coba

Bakti Pendekar Binal Jilid 19

Mode Malam
Bila ada orang mengira dengan tenaga satu kaki dapat menahan daya dorongan dua ratus orang, maka otak orang itu pasti kurang waras. Padahal Hoa Bu-koat jelas kelihatan bukan orang sinting, mengapa dia justru menerima syarat aneh itu dengan begitu saja.

Begitulah semua orang merasa kejut dan heran pula, diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli melihat sikap orang-orang itu, hampir saja dia berteriak, “Huh, cuma soal begini saja kenapa meski diherankan? Asalkan sedikit saja memeras otak, maka setiap orang pun dapat melakukannya. Asalkan kau berdiri dengan punggung bersandar pada dinding tebing, jangankan dua ratus orang, biar pun didorong dua ribu orang juga takkan terdorong roboh.”

Ia tidak tahu bila soal ini sudah dipecahkan, jadinya memang begitu mudah dan sangat sederhana, tapi dalam keadaan genting begini, otak siapa yang sempat berpikir jelimet sejauh itu?

Ini sama mudahnya dengan telur ayam harus didirikan tegak di atas meja, asalkan telur diketuk salah satu ujungnya dan berdiri tegaklah telur itu, tapi sebelum rahasia ini dibeberkan, mungkin tiada satu orang pun di antara sejuta orang mampu melakukannya.

Siau-hi-ji mengira Hoa Bu-koat juga sudah mempunyai pikiran yang sama dengan dia, di luar dugaan Hoa Bu-koat ternyata tidak berjalan menuju tebing sana, tapi di tanah lapang itu juga dia lantas berdiri dengan kaki satu, lalu berkata dengan tersenyum, “Bila Cayhe berhitung sampai ‘tiga’, maka bolehlah nyonya menyuruh orang mulai mendorongku.”

Buyung Siang dan Buyung San saling mengedip, sorot mata menampilkan rasa girang, serentak mereka menyatakan baik.

Tatkala mana di lembah gunung ini hadir beberapa ratus orang, semuanya termasuk Siau-hi-ji menganggap Hoa Bu-koat pasti akan kalah. Malahan ada sementara orang yang telah menghela napas menyesal. Habis apa mau dikatakan, Hoa Bu-koat berdiri dengan kaki satu tanpa sandaran apa pun, tidak perlu dua ratus orang, cukup dua orang saja sudah dapat menolaknya roboh.

Bicara tentang ilmu silat memang dua ratus orang juga bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi cara dia mengadu tenaga luar begitu sama sekali tak dapat melawan dengan akal, bila didorong dengan tenaga seribu kati, maka kau juga harus melawannya dengan tenaga yang sama kuatnya. Kalau tidak, maka berarti kau pasti akan roboh.

Dalam hati Siau-hi-ji sungguh merasa heran, orang macam Hoa Bu-koat mengapa tidak memahami urusan yang sederhana ini?

Terdengar Hoa Bu-koat mulai menghitung, “Satu... dua... tiga....” dan begitu kata ‘tiga’ terucapkan, sebelah kakinya yang berdiri di tanah itu mendadak ambles setengah dim ke bawah, tanah berbatu yang keras itu di bawah kakinya telah berubah menjadi lunak laksana lumpur.

Keruan Buyung San dan lain-lain terkejut, cepat ia memberi tanda, “Itu dia Hoa-kongcu sudah siap, tunggu apa lagi kalian?”

Serentak kedelapan belas penggotong tandu yang kekar itu berlari maju, agaknya mereka sudah terlatih dengan baik, di tengah berlari itu tangan orang kedua segera memegang pundak orang pertama, orang ketiga juga lantas pegang pundak orang kedua dan begitu seterusnya, langkah kedelapan belas orang itu semakin cepat dan mendadak menerjang Hoa Bu-koat terus mendorongnya.

Tenaga dorongan ini tidak cuma himpunan tenaga kedelapan belas orang melulu, bahkan ditambah lagi tenaga terjangan mereka dari tempat jauh, maka betapa dahsyatnya dapatlah dibayangkan.

Seorang jago silat sejati yang mahir tentu tidak gentar pada tenaga kekerasan begini, akan tetapi kini Hoa Bu-koat justru menyambut tenaga tolakan dahsyat itu dengan keras lawan keras. Jangankan dia cuma berdiri dengan satu kaki, sekali pun berdiri dengan dua kaki juga tak mampu menahan dorongan hebat itu. Maka semua orang yakin Hoa Bu-koat pasti kalah.

