Jejak Dibalik Kabut Jilid 16

Mode Malam
Namun Paksi memang harus pulang. Dengan demikian ibunya akan menjadi tenang. Ia pun harus memberikan laporan kepada ayahnya, apa yang telah terjadi di paseban meskipun ayahnya itu melihatnya langsung.

Sejenak kemudian, Paksi pun berjalan menuntun kudanya di halaman rumahnya. Kuda berwarna kelabu yang besar dan tegar. Kuda-kuda ayahnya tidak ada yang sebaik kuda yang diterimanya dari Pangeran Benawa itu.

Jantung Paksi menjadi semakin berdebar ketika ia melihat ayahnya berdiri di pendapa sambil beitolak pinggang. Dengan lantang ayahnya itu bertanya, “Dari mana kau curi kuda itu?”

Paksi berhenti di halaman. Kemudian ia pun menjawab, “Hadiah dari Pangeran Benawa, ayah”

“Bukankah kau sudah menerima ganjaran dari Kangjeng Sultan sendiri?”

“Ya, ayah”

“Kenapa kau menerimina hadiah juga dari Pangeran Benawa?”

“Entahlah. Aku tidak tahu, ayah”

Ayahnya itu pun kemudian turun dari pendapa sambil bertanya, “Apakah kau dan Pangeran Benawa sengaja mempermainkan aku?”

“Tidak, ayah. Sama sekali tidak”

“Jika suatu saat aku tahu, bahwa kau dan Pangeran Benawa telah mempermainkan aku, maka kau akan sangat menyesal. Pangeran Benawa pun akan menyesal karena aku akan memberitahukan kepada Kangjeng Sultan. Kangjeng Sultan tentu juga merasa sudah dipermainkan pula. Kangjeng Sultan tentu akan bertanya, kenapa cincin itu dapat terlepas dari Pangeran Benawa dan jatuh ketanganmu, apa pun yang kau ceriterakannya”

“Tetapi aku sama sekali tidak mempermainkan ayah. Aku telah melakukan apa yang harus aku lakukan sesuai dengan perintah ayah”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian dengan serta merta telah berbalik dan kembali naik ke pendapa. Dan bahkan langsung masuk keruang dalam.

Paksi pun kemudian membawa kudanya ke belakang. Masih ada tempat di kandang kuda.

Seorang pekathik, laki-laki yang rambutnya sudah mulai memutih, datang mendekatinya. Sambil mengamati kuda berwarna kelabu itu ia pun berkata, “Kuda yang sangat bagus. Raden”

“Pemberian Pangeran Benawa, paman”

“Pangeran Benawa?”

“Ya, paman”

“Pantas sekali, Pangeran Benawa adalah seorang penggemar kuda. Ia mempunyai beberapa ekor kuda. Tentu semuanya kuda yang sangat bagus seperti kuda ini. Beruntung raden mendapat hadiah seekor kuda dari Pangeran Benawa”

Paksi tersenyum. Katanya, “Aku titipkan kuda itu kepada paman”

“Aku memang pekathik disini. Jangan cemas. Aku akan memelihara kuda ini sebaik-baiknya seperti aku memelihara kuda-kuda Ki Tumenggung. Kuda ini akan menjadi kuda terbaik di rumah ini”

Paksi masih tersenyum. Katanya, “Aku memang beruntung, paman”

Paksi pun kemudian telah menyerahkan kudanya kepada pekatik itu. Sekilas ia mengamati kuda-kuda lain yang sudah ada di kandang. Agaknya kudanya memang menjadi kuda terbaik”

Ketika kemudian Paksi masuk keruang dalam lewat serambi samping, maka ibunya telah mendapatkannya. Dipeluknya anaknya itu sambil berkata, “Bukankah kau tidak dihukum, Paksi?”

“Tidak, ibu. Ternyata Kangjeng Sultan tidak menghukum aku. Aku justru mendapat beberapa macam ganjaran”

“Ganjaran? Ah, berkatalah sebenarnya”

“Ya ibu. Aku memang mendapat ganjaran”

Paksi pun kemudian telah menceriterakan hadiah-hadiah yang diterimanya. Sebilah keris. Uang dan Pangeran Benawa memberinya pula seekor kuda yang sangat baik.

“Benar begitu?”

“Ya. Ayah juga menyaksikannya, kecuali kuda itu”

“Ayahmu tidak bercerita kepadaku”

“Mungkin belum”

Wajah Nyi Tumenggung itu nampak berkrut. Namun kemudian Nyi Tumenggung itu pun telah mencoba tersenyum sambil berkata, “Kau harus bersyukur, Paksi”

“Ya, ibu. Aku memang harus bersyukur”

“Sang Pencipta akan selalu melindungimu” desis ibunya. Namun didalami hatinya ibunya itu pun berkata bukan salahmu, Paksi. Tetapi ayahmu itu telah membencimu”

Dalam pada itu, maka Paksi pun kemudian telah berkata, “Ibu, aku mohon ibu bersedia menyimpan uang ganjaran yang aku terima. Ketika aku pergi, ibu telah membelikan banyak sekali bekal kepadaku”

“Tetapi bekal itu telah kau kembalikan, Paksi. Perhiasan-perhiasan itu masih utuh. Bahkan bekal uang yang kau bawa pun masih tersisa”

“Tetapi aku mohon ibu bersedia menerima dan menyimpannya. Pada suatu saat kita akan memerlukannya”

Ibunya mengangguk. Diterimanya sekampil uang yang berat yang diterimanya dari Kangjeng Sultan.

“Keris ini akan aku simpan sendiri, ibu”

Ibunya mengangguk-angguk. Diamatinya keris yang diterima sebagai ganjaran oleh Paksi itu. Keris yang terselip didalam wrangkanya yang terbuat dari emas. Pada hulu keris itu terdapat beberapa butir permata yang berkilat-kilat.


“Keris yang sangat mahal” desis ibunya.

“Ya, ibu”

“Tetapi keris itu tentu bukan sekedar ganjaran, Paksi”

“Maksud ibu?”

“Bahwa kau menerima ganjaran sebilah keris itu adalah lambang, bahwa kau telah dibebani pula tanggung-jawab”

Wajah Paksi menegang. Dengan dahi berkerut ia pun bertanya, “Maksud ibu?”

“Bukankah kau menerima keris itu karena kau dianggap sebagai seorang kesatria sejati?”

“Ya, ibu”

“Nah, kewajiban seorang kesatria sejali tidak berhenti sampai saatnya ia menerima ganjaran. Bahwa Kangjeng Sultan menganugerahkan sebilah keris itu, tentu dengan maksud untuk melestarikan sifat-sifat kesatria didalam dirimu beserta sebuah tanggung-jawab yang berat. Setelah kau menerima ganjaran keris itu, kau tidak dapat membelakangi sifat-sifat kesatria itu”

Paksi mengangguk-angguk. Ia baru menyadari, bahwa ganjaran itu bukan ganjaran yang diterimanya karena perbuatannya dan jasa yang telah lewat itu saja. Tetapi ternyata ibunya benar. Keris itu adalah beban yang terletak di pundaknya.

“Kenapa Ki Marta Brewok tidak mengatakannya?” bertanya Paksi didalam hatinya. Untunglah bahwa ibunya sempat menterjemahkan maksud Kangjeng Sultan dengan ganjarannya.

“Karena itu, Paksi” berkata ibunya selanjutnya, “kau justru harus menjaga agar sifat-sifat itu tetap ada padamu dan yang lebih penting kau amalkan”

Paksi mengangguk sambil berdesis, “Semoga ibu. Aku mohon restu”

Ibunya menepuk bahu anak laki lakinya. Katanya, “Aku akan berdoa untukmu, Paksi”

lbunya pun kemudian lelah masuk kedalam biliknya. Disimpannya uang Paksi dengan baik bersama perhiasan-perhiasannya yang telah dikembalikan oleh Paksi. Bahkan Ki Tumenggung pun tidak akan mudah menemukannya.

Dalam pada itu, ketika hal itu didengar oleh kedua adiknya, maka keduanya menjadi bangga Keduanya telah menemui Paksi untuk mendengar langsung, bagaimana Paksi menerima ganjaran itu langsung dari Kangjeng Sultan.

“Kau tentu berdebar-debar, kakang?” bertanya adiknya perempuan.

Paksi tertawa. Katanya, “Tentu. Sedangkan untuk berada di paseban aku sudah menjadi gemetar”

“Untung, keris dan kampil uang itu tidak terjatuh pada saal kakang menerimanya. Jika kampil uang itu terjatuh dan uangnya bertaburan, maka Kangjeng Sultan akan menjadi ikut sibuk memungut dan mengumpulkan uang itu” sahut adiknya laki-laki.

Paksi tertawa. Kedua adiknya pun tertawa.

“Kak” bisik adiknya, “belikan aku cincin, ya kak”

“Cincin mas bermata tiga. Tidak usah seperti cincin kerajaan. Cincin dengan mata apa pun aku mau”

“Ah, kau” potong adik laki-laki Paksi, “cincin itu tidak penting. Kakang Paksi akan membelikan aku sebuah busur yang bagus. Aku akan ikut lomba panahan yang diselenggarakan di alun-alun setiap permulaa mangsa ketiga, saat gareng-pung mulai berbunyi di pepohonan”

“Terserah saja kau minta busur. Tetapi aku minta cincin”

“Baik. Baik” sahut Paksi, “aku akan menyampaikannya kepada ibu”

“Kenapa ibu?”

“Uang itu aku titipkan kepada ibu. Bukankah kalian tahu?”

“Ya. Tetapi aku minta kakang Paksi. Tidak minta ibu” desis adiknya perempuan.

Paksi tertawa pula. Katanya, “Baik. Baik. Akulah yang akan membelikan kalian”

Bagi Paksi, sikap kedua adiknya itu bagaikan titik-titik embun di tanah yang gersang. Jika saja ibunya tidak bersikap lembut dan kedua orang adiknya tidak bersikap manis kepadanya, maka rumah itu bagaikan neraka. Paksi benar-benar tidak tahu, kenapa ayahnya bersikap keras dan balikan kasar kepadanya. Meskipun ayahnya juga bersikap keras terhadap kedua adiknya, tetapi ayahnya itu tidak berbuat kasar kepada mereka.

“Aku adalah anak yang sulung” berkata Paksi didalam hatinya, “karena itu, agaknya ayah ingin membentuk aku menjadi laki-laki sebagaimana dikehendaki. Aku akan menjadi contoh bagi adikku, sehingga adikku pun akan menjadi laki-laki pula”

Paksi manarik nafas. Namun ia tetap tidak dapat mengerti sikap ayahnya itu. Setelah ia mendapatkan ganjaran keris serta sebutan kesatria dari Kangjeng Sultan, ayahnya sama sekali tidak menjadi bangga karenanya.

“Laki-laki seperti apa yang dikehendaki oleh ayah jika bukan seorang laki-laki dengan sifat dan watak seorang kesatria?”

Ternyata kemudian Paksi tidak ingkar. Ia telah minta uang kepada ibunya untuk membelikan sebentuk cincin bermata intan tiga butir bagi adik perempuannya serta sebuah busur yang baik serta anak panahnya bagi adiknya laki-laki”

“Kau sendiri akan membeli apa Paksi?”

Paksi menggeleng. Katanya, “Aku tidak akan membeli apa-apa ibu. Kebutuhanku sudah tercukupi. Bahkan aku sudah mempunyai sebilah keris dalam pendok emas tretes permata. Bukankah itu sudah berlebihan bagiku?”

“Tetapi keris itu kau terima langsung dari Kangjeng Sultan sendiri?”

“Bukankah itu sudah cukup?”

“Apakah kau tidak melengkapinya dengan kamus beludru dengan timang emas tretes permata?”

“Ah”

“Uangmu sangat banyak Paksi. Sangat banyak sekali”

Paksi tertawa katanya, “Aku justru ingin membeli sebuah kalung susun buat ibu”

Ibunya tertawa. Katanya, “Kau minta aku mengenakan kalung susun?”

Paksi tertawa.

“Ora nyebut” desis ibu Paksi sambil tertawa semakin panjang, “aku akan ditertawakan gadis-gadis kecil. Orang yang umbulnya ubanan masih mengenakan kalung susun”

“Apakah kalung susun hanyan boleh digunakan gadis-gadis muda?”

“Memang tidak. Tetapi tentu tidak pantas orang setua ibu mengenakan kalung susun”

“Jika demikian, peniti renteng”

Ibunya menepuk bahu Paksi, katanya, “Kau tahu, aku sudah mempunyai perhiasan cukup banyak. Bahkan yang kau bawa pun masih utuh”

Paksi tersenyum sambil mengangguk, la tahu, ibunya me ang sudah mempunyai perhiasan cukup banyak dan lengkap. Dalam pada itu, Paksi yang tinggal di rumahnya itu memang kadang-kadang merasa terganggu oleh sikap ayahnya. Namun Paksi berusaha untuk selalu menahan dirinya. Ia hanya menundukkan kepalanya saja jika ayahnya tiba-tiba saja marah kepadanya tanpa sebab. Seperti dahulu, ayahnya selalu menyebutnya sebagai pemalas yang tidak mempunyai gairah hidup sama sekali.

“Kau anakku yang sulung, Paksi. Kau harus memberi contoh yang baik bagi adik-adikmu. Selebihnya, anak mereka yang berada dibawah perintahku di Pajang ini tentu akan berkiblat kepadamu”

Paksi hanya dapat menunduk saja. Jika kadang-kadang lidahnya menjadi gemetar untuk menjawab, maka dengan susah payah, Paksi mengekangnya. Apa pun yang dilakukan, tetapi ia adalah ayahnya. Karena itu, maka Paksi wajib menghormatinya.

Dihari-hari berikutnya, Paksi sudah mulai menemui kawan-kawannya kembali. Seorang saja diantara mereka mendengar dari ayahnya, bahwa anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada menerima ganjaran dari Kangjeng Sultan, maka kawan-kawannya telah mendengarnya pula.

“Siapakah yang mengatakan kepadamu?” bertanya Paksi kepada kawannya yang bertanya langsung kepadanya.

“Ayah” jawab kawannya.

“Dari mana ayahmu mengetahui?”

“Ayah hadir di paseban”

Paksi mensarik nafas dalam-dalam. Ayah kawannya itu adalah seorang Rangga.

“Hanya satu kebetulan” jawab Paksi.

“Jadi selama ini kau telah mengembara?” bertanya kawannya yang lain.

“Ya sekedar untuk menambah pengalaman serta pengenalan atas hijaunya tanah ini”

“Bukan main” desis kawannya. Bahkan seorang kawannya berkata “Kalau saja kau mengajak aku. Aku akan ikut bersamamu”

“Lebih banyak membuang waktu”

“Akhirnya kau mendapat anugerah itu”

“Sudah aku katakan. Hanya karena kebetulan saja. Semakin kita tidak akan dapat berharap bahwa kebetulan itu akan datang beberapa kali kepada kita”

“Berapa lama kau mengembara, Paksi?” bertanya kawannya yang lain.

“Setahun lebih sedikit” awab Paksi.

“Dalam setahun kau banyak sekali berubah. Kulitmu menjadi semakin hitam. Tetapi tubuhmu menjadi semakin kekar. Kau nampak lebih tua dari umurmu yang sebenarnya. Bukankah kita sebaya?”

“Ya. Kita sebaya umurku delapan belas sekarang”

“Umurku juga delapan, Tetapi kau nampak jauh lebih matang dari kawan kawan sebaya kita”

“Aku lebih terbakar oleh pengembaraanku yang berat”

“Kau harus mencertitakan apa yang kau alami dalam pengembaraanmu”

Paksi tertawa, katanya, “Lain kali aku akan menceriterakan pengalaman pengembaraanku, tentu tidak akan menarik. Ceriteraku tentu tidak ada ubahnya seperti sebuah keluhan panjang”

Kawan-kawannya tidak mendesaknya, agaknya Paksi masih sangat letih, jika bukan badannya tentu batinnya. sehingga ia masih belum sempat berceritera kepada mereka.

