Pendekar Binal Jilid 27

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
Hoa Bu-koat memberi hormat dengan tersenyum simpul, lalu ia pun membalik tubuh untuk melangkah pergi. Dilihatnya Buyung Kiu yang dipondong Ho-loh itu mendadak bergerak, mulutnya bergumam seperti mengigau, "Siau-hi-ji, Kang Hi, Kang Siau-hi, lepaskan... lepaskan diriku!"

Air muka Hoa Bu-koat tampak berubah hebat, sekonyong-konyong ia berpaling dan menatap tajam Siau-hi-ji.

"Kau inikah Kang Hi, Kang Siau-hi alias Siau-hi-ji?" tanyanya dengan sekata demi sekata.

Melengak juga Siau-hi-ji, jawabnya kemudian, "Benar! Apakah namaku ini sangat terkenal?"

Kembali Hoa Bu-koat menatapnya dengan termenung sejenak, lalu menghela napas perlahan, katanya, "Sungguh menyesal...."

"Menyesal? Mcngapa kau menyesal?" tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak.

"Sebab aku hendak membunuhmu!" jawab Hoa Bu-koat dengan perlahan.

Ucapan ini membuat semua orang terperanjat.

"He, apakah otakmu menjadi kurang waras? Mengapa mendadak hendak membunuhku?" tanya Siau-hi-ji.

"Sebab kau inilah Kang Hi, makanya akan kubunuh," tutur Bu-koat. "Di dunia seluas ini hanya seorang saja yang harus kubunuh, ialah kau, Kang Hi, Kang Siau-hi alias Siau-hi-ji."

Siau-hi-ji termenung sejenak, katanya kemudian, "Ya, pahamlah aku, tentunya ada orang menyuruh kau membunuhku."

"Ya, atas perintah guruku!" jawab Bu-koat.

Mendadak Thi Sim-lan berteriak histeris, "Mengapa gurumu menyuruhmu membunuh dia ? Mengapa... mengapa...." dia ingin menerjang maju, tapi dirangkul kencang-kencang oleh si gadis baju putih.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sedang muka berhadapan muka, maka tiada seorang pun yang memandang ke sana.

Selang sejenak, mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, "Bagus, memangnya aku pun ingin membunuhmu, soalnya sekarang aku memang bukan tandinganmu, makanya aku bersabar, namun kini...." sekonyong-konyong ia angkat kedua tangannya terus menubruk ke arah Hoa Bu-koat.

Sesungguhnya ilmu silat Siau-hi-ji sama sekali bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi asalkan dapat menyentuh Hoa Bu-koat, maka ular berbisa di tubuhnya itu pasti akan menyerangnya. Ular kan tidak kenal siapa pun juga. Jadi jiwa Hoa Bu-koat pasti melayang, namun jiwa Siau-hi-ji sendiri juga sukar diramalkan.

Di luar dugaan, baru saja tangannya bergerak mendadak pergelangan kedua tangannya lantas kaku kesemutan, belum lagi tubuhnya mendekat lawan, tahu-tahu pandangannya menjadi gelap dan jatuh tersungkur.....

********************

Waktu Siau-hi-ji siuman, yang pertama dilihatnya adalah sebuah anglo yang sedang mengepulkan asap dupa. Bau dupa yang terendus itu terasa bukan gaharu dan juga bukan adas, tapi semacam bau harum yang sukar disebutkan, seperti bau harum bunga, juga seperti bau obat, jika dicium lebih teliti, rasanya juga seperti bau pupur anak perempuan.

Siau-hi-ji malas mencari tahu bau harum apakah dupa itu, pokoknya ia merasa nyaman mengendus bau sedap itu. Lalu ia melihat pula sebilah pisau.

Gagang pisau itu bertatahkan batu permata dan tergantung di ujung pembaringannya, sarung pisau seperti terbuat dari kulit ikan hiu sehingga kelihatan sangat menarik, pisau dengan sarungnya itu seakan-akan khusus untuk hiasan belaka.

Tapi ruangan ini hanya terdapat sebuah hiasan ini, selebihnya sangat sederhana, cuma terawat dengan baik dan resik, rasanya nyaman.

Siau-hi-ji tak dapat menerka tempat apakah ini, ia menduga bisa jadi rumah gubuk yang dibangun Hoa Bu-koat sebagai tempat tinggal darurat karena harus berdiam di Go-bi-san.

