Perawan Lembah Wilis Jilid 29

Mode Malam
Dapat dibayangkan betapa kaget hati dara ini ketika mengenal bahwa mereka itu bukan lain adalah Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro! Wanita cantik jelita yang berwajah angker dan bersinar mata kejam itu berdiri tegak memandang Pusporini, kemudian melirik ke arah Joko Pramono yang rebah telentang dalam keadaan terbelenggu pula.

Wanita ini kelihatan marah, alisnya yang tipis dan ditebalkan dengan penghitam, berkerut, tangan kini bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang pengebut yang terbuat dari pada ekor kuda berwarna kemerahan. Adapun Ki Kolohangkoro yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu, berdiri seperti sebuah tugu, kokoh kuat menyeramkan.

Sepasang matanya yang lebar memandang Pusporini, bibinya menyeringai dan sikapnya memandang rendah. Kepada Joko Pramono, ia menengokpun tidak.

Joko Pramono yang tadinya terseret meramkan matanya, kini la membuka mata dan ia memandang dua orang itu penuh perhatlan. Sebagal murld seorang sakti, ia dapat menduga bahwa dua orang itu bukanlah orang baik-baik dan tentu memlliki kesaktlan tinggl. Akan tetapi karena tidak mengenal Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro, sesuai dengan wataknya, ia tidak gentar bahkan memandang rendah. Maka iapun tersenyum, dan mengejek ketika melihat betapa Pusporini tampak khawatir,

“Eh, Pusporini, sekarang kau baru tahu rasa, bertemu dengan dua orang siluman penjaga hutan!”

Pusporini tidak mempedulikan pemuda itu, hanya siap dengan waspada, ingin melakukan perlawanan mati-matian sungguh pun ia tahu bahwa Ni Dewi Nilamanik yang ia tahu menjadi pemimpin para penyembah Durga di puncak Gunung Mentasari tentulah memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa, bahkan jauh lebih sakti dari pada Sariwuni!

Ni Dewl Nilamanik membuka mulut, terdengar suaranya yang lemah lembut, akan tetapi mengandung getaran penuh nafsu dan kekejaman,

“Pusporini, hayo lekas kau maju berlutut dan minta ampun, baru aku dapat mengampunimu dan membawamu menghadap sang wasi yang menantimu di puncak.”

Pusporini teringat akan pengalamannya di puncak Mentasari, la bergidik dan timbul kenekatannya. Lebih baik mati dalam perlawanan dari pada menyerah dan mengalami penghinaan yang hebat di tempat neraka itu.

Ia mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya mencelat maju menerjang, mengirim pukulan Bojro Dahono yang belum sempurna itu ke arah dada Ni Dewi Nilamanik. Sungguh seperti seekor capung menyerang gapura batu! Jangankan Aji Bojro Dahono itu belum terlatih sempurna, andai kata sudah sempurna latihannya sekali pun, belum tentu Pusporini dapat merobohkan Nilamanik dengan sekali pukul.

Wanita penyembah Durga itu mengikik tertawa, tubuhnya lama sekali tidak bergerak dari tempat nya, hanya kebutan di tangannya bergerak dan tahu-tahu ujung bulu kebutan itu menerima pukulan Pusporini, membelit pergelangan tangannya dan sekali sendal, tubuh Pusporini terlempar ke belakang dan jatuh tunggang-langgang!

“Huah-ha-ha-ha! Bocah ini seperti seekor singa betina!”

Ki Kolohangkoro tertawa bergelak ketika melihat betapa Pusporini yang terbanting jatuh itu telah meloncat bangun dengan sigapnya dan sama sekali tidak tampak ketakutan membayang di wajah yang manis itu, bahkan wajah itu membayangkan kebencian dan kemarahan besar ketika dara ini melangkah maju dan siap menerjang lagi.

“Kolohangkoro, engkau jangan tertawa-tawa saja. Hayo kau wakili aku tangkap bocah ini!”

Ni Dewi Nilamanik berkata kepada temannya itu dengan suara memerintah.

“Baiklah, Ibunda Dewi! Eh, bocah perawan galak! Kenapa kau tidak lekas-lekas tunduk akan perintah Ibunda Dewi? Hayo berlutut kau!”

