Golok Bintang Tujuh Bab 08 : Belati Hitam Muntjul Kembali

Mode Malam
TENTU sadja Siauw Beng tidak mengetahui, Siong Limu begitu melihat golok bintang tudjuh jang mendajadi sendjata genggamannja sipemuda sudah dapat

mengenalinja akan sendjata ampuhnja si nenek tua, dari sini sudah dapat diduga hubungan apa jang dipunjai lawan tangguh di hadapannja.

Mengetahui dirinja bukan tandingan jang setimpal untuk berhadapan dengan Ang- tjiang Tjouw-su serta mengingat anaknja sudah mati konjol dibawah pedangnja sendiri, maka ia telah membunuh diri dan menjerahkan tugas berat kepada sipemuda pemegang golok bintang tudjuh. Dengan tjara ini, seumpama si pemuda bukan tandingan Ang-tjiang Tjouw-su sehingga 7 peti aneh itu dapat direbut, tidak mungkin si nenek tua akan berpeluk tangan sadja dan tidak membalaskan dendam ini semua.

Ditjeritakan Siauw Beng telah mengubur 9 majat jang menggeletak dihadapannja, itulah majat2 jang mendjadi korban keganasan si Telapak Tangan Berdarah Ang- tjiang Tjouw-su jang belum pernah dilihat mukanja.

Kemudian ia naiki kereta piauw dan ketika kudanja dipetjut meluntjurlah iring2an kereta ini menuju kekota Ping-kang tin.

Siauw Beng belum Inma djalankan keretanja, tiba2 terasa ada sambaran angin jang aneh lewat dibelakangnja, maka tjepat sekali ia membalikkan kepala dan dilihatnja pandji Telapak Tangan Berdarah jang tertancap disetiap kereta sudah lenjap sama sekali.

“Heran!” Siauw Beng mengeluh didalam hati. “Siapakah jang mempunjai ilmu mengentengi badan setinggi ini?”

Maka dihadapinja arah bajangan tadi lenjap dan berteriak:

“Kawan dari manakah jang menggoda, mengapa tidak mau memperlihatkan dirinja?”

Djauh didepannja sudah terdengar suara tertawa tjekikikannja seorang wanita, dan ia inilah jang memberikan penjabutan, katanja:

“Bojah sombong, djanganlah kau terkebur dahulu. Lihatlah wadjahmu dikatja jang kusediakan ini.”

Betul sadja dari sana melajang satu benda tembaga jang berupa katja, tjepat Siauw Beng mengulurkan tangan dan menjambutinja.

Mungkinkah Ang-tjiang Tjouw-su jang mendjadi salah satu dari 4 Manusia Imperialis itu seorang Wanita? Demikian pikir Siauw Beng jang tidak mengerti.

Maka katja dipasang dan Siauw Beng mendjadi kaget karena tepat didjidatnja terlihat satu telapak tangan jang berwarna merah, dengan tidak terasa katja perunggu djatuh ditanah dari pegangannja.

Dan waktu itu, berkelebat pula satu bajangan langsing jang segera memungut katja perunggunja, bagaikan angin jang lewat bajangan ini datang dan lenjap pula.

Siauw Beng mendjadi kaget, golok bintang tudjuh segera dipegang untuk mendjaga segala kemungkinan.

“Siapa?” Demikian bentak si pemuda.

Bajangan langsing jang sudah lenjap dibalik pohon tertawa tjekikkan lagi.

“Botjah,” katanja. “Kau sudah lihat bukan? Maka berusahalah menghindari diri dari urusan ini, mungkin kau dapat hidup beberapa hari lagi. Tapi bila kau keras kepala dan mau turut tjampur djuga, sebagai orang pemilik golok bintang tudjuh dan tjambuk perak, mungkinkah kau tidak tahu kelihayannja telapak tangan berdarah perguruanku?”

Memindjam arah datangnja suara tadi, Siauw Beng sudah dapat mengetahui letak persembunjiannja sibajangan langsing, tapi ia masih tidak berani banjak bergerak karena tahu sampai dimana kelihayannja telapak tangan berdarah dari Ang-tjiang Tjouw-su jang dimalui.