Di luar dugaan, sekali kedelapan belas orang itu mendorong, Hoa Bu-koat tidak roboh, tergentak mundur pun tidak, malahan tubuhnya seperti ambles beberapa dim lagi ke bawah tanah.

Semakin keras tenaga dorongan kedelapan belas orang itu, semakin cepat pula tubuh Hoa Bu-koat ambles ke bawah, kedelapan belas lelaki itu tampak sudah berkeringat dan telah mengerahkan segenap tenaga mereka.

Akhirnya kaki Hoa Bu-koat itu sudah terpendam sebatas dengkul, biar pun kakinya terbuat dari besi rasanya juga tidak mudah hendak ditancapkan ke dalam tanah berbatu itu, namun wajahnya tetap tersenyum simpul seakan-akan tidak mengeluarkan tenaga sama sekali dan seperti orang yang berdiri di atas pasir belaka.

Para pengunjung seperti menonton permainan sulap saja, semuanya melongo dan mengira pandangan sendiri yang kabur. Tidak terkecuali Siau-hi-ji, ia pun melenggong menyaksikan itu.

Cara yang digunakan Hoa Bu-koat ini meski jauh lebih bodoh dari pada cara yang dipikirnya, malahan jauh lebih sulit, tapi cara ini juga jauh lebih mengejutkan dan membuat orang kagum.

Bila mana Hoa Bu-koat berbuat seperti jalan pikiran Siau-hi-ji, yakni dengan berdiri bersandar dinding tebing, sekali pun kakak beradik Buyung itu tiada alasan untuk mencelanya, namun para penonton yang berkerumun itu pasti akan berkurang. Pertandingan yang khidmat dan menarik ini tentu juga akan berubah seperti permainan anak kecil yang dicemoohkan.

Siau-hi-ji berpikir pula, tapi ia menjadi bingung apakah cara yang dipergunakan Hoa Bu-koat terlebih cerdik atau jalan pikirannya sendiri itu yang lebih pintar?

Dilihatnya kaki Hoa Bu-koat yang semakin ambles ke bawah itu mulai lambat, jelas karena tenaga dorongan kedelapan belas lelaki itu pun semakin lemah. Sampai akhirnya kaki Hoa Bu-koat tidak ambles ke bawah lagi, mendadak kedelapan belas lelaki itu terkapar, semuanya lemas kehabisan tenaga dan tidak sanggup bangun kembali.

Nyata Hoa Bu-koat telah menggunakan ilmu “Ih-hoa-ciap-giok,” untuk mengalihkan arah tenaga dorongan mereka, mestinya menuju ke depan, tapi oleh Hoa Bu-koat telah dialihkan ke bawah, sebab itulah kelihatannya mereka sedang mendorong Hoa Bu-koat, tapi sesungguhnya tiada ubahnya mereka lagi menolak permukaan bumi.

Dengan tenaga kedelapan belas lelaki itu untuk menolak bumi, maka sama halnya seperti campung hinggap di pilar, tentu saja mereka kehabisan tenaga dan roboh dengan loyo.

Sudah tentu para penonton tidak tahu letak kehebatan ilmu Hoa Bu-koat itu, yang pasti mereka tambah kagum terhadap kelihaian anak muda itu, maka terdengarlah sorak memuji mereka. Sedangkan kakak beradik Buyung juga melenggong.

“Apakah nyonya perlu menyuruh orang lain mendorong pula?” demikian Hoa Bu-koat bertanya dengan tersenyum. .

“Kepandaian Hoa-kongcu sungguh sukar dibayangkan, kami merasa sangat kagum,” jawab Buyung San dengan tersenyum.

Siau-sian-li merasa penasaran, teriaknya, “Ini baru permulaan, biar pun dapat kau laksanakan dengan baik, boleh coba lagi yang kedua.”

Hoa Bu-koat tersenyum sambil mengangkat sebelah kakinya, kebetulan angin meniup sehingga sebagian kaki celananya bertebaran terbang seperti kupu-kupu. Sorak-sorai penonton masih terus berlangsung, waktu suara sorakan berhenti, terdengar di dalam kereta sana masih bergema suara orang berkeplok tangan. Seketika hati Siau-hi-ji seperti diremas-remas.

