coba

Bakti Pendekar Binal Jilid 06

Mode Malam
“O, Kang Piat-ho! Wahai Hoa Bu-koat!” seru Thi Bu-siang sambil menengadah. “Lohu juga tidak menyalahkan kalian, urusan sudah sejauh ini… Hkhk, lumrah juga jika kalian bertindak begini… Hk, hk… kalian telah sudi memberi tempo setengah hari bagiku sudah terhitung baik hati dan berbudi luhur. Ya, Lohu… hk-hk-hk… Hk-hk!” demikianlah sambil berkata ia pun terbatuk-batuk sehingga pakaiannya penuh berlepotan darah.

Dengan setengah bujuk dan setengah paksa Tio Hiang-leng menyuruh anak buahnya membawa jago tua itu ke ruang belakang, lalu ia pandang Lo Sam dan Lo Kiu, katanya dengan pedih, “Apakah kalian bersaudara juga tidak dapat memberi sesuatu petunjuk bagiku?”

“Thi-locianpwe teramat sedih dan berduka, menurut pendapatku, sebenarnya persoalan ini cukup sederhana,” kata Lo Kiu dengan tersenyum.

Tio Hiang-leng bergirang, cepat ia tanya, “Lekas memberi petunjuk.”

Lo Kiu berlagak berpikir, lalu Tio Hiang-leng dibisikinya, “Asalkan....” karena suasana di ruangan sedang ribut, maka siapa pun tidak akan mendengar apa yang dibisikinya.

Akan tetapi Siau-hi-ji sempat menyusup masuk di tengah keributan itu, orang lain tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Lo Kiu itu, tapi betapa tajam indera pendengaran anak muda itu ditambah lagi dia melihat jelas gerak bibir orang, maka hampir sebagian besar apa yang dibisikkannya kepada Tio Hiang-leng itu dapat ditangkapnya.

Rupanya Lo Kiu berkata, “Urusan sudah begini, asalkan kita turun tangan lebih dulu, kita tawan dulu Toan Hap-pui dan anak perempuannya agar Kang Piat-ho tidak berani sembarangan bertindak.”

Mendengar usul ini, sungguh Siau-hi-ji ingin, mendekati orang dan memberi beberapa kali gamparan. Usul macam apa ini? Pada hakikatnya hendak menjebloskan orang ke jurang.

Tertampak Tio Hiang-leng berpikir sejenak, lalu berkata, “Wah, cara demikian tidak boleh dilakukan, jika bertindak begini, tentu setiap orang Kangouw akan lebih yakin bahwa orang yang merampok harta kiriman dan menaruh racun adalah pihak kita dan tentu kita lebih-lebih tidak dapat membantah.”

Diam-diam Siau-hi-ji memuji tuan rumah yang bukan orang bodoh ini.

Tapi Lo Kiu lantas membisiki Tio Hiang-leng pula, “Jika Cengcu tidak mau melaksanakan usulku ini, maka untuk menyelamatkan diri malam ini bagi Cengcu mungkin lebih sulit dari pada terbang ke langit, suatu dan lain mengingat ilmu silat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat yang mahatinggi itu.”

“Ya, apa boleh buat kalau begitu?!” Tio Hiang-leng tersenyum getir. Setelah termenung sejenak, lalu ia menyambung, “Cuma begundal Toan Hap-pui juga tidak sedikit, kalau kita hendak menawannya dari tempatnya mungkin juga bukan pekerjaan mudah, untuk ini diperlukan orang berkepandaian mahatinggi.”

“Untuk ini Cengcu tidak perlu khawatir,” ucap Lo Kiu dengan tersenyum.

Segera Lo Sam menyambung, “Saat ini Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho pasti tidak menyangka akan tindakan kita ini, dengan sendirinya mereka pun tidak pernah berpikir menjaga Toan Hap-pui dengan ketat. Selain kedua orang ini, rasanya yang lain-lain tidak perlu dikhawatirkan lagi.”

“Memangnya kedua saudara Lo sudi memberi bantuan?” tanya Tio Hiang-leng dengan girang.

“Kami telah mendapat perlakuan baik dari Cengcu, masa untuk persoalan begini saja kami tinggal diam?” ucap Lo Kiu.

“Atas budi kebaikan kalian, sungguh Cayhe tidak tahu cara bagaimana harus membalasnya,” kata Tio Hiang-leng dengan menjura.

