coba

Pendekar Binal Jilid 30

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
"Ai, kau tidak tahu, dia...."

Belum lanjut ucapan si nyonya genit, tiba-tiba suara tadi berkumandang pula dengan lebih bengis, "Budak she Siau, kukira lebih baik naik saja ke sini, kau takkan betah di situ. Jika kutunggu lebih lama satu hari di sini, maka hukuman yang akan kau terima akan bertambah pula."

Si nyonya genit menjadi gemetar.

"Apakah kau benar takut padanya?" tanya Siau-hi-ji. "Padahal kukira dia juga rada takut padamu."

"Takut padaku?" si nyonya genit menegas.

"Kalau dia tidak takut padamu, mengapa dia tidak menguber ke sini," kata Siau-hi-ji.

"Engkau tidak tahu...." si nyonya genit menggeleng dan menghela napas. "Setiap tindakannya sukar untuk diterka oleh siapa pun. Saat ini dia tidak turun ke sini, bisa jadi dia sedang merancang sesuatu akal keji."

"Budak she Siau, kau benar tidak mau naik ke atas?" demikian suara tadi membentak pula.

Nyonya bergaun itu menggigit bibir dan tetap tidak bersuara.

Selang sejenak kembali suara itu berteriak, "Baik, akan kuhitung sampai sepuluh, jika kau tetap tidak naik, sebentar bila kau kutangkap pasti akan kusiksa sepuluh hari sepuluh malam. Nah, dengarkan, aku mulai menghitung.... Satu...."

Saking takutnya nyonya muda itu sampai lemas terkulai di tanah dan tidak sanggup bergerak lagi, hanya tubuhnya saja yang gemetar.

Sementara itu suara tadi berteriak pula, "Dua...."

Tiba-tiba teringat sesuatu oleh Siau-hi-ji, katanya, "Orang ini sedemikian jahat, jangan-jangan dia adalah satu di antara Cap-toa-ok-jin (ke-10 top penjahat)?"

"Kalau dibandingkan dia, Cap-toa-ok-jin menjadi seperti anak kecil yang paling alim," kata si nyonya gaun hijau.

"Hah, dia lebih jahat daripada Cap-toa-ok-jin?" Siau-hi-ji pun terkejut.

"Sedikitnya sepuluh kali lebih jahat," ucap si nyonya dengan tersenyum pedih.

"Tiga...." demikian terdengar suara tadi berteriak pula.

Siau-hi-ji melenggong sejenak, tanyanya kemudian, "Siapakah namanya?"

"Engkau takkan kenal namanya," ujar si nyonya.

"Jika dia memang jauh lebih jahat daripada Cap-toa-ok-jin, maka namanya seharusnya sangat terkenal," kata Siau-hi-ji.

"Anjing yang suka menggigit orang justru tidak menggonggong, tahu tidak?" ujar si nyonya. "Makanya semakin tidak terkenal semakin lihailah orang itu. Biar pun dia telah berbuat sesuatu kejahatan yang tak terampunkan juga orang lain takkan tahu."

"Ya, benar juga...." Siau-hi-ji mengangguk setuju.

"Empat...." suara tadi membentak pula. "Baik, tampaknya kau memang kepala batu dan benar-benar tidak mau naik ke sini. Apakah kau ingin tahu bagaimana akan kukerjai dirimu apa bila kutangkap nanti?"

Agaknya dia menjadi sangat murka terbukti dia lantas meraung pula, "Nah, dengarkan, bila kau kena kubekuk, lebih dulu akan kukorek sebelah matamu, habis itu akan kucekoki kau dengan air garam berturut-turut selama sepuluh hari, maka jadilah kau daging asinan."

"Wah, keji amat caranya," ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. "Hm, daging manusia begitu, mungkin Li Toa-jui pun tak pernah merasakannya."

"He, kau kenal Li Toa-jui?" tanya si nyonya muda mendadak.

Siau-hi-ji terdiam sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan, "Orang yang berkecimpung di dunia Kangouw, siapa yang tidak kenal namanya?"

"Lima...." terdengar suara tadi meraung pula. "Nah, dengar tidak, hitunganku sudah sampai lima. Lima kali lagi akan berarti tamatlah riwayatmu. Jangan kau kira aku tidak mampu menangkap dirimu, salah besar jika kau berpikir demikian."