Jang membuat Siauw Beng tidak habis mengarti jalah bilakah telapak tangan berdarah menempel diatas djidatnja, ia tidak merasa tertepuk oleh siapapun djuga, tapi ternjata didjidat telah ada telapak tangan berdarah, maka saking penasaran, ia sudah mau memungut katja perunggu tadi untuk dilihat lagi.

Tapi katja perunggu sudah dapat diambil oleh pemiliknja, dan sipemilik katja perunggu itu ada didepannja, maka ia memandang dan berteriak:

“Hei, mengapa kau tidak mau kemari?”

Tiba2 dari balik pohon muntjullah seorang wanita berpotongan badan langsing, tapi pada wadjahnja seperti tumbuh banjak daging lebih, pada berindjulan seperti daging busuk dipupuri oleh bedak jang tebal sehingga membuat Siauw Beng jang melihat sampai tertawa saking geli.

Wanita berwadjah djelek menekuk muka, maka bentaknja:

“Apa jang kau tertawakan? Berani kau memperhatikan kecantikanku?”

Siauw Beng jang mendengar ini hampir mau muntah, tidak disangka wanita jang berwadjah seperti setan berani mengatakan 'tjantik', maka tjepat ia membentak:

“Kau gila! Setelah kau berani memberi tanda telapak tangan berdarah, sudah tentu kau mempunjai kepandaian jang tjukup berarti, maka sambutilah serangan golok bintang tudjuhku ini.”

Dan betu! sadja, dengan ilmu tipu 'Tjit-seng-lian hoan', Siauw Beng sudah mengajun golok bintang tudjuh menjerang orang.

Suara bunji jang seperti gangsingan dari lubang2 digolok jang diputar mendesing, tapi wanita djelek jang diserang tidak mendjadi takut atau kader, dengan mengikuti arah perputaran golok, ia lompat sana lompat sini menghindari segala matjam serangan.

Siauw Beng penasaran telah dibokong orang dan diberi tanda telapak tangan berdarah diatas djidatnja. Bukannja Siauw Beng takut mati sehingga berubah mendjadi galak, adalah ia menguatirkan keselamatannja si nenek tua dipulau

Angin Pujuh, sebab hanja kitab 'Kun-lun Sin-sie' itulah jang dikatakan dapat menolongnja, maka seumpama ia mati disebabkan telapak tangan berdarah, siapakah jang harus meneruskan usahanja mengambil kitab pusaka itu?

Demikianlah, setelah menggunakan ilmu tipu 'Tjit-seng lian hoan' tidak berhasil melukai musuhnja, ia telah merubah mendjadi 'It-auw-put-thong' membikin penjerangan jang berikutnja.

Terdengar 'Bret', sebagian badju dari siwanita djelek itu telah terpapas robek.

Wanita djelek lompat mundur, dengan tertawa ia berkata:

“Sungguh tidak pertjuma kau beladjar ilmu dipulau Angin Pujuh!”

Aneh sekali wanita ini mempunjai potongan badan jang langsing dan bagus, mempunjai suara merdu jang enak didengar, tapi mempunjai wadjah muka jang seperti belatungan berdaging busuk.

Siauw Beng masih belum menjudahi gerakan goloknja, maka seraja menjerang lagi ia berkata:

“.Sambutlah ini lagi!”

Tapi wanita djelek itu berteriak, sambil menundjuk kearah belakang orang ia berkata:

“Lihat dibelakangmu! Siapa jang telah datang?”

Pengalaman Kang-ouwnja Siauw Beng memang tidak ada, tapi ia tidak mudah ditipu seperti itu, ia tahu orang mau melarikan diri, maka ia tidak mau membalikkan kepala, sebaliknja malah mengeluarkan tjambuk perak dan dengan 'Khong hiap-lay-hong' berbareng menjerang lawannja.

