Sepasang Garuda Putih Jilid 06

Mode Malam
"Bedebah!" bentaknya.

Dan kini tubuhnya bergulingan ke arah Retno Wilis, terus menubruk. Dielakkan, menubruk lagi seperti seekor harimau kelaparan. Keringatnya bercucuran, napasnya terengah-engah karena dia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Ahh, keringatmu bau, lekas pergi dari sini!" tiba-tiba saja Retno Wilis berseru dan begitu kakinya menendang, kini dengan pengerahan tenaga, kaki kiri itu sudah bertemu dengan dada Ki Wisokolo.

"Bukk...!"


"Aughh...!” Ki Wisokolo mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya melayang, terlempar keluar panggung dan jatuh berdebuk di atas tanah di bawah panggung. Kawan-kawannya segera menolong dan menggotongnya karena dia telah jatuh pingsan!

Sorak sorai gegap gempita menyambut kemenangan Joko Wilis ini. Hitungan baru sampai delapanpuluh dan jagoan nomor satu dari Nusabarung itu telah roboh. Retno Wilis tersenyum dan memandang kepada keluarga Sang Adipati. Ia melihat Dyah Candramanik bangkit dari kursinya dan bertepuk tangan dengan wajah berseri-seri.

"Cari penyakit...!” Kembali Bagus Seto berkata kepada diri sendiri melihat Retno Wilis mengalahkan Ki Wisokolo seperti yang sudah disangkanya tadi.

Sementara itu, sukarlah bagi juru bicara untuk membuat pengumuman karena penonton yang begitu gaduh membicarakan pertandingan yang baru saja mereka tonton. Mereka semua begitu kagum kepada Joko Wilis, pemuda yang terlihat masih remaja dan tampak lemah itu. Akhirnya, setelah berdiri di atas panggung sambil melambai-lambaikan tangan memberi isyarat kepada semua penonton agar jangan gaduh, barulah juru bicara itu dapat mengeluarkan kata-kata yang lantang.

"Peserta Joko Wilis dinyatakan lulus dengan sempurna. Karena sekarang ternyata ada dua orang peserta yang lulus, yaitu Joko Wilis dan Kalinggo, maka sesuai dengan aturan yang berlaku, kini akan diadakan pertandingan antara kedua orang pemenang itu. Siapa di antara mereka berdua yang keluar sebagai pemenang, akan dinyatakan memenangkan sayembara ini!"

Ucapan ini disambut sorak sorai dari para penonton yang menjadi gembira sekali karena mereka kembali akan menonton pertandingan yang tentu akan hebat sekali. Ada yang menjagoi Kalinggo, akan tetapi banyak pula yang menjagoi Joko Wilis sehingga di antara mereka ada yang bertaruh!

"Kini dipersilakan peserta Kalinggo dari Blambangan naik ke panggung untuk bertanding melawan Joko Wilis dari Gunung Wilis!" Juru bicara berteriak kembali kemudian turun dari panggung.

Kalinggo naik ke panggung dan membusungkan dadanya. Meski pun dia melihat sendiri betapa Ki Wisokolo dikalahkan pemuda itu, namun dia tidak merasa gentar. Bahkan dia yakin akan mampu mengalahkan pemuda yang kecil itu. Dia harus membikin gentar nyali pemuda itu, pikirnya.

Begitu berhadapan dengan Retno Wilis yang memandangnya dengan tersenyum simpul, Kalinggo berkata dengan suara lantang, "Joko Wilis, ini adalah sebuah pertandingan untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang di antara kita. Karena itu, kalau ada kulit robek dan tulang patah, jangan salahkan aku!"

Retno Wilis tersenyum. Pada saat itu Retno Wilis meraba paha kirinya. Ada kerikil kecil sekali mengenai paha kirinya dan ia tahu apa artinya itu. Kakaknya sudah berada di situ! Dan kakaknya tentu hendak memperingatkan kepadanya supaya dia tidak berlaku kejam terhadap lawan, tidak boleh membunuh! Ia tersenyum dan mengangguk ke arah dari mana datangnya kerikil kecil tadi.

"Jangan khawatir! Aku tidak akan merobek kulitmu atau mematahkan tulangmu!" Retno Wilis berkata sambil memandang kepada Kalinggo, akan tetapi sebetulnya ia menujukan kata-katanya itu kepada Bagus Seto.

"Payah, ia benar-benar mencari penyakit!" kembali Bagus Seto mengeluh karena dalam ucapan Retno Wilis itu dia dapat menduga bahwa tentu Retno Wilis tidak mau mengalah.

Kalau keluar dari sayembara sebagai pemenang, engkau akan dikawinkan dengan Dyah Candramanik dan baru engkau tahu sendiri betapa bingungnya engkau! Demikian Bagus Seto berkata kepada dirinya sendiri.

