Bakti Pendekar Binal Jilid 27

Mode Malam
Rambut Bu-koat sudah kusut dan sebagian melambai pada jidatnya yang pucat itu, namun pipinya justru bersemu merah oleh rangsangan jiwanya yang bergolak itu.

Bu-koat telah merasakan Yan Lam-thian memang mahasakti, barang siapa ingin melawan pendekar besar itu dengan serangan keras lawan keras berarti orang itu sudah bosan hidup dan mencari mampus sendiri.

Ia yakin setiap pukulan sendiri sangat dahsyat dan tajam seperti paku, tapi daya pukulan Yan Lam-thian justru keras seperti palu yang tidak kenal ampun, palu yang tidak kenal kasihan dan terus menghantam ke arahnya.

Lambat laun ia merasa paku itu hampir terpalu masuk ke tanah. Napasnya mulai sesak, tapi pukulan godam Yan Lam-thian masih terus mendesak, makin lama makin dahsyat....

Ia menyadari keadaan yang gawat, ia tahu sekali ini Yan Lam-thian pasti tidak kenal ampun lagi padanya, tapi ia pun tidak putus asa, ia tidak kenal menyerah, asalkan dia masih tetap bernapas, betapa pun ia harus bertempur sampai detik penghabisan, sebelum ajal dia pantang mundur.

Di luar dugaan, pada detik yang menentukan mati-hidupnya itulah, sekonyong-konyong Yan Lam-thian malah melompat mundur sambil membentak, “Berhenti!”

Padahal dengan sekali dua kali pukulan lagi Hoa Bu-koat dapat dibinasakan, tapi Yan Lam-thian mendadak malah berhenti menyerang. Tentu saja Bu-koat melengak.

“Mengapa kau minta berhenti?” tanyanya dengan napas terengah-engah.

Dengan sorot mata yang tajam Yan Lam-thian menatapnya dan menjawab dengan sekata demi sekata, “Meski selama ini belum pernah kudengar nama ‘Tong-siansing’ dan juga tidak percaya di dunia ini terdapat orang demikian, tapi kini kupercaya apa yang kau katakan memang tidak berdusta.”

“Oo....?” Bu-koat bersuara perlahan.

“Tentunya kau heran mengapa mendadak aku percaya kau tidak berdusta?”

“Ya, memang rada heran.”

“Sebab kalau kau berdusta tentu hatimu gelisah. Seorang yang berhati gelisah tidak mungkin sanggup melancarkan daya serangan sedahsyat ini.”

Bu-koat terdiam sejenak, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa, katanya, “Baru sekarang kau bilang percaya padaku, apakah tidak merasa terlambat?”

“Jika kau merasa ucapanku tadi merupakan penghinaan padamu, baiklah di sini kunyatakan penyesalanku,” ucap Yan Lam-thian dengan suara berat.

Kembali Bu-koat terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Kalau salah berani mengaku salah tanpa sangsi, Yan Lam-thian benar-benar seorang ksatria sejati, benar-benar sukar disamai orang lain. Sekali pun Cayhe ada hasrat mengadu jiwa denganmu kini mau tak mau harus kubatalkan.”

“Tapi ini tidak berarti kuberhenti sampai di sini saja!” bentak Yan Lam-thian.

Bu-koat melengak, tanyanya, “Mengapa?”

“Biar pun kau tidak berdusta, namun tetap tak dapat kulepaskan pergi, aku tetap hendak menahan kau!”

“Sebab apa?” tanya Bu-koat.

“Peduli siapa dia ‘Tong-siansing’ yang kau sebut itu, yang pasti dia ada hubungannya denganmu bukan?”

“Ya,” jawab Bu-koat setelah berpikir.

“Dia menahan Kang Siau-hi, bukankah demi kau?”

“Aku tidak pernah minta dia bertindak begitu, tapi memang begitulah maksud tujuannya!”

“Itu dia!” bentak Yan- Lam-thian. “Lantaran dia menahan Kang Siau-hi, maka aku pun hendak menahan kau. Setiap saat ia membebaskan Kang Siau-hi, pada saat itu juga akan kubebaskan kau.” Ia melangkah maju dan berteriak dengan beringas, “Dan bila Kang Siau-hi dibunuhnya, segera pula kau kubunuh!”

Air muka Bu-koat tampak berubah, tapi ia menghela napas pula dan berkata, “Ya, ucapanmu ini memang juga adil.”

“Tindak tanduk orang she Yan selamanya adil,” seru Yan Lam-thian.