Pada saat itu, dibelakangnja Siauw Beng terdengar suara 'Bemg' 'Beng' 'Beng' tiga kali, seperti suara peti besar jang ditumpuk mendjadi satu. Tapi Siauw Beng tidak sempat menengok karena serangannja sudah kepalang tanggung dilanjutkan.

Wanita djelek itu terpaksa harus» mendjaga diri. Melihat golok bintang tudjuh dan tjambuk perak datang menjerang berbareng, tjepat sekali ia mengeluarkan sendjatanja jang berupa belati hitam.

Melihat belati hitam, hatinja Siauw Beng mendjadi kaget, ia menarik serangan dan membentak:

“Hei, kau mempunjai hubungan apa dengan Sak-pe Sam-hiap diperkampungan Sam-kiong San-tjhung?”

“Persaudaraan Tjoa?” Balik tanja si wanita djelek. “Mereka adalah anak2 nakal dari tjutju2ku. Hi hi hi…“

Waktu terdengar lagi 'Beng' 'Beng' Beng' ,Beng' empat kali jang njaring, tjepat Siauw Beng membalikkan kepala dan dilihatnja seorang tua sudah menumpuk 7 peti besi jang segera dibawa lari.

Siauw Beng kaget, itulah peti besi sipiauwsu tua Siong Lim jang telah bunuh diri, orang telah membunuh diri dan meminta tolong kepadanja untuk membawa ke kota Ping-kang-tin, maka tjelakalah bila lenjap ditangannja. Maka tjepat sekali ia membikin pengedjaran untuk meminta pulang lagi.

Tapi siwanita djelek sudah menjelak dan berteriak:

“Hei, tidak usah kau meogedjar. Diriku sadja kau tidak dapat kedjar, apa lagi mau mengedjar guruku?”

“Siapa jang meadjadi gurumu?” Bentak Siauw Beng. “Apa jang dinamakan Ang- tjiang Tjouw-su?”

Wanita djelek mendjebikan bibir tebalnja, dengan merdu berkata:

“Ajo. Djika bukannja Ang-tjiang Tjouw-su, manusia manakah jang dapat lari tjepat seperti dia? Apa kau tahu djulukan dari guruku itu?”

“Apa djulukunnya?”

“Tjoba kau tebak.”

Siauw Beng marah, dilihatnja Ang-tjiang Tjouw-su sudah tinggal satu titik ketjil, tentu sadja 7 peti jang ditumpuk dipundak tidak terlihat sama sekali. Maka semua kemarahan ditumplekan pada dirinja wanita djelek ini, ia membentak:

“Siapa jang kesudian menebak-nebak! Gurumu biarpun mempunjai ilmu lari tjepat dan tidak dapat dikedjar lagi, bila aku menahanmu dan menangkap untuk didjadikan barang tanggungan, mungkinkah ia tidak balik lagi dan memulangkan semua peti2 jang dibawa lari?”

Wanita djelek tertawa, badannja sampai bergojang semua dan berkata:

“Satu kau menebak tepat, tapi satunja lagi menebak salah.”

“Apa menebak tepat menebak salah?” Siauw Beng membentak tidak sabaran.

Wanita djelek itu seperti puas dengan olok2nja, dengan lagak jang tjukup menarik berkata:

“Kau mengatakun guruku mempunjai ilmu lari tjepat, tebakanmu ini memang tepat karena djulukannja jalah si 'Kilat Hidup'. Dan satu lagi jang tidak tepat jalah tjaramu jang mau menahan diriku, dengan ini kau ingin guruku mengembalikan 7 peti besi itu? Tidak mungkin. Biarpun aku bukan mendjadi muridnja si 'Kilat Hidup' Ang tjiang Tjouw-su, tetap kau tidak dapat menangkapku. Seumpama betul kau dapat menangkap diriku didjadikan barang tukaran, guruku djuga tidak mau mengembalikan 7 peti itu, karena ia mempunjai satu djulukan lain jang berbunji 'Manusia tidak berhati', tidak mungkin ia dapat memperdulikan mati hidupku lagi. Maka aku mengatakan s*atu betul dan satu salah.”