Sementara itu, mendengar jawaban Retno Wilis, Kalinggo sudah menjadi marah sekali. Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang perlahan-lahan berubah kemerahan seperti berdarah. Itulah Aji Hasta-rudita (Tangan Berdarah)! Pukulan dari tangan merah itu sungguh hebat dan mengerikan karena berhawa panas dan kalau mengenai tubuh orang, tubuh itu dapat menjadi hangus seperti dibakar api!

Akan tetapi Retno Wilis yang melihat itu hanya tersenyum saja, seolah ia tidak tahu akan keampuhan telapak tangan darah itu. Ia malah tersenyum dan bertanya,

"Eh, Kalinggo, engkau ingin roboh dalam hitungan ke berapa?"

"Untuk pertandingan ini tidak memakai hitungan. Akan tetapi aku akan merobohkanmu secepat mungkin!" kata Kalinggo.

Dia mengeluarkan teriakan yang mengguncangkan tempat itu, kemudian bagaikan seekor srigala, dia telah menyerang dengan dua tangan terbuka seperti hendak mencengkeram ke arah kepala Retno Wilis!

"Haiiiiittt...!” Retno Wilis berseru dan Kalinggo sudah kehilangan lawannya.

Begitu cepat gerakan Retno Wilis sehingga dia tak melihat kemana lawannya berkelebat. Tahu-tahu Retno Wilis sudah berada di belakangnya. Dia membalik dan menyerang lagi, semakin lama serangannya bertambah cepat dan kuat. Akan tetapi semua itu tidak ada gunanya karena tidak ada yang dapat mengenai tubuh pemuda remaja itu.

Ketika Kalinggo mempergunakan kecepatan, tubuh Retno Wilis berkelebatan sehingga yang tampak hanya bayangannya saja. Kalinggo menghentikan serangannya dan berdiri dengan napas memburu dan mata melotot marah.

"Bukan laki-laki kalau hanya mengelak saja!" bentaknya. "Kalau memang berani, hayo hadapi seranganku dengan tangkisan, jangan hanya berlari seperti seorang pengecut!"

Mendengar ini, Retno Wilis mengerutkan alisnya. "Kalinggo, manusia tak tahu diri. Kaukira aku takut menghadapi pukulanmu? Nah, seranglah, aku tidak akan mengelak lagi!"

Kalinggo mengerahkan tenaga dalam dikedua telapak tangannya yang merah dan dia sudah girang sekali. Kalau lawannya itu menangkis, tentu akan celaka. Bertemu dengan tangan merahnya, tentu tangan pemuda itu akan hangus dan dia akan keluar sebagai pemenangnya. Dia menubruk dan mencengkeram dengan kedua tangannya. Gerakannya cepat dan kuat sekali.

Dengan tenang Retno Wilis menangkis dengan dua tangannya pula, gerakannya memutar dari kiri ke kanan. Dalam gerakan menangkis ini iapaun mengerahkan Aji Wisolangking dan hanya tampak sinar hitam ketika kedua tangannya menangkis.

"Plak-dukk...!”

Tangkisan itu sedemikian kuatnya dan aji Wisolangking dapat menahan pengaruh Hasta-rudita, dan akibatnya, tubuh Kalinggo terpelanting dan terhuyung hampir saja roboh.

Kalinggo kaget bukan main. Lawannya betul-betul dapat menangkisnya, malah tangkisan itu mengandung tenaga yang begitu kuatnya sampai dia hampir roboh. Penonton bersorak riuh rendah ketika Kalinggo terpelanting, terutama mereka yang bertaruh memihak Retno Wilis. Sebaliknya yang memihak Kalinggo menjadi pucat wajahnya dan memandang penuh kekhawatiran.

Karena maklum bahwa pemuda remaja itu benar-benar amat tangguh, Kalinggo menjadi nekat dan kembali dia menyerang, sekali ini dia menggunakan kedua tangan, yang kanan menghantam ke arah dada lawan, yang kiri menyusul mencengkeram ke arah muka.

Tenang saja Retno Wilis menyambut serangan ini. Pukulan tangan kanan ditangkisnya dengan tangan kiri, sedangkan cengkeraman tangan kiri itu disambutnya dengan tangkapan pada pergelangan tangan. Ketika ia mengerahkan tenaga dalam tangkapan itu, Kalinggo berteriak kesakitan. Seperti remuk rasa pergelangan tangan kirinya yang ditangkap tangan pemuda itu. Pada saat itu, Retno Wilis menendang ke arah lutut, tidak kuat benar akan tetapi cukup membuat Kalinggo terpelanting dan roboh bertekuk lutut.

