Bunga Di Batu Karang Jilid 12

Mode Malam
Namun kedua anak-anak muda itu seakan-akan tidak menghiraukan mereka yang memandanginya sambil bertanya di dalam hati. Mereka maju terus, meskipun tidak terlampau kencang.

Ternyata Buntal masih mengenal dengan baik jalan menuju ke pinggir bengawan seperti yang telah dijanjikan. Meskipun jalan itu kemudian menjadi agak sulit, namun mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan bengawan yang berarus deras dan berwarna lumpur.

Ketika kuda mereka menuruni tebing yang agak landai dan sampai di atas pasir tepian, maka keduanya pun terkejut. Ternyata mereka melihat tidak saja bangsawan-bangsawan muda yang dijumpainya dan yang telah bertengkar dengan mereka tetapi jumlah itu telah bertambah lagi.

“Nah, ternyata yang dikatakan Raden Juwiring itu benar” desis Arum.

“Apaboleh buat” sahut Buntal.

“Dan kita dapat dilemparkan ke dalam bengawan itu”

“Apaboleh buat. Tetapi mereka tidak akan melakukannya di hadapan Raden Juwiring, putera Pangeran Ranakusuma, seorang Senapati yang disegani di Surakarta ini”

“Dan agaknya kita sudah mulai menyandarkan diri”

“Apaboleh buat”

Sejenak kemudian kedua ekor kuda itu berjalan di atas pasir tepian. Perlahan-lahan keduanya maju mendekati segerombol bangsawan-bangsawan muda yang sudah menunggu.

“Ha, ternyata keduanya datang” berteriak salah seorang dari mereka.

“Apakah yang seorang itulah Arum. Nampaknya seperti seorang laki-laki”

Seorang bangsawan muda tiba-tiba saja meloncat naik ke punggung kudanya dan menyongsong Buntal. Beberapa langkah di hadapannya ia berteriak, “Yang seorang adalah gadis itu. Ia berpakaian seorang laki-laki. Pantas sekali. Justru ia tampak sebagai seorang anak muda yang tampan sekali. Aku justru jatuh cinta kepadanya”

Kata-kata itu bagaikan bara yang menyentuh telinga Arum dan Buntal. Tetapi mereka berdua sama sekali tidak menyahut. Mereka masih tetap maju perlahan-lahan.

Bangsawan yang seorang, yang menyongsongnya itu masih saja mengitari keduanya sambil berteriak, “Kita tidak dapat sekedar bermain-main. Agaknya anak ini yakin benar akan dirinya”

Arum dan Buntal masih berdiam diri. Mereka mengerutkan kening ketika mereka melihat Raden Juwiring melangkah maju. Katanya kepada Buntal. “Nah, kemarilah. Kita akan membuat perjanjian. Perjanjian seorang laki-laki”

Bangsawan muda yang berkuda di sebelah Arum itu berkata, “Tidak ada yang menyebut aku seorang perempuan. Sedangkan gadis ini pun berpakaian seperti laki-laki”

“Bukan pakaiannya” jawab Juwiring, “Aku tahu bahwa seorang laki-laki dapat saja berbuat seperti perempuan. Tetapi juga sebaliknya, seorang perempuan dapat berbuat seperti seorang laki-laki”

“Apa yang dilakukan oleh laki-laki dan apa yang dilakukan oleh perempuan?”

“Laki-laki akan menghargai kelaki-lakiannya di dalam setiap persoalan. Apa yang dikatakan dilakukannya. Ia yakin akan sikapnya, tetapi tidak mengingkari kenyataan. Ia berani mempertahankan keyakinannya, tetapi berani mengakui kesalahannya apabila hal itu disadarinya”

“Dan perempuan?”

“Perempuan kadang-kadang menggantungkan diri kepada laki-laki. Ia pasrah kepada keadaan meskipun kadang-kadang harus mengeluh. Menekan perasaan di dalam dadanya sambil menekan gejolak hati. Tetapi sudah aku katakan, kadang-kadang terdapat kelainan. Dan kalian akan melihat kelainan itu di sini”

Bangsawan-bangsawan muda itu memandang Juwiring dengan heran. Lalu salah seorang di antara mereka bertanya, “Apa yang akan kita lihat di sini?”

“Tidak apa-apa. Tetapi marilah kita membuat perjanjian. Perjanjian yang saling kita hormati” sahut Juwiring.

“O” bangsawan muda yang bertubuh kekar itu pun maju selangkah, “Aku tahu, kau menyangka bahwa kami akan berbuat curang. Itulah yang kau maksud, bahwa kita akan melihat kelainan di sini”

“Syukurlah jika hal itu tidak terjadi”

“Kau sudah menghina kami. Dan kami tidak rela membiarkan diri kami mendapat penghinaan semacam itu”

“Karena itu kalian harus membuktikan, bahwa aku keliru”

“Persetan, Suruh anak itu turun dari kudanya. Kita akan melihat, siapakah yang curang dan licik”

Juwiring mengangguk-angguk sambil menyahut, “Ya. Biarlah ia mendekat”

Buntal yang sudah ada di dekat segerombol anak-anak muda itu pun meloncat turun dari kudanya diikuti oleh Arum. Sekilas mereka masih melihat warna-warna merah yang tersangkut di bibir mega yang bergumpalan menghiasi langit yang jernih.

“Cepat katakan” geram bangsawan muda yang bertubuh kekar itu, “Apakah yang kita jadikan syarat dari perkelahian ini. Aku sudah tidak sabar lagi”

“Kita saling menghormati” sahut Juwiring, “yang kalah harus segera menyatakan kekalahannya dan yang menang tidak akan berbuat lebih banyak lagi. Itu agaknya syarat yang paling lunak, tetapi memadai”

“Persetan?” desis anak muda yang bertubuh kekar itu, “selebihnya?”

“Tidak ada. Kita sudah saling mengetahui bahwa jika kita bertanding, kita tidak boleh menggigit dan menggelitik”

“Cukup” bentak anak muda yang masih ada di punggung kuda, yang semula menyongsong Buntal dan Arum, “Kau menganggap kami seperti kanak-kanak yang baru pandai berjalan”

“Bukan maksudku. Tetapi biarlah kita menjadi jelas pada persoalan yang sama-sama kita hadapi. Kita akan menjadi saksi”

“Sekarang, kita mulai sekarang” desis anak muda yang lain.

“Kita membuat lingkaran. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Dan kita harus sudah mulai. Kita akan menguji siapakah yang memiliki indera lebih tajam di dalam kegelapan”

Demikianlah maka anak-anak muda itu pun segera membuat sebuah lingkaran. Mereka berdiri di atas pasir yang basah dengan hati yang berdebar-debar.

“Cepat, masuk ke dalam arena” berkata salah seorang dari mereka.

Bangsawan muda yang bertubuh kekar itu pun segera masuk ke dalam lingkaran. Juwiring yang berdiri di pinggir lingkaran itu pun kemudian memanggil Buntal, “Masuklah. Lawanmu sudah siap. Kita hanya ingin melihat, apakah jika kalian dibiarkan berkelahi, yang sedang memiliki kekuasaan dan kewenangan selalu menang, “

“Kau jangan selalu menghina kami” bentak anak muda yang bertubuh kekar itu. Lalu, “Kenapa bukan kau saja yang memasuki arena? Kita akan berjanji bahwa kita tidak akan menyeret orang tua kita masing-masing, karena aku tahu bahwa pamanda Ranakusuma adalah seorang Senapati yang terpandang”

“Kau dan aku sederajad. Jika kau menganggap dirimu mempunyai hak dam wewenang khusus, melampaui hak dan wewenang anak padesan, maka aku pun mempunyainya, sehingga perkelahian di antara kita, siapapun yang menang tidak akan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan kita”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia melihat Juwiring yang lain daripada Juwiring yang rendah hati di padepokan Jati Aking. Juwiring yang ada di pinggir arena itu adalah Juwiring yang agak sombong dan tinggi hati. Tetapi seperti yang sudah dikatakannya, di hadapan anak-anak muda yang bengal itu, maka Juwiring pun harus bersikap serupa.

“Cepatlah, jangan ragu-ragu” berkata Juwiring kepada Buntal yang masih berdiri di tempatnya.

Buntal pun kemudian melangkah maju mendekati lawannya di arena. Sejenak ia memandang wajah bangsawan muda yang bertubuh kekar. Tubuh yang memiliki kemungkinan yang sangat baik jika bangsawan muda itu mendapat tuntunan yang tepat di dalam olah kanuragan.

Karena itu, seperti yang selalu dinasehatkan oleh Kiai Danatirta, Buntal tidak memandang rendah lawannya meskipun menurut Juwiring, anak-anak muda itu hampir tidak pernah menuntut ilmu apapun juga selain berbuat bengal.

“Nah, kita akan segera mulai” berkata Juwiring, “Marilah kita bersama-sama menjadi saksi. Saksi yang jujur atas perkelahian yang bakal terjadi”

“Jangan banyak bicara lagi” desis bangsawan yang bertubuh kekar.

“Baik. Mulailah”

Bangsawan muda yang bertubuh kekar itu mulai bergerak. Dipandanginya Buntal yang mulai samar-samar. Sejenak keduanya bergeser, seakan-akan ingin menemukan kelemahan lawannya.

Sepintas Buntal dapat melihat, bahwa lawannya tentu bukannya belum pernah mempelajari olah kanuragan. Sikapnya dan tatapan matanya mengatakan kepadanya, bahwa anak muda yang bertubuh kekar itu pun tentu sudah mempelajari ilmu kanuragan.

Dengan demikian Buntal menjadi semakin berhati-hati. Apalagi bayangan langit yang semakin buram mengaburkan wajah anak muda yang bertubuh kekar itu. Namun ada juga baiknya bagi Buntal karena yang tampak kemudian adalah semacam bayangan saja yang kehitam-hitaman, sehingga ia tidak melihat perbedaan yang jelas antara anak muda itu dengan orang-orang lain. di dalam gelapnya malam, maka tidak ada lagi bedanya, bayangan seorang bangsawan dan orang kebanyakan.

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, terjadilah perkelahian itu. Sekejap pun Buntal tidak berbicara sampai pada saatnya ia menghindari serangan yang pertama.

Ternyata bahwa bangsawan muda yang bertubuh kekar itu agaknya memang pernah mempelajari ilmu kanuragan. Karena itu, maka untuk beberapa saat ia masih dapat dengan dada tengadah menyerang Buntal yang masih dipengaruhi oleh perasaan segan.

Namun dalam serangan-serangan itu, Buntal segera mengetahui bahwa bangsawan muda itu masih belum menguasai benar ilmu yang dipelajarinya. Agaknya selama ini ia hanya membanggakan kekuatan tubuhnya yang kekar itu, sehingga tata geraknya sama sekali tidak menguntungkannya. Meskipun demikian Buntal masih harus berhati-hati. Anak muda itu benar-benar mempunyai kekuatan yang luar biasa. Adalah kebetulan sekali bahwa Buntal pun telah mempelajari ilmunya dengan cara yang berbeda dengan Juwiring, yang lebih banyak menyandarkan juga pada gerak jasmaniahnya, sehingga di dalam saat tertentu, jika terjadi benturan kekuatan, Buntal mampu mengimbangi kekuatan lawannya. Bahkan kadang-kadang Buntal dengan sengaja tidak menghindari serangan anak muda yang bertubuh kekar itu, tetapi membenturnya dengan kekuatannya pula.

Meskipun malam menjadi gelap, tetapi keduanya mampu meneruskan perkelahian itu dengan sengitnya. Mereka berganti-ganti menyerang dan bertahan. Silih ungkih, seolah-olah keduanya memiliki ilmu yang seimbang.

Tetapi sebenarnya Buntal segera mampu menguasai lawannya apabila ia menghendakinya. Ia memiliki bekal jauh lebih banyak dari anak muda yang bertubuh kekar itu. Apalagi di dalam kelamnya malam ketajaman penglihatannya sangat membantunya.

Namun demikian ada sesuatu yang menahannya untuk tidak segera memenangkan perkelahian itu. Ternyata ia mempunyai rasa hormat pula kepada para bangsawan. Buntal masih mengharap bahwa jika ia kemudian menang, maka kemenangan-nya itu tidak terlampau menyakitkan hati lawannya, yang kebetulan adalah seorang bangsawan.

Tetapi agaknya berbeda dengan Arum. Ia dapat melihat kelebihan Buntal seperti juga Juwiring. Rasa-rasanya ia ingin mendorong anak muda itu agar segera menyelesaikan perkelahian, kemudian dengan demikian mereka akan meyakini kelebihan anak-anak padesan dari para bangsawan.

Sementara itu, bangsawan-bangsawan muda yang menyaksi-kan perkelahian itu pun menjadi berdebar-debar. Bagi mereka perkelahian itu adalah perkelahian yang dahsyat sekali, karena mereka melihat keduanya saling mendesak dan kadang-kadang keduanya terdorong surut oleh benturan yang keras.

Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu menjadi heran. Kenapa bangsawan muda yang kekar itu tidak segera menguasai lawannya yang sekedar anak padesan. Mereka ingin segera melihat anak Jati Aking itu menyerah, dan kemudian beramai-ramai mereka akan dapat menghinakannya. Apalagi beserta anak muda itu, datang juga Arum meskipun ia mempergunakan pakaian seorang laki-laki.

Dalam pada itu, selagi kedua anak-anak muda itu masih saja berkelahi, ternyata ada juga seorang bangsawan muda yang tidak dapat menahan hatinya melihat Arum justru dalam pakaian seorang laki-laki. Di dalam gelap, Arum sama sekali tidak menghiraukan lagi orang-orang yang berdiri di seputar arena. Perhatiannya sepenuhnya terpusat kepada perkelahian itu, sehingga karena itu, maka ia berdiri saja tanpa prasangka terhadap bangsawan-bangsawan muda itu. Dan itulah kesalahan-nya. Setiap kali ia justru mendesak seseorang yang berdiri di sebelahnya, sehingga anak muda itu telah kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan dirinya.

