coba

Pendekar Binal Jilid 41

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
Kalau tidak menyaksikan sendiri tentu takkan percaya bahwa "Kang-lam-tayhiap" yang termasyhur itu berdiam di rumah begini sederhana. Memang, tempat tinggalnya ini juga suatu perkampungan yang cukup luas terletak di kaki bukit Ku-san (bukit kura-kura). Namun perkampungan ini sudah lama telantar, maka Kang Piat-ho menggunakan deretan rumah samping sebagai tempat tinggalnya.

Kira-kira tiga-empat rumah bobrok yang digunakannya, meski terawat cukup bersih, namun perlengkapannya sangat sederhana, bahkan tempat tinggal seorang pegawai tata usaha juga lebih mentereng daripada dia. Dengan sendirinya ia pun tidak memakai budak dan pelayan, hanya ada seorang kakek bisu-tuli yang sudah loyo mengerjakan tetek bengek baginya.

Dua hari perjalanan Siau-hi-ji mengikutinya barulah sampai di tempat kediamannya ini.

Selama dua hari ini Siau-hi-ji bertambah merasakan "Kang-lam-tayhiap" ini memang orang luar biasa. Seorang tokoh dunia persilatan yang termasyhur begini ternyata sedemikian ramah tamah dan rendah hati terhadap orang lain, kecuali Kang Piat-ho mungkin tiada yang sanggup berbuat demikian.

Maka Siau-hi-ji heran pula melihat tempat kediaman sang pendekar besar daerah Kang-lam ini.

"Perkampungan ini adalah bekas milik seorang sahabatku, dia telah pindah jauh ke Soatang, maka perkampungan ini telah dihadiahkan padaku," demikian tutur Kang Piat-ho. "Cuma sayang aku tidak mampu mempertahankan keindahan perkampungan ini di masa lampau, kalau dipikir sungguh aku malu terhadap sahabatku."

"Dengan nama dan kedudukanmu seharusnya perkampungan ini dapat dibuat lebih megah daripada sebelumnya," ujar Siau-hi-ji tertawa.

"Orang yang suka berkecimpung di dunia Kangouw pada umumnya tidak memikirkan penghasilan dan aku pun tidak terkecuali, kalau aku juga tamak akan harta benda seperti orang lain, rasanya akan mencemarkan nama baik ayah-bunda yang telah melahirkan tubuhku yang suci bersih ini."

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya pula, "Tapi para sahabatmu kan bisa...."

"Memang ada juga di antara sanak kerabat yang hendak berusaha bagiku, namun aku merasa tidak pantas menerima pahala tanpa berjasa, apa lagi kehidupan begini juga sudah biasa bagiku, rasanya juga tenteram dan bahagia."

"Sungguh sukar dipercaya bahwa 'Kang-lam-tayhiap' yang namanya termasyhur ini ternyata hidup begini sederhana, mungkin tiada duanya di dunia persilatan selama beratus-ratus tahun ini," ujar Siau-hi-ji.

"Menurut petuah orang kuno, dari hemat menuju ke pemborosan adalah mudah, tapi kalau sudah boros akan kembali hemat teramat sulit. Petuah ini selamanya tak pernah kulupakan," kata Kang Piat-ho dengan sungguh-sungguh.

"Engkau benar-benar seorang ksatria sejati," sanjung Siau-hi-ji gegetun.

Tidak lama kemudian mereka pun bersantap, tenyata daharan yang tersedia juga cuma tiga-empat macam sayur-mayur yang sederhana, malahan yang mengantar sayur dan menyiapkan meja makan juga "Kang-lam-tayhiap" sendiri. Kehidupan yang bersahaja ini sungguh sangat tidak seimbang dengan namanya yang mencolok dan termasyhur itu.

"Pantas setiap orang Kangouw sama menghormati dan segan padamu," Siau-hi-ji bergumam, "Seorang dapat melakukan sesuatu yang tak dapat ditahan oleh orang lain, adalah jamak kalau dia berhasil dalam hidupnya ini."

Sorot mata Kang Piat-ho yang berkilauan ini menatap tajam Siau-hi-ji, tiba-tiba ia berkata, "Sungguh aneh, semakin dipandang, rasanya kau menjadi lebih mirip dengan saudaraku yang berbudi almarhum."