"Ah, sudahlah, tidak perlu berlutut minta ampun!" kata Retno Wilis dan para penonton bersorak gembira, ada yang tertawa melihat betapa Kalinggo jatuh berlutut seperti hendak minta ampun kepada pemuda remaja yang lincah itu.

Kalinggo adalah seorang jagoan yang jarang menerima kekalahan seperti itu. Dia merasa dipermainkan dan terhina sekali, maka dia menggunakan kesempatan selagi Retno Wilis lengah. Tiba-tiba dalam keadaan berlutut itu dia menubruk ke depan dan sudah berhasil menangkap kaki kanan Retno Wilis. Dengan girang ia mengerahkan tenaga untuk menarik kaki itu dan membuat tubuh lawan terbanting.

Akan tetapi dia tidak mengenal siapa Retno Wilis! Cepat dara perkasa ini menggunakan aji Argo-selo (Batu Gunung) dan tubuhnya segera menjadi seberat batu gunung sehingga betapapun Kalinggo mengerahkan tenaganya, kaki yang kecil itu tidak tergeser sedikitpun juga!

Para penonton kini terdiam, mengira bahwa pemuda remaja itu tentu akan celaka melihat kakinya sudah tertangkap Kalinggo. Akan tetapi mereka melihat Kalinggo ber-ah-uh-uh mengerahkan tenaga menarik, tetapi tetap saja pemuda itu tidak bergerak. Kaki itu seolah telah berakar pada papan panggung.

Selagi Kalinggo bersusah payah mengerahkan segala tenaganya, kaki kiri Retno Wilis menyambar, mengenai jalan darah pundaknya sehingga seketika Kalinggo merasa kedua tangannya lemas tak bertenaga dan tangkapannya terlepas. Retno Wilis menendang lagi dan tubuh Kalinggo melayang, terlempar keluar panggung.

Kali ini tepuk sorak menggegap gempita, membuat panggung seolah-olah akan ambruk. Dyah Candramanik juga bangkit berdiri dan bertepuk tangan. Baru setelah Sang Adipati Martimpang sendiri yang naik ke atas panggung dan memberi isyarat dengan tangannya agar semua orang diam, suasana menjadi hening dan suara adipati itu terdengar lantang.

"Dengan ini kami umumkan bahwa yang menjadi pemenang sayembara ini adalah Joko Wilis dari Gunung Wilis!"

Kembali sorak sorai pecah dan semua penonton bersorak-sorak, kecuali mereka yang kalah dan terpaksa membayar kepada lawan bertaruh. Sang Adipati menghadapi Retno Wilis.

"Andika telah memenangkan sayembara, sebab itu andika berhak menerima hadiah yang disayembarakan."

Retno Wilis merasa tengkuknya meremang. baru sekarang dia teringat bahwa pemenang sayembara akan dijodohkan dengan Dyah Candramanik dan kelak akan menggantikan kedudukan adipati di Nusabarung! Ia cepat memberi hormat kepada Adipati Martimpang dan berkata dengan gagap.

"Akan tetapi saya... saya tidak... menghendaki hadiah..."

Kata-kata ini bahkan menyenangkan hati sang adipati, karena dianggapnya pemuda ini rendah hati. Pemuda yang sudah mengalahkan Ki Wisokolo, senopatinya yang paling tangguh! Pantas sekali menjadi mantunya. Juga pemuda ini amat tampan, seperti Arjuna sehingga serasi sekali kalau menjadi suami puterinya yang cantik, Dyah Candramanik.

"Berdirilah dan mari andika ikut dengan kami masuk ke kadipaten, di sana kita bicara!" perintahnya.

Retno Wilis menjadi bingung. Akan tetapi tidak mungkin dia melarikan diri begitu saja. Dia justru hendak mengadakan penyelidikan sehingga sebetulnya baik sekali kalau ia diterima masuk ke kadipaten. Akan tetapi bagaimana nanti kalau ia harus menikah dengan Dyah Candramanik? Ia masih belum dapat memikirkan bagaimana baiknya dan baru sekarang ia teringat akan kata-kata kakaknya.

Bahkan kakaknya tadi sudah memberi peringatan dengan sambitan kerikil kecil. Tentu maksud kakaknya agar ia mengalah sehingga tidak menjadi pemenang sayembara. Akan tetapi bagaimana ia dapat mengalah menghadapi Kalinggo yang demikian sombong? Ah, biarlah ia mengikuti saja kehendak sang adipati. Tentang pernikahan itu bagaimana nanti saja. Ia akan melihat perkembangannya. Sewaktu-waktu ia dapat meloloskan diri.

