Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 17

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Bahar mencabut kerisnya.
"Raras, lihat ini, masih ingatkah kau pusaka ini?”

"Kau bawa-bawa pusaka ibu mau apa?"

"Ketika akan menutup mata, ibu meninggalkan pusaka ini untuk kita. Ingatkah kau akan pesan beliau? Bahwa kita harus saling bantu, saling bela. Sekarang kau tidak mau membantuku, Raras. Inginkah kau melihat aku mati di ujung pusaka ini?"

"Mas Bahar..... kau kejam, mas. Mintalah yang lain, suruhlah aku menyerbu api menyelami samudra, akan kujalani dengan patuh. Tapi jangan..,., jangan minta aku membunuh kangmas Jarot.,..." ratap tangis Maduraras.

"Jahanam! Perempuan tak kenal budi......!" Dengan wajah beringas Bahar maju dengan keris di tangan.

Melihat sikap kakaknya, Maduraras tidak gentar bahkan ia maju setindak mengangkat dadanya.

"Kau mau membunuh aku? Bunuhlah, mas. Aku rela mati di tangan kakak sendiri. Ini, tusuklah dadaku..., biar aku menyusul ibu....."

Melihat sikap Maduraras dan mendengar kata¬-katanya, lemaslah tangan Bahar. Kemudian dengan suara menyeramkan ia berkata,

"Baiklah, aku tak sampai hati membunuhmu, tapi aku takkan sudah sebelum Jarot mampus dan Sekarsari menjadi isteriku."

Sampai pada saat itu Jarot tak dapat menahan lagi kemarahannya. Dengan sekali loncat ia telah berdiri di depan Bahar sambil bertolak pinggang.

"Pengecut! Macam inikah watak seorang satria? Bahar, alangkah rendahnya budimu. Kau tidak malu menaruh dendam padaku, padahal permusuhan kita kau sendirilah yang membuatnya. Dalam dendam kesumatmu yang buta dan sesat ini kau bahkan menyeret-nyeret adikmu sendiri yang suci hingga membuatnya menjadi gadis penipu dan pemikat yang rendah!"

Terdengar jerit Maduraras disusul tangis mendengar kata-kata yang menusuk kalbunya ini.

"Jarot, jangan kau banyak tingkah!"

Bahar berseru marah lalu ia bertepuk tangan tiga kali. Dari belakang batang-batang pohon muncullah empat orang tinggi besar, kaki tangan Bahar! Tanpa banyak cakap mereka berlima menyerang Jarot dengan ruyung dan keris.

"Mas Bahar..... jangan, mas......" teriak Maduraras sambil maju menubruk kakaknya untuk menghalangi, tapi sekali dupak saja robohlah gadis itu. Jarot menjadi marah sekali.

"Kalian mencari mampus?" bentaknya dan dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan kecepatan tangan kakinya ia melayani lima orang lawan yang bersenjata itu dengan tangan kosong!

Biarpun Bahar dulu pernah merasai kekerasan tangan Jarot, namun kini ia tidak takut karena ia dibantu oleh empat orang yang terkenal cabang atas dan ahli-ahli silat kelas satu. Sambil mengirim serangan ia berseru,

"Pukul mati keparat ini. Habisi dia!"

Tapi Jarot tak gentar sedikitpun. Tubuhnya bergerak cepat hingga seakan-akan ia terpecah menjadi lima dan dapat melayani masing-masing lawannya. Kelima lawan itu berkunang-kunang melihat kecepatan Jarot dan seorang diantara mereka menjadi gentar dan menyangka pemuda itu menggunakan ilmu iblis. Hal ini membuat gerakannya menjadi lambat dan sapuan kaki kiri Jarot membuat sambungan lututnya terlepas dan ia jatuh terduduk dengan meringis-ringis dan mengurut-urut dengkulnya yang tiba-tiba menjadi lumpuh!

Ketika seorang lawan lain dari kanan mengayun ruyung ke arah kepala Jarot, pemuda ini dengan sigapnya berkelit ke kiri dan dengan jari tangan terbuka ia menyodok lambung lawan itu. Orang tinggi besar itu berteriak kesakitan, ruyungnya terlepas dan ia menggunakan kedua tangan menekan-nekan perutnya karena sodokan jari tangan Jarot tadi membuat perutnya tiba-tiba menjadi mulas dan sakit sekali. Sambil mengerang dan merintih ia mundur, duduk di bawah sebatang pohon sambil memegang-¬megang dan menekan-nekan perutnya!

Jarot tidak mau berlaku kejam kepada empat jagoan itu, karena ia maklum bahwa mereka ini hanya diperalat oleh Bahar. Kepada Bahar seoranglah kebenciannya meluap. Maka dengan beruntun ia robohkan dua pembantu Bahar yang lain dengan hanya memberi hadiah tendangan dan pukulan yang tidak membahayakan jiwa mereka tapi yang cukup membuat mereka rebah tak kuasa bangun lagi. Maka tinggal Bahar seoranglah yang masih berlaku nekat.