"O, siapakah dia?" tanya Siau-hi-ji.

"Dia adalah modelnya orang Kangouw yang paling sopan dan terpelajar, lelaki yang paling cakap di dunia selama ini," tutur Kang Piat-ho, "Sebabnya kuberikan nama 'Giok-long' (lelaki cakap) kepada putraku itu tiada lain adalah untuk mengenang mendiang saudaraku yang berbudi itu."

"Haha, masakah engkau mempersamakan diriku dengan lelaki yang paling cakap?" ucap Siau-hi-ji tertawa, "Kalau aku pun dapat disebut 'sopan dan terpelajar', maka semua lelaki di dunia ini tiada satu pun yang tidak sopan dan terpelajar."

"Mungkin kau tidak terlalu sopan dan terpelajar, tapi sesungguhnya kau mempunyai daya tarik yang sukar dilukiskan," ujar Kang Piat-ho tersenyum. "Lebih-lebih bila mana kau tertawa, kupercaya setiap gadis di dunia ini pasti akan rontok imannya dan sukar melawan kehendakmu."

"Sungguh aku ingin menjadi lelaki sebagus uraianmu itu juga berharap bisa menjadi putra saudaramu yang berbudi itu, cuma sayang ayahku juga serupa diriku, biar pun beliau juga orang pintar, tapi sekali-kali bukanlah lelaki cakap, apa lagi kini beliau masih hidup dengan segar bugar, bisa jadi saat ini beliau sedang duduk di kursi goyang menikmati pipa tembakaunya," sambil terbahak-bahak Siau-hi-ji lantas berbangkit dan keluar. Terpaksa Kang Giok-long harus mengikuti langkahnya.

"Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan engkau," ucap Siau-hi-ji sambil menoleh, "Cuma mataku sudah sepat dan ingin tidur, semoga besok engkau dapat mencarikan beberapa tukang kunci untuk membuka 'belenggu cinta' sialan ini."

"Sepanjang jalan sudah hampir seluruh tukang kunci yang paling terkenal kutanyai, tapi ternyata tiada satu pun yang sanggup, sungguh tak terduga bahwa pegas belenggu ini terbuat serumit ini," Kang Piat-ho tertawa, lalu menambahkan, "Tapi kau pun jangan khawatir, dalam waktu singkat tentu dapat kucarikan sebilah golok atau pedang mestika yang dapat memotong besi seperti memotong sayur. Berada di tempatku ini segala persoalan tidak perlu kau risaukan lagi."

"Ya, makanya sekarang asalkan kepalaku menempel bantal, seketika aku dapat tidur nyenyak seperti babi mampus," ucap Siau-hi-ji.

Kini Kang Giok-long mendadak berubah menjadi anak yang paling penurut, pendiam dan paling alim, ke mana pun Siau-hi-ji pergi dia hanya mengikut saja tanpa rewel.

Setelah kedua anak muda itu pergi, perlahan Kang Piat-ho merogoh lengan bajunya dan mengeluarkan sebilah pedang pandak sepanjang satu kaki. Sarung pedang ini hitam gilap kurang menarik, tapi ketika Kang Piat-ho melolos keluar pedangnya, seketika terpancar cahaya yang kemilau.

Si kakek bisu-tuli berdiri jauh di luar pintu sana, melihat cahaya pedang itu mau tak mau ia pun terbelalak heran seakan-akan lagi berkata, "Tanganmu jelas memegang pedang mestika yang dapat menabas besi seperti memotong sayur, tapi mengapa engkau tidak memotong 'belenggu cinta' sialan mereka?"

Agaknya Kang Piat-ho dapat melihat sorot mata si kakek bisu-tuli yang heran dan kejut itu, seperti dapat meraba perasaan orang, dengan tersenyum ia berkata, "Saat ini belum dapat kupotong belenggu mereka, anak itu jelas sangat cerdik dan banyak tipu akalnya, siapa pun tak dapat menerka apa yang hendak dilakukannya, terpaksa Giok-long harus kubiarkan senantiasa mendampingi dia dan mengawasinya. Adanya belenggu itu juga membuatnya sukar melarikan diri andaikan dia berniat kabur."