“Tapi ucapanmu terhadap nona Thi teramat tidak adil,” jengek Bu-koat. “Dia... dia kan....” sampai di sini mendadak diketahuinya si nona sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, nona yang hatinya telah remuk redam itu entah sejak kapan sudah pergi.

“Kau mau tinggal di sini dengan sukarela atau harus kupaksa?” bentak Yan Lam-thian.

Air muka Bu-koat tampak pucat menghijau, ucapnya tegas, “Sekali pun sekarang kau suruh aku pergi juga aku takkan pergi.”

Yan Lam-thian jadi melengak malah, tanyanya, “Sebab apa?”

“Sebab kalau terjadi apa-apa atas diri Thi Sim-lan, maka meski kau dapat membiarkan diriku juga aku takkan melepaskanmu?”

“Hahaha, bagus, bagus!” Yan Lam-thian bergelak tertawa, “Jadi sebelum kutemukan Thi Sim-lan dan Kang Siau-hi, agaknya kita berdua tidak boleh berpisah, begitu?”

“Ya,” jawab Bu-koat.

********************

Di tempat lain saat itu Tong-siansing telah membawa Siau-hi-ji melayang pula ke atas pohon.

Pohon itu rada lebat dengan dedaunan, pucuk ternyata cukup ulet dan memegas sehingga kuat untuk menahan bobot satu-dua orang.

Tong-siansing menaruh Siau-hi-ji di pucuk pohon situ, dedaunan pohon yang lebat hanya tertekan dan ambles sedikit ke bawah, tubuh anak muda itu lantas seperti terbungkus oleh selimut daun, kecuali burung yang terbang di udara rasanya sukar ditemukan orang meskipun dipandang dari sudut mana pun juga.

Meski badan tak dapat bergerak, tapi wajah Siau-hi-ji masih tersenyum-senyum, katanya, “Sungguh suatu tempat sembunyi yang sangat baik. Memangnya sudah beberapa hari aku kurang tidur, tampaknya sebentar aku dapat tidur dengan enak dan nyaman.”

“Paling baik kalau kau tidur dengan jujur,” jengek Tong-siansing.

“Apakah engkau akan pergi?” tanya Siau-hi-ji.

Tong-siansing hanya mendengus saja.

“Engkau ini sungguh nyentrik dan juga gemar kebersihan, kutahu engkau tak mungkin selalu menjaga diriku,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tapi kau pun jangan harap kabur,” jengek Tong-siansing. “Setiap hari akan kutengok kau ke sini, bila urusan di sini sudah kubereskan, akan kubawa kau ke suatu tempat yang lebih aman.”

“Satu jari saja tak dapat bergerak, sekali pun kau taruh diriku di tengah jalan juga aku tak dapat kabur,” ujar Siau-hi-ji.

“Hm, asal tahu saja,” jengek Tong-siansing.

Bola mata Siau-hi-ji berputar, katanya pula, “Tapi kalau mendadak hujan, wah, lalu bagaimana? Sedangkan badanku biasanya kurang sehat, bila kena air hujan akan segera jatuh sakit. Sakit saja tidak jadi soal, celakalah jika kesehatanku jadi rusak, tentu hal ini akan merusak nama baikmu pula. Padahal kau sudah berjanji takkan membiarkan aku terganggu seujung rambut pun, ingat tidak?”

“Sakit apa pun yang menghinggapi dirimu pasti akan kusembuhkan,” ucap Tong-siansing.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Tapi bobot tubuhku lebih berat dari pada kerbau, bila dahan pohon ini tidak kuat dan mendadak patah, tentu aku akan terbanting ke bawah. Kalau lenganku patah atau pahaku retak umpamanya, apakah kau pun sanggup menyambung dan menyembuhkannya?”

“Sekali pun dahan pohon ini patah satu-dua batang juga kau takkan terjatuh ke bawah,” ujar Tong-siansing.

Mata Siau-hi-ji terbelalak lebar, katanya, “Tapi kalau ada burung besar sebangsa elang dan sebagainya kebetulan terbang di atas kepalaku atau hinggap di pohon ini, lalu biji mataku disangkanya sebagai telur burung terus dipatuknya, nah, apakah kau sanggup mengganti mataku?”

“Persetan! Mengapa kau begini cerewet dan suka membikin sebal?”

“Hihi, aku memang tidak punya kepandaian lain kecuali membikin sebal orang. Jika merasa sebal, kenapa tidak kau bunuh saja diriku, orang mati tentu tak bisa cerewet dan bikin sebal padamu.”