Dalam pada itu, selama menemui kawan-kawannya, Paksi pun tidak melupakan gurunya Ketika ia berangkat mengembara ia datang menemuinya dan minta diri kepadanya. Karena itu setelah ia pulang, maka ia berniat untuk segera menemuinya.

Gurunya nampak sangat gembira menerima kedatangan Paksi. Dengan sifat kebapaan Paksi pun dibimbingnya masuk ke ruang dalam.

“Aku senang melihat kau pulang, Paksi” berkata gurunya, “bukakah kau baik-baik saja selama kau mengembara?”

“Atas doa dan restu guru, aku dalam keadaan baik selama pengembaraanku. Tuhan Yang Maha Penyayang selalu melindungiku. Beberapa kali aku mengalami kesulitan selama aku mengembara. Namun aku selalu mendapat kemampuan untuk mengatasinya”

“Kau harus mengucap syukur, Paksi”

“Ya, guru. Aku bersyukur bahwa aku dapat menghadap guru lagi”

Gurunya menepuk bahu Paksi. Katanya, “Kau telah berubah setelah setahun mengembara. Tubuhmu menjadi sangat kuat. Sementara itu, pengalamanmu tentu sudah mengasah otakmu sehingga menjadi lebih tajam”

“Mudah-mudahan, guru. Tetapi pada dasarnya otakku memang tumpul”

Gurunya tertawa. Katanya, “Kau ingat ketika kau akan berangkat, kau minta diri kepadaku”

“Ya, guru”

“Saat itu aku katakan kepadamu, bahwa kau adalah muridku yang terbaik. Aku berharap bahwa kelak kau akan dapat menggantikan kedudukanku setelah aku menjadi tua dan rapuh”

“Aku tidak pantas menerima kepercayaan seperti itu, guru”

“Kenapa tidak? Jika muridku yang terbaik saja tidak pantas menerima kepercayaan seperti itu, lalu siapakah lagi yang akan pantas menerimanya? Sedangkan jika tidak ada orang yang dapat menggantikan kedudukanku, maka perguruan ini akan berakhir”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tentu ia juga tidak ingin perguruan itu lenyap begitu saja. Tetapi sebenarnyalah, bahwa perguruan itu tidak sepenuhnya sesuai dengan ujud perguruan yang terbaik menurut angan-angan Paksi. Murid-murid dari perguruan itu, tidak sepenuhnya anak-anak muda yang memang ingin berguru. Tetapi seolah-olah sekedar memenuhi kewajiban yang dibebankan oleh orang tua mereka

Paksi itu tersadar ketika gurunya kemudian berkata, “Hal itu jangan kau pikirkan sekarang, Paksi. Masih banyak waktu. Aku masih dapat memimpin perguruan ini untuk beberapa waktu mendatang sambil mempersiapkan segala sesuatunya menghadapi masa depan perguruan ini”

Paksi menarik nafas panjang. Ternyata yang dimaksud gurunya bukan angan-angannya tentang perguruannya, tetapi tentang kepemimpinannya.

“Paksi” berkata gurunya kemudian, “Setelah lebih setahun kau meninggalkan perguruan ini, aku ingin melihat apakaih pengalamanmu telah mematangkan ilmumu. Jika kau tidak keberatan, aku ingin membawamu ke sanggar”

Paksi menjadi berdebar-debar. Ilmunya tentu sudah tidak murni lagi. la telah menyadap ilmu dari seorang guru yang lain, Ki Marta Brewok. Selebihnya seseorang yang tidak dikenalnya telah memberikan pengaruh pula kepada ilmunya. Bahkan ia telah mendapatkan sebuah tongkat yang kemudian dipergunakannya sebagai senjata yang justru menjadi mapan baginya.

Paksi tidak mau mengecewakan gurunya selelah berada di sanggar, karena itu, maka sebelum mereka memasuki sanggar, Paksi telah menceritakan perjalanannya yang panjang, ia bercerita tentang tongkatnya, tentang Ki Marta Brewok dan tengtang Pangeran Benawa yang saat terakhir mengembara bersamanya. Dalam latihan-latihan bersama, mungkin sekali pengaruh ilmu Pangeran Benawa nampak pada ilmunya.

Gurunya tersenyum mendengar cerita Paksi, katanya “Kau telah mendapat anugerah yang besar Paksi, kau telah mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmumu, tentu aku sama sekali tidak merasa kecewa. Dengan demikian, maka kau telah mendapat kekayaan baru. Kekayaan baru itu akan berarti pula bagi perguruan kita ini”

“Ya, guru” Paksi mengangguk.

“Dengan demikian aku menjadi semakin yakin, bahwa kau akan dapat menjadi pemimpin bagi perguruan ini kelak. Karena itu, kita wajib mempersiapkannya. Aku dan terutama kau”

Paksi tidak menjawab bahkan kepalanya tertunduk. Dalam pada itu gurunya pun berkata, “Paksi, marilah. Kita akan berada didalam sanggar”

Sejenak kemudian, maka Paksi pun telah berada didalam sanggar. Sanggar yang kebetulan sedang sepi. Saat tidak seorang pun sedang berada didalamnya.

“Paksi” berkata gurunya, “aku sebenarnya menjadi jemu dengan isi dari perguruan kita ini”

Paksi mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia bertanya, “Maksud guru?”

“Perguruan ini bukan perguruan yang memenuhi syarat. Baik tatanan yang ditrapkan didalamnya maupun isinya. Mereka yang datang di perguruan ini, bukanlah orang-orang yang diharapkan. Mereka datang untuk sekedar datang tanpa dorongan niat yang mantap”

Jantung Paksi terasa berdenyut lebih cepat. Sementara itu gurunya berkata selanjutnya, “Anak-anak para perwira prajurit Pajang itu datang karena keinginan orang tua mereka. Memang ada satu dua orang yang berguru dengan bersungguh-sungguh seperti kau sebelum pergi mengembara. Tetapi yang lain datang untuk sekedar agar tidak dimarahi oleh ayah-ayah mereka. Namun dengan demikian, maka tidak ada kesungguhan yang dapat mendorong mereka untuk menggapai ilmu yang lebih tinggi dari sekedar pantas bagi anak seorang perwira prajurit”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang dipikirkannya itu telah menggelitik jantung gurunya pula. Memang terbersit suatu kebanggaan dihati Paksi, bahwa pikirannya ternyata sejalan dengan pikiran gurunya, sehingga apabila kelak terjadi perubahan tatanan, gurunya akan mempertanggung-jawabkannya.

“Paksi” berkata gurunya selanjutnya, “setidak-tidaknya diperguruan ini akan dipisahkan. Siapakah yang bersungguh-sungguh dan siapakah yang sekedar ikut-ikutan. Aku, sebagai seorang hamba yang ditunjuk untuk memberikan ilmu dasar bagi anak-anak muda dari lingkungan kepemimpinan prajurit Pajang, akan dapat memberikan laporan lebih terperinci dari anak-anak para perwira itu”

Paksi hanya mengangguk-angguk saja. Ia sependapat sepenuhnya dengan gagasan gurunya itu. Tetapi gurunya tentu tidak akan dapat merubah tatanan perguruan itu dengan serta merta, karena perguruan itu didirikan bagi kepentingan para perwira yang ingin melihat anak-anaknya berilmu.

Dalam pada itu, maka guru Paksi itu pun kemudian berkata “Nah, sekarang bersiaplah. Aku ingin melihat sejauh manakah peningkatan ilmumu selama setahun lebih ini”


Paksi pun segera mempersiapkan dirinya. Dilepasnya bajunya dan disingsingkannya kain panjangnya.

“Kau tidak membawa tongkatmu?” bertanya gurunya

“Tidak guru” jawab Paksi.

“Baiklah. Aku akan menjadi pasanganmu berlatih sekarang, agar dengan demikian aku dapat mengerti sedalam-dalamnya, tetaran ilmumu sekarang. Ingat, agar aku benar-benar dapat menjajaginya, kau harus bersungguh-sungguh.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah berada di tengah-tengah sanggar sementara gurunya berkata pula, “Kau dapat mempergunakan apa saja yang ada didalam sanggar ini Paksi. Disini ada beberapa jenis senjata. Disini juga ada beberapa jenis alat-alat yang lain yang dapat kau manfaatkan. Yang penting aku dapat melihat segi-segi kemampuanmu. Kemampuanmu mempergunakan senjata, kesigapanmu memanfaatkan apa saja yang ada di sekelilingmu serta kecepatan penalaranmu menanggapi keadaan yang tiba-tiba”

“Aku akan mencoba, guru”

Demikianlah, maka keduanya pun segera bersiap. Gurunya itulah yang lebih dahulu memancing agar Paksi mulai bergerak.

Demikianlah keduanya pun segera terlibat dalam latihan yang semakin lama menjadi semakin cepat. Gurunya tidak sekedar menangkis dan menghindar, tetapi sekali-sekali ia pun bahkan menyerang. Sekali-sekali bahkan serangan gurunya mengenai tubuhnya, sehingga Paksi menyeringai menahan sakit.

Namun dengan demikian, Paksi telah terpancing untuk menegeluarkan kemampuannya.

Latihan itu pun kemudian berlangsung semakin sengit. Serangan Guru Paksi itu menjadi semakin sering mengenai tubuh Paksi. Kemudian di tempat-tempat yang berbahaya, sehingga Paksi menjadi benar-benar kesakitan.

Beberapa kali Paksi berloncatan surut untuk menghidari seranga-serangan yang datang beruntun. Bahkan akhirnya Paksi menjadi terkurung dan tersudut diujung sanggar.

Namun serangan-serangan gurunya itu tidak mereda. Dalam keadaa tersudut Paksi menjadi semakin sulit untuk menghindari serangan-serangan gurunya.

Beberapa kali Paksi terdorong dan tersandar disudut dinding. Betapapun Paksi berusaha, namun ia tidak dapat melepaskan diri dari sudut sanggar.

Namun tiba-tiba terngiang-ngiang kata-kata gurunya, bahwa ia dapat mempergunakan segalanya yang ada di sanggar itu.

Ketika serangan gurunya datang lagi membadai, maka tiba-tiba saja Paksi pun meloncat, menggapai palang bambu yang menyilang. Kaki Paksi pun segera terayun sementara tubuhnya terlempar beberapa langkah dari sudut sanggar.

Gurunya dengan cepat menanggapi sikap Paksi. Ia pun segera berputar dan siap meloncat memburu Paksi. Namun demikian ia berputar, maka serangan Paksi pun datang dengan derasnya. Kaki Paksi terjulur dengan sepenuh kekuatannya menyerang kearah dada.

Gurunya terkejut mendapat serangan yang demikian cepatnya. Namun dengan sigap gurunya menyilangkan tangannya di-dadanya. Ketika terjadi benturan, gurunya surut setapak. Namun ternyata hanya merupakan ancang-ancang untuk mengerahkan tenaganya, mendorong kaki Paksi yang mengenai tangannya yang bersilang itu.

Paksi lah yang kemudian terdorong. Kakinya yang membentur tangan gurunya yang bersilang itu seakan-akan telah terpantul dengan kuatnya.

Paksi berputar sekali diudara. Kemudian ia jatuh pada kedua kakinya. Demikian kakinya menyentuh tanah, maka Paksi pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah, gurunya telah menyerangnya pula. Semakin lama serangan-serangannya menjadi semakin sengit.

Karena itu, maka Paksi pun harus berloncatan menghindar dan sibuk menangkis. Benturan-benturan telah terjadi. Semakin lama semakin sering. Hampir seluruh tubuh Paksi rasa-rasanya telah tersentuh serangan gurunya yang semakin cepat dan keras. Tulang-tulangnya menjadi nyeri sedangkan persendiannya rasa-rasanya menjadi lemah.

Namun Paksi tidak dapat berhenti. Gurunya masih menyerangnya terus. Bahkan gurunya semakin lama semakin meningkatkan ilmunya pula. Dengan demikian Paksi pun harus mengerahkan kemampuannya, sehingga akhirnya sampai ke kemampuan puncaknya.

Dengan demikian, maka latihan itu menjadi semakin seru. Dalam puncak kemampuannya, Paksi mampu memberikan perlawanan yang berarti. Bahkan sekali-kali serangan Paksi mampu menyentuh tubuh gurunya.

Namun tekanan yang berat membuat Paksi sekali-kali meloncat keatas balok-balok gelugu yang ditanam berdiri tegak dengan ketinggian yang tidak sama, sekali-kali meloncati palang-palang bambu, berayun dan bahkan bergayut pada kerangka atap sanggar itu.

Tetapi dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya, maka keringat Paksi seakan terperas dari tubuhnya.

Latihan itu masih berlangsung beberapa lama, keduanya berloncatan di dalam sanggar dari satu sudut ke sudut yang lain. Dari patok-patok yang ditanam tegak ke palang-palang bambu yang terbujur mendatar. Bergayut dan berayun, melenting dan berputaran di udara.

Ketika tenaga Paksi mulai menyusut, maka serangan-serangan gurunya pun mulai mereda, bahkan kemudian menjadi semakin lamban, sehingga berhenti sama sekali.

Paksi berdiri dengan nafas terengah-engah, namun ternyata bahwa penjajagan itu masih belum selesai, dengan nada berat gurunya pun berkata, “Paksi, ambil senjata apa saja yang kau inginkan”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun agaknya gurunya pun bersungguh-sungguh.

Bahkan ketika Paksi masih berdiri termangu-mangu, maka gurunyalah yang lebih dahulu mengambil senjata. Sebuah pedang yang tidak terlalu panjang.

“Cepat. Aku akan segera mulai. Jika kau terlambat, bukan tanggung jawabku”

Untuk beberapa saat Paksi masih termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja gurunya meloncat sambil menjulurkan pedangnya langsung kearah dada.

Paksi memang agak terkejut. Namun dengan tangkasnya ia pun meloncat kesamping. Sebelum gurunya menyerang lagi, maka Paksi pun segera meloncat memungut senjata yang berada disudut sanggar. Sebuah tongkat.

Agaknya karena kebiasaannya ia bersenjata tongkat, maka diluar sadarnya, ia pun telah memungut tongkat pula dari antara kumpulan senjata itu.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya telah terlibat lagi dalam latihan yang berat, sementara tenaga Paksi sudah mulai menyusut. Sedangkan serangan-serangan gurunya justru datang membadai.

Dengan mengerahkan daya tahannya, Paksi memberikan perlawanan sejauh dapat dilakukan. Bahkan sekali-sekali Paksi sempat juga menyerang. Seperti kata gurunya, ia memang harus bersungguh-sungguh.

Namun akhirnya, gurunya telah meloncat mengambil jarak. Dengan tangannya gurunya memberikan isyarat untuk menghentikan latihan yang berat itu.

Nafas Paksi menjadi semakin deras mengalir. Namun guru-nya pun kemudian memberikan isyarat pula kepadanya, untuk mengatur pernafasannya sebagaimana dilakukan oleh gurunya.

Baru beberapa saat kemudian, gurunya itu pun berdesis, “Luar biasa, Paksi. Dalam waktu setahun, ilmumu sudah maju demikian pesatnya. Seandainya kau hanya berguru kepadaku, aku tidak akan sanggup mendorongmu untuk melakukan loncatan sepanjang yang lelah kau lakukan”

Paksi tidak menjawab. Kepalanya menunduk. Dengan nada berat Paksi berkata, “Aku mohon guru menunjukkan kepadaku, apakah yang sebaiknya aku lakuan”

Gurunya menepuk bahu Paksi sambil berkata, “Kau akan sering datang di sanggar ini lagi, Paksi. Karena itu, aku tidak tergesa-gesa untuk berbicara tentang langkah-langkah yang harus kau lakukan. Tetapi kau telah membuat aku semakin yakin, bahwa kau harus dipersiapkan untuk memimpin perguruan ini di masa mendatang. Tetapi seperti aku katakan, perguruan ini harus berubah.

Paksi tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya justru menunduk semakin dalam.