Sayang, karena sasaran bicaranya itu adalah seorang kakek bisu-tuli, dengan sendirinya apa yang diucapkannya tak terdengar sama sekali oleh kakek itu…..

********************

Di serambi yang panjang terdapat sebuah lampu kerudung kecil, cahayanya yang redup menyinari halaman yang sunyi. Seekor kucing hitam meringkal di pojok sana, hanya tertampak sinar matanya yang gemerlapan dalam kegelapan.

Siau-hi-ji dan Kang Giok-long menyusuri serambi panjang dan berliku itu, terdengar suara berkeriut lantai yang dilalui mereka diseling suara keresek daun pepohonan yang tertiup angin.

Sambil mengangkat pundak Siau-hi-ji berkata, "Bila ada yang betah tinggal di sini selama sepuluh tahun, mustahil kalau orang itu tidak menjadi gila."

"Kau jangan khawatir, kau tak perlu berdiam hingga sepuluh tahun," ujar Kang Giok-long.

"Haha, akhirnya kau buka suara juga," Siau-hi-ji berolok-olok. "Di depan ayahmu tadi kukira kau telah berubah menjadi bisu."

"Orang yang berani bicara seperti kau di hadapan ayahku, kukira tidak banyak di dunia ini."

Memandang ke taman yang gelap gulita di belakang sana. Siau-hi-ji bertanya, "Apakah kau pernah masuk ke taman sana?"

"Pernah satu kali," jawab Giok-long.

"Tentunya sudah cukup lama kau tinggal di sini, masakah cuma satu kali saja?"

"Orang yang pernah masuk satu kali ke sana, biar pun kau mencambuknya juga dia takkan pergi lagi untuk kedua kalinya."

"Memangnya di sana ada setannya?"

"Tempat begitu, setan pun tak berani masuk ke sana," kata Giok-long. Ia lantas membuka sebuah pintu dan menyalakan lampu. Ruangan ini tidaklah besar, ada beberapa batang golok dan pedang, satu tumpuk buku, dengan sendirinya ada pula sebuah tempat tidur.

"Inikah kamar tidurmu?" tanya Siau-hi-ji sambil memandang sekeliling kamar.

Giok-long menghela napas panjang, katanya, "Sudah lebih setahun tidak pulang, kini melihat lagi ranjang ini, rasanya seperti ketemu kesayangan."

"Mengingat para sahabatmu yang hebat-hebat itu, mampus juga aku tidak percaya kau dapat tidur secara baik-baik di ranjang ini, memangnya kau betah?"

Giok-long tertawa, jawabnya, "Tengah malam sering kali aku mengeluyur keluar."

"Sudah tentu aku pun tahu putra keluarga tingkat atas kebanyakan mempunyai kebiasaan mengeluyur keluar rumah di tengah malam buta," ucap Siau-hi-ji. "Tapi ayahmu kan berbeda daripada orang lain, masa kau pun dapat mengelabui mata telinganya?"

Giok-long berkedip-kedip, jawabnya, "Tahukah mengapa aku mau tinggal di sini?"

"Tidak tahu," sahut Siau-hi-ji.

"Sebab ruangan ini berjarak paling jauh dengan kamar tidur ayahku, pula berjendela sangat banyak. Tempat ini sebenarnya kamar kaum hamba, tapi sengaja kugunakan sebagai kamar tidurku."

"Sepanjang tahuku, mungkin inilah pilihanmu yang paling cerdik," ujar Siau-hi-ji tertawa.

Berada di kamar tidur sendiri, rupanya Kang Giok-long tidak perlu khawatir apa-apa lagi, berbaring di tempat tidurnya, hanya sebentar saja ia benar-benar sudah terpulas. Agaknya ia merasa tidak perlu berjaga-jaga terhadap Siau-hi-ji lagi, sesungguhnya ia pun sudah teramat lelah, lahir dan batin.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga merasa letih, tampaknya ia pun tertidur dengan nyenyaknya.

Entah sudah lewat berapa lamanya, terdengar langkah orang yang sangat perlahan mendekati pintu, berhenti sejenak, lalu mengetuk pintu perlahan. Tiada jawaban dari dalam, maka orang di luar mendorong pintu sedikit, setelah mengintip ke dalam sejenak, segera suara tindakan orang itu membalik ke sana, seperti menuju ke taman di belakang yang sunyi dan seram itu.