Selama hidup Tong-siansing memang tidak pernah ketemu orang yang begini menjemukan, bila orang lain tentu sejak tadi sudah disembelihnya. Tapi Siau-hi-ji justru adalah orang yang tidak mungkin dibunuhnya, bisa jadi satu-satunya orang yang tidak boleh dibunuh olehnya.

Maka tantangan Siau-hi-ji tadi membuat Tong-siansing bertambah gemas, saking kekinya sampai tubuhnya gemetar, terpaksa ia keluarkan sepotong sapu tangan dan ditutupkan pada muka Siau-hi-ji, katanya dengan bengis, “Nah, begini saja bagaimana.”

Siau-hi-ji mengisap napas kenyang-kenyang, katanya dengan tertawa, “Ehmm, alangkah harumnya sapu tanganmu ini, jangan-jangan benda tanda mata pemberian seseorang nona cantik?”

“Kenapa tidak tutup mulutmu?” bentak Tong-siansing dengan gusar.

“Jika kau tutuk Hiat-to bisuku, kan segera aku tak bisa bicara lagi? Tapi tentunya kau pun tahu bahwa Hiat-to bisu tidak boleh ditutup hingga lebih tiga jam, kalau tidak orangnya bisa mati kaku. Andaikan kau tutuk aku hingga bisu, maka setiap tiga jam engkau harus datang ke sini untuk menyegarkan diriku, dan ini rasanya akan membuatmu bertambah sebal.”

“Tidak sedikit juga kau ketahui,” ucap Tong-siansing dengan gemas.

“Selain itu, ada pula suatu cara yang tidak begitu menyebalkan,” Siau-hi-ji sengaja merandek sejenak, lalu menyambung, “Yaitu, jalan paling baik adalah pergi. Begitu engkau tinggal pergi, maka apa pun yang kukatakan tentu tak terdengar lagi, kan cara ini paling baik bagimu?”

Tanpa menunggu lagi segera Tong-siansing melayang turun ke bawah.

Siau-hi-ji sengaja menghela napas dan bergumam pula, “Akhirnya pergi juga dia, mudah-mudahan saudara baik hati itu tidak cepat-cepat datang agar aku dapat tidur sebentar di sini.”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu Tong-siansing sudah melompat lagi ke atas dan menarik sapu tangan yang menutupi muka Siau-hi-ji itu, bentaknya dengan bengis, “Siapa saudara baik hati yang kau maksudkan itu?”

“Wah, apa yang kukatakan telah kau dengar?” Siau-hi-ji berlagak kaget.

“Dalam jarak ratusan tombak biar pun suara daun jatuh juga tak dapat mengelabui mata telingaku,” jengek Tong-siansing.

“Kau sembunyikan diriku di tempat selebat ini, siapa pun tak dapat melihat aku, mana ada orang yang mampu menolongku? Tadi aku cuma omong iseng saja.”

Tong-siansing juga tidak percaya ada orang akan menolongnya, tapi jawaban Siau-hi-ji ini membuatnya curiga pula, segera ia menghardik, “Ayo, mau bicara tidak?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip jawabnya, “Kau ingin aku bicara apa?”

“Kau bilang siapa akan datang menolongmu?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Masa engkau sendiri tidak tahu?”

Tong-siansing termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul, bisa jadi Hoa Bu-koat akan datang ke sini.”

Tanpa bicara lagi segera ia angkat Siau-hi-ji terus melayang turun. Ia mengira dirinya cukup cerdik, tak tahunya diam-diam Siau-hi-ji sedang tersenyum geli.

Hakikatnya Siau-hi-ji tidak pernah berharap akan datang orang untuk menolongnya, dia hanya tidak suka ditinggalkan di atas pohon, sebab ia tahu bila mana tertinggal di situ, maka kesempatan buat kabur boleh dikatakan nihil, terpaksa ia berusaha menggoda Tong-siansing hingga merasa kesal dan meleng, maka kesempatan kabur baginya tentu akan terbuka.

Bicara tentang ilmu silat jelas Siau-hi-ji bukan tandingan Tong-siansing, tapi kalau soal mengadu akal, biar pun dua orang Tong-siansing juga bukan lawan Siau-hi-ji.

Maklumlah, Tong-siansing ini sudah biasa memerintah dan dipuja, pada hakikatnya tiada seorang pun yang berani cari perkara padanya, maka dalam urusan tipu akal begitu sama sekali tak pernah dipelajarinya.

Maka ia menjadi ragu-ragu pula setelah membawa Siau-hi-ji ke bawah.

