coba

Golok Bintang Tujuh Bab 01 : Muntjulnja Belati Hitam di Lautan Saldju

Mode Malam
DI DAERAH luar tembok besar dari Tiongkok Utara memang lebih tjepat turun saldju, maka sewaktu didaerah lainnja baru mulai memasuki musim dingin, disana sudah mendjadi lautan saldju jang tidak ada udjung pangkalnja.

Maka pemandangan pada suatu musim dingin diluar tembok besar, hanja saldju sadja jang terlihat disana, kita mendongak keatas melihat langit, se-olah2 ditaburi oleh bunga saldju, tidak ada satu awan biru jang terlihat disana. Kita melihat kebawah, tanah jang biasanja penuh dengan debu djuga sudah tidak terlihat lagi karena tumpukan saldju sudah menjampai beberapa dim tebalnja. Tidak djauh terlihat pohon2 jang sudah tidak berdaun mendjadi putih seperti batu karang didaratan, batu2 besar bagaikan di ubah oleh achli sihir sadja djuga merupakan 'Es batu' asli jang tidak dapat dimakan, djauh disekitar sana sudah tidak terlihat apapun djuga, ketjuali saldju putih jang membuat satu dunia saldju jang sukar dilihat oleh manusia.

Di antara perbatasan langit dan bumi jang djuga memutih semua, tiba2 terlihat satu titik merah jang bergerak-gerak, perlahan demi perlahan, titik merah tadi semakin membesar dan njatalah kini bahwa itulah seorang wanita berbadju merah jang sedang merangkak madju sambil menggendong anaknja jang berumur kurang lebih 7 atau 8 tahun.

Wanita badju merah jang menggendong anak itu merangkak dan merangkak, sehingga achirnja kehabisan tenaga djuga, dengan lesu dan napas memburu ia berkata seorang diri:

“Tidak lari tentu mati dikedjar mereka, laripun mati kehabisan tenaga, maka lebih baik aku diam sadja disini dan mati didalam tumpukan saldju sadja.”

Wanita badju merah entah ingin melaksanakan omongannja, entah memang ia sudah kehabisan tenaga, maka tidak lama kemudian ia sudah djatuh untuk tidak bangun lagi dan membiarkan sang saldju menutupi dirinja.

Anak jang digendong, setelah tersadar dari tidurnja dan melihat tidak ada gerakan lagi dari jang menggendongnja mendjadi heran, ia meloloskan diri dari gendongan orang dan bukan main kagetnja karena melihat wanita badju merah itu sudah tidak bernapas lagi.

“Bu... bu...” serunja sambil menggojang-gojangkan badan orang.

Wanita badju merah jang ternjata adalah ibunja dari anak ini tetapi tidak bergerak dan tidak menjahut panggilan anaknja, ternjata ia sudah meninggal dunia dilautan saldju diluar tembok besar.

Anak ini mngenakan pakaian putih, tapi karena sudah lama dikedjar-kedjar orang sehingga tidak diberi kesempatan untuk menukar atau mentjutji, lama kelamaan karena badju sudah mendjadi warna abu2 jang kotor dan dekil sehingga hampir menghilangkan warna putih badjunja. Setelah ia tahu bahwa ibunja sudah meninggal dunia, dengan sekali mendjerit 'Ibu', iapun djatuh pingsanlah sudah.

Djika seorang anak ketjil biasa jang belum pernah mendapat latihan ilmu silat atau tenaga dalam jang sempurna, seumpama ia terdjatuh pingsan di tengah-tengah daerah saldju jang sedingin itu, sudah dapat dipastikan bahwa anak itu akan terpendam saldju dan tidak mungkin dapat sadarkan diri lagi.

Tapi ada pengetjualiannja terhadap anak berpakaian kumel jang belum diketahui asal usulnja tadi, setelah pingsan tidak lama, berkat latihannja jang sempurna dan djalan darahnja masih berdjalan dengan lantjar, maka tidak lama kemudian ia sudah siuman kembali.

Dan pada saat itu, dari djauh terdengar suara berisik kereta jang sedang mendatangi kearah dimana si anak aneh dan ibunja djatuh tadi.