Siau-hi-ji heran, menurut Kang Giok-long, setan pun tak berani datang ke sana, lalu untuk apakah tengah malam buta orang ini pergi ke situ?

Mendadak Siau-hi-ji membuka mata, dari rambutnya dia menggagap sepotong kawat tembaga yang sangat halus, dengan kawat tembaga inilah dia selusupkan ke lubang kunci "belenggu cinta" itu. Dengan perlahan ia putar kawat kecil itu sambil menempelkan telinganya untuk mendengarkan dengan cermat seolah-olah seorang pendengar musik sedang menikmati suatu lagu yang sangat merdu.

Mendadak terdengar suara "klik" perlahan, "belenggu cinta" yang tak dapat dibuka oleh tukang kunci yang paling ahli itu ternyata dapat dibuka olehnya dengan sepotong kawat tembaga yang lembut saja.

Tanpa terasa wajah Siau-hi-ji menampilkan senyuman puas, ia menggerakkan tangannya yang sudah lama kehilangan kebebasan itu, habis itu ia lantas menutuk Hiat-to tidur Kang Giok-long sehingga anak muda itu bertambah nyenyak tidurnya.

Sambil memandangi Kang Giok-long, Siau-hi-ji berkata dengan tersenyum bangga, "Kau mengira dirimu sangat pintar, sesungguhnya kau orang tolol sehingga selalu menganggap aku benar tidak mampu membuka belenggu sialan ini. Hm, kenapa tidak kau pikirkan aku ini dibesarkan di mana?"

Memang, kalau Ok-jin-kok terdapat bandit yang paling top, dengan sendirinya juga ada pencopet atau pencuri yang paling top, bagi mereka di dunia ini tiada kunci yang tak dapat dibuka.

Sudah sejak umur delapan Siau-hi-ji belajar membuka macam-macam jenis kunci gembok. Membuka dan memereteli induk kunci untuk kemudian dipasang kembali adalah permainan yang paling menarik di waktu kecilnya.

Tapi sebab apakah selama ini dia lebih suka terbelenggu bersama Kang Giok-long dan manda menerima macam-macam nista? Sesungguhnya apa yang menjadi pertimbangannya? Apakah memang sudah diduganya bahwa ayah Kang Giok-long pasti seorang tokoh yang sangat aneh dan penuh rahasia? Jangan-jangan sebelumnya dia sudah mengetahui di tempat ini pasti terdapat hal-hal yang gaib dan mengejutkan?

Sebabnya dia manda terbelenggu bersama Kang Giok-long bukan mustahil karena dia ingin datang ke rumahnya ini, dengan demikian dapat pula membuat orang lain tidak menaruh curiga padanya. Setiap orang pasti menyangka dia takkan dapat terpisah dari Kang Giok-long, kalau setiap jengkal dan setiap detik dia selalu mendampingi Kang Giok-long, dengan sendirinya orang lain pun tidak perlu khawatir padanya.

Tapi sekarang Siau-hi-ji sudah membebaskan diri dan mengeluyur keluar. Dia benar-benar harus berterima kasih kepada Kang Giok-long yang telah memilih ruangan belakang ini sebagai kamar tidur, sebab ruangan ini sama sekali terpisah dari beberapa ruangan di bagian depan sana.

Begitulah Siau-hi-ji lantas melayang ke taman belakang sana, taman yang tak berani didatangi setan sekali pun, menurut Kang Giok-long.

Sementara itu suara langkah orang tadi sudah sekian lamanya masuk ke taman sana. Waktu Siau-hi-ji menyusup ke balik pintu bundar sana, terlihat di kejauhan ada cahaya lampu berkelebat, habis itu keadaan lantas gelap, sinar lampu sudah dipadamkan.

Dalam kegelapan hanya terdengar suara keresek daun pepohonan yang tertiup angin sehingga mirip berbagai hantu iblis yang siap hendak menerkam setiap mangsanya. Meski di atas langit juga ada cahaya bintang yang gemerlapan, tapi sinar bintang itu semakin menambah seram dan gaibnya taman ini.