Lekas Lo Kiu memegang pundak tuan rumah, katanya “Sudahlah, Cengcu jangan terlalu banyak adat.”

Sudah tentu, semua itu dapat disaksikan Siau-hi-ji dengan jelas, diam-diam ia berpikir, “Keji amat kedua saudara Lo ini, dengan muslihat mereka ini, jelas suasana akan bertambah kacau dan persoalan akan tambah ruwet, dengan demikian kalian pun dapat mengail ikan di air keruh.”

Dalam pada itu terdengar Lo Kiu lagi berkata, “Kalau mau bertindak harus cepat, sekarang juga kami lantas berangkat.”

“Apakah kalian memerlukan sesuatu, silakan bicara saja,” kata Tio Hiang-leng.

“Tidak ada, cukup Cengcu mengirimkan delapan centing dan membawa dua buah joli untuk ikut kami ke sana.”

“Ini mudah....” segera Tio Hiang-leng memberi perintah, serentak beberapa centing tampil ke muka.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat akal, segera ia pun maju. Dalam keadaan kacau dan bingung, tentu tiada orang lagi yang memperhatikan siapakah Siau-hi-ji ini, apa lagi menggotong joli bukan pekerjaan enak, kalau ada orang mendahului, tentu saja yang lain tinggal diam.

Oleh karena itu Siau-hi-ji lantas menjadi tukang pikul joli darurat.

Ketika dua joli sudah disiapkan, segera Lo Kiu mendahului masuk ke salah sebuah joli, katanya dengan tertawa, “Biarkan kami bersaudara menumpang joli ini, nanti giliran Toan Hap-pui dan anak perempuannya yang menjadi penumpang, mungkin mereka berdua tidak lebih ringan dari pada kami.”

Setelah duduk anteng di dalam joli dan menutup tirainya, segera ia berseru kepada para centing pemikul, “Apakah kalian tahu jalannya ke perkampungan Toan Hap-pui?”

Salah seorang centing menjawab dengan tertawa, “Sudah tentu tahu, beberapa kali kami berniat ke sana untuk membakar kampungnya.”

“Baik, berangkatlah sekarang,” kata Lo Kiu.

Tujuh orang centing ditambah Siau-hi-ji lantas melarikan dua joli itu ke arah perkampungan Toan Hap-pui.

Tidak terlalu lama, dari jauh tampaklah perkampungan Toan Hap-pui yang megah itu. Terlihat di depan pintu gerbang duduk tujuh atau delapan lelaki kekar, di dalam pintu juga duduk beberapa orang lagi.

“Itulah kandang babi Toan Hap-pui, apa yang harus kami kerjakan sekarang, Lo-ya?” tanya salah seorang centing.

“Masuk saja langsung!” kata Lo Kiu.

Siau-hi-ji sampai terkejut mendengar ucapan ini, pikirnya, “Masa mereka tidak takut kepada Kang Piat-ho.”

Dengan sendirinya centing tadi pun melengak, cepat ia berkata, “Wah, tidak sedikit anjing penjaga pintu Toan Hap-pui, kalau kami kena tergigit kan berabe!?”

“Langsung saja masuk ke sana, kujamin kawanan anjing penjaga itu takkan mampu menggigit kalian,” ucap Lo Kiu.

Mula-mula para centing itu saling pandang dengan ragu-ragu, akhirnya mereka tabahkan hati, sekali berteriak mereka terus menerjang ke depan.

Baru saja kedua joli itu sampai di depan pintu, seketika kawanan centing keluarga Toan memapaknya sambil membentak, “He, siapa kalian, mau apa? Berhenti! Lekas berhenti!” Timbul pula pikiran Siau-hi-ji, segera ia balas membentak, “Kami hendak menggotong babi ke sini, lekas enyah!”

Sudah tentu tujuan Siau-hi-ji adalah mengacau agar Kang Piat-ho dipancing keluar dan usaha Lo Kiu akan gagal berantakan. Mengenai Thi Bu-siang dia sudah merencanakan sesuatu akal untuk menolongnya.

Benar juga, para centing keluarga Toan lantas berteriak-teriak hendak mencegat, “Keparat, Setan alas! Apakah kalian cari mampus....?”