Tapi cara bagaimana dia berada di tempat Hoa Bu-koat? Bukankah dirinya tadi tergigit ular berbisa yang tak mungkin tertolong? Apakah Hoa Bu-koat mau menolongnya? Bukankah Hoa Bu-koat tegas menyatakan ingin membunuhnya? Tapi begitu berpaling, segera dilihatnya pemuda she Hoa itu.

Cahaya sang surya menyinari jendela yang sederhana terbuat dari bambu. Di bawah sinar matahari Hoa Bu-koat sedang duduk, alis matanya, wajahnya, sikapnya yang tenang, pakaiannya juga putih bersih, betapa pun Siau-hi-ji sendiri mau tak mau juga harus mengakui seterunya itu adalah pemuda cakap yang jarang ada bandingannya di dunia ini.

Tampaknya Hoa Bu-koat sudah duduk cukup lama di situ, tapi kelihatan adem ayem saja, sedikit pun tidak gelisah, tetap sabar, tampaknya dia masih sanggup duduk lebih lama lagi di situ.

Dalam hal ini pun Siau-hi-ji merasa kagum, jika Siau-hi-ji, pada hakikatnya sedetik saja dia tidak sabar duduk. Diam-diam ia mengerahkan tenaga, terasa sehat-sehat saja tanpa kurang sesuatu apa pun. Waktu ia memeriksa tubuh sendiri, ternyata ular-ular sialan itu sudah lenyap, tiada nampak seekor pun. Diam-diam ia heran dan merasa lega.

"He, apakah kau yang menolong aku?" serunya kepada Hoa Bu-koat.

"Benar," sahut Bu-koat acuh tak acuh.

"Racun ular selihai itu kau pun mampu menolongku?" tanya Siau-hi-ji.

"Dupa Sian-cu-hiang (dupa dewi) dan Soh-litan (pil gadis suci) yang sudah kau minum itu dapat menawar segala macam racun."

"Tadi bukankah engkau ingin membunuhku?"

"Sekarang pun tetap ingin kubunuhmu!"

"Jika begitu, untuk apa kau menawarkan racunku dengan obat mujarab yang tak ternilai itu?"

"Soalnya kuharus membunuhmu dengan tanganku sendiri, takkan kubiarkan kau mati disebabkan urusan lain."

Siau-hi-ji berkedip heran, tanyanya, "Mengapa kau harus membunuhku dengan tanganmu sendiri?"

"Karena begitulah perintah yang kuterima."

Sejenak Siau-hi-ji terdiam, katanya kemudian, "Kau diperintahkan untuk membunuhku dengan tanganmu sendiri? Aku tidak boleh mati di tangan orang lain dan urusan lain, apakah... apakah kau tidak merasa heran? Kau... kau tidak menanyakan apa sebabnya?"

"Aku tidak perlu tanya," sahut Bu-koat.

"Ehm, tampaknya kau sangat penurut."

"Perintah Ih-hoa-kiong kami sangat keras dan tiada yang berani membangkang."

"Tampaknya kau pun sangat jujur, apa yang kutanya selalu kau jawab dengan tulus."

"Siapa pun yang tanya padaku tentu akan kujawab dengan sejujurnya, sekali pun aku harus membunuhmu, tapi tiada sangkut-pautnya dengan persoalan tanya jawab."

"Jadi sudah pasti kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri?"

"Ya, pasti!!"

"Tapi kalau kau yang kubunuh, bagaimana?"

"Kau takkan mampu membunuhku."

"Kau berani bertempur terang-terangan denganku?"

"Justru aku harus mencabut nyawamu dengan cara jujur dan terang-terangan."

"Baik, kau mundur dulu beberapa tindak, biar kubangun!" kata Siau-hi-ji.

Hoa Bu-koat benar-benar bangkit dan mundur hampir belasan tindak.

Perlahan-lahan Siau-hi-ji merangkak bangun sambil bergumam, "Kau ini sungguh teramat jujur, tapi aku tidak tahu apakah kejujuranmu ini tulen atau cuma pura-pura saja, bisa jadi kau terlalu yakin akan kesanggupanmu terhadap segala urusan, makanya kau bersikap seenaknya saja."

Sembari berkata mendadak ia lolos belati yang gagangnya bertatahkan batu permata dan tergantung di ujung pembaringan itu terus melompat turun.

Hoa Bu-koat tetap memandangi dia dengan hambar saja, sedikit pun tidak menunjuk perubahan sikap. Hanya gayanya yang adem ayem dan tenang ini sudah cukup membikin malu tokoh terkemuka dunia persilatan yang paling tenang sekali pun.