“Aku hendak kau bawa ke mana?” tanya Siau-hi-ji.

“Hm!” Tong-siansing hanya mendengus saja.

“Betapa pun engkau kan tidak dapat berdiri saja di sini dengan memondong diriku?”

“Hm!” kembali Tong-siansing mendengus.

“Sudah beberapa hari aku tidak mandi, apakah bau badanku tidak kecut?”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak Tong-siansing mengendurkan tangannya. “Bluk,” kontan Siau-hi-ji terbanting ke tanah.

“Aduhhh! Wah, celaka, tulangku patah!” jerit Siau-hi-ji sengaja.

Mendadak sebelah kaki Tong-siansing menendang tulang paha anak muda itu sehingga setengah badan bagian bawah dapat bergebrak, bentaknya segera, “Ayo berdiri, berjalan ikut aku!”

Siau-hi-ji merasa kedua kakinya sudah dapat bergerak, tapi ia sengaja merintih, “Aduh, sakitnya! Tulangku patah, mana bisa berdiri lagi? Wah, tampaknya engkau harus memondong aku lagi.”

“Memangnya tulangmu terbuat dari apa? Sekali jatuh lantas patah?” damprat Tong-siansing dengan gusar.

“Seumpama tidak patah lantaran jatuh, kena tendanganmu tadi pasti patah... Aduhhh, sakit sekali!” begitulah Siau-hi-ji sengaja menjerit jerit.

Sinar mata Tong-siansing tampak gemerdep, akhirnya ia bertanya, “Apakah benar-benar patah?”

“Jika tidak percaya boleh engkau merabanya sendiri, aduhhh!” rintih Siau-hi-ji.

Tong-siansing jadi ragu-ragu, tapi akhirnya ia berjongkok hendak memeriksa tulang betis anak muda itu.

“Salah, bukan di situ,” ucap Siau-hi-ji.

“Habis mana?”

“Sini, bagian atas!”

Tong-siansing lantas meraba bagian pahanya.

Tapi Siau-hi-ji berucap pula. “Bukan, bukan situ, naik lagi ke atas sedikit!”

Sekonyong-konyong tangan Tong-siansing ditarik kembali seakan-akan kena dipagut ular. Tertampak dia berdiri mematung di situ dengan dada berombak.

“Hihi, mengapa meraba saja tidak berani, memangnya engkau ini perempuan?” Siau-hi-ji nyap-nyap dengan tertawa.

“Tutup mulutmu!” bentak Tong-siansing.

Siau-hi-ji melelet lidah, ucapnya dengan tertawa, “Engkau menghendaki aku tutup mulut, umpama engkau tidak suka menutuk Hiat-to bisuku, kan dapat kau sumbat mulutku dengan kain.”

Tong-siansing jadi melengak, ia pikir memang betul juga ucapan anak muda itu. Tapi lantaran hal itu lebih dulu dikatakan sendiri oleh Siau-hi-ji, jika dia turut melakukannya, kan malu?

Terpaksa Tong-siansing hanya mendengus saja, katanya, “Hm, untuk apa kusumbat mulutmu? Aku justru ingin mendengar ocehanmu.”

Siau-hi-ji mengikik tawa, katanya, “Hihi, tak tersangka ocehanku sedemikian merdu sehingga menarik perhatianmu. Jika kau suka mendengarkan, kenapa tidak duduk saja agar kita dapat mengobrol lebih asyik.”

Tong-siansing menatap anak muda itu dengan mendelik, ia benar-benar mati kutu. Biasanya ia merasa tiada sesuatu urusan di dunia ini yang tak dapat dibereskan olehnya, tapi kini dia justru menghadapi suatu urusan pelik.

Tadinya ia merasa tiada seorang pun di dunia ini yang tak dapat dilayani olehnya, siapa tahu justru ada seorang Kang Siau-hi yang membuatnya kepala pusing. Untuk pertama kali selama hidupnya dia merasa sakit kepala.....

********************

Sementara itu Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat telah meninggalkan hutan bunga itu. Dia tidak menutuk Hiat-to anak muda itu, dia tidak perlu sangsi, ia tahu sekali Bu-koat menyatakan tidak akan pergi, maka pasti juga takkan pergi.

“Ke manakah perginya Thi Sim-lan?” tiba-tiba Bu-koat bertanya. “Apakah engkau tidak melihatnya?”

“Tidak,” jawab Yan Lam-thian.

Bu-koat mendongak dan menghela napas perlahan, katanya, “Saat ini Kang Siau-hi entah berada di mana?