Mendadak si nyonya genit itu melompat bangun, katanya dengan menghela napas, "Biarlah sudah!"

"He, kau mau apa?" tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

"Daripada nanti tertangkap, lebih baik mati saja sekarang," ucap si nyonya dengan murung.

"Jangan... jangan khawatir. Biarlah kita bertahan saja di sini, toh dia juga tidak berani turun kemari."

"Kau tidak tahu, apa yang telah dikatakannya pasti akan ditepatinya. Kalau dia menyatakan pasti dapat menangkap diriku, maka dia yakin pasti benar-benar dapat menangkap aku."

"Memangnya cuma digertak begitu saja lantas kau putus asa dan ingin bunuh diri?"

"Habis apa dayaku, tidak ada jalan lain kecuali mati saja!"

"Kau tidak boleh mati, jika kau mati tentu aku akan kesepian hidup sendirian di sini."

"Jadi kau masih ingin hidup?" tanya si nyonya dengan tersenyum pedih.

"Mengapa aku tidak ingin hidup? Justru hidupku ini lagi penuh arti."

Si nyonya menggeleng, katanya dengan menghela napas. "Tidak, kau pun takkan diampuni olehnya...."

"Enam! Nah, kini sudah enam!" terdengar suara tadi berteriak pula.

"Kau pasti juga akan ditangkap olehnya," demikian sambung si nyonya, "Bila aku mati, tentu kau yang akan dijadikan alat pelampias dan pasti akan tersiksa habis-habisan." Sembari bicara ia terus melangkah ke mulut gua.

"Kau hendak terjun ke bawah?" tanya Siau-hi-ji.

"Kukira lebih baik kau pun ikut terjun bersamaku saja," kata si nyonya.

"Kau minta aku ikut terjun bersamamu?" Siau-hi-ji terperanjat.

Mendadak si nyonya membalik tubuh dan menatap anak muda itu dengan rawan, katanya perlahan, "Aku pun merasa kesepian jika mati sendiri, apakah kau sudi mengiringi aku?"

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala dan bergumam, "Mohon orang mengiringi kematiannya agar tidak kesepian.... Hah, permohonan ini sungguh jarang terjadi."

"Soalnya aku suka padamu, makanya mohon kau ikut terjun bersamaku, kalau tidak... peduli amat apakah kau akan hidup atau mati."

"Tujuuuh!" terdengar suara tadi meraung lagi dengan keras.

Dalam pada itu Siau-hi-ji sedang memandang terkesima kepada nyonya genit, itu, katanya kemudian, "Kau suka padaku?"

"Kau orang pintar, masa tidak tahu?"

Kembali Siau-hi-ji memandangnya sekian lama, habis itu mendadak ia berseru, "Baiklah, akan kuiringi kau terjun ke bawah!"

Jawaban ini agak di luar dugaan juga bagi si nyonya gaun hijau, ia menegas, "Sungguh?!"

"Ya, sungguh, tidak saja ikut terjun bersamaku, bahkan terjun dengan memeluk dirimu."

Nyonya itu memandang pula lekat-lekat anak muda itu, agak lama barulah ia berkata, "Bagus, bagus!"

"Delapan!" terdengar suara tadi berteriak lagi. "Nah, tinggal dua kali saja. Budak busuk, jiwamu sudah dekat ajal, tahu?!"

"Eh, cara bagaimana kau ingin kupeluk?" tanya Siau-hi-ji.

"Sesukamu! Seluruh tubuhku bebas bagimu!" jawab si nyonya genit.

Tanpa banyak omong lagi Siau-hi-ji lantas menubruk maju dan memeluknya erat-erat, muka berhadapan muka, bahkan ia berseloroh pula, "Ehm, alangkah harum baunya...!. Dapat mati sambil memeluk dirimu, betapa pun aku merasa puas."

"Kau benar-benar anak yang menyenangkan, bisa mati dalam pelukanmu aku pun tidak penasaran!" ujar si nyonya dengan tersenyum.

"Sembilan!" terdengar suara tadi membentak pula. "Budak busuk, kau dengar tidak, hitunganku sudah sampai sembilan!"

Maka berkatalah nyonya gaun hijau kepada Siau-hi-ji. "Peluklah yang kencang, segera aku akan terjun!"

