coba

Bakti Pendekar Binal Jilid 32

Mode Malam
“Apakah sahabat tidak tahu bahwa di sini masih ada benda lain yang jauh lebih bagus dari pada tikus?” ucap Giok-long dengan menyesal.

Si baju hitam mengerling ke arah Buyung Kiu dan Thi Peng-koh, katanya dengan tertawa aneh, “Anak murid perguruan kami sama berpendapat perempuan tidak lebih menarik dari pada tikus....”

Kang Giok-long menarik Buyung Kiu menjauhi Siau-hi-ji dan Han-wan Sam-kong, habis itu baru bicara dengan tertawa, “Tapi harta mestika apakah juga tidak lebih menarik dari pada tikus?”

“Harta mestika? Di mana?” tanya si baju hitam, matanya mencorong menandakan kerakusannya.

Giok-long memberi tanda ke arah gua di belakang sana dengan lirikan mata, sedangkan mulutnya berkata dengan tertawa, “Ada kedua saudara ini, aku tidak berani menjelaskan.”

“Sungguh aku merasa heran pada diriku sendiri, mengapa tidak sejak dulu-dulu kusembelih kau,” ucap Siau-hi-ji sambil mengangkat pundak.

“Haha, kukira tidaklah mudah jika orang seperti engkau juga ingin membunuh diriku,” ejek Kang Giok-long.

Dalam pada itu kelima orang berbaju hitam telah saling memberi tanda kedipan mata, setelah menjinjing sangkar besi, segera mereka melangkah ke gua di belakang sana.

Cepat Siau-hi-ji menyelinap maju mengadang di depan mereka, katanya dengan tertawa, “Di belakang sana tiada tikus, lebih baik silakan kalian pulang saja.”

“Kau berani merintangi kami?” jengek si baju hitam tadi.

“Bukan aku merintangi kalian, tapi kalian yang salah jalan, untuk keluar kalian harus menuju ke depan sana,” kata Siau-hi-ji.

“Sebaiknya sahabat harus tahu bahwa meski kau tidak berani makan tikus, tapi tikus berani makan kau,” kata si baju hitam dengan terkekeh-kekeh.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Tapi sudah beberapa hari aku tidak mandi, dagingku sangat kotor, mungkin tikus juga tidak mau.”

“Hehe, bagus, kau ini memang lucu, nyalimu juga tidak kecil....” Sampai di sini, sekonyong-konyong cambuknya yang hitam gelap entah terbuat dari apa dan cukup berbobot itu terus menyabat.

Tapi sekali meraih dapatlah Siau-hi-ji menangkap ujung cambuk, ucapnya dengan tertawa, “Mungkin sahabat belum tahu, meski aku agak pusing menghadapi kawanan tikus, tapi terhadap manusia, biasanya aku tidak takut.”

Air muka si baju hitam berubah karena cambuknya terbetot oleh Siau-hi-ji, sekuatnya ia menarik, tapi cambuk itu seperti sudah lengket di tangan Siau-hi-ji, biar pun dia kerahkan sepenuh tenaga juga tidak mampu merebutnya kembali.

“Jika tikus tidak kenal aku, maka aku pun tidak kenal tikus,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, “Seumpama kalian menangkap habis semua tikus di dunia ini juga tak kupeduli, tapi kalian hendak mengincar urusan lain, terpaksa aku harus bertindak.”

“Bila kau tidak mengganggu kami, tentu kami pun takkan mengganggumu, tapi kalau kau hendak merintangi kami, terpaksa kami pun tidak sungkan-sungkan lagi padamu,” jengek si baju hitam. Habis berkata, kembali mulutnya mengeluarkan suara menyemprit seperti tadi.

Dua orang temannya segera membuka pintu sangkar yang dipegangnya, tikus yang tadinya berjubel di dalam sangkar segera melompat keluar terus menerjang ke arah Siau-hi-ji.

Tentu saja anak muda itu terkejut, sementara itu berpuluh dan beratus ekor tikus telah melompat ke atas tubuhnya, ya gigit ya jerit, Siau-hi-ji menjadi kelabakan dan merasa muak pula. Sebisanya dia mengebas sini dan memukul sana, tapi kawanan tikus itu tetap sukar diusir. Terpaksa tangan yang memegang ujung cambuk itu dilepaskan.

Tapi serentak kelima cambuk lawan lantas menyabatnya tanpa kenal ampun. Padahal seluruh tubuh Siau-hi-ji sudah penuh tikus, gerak-geriknya menjadi tidak leluasa, terpaksa sembari berkelit ia pun melompat mundur sambil berteriak, “Han-wan Sam-kong, kenapa engkau tidak membantuku? Ayo, lekas!”