“Nah, beristirahatlah Paksi. Aku justru menjadi kagum kepadamu. Bukan saja kemampuanmu dalam olah kanuragan sudah menjadi mapan, kau pun sudah mendalami laku untuk menguasai yang tinggi. Kau tentu tidak akan mempergunakan dalam latihan penjajagan ini. Tetapi aku dapat menangkapnya, karena kau memerlukan waktu untuk mematangkan ilmu itu. Kau tentu dapat melakukannya meskipun orang yang kau anggap salah seorang gurumu itu tidak berada disini sekarang. Namun mungkin aku dapat membantumu”

“Guru” berkata Paksi selanjutnya, “Orang yang aku sebut bernama Ki Marta Brewok itu berada di istana”

“Di istana?”

“Ya, di kesatriaan”

Dengan demikian kau masih dapat menghubunginya, aku akan menyediakan sanggarku bagimu untuk menyempurnakan ilmumu bersama Ki Marta Brewok, aku akan dapat membantumu sampai ke tempat yang tertinggi”

Paksi mengangguk-angguk hormat sambil berkata, “Terima kasih guru, aku memang masih dapat menghubungi Ki Marta Brewok. Tetapi apakah aku masih akan dapat selalu datang ke sanggar, inilah yang merisaukan aku”

“Kenapa?”

“Guru, ayahku kadang-kadang bersikap aneh. Aku tidak mengerti apakah yang sebenarnya dikehendaki atas diriku. Kadang-kadang aku merasa bahwa ayah tidak senang aku berada dirumah”

“Mungkin memang ada sesuatu yang tidak kau pahami. Tetapi sendainya kau harus pergi, maka kau akan dapat tinggal disini”

Paksi menarik nafas panjang. Sekali lagi ia berkata, “Terima-kasih guru. Tetapi jika ayah memerintahkan kepadaku untuk melakukan satu tugas tertentu, maka aku tentu tidak akan dapat tinggal disini”

“Jangan berprasangka, Paksi. Mudah-mudahan kau tidak harus pergi lagi. Jika cincin itu pernah menjadi alasan ayahmu mengusirmu, sekarang tentu tidak lagi. Cincin itu sudah berada di istana. Ayahmu tentu tidak akan berani memerintahkan kepadamu dan kepada siapa pun untuk mengambil cincin itu”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan guru. Aku akan merasa sangat senang jika aku mendapat kesempatan cukup luas untuk sering berada di sanggar ini”

“Jika kau sempat, Paksi. Temuilah Ki Marta Brewok. Aku mempersilahkannya singgah di sanggarku yang buruk ini. Kehadirannya akan sangat berarti bagiku. Tentu juga bagimu”

“Ya, guru. Aku akan menemui Ki Marta Brewok di kasatrian”

“Nah, sekarang kita akan beristirahat. Setelah keringatmu kering, barangkali kau akan mandi lebih dahulu. Bukankah dahulu kau terbiasa mandi disini? Pakiwan itu masih berada di tempatnya. Sumur itu airnya masih jernih seperti dahulu”

Paksi tertawa. Katanya, “Ya, guru. Aku akan mandi” Sejenak kemudian Paksi sudah berada di belakang sanggar. Terdengar senggot timba berderit ketika Paksi kemudian mengisi jambangan di pakiwan.

Namun sambil menimba, Paksi sempat merenungi latihan penjajagan yang baru saja dilakukan. Ia adalah murid yang sudah lama berguru kepada gurunya itu. Namun setelah ia pulang dan pengembaraan, rasa-rasanya ia mengenali sesuatu yang baru pada gurunya. Unsur-unsur dari ilmunya yang dahulu belum pernah dikenalinya.

Mungkin dahulu, setahun yang lalu, guru masih menganggap aku belum waktunya untuk diperkenalkan dengan unsur-unsur gerak itu. Namun sekarang, setelah guru menganggap ilmuku semakin maju, maka unsur-unsur gerak itu mulai muncul” berkata Paksi didalam hatinya selagi tangannya sibuk menarik senggot timba.

Tetapi bukan hanya pengenalannya yang baru itu saja yang telah direnunginya. Apa yang dikenalinya pada gurunya itu. Rasa-rasanya telah pernah dikenalinya pula disepanjang pengembaraanya selama setahun lebih sedikit itu.

“Ah, tenlu saja sebuah kemiripan sifat dan watak dari unsur-unsur gerak itu” berkata Paksi didalam hatinya, “Tetapi mungkin unsur-unsur gerak itu bersumber dari mata air yang sama tetapi sudah mengalami perkembangan yang berbeda setelah menempuh alur perjalanan panjang”

Paksi pun kemudian tidak memikirkannya lagi. Tangannya masih sibuk dengan senggot timbanya.

Namun beberapa saat kemudian, jambangan di pakiwan itu pun sudah menjadi penuh.

Kelika Paksi akan memasuki pakiwan, ia pun tertegun. Seorang yang pernah dikenalnya sebelum ia pergi, datang mendatanginya, seseorang yang telah lama berada di perguruan itu.

“Paksi” desis orang itu, “bukankah kau Paksi Pamekas?”

“Ya, paman” jawab Paksi.

Orang itu mendekatinya sambil menepuk bahunya. Katanya, “Sudah lama sekali kau tidak nampak Paksi. Apakah kau sedang bepergian jauh?”

“Ya, paman. Aku baru saja pulang dari pengembaraanku”

“Gurumu juga mengatakan kepadaku, bahwa kau baru saja menjalankan tugas yang dibebankan oleh ayahmu kepadamu” berkata orang itu, “syukurlah bahwa kau sudah pulang dengan selamat”

“Yang Maha Penyayang melindungku, paman”

“Gurumu sangat mengharapkan bahwa pada suatu saat kau datang kembali ke perguruan ini.Ternyata kau sekarang sudah kembali, Paksi”

“Ya, paman. Tetapi nampaknya perguruan ini menjadi semakin sepi”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ya. Perguruan ini menjadi semakin sepi. Jarang ada seorang cantrik yang bersungguh-sungguh sebagaimana kau. Yang lain datang keperguruan ini hanya sekedar untuk menyenangkan hati orang tuanya”

“Tetapi bukankah kawan-kawan itu masih juga datang?”

“Ya, kadang-kadang”

“Aku sudah bertemu dengan beberapa orang kawan. Tetapi kami tidak berbicara tentang perguruan ini”

“Tentu mereka lebih tertarik untuk mendengarkan pangalamanmu selama mengembara”

“Ya. Mereka juga lebih tertarik berbicara tentang kemurahan hati Kangjeng Sultan”

“Tentu. Mereka tentu mempertanyakan ganjaran yang telah kau terima”

“Ya, paman. Sehingga kami lupa berbicara tentang perguruan ini”

“Mereka sudah kehilangan gairah mereka. Apalagi selama gurumu pergi”

“Guru pergi kemana?” bertanya Paksi dengan wajah yang berkerut.

“Gurumu pergi ke kaki Gunung Lawu, Paksi. Ada sesuatu yang penting harus dijalaninya. Menurut gurumu ada laku yang masih terhutang, sehingga ia harus melunasinya di kaki Gunung Lawu”

“Sejak kapan guru pergi?”

Tidak lama setelah kau meninggalkan perguruan ini”

“Kapan guru kembali?”

“Belum terlalu lama, Paksi”

Jantung Paksi menjadi berdebar-debar. Tetapi Paksi berusaha untuk tidak memberikan kesan apa pun di wajahnya Bahkan kemudian Paksi pun bertanya, “Jadi bagaimana dengan perguruan ini selama guru pergi?”

“Akulah yang dibebani tugas untuk menggantikannya selama gurumu pergi. Tetapi kau tahu, aku bukan apa-apa. Meskipun demikian untuk sekedar mendasari ilmu kawan-kawanmu disini, aku masih mampu. Setidak-tidaknya menurut penilaian gurumu, tetapi wibawaku sama sekali tidak memadai sehingga kawan-kawanmu itu tidak lagi merasa terikat oleh perguruan ini”

“Tetapi bagaimana dengan orang tua mereka?”

“Mereka menjadi sangat kecewa. Sebagian dari mereka menjadi acuh tak acuh. Tetapi sebagian yang lain masih mengirimkan anak-anak mereka kemari. Mereka masih berharap guru datang kembali, sementara mereka juga menganggap aku dapat mengisi kekosongan selama gurumu pergi”

Paksi mengangguk-angguk.

“Tetapi akulah yang hampir melarikan diri”

“Kenapa?”

Orang-orang tua kawanmu itu sebagian besar adalah perwira prajurit itu telah menunjuk beberapa orang untuk mengujiku, apakah aku pantas mewakili gurumu untuk sementara”

“O”

“Akulah yang hampir mati kehabisan nafas, aku harus mengalami penjajagan dari tiga orang yang mewakili mereka”

“Tetapi, bukankah paman dianggap memadai?”

“Ya, akhirnya memang demikian, tetapi sejak aku mewakili gurumu, ikatan perguruan ini semakin longgar. Meskipun aku dianggap mampu dari sisi kemampuanku, tetapi dari sisi lain, aku telah gagal. Mudah-mudahan setelah gurumu kembali, perguruan ini dapat pulih kembali”

“Mudah-mudahan, paman”

“Tetapi gurumulah yang menjadi kecewa”

“Kenapa?”

“Demikian gurumu pulang, maka ia sekan-akan dihadapkan pada sebuah pengadilan yang dibuat oleh para perwira ilu. Gurumu dianggap meninggalkan tugasnya dengan tidak bertanggung-jawab”

“Jadi?”

“Gurumu dituntut untuk memulihkan citra perguruan ini sehingga anak-anak mereka kembali lagi berguru dengan tertib”

“Tetapi apakah sejak semula perguruan ini tertib?”

“Aku mengerti maksudmu”

“Bukan maksudku menyalahkan guru”

“Ya. Kau tidak menyalahkan guru, karena hak dan wewenang gurumu tidak jelas di perguruan ini. Gurumu seakan-akan dipungut begitu saja dan ditempatkan disini. Gurumu tidak dapat menolak, karena kekancingan yang diterimanya langsung, dari Kangjeng Sultan. Perintah raja adalah keharusan untuk dijalankan. Namun perintah itu tidak dilengkapi dengan tertib pelaksanaannya, termasuk kewajiban mereka yang mengirimkan anaknya berguru di perguruan ini”

“Apakah hal seperti itu tidak sebaiknya mengalami perubahan sehingga segala sesuatunya dapat berjalan lebih wajar”

“Tentu. Cepat atau lambat. Gurumu sudah mulai memikirkan jalan terbaik untuk melakukannya”

Paksi mengangguk kecil. Namun orang itu pun kemudian berkata, “Sudahlah Paksi, bukankah kau ingin mandi? Sesudah mandi, kita dapat berbincang panjang”

“Baik, paman” jawab Paksi.

Orang itu pun kemudian meninggalkan Paksi yang langsung meluruk ke pakiwan.

Paksi termangu-mangu sejenak. Ceritera orang itu sangat menarik perhatiannya. Orang itu memang pembantu dekat gurunya. Tetapi menurut pendapat Paksi, orang itu masih belum cukup untuk menggantikan gurunya, melatih kawan-kawannya yang berguru di peguruan itu. Tetapi sekedar untuk mengisi kekosongan, mungkin orang itu dapat melakukannya.....

“Guru telah meninggalkan perguruan ini selama satu tahun, tetapi tidak lama setelah aku meninggalkan perguruan ini. Dan baru kembali beberapa saat sebelum aku kembali”

Namun Paksi itu pun kemudian berdesis, “Tetapi guru pergi ke kaki Gunung Lawu”

Meskipun demikian, hal itu merupakan satu pertanyaan yang ingin dicari jawabnya, “Aku akan menemui Ki Marta Brewok di kasatrian sebelum Ki Marta Brewok itu pergi”

Demikianlah setelah Paksi selesai mandi dan membenahi pakaiannya, maka kemudian ia pun duduk di serambi samping bersama gurunya dan pembantunya. Mereka berbicara panjang tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lakukan untuk menyempurnakan perguruan itu.

“Aku akan mohon Pangeran Benawa untuk membantu guru” berkata Paksi, “Pangeran Benawa akan dapat mohon ayahandanya untuk memberikan wewenang lebih banyak kepada guru untuk mengatur perguruan ini, sehingga perguruan ini akan benar-benar menjadi sebuah perguruan yang diatur dari dalam Perguruan itu sendiri”

“Apakah Pangeran Benawa akan mendengarkan pendapatmu itu, Paksi? Seberapa jauh perkenalanmu dengan Pangeran itu?”

“Pangeran Benawa adalah seorang Pangeran yang sangat baik, guru. Mungkin karena aku secara kebetulan dapat mengembalikan cincin yang hilang itu”

“Aku berharap” berkata gurunya, “mudah-mudahan kita mendapat jalan”

Meskipun demikian, Paksi masih saja ragu-ragu tentang dirinya sendiri. Jika saja ayahnya berniat untuk menyingkirkannya, maka ia harus pergi. Jika ayahnya sekedar mengusirnya, maka ia justru akan dapat menetap bersama gurunya. Tetapi jika ayahnya memberikan tugas yang mengharuskannya pergi, maka ia memang harus pergi”

Beberapa saat kemudian, maka Paksi pun mohon diri. Ia berjanji untuk datang kembali di keesokan harinya.

“Mudah-mudahan aku benar-benar dapat datang”

“Kenapa kau ragu?” bertanya gurunya.

“Aku tidak meragukan diriku sendiri, guru. Tetapi aku kadang-kadang tidak dapat membagi waktuku sendiri. Jika ayah memerintahkan kepadaku untuk melakukan sesuatu, maka aku tidak akan dapat menolak”

Gurunya tersenyum. Katanya, “Kau sudah menjadi semakin dewasa, Paksi. Pada suatu saat, sikap ayahmu akan berubah”

“Tetapi ayah masih memperlakukan aku seperti kanak-kanak. Bahkan di mata ayahku, adikku nampaknya lebih dewasa dari aku. Karena itu, pekerjaan yang dilakukan oleh kanak-kanak pun kadang-kadang harus aku lakukan”

“Kau harus bersabar, Paksi. Semuanya itu akan dapat menjadi laku bagimu untuk mencapai cita-citamu di masa depan”

Paksi mengangguk kecil sambil menjawab “Mudah-mudahan, guru. Tetapi aku sendiri tidak pernah meyakini satu cita-cita di masa depanku. Hidupku seakan-akan begitu saja bergulir tanpa tujuan”

“Paksi. Bagaimanapun juga kau mempunyai pegangan. Jika bukan satu keinginan dimasa depan, kau tentu mempunyai pegangan bagi sikap dan tingkah lakumu”

Paksi mengangguk kecil. Katanya, “Ya, guru”

“Nah, pegang itu. Jangan sampai lepas”

“Ya, guru”

Demikianlah, sejenak kemudian, maka Paksi pun telah meninggalkan rumah gurunya. Tetapi selagi ia sudah berada diluar rumah, maka Paksi tidak segera pulang. Tetapi ia telah pergi ke istana lewat regol belakang menuju ke kasatrian.

Ketika seorang prajurit menghentikannya dan bertanya kepadanya. maka Paksi pun menjawab, “Aku ingin menghadap Pangeran Benawa. Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Ada semacam keragu-raguan dalam hatinya untuk membiarkan Paksi masuk ke gerbang kesatrian.

“Apakah kau sudah membuat janji dengan Pangeran Benawa?” bertanya prajurit itu.

Paksi menjadi bimbang juga. Namun akhirnya ia berkata dengan jujur, “Belum”

“Jika demikian, tunggulah disini. Aku akan menghadap dan memberitahukan kepada Pangeran Benawa, bahwa seseorang mohon waktu untuk bertemu”

“Baik” jawab Paksi.

“Siapa namamu?”

“Paksi Pamekas” Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Ia mendengar dari beberapa orang tentang seorang anak muda yang bernama Paksi Pamekas yang telah menerima beberapa ganjaran dari Kangjeng Sultan.

Tetapi prajurit itu tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun segera memasuki gerbang paseban untuk menyampaikan niat Paksi, sementara seorang prajurit lain yang bertugas berkata, “Silahkan duduk di gardu itu, Ki Sanak”

Paksi pun kemudian duduk diatas selembar tikar didalam sebuah gardu yang rendah.