"Silakan saja!" jawab anak muda itu sambil memejamkan mata dan menghela napas, katanya, "Mati entah bagaimana rasanya?"

"Selekasnya kau akan tahu rasanya...." kata si nyonya, mendadak ia melompat maju dan benar-benar terjun ke jurang yang tak terperikan dalamnya.

Secara sembarangan ikut mati bersama seseorang, bahkan nama orang itu pun tidak dikenalnya, siapakah yang mau berbuat demikian selain Siau-hi-ji?

Dalam pada itu ia merasa angin berkesiur keras di tepi telinganya, tubuh terus terjun ke bawah, dalam keadaan demikian jika dikatakan dia takut ada lebih tepat dibilang dia merasa tertarik dan merasa senang.

Terjun dari ketinggian ratusan meter tingginya, betapa pun jarang ada orang yang pernah mengalaminya.

Mungkin Siau-hi-ji sudah melupakan takut, atau semula dia tak percaya bahwa si nyonya muda itu benar-benar dapat terjun ke jurang. Tapi semua itu kini sudah terjadi, ia merasa tubuhnya meluncur semakin cepat ke bawah. Dalam benaknya kini cuma ada satu pikiran, yakni dia bertanya pada dirinya sendiri, "Sesungguhnya aku ini pintar atau bodoh?"

Pada saat itulah, mendadak terdengar suara "blung" sekali, tubuhnya serasa tergetar, daya luncur ke bawah seketika menjadi lambat.

Terdengar si nyonya gaun hijau mengikik tawa dan berkata di tepi telinganya, "Bagaimana rasanya mati?"

"Ehm, enak juga...." sahut Siau-hi-ji. Waktu ia membuka mata dan memandang ke kanan-kiri, pepohonan pada kedua sisi dinding tebing dapat dilihatnya dengan jelas dan semuanya seakan-akan sedang terbang ke atas.

"Tahukah bahwa kau ini terhitung beruntung," didengarnya si nyonya muda itu berkata pula dengan tertawa genit. "Walau pun sudah mencicipi rasanya orang mati, tapi kau tidak perlu mati sungguh-sungguh."

"He, apa... apa yang terjadi sesungguhnya?" tanya Siau-hi-ji bingung.

"Coba menengok ke atas," kata si nyonya.

Waktu Siau-hi-ji mendongak, segera dilihatnya suatu benda aneh. Benda itu seperti payung, tapi jelas bukan payung, ukurannya berpuluh kali lebih besar. Benda ini terpancang dari punggung si nyonya gaun hijau, tampaknya seperti sebuah payung raksasa beraneka warna yang diikat dengan sejumlah tali kecil yang kuat. Karena mekarnya payung raksasa itu tertahan oleh angin, dengan sendirinya daya luncur mereka ke bawah menjadi lambat.

Dapat dibayangkan betapa enak rasanya Siau-hi-ji dibuai oleh payung udara yang meluncur turun dengan perlahan, bahkan dalam pelukan perempuan cantik. Karena senangnya ia tertawa terbahak-bahak dan berseru, "Haha, alangkah senangnya permainan ini, entah cara bagaimana kau dapat merancangnya. Kapan-kapan kita harus mengulangi terjun payung ini."

Mendadak tubuhnya terguncang keras, rupanya mereka sudah sampai di tanah. Payung raksasa yang masih terbawa angin itu menyeret mereka terguling ke samping.

Cepat si nyonya mengeluarkan sebilah pisau dan memotong tali payung. Lalu katanya dengan tertawa, "Sekarang bolehlah lepaskan pelukanmu, setan cilik!"

Tapi Siau-hi-ji berbalik merangkul lebih kuat, katanya, "Tidak, takkan kulepaskanmu, kau membohongi aku, harus kupeluk lebih lama sebagai ganti rugi."

"Buset," omel si nyonya dengan tertawa. "Sesungguhnya kau ini pintar atau bodoh?"

"Hihi, soal ini baru saja kutanyakan pada diriku sendiri, tapi aku pun tak dapat menjawabnya," ucap Siau-hi-ji dengan cengar-cengir.

"Tampaknya kau ini mutlak si tolol kecil," kata si nyonya.

Mendadak Siau-hi-ji melompat turun, matanya terbelalak, katanya, "Kau sangka dapat menipu aku begitu saja?"