Kalau sekarang, di mana terdapat demikian banyaknya prajurit dan para penonton, sulit rasanya untuk melarikan diri. Juga kalau ia melarikan diri sekarang, bagaimana dengan penyelidikannya?

Adipati Martimpang tiba di tempat di mana dia tadi duduk bersama isteri dan puterinya. Dyah Candramanik menyambut kedatangan ayahnya dengan muka kemerahan. Ia hanya mengerling sekali kepada Retno Wilis, lalu menundukkan muka dengan ke malu-maluan.

Setelah kini berhadapan dengan Dyah Candramanik, Retno Wilis harus mengakui bahwa gadis itu cantik sekali. Wanita setengah tua yang duduk di dekatnya itu tentulah ibunya karena wanita itu pun amat cantik.

Adipati Martimpang mengajak mereka semua memasuki gedung, diiringkan oleh para prajurit pengawal. Retno Wilis berjalan di belakang, dan dia memandang ke kanan kiri ketika memasuki ruangan depan pendopo gedung itu. Sebuah istana yang cukup mewah.

Setelah tiba di ruangan dalam, Adipati Martimpang duduk di atas kursi bersama para isterinya yang sudah keluar menyambut. Dyah Candramanik juga duduk di dekat ibunya. Retno Wilis menghadap dan duduk bersila di atas lantai.

"Joko Wilis," kata sang adipati dengan ramah, "sesuai dengan isi sayembara, andika yang telah lulus dengan baik akan kami jodohkan dengan puteriku ini, Dyah Candramanik."

Retno Wilis mengangkat muka memandang ke arah Dyah Candramanik yang juga tengah memandang kepadanya. Dua pasang mata yang sama indahnya bertemu pandang dan Dyah Candramanik tersenyum, mukanya menjadi kemerahan kemudian ia menundukkan mukanya.

"Banyak terima kasih saya haturkan kepada paduka, kanjeng gusti adipati. Akan tetapi mohon beribu maaf bahwa saya masih terlalu muda untuk menikah," kata Retno Wilis dengan hati berdebar karena ia khawatir adipati itu akan marah kepadanya.

Adipati Martimpang memandang penuh selidik kepadanya. “Joko Wilis, apa artinya ini? Andika sudah tahu bahwa sayembara ini diadakan untuk mencarikan jodoh bagi puteriku, bukan? Apakah andika hendak mengatakan bahwa masukmu mengikuti sayembara itu hanya untuk main-main belaka?" Suara adipati itu jelas mengandung nada kemarahan.

"Tidak sama sekali, gusti. Saya merasa bahagia sekali, saya hanya mengatakan bahwa saya masih terlalu muda. Kalau paduka mengijinkan, berilah waktu kepada saya selama satu tahun lagi."

"Nanti dulu. Kami akan bertanya kepada puteri kami. Ehh, Dyah Candramanik puteriku yang cantik, bagaimana pendapatmu dengan Joko Wilis ini? Apakah engkau sudah setuju kalau kami jodohkan dengan dia?"

Dyah Candramanik tersenyum sambil menundukkan mukanya, lalu terpaksa ia menjawab,
"Ah, aku menurut bagaimana keputusan kanjeng rama saja."

Adipati Martimpang tertawa. "Ha-ha-ha, itu artinya engkau setuju. Joko Wilis, kami pikir permintaanmu itu pantas juga. Memang andika kelihatan masih terlampau muda. Baiklah, andika tinggal di sini selama satu tahun, dan setelah itu baru kalian kami nikahkan."

"Terima kasih, gusti."

"Selama berada di sini, andika boleh menggembleng pasukan khusus agar mereka pun memiliki kadigdayaan. Dan andika tinggal di dalam istana ini, sebagai calon mantu kami.

"Terima kasih, kanjeng gusti adipati."

Tentu saja hati Retno Wilis gembira sekali. Kalau ia diperbolehkan menanti sambil tinggal di situ sampai setahun, tentu banyak kesempatan baginya untuk melakukan penyelidikan akan rencana Nusabarung, apakah benar hendak memberontak dan bersekutu dengan Blambangan. Ia akan mempunyai banyak waktu dan sebelum satu tahun lewat, dengan mudah ia akan meloloskan diri dari pulau itu. Ia yakin bahwa kakaknya, Bagus Seto, juga telah masuk ke Nusabarung dan sekarang entah berada di mana. Sewaktu-waktu tentu kakaknya akan menghubunginya, kalau tidak ia dapat berjalan-jalan di pulau itu untuk mencarinya.

Setelah beberapa hari tinggal di kadipaten Nusabrung, Retno Wilis telah mulai menyelidiki keadaan di Nusabarung. Ia mendengar bahwa Nusabarung baru bersiap-siap menghimpun kekuatan, namun belum ada tanda-tandanya hendak memberontak.