Memang betul sebuah kereta jang ditarik oleh 4 ekor kuda sedang lari mendatangi, didalam kereta ada duduk 3 orang lelaki sebagai penumpangnja jang sedang menikmati pemandangan alam jang sedang merubah dirinja mendjadi satu dunia saldju jang putih meletak.

“Eh, disana seperti ada orang?” Tiba2 salah satu dari 3 penumpang kereta tadi berteriak.

Dua orang lainnja mengikuti arah jang ditundjuk oleh orang jang pertama membuka suara dan betul sadja mereka dapat melihat satu bajangan putih ketjil, jang bergerak-gerak disekitar sesuatu jang berwarna merah.

Tiga orang didalam kereta saling pandang sedjenaaK dan mereka mendjadi heran karena ditempat jang sepi dan hawa jang dingin ini masih ada orang jang berdjalan dengan kaki, siapakah gerangannja orang jang seberani ini?

Maka sewaktu kereta berdjalan tidak djauh dari tempatnja dimana si anak ketjil berdiri, terlihat satu bajangan hitam melajang dan dialah orang jang pertama bitjara sudah melajang meninggalkan kereta dan berdiri tidak djauh dari mana si anak aneh jang masih sedang sedih ditinggalkan oleh ibunja.

Kini djelaslah bahwa benda jang berwarna itu djuga berupa seorang manusia jang sudah tidak bernapas lagi, mungkin tidak tahan dinginnja hawa jang tjukup membekukan segala-galanja itu, atau mungkin djuga disebabkan oleh sesuatu lainnja.

“Anak,” demikian orang jang melompat keluar dari kereta tadi berkata. “Mengapa kau dapat berada disini?”

Sianak aneh seperti tidak mendengar sadja, masih mematung ditempatnja dan tidak memberikan djawabannja.

“Anak,” orang itu berkata lagi. “Siapa dan dari manakah kalian berdua? Masih pernah apakah dengan wanita badju merah jang telah meninggal dunia?”

Dua penumpang kereta lainnja djuga tampak sudah turun berdjalan menudju kearah dimana si anak jang baru kematian ibunja berada.

Agaknja sang anak ketjil takut djika 3 orang penumpang kereta ini bermaksud djahat, maka dengan tjepat ia sudah menghadang didepan majat ibunja untuk mendjaga sesuatu jang tidak diinginkan, kemudian dipandangnja 3 orang itu bergantian dan tetap diam ditempatnja.

“Anak,” tetap siorang pertama tadi jang bitjara.

“Siapakah jang mati disitu?”

Sianak jang telah ditanja beruntun tiga kali mendongakan kepalanja dan berkata dengan mantap:

“Ibuku.”

Orang jang pertama lompat keluar dari kereta seperti berbudi luhur, siapa berdjalan madju ia berkata lagi:

“Tjoba kau minggir, biar kulihat dan berusaha untuk menolong ibumu.”

Anak ketjil berbadju dekil memandang sekian saat lamanja kearah orang jang bitjara ini dan dari paras serta sinar mata orang jang tidak mengandung kedjahatan ia dapat menjelami akan maksud baiknja maka ia minggir dan membiarkan orang memeriksa ibunja.

Orang ini mempunjai langkah jang mantap, tangannja ditaruh di depan dada orang dan setelah memeriksa sebentar, kemudian dengan kaget berkata:

“Dia bukan mati karena serangan hawa dingin.”

Dua orang lainnja jang mendengar mendjadi heran, dengan berbareng mereka berkata:

“Apakah jang menjebabkan kematiannja?” Orang pertama menggeleng-gelengkan kepala.

“Sukar untuk menentukannja sekarang djuga.” Terdengar ia berkata. “Daerah sini djarang dilewati orang, ketjuali orang jang menudju kearah Sam-kiong San-tjhung kita jang tidak seberapa djauh, tapi wanita baju merah dan anak ketjil ini... “

Tiba2 matanja orang ini jang lihay sudah dapat melihat satu benda hitam jang djatuh tidak djauh dari pinggangnja simajat badju merah sehingga memutuskan pembitjaraannja.

“Tjoba kalian lihat,” terdengar ia berkata: “Apa belati ini jang dinamakan belati hitam jang terkenal didalam rimba persilatan?”

Mulutnja bitjara, sedang tanganja sudah diulurkan untuk mengambil belati ketjil jang rupa2nja terdjatuh dari tubuhnja siwanita badju merah sewaktu digojang- gojangkan oleh anaknja.