"Masa kau sendiri masih sangsi?" jawab si nyonya dengan senyuman mesra.

Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, "Hahaha, supaya kau maklum bahwa sejak mula juga kutahu kau takkan mati, makanya aku mau ikut terjun bersamamu. Kulihat orang macam dirimu bukanlah manusia yang suka bunuh diri."

Mata si nyonya berkedip-kedip dan menegas, "Oya, begitukah?"

Mendadak Siau-hi-ji menepuk dada dan berseru, "Ketahuilah bahwa di dunia ini tiada seorang pun yang dapat menipu aku, Kang Hi, Kang Siau-hi."

"Hah, baru sekarang kutahu kau bukan lagi seorang anak tanggung, tapi sudah dewasa, seorang lelaki sejati. Selama ini belum pernah kulihat lelaki sejati semacam dirimu," kata si nyonya dengan tertawa lembut sambil menatapnya penuh rasa kagum dan memuji.

Keruan semakin tinggi Siau-hi-ji membusungkan dadanya, mendadak ia pun merasa dirinya bukan anak-anak lagi, mendadak sudah dewasa.

Si nyonya memandang sekelilingnya, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata pula, "Meski tidak jadi mati, tapi setiba di sini aku menjadi tak berdaya lagi. Kini... segalanya kupercayakan padamu, kau... tidak boleh kau tinggalkan diriku."

Belum pernah Siau-hi-ji merasakan dirinya sekuat sekarang dan sedemikian gagah berani, ia merasa dirinya memang pantas dipuji, kalau tidak masakah si nyonya dapat mempercayainya sepenuh hati. Segera ia berseru, "Ya, boleh kau percayakan dirimu padaku, aku pasti bertanggung jawab."

"Kau sangat baik, kutahu pilihanku pasti tidak keliru," ucap si nyonya sambil tersenyum mesra.

"Sudah tentu kau tidak salah pilih, pilihanmu pasti sangat tepat," kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Si nyonya menghela napas lega, katanya, "Baiklah, sekarang lekas mencari akal agar kita dapat meninggalkan tempat setan ini."

"Baik," jawab Siau-hi-ji. Tapi habis berkata begitu, seketika dia mulai sedih. Soalnya dia juga dapat melihat keadaan sekeliling "tempat setan" ini, pada hakikatnya ia pun tidak tahu cara bagaimana bisa meninggalkan tempat ini dengan aman.

Tempayan, beginilah gambaran keadaan "tempat setan" ini, di atas sempit, dasar jurang melebar, dinding licin mengurung sekelilingnya. Anehnya dasar jurang ini tidak lembab sebagaimana sekelilingnya. Sedikit pun tiada rasa sumpek, sebaliknya bahkan terasa hangat kering, kabut tebal mengapung tinggi jauh di atas sana.

Tanah di bawah kaki juga bukan tanah liat atau pecomberan, tapi adalah tanah rumput yang lunak laksana selimut hijau membentang luas. Cahaya yang terang suasana damai dengan pepohonan rindang dan hawa harum bunga yang mekar di sekitar sana.

Hampir-hampir Siau-hi-ji mengira dirinya mendadak terjerumus ke surgaloka tempat malaikat dewata. Satu-satunya keadaan surgaloka yang menakutkan adalah kesunyian, kesunyian yang tak bertepi. Tidak ada angin, tiada suara. Setiap rumput, setiap daun, semuanya tenang. Tampaknya seperti tiada daya hidup sedikit pun. Sungguh kesunyian yang mencekam, menakutkan dan bisa membuat gila orang.

"Bagaimana, sudah kau dapatkan akal untuk keluar dari sini?" demikian suara lembut si nyonya gaun hijau memecah kesunyian.

Siau-hi-ji tidak dapat tertawa lagi, tapi di mulut ia tetap menjawab, "Tentu ada akal, tentu ada akal!"

"Memang kuyakin kau pasti punya akal, dapatkah kau jelaskan akalmu itu sekarang?"

"Satu-satunya kejelekan perempuan adalah banyak omong, kalau tidak sebenarnya perempuan juga tidak beda dengan lelaki.... Nah, maukah kau tutup mulut untuk sementara biar kupikirkan dulu sebentar."