Dia tidak berteriak minta tolong kepada Thi Peng-koh, sebab sudah dilihatnya nona itu telah meringkuk di pojok sana dengan ketakutan.

Namun wajah Han-wan Sam-kong sendiri juga berubah pucat, perlahan-lahan ia melangkah maju dengan ragu.

Si baju hitam tadi membentak bengis, “Han-wan Sam-kong, setelah kau tahu kami ini anak murid siapa, masih juga kau berani ikut campur?”

Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong melengak, akhirnya ia pun mundur teratur.

“Han-wan Sam-kong, memangnya kau pun seperti perempuan, takut pada tikus?” teriak Siau-hi-ji.

Namun Han-wan Sam-kong malahan terus berpaling ke sana dan tidak memandangnya lagi.

Tikus yang merambat ke tubuh Siau-hi-ji bukannya berkurang, bahkan bertambah banyak, ia merasa sakit, gatal dan pegal, entah sudah berapa tempat tubuhnya digigit tikus. Sedangkan kelima lawan masih terus menghujani sabatan padanya.

Baru sekarang Siau-hi-ji benar-benar agak gugup.

Biasanya menghadapi persoalan apa pun dia dapat berlaku tenang, tapi kawanan tikus yang berbulu menyeramkan ini benar-benar membuatnya kelabakan.

“Hahaha! Orang yang mengaku dirinya paling pintar di dunia ternyata kewalahan menghadapi tikus,” demikian Kang Giok-long berolok-olok dengan bergelak tertawa. “He, Kang Siau-hi-ji, bilakah pernah kau bayangkan akan mati dikerubut tikus?”

Dalam pada itu tubuh Siau-hi-ji sudah kena dicambuk beberapa kali, dalam keadaan tak berdaya ia berkata dengan menyesal, “Sungguh tak tersangka aku akan....”

Pada saat itulah sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu salah seorang berbaju hitam telah kena dicengkeram dari belakang terus dilemparkan ke sana, cambuknya juga kena dirampas orang.

Tentu saja keempat orang berbaju hitam yang lain menjadi kaget dan murka, sambil menggeram cambuk mereka terus menyabat ke arah si penyatron itu. Tapi aneh, entah mengapa cambuk mereka tidak mau turut perintah lagi, tahu-tahu malah saling sabet sendiri.

Terdengar Siau-hi-ji berseru dengan tertawa, “Ah, Hoa Bu-koat, tak tersangka kau pun datang kemari!”

Pendatang ini memang betul Hoa Bu-koat adanya. Kecuali ilmu silat “Ih-hoa-ciap-giok” yang sakti ini siapa pula yang dapat membuat keempat orang itu saling serang di antara kawan sendiri.

Sudah tentu Siau-hi-ji merasa lega melihat kedatangan Hoa Bu-koat. Kang Giok-long juga gembira melihat kedatangannya, disangkanya tujuan Hoa Bu-koat menolong Siau-hi-ji hanya supaya anak muda itu tidak mati di tangan orang lain, sebab ia tahu Hoa Bu-koat bertekad akan membunuh Siau-hi-ji dengan tangannya sendiri.

Begitulah maka hanya sekejap saja setelah Hoa Bu-koat mengayun cambuknya, kawanan tikus yang menempel di tubuh Siau-hi-ji telah diusirnya semua.

Kelima orang berbaju hitam tadi sama melenggong ketakutan, mereka pandang Hoa Bu-koat dengan melongo, cambuk tidak berani lagi sembarangan menyerang.

Si baju hitam yang menjadi kepala itu bertanya dengan tergagap, “Sia... siapakah sahabat ini? Mengapa ikut campur urusan orang lain?”

“Seumpama kau tidak kenal diriku, seharusnya kau kenal Kungfu yang kumainkan?” jawab Hoa Bu-koat dengan acuh tak acuh.

Si baju hitam berpikir sejenak, serunya kemudian dengan muka pucat, “Ih... Ih-hoa-ciap-giok!”

“Betul,” kata Bu-koat.

Nyali si baju hitam menjadi ciut, katanya, “Baiklah, apabila orang Ih-hoa-kiong berada di sini, terpaksa kami mundur saja.”

“Setelah sekujur badanku dikencingi kawanan tikus kalian, lantas kalian mau pergi begini saja?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ucapan ini mungkin belum sesuai untuk dikemukakan olehmu,” jengek si baju hitam. “Kalau cuma saudara... Hm!”