Karena menggotong joli, dengan sendirinya para centing keluarga Tio tak dapat memberi perlawanan apabila sampai dilabrak musuh. Selagi mereka merasa khawatir, sekonyong-konyong terdengar suara mendesir beberapa kali, beberapa centing keluarga Toan yang memapak tiba itu kontan roboh terjungkal.

Orang lain tidak melihat apa-apa dan tahu-tahu para centing itu sudah terguling. Tapi mata Siau-hi-ji cukup tajam, ia lihat beberapa titik hitam menyambar keluar dari dalam joli, setiap centing itu kena satu dan kontan terguling. Cara turun tangan Lo Kiu ternyata tidak kenal ampun.

Diam-diam Siau-hi-ji terkesiap, sudah tentu para centing keluarga Tio lebih-lebih heran dan melenggong.

“Nah, anjing penjaga pintu tidak menggonggong lagi, kenapa kalian tidak lekas masuk ke sana?!” seru Lo Kiu dengan tertawa.

Serentak para centing mengiakan terus menerjang pula ke depan.

Sementara itu beberapa centing yang duduk di dalam itu pun memburu keluar sambil membentak-bentak, tapi baru saja beberapa langkah, kembali terdengar suara mendesir beberapa kali, beberapa orang itu pun roboh terkapar.

Sisa seorang tidak sampai melangkah keluar, melihat kejadian mengerikan ini, ia menjadi ketakutan, sekali menjerit ia terus lari ke dalam sambil berteriak, “Tolong! Di luar kedatangan setan!”

Siau-hi-ji pikir dengan teriakan centing itu pasti Kang Piat-ho akan terpancing keluar, mustahil kedua Lo bersaudara tidak memikirkan kemungkinan ini?

Tapi kedua Lo bersaudara itu ternyata tidak jeri akan munculnya Kang Piat-ho, malahan mereka sengaja berteriak, “Ayo kawan-kawan, maju terus!”

Kini para centing pemikul joli sudah penuh semangat dan tidak takut-takut lagi, serentak mereka lari secepat terbang.

Setelah menyusuri selapis halaman, di situ sudah siaga belasan orang bersenjata. Tapi begitu suara senjata rahasia mendesing pula, kontan belasan orang di depan roboh terguling lagi.

Seorang berbaju biru di antaranya berteriak jeri, “He, di dalam joli ada pembidik gelap, mundur dulu para kawan!”

Di tengah ramai-ramai itu tampak lima orang melompat keluar, semuanya membawa perisai, salah seorang lantas melemparkan sebuah perisai kepada si baju biru tadi dan berseru, “Robohkan dulu para penggotong joli itu!”

Serentak enam orang lantas menerjang maju. Dari langkah mereka yang enteng dan mantap itu, Siau-hi-ji menduga mereka pasti jago rumah tangga Toan Hap-pui. Kekayaan Toan Hap-pui dapat menandingi negara, dengan sendirinya guru silat yang dia sewa tidak mungkin kaum keroco.

Karena yang diincar adalah mereka, tentu saja para centing pemikul joli menjadi jeri. Tertampak keenam guru silat itu menerjang tiba dengan berlindung di balik perisai masing-masing, sesudah dekat seorang ayun golok terus membacok pemikul joli yang paling depan.

Untunglah pada saat gawat itu seorang telah berseru, “He, tahan dulu!”

Sesosok bayangan lantas melayang keluar dari joli, punggung centing pemikul joli itu ditariknya terus dilemparkan ke belakang joli sana.

Dengan sendirinya bacokan guru silat tadi mengenai tempat kosong, selagi dia melengak, terlihat seorang gemuk dengan muka bulat sudah berdiri di depannya dengan tertawa.

“Masa kalian tidak kenal diriku ini?” demikian si gemuk bertanya dengan tertawa sambil menuding hidung sendiri.

Para guru silat itu sama melenggong dan saling pandang, mereka mengira si gemuk ini mungkin teman sendiri, tapi sebelum mereka mengenalinya, dengan tertawa Lo Kiu sudah menyambung lagi, “Jika kalian tidak kenal diriku, terpaksa aku pun tidak kenal pada kalian!”

Sambil bicara tangannya terus mencengkeram ke depan, “krek”, dengan tepat pergelangan tangan guru silat yang bergolok tadi kena terpegang dan terpuntir patah.

Guru silat itu menjerit ngeri, golok terjatuh ke tanah, orangnya juga roboh kelengar.