Beberapa saat kemudian, maka prajurit yang menyampaikan maksudnya untuk menemuui Pangeran Benawa itu telah keluar lagi dari gerbang kesatrian, ia pun kemudian menemui Paksi sambil berkata, “Silahkan Ki Sanak, Pangeran Benawa tidak berkeberatan menerima Ki Sanak di kesatrian”

“Terima kasih” sahut paksi sambil bangkit berdiri.

Di kesatrian Paksi telah diterima langsung oleh Pangeran Benawa, bukan hanya Pangeran Benawa, tetapi juga oleh Ki Marta Brewok.

“Ada sesuatu yang penting Paksi?” bertanya Pangeran Benawa.

“Hamba hanya ingin menyampaikan sebuah cerita yang barangkali menarik bagi Pangeran Benawa”

“Cerita tentang apa?”

“Tentang sebuah perguruan yang didirikan khusus bagi anak para perwira prajurit Pajang”

“Maksudmu?”

“Paksi kemudian telah bercerita tentang sebuah perguruan yang keadaannya memprihatinkan.

Pangeran Benawa mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bahkan kemudian Pangeran Benawa itu pun mengangguk-angguk, katanya, “Perguruan ini memang memerlukan perhatian”

“Hamba mohon Pangeran melihat sendiri keadaan perguruan itu” berkata paksi selanjutnya

“Bukankah perguruan itu dipimpin oleh Ki Panengah?”

“Ya Pangeran, perguruan itu memang dipimpin oleh Ki Panengah”

“Baik Paksi, aku akan menemui Ki Panengah, aku tahu bahwa Ki Panengah adalah salah seorang yang berilmu tinggi, aku akan mohon agar perguruan mendapat perhatian yang lebih besar

“Juga mengenai tatanan yang berlaku, jika perguruan itu tidak mempunyai tatanan yang tegas, maka untuk selanjutnya perguruan itu tidak akan menjadi besar”

“Aku mengerti, Paksi”

“Soalnya, bagaimana mengatasi sikap para perwira yang mengirimkan anak-anaknya ke perguruan itu”

“Maksudmu?”

“Pada umumnya murid-murid dari perguruan itu adalah anak para perwira prajurit Pajang. Para perwira itulah yang seakan-akan berwenang mengatur tatanan didalam perguruan itu. Tanpa menghiraukan kemampuan dan kesungguhan anak-anak mereka yang mereka kirimkan ke perguruan itu”

“Jadi harus ada tangan yang lebih kuat yang menentukan tatanan di perguruan itu. Begitu maksudmu?”

“Hamba Pangeran”

“Baik. Setelah aku melihat perguruanmu, aku akan menghadap ayahanda. Bukankah begitu maksudmu?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya kemudian, “Bagaimana jika kita pergi menemui Ki Panengah sekarang?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Marta Brewok sambil berkata, “Guru juga ingin bertemu dengan Ki Marta Brewok”

“Aku?” bertanya Ki Marta Brewok, “kenapa Ki Panengah itu ingin bertemu dengan aku?”

Paksi pun kemudian melengkapi ceriteranya dengan latihan penjajagan yang dilakukan oleh gurunya. Lalu katanya, “Guru melihat bahwa aku telah mewarisi ilmu dari Ki Marta Brewok”

“Gurumu marah?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Guru justru menganggap bahwa aku telah beruntung dapat menyadap ilmu dari orang lain kecuali guru. Menurut guru, ilmuku akan menjadi semakin lengkap”

“Jadi, apa maksud gurumu ingin bertemu dengan aku?”

“Ki Marta Brewok akan mendapat keterangan dari guru sendiri nanti, setelah Ki Marta Brewok menemuinya”

Ki Marta Brewok mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, aku akan menemui gurumu. Jika Pangeran Benawa akan pergi ke rumah Ki Panengah itu sekarang, aku akan menyertainya”


“Ya” sahut Pangeran Benawa, “bukankah waktu kita luang”

“Hamba Pangeran” jawab Ki Marta Brewok yang di istana itu bernama Ki Waskita.

”Bagaimana dengan kau Paksi? Apakah kau masih mempunyai kesempatan sekarang?”

“Marilah Pangeran. Hamba akan mengantar Pangeran pergi ke rumah guru”

Ternyata Pangeran Benawa tidak menunda-nunda waktu, saat itu juga Paneran Benawa, Paksi dan Ki Marta Brewok telah meninggalkan kasatrian dengan naik kuda. Paksi dan Ki Marta Brewok diperkenankan mempergunakan kuda Pangeran Benawa pula.

Kedatangan mereka disambut ramah dengan guru Paksi, mereka dipersilahkan naik ke pendapa dan kemudian duduk di pringgitan.

“Hamba tidak mengira, begitu cepat Pangeran datang ke pondok hamba” berkata Ki Panengah sambil membungkuk hormat.

Pangeran Benawa tersenyum, katanya, “Paksi telah datang kepadaku, ia telah menceritakan segala segala sesuatu tentang perguruan ini serta latihan penjajagan yang dilakukan oleh Ki Panengah”

“Hanya sekedarnya, Pangeran”

“Karena itu aku telah datang kemari bersama dengan Ki Waskita yang juga kebetulan berada di Kesatrian”

Ki Panengah mengerutkan dahinya, dengan ragu ia pun bertanya, “Menurut Paksi, yang berada di Kesatrian adalah Ki Marta Brewok?”

Pangeran Benawa tertawa, Katanya, “Paksi memang mengenal Ki Waskita dengan Ki Marta Brewok”

“Hamba mohon maaf Pangeran” desis Ki Panengah. Kepada Ki Marta Brewok, Ki Panengah pun berkata, “Aku mohon maaf, Ki Waskita. Aku tidak mengerti bagaimana aku harus menyebut”

“Terserah saja, Ki Panengah. Bagiku tidak ada bedanya, apakah aku dipanggil Ki Waskita atau Ki Marta Brewok”

“Baiklah aku memanggil sebutan yang sebenarnya, Ki Waskita. Aku mohon maaf, bahwa Paksi selama ini telah menyebut dengan Ki Marta Brewok.

“Bukan salahnya. Aku memang memperkenalkan diriku dengan nama Ki Marta Brewok”

Ki Panengah tersenyum sambil berkata kepada Paksi, “Sebaiknya kau sekarang tidak menyebutnya dengan Ki Marta Brewok, Paksi. Sebaiknya kau juga memanggil dengan nama Ki Waskita. Bukankah itu lebih pantas?”

Ki Waskita justru tertawa. Katanya, “Ia sudah terbiasa memanggilku Ki Marta Brewok. Biarlah ia tetap menyebutku dengan nama itu. Aku juga merasa lebih mapan dipanggil Paksi dengan sebutan Ki Marta Brewok”

Ki Panengah dan Ki Marta Brewok pun tertawa pula.

Paksi juga tertawa pendek. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang aneh pada kedua orang gurunya. Apalagi ketika kemudian Ki Panengah itu pun berkata, “Paksi, duduklah kau disini. Aku yang telah menjajagi ilmumu, akan berbicara langsung dengan Ki Waskita. Mungkin akan terdapat satu kesimpulan yang akan sangat berarti bagimu”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun Pangeran Benawa- pun kemudian berkata, “Aku akan menemanimu duduk disini, Paksi. Biarlah kedua orang yang telah mewariskan ilmunya kepadamu itu membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang barangkali sangat berarti bagimu”

“Ampun, Pangeran” sahut Paksi, “yang hamba maksudkan pertama-tama adalah pembicaraan tentang perguruan ini. Tentang masa depannya serta tatanan yang terbaik. Bukan tentang diri hamba sendiri”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Keduanya juga tentu akan membicarakan kemungkinan itu. Kita percayakan saja kepada mereka yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Pangeran Benawa itu pun kemudian berkata, “Silahkan Ki Panengah. Mudah-mudahan pembicaraan antara Ki Panengah dan Ki Waskita akan menghembuskan angin yang segar bagi perguruan serta bagi Paksi Pamekas.

Demikianlah, maka kedua orang guru Paksi itu pun segera masuk ke ruang dalam Paksi yang duduk di pringgitan bersama Pangeran Benawa itu. Seakan-akan tanpa sengaja telah mengtrapkan Aji Sapta Pangrungu.

Paksi masih mendengar suara tertawa di belakang pintu pringgitan, namun suara-suara berikutnya seakan-akan telah tertutup bagi telinganya walaupun ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungunya.

Tentu Ki Marta Brewok telah memberikan isyarat kepada gurunya, kedua-duanya mempunyai kemampuan menyerap bunyi, sehingga pembicaraan itu hanya mereka dengar berdua atau mereka telah pergi ke sanggar, sehingga telah melampaui jarak jangkau Aji Sapta Pangrungunya.

Yang kemudian didengar oleh Paksi adalah kata-kata Pangeran Benawa, “Kau tidak usah menjadi gelisah, Paksi kau harus percaya kepada kedua orang gurumu itu”

“Tentu Pangeran” jawab Paksi, “hamba percaya kepada keduanya. Tetapi yang kurang enak di hati hamba, justru bahwa kedua orang guru hamba itu lebih memikirkan hamba dari pada perguruan ini”

“Perguruan ini memang memerlukan pembenahan Paksi. Pembenahan itu tentu saja tidak sekedar pada tatanannya, pada tata tertibnya, tetapi juga pada orang-orang yang menangani perguruan ini”

“Maksud Pangeran? Bukankah yang menangani perguruan ini adalah guru. Ki Panengah?”

“Ya. Tentu Ki Panengah tidak dapat membenahinya sendiri”

“Di perguruan ini ada paman Windu, yang selama ini membantu menangani perguruan ini. Bahkan ketika guru pergi ke kaki Gunung Lawu, paman Windulah yang mewakilinya.

“Gurumu pergi ke kaki Gunung Lawu?”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Hamba tidak tahu, Pangeran. Menurut paman Windu, guru telah pergi ke kaki Gunung Lawu. Waktunya hampir sama dengan waktu pengembaraanku”

Pangeran Benawa mengerutkan dahinya, sementara Paksi berkata selanjutnya, “Guru berangkat beberapa saat setelah hamba pergi mengembara. Guru kembali ke perguruan ini hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan hamba kembali di rumah orang tuaku”

“Satu kebetulan” desis Pangeran Benawa.

“Tentu satu kebetulan” sahut Paksi.

Pangeran Benawa mengerutkan dahinya. Paksi memang lantip.

Agaknya Paksi menghubungkan kepergian gurunya dengan pengembaraannya.

Sementara kedua gurunya berbicara di ruang dalam, maka Pangeran Benawa berbincang dengan Paksi tentang kemungkinan-kemungkinan bagi perguruan yang dipimpin oleh Ki Panengah itu.

“Kau benar Paksi. Tidak ada ikatan apa-apa disini. Tetapi kau juga benar, bahwa ini bukan salah gurumu. Para perwira mengirimkan anak-anaknya berguru pada Ki Panengah terlalu banyak ikut campur. Mereka hanya mendengarkan pendapat anak-anak mereka yang ingin mendapat berbagai macam kemudahan. Anak-anak muda itu tidak dapat membedakan antara sekedar pergi berguru dengan usaha menguasai berbagai macam ilmu. Apakah itu ilmu pengetahuan atau kanuragan”

Karena itu hamba datang menghadap Pangeran”

“Baiklah. Kita menunggu kesimpulan pembicaraan antara kedua orang gurumu itu. Hasilnya akan aku sampaikan kepada ayahanda. Jika ayahanda yang menentukan tatanan di perguruan ini atau bahkan ayahanda memerintahkan melepaskan perguruan ini untuk mengatur dirinya sendiri, maka segala sesuatunya akan berjalan lebih baik”

“Hamba Pangeran. Hamba sangat mengharapkan, meskipun kata guru, segala sesuatunya tidak akan dapat dilakukan dengan serta merta”

“Ya. Setidak-tidaknya menunggu langkah yang akan diambil oleh ayahanda. Tetapi aku akan dapat mengusulkan arahnya”

Paksi mengangguk-angguk sambil bergumam, “Hamba dan seluruh murid perguruan ini akan sangat berterima kasih, Pangeran”


“Perguruan ini tentu tidak akan menjadi sesepi ini”

“Sejak guru pergi, perguruan ini diserahkan kepada paman Windu, kemudian perguruan ini menjadi sepi. Ketika kemudian guru pulang, maka guru pun telah diadili oleh para perwira yang mengirimkan anak-anaknya berguru disini”

“Karena gurumu pergi selama setahun?”

“Ya. Tetapi guru pun telah mengaku salah. Para perwira itu telah memerintahkan kepada guru untuk memperbaiki citra perguruan ini, agar anak-anak mereka bersedia untuk berguru lagi. Nampaknya mulai permulaan bulan, guru akan mulai lagi”

“Tetapi sebaiknya sekaligus perguruan ini mengetrapkan tatanan baru”

“Bukankah itu tergantung pada keputusan Kangjeng Sultan”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk.

Ternyata pembicaraan antara kedua orang yang dianggap guru oleh Paksi itu tidak terlalu lama. Selagi Paksi dan Pangeran Benawa masih berbincang tentang perguruan itu, keduanya pun kemudian telah keluar dari ruang dalam.

Demikian mereka duduk bersama Pangeran Benawa dan Paksi maka Pangeran Benawa pun bertanya, “Apakah sudah ditemukan satu kesimpulan?”

“Rencana Ki Panengah sudah baik, Pangeran” jawab Ki Waskita, “demikian aku mendengar rencananya, maka aku pun segera menyetujuinya. Karena itu, kami tidak memerlukan waktu yang panjang”

“Apakah Ki Waskita benar-benar sependapat, atau sekedar pembicaraan itu cepat selesai”

Ki Waskita tertawa berkepanjangan, sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Katanya, “Pangeran memang aneh. Tetapi barangkali kedua-duanya”

Ki Panengah pun tersenyum. Katanya, “Bagaimanapun juga, kesimpulannya memang sangat memuaskan bagi kami. Entah bagi pihak yang lain”

Pangeran Benawa pun tertawa pula. Katanya, “Mudah-mudahan pihak lain juga menjadi puas karenanya. Setidak-tidaknya dengan bekal ini aku akan dapat menghadap ayahanda”

Paksi mengerutkan dahinya. Paksi pun ikut tertawa pula. Tetapi ada kesan yang lain dari pembicaraan itu. Rasa-rasanya, Ki Panengah dan Ki Waskita sudah bukan lagi orang yang baru saja berkenalan.

Tetapi Paksi tidak bertanya. Siapa pun mereka, tetapi mereka telah membimbingnya sehingga ia memiliki kemampuan yang tinggi. Bahkan keduanya juga memberikan pengetahuan bukan saja ilmu kanuragan. Tetapi juga ilmu yang lain.

Beberapa saat kemudian, maka Pangeran Benawa pun telah mohon diri. Demikian pula Ki Waskita dan Paksi.

“Kau harus pergi ke kasatrian dahulu, Paksi” berkata Pangeran Benawa.

“Ya, Pangeran. Hamba harus mengembalikan kuda Pangeran”

“Meskipun mungkin pulang ke rumahmu dan pergi ke kesatrian, justru lebih dekat pulang kerumahmu”

“Kita dapat lewat di depan rumah Paksi, Pangeran” berkata Ki Waskita, “biarlah hamba yang kemudian menuntun kuda itu kembali ke kasatrian”

“Tidak, tidak Ki Marta. Biarlah aku pergi ke kasatrian” sahut Paksi dengan serta merta.

Ki Waskita tersenyum Katanya, “Baiklah. Agaknya kau sangat menghormati orang setua aku ini”

Bertiga mereka pun kemudian meninggalkan rumah guru Paksi itu kembali ke kesatrian.

Paksi tidak terlalu lama berada di kesatrian, selelah mengembalikan kudanya di kandang dan menyerahkan kepada seorang pekathik, maka Paksi pun minta diri.

“Sering-sering datang kemari, Paksi” berkata Pangeran Benawa.