Siauw Beng menunggu sampai orang selesai 'Kuliah', baru berkata geram: “Aku tidak perduli dengan apa jang dinamakan 'Kilat Hidup' atau 'Kilat mati', aku tidak memperdulikan 'Manusia tidak berhati' atau 'Manusia berhati', aku akan menahan dirimu bukan sadja karena gurumu telah membawa lari 7 peti besiku, tapi djuga karena kau…“

“Karena aku tjantik?” Memotong siwanita djelek. “Karena ketjantikanku inilah, maka timbul niatanmu untuk memperistrr?”

Perutnja Siauw Beng sampai dirasakan mules karena lagi sekali mendengar siwanita djelek mengatakan dirinja 'Tjantik', tapi ia seperti budek dan tidak mendengar meneruskan katanja:

“Karena kau memiliki itu belati hitam.”

“Mengapa kau dapat mengenali belati hitam?' Waniia djeJek itu dengan heran bertanja.

Siauw Beng tertawa dingin, katanja:

“Dari mana kau mendapatkan belati hitam itu?”

Wanita djelek ini memang tjukup nakal, bagaimana lajaknja para gadis jang baru dilepas keluar rumah, iapua bersifat bebas dan lepas, dengan enak berkata:

“Pada suatu malam, aku mendatangi perkampungan Sam kiong San-tjhung, tenta sadja harus membunuh dulu apa jang dinamakan Sat-gwa Sam-hiap, bagaikan membunuh 3 ekor andjing sadja aku membunuh Tjoa Tay-Kiong sekalian. Kemudian, bagaikan membakar sampah jang sudah lama bertumpukan, kusulut api jang segera menjala dan memakan perkampungan Sam-kiong San-tjhung. Kemudian dari runtuhan2 dan abu jang masih panas, kudapatkan belati hitam ini.”

Siauw Beng mana pertjaja, wanita didepannja mempunjai potongan badan jang langsing mengiurkan, mempunjai lagu suara jang menarik dan merdu, mungkinkah mempunjai kelakuan jang sekedjam ini? Maka dengan ragu2 menanja:

“Apa tjeritamu betul semua?”

“Tentu sadja.” Berkata siwanita djelek. “Bila kau tidak pertjaja, aku boleh mengadjakmu keperkampungan Sam-kiong San-tjhung untuk melihat kenjataannja.”

Siauw Beng tidak dapat menahan hawa amarahnja lagi. Seperti apa jang telah kita ketahui dibagian depan dari tjerita ini, Tjoa Tay-kiong telah memberikan pertolongannja kepada Siauw Beng jang belum lama kematian ibunja, maka budi ini tidak nanti ia cepat melupakan begitu sadja. Mendengar kata2 siwanita djelek jang membunuh 3 saudara Tjoa dan membakar perkampungan Sam-kiong San- tjhung, tjepat sekali ia mengajun tjambuk perak dan memutarr golok bintang tudjuh menjerang dengan kalap.

Wanita djelek tidak pertjuma mendjadi muridnja si 'Kilat Hidup' Ang-tjiang Tjouw- su jang djuga mendapat djulukan 'Manusia tidak berhati', dengan menggunakan belati hitam sebagai sendjata, ia membikin pendjagaan jang tjukup kuat djuga.

Siauw Beng bertambah panas, dengan golok bintang tudjuh di tangen kanan, tjambuk perak ditangan kiri, bergantian ia membikin penjerangan.

Wanita djelek mulai kewalahan, tapi ilmu mengentengi badan si 'Kilat Hidup' Ang- tjiang Tjouw-su jang mendjadi salah satu dari 4 Manusia Imperialis telah diturunkan kepadanja semau, maka dengan lontjat sana dan lontjat sini, ia berhasil menghindari diri dari serangannja si pemuda gagah berani.....
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Golok Bintang Tujuh Bab 08 : Belati Hitam Muntjul Kembali"

Post a Comment

close