Hampir di luar sadarnya, bangsawan muda itu menyentuh tubuh Arum. Dan adalah di luar dugaan Arum, bahwa sentuhan-sentuhan di lengan dan punggungnya itu adalah suatu kesengajaan. Ia menyangka bahwa mereka saling mendesak karena perhatian mereka terhadap perkelahian itu.

Tetapi tangan itu ternyata semakin jauh merayapi tubuh Arum, sehingga perlahan-lahan Arum mulai memperhatikan tangan itu meskipun ia masih tetap berdiam diri saja.

Akhirnya sampai saatnya, Arum lah yang tidak dapat menahan dirinya. Ketika tangan itu masih saja menjalari tubuhnya, tiba-tiba saja tangan itu telah terpilin keras-keras. Bahkan kemudian tangan itu seakan-akan terangkat di atas bahu Arum yang merendah. Sebuah tarikan yang menghentak telah melemparkan anak muda itu lewat di atas pundak Arum dan terbanting jatuh di atas pasir.

Hal itu benar-benar telah mengejutkan. Bangsawan muda yang terbanting jatuh itu terkejut bukan kepalang. Ia menyadari dirinya setelah ia berbaring di atas pasir yang basah. Beberapa orang justru berdiri bingung dan demikian juga Juwiring.

Bukan saja mereka yang berdiri di seputar arena, bahkan mereka yang sedang berkelahi itu pun terkejut pula sehingga perkelahian itu terhenti karenanya.

Bangsawan muda yang terbanting itu tertatih-tatih berdiri sambil menyeringai. Tangannya rasa-rasanya akan patah dan punggungnya bagaikan retak. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk mempertahankan harga dirinya Dipaksanya tangannya yang sakit itu untuk bertolak pinggang sambil menggeram.

“Perempuan Gila” Ia mengumpat, “Jika kau seorang laki-laki, maka aku patahkan tanganmu”

“Cobalah” jawab Arum, “Kitalah sekarang yang berkelahi di arena”

Juwiring menjadi cemas, sehingga ia pun mendekatinya.

Tetapi agaknya kemarahan Arum sudah sampai ke puncaknya sehingga tanpa menghiraukan apapun lagi ia melangkah maju sambil berkata, “Marilah kita bertindak adil. Persoalan ini adalah persoalanku dengan anak muda yang lancang itu. Sebenarnya kamilah yang harus menyelesaikannya bukan orang lain. Bukan kakang Buntal dan bukan anak muda yang lain. Tetapi kami yang memang mempunyai persoalan. Kemudian aku telah terpaksa membuka persoalan yang lain. Anak muda ini pun agaknya anak muda yang lancang. Setelah perkelahian yang pertama, aku akan melawan orang kedua ini”

Bangsawan-bangsawan muda yang berdiri melingkar itu terkejut bukan kepalang. Ternyata gadis ini benar-benar memiliki sesuatu yang dapat dipercaya. Karena itulah maka mereka pun menjadi termangu-mangu untuk beberapa saat.

Dalam pada itu maka Juwiring pun kemudian mendekatinya. Dengan hati-hati ia berkata, “Sabarlah Arum”

“Akulah yang dihinakannya. Dan akulah yang paling berhak membersihkan namaku”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengenal sifat Arum. Namun demikian ia tidak dapat membiarkan Arum terseret oleh perasaannya. Karena itu maka katanya kemudian, “Di dalam persoalan ini, kita mempunyai cara tersendiri, Arum. Dan kita sedang mencoba menempuh jalan yang paling baik bagi kita”

“Tetapi tidak paling baik bagiku. Mungkin kakang Buntal dapat memenangkan perkelahian itu, karena seharusnya ia sudah sejak perkelahian itu dimulai, dapat menjatuhkan lawannya. Tetapi agaknya ia merasa segan melakukannya. Tetapi kemenangan kakang Buntal adalah penyelesaian sementara bagiku. Karena apabila aku sedang berjalan sendiri dimana pun, mungkin akan mereka jumpai, maka akan timbul persoalan serupa jika aku sendiri tidak mencoba menyelesaikannya”

Dada Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia harus mencegahnya. Jika Arum tidak dapat mengendalikan diri, maka tingkah lakunya akan dapat menyinggung perasaan anak-anak muda itu sehingga persoalannya akan berkembang semakin luas.

Namun dalam pada itu, sebelum Juwiring sempat berkata sesuatu lagi, mereka terkejut oleh suara bernada tinggi dari kegelapan, sehingga serentak mereka berpaling. Yang tampak hanyalah sebuah bayangan kehitam-hitaman yang berjalan mendekati arena itu.

“Alangkah bodohnya bangsawan muda di Surakarta ini” berkata bayangan itu.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian Juwiring berdesis, “Pamanda Hargasemi”

Dan hampir berbareng anak-anak muda yang lain pun berdesis, “Pamanda Pangeran Hargasemi”

Bayangan itu pun menjadi semakin dekat. Dalam keremangan malam tampaklah seorang Pangeran yang masih muda berdiri sambil bertolak pinggang. Terdengar ia tertawa pendek. Lalu katanya pula, “Kalian tidak melihat kenyataan yang terjadi di hadapan kalian”

Bangsawan muda itu pun segera mengerumuninya. Bagi bangsawan muda yang berada di pinggir bengawan itu, Pangeran Hargasemi telah memberikan sesuatu yang rasa-rasanya menyenangkan. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Namun karena sehari-hari Pangeran Hargasemi merupakan kawan bermain yang baik, maka mereka pun menyambutnya dengan gembira.

Berbeda dengan mereka adalah Juwiring. Meskipun Juwiring tidak terlampau banyak mengenal Pangeran yang masih muda itu, namun sedikit banyak ia pernah mendengar bahwa Pangeran Hargasemi adalah kawan yang baik bagi anak muda yang bengal itu dan terlebih-lebih lagi Pangeran muda itu adalah sahabat yang sangat dekat dengan kumpeni. Tetapi yang terlebih mendebarkan jantung, Pangeran Hargasemi memiliki ilmu olah kanuragan yang tinggi.

Sejenak Pangeran Hargasemi memandang Juwiring. Lalu katanya, “Juwiring sekarang menjadi semakin tampan setelah ia berada di padepokan Jati Aking. Melihat anak-anak padesan itu berkelahi maka kita pun seharusnya dapat mengambil kesimpulan, bahwa Juwiring tentu memiliki ilmu kanuragan padesan yang kasar itu”

Juwiring tidak menyahut, meskipun dengan susah payah ia menahan hatinya.

Dalam pada itu Buntal dan Arum pun menjadi terheran-heran. Mereka mendengar bagaimana bangsawan-bangsawan muda itu menyebut orang yang baru saja datang itu. Karena itu, mereka masih juga menyadari bahwa mereka tidak dapat berbuat tanpa pertimbangan lebih jauh terhadap seorang Pangeran meskipun masih cukup muda.

“Kalian ternyata terlampau dungu” berkata Pangeran Hargasemi itu, “Sudah lama aku melihat perkelahian di arena. Aku melihat juga bagaimana gadis itu membanting lawannya dalam sekejap” Pangeran muda itu berhenti sejenak, lalu, “seharusnya kalian menyadari bahwa kalian bukanlah lawan mereka. Anak muda yang berkelahi di arena itu sebenarnya sama sekali tidak berimbang. Anak Jati Aking itu masih menaruh hormat kepada lawannya karena lawannya adalah seorang bangsawan seperti yang dikatakan oleh gadis itu. Dan tidak ada seorang pun di antara kalian yang dapat mengalahkan gadis itu. Nah, siapa yang tidak percaya dapat mencobanya”

Tidak seorang pun yang menyahut, sedang Juwiring, Buntal dan Arum masih saja berdiri termangu-mangu.

Pangeran Hargasemi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bagus. Kalian harus menyadari bahwa gadis itu memang memiliki kelebihan. Karena itu, kalian tidak usah mencoba menyentuhnya jika tangan kalian tidak ingin dipatahkannya” tiba-tiba saja Pangeran Hargasemi itu tertawa. Suara tertawanya terdengar aneh dan tanpa disadarinya bulu-bulu kulit Arum pun terasa meremang.

“Ah, sudah barang tentu, gadis seperti Arum itu dapat mengadakan sayembara tanding. Siapa yang dapat mengalahkan saudara-saudara seperguruannya termasuk Juwiring, ia akan dapat memilikinya. Atau barangkali sayembaranya akan berbunyi, siapa yang dapat mengalahkan dirinya”

“Gila” Arum menggeram.

Juwiring berpaling. Ia mencoba memberi isyarat agar Arum mencoba menahan diri. Tetapi di dalam kegelapan isyarat itu tidak tertangkap oleh Arum.

Pangeran Hargasemi masih tertawa. Katanya, “Gadis itu memang agak liar. Tetapi menyenangkan. He, siapa yang jatuh cinta kepadanya?”

Bangsawan-bangsawan muda itu saling berpandangan sejenak. Namun suasananya tiba-tiba telah berubah dengan kehadiran Pangeran Hargasemi. Bahkan ketika Pangeran Hargasemi tertawa lebih keras lagi, beberapa orang yang lain telah tertawa pula.

“Ayo, siapa yang akan memasuki sayembara tanding? Tidak ada? Jika tidak ada, akulah yang akan memasuki sayembara tanding itu. Dan aku akan memilih lawan yang paling tangguh. Juwiring. Tentu Juwiring lah yang paling sempurna di antara murid-murid guru olah kanuragan padesan terpencil itu. Jika aku kalah, aku menyerah meskipun aku akan dilemparkan ke dalam bengawan. Tetapi jika aku menang, aku akan mendapatkan Arum. Nah, jika aku mendapatkannya, kalian, anak-anak muda yang telah bersusah payah berkerumun di sini tidak usah cemas”

Pangeran muda itu tertawa, dan bangsawan muda yang lain pun tertawa riuh. Lalu, “Jika ayahnya marah, biarlah aku yang menyelesaikan. Jika ia mempunyai sepasukan cantrik, aku akan meminjam tiga orang kumpeni. Tak ada orang yang dapat melawan kumpeni sekarang. Betapa tinggi ilmunya, jika tubuhnya tersentuh peluru, maka ia pun akan mati”

“Cukup” teriak Arum yang tubuhnya menjadi gemetar, “Aku akan berkelahi sampai mati”

Tetapi Pangeran Hargasemi tertawa, “Jangan mati. Aku dapat mengalahkanmu tanpa membunuhmu”

Kemarahan Arum tiba-tiba telah membakar ubun-ubunnya. Tetapi dengan demikian mulutnya justru seakan-akan tersumbat karenanya.

Dalam pada itu, tanpa disadari, berbareng Juwiring dan Buntal melangkah mendekati Arum. Memang tidak ada cara lain dari pada mempertahankan kehormatan itu dengan apa saja yang dimilikinya. Termasuk nyawanya.

Tetapi Pangeran Hargasemi tidak menghiraukannya. Katanya, “Kalian akan menjadi saksi. Dan untuk itu kalian akan mendapat upah daripadaku nanti. Nanti atau besok atau lusa”

Suara tertawa pun meledaklah di pinggir bengawan itu.

Wajah Arum rasa-rasanya seperti tersentuh bara. Oleh kemarahan yang memuncak, maka tubuhnya menjadi gemetar.

“Nah, baiklah kalian bertiga berkelahi bersama-sama. Aku tidak berkeberatan” ia berhenti sejenak, lalu, “Jika terjadi sesuatu atas kalian, terutama atas Juwiring, maka bukan maksudku menyeret kemarahan Kamas Ranakusuma. Aku tahu bahwa Juwiring menyandarkan diri kepada kangmas Pangeran, karena kangmas Pangeran adalah seorang Senapati yang berpengaruh. Tetapi pengaruhnya tidak akan dapat menyentuh aku, karena seperti kangmas Pangeran, aku pun mempunyai sahabat perwira-perwira kumpeni”

“Pamanda” berkata Juwiring yang sudah tidak dapat menahan hati lagi, “Aku mohon maaf, bahwa jika aku menentang kehendak pamanda, bukan berarti aku menentang kehendak orang tua. Tua dalam pengertian darah, karena agaknya umur pamanda tidak jauh di atas umurku. Tetapi aku terpaksa mencegah pamanda bertindak sewenang-wenang.

Pangeran Hargasemi tertawa. Katanya, “Kau memang belum mengenal aku. Aku memiliki kemampuan berkelahi melawan kau bertiga. Bahkan lipat dua sekalipun. Karena itu jangan berusaha mencegah aku”

“Pamanda. Apakah demikian contoh yang pamanda berikan kepada kami, anak-anak muda ini”

Pangeran yang masih muda itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelepar di sepanjang tepi bengawan. Katanya di sela derai tertawanya, “Jangan berbicara tentang anak-anak muda, tentang contoh yang baik dan yang buruk. Sekarang marilah kita berbicara dengan jujur. Aku ingin gadis itu. Itu adalah pengakuan yang jujur. Dan anak-anak muda memang harus jujur”

“Itukah kejujuran yang pamanda ajarkan kepada kami? Juga seandainya kami ingin mengambil Kangjeng Kiai Plered sekalipun. Karena kami ingin jujur, maka kami harus datang menghadap Kangjeng Susuhunan dan mohon untuk mengambil tombak itu?”

“Jangan banyak bicara lagi. Kau tidak dapat melawan aku dipandang dari segala segi. Derajadku lebih tinggi, karena aku Pangeran. Umurku lebih tua meskipun sedikit, dan ilmuku lebih mantap dari ilmumu. Nah, kau mau apa. Kau tidak dapat berbuat apa-apa. Aku adalah seorang Pangeran”

Darah Juwiring tiba-tiba telah mendidih. Meskipun ia menyadari bahwa Pangeran Hargasemi adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang hampir sempurna, namun ia tidak mempunyai jalan lain.

Namun sekali lagi tepian itu diguncang oleh suara tertawa berkepanjangan. Suara itu datang dari sebuah rakit di pinggir bengawan. Rakit yang tiba-tiba saja berada di tempat itu tanpa diketahui kapan datangnya.

Kini semua mata tertuju kearah rakit itu. Sebuah pelita minyak terletak di ujungnya. di sebelah pelita itu duduk seseorang sambil memeluk lututnya.