Tapi anak ketjil itu dapat bergerak lebih tjepat dari dirinja, dengan sebat ia sudah mendahului merebut pisau belati sang ibu dengan tangan ketjilnja jang segera ditekuk kebelakang dirinja mendjaga rebutan orang sambil berteriak:

“Djangan kalian mengganggu belati ibuku.”

Orang jang pertama melengak dan kaget, tapi tidak lama kemudian ia sudah tertawa berkakakkan dan katanja:

“Anak, legakanlah hatimu. Kita bertiga djuga mempunjai sedikit nama didaerah luar tembok besar. Tidak nanti kita dapat menghina seorang anak ketjil jang tidak bertenaga.”

Dua orang lainnja jang mendengar disebutnia Belati hitam mendjadi heran, mereka tidak pertjaja dan berbareng berkata:

“Toako, apa kau tidak salah lihat belati biasa jang hitam warnanja? Belati Hitam sebagai pusakanja Kun-lun-pay jang dapat meremukan apa jang ditemuinja mana mungkin dapat terdjatuh kedalam tangannja wanita biasa?”

Orang pertama jang lompat keluar dari kereta jang dipanggil 'Toako' oleh dua orang lainnja menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak mungkin aku mendjadi salah mata.” Katanja dengan sungguh. “Pada Kun-lun Tay-hwe (Pesta Kun-lun besar) jang diadakan 10 tahun berselang, aku pernah melihat belati hitam ini dengan mata kepala sendiri, makia rasanja mataku belum mendjadi lamur tidak dapat membedakan palsu aslinja.”

Lalu dihadapi lagi si anak ketjil dan berkata padanja:

“Anak, kami orang adalah tiga saudari Tjoa dari perkampungan Sam-kiong San- tjhung, keluarkarlah belati ibumu itu untuk diperlihatkan agar kami orang dapat membantu dirimu bila mana perlu dan sekalian mengurus majat ibumu. Apa kau pertjaja kepada kami bertiga?”

Sang anak jang mendengar orang dihadapannja mengaku she Tjoa dari perkampungan Sam-kiong San-tjhung, dengan memutarkan bidji hitam ketjilnja berkata:

“Apa kalian jang mendapat djulukan Sak-gwa Sam-hiap diluar tembok besar?”

Tiga orang itu mendjadi kaget, mereka tidak menjangka seorang anak ketjil jang baru berumur 8 tahun sudah dapat menjebut nama djulukannja. “Betul.” Sang toako dari tiga saudara Tjoa tadi berkata.

Tapi si anak masih kurang pertjaja kepada sembarang orang dan masih tidak mau menjerahkan belati ibunja djuga.

Sang toako dari 3 persaudaraan Tjoa tertawa untuk menghilangkan ketegangan diantara mereka dan berkata: “Kau harus pertjaja kepada kami. Belati hitam biarpun mendjadi salah satu pusaka dunia, tapi tidak mungkin Sak-gwa Sam-hiap dapat menggunakan kekerasan untuk merebutnja.”

Mukanja si anak ketjil mendjadi merah, ternjata orang sudah dapat menduga ketjurigaannja, maka tangan jang ditekuk kebelakang memegang belaiti itu dikeluarkan lagi dan menjerahkan kepada orang jang meminta.

Toako dari tiga saudara Tjoa, Tjoa Tay-kiong, menjambuti benda jang diangsurkan oleh si anak ketjil dihadapannja. Begitu belati terdjatuh kedelan tangannja, seluruh tubuhnja sudah mendjadi bergemetaran dan terasa akan keberatannya, inilah memang belati hitam asli jang mendjadi pusaka gunungnja Kun-lun-pay.

Tjoa Tay-kiong setelah mengudji keasliannja belati hitam itu, terlihat ia menjerahkan kepada saudaranja Tjoa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong.

Tiga orang bergiliran melihat dan memeriksa dan putusan terachir dari meraka ialah belati jang mereka pegang itu memang betul belati hitam jang mendjadi pusaka gunungnja Kun-lun-pay.