Angin meniup dingin, tapi telapak tangan Siau-hi-ji justru berkeringat malah. Jika orang lain tentu sudah sejak tadi mundur teratur. Namun Siau-hi-ji bukan "orang lain", Siau-hi-ji tetap Siau-hi-ji, satu-satunya Siau-hi-ji di dunia ini. Kalau dia takut dan mundur, maka dia bukanlah Siau-hi-ji. Jika dia bertekad maju, maka tiada sesuatu pun di dunia ini yang mampu membuatnya mundur.

Dalam pada itu ia sudah mengincar baik-baik tempat berkelebatnya sinar lampu tadi, ke sanalah ia melayang dengan cepat.

Terasa angin berkesiur dari depan, di tengah taman itu tersebar bau busuk yang menusuk hidung. Seluruh taman itu menjadi mirip sebuah peti mati, di dalam peti mati hanya ada hawa kematian belaka. Dan saat itu Siau-hi-ji seakan-akan sedang melangkah masuk ke depan peti mati ini, dia menahan napas, langkahnya enteng tanpa mengeluarkan suara, sebab ia menyadari bila dirinya bertindak ceroboh sedikit, seketika benar-benar bisa berubah menjadi sesosok mayat.

Namun di dalam taman hanya terdapat pepohonan yang sudah layu serta batu gunung-gunungan dan gardu pemandangan yang reyot, setitik cahaya lampu tadi entah sudah menghilang ke mana.

Maju dan maju terus, mendadak Siau-hi-ji kehilangan arah. Terasa angin tiba-tiba meniup kencang sehingga tanpa terasa Siau-hi-ji menggigil. Tiba-tiba ia merasa dirinya tidak tahu lagi harus pergi ke mana? Apa pula yang harus dicarinya?

Pada saat itulah sekonyong-konyong sebuah bayangan hitam melompat keluar dari tempat gelap. Keruan Siau-hi-ji kaget setengah mati, syukur bayangan itu terus menyelonong ke sana, setelah diawasi lagi, kiranya seekor kucing hitam. Sungguh aneh, mengapa kucing hitam ini masuk ke taman sini dan mendadak melompat keluar pula?

Terpikir sesuatu dalam benak Siau-hi-ji, segera ia mendekam di tanah, tepat di depannya ada seonggok batu kerikil dikelilingi tumbuhan bunga yang sudah layu dan kering.

Baru saja ia mendekam, kira-kira belasan depa di sebelah sana, di balik jendela ada cahaya lampu yang baru dinyalakan. Menyusul sesosok bayangan orang lantas melangkah keluar.

Tangan orang itu memegang lampu, cahaya lampu menyinari mukanya dengan terang, jelas Kang Piat-ho adanya.

Terdengar dia bersuara "meong" sekali, segera kucing hitam tadi melompat ke dalam pelukan Kang Piat-ho. Lalu dia merapatkan pintu dan melangkah ke depan sana sambil membawa kucing hitam.

Siau-hi-ji mendekam mepet tanah, bernapas pun tak berani. Perlahan-lahan cahaya lampu menjauh, suasana dalam taman menjadi gelap gulita pula dan rasanya bertambah dingin.

Setelah menunggu pula sekian lama dan tiada suara lain, perlahan-lahan barulah Siau-hi-ji merangkak bangun, dengan berjinjit-jinjit ia merunduk ke sana, sesudah dekat barulah diketahuinya di situ ada sebuah kamar bunga.

Dahulu, di kamar bunga ini bisa jadi terpelihara berbagai jenis bunga yang sukar dicari. Setiba di sini segera tercium bau harum semerbak.

Tapi bagi penciuman Siau-hi-ji sekarang hanyalah bau busuk yang menyeramkan itu. Sekali pun di dalam kamar ini ada tanaman bunga, mungkin sekali hanya bunga kematian saja.

Pintu ternyata sudah terkunci. Tapi bukan soal bagi Siau-hi-ji, kembali ia pertunjukkan kemahirannya memalsu kunci.

Perlahan ia mendorong pintu, ia menyalakan geretan api yang dicurinya dari meja di kamar Kang Giok-long tadi. Kamar bunga ini penuh sawang, bagian pojok bertumpuk pot bunga yang sudah rusak bercampur dengan daun kering dan kayu rongsokan, selain itu tiada terdapat apa-apa lagi. Sungguh aneh, lalu untuk apakah tengah malam buta Kang Piat-ho datang ke rumah bobrok ini?