"Baik, segala apa kuturut padamu," dengan mesra ia pandang Siau-hi-ji dan tidak bicara lagi.

Siau-hi-ji lantas mondar-mandir sambil bergendong tangan, mendadak ia berseru, "Aneh, mengapa tempat setan ini sunyi senyap tiada suara sedikit pun. Mengapa kau pun tidak bicara?"

"Bukankah aku kau suruh tutup mulut?"

"O... ya...." Siau-hi-ji sendiri melenggong. Lalu ia putar-putar lagi kian kemari, tiba-tiba ia berteriak pula, "Salah, salah, tidak betul!"

"Salah apa?" tanya si nyonya.

"Ada kekurangan sesuatu di sini."

"Kurang sesuatu? Kurang apa?"

"Masa kau tidak tahu?" teriak Siau-hi-ji.

"Memang otakku tidak setajam dirimu," kata si nyonya dengan tertawa.

"Otakku sebenarnya juga tidak tajam, baru sekarang kuingat," ucap Siau-hi-ji dengan mengernyitkan alis. "Coba katakan, ke manakah perginya si kera dan Sim Gin-hong berdua? Memangnya mereka terbang ke langit?"

"Bukankah... bukankah mereka sudah terbanting mampus?"

"Betul, terbanting mampus! Tapi, mana mayatnya? Sudah kuperiksa ke segenap sudut, tapi tidak nampak sekerat pun tulang mereka. Umpamanya mereka telah menjadi mangsa harimau, tentunya takkan termakan habis bersih dan secepat ini, apa pula di sini tiada seekor kucing pun, mana lagi ada harimau."

Air muka si nyonya tampak berubah, serunya, "Kau benar-benar tidak menemukan mayat mereka?"

"Tidak, satu kerat tulang saja tidak ketemu," kata Siau-hi-ji. Walau begitu katanya, ia berkeliling pula kian kemari. Si nyonya gaun hijau juga ikut mencari.

Dasar jurang itu tidak terlalu luas, dengan cepat mereka sudah berkeliling tiga kali. Mungkin malah lima kali, setiap pelosok, setiap sudut, setiap bidang tanah, semuanya sudah diperiksa.

Tapi tiada sesuatu tanda yang ditemukan, akhirnya Siau-hi-ji jadi ngeri sendiri, katanya, "Benar-benar tempat setan, jangan-jangan memang benar ada setan."

Si nyonya bergidik dan berseru, "Hah, setan! Mana ada setan?"

"Kalau tidak ada setan, lalu ke mana perginya kedua orang itu? Andaikan mereka tidak terbanting mati, tentunya masih bercokol di sini. Apa lagi mereka tidak mungkin mati. Lalu lari ke mana? Mungkinkah terbang ke langit atau menyusup ke dalam bumi? Atau mereka bisa menghilang? Atau mereka dimakan siluman yang menelan mereka bulat-bulat."

"Sudahlah, jangan omong kosong lagi, aku menjadi gemetar, selamanya tak pernah kulihat kejadian aneh seperti sekarang ini. Ayolah kita lekas pergi saja!"

"Pergi, bagaimana caranya pergi?"

"Bukankah kau punya akal?"

"Aku pun kehabisan akal," ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas. Mendadak ia berteriak pula, "Tidak, tempat ini sangat mencurigakan, harus kucari sampai ditemukan di mana letak keanehannya."

Segera ia mencari dan mencari ke pelosok tadi, semuanya diteliti kembali. Tapi pohonnya ya pohon tadi, tanah rumputnya juga tanah rumput tadi, semuanya sama, tiada sesuatu yang baru.... Mendadak ia berseru, "Hah, pasti ada orang lain lagi di sini!"

"Tempat setan ini mana ada orang lain lagi?" ujar si nyonya.

"Lihatlah tanah berumput ini, jika rumput ini tumbuh secara liar tentu tidak serajin dan sebersih ini. Sebab itulah kupikir di sini pasti ditinggali orang, tentu ada orang senantiasa merawat tumbuhan di sini."

"Ah, jika betul seperti penemuanmu, maka legalah hatiku," kata si nyonya, tapi mendadak ia mengernyitkan dahi dan menyambung, "Lalu, mana... mana orangnya?"

"Orangnya...?. Orangnya...." Siau-hi-ji menjadi bingung juga, ia coba mencari pula, tapi jangankan manusia, bayangan setan pun tidak diketemukan.

