Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 15

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Tentu saja sikap ini membuat Jarot merasa bingung dan likat, sedangkah diam-diam Sekarsari merasa sakit hati. Jarot dapat pula meraba dan memaklumi perasaan yang terkandung dalam dada Sekarsari, maka sedapat mungkin ia berusaha menjauhkan diri dari Maduraras yang seakan-akan mengejar-ngejarnya itu.

Beberapa hari kemudian, Jarot berjalan perlahan sambil tuntun kendali Nagapertala. Telah beberapa hari kudanya itu gelisah saja, meringkik-ringkik dalam kandang dan tak suka makan. Sekarsari sengaja mencari rumput hijau yang gemuk segar dari seberang bengawan, namun tetap Nagapertala hanya mencium-¬ciumnya saja tapi tak mau memakannya.

"Barangkali dia sakit, mas!" kata Sekarsari cemas.

Tapi Jarot tidak melihat tanda-tanda sakit pada tubuh kuda itu.
"Mungkin dia kesal karena terlalu menganggur di kandang saja. Biarlah besok akan kucoba dia berlari."

Benar saja, ketika Jarot meloncat ke atas punggungnya, kuda itu meringkik gembira dan lari ke depan dengan liarnya. Jarot belokkan kuda itu ke arah hutan dan Nagapertala dengan cepat sekali lari sekuat tenaga. Keempat kakinya seakan-akan tak menginjak tanah dan bulu surinya berkibar tertiup angin. Kegembiraan Nagapertala itu mempengaruhi Jarot hingga iapun menjadi gembira dan lupa pulang.

Demikianlah, Jarot dan Nagapertala berlomba melawan angin. Setelah cuaca mulai gelap, barulah mereka menuju pulang. Kini berubahlah watak kuda itu, tidak gelisah dan lesu lagi. Ketika mereka sudah mendekati kampung, Jarot membiarkan Nagapertala berjalan congklang. Tiba-tiba kuda itu menahan kaki depannya dan mengeluarkan ringkik perlahan.

Jarot memperhatikan keadaan sekitarnya dan tampaklah olehnya bayangan seorang wanita duduk di atas gelengan sawah sambil menutupi mukanya dengan tangan, menangis. Alangkah herannya ketika la melihat bahwa wanita itu bukan lain ialah Maduraras! Ia cepat turun dari punggung Nagapertala dan menghampiri gadis itu, membiarkan Nagapertala terlepas dan makan rumput di pinggir sawah. .

"Maduraras, mengapa kau berada seorang diri dan menangis disini?"

Maduraras tampak terkejut mendengar suara ini. Ketika ia angkat muka memandang dan melihat bahwa yang bertanya itu adalah Jarot, ia tutup mukanya lagi dan tangisnya makin menjadi.

Jarot ikut duduk di atas gelengan.
"Maduraras, kau kenapakah? Siapa yang telah mengganggumu?"

Maduraras hanya geleng-geleng kepala, tapi tak menjawab.

"Bilanglah terus terang. Kenapa kau menangis?" Jarot mendesak.

"Aku..... aku..... ah, biarlah, memang nasibku yang malang....."

“Apa maksudmu? Hayo kita pulang saja, mbok rondo tentu mencarimu.”

"Aku tidak mau kembali, aku...... aku malu.,,."

Jarot makin penasaran dan ingin tahu.
"Kau mengapakah? Apa yang telah terjadi?”

Tiba-tiba Maduraras angkat mukanya yang cantik dan pandang wajah Jarot dengan mesra.

"Kangmas Jarot.... kau.... kau kasihankah padaku?"

Jarot mengangguk.
"Kau tahu betapa aku kasihan padamu."

"Dan.... dan kau.... cintakah kau padaku?"

Pertanyaan ini membuat Jarot merasa mukanya panas dingin. Ia tak berani bergerak untuk beberapa lama, pikirannya bingung. Kemudian ia tetapkan hatinya dan menjawab juga.

"Jangan kau tanyakan tentang cinta, Maduraras. Aku.... kasihan dan suka padamu, tapi tentang cinta..... ah, aku tak dapat mencintaimu, Maduraras."

Maduraras palingkan muka seakan-akan hindarkan sebuah pukulan.
"Kalau begitu... dia berkata benar...."

"Dia siapa?"

"Sekarsari..... dia..... pagi tadi telah cekcok dengan aku.....”

“Apa yang kalian ributkan?"

"Tentang..... tentang kau!"

Jarot merasa mukanya panas.
"Apa? Tentang aku?"