Sambil berseru demikian, Ki Kolohangkoro menubruk kedepan, ke arah Pusporini. Dara yang sudah siap siaga ini dengan kemarahan memuncak menyambut tubrukan Ki Kolohangkoro dengan pukulannya, kini ia menggunakan kedua tangannya, mengerahkan Aji Pethit Nogo, tangan kiri menampar ke arah leher dan tangan kanan menghantam ke arah dada.

“Plak-plak.”

Dua pukulan Pethit Nogo itu tepat mengenai leher dan dada Ki Kolohangkoro. Akan tetapi raksasa itu hanya terkekeh tertawa dan dua pukulan itu membalik, bahkan Pusporini merasa betapa kedua telapak tangannya menjadi sakit-sakit dan panas, seakan-akan memukul baja yang amat kuatnya.

Sebelum ia sempat mengelak, kedua pundaknya sudah dipegang oleh tangan-tangan yang besar itu dan ia dipaksa berlutut dengan tekanan seperti gunung beratnya. Tak dapat lagi Pusporini menahan tubuhnya dan kedua lututnya sudah tertekuk, ia berlutut di atas tanah.

“Keparat, lepaskan dial”

Tiba-tiba tubuh Koko Pramono menerjang maju. Pemuda ini sebetulnya tadi hanya berpura-pura saja ketika ditawan Pusporini. Kalau ia mau, dengan tenaga saktinya ia mampu membebaskan diri dari pada ikatan kaki tangannya.

Kini, melihat betapa dua orang yang dipandang rendah itu ternyata sakti bukan main, ia terkejut dan cepat-cepat ia meronta dan membebaskan diri. Melihat betapa Pusporini tidak berdaya menghadapi Ni Dewi Nilamanik dan kini bahkan ditekan dan dipaksa berlutut oleh Ki Kolohangkoro, ia sudah menerjang maju dan mengirim serangan pukulan ke arah punggung Ki Kolohangkoro.

Kakek raksasa yang sakti mandraguna ini pun memandang rendah. Ia tahu bahwa ada orang memukulnya dari belakang, akan tetapi karena ia tadi sudah melihat bahwa orang yang terbelenggu dan kini terlepas dan menyerangnya itu hanyalah seorang pemuda, maka ia sengaja diam saja, mengerahkan tenaga ke arah punggung untuk menyambut pukulan.

“Desss.”

Joko Pramono berseru kaget dan memegangi tangan kanannya yang serasa remuk tulang-tulangnya, akan tetapi Ki Kolohangkoro juga berseru kaget karena tubuhnya terhuyung ke depan dan pegangannya pada pundak Pusporini terlepas. Tak disangkanya bahwa pukulan pemuda itu sedemikian kuatnya!.

Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik menjadi kagum dan tertarik. “Aihhh, boleh juga bocah ini!” Kedua kakinya tidak tampak bergerak, akan tetapi tubuhnya sudah melayang ke arah Joko Pramono.

Pemuda ini maklum bahwa wanita ini amat sakti, bahkan agaknya lebih sakti dari pada si raksasa tua, maka iapun cepat menahan rasa nyeri pada tangannya dan menyambut datangnya Ni Dewi Nilamanik dengan sebuah pukulan tangan kiri. Tubuhnya agak merendah, hampir berjongkok dan tangan kirinya dengan tenaga penuh menonjok ke arah perut lawan.

“Ceppp...”

Pukulan Joko Pramono itu bukanlah pukulan sembarangan. Itulah aji pukulan yang amat tua dan ampuh, yang sudah jarang dikenal orang. Aji ini disebut aji pukulan Cantuka Sekti yang hebat sekali.

Akan tetapi begitu mengenai perut Ni Dewi Nilamanik, tangan kirinya itu amblas ke dalam perut, masuk ke perut sampai ke pergelangan tangan dan tak dapat ditarik kembali! Joko Pramono terkejut, cepat ia memukul dengan tangan kanannya yang masih sakit, akan tetapi tiba-tiba kebutan ekor kuda di tangan Ni Dewi Nilamanik berkelebat, ujung kebutan mengenai pundak laIu berkelebat lagi mencium punggung dan seketika lemaslah tubuh Joko Pramono! Tidak hanya kedua lengannya yang tumpuh, juga kedua kakinya kehilangan tenaga dan ia tentu sudah roboh terguling kalau saja tangan kirinya tidak terjepit di perut wanita itu!

