Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 23

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Sekarsari menarik napas dalam.
"Biarlah aku turuti kehendakmu, Raras. Tapi aku akan malu sekali kalau sampai mas Jarot tidak mau menerimaku dan kalau demikian halnya, maka semua ini salahmu, Raras. Percayalah, kalau sampai aku terhina kau akan lihat bahwa Sekarsari bukanlah seorang gadis lemah sebagaimana kau sangka, pembalasanku akan lebih hebat dari segala pembalasan yang kau harapkan!"

Maka mereka berjalan lagi menuju ke pondok Ki Galur. Dari jauh terlihat oleh mereka bahwa Jarot sedang duduk seorang diri di atas bangku bambu diluar rumah, duduk termenung sambil menopang dagu.

“Kebetulan dia duduk seorang diri, mungkin sedang memikirkan kau, Sari. Pergilah kau menemuinya, aku hendak bersembunyi!" kata Maduraras.

Sekarsari merasakan betapa dadanya berdebar keras. Ketika ia melangkah maju, ia merasa kedua kakinya gemetar. Jarot agaknya tak tahu akan kedatangannya dan pemuda itu tetap duduk tak bergerak bagaikan patung batu.

"Mas Jarot...!" bibir Sekarsari menggigil ketika menyerukan panggilan ini.

Jarot tersentak kaget lalu menengok. Matanya terbelalak heran, lalu dengan kedua tangannya ia kucek matanya karena ia tak percaya bahwa yang berdiri di hadapannya itu benar-benar Sekarsari. Kemudian ia berdiri dan sambil membungkuk hormat ia berkata,

"Oh, Den-roro Susilawati! Mengapa paduka datang pada waktu begini?"

Pertanyaan ini diucapkan dengan suara yang sangat menghormat hingga Sekarsari meramkan mata karena kata-kata itu bagaikan keris karatan menusuk hatinya, lebih-lebih sebutan Den-roro itu! Ketika ia membuka kembali matanya, pandangan matanya menjadi suram karena mata itu penuh dengan air mata.

"Mas Jarot.... jangan sebut aku seperti itu…aku.... aku tetap Sekarsari, mas...."

Jarot tersenyum pahit.
"Hamba tidak berani berlaku kurang ajar. Paduka adalah sekar-kedaton dan puteri Gusti Sultan. Sedangkan hamba.... hamba... hanya seorang gunung."

"Mas Jarot, mengapa kau begitu kejam? Kau menyakiti hatiku….."

"Hamba hanya berkata sebenarnya."

"Mas, kudengar kau hendak pergi? Pergi meninggalkan Mataram, meninggalkan aku?"

Dari tadi Sekarsari menahan-nahan air mata yang hendak turun, kini titik-titik air mata itu tak dapat tertahan lagi, menuruni kedua pipinya yang halus.

Jarot menelan ludah melihat gadis pujaan hatinya itu menangis di hadapannya tapi ia menahan perasaan hatinya sedapat mungkin.

"Ya, hamba hendak pulang ke gunung tempat asal hamba."

"Mas Jarot, jangan kau pergi, mas. Jangan kau tinggalkan Sekarsari..... aku....”

Jarot tak dapat menahan gelora hatinya lebih lama lagi. Ia maju selangkah dan berkata terharu,

"Sari.... benarkah kata-katamu ini? Benarkah kau masih tetap Sekarsari bagiku? Benarkah kau menghendaki agar aku tidak pergi meninggalkanmu?"

"Benar, mas,.... aku.... takkan bahagia jika kau pergi, mas..."

Jarot maju dan memegang tangan Sekarsari.
"Sari, bilanglah terus terang. Cintakah kau padaku, Sari?"

Sekarsari menundukkan muka dengan wajah merah.
"Mas, belum pernah aku mencinta orang seperti aku mencintamu; Aku.... aku terima pinangan pangeran karena kukira.., karena...."

Jarot menggunakan telunjuknya menyentuh bibir Sekarsari.
"Diam, Sari. Aku sudah tahu semua itu. Tak perlu kau ulangi lagi."

Untuk sejenak mereka diam, kemudian Sekarsari berkata,
"Mas Jarot, berjanjilah bahwa kau takkan pergi meninggalkan aku."

Jarot menghela napas.
"Menyesal sekali hal ini tak dapat kubatalkan, Sari. Aku telah mengajukan permohonan kepada Gusti Sultan untuk pergi dan telah mendapat perkenan. Pula, untuk apa aku tinggal terus di Mataram dan menyiksa hatiku dengan melihat kau sebagai puteri sekar-kedaton dan aku seorang kawula biasa?"

Sekarsari melepaskan diri dari pelukan Jarot.
"Tapi, bukankah kita saling mencinta, mas? Aku akan minta kepada kanjeng rama untuk menahanmu, di kota raja. Apa salahnya kalau aku menjadi sekar-kedaton, mas?"