Yang membuat hatinya tidak tenang adalah sikap Dyah Candramanik. Pada suatu pagi puteri itu menyuruh biyung emban untuk memanggilnya ke taman-sari. Tentu saja ia tidak berani menolak dan memasuki taman-sari. Dyah Candramanik telah berada di situ, hanya berdua dengan biyung emban. Setelah Retno Wilis datang, biyung emban yang tahu diri itu tanpa diperintah sudah pergi meninggalkan mereka berdua saja di taman-sari.

Retno Wilis tersenyum melihat sang puteri malu-malu menundukkan mukanya. Diam-diam ia merasa kasihan kepada puteri ini. Agaknya sang puteri memang jatuh cinta kepadanya. Melihat sang puteri diam saja, Retno Wilis mendahului bicara.

"Gusti puteri..."

"Ahh, mengapa engkau menyebut aku gusti? Engkau bukan hambaku dan aku bukanlah gustimu," Dyah Candramanik menegur tanpa memandang muka Retno Wilis.

"Lalu, saya harus menyebut apa?"

"Lupakah engkau bahwa kita telah ditunangkan? Tentu engkau tahu apa yang harus kau sebut terhadap calon isterimu?" Sang puteri berkata lagi, kini memandang wajah Retno Wilis dan sikapnya mulai agak tabah.

"Ahh... kalau begitu, apakah aku harus menyebutmu diajeng?"

"Memang begitu seharusnya, kakangmas Joko Wilis."

"Baiklah, diajeng Dyah Candramanik. Akan tetapi ada keperluan apakah pagi ini engkau memanggilku?"

"Aku hanya ingin bertemu dan bercakap-cakap denganmu. Kakangmas, engkau menolak untuk dinikahkah denganku sekarang, minta mundur setahun lagi. Aku heran sekali, kalau engkau tidak ingin menikah, mengapa engkau memasuki sayembara dan menghadapi bahaya maut untuk memperebutkan aku?"

"Aku... aku... ah, aku sebetulnya belum memikirkan tentang perjodohan diajeng."

"Akan tetapi aneh! Mengapa mengikuti sayembara?"

"Karena aku melihat para peserta itu sombong-sombong dan tidak ada yang sesuai untuk menjadi jodohmu. Aku hendak mencegah engkau menikah dengan seorang dari mereka. Jika aku tidak ikut sayembara, tentu engkau telah dipersunting Kalinggo dari Blambangan itu. Apakah engkau akan suka kalau dijodohkan dengan orang sekasar itu?"

"Tentu saja tidak! Akan tetapi engkaulah yang menang. Engkaulah yang berhak menikah dengan aku. Apakah... apakah engkau tidak cinta kepadaku, kakangmas Joko Wilis?"

Retno Wilis menjadi bingung.

"Tentu saja aku mencintamu, diajeng. Engkau seorang puteri yang cantik jelita, siapa tidak mencintamu? Aku hanya minta waktu, tidak ingin buru-buru menikah."

"Baiklah, kanjeng Rama sudah menyetujuinya. Dan aku pun tidak marah, hanya kuminta selama setahun menunggu ini, engkau seringlah datang ke sini untuk bercakap-cakap dengan aku, untuk mengajariku memanah."

"Baiklah, diajeng. Akan tetapi engkau juga harus banyak memberitahu padaku tentang Nusabarung dan pemerintahannya. Engkau tentu maklum bahwa kelak kanjeng Ramamu akan mengangkat aku sebagai penggantinya. Bagaimana aku dapat memerintah dengan baik kalau tidak mengenal keadaan Nusabarung?"

"Tentu saja aku akan menceritakan semua yang kuketahui, kakangmas. Soal apakah yang ingin kauketahui?"

"Segala hal yang menyangkut Nusabarung dan pemerintahannya, diajeng. Aku dengar Nusabarung berada dibawah kekuasaan Jenggala, benarkah itu diajeng?" kata Retno Wilis sambil duduk di bangku panjang, di sebelah Dyah Candramanik.

"Dulu memang benar begitu, kakangmas. Tetapi kanjeng Romo tidak suka membiarkan hal itu. Katanya Nusabarung harus terlepas dari kekuasaan Jenggala."

"Ah, kalau begitu berarti Nusabarung hendak menentang Jenggala. Padahal Jenggala adalah sebuah kerajaan besar. Bagaimana Nusabarung hendak menentangnya, diajeng? Apakah itu tidak berbahaya?"

"Karena itu kanjeng rama mulai menghimpun kekuatan, menghimpun pasukan yang besar. Selain itu, kanjeng rama juga berhubungan baik dengan Blambangan, bahkan kalau perlu, kita dapat minta bantuan dari Bali-dwipa. Mereka semua juga tidak suka ditundukkan oleh Jenggala dan Panjalu."