Para bangsawan yang ada di tepian bengawan itu menjadi termangu-mangu sejenak. Seolah-olah mereka telah melihat sesuatu yang tidak sewajarnya.

Suara tertawa itu pun kemudian mereda. Orang yang berada di dalam rakit itu masih duduk sambil memeluk lututnya di sebelah Pelita minyak yang menyala.

Pangeran Hargasemi yang merasa dirinya mempunyai kemampuan yang tanpa tanding di antara para bangsawan itu pun kemudian melangkah maju. Didekatinya rakit yang berhenti di pinggir bengawan itu sambil bertanya, “Siapakah kau he?”

Orang di atas rakit itu masih belum menjawab, “Siapa kau, dan apakah maksudmu mengganggu kami yang sedang bermain-main, “

“Maaf Pangeran” jawab orang itu, “Bukan maksud kami mengganggu Pangeran yang sedang bermain bersama para bangsawan muda dari Surakarta ini. Tetapi aku sangat tertarik kepada permainan yang tuan lakukan”

“Apakah yang telah menarik perhatianmu?”

“Permainan itu sendiri. Agaknya Pangeran sedang bermain kekuasaan. di sini ada dua orang anak-anak dari padesan. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. di antara sekian banyak bangsawan muda, bahkan ada seorang Pangeran yang masih muda pula, tetapi hanya seorang sajalah yang berpihak kepada kedua anak padesan itu. Itulah yang menarik. Menurut pendapatku permainan itu kurang adil. Bagaimana jika jumlah para bangsawan yang ada itu dibagi. Kemudian beradu binten. Atau bantingan di atas pasir”

“Siapa kau he? Apa kepentinganmu dengan permainan kami ini?”

“Tidak apa-apa. Tetapi sama sekali tidak adil”

“Kau salah. Kami tidak bersama-sama bermain melawan kedua anak-anak padesan itu. Justru aku mempersilahkan mereka untuk melawan aku bertiga. Nah, kau dengar”

“O, begitu. Sayang sekali. Seharusnya Pangeran tidak usah menakut-nakuti mereka dengan kedudukan Pangeran. Mungkin salah seorang dari mereka akan dapat mengalahkan Pangeran. Tetapi sudah barang tentu mereka akan segan melakukannya, karena mereka takut akan akibatnya. Apalagi Pangeran Hargasemi adalah seorang Pangeran yang bersedia duduk di bawah atas kaki orang-orang asing itu, sehingga dengan demikian Pangeran akan segera mendapat bantuan mereka apabila diperlukan. Bahkan menghadapi Pangeran Ranakusuma sekalipun, meskipun Pangeran Ranakusuma juga seorang Pangeran yang bersedia bekerja bersama dengan kumpeni. Maksudku, Pangeran Ranakusuma. Bukan Raden Juwiring”

Pangeran Hargasemi benar-benar menjadi bingung menghadapi persoalan itu. Seakan-akan orang yang duduk di atas rakit itu telah mengenal mereka seorang demi seorang. Karena itu, maka hatinya menjadi semakin terbakar. Katanya, “Jangan banyak bicara. Jika kau ingin ikut serta dalam permainan ini, cepat, turun dari rakitmu”

Orang itu pun tiba-tiba berdiri. Sekali loncat ia sudah berada di atas pasir. Dikibaskannya kainnya yang semula diselubungkannya di atas punggungnya. Namun orang itu masih saja mengenakan tudung-kepala bambunya yang dianyam runcing.

“Gila, kau akan melawan seorang Pangeran? Meskipun kau mempunyai nyawa rangkap tujuh, tetapi kau akan menyesal” geram Pangeran Hargasemi.

“Jangankan seorang Pangeran. Seorang Raja pun wajib dilawan jika ia berbuat salah dan apalagi sewenang-wenang”

“Persetan. Aku akan membunuhmu dan melemparkan mayatmu ke dalam bengawan”

“Aku hidup di bengawan, dan mencari penghidupan di bengawan itu pula. Aku adalah tukang satang yang mendapat upah karena menyeberangkan orang lain yang ingin melintasi bengawan. Jika aku kemudian mati di bengawan itu pula, artinya aku sudah bersatu dengan bengawan itu”

“Persetan” bentak Pangeran Hargasemi, “bersiaplah”

“Baik Pangeran. Aku sudah siap”

Pangeran Hargasemi yang marah sama sekali tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Sebagai seorang anak muda yang berilmu, maka ia pun tidak ragu-ragu lagi menghadapi lawannya, seorang tukang satang.

Karena itu, maka ia pun segera meloncat menyerang tukang satang yang telah berani mengganggunya itu.

Namun Pangeran Hargasemi itu terkejut bukan buatan. Serangan yang dilambari dengan kemarahan yang meluap itu sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya. Bahkan hampir tanpa diketahuinya, lawannya telah beringsut di sisinya sambil berkata, “Ilmu Pangeran memang dahsyat sekali. Pantas Pangeran berani menantang anak-anak itu untuk melawan bertiga”

“Tutup mulutmu” Pangeran Hargasemi berteriak. Tetapi orang itu justru tertawa sambil berkata, “Jangan marah. Aku berkata sebenarnya. Kau memang memiliki kemampuan yang luar biasa dibanding dengan usia Pangeran yang muda itu”

Pangeran Hargasemi tidak menjawab. Tetapi ia menyerang semakin dahsyat. Namun serangannya itu bagaikan sia-sia saja.

Malam yang gelap itu seakan-akan menjadi semakin gelap, sehingga kadang-kadang ia telah kehilangan lawannya. Dan tiba-tiba saja lawannya itu telah berada di belakangnya atau di sampingnya sambil tertawa pendek.

Sikap itu benar menyakitkan hatinya. Kemarahan yang melonjak-lonjak di dadanya membuat Pangeran Hargasemi semakin kehilangan pengendalian diri. Namun demikian, ia sama sekali tidak berdaya menghadapi lawannya. Seorang tukang satang.

Para bangsawan yang memperhatikan perkelahian itu menjadi termangu-mangu. Merekapun menyadari, bahwa Pangeran Hargasemi tidak mampu mengimbangi lawannya. Sekali-sekali mereka terpaksa menahan nafas jika mereka melihat Pangeran Hargasemi kehilangan lawannya. Namun dengan sangat terperanjat meloncat memutar tubuhnya ketika ia sadar bahwa lawannya sudah berada di belakangnya.

Semakin lama semakin ternyata bahwa Pangeran Hargasemi bukan lawan orang yang menyebut dirinya tukang satang itu. Nafas Pangeran muda itu menjadi terengah-engah dan bahkan rasa-rasanya telah terputus di kerongkongan. Sedang orang yang menyebut dirinya tukang satang itu masih tetap segar dan sekali-sekali masih terdengar suara tertawanya.

“Nah” katanya kemudian, “Apakah Pangeran masih akan bermain lebih lama lagi?”

“Persetan” geram Pangeran Hargasemi disela-sela nafasnya yang hampir terputus.

“Aku rasa permainan kita sudah cukup lama. Karena itu, sebaiknya kita mengakhirinya saja” berkata tukang satang itu kemudian, “Tetapi dengan syarat. Jangan ganggu anak-anak Jati Aking itu. Kedua anak padesan yang kau anggap tidak berharga, bahkan dapat dihinakan seperti yang sudah kau lakukan, dan yang seorang adalah kemanakanmu sendiri. Raden Juwiring. Jika kau berjanji, aku tidak akan berbuat apa-apa”

“Gila, itu urusanku”

“Berjanjilah dengan janji jantan”

“Itu urusanku”

“Bukankah kau telah berjanji akan berlaku sebagai seorang laki-laki? Seorang laki-laki akan mengakui kenyataan yang dihadapinya. Jika ia kalah, ia akan mengaku kalah”

“Bukan aku yang berjanji”

“Baik” geram tukang satang, “Jika demikian, kau akan aku singkirkan dari tepian ini. Aku akan mengikatmu di atas rakit dan menghanyutkannya. Aku tidak tahu, apakah kau akan terbawa oleh arus bengawan itu sampai ke laut”

“Gila”

“Berjanjilah”

“Aku tidak peduli”

Dan sebelum mulutnya terkatup rapat, maka tiba-tiba saja rasa-rasanya tangannya akan patah terpilin. Sambil menyeringai Pangeran Hargasemi mencoba untuk melepaskan diri. Namun rasa-rasanya himpitan tangan itu justru menjadi semakin kuat, bagaikan akan meremukkan tulang.

“Pangeran, berjanjilah bahwa Pangeran tidak akan mengganggu anak-anak Jati Aking itu”

“Siapa kau? Siapa kau he?” bertanya Pangeran Hargasemi.

“Siapapun aku, tetapi berjanjilah”

“Katakan, siapa kau” suaranya terputus oleh himpitan rasa sakit.

“Sudah aku katakan, siapa aku tidak penting. Yang penting harus berjanji”

Pangeran Hargasemi tidak dapat menahan rasa sakit di tangannya. Karena itu, maka betapapun beratnya ia akhirnya berkata, “Karena kegilaanmu saja maka aku terpaksa memenuhinya”

“Terima kasih. Apapun alasannya. Aku percaya bahwa kata-kata yang Pangeran ucapkan ini adalah kata-kata seorang laki-laki. Terlebih-lebih lagi kata-kata seorang kesatria”

Perlahan-lahan tangan yang terpilin itu pun dilepaskannya. Dan sambil menyeringai Pangeran Hargasemi memijit tangannya yang kesakitan itu.

Namun tiba-tiba ia berkata, “He tukang satang. Apakah kau sangka bahwa kau dapat melawan kami semuanya?”

Tukang satang itu terkejut. Dengan heran ia bertanya, “Apakah maksud Pangeran?”

“Aku dapat memerintahkan kemanakanku untuk mengepung dan menangkapmu”

“Itu tidak mungkin. Itu tidak jantan”

“Aku tidak peduli. Tetapi kau harus ditangkap karena kau berani melawan seorang Pangeran yang berkuasa di Surakarta ini”

Tukang satang itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Jadi, maksud Pangeran, Pangeran akan ingkar janji”

“Jika perlu. Untuk menegakkan kedamaian di Surakarta”

Sejenak tukang satang itu berdiam diri. Namun kemudian, “Suatu masa yang suram benar-benar telah melanda Surakarta. Seorang bangsawan tertinggi di Surakarta sudah tidak memenuhi janjinya. Ini adalah pertanda yang buruk bagi kerajaan yang sudah rapuh ini. Sebentar lagi pasar akan kehilangan gemanya, dan telaga akan kehilangan mata airnya. Surakarta akan menjadi suatu kerajaan yang miskin. Bukan miskin harta benda karena justru akan datang berlimpah, tetapi miskin harga diri, terutama harga diri sebagai suatu bangsa”

Kata-kata itu terasa menyentuh hati para bangsawan itu. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun yang sejenak itu telah membuat setiap dada rasa-rasanya menggelepar.

Tetapi ternyata bahwa Pangeran Hargasemi sama sekali tidak mau mendengar kata-kata di sudut hatinya yang paling dalam. Bahkan ia berteriak, “Aku akan menyeretmu menghadap kumpeni yang akan menyuapimu dengan peluru. Meskipun kau mempunyai aji tameng waja-sekalipun, kau tidak akan dapat menghindarkan diri dari maut”

Tetapi tukang satang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Peluru bagiku tidak lebih berbahaya dari sebilah keris yang baik. Ujung peluru tidak akan mampu melubangi tudung kepalaku yang terbuat dari bambu ini. Tetapi keris yang baik, atau tombak Kiai Baru misalnya, akan dapat menyobek kulitku”

Pangeran Hargasemi termangu-mangu sejenak. Dan tukang satang itu berkata lagi, “Pangeran. Aku menjadi heran. Pangeran adalah seorang yang berilmu. Seharusnya Pangeran mengetahui, bahwa kita tidak perlu merasa diri kita kecil menghadapi peluru. Seharusnya Pangeran mengetahui bahwa kita dapat melindungi diri kita terhadap keganasan peluru itu”

Sejenak Pangeran Hargasemi terdiam. Sekilas terbayang kekuatan-kekuatan gaib yang pernah dimiliki oleh para bangsawan di Surakarta. Para prajurit dan penghuni-penghuni padepokan yang tersebar. Meskipun mereka tidak kebal sekalipun, namun mereka mempunyai kemampuan untuk melawan peluru. Kecepatan tangan mereka melontarkan pisau-pisau kecil dan ketepatan bidik mereka, sama sekali tidak kalah dari ketangkasan peluru kumpeni.

Tetapi ketika ia menyadari, bahwa ia berdiri di antara para bangsawan muda, dan ketika ia menyadari kekalahannya melawan tukang satang itu, kemarahannya telah membakar jantungnya kembali. Dan sekali lagi ia berteriak, “Tangkap tukang satang itu”

Para bangsawan muda itu menjadi ragu-ragu. Mereka menyadari bahwa tukang satang itu memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga untuk menangkapnya bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

Namun terdengar sekali lagi perintah Pangeran Hargasemi, “Tangkap orang itu. Aku akan melumpuhkannya, sementara kalian mengepung agar ia tidak dapat lari. Kalian dapat menyerang dari segala arah, dan kemudian menangkap dan menyeretnya, agar tidak menjadi kebiasaan tukang satang untuk menentang para bangsawan”

Sekilas tampak tukang satang itu berdiri seakan-akan membeku. Namun kemudian ia berkata, “Jangan memaksa aku melakukan perlawanan. Kalian harus menyadari, bahwa kalian adalah anak-anak ingusan yang merasa dirinya mampu melangkahi gunung Kelut. Jika aku terpaksa berkelahi melawan kalian, maka anak-anak Jati Aking itu tentu akan berpihak kepadaku. Kami berempat akan membuat kalian tidak dapat bangkit lagi sampai matahari terbit besok dan membiarkan kalian terbaring di tepian ini”

“Kalian akan digantung karena perbuatan itu” desis seorang bangsawan yang bertubuh kecil.