Daun jendela berkeriut tertiup angin, dari lubang kertas jendela, angin menembus ke dalam sehingga mirip cakar setan yang dingin sedang merabai kuduk Siau-hi-ji.

Sungguh Siau-hi-ji ingin lari kembali ke kamarnya dan menutup kepalanya dengan selimut. Tempat begini benar-benar setan pun tak mau datang seperti ucapan Kang Giok-long.

Tapi tempat yang tidak sudi didatangi setan sekali pun bukankah justru merupakan tempat sembunyi yang paling rahasia?!

Mata Siau-hi-ji jelalatan kian kemari, sampai sekian lama ia mengamat-amati dan tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar ini. Di mana-mana hanya terdapat debu melulu, jelas kamar ini sudah lama tak pernah didatangi orang.

Akan tetapi jelas sekali Kang Piat-ho baru saja datang ke sini, mengapa debu yang memenuhi lantai kamar ini tidak terdapat bekas kakinya?

Tergerak hati Siau-hi-ji, segera ia berjongkok dan meraba-raba lantai, ternyata debu itu melengket kencang di lantai, kecuali digaruk sekuatnya dengan tangan, kalau tidak, bekas apa pun takkan tertinggal di atasnya.

Hampir saja Siau-hi-ji melonjak kegirangan, ia tahu di dalam kamar ini pasti terdapat lorong di bawah tanah. Ia coba memeriksa lebih teliti, setiap jengkal, setiap pelosok sudah dicarinya, namun tetap tak ditemukan sesuatu pesawat rahasia yang diharapkan.

Hampir saja ia putus harapan, ia menengadah sambil menghela napas. Terlihat sarang labah-labah bergontai ditiup angin, sebagian sawang itu sudah rantas tertiup angin dan kawanan labah-labah lagi sibuk menyambung jaringannya.

Akan tetapi di antara sekian sarang labah-labah itu ada jaringan yang tahan angin, betapa pun angin meniup, tetap tak dapat membuatnya bergoyang.

Hal ini rasanya takkan diperhatikan oleh orang lain. Namun tiada sesuatu di dunia ini yang dapat mengelabui mata Siau-hi-ji. Seketika ia meloncat ke atas. Segera diketahuinya bahwa sarang labah-labah itu memang lain daripada yang lain, jaring sarang labah-labah itu ternyata terbuat dari benang emas yang sangat halus.

Cepat ia meloncat lagi dan menarik jaring labah-labah itu sekuatnya. Terdengarlah suara keriat-keriut, menyusul serentetan suara krek-krek pula, onggokan kayu kering di bawah sarang labah-labah mendadak bergeser perlahan, lalu tertampak sebuah lubang.

Banyak juga Siau-hi-ji melihat pesawat rahasia yang terancang dengan amat bagus, tapi belum pernah dilihatnya ada yang lebih bagus dan rahasia daripada tempat ini.

Yang lebih-lebih tak terduga olehnya ialah di bawah tanah itu adalah sebuah kamar tulis. Kecuali tak berjendela, sungguh kamar tulis ini adalah sebuah kamar tulis yang paling ideal, kamar tulis yang indah dan lengkap.

Dinding kanan-kiri kamar tulis itu adalah rak buku yang penuh berderet berbagai macam kitab. Di tengah-tengah ada sebuah meja tulis marmer yang sangat indah, di atas meja tersedia lengkap peralatan tulis. Selain itu, dengan sendirinya terdapat pula sebuah lampu tembaga kecil.

Siau-hi-ji menyalakan lampu itu, lalu dia duduk di kursi besar itu dengan lagak tuan besar. Ia mulai merenung dengan tenang, "Andaikan aku menjadi Kang Piat-ho, akan kusembunyikan di mana rahasiaku?"

Sudah tentu di dalam sebuah kamar tulis terdapat banyak tempat yang bisa digunakan untuk menyimpan rahasia. Tapi umpamanya rahasianya mengenai sehelai kertas, lalu harus disimpan di tempat paling baik mana? Rasanya tempat paling rapi ialah di dalam lipatan buku. Malahan mesti disembunyikan dalam buku yang paling jarang dibaca orang.