Setelah menjerahkan kembali belati hitam orang kepada achli warisnja, Tjoa Tay- kiong sudah berkata:

“Aneh, sungguh aneh sekali. Kun-lun Tjit-tju (7 tokoh Kun-lun) sudah berumur lebih dari 60 tahun, murid2 mereka Kun-lun Tjap-sie-hiap (14 pendekar Kunlun) djuga tidak ada satu jang terdiri dari kaum wanita, tapi mengapa belati hitamnja dapat berada disini?”

Karena Tjoa-Tay-kiong mengatakan kata2 pendapatannja, maka sang anak jang mendengar dengan muka marah berteriak:

“Belati adalah barang kepunjaan ibuku.”

Tjoa Tay-kiong jang mendengar anak ketjil ini seperti membantah dugaan2-nja, dengan sungguh2 berkata:

“Anak, siapakah nama ibumu itu?”

Sang anak menutup rapat mulutnja sehingga njamukpun sukar masuk, apa lagi suaranja, tentu sadja tidak bisa keluar sama sekali.

Setelah beruntun sampai tiga kali Tjoa Tay-kiong menanjakan pertanjaan jang sama, sang anak mendjadi tidak sabaran, maka dengan gemas ia berkata:

“Ibuku pesan tidak boleh mengatakannja.”

Tjoa Tay-kiong, Tjoa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong tidak berdaja. “Pulanglah ke Sam-kiong San-tjhung terlebih dahulu.” Achirnja Tjoa Tay-kiong memberikan perintahnja. “Sebenar lagi setelah saldju turun keras, sukarlah kita dapat pulang berumah.”

Maka dengan sekali samber sadja, Tioa Tay-kiong sudah membawa sang anak naik kereta dan Tjoa Tay-hiong sudah membawa majatnja itu wanita badju merah untuk dibawa keperkampungan mereka.

Tidak lama kemudian, perkampungan Sam-kiong San-tjhung sudah terlihat dan begitu datang dekat, terdengar satu orang pendjaga sudah menjongsong mereka dan berkata:

“Para loya sudah pulang?”

Terdengar Tjoa Tay-kiong sudah memberikan perintahnja:

“Lekas sediakan peti mati jang bagus dan air hangat untuk kita tjutji muka.”

Lalu dengan meninggalkan majatnja sibadju merah jang mendjadi ibu dari anak ketjil itu, mereka langsung memasuki salah satu rumah jang terbesar disitu.

Si anak jang sudah kedinginan sekian lamanja, begitu memasuki ruangan perapian di Sam-kiong San-tjhung baru dapat merasakan segar kembali, ia menjelip di podjok ruangan jang berdekatan dengan api dan tidak berkata sepatahpun djuga.

Tjoa Tay-kiong sebagai Tjhungtju pertama dari perkampungan Sam-kiong San- tjhung sudah mulai menanja lagi.

“Anak, siapakah nama ajah dan ibumu, dan siapakah namamu sendiri?”

Tapi si anak masih tetap menggeleng-gelengi kepala dan dengan tegas berkata:

“Aku tidak mau mengatakannja dan kalianpun djangan menanjakan lagi.”

Biarpun anak dari lautan saldju ini masih berumur ketjil, tapi perkataannja tandes dan tegas sehingga membuat 3 orang tertegun tidak bisa bitjara.

Tjoa Tay-kiong memandang kearah dua saudaranja sebentar dan berkata kepada si anak didepannja: “Kau tidak mengatakanpun tidak mendjadi anp, tapi karena ibumu baru meninggal dunia, saldju turun dengan sedemikian derasnja, apa lagi dengan umurmu jang seketjil ini, bagaimana djika tinggal disini dahulu. Maukah kau tinggal di perkampungan Sam-kiong San-tjhung bersama-sama kami?”

Anak itu memanggutkan kepala dan berkata:

“Mau.”

Tapi Tjoa Tay-hiong jang tidak sependapat dengan saudara tuanja sudah berkata kearah Tjoa Tay-kiong:

“Toako, belati hitam adalah pusaka Kun-lun-pay jang tidak mudah untuk diberikan kepda siapapun djuga tapi mengapa dapat berada ditangannja botjah tjilik ini?”

Tjoa Tat-kiong memang sudah mentjurigai bahwa belati hitam tidak mungkin mendjadi barang kepunjaan ibu dari anak ketjil ini, maka mendengar adiknja berkata begitu, ia sudah madju mendekati si anak ketjil dan menanja:

“Anak, dari manakah kau dapati belati hitam ini?”