“Kalian menghina dia?” tanya Hoa Bu-koat.

“Hm!” kembali si baju hitam mendengus.

Bu-koat tersenyum, katanya, “Jika begitu, jangan pakai bantuan tikus, boleh kalian coba bertempur lagi dengan dia, boleh kalian berlima maju sekaligus dan aku pasti takkan ikut campur.”

Dengan menyeringai si baju hitam berkata, “Asalkan saudara tidak ikut campur, bocah ini....”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu bogem mentah Siau-hi-ji sudah menyambar tiba. Jelas dia melihat pukulan Siau-hi-ji itu, tapi dia justru tidak mampu mengelak, belum lagi cambuknya bekerja, tahu-tahu orangnya sudah kena ditonjok mencelat.

Serentak keempat orang lainnya juga menubruk maju, tapi Siau-hi-ji tonjok sana dan pukul sini, hanya sekejap saja kelima orang itu sudah dihajarnya hingga babak belur dan terkapar di sana sini.

“Nah, sekarang kalian sudah tahu kelihaiannya tidak?” tanya Bu-koat dengan tersenyum.

Kelima orang itu tiada satu pun yang sanggup bicara lagi, semuanya menggeletak di tanah, merangkak bangun saja tidak mau.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Haha, manusia ternyata lebih brengsek dari pada tikus, tidak tahan sekali dua kali pukul.”

Kawanan baju hitam itu tidak berani menjawab dan juga tidak berani bergerak.

Sedangkan Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong berulang-ulang memberi tanda kedipan mata dan gerakan tangan kepada Siau-hi-ji, maksudnya supaya Siau-hi-ji melepaskan pergi orang-orang itu.

Dengan berkerut kening Siau-hi-ji berkata pula, “Kini tanganku tidak gatal lagi, kenapa kalian tidak lekas berdiri?”

Tapi kawanan baju hitam itu tetap tidak mau berdiri, bahkan tubuh mereka terus meringkuk seperti ebi.

“Hahaha! Sudah tua begini, pakai lagak manja seperti anak kecil, memangnya kalian minta dibangunkan mak guru kalian?” demikian Siau-hi-ji berolok-olok pula.

Kelima orang yang tadinya masih gemetaran, kini sama sekali tidak bergerak lagi.

Sekonyong-konyong Han-wan Sam-kong melompat maju, sekali cengkeram ia tarik salah seorang itu dan diperiksanya, seketika air mukanya berubah kaget, perlahan ia lepaskan kembali si baju hitam, lalu berkata dengan menyesal, “Mungkin mereka takkan berdiri untuk selamanya.”

Rupanya kelima orang itu sudah mati.

Sinar lampu bergoyang-goyang, agaknya lampu itu sudah kehabisan minyak.

Di bawah cahaya lampu yang guram, wajah si baju hitam, yang tadinya pucat menghijau itu kini bertambah hijau kelam seperti lumut di batu tepi kolam.

Setelah mayat si baju hitam dilepaskan Han-wan Sam-kong, dari mulut, hidung dan telinganya lantas merembes keluar darah, bahkan darahnya juga bersemu kehijau-hijauan.

Siau-hi-ji melengak, katanya, “Hanya kena tonjok satu dua kali saja, masakan mereka lantas membunuh diri?”

“Mungkin mereka mengira kau takkan mengampuni mereka,” kata Bu-koat.

“Biar pun sekujur badanku penuh kencing tikus juga tidak nanti kubunuh mereka,” ujar Siau-hi-ji. “Mungkin orang-orang ini sudah terlalu banyak mengganyang tikus sehingga pikiran mereka pun dangkal seperti tikus.”

“Ingin mati lantas bunuh diri, kematian para anak kura-kura ini cukup cepat juga,” kata Ok-tu-kui.

“Ya, apakah di dalam mulut mereka sudah mengulum sesuatu racun sehingga setiap saat mereka siap untuk mati,” ujar Siau-hi-ji.

Han-wan Sam-kong coba mementang mulut salah seorang berbaju hitam itu, segera mengalirlah air kental berwarna hijau dengan bau busuk yang memuakkan. Mulutnya ternyata sudah berubah menjadi sebuah lubang belaka, gigi satu biji saja tidak kelihatan.

“Lihai amat racun ini, hanya sebentar saja gigi manusia juga dihancurkan,” seru Siau-hi-ji.