"Kalau begitu ada rencana dari Nusabarung untuk menyerang Jenggala? Ini berbahaya sekali!"

"Bukan menyerang, melainkan menjaga diri dan melakukan perlawanan kalau Jenggala berani menyerang ke sini. Kita semua sudah siap, kakangmas. Karena itulah kanjeng Rama mengadakan sayembara untukku, untuk mendapatkan seorang mantu yang sakti mandraguna seperti kakangmas. Dan karena itu pula aku ingin belajar memanah agar kalau saatnya tiba, aku dapat pula menjaga diri."

"Wahai, diajeng, siapa orangnya yang berani mengganggu andika? Selain tidak berani, juga tidak mau karena siapa yang melihat andika tentu akan merasa sayang dan tidak akan mengganggumu."

"Dalam keadaan perang, siapa yang akan mempedulikan, kakangmas? Sudahlah, apa lagi yang kakangmas tanyakan?"

Dengan cerdik Retno Wilis menghentikan pertanyaan-pertanyaannya dan mengajarkan ilmu memanah kepada dara jelita itu. Tentu saja tangan mereka bersentuhan dan Retno Wilis berlaku hati-hati sekali agar jangan sampai dara itu mengetahui rahasianya. Sikapnya yang lemah lembut, ramah dan sopan ini bahkan membuat Dyah Candramanik semakin tergila-gila.

Pada hari-hari berikutnya, secara sambil lalu sambil mengajarkan memanah, Retno Wilis berhasil mengorek banyak keterangan dari puteri itu. Ia tahu bahwa Nusabarung memiliki lima orang senopati yang gagah perkasa, yaitu Ki Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki Surodiro, Ki Krendomolo, dan Ki Damarpati. Mereka semua adalah senopati-senopati yang pandai berperang dan juga sakti.

Juga ia mendengar dari sang puteri yang tergila-gila kepadanya itu bahwa Nusabarung tadinya mempunyai pasukan yang lebih sedikit dari seribu orang banyaknya, akan tetapi kini dengan masuknya orang-orang muda di sekitar Nusabarung, jumlah itu meningkat menjadi kurang lebih dua ribu orang. Sebagian dari jumlah itu sekarang berjaga di pantai daratan.

Pada suatu pagi, selagi Retno Wilis melatih Dyah Candramanik yang belajar memanah, muncul seorang petugas. Dyah Candramanik memandang dengan marah kepada petugas jaga itu.

"Mau apa engkau ke sini tanpa dipanggil? Berani engkau memasuki taman ini?"

"Maafkan hamba, gusti puteri. Hamba diutus oleh Kanjeng Gusti Adipati untuk menemui Raden Joko Wilis di sini."

"Mau apa dengan kakangmas Joko Wilis?"

"Kanjeng Gusti Adipati memanggilnya untuk menghadap sekarang juga."

Mendengar ini Retno Wilis lalu mendekati orang itu dengan senyum ramah dan bertanya dengan lembut,

"Paman, ada urusan apakah Kanjeng Adipati memanggilku?"

"Hamba tidak tahu, raden. Hanya yang hamba ketahui, Kanjeng Gusti Adipati sedang menerima tamu dari Blambangan."

"Tamu dari Blambangan? Siapakah mereka?"

"Hamba tidak tahu, hanya ada dua orang kakek yang berpakaian mewah datang bertamu dan tak lama kemudian Kanjeng Gusti Adipati memerintahkan saya untuk mengundang paduka."

"Baiklah, paman. Saya akan menghadap sekarang. Diajeng Dyah Candramanik, agaknya ada keperluan penting sekali maka kanjeng Ramamu memanggil aku. Aku pergi dulu."

Dyah Candramanik hanya mengangguk dengan muka bersungut-sungut karena merasa betapa kesenangannya terganggu.

Retno Wilis dan utusan itu segera meninggalkan taman-sari. Sesudah memasuki tempat persidangan di mana Sang Adipati menerima para tamunya, Retno Wilis melihat bahwa di situ duduk dua orang kakek berpakaian mewah sedang duduk berhadapan dengan Adipati Martimpang.

Yang seorang adalah kakek berusia enam puluh tahun lebih, pakaiannya mentereng dan bersih, rambutnya tersisir rapi dan jenggotnya juga terpelihara baik-baik. Seorang kakek yang rapi dan pesolek, mukanya bundar dan mulutnya selalu tersenyum, wajahnya yang juga lembut dan tampan itu tampak seperti kewanitaan.