"Kami bertemu di bengawan dan,... Sulastri menyindir dan menggodaku tentang hubunganku dengan kau.... dan mengatakan bahwa.... kau dan aku saling mencinta. Sekarsari yang mendengar godaan Sulastri itu hanya tampak marah tapi diam saja. Aku coba menghiburnya dengan berkata bahwa Sulastri menyangka salah, bahwa sebenarnya Sekarsarilah yang menjadi sasaran godaan itu. Tapi Sekarsari bahkan menjadi marah. Ia berkata persetan dengan engkau dan ia tidak perduli sedikitpun juga dengan siapa kau bercinta dan ia katakan aku..... aku memikatmu, ia katakan aku tak bermalu, katanya aku gadis terlantar tak tahu diri, ia tuduh aku datang membuat kacau dan susah orang lain saja Aku menjadi marah dan..... dan hampir berkelahi...."

Jarot bangung dan berdiri diam bagaikan patung. Ia bingung dan menyesal. Mengapa Sekarsari sebodoh itu? Tidak percayakah gadis itu padanya? Maka teringatlah olehnya bahwa selama itu belum pernah ia menyatakan cintanya kepada Sekarsari! Tiba-tiba sentuhan tangan halus pada lengannya menyadarkannya.

"Mas Jarot. benar-benarkan kau begitu kejam? Benarkah kau tidak mau terima persembahan hatiku? Mas.... aku akan cukup berbahagia untuk menjadi.... selirmu. Kau kawinlah dengan Sekarsari kalau itu yang kau kehendaki. Aku.... aku.... asalkan aku boleh ikut padamu, mas. Biar aku menjadi pelayan Sekarsaripun akan kujalani, asal kau mau membalas kasihku..,."

Jarot berkata lirih penuh haru,
"Maduraras, kau adalah seorang gadis yang cantik jelita. Banyaklah kiranya satria gagah dan tampan yang akan berbahagia untuk menyunting bunga seindah kau ini. Jangan kau curahkan perhatianmu padaku. Aku.... aku miskin tak berharga, dan.... terus terang saja aku hanya bisa mencinta seorang gadis di dunia ini, Maduraras."

"Sekarsari?"

Jarot mengangguk dan tiba-tiba Maduraras lepaskan pegangannya pada lengan Jarot seakan-akan lengan itu panas membara.

"Kau... kau kejam? Kalau begitu, mengapa kau tolong aku dulu? Untuk apa aku tinggal disini menerima hinaan? Biarlah, biarlah aku pergi saja!"

Lalu dengan tak tersangka-sangka, gadis jelita itu dengan sigap dan cekatan meloncat ke atas punggung Nagapertala! Jarot berdiri terkesima melihat gerakan terlatih itu, sungguh tak disangka bahwa gadis itu demikian gesit. Maduraras dengan gemas dan marah menarik kendali dengan sentakan keras hingga Nagapertala yang merasa asing dengan perlakuan kasar ini timbul sifat liarnya. Ia angkat kedua kaki depan, meringkik-ringkik dan menggoyang-goyangkan punggungnya hingga tak mungkin bagi gadis itu untuk bertahan lebih lama!

Maduraras terlempar dari punggung kuda itu dan menjerit. Untung baginya, Jarot berlaku cepat dan dapat menyambar tubuh yang terlempar itu, tapi tidak urung kaki gadis itu masih membentur batu hingga berdarah.

"Sabar, Maduraras. Engkau hendak kemana?"

"Biarkan aku pergi! Biarkan aku pergi!!"' gadis itu menjerit-jerit dan meronta-ronta,

Jarot lepaskan tangannya dan Maduraras lari pergi! Tapi baru saja maju beberapa tindak, ia mengaduh dan roboh terguling. Jarot cepat memburu.

"Kenapa, Maduraras.... kau kenapa?"

"Aduh..... kakiku....." gadis itu merintih.

Jarot merasa betapa akan sia-sianya berunding dengan gadis yang sedang nekat dan panas hati itu. maka tanpa banyak cakap lagi ia pondong tubuh itu dan naikkan ke atas punggung Nagapertala. Kemudian ia sendiri lalu meloncat dan duduk di belakang gadis itu. Maduraras hanya meramkan mata dan air mata membasahi kedua pipinya. Dengan perlahan Nagapertala berjalan menuju kampung mereka.