“Kalau betul, racun para anak kura-kura ini ternyata disembunyikan di sela-sela gigi,” kata Ok-tu-kui.

“Tapi mengapa mereka harus membunuh diri?” ucap Siau-hi-ji sambil berkerut kening. “Aku kan tiada maksud membunuh mereka, juga tidak ingin memaksa pengakuan mereka. Barangkali mereka memang sudah bosan hidup.”

Han-wan Sam-kong coba menggeledah badan si baju hitam, tapi hanya sedikit uang perak yang ditemukan, selain itu tiada terdapat sesuatu benda lain.

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Ok-tu-kui membuka baju mayat itu dan berseru, “Ini dia, di sinilah jawaban teka-teki yang ingin kau ketahui.”

Kiranya di dada orang itu jelas tertulis sepuluh huruf besar. Kesepuluh huruf itu pun bersemu hijau, tampaknya ditulis dengan dibakar sehingga mendekuk cukup dalam di dalam daging, jelas tak dapat dihilangkan selamanya.

Kesepuluh huruf itu berbunyi, “Anak murid Bu-geh, boleh dibunuh tidak boleh dihina.”

Siau-hi-ji bergumam mengulang-ulang tulisan itu, “Apa artinya kalimat tulisan ini?”

“Artinya mereka diharuskan membunuh diri apabila tidak mampu melawan orang agar majikan mereka tidak kehilangan pamor,” ujar Han-wan Sam-kong. “Kalau sekarang mereka tidak bunuh diri, setelah pulang nanti mungkin mereka akan mati dengan cara yang lebih seram.”

“Maksudmu mereka takut mendapatkan hukuman berat dari majikan bila mana mereka pulang, maka mereka lebih suka bunuh diri saja di sini,” begitu Siau-hi-ji menegas.

“Ya,” jawab Han-wan Sam-kong.

“Tapi majikan mereka kan tidak tahu-menahu bila anak buahnya dihajar orang di sini, asalkan mereka sendiri tidak omong, memangnya aku dapat menyiarkan kejadian ini?”

“Bisa jadi anak kura-kura ini suka mengukur orang lain dengan perut mereka sendiri dan mengira kau....”

“Bukan, bukan ini alasannya,” tiba-tiba Bu-koat menyela.

“Habis apa alasannya?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan tenang Bu-koat menjawab, “Waktu kulihat mereka, jumlah mereka ada tujuh orang.”

“Betul jika begitu,” kata Ok-tu-kui. “Mereka berlima yang masuk, dua orang lagi sembunyi di tempat gelap, melihat gelagat tidak menguntungkan mungkin sejak tadi mereka sudah kabur. Kelima orang ini yakin kejadian ini pasti akan dilaporkan oleh kedua temannya itu, dari pada nanti mengalami hukuman keji, mereka lebih suka mati sekarang dengan bebas.”

“Waktu kau masuk kemari apakah tidak melihat kedua orang itu?” tanya Siau-hi-ji pada Bu-koat.

“Begitu mendengar teriakanmu segera kuterjang kemari sehingga tidak memperlihatkan urusan lain,” jawab Bu-koat.

Mendadak Siau-hi-ji tepuk kepalanya sendiri dan berteriak, “Celaka, kita asyik bicara mengenai kawanan tikus ini sehingga sama sekali tidak tahu beberapa orang telah mengeluyur pergi sejak tadi.”

Han-wan Sam-kong celingukan sekelilingnya dan ikut berseru, “Betul, anak jadah she Kang itu pun ikut kabur!”

Dengan gemas Siau-hi-ji berkata kepada Bu-koat, “Waktu kau masuk tadi, kulihat wajahnya menampilkan rasa senang, sebab disangkanya kedatanganmu hendak membunuhku lagi, kemudian mungkin melihat gelagatnya tidak menguntungkan dia, maka cepat-cepat ia mengeluyur pergi, Ai, bocah ini memang setan alas yang cerdik, seharusnya sejak tadi kuawasi dia.”

Bu-koat terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum tawar. “Dia mau pergi sendiri juga ada baiknya.” ucapnya.

“Jadi sejak tadi kau pun sudah melihat dia?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, rasanya kulirik dia sekejap,” kata Bu-koat.

“Tapi tetap kau biarkan dia pergi?”

Bu-koat menghela napas, katanya, “Ya, jelek-jelek aku telah berkawan dengan dia sekian lama....”

“Tapi mengapa kau biarkan dia membawa serta Buyung Kiu?” teriak Siau-hi-ji.