Adapun kakek ke dua, meski pun pakaiannya juga mewah, namun pakaian itu dekil dan kotor. Rambutnya juga awut-awutan tidak tersisir, matanya lebar, hidungnya pesek dan mulutnya selalu menyeringai seperti menertawakan orang.

Sekali pandang saja Retno Wilis dapat menduga bahwa kedua orang kakek itu bukanlah orang sembarangan. Ia bisa melihat ini dari sikap mereka yang seperti orang memandang rendah dan sinar mata mereka yang tajam berpengaruh.

"Joko Wilis! Ke sinilah engkau, hendak kuperkenalkan dengan dua orang yang datang dari Blambangan." Dia menunjuk kepada kakek yang pakaiannya rapi dan pesolek. "Ini adalah Sang Wasi Karangwolo, seorang pendeta yang menjadi penasihat dari Sang Adipati di Blambangan. Adapun yang kedua ini adalah Sang Wasi Surengpati, juga seorang pertapa yang kini membantu Wasi Karangwolo yang menjadi saudara seperguruannya. Paman Wasi berdua, ini Joko Wilis yang kumaksudkan. Dialah yang memenangkan sayembara tanding itu, mengalahkan Kalinggo, bahkan mengalahkan Ki Wisokolo."

Sang Wasi Karangwolo memandang kepada Joko Wilis dengan tajam penuh selidik, senyumnya melebar dan dia berkata,

"Sungguh seorang pemuda yang ganteng sekali!"

Sang Wasi Surengpati juga memandang dan dia mengerutkan alisnya. "Seorang bocah seperti ini keluar sebagai pemenang? Sungguh mengherankan sekali. Joko Wilis, engkau telah bertemu dengan kami, hayo cepat berlutut dan menyembah!"

Retno Wilis terkejut. Perintah itu diucapkan dengan suara dalam dan berpengaruh sekali, ia merasa seolah-olah ada tenaga yang mendorongnya untuk berlutut dan menyembah. Maklum bahwa ini merupakan teriakan yang mengandung tenaga sihir, iapun cepat-cepat memejamkan mata mengerahkan kekuatan batinnya untuk menolak perintah itu kemudian berkata dengan suara tenang namun juga penuh tantangan.

"Paman Wasi, tidak ada peraturan yang mengharuskan saya berlutut dan menyembah kepada orang yang belum saya ketahui benar keadaannya. Saya hanya menyembah kepada Kanjeng Adipati, akan tetapi tidak kepada kalian berdua!"

Wasi Surengpati tercengang. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda remaja itu ternyata mampu menolak sihirnya yang kuat! Sang Adipati juga terkejut mendengar perintah Wasi Surengpati dan dia menegur,

"Apa maksud Kakang Wasi Surengpati dengan perintah yang tidak pada tempatnya itu? Mengapa Joko Wilis harus menyembah kepada kalian berdua yang menjadi tamu kami?"

Wasi Karangwolo yang menjawab sambil tertawa, "Ha-ha-ha, Kanjeng Adipati, adi Wasi Surengopati hanya ingin menguji saja kepada Joko Wilis dan ternyata pemuda remaja ini mampu menolak ujiannya. Sungguh mengagumkan sekali, seorang pemuda yang ganteng dan juga sakti mandraguna!"

Barulah Adipati Martimpang mengerti dan dia tersenyum bangga.

"Sudah kami katakan bahwa dia sakti mandraguna. Sungguh hati kami merasa girang dan bangga, seperti andika berdua saksikan sendiri, kami telah memperoleh tenaga yang amat tangguh dan boleh diandalkan!"

"Akan tetapi, Kanjeng Adipati, apa artinya tenaga seorang saja dibandingkan tenaga lima ribu orang pasukan gemblengan yang kokoh kuat!" tanya Wasi Karangwolo.

Mendengar ucapan ini, Adipati Martimpang mengerutkan alisnya dan berkata kepada Joko Wilis, "Joko Wilis, kembalilah engkau ke taman-sari dan lanjutkan beri latihan memanah kepada Dyah Candramanik."

Retno Wilis merasa kecewa dalam hatinya karena ia ingin sekali mendengar apa yang akan dibicarakan oleh dua orang tamu dari Blambangan ini. Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat membantah dan pergilah ia meninggalkan ruangan itu dan kembali ke taman-sari di mana Dyah Candrarnanik menyambutnya dengan gembira.

Setelah Retno Wilis pergi, Adipati Martimpang bertanya dengan nada suara tidak senang kepada Wasi Karangwolo. "Paman Wasi Karangwolo, apa artinya ucapan paman tadi? Apa yang paman maksudkan?"