“Hamba Pangeran. Hamba ikan sering datang mengunjungi Pangeran”

Beberapa saat kemudian, Paksi pun telah meninggalkan kesatrian. Ia sudah terlalu lama pergi. Mungkin ayahnya akan bertanya-tanya kepadanya, kemana saja ia pergi. Ketika ia memasuki regol rumahnya, terasa dada Paksi menjadi berdebar-debar, Paksi sendiri merasa heran, bahwa setiap kali hal itu terjadi, meskipun Paksi sadar, bahwa ia masuk kedalam rumahnya sendiri. Rumah orang tuanya, dimana ibu, ayah dan adik-adiknya tinggal.

Sebenarnyalah ketika Paksi memasuki pintu seketeng, ayahnya kebetulan berada di longkangan. Demikian Paksi muncul, maka ayahnya segera membentaknya, “Paksi. Kemana saja kau selama ini? Kerjamu hanya berkeliaran saja kesana kemari. Kenapa kau tidak mempergunakan waktumu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Kau sudah menjadi semakin besar. Semakin dewasa. Apakah kau masih saja bersikap seperti kanak-kanak yang kerjanya sekedar bermain di alun-alun atau pergi ke sungai mengganggu gadis-gadis yang sedang mandi? Kau tidak boleh membanggakan dirimu sebagai anak seorang Tumenggung, sehingga kau boleh berlaku apa saja dihadapan rakyat kecil”

Paksi tidak memotong kata-kata ayahnya. Dibiarkannya ayahnya membentak-bentak, baru kemudian setelah ayahnya selesai, Paksi menyahut, “Ayah. Aku baru saja pergi menemui guru. Aku ingin kembali keperguruan setelah hampir setahun aku meninggalkannya. Bermacam-macam pertanyaan harus aku jawab. Bahkan guru juga ingin mendengar kisah pengembaraanku”

“Meskipun selama lebih dari setahun kau pergi, tidak ada artinya sama sekali bagi peningkatan ilmumu. Gurumu juga pergi setahun. Ia begitu saja meninggalkan perguruan tanpa bertanggung-jawab sama sekali”

“Guru baru akan mulai lagi”

“Gurumu adalah jenis orang yang sangat mementingkan diri sendiri”

“Tetapi bukankah ayah yang mengirimkan aku untuk berguru kepadanya bersama beberapa orang kawanku”

“Kau ingin menyalahkan aku?”

“Tidak ayah”

“Tetapi sejak permulaan bulan depan, gurumu tidak akan dapat bermalas-malasan lagi. Ia harus benar-benar bekerja keras. Melatih cantrik-cantriknya sehingga menjadi anak-anak muda yang berilmu. Sebelumnya, gurumu bekerja sesuka hatinya. Berapa tahun kau berguru kepadanya. Dan apa yang sudah kau dapatkan selain kemalasan?” ayahnya berhenti sejenak. Lalu kalanya pula, “Kau anak seorang prajurit Paksi. Meskipun kau kelak tidak menjadi seorang prajurit, tetapi kau harus memiliki ilmu kanuragan seperti kawan-kawanmu. Jika kau tidak terlalu malas, maka dibawah asuhan gurumu yang sama, kau seharusnya memiliki ilmu yang seimbang dengan yang dimiliki oleh kawan-kawanmu”

Paksi tidak menjawab. Bahkan ia pun telah menundukkan kepalanya. Baru setelah ayahnya puas, maka Paksi pun melangkah masuk keserambi samping.

Paksi tertegun ketika ia melihat kedua orang adiknya berada di serambi.

“Kenapa ayah marah-marah saja?”

“Entahlah. Mungkin ada satu persoalan yang belum terpecahkan. Mungkin di tempat tugas ayah. Mungkin dengan kawan-kawannya atau mungkin ada persoalan-persoalan yang tidak teraba”

Adik-adiknya menarik nafas. Adiknya yang perempuan kemudian berkata, “Bukankah kakang tidak apa-apa?”

“Tidak. Aku tidak apa apa”

“Kakang memang pergi terlalu lama, ibu juga menjadi gelisah menunggu kedatangan kakang”

“Ibu dimana sekarang?”

“Di dapur, kakang”

“Di dapur?”

“Ya. Ibu sedang membuat makanan”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu adiknya perempuan bergayut di lengannya sambil berkata “Bukankah kakang tidak marah kepada ayah?”

“Tidak, tentu tidak. Ayahlah yang marah kepadaku”

“Maksudku, kakang tidak mendendam?”

“Tidak. Kita, maksudku aku dan kalian berdua, harus menghormati ayah dan ibu. Jika ayah atau ibu marah kepada kita, dibalik kemarahannya itu tentu mengandung maksud yang baik”

Adiknya mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Cincin yang kau belikan agak kebesaran, kakang. Tetapi tidak apa-apa. Nanti juga aku bertambah besar”

“Kau kira kau sekarang belum besar” desis adik laki-laki Paksi.

Adik perempuannya, yang bergayut pada tangan Paksi berhenti. Ketika ia berpaling, adik laki-laki Paksi itu segera melangkah pergi. Justru masuk keruang dalam sambil berdesis, “Kau mau membujuk untuk dibelikan apa lagi”

Ketika adik perempuannya mengejarnya, adik laki-laki Paksi itu berlari cepat-cepat menjauh.

Paksi tertawa. Ia merasa senang berada diantara kedua adiknya. Dan bahkan Paksi merasa tenang jika ia duduk bersama ibunya. Namun ayahnya kadang-kadang membuat Paksi kebingungan.

Dalam pada itu, adalah diluar kesadaran Paksi jika seseorang memperhatikan Paksi sejak ia masuk ke kesatrian. Kemudian keluar lagi bersama Pangeran Benawa dan Ki Waskita.

Orang itu juga memperhatikan Paksi saat Paksi kembali ke kesatrian untuk mengembalikan kuda yang dipinjamnya dari Pangeran Benawa.

Sewaktu Paksi keluar dari kasatrian, maka orang itu telah menghadap Harya Wisaka dan memberikan laporan tentang kehaidran anak muda itu.

“Kau yakin bahwa anak Tumenggung itu masuk ke kesatrian?”

“Aku sedang bertugas mebersihkan halaman kasatrian” jawab orang itu.

“Berapa lama kau membersihkan halaman sehingga kau melihat anak itu datang, pergi, datang lagi dan pergi lagi?”

”Semuanya itu terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama”

“Kemana saja mereka pergi?”

“Aku tidak tahu”

“Mereka tentu hanya mencoba seekor kuda yang baru dibeli, Pangeran Benawa adalah seorang penggemar kuda. Orang yang berada di kesatrian itu agaknya seorang belantik kuda”

“Paksi?”

“Ia ikut-ikutan bermain kuda. Bukankah Pangeran Benawa telah memberinya seekor kuda berwarna kelabu yang bagus dan tegar”

Orang yang memberikan laporan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sekali. Aku memang tidak akan dapat mengikuti dan mengamatinya kemana mereka pergi”

“Aku akan berbicara kepada ayahnya meskipun aku tidak dapat mempercayai ayahnya sepenuhnya”

Sebenarnyalah seperti yang dikatakannya, dikeesokan harinya, Harya Wisaka telah menemui Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Dengan nada dalam Harya Wisaka itu pun bertanya “Kemana saja anakmu pergi?”

“Menurut keterangannya ia pergi menemui gurunya”

“Hanya menemui gurunya?”

“Ia hanya mengatakan bahwa ia telah menemui gurunya”

“Ia tidak mengatakan bahwa anakmu telah pergi ke kasatrian. Kemudian pergi bersama-sama dengan Pangeran Benawa dan Ki Waskita yang tua itu?”

“Tidak”

“Bertanyalah kepada anakmu, kemana saja ia pergi bersama Pangeran Benawa”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Tetapi sebelum sempat menjawab, Harya Wisaka telah meninggalkannya sambil berkata, “Hati-hati dengan anakmu itu. Aku minta Ki Tumenggung menghubungi aku segera”

Ki Tumenggung tidak menjawab karena Harya Wisaka sama sekali tidak berpaling lagi. Dengan geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu bergumam, “Anak tidak tahu diri. Ia mulai bertingkah”

Ketika lewat tengah hari Ki Tumenggung pulang, ternyata Paksi juga baru saja pulang. Dengan wajah yang geram ayahnya pun memanggilnya, “Aku ingin bicara”

Paksi termangu-mangu sejenak. Apalagi yang akan dilakukan oleh ayahnya itu.

Ketika Paksi menemui ayahnya di pringgitan, adik laki-lakinya tiba-tiba saja ikut muncul di pringgitan. Tetapi ayahnya segera mengusirnya, “Kau tidak boleh mendengarkan pembicaraan orang lain jika kau tidak berkepentingan”

Adik laki-laki Paksi itu termangu-mangu sejenak. Ada perasaan iba di sorot matanya. Ia tahu, bahwa kakaknya itu tentu akan dimarahi lagi.

“Apa yang sebenarnya dikehendaki ayah atas kakang Paksi, ia sudah melakukan tugas yang sangat berbahaya itu dan bahkan mempertaruhkan nyawanya. Kakang Paksi sudah berhasil menemukan cincin yang dikehendaki oleh ayah. Jika kemudian cintin itu diambil oleh Pangeran Benawa, tentu bukan salah kakang Paksi” berkata adik laki-lakinya itu didalam hatinya.

Tetapi anak muda itu tidak berani melanggar perintah ayahnya itu, maka ia pun segera meninggalkan pringgitan.

Demikian adik laki-laki Paksi itu hilang dibalik pintu, maka ayahnya itu pun mulai membentaknya, “Kau kemarin pergi kemana?”

“Bukankah aku sudah mengatakan, ayah. Aku pergi menemui guruku”

“Hanya menemui gurumu?”

“Tidak. Aku juga menghadap Pangeran Benawa, karena aku ingin membicarakan perkembangan perguruan itu dengan Pangeran Benawa dan Ki Waskita”

“Kau tidak dapat berbohong kepadaku. Jika gurumu ingin berbicara dengan Pangeran Benawa, tentu gurumu yang akan menghadap, bukan Pangeran Benawa yang datang menghadap gurumu”

“Tetapi ternyata pangeran Benawa sendiri menyatakan kesediaannya untuk pergi, sebenarnya guru masih belum ingin bertemu langsung dengan Pangeran Benawa, guru hanya ingin aku menyampaikan beberapa persoalan yang menyangkut perkembangan perguruan itu. Tetapi pangeran Benawa sendiri yang ingin bertemu langsung dengan guru serta menyaksikan sendiri keadaan perguruan itu. Karena itu, maka Pangeran Benawa dan Ki Waskita telah pergi menemui guru”

“Kau tidak berbohong?”

“Tidak, ayah. Aku tidak berbohong”

“Tetapi apa hubungannya antara perguruan itu dengan Pangeran Benawa?”

“Sebagaimana ayah ketahui, perguruan itu diperuntukkan bagi anak-anak muda, yang pada umumnya adalah keluarga para prajurit atau pejabat istana yang lain. Pangeran Benawa sebagai putera Kangjeng Sultan tentu ikut berkepentingan. Ternyata Pangeran Benawa juga menjadi sangat tertarik untuk ikut membantu mengembangkan perguruan itu. Guru berharap bahwa Pangeran Benawa akan dapat membantu membiayai kelengkapan sanggar yang terlalu sederhana itu. Bahkan mungkin peralatan yang lain, berjenis-jenis senjata yang sangat diperlukan serta keperluan-keperluan lainnya”

Ayahnya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia pun kemudian berkata, “Paksi, apakah hubunganmu dengan Pangeran Benawa terlalu rapat?”

“Tidak ayah”

“Kenapa kau berani menghadap Pangeran Benawa di kasatrian jika. kau belum mengenalnya dengan baik?”

“Pangeran Benawa adalah seorang Pangeran yang baik. Sejak aku menerima ganjaran dari Kangjeng Sultan serta seekor kuda dari Pangeran Benawa, aku menjadi yakin, bahwa Pangeran Benawa adalah seorang Pangeran yang bersedia mendengarkan persoalan-persoalan yang timbul terutama yang ada hubungannya dengan kepentingan Pajang”

“Kau tahu apa tentang kepentingan Pajang?”

“Aku menghadap Pangeran Benawa atas perintah guru, yang menganggap bahwa perguruan itu adalah perguruan yang menyangkut kepentingan masa depan Pajang. Karena diperguruan itu ditempa anak-anak muda yang diharapkan akan memegang masa depan”

“Termasuk kau?”

“Bukankah ayah berharap demikian?”

“Omong kosong. Jika masa depan Pajang ada ditangan orang-orang yang kepalanya kosong seperti kepalamu itu, lalu apa jadinya Pajang?”

“Agaknya aku tidak akan ikut bersama-sama mereka yang akan memegang masa depan, ayah. Tetapi kawan-kawanku yang lain yang akan ikut menjadi pembantu utama Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Bukankah kelak Pajang akan berada ditangan mereka?”

“Cukup. Kau tidak usah berbicara tentang masa depan. Jika ada orang lain yang mendengarnya, kau hanya ditertawakan saja”

“Aku tidak akan berani berbicara dengan orang lain tentang hal ini ayah. Kepada ayah pun sebenarnya aku agak segan mengatakannya. Karena itu, maka aku belum berceritera tentang rencana pembenahan perguruan itu”

Kening Ki Tumenggung nampak berkerut. Namun kemudian ia pun berkata, “Untuk sementara aku percaya. Tetapi jika kau berbohong, aku tidak akan memaafkanmu”

“Aku berkata sebenarnya, ayah. Jika ayah tidak percaya, ayah dapat bertanya kepada Pangeran Benawa atau kepada guru atau kepada Ki Waskita”

Ki Tumenggung termenung sejenak. Ia mengenal Ki Panengah yang diserahi untuk menangani anak-anak para prajurit dan pejabat-pejabat istana yang lain. Ia pun telah mengirimkan Paksi kepadanya. Tetapi sudah setahun lebih Paksi meninggalkan perguruannya untuk mencari cincin yang hilang itu.

Tetapi Ki Panengah itu pun telah pergi untuk waktu yang hampir sama” berkata KiTumanggung didalam hatinya.

Paksi masih duduk dihadapan ayahnya dengan kepala tunduk. Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Baru kemudian Ki Tumenggung itu pun bertanya, “Kau tadi pergi kemana?”

“Aku menemui guru, ayah. Guru sedang mempersiapkan sanggar dan kelengkapan lainnya, karena guru akan mulai beberapa hari lagi, dipermulaan bulan depan ini”

Ki Tumenggung tidak menyahut. Hanya dahinya sajalah berkerut.

“Selama guru pergi, perguruan itu dipimpin oleh paman Windu. Tetapi tampaknya wibawa paman Windu kurang memadai untuk memimpin perguruan itu selama guru pergi”

Ki Tumenggung tidak menghiraukannya lagi. Katanya, “Pergilah, lain kali kau tidak usah membual tentang kepemimpinan Pajang masa mendatang. Kau tidak usah berbicara yang kau tidak mengetahuinya”

“Aku hanya menirukan guru”

“Gurumu pun tidak tahu apa-apa, ia hanya mengetahui tentang padepokannya, tentang murid-muridnya dalam olah kanuragan dan tentang dirinya sendiri”

Paksi tidak menjawab lagi Tetapi kemudian ia pun bangkit sambil berkata, “Aku akan pergi ke belakang, ayah”

Ayahnya sama sekali tidak menghiraukannya. Ki Tumenggung itu justru memandang kekejauhan. Memandangi dedaunan yang berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari.

Untuk beberapa lama ayah Paksi itu masih duduk di pringgitan. Ia membenarkan pesan Harya Wisaka, bahwa ia haurs berhati-hati terhadap Paksi. Nampaknya guru Paksi mulai berbicara tentang beberapa kemungkinan yang dapat terjadi Pajang.

Tetapi Ki Tumenggung tidak dapat menuduhnya dengan serta-merta. Ia harus mempunyai bukti yang cukup, atau setidak-tidaknya sesuatu yang pantas untuk dicurigai.