Kini sambil tersenyum dan mengeluarkan suara memuji kagum, Ni Dewi Nilamanik mempergunakan tangan kirinya, meraba-raba seluruh tubuh Joko Pramono, dari kepala terus turun, ke lehernya, dadanya, pundaknya, lambungnya, pusarnya, terus turun sampai ke kakinya.

“Bagus.., bagus.., sukar mendapatkan bocah sebaik ini...”katanya memuji. Joko Pramono bergidik seluruh tubuhnya, menggigil dan ngeri sekali.

“Kaulepaskan dia, perempuan tak tahu malu!”

Kini Pusporini yang menerjang maju menyerang Ni Dewi Nilamanik. Memang aneh watak dara ini.

Tadi ia membenci Joko Pramono, gemas dan ingin menyiksanya, ingin menyakiti hatinya. Akan tetapi begitu melihat pemuda itu tadi membelanya dan kini terjatuh ke dalam tangan wanita iblis yang Sakti itu ia melupakan kelemahan sendiri dan menyerang dengan nekat. Namun gerakannya terhenti ketika tiba-tiba pinggangnya disambar orang dari belakang dan ia hanya dapat meronta-ronta dalam kempitan dengan tangan Ki Kolohangkoro yang amat kuat.

“Ha-ha-ha-ha, Ibunda Dewi. Engkau mendapatkan si bagus itu dan Ramanda Wasi mendapatkan si manis ini, benar­benar pasangan yang cocok, memenuhi selera kalian. Heh, adapun aku ha-ha, aku akan puas kalau Ibunda dapat memberi sepertl kemarin itu satu lagi saja.”

Ni Dewi Nilamanik menggerakkan tangan klrinya dan tubuh Joko Pramono juga sudah dikempitnya, lalu menoleh kepada Ki Kolohangkoro.

“Engkau rakus sekali, Kolohangkoro! Marilah, jangan kita membuat rakanda wasi terlalu lama menanti. Kalau kau menghaturkan bocah itu kepadanya, tentu dia akan senang hati dan mungkin suka menurunkan ilmu yang kau idam-idamkan itu.”

“Aji Werjit Kencana? Aha, aku akan rela menukar ilmu itu dengan lengan kiriku, Ibunda Dewi. Akan tetapi tidak mungkin ramanda wasi sudi menurunkan aji itu kepadaku, kecuali kalau Ibunda suka membantuku membujuknya.”

“Bagaimana nanti sajalah, Kolohangkoro. Hayo kita pergi!”

Dua orang yang sakti mandraguna, keduanya adalah pemimpin dari agama pecahan yang terdiri dari orang-­orang penyembah Bhatari Durga dan Bathara Kala, dengan gerakan luar biasa cepatnya telah berkelebat meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh dua orang muda yang setengah pingsan dan sama sekali tidak mampu berkutik lagi.

Waktu itu, hari telah mulai ditelan senja, keadaan menjadi remang-remang. Bayangan dua orang sakti itu seperti bayangan iblis sendiri, berkelebat keluar dari dalam hutan.

Tiba-tiba terdengar suara yang halus, suara orang membaca mantera, suara yang mengandung getaran halus yang bergelombang dan seketika tubuh dua orang sakti itu menggigil dan otomatis kaki mereka berhenti melangkah.

Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro seperti terpaku pada tanah, mata mereka memandang seorang kakek yang duduk bersila di depan mereka, di pinggir jalan yang mereka lalui, seorang kakek yang pakaiannya seperti pakaian seorang pertapa akan tetapi robek-robek dan butut seperti pakaian seorang jembel.

Kakek ini duduk bersila dengan tubuh tegak lurus, matanya meram, rambutnya riap-­riapan, tangan kiri memegang sebuah batok kelapa dan tangan kanan memegang sebuah sapu, yaitu seikat sapu lidi. Kakek ini seperti tidak tahu akan kehadiran mereka dan terus membaca mantera dengan suaranya yang halus mengandung getaran mujijat,

“Om, Ksantawya kayika dosah, Ksantawya wacika mama, Ksantawya manasa dosah, Tat pranadam ksama swamam. Shanti shanti shanti”

(Ya Tuhan, ampunilah kesalahan kami yang timbul dari tingkah laku, ampunilah kesalahan kami dari kata-kata, ampunilah kesalahan kami yang timbul dart fikiran. Damai damai )

Ki Kolohangkoro mendengus dan membuat gerakan hendak melanjutkan perjalanan, akan tetapi Ni Dewi Nilamanik mengangkat tangan kanan yang memegang kebutan, memberi isyarat kepada raksasa itu untuk berhenti dulu.