Tentu saja kelima kawannya menjadi gusar dan terkejut pula, sebatang tombak, dua pedang dan dua golok serentak menyambar ke tubuh si gemuk alias Lo Kiu.

“Tak tersangka di sini juga ada anak murid Nyo-keh-jiang (tombak keluarga Nyo). Jurus ini tampaknya duga tidak lemah!” kata Lo Kiu dengan tertawa.

Pemain tombak itu memang betul anak murid Nyo-keh-jiang yang terkenal, diam-diam ia terkejut melihat sekali gebrak saja asal usulnya sudah dikenali lawan. Karena itu gerak tombaknya menjadi rada lamban. Di luar dugaan, hanya sedikit merandek itulah tahu-tahu ujung tombaknya sudah terpegang oleh tangan musuh.

Dengan tangan kanan memegang ujung tombak, tubuh Lo Kiu setengah memutar, ia gunakan gagang tombak lawan untuk menangkis pedang yang menyambar tiba dari kanan, berbareng ia menegur penyerang sebelah kiri yang berbaju biru, “Eh, apakah Peng Liam-co, Peng-suhu, baik-baik saja?”

Peng Liam-co yang disebut itu adalah ketua Toan-bun-to yang terkenal permainan goloknya, dan lelaki baju biru ini adalah murid kesayangannya. Ia jadi melengak demi mendengar lawan menyebut nama gurunya, segera ia menjawab, “Apakah kau kenal beliau?”

“Tidak kenal!” kata Lo Kiu dengan tertawa.

Baru habis ucapannya, kontan tangan kirinya menggaplok dada si baju biru sehingga tubuhnya yang besar itu mencelat jauh ke sana.

Pada saat itu juga guru silat yang bertombak itu pun merasakan arus tenaga yang mahakuat membanjir tiba dari gagang tombak, cepat ia hendak melepaskan tombaknya, namun sudah terlambat. “Crat”, gagang tombak menancap masuk dadanya. Ternyata tombaknya sendiri berbalik dijadikan senjata oleh lawan untuk menamatkan jiwanya.

“Sekarang kalian bertiga kenal diriku tidak?” tanya Lo Kiu pula sambil tepuk-tepuk tangannya yang kosong.

Keruan sisa tiga guru silat itu pucat ketakutan, betapa pun mereka tidak berani sembarangan menyerang lagi.

Hanya dalam sekejap saja disertai berseloroh ternyata Lo Kiu dapat membereskan tiga jago silat yang tangguh, betapa tinggi ilmu silatnya rasanya tidak perlu diperbincangkan, hanya mengenai ketajaman pandangannya yang mengenali setiap aliran persilatan serta betapa licinnya waktu bertempur dan betapa kejam caranya turun tangan, semua ini hampir tak pernah dilihat oleh Siau-hi-ji sejak dia meninggalkan Ok-jin-kok. Lo Kiu sekarang dengan Lo Kiu semalam ternyata berbeda seperti langit dan bumi.

Meski sejak semalam Siau-hi-ji sudah menduga orang gemuk ini pasti licik dan licin, tapi tak tersangka akan sedemikian licin dan begini kejam, rasanya tidak kalah dari pada kesepuluh top penjahat yang diketahuinya.

Selagi Siau-hi-ji termenung sejenak, ketika guru silat itu tahu-tahu sudah roboh lagi satu, sisa dua orang menjadi gemetar ketakutan.

“Nah, sekarang kalian berdua tentunya kenal diriku bukan?” tanya Lo Kiu pula dengan tertawa.

Tanpa terasa dua orang itu menjawab dengan suara terputus-putus, “Ya, ken… kenal....”

“Kalian kenal siapa diriku ini?” tanya Lo Kiu pula.

Kedua orang saling pandang dengan bingung, lalu menjawab, “Engkau... engkau....”

“Aku she Lo, namaku Lo Kiu.”

“O, ya, betul engkau ini tuan Lo Kiu.”

“Karena kalian kenal diriku, maka kuharap kalian suka membawaku menemui Toan Hap-pui, Toan-loyacu, sekarang juga!”

“Ini... ini....” kembali kedua orang saling pandang dengan bingung.

“Memangnya urusan sekecil ini saja kalian tidak mau membantu?” tanya Lo Kiu dengan menarik muka.