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, "Kau ingin kematianku, hal itu tidak sulit, tapi kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, hahaha, kukira selama hidupmu ini jangan kau harap."

"Memangnya kenapa? Apa aku tidak mampu?" tanya Hoa Bu-koat acuh.

"Kenapa? Haha, kalau begini?" ujar Siau-hi-ji sambil mengacungkan ujung belati ke hulu hati sendiri.

Baru sekarang air muka Hoa Bu-koat tampak sedikit berubah, tanyanya, "Apa artinya ini?"

Siau-hi-ji memberi muka badut padanya, katanya dengan tertawa, "Asalkan kau melangkah sedikit kemari, segera pisau ini kutikamkan dan selama hidupmu jangan harap lagi akan dapat membunuhku dengan tanganmu sendiri, sebab akulah yang membunuh diriku dengan tanganku sendiri."

Seketika Hoa Bu-koat terkesima tak dapat bicara lagi. Sungguh tak terpikir olehnya akan langkah kejutan Siau-hi-ji ini.

Kalau bicara ilmu silat, sudah tentu Hoa Bu-koat jauh lebih tinggi, tapi bicara mengenai kecerdikan dan tindak mendadak menghadapi perubahan persoalan, betapa pun dia tak dapat menandingi Siau-hi-ji yang aneh dan cerdas serta banyak tipu akalnya ini.

Sudah tentu semua itu lantaran lingkungan hidup kedua anak muda itu sama sekali berbeda, "Ih-hoa-kiong" yang diagungkan itu tentu mengutamakan tindak tanduk secara terang-terangan dan ksatria jelas tak dapat menandingi anak didik kawanan penjahat yang berkumpul di Ok-jin-kok itu.

Begitulah mimpi pun Hoa Bu-koat tak mengira Siau-hi-ji akan mempergunakan akal bulus begitu. Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata, "Nah, kau masih ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, maka sekarang kau harus bersabar dulu, janganlah mendekatiku, jangan bergerak...." sambil bicara ia tatap Hoa Bu-koat seraya mundur ke belakang setindak demi setindak.

Seketika Hoa Bu-koat merasa mati langkah dan tidak tahu cara bagaimana harus menghadapi tindakan Siau-hi-ji ini, terpaksa ia diam saja di tempat dan menyaksikan Siau-hi-ji mundur keluar pintu.

Siau-hi-ji tidak berani bertindak gegabah dan lengah, meski sudah mundur sampai di luar pintu, tetap tanpa berkedip ia mengawasi Hoa Bu-koat.

Di luar masih berselimutkan kabut pagi, bunga pegunungan yang tak diketahui namanya tampak bergaya indah di tengah kabut, meski sang surya sudah mulai memancarkan sinarnya, tapi belum dapat menembus kabut pegunungan Go-bi yang tebal itu.

Setindak demi setindak Siau-hi-ji masih terus mundur ke belakang dan menelusuri jalan kecil yang diapit oleh tetumbuhan bunga pegunungan. Ia masih terus mengawasi Hoa Bu-koat, khawatir kalau-kalau pemuda itu mengejarnya, karena itu ia tidak berani berpaling ke belakang.

Melihat Siau-hi-ji masih terus berjalan mundur, tiba-tiba Hoa Bu-koat seperti ingat sesuatu, cepat ia berseru, "He, Kang Hi, lekas... lekas berhenti...." Di tengah seruannya segera ia bermaksud memburu keluar.

Tapi Siau-hi-ji lantas membentaknya, "Jangan bergerak! Berani kau keluar pintu, segera ku...."

Terpaksa Hoa Bu-koat menahan langkahnya di ambang pintu, ia menjadi gugup hingga keringat dingin membasahi jidatnya, ia berseru pula, "Lekas berhenti, kau tidak boleh mundur lagi, di... di belakangmu...."

Baru saja kata-kata "di belakangmu" terucapkan, sebelah kaki Siau-hi-ji yang melangkah mundur sudah menginjak tempat kosong, disertai suara jeritan ngeri, seketika anak muda itu terjerumus ke bawah.

Di belakang Siau-hi-ji ternyata sebuah jurang yang sangat curam dan tertutup oleh kabut tebal sehingga dalamnya tak terkirakan. Hoa Bu-koat menyaksikan Siau-hi-ji terjerumus ke bawah dan tidak sempat memburu maju untuk meraihnya.