“Bilakah dia terjatuh di tangan ‘Tong-siansing’ itu?”

“Semalam.”

“Jadi sudah seharian dia berada dalam cengkeramannya....”

“Yan-tayhiap jangan khawatir, Tong-siansing pasti takkan melukai dia.”

“Dari mana kau tahu?”

“Ada ucapan sementara orang, tidak perlu pakai alasan apa pun, tapi cukup dapat dipercaya.”

Yan Lam-thian termenung sejenak dan mengangguk perlahan, katanya kemudian, “Tapi di dunia Kangouw ini mana ada seorang ‘Tong-siansing’ segala? Orang yang berkepandaian setinggi itu, mengapa selama ini tak pernah kudengar? Apakah... apakah kau tahu asal-usulnya?”

“Cayhe cuma tahu ilmu silatnya sangat tinggi, tapi juga tidak tahu asal-usulnya.”

“Hm, jika tidak keliru dugaanku, dia pasti penyamaran orang lain.”

“Tapi siapakah gerangan di dunia ini yang memiliki ilmu silat setinggi itu?”

“Umpamanya Ih-hoa-kiongcu....”

Bu-koat tersenyum tak acuh, ucapnya, “Untuk apa guruku menyamar sebagai orang lain? Untuk apa pula guruku mengelabui diriku? Apa manfaatnya bagi beliau? Memangnya Yan-tayhiap dapat mengemukakan sesuatu alasannya?”

“Ya, memang tidak....” Yan Lam-thian menghela napas panjang, sejenak kemudian ia menyambung pula, “Eh, dapatkah kau perkirakan ke mana ‘Tong-siansing’ itu akan membawa Siau-hi-ji?”

Bu-koat juga menghela napas panjang, kemudian menjawab, “Cayhe juga tidak dapat memperkirakannya.”

********************

Saat itu Siau-hi-ji sudah tertidur.

Tong-siansing telah membawa Siau-hi-ji ke kamarnya di hotel itu. Selain tempat ini ke mana lagi dia harus membawa anak muda itu?

Berbaring di tempat tidur yang nikmat, Siau-hi-ji sedang ngorok dengan nyenyaknya, Tong-siansing terpaksa menunggunya dengan duduk di kursi dan berdiam seperti patung. Selain ini sesungguhnya dia memang tidak tahu apakah ada cara yang lebih baik.

Dilihatnya pernapasan anak muda itu sangat teratur, tampaknya tidur dengan sangat tenang dan amat nyenyak laksana seorang anak kecil yang tidur di sisi sang ibu, ujung mulutnya tampak mengulum senyum pula.

Di waktu sadar wajahnya penuh daya pikat dan penuh sifat yang cerdik dan binal. Kini dalam keadaan tidur, mukanya telah berubah menjadi polos dan suci seperti anak bayi.

Memandangi wajah yang cakap dan polos itu, memandangi bekas luka yang selamanya tak dapat dihapuskan di mukanya itu, mendadak sekujur badan Tong-siansing jadi gemetar.

Begitu kencang tangannya mencengkeram sandaran kursinya, sorot matanya yang dingin tadi mendadak berubah membara, seperti penuh rasa derita dan juga seperti penuh rasa dendam dan benci.

“Prak,” mendadak sandaran kursi yang terbuat dari kayu jati itu kena diremasnya hingga hancur.

Siau-hi-ji terjaga bangun, ia membuka mata perlahan-lahan, sambil mengucek matanya ia tertawa kepada Tong-siansing, tanyanya, “Lamakah tidurku?”

Tong-siansing menarik napas dalam-dalam, jawabnya kemudian, “Ya, cukup... cukup lama?” Sedapatnya dia membuat suara sendiri sewajarnya, tapi terasa rada gemetar.

“Apakah engkau duduk menjaga diriku sejak tadi?”

“Hm!” Tong -siansing mendengus.

Meski tubuh Siau-hi-ji tak dapat bergerak, tapi kaki bisa bebas berjalan, sekali melejit ia lantas melompat turun tempat tidur, katanya dengan tertawa, “Wah, kukangkangi tempat tidurmu, sehingga engkau tidak dapat tidur, sungguh aku sangat menyesal.”

Tong-siansing menatap kaki anak muda itu dan bertanya dengan bengis, “Kakimu tidak cedera?”

Siau-hi-ji hanya angkat pundak tanpa menjawab, lalu hendak melangkah keluar.

“Hendak ke mana kau?” bentak Tong-siansing.