Melengak juga Bu-koat mendengar Buyung Kiu dibawa lari Kang Giok-long, cepat ia menegas, “Nona Buyung maksudmu? Nona Buyung berada bersama dia?”

“Memangnya kau tidak melihatnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Aku cuma melihat di sampingnya ada seorang perempuan, tak terduga kalau dia itu nona Buyung,” tutur Bu-koat dengan gegetun, “Waktu itu yang kuperhatikan hanya dirimu, ditambah lagi sinar lampu yang suram sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.”

“Tampaknya kau pun seperti aku, biji mata kita ini perlu dikorek keluar untuk dicuci,” ucap Siau-hi-ji sambil menyengir.

Mendadak Han-wan Sam-kong menepuk bahu Siau-hi-ji dan berseru, “He, kenapa nona yang datang bersamamu itu pun ikut kabur?”

“He, ya!” seru Siau-hi-ji sambil berkerut kening. “Kenapa ia pun kabur? Apakah dia takut bertemu dengan Hoa Bu-koat?”

“Siapa nona itu?” tanya Bu-koat.

“Namanya Thi Peng-koh, kenal tidak?”

“Namanya baru sekarang kudengar.”

Dengan jarinya Siau-hi-ji ketuk-ketuk dahi sendiri, ucapnya, “Jika kau tidak kenal dia, mengapa dia kabur? Sungguh sukar dimengerti....” Tiba-tiba ia menyambung pula dengan tersenyum getir, “Ya, mengapa aku melupakan dia adalah seorang perempuan. Seorang perempuan bila mana dia merasa harus pergi, maka seketika juga dia akan pergi dan tidak perlu pakai alasan apa segala.”

“Tapi bila kau kira dia pergi tanpa alasan, dia justru dapat mengemukakan berpuluh-puluh alasan, sedangkan alasannya itu bagi kaum lelaki jangan harap akan dapat memahaminya selama hidup,” sambung Han-wan Sam-kong sambil bergelak.

Tentang perginya Thi Peng-koh memang ada alasannya, bahkan alasannya cukup kuat.

Soalnya Hoa Bu-koat memang kenal dia, bahwa Hoa Bu-koat tidak tahu nama “Thi Peng-koh” adalah karena waktu di sana si nona tidak memakai nama Thi Peng-koh. Dan dengan sendirinya Thi Peng-koh sendiri juga sangat kenal Hoa Bu-koat.

Maka begitu nampak munculnya Hoa Bu-koat, seketika air muka Thi Peng-koh berubah pucat, cepat ia berpaling ke arah lain. Ia tunggu setelah merasa dirinya tidak diperhatikan Hoa Bu-koat, dengan kecepatan luar biasa ia lantas mengeluyur keluar.

Dalam khawatir dan gugupnya ia pun tidak tahu bahwa masih ada orang lain yang ikut kabur di belakangnya.

Meski di mulut gua mayat bergelimpangan dan tampak menyeramkan, tapi pemandangan alam di luar ternyata indah permai.

Sementara itu sudah dekat dengan senja, angin meniup silir membawa harum bunga yang lembut. Thi Peng-koh menarik napas panjang-panjang, entah bagaimana perasaannya sekarang.

Selama belasan tahun, untuk pertama kali ini dia mendapatkan kebebasan, untuk pertama kalinya dia berdikari, apa yang dilakukannya dapat diperbuat sekehendaknya, ingin ke mana pun tidak ada yang melarang.

Tapi sekarang dia justru tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia hanya tahu dirinya sekali-kali tidak boleh tinggal di sini, sekali-kali tidak boleh dilihat Hoa Bu-koat. Maka dia harus lari dan lari terus ke tempat yang jauh.

Menyusul Kang Giok-long juga ikut mengeluyur keluar. Semula dia kegirangan melihat kedatangan Hoa Bu-koat, tapi segera dilihatnya pula sikap Hoa Bu-koat terhadap Siau-hi-ji sudah berubah, segera pula ia merasakan gelagat tidak menguntungkannya.

Kalau bicara melihat gelagat dan cepatnya berbalik haluan mengikuti arah angin, mungkin Siau-hi-ji bukan tandingan Kang Giok-long, anak Kang Piat-ho ini benar-benar licin, lebih licin dari pada belut.

Bahwa diam-diam Thi Peng-koh mengeluyur keluar, hal ini pun membuat heran Kang Giok-long.

Dia tidak jelas hubungan antara si nona dengan Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, tapi dia yakin hubungan antara si nona dengan mereka pasti luar biasa. Dan begitu Thi Peng-koh mengeluarkan Ginkangnya, Kang Giok-long bertambah terkejut pula.