"Jarot, kalau bukan kau, tentu akulah yang hari ini menjadi mayat!" geramnya sambil maju menyerang dengan nekat.

"Kau yahg mulai, bukan aku!" jawab Jarot sambil berkelit dengan mudahnya.

Dengan keris pusaka ibunya Bahar menyerang bertubi-tubi, tapi sambil tersenyum mengejek Jarot mempermainkannya dengan berloncatan kesana kemari, kadang-kadang tangannya menowel pundak, menjiwir telinga dan menjambak rambut. Tentu saja dipermainkan demikian Bahar makin marah dan nekat. Dadanya terasa panas dan matanya gelap.

"Mas Jarot, ampunkan padanya, mas..." tiba-tiba terdengar suara Maduraras memohon.

Sambil berkelit Jarot berkata kepada Bahar,
"Kau masih tidak kapok? Hentikan seranganmu dan aku ampunkan padamu. Kalau bukan aku kasihan kepada Maduraras, tidak nanti aku sudi ampunkan jiwamu yang rendah."

Pada saat itu terdengar isak tertahan di balik batang pohon kelapa dan sesosok bayangan seorang gadis lari menyelinap ke dalam gelap. Dia ini bukan lain ialah Sekarsari! Gadis ini yang gelisah dan tak dapat tidur, keluar dari biliknya dan dengan pikiran ruwet ia menuju ke bengawan. Melihat Jarot sedang berkelahi dikeroyok dan ada beberapa orang lawan Jarot rebah merintih-¬rintih, ia terkejut sekali. Tapi tiba-tiba terlihatlah olehnya Maduraras menangis, maka diam-diam ia bersembunyi.

Ketika ia melihat bahwa yang memimpin pengeroyokan itu bukan lain ialah Bahar, maka mengertilah ia. Tentu Maduraras diganggu oleh Bahar dan Jarot datang menolong! Atau, pikirnya dengan hati panas, mungkin Jarot dan Maduraras sedang membuat pertemuan disitu dan diganggu oleh Bahar! Kini ia melihat betapa Jarot dengan mudahnya mengampuni Bahar hanya karena diminta oleh Maduraras. Sekarsari tak dapat menahan panas hatinya lebih lama lagi dan sambil menahan isak tangisnya, ia lari meninggalkan tempat itu!

Bahar mendengar kata-kata Jarot bukannya menghentikan serangannya, bahkan ia mundur beberapa tindak dengan napas terengah-engah dan mata terbelalak marah. Kemudian, sambil mengeluarkan geraman hebat, ia ayun keris pusaka ke arah Jarot! Serangan ini berbahaya sekali karena Bahar memang mahir melempar keris. Keris pusaka itu dengan lajunya bagaikan anak panah menyambar leher Jarot.

Jarot maklum betapa berbahaya serangan gelap ini karena cuaca yang gelap tak memungkinkan ia melihat datangnya keris dengan jelas. Baiknya telinga Jarot sudah terlatih hebat hingga ia dapat menangkap suara angin yang terbawa keris itu. Karena sudah tiada waktu untuk berkelit pula, ia menggunakan jari tangan kanannya menyampok ke arah keris.

Keris pusaka itu terpental sedemikian rupa hingga senjata itu membuat gerakan membalik dan langsung melayang ke arah Bahar. Terdengar teriakan ngeri ketika keris itu menancap dada Bahar yang roboh berkelojotan dan menghembuskan napas terakhir setelah beberapa kali menyebut ibunya! Karena kelalimannya, pusaka mendiang ibunya telah menghabisi riwayatnya dengan tak terduga dan tak disengaja.

Melihat kejadian ini Maduraras menyerbu tubuh kakaknya dan sambil menangis dan menjerit-jerit ia peluki tubuh itu. Dan Jarot berdiri kesima dan lesu. Ia menyesal sekali hingga ia hanya dapat memandang gadis yang menangis sedih itu tanpa dapat bergerak maupun berkata-kata.

Karena sedih dan putus asa, Maduraras jatuh pingsan di samping mayat kakaknya. Dan pada saat itu, jatuhlah air hujan menimpa dan membasahi segala apa di permukaan bumi. Kilat menyambar-nyambar, guntur menggelegar, dan udara penuh dengan gema hiruk-pikuk menyeramkan, seakan-¬akan semua iblis, demit, dan setan bekasakan keluar dari tempat persembunyian masing-masing pada saat itu, siap untuk mencari korban.

Jarot masih berdiri bagaikan patung. Kemudian ia mengambil keputusan untuk membawa mayat Bahar dan mengantarkan Maduraras ke tumenggungan, tempat tinggal Tumenggung Suryawidura, yang ia kini tahu, adalah ayah Maduraras! Tapi, pada saat kakinya bergerak maju, tiba-tiba dari belakangnya datang berloncatan tiga orang yang memegang tombak.