Siau-hi-ji menyengir, jawabnya, “Ada suatu kebiasaanku, begitu bangun tidur harus... harus ke kakus.”

“Tidak boleh pergi!” bentak Tong-siansing.

“Wah, payah!” keluh Siau-hi-ji. “Kalau telanjur keluar di celana, kan bau?”

“Kau... kau berani?” teriak Tong-siansing, hampir-hampir saja ia berjingkrak.

Dengan tenang Siau-hi-ji menjawab, “Betapa pun lihai dan betapa pun buasnya seseorang, sekali pun dia sanggup membunuh orang dan membakar rumah, tapi apa mampu membuat orang agar tidak berak?”

Mendelik mata Tong-siansing seakan-akan berapi, saking dongkolnya.

Tapi Siau-hi-ji tetap acuh tak acuh, katanya dengan tertawa, “Jika engkau melarang aku berak, kukira cuma ada satu jalan, yaitu segera bunuh diriku. Kalau tidak... wah, aku tidak tahan lagi perut ini....” sambil bicara sembari memegangi perut dan segera hendak berjongkok di situ.

Keruan Tong-siansing serba salah, cepat ia berteriak, “Tidak... tidak boleh di situ!”

“Jadi aku boleh keluar?” tanya Siau-hi-ji.

Tong-siansing membanting kaki dan berteriak, “Ya, gelinding keluar sana!”

Tanpa disuruh lagi Siau-hi-ji terus berlari-lari kecil keluar dengan setengah berjongkok. Serunya dengan tertawa, “Jika engkau tetap sangsi, silakan menunggui aku di luar kakus.”

Tong-siansing memang benar tidak percaya, padanya, ia benar-benar berjaga di luar kakus.

Sebenarnya ‘Tong-siansing’ ini mempunyai sifat istimewa, sifat nyentrik, yaitu suka pada kebersihan. Benda yang pernah disentuh orang lain pasti tidak sudi dijamahnya dengan jari sekali pun. Selama hidupnya juga belum pernah bersantap satu meja dengan orang lain. Di rumahnya, siapa pun yang melihat dia pasti munduk-munduk penuh hormat, bahkan bernapas pun tidak berani keras-keras.

Sungguh mimpi pun tak pernah terpikir olehnya bahwa hidupnya ini ternyata bisa juga berdiri di luar kakus, menunggui orang berak.

Tunggu punya tunggu, sampai agak lama barulah Siau-hi-ji keluar sambil menggosok-gosok perutnya.

Manusia mana pun juga, bila mana habis menunaikan tugas dari kakus, tentu rasanya menjadi enteng dan lega. Begitu pula Siau-hi-ji, ia tersenyum-senyum puas.

Namun Tong-siansing hampir gila saking kekinya, bentaknya murka, “Apa kau mampus di dalam?”

“Jangan marah-marah dulu, dengarkan penjelasanku,” jawab Siau-hi-ji dengan cengar-cengir. “Maklumlah, simpanan selama beberapa hari, kalau dikuras sekaligus kan perlu waktu cukup lama?”

Saking gusarnya sehingga Tong-siansing hanya geleng-geleng kepala dan tidak sanggup bicara lagi, terpaksa ia melengos ke arah lain.

“Dan setelah perutku dikuras, simpanan lama sudah bersih, kini perlu diberi persediaan baru lagi, ayolah kita pergi makan!” ajak Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ap... apa katamu?” teriak Tong-siansing dengan gusar.

“Makan dan berak kan urusan yang jamak, kenapa mesti heran?” ucap Siau-hi-ji tertawa. “Memangnya engkau tidak pernah mendengar bahwa setiap orang harus makan nasi?”

Setelah terdiam sejenak, mendadak Tong-siansing mendengus, “Tidak, meski aku tak dapat melarang kau masuk... masuk kakus, tapi dapat kularang kau makan.”

“Aku tidak boleh makan?” tanya Siau-hi-ji.

“Bila kuberi makan baru boleh kau makan, kalau tidak kau harus tutup mulut, paham tidak?” bentak Tong-siansing dengan bengis.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Tapi mulut tumbuh di mukaku sini, bukan?”

“Hm!” dengus Tong-siansing.

“Sebab itulah, bila mana aku ingin makan dan engkau harus memberi makan, kalau tidak, selamanya juga aku takkan makan. Apabila kumati kelaparan, maka rencanamu jadi berantakan. Nah, engkau paham tidak?”

Mendadak Tong-siansing melompat maju, ia cengkeram leher baju Siau-hi-ji dan berteriak, “Kau... kau berani bicara cara begini padaku?”