Anak ketjil itu ternjata mempunjai ambekan jang tjukup besar, terdengar dengan marah ia berkata:

“Djika kalian tidak pertjaja kepadaku, baiklah. Akupun tidak mau tinggal disini lagi.”

Dan betul sadja anak ketjil ini sudah berdjalan keluar dari ruangan itu.

Tjoa Tay-hiong jang tidak dapat disamakan dengan Tjoa Tay-kiong sudah tertawa dingin, sambil menghadang didepan pintu ia berkata:

“Botjah, kau mau pergi dari sinipun boleh, tapi belati hitam jang bukan mendjadi kepunjaanmu itu tinggalkanlah disini dahulu.”

Tapi Tjoa Tay-kiong jang tidak menjetudjui pendapat adiknja sudah membentak:. “Samtee....”

Lalu dihadapinja si anak ketjil dan berkata dengan lemah lembut:

“Anak, bukankah tadi kau sudah bersedia untuk tinggal disini? Mengapa sekarang mau pergi lagi?”

Tiba2 saat itu, Tjoa Tay-hong lari masuk dan berkata kepada saudara tuanja: “Toako, ada tamu datang keperkampungan kita.”

“Apa orang2 dari Kun-lun-pay?” Tjoa Tay-kiong mengeluarkan dugaannja.

“Bukan.” Berkata Tjoa Tay-hong dengan perlahan. “Tamu jang datang kemari dengan melawan saldju ini ada dua orang, satu ialah 'Kaki Pintjang' Tui Kie daii satunja lagi si 'Muka Hitam' Hek Thian-tong.”

Tjoa Tay-kiong mendjadi kaget, tjepat ia menjambar badju dingin untuk keluar membikin penjambutannja, sebelum ia keluar sudah berkata seorang diri:

“Dua manusia djahat ini datang kemari mau apa lagi?”

Maka tjepat ia keluar dan dilihatnaj dua orang sudah berada didepan pintu, satu jang berkaki pintjang sudah tentu Tui Kie dan di sebelahnja terlihat seorang pendek ketjil jang bermuka hitam, inilah Hek Thian-tong jang sudah terkenal lebih djahat daripada suhunja jang bernama Pek-kut Sin-kun.

“Tjoa tayhiap,” demikian Hek Thian-tong berkata. “Mengapa kami tidak diberi idjin untuk masuk ke dalam Sam-kiong San-tjhung mu?”

Tjoa Tay-kiong mentjoba tertawa dan berkata:

“Kami orang tidak tahu bahwa djiwie akan datang kemari, maka atas penjambutan jang kurang sempurna, harap dapat dimaafkan sadja.”

Lalu diadjaknja mereka masuk kedalam ruangan tamu untuk menanjakan maksud kedatangannja.

Tapi baru sadja mereka duduk disana, tiba2 Tjoa Tay-hong sudah masuk dan berkata dengan perlahan: “Toako, ada orang jang mengaku bernama Tjo Put-djin minta bertemu.”

Biarpun suaranja Tjoa Tay-hong tjukup perlahan tapi bagi si Muka Hitam Hek Thian-tong jang berpendengaran tadjam sudah dapat mengetahui djuga maka dengan tertawa dingin ia berkata:

“Ini baru namanja keramaian dunia, semakin banjak orang jang datang, semakin ramai pula Sam-kiong San-tjhung.”

Tjoa Tay-kiong mendjadi kaget. “Mengapa hari ini mendadak dapat kedatangan banjak orang djago dari golongan hitam semua?” Demikian tjhungtju dari perkampungan Sam-kiong San-tjhung ini membathin didalam hati.

Maka setelah Tjoa Tjay-kiong memanggutkan kepala, tidak lama kemudian Tjoa Tay-hong sudah membawa masuk seorang jang berpakaian seperti sastrawan dan bermuka putih, inilah Tjo Put-djin dari Tjiat-tong jang entah mempunjai urusan apa djauh2 datang kemari djuga.

“Saldju turun sedemikian kerasnja, maka aku jang rendah Tjo Put-djin terpaksa harus mendjadi tamu dari Sam-kiong San-tjhung jang tidak diundang.” Demikian Tjo Put djin berkata kepada tuan rumah.