Kemudian, Ki Kolohangkoro memandang dengan mata terbelalak heran ketika is melihat Ni Dewi Nilamanik melempar tubuh Joko Pramono ke atas tanah, kemudian wanita sakti ini menghampiri kakek yang duduk bersila, menekuk lutut di depan kakek itu dan menyembah! Selagi ia terheran-heran dan bingung, ia mendengar Ni Dewi Nilamanik berkata,

“Paman resi, mohon maaf sebesarnya bahwa hamba berlaku kurang hormat karena tidak mengira akan bertemu dengan Paman di sini. Hamba mohon diperkenankan lewat.”

Ki Kolohangkoro membelalakkan kedua matanya. Inilah suatu keanehan yang tak pernah ia saksikan atau dengar selama hidupnya, Ni Dewi Nilamanik bersikap begini merendah!

Menyembah-nyembah dan mohon diperkenankan lewat! Apa-apaan ini? Siapakah jembel tua ini?

Kakek itu membuka kedua pelupuk matanya dan Ki Kolohangkoro makin terkejut.

Mata itu tidak ada maniknya, hanya putih saja. Kakek jembel tua rents yang buta! Akan tetapi, suara kakek ini penuh getaran yang berwibawa ketika ia berkata,

“Wahai, Nilamanik. Makin tebal saja uap kotor menyelimuti dirimu Ahhhh betapa sedih hatiku karena ini, Nilamanik. Sesal kemudian tiada guna, mengapa tidak juga mau bertaubat sebelum terlambat?”

Ni Dewi Nilamanik tidak menjawab, hanya mengangkat muka memandang penuh rasa takut. Hal ini membuat Ki Kolohangkoro marah sekali. Kakek tua bangka jembel buta begini saja mengapa ditakuti? Sekali tiup juga akan roboh! Mengapa mendadak saja Ni Dewi Nilamanik yang ia tahu amat sakti mandraguna, tidak kalah olehnya itu kini menjadi begini penakut? Karena kemarahannya, Ki Kolohangkoro juga melempar tubuh Pusporini ke atas tanah, lalu menggeleng-geleng kepalanya sehingga anting-anting telinganya bergoyang-goyang dan mengeluarkan suara berdering.

“Ibunda Dewi! Apa-apaan ini? Mengapa ibunda merendahkan diri sedemikian rupa terhadap seorang tua bangka jembel buta yang hina-dina? Seorang jembel lebih hina dari pada seorang sudera, biar dia berpakai resi akan tetapi keadaannya melebihi jembel yang paling miskin! Harap ibunda suka mundur, biar kuhancurkan dia sekali pukul, kurobohkan dia sekali tiup dan kulemparkan dia sekali tendang! Mundurlah, Ibunda Dewi!”

“Kolohangkoro Jangan sembrono kau!”

Biar pun mulutnya berkata demikian, akan tetapi Ni Dewi Nilamanik sudah bangkit berdiri dan mengundurkan diri, memandang dan siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kakek ini mengangkat muka, dihadapkan ke arah Ki Kolohangkoro, lalu tersenyum dan keluarlah suara ketawa halus dari kerongkongannya.

“Bahkan Sang Hyang Bathara Kala sendiri, hanya dapat bergerak untuk memenuhi tugas, tidak akan mampu mengganggu selembar rambut manusia apa bila tidak dikehendaki Sang Hyang Widhi Wasesa! Andika ini siapakah, begini berani hendak mendahului dan memperkosa kehendak Sang Hyang Trimurti?”

“Ha-ha-ha-ha! Kakek jembel tua bangka, sikap dan kata­katamu sombong bukan main, seolah-olah hanya engkau seorang di dunia ini yang paling tahu! Agar engkau tidak mati penasaran sehingga nyawamu akan menjadi setan gentayangan, dengarlah bahwa calon pembunuhmu ini adalah Ki Kolohangkoro!”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Sudah kuduga... sudah kuduga... waah, Nilamanik, kau benar-benar jauh tersesat...”

Ki Kolohangkoro tak dapat menahan kemarahannya lagi. Mukanya menjadi merah, hidungnya mendengus seperti mengeluarkan hawa panas berapi, otot-otot di tubuhnya menggembung.