“Kalian tidak akan dapat menemukan aku”

“Kami akan menangkap semua tukang satang di Surakarta”

Tukang satang itu tertawa. Katanya, “Kalian tentu tidak akan dapat menemukan aku. Mungkin rakitku. Tetapi sesudah ini untuk beberapa lamanya aku tidak akan turun ke bengawan. Aku akan menghindari penangkapan yang memang mungkin saja kalian lakukan”

“Gila. Kau mengorbankan kawan-kawanmu untuk keselamatanmu”

“Bukan maksudku. Tetapi jika demikian, kalianlah yang bertindak sewenang-wenang”

Pangeran Hargasemi termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Dan kau akan mati kelaparan karena kau tidak mendapatkan nafkah untuk waktu yang panjang, karena setiap kali kami akan mencarimu”

“Ada beberapa alasan. Pangeran tidak mengenal aku dengan baik. Ada berpuluh-puluh orang tukang satang yang berpakaian seperti aku. Kemudian, aku tidak akan kelaparan meskipun aku tidak turun ke bengawan untuk waktu yang lama, karena aku juga seorang petani yang dapat hidup dari hasil sawahku. Apakah dengan demikian Pangeran juga akan menangkap semua petani di Surakarta? Atau barangkali di daerah yang lebih sempit, aku adalah petani dari Sukawati”

Pengakuan itu bagaikan guruh yang meledak di atas tepian. Anak-anak dari Jati Aking itu terkejut bukan buatan. Mereka sudah pernah mengenal petani dari Sukawati. Tetapi tiba-tiba saja di malam hari mereka sama sekali tidak dapat mengenalnya. Karena itu maka mereka pun segera mencoba untuk mengamatinya di dalam gelapnya malam.

Tetapi, rasa-rasanya orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati ini memang agak lain. Orang ini agaknya lebih pendek sedikit dari orang yang dikenalnya bernama petani dari Sukawati itu.

“Tudung kepalanya yang tinggi itulah barangkali yang membuat ia agak lain. Biasanya ia memakai caping yang rendah” berkata Juwiring di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu bukan saja ketiga anak-anak Jati Aking itu yang terkejut mendengar pengakuan tukang satang yang menyebut dirinya juga sebagai petani dari Sukawati. Beberapa orang di antara mereka pernah mendengar nama itu. Pernah mendengar seseorang menyebut dirinya petani dari Sukawati tanpa menyebut nama sebenarnya. Rudira yang pertama-tama menjumpainya pernah berceritera kepada saudara-saudaranya tentang orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu.

Karena itu, maka dada mereka menjadi semakin berdebaran. Pangeran Hargasemi yang merasa dirinya paling tua di antara para bangsawan kemanakannya itu pun berdiri termangu-mangu untuk beberapa lamanya.

“Nah Pangeran” berkata petani dari Sukawati, “Pangeran dapat menangkap semua petani dari Sukawati. Tetapi kami adalah rakyat yang tinggal di dalam daerah kalenggahan Pangeran Mangkubumi. Karena itulah maka setiap tindakan terhadap kami, para petani dari Sukawati, Pangeran harus mempersoalkannya lebih dahulu dengan Pangeran Mangkubumi”

Pangeran Hargasemi masih tetap berdiam diri. Ia menjadi bingung menghadapi keadaan yang tidak terduga-duga itu. Karena itu, maka untuk beberapa lamanya ia berdiri saja seperti patung.

Dalam pada itu, terdengar tukang satang yang juga menyebut dirinya petani dari Sukawati itu berkata, “Sudahlah Pangeran. Kita hentikan persoalan ini sampai di sini. Biarlah anak-anak Jati Aking itu pergi tanpa diganggu dan tanpa mengganggu Pangeran dan para bangsawan-bangsawan muda yang lain. Aku pun akan minta diri. Mudah-mudahan Pangeran tidak membuka persoalan dengan kakanda Pangeran, yang mempunyai kalenggahan di daerah Sukawati itu. Jika Pangeran berurusan dengan Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran agaknya akan menyesal, karena Pangeran sudah mengetahui sikap dan pendirian Pangeran Mangkubumi”

Pangeran Hargasemi sama sekali tidak menjawab. Dan orang itu berkata kepada Juwiring, “Nah Raden Juwiring. Bawalah kedua anak itu kembali. Udara malam di pinggir bengawan ini agaknya kurang baik bagi mereka dan bagi Raden Juwiring sendiri”

Juwiring menjadi ragu-ragu sejenak. Namun orang itu berkata, “Silahkan. Aku pun akan pergi dari tempat ini. Mungkin malam ini aku masih menemukan satu dua orang kemalaman yang akan menyeberang”

Juwiring yang termangu-mangu itu pun kemudian menjawab, “Terima kasih”

Orang itu tertawa. Katanya, “Selamat malam” Lalu kepada Pangeran Hargasemi ia berkata, “Ingat, jangan ganggu lagi anak-anak itu. Selamat malam”

Tukang satang itu pun kemudian melangkah surut beberapa langkah. Kemudian ia pun meloncat dan berlari di tepian yang basah kembali ke rakitnya. Namun beberapa langkah kemudian ia berhenti sebelum ia meloncat ke atas rakitnya. Sejenak ia termangu-mangu. Lalu sambil berpaling ke dalam kegelapan ia berkata, “He, kenapa kau berada di situ?”

Semua orang yang melihatnya berpaling pula kearah pandangan mata tukang satang itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

“Baiklah” berkata tukang-satang itu, “Aku akan pergi lebih dahulu”

Tukang satang yang juga menyebut dirinya petani dari Sukawati itu pun kemudian meloncat ke atas rakit. Demikian lincahnya, sehingga rakit yang berada di atas air itu seakan-akan sama sekali tidak terguncang oleh loncatannya. Bahkan lampu minyak yang berada di atas rakit itu pun masih tetap menyala berkeredipan di dalam gelap. Sepercik cahayanya yang jatuh di atas air bengawan yang berwarna lumpur itu memantul kekemerah-merahan.

Dalam pada itu, ketika tukang satang itu sudah berada di atas rakitnya, Pangeran Hargasemi pun mengumpat sambil bergeremang, “Gila. Orang gila” Lalu tiba-tiba katanya kepada Juwiring, “Kau sangka aku akan melepaskan kalian pergi. Meskipun tukang satang itu akan kembali, namun kami akan menangkap kalian bertiga. Aku akan menyelesaikannya dengan kangmas Ranakusuma. Agaknya kau merasa bahwa Senapati perang seperti kangmas Ranakusuma itu akan dapat membebaskan kau dari kesalahanmu kali ini”

Raden Juwiring termangu-mangu. Tanpa sesadarnya ia memandang tukang satang yang masih ada di atas getek di tepi bengawan.

“Kau mengharap bantuannya? Aku tidak peduli siapakah petani dari Sukawati itu. Namanya sesaat dapat mempesona kami. Tetapi jika ia turun lagi ke tepian, kami akan menangkap-nya juga”

“Gila” berkata Juwiring di dalam hatinya, “Pamanda Hargasemi memang licik sekali”

“Nah, daripada kau harus mengalami nasib yang jelek. Menyerahlah”

Tetapi Juwiring, Buntal dan Arum justru mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi.

Dalam pada itu, terdengar suara tukang satang dari. atas rakitnya, “Jadi kalian tidak mau mendengar kata-kataku?”

“Persetan”

Tukang satang itu masih berdiri tegak di dekat lampu minyak yang berkeredipan disentuh angin. Namun sebelum ia berkata sesuatu, sekali lagi para bangsawan itu terkejut. Mereka melihat seseorang melangkah mendekat. di dalam gelap, mereka hanya melihat sebuah bayangan yang kehitam-hitaman.

“Kalian benar-benar licik dan pengecut” berkata bayangan itu.

“Siapa lagi kau?” bertanya Pangeran Hargasemi, “ternyata kalian datang bukan seorang diri. Dan kalian pun akan digantung di alun-alun. Semuanya. He, apakah masih ada yang bersembunyi?”

“Tidak pamanda. Tidak ada yang bersembunyi”

“O, siapa kau?”

Bayangan itu mendekat. Beberapa langkah di hadapan Pangeran Hargasemi ia berhenti dan berkata, “Apakah pamanda tidak mengenal aku lagi?”

Sejenak Pangeran Hargasemi memandang orang itu dengan saksama. Tetapi malam menjadi bertambah gelap. Karena itu ia tidak segera mengenalnya.

“Seharusnya pamanda tidak lupa kepadaku. Bukankah belum terlalu lama aku meninggalkan Surakarta. Barangkali adimas Juwiring lebih lama berada di Jati Aking daripada aku”

“Siapa kau, siapa?”

“Said. Apakah pamanda mengenal nama itu”

“He” jantung Pangeran Hargasemi seakan-akan berhenti berdetak. Lamat-lamat ia mendengar tukang satang itu tertawa. Tetapi kini hatinya dicengkam oleh orang yang berdiri dihadapannya itu.

“Apakah pamanda mengenal aku”

“Said, Said” suara itu terdengar bergetar. Dan tiba-tiba saja ia menjadi pucat, seperti bangsawan-bangsawan yang lain.

“Maaf pamanda, bahwa aku tiba-tiba saja telah mengganggu. Adalah kebetulan saja aku berada di tempat ini”

Pangeran Hargasemi tidak segera menjawab. Dipandanginya bayangan itu dengan saksama. Dan sebenarnyalah bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Raden Mas Said.

“Pamanda” berkata Raden Mas Said, “permainan pamanda benar-benar mengerikan. Apalagi pamanda sudah mendapat peringatan dari pamanda, eh, maksudku tukang satang itu”

“Kau kenal tukang satang itu?” bertanya Pangeran Hargasemi.

“Tidak pamanda. Tetapi siapapun orang itu, namun ia bersikap jantan. Dan pamanda harus menghargainya”

“Tetapi, tetapi apa sangkut pautmu dengan permainanku ini?”

“Permainan yang menyangkut nama baik kita semua. Sikap pamanda tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan yang baik. Karena itu, seharusnya pamanda tidak melakukannya”

Pangeran Hargasemi menggeram. Katanya, “Said, kau ternyata telah berkhianat terhadap Surakarta. Jika kehadiranmu di sini diketahui oleh kumpeni, maka kau akan ditembak mati tanpa ampun”

“Jika mereka dapat melakukan, tentu sudah mereka lakukan”

“Kau licik sekali. Tetapi bukankah kau sudah berjanji kepada kangmas Pangeran Mangkubumi untuk tidak membuat kerusuhan lagi?”

“Ya. Aku sudah menyatakan kepada pamanda Pangeran Mangkubumi. Pamanda Pangeran Mangkubumi adalah orang yang sempurna bagiku. Ia seorang yang menjunjung tinggi perikemanusiaan. Dari sudut itulah terutama pandangan Pangeran Mangkubumi, kenapa ia menghentikan pemberontakanku. Pangeran Mangkubumi melihat korban semakin berjatuhan di kedua belah pihak, sedang tujuanku rasa-rasanya masih sangat jauh. Tetapi sudah barang tentu bukan maksud pamanda Mangkubumi menentang cita-citaku. Dan itu aku pahami, karena sebenarnya Pangeran Mangkubumi juga mempunyai pendirian yang sama. Tetapi karena kematangannya berpikir, maka perhitungannya jauh lebih cermat dari padaku. Dan itu aku akui” Raden Mas Said berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jika aku berjanji kepada pamanda Pangeran untuk menghentikan gerakanku untuk sementara, bukan berarti aku harus membiarkan pamanda Pangeran Hargasemi untuk berbuat sewenang-wenang, karena aku tahu, bahwa pamanda Pangeran Mangkubumi pun membenci tingkah laku yang demikian”

“Bohong. Jika kangmas Pangeran Mangkubumi melihat kau ada di sini, maka kau akan ditangkapnya. Kau tidak akan dapat menghindari tangannya yang bagaikan memiliki kemampuan seribu pasang tangan”

“Dan pamanda memiliki aji pameling dan penggendam. Jika pamanda menghendaki, pamanda dapat menangkap aku sekarang. Tetapi tidak. Dan aku yakin, pamanda Pangeran Mangkubumi mengetahui, bahwa aku ada di sini. Nah, sekarang sebaiknya pamanda Pangeran Hargasemi membiarkan adimas Juwiring dan kedua anak-anak muda Jati Aking itu meninggalkan arena permainan pamanda yang memuakkan ini. Berbeda dengan pamanda Pangeran Mangkubumi, aku adalah seorang yang kasar dan barangkali pamanda Pangeran Harga-semi akan menyebutku liar. Tetapi tidak apa. Pamanda Pangeran Mangkubumi akan berbuat dengan bijaksana. Tetapi mungkin aku akan berbuat lain. Aku akan mematahkan lengan pamanda Hargasemi dan barangkali melemparkan salah seorang dari kangmas atau dimas yang ada di sini ke dalam bengawan”

Ancaman itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Pangeran Hargasemi yang merasa dirinya mumpuni itu pun tiba-tiba telah menjadi gemetar. Raden Mas Said memang dapat berbuat apa saja seperti yang dikatakan. Apalagi apabila di dalam gelapnya malam, di balik pepohonan di pinggir bengawan itu bersembunyi orang-orangnya. Meskipun menurut penglihatan sehari-hari Raden Mas Said sudah tidak berbuat apa-apa lagi, tetapi ternyata pada suatu saat ia masih mungkin melakukan suatu tindakan yang berbahaya.

“Pamanda Pangeran” berkata Raden Mas Said, “Aku tahu benar, siapakah pamanda ini. Pamanda adalah sahabat kumpeni yang paling baik. Karena itu, sebenarnya bagi aku, adalah cukup alasan untuk melemparkan pamanda ke dalam bengawan. Tetapi sebaiknya aku mengingat pesan pamanda Mangkubumi, bahwa masih dicari jalan yang lebih baik untuk mengungkat harga diri kita sebagai bangsa di mata orang asing itu. Dan aku sebaiknya tidak berbuat sesuatu yang merugikan usaha pamanda Pangeran Mangkubumi. Tetapi jika usaha itu gagal, Pangeran Mangkubumi yang berwatak air dan api itu, akan dapat bertindak dengan dahsyat sekali. Air adalah kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, demikian juga api. Tetapi jika air itu datang bagaikan banjir bandang, dan api menyambar bagaikan lidah langit yang menyala, maka manusia adalah mahluk yang sangat lemah menghadapinya”

Kata-kata itu benar-benar telah melumpuhkan hati bangsawan-bangsawan muda yang ada di pinggir bengawan itu. Bahkan Pangeran Hargasemi pun sama sekali tidak berdaya menghadapi ancaman itu. Maka ia pun kemudian menundukkan kepalanya dengan lesu.