Jarot tersenyum pahit.
"Lupakah kau bahwa diantara kita ada dinding tebal dan tinggi yang menghalang, Sari? Sebagai rakyat biasa, tak mungkin aku dapat mendekatimu, dan hal ini hanya akan merupakan derita dan siksa bagiku. Lebih baik aku pergi, Sari, pergi dari sini dan tidak mengganggu penghidupanmu yang mulai menanjak tinggi. Kau lupakanlah saja Jarot orang gunung yang miskin itu."

"Tidak, mas, tidak! Kalau kau tetap hendak pergi, aku akan ikut, mas. Bawalah aku serta ke gunungmu!"

Jarot menggeleng-geleng kepala.
"Tak mungkin, Sari."

Tiba-tiba dari dalam gelap meloncat bayangan seorang wanita dan wanita itu berkata keras,

“Mengapa tidak mungkin?"

Jarot heran dan terkejut melihat Maduraras.

"Mengapa tidak mungkin?" sekali lagi Maduraras mengulangi pertanyaannya. "Mas Jarot, mengapa kau demikian pengecut? Sekarsari telah menyatakan cinta sucinya kepadamu, bahkan ia bersedia mengikutimu kemana saja kau pergi. Mengapa kau tidak mau membawanya? Takutkah kau? Demikian tipiskah rasa cintamu kepada Sekarsari?"

Jarot terbelalak heran. Serasa mimpilah ia mendengar kata-kata Maduraras ini. Mulai mengertilah ia mengapa Sekarsari dapat keluar dari keraton pada tengah malam itu. Tak tahunya semua ini adalah Maduraras yang mendalangi di belakang! Tapi, mengapa Maduraras membela mati-matian kepada Sekarsari? Inilah yang membuat ia tak mengerti sedikitpun.

"Kau, Maduraras? Kau datang bersama Sekarsari?"

"Ya, aku yang meminta Sekarsari menemuimu. Karena aku tahu bahwa kau hanya mencinta Sekarsari dan bahwa Sekarsari hanya mencinta padamu seorang! Aku telah berbuat salah, aku telah berbuat dosa. Kini bersihkanlah dosaku itu dan bawalah Sekarsari untuk menjadi isterimu!"

Jarot mengangguk-angguk kagum.
"Jadi kau.... kau menculik Sekarsari dari dalam keraton? Kau lakukan itu hanya untuk mempertemukan kembali Sari dengan aku?"

"Ya, dan sudahlah jangan banyak rewel lagi, kau bawalah Sekarsari pergi ke tempat asalmu dan hiduplah beruntung dengan dia disana. Tentang keributan disini, biarlah aku yang menanggung. Akan kuakui bahwa aku yang melarikan Sekarsari.”

"Dan kalau mereka menanyakan dimana aku berada?" Sekarsari bertanya heran.

Bibir Maduraras yang manis tersenyum mengejek.
"Apa susahnya? Aku bisa bilang bahwa aku telah membunuhmu, telah membuang mayatmu di bengawan! Apa sukarnya? Mereka takkan menyangka bahwa kau ikut pergi dengan mas Jarot!"

"Tapi Raras! Mereka akan menghukummu! Mereka akan membunuhmu untuk itu!"

Maduraras tersenyum, kini senyum getir.
"Apa salahnya? Aku.... aku hidup sebatangkara, biar aku dihukum mati sekalipun, takkan ada orang yang menangisiku, takkan ada orang yang kehilangan, bahkan ..... bahkan aku akan lebih cepat berjumpa dengan ibu dan mas Bahar...." tiba-tiba di bawah mata gadis pemberani itu tampak air mata menitik turun.

"Raras..... Raras...!" tiba-tiba Sekarsari menubruk dan memeluknya dengan mesra. Kedua orang gadis itu berpelukan dan lenyaplah segala ganjalan hati.

"Lihatlah, mas Jarot. Tidak kasihankah kau kepadanya? Kalau kau meninggalkan dia, ah..... aku tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Bawalah dia serta, mas Jarot....." Maduraras berkata dengan suara penuh permohonan.

Jarot menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
"Raras, Sari, dengarlah baik-baik. Aku sangat beruntung mendengar pernyataan Sari tentang kasihnya kepadaku, dan aku sangat terharu dan berterima kasih atas pembelaanmu yang mulia, Raras. Tapi, untuk membawa lari Sekarsari, ah, ini tak mungkin kulakukan. Pertama kau akan terhukum dan tertimpa bencana karenanya. Kedua, Gusti Ayu Bratadewi akan sangat kehilangan dan hatinya akan hancur jika Sekarsari lenyap. Ketiga, aku tak dapat melakukan hal ini karena perbuatan melarikan Sekarsari ini sangat rendah dan tidak menaruh hormat kepada Gusti Sultan, Padahal Gusti Sultan sangat kupandang tinggi dan kuhormati karena kebijaksanaannya. tidak, tidak! Aku tak sampai hati melukai perasaan dan menyinggung kehormatannya."

