"Paman, bahagiakah paman dalam hidup paman.”

Kakek itu memandang kepada Retno Wilis dengan sinar mata tidak mengerti.

"Apa maksud andika, den ajeng? Apa itu bahagia? Saya tidak membutuhkan bahagia."

Retno Wilis terbelalak. Kalau kata bahagia saja tidak mengerti, bagaimana mungkin orang hidup berbahagia? Akan tetapi Bagus Seto tersenyum kepada adiknya.

"Diajeng, justru karena paman ini tidak membutuhkan bahagia, itu berarti bahwa dia telah berbahagia! Kebahagiaan hanya dikejar-kejar orang yang hidupnya tidak bahagia, yang hidupnya diganggu persoalan-persoalan yang menyusahkan dan menggelisahkan hatinya. Kalau gangguan itu tidak ada lagi, maka orang pun tidak membutuhkan bahagia karena sesungguhnya dia sudah berbahagia! Seperti orang yang sakit saja yang membutuhkan kesehatan, kalau orang itu tidak sakit lagi, maka dia tidak butuh akan kesehatan karena sesungguhnya dia sudah sehat. Mengertikah engkau, adikku?"

Retno Wilis baru mengerti setengah-setengah saja. Semua orang di dunia ini mengejar kebahagiaan, bagaimana petani miskin ini dikatakan oleh kakaknya sebagai orang yang berbahagia karena dia tidak mengejar, bahkan tidak mengerti apa itu kebahagiaan?

"Wah, matahari sudah naik tinggi, sekarang saya harus segera berangkat, denmas. Nanti pasarnya keburu sepi sehingga tidak ada yang membeli singkongku ini! Selamat tinggal, denmas dan den-ajeng."

"Selamat jalan, paman. Semoga Hyang Widhi selalu memberkahimu seperti yang andika nikmati setama ini," kata Bagus Seto dan petani itu lalu memikul lagi dua keranjang singkong itu dan meninggalkan tempat itu.

Retno Wilis mengikuti petani itu dengan pandang matanya. Betapa tubuh kurus itu terseok-seok memikul beban yang berat, akan tetapi betapa lincahnya kedua tangannya itu berlenggang dan kedua kaki itu melangkah seperti orang menari-nari gembira.

"Hayo, diajeng, kita lanjutkan perjalanan kita," kata Bagus Seto dan Retno Wilis mengangguk, lalu mereka berdua melangkah ke arah timur meninggalkan pohon asam itu.

"Kakang, aku masih memikirkan pembahasan tentang cinta-kasih tadi. Aku masih merasa ngeri melihat kenyataan bahwa tidak ada cinta-kasih yang murni, semua cinta-kasih manusia bergelimang nafsu. Aku ngeri, kakang dan tidak mau jatuh cinta!"

Bagus Seto tertawa.

"Ha-ha, mudah saja engkau berkata demikian, adikku. Akan tetapi sekali waktu akan tiba saatnya engkau bertemu seseorang dan jatuh cinta padanya, baik kau kehendaki maupun tidak. Jodoh manusia ditentukan oleh Hyang Widhi, dan sekali engkau bertemu dengan calon jodohmu yang sudah ditentukan, maka engkau akan jatuh cinta padanya dan dia akan jatuh cinta padamu."

"Mencinta dengan dorongan nafsu?"

"Tentu saja, karena Hyang Widhi menghendaki demikian. Ingat, engkau diciptakan untuk kelak menjadi seorang ibu yang melahirkan anak-anakmu, dan untuk itu engkau harus lebih dulu jatuh cinta kepada seorang pria dan menjadi isterinya."

"Ihh, ngeri aku memikirkan dan membayangkan hal itu. Saling jatuh cinta dengan nafsu. Aku tak ingin jatuh cinta, kakangmas. Biar selama hidupku aku begini saja, hidup seorang diri."

"Hemm, kalau cinta berahi sudah menyelubungi hatimu, engkau tidak akan mampu melawan hatimu sendiri. Akan tetapi sudahlah, semua itu sudah diatur oleh Hyang Widhi, dan manusia tidak akan mampu mengubahnya. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."

Karena pantai Laut Kidul di tempat itu merupakan daerah pegunungan kapur yang sukar dilalui, terpaksa kedua orang muda ini melakukan perjalanan agak ke utara, melalui dusun-dusun…..

********************

Kakek itu telah tua sekali, sedikitnya tentu telah delapan puluh tahun usianya. Pakaiannya seperti seorang pertapa, amat sederhana, hanya merupakan kain yang dililit-lilitkan pada tubuhnya yang kurus kerempeng. Rambut, jenggot serta kumisnya sudah putih semua seperti kapas. Seluruh anggota tubuhnya sudah menunjukkan ketuaannya, kecuali sinar matanya. Mata yang penuh keriput dan dihias alis mata yang sudah putih semua itu, memiliki sinar yang tajam sekali dan mata itu masih bening seperti mata kanak-kanak!

Kakek itu adalah seorang Empu pembuat keris, juga seorang pertapa yang telah lama meninggalkan dunia ramai lalu bertapa di lereng Gunung Raung yang terkenal sebagai gunung yang angker. Jarang ada orang berani mendaki Gunung Raung, karena gunung ini terkenal dengan hutan-hutannya yang penuh dengan binatang liar dan buas, juga dikenal sebagai tempat pelarian orang-orang jahat yang menjadi buruan pemerintah, dan lebih dari itu, dikabarkan banyak bagian dari gunung itu dijadikan sarang para demit dan setan bekasakan yang suka mengganggu manusia.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 08"

Post a Comment