Tjoa Tay-kiong hanja memanggutkan kepala dan berkata:

“Silahkan saudara Tjo duduk dahulu.”

Tjo Put djin tidak malu2 lagi sudah segera menarik kursi sendiri dan duduklah ia disitu dengan tidak memandang kearah Tui Kie dan Hek Thian-tong jang sudah datang terlebih dahulu dari dirinja.

Setelah duduk dikursinja, baru Tjo Put-djin membuka matanya jang tadi dirapetkan itu. “Kedatanganku kemari ini sebetulnja ingin...” Tapi tiba2 ia tidak meneruskan kata2nja. Sambil menundjuk kearah Tui Kie dan Hek Thian-tong ia berkata. “Eh, siapakah dua tuan jang berada disini? Mengapa aku belumn pernah melihat sama sekali?”

Mukanja Hek Thian-tong jang hitam tidak terlihat perubahan sama sekali, dengan dingin ia menjambungi utjapan orang tadi:

“Jang rendah adalah murid dari Pek-kut Sin-kun jang bernama...”

Tjo Put djin tidak membiarkan orang menghabiskan kata2nja, sambil tertawa ia memotong:

“Aku hanja ingin tahu nama saudara sadja dan bukan saudara mempamerkan nama guru atau nenek mojang jang tidak ada sangkutannja sama sekali.”

Sebetulnja, si Muka Hitam Hek Thian-tong sedikit djeri djuga terhadap Tjo Put-djin, maka ia sudah menondjolkan nama suhunja Pek-kut Sin-kun jang disegani orang, tidak disangka sangat terlalu mendesak kepada dirinja, maka dengan dingin iapun berkata: “Jang rendah bernama Hek Thian-tong. Dan entah bagaimana dengan nama sebutan saudara?”

Karena Hek Thian-tong menanja seperti ini, maka mukanja Tjo Put-djin sudah mendjadi masem. “Siao-tee bernama Tjo Put-djin.” Katanja dengan sombong.

Hek Thian-tong menggelengkan kepalanja dan berkata sampai beberapa kali:

“Tjo Put-djin...? Tjo Put-djin...?”

Lalu dipandangnja tuan rumah Tjoa Tay-kiong dan menanja:

“Tjoa tjhungtju, tahukah tentang nama Tjo Put-djin ini? Mengapa siaotee belum pernah mendengar sama sekali?”

Hek Thian-tong sudah sengadja balik mengedjek orang untuk membalas kata2 sombongnja Tjo Put-djin tadi.

Maka mana mungkin Tjo Put-djin tidak mengarti? 'Sret' terlihat ia mengeluarkan kipasnja jang segera disodorkan kedepan orang dan berkata:

“Nama Tjo Put-djin harus ditulis setjara begini.”

Hek Thian-tong djuga bukan orang tolol, maka melihat orang menjerang dengan kipasnja, dengan sekali djambret, ia sudah berhasil memegang kipas orang, lalu kipas didorong kedepan dan siap mendjatuhkan orang.

Tapi Tjo Put-djin jang sudah lama malang melintang didaerah Tjiat-tong mana mudah didjengkangkan orang begitu sadja? lapun mendorong kedepan sehingga berkutetanlah mereka berdua.

Pada waktu ini dari luar tiba2 njelonong masuk seorang pendjaga pintu jang berkata dengan gelagapan:

“Toaya, diluar ada... “

Tapi sebelum pendjaga pintu ini dapat meneruskan kata2nja, mendadak ia djatuh ngusruk untuk tidak bangun lagi, berbareng dari luar djuga sudah njelonong masuk dua orang jang tjukup mengagetkan semua orang.

Dua orang jang baru masuk itu terdiri dari satu hweshio dan seorang nikouw. Tjoa Tay-kiong, Tioa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong jang melihat kedatangannja hweshio dan nikouw ini belum dapat berbuat sesuatu apa, karena terlihat sihweshio mengulurkan tangannja jang berbulu dan membentak kearah Hek Thian-tong dan Tjo Put-djin jang masih berkutetan mendorong atau merebut kipas jang berada ditengah-tengah mereka:

“Hari jang sedingin ini, siapakah jang memperebutkan kipas?”