"Hordah! Berhenti kamu. Siapa disitu?" tiga orang membentak berbareng dan tiga batang tombak dipalangkan mencegat majunya Jarot!

Jarot menggunakan kedua tangan menolak tombak itu, tapi alangkah terkejutnya ketika tiga tombak itu tidak terpental karena pemegang-pemegangnya ternyata bertenaga besar sekali. Semua urat dalam tubuh Jarot menegang dalam persiapan, karena ia maklum bahwa kali ini ia harus menghadapi lawan-lawan yang tak mudah dikalahkan! Secepat kilat ia loncat berbalik menghadapi ketiga pemegang tombak itu dan ia saling pandang dengan Adipati Uposonto dan dua orang pahlawan keraton lain!

"Dimas Jarot!" Uposonto berseru tercengang. "Kau sedang apa disini?"

Kemudian diantara menyambarnya kilat, tampak oleh adipati itu tubuh Bahar membujur kaku dan tubuh Maduraras yang rebah tak bergerak di dekatnya.

"Eh, mereka siapa dan kenapa?" tanya Uposonto kepada Jarot.

"Kangmas Uposonto, sekarang bukan waktunya bicara, bantulah aku mengangkat mereka. Mereka adalah Denmas Bahar dan adiknya."

Tanpa banyak cakap lagi Uposonto dan dua orang kawannya mengangkat dua tubuh itu dan menaruh mereka di atas kuda.

"Dimas Jarot. Kami datang sengaja mencarimu atas perintah paman senapati Baurekso. Kami disuruh memberitahumu, bahwa bala tentara Mataram hendak mulai dengan penjelajahannya, pertama-tama ke Wirasaba. Kau tidak diharuskan, tapi kami akan merasa girang sekali kalau kau suka ikut."

Mendengar hal ini Jarot merasa girang sekali.
"Tentu saja, kangmas Uposonto, aku akan ikut. Nah, tolonglah kau antar mereka ini pulang ke tumenggungan lebih dulu, aku hendak mengadakan persiapan. Bila kita berangkat?"

"Besok pagi-pagi pada saat fajar menyingsing."

"Baik."

"Tapi, dimas Jarot, bagaimana kalau nanti paman tumenggung bertanya tentang mereka ini? Apakah sebenarnya yang telah terjadi?"

"Kematian denmas Bahar ini karena berkelahi dengan aku. Lihatlah, kerisnya sendiri masih tertancap di dadanya. Ia sambitkan keris itu padaku, karena gelap, terpaksa aku menyampoknya dan dengan tak kusengaja keris itu tersampok kembali dan menancap di dadanya. Adapun Madu..... eh, adiknya ini, kukira ia hanya pingsan karena sedih dan kaget."

Uposonto mengangguk maklum.
"Persoalan dapat diurus kemudian, kini yang perlu harus mengantar mereka ini ke tumenggungan. Mari kita berpisah, dimas Jarot."

Kemudian, ketiga pahlawan keraton itu membawa kedua tubuh itu sambil melarikan kuda mereka. melawan serangan angin dan hujan. Sedangkan Jarot dengan cepat berlari pulang.

Dengan cepat ia menengok kudanya di kandang sebentar, lalu bertukar pakaian kering. Ketika ia memasuki biliknya, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis tertahan dari kamar Sekarsari. Ia merasa heran sekali mengapa Sekarsari menangis pada saat lewat tengah malam. Mimpikah gadis itu? Tapi ia tak berani mengganggu. Ia lalu duduk bersamadhi. Besok ia akan pergi berjuang membela Mataram. Ia akan meninggalkan Sekarsari.

Tapi, kepergiannya ini ada baiknya, karena pertama ia akan dapat bertempur melawan musuh, kedua ia akan menjauhkan diri dari segala hal yang tak menyedapkan hati, seperti urusannya dengan Bahar, dengan Maduraras, dan dengan Sekarsari yang kini agaknya berobah sikap terhadapnya! Biarlah ia meninggalkan kota raja untuk beberapa lama dan mudah-mudahan saja sekembalinya nanti keadaan akan menjadi lebih baik.

Sementara itu Adipati Uposonto telah tiba di tumenggungan dan menggedor pintu gerbang. Penjaga muncul dengan marah, tapi ketika melihat siapa orangnya yang menggedor pintu, ia berlaku sangat hormat dan menanyakan maksud kedatangan Adipati Uposonto yang dijawab dengan singkat dengan perintah agar pintu dibuka dan Tumenggung Suryawidura diberi tahu akan kedatangannya.

Penjaga itu merasa ragu-ragu dan takut untuk membangunkan tumenggung pada saat seperti itu, tapi ketika ia melihat tubuh Raden Mas Bahar terkulai di atas punggung kuda, ia terkejut sekali dan, setelah membuka pintu gerbang, ia berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak!
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 17"

Post a Comment

close