Teka-teki, sungguh teka-teki yang sukar dibayangkan dan dipecahkan.

"Sudahlah, aku tak berani memikirkannya lagi, bisa pecah kepala dan kopyor otakku!"

"Kau tidak perlu pikir, cukup aku saja yang pikir," kata Siau-hi-ji.

Padahal ia pun menghadapi jalan buntu, kepalanya pusing.

Sementara itu hari sudah mulai gelap, Siau-hi-ji masih terus berkeliling, perut sudah kelaparan. Tapi tempat setan ini hanya ada pohon tanpa buah. Kawanan kera juga tidak dapat turun ke situ, jika selekasnya tidak ditemukan jalan keluarnya, bisa jadi dia akan mati kelaparan di sini.

Sering Siau-hi-ji bersemboyan bahwa baginya di dunia ini tiada sesuatu yang sukar. Tapi sekarang ia merasakan orang yang bicara demikian kalau bukan orang gila tentulah orang tolol.

Ia menjadi malu untuk memandang si nyonya gaun hijau. Nyonya manis itu telah mempercayakan segalanya kepadanya. Nyatanya pilihannya keliru. "Tidurlah, paling penting tidur dulu, jika mungkin biarlah tidur selamanya dan tidak mendusin lagi..."

Pada saat itulah didengarnya si nyonya gaun hijau sedang memanggilnya, "He, lekas kemari, lekas!"

Waktu Siau-hi-ji menoleh, nyonya itu tidak kelihatan lagi. Segera ia pun berseru, "Di mana kau? Apakah kau pun bisa ilmu menghilang."

"Di sini, aku berada di sini!" seru nyonya itu. Suaranya datang dari balik pohon sana.

Batang pohon itu sangat besar, tinggi dan rindang, daunnya menghijau aneh, sejak mula Siau-hi-ji sudah menaruh curiga di balik pohon ini pasti ada sesuatu yang aneh.

Secepat terbang ia lari ke sana. Dilihatnya nyonya bergaun hijau itu berjongkok di belakang pohon, tanpa bergerak, seperti orang lagi berdoa. Hanya matanya saja tampak melotot.

"He, apa yang kau lakukan di situ? Sembahyang?" tanya Siau-hi-ji.

"Lekas kemari, lihat ini!" seru si nyonya.

Terpaksa Siau-hi-ji berjongkok, katanya setelah mengamati sejenak "Apanya yang dilihat? Kan cuma.... He, benar, ya, ini dia!"

Rupanya tiba-tiba ditemukannya sesuatu keganjilan pada batang pohon itu, kulit pohon bagian bawah ternyata berbeda daripada kulit batang pohon bagian atas. Bagian bawah licin, bagian atas kasar.

"Lihatlah kulit pohon ini seperti sering dijamah tangan," demikian kata si nyonya. "Untuk apa orang meraba kulit pohon ini, kukira hanya ada satu jawaban, yakni di dalam pohon ini pasti ada sesuatu pesawat rahasia, bisa jadi adalah sebuah pintu."

"Otakmu ternyata cukup encer, matamu juga cukup jeli," kata Siau-hi-ji dengan tertawa gembira.

"Terima kasih!" ucap si nyonya.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, tiba-tiba ia mengetuk batang pohon beberapa kali sambil berseru, "Sepada! Permisi!"

Siau-hi-ji memang suka bercanda, di mana dan kapan saja. Tapi kelakarnya sekarang ini bukannya tiada maksud tujuan, dia ingin tahu batang pohon itu berisi atau kosong. Mimpi pun tak pernah terpikir olehnya akan ada jawaban dari dalam batang pohon.

Betul, memang tiada sesuatu jawaban, akan tetapi kulit pohon yang baru diketuknya itu tiba-tiba menggeser. Batang pohon besar itu mendadak merekah menjadi sebuah pintu.

Sungguh kejut Siau-hi-ji tak terkatakan, cepat ia melompat mundur. Si nyonya gaun hijau tampaknya juga ketakutan sehingga tetap berjongkok di tempatnya tanpa bergerak.

Pohon itu ternyata benar kopong bagian dalamnya. Dengan melotot Siau-hi-ji mengawasi liang pohon yang gelap itu dan membentak, "Siapa yang berada di situ? Setan atau manusia? Semuanya menggelinding keluar!"