"Maksud saya, Kanjeng Adipati, bahwa Kalinggo jauh lebih baik untuk menjadi mantu paduka dari pada Joko Wilis tadi. Betapa pun saktinya, Joko Wilis hanya seorang diri saja. Bagaimana dia akan mampu menanggulangi keadaan kalau Nusabarung diserbu pasukan dari Jenggala? Sebaliknya, kalau Kalinggo menjadi mantu paduka, tentu Blambangan akan lebih dekat dengan Nusabarung dan limaribu orang pasukan Blambangan yang kokoh kuat tentu jauh lebih berharga dari pada bantuan tenaga seorang Joko Wilis."

"Lagi pula harus diingat bahwa Gunung Wilis terletak di wilayah kekuasaan Panjalu. Siapa tahu kalau-kalau pemuda itu adalah telik sandi yang hendak mengadakan penyelidikan di Nusabarung!" kata pula Wasi Surengpati.

Mendengar ucapan kedua orang tamunya itu, Adipati Martimpang mengerutkan alisnya dan hatinya menjadi gelisah. Teringatlah dia bahwa sebelum diadakan sayembara, dia sama sekali tidak mengenal Joko Wilis. Bukan tidak mungkin kalau Joko Wilis merupakan seorang mata-mata atau telik sandi yang sedang menyelidiki keadaan di Nusabarung! Dan teringat pula dia betapa Joko Wilis menolak untuk segera menikah dengan Dyah Candramanik, melainkan minta diundur selama satu tahun.

"Kalau begitu, bagaimana baiknya, Paman Wasi berdua? Dia sudah terlanjur kami terima sebagai calon mantu, karena memang dia yang memenangkan sayembara itu. Dan agaknya puteriku Dyah Candramanik juga sudah menyetujui."

"Mana yang harus diutamakan, kepentingan hati puteri paduka ataukah keselamatan kadipaten Nusabarung? Kalau paduka menghendaki, biarlah kami berdua yang akan melakukan penyelidikan terhadap diri Joko Wilis, kalau ternyata dia seorang telik sandi, kami berdua yang akan sanggup menangkapnya!" kata Wasi Karangwolo.

"Baik, paman Wasi. Akan tetapi kami harap andika berdua berhati-hati, jangan sampai membuat puteriku berduka. Kalau benar Joko Wilis seorang telik sandi dari Panjalu atau Jenggala, tentu dengan mudah kami sendiri yang akan memberitahu kepada puteriku Dyah Candramanik."

Demikianlah, Adipati Martimpang telah membuat persekutuan dengan dua orang pendeta yang datang dari Blambangan itu untuk menyelidiki keadaan Joko Wilis!

Dyah Candramanik termenung seorang diri dalam kamarnya. Apa yang dialami sore tadi ketika mempelajari ilmu memanah dari Joko Wilis sungguh membuat jantungnya berdebar penuh ketegangan. Selama beberapa hari ini ia memang merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Joko Wilis. Naluri kewanitaannya membuat ia sadar bahwa ada suatu kalainan pada diri pemuda yang membuat ia kasmaran itu.

Saat ia belajar membidik dan Joko Wilis berdiri di belakangnya sambil merangkulkan dua lengan untuk mengajarinya menarik busur dan membidik, ia dapat mencium keharuman yang seperti bunga, keharuman seperti yang terdapat pada tubuh wanita! Pula, jari-jari tangannya demikian kecil meruncing, sentuhan lengannya begitu lembut. Juga rambutnya mengeluarkan bau harum. Makin lama, hatinya menjadi semakin curiga karena Joko Wilis bergerak demikian indah dan luwes seperti seorang wanita.

"Aku harus mendapat kepastian besok pagi," akhirnya puteri itu mengambil keputusan.

Sementara itu, sore itu Retno Wilis mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan keluar dari kadipaten. Ia terus menuju ke pintu gerbang dan keluar dari kota kadipaten, memasuki daerah berhutan dari pulau itu. Tentu saja maksudnya hanya satu, yaitu hendak menemui kakaknya. Kalau kakaknya berada di kadipaten dan melihat dia keluar dari kota, tentu kakaknya akan membayanginya.

Dugaannya benar. Belum lama ia berjalan di jalan yang sunyi di tepi hutan itu, ia melihat ada seorang pemuda berpakaian putih di sebelah depan. Ketika ia mendekat, ia melihat bahwa orang itu adalah Bagus Seto.

"Kakangmas Bagus Seto!" ia memanggil.

"Diajeng Retno Wilis, engkau keluar dari kota raja untuk menemui aku, bukan?"

"Benar, kakangmas," kemudian Retno Wilis menuturkan semua pengalamannya, betapa setelah berhasil memenangkan sayembara, sudah mendapat banyak keterangan tentang Nusabarung dari Dyah Candramanik.....
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 06"

Post a Comment

close