Meski dia tak dapat tidak harus mengakui kehebatan ilmu silat Hoa Bu-koat dan memang pantas mendapatkan tepuk tangan si “dia,” tapi bila teringat pada hal ini saja mau tak mau ia bertambah keki.

Dalam pada itu terdengar Hoa Bu-koat sedang menanggapi ucapan Siau-sian-li tadi, “Apakah soal yang kedua itu, mohon petunjuk nyonya?”

Dengan tersenyum Buyung San menjawab, “Di dalam kota Ankhing ada sebuah toko kue yang khusus menjual kudapan, toko itu pakai merek ‘Siau-soh-siu’, entah Kongcu tahu tidak?”

“Ya, beberapa kali Kang-heng pernah mengajak Cayhe jajan ke sana,” jawab Bu-koat.

“Nah, Siau-soh-siu itu memang terkenal menjual kudapan yang enak-enak, antara lain yang paling kugemari adalah Pat-po-pui (nasi berkat), Jian-ceng-ko (kue bolu susun seribu, sejenis roti tar), setahuku panganan ini boleh dikatakan sangat lezat dan tiada bandingannya.”

Dalam keadaan demikian dia masih dapat bicara tentang makanan enak segala, karena tidak tahu apa maksudnya, para penonton menjadi terheran-heran.

Tapi Hoa Bu-koat lantas menjawab, “Meski aku kurang berminat terhadap penganan manis-manis begitu, tapi ada seorang sahabatku memang juga sangat memuji kedua macam makanan yang disebut nyonya tadi.”

Sudah tentu Siau-hi-ji paham siapa “sahabat” yang dimaksud Hoa Bu-koat itu, bila membayangkan betapa kasih mesra ketika Thi Sim-lan makan nasi berkat bersama Hoa Bu-koat, sungguh akan meledak dada Siau-hi-ji dan hampir saja ia terjungkal ke bawah pohon saking gemasnya.

Terdengar Buyung San lagi berkata dengan tertawa gembira, “Bagiku kedua macam makanan itu bukan saja harus dipuji, bahkan selalu terkenang-kenang dan sukar dilupakan. Nah, untuk itulah apakah Kongcu sudi pergi ke Ankhing agar rasa pingin makanku dapatlah terpenuhi.”

Makin bicara makin aneh, malahan sekarang Hoa Bu-koat disuruh membelikan kudapan segala. Apakah mungkin inilah soal kedua yang harus dilaksanakan oleh Hoa Bu-koat. Memangnya nyonya muda ini sedang idam dan mendadak pingin makan makanan kecil khas tadi.

Hal ini rasanya terlalu tidak pantas, tapi juga terlalu mudah apabila harus dilakukan. Dengan sendirinya Hoa Bu-koat juga merasa heran. Tapi terhadap setiap permohonan perempuan selamanya dia tidak suka menolak, maka setelah melengak sekejap, akhirnya ia menjawab dengan tertawa.

“Bila Cayhe dapat bekerja sedikit bagi Nyonya, sungguh suatu kehormatan bagiku.”

“Tapi kedua macam makanan itu harus dimakan selagi masih hangat-hangat, kalau tidak rasanya tidak enak,” kata Buyung San pula.

Setelah berpikir sejenak, lalu Hoa Bu-koat menjawab, “Setelah kubeli dan bawa ke sini, mungkin masih hangat-hangat.”

“Namun kepergian Kongcu ini kaki tidak boleh menempel tanah, entah hal ini dapat dilakukan Kongcu atau tidak?” Buyung San menambahkan dengan tersenyum yang lebih manis.

Setelah mendengar ucapan ini barulah para pengunjung tahu di sinilah letak soal sulit yang dikemukakan pihak Buyung. Bahwa kedua kaki tidak boleh menempel tanah, lalu cara bagaimana orang dapat pergi pulang ke Ankhing untuk membelikan makanan? Padahal jarak Ankhing tidaklah dekat walau pun juga tidak jauh, sekali pun Ginkang Hoa Bu-koat mahatinggi juga dia tidak dapat terbang seperti burung. Akan tetapi tanpa pikir segera Hoa Bu-koat menyanggupi pula.