“Sudahlah paman” berkata Raden Mas Said aku tidak dapat terlalu lama berada di sini. Tetapi biarlah aku menyaksikan adimas Juwiring meninggalkan tempat ini bersama kedua anak-anak muda dari Jati Aking itu” lalu katanya kepada Juwiring, “tinggalkan tempat ini adimas. Bawalah Buntal dan Arum bersamamu”

Juwiring mengerutkan keningnya. Ternyata Raden Mas Said itu mengenal nama Buntal dan Arum. Tetapi Juwiring tidak sempat bertanya. Karena Said berkata, “Cepat, sebelum ada sikap yang dapat membakar dadaku, dan membuat aku kehilangan kekang atas diriku sendiri menghadapi bangsawan-bangsawan cengeng itu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Terima kasih kangmas. Aku minta diri”

“Kembalilah kepada pamanda Ranakusuma. Katakan kepada pamanda Ranakusuma, apa yang kau lihat di sini. Bukan maksudku menentang pamanda Ranakusuma, Senapati yang sulit dicari tandingnya di peperangan. Tetapi sekedar mohon agar pamanda Ranakusuma menjadi lebih mengerti menghadapi pengkhianat-pengkhianat seperti aku ini”

Juwiring menjadi berdebar-debar.

“Pergilah adimas. Mudah-mudahan kau menjadi sumber kesadaran pamanda Ranakusuma, bahwa sebenarnyalah ia sebangsa dengan aku dan dengan pamanda Pangeran Mangkubumi. Meskipun ia seorang Senapati yang pilih tanding, tetapi aku masih berharap bahwa pada suatu saat pamanda Ranakusuma menyadari kediriannya”

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan mencoba kangmas”

“Nah, pergilah”

Juwiring pun kemudian berpaling kepada Buntal dan Arum yang menghayati peristiwa itu dengan hati yang tersentak-sentak.

“Marilah kita pergi”

Buntal dan Arum tidak menyahut. Namun hampir di luar sadarnya mereka berpaling memandang ke tepi bengawan. Ternyata rakit yang semula berada di situ dengan sebuah lampu minyak dan tukang satang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu sudah tidak ada di tempatnya.

“Rakit itu sudah tidak ada” desis Arum.

“Ya” jawab Buntal sambil meloncat ke punggung kudanya.

Sejenak kemudian ketiga ekor kuda itu pun berderap meninggalkan tepian yang basah itu dengan kesan yang aneh di hati ketiga anak-anak muda itu.

“Ternyata di perut kota Surakarta ini tersimpan berbagai macam isi” desis Arum.

“Kau baru melihat sebagian” sahut Juwiring.

“Apalagi yang penting?”

“Andrawina, kembul dahar dan semacamnya di samping kemelaratan dan ketakutan. Tetapi juga perjuangan dan usaha yang tidak henti-hentinya seperti yang baru saja kita lihat”

“Ya. Aku telah salah duga terhadap Surakarta” berkata Arum, “ternyata Surakarta bukan sebuah, lumbung orang-orang yang pasrah, pengecut dan tamak. Ternyata di sini ada anak-anak muda yang terjaga seperti Raden Mas Said”

“Dengan demikian kita masih mempunyai harapan. Juga terhadap petani dari Sukawati itu”

“Petani yang aneh” desis Buntal, “Apakah keadaan semacam itulah yang dapat disebut seseorang mampu mencela putra mencala puteri?”

“Mungkin. Tetapi petani dari Sukawati itu memang menyimpan seribu kemungkinan”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berdesis, “Apa yang kita lihat sekarang atas petani dari Sukawati itu ternyata berlainan dengan yang pernah kita lihat sebelumnya, dan mungkin sekali akan berbeda dengan yang akan kita lihat kemudian”

“Tetapi orang-orang yang memiliki ketajaman pandangan akan dapat mengenalnya. Tentu kangmas Said dapat mengenalnya pula”

“Agaknya memang demikian. Tetapi apakah Pangeran Hargasemi tidak dapat mengenalnya?”

“Mungkin ia sama sekali tidak menduga, sehingga ia tidak menghubungkan petani dari Sukawati, yang datang sebagai tukang satang itu dengan pamanda Pangeran Mangkubumi”

Buntal mengangguk-angguk. Kekagumannya kepada para pemimpin yang sebenarnya masih tetap bersikap, menjadi semakin besar. Meskipun agaknya untuk beberapa langkah di permulaan itu petani dari Sukawati dan Raden Mas Said tidak sejalan, tetapi agaknya mereka mempunyai arah yang sama. Dan seperti dikatakan oleh Raden Mas Said sendiri, Pangeran Mangkubumi mempunyai pertimbangan yang lebih matang dari pertimbangan seorang anak muda.

Demikianlah mereka pun kemudian saling berdiam diri dalam cengkaman angan-angan masing-masing, sementara kuda-kuda mereka berlari-lari kecil di jalan kota yang mulai sepi. Lampu-lampu minyak berkeredipan di sudut-sudut jalan menerangi kota yang menjadi suram.

Sementara itu, di tepi bengawan, Pangeran Hargasemi dan para bangsawan yang lain pun segera bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Mereka dengan hati yang berdebar-debar melihat Raden Mas Said meninggalkan mereka.

“Tukang satang itu sudah pergi” katanya sambil berpaling, “Tetapi jangan sangka bahwa kau dapat melepaskan diri dari pengawasannya. Petani dari Sukawati itu adalah orang yang dapat melihat apa yang ingin dilihatnya. Ia tidak terkekang oleh batas dan tempat”

Dada Pangeran Hargasemi dan kemanakan-kemanakannya menjadi semakin berdebaran. Tetapi mereka sama sekali tidak menyahut.

Baru ketika Raden Mas Said hilang dari tatapan mata mereka, maka Pangeran Hargasemi pun segera pergi ke kudanya yang diikat agak jauh dari tempat itu. Para bangsawan yang lain pun setelah mengambil kuda masing-masing segera mengikutinya.

“Aku tidak tahu, siapakah yang curang” geram Pangeran Hargasemi untuk melontarkan kekecilan diri, “Said atau kangmas Mangkubumi. Menurut keterangan kangmas Mangkubumi, Said dan pengikut-pengikutnya sudah tidak akan mengganggu Surakarta lagi”

Salah seorang bangsawan muda yang mengikuti Pangeran Hargasemi itu berdesis, “Apakah petani dari Sukawati itu dapat diserahkan saja kepada pamanda Pangeran Mangkubumi?”

“Bodoh kau” bentak Pangeran Hargasemi yang sedang kecewa itu, “Kamas Pangeran tentu akan melindunginya seandainya ia tahu, siapakah orang yang menyebut dirinya tukang satang itu dan kemudian mengaku pula sebagai petani dari Sukawati. Dan hal yang serupa ini memang harus dilaporkan kepada kumpeni. Agaknya Sukawati memiliki orang-orang yang sudah terlatih dengan baik untuk menghadapi keadaan yang semakin gawat. Dan agaknya kangmas Pangeran Mangkubumi tidak sekedar bermain-main”

Bangsawan-bangsawan muda yang lain tidak menyahut. Ketika Pangeran Hargasemi kemudian meloncat ke punggung kuda, maka anak-anak muda itu pun segera berpacu meninggal-kan tepi bengawan yang menjadi senyap dan gelap.

Ternyata apa yang telah terjadi itu telah menggoncangkan hati beberapa orang bangsawan muda di Surakarta. Meskipun tanggapan mereka berbeda-beda. Yang kemudian menjadi persoalan di dalam hati mereka, justru bukannya Arum dan Buntal yang dengan sengaja telah mereka lupakan.

Yang kemudian selalu terbayang adalah sikap beberapa orang bangsawan yang terpandang di Surakarta. Paman dan kemanakan-kemanakan mereka sendiri. Alangkah jauh bedanya, bagaikan siang dan malam, dan bagaikan langit dan bumi, jika mereka bertemu dengan saudara sepupu mereka yang bernama Raden Mas Said dan juga Juwiring yang sudah beberapa lama berada di Jati Aking, dibandingkan dengan diri mereka sendiri, atau pamanda para bangsawan-bangsawan muda itu yang lain. Mereka akan tergetar juga hatinya jika mereka menyebut nama Pangeran Mangkubumi, dan beberapa orang bangsawan yang dengan tegas menentang kekuasaan kumpeni yang semakin bertambah-tambah.

Beberapa di antara mereka menjadi terguncang. Mereka mulai berpikir dan menilai diri sendiri. Apakah yang selama itu sudah dilakukan? Dan dengan susah payah mereka mencoba membayangkan sikap Juwiring, meskipun ayahandanya, Pangeran Ranakusuma adalah seorang yang termasuk dekat dengan kumpeni, apalagi ibu tirinya, ibu Raden Rudira. Lebih tajam lagi adalah sikap Raden Mas Said, yang sudah dengan tanpa tedeng aling-aling membuka medan peperangan melawan kumpeni. Dan lebih dari itu semuanya adalah sikap Pangeran Mangkubumi yang bagaikan air bengawan yang sangat dalam. Tegas, dan seakan-akan mengandung kekuatan tersembunyi yang sulit dijajagi, meskipun dilambari dengan kebijaksanaan yang matang. Namun justru kekuatan yang matang seperti kematangan sikap dan kebijaksanaannya itulah yang sangat berbahaya bagi kedudukan kumpeni di Surakarta.

Bukan saja para bangsawan yang bersikap lemah menghadapi kehadiran orang asing itu karena berbagai macam alasan, mungkin karena harta benda yang melimpah, mungkin karena didorong oleh nafsu berkuasa dan pangkat, mungkin oleh keinginan yang lain lagi yang beribu macam itulah, namun juga Raden Mas Said kadang-kadang menjadi bingung menghadapi sikap Pangeran Mangkubumi. Kadang-kadang Raden Mas Said yang muda itu tidak telaten menunggu, seakan-akan menunggu turunnya hujan di musim kering.

Ketika pada suatu saat, Raden Mas Said tidak dapat menahan hati lagi, maka ia memerlukan dengan diam-diam menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi untuk mendapatkan penjelasan tentang sikapnya yang sulit dimengerti itu.

“Pamanda, apakah aku masih harus menunggu?” bertanya Raden Mas Said, “selama ini aku mematuhi perintah pamanda agar untuk sementara aku menyingkir. Tetapi sekarang pamanda masih belum berbuat apa-apa sehingga kumpeni rasa-rasanya menjadi semakin berpengaruh atas Surakarta”

Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Katanya, “Said. Banyak hal yang masih harus dipertimbangkan. Jika aku mengambil sikap yang keras sebelum aku matang berpikir, maka yang terjadi adalah sekedar bentrokan tanpa arah. Kita berdua sudah berhasil menghindarkan diri dari benturan dan adu domba, meskipun kau harus banyak berkorban karena kau harus menarik diri dari tempat yang sudah berhasil kau duduki. Namun sementara itu, aku mendapat kesempatan untuk menyusun kekuatan. Dan dalam masa yang senggang ini, aku yakin bahwa kau pun mendapat kesempatan serupa. Kau dapat menyegarkan orang-orangmu. Jika perlu pada suatu saat semuanya akan dapat melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Sementara ini kita dapat bersikap seperti keadaan kita selama ini, seolah-olah kita adalah domba aduan yang saling bertengkar. Sokurlah bahwa ada usaha lain yang dapat dilakukan selain kekerasan”

“Tidak mungkin pamanda. Tidak akan ada jalan lain”

“Said, coba renungkan. Mungkin aku dipengaruhi oleh sikap yang cengeng sehingga aku tidak dapat bertindak seperti kau” Pangeran Mangkubumi terdiam sejenak. Kepalanya tiba-tiba menunduk dalam-dalam, dan suaranya menjadi datar, “Aku menjadi ngeri mendengar ancaman kumpeni dan ancamanmu akhir-akhir ini”

“Maksud pamanda?”

“Said. Ketika anak buahmu berhasil membinasakan enam orang kumpeni di pinggir kota, bukankah kumpeni mengeluarkan maklumat, untuk menangkap orang yang membunuh kumpeni itu. Jika dalam waktu yang ditentukan pembunuh itu tidak tertangkap, maka kumpeni akan mengambil sepuluh nyawa sebagai ganti setiap kumpeni yang terbunuh. Dan sepuluh nyawa itu adalah sepuluh nyawa bangsa kita siapapun mereka. Bersalah atau tidak bersalah”

“O” Raden Mas Said menganggukkan kepalanya, “Aku sudah menjawab pamanda”

“Bagaimana jawabmu?”

“Jika kumpeni melaksanakan ancaman itu, maka setiap orang bangsa kita yang terbunuh, aku akan mengambil sepuluh orang sebagai gantinya”

“Kumpeni?”

“Ya, atau orang yang berpihak kepada mereka dan apalagi yang terbukti membantu mereka”

Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang berat ia berkata, “Said. Aku mengerti caramu berpikir. Mungkin pada suatu saat, kita tidak dapat menghindarkan diri dari tindakan serupa itu. Tetapi sebelum kita kehilangan sepuluh ganda yang tiada akan henti-hentinya, maka aku akan mencoba menempuh jalan lain”

Raden Mas Said mengerutkan keningnya. Lalu di antara kedua bibirnya ia berdesis, “Maksud pamanda?”

“Said. Baik sepuluh orang untuk menukar jiwa seorang kumpeni, maupun kemudian sepuluh orang dari setiap orang yang terbunuh oleh kumpeni itu, adalah darah daging kita. Mungkin mereka adalah pengkhianat-pengkhianat. Mungkin mereka menodai perjuangan kita untuk menegakkan kebebasan kita. Tetapi bagiku Said, rasa-rasanya masih terlampau pedih melihat mereka menjadi sasaran kemarahan kita dan juga sasaran kemarahan kumpeni”

“Jadi maksud pamanda, agar kita bertindak lebih lunak lagi sehingga semakin banyak orang yang akan berpihak kepada orang asing itu?”