Kedua orang itu berpikir sejenak, akhirnya mereka menghela napas dan menjawab, “Baiklah, silakan...” belum habis ucapan mereka, tiba-tiba terdengar suara mendesing dua kali, dua titik cahaya menyambar tiba dari belakang dan tepat mengenai punggung mereka, kontan mereka menjerit dan roboh.

Berbareng terdengar seorang tergelak-gelak dan berkata, “Toan-loyacu sudah kuundang keluar, kalian tidak diperlukan lagi!”

Tertampak Lo Sam muncul dengan langkah lebar, tangan kiri menarik Toan Hap-pui, tangan kanan menggandeng Toan-samkohnio.

Rupanya pada waktu Lo Kiu melabrak para guru silat tadi, diam-diam Lo Sam telah menerobos ke ruangan dalam. Meski Toan-samkohnio juga mahir ilmu silat, namun jelas bukan tandingan Lo Sam.

Para centing keluarga Toan ada tiga puluh atau empat puluh orang, dengan gamblang mereka menyaksikan Lo Sam menyeret keluar majikan dan tuan putri mereka, tapi tiada seorang pun yang berani turun tangan lagi.

Kedua Lo bersaudara yang misterius ini ternyata benar dapat menculik Toan Hap-pui dan anak perempuannya dengan mudah sekali, tentu saja Siau-hi-ji merasa heran dan terkesiap pula.

“Kang Piat-ho? Ke mana Kang Piat-ho? Memangnya dia sudah mampus?” demikian Siau-hi-ji tidak habis mengerti karena sejauh itu Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat tidak muncul.

Dilihatnya Toan Hap-pui pucat pasi ketakutan, Lo Sam menyuruhnya berjalan segera ia berjalan, disuruh naik joli, cepat ia masuk ke dalam joli. Samkohnio itu melotot, namun tidak mampu melawan, dengan cengar-cengir Lo Sam mendorong nona gede itu ke dalam joli yang sama dengan ayahnya.

“Nah, kawan-kawan, angkat joli dan berangkatlah!” kata Lo Sam.

“Joli ini tidak kecil, rasanya tidak terlalu sempit diduduki dua orang, hendaklah kawan-kawan bersusah payah sedikit!” sela Lo Kiu dan mereka berdua juga berjubel di dalam joli yang lain.

Sejak tadi kawanan centing keluarga Tio sudah memandang Lo Sam dan Lo Kiu seakan-akan malaikat dewata, betapa pun beratnya joli juga mereka rela menggotongnya, bukan saja tidak menggerundel, bahkan mereka merasa gembira.

Tapi benak Siau-hi-ji mulai bekerja pula. Ia heran mengapa Kang Piat-ho tidak muncul, jangan-jangan tidak berada di dalam. Padahal seharusnya mereka sudah pulang, mengapa tidak kelihatan? Apakah sebelumnya dia sudah tahu bakal tindakan Lo Sam dan Lo Kiu ini dan sengaja menyingkir lebih dulu?

Kalau Kang Piat-ho sengaja membiarkan Toan Hap-pui dan anak perempuannya diculik oleh Lo Sam dan Lo Kiu, maka persoalan akan semakin rumit dan sukar diselesaikan, Thi Bu-siang juga semakin tidak berdaya.

“Tapi dari mana Lo Sam dan Lo Kiu mengetahui Kang Piat-ho tidak berada di tempat Toan Hap-pui ini? Jangan-jangan kedua Lo bersaudara ini diam-diam juga bersekongkol dengan Kang Piat-ho?” demikian pikir Siau-hi-ji.

Diam-diam ia gegetun akan kelihaian Kang Piat-ho, di antara tipu kejinya tersembunyi pula tipu keji yang lain. Di dunia ini selain aku Kang Siau-hi mungkin tiada orang lain yang mampu membongkar tipu muslihatnya ini?

Tengah berpikir itulah, joli yang dipikulnya itu sudah membelok ke jalan yang lain. Tiba-tiba dari depan juga datang sebuah joli, salah seorang penggotongnya adalah si tukang pikul yang pintar bicara dan berkepandaian tinggi mengalahkan Thi Bu-siang itu. Di belakang joli menyusul dua penunggang kuda, yakni Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat.

Kembali Siau-hi-ji terkejut, tiba-tiba timbul akalnya, ia sengaja membentak mendadak, “Hai, lekas menyingkir joli di depan itu! Tahukah kalian siapa yang berada di joli kami ini?” Para centing keluarga Tio sudah kebat-kebit ketika melihat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat muncul di depan, bentakan Siau-hi-ji semakin membikin mereka ketakutan.