Tentu saja semua orang melengak heran, soal yang tidak mungkin dilakukan ini apakah betul dia sanggup melaksanakannya?

Namun Siau-hi-ji jadi geli dan ingin tertawa, katanya dalam hati, “Soal yang dikemukakan para nona Buyung ini semakin ngawur tidak keruan, bahwasanya kedua kaki tidak boleh menempel tanah, memangnya dia tidak dapat pergi dengan menumpang kereta atau naik kuda?”

Soal ini juga tipu muslihat yang licik, kalau Hoa Bu-koat tidak sanggup melakukannya dan Buyung San menjelaskan cara bagaimana pelaksanaannya, maka berarti kalahlah Hoa Bu-koat.

Dilihatnya Hoa Bu-koat telah menanggalkan sepatunya sehingga kelihatan kaus kakinya yang putih bersih.

“Apakah kaki Cayhe menempel tanah atau tidak dapat dibuktikan dengan kaus kakiku ini,” katanya kemudian dengan tertawa. Belum lenyap suaranya segera ia melayang ke depan dengan enteng.

Nyata dia tidak numpang kereta dan juga tidak naik kuda, tapi dia melayang ke atas sebatang pohon besar, di situ ia memotes dua potong ranting kayu, begitu ranting kayu itu menutul tanah, secepat terbang ia melayang sejauh tiga-empat tombak ke sana, waktu ranting kayu yang lain menutul tanah pula, tahu-tahu bayangan orang sudah berada belasan tombak jauhnya, terdengar suaranya berkumandang dari jauh, “Silakan Nyonya menunggu sebentar, segera Cayhe akan kembali ke sini.”

Hoa Bu-koat telah perlihatkan Ginkangnya yang sempurna, andaikan orang lain juga dapat menggunakan cara yang sama, tapi mustahil dapat pulang-pergi dalam waktu singkat dalam jarak puluhan li jauhnya.

Semua orang menjadi gempar juga dan ramai membicarakan cara “terbang” Hoa Bu-koat itu, mereka sangsi apakah anak muda itu dapat bertahan dengan cara begitu dalam jarak sedemikian jauhnya. Kakak beradik Buyung juga merasa tegang sehingga senyuman yang senantiasa menghias wajah mereka kini pun lenyap.

Sang waktu berlalu dengan cepat, selagi semua orang masih asyik membicarakan kepandaian Hoa Bu-koat, tertampak berkelebatnya bayangan orang di kejauhan, tahu-tahu Hoa Bu-koat sudah muncul, pada mulutnya terlihat menggigit sesuatu benda.

Sesudah dekat, begitu kedua ranting kayunya menutul tanah, seketika tubuhnya menegak terbalik, kakinya menghadap ke atas, sepasang kaus kakinya ternyata masih putih bersih tanpa berdebu setitik pun.

Serentak semua orang memuji, “Sungguh hebat. Hoa-kongcu benar-benar kaki tanpa menyentuh tanah dan telah pergi-pulang ke Ankhing satu kali.”

Di tengah sorak-sorai orang banyak, Hoa Bu-koat berjumpalitan lagi, kedua kakinya dengan tepat menyusup masuk sepatu yang ditinggalkannya tadi, ranting kayu dibuangnya lalu bungkusan yang digigitnya tadi disodorkan ke hadapan Buyung San, katanya dengan tertawa, “Syukur Cayhe tidak sampai mengecewakan kehendak nyonya, silakan dahar mumpung masih hangat.”

Tersembul senyuman ewa di bibir Buyung San, ia mengucapkan terima kasih dan menerima bungkusan itu. Setelah bungkusan itu dibuka, isinya memang betul nasi berkat dan kue bolu yang masih mengepul, terpaksa ia comot sepotong kue itu dan dimakan.

Meski bolu itu sangat legit dan harum, tapi di mulut Buyung San terasa rada-rada getir.

Ya, Hoa Bu-koat telah menggunakan cara bodoh pula, tapi Siau-hi-ji tidak dapat lagi mencemoohkan dia bodoh, malahan diam-diam ia pun merasa kagum.

Dengan cara “bodoh” yang pertama Hoa Bu-koat telah memperlihatkan tenaga dalam yang mengejutkan, kini dia menggunakan “cara bodoh” yang kedua untuk membuktikan Ginkangnya yang tiada bandingannya. Kalau saja dia tidak menggunakan cara bodoh begini, bisa jadi kini para penonton telah menimpuknya dengan kulit jeruk atau telur busuk disertai caci-maki.