"Kalau begitu pendapatmu, bagaimana baiknya, mas? Lebih baik kau jangan pergi dan kau kawin dengan Sekarsari disini," kata Maduraras.

Jarot mengerutkan keningnya.
"Kawin? Mudah saja kau bicara. Kau tahu siapa Sekarsari dan siapa aku! Kalau saja Sekarsari bukan sekar-kedaton dan aku bukan orang gunung!"

"Biar aku akan membantu mengusahakan dan kalau perlu, Sari bisa membujuk ibunya atau ramanya sekalipun!" Maduraras mendesak.

"Tak mungkin demikian, Raras."

Kedua gadis itu menjadi gelisah dan putus asa, mereka tak tahu harus berbuat dan berkata apa, maka hanya isak mereka saja yang terdengar.

"Sudahlah, jangan kalian menangis dan bersedih. Percayalah, Sari, kalau memang Dewa menghendaki dan kalau memang kita berjodoh, pasti kelak kita bertemu kembali. Sekarang kalian kembalilah, jangan sampai di dalam keraton kehilangan kau, Sari. Jangan kau gelisah, Sari, aku bersumpah bahwa selama hidup aku takkan kawin dengan orang lain dan bahwa aku takkan melupakan kau, Raras. Ketahuilah, aku besok berangkat pulang ke tempat asalku, ialah di desa Wangkai, di Tengger utara. Disana pasti aku dapat ditemukan. Nah, selamat berpisah sampai jumpa kembali, Sekarang kalian kembalilah!"

Karena malam telah hampir berganti fajar, terpaksa Sari dan Maduraras kembali, setelah memandang kepada Jarot dengan sayu. Jarot mengikuti kedua gadis yang berjalan dengan lemah itu dengan pandangan matanya. Hatinya bagaikan disayat pisau ketika terdengar betapa kedua orang gadis itu berjalan sambil menangis.

Pada malam hari itu tidak hanya terjadi hal-hal ganjil seperti yang telah diceritakan di atas, tapi ada pula terjadi hal-hal lain yang tak kurang ganjilnya. Di dalam kesunyian malam, tampak bayangan seorang laki-laki berjalan dengan hati-hati dan dengan gerakan-gerakan bagaikan seorang pencuri, memasuki kamar pusaka dimana tersimpan kumpulan senjata dan pusaka Sri Sultan.

Bayangan itu ternyata adalah Pangeran Amangkurat. Pangeran itu mengeluarkan sebilah keris yang dicabutnya dari sarung keris, kemudian ia menurunkan keris pusaka Margapati dari tempatnya dan mencabut keris pusaka itu. Ternyata keris pusaka itu bentuk dan warnanya sama benar dengan keris yang dibawanya tadi. Dengan cepat ia menukar kedua keris itu, keris pusaka Margapati ia masukkan ke dalam sarung kerisnya sendiri yang terselip di pinggang, sedangkan keris yang lain ia masukkan ke dalam sarung Margapati! Setelah melakukan hal yang ganjil itu, Pangeran Amangkurat segera meninggalkan kamar itu dengan senyum iblis menghias di mulutnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, delapan orang penunggang kuda datang mengunjungi pondok Jarot. Mereka itu bukan lain ialah Senopati Ki Ageng Baurekso, Tumenggung Suro Agul Agul, Adipati Mandurorejo, Adipati Uposonto, dan beberapa panglima lain.

Mereka datang untuk menghaturkan selamat jalan kepada Jarot, pahlawan muda yang telah bertempur membela Mataram dan yang telah berjuang bahu¬-membahu dengan mereka. Hampir semua panglima Mataram merasa suka kepada Jarot. Selain hendak memberi selamat jalan, juga Ki Ageng Baurekso sengaja diutus oleh Sultan Agung untuk mengantarkan keris pusaka Margapati kepada Jarot.

Kemudian Jarot menaiki kudanya, Nagapertala, dan setelah sekali lagi menyatakan terima kasihnya kepada mereka yang datang mengantar, ia membedal kudanya menuju ke timur.

Keris pusaka Margapati terselip di pinggangnya. Berbeda dengan ketika datang, kali ini Jarot pergi dengan berkuda dan berpakaian gagah. Juga di dalam dadanya telah terjadi perubahan hebat. Kalau dulu ketika datang ia merupakan seorang pemuda yang jenaka dan bahagia, adalah sekarang ia pulang membawa hati yang luka.

0 Response to "Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 23"

Post a Comment