Tjo Put-djin dan Hek Thian-tong jang masih saling tarik merasakan satu tenaga besar jang menekan dada, tapi mereka tidak dapat melepaskan pegangan kipasnja, takut mendapat tekanan tenaga balik jang dapat mematikan dirinja.

Sihwesio jang tahu tidak mungkin dapat merebut benda dari tangan dua tokoh kuat sudah tjepat merapetkan telapak tangan, dengan mentjurahkan dan menjalurkan tenaga dalam kedjari kanan menotok tengah kipas berkata lagi:

“Kena!”

Segera kipas terputus mendjadi dua bagian, Tjo Put-djin dan Hek Thian-tong masing2 terpental mundur dan djatuh kekursi mereka. Tekanan tenaga mereka tidak berhenti sampai disitu sadja dan dengan kursi jang diduduki oleh mereka, termundur lailah dua manusia ini.

Sihwesao jang baru datang tertawa berkakakan dan pentang mulut pula:

“Masing2 sudah mendapat setengah bagian. Satu pembagian jang sangat adil bukan? Jang manakah tuan rumah disini? Biar aku mengenal terlebih dulu.”

Sebelum Tjoa Tay-kiong, Tjoa Tay-hong, Tjoa Tay-hiong dapat memberi djawaban, nikouw jang masuk bersama-sama dengan sihweshio sudah tertawa tjekikikan. Katanja:

“Siapakah jang tidak mengenal dirimu? Tuan rumah ini sungguh keterlaluan sekali.”

Tentang dua orang terachir datang ini, bagi siapa sadja jang pernah berkelana didalam rimba persilatan memang tidak asing lagi. Mereka adalah Kim Lo-han dan Pu-yong Ni-kouw.

Disini perlulah rasanja untuk membikin sedikit pendjelasan tentang Kim Lo-han dan Pu-yong Ni-kouiw ini. Ternjata Kim Lo-han adalah anak murid keluaran partay Ngo-tay-pay, tapi itupun hanja asal mulanja sadja dan kini ia telah diusir dari pintu perguruan, tidak mendapat pengakuan lagi.

Dapat dibajangkan, partay Ngo-pay sudah terkenal tidak wangi, djika sampai ia diusir dari pintu perguruan ini, terbuktilah betapa lebih tidak wanginja nama Kim Lo-han.

Tentang Pu-yong Ni-kouw (Bukan Pu-yong-hay) lebih dari pada sang kawan, ia bersendjatakan Pu-yong-tjiam atau djarum Pu-yong jang halus, dan ada satu kepandaian pula jang dimiliki olehnja, jaitu ilmu kepandaian 'Asjuro mi-mo-biauw- im' jang mendjadi salah satu bagian dari ilmu 'Asjuro mi-mo-tay-hoat''. (Tentang ilmu 'Asjuro Mi-mo-tay-hoat, para pembatja dipersilahkan membatja KIM TO WAN atau Mutiara Pusaka).

Dengan ilmu kepandaian 'Asjuro Mi-biauw-im' inilah sering kali Pu-yong Nikouw menghypnotis orang jang akan didjadikan korbannja. Maka bukan sedikit musuh2 tangguh jang djatuh olehnja.

Sebetulnja, dua orang ini djarang sekali bertjampur mendjadi satu, apa lagi djalan bersama dengan tudjuan sama. Hanja waktu itu memang istimewa dan mempunjai maksud serta tudjuan bersama, maka berbareng mereka telah masuk kedalam perkampungan Sam-kiong San-tjhung.

Tiga saudara Tjoa jang melihat kedatangannja, mulai terkedjut, betul mereka tidak dapat menandingi nama besarnja '4 Manusia Imperialis', namun tjukuplah untuk membikin geger tempat jang didatangi.

Sewaktu si Muka Hitam Hek Thian-tong menjebut Pek-kut Sin-kun jang mendjadi salah satu dari 4 Manusia Imperialis, Kim Lo-han dan Pu-yong Ni kouw masih dapat tertawa-tawa.

Tjoa Tay-kiong, Tjoa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong hampir berbareng madju kedepan berkata:

“Kami orang bersaudaralah jang mendjadi tuan rumah, entah dengan maksud apa kedatangan kalian beramai kemari?”

0 Response to "Golok Bintang Tujuh Bab 01 : Muntjulnja Belati Hitam di Lautan Saldju"

Post a Comment