Diapun bukan seorang yang sembrono dan bodoh. Ia dapat menduga bahwa sedikit banyak, kakek jembel itu tentu memilild kepandaian, sungguh pun ia tidak memandang sebelah mata. Maka ia lalu mengerahkan aji kesaktiannya, seluruh tubuhnya mengeluarkan bunyi berkerotokan seolah-olah semua tulangnya saling beradu. Kemudian ia membentak,

“Terimalah kematianmu!” dan tubuh yang tinggi besar itu menerjang maju, menubruk kakek yang masih duduk bersila itu dan kedua tangannya dengan kepalan sebesar buah kelapa menyambar dari kanan kiri ke arah kepala si kakek jembel.

Kakek tua rents itu tidak mengelak, hanya menggerakkan tangan kanan yang memegang sapu lidi lambat-lambat dan perlahan ke atas.

“Heeeitttt... auuggggghhh... '

Tubuh raksas a Ki Kolohangkoro tergetar dan terdorong ke belakang, kedua kakinya menggigil-gigil dan dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencegah tubuhnya terdorong roboh. Ia membelalakkan matanya memandang kakek yang masih duduk bersila itu.

Tadi ia hanya merasa betapa kedua pukulannya terbentur oleh hawa yang menyambar keluar dari sapu lidi dan tanpa menyentuh sapu lidi itu, apa lagi tubuh si kakek, ia telah terdorong oleh hawa sakti yang mujijat sehingga hampir roboh! Tentu saja ia menjadi marah dan penasaran sekali.

“Tua bangka keparat! Berani kau main-main terhadap Ki Kolohangkoro? Jangan mengira bahwa kau sudah menang, terimalah pusakaku ini!”

Berkata demikian, Ki Kolohangkoro sudah mencabut senjatanya yang hebat, yaitu senjata berat berbentuk tombak pendek yang ia sebut senjata Nenggala. Kemudian dengan gerakan seperti seekor gajah mengamuk, ia menerjang maju, menghantamkan senjatanya ke arah kepala kakek itu.

“Kolohangkoro, jangan!“ terdengar jerit Ni Dewi Nilamanik, akan tetapi karena melihat kawannya sudah menerjang maju, iapun lalu meloncat dengan gerakan ringan mendekati kakek itu dari samping, kemudian menggerakkan senjatanya yang aneh dan dahsyat keampuhannya, yaitu kebutan merah buntut kuda, mengarah leher!.

“Plakkk Brettt “

Hebat bukan main serangan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik tadi, dan kedua serangan itu tiba hampir berbareng. Dari depan menyambar nenggala Ki Kolohangkoro yang menusuk ubun-ubun, dari samping menyambar kebutan mengarah pusat jalan darah di leher.

Dan menghadapi dua serangan ini, kakek tua renta itu sama sekali tidak mengelak. Seperti tadi, ia hanya mengangkat kedua tangan, batok kelapa di tangan kiri menangkis senjata nenggala, sedangkan sapu lidi di tangan kanan menyampok kebutan.


Dan akibatnya ujung kebutan putus sedangkan nenggala di tangan Ki Kolohangkoro patah! Dua orang sakti itu terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat, kemudian tanpa dikomando lagi, Ki Kolohangkoro mencontoh Ni Dewi Nilamanik yang melarikan din tanpa pamit!.

Bagaikan dikejar-kejar iblis, kedua orang sakti ini lari sampai jauh dan setelah merasa yakin bahwa kakek tua renta itu tidak mengejar, barulah Ni Dewi Nilamanik berhenti, menyusut keringat dan berkata perlahan,

“Aduhhh berbahaya sekali Si tua itu makin tua makin mengerikan kesaktiannya!”

Muka Ki Kolohangkoro menjadi merah sekali. Kini barulah ia mengerti mengapa Ni Dewi Nilamanik tadi menyembah-nyembah dan bersikap amat takut dan hormat kepada kakek jembel itu. Kiranya kakek itu memiliki kesaktian seperti dewa sendiri!

“Ibunda Dewi, siapakah dia tadi..?” tanyanya sambil bergidik.

Ni Dewi Nilamanik menghela napas panjang.