Diam-diam Siau-hi-ji tersenyum kecut, pikirnya, “Agaknya seseorang terkadang lebih baik menjadi orang bodoh saja, kakak beradik Buyung ini justu terlalu pintar sehingga akhirnya mereka sendiri yang kecundang.”

Meski dia bicara tentang kakak beradik Buyung, padahal ia sendiri pun demikian, kalau saja terkadang dia bisa berubah bodoh sedikit tentu hidupnya akan berlangsung lebih gembira.

Dalam pada itu Buyung San sudah menghabiskan sepotong kue bolu, pada hakikatnya tak terbayang olehnya bahwa bolu yang legit dan lezat itu bisa berubah begini rasanya.

Hoa Bu-koat hanya saja, setelah Buyung San menghabiskan sepotong kue itu barulah dengan tertawa, “Dan apa lagi soal ketiga itu?”

Siau-sian-li tidak sabar pula, teriaknya, “Ada sebuah pintu tertutup rapat, sekujur badanmu dilarang menyentuh daun pintu dan juga tidak boleh ditumbuk dengan suatu alat atau benda, nah, dapatkah kau masuk ke rumah itu?”

Ini benar-benar suatu soal yang mahasulit pula, para penonton tidak perlu khawatir lagi bagi Hoa Bu-koat, mereka tahu betapa sulitnya sesuatu persoalan pasti dapat dilaksanakan anak muda itu.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli pula, pikirnya, “Soal ketiga ini lebih-lebih ngawur lagi, dia dilarang menyentuh daun pintu, memangnya dia tidak dapat masuk ke rumah melalui jendela?” Tapi kini ia pun tahu Hoa Bu-koat pasti takkan menggunakan cara demikian.

Dilihatnya Hoa Bu-koat berpikir sejenak, katanya kemudian, “Di sini tiada rumah, entah kereta ini....”

“Kereta juga boleh,” kata Buyung Siang. “Asal saja kau tidak menyentuh pintu kereta dan dapat masuk ke situ, maka anggaplah kau menang.”

“Apakah betul demikan?” tanya Bu-koat sambil berpaling ke arah Buyung San.

Setelah berpikir, dengan tertawa Buyung San menjawab, “Ya, kereta dan rumah juga sama saja.”

“Bila mana Cayhe sudah melaksanakan soal ini, apakah nyonya akan punya soal lain lagi?” tanya Bu-koat dengan tersenyum.

Buyung Siang saling pandang sekejap dengan Buyung San, akhirnya yang tersebut belakangan ini berkata, “Apabila Kongcu dapat melaksanakan soal ketiga ini, segera juga kami akan angkat kaki dari sini.”

Hakikatnya dia tidak tahu lagi cara bagaimana harus mempersulit Hoa Bu-koat, untuk bertempur jelas-jelas juga bukan tandingannya, lalu mau apa lagi jika tidak angkat kaki?

“Jika demikian, silakan nyonya perhatikan....” sembari berkata Bu-koat lantas melangkah ke arah keretanya.

Diam-diam Siau-hi-ji ragu-ragu, pikirnya, “Apakah dia mahir pukulan jarak jauh sehingga pintu kereta akan pecah tergetar oleh tenaga pukulannya? Ini kan terhitung juga tangannya tidak menyentuh pintu kereta?”

Di luar dugaan, setelah berada di depan keretanya, mendadak Bu-koat berkata, “Silakan buka pintu, nona Thi!”

Terdengar suara tertawa nyaring merdu menjawab di dalam kereta, “Baiklah!”

Semula para penonton tercengang heran, tapi kemudian meledaklah tertawa mereka, sampai-sampai Siau-hi-ji hampir ikut tertawa, tapi demi mendengar suara merdu itu, betapa pun ia tidak sanggup tertawa.

Kedua kakak beradik Buyung juga melenggong demi menyaksikan Hoa Bu-koat melangkah masuk ke keretanya dengan begitu saja.

Terdengar Hoa Bu-koat berkata di dalam kereta, “Sesuai syarat yang ditentukan Nyonya, sekarang Cayhe sudah masuk ke dalam kereta tanpa menyentuh pintu, apakah nyonya setuju bila aku dianggap menang.”