Siapa tahu Kang Piat-ho benar-benar menyuruh joli yang dikawalnya itu memberi jalan.

Tanpa sungkan Siau-hi-ji menerjang maju dengan joli yang dipukulnya, ia sengaja menyerempet si tukang pikul lawan itu sambil membisiknya, “Aku kenal kau, apakah kau kenal aku?”

Tapi “tukang pikul” yang lihai itu berlagak seperti tidak mendengarnya, dengan tunduk kepala ia lewat begitu saja. Hanya Kang Piat-ho tampak melototi Siau-hi-ji sekejap ketika kedua pihak bersimpang jalan.

Setelah joli kedua pihak berlalu, para centing keluarga Tio merasa lega.

“Hm, dugaanku ternyata tidak keliru, Kang Piat-ho memang berkomplot dengan kedua orang she Lo ini, makanya ia pura-pura tidak tahu meski jelas mengetahui siapa yang berada di dalam joli ini,” demikian jengek Siau-hi-ji diam-diam.

Dengan tindakan kedua Lo bersaudara ini jelas Thi Bu-siang telah dijebloskan ke jurang yang lebih dalam, kini biar pun jago tua itu bilang dirinya tiada sangkut-paut dengan perampokan harta kiriman Toan Hap-pui juga tiada seorang pun yang mau percaya lagi padanya.

Bahwasanya Toan Hap-pui berhasil ditawan ke Te-leng-ceng, semangat para penghuni perkampungan itu, baik sang majikan mau pun anak buahnya sama terbangkit, semuanya berseri gembira. Rupanya dendam mereka selama bertahun-tahun ini baru sekarang ini terasa terlampias. Meski Tio Hiang-leng merasakan tindakan ini rada-rada kurang enak, tapi terasa puas juga demi nampak musuh besarnya kini telah menjadi tawanannya.

Hanya Siau-hi-ji yang diam-diam menggeleng kepala, pikirnya, “Ya, tertawalah kalian, tertawalah sepuasnya, tapi waktunya kalian menangis juga selekasnya akan tiba....”

Begitulah Toan Hap-pui dan Samkohnio lantas digusur masuk ke ruangan belakang, ayah beranak itu tertawan secara begini saja dan dengan sendirinya tidak terhindar dari siksaan.

Tio Hiang-leng lantas mengadakan pesta besar untuk menghormati kedua Lo bersaudara, ia angkat cawan dan mengucapkan terima kasih kepada bantuan mereka.

“Ah, hanya urusan kecil ini, kenapa mesti dibicarakan lagi,” ujar Lo Sam dengan tertawa. “Cuma – entah bagaimana keputusan Cengcu sekarang?”

“Urusan sudah telanjur begini, yang kuharapkan adalah urusan besar dapat dikecilkan dan urusan kecil dapat dihapuskan,” kata Tio Hiang-leng dengan gegetun. “Nanti kalau Kang Piat-ho datang bolehlah kita menjelaskan duduknya perkara, asalkan ia mau terima keterangan kita dan tidak mengusut lebih lanjut persoalan ini, maka Cayhe bersedia membebaskan Toan Hap-pui.”

“Hm, urusan sudah telanjur begini dan Cengcu masih mengharapkan urusan besar berubah menjadi urusan kecil segala?” tiba-tiba Lo Kiu mendengus.

Tertampak air muka Tio Hoang-leng rada berubah, “Memangnya…memangnya tidak....”

“Urusan sudah kadung begini, kedua pihak sudah jelas bermusuhan, biar pun Cengcu menegaskan tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini juga takkan dipercaya oleh Kang Piat-ho,” jengek Lo Kiu.

“Jika... jika begini kan berarti kalian telah membikin susah diriku?” kata Tio Hiang-leng dengan ketakutan.

“Kami bersaudara telah berusaha dengan mati-matian dan akhirnya cuma mendapatkan hadiah ucapan Tio Cengcu ini?” jengek Lo Sam.

Cepat Tio Hiang-leng minta maaf, “O, apabila ucapanku menyinggung perasaan kalian hendaklah sudi dimaafkan. Soalnya Cayhe benar-benar merasa bingung dan tak tahu bagaimana baiknya, untuk ini diharapkan kalian suka memberi petunjuk lagi.”