“Tidak Said. Hanya caranya sajalah yang harus kita pertimbangkan baik-baik. Jika kita dapat memberikan kesadaran kepada rakyat kita tanpa kekerasan, sehingga mereka merasa bertanggung jawab terhadap hari depan kita sendiri, maka kita akan berbesar hati”

“Pamanda. Setiap cita-cita harus dilambari kesediaan untuk berkorban. Memang mungkin akan ada korban yang jatuh. Jika kita hanya sekedar inginkan cita-cita tanpa berani mengatasi kesulitan, maka tidak ada yang akan dapat kita capai, karena setiap cita-cita tentu akan menelan bebanten. Dalam keadaan yang semakin gawat ini, tentu kita tidak dapat sekedar menunggu. Dan aku minta ijin untuk memulai kembali perjuangan yang panjang ini paman”

“Said. Aku mengerti. Jiwamu yang muda dan bergolak bagaikan api di kawah Gunung Merapi itu merupakan penggerak yang utama bagi kita. Tetapi aku minta waktu sedikit lagi. Mudah-mudahan aku berhasil, atau jika tidak, maka persiapan kita pun akan menjadi semakin matang. Jika kemudian terpaksa harus jatuh korban, apaboleh buat”

Raden Mas Said menarik nafas dalam-dalam. Ia sebenarnya tidak sabar lagi menunggu. Tetapi Pangeran Mangkubumi adalah satu-satunya orang yang disegani di Surakarta Karena itu, betapa hati menggelegak, namun ia masih tetap menahan diri. Ia masih harus bersembunyi dan menurut nasehat pamannya, agar ia tidak berbuat sesuatu. Setiap kali terngiang di telinganya, “Said, Jika aku berhasil memadamkan api yang kau nyalakan, maka aku akan mendapat banyak kesempatan mempersiapkan Sukawati. Kecurigaan terhadapku akan berkurang, dan aku dapat menuntut hak resmi atas tanah Sukawati itu. Bukan karena ketamakanku, bahwa aku mengorbankan cita-citamu sekedar untuk mendapat tanah kalenggahan yang luas. Tidak. Tetapi yang penting bahwa aku dan kau akan mendapat kesempatan menempa diri, itulah yang penting. Dengan persetujuan itu aku mendapat banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu di Sukawati, dan kau sekarang tidak lagi mendapatkan banyak pengawasan. Karena kau menghentikan kegiatanmu, maka kumpeni agaknya menganggap bahwa apimu telah hampir padam”

Raden Mas Said hanya menundukkan kepalanya saja.

“Marilah untuk sementara kita tetap dalam sikap kita. Kau pergunakan kesempatan ini untuk mempersiapkan pasukanmu yang tersebar. Sedang aku akan mempersiapkan orang-orangku. Jika kumpeni tidak mau menyadari keadaan, kita akan bergerak dengan kekerasan. Dan apaboleh buat. Namun sementara ini, aku adalah orang yang berhasil menghentikan kegiatanmu. Dan aku minta kau menerimanya dengan rela”

Raden Mas Said tidak pernah dapat menolak sikap pamannya itu. Pamannya memang seorang yang mempertimbangkan perjuangan dari segala segi. Dan pamannya tidak sampai hati melihat korban berjatuhan dari hari ke hari dan semakin lama semakin berganda.

Namun, setelah hal itu berlaku beberapa saat, ternyata kumpeni tidak juga merubah sikapnya. Setiap kali kumpeni justru menunjukkan sikap angkuhnya dan seakan-akan bahwa bangsa yang berkulit putih itu mempunyai martabat yang lebih tinggi dari bangsa yang berkulit sawo.

Dalam pada itu Pangeran Mangkubumi pun sadar, bahwa Raden Mas Said tentu akan semakin bersakit hati terhadap kumpeni, namun dalam pada itu, Pangeran Mangkubumi yang melihat kemungkinan yang tipis untuk merubah keadaan tanpa kekerasan pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Meskipun demikian, setiap kali Pangeran Mangkubumi masih diragukan Oleh hubungan kakak beradik dengan Kangjeng Susuhunan Pakubuwana.

Sebagai dua orang bersaudara, Pangeran Mangkubumi adalah adik yang dekat dari Kangjeng Susuhunan Pakubuwana. Tetapi dari sikap dan pandangan hidup, mereka semakin lama seakan-akan menjadi semakin jauh.

Raden Mas Said melihat persoalan yang rumit di dalam diri Pangeran Mangkubumi itu. Darah mudanyalah yang setiap kali mendorongnya untuk menghadap pamanda dengan diam-diam.

Dan setiap kali ia selalu mempersoalkan keadaan yang menurut pertimbangannya menjadi semakin suram.

“Aku mengerti Said” jawaban itu selalu didengar oleh Raden Mas Said yang muda.

“Kapan kita akan berbuat sesuatu pamanda. Bukan sekedar pengertian atas segalanya yang terjadi”

“Ya, ya. Kita akan berbuat sesuatu. Tetapi jika kau memperhatikan keadaan, maka sedikit demi sedikit, aku berhasil mempengaruhi Kangjeng Susuhunan. Beberapa perkembangan sikap terasa sangat menggembirakan”

“Tetapi sikap itu tidak terasa sampai ke lapisan yang paling rendah dari rakyat kita paman”

Pangeran Mangkubumi mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Said. Aku ingin sekali waktu kau datang ke Sukawati”

Demikianlah dalam waktu yang sudah ditentukan, Pangeran Mangkubumi menunggu kehadiran Raden Mas Said. Pangeran Mangkubumi tersenyum melihat Raden Mas Said itu datang sebagai seorang yang berambut putih dan membawa beberapa bilah keris.

“Kemarilah Kiai” berkata Pangeran Mangkubumi, “Aku memang memerlukan sebilah keris dapur Mendarang”

Raden Mas Said itu pun tersenyum. Tetapi ia berbisik, “Kumpeni menjelajahi padukuhan di sebelah Timur bengawan”

Pangeran Mangkubumi terkejut, “Sebelah Timur bengawan?”

“Ya paman. Tetapi karena aku telah terlanjur berjanji untuk datang, aku pun datang pula dengan cara ini”

Namun sikap kumpeni itu membuat dada Pangeran Mangkubumi menjadi bergejolak. Kumpeni sudah menjelajahi daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah tersinggung.

“Mereka mulai curiga terhadap kediamanku selama ini” desis Raden Mas Said.

“Baiklah Said. Tinggallah di sini beberapa saat” Dan yang beberapa saat itu dipergunakan oleh Raden Mas Said sebaik-baiknya. Baru kemudian setelah mengenal serba sedikit atas tanah Sukawati, ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Agaknya paman memang memiliki perhitungan yang jauh lebih matang. Kini aku tahu, bahwa sebenarnyalah pamanda tidak sedang tertidur di atas Tanah Sukawati. Maaf pamanda, sebenarnyalah sebelumnya ada dugaanku, bahwa paman mulai terlena di atas kehijauan sawah Sukawati yang subur ini”

Pangeran Mangkubumi tersenyum. Katanya, “Nah, sejak saat ini, kita memang sudah didesak untuk semakin matang menghadapi keadaan. Jika kita harus mempergunakan kekerasan, kita pun akan mempergunakannya. Namun kita harus menyadari, bahwa kita berbuat sesuatu untuk kemanusiaan dan dilandasi oleh kemanusiaan, sehingga akibat perang yang terlampau ganas dan mengerikan harus kita hindari sejauh-jauh dapat kita lakukan”

Raden Mas Said meninggalkan Sukawati dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan ia melihat, bukan saja Sukawati yang telah berhasil dibentuk oleh Pangeran Mangkubumi, namun rakyat di sekitarnya pun mulai dijalari oleh sikap yang serupa. Sehingga karena itulah, maka Raden Mas Said justru menjadi semakin mapan menilai pamandanya, Pangeran Mangkubumi. Dan bahwa sebenarnyalah pamannya telah menyiapkan diri seperti yang dikatakannya.

“Dengan persiapan yang lebih baik, kita tidak terperosok ke dalam sikap yang bodoh, seperti serangga terbang ke dalam api” berkata Raden Mas Said di dalam hatinya.

Demikianlah Surakarta benar-benar bagaikan gunung berapi yang tampaknya tenang dan Agung. Tetapi sebenarnyalah didalamnya bergolak api yang tiada tara panasnya.

Dalam pada itu di dalam kemelutnya keadaan, Pangeran Ranakusuma sebagai seorang Senapati yang berpengaruh di Surakarta, mendapat banyak keterangan dan laporan mengenai keadaan yang buram. Namun sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma sedang menghadapi keadaan yang buram di dalam dirinya sendiri, di dalam keluarganya.

Ternyata bahwa Rara Warih benar-benar tidak segera dapat dilunakkan hatinya. Bahkan ia sudah mengancam untuk meninggalkan rumah ayahnya dari pergi ke rumah eyangnya, jika Juwiring tidak segera pergi meninggalkan rumah itu.

“Warih” berkata ayahandanya, “Kau tidak boleh berkeras hati seperti itu”

“Aku akan tinggal bersama ibunda” jawab Warih, “barangkali hal itu akan lebih baik bagiku” dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa maka ibunda tidak segera kembali ke rumah ini ayah. Kamas Rudira sudah dipanggil kembali oleh Tuhan. Dan tentu saja kita tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ibunda tentu sudah mulai tenang dan menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang”

“Sudahlah Warih. Biarlah ibumu berada di rumah eyangmu untuk sementara. Jika ia sudah merasa tidak terganggu lagi ketenangannya, maka ia akan kembali dengan sendirinya”

“Ah, bukan begitu ayah. Tentu ayahanda yang harus menjemput. Bukan ibunda yang datang dengan sendirinya”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Lalu, “Sudahlah. Sebaiknya kau tidak mengganggu ketenangan ibumu. Kau harus mencoba bersikap dewasa, Warih. Kau adalah satu-satunya anak gadisku. Karena itu, kau sangat aku perlukan di sini. Tanpa kau, maka rumah ini bagaikan halaman yang tidak memiliki sebatang pohon bunga pun. Gersang”

“Tetapi ayah harus menyingkirkan anak padesan itu”

“Ia kakakmu Warih. Tidak ada bedanya dengan Rudira. Jika kau mendekatkan hatimu, maka kau akan merasakan bahwa ia benar-benar kakakmu”

“Tidak. Aku tidak dapat menerimanya. Ibunya tidak sederajat dengan ibuku”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengatakan sesuatu yang menggelepar di dalam hatinya, bahwa derajat seseorang tidak menentukan kelurusan hatinya. Bahwa Raden Ayu Galih Warit yang lebih tinggi derajatnya dari ibu Juwiring tidak menjamin bahwa hatinya lebih putih.

“Apakah anak itu harus mengetahui keadaan ibunya?” Ia bertanya kepada diri sendiri, “biarlah ia mengetahui dengan sendiri. Aku tidak sampai hati mengatakannya. Jika ia memaksa untuk pergi ke istana eyangnya, mungkin ada juga baiknya”

Ternyata pikiran itu telah mengganggu perasaan Pangeran Ranakusuma. Bahkan ia telah dicengkam oleh keragu-raguan yang dalam.

Bagi Juwiring, sikap adiknya itu selalu menggelitiknya. Justru seakan-akan merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Karena itu, ketika ayahnya sekali lagi bertanya kepadanya, maka Juwiring pun menjawab, “Ayahanda. Aku akan pergi ke Jati Aking bersama kedua saudara angkatku. Aku akan membicarakannya dengan Kiai Danatirta, apakah sebaiknya aku berada di Jati Aking atau di Surakarta”

“Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma, “Jika. tidak ada sebab sebelumnya, jawabmu tidak akan dapat aku terima. Aku adalah ayahmu. Akulah yang menentukan, sehingga kau tidak perlu bertanya dan membicarakan dengan siapapun juga. Tetapi aku tidak dapat ingkar, bahwa selama ini aku bukannya seorang ayah yang baik bagimu, sehingga aku pun tidak berani melarangmu. Pergilah dan sampaikan salamku kepada Kiai Danatirta. Aku akan minta kau dengan resmi seperti aku pernah menyerahkan kau kepadanya lewat Ki Dipanala. Karena itu biarlah Ki Dipanala menyertaimu”

Demikianlah maka Juwiring pun segera mempersiapkan dirinya. Agaknya Buntal dan Arum pun sudah merindukan padepokannya setelah untuk beberapa hari mereka berada di kota. Setelah mereka melihat betapa keruhnya udara di atas kota yang tampaknya semakin gemerlapan itu.

Diiringi oleh Ki Dipanala mereka pun mohon diri kepada Pangeran Ranakusuma untuk meninggalkan kota dan kembali ke padepokan mereka yang terasa tenteram dan damai.

“Sekali-sekali kalian harus, datang kemari” berkata Pangeran Ranakusuma.

“Terima kasih Pangeran jika hamba diijinkan untuk sekali-sekali datang kemari. Agaknya hamba berdua pada suatu saat tentu akan merindukan kota yang ramai ini dengan segala macam isinya”

“Baiklah. Kalian dapat membawa bekal yang sudah disiapkan oleh Ki Dipanala dan sekedar oleh-oleh buat Kiai Danatirta. Aku mengharap dalam waktu yang dekat Ki Dipanala kembali dengan membawa Juwiring serta, meskipun ia seterusnya akan mondar-mandir antara kota ini dan padepokan Jati Aking seperti yang aku harapkan, kalian pun berbuat demikian pula”

Dengan membawa beberapa macam pemberian dari Pangeran Ranakusuma, maka anak-anak Jati Aking itu pun segera memacu kudanya, kembali ke padepokan yang rasa-rasanya sudah terlalu lama mereka tinggalkan. Apalagi Arum, yang hampir tidak pernah berpisah dengan ayahnya untuk waktu yang agak panjang, sehingga ketika kudanya sudah berlari di luar regol kota, rasa-rasanya ia segera ingin bertemu dengan ayahnya itu.