Siau-hi-ji nyekikik, ucapnya, “Meski aku bukan tandinganmu bila berkelahi, tapi untuk membikin diri sendiri mati kelaparan memangnya kau dapat melarangku?”

Untuk sejenak Tong-siansing melenggong, akhirnya ia menggentakkan tubuh anak muda itu sambil membanting kaki sendiri, katanya, “Ikut sini!”

“Bukan aku yang ikut padamu, tapi engkau yang ikut padaku,” ucap Siau-hi-ji tertawa. “Apa pun yang ingin kumakan terpaksa harus kau bayar, kalau tidak, aku akan mogok makan saja.”

Saking dongkolnya sampai badan Tong-siansing terasa gemetar, terpaksa ia pura-pura tidak mendengar ocehan anak muda itu.....

********************

Di tempat lain, dengan sendirinya Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat tidak dapat menemukan Thi Sim-lan dan lebih-lebih tidak dapat menemukan Siau-hi-ji.

Setelah berkeliling kian kemari tanpa tujuan, mendadak Yan Lam-thian berkata, “Kau minum arak tidak?”

“Boleh juga,” jawab Bu-koat tersenyum.

“Marilah kita minum beberapa cawan!” ajak Yan Lam-thian.

Mereka lantas masuk ke kota.

“Banyak juga restoran di kota ini,” ucap Yan Lam-thian. “Masakan daerah Kangsoh dan Ciatkang mengutamakan manis, masakan utara hambar, lebih baik masakan Sujwan yang beraneka ragam cita-rasanya, ya asin, ya gurih, ya pedas, itu baru cocok bagi selera seorang lelaki sejati. Bagaimana pikiranmu?”

“Untuk itu, di sebelah sana ada sebuah restoran Yangcukang, konon ada koki ternama dengan berbagai masakan yang terkenal,” kata Bu-koat.

Sementara itu pasar malam belum lagi bubar, orang berlalu lalang masih cukup ramai, restoran Yangcukang itu juga penuh dengan tetamu.

Kang Piat-ho sedang minum arak sendirian di situ.

Kejadian yang membuatnya kesal selama dua hari ini sesungguhnya terlalu banyak, urusan Siau-hi-ji, persoalan Hoa Bu-koat dan... tentang anaknya, yaitu Kang Giok-long, sampai saat ini ternyata belum pulang.

Tiba-tiba seorang lelaki berlari ke atas loteng restoran itu, begitu tergesa-gesa sehingga dua kursi ditumbuknya hingga terguling, tampaknya dia begitu cemas, setiba di depan Kang Piat-ho lelaki itu lantas berbisik, “Hoa-kongcu datang!”

“Di mana?” tanya Kang Piat-ho.

“Di bawah, tampaknya juga akan naik ke sini,” lapor orang itu.

“Sendirian?”

“Bersama seorang lelaki rada jangkung dengan pakaian yang rombeng, tampaknya seperti....”

Belum habis penuturan orang itu, air muka Kang Piat-ho tampak berubah pucat. Mendadak ia berbangkit, katanya dengan suara gemetar, “Lekas... lekas berusaha mengalangi mereka sejenak.”

Namun pada saat itu Hoa Bu-koat dan Yan Lam-thian sudah muncul di atas loteng, bahkan sudah dapat melihatnya. Dengan tersenyum Hoa Bu-koat lantas mendekati Kang Piat-ho.

Sambil memegangi meja, hampir saja Kang Piat-ho tidak sanggup berdiri tegak saking kejutnya.

“Tak tersangka Kang-heng juga berada di sini,” terdengar Bu-koat menyapa.

“Ya... iya....” jawab Kang Piat-ho tergagap. Matanya menatap lurus ke arah Yan Lam-thian, kerongkongan terasa kering dan kaki terasa lemas, saking takutnya nyalinya seakan-akan pecah.

Yan Lam-thian juga memandangnya beberapa kejap, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa, “Barangkali inilah ‘Kang-lam-tayhiap’ Kang Piat-ho yang termasyhur di dunia Kangouw akhir-akhir ini?”

“Ah, ti... tidak berani,” jawab Kang Piat-ho.

“Baiklah, kita duduk bersama dan minum beberapa cawan,” ucap Yan Lam-thian. Segera ia menarik sebuah kursi dan duduk. Tapi terasa mangkuk dan cangkir di atas meja sama bergetar tiada berhenti, kiranya sekujur badan Kang Piat-ho masih terus gemetar.

“Mengapa Kang-heng tidak duduk?” tanya Yan Lam-thian.