Betapa hebat Ginkang si nona sungguh menakjubkan, yang aneh ialah gayanya yang anggun dan khas itu tampaknya berbeda dengan Ginkang umumnya, gayanya malahan lebih mirip dengan Ginkang Hoa Bu-koat yang tiada taranya.

Seketika terbelalak mata Kang Giok-long, ia terkejut dan heran, tiba-tiba timbul suatu pikirannya, cepat ia tarik Buyung Kiu dan memburu ke arah Thi Peng-koh.

Setiap kesempatan apa pun memang tidak pernah disia-siakan oleh Kang Giok-long. Hanya saja ia pun tidak menyadari bahwa “walang hendak menangkap tonggerek, di belakangnya mengincar pula burung gereja.” Ternyata dua orang lagi secara diam-diam juga mengikut di belakangnya....

Waktu Siau-hi-ji, Hoa Bu-koat dan Han-wan Sam-kong keluar, kecuali mayat yang bergelimpangan di luar gua, tiada bayangan seorang pun yang terlihat.

Siau-hi-ji berkata dengan menyesal sambil memandangi mayat-mayat itu, “Meski orang-orang ini datang bersama Kang Giok-long, tapi mayat mereka tak diurus sama sekali oleh bocah itu, rasanya kita harus....”

“Urusan ini tak perlu kau risaukan, menanam orang mati adalah kepandaianku yang khas,” ucap Han-wan Sam-kong.

“Habis, apa yang harus kukerjakan?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Bila mana aku menjadi kau, secepatnya akan kugali sebuah lubang besar, tapi bukan liang untuk mengubur orang-orang mati ini melainkan untuk bersembunyi bagimu sendiri, dan paling baik lagi jika selamanya tidak muncul lagi ke muka bumi ini,” kata Ok-tu-kui dengan sungguh-sungguh.

“Jika aku tidak mau?” Siau-hi-ji tertawa.

“Jika kau tidak mau sembunyi, maka kau harus bersiap-siap menghadapi seorang lawan yang paling keji, paling ganas, paling memuakkan dan paling membuat kepala pusing.”

“Jangan-jangan yang kau maksudkan ialah si Bu-geh (tanpa gigi).”

“Betul, Gui Bu-geh.”

“Tapi kelima orang itu kan bukan aku yang membunuhnya,” kata Siau-hi-ji.

“Memangnya kau kira dia tahu aturan?” kata Han-wan Sam-kong. “Pokoknya asalkan kau menyentuh anak muridnya, maka takkan pernah habis urusanmu dengan dia.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Tapi dari mana pula dia mengetahui akan diriku?”

“Keparat itu selalu mengetahui dengan caranya sendiri,” kata Ok-tu-kui.

“Dapatkah dia menemukan aku?”

“Orang lain mungkin tidak, tapi dia mempunyai caranya sendiri untuk menemukan kau.”

Siau-hi-ji menarik napas dalam-dalam, tanyanya, “Sedemikian lihai caramu melukiskan manusia tanpa gigi itu, sesungguhnya siapakah dia?”

“Cap-ji-she-shio, pernah kau dengar sebutan ini? Nah, dia adalah si tikus dari keduabelas lambang kelahiran itu.”

“Haha, kukira siapa, tahunya Cap-ji-she-shio yang kau maksudkan,” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Tokoh-tokoh Cap-ji-she-shio itu sudah pernah kukenal, tampaknya juga tak dapat berbuat apa-apa atas diriku.”

“Siapa di antara mereka yang pernah kau kenal?” tanya Ok-tu-kui.

“Ada sapi, ada kambing, dan ada ular, bukankah semua ini lebih lihai dari pada tikus?”

“Jika kau anggap Gui Bu-geh sama seperti si ular, maka celakalah kau,” ucap Ok-tu-kui dengan tersenyum kecut. “Di antara Cap-ji-she-shio, justru si Tikus Gui Bu-geh inilah yang paling lihai, biar pun kesebelas lainnya ditotal menjadi satu juga tak dapat melebihi dia lihainya.”

“O, ya?!” Siau-hi-ji terkesiap.

“Terkenalnya Cap-ji-she-shio justru dimulai oleh Gui Bu-geh,” tutur Han-wan Sam-kong. “Waktu mereka sedang jaya-jayanya, bila mana orang Kangouw mendengar sebutan Cap-ji-she-shio, mungkin malamnya tak bisa tidur nyenyak. Tatkala mana mungkin kau belum lagi lahir.”