Suara jeritan Siau-hi-ji yang melengking tajam dan singkat itu menimbulkan gema suara dari sekeliling lembah pegunungan secara susul-menyusul seakan-akan jagat ini penuh suara jeritan kaget Siau-hi-ji.

Hoa Bu-koat menjadi lemas lunglai dan bersandar di pintu, dengan linglung ia pandang kabut tebal di depan sana, butiran keringat berketes-ketes dari dahinya.

Sementara itu Thi Sim-lan telah memburu keluar dengan langkah sempoyongan, beberapa nona berbaju putih mengikut di belakangnya. Setiba di depan Hoa Bu-koat, dengan cemas Sim-lan bertanya, "Siapa itu menjerit? Apakah dia...? apakah dia...?."

Hoa Bu-koat hanya mengangguk tanpa menjawab.

"Dia... dia di mana?" tanya Sim-lan..

Bu-koat hanya menghela napas sambil menggeleng.

Melihat air muka anak muda itu, Sim-lan mundur dua langkah, katanya pula dengan suara gemetar, "Apakah kau telah... telah membunuhnya?" Mendadak ia menubruk maju, ia hujani tubuh Hoa Bu-koat dengan kepalannya.

Namun Hoa Bu-koat tetap diam saja, tidak menangkis juga tidak menghindar. Kepalan Thi Sim-lan menghantam tubuhnya dengan kuat, tapi dia seperti tidak merasakannya.

Para nona baju putih menjadi gusar dan khawatir, mereka membentak dan hendak menghajar Thi Sim-lan, Hoa Bu-koat malah mencegah mereka, katanya dengan gegetun kepada Thi Sim-lan, "Aku tidak membunuh dia... dia sendiri yang tergelincir ke dalam jurang."

Tergetar tubuh Thi Sim-lan, ia mundur dengan terhuyung-huyung, katanya, "Kau... kau benar-benar tidak... tidak membunuh dia?"

"Selama hidupku belum pernah berdusta sepatah kata pun," sahut Hoa Bu-koat.

"Jika begitu mengapa kau tidak membalas pukulanku?" seru Thi Sim-lan dengan serak. Hoa Bu-koat memandangnya dengan sorot mata yang halus, katanya dengan gegetun, "Kutahu perasaanmu saat ini sangat berduka, biar pun kau melukai aku juga dapat kupahami, sama sekali aku tidak menyalahkanmu."

Thi Sim-lan berdiri melenggong, entah bagaimana rasa hatinya sukar untuk dilukiskan. Hoa Bu-koat ini sedemikian bajik dan baik hati, sedemikian halus budinya, sedangkan Siau-hi-ji, ya busuk ya kasar, tapi justru Siau-hi-ji terlebih mendalam bersarang di lubuk hatinya, lebih membuatnya kesengsem dan berat untuk berpisah, membuatnya selalu terkenang dan sukar dilupakan.

Sorot mata Hoa Bu-koat tampak semakin lembut, katanya pula, "Nona Thi, lebih baik engkau pergi istirahat saja, engkau...."

"Ya, aku harus istirahat, harus pergi...." Mendadak Thi Sim-lan lari ke tepi jurang sambil berteriak dengan suara serak, "Siau-hi-ji, tunggulah, kudampingimu untuk istirahat bersama...."

Tapi sebelum ia tiba di tepi jurang, Hoa Bu-koat sudah menyusul dan menarik tangannya, sekuatnya Sim-lan meronta, tapi tak dapat melepaskan diri biar pun segenap tenaga sudah dikeluarkannya.

Dengan air mata bercucuran Thi Sim-lan berteriak, "Lepaskan aku, lepaskan... mengapa tidak biarkan kutemani dia.... Dia sendirian mati di bawah sana, alangkah kesepian dia...."

Tiba-tiba seorang menanggapinya dengan suara dingin, "Siapa yang mati di bawah sana...?. Seorang dapat mati dengan tenang dan sunyi, sungguh bahagialah dia."

Di tengah kabut putih tebal itu sesosok bayangan tubuh yang ramping tampak muncul dengan perlahan laksana badan halus dari alam arwah. Siapa lagi dia kalau bukan Buyung Kiu.

Muka Buyung Kiu sangat pucat, kedua matanya yang besar dan jeli mempesona itu pun kehilangan cahayanya sehingga kelihatan seperti orang linglung.