“Ah, rakanda wasi tentu akan terkejut dan marah bahwa tua bangka itu telah menampakkan diri pula. Kolohangkoro, dia itu adalah paman guruku sendiri, dialah Resi Mahesapati “

Wahhh Barulah Ki Kolohangkoro terkejut seperti disambar petir. Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Resi Mahesapati yang kabarnya dahulu, puluhan tahun yang lalu, setelah menggegerkan Kerajaan Sriwijaya di seberang lautan, telah lenyap dan kabarnya bertapa di pantai laut Banten. Kiranya orang sakti yang amat luar biasa itu kini telah memperlihatkan diri sebagai seorang kakek yang berpakaian jembel.

“Kesaktiannya memang hebat dan agaknya hanya rakanda wasi saja yang akan mampu menandinginya. Mendiang guruku sendiri dahulu selalu memuji-muji paman Resi Mahesapati, bahkan selalu berpesan agar dalam keadaan apa pun juga, aku selalu harus mentaatinya. Biasanya dia itu keras dan galak, masih untung tadi kita terbebas dari pada maut.”

Ki Kolohangkoro membanting-banting kedua kakinya yang sebesar kaki gajah. Wajahnya keruh dan ia marah, penasaran, juga menyesal.

“Celaka! Kedua orang tawanan itu mengapa kita tinggalkan?”

“Tentu saja! Kausangka mengapa Resi Mahesapati menghadang kita di sana tadi?”

“Mengapa?”

“Apa lagi kalau bukan karena dua orang tawanan kita. Sudahlah, kita bukan lawan dia. Biar rakanda Wasi Bagaspati sendiri yang memutuskan. Setelah kakek itu muncul, kita harus lebih berhati-hati lagi.”

Dua orang itu melanjutkan perjalanan dengan cepat dan hati kesal.

Joko Pramono yang tadi dilemparkan ke atas tanah oleh Ni Dewi Nilamanik dan menyaksikan semua peristiwa dengan mata terbelalak kagum, kini melihat betapa dua orang iblis jahat itu pergi, cepat ia menghampiri kakek yang duduk bersila tadi sambil menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

“Duhai eyang resi yang sakti mandraguna dan arif bijaksana. Tak terkatakan betapa besar rasa syukur dan terima kasih hamba akan pertolongan eyang. Dapatkah hamba mengetahui nama eyang resi yang mulia?”

Sebelum kakek itu menjawab, secara tiba-tiba ada suara menyambung di belakang Joko Pramono, suara Pusporini yang juga sudah berlutut menyembah, agak berjauhan dengan pemuda itu.

Suaranya lantang mengatasi suara Joko Pramono,

“Eyang resi yang budiman tentu hanya menolong manusia baik-baik, dan harap eyang ketahui bahwa bocah ini masih disangsikan kebaikannya! Hamba menghaturkan sembah sujud dan terima kasih kepada Eyang dan hamba rasa Eyang tentu telah mengenal rakanda Adipati Tejolaksono, atau mendiang ayah hamba Pujo dan mendiang eyang hamba Resi Bhargowo.”

Kakek itu sudah sejak tadi tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengejap-ngejapkan matanya yang putih. Kini ia mengangguk-angguk.

“Nini Pusporini bocah kewek, tentu saja aku mengenal eyangmu Resi Bhargowo dan tahu akan rakandamu dan mendiang ayahmu.”

Mendengar ini, Pusporini memandang kepada Joko Pramono sambil mencebirkan bibirnya dan berkata,

“Nah, kau dengar tidak? Eyang resi ini mengusir dua orang iblis tadi hanya karena aku, karena eyang resi ini telah mengenal keluargaku, keluarga Selopenangkep! Kau hanya kebetulan saja terbawa-bawa! Kalau tidak ada aku, engkau tentu telah mampus! Masih hendak berlagak lagi?”

Joko Pramono tersenyum. Ia mulai mengenal watak dara remaja ini. Biar pun lagaknya galak dan menyakitkan hati, namun itu hanyalah watak lahirnya saja, padahal batinnya tidaklah begitu buruk.

Bukankah dara ini tadi sudah jelas memperlihatkan sikap membelanya kdtika ia tertawan oleh Ni Dewi Nilamanik? Dara ini tidak membencinya seperti yang hendak diperlihatkannya! Karena sudah mulai mengenal watak dara ini, maka sikapnya itu tidaklah menyakitkan hatinya lagi. Ia malah ingin menggodanya terus.