Karena itu, maka Ki Tumenggung masih harus menunggu satu kesempatan untuk bertindak terhadap Paksi. Tujuan akhir Ki Tumenggung adalah menyingkirkan Paksi dari rumah itu atau jika mungkin menemukan bukti bahwa Paksi telah melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan paugeran.

Namun dalam pada itu, ternyata Pangeran Benawa menanggapi niat Ki Panengah itu untuk menertibkan perguruannya dengan sungguh-sungguh. Karena itu, maka pangeran Benawa pun telah menghubungi ayahandanya. Pangeran Benawa ingin segala-galanya selesai sebelum Ki Panengah mulai kegiatannya kembali setelah untuk setahun lamanya ia meninggalkan perguruannya itu.

Ki Panengah sendiri terkejut ketika Pangeran Benawa itu pada satu hari berkata kepadanya, “Aku sudah melakukan semua usaha yang aku anggap akan berarti bagi perguruan ini. Karena itu, aku berharap bahwa dalam beberapa hari lagi, ayahanda Sultan akan dapat memberikan kekancingan baru bagi perguruan ini serta menggugurkan kekancingan yang lama”

“Kami tidak tergesa-gesa Pangeran. Jika dipermulaan bulan depan, kami harus memulainya lagi, maka segala sesuatunya telah bersiap”

“Ki Panengah dapat membayangkan sesuatu yang lebih berarti dari rencana Ki Panengah itu”

“Maksud Pangeran?”

“Bersiap-siap sajalah, Ki Panengah”

Ki Panengah tidak bertanya, apa rencana Kangjeng Sultan dengan perguruannya itu. Agaknya Pangeran Benawa masih ingin merahasiakannya.

Paksi lah yang terkejut ketika ia mengunjungi pangeran Benawa di kesatrian, tiba-tiba saja Pangeran Benawa itu berkata, “Kebetulan kau datang, Paksi Ayahanda ingin mendapat keterangan langsung dengan orang yang berkepentingan dengan perguruan itu. Maksud ayahanda, dengan demikian maka pendapat itu akan mendapat dukungan langsung dari tubuh perguruan itu sendiri”

“Jadi maksud Pangeran?”

“Aku ingin mengajakmu menghadap ayahanda”

“Hamba?”

“Ya”

“Kapan kita harus menghadap?”

“Sekarang”

“Sekarang?, hamba tidak bersiap untuk menghadap Kangjeng Sultan, mungkin pakaian hamba tidak pantas atau mungkin kekurangan-kekurangan lain, sehingga hamba tidak sepantasnya menghadap sekarang”

“Jika kau merasa dirimu pantas menghadapku, maka kau tentu juga merasa pantas menghadap ayahanda”

Paksi termangu-mangu sejenak. Sulit baginya untuk menjawab, jika ia salah ucap, maka Pangeran Benawa akan dapat tersingung karenanya. Karena itu Paksi pun berkata, “Segala sesuatunya terserah kepada Pangeran”

Sebenarnyalah, seperti apa yang direncanakan, Pangeran Benawa telah mengajak Paksi tuntuk menghadap. Meskipun bukan saatnya, namun Pangeran Benawa berhasil mendapatkan kesempatan itu.

Ketika Pangeran Benawa mengajak Paksi memasuki salah satu ruangan diserambi kanan istana Pajang, maka ia melihat ayahnya duduk seorang diri. Namun Pangeran Benawa masih sempat melihat dua orang perempuan memasuki ruangan sebelah. Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah terbiasa melihat perempuan-perempuan disekitar ayahandanya.

“Ada apa Benawa?”bertanya Kanjeng Sultan.

Pangeran Benawa duduk bersila dihadapan ayahandanya, sementara Paksi duduk dibelakangnya sambil menundukkan kepalanya.

“Hamba akan mengulangi permohonan hamba, ayahanda”

“Permohonan apa?”

“Tentang perguruan itu”

“O. Aku kira kau memerlukan seorang perempuan”

Pangeran Benawa tidak menjawab. Tetapi giginya terkatub rapat-rapat.

“Bagaimana dengan perguruan itu?”

“Hamba membawa Paksi menghadap”

“Siapakah Paksi itu?”

“Anak muda yang pernah mendapatkan ganjaran dari ayahanda karena menolong hamba”

“O, ya. Aku ingat. Apa hubungannya anak itu dengan perguruan yang pernah kau sebut-sebut?”

“Paksi adalah salah seorang murid dari perguruan itu”

Kanjeng Sultan pun mengangguk-angguk. Namun kemudian Kanjeng Sultan itu pun berkata, “Ceriterakanlah keadaan yang sebenarnya dari perguruanmu itu Paksi”

Jantung Paksi memang menjadi berdebar-debar Tetapi setelah menyembah, maka ia pun menceriterakan tentang perguruan apa adanya.

“Jadi apa yang diinginkan oleh Ki Panengah?”bertanya Kangjeng Sultan.

Paksi memandang Pangeran Benawa sekilas. Namun Pangeran Benawa pun tanggap, Paksi ingin memastikan, apa yang harus dikatakannya, karena maka Paksi pun kemudian berkata, “Katakanlah apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh gurumu”

Paksi menarik nafas dalam-dalam, setelah menyembah, maka Paksi pun berkata selanjutnya, “Guru hamba ingin terjadi perubahan tatanan di perguruannya. Selama ini guru tidak mempunyai wewenang apa-apa untuk mengatur perguruannya”

“Bukankah itu wewenang seorang guru, ia dapat menentukan apa yang terbaik bagi perguruannya”

Namun Pangeran Benawa lah yang kemudian berkata, “Ayahanda telah memberikan kekancingan yang justru mengikatnya”


“Aku?” bertanya Kangjeng Sultan.

“Ayahanda memberikan kekancingan yang sangat memberati wewenangnya. Tugas-tugas diatur oleh para perwira dan para petugas istana”

“Tidak mungkin. Seorang guru yang memimpin sebuah perguruan mempunyai wewenang sepenuhnya atas perguruannya itu”

“Ayahanda” berkata Pangeran Benawa, “hal itulah yang membuat perguruan Ki Panengah tidak pernah maju, karena itu Ki Panengah memohon agar kekancingan itu ditinjau kembali”

“Itu aneh sekali, aku adalah pengembara dimasa muda, aku memasuki banyak sekali perguruan, aku berguru kepada orang-orang yang berilmu tinggi di padepokan kecil sekalipun. Tetapi para pemimpin perguruan itu mempunyai wewenang sepenuhnya”

“Itulah anehnya ayahanda. Baiklah, besok hamba akan menghadap lagi sambil membawa kekancingan itu”

“Perintahkan kepada siapa pun untuk mengambil kekancingan itu. Aku menunggu disini”

Ketika Pangeran Benawa berpaling kepada Paksi, maka Paksi pun berkata, “Hamba akan mengambilnya Pangeran”

“Bawa kudaku, agar lebih cepat”

“Kepada siapa hamba harus mengatakannya, bahwa hamba telah mendapat perintah dari Pangeran?”

“Kepada pekatik itu. Bukankah ia tahu bahwa kau juga pernah meminjam kudaku. Katakan, bahwa aku sedang menghadap ayahanda. Kiu pun harus segera kembali menghadap”

“Hamba mohon diri Pangeran. ampun Kanjeng Sultan”

“Pergilah” desis Kanjeng Sultan.

Sejenak kemudian Paksi pun sudah meninggalkan serambi kanan dan langsung pergi ke Kesatrian. Dia pun segera menemui pekatik kuda yang pernah dikenalnya. Paksi memang tidak mendapat kesulitan untuk meminjam seekor kuda, sehingga sejenak kemudian Paksi pun telah menuntun kuda itu keluar regol kasatrian.

Memang ada beberapa pertanyaan dari para prajurit yang bertugas di regol kasatrian. Tetapi ada diantara mereka yang sudah mengenalnya sehingga membiarkan Paksi lewat sambil membawa seekor kuda.....

“Dia anak laki-laki Ki Tumenggung Sarpa Biwada” kata salah seorang diantara para prajurit itu.

Yang lain menyambung, “Yang pernah mendapat ganjaran dari Kangjeng Sultan”

Sedangkan yang lain lagi berkata, “Juga seekor kuda dari Pangeran Benawa”

“Kenapa ia masih meminjam kuda Pangeran Benawa sekarang?” bertanya seorang prajurit yang belum mengenal paksi.

“Bukankah kau dengar, bahwa anak muda itu menurut pengakuannya diutus oleh Pangeran Benawa”

Prajurit itu mengangguk-angguk, sementara Paksi pun telah melarikan kudanya menuju ke rumah gurunya.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ternyata aku sudah terlalu lamban bagi Pangeran Benawa, aku heran, segala sesuatunya tidak harus ditangani segera”

“Pangeran Benawa agaknya ingin persoalan ini segera selesai dengan tuntas”

“Ya, itulah sebabnya aku merasa terlalu lamban bagi Pangeran Benawa. Tetapi aku akan mencoba untuk mengikuti irama gerak dari Pangeran itu”

Sejenak kemudian paksi telah melarikan kudanya kembali ke istana. Dituntunnya kudanya lewat regol kepatihan pula.

“Begitu cepat kembali” bertanya seorang prajurit.

“Ya, Ki Sanak, hanya sekedar menyampaikan sedikit pesan dari Pangeran Benawa”

Prajurit itu mengangguk-angguk.

Setelah mengembalikan kuda yang dipinjamnya, maka dengan cepat Paksi kembali ke istana. Seorang prajurit telah mengantarkannya memasuki serambi.

Pangeran Benawa memang masih berada di serambi, bahkan Kangjeng Sultan pun masih duduk di serambi pula.

Paksi pun kemudian menyerahkan Surat Kekancingan itu kepada Pangeran Benawa yang menerukannya kepada kangjeng Sultan.

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ini surat kekancingan resmi. Aku juga sudah membubuhkan pertanda. Sayang, waktu itu aku tidak begitu memperhatikan isinya, sehingga isi kekancingan ini memang telah sangat membatasi kebebasan Ki Panengah. Para perwira dan pejabat yang mengirimkan anaknya ke perguruan itu justru mempunyai banyak wewenang untuk menentukan arah dari perguruan itu”

“Baiklah, Benawa” berkata Kangjeng Sultan pula, “aku akan membuat kekancingan yang baru. Aku akan berbicara dengan beberapa orang yang mempunyai pandangan jauh ke depan dari sebuah perguruan”

“Bukankah ayahanda sendiri mengenal banyak sekali perguruan dimasa muda?”

“Tetapi tatanan kehidupan ini bergerak, Benawa. Aku harus menyadari itu. Sementara ini aku seakan-akan telah terpisah dari derap langkah beberapa perguruan terbaik di Pajang”

“Tetapi jika ayahanda minta pendapat para perwira dan pejabat yang anaknya berguru pada Ki Panengah, maka persoalannya akan kembali lagi seperti semula”

“Aku mengeri”

“Jika saja ayahanda memperbincangkannya dengan Ki Gede Pemanahan”

“Baik. Aku akan berbicara dengan kakang Pemanahan”

“Baiklah hamba berdua mohon diri sekarang. Terima-kasih atas perkenan ayahanda, Mudah-mudahan segala sesuatunya lekas selesai sehingga Ki Panengah dapat segera mulai”

Kangjeng Sultan tersenyum. Katanya, “Jika kau merasa terlalu lama, kau dapat memperingatkan aku, Benawa”

“Hamba ayahanda”

Demikianlah, maka Pangeran Benawa dan Paksi pun segera meninggalkan serambi istana. Paksi tidak langsung pulang. Tetapi ia singgah beberapa lama di kasatrian. Namun setiap kali, seorang abdi yang bekerja di kasatrian yang juga menjadi pengikut Harya Wisaka, selalu mengawasinya dan kemudian melaporkannya kepada Harya Wisaka. Dengan sedikit upah, abdi itu melakukan tugas itu dengan
bersungguh-sungguh.

Karena itulah, maka Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Harya Wisaka, di malam hari telah memanggil Paksi.

“Apa yang kau lakukan di kasatrian tadi, Paksi”

Paksi mengerutkan dahinya. Hampir saja ia bertanya, dari mana ayahnya mengetahuinya, bahwa ia berada di kasatrian. namun niatnya itu diurungkannya.

“Apa yang kau lakukan di kasatrian itu, he?” desak ayahnya.

Paksi tidak ingin berkata terus-terang bahwa bersama Pangeran Benawa ia menghadap Kangjeng Sultan untuk membicarakan masalah perguruannya. Ayahnya termasuk salah seorang perwira yang ikut mengatur perguruan itu, sehingga jika ayahnya mengetahuinya, maka bersama kawan-kawannya, ia tentu akan berusaha menggagalkan perubahan yang sedang direncanakan itu.

Karena itu, maka Paksi pun menjawab, “Pangeran Benawa tengah memamerkan kuda-kudanya kepadaku, ayah. Aku telah dimintanya untuk mencoba kudanya yang terbaru”

“Kau tahu apa tentang kuda?” ayahnya justru membentaknya.

“Aku sudah mengatakan kepada Pangeran Benawa, bahwa aku tidak tahu apa apa tentang kuda. Tetapi Pangeran Benawa memang ingin memamerkannya kudanya itu.

“Kau tentu berbohong”

“Kenapa aku berbohong?”

“Jika ternyata kau berbohong, maka kau akan menyesal”

Paksi termangu-mangu sejenak. Ayahnya memang sering mengancamnya. Tetapi ancaman ayahnya kali ini membuatnya berdebar-debar.

Namun Paksi sama sekali tidak berniat untuk mengendorkan usahanya. Ia masih selalu datang kepada gurunya dan sekali-sekali ke kasatrian. Namun setiap kali ia datang ke kasatrian, ayahnya selalu bertanya kepadanya.

Tetapi Paksi tidak sebodoh dugaan ayahnya. Kenyataan bahwa ayahnya setiap kali mengetahuinya bahwa ia berada di kasatrian telah membuatnya curiga. Bahkan kemudian Paksi pun telah menyampaikannya kepada Pangeran Benawa.

“Jangan hiraukan. Tentu ada salah seorang abdi disini yang berhubungan dengan ayahmu”

“Mungkin sekali, Pangeran”

“Aku akan segera menemukan orang itu. Lebih banyak abdiku yang setia daripada mereka yang bersedia diupah orang untuk maksud-maksud tertentu”

“Hamba Pangeran”

“Nah, untuk mengamankan jawabmu kepada ayahmu, bawalah seekor kudaku pulang”

“Maksud Pangeran?”

“Kau datang di kasatrian karena aku memamerkan kuda-kudaku kepadamu. Bukankah begitu?”

Paksi tersenyum. Ia tahu benar maksud Pangeran Benawa yang sudah dikenalnya dengan baik sifat-sifatnya di sepanjang pengembaraan mereka. Ketika Paksi kemudian pulang, maka ia pun telah membawa seekor kuda yang tegar seperti kuda yang pernah diberikan oleh Pangeran Benawa kepadanya.

Demikian Paksi memasuki halaman dengan kuda hitam yang tegar itu, maka adik laki-lakinya telah berlari-lari menyongsongnya. “Kakang mendapat ganjaran lagi?” bertanya adik laki-lakinya itu.

“Tidak” jawab Paksi sambil tersenyum, “Pangeran Benawa memamerkan kuda ini kepadaku. Aku dimintanya untuk mencobanya. Besok kuda ini harus aku kembalikan ke istana”

“Bagus sekali, kakang” berkata adiknya, “jika ayah melihatnya, ayah tentu ingin memilikinya”

“Bukankah ayah sudah mempunyai beberapa ekor kuda”

“Tetapi kuda ayah tidak ada yang setegar kuda ini dan kuda kakang yang kakang terima dari Pangeran Benawa itu Bahkan ayah pernah berkata kepadaku, mungkin diluar sadarnya, bahwa ayah ingin menukar kudamu itu dengan salah satu kuda ayah”

Paksi tertawa pendek. Katanya, “Kuda itu adalah kuda ganjaran. Jika ayah ingin mempergunakannya, aku tidak berkeberatan. Tetapi tidak untuk ditukar. Jika pada suatu hari Pangeran Benawa bertanya, kuda itu masih tetap ada padaku”

Adik laki-laki Paksi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Jika kuda itu bukan ganjaran, dapat saja kakang menjualnya”

Paksi masih saja tertawa. Sambil menepuk bahu adiknya ia pun berkata, “Kau ingin berkeliling kota dengan kudaku?”