Dengan geregetan Thi Sim-lan menjawabnya, "Siau-hi-ji akhirnya mati, tentunya kau bergirang bukan? Dia mati di bawah jurang ini, apakah kau ingin melihat mayatnya?"

Buyung Kiu menggeleng perlahan, katanya, "Tidak, dia tidak mati di sini, yang mati di sini pasti bukan dia." Mendadak ia terkekeh-kekeh dan menyambung pula, "Sudah lama dia mati di Buyung-san-ceng, aku sendiri yang membunuhnya, seorang tidak... tidak mungkin mati dua kali, betul tidak?"

Rambutnya yang panjang itu tampak bertebaran ditiup angin, cara tertawanya seperti orang gila.

Dengan perasaan haru dan kasihan Hoa Bu-koat memandanginya, katanya kemudian dengan perlahan, "Ho-loh, nona ini sangat terkejut tadi sehingga pikirannya belum jernih kembali, kau payang dia ke dalam rumah saja."

Segera Ho-loh memegang tangan Buyung Kiu, tapi nona itu masih terkekeh-kekeh dan berseru, "Aku sendiri yang membunuh dia, aku menyaksikan sendiri setannya! Hahaha, apakah kalian pernah melihat setan? Dapatkah... dapatkah kalian membunuhnya?"

Mendadak Thi Sim-lan juga tertawa keras dan berteriak, "Tiada seorang pun di antara kalian yang mampu membunuhnya, satu-satunya yang dapat membunuhnya ialah dia sendiri...." Dari tertawa keras mendadak ia menangis sedih, dengan suara pilu ia berteriak pula. "Tapi akhirnya ia benar-benar membunuh dirinya sendiri, akhirnya ia menghancurkan dirinya sendiri... mengapa orang pintar selalu akan menghancurkan dirinya sendiri...."

Memang, orang pintar terkadang memang sok pintar sehingga akibatnya menjadi korban kepintarannya sendiri, akhirnya meski mereka dapat mencelakai orang lain, tapi juga membikin susah dirinya sendiri.

Akan tetapi Siau-hi-ji bukanlah manusia demikian ini. Siau-hi-ji jauh lebih pintar daripada orang macam demikian. Tadi, waktu sebelah kakinya menginjak tempat kosong dan terjerumus ke bawah, gerakan itu hanya pura-pura saja dan sengaja diperlihatkan kepada Hoa Bu-koat.

Kiranya sebelum itu dia sudah melihat jelas keadaan sekitarnya, waktu dia terjerumus ke bawah sudah diincarnya dengan tepat tempat perimbangan badannya. Begitu tubuhnya terperosok ke bawah, segera belati yang dipegangnya itu menikam ke dinding tebing.

Gerakan berbahaya demikian sudah tentu memerlukan ketajaman mata, ketelitian dan keberanian. Maklumlah, untuk menipu orang, lebih-lebih menipu orang macam Hoa Bu-koat, kalau tidak menyerempet bahaya mana bisa berhasil?

Maka ketika Thi Sim-lan menjerit dan menangis, Buyung Kiu mengakak dan berteriak, Hoa Bu-koat bicara dengan lembut, semua itu dapat didengar oleh Siau-hi-ji dengan jelas karena dia menempel pada dinding tebing.

Dengan sendirinya timbul macam-macam perasaan yang sukar dikatakan dalam hati Siau-hi-ji setelah mendengar jerit tangis dan teriak tawa itu, namun dia benar-benar berhati baja, dia tega, ia anggap tidak tahu dan tidak dengar semua itu.

Sampai akhirnya suasana menjadi sunyi, Siau-hi-ji menghela napas lega. Selang sejenak pula, perlahan ia merambat ke atas, ia coba mengintip ke atas melalui tebing. Benar juga, di atas sana tiada seorang pun. Selagi dia hendak merangkak ke atas, siapa tahu pada saat itulah sekonyong-konyong di sebelahnya seperti ada suara orang.

Dalam kejutnya Siau-hi-ji cepat berpaling, segera dilihatnya suara itu bukan suara manusia melainkan suara kera, belasan ekor kera entah datang dari mana, semuanya sedang menirukan caranya merambat, bahkan menirukan caranya mengintip ke atas jurang.

Rupanya Go-bi-san memang banyak terdapat kawanan kera, bahwa kera suka menirukan gaya manusia, ini sudah sering didengar oleh Siau-hi-ji dari para paman penghuni Ok-jin-kok ketika dia masih kecil.