“Wah, engkau ini memang seorang bocah yang sombong dan banyak lagak! Sudahlah, perlu apa melayani orang seperti engkau?” Joko Pramono menengok lagi ke arah kakek itu dan berkata,

“Eyang resi, mohon Eyang sudi memberitahu nama dan julukan Eyang yang mulia.”

“Eyang resi! Jangan ladeni bocah itu! Dia bocah busuk hatinya, berani ia memaki-maki keluarga Selopenangkep!” teriak Pusporini yang kini meloncat bangun dan memandang Joko Pramono dengan sinar mata mengancam.

“Eyang resi, hamba yang mohonkan ampun bagi perawan kasar tak kenal susila dan berani bersikap tidak semestinya di depan paduka Eyang resi,” kata pula Joko Pramono dan biar pun kata-katanya ini ditujukan kepada kakek itu namun pada hakekatnya seperti memaki-maki Pusporini! Tentu saja dara ini menjadi makin marah, mukanya merah sekali, matanya berapi-api dan hidungnya kembang-kempis.

“Heh, keparat..! Aku bersikap kasar kepadamu, setan.! Bukan kepada eyang resi yang kuhormati! Jangan kau mencoba untuk membakar hati eyang resi! Bangkitlah dan mari kita bertanding sampai selaksa jurus! Biar eyang resi yang menjadi saksi dan juri!”

“Boleh, memang kau bocah sombong. Apa kaukira aku takut padamu?”

Joko Pramono juga seorang pemuda yang masih remaja, darahnya masih panas, maka kini ditantang di depan kakek sakti itu, ia merasa malu kalau tidak menerimanya. lapun bangkit berdiri menghadapi Pusporini dan dua orang muda ini sudah siap seperti dua ekor jago aduan saling mengereki untuk segera bertanding.

“Ha-ha-ha-ha-ha-ha...!”

Tiba-tiba kakek itu tertawa. Suara ketawanya halus akan tetapi mengandung getaran yang membuat kedua orang muda itu seketika menjadi lemas, lenyap segala kemarahan dan tanpa dapat mereka cegah lagi, keduanya menoleh ke arah kakek itu dan tersenyum lebar! Tak mungkin dapat menahan ketawa melihat dan mendengar suara ketawa kakek seperti itu. Andai kata api membara kemarahan mereka tadi, suara ketawa itu seolah-olah merupakan air wayu yang amat dingin dan yang membuat kemarahan seperti api membara itu menjadi padam sama sekali!

“Ha-ha-ha, Joko Pramono! Apa kau kira gurumu Resi Adiluhung akan suka melihat sikapmu terhadap keluarga Kadipaten Selopenangkep? Tidak, Kulup, sebaliknya engkau tentu akan ditegur habis-habisan kalau Resi Adiluhung mengetahuinya. Dan engkau, nini Pusporini, apa kaukira rakandamu Adipati Tejolaksono suka melihat sikapmu terhadap Joko Pramono? Padamkan kemarahan kalian dan dengarkan kata-kataku.”

Joko Pramono terkejut bukan main Kakek aneh ini telah mengetahui namanya, bahkan nama gurunya! Cepat ia menjatuhkan lagi dirinya di depan kakek itu, berlutut dan menyembah. Akan tetapi gerakan ini didahului Pusporini sehingga mereka seperti berlomba menghormat kakek itu, bahkan menyembah dengan berbareng saling berdampingan. Sehabis menyembah, mereka saling lirik dengan mata melotot!.

“Hamba mentaati perintah Eyang resi,” kata Pusporini.

“Hamba sendika (sanggup mematuhi) akan dawuh (perintah) paduka Eyang resi, selanjutnya hamba mohon petunjuk,” kata pula Joko Pramono dan kata-katanya ini pun bercampuran dengan ucapan Pusporini tadi karena dilakukan berbareng.

Kembali kakek itu tersenyum lebar. Ia yang telah waspada akan segala peristiwa di dunia, yang awas dan tahu akan gerak-gerik manusia, seakan-akan dapat membaca isi hati kedua orang muda itu dan karenanya ia merasa kagum akan kegaiban kekuasaan Hyang Widhi Wasesa, kagum dan ikut bergembira.