Namun tiada sesuatu suara di dalam liang pohon itu, sampai lama sekali tetap tiada sesuatu jawaban.

Siau-hi-ji mendekati pohon itu dengan perlahan sambil menahan napas.

"Jangan mendekat, bi... bisa jadi di situ ada apa-apa," kata si nyonya dengan suara gemetar.

"Takut apa? Jika benar dia lihai, mengapa dia tidak berani keluar."

"Kau... kau hendak masuk ke situ?"

Seketika Siau-hi-ji merandek, jawabnya, "Ma... masuk ke situ...." dia dehem keras sekali, lalu berteriak, "Ya, sudah tentu akan kumasuki, tempat inilah satu-satunya petunjuk, mana boleh tak kuselidiki."

Pada saat itulah tiba-tiba terendus bau sedap, bau ayam goreng kecap dengan bumbu Ngohiang yang harum.

Hidung Siau-hi-ji bergerak-gerak seperti pelacak. Baginya sekarang bau sedap itu adalah bau yang paling menarik di seluruh dunia ini, ia menelan air liur beberapa kali, lalu berseru, "Di dalam situ pasti ada manusia, setan tidak makan ayam goreng, biar pun siluman juga makan ayam, tapi tidak mungkin digoreng dan sebagainya... jika ada manusianya, maka tidak perlu ditakutkan lagi."

Sembari berkata ia terus memungut sepotong batu kecil dan dilemparkan ke dalam liang. Terdengar segera suara "tek" satu kali.

"He, liang ini tidak dalam!" seru Siau-hi-ji.

"Kau sungguh orang yang cermat. Hati-hati jika masuk ke situ," pesan si nyonya dengan suara lembut.

"Jangan khawatir, kau tunggu sebentar di sini," kata Siau-hi-ji.

"Ti... tidak, tinggal sendirian di luar sini aku bisa ketakutan setengah mati, biar kuikut masuk ke situ saja."

"O, perempuan...." ucap Siau-hi-ji sambil berpaling memandang nyonya cantik itu. "Baiklah, mau ikut, ayolah!" Habis berkata sebelah kakinya lantas melangkah ke dalam liang pohon itu.

Memang benar kopong batang pohon itu, meski tidak terlalu dalam, tapi sangat gelap.

Si nyonya gaun hijau menggandul Siau-hi-ji erat-erat dari belakang, katanya dengan suara gemetar, "Aneh, di sini toh tiada orangnya."

"Ada, pasti ada," kata Siau-hi-ji.

"Tempat sesempit ini, mana dapat ditinggali orang?" ujar si nyonya.

Memang, luas liang pohon itu paling-paling cuma satu meter persegi, mana mungkin dibuat tempat tinggal orang?

"Ya, memang aneh, padahal bau Ang-sio-keh (ayam goreng saus) tadi teruar dari sini."

"Bau sedap itu seperti keluar dari bawah...." belum habis ucapannya mendadak tempat berpijak mereka itu longsor ke bawah. Dengan ketakutan nyonya cantik itu merangkul Siau-hi-ji sambil menjerit tertahan.

"Jangan takut," ucap Siau-hi-ji dengan mata terbelalak. "Biarlah kita turun ke situ untuk melihat apa sesungguhnya tempat ini?"

Tubuh mereka masih terus menurun ke bawah dan sekeliling mereka tetap gelap, mereka seperti berdiri di tengah-tengah sebuah tabung, sebuah tabung raksasa yang dapat bergerak. Lift atau tangga listrik menurut istilah jaman sekarang.

Dengan erat si nyonya gaun hijau memegangi tangan Siau-hi-ji, tangannya yang putih halus itu kini terasa dingin dan basah, perempuan yang lihai ini kini berubah menjadi begini penakut, sungguh sukar untuk dipahami.

Tapi Siau-hi-ji mempunyai penjelasannya, "Perempuan. Betapa pun ia tetap perempuan." Akhirnya "tabung bergerak" itu berhenti, pandangan Siau-hi-ji terbeliak, sebuah pintu terbuka, cahaya remang-remang menembus masuk dari luar pintu. Bau Ang-sio-keh tadi pun semakin keras.