Kakak beradik Buyung sama melongo dan tak dapat menjawab, sedangkan para penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Cara yang digunakan Hoa Bu-koat ini ternyata jauh lebih pintar dari pada jalan pikiran kakak beradik Buyung dan Siau-hi-ji, bahkan sukar untuk dibayangkan, tentu saja para penonton bersorak dan menyatakan kemenangan itu pantas diperoleh Hoa Bu-koat.

Wajah kakak beradik Buyung tampak pucat, kembali. Buyung Siang saling pandang dengan Buyung San. Betapa pun Buyung San hendak tersenyum juga terasa sukar lagi. Mendadak ia menggentakkan kaki, lalu membalik ke sana dan naik ke tandunya, segera Buyung San juga menyusul. Siau-sian-li melotot sekejap ke arah Kang Piat-ho, ucapnya dengan benci, “Jangan keburu gembira dulu, kau takkan hidup tenteram seterusnya.”

Kang Piat-ho hanya tersenyum tanpa menjawab. Kedelapan belas lelaki tadi lantas menggotong ketiga joli besar serta tiga joli kecil terus dilarikan keluar lembah.

“Kecerdikan dan ilmu silat Hoa-heng sungguh tiada bandingannya di dunia ini, sungguh Siaute sangat kagum,” ujar Kang Piat-ho dengan tertawa.

Serentak para pengunjung bersorak memuji pula, Hoa Bu-koat membalas hormat dari dalam kereta, lalu kereta dihela pergi di bawah sorak-sorai orang ramai.

Menyaksikan kepergian kereta itu, teringat pada Thi Sim-lan yang berada di dalam kereta, Siau-hi-ji jadi kesima, hatinya serasa dipuntir-puntir. Selang sejenak, mendadak ia berteriak sendiri, “Bilakah kupernah bersikap begini baik padanya? Mengapa aku harus menderita lantaran dia? Huh, persetan!”

Pada waktu Thi Sim-lan berada di sisinya sedikit pun Siau-hi-ji tidak merasakan sesuatu, tapi ketika nona itu berada di sisi orang lain, mendadak ia merasakan Thi Sim-lan jauh lebih penting dari pada apa pun juga.

Ia sendiri tidak paham mengapa Thi Sim-lan bisa berubah sedemikian penting baginya, sebelum ini mimpi pun tak pernah terpikir olehnya bahwa dia akan merana lantaran si nona.

Ia merasa dirinya benar-benar tolol, pada hakikatnya sudah gila. Tapi tak diketahuinya bahwa orang gila dan orang tolol seperti dia ini masih banyak di dunia ini.

Manusia memang aneh, jika ada sesuatu yang tidak dapat diperolehnya akan dirasakannya baik, tapi bila sesuatu itu sudah diperolehnya justru tidak tahu cara menyayangi dan menghargainya. Bila mana kehilangan, ia menjadi menyesal pula.

Mungkin sebab itulah manusia selalu lebih banyak menderita dari pada bahagia.

Begitulah sampai sekian lamanya Siau-hi-ji termangu-mangu ketika mendadak dilihatnya di tengah-tengah orang banyak itu lewat dua orang tinggi besar dan gemuk, barulah dia ingat janjinya kepada To Kiau-kiau.

Cepat ia lompat turun dari pohon dan menyusup ke sana, perlahan ia tepuk pundak “Lo Kiu” alias Auyang Ting, dengan cepat Auyang Ting menoleh, air mukanya tampak berubah.

Nyata orang gemuk ini senantiasa berjaga jaga terhadap seseorang. Itulah kalau orang berdosa, seperti maling yang khawatir tertangkap, betapa pun hidupnya tidak pernah aman dan tenteram.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menegurnya, “Kenapa kau selalu tegang begini, tapi kau tetap gemuk saja dan tidak pernah kurus, sungguh aneh.”

Setelah mengenali Siau-hi-ji barulah Auyang Ting menampilkan senyuman, jawabnya, “Paling sulit mendapatkan kasih sayang si cantik, dan lantaran tidak pernah mendapatkan perhatian si cantik, terpaksa Cayhe mengalihkan perhatian dalam hal makanan, karena makan terus-menerus, dengan sendirinya badanku semakin gemuk.”