“Kuda kakang yang tegar itu?”

“Ya”

“Lalu kakang?”

“Aku dengan kuda hitam ini”

“Sekarang?”

Paksi justru menjadi ragu-ragu. Hampir berbisik ia pun bertanya, “Ayah ada dirumah?”

“Tidak. Ayah belum pulang sejak pagi tadi”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Nah, kau minta ijin kepada ibu”

Adik laki-laki Paksi itu pun kemudian telah minta ijin kepada ibunya untuk bersama-sama dengan Paksi berkuda berkeliling kota.

“Aku ingin memenuhi permintaan Pangeran Benawa untuk mencoba kuda hitamnya itu, ibu”

“Tetapi jangan terlalu lama. Nanti ayahmu mencarimu”

Keduanya pun kemudian telah meninggalkan halaman rumahnya. Keduanya berputar-putar di jalan-jalan kota beberapa lama. Kawan-kawan Paksi yang bertemu di jalan, terheran-heran melihat kuda Paksi yang besar dan tegar itu.

Adik laki-laki Paksi pun merasa bangga duduk diatas kuda yang besar dan tegar itu. Meskipun itu kuda kakaknya.

“Aku juga ingin mempunyai kuda sendiri” berkata adik laki-laki Paksi itu.

Paksi tersenyum. Katanya, “Pada suatu saat ayah tentu akan memberimu seekor kuda yang baik. Tetapi kau tidak boleh tergesa-gesa. Jika kau selalu mendesaknya, ayah justru akan dapat menjadi kecewa terhadapmu”

Adik laki-laki Paksi itu mengangguk-angguk.

Ketika keduanya pulang, ayah Paksi sudah berada dirumah. Demikian ia melihat Paksi datang bersama adik laki-lakinya, maka ayahnya itu pun turun dari tangga pendapa sambil bertanya, “Kemana saja kalian berdua?”

“Hanya berkeliling kota saja ayah. Seperti kemarin, Pangeran Benawa minta aku mencoba kudanya lagi. Meskipun aku mengatakan bahwa aku tidak dapat menilai seekor kuda, tetapi aku dipaksanya untuk membawa seekor kudanya yang termasuk baru”

Ayahnya itu ternyata tidak dengan serta-merta marah kepadanya. Bahkan ayahnya itu nampaknya tertarik kepada kuda yang berwarna hitam itu. Dieluskan kepala kuda itu sambil berdesis, “Kuda yang sangat bagus”

“Ya, ayah” sahut Paksi.

“Kenapa tidak kau kembalikan ke kasatrian?”

“Pangeran Benawa memerintahkan untuk membawa barang semalam. Besok aku harus memberikan pendapatku tentang kuda ini”

Ayahnya mengangguk-angguk. Namun ia tidak bertanya lagi.

Paksi pun kemudian membawa kuda hitam itu ke kandang sebagaimana adiknya telah membawa kudanya. Setelah kedua ekor kuda itu dimasukkan kedalam kandang. maka Paksi dan adik laki-lakinya pun masuk ke serambi. Dengan nada berat adiknya pun berkata, “Seharusnya ayah sudah memberikan seekor kuda kepadaku”

Paksi tersenyum. Katanya, “Bukankah sama saja bagimu. Apakah kuda itu diberikan kepadamu atau tidak, tetapi kau akan dapat memakainya. Tentu saja harus seijin ayah”

“Nah, itu bedanya. Jika kuda itu sudah diberikan kepadaku, setiap kali aku tidak perlu minta ijin”

“Kau memang harus minta ijin. Meskipun kuda itu kudamu sendiri, kau juga harus minta ijin. Setidak-tidaknya minta ijin untuk pergi meninggalkan rumah”

Adik laki-laki Paksi itu mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata, “Tetapi bukankah aku tidak harus minta ijin untuk naik kuda berputar-putar di halaman ini?”

Paksi tertawa. Katanya, “Halaman ini akan menjadi seperti dangir. Tanahnya akan menjadi tidak rata lagi karena kaki kudamu itu”

Adik Paksi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ayah tentu akan marah. Kecuali jika hanya sekali-sekali saja”

Paksi tertawa berkepanjangan. Namun kemudian Paksi pun telah pergi ke biliknya. Dilepasnya bajunya, kemudian anak muda itu pergi ke pakiwan. Sudah menjadi kebiasaan Paksi untuk menimba air sendiri sebelum mandi. Kadang-kadang pembantu dirumah itu minta kepadanya untuk tidak usah menimba air sendiri. Tetapi Paksi selalu menjawab sambil tersenyum. “Aku harus tetap sehat. Cara ini adalah salah satu cara yang paling mudah. Aku akan berkeringat. Jika hal ini aku lakukan setiap hari dua kali, maka aku tidak akan mudah jatuh sakit. Keringatku akan selalu mengembun dan otot-ototku bergerak dengan beban yang tidak terlalu besar”

Para pembantu dirumah itu tidak dapat memaksanya untuk berhenti menimba air. Justru karena Paksi melakukannya, maka adik laki-lakinya pun menirukannya. Ia ingin tubuhnya menjadi nampak sehat seperti tubuh Paksi.

Tetapi Paksi masih belum memperkenalkan adiknya dengan sanggar olah kanuragan. Ia belum pernah mengajak adiknya ke perguruannya. Paksi tidak tahu apakah hal itu akan disetujui oleh ayahnya atau tidak. Jika Paksi mendahului ayahnya, maka ayahnya tentu akan menjadi marah kepadanya.

Dalam pada itu, ketika Paksi pergi ke kasatrian di keesokan harinya untuk mengembalikan kuda hitam itu, maka Pangeran Benawa pun berkata, “Paksi, aku sudah menemukan orang yang selalu mengawasi kehadiranmu di kasatrian ini”

“Siapa pangeran?”

“Salah seorang juru taman yang selalu membersihkan dan membenahi petamanan didepan kasatrian”

“Apakah Pangeran sudah berbicara dengan orang itu?”

“Tidak. Kita biarkan saja orang itu mengawasimu. Kau harus tetap pada keteranganmu kepada ayahmu. Kau datang karena kuda-kudaku”

Paksi pun tersenyum. Sambil mengangguk hormat ia pun berkata, “Hamba Pangeran”

“Tetapi yang perlu kau ketahui, juru taman itu tidak bekerja bagi ayahmu”

Paksi mengerutkan dahinya. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Jadi?”

“Ia bekerja bagi Harya Wisaka. Orangku yang mengikutinya melihatnya berhubungan dengan Harya Wisaka”

“Jika demikian?”

“Ya. Ayahmu memang selalu berhubungan dengan Harya Wisaka”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah yang sebaiknya hamba lakukan, Pangeran?”

“Untuk sementara, kau tidak usah berbuat apa-apa. Kau amati saja, apa yang dilakukan oleh ayahmu. Tentu saja yang dapat kau ketahui, karena kau tentu tidak akan mungkin dapa mengikuti gerak-gerik ayahmu jika kau tidak ingin dipelintir lehermu. Jika kau dapat mempertahankan diri, ayahmu tentu tidak akan dapat melakukannya. Tetapi kau tentu tidak akan dapat melawan ayahmu, sehingga kau akan membiarkan lehermu berkisar separo putaran”

Paksi mengerutkan dahinya. Tetapi ketika Pangeran Benawa tertawa, maka Paksi pun tertawa pula. Beberapa lama Paksi berbincang dengan Panger Benawa. Namun kemudian Paksi pun bertanya, “Apakah Ki Waskita sudah tidak sering berada di kasatrian?”

“Ki Waskita sekarang berada di rumah gurumu. Ia sedang membantu mempersiapkan beberapa hal yang perlu menanggapi perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi”

“Aku kemarin berada dirumah guru. Aku tidak melihat Ki Waskita”

“Mungkin Ki Waskita sedang bepergian. Kau tahu, bahwa Ki Waskita tidak akan betah untuk tinggal di rumah saja. Mungkin ia melihat-lihat keadaan diluar pintu gerbang kota Pajang”

“Aku nanti juga akan pergi kerumah guru”

“Mudah-mudahan Ki Waskita sudah pulang. Kau akan dapat berbicara dengan kedua orang gurumu itu. Sementara ayahanda sudah mempersiapkan Surat Kekancingan yang baru. Aku kira dalam dua tiga hari, Surat Kekancingan itu sudah siap. Agaknya, tidak ada orang lain mendengarnya kecuali Ki Gede pamenahan”

“Syukurlah, Pangeran”

“Karena itu, Surat Kekancingan itu akan mengejutkan bagi beberapa orang, perubahan yang akan terjadi di perguruan akan mengandung arti yang sangat penting”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Pangeran Benawa berkata selanjurnya, “Perguruan itu akan benar-benar menjadi tempat untuk menempa anak-anak muda lahir dan batin. Tidak dikendalikan oleh orang-orang yang ingin memanjakan anak-anaknya. Tetapi yang penting, diperguruan itu akan dapat dipesiapkan anak-anak muda bagi masa depan Pajang menurut jalan yang lurus. Itulah yang tidak dikehendaki oleh beberapa orang yang dengan sengaja ingin memperlemah Pajang”

Paksi mengangguk-angguk. Sementara Pangeran Benawa pun berkata selanjutnya, “Paksi. Kau adalah salah seorang anak muda yang dipersiapkan itu. Karena itu, kau harus mengetahuinya, bahwa perguruan itu dengan sengaja dikaburkan kepastian kedudukannya. Ada beberapa orang yang sengaja melihat kekaburan arah dari perguruan itu, sementara mereka mengundang guru yang lain untuk menempa anak-anak mereka.

“Maksud Pangeran?”

“Mungkin karena kau sudah setahun lebih tidak berada di Pajang. Aku pun tidak mengetahui jika Kakangmas Sutawijaya tidak memberitahukan kepadaku”

“Apa yang sudah terjadi?”

“Beberapa orang dengan sengaja membuat perguruan itu tidak berarti. Dengan demikian, maka anak-anak muda yang berguru kepada Ki Panengah pun tidak akan mendapatkan apa-apa. Orang-orang itu, menurut gelar lahiriahnya, juga mengirimkan anak-anak mereka. Tetapi disamping berguru kepada Ki Panengah, mereka juga memanggil seorang guru yang lain, yang jalan pikirannya sejalan dengan mereka, mempersiapkan anak-anak mereka bagi masa depan Pajang sesuai dengan gagasan mereka. Pajang yang tentu saja lain dengan Pajang yang sekarang. Celakanya, ayahanda Kangjeng Sultan tidak segera tanggap akan persoalan itu meskipun beberapa orang yang setia kepada ayahanda sudah memberitahukannya”

Paksi mengangguk-angguk, sementara Pangeran Benawa pun berkata selanjutnya, “Aku pernah berkata kepadamu, Paksi. Bahwa tidak baik seseorang menyatakan cacat keluarganya. Kekurangan dan bahkan kejelekan orang tuanya. Tetapi karena hal ini menyangkut kepentingan yang lain bagi Pajang, maka aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mengeluh”

“Tetapi bukankah belum terlambat untuk ditangani, Pangeran?”

“Mudah-mudahan. Kakangmas Sutawijaya juga mempunyai pendapat yang akan sangat berarti yang akan disalurkan lewat Ki Gede Pemanahan tentang perguruan Ki Panengah itu, Ki Gede Pemanahan percaya, bahwa Ki Panengah akan dapat menuntun beberapa orang anak muda yang bersungguh-sungguh, untuk menjadi orang yang kelak ikut memegang kendali Tanah ini”

“Mudah-mudahan, Pangeran” desis Paksi.

“Nah, jika kau akan menemui gurumu, pergilah. Katakan kepada Ki Panengah bahwa dalam waktu dekat, perguruannya akan mendapatkan kedudukan yang lebih pasti dan tentu saja lebih baik dari sekarang”

“Hamba Pangeran” sahut Paksi. Namun kemudian ia pun bertanya, “Bagaimana dengan Juru Taman itu?”

“Ia ada di depan. Jika kau melihat seorang yang membawa bumbung berisi air kian kemari sambil menyiram tanaman yang sudah basah, itulah orangnya”

“Bagaimana Pangeran mula-mula mengetahuinya?”

“Sudah aku katakan, bahwa Juru Tamanku lebih banyak yang setia daripada yang matanya tertutup oleh keping-keping uang”

Paksi mengangguk-angguk. Ketika ia kemudian mohon diri dan meninggalkan kasatrian, maka Paksi justru mendekati Juru Taman itu.

Pangeran Benawa menjadi berdebar-debar. Ia masih ingin membiarkan orang itu tetap berada di taman, justru untuk menjadi jembatan untuk mengamati Harya Wisaka. Jika Paksi menyebut hubungan orang itu dengan Harya Wisaka, maka jembatan itu akan terputus.

Tetapi ternyata Paksi hanya berkata, “Paman. Bukankah kau dapat mencangkok?”

Orang itu menjadi gagap. Jantungnya sudah berdegup keras. tetapi ketika Paksi bertanya tentang kemampuannya mencangkok, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Tentu Raden. Aku dapat mencangkok pohon yang memang memungkinkan untuk dicangkok.

“Tolong, cangkokkan aku bunga ceplok piring itu. Aku ingin menanamnya di halaman rumahku”

“Bukankah Raden putera Ki Tumenggung Sarpa Biwada?

Ya”

“Menurut penglihatanku, di halaman rumah Ki Tumenggung sudah ada bunga ceplok piring”

Paksi mengerutkan keningnya, sementara Pangeran Benawa tersenyum mendengar jawaban juru taman itu.

Namun Paksi pun tangkas. Katanya, “Itu paman, yang bunganya merah muda kecil-kecil berkelompok”

“O. Itu kembang Soka, Raden”

“Ya. Itulah yang aku maksud.

“Jika itu yang Raden maksudkan, Raden tidak usah mencangkoknya. Aku akan mencongkel satu atau dua halangnya yang berakar. Raden tinggal menanam saja di halaman rumah kaden”

Paksi tersenyum. Katanya, “Tolong. Bawa dua tiga batang ke rumahku”

Juru Taman itu termangu-mangu sejenak. Tetapi Pangeran Benawa justru berkata, “Juru Taman. Bawa beberapa batang pohon kembang soka itu ke rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

“Sore nanti, paman” berkata Paksi kemudian.

Juru Taman itu masih saja termangu-mangu. Tetapi ia tidak dapat membantah, bahwa Pangeran Benawa sendiri pun telah memberikan perintah kepadanya.

Demikianlah, Paksi pun meninggalkan kasatrian. Sekali ia masih berpaling, sementara Pangeran Benawa masih berdiri di tempatnya.

Paksi memang langsung pergi ke rumah gurunya. Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa, bahwa Ki Mana Brewok memang berada dirumah gurunya itu.

“Kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya” berkata Ki Panengah, “meskipun tempat ini masih belum pantas dan bahkan tidak memenuhi syarat untuk disebut sebuah padepokan, tetapi tempat ini akan dapat kami pergunakan untuk merintisnya. Sebuah padepokan memerlukan tempat yang luas. Bukan saja untuk mendirikan bangunan diatasnya, tetapi untuk menyangga kehidupan padepokan itu, harus tersedia tanah persawahan atau pategalan atau semacamnya”

“Lambat laun, guru” desis Paksi, “dalam dua atau tiga hari ini, akan ada pembahan kedudukan perguruan ini. Setelah hal itu jelas, maka guru akan dapat menentukan langka langkah yang memadai”

Ki Panengah mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus mengucapkan terima-kasih yang sebesar-besarnya kepada Pangeran Benawa yang telah banyak membantu kita”

“Juga Raden Sutawijaya” desis Paksi.

“Ya. Tentu” sahut Ki Panengah.