Sementara itu Sekarsari duduk melamun seorang diri di kebun belakang rumahnya. Ia heran mengapa Jarot belum juga pulang. Hatinya makin tak senang, wajahnya makin keruh. Ia masih merasa marah semenjak pertemuannya dengan Maduraras pagi tadi.

Tadi, pagi-pagi sekali ia telah pergi ke bengawan untuk mencuci pakaian dan mandi seperti biasa. Kawan-¬kawannya belum datang dan kesunyian disitu membuat ia duduk melamun, mendengarkah bunyi riak air dan kicau burung. Hatinya diliputi kesedihan dan keraguan. Ia tahu bahwa ada terjadi sesuatu pada diri Jarot semenjak Maduraras datang ke kampungnya.

Mula-mula ia merasa marah, kecewa dan cemburu. Ingin ia dapat membenci Jarot. Ingin ia dapat mengajak Maduraras berkelahi! Tapi cintanya yang selalu terpendam terhadap pemuda itu terlampau besar hingga tak mungkin ia dapat membencinya. Sedangkan untuk marah dan mengajak berkelahi Maduraras, ah, gadis itu terlampau baik dan ramah-tamah. Maka ia hanya dapat menyiksa hati sendiri dengan pikiran yang bukan-bukan karena cemburu.

Ketika ia sedang melamun, datanglah Sulastri dan Maduraras. Memang gadis yatim-piatu ini seringkali membantu Sulastri mencuci pakaian. Maka mereka bertiga lalu mulai mencuci. Maduraras tampak gembira sekali dan dengan suaranya yang merdu gadis itu menembang lagu Sinom Parijoto. Kata-kata dalam tembang itu menceritakan kerinduan seorang gadis kepada kekasihnya. Setelah Maduraras selesai menembang. Sulastri menggodanya dengan tertawa.

"Aah, kalau mas Jarot sedang berjalan kaki tentu akan tersandung-sandung dan kalau ia sedang makan tentu akan keseduan!”

Mendengar nama Jarot disebut-sebut, Sekarsari yang sedang berhati murung itu bertanya sambil lalu,

"Mengapa?"

"Tentu saja, karena barusan Maduraras merindukannya dalam tembang Sinom. Siapa lagi yang dirindukan oleh Maduraras selain Jarot??"

Sulastri tertawa dan Maduraras segera gunakan kedua tangannya menyiram muka gadis yang menggodanya itu dengan air.

Sekarsari makin tak senang dan di dalam hati ia merasa panas dan mendongkol yang bukan-bukan! Maduraras dengan wajah merah tudingkan telunjuknya kepada Sulastri,

"Mengobrol? Kau hendak menyangkal? Tak tahukah aku betapa tiap malam kau bermimpi dan dalam mimpimu kau bertemu dengan mas Jarot?"

"Ah, bohong.....! Mana kau bisa tahu akan mimpi orang lain!"

"Mengapa tidak tahu? Dalam mimpi kau selalu mengigau dan menyebut-nyebut nama mas Jarot!"

Maduraras tundukkan kepala dengan wajah merah, dan matanya yang jeli dan tajam itu mengerling ke arah Sekarsari, lalu berkata,

"Lastri, jangan kau terlalu menggodaku dengan kangmas Jarot, Sekarsari bisa marah....."

Sebutan "kangmas" yang diucapkan dengan gaya mesra itu menambah besar nyala api kemarahan dalam hati Sekarsari. Ia berhenti mencuci dan sambil bertolak pinggang ia menghadapi Maduraras dan berkata angkuh,

"Tutup mulutmu! Kenapa kau bawa-bawa aku dalam percakapanmu yang rendah tak tahu malu itu? Memang mas Jarot itu apaku maka aku harus marah? Aku bukanlah wanita serendah engkau, mudah saja mengaku-aku seorang laki-laki sebagai kekasihnya!”

Senyum kesukaan menghias mulut Maduraras ketika ia melihat kemarahan Sekarsari. Jawabnya,

"Eh-eh, Sari, kenapa kau marah? Aku tidak mengaku-aku. Aku memang cinta kepada kangmas Jarot, tapi belum tentu ia mencintaku sungguhpun dari sikapnya aku tak ragu-ragu lagi. Tapi, boleh jadi dia mencintamu, karena bukankah kau serumah dengan ia?"

"Perempuan rendah! Perempuan terlantar yang hanya mengacau kebahagiaan orang! Kau anggap aku orang macam apa? Jangan kau berani singgung singgung namaku lagi dalam percakapan gila dan tak tahu malu ini!"

0 Response to "Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 15"

Post a Comment