“Rupanya kalian sudah tahu bahwa nona itu telah kubawa pergi?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Selain saudara, memangnya dia mau pergi dengan siapa?” ujar Auyang Ting.

“Cuma tak pernah kuduga bahwa saudara ternyata juga menaruh minat terhadap pelayan dungu itu sehingga membawanya serta,” dengan tertawa Auyang Tong menambahkan.

Kedua Auyang bersaudara ini bernama Ting dan Tong lantaran dalam segala hal mereka selalu main Swipoa sehingga berbunyi “ting-tong-ting-tong,” makanya mereka memakai nama yang berbunyi lantang begitu. Tapi sekali ini Swipoa mereka telah salah hitung, tidak terpikir oleh mereka bahwa si pelayan dungu itu sesungguhnya adalah samaran To Kiau-kiau, mereka mengira hilangnya pelayan itu pun digondol lari oleh Siau-hi-ji.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji tidak mau menjelaskan duduk perkaranya, dengan tertawa ia menjawab, “Lebih baik ada dari pada tidak ada, dua tentunya juga lebih baik dari pada cuma satu, betul tidak?”

“Betul, betul,” seru Auyang Ting sambil berkeplok tertawa, “Ucapan saudara ini sungguh tepat dan cengli, setiap orang perlu ingat baik-baik jalan pikiranmu ini.”

Bahwasanya Auyang Ting berjuluk “Mengadu jiwa juga ingin untung,” tentu saja ucapan Siau-hi-ji sangat cocok dengan seleranya.

Begitulah sambil bersenda-gurau mereka terus keluar lembah dan mendekati tempat parkir kereta kuda To Kiau-kiau.

Mendadak Siau-hi-ji berhenti dan berkata, “Silakan kalian melanjutkan perjalanan, sampai berjumpa pula malam nanti.”

“Eh, jangan-jangan saudara hendak menemui si cantik lagi?” dengan tertawa Auyang Ting berseloroh.

Siau-hi-ji tersenyum misterius sambil menjawab, “Mungkin begitu....” dan seperti tidak sengaja dia melirik sekejap ke arah kereta, lalu menambahkan, “Kenapa kalian tidak meneruskan perjalanan.”

Auyang Ting tertawa, jawabnya “Kami iseng dan menganggur, maka ingin mengobrol dengan saudara.”

Siau-hi-ji pura-pura gelisah, katanya, “Ah, aku masih harus pergi ke tempat lain, kalian....”

“Haha, kukira saudara hendak pergi ke situ,” seru Auyang Tong. Pada saat itu juga Auyang Ting sudah lari ke arah kereta dan pintu kereta terus ditariknya, serunya sambil tertawa, “Ini dia, dugaanku ternyata tidak meleset, si cantik memang betul berada di sini.”

Dengan tertawa Auyang Tong lantas menambahkan, “Kata peribahasa, ‘Diberi buah Tho, balaslah dengan buah Le, paling tidak saudara kan sudah merasakan Tho manis pemberian kami, kalau sekarang engkau balas memberikan Le yang kecut kepada kami kan juga pantas.”

Bahwa kedua Auyang bersaudara ini yang satu berjuluk “Mengadu jiwa juga ingin cari untung” dan yang lain “Mati-matian juga tidak mau rugi,” sesuai julukan mereka, dengan sendirinya mereka merasa dirugikan ketika si cantik yang mereka temukan dengan susah payah itu dibawa lari orang, maka sedapatnya mereka ingin menarik kembali sedikit keuntungan, kalau tidak rasanya mereka tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Karena itulah tanpa permisi lagi kedua Auyang bersaudara lantas menerobos ke dalam kereta. Malahan Auyang Ting sempat berkata kepada Siau-hi-ji, “Ayolah, silakan saudara pun naik ke sini.”

“Ya, biar pun engkau mengusir juga kami takkan pergi,” kata Auyang Tong dengan tertawa.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, pikirnya, “Kalian yang mati pun tidak mau rugi, tampaknya sebentar lagi pasti akan rugi habis-habisan.”

Tapi dengan lagak dongkol dan serba susah ia pun naik ke atas kereta, katanya dengan menyesal, “Tahu begini, tentu sejak tadi kuhindari kalian. Ya, apa mau dikatakan lagi, salahku sendiri menegur kalian, jadinya.... Ai, aku jadi keblinger sendiri.”