Kini ia benar-benar melihat kawanan kera yang nakal itu, ia menjadi geli dan dongkol pula. Malahan ia pun bingung cara bagaimana mengusir mereka. Terpaksa ia hanya mendesis-desis saja, "Ssst, pergi...."

Tapi kawanan kera itu pun balas mengejeknya dengan muka yang dibuat-buat jenaka, bahkan juga mendesis-desis dan bercuat-cuit. Ada sebagian kera yang bermuka merah seperti pantat, kelihatan menakutkan ketika melotot.

Khawatir kawanan kera itu mengejutkan Hoa Bu-koat, diam-diam Siau-hi-ji menjadi gelisah, saking mendongkolnya tiba-tiba ia gunakan sebelah tangannya untuk memukul dan mengusirnya.

Tapi begitu tangannya terjulur, segera ia menyadari keadaan bisa runyam. Kawanan kera itu mendadak juga menubruk tiba, semuanya menjulurkan tangan menirukan tingkah Siau-hi-ji.

Dalam keadaan biasa tentu Siau-hi-ji tidak perlu takut, tapi sekarang tubuhnya bergelantung di dinding jurang, kedua tangannya tidak bebas bergerak, maka begitu diserbu kawanan kera itu, seketika ia terjerumus lagi ke bawah.

Keruan tidak kepalang takut dan gugupnya, celakanya dia tidak berani berteriak minta tolong. Hanya kedua tangannya meraih-raih sebisanya pada dinding tebing, belatinya juga sudah jatuh ke bawah, sampai lama sekali baru terdengar suara "trang".

Rupanya dinding tebing itu mendekuk ke dalam, makanya belati itu dapat jatuh lurus ke dasar jurang. Dari kumandang suara jatuhnya belati yang sekian lama baru terdengar, dapat diperkirakan jurang itu sangat dalam.

Siau-hi-ji sudah mandi keringat dingin, tangan sudah tidak dapat meraih sesuatu tempat yang dapat digunakan untuk menahan tubuhnya, kalau terperosok sampai tempat mendekuknya dinding itu pasti akan langsung terjerumus ke bawah dan mustahil kalau tubuhnya tidak terbanting hingga hancur lebur.

Sungguh konyol, manusia paling pintar di dunia ini ternyata bisa mati di tangan kawanan kera. Teringat ini, Siau-hi-ji hanya meringis saja, entah harus menangis atau harus tertawa.

Dilihatnya kawanan kera itu pun menirukan caranya terperosok ke bawah, tapi mendadak kawanan kera itu bercuit-cuit, satu sama lain bergandengan tangan, berpuluh kera itu saling tarik menarik dan kaki menahan dinding jurang, maka jadi mirip satu untai merjan yang bergelantungan di udara, tiada seekor pun yang terjatuh.

Sebaliknya Siau-hi-ji sudah terjerumus ke bawah, tangannya tidak dapat meraih sesuatu lagi. Terpaksa ia hanya memejamkan mata dan pasrah nasib. Pikirnya dengan menyeringai, "Tamatlah riwayatku... Siau-hi-ji akhirnya mati dibunuh kawanan kera...."

Di luar dugaan, pada saat itu juga entah dari mana datangnya mendadak sebuah cakar kera yang berbulu lebat mencengkeram baju dadanya. Tenaga cakar itu sungguh kuat luar biasa, namun daya perosot Siau-hi-ji ke bawah pun sangat keras, baju yang dicengkeram cakar kera robek dan tubuh Siau-hi-ji masih terus terperosot.

Syukurlah pada detik terakhir itu cakar kera yang lain secepat kilat terjulur pula dan tepat berhasil menjambak rambut Siau-hi-ji.

Sudah tentu Siau-hi-ji meringis kesakitan hingga air mata hampir menetes, akan tetapi tubuhnya lantas tertahan dan tidak terjerumus ke bawah.

Sekilas terlihat untaian kera yang sedang main ayun-ayunan tadi sedang bercuit-cuit sambil menjibir padanya. Sedangkan kedua cakar kera yang menyelamatkan jiwanya itu terjulur dari sebuah gua di dinding tebing itu.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, "Yang mencengkeram diriku ini mungkin adalah raja kera, kalau tidak masakah memiliki tenaga sebesar ini. Terhadap manusia kiranya kera tiada punya kehendak baik, kalau aku sudah diseret ke atas, entah cara bagaimana aku akan disiksa."