Lo Kiu tertawa, katanya, “Kalau tidak dapat berdamai, jalan lain hanya bertempur!”

“Bertempur?!” Tio Hiang-leng menegas.

“Ya, bertempur!” jawab Lo Kiu.

“Tapi... tapi Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat itu teramat lihai, Cayhe tidak... tidak....”

“Meski ilmu silat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat memang lihai, tapi Cengcu juga tidak perlu takut,” kata Lo Kiu dengan tersenyum.

“Tidakkah Cengcu tahu, kalau tidak dapat melawan dengan kekuatan, kalahkan saja dengan akal,” sambung Lo Sam.

“Dengan akal apa?” tanya Tio Hiang-leng.

“Toan Hap-pui dan anak buahnya sudah berada di genggaman kita, untuk ini Kang Piat-ho harus berpikir dua kali sebelum bertindak, andaikan dia datang kemari juga tidak berani sembarangan turun tangan. Maka sekarang juga silakan Cengcu menyembunyikan Toan Hap-pui berdua.”

“Lalu bagaimana?” tanya Tio Hiang-leng.

Lo Kiu memandang para centing, lalu berkata dengan suara tertahan, “Para saudara di Te-leng-ceng sini juga bukan kaum lemah, Cengcu boleh mengadakan perangkap di sekeliling ruangan ini, siapkan busur panah yang kuat dan....”

“Dan bila Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat itu masuk ke sini, biar pun mereka berkepala tiga dan bertangan enam juga sukar keluar dengan hidup,” sambung Lo Sam dengan tersenyum. Agaknya dia tidak pantang apa-apa, suara ucapannya sengaja diperkeras.

Dari jauh Siau-hi-ji dapat mendengar semua itu dengan jelas, diam-diam ia memaki, “Usul kentut macam apa ini? Masa Kang Piat-ho mau terjebak dengan begitu saja? Kalau Tio Hiang-leng menuruti saran ini sama saja dia telah menambahi dosa sendiri, dengan demikian sekali pun Kang Piat-ho membunuhmu juga tiada orang Kangouw yang berani buka suara membelamu lagi.”

Tapi Tio Hiang-leng agaknya tertarik oleh usul itu, ia tanya, “Apakah akal kalian ini dapat dilaksanakan dengan baik?”

“Sudah tentu dapat,” kata Lo Kiu.

Segera pula Lo Sam menyambung, “Setelah akal ini berhasil, maka nama Thian-hiang-tong Te-leng-ceng pasti akan mengguncangkan dunia, tatkala mana jangan-jangan kami akan diusir malah oleh Tio-cengcu.”

“Ah, mana Cayhe berani melupakan kalian berdua....” tanpa terasa Tio Hiang-leng tertawa senang, Tapi mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung pula dengan ragu-ragu, “Cuma... cuma cara demikian, bila mana gagal, bukankah akan....”

“Urusan sudah begini, masa Tio-cengcu masih ada pandangan lain?” kata Lo Kiu dengan ketus.

Tio Hiang-leng merenung sejenak, katanya kemudian dengan menyengir, “Ya, urusan sudah begini, rasanya tiada pilihan lagi, terpaksa kita harus menghadapi mereka sebisanya.”

“Itulah dia, ucapan Tio-cengcu ini barulah sikap ksatria sejati,” ucap Lo Kiu dengan tertawa.

“Baiklah, sekarang kita harus lekas-lekas bersiap, sebab kalau Kang Piat-ho mengetahui Toan Hap-pui dan putrinya diculik, tentu mereka akan segera menyusul kemari,” sambung Lo Sam.

Segera Tio Hiang-leng memerintahkan centingnya menyiapkan barisan panah dan bersembunyi di sekeliling ruangan, apabila cawan arak dibanting, itu tandanya harus turun tangan.

Setelah mengatur perangkap, kemudian Lo Kiu dan Lo Sam minta tuan rumah mengundang keluar pula Thi Bu-siang. Nyata tipu muslihat yang diatur Kang Piat-ho berlangsung dengan sangat lancar, bukan saja Tio Hiang-leng setindak demi setindak melangkah masuk perangkapnya, bahkan Thi Bu-siang juga terseret dan ikut kejeblos. Dengan demikian Kang Piat-ho akan dapat menumpas pengaruh Thi Bu-siang dengan mudah sehingga kekuatan orang-orang Kangouw yang anti Kang Piat-ho juga semakin berkurang.