Begitulah kereta kuda itu lantas dilarikan ke depan dengan cepat. Semakin riang tertawa kedua orang gemuk itu, mereka duduk dengan “santai” di atas sok yang empuk, mereka tidak tahu bahwa orang yang duduk berhadapan itu adalah elmaut yang hendak merenggut jiwa mereka.

To Kiau-kiau sengaja duduk dengan menunduk seperti perempuan yang malu-malu kucing, padahal sebenarnya tidak ingin wajah aslinya dikenali kedua saudara kembar gendut itu.

Dengan tertawa Auyang Ting lantas berucap, “Wah, sehari tidak bertemu, tampaknya nona menjadi semakin cantik.”

Auyang Tong lantas menambahkan, “Seperti tanaman yang disiram air, dengan sendirinya kuntum bunga menjadi mekar dan tambah cantik, masakah teori begini saja kau tidak paham?!”

Biasanya kedua orang ini selalu berjaga jaga kalau disergap orang lain, tapi kini mereka duduk di dalam kereta, di belakang mereka adalah dinding kereta, tentunya mereka tidak perlu khawatir.

Walau pun Siau-hi-ji sudah tahu maksud tujuan To Kiau-kiau memancing kedua Auyang bersaudara ke dalam keretanya ini adalah untuk membikin perhitungan dengan mereka, cuma ia tidak tahu cara bagaimana sang “bibi” akan mengerjai mereka. Untuk bisa membekuk mereka harus sekali turun tangan dapat mengatasi mereka, kalau tidak mereka akan lolos, sedangkan kalau To Kiau-kiau hendak membekuk kedua orang itu sekaligus rasanya bukan pekerjaan yang mudah.

Dilihatnya To Kiau-kiau masih duduk dengan malu-malu kucing, tampaknya ia tidak terburu-buru turun tangan dan juga tiada maksud ingin minta bantuan Siau-hi-ji, sikapnya itu lebih mirip dia sudah mengatur sesuatu perangkap yang pasti akan berhasil dengan baik.

Siau-hi-ji merasa apa yang akan ditontonnya sekarang jauh lebih menarik dari pada tadi, sungguh ia ingin menyaksikan dengan cara bagaimana To Kiau-kiau akan turun tangan dan cara bagaimana pula kedua Auyang bersaudara akan melawannya.

Kini kereta itu dihela lebih cepat dan sudah jauh meninggalkan khalayak ramai, akhirnya membelok ke tempat sepi.

“He, sarang simpananmu mengapa begini jauh?” tanya Auyang Ting tiba-tiba.

“Jika kau ingin makan buah Le, maka kau harus sabar sedikit,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

“Betul, betul!” seru Auyang Tong dengan tertawa “Cuma....”

Mendadak To Kiau-kiau angkat kepalanya dan berkata dengan genit, “Cuma buah Le ini rasanya terlalu kecut, kukira kalian tidak doyan.”

Serentak kedua Auyang Ting bersaudara melengak, samar-samar mereka sudah merasakan gelagat jelek.

Dengan terkekeh Auyang Ting menanggapi, “He, sejak kapan nona berubah menjadi pintar bicara?”

“O, sudah lama, kira-kira sejak dua puluh tahun yang lalu,” sahut To Kiau-kiau.

Air muka kedua Auyang bersaudara berubah seketika, segera mereka bermaksud melompat keluar kereta.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Ai, mengapa bibi To berlaku ceroboh begini, dengan ucapannya ini, kan sama saja seperti menyikap rumput mengejutkan ular?”

Tapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara “bek,” dari bawah jok kereta yang longgar dan empuk itu mendadak terjulur keluar empat buah tangan.

Mimpi pun kedua Auyang bersaudara tidak mengira akan terjadi begini, kejadian yang tiba-tiba sukar dihadapi, apa lagi perubahan ini datangnya dari bawah pantat mereka.

Seketika kedua orang merasa ketiak mereka kesemutan, tahu-tahu lengan mereka sudah dicengkeram oleh keempat tangan itu, begitu kuat cengkeraman itu laksana belenggu sehingga sakitnya merasuk tulang, maka tak dapat berkutiklah mereka.....

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 19"

Post a Comment