Cara Siau-hi-ji ambil keputusan sungguh lebih cepat daripada siapa pun di dunia ini, begitu terpikir apa yang mungkin terjadi segera dia mengumpulkan tenaga dan bermaksud memanjat ke gua itu dan membekuk lawan lebih dulu.

Tak tahunya, belum lagi ia bergerak, tiba-tiba dari dalam gua berkumandang suara orang, suaranya kecil dan tajam, ucapnya dengan sekata demi sekata, "Jangan bergerak, sekali bergerak segera kulemparkan kau ke jurang!"

Suara yang kecil dan tajam itu sungguh tujuh bagian mirip suara kera, tapi yang diucapkan jelas adalah bahasa manusia, memangnya kera juga dapat bicara manusia? Wah, jangan-jangan di Go-bi-san ini ada siluman kera?

Kembali Siau-hi-ji berkeringat dingin, tanyanya dengan suara gemetar, "Sesungguhnya kau... kau ini apa?"

Suara itu terkikik-kikik dan menjawab, "Kau sendiri apa, apa itulah diriku."

"Kau... kau manusia?" tanya Siau-hi-ji.

"Coba terka aku ini manusia atau bukan?"

Siau-hi-ji menjadi ngeri, katanya pula, "Apa kehendakmu?"

"Luruskan tanganmu dan tidak boleh bergerak," kata suara itu.

Terpaksa Siau-hi-ji menurut, ia menurunkan kedua tangannya, mendadak tubuhnya diangkat ke atas oleh orang itu sehingga terasa seperti mengapung di udara.

Cakar kera itu menutuk pula kedua pundaknya, yang ditutuk ternyata tempat Hiat-to yang membuat tangannya tak dapat bergerak lagi. Habis itu, ia benar-benar seperti seekor ikan diseret masuk ke dalam gua.

Mulut gua tidak besar, tapi di dalam gua ternyata tidak kecil.

Karena diseret begitu saja, sekujur badan Siau-hi-ji terasa pegal linu, kepala pusing. Waktu ia membuka mata, dilihatnya seekor kera sedang tertawa lebar padanya.

"Kera" ini sungguh tidak kecil, juga tidak terlalu besar, malahan lebih pendek daripada Siau-hi-ji.

Waktu dipandang lebih teliti, "kera" ini ternyata berbaju, walau pun compang-camping, tapi jelas memang pakaian manusia, pakaian tulen, bukan tiruan.

Ketika diteliti lebih lanjut, seluruh badan "kera" ini tidak saja berambut, bahkan berjenggot, jika dia ini kera, mengapa berambut dan berjenggot. Tapi kalau dia manusia, mengapa justru persis kera?

"Nah, sekarang kau sudah melihat jelas bukan?" demikian "kera" itu bertanya dengan terkikik-kikik, "Coba katakan, aku ini mirip apa?"

"Ada tiga bagian kau ini mirip manusia?" jawab Siau-hi-ji dengan tabahkan hati.

"Dan tujuh bagian lebih mirip kera, begitu bukan?"

"Ya, kalau tidak mendengar kau bicara manusia, pada hakikatnya setengah bagian saja kau tidak memper manusia."

Menghadapi kejadian aneh itu, ia sudah nekat dan tidak memikirkan mati-hidup lagi, sama sekali ia pun tidak gentar akan diperlakukan bagaimana oleh "makhluk aneh" itu.

Tapi "kera" itu ternyata tidak marah, sebaliknya malah tertawa terkekeh-kekeh, katanya, "Supaya kau tahu, aku ini memang keranya manusia dan manusianya kera, kau bilang aku ini manusia jelas betul, bilang aku kera juga tidak salah."

Siau-hi-ji jadi melengak, serunya, "Keranya manusia... manusianya kera... memangnya kau ini...."

"Jangan kau percaya ocehannya," tiba-tiba suara seorang lagi menimbrung dengan dingin. "Hakikatnya dia adalah manusia, cuma bentuknya saja mirip kera, pula berdiam lama dengan kawanan kera, maka sifat manusianya menjadi tersisa sedikit."

Bagian dalam gua itu sangat luas, cahaya matahari hanya dapat menembus masuk melalui mulut gua yang sempit itu, maka bagian belakang gua itu gelap gulita tak kelihatan apa pun.