Begitulah, secara tak jelas Thi Bu-siang telah dijadikan kambing hitam sebagai orang yang merampok harta kiriman Toan Hap-pui itu, kini setiap orang Kangouw malahan tidak ragu-ragu lagi terhadap persoalan ini.

Jaring sudah mulai ditarik dan semakin kencang, ikan tak dapat lolos lagi....

Siau-hi-ji sedang merenungkan semua kejadian ini, ia bergumam sendiri, “Apakah tipu muslihat keji Kang Piat-ho kini benar-benar tiada lubang kelemahannya yang dapat digempur?”

Petangnya, Thi Bu-siang sudah duduk di ruangan tamu yang luas itu, meski tubuhnya duduk tegak, tapi kelihatan lesu, sorot matanya pun kehilangan cahaya seperti biasanya.

Sebaliknya Lo Kiu dan Lo Sam tampak penuh semangat, Tio Hiang-leng juga kelihatan giat mengatur ini dan itu, di sekeliling ruangan sudah bersembunyi puluhan pemanah kuat, di halaman sana juga siap berpuluh kelompok centing yang lain dengan senjata lengkap, Siau-hi-ji juga berbaur di antara mereka.

Suasana semakin mencekam, setiap orang merasa tegang. Tiba-tiba di luar perkampungan ada suara derapan kaki kuda yang ramai, serentak semua orang siap siaga.

Mendadak suara kaki kuda itu berhenti, lalu masuklah tujuh pemuda dengan dandanan ringkas berpedang. Langsung ketujuh pemuda itu masuk ke ruangan tamu dan menyembah di depan Thi Bu-siang.

Kiranya ketujuh pemuda ini adalah jago pilihan di antara kedelapan belas murid kesayangan Thi Bu-siang. Tentu saja jago tua itu merasa terhibur oleh datangnya anak murid ini, malahan Tio Hiang-leng juga kegirangan.

Terbeliak juga mata Siau-hi-ji demi melihat ketujuh anak muda ini, sebab satu di antaranya yang menjadi kepala itu bukan lain dari pada si pemuda baju ungu bermuka pucat yang diam-diam bersekongkol dengan Kang Giok-long itu.

Terdengar pemuda itu berkata dengan sangat hormat, “Tecu datang terlambat, mohon Suhu memberi maaf....”

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Tidak, kau tidak terlambat, kedatanganmu tepat pada waktunya, memang sudah kutunggu kedatanganmu.”

Rasa girang tampak pada wajah Thi Bu-siang, tapi segera timbul pula rasa sedihnya, ia menghela napas panjang dan menjawab, “Meski kalian sudah datang, kurasa juga tiada berguna bagi persoalan ruwet ini…Urusan ini tidak dapat lagi diselesaikan dengan kekerasan, maka sebentar kalian jangan sembarangan turun tangan agar tidak....”

Belum lenyap suaranya tiba-tiba terdengar seorang menjerit kaget.

“Bluk”, tahu-tahu sesosok tubuh melayang masuk dari luar jendela di belakang ruangan tamu dan terbanting di lantai, tubuh itu kaku dan tak bergerak lagi, berpakaian hitam ringkas, busur masih terpegang di tangannya, malahan satu kantong anak panah juga masih tersandang di punggungnya. Jelas dia salah seorang pemanah yang disembunyikan Tio Hiang-leng di sekitar ruangan ini.

Seketika muka Tio Hiang-leng berubah pucat, Thi Bu-siang juga bersuara kaget.

Menyusul terdengar jeritan pula, kembali seorang terlempar masuk…Hanya sekejap saja terdengarlah jerit ngeri berbangkit berulang-ulang, di tengah ruangan sekarang telah bertumpuk belasan tubuh orang, semuanya sudah kaku menjadi mayat.

“He, ba…bagaimana terjadinya?” seru Tio Hiang-leng bingung.

“Ini... ini....” Thi Bu-siang juga kehilangan akal.

“Ini namanya mau untung menjadi buntung akibat perbuatanmu sendiri,” jengek seorang di luar.

Dua bayangan orang lantas melayang masuk, siapa lagi kalau bukan Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat.

“Bluk”, Tio Hiang-leng jatuh terduduk lemas di kursinya dan tidak sanggup berdiri lagi.....

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 06"

Post a Comment