“Selama ini tentu ayah pergi ke sawah seorang diri” katanya.

“Tentu tidak Arum. Beberapa orang cantrik dapat membantunya”

“Mereka kadang-kadang masih belum dapat dipercaya melakukan pekerjaan penting, sehingga tentu ayah sendiri yang melakukannya. Mereka bekerja tanpa berpikir selain mempergunakan tenaganya saja”

Buntal mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

Rasa-rasanya perjalanan kembali ke padepokan Jati Aking itu terlampau lama lagi Arum. Namun kesegaran udara padesan membuatnya segar setelah untuk beberapa lama, rasa-rasanya nafasnya tercekik oleh kehidupan kota. Semula Arum berpendapat, bahwa orang-orang kota, terutama para bangsawan adalah orang-orang yang hidup dengan ikatan-ikatan yang membatasi gerak dan tingkah laku mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang sopan, lembut dan bahkan hampir tidak berbuat sesuatu jika tidak perlu. Juwiring merupakan contoh gambaran tentang para bangsawan. Menurut Arum, Juwiring adalah bangsawan yang tersisih dan sudah lama hidup di padesan sehingga bangsawan yang tinggal di kota tentu lebih lembut dan beradab dari padanya. Namun ternyata ia keliru. Kota yang kaya itu adalah kota yang dipenuhi dengan nafas yang kotor dan kasar. Beberapa bangsawan yang dijumpainya di pinggir bengawan ternyata mempunyai sifat dan watak yang jauh lebih kasar dari para petani. Para petani betapapun kasarnya, namun pada umumnya memiliki kejujuran. Tetapi tidak bagi mereka yang ada di pinggir bengawan itu.

Namun betapapun lambatnya menurut perasaan Arum, kuda-kuda itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Jati Aking. Sekali-sekali mereka memang perlu beristirahat dan memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka yang berpacu itu untuk meneguk air bening di parit yang mengalir di pinggir jalan, dan makan rerumputan hijau yang segar.

Dalam pada itu, ternyata Rara Warih di Surakarta, tidak dapat dicegah lagi oleh ayahandanya. Dengan keras ia memaksa untuk pergi ke rumah kakeknya.

“Sebaiknya kau berpikir lebih jernih lagi Warih” berkata ayahnya, “Kau jangan membuat ibundamu semakin bersedih”

“Bukan aku. Tetapi ayahanda”

“Kenapa aku Warih”

“Ayahanda menyuruh anak Jati Aking itu untuk kembali lagi kemari. Bahkan ayahanda menyertakan Ki Dipanala untuk menyampaikannya kepada gurunya agar ia diperkenankan kembali. Sudah aku katakan ayahanda, bahwa aku tidak dapat menerimanya di rumah ini seperti yang pernah dikatakan oleh ibunda. Apalagi sepeninggal kangmas Rudira. Anak itu tentu merasa menjadi raja di rumah ini, dan aku adalah sekedar inang pengasuhnya”

“Jangan berprasangka Warih. Juwiring sudah biasa berprihatin sejak kecil. ia tidak akan berbuat seperti itu”

“Aku harus mendengar pendapat ibunda dahulu ayahanda”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam Dan karena ia tidak dapat mencegah lagi, maka diperintahkannya menyiapkan kereta untuk mengantarkan Warih ke rumah kakeknya.

Kedatangan Warih seorang diri telah mengejutkan eyangnya, Pangeran Sindurata, sehingga dengan tergesa-gesa ia menyongsong cucunya yang dikasihinya itu.

“Warih, kau sendiri?” bertanya Pangeran Sindurata. Warih merendah sedikit sambil menjawab, “Ya eyang”

“Dimana ayahmu?”

“Ayah ada di rumah, eyang”

“Jadi ia sampai hati melepaskan kau sendiri?”

“Sebenarnya ayahanda berkeberatan aku datang kemari. Tetapi aku telah memaksa. Dan ayahanda tidak mengantarkan aku selain memerintahkan menyiapkan kereta dan saisnya”

“O Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Marilah masuklah”

Warih pun kemudian mengikuti Pangeran Sindurata masuk ke dalam. Sejenak ia termangu-mangu, lalu ia pun bertanya seolah-olah di luar sadarnya, “Dimanakah ibunda?”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Duduklah dahulu. Bibimu ada di sini”

“Bibi?”

“Ya” sahut eyangnya. Dan sebelum ia meninggalkan Warih seorang perempuan bangsawan telah muncul dari balik pintu. Ia adalah adik kandung Raden Ayu Galihwarit yang mempunyai hubungan gelap dengan Pangeran Ranakusuma.

“Kau Warih, “ sapanya sambil tersenyum.

Warih pun tertawa sambil menyahut, “Ya bibi. Sudah lama bibi datang?”

“Sudah tiga hari aku berada di sini. Aku mengawani ibumu Warih”

“O” Ia berdesis, “Apakah ibunda masih belum sembuh dari kejutan itu”

Bibinya tidak segera menyahut. Tetapi ia pun kemudian duduk di sisi Warih sambil berkata, “Duduklah dahulu. Biarlah para pelayan menghidangkan minuman. Kau tentu haus”

“Ya, duduklah dahulu Warih” berkata Pangeran Sindurata, “Aku akan ke pendapa”

Pangeran Sindurata pun kemudian pergi ke pendapa dengan hati yang berdebar-debar. Jika Warih berkeras untuk menjumpai ibundanya, maka gadis itu akan menjumpai kekecewaan. Meskipun kadang-kadang Raden Ayu Galih Warit sudah cukup sadar, namun kejutan yang kecil saja dapat membuatnya kambuh kembali dan mengigau tanpa terkendali. Jika ia melihat Warih, maka kemungkinan itu akan dapat terjadi, karena Warih akan menuntun kenangannya atas Raden Rudira, yang mati di hadapan hidungnya tanpa diketahuinya. Bahkan di dalam saat-saat tertentu Galih Warit telah merasa bersalah, seolah-olah ia sendirilah yang telah membunuhnya.

Dengan kepala tunduk Pangeran Sindurata itu berjalan di sepanjang tangga pendapa. Hatinya yang gelisah membuatnya bimbang, seakan-akan hari-harinya telah menjadi gelap.

Pangeran Sindurata terkejut ketika tiba-tiba saja ia melihat seseorang berjongkok di bawah tangga. Sambil menyembah orang itu berkata terbata-bata, “Ampun Pangeran. Apakah hamba harus menunggu cucunda atau hamba sudah diperkenankan mendahului kembali ke Ranakusuman?”

Pangeran Sindurata mengerutkan keningnya. Dipandanginya sais itu sejenak, lalu ia pun bertanya, “Siapa kau?”

“Hamba adalah sais kereta Pangeran Ranakusuma yang mengantarkan puteri kemari?”

“O, kau yang mengantarkan Warih?”

“Hamba Pangeran”

“Pergilah. Biarlah Warih di sini. Jika ia memaksa kembali, biarlah keretaku dipergunakannya”

“Hamba Pangeran. Jika demikian maka hamba akan mohon diri”

Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Ia berjalan lagi hilir mudik. Tetapi ketika ia melihat kereta itu bergerak, maka timbullah pikirannya yang lain, sehingga tiba-tiba saja ia bertepuk tangan keras-keras sambil berteriak, “Berhenti, he, berhenti”

Seorang juru taman yang mendengarnya dan mengerti maksudnya segera berlari-lari menghentikan kereta yang sudah bergerak maju.

Pangeran Sindurata pun kemudian melambaikan tangannya memanggil sais yang dengan tergesa-gesa meloncat turun dari keretanya dan menghadap Pangeran Ranakusuma Dengan kepala tunduk ia pun kemudian berjongkok dibawah tangga pendapa.

“Jangan pergi dahulu. Mungkin Warih tidak akan terlalu lama tinggal di sini. Taruhlah kereta itu di tempat yang terlindung oleh terik matahari, dan barangkali kau dapat memberi minum dan makan kuda-kudamu lebih dahulu. Dan jika kau sendiri haus, pergilah ke belakang”

Sais itu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Hamba Pangeran”

Pangeran Sindurata tidak menghiraukannya lagi. Ia pun berjalan pula hilir mudik di tangga pendapa.

“Mudah-mudahan Warih dapat dibujuk oleh bibinya” berkata Pangeran Sindurata itu di dalam hatinya.

Namun agaknya Warih yang keras hati itu ingin bertemu dengan ibunya betapapun bibinya membujuknya.

“Aku akan membicarakan dengan ibunda. Anak Jati Aking itu kini merasa dirinya terlalu berkuasa di istana Ranakusuman” katanya dengan suara yang dalam.

“Apa yang sudah dikerjakan? Apakah ia pernah berbuat kasar terhadapmu, Warih?”

Rara Warih termangu-mangu sejenak, ia mencoba mencari jawab. Tetapi ia menjadi bingung sendiri, karena ia tidak menemukan sesuatu yang dapat disebutnya sebagai jawaban. Juwiring memang belum pernah berbuat apa-apa.

Karena itu untuk beberapa saat Rara Warih justru terdiam sambil menundukkan kepalanya.

“Warih” berkata bibinya, “Sudahlah. Jika anak itu memang tidak berbuat apa-apa, biarlah untuk sementara ia tinggal di sana jika memang ayahandamu menghendaki. Tetapi jika ibundamu sudah baik sama sekali, biarlah ia berusaha mengusirnya seperti yang pernah dilakukannya”

“Tidak bibi. Orang itu harus segera pergi”

Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Sudahlah, tenanglah. Segala sesuatunya akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Percayalah”

Warih menjadi gelisah. Ia tahu bahwa Juwiring akan minta diri kepada gurunya di Jati Aking dan kemudian akan tinggal di istana Ranakusuman. Dan itulah yang membuatnya terlampau gelisah. Jika ibunya dapat diajaknya berbicara, maka ibunya tentu akan menentangnya. Biasanya ayahandanya tidak pernah menentang jika ibundanya sudah bersikap agak keras.

Tetapi ibunya kini sedang dalam keadaan yang lain.

Sejenak Rara Warih duduk bersama bibinya. Seorang pelayan menghidangkan semangkuk minuman panas dan beberapa potong makanan.

Rara Warih sudah terbiasa makan jenis makanan yang lain dari makanan yang dijumpainya di Surakarta. Makanan yang dihidangkan itu pun sejenis makanan yang datang oleh pengaruh kumpeni.

Tetapi ketika Rara Warih sudah minum seteguk dan makan sepotong makanan, ia pun mendesak lagi kepada bibinya untuk bertemu dengan ibunya.

“Warih. cobalah mengerti. Apakah kau tidak kasihan kepada ibumu? Pertanyaanmu dapat menimbulkan persoalan baru di dalam dirinya. Jika kau memang tidak mau tinggal bersama anak yang kau sebut berasal dari Jati Aking itu, tinggallah untuk beberapa saat di rumahku”

Rara Warih mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh atas tawaran itu. Biasanya ia berada di rumah eyangnya, dan bahkan beberapa orang sepupunya pun berada di rumah ini. Tetapi kini bibinya menawarkan agar ia tinggal diminatinya.

“Pikirkan baik-baik Warih” berkata bibinya.

“Bibi” bertanya Warih kemudian, “Jika aku tidak ingin tinggal di rumahku sendiri, kenapa aku tidak tinggal pada eyang di sini?”

Bibinya tersenyum. Katanya, “Ibumu memerlukan ketenangan Warih”

Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Namun keinginannya untuk bertemu dengan ibunya justru menjadi semakin mendesak. Meskipun demikian, ia mencoba menahan diri. Namun demikian di luar sadarnya ia berkata, “Pintu bilik ibunda bibi. Apakah ibunda tidak terganggu oleh angin. Apakah tidak sebaiknya pintu itu ditutup?”

Bibinya menjadi termangu-mangu. Ia mendapat kesulitan untuk menjawab, karena sebenarnya Raden Ayu Galih Warit tidak berada di dalam bilik yang terbuka itu. Meskipun demikian, bibinya itu pun berdiri dan melangkah menutup daun pintu yang terbuka itu.

“Ibundamu sedang tidur nyenyak” berkata bibinya.

“Apakah aku dapat menengoknya? Bukankah selagi tidur ibunda tidak melihat aku”

“Duduklah” bibinya mencegah, lalu, “Warih. apakah kau pernah menjumpai makanan jenis ini? Kami mendapatkan dari seorang perwira kumpeni. Makanan ini disimpan dalam tempat tertutup yang rapat”

Tetapi Warih mengangguk. Katanya, “Ayahanda mempunyai banyak jenis makanan semacam ini”

“O” bibinya mengangguk-angguk. Namun ia menjadi gelisah karena nampaknya Warih pun menjadi gelisah.

Dalam pada itu, maka Pangeran Sindurata pun kemudian ikut duduk bersama dengan mereka. Dicobanya untuk membicarakan berbagai masalah yang tidak menyangkut Raden Ayu Galihwarit. Namun setiap kali Rara Warih lah yang selalu menyebut-nyebut nama ibundanya.

Dengan demikian, maka baik Pangeran Sindurata. maupun bibi Warih itu menjadi cemas. Apakah jika Rara Warih berada di istana itu sehari penuh, mereka akan tetap dapat memaksanya untuk duduk di tempatnya tanpa mendapatkan ibundanya sama sekali?

Dalam pada itu. ketika Rara Warih sedang pergi ke pakiwan, bibinya pun berkata, “Ayahanda, sebenarnya Warih pun sudah dewasa”

Ayahnya, Pangeran Sindurata tidak segera menjawab. Direnunginya wajah anak perempuannya itu. Namun ia tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam hati anaknya itu.