Suara itu jelas berkumandang dari dalam gua, dingin, kaku, kedengarannya tidak terlalu mirip bicaranya manusia. Keruan Siau-hi-ji terkejut pula, serunya, "He, kau? Apa kau ini?"

Terlihat sesosok bayangan melangkah keluar perlahan dari tempat gelap, perawakannya juga kurus kecil, rambut semrawut, bentuknya juga cuma tiga bagian saja mirip manusia. Tapi sorot matanya tampak bening, bahkan penuh kecerdasan, hanya manusia saja yang memiliki mata demikian ini.

Siau-hi-ji menghela napas lega, katanya, "Ya, kau manusia, tapi... siapakah kau sebenarnya? Mengapa berada di tempat begini? Sebab apa pula kau berubah seperti ini?"

Orang itu menghela napas panjang, katanya, "Boleh kau tanya dia saja."

Belum lenyap suaranya, si "kera" tadi sudah lantas melonjak dan memaki dengan gusar, "Tanya padaku? Hm, jika bukan lantaran kau, mana bisa kuterkurung di tempat seperti neraka ini dan mana mungkin berubah bentuk menyerupai kera begini?"

"Hm, memangnya kau mirip manusia?" jengek orang itu. "Di antara Cap-ji-she-shio kalian siapakah yang menyerupai manusia?"

Sebenarnya Siau-hi-ji sedang memandang kedua orang ini dengan rasa kaget, heran dan rada geli pula melihat bentuk mereka, tapi demi mendengar ucapan ini, seketika ia terperanjat, ia pandang si "kera" dan bertanya, "Jadi... jadi engkau ini orang Cap-ji-she-shio?"

Mendadak si "kera" membusungkan dada dan menjawab, "Betul, aku inilah Hian-ko-sin-kun (si malaikat penyuguh buah) dari Cap-ji-she-shio."

Tanpa terasa Siau-hi-ji melangkah mundur mepet gua, lalu berpaling kepada orang satunya lagi, "Dan engkau... engkau...?."

"Hehe, kau masih muda, tentu tak pernah mendengar namaku...." ucap orang itu dengan menyeringai. Mendadak ia berdiri tegak dan berseru, "Tapi pada lima belas tahun yang lalu, kalau orang persilatan menyebut 'Hui-hoa-boan-thian, Lok-to-bu-seng' (bunga bertebaran di udara, jatuh ke tanah tanpa menimbulkan suara) Sim Gin-hong, kukira hampir setiap orang kenal namaku ini."

"Huh, kentutmu busuk!" jengek Hian-ko-sin-kun alias si kera, "Sejak dulu paling-paling kau juga cuma tukang kawal saja, bila mendengar nama Cap-ji-she-shio kami, kau pasti kabur terbirit-birit."

"Hm, apa betul begitu?" Sim Gin-hong balas mengejek. "Kalau Cap ji-she-shio memang begitu lihai, mengapa kalian tidak mampu merampas harta benda kawalanku, sebaliknya kena kukurung di sini selama empat belas tahun tanpa berdaya apa-apa."

Begitulah kedua orang itu saling mengejek dan saling memaki, Siau-hi-ji jadi melenggong heran. Baru sekarang ia tahu kedua orang ini bukankah kawan melainkan saling bermusuhan malah.

Seperti diketahui pada permulaan cerita ini, untuk menyelamatkan barang kawalannya dari gangguan kawanan Cap-ji-she-shio, Sim Gin-hong telah minta bantuan Yan Lam-thian yang tidak sempat dipenuhi pendekar besar itu, tapi sekembalinya Yan Lam-thian setelah gagal menyongsong saudara angkatnya, yaitu Kang Hong (ayah Siau-hi-ji), di tengah jalan dipergokinya Hian-ko-sin-kun dan begundalnya sedang berhadapan dengan rombongan Sim Gin-hong. Banyak gerombolan Cap-ji-she-shio terbunuh oleh Yan Lam-thian, tapi Hian-ko-sin-kun yang berani bersikap menantang pada Yan Lam-thian malah diampuni jiwanya. Namun begitu ia telah menjadi tawanan Sim Gin-hong dan dipaksa memberitahukan di mana partai harta benda kawalan Sim Gin-hong yang dirampas itu.

Rupanya pihak Cap-ji-she-shio cukup licik, Hian-ko-sin-kun telah memancing Sim Gin-hong ke gua ini, tapi akhirnya mereka berdua terkurung sendiri di gua ini selama empat belas tahun.....
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 27"

Post a Comment

close