Sementara itu, Ki Marta Brewok pun berkata, “Jika saatnya tiba, maka kau pun harus segera mematangkan ilmumu, Pak. Nampaknya di Pajang, keadaan tidak kalah berbahayanya dengan daerah pengembaraanmu itu”

“Ya, Ki Marta. Mudah-mudahan segalanya segera selesai”

Demikian, beberapa saat kemudian Paksi pun telah minta diri untuk pulang. Jika ia terlalu lama pergi, ayahnya akan selalu bertanya kemana saja ia pergi hari itu.

Ketika Paksi sampai dirumah, ternyata ayahnya masih belum pulang. Karena itu, maka Paksi merasa bebas dari berbagai macam pertanyaan yang kadang-kadang sulit untuk dijawab.

Baru beberapa saat kemudian, terdengar derap kaki kuda ayahnya memasuki regol halaman. Menjelang sore hari, seperti biasanya, ayahnya duduk pringgitan sambil minum minuman hangat. Sementara itu Paksi sengaja berada di longkangan bersama kedua adiknya. Ketiganya sibuk menyiangi pohon-pohon bunga yang ada di Longkangan. Adiknya laki-laki mengambil air didalam bumbu dari sumur. Kemudian dituangkannya di sebuah pengaron kecil. Dari pengaron itu adiknya perempuan menyirami tanaman yang baru saia didangir.

Pada saat itulah, Paksi mendengar ayahnya berbicara di halaman depan. Dengan serta-merta Paksi pun telah mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu untuk mendengarkan pembicaraannya dengan seseorang di halaman.

“Untuk apa kau datang kemari? Bukankah kau salah seorang pesuruh Harya Wisaka yang pernah menemui aku di alun-alun?”

“Ya, Ki Tumenggung. Tetapi aku datang tidak atas perintah Harya Wisaka”

“Jadi perintah siapa?”

“Raden Paksi”

“Paksi? Apa hubunganmu dengan Paksi?”

“Aku adalah abdi Juru Taman di Kasatrian”

“Aku sudah tahu”

“Raden Paksi minta aku membawa beberapa batang pohon bunga Soka atas ijin Pangeran Benawa. Bahkan Pangeran Benawa juga memerintahkan aku untuk membawa batang Kembang Soka ini kemari”

“Anak Setan. Jadi begitu dekatkah hubungan Paksi dengan Pangeran Benawa?”

“Ya. Bukankah Harya Wisaka pernah memerintahkan aku untuk menyampaikan hal ini kepada Ki Tumenggung”

“Kau sampaikan sendiri kepada Paksi. Tetapi kau tidak perlu mengatakan kepadanya, bahwa kau pernah mengenal aku”

“Baik, Ki Tumenggung”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ayahnya pun telah naik lagi ke pendapa dan kembali duduk di pringgitan tanpa memberi tahu kepada Paksi.

Juru Taman itulah yang kemudian pergi ke pintu seketeng. Mengetuk pintu perlahan-lahan karena ia sudah mendengar seseorang berada di seketeng.

Paksi lah yang menjenguk pintu seketeng, karena ia tahu, bahwa Juru Taman itulah yang datang.

“O, kau” sapa Paksi, “kau bawa batang Kembang Soka itu”

“Ya, Raden. Aku membawa beberapa batang”

“Bagus, terima kasih” berkata Paksi sambil memungut beberapa keping uang dari kantong ikat pinggangnya dan diberikannya kepada Juru Taman itu.

Juru Taman itu terkejut. Ternyata Paksi memberinya uang lebih banyak dari Harya Wisaka setiap kali ia melakukan tugasnya yang jauh lebih berbahaya dari sekedar membawa beberapa batang pohon Kembang Soka.

Sejenak Juru Taman itu justru berdiri termangu-mangu. namun Paksi pun kemudian berkata, “Ambillah. Kenapa?”

“Banyak sekali, Raden” desis Juru Taman itu. Paksi tertawa. Katanya, “Tidak cukup banyak. Tetapi uangku hanya itu”

“Ini sudah sangat banyak, Raden. Aku mengucapkan terima kasih”

“Sudahlah. Bukankah kau harus kembali ke kasatrian?”

“Ya, Raden”

“Sembahku bagi Pangeran Benawa”

“Pangeran Benawa tadi sedang pergi Raden”

“Sendiri?”

“Tidak. Bersama Raden Sutawijaya”

“Kemana?”

“Aku tidak tahu, Raden”

“ Tetapi bukankah nanti Pangeran Benawa itu pulang kasatrian?”

“Tentu, Raden”

“Nah, sampaikan sembahku”

“Baik, Raden”

Juru Taman itu pun telah meletakkan seikat batang Kembang Soka di uger-uger pintu seketeng. Kemudian mengangguk hormat sambil mohon diri, “Ampun, Raden. Aku mohon diri”

Juru Taman itu pun kemudian telah meninggalkan pintu seketeng.

Setelah mengambil seikat batang Kembang Soka, Paksi menutup pintu seketeng. Tetapi tidak terlalu rapat, sehingga dari sela-sela pintu ia melihat Juru Taman itu berhenti sejenak di halaman. Mengangguk hormat kepada ayahnya yang duduk pringgitan, kemudian melangkah ke regol. Paksi pun kemudian benar-benar menutup pintu seket itu rapat-rapat.

Dengan demikian, Paksi semakin yakin, bahwa ayahnya memang termasuk salah seorang pengikut Harya Wisaka. Karena itu, seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa, ia hanya mengawasinya sejauh dapat dilakukannya.

“Tetapi apa yang dapat aku lakukan terhadap ayahku sendiri meskipun ayahku menjadi salah seorang pengikut Harya Wisaka?” bertanya Paksi kepada diri sendiri.

Namun di samping kegelisahan Paksi karena ayahnyalah seorang pengikut Harya Wisaka, Paksi pun harus mencari jawaban, kenapa ayahnya sangat membencinya, bahkan berusaha untuk menjauhkannya dari rumah, dari ibu dan dari adik-adiknya. Apakah sejak semula ayahnya sudah mengetahui. bahwa akhirnya ia akan berhubungan dekat dengan Pangeran Benawa serta mempunyai sikap yang berseberangan dengan sifat ayahnya itu?

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Untuk sementara Paksi memang harus menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab itu didalam hatinya. Bahkan Paksi sama sekali tidak dapat melihat hubungan antara dirinya dengan sikap ayahnya yang memilih berpihak kepada Harya Wisaka itu ketika dirinya harus pergi meninggalkan keluarga untuk mencari cincin bermata tiga itu.

Di hari berikutnya, Paksi telah berada di rumah gurunya lagi. Seperti biasanya ia pun telah membantu membenahi sanggar serta kelengkapannya, sehingga jika Surat Kekancingan yang baru itu datang, maka segala sesuatunya akan segera dapat tersesuaikan.

Di hari berikutnya lagi, ketika Paksi datang kerumah gurunya. Ki Marta Brewok agaknya sudah menunggunya.

“Paksi” berkata Ki Marta Brewok, “aku baru saja datang dari kasatrian”

“O” Paksi mengangguk dalam-dalam.

“Kau dan gurumu dipanggil oleh Pangeran Benawa”

“Aku dan guru?”

“Ya. Tetapi Pangeran Benawa berpesan agar kau pergi sendiri lebih dahulu ke kasatrian”

“Baiklah, Ki Marta. Aku akan pergi menghadap” lalu kepada Ki Panengah Paksi pun berkata, “Aku mendahului guru, sebagaimana perintah Pangeran Benawa”

“Pergilah. Nanti aku akan segera menyusul. Tentu ada yang penting, sehingga Pangeran Benawa telah memanggil kita untuk menghadap”

Ketika Paksi sampai di kasatrian, maka ditemuinya selain Pangeran Benawa juga Raden Sutawijaya.

“Nah, Paksi. Surat Kekancingan itu sudah siap. Kakang Sutawijaya lah yang telah menyusun Surat Kekancingan itu, hingga kau harus yakin, bahwa bunyinya akan sangat berarti bagi perguruanmu itu”

“Hamba Pangeran” Paksi pun mengangguk hormat, “hamba dan seluruh perguruan hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada Pangeran Benawa, kepada Raden Sutawijaya dan tentu saja kepada Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang.”

“Satu lagi yang belum kau sebut“ Paksi mengerutkan dahinya. Pangeran kemudian berdesis, “Ki Gede Pemanahan”

“O, hamba mohon ampun akan ketidak-tahuan hamba”

“Ah, ayah tidak berbuat apa-apa”

“Tentu paman Pemanahan lah yang mampu menuntaskan persoalan ini, sehingga sangat berkenan di hati ayahanda”

“Bukankah sejak adimas menyampaikan hal ini kepada ayahanda Sultan, ayahanda Sultan sudah sependapat? Karena itu, maka ayah tinggal menekankannya”

“Namun bagaimanapun juga, hamba harus mengucapkan terima-kasih kepada semua pihak yang telah bermurah hati pada perguruan hamba” berkata Paksi.

“Sudahlah” berkata Raden Sutawijaya, “ayahanda Sultan sudah menunggu. Kita sebaiknya segera menghadap”

“Kita masih menunggu Ki Panengah dan Ki Waskita”

“O. Aku kira Paksi akan mewakili perguruannya”

“Aku tadi minta kepada Ki Waskita untuk memanggil Paksi dan Ki Panengah. Tetapi sebaiknya Paksi tidak berjalan bersama Ki Panengah ke kasatrian ini. Karena itu, aku minta Paksi datang lebih dahulu. Baru kemudian Ki Panengah bersama Ki Waskita akan menyusul”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Dimas Pangeran Benawa cukup berhati-hati”

“Ada pengikut Harya Wisaka di taman. Maksudku, seorang Juru Taman yang mendapat tugas mengawasi Paksi”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Apa pun tanggapan paman Harya Wisaka, jika Surat kekancingan itu sudah berada di tangan Ki Panengah, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa”

“Tetapi ia dapat berbuat apa-apa terhadap paksi, celakanya Harya Wisaka akan dapat mempergunakan tangan ayah Paksi sendiri”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Memang lebih baik persoalan itu timbul setelah surat kekancingan itu benar-benar berada di tangan Ki pangengah. Apalagi jika Ki Panengah sudah mengambil langkah-langkah pelaksanaannya.

Dalam pada itu, sebenarnyalah sesaat kemudian, Ki Waskita dan Ki Panengah pun telah datang di kasatrian.

Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa segera membawa mereka untuk menghadap ayahandanya. Keempat orang itu telah diterima oleh Kangjeng Sultan di serambi samping. Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa, Kangjeng Sultan pun langsung pada persoalannya menyatakan bahwa Surat Kekancingan yang baru sudah siap dan akan langsung diserahkan kepada Ki Panengah.

“Hamba mengucapkan beribu terima-kasih, Kangjeng Sultan”

“Aku minta maaf, bahwa Surat Kekancingan yang dahulu, sangat tidak adil bagi Ki Panengah. Waktu itu aku kurang teliti membaca bunyi Surat Kekancingan itu atau bahkan tidak membacanya sama sekali. Dan itu adalah satu kesalahan. Sekarang, aku cermati isinya. Apa yang tersurat dan apa pula maknanya”

“Apa pun perintah Kangjeng Sultan, akan hamba terima dengan sebaik-baiknya. Demikian pula Surat Kekancingan yang terdahulu. Jika sekarang hamba akan menerima Surat Kekancingan yang baru, maka hamba hanya dapat mengucapkan terima-kasih yang sebesar-besarnya”

Kangjeng Sultan itu tersenyum. Namun ia pun masih bertanya, “Apakah menurut Ki Panengah akan lebih mantap jika Surat Kekancingan ini aku serahkan dalam satu upacara di Paseban Agung?”

“Ampun Kangjeng Sultan. Hamba tidak berhak memohon seperti itu. Apa yang hamba terima ini sudah merupakan kemurahan hati Kangjeng Sultan, sehingga bagi hamba sudah jauh lebih dari cukup”

“Jika demikian, dalam Paseban Agung mendatang, biarlah isi Surat Kekancingan itu dibacakan, agar semua pemimpin di Pajang mengetahuinya, terutama yang mengirimkan anak-anaknya untuk berguru kepada Ki Panengah”

“Hamba hanya dapat mengucapkan terima-kasih sekali lagi, Kangjeng Sultan”

“Nah, inilah Surat Kekancingan itu, Ki Panengah”

Ki Panengah pun menyembah sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian bergeser mendekati Kangjeng Sultan sambil berjongkok. Tangan Ki Panengah memang menjadi gemetar ketika menerima Surat Kekancingan itu. Sementara itu Kangjeng Sultan pun berkata, “Bacalah. Jika ada yang kurang sesuai dengan pikiranmu, katakan. Aku tidak akan berkeberatan untuk merubahnya”

“Hamba Kangjeng Sultan” sembah Ki Panengah Dengan tangan yang masih gemetar, Ki Panengah itu pun telah membaca Surat Kekancingan yang baru saja diterimanya itu.

Paksi mengikuti perubahan wajah Ki Panengah dengan sungguh-sungguh. Mula-mula dilihatnya wajah itu berkerut Kemudian sekilas nampak cahaya yang ceria di mata Ki Panengah. Namun wajah itu pun menjadi tegang dan bersungguh-sungguh.

Begitu Ki Panengah selesai membaca, maka Kangjeng Sultan Hadiwijaya itu pun bertanya, “Bagaimana menurut pertimbanganmu, Ki Panengah?”

Ki Panengah itu pun menyembah dengan takzimnya. Katanya, “Kemurahan hati Kangjeng Sultan melimpah diatas hamparan perguruan hamba itu”

“Bukankah sudah cukup?”

“Jauh dari cukup, Kangjeng Sultan. Bahkan berlebihan, bukan saja yang bersifat kewadagan, tetapi juga wewenang yang Kangjeng Sultan limpahkan kepada hamba”

Kangjeng Sultan tersenyum. Katanya, “Ki Panengah. Aku juga menginginkan anak-anak muda yang akan menggenggam masa depan itu mempunyai bekal yang cukup. Lahir dan batin. Karena itu, maka mereka harus ditempa dengan cara yang benar. Itulah sebabnya aku setuju dengan Ki Panengah, bahwa perguruan itu harus mendapat perlindungan, agar Ki Panengah mempunyai wewenang yang cukup untuk mengatur diri sendiri tanpa campur tangan orang lain, apalagi campur tangan banyak orang yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda”

“Hamba mohon doa restu, agar hamba dapat menjalankan tugas hamba dengan baik, sesuai dengan keinginan Kangjeng Sultan”

“Aku akan mengikuti perkembangan perguruanmu, Ki Manengah”

“Jika hamba melakukan kesalahan, atau arah perguruan hamba tidak sesuai, hamba mohon Kangjeng Sultan atau seseorang yang ditunjuk memberikan peringatan kepada hamba”

“Kakang Pemanahan akan mendampingi Ki Panengah. sementara itu, aku akan mengirimkan kedua anakku ke perguruan Ki Panengah”

“Maksud Kangjeng Sultan?”

“Benawa dan Sutawijaya akan menjadi murid perguruan ki Panengah”

Wajah Ki Panengah menjadi tegang. Katanya, “Bagai-kiia mungkin keduanya menjadi murid hamba. Menurut pendapat hamba, keduanya memiliki ilmu lebih tinggi dari hamba.

“Tentu tidak, Ki Panengah” Kangjeng Sultan tertawa, “justru dari itu, biarlah keduanya menjadi tuntunan murid-murid yang lain. Setidak-tidaknya ada tiga orang panutan di perguruanmu. Benawa, Sutawijaya dan Paksi. Dengan demikian diharapkan murid-murid yang lain akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak ketiganya. Tetapi jika ketiganya justru menghambat perguruanmu, maka kakang Pemanahan lah yang akan mengambil tindakan”

Ki Panengah mengangguk dalam-dalam sambil menyembah. Ia tahu maksud Kangjeng Sultan. Ketiganya akan memancing anak-anak muda yang lain, yang berguru dengan bersungguh-sungguh untuk memacu diri agar mereka bisa menempatkan dirinya, setidak-tidaknya tidak terlalu jauh dengan ketiga orang anak muda itu.....
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jejak Dibalik Kabut Jilid 16"

Post a Comment

close