“Ha-ha-ha, kalian berdua ini selalu tidak mau saling mengalah, tidak mau kalah dan bersaingan. Bagus sekali! Joko Pramono dan engkau nini Pusporini, sudah ditentukan oleh Hyang Jagad Pratingkah bahwasanya kalian berdua berjodoh untuk menjadi murid-muridku. Ketahuilah bahwa aku adalah Resi Mahesapati dan karena getaran gaib yang berupa perintah belakalah yang memaksaku turun ke dunia ramai dan menjumpai kalian di sini. Akan tetapi sebelum aku melanjutkan keteranganku, aku ingin mendengar lebih dulu kesanggupan kalian. Kalian harus ikut bersamaku, menjauhkan diri dari pada dunia ramai, sebentarpun tidak boleh keluar dari tempat pertapaan selama lima tahun dan kemudian setelah lima tahun aku ingin melihat siapa di antara kalian yang lebih menang dan maju. Bagaimana, sanggupkah?”

Memang pintar sekali Sang Resi Mahesapati ini. Tadinya, mendengar bahwa mereka akan diambil murid dan harus mengasingkan diri selama lima tahun, terasa berat sekali di hati kedua orang muda itu. Akan tetapi kalimat terakhir itu membuat mereka panas hati dan bangkit semangat.

Kakek ini ingin melihat siapa di antara mereka yang lebih maju setelah lima tahun, berarti mereka berdua disuruh berlomba dan bersaing!

“Hamba setuju! Biar dia belajar penuh semangat sampai lima tahun juga, tidak nanti dia dapat mengalahkan hamba,” kata Joko Pramono.

“Hamba pun setuju! Dia ini boleh saja belajar mati-matian, kaki dibuat kepala dan kepala dibuat kaki, setelah lima tahun, akhirnya dia tentu akan keok (kalah) melawan hamba!” kata Pusporini.

Kembali kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Ucapan seorang gagah, sekali keluar dari mulut tidak akan diji­lat kembali. Ketahuilah, aku tidak akan menyeret kalian menyeleweng dari pada ajaran-ajaran yang telah kalian terima dari guru-guru kalian. Engkau, Joko Pramono, telah mempelajari Ilmu Cantuka Sekti dari gurumu Resi Adiluhung. Aji itu cukup hebat dan selama lima tahun, aku hanya ingin menuntunmu agar ajimu itu dan aji-ajimu yang lain makin matang.Semua aji itu tiada banyak bedanya. Vang dilatih dengan penuh kematangan, tentu akan menjadi ampuh. Dan engkau, Pusporihi, engkau telah banyak menerima aji-aji kesaktian yang hebat dari rakan-damu Adipati Tejolaksono, seperti Pethit Nogo dan Bojro Dahono. Biarlah aku akan membimbingmu agar semua ajimu menjadi matang dan ampuh.”

Dua orang muda yang tadinya terge­sa-gesa menyanggupi karena panas hati dan tidak mau saling dikalahkan, kini menjadi kaget dan merasa betapa berat­nya syarat yang diajukan kakek itu. Lima tahun mengasingkan diri! Tanpa terasa, mereka saling menoleh, saling pandang dengan pandang mata sayu, akan tetapi begitu pandang mata mereka saling ber­adu, timbul kembali semangat di hati mereka!

“Joko Pramono dan Pusporini, keta­huilah bahwa sesungguhnya seperti ku­katakan tadi, aku muncul di dunia ramai karena mendapat getaran perintah gaib. Awan gelap dan hawa jahat bergulung datang hendak mengeruhkan suasana,mendatangkan perang dan malapetaka kepada manusia. Untuk menghalau peru­suh itu, akan muncul seorang satria mu­da yang sakti mandraguna. Akan tetapi dia seorang diri masih belum kuat untuk mengusir marabahaya, harus disandingi tenaga-tenaga muda lain yang cukup kuat. Kalian ini berjodoh untuk menjadi murid-muridku, kalianlah yang akan men­jadi dua orang di antara mereka yang bertugas membantu satria muda itu. Kalianlah yang kelak akan ikut mencerah­kan suasana, mengusir kegelapan, menen­tang kejahatan yang merajalela dan meng­ancam keselamatan rakyat. Karena itu, di pundak kalian terletak tugas yang suci dan luhur sehingga kelak tidak akan per­cumalah kalian sebagai keturunan orang-orang gagah perkasa.”

Dua orang itu termenung. Baru mereka mengerti bahwa mereka diambil murid oleh kakek sakti ini bukan hanya kebetulan belaka.....

0 Response to "Perawan Lembah Wilis Jilid 29"

Post a Comment