Segera Kang Piat-ho duduk dengan tegak kaku.

“Meski orang she Yan sudah lama tidak menjelajah Kangouw, tapi sudah lama pula kudengar nama harum Kang-heng, sekarang harus kita habiskan tiga cawan bersama,” kata Yan Lam-thian dengan tertawa.

Cepat Kang Piat-ho menuang tiga cawan dan berkata, “Biarlah Wanpwe menyuguh satu cawan kepada Yan-tayhiap.”

Kang Piat-ho sengaja mengalingi mukanya dengan cawan, dalam hati ia bertambah waswas. Pikirnya, “Agaknya Kang Siau-hi belum memberitahukan padanya mengenai diriku, tapi mengapa dia tidak... tidak kenal aku lagi? Padahal selama dua puluh tahun wajahku kan tidak berubah banyak?” Dari balik cawan dia mencoba mengintip muka Yan Lam-thian, lalu membatin pula, “Tapi wajahnya ternyata sudah banyak berubah, sungguh aneh, jangan-jangan... jangan-jangan....”

“Mengapa Kang-heng tidak habiskan isi cawanmu?” tiba-tiba terdengar Yan Lam-thian menegur.

Lekas-lekas Kang Piat-ho menenggaknya hingga habis, lalu berkata dengan terbahak-bahak, “Wanpwe juga sudah lama mengagumi nama kebesaran Yan-tayhiap, tidak nyana sekarang dapat bertemu, sungguh sangat beruntung.”

“Betul, kita baru bertemu pertama kali dan harus minum sepuas-sepuasnya,” ucap Yan Lam-thian dengan tertawa.

Kata ‘baru pertama kali’, membuat Kang Piat-ho bertambah heran, diam-diam ia pun menghela napas lega. Serunya dengan terbahak-bahak, “Haha, memang harus minum sepuas-puasnya, sebelum mabuk takkan berhenti.”

“Bagus, sebelum mabuk takkan berhenti!” tukas Yan Lam-thian sambil tertawa. “Hai, pelayan bawakan arak tiga puluh kati lagi!”

********************

Sementara itu Tong-siansing terpaksa harus mengiringi Siau-hi-ji keluar hotel lagi untuk makan. Malam sudah larut, jalanan sudah sepi, toko-toko di kedua sisi jalan hampir seluruhnya sudah tutup.

Seperti pelancongan saja Siau-hi-ji berjalan kian kemari dengan gembira. Ucapnya dengan tertawa, “Jangan khawatir, biar pun rumah makan tutup semua, asalkan kau berani membuang uang, setan saja dapat disogok, apa lagi rumah makan, mustahil takkan membuka pintu.”

“Di sini juga ada rumah makan. Nah, gedorlah pintunya,” kata Tong-siansing dengan menahan rasa dongkolnya.

“Rumah makan ini pakai merek ‘Sam-ho-lau’, khusus menjual masakan Kangsoh dan Ciatkang, tidak cocok bagiku... Eh, ada lagi sebuah rumah makan di situ, pakai merek Cia-pak-peng, (Peking asli) yang dijual pasti masakan Peking, aku pun tidak cocok.”

“Mengapa tidak cocok?” omel Tong-siansing dengan gusar.

“Soalnya masakan Kangsoh dan Ciatkang mengutamakan hidangan laut, masakan sebangsa udang dan kepiting tentunya tidak segar lagi kalau sudah larut malam begini,” tutur Siau-hi-ji. “Sedangkan masakan utara banyak memakai bawang brambang, aku pun tidak suka.”

“Habis apa... apa yang hendak kau makan?” tanya Tong-siansing dengan geregetan.

“Kukira masakan Sujwan paling cocok bagiku, ya asin, ya pedas, jika makan sampai mandi keringat, nah, itulah baru namanya makan enak.”

“Apakah kau tidak dapat makan seadanya?” bentak Tong-siansing gemas.

“Tidak, tidak bisa,” ucap Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh. “Seorang boleh disebut kurang baik terhadap teman, tapi jangan sekali-kali membikin susah perut sendiri. Sebab, di waktu engkau sedang sial, maka teman-teman itu akan lari semua dan menjauhimu, sedangkan perut pasti takkan berbuat demikian, selamanya dia akan ikut bersamamu.”

Dengan gemas Tong-siansing melototi anak muda itu, selang sejenak baru berkata dengan perlahan, “Setiap orang di dunia ini sama takut, padaku, mengapa... mengapa kau tidak takut?”
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 27"

Post a Comment

close