Segera ia mendekati rak buku dan memeriksanya dengan teliti, satu per satu dia memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata banyak kitab kuno yang bernilai dan sukar dicari, sungguh koleksi buku yang mengagumkan. Hampir setiap kitab itu penuh berdebu, suatu tanda jarang dijamah orang.

Tujuan Kang Piat-ho ke kamar ini dengan sendirinya bukan untuk membaca, tentu saja kitab ini banyak debunya, tapi anehnya di sini, ya, di sinilah anehnya, justru di sinilah ada satu buku yang tak berdebu, bahkan sangat bersih.

Kitab ini tidak terhitung tipis, Siau-hi-ji lantas melolosnya dari rak, dilihatnya judul yang tertulis di kulit kitab itu berbunyi, "Bok-cau" (tetumbuhan). Kiranya sebuah kitab mengenai obat-obatan. Dengan sendirinya jarang ada peminat yang mau membaca kitab beginian terkecuali ahli obat-obatan.

Siau-hi-ji tersenyum, ia tahu pasti inilah kitab yang hendak dicarinya. Ia membalik-balik halaman kitab itu, segera diketahuinya bahwa bagian tengah kitab itu telah terkorek, tapi sekelilingnya terlengket dengan kencang, maka jadinya seperti sebuah kotak kardus.

Pada bagian kitab yang terkorek seperti itulah tersimpan beberapa helai kedok kulit manusia yang sangat tipis dan bagus sekali pembuatannya. Selain itu ada pula dua-tiga botol kecil, jelas inilah peralatan merias muka.

Namun Siau-hi-ji tidak menaruh minat terhadap benda-benda ini, ia mencari lagi dan mencari terus, maka dapat ditemukannya pula sebuah "kotak kardus" yang serupa. Di dalam kotak itu pun ada beberapa buah botol kecil, isi botol-botol itu ternyata adalah racun yang sangat sukar dicari dan tinggi nilainya.

Siau-hi-ji menghela napas, ia coba mencari pula dan kembali ditemukan satu lipatan Gin-bio, yaitu surat uang atau yang kini terkenal sebagai cek atau bilyet giro, dalam jumlah besar yang sangat mengejutkan. Bahwa "Kang-lam-tayhiap" Kang Piat-ho yang diketahui hidup sederhana itu ternyata menyimpan bilyet giro berjumlah sedemikian besarnya.

Lalu diketemukan pula sehelai daftar nama yang sangat panjang, Siau-hi-ji malas membaca nama-nama yang tercantum di daftar itu, yang jelas di bawah setiap nama itu diberi bertanda kurung dan di dalam tanda kurung itu tercatat nama "Siau-lim", "Bu-tong" dan sebagainya. Hampir semua tulisan di dalam tanda kurung itu adalah nama sesuatu aliran besar yang terkenal. Bisa jadi nama yang terdaftar itu adalah mata-mata yang diselundupkan Kang Piat-ho ke dalam golongan dan aliran-aliran terkemuka itu.

Tapi Siau-hi-ji juga enggan mengurusnya lebih lanjut, meski hal ini pun suatu rahasia yang sangat mengejutkan, tapi bukan sasaran yang hendak dicari Siau-hi-ji dan sebegitu jauh ternyata belum diketemukan. Ia merasa kecewa dan duduk pula di kursi depan tadi.

Mendadak ia melihat di samping meja tulis itu ada sebuah meja kecil yang penuh tertaruh kertas dari macam-macam ukuran dan warna. Pandangannya terbeliak, cepat ia comot setumpukan kertas itu. Ternyata semua kertas itu blangko kosong tanpa sesuatu tulisan, tapi justru inilah rahasia yang ingin ditemukannya.

Kertas itu sangat enteng dan tipis, tapi ulet, jenis kertas ini sangat spesial pada jaman itu. Siau-hi-ji sendiri hanya pernah melihat satu kali kertas dari kualitas demikian. Akan tetapi ia justru tahu bagaimana rasanya kertas ini kalau dimakan.

Soalnya Siau-hi-ji memang pernah menelan bulat-bulat sehelai kertas jenis ini.