“Menurut ceritamu ini, rasanya aku harus bersyukur tidak dilahirkan pada masa itu,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tidak perlu orang lain, umpamanya Cap-toa-ok-jin kami saja kan juga tergolong manusia-manusia yang tidak gentar pada langit atau takut pada bumi, tapi bila mendengar nama Gui Bu-geh, sedikitnya kepala kami bisa pusing selama beberapa hari.”

Baru sekarang Siau-hi-ji merasakan gawatnya Gui Bu-geh itu, katanya, “Wah, tokoh yang dapat membuat kepala pusing Cap-toa-ok-jin, pasti tidak boleh dibuat main-main.”

“Aku pun pernah mendengar namanya,” tiba-tiba Hoa Bu-koat menimbrung.

“Hah, mungkinkah Ih-hoa-kiong juga kepala pusing terhadap si tikus?” Siau-hi-ji berseloroh.

“Waktu mau berangkat, guruku menyuruh aku khusus harus memperhatikan dua orang, satu di antaranya ialah Gui Bu-geh,” tutur Bu-koat.

“Dan seorang lagi?” tanya Siau-hi-ji.

“Seorang lagi ialah Yan Lam-thian, Yan-tayhiap,” jawab Bu-koat.

“Nah, tidak salah bukan ucapanku,” kata Ok-tu-kui. “Sampai-sampai tokoh macam Ih-hoa-kiongcu juga segan padanya dan menjajarkannya dengan Yan Lam-thian, maka dapat kau bayangkan betapa lihainya.”

“Di mana dia sekarang?” tanya Siau-hi-ji pula setelah terdiam sejenak.

“Sebabnya Cap-ji-she-shio agak terdesak selama beberapa tahun terakhir ini justru lantaran Gui Bu-geh mendadak menghilang pada belasan tahun yang lalu,” tutur Ok-tu-kui. “Ada orang bilang menghilangnya itu lantaran dia dilukai oleh Ih-hoa-kiongcu, maka sengaja menyembunyikan diri. Ada pula kabar bahwa dia hendak meyakinkan sejenis ilmu sakti, maka tidak ingin ditemui orang....” Setelah menghela napas panjang, lalu ia menyambung, “Konon bila mana ilmu saktinya itu sudah berhasil diyakinkan, maka ilmu silat yang dimiliki Ih-hoa-kiongcu dan Yan Lam-thian akan berubah seperti permainan anak kecil.”

“Hm, ilmu silat Ih-hoa-kiongcu selamanya takkan seperti permainan anak kecil,” jengek Hoa Bu-koat.

“Sudah tentu mungkin sekali dia cuma membual saja,” ujar Ok-tu-kui. “Tapi apa pun juga kuharap ilmu sakti yang dia yakinkan itu mudah-mudahan akan gagal.”

“Coba menurut pendapatmu dia bersembunyi di mana?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau dia sudah sembunyi, biar pun setan juga tak dapat menemukan dia,” kata Ok-tu-kui.

Siau-hi-ji berkerut kening, gumamnya, “Jangan-jangan dia sembunyi di Ku-san... orang yang disebut kedua Auyang bersaudara sebelum ajal mereka itu jangan-jangan si Tikus ini?”

Mendadak ia tepuk pundak Han-wan Sam-kong dan berseru dengan tertawa, “Setelah menanam orang mati apa pula yang ingin kau lakukan?”

“Sebenarnya aku ingin mencari lawan berjudi lagi,” jawab Ok-tu-kui. “Tapi demi mengingat Gui Bu-geh sudah muncul, selera berjudiku lantas lenyap.”

“Jika begitu kuharap engkau suka mengantar harta benda di dalam gua ini untuk dikembalikan kepada Toan Hap-pui, berbareng itu supaya di beritahukan padanya siapa yang telah menyembunyikan harta bendanya ini,” kata Siau-hi-ji. Lalu dengan tertawa ia menyambung, “Asalkan sudah kau serahkan kembali padanya, bahwa kemudian harta benda ini akan kau sikat lagi dengan taruhan adalah soal lain. Sebab Toan Hap-pui juga gemar mengadu jangkrik, juga sangat suka makan Ang-sio-bak, bila mana kau taruhan dengan dia dalam hal makan daging pasti dia takkan menolak.”

Seumpama Han-wan Sam-kong hendak menolak permintaan Siau-hi-ji juga tidak keburu lagi, sebab sebelum habis ucapannya, secepat terbang Siau-hi-ji telah menarik Hoa Bu-koat dan berlari pergi.

Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong geleng-geleng kepala dan menyengir, gumamnya, “Keparat! Kalau Kang Siau-hi-ji sudah minta sesuatu padamu, jangan harap kau dapat menolaknya.”

Di tengah jalan Siau-hi-ji lantas menceritakan pengalamannya kepada Hoa Bu-koat. Sudah tentu Bu-koat tercengang heran, ia pun tidak habis pikir sesungguhnya permainan apakah yang sedang dilakonkan oleh “Tong-siansing” yang misterius itu, mau tak mau ia pun mulai menaruh curiga terhadap asal-usul tokoh aneh itu.

Kemudian ia pun menceritakan pengalamannya. Dengan sendirinya Siau-hi-ji merasa heran, katanya, “Yan-tayhiap baru akan melepaskanmu bila mana aku sudah ditemukan, mengapa engkau bisa muncul sendirian? Ke manakah beliau sekarang?”

“Entah mengapa selama dua hari ini aku selalu merasa bimbang dan tidak tenteram, seakan-akan tertimpa sesuatu mara bahaya, rasanya selama hidupku ini belum pernah mengalami keadaan seperti ini.”

“Yang mengalami bahaya selama dua hari ini ialah diriku, mengapa engkau yang merasa tidak tenteram malah, ini benar-benar sangat aneh,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sudah tentu tidak pernah terpikir olehnya bahwa sesungguhnya mereka adalah saudara kembar dan dengan sendirinya ada semacam ikatan batin, semacam telepati antara perasaan mereka, mimpi pun Siau-hi-ji tidak pernah menduga bahwa Hoa Bu-koat sesungguhnya adalah saudaranya.

Dengan senyum getir Bu-koat juga berkata, “Ya, aku pun merasa heran, hati rasanya tidak tenteram dan senantiasa ingin keluar, seakan-akan ingin menemukan sesuatu kejadian yang aneh, tapi urusan apa, aku sendiri pun tidak tahu.”

“Kemudian bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Mungkin Yan-tayhiap melihat sikapku agak aneh, beliau bertanya padaku ada masalah apa, kuberitahukan perasaanku yang tidak tenteram dan ingin berjalan-jalan keluar... Semula kukira Yan-tayhiap pasti tidak mengizinkan, siapa tahu dia lantas meluluskan kehendakku.”

“Kau ingin keluar dan dia membiarkan kau pergi begitu saja?”

“Betul,” jawab Bu-koat.

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Betapa pun Yan Lam-thian memang berbeda dari pada Tong-siansing. Bicara terus terang, kau dapat bertemu dengan tokoh seperti dia sungguh nasibmu sedang mujur.”

Bu-koat terdiam. Bila mana hatinya mengagumi seseorang, maka mulutnya tidak akan mengutarakannya, apa lagi orang yang dikaguminya adalah musuh bebuyutan Ih-hoa-kiong.

Dengan tertawa tiba-tiba Siau-hi-ji berkata pula, “Tapi engkau juga tidak malu sebagai seorang Kuncu (ksatria sejati), makanya dia mau melepaskan kau pergi begitu saja. Bila mana diriku, mungkin dia takkan melepaskan aku.”

“Mengapa kau suka mengaku dirimu bukan seorang Kuncu?” kata Bu-koat dengan tertawa.

Siau-hi-ji merenung sejenak, ucapnya kemudian, “Mungkin disebabkan sejak kecil tak pernah kulihat seorang pun yang berjiwa luhur, pada hakikatnya aku tidak tahu Kuncu itu macam apa bentuknya. Bila mana pernah kulihat satu-dua orang ‘Kuncu’, mereka ternyata sering membuat kecewa padaku....” Mendadak ia bergelak tertawa dan menambahkan, “Bisa jadi lantaran di dunia ini terlalu banyak Kuncu palsu, betul tidak?”

“Jika kau dapatkan sebuah anggur kecut di antara satu onggok anggur yang menarik, apakah lantas kau anggap semua anggur itu kecut?” tanya Bu-koat dengan tertawa.

“Jika kau sudah makan yang kecut, apakah kau masih punya selera buat makan yang lain?”

“Biar pun aku sudah makan lima buah yang kecut juga tetap kumakan yang keenam, sebab kutahu apabila kumakan terus, akhirnya pasti akan mendapatkan anggur yang manis. Bila mana kau tidak mencoba makan lagi, bukankah kesempatan itu akan hilang selamanya?”

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 32"

Post a Comment