Tanpa pikir Siau-hi-ji melompat keluar. Di luar adalah sebuah lorong. Kedua sisinya adalah dinding berukir indah dan bagian-bagian lekukan tertentu terdapat lampu tembaga yang bersinar.

"Sungguh luar biasa, tempat ini ternyata begini mewah dan terawat begini rapi," demikian Siau-hi-ji bergumam.

Baru saja dia hendak menoleh untuk memanggil keluar si nyonya gaun hijau, mendadak terdengar jeritan ngeri, kiranya pintu tabung baja tadi tiba-tiba menutup pula dan tabung itu bergerak ke bawah lagi. Suara jeritan ngeri si nyonya terus-menerus terdengar, "Tolong... api... tolong, aku bisa mati terbakar... tolong...."

Siau-hi-ji terkejut dan kelabakan, ia bermaksud menarik, tapi tabung baja itu sangat kuat, mana bisa bergeming. Ia ingin ikut melompat ke bawah mengikuti gerak tabung itu, tapi setelah bagian atas tabung rata dengan lorong ini, lalu tabung itu tidak bergerak turun lagi, hanya suara jerit ngeri minta tolong si nyonya masih terdengar.

Dengan segala daya upaya Siau-hi-ji berusaha membuka atap tabung itu, tabung itu terbuat dari baja, sia-sia saja ia membuang tenaga. Sementara itu suara si nyonya gaun hijau semakin lama semakin lirih, akhirnya suaranya berhenti mendadak, keadaan menjadi sunyi senyap seperti dunia sudah kiamat.

Siau-hi-ji mematung di situ. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa si nyonya cantik itu dapat terbakar hidup-hidup di dalam tabung itu. Biar pun hati perempuan itu keji dan juga tiada sesuatu sangkut-paut dengan dirinya, tapi dengan sepenuh hati perempuan itu telah mempercayakan nasibnya kepadanya, namun akhirnya toh mengalami nasib malang begini.

Ternyata perempuan itu telah salah pilih orang yang dipercayainya, ya, salah pilih....

Mata Siau-hi-ji menjadi basah dan hatinya pedih bukan main. Tiba-tiba saja ia berteriak, "Wahai, dengarlah! Tak peduli siapa dirimu, yang pasti kau takkan dapat menggertak dan membinasakan diriku, sebaliknya aku pasti akan membunuhmu!"

Akan tetapi tiada sesuatu jawaban di lorong itu. Dengan menggereget akhirnya Siau-hi-ji melangkah ke depan.

Lorong bawah tanah itu tidak terlalu panjang, Ujung lorong ada sebuah pintu berukir indah. Tampaknya melulu bangunan lorong bawah tanah ini saja sudah cukup banyak makan biaya dan tenaga, entah makhluk aneh macam apa yang mempunyai bangunan ini.

Lorong itu ternyata tidak dikunci, sekali dorong saja Siau-hi-ji dapat membuka pintu itu. Langsung ia masuk ke situ, ia sendiri tidak tahu dari mana timbulnya keberanian, ia hanya merasa dirinya pasti tak bisa mati. Sebab kalau dia harus mati tentu sudah terbakar di dalam tabung tadi. Ia merasa pemilik lorong ini tak ingin membunuhnya, apa sebabnya ia pun tidak jelas.

Apa yang dipikir Siau-hi-ji tidak banyak, inilah kunci caranya berpikir. Asalkan soal pokoknya sudah tertangkap sedikit, selebihnya tidak perlu dipikirkan lagi, kalau berpikir terlalu banyak akan bertambah ruwet malah.

Dan kini ia tidak perlu menggunakan otak lagi melainkan menggunakan matanya. Ia lihat si balik pintu itu adalah sebuah ruangan. Dengan sendirinya ruangan ini jauh mewah daripada pajangan di lorong tadi. Ada bangunan semegah ini di bawah tanah, sungguh sulit untuk dibayangkan orang.

Selain tak berjendela, tempat ini pada hakikatnya serupa dengan ruangan duduk bangunan megah orang kaya di atas bumi, bahkan pajangan dan tata riasnya jauh lebih indah. Namun di ruangan duduk itu pun tiada seorang pun.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, "Pemilik tempat ini meski terhitung makhluk aneh, tapi juga tergolong tahu menikmati kehidupan."

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 30"

Post a Comment