Kiranya kertas ini serupa dengan kualitas kertas bergambar peta harta karun Yan Lam-thian yang diperolehnya dari Thi Sim-lan dahulu itu, peta itu telah ditelannya mentah-mentah, maka selamanya dia takkan lupa.

Dengan hati-hati ia mengerik secomot debu, lalu diusapkannya dengan perlahan di permukaan kertas itu, maka timbullah garis-garis di atas kertas dan ternyata memang benar menggambarkan peta harta karun itu.

Supaya maklum bahwa agar peta harta karun itu mirip aslinya, maka cara melukisnya adalah dengan arang yang keras (seperti potlot), jika kertas yang atas dibuat melukis, kertas di bawahnya dengan sendirinya meninggalkan bekas-bekas goresan.

Kini Siau-hi-ji mengusap permukaan kertas itu dengan debu, dengan sendirinya bekas goresan itu lantas timbul dan tertampak dengan jelas. Rupanya sewaktu Kang Piat-ho menurun peta yang terakhir kemudian dia tidak pernah mengutik-utik lagi tumpukan kertas ini.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, gumamnya, "Yang membuat peta palsu itu kiranya memang dia. Orang yang sengaja mengadu domba para ksatria di dunia ini agar saling membunuh secara keji, ternyata benar dia inilah biang keladinya."

Lalu ia menjengek sendiri, "Hm, hebat benar 'Kang-lam-tayhiap' yang berbudi dan baik hati?! Hm, sebelum ini memang sudah kuduga kau pasti manusia yang punya ambisi jahat, kalau tidak untuk apa berlagak seperti seorang pendekar sejati? Bukan saja kau bermaksud mengelabui segenap ksatria di jagat ini, bahkan kau hendak menumpas mereka yang tak mau takluk padamu dengan akalmu yang keji, dengan begitu kau akan dapat menjagoi dunia ini."

Dengan hati-hati ia mengembalikan semua benda yang dipegangnya ke tempat semula, lalu bergumam pula, "Jika kau tidak mengganggu diriku, sebenarnya aku pun malas ikut campur urusanmu. Tapi pernah kau bikin aku tertipu satu kali, kalau aku tidak memberi hajaran setimpal padamu rasanya aku berdosa kepada diriku sendiri."

Segera ia padamkan lampu dan mengundurkan diri dari kamar rahasia itu. Ia mengembalikan pesawat rahasianya dalam keadaan seperti semula. Ia tahu, seumpama saat ini juga dia bongkar tipu muslihat Kang Piat-ho, tentu orang lain tidak mau percaya, soalnya Kang Piat-ho benar-benar pintar berlagak. Terpaksa ia harus menunggu lagi, ia yakin Kang Piat-ho toh takkan mampu lolos.

Begitulah Siau-hi-ji lantas kembali ke kamar tidur Kang Giok-long itu. Dilihatnya Giok-long masih tidur dengan nyenyak, bahkan masih meringkal miring seperti tadi tanpa berubah sedikit pun, kepalanya setengah terbenam di bantalnya, "belenggu cinta" yang sudah terbuka itu masih mencantol di tangannya.

Dengan diam-diam Siau-hi-ji merebahkan diri, tangannya dimasukkan pula ke dalam belenggu itu, "klik", kuncinya ditutup pula.

Ia tidak ingin memikirkan apa-apa lagi, ia ingin tidur senyenyak-nyenyaknya, supaya penuh semangat untuk menghadapi persoalan yang akan terjadi besok.

Tapi sebelum dia memejamkan matanya, sekonyong-konyong ada orang menyalakan pelita di dalam rumah.

Keruan Siau-hi-ji terkejut, cepat ia pentang mata lebar-lebar, segera dilihatnya seorang berdiri di depan pembaringannya dengan tersenyum simpul, di bawah cahaya lampu yang gemerlap terlihat wajahnya yang pucat. Jelas dia ini Kang Giok-long adanya.

Padahal jelas-jelas Kang Giok-long tidur di sampingnya, mengapa sekarang bisa berdiri di depan pembaringan?!

Seketika Siau-hi-ji melonjak bangun dan memandang orang di sebelahnya. Ia melenggong, orang di sebelahnya juga sedang memandangnya dengan tertawa, kiranya ialah si kakek bisu-tuli yang loyo itu.....

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 41"

Post a Comment