Sebenarnyalah, bahwa di dalam hati perempuan bangsawan itu justru dijalari oleh pikiran yang aneh. Sejak Raden Ayu Galihwarit tidak lagi mungkin diterima di istana Ranakusuman sebelum ia sembuh benar-benar, ia merasa seakan-akan mendapat kebebasan yang lebih luas untuk berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma. Karena itu, kadang-kadang ia harus berjuang untuk menindas godaan itu. Meskipun demikian, sepercik kabut yang kelam telah meliputi hatinya. Apakah salahnya jika Warih mengetahui keadaan ibunya dan kemudian karena itu ia menjadi sakit hati dan kehilangan segala gairah hidupnya? Bukankah dengan demikian berarti bahwa Pangeran Ranakusuma menjadi semakin bebas untuk berbuat apa saja? Sedangkan anak laki-lakinya yang pernah berada di Jati Aking itu tentu tidak akan banyak mencampuri persoalan ayahandanya, karena bahwa ia diijinkan kembali ke istana itu pun agaknya telah membuatnya berterima kasih sampai ke ujung ubun-ubun.

“Tetapi bagaimana jika Warih justru menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada ayahandanya setelah ia dikecewakan oleh ibunya?” pertanyaan itu timbul juga di dalam hati bibi Warih itu. Tetapi lalu dijawabnya, “Pangeran Ranakusuma adalah seorang Senapati, ia tentu terlampau sering meninggalkan rumahnya dan anak-anaknya dengan alasan apapun. Dan Warih tidak akan dapat mencegahnya meskipun di saat-saat Pangeran Ranakusuma ada di rumahnya, gadis itu menjadi sangat manja”

Karena itu, maka selagi Pangeran Sindurata masih termenung, ia pun berkata selanjutnya, “Ayahanda, lambat atau cepat, akhirnya Warih pun akan mengetahuinya pula”

Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian berkata, “Tetapi tidak sekarang. Hatinya masih terlalu getas. Justru karena Juwiring ada di istananya pula, Biarlah aku menyuruhnya kembali saja. Aku telah menahan keretanya agar menunggu”

“Tetapi alasan apakah yang harus kita katakan kepadanya ayahanda?”

“Katakan, bahwa ibundanya masih belum dapat menemui siapapun.”

“Aku sudah terlanjur mengatakan bahwa ibunya sedang tidur nyenyak. Dan sudah barang tentu ia menunggu sampai ibunya terbangun”

Pangeran Sindurata menjadi bingung, sehingga ia tidak sempat berpikir apapun lagi. Apalagi ketika kepalanya mulai pening, maka katanya, “Kepalaku mulai sakit. Tengkukku rasa-rasanya menjadi tegang. Penyakitku akan kambuh kembali jika aku harus memecahkan persoalan yang sangat rumit ini bagiku. Karena itu, terserah saja kepadamu. Tetapi kau harus sadar, bahwa jika Warih mengetahui keadaan ibunya, ia akan mengalami kejutan yang tidak kalah dahsyatnya seperti saat Rudira meninggal. Dan kau harus bersiap menghadapi persoalan itu. Jika terjadi apa-apa dengan Warih di sini, maka persoalan kita dengan Pangeran Ranakusuma akan menjadi semakin bertambah-tambah. Kebenciannya kepadaku akan menjadi berganda. Tetapi aku pun akan menjadi muak melihatnya”

Anak perempuannya itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menjawab, “Mudah-mudahan Warih cukup tabah. Persoalan itu akan datang juga akhirnya. Bukankah ayahanda dapat menduga bahwa Pangeran Ranakusuma tidak berkeberatan melepaskan Warih dengan kemungkinan serupa itu? Ternyata Warih diperkenankan datang sendiri. Bahkan kareta itu diberikannya untuk mengantarkan Warih. Apakah hal ini bukan suatu isyarat, bahwa ayahandanya tidak berkeberatan jika Warih mengetahui persoalan yang sebenarnya, justru karena ia sudah dewasa?”

Pangeran Sindurata memijit tengkuknya yang mulai sakit. Katanya, “Terserah kepadamu. Aku akan berbaring. Aku akan minum perahan daun selederi itu, agar kepalaku tidak terlanjur sakit”

Ketika kemudian Rara Warih kembali dari Pakiwan, maka Pangeran Sindurata telah tidak ada di ruangan tengah. Pangeran tua itu telah berada di dalam biliknya dan berbaring sambil memejamkan matanya.

Sejenak Rara Warih termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya tentang eyangnya yang tidak tampak duduk di antara mereka.

“Warih” berkata bibinya kemudian, “sebenarnya sangat berat bagiku dan eyangmu, untuk mempertemukan kau dengan ibundamu. Karena agaknya kejutan itu masih mempengaruhinya selama ini”

“Tetapi bibi, aku kira aku harus bertemu dengan ibunda segera sebelum kangmas Juwiring itu kembali ke istana Ranakusuman. Jika ibunda sempat membicarakan dengan ayahanda, maka tentu ayahanda sempat mengirimkan utusan untuk mencegah kedatangan anak Jati Aking itu”

Sejenak bibi Warih itu dilanda oleh kebimbangan. Sekali-sekali ia masih mencoba mempertahankan dirinya dari godaan perasaan dan nafsunya. Namun ternyata bahwa ia tidak dapat melawannya lagi sehingga akhirnya ia berkata, “Terserahlah kepadamu Warih. Tetapi aku dan eyangmu telah mencoba mencegahmu. Jika terjadi sesuatu dengan ibumu, itu adalah kesalahanmu”

“Ah” desah Rara Warih, “Kenapa bibi berkata demikian?”

“Aku tahu bahwa ibundamu belum sembuh sama sekali”

Rara Warih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan berhati-hati. Aku hanya ingin memohon agar ibunda sudi mengurungkan niat ayahanda memanggil kangmas Juwiring. Jika ibunda masih akan beristirahat di sini, aku hanya ingin ibunda menulis surat kepada ayahanda, bahwa ibunda tidak sependapat jika anak Jati Aking itu kembali lagi ke istana. Jika ayahanda masih memikirkan kesehatan ibunda untuk seterusnya, maka tentu ayahanda akan mengabulkannya. Sebab jika tidak maka ibunda tidak akan segera mendapatkan ketenangannya kembali”

Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Terserah kepadamu Warih. Jika kau ingin bertemu, marilah”

Rara Warih menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian berdiri ketika bibinya pun berdiri pula.

“Ibundamu ada di bilik belakang Warih”

“O” Rara Warih terkejut, “Apakah ibunda tidak ada di dalam bilik itu?”

“Di sini agaknya terlalu ribut bagi ibundamu yang memerlukan ketenangan”

Rara Warih tidak menyahut lagi. Ia mencoba mengerti keterangan bibinya itu. Dan ia pun kemudian melangkah mengikuti bibinya ke bilik belakang, meskipun masih ada di dalam lingkungan istana dalam.

Sejenak Warih berpaling memandangi pintu yang tertutup. Ia mengira bahwa ibunya ada di dalam ketika pintu itu terbuka. Ternyata ibundanya tidak ada di dalam bilik itu.

Dengan langkah yang bimbang Rara Warih mengikuti bibinya. di depan pintu bilik yang tertutup mereka berhenti sejenak. Bibinya masih sempat berkata, “Jangan membuatnya terkejut dan bersedih Warih”

Warih mengangguk, “Ya bibi”

Perlahan-lahan bibinya membukakan pintu bilik itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Apakah kau menjadi semakin baik?”

Terdengar sebuah tarikan nafas yang dalam.

“Masuklah”

“Aku datang mengantarkan Warih”

“Warih. Warih ada di sini?” bertanya Raden Ayu Galih Warit yang berbaring di pembaringannya.

Warih yang menahan kerinduannya tidak dapat bersabar lagi. Tiba-tiba saja ia berlari dan memeluk ibunya yang masih tetap berbaring.

“Ibunda” desisnya, “ibunda sudah sembuh sama sekali?”

Sambil membelai rambut anaknya Raden Ayu Galih Warit berkata, “Aku sudah menjadi semakin baik Warih”

Setitik air mata jatuh dari pelupuk Rara Warih. Katanya dengan suara serak, “Aku sudah sangat rindu. Dan aku menunggu ibunda setiap saat”

Ibunya tersenyum. Katanya, “Jika ibunda sudah baik sama sekali, ibunda akan segera kembali”

“Tentu ibunda. Jika sekiranya ibunda sudah sanggup, sebaiknya ibunda segera kembali. Nanti aku akan melayani semua kebutuhan ibunda”

Raden Ayu Galih Warit menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika hatinya akan tergelincir ke dalam kepedihan, dengan sekuat tenaganya ia bertahan, dan mencoba menyingkirkan segala perasaannya, justru karena anak gadisnya ada di dalam bilik itu.

Ternyata Raden Ayu Galih Warit berhasil. Di dalam hatinya Raden Ayu Galih Warit itu berkata, “Aku tidak boleh kehilangan kesadaran selagi Warih ada di sini. Aku harus tetap menyadari setiap kata yang aku ucapkan. Dan aku harus bertahan dari deraan perasaan yang hampir tidak tertanggungkan lagi”

Dengan pemusatan segenap akal budi, maka untuk beberapa saat Raden Ayu Galih Warit ternyata mampu bertahan. Ketika kenangannya hampir saja menyentuh Rudira, dengan cepat ia menekannya dan mencoba memusatkan segenap perhatiannya kepada Rara Warih.

“Warih” katanya sambil mengusap rambut anaknya, “kau datang pada saat yang baik”

“Ya ibu. Aku mengharap agar kedatanganku tidak mengganggu ketenangan ibunda”

“Tidak Warih. Kau justru membuat aku menjadi gembira”

Warih menekankan kepalanya ke dada ibunya. Rasa-rasanya seperti kehangatan di masa kanak-kanaknya tidur bersama ibunya di malam yang sepi.

Bibinya yang masih berdiri di muka pintu menjadi tertegun melihatnya. Agaknya kehadiran Warih membuat hati ibunya semakin cerah.

“Tetapi jika Warih mulai membicarakan persoalannya, maka yang akan terjadi agaknya berbeda sekali” katanya di dalam hati.

Tetapi untuk beberapa saat Warih tidak mengatakan apa-apa.

“Duduklah” terdengar suara Raden Ayu Galih Warit kepada adiknya.

Perlahan-lahan ia melangkah maju dan duduk di atas sebuah tempat duduk dari kayu yang beralaskan beludru.

“Ibunda” berkata Warih kemudian sambil mengangkat wajahnya dan bahkan kemudian bangkit dan duduk di sisi ibundanya, “Aku berharap agar ibunda segera sembuh dan kembali ke rumah. Rumah kita menjadi sepi dan rasa-rasanya kering”

Raden Ayu Galih Warit tersenyum. Hampir saja ia terlempar ke dalam kenangan yang dapat menyuramkan kesadarannya. Namun ia kemudian berkata, “Jika aku sudah sembuh Warih, aku akan datang”

Rara Warih mengangguk-anggukkan kepalanya. Terlintas di dalam bayangan angan-angannya, Juwiring mulai berkuasa di istana Ranakusuman dan memerintah para abdi dan pelayan. Karena itu. ia tidak lagi dapat mengendalikan diri lagi. Rasa-rasanya semua yang tersimpan di dalam hatinya, akan ditumpahkannya kepada ibundanya tanpa mengingat keadaan-nya.

Tetapi sebelum ia mengucapkan sesuatu, maka sambil tersenyum Raden Ayu Galih Warit berkata, “Warih. Aku tahu, bahwa banyak sekali persoalan yang akan kau katakan kepadaku. Tetapi aku minta, kau menahankannya di dalam hatimu. Aku masih terlalu lemah, Warih. Bukan saja badani, tetapi juga rohani. Setiap kejutan, setiap persoalan yang berat, masih dapat membuat aku kehilangan kesadaran. Ketahuilah, bahwa saat ini aku sedang berjuang untuk mempertahankan kesadaranku. Agaknya aku berhasil. Tentu saja dengan kerelaanmu menahan hati”

“O” Rara Warih berdesah. Tetapi ketika ia melihat wajah ibunya yang meskipun dibayangi oleh sebuah senyuman di bibirnya, namun wajah itu terlampau pucat, ia tidak dapat menolaknya. Katanya, “Memang ada yang akan aku katakan ibunda. Tetapi jika ibunda tidak dapat mendengarkannya sekarang, barangkali di saat lain”

“Terima kasih Warih”

“Meskipun demikian ibunda” berkata Rara Warih kemudian, “Apakah aku diperkenankan menyebut sebuah saja dari persoalan yang paling cepat harus diselesaikan?”

Raden Ayu Galih Warit mengerutkan keningnya. Namun ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Jangan Warih, jangan sekarang”

Sebuah kekecewaan memercik di wajah Warih. Ia ingin mengatakan persoalan Juwiring, agar ibunya pun dapat mengambil sikap segera. Tetapi ia menjadi ragu-ragu melihat keadaan ibunya.

Yang menjadi kecewa ternyata bukan saja Warih. Tetapi bibinya pun menjadi kecewa. Ia ingin melihat Warih terkejut dan kemudian kehilangan segala gairah hidupnya apabila ia mendengar ibunya mengigau tentang dirinya sendiri, sambil menyebut beberapa nama laki-laki. Dan laki-laki itu adalah kumpeni.

Tetapi yang didengarnya adalah suara Rara Warih, “Baiklah, ibu. Jika ibu memang tidak berkenan, biarlah aku kembali besok atau lusa. Tetapi secepat-cepatnya”

Raden Ayu Galih Warit menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia harus memusatkan segenap pikiran dan perasaannya untuk melawan gangguan pada pusat syarafnya. Dengan sepenuh kemauan ia memalingkan perasaannya.

Bahkan Raden Ayu Galih Warit itu tersenyum, “Kau memang sangat bijaksana Warih. Kau adalah anakku yang paling baik. Sekarang, tolong ibunda akan minum”

“O” Rara Warih pun kemudian berdiri. Sejenak ia memandang bibinya, seakan-akan ia ingin bertanya dimanakah letak. mangkuk minuman ibundanya. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, ia mengatakan sesuatu, ia sudah melihat sebuah mangkuk di atas nampan. Beberapa macam buah-buahan dan makanan.

Dengan cekatan Rara Warih mengambil mangkuk itu dan menyerahkannya kepada ibunya.

Setelah minum seteguk, maka Raden Ayu Galih Warit tersenyum pula sambil berkata, “Terima kasih Warih. Aku merasa segar hari ini. Aku akan mencoba untuk tidur sejenak. Apakah kau akan bermalam di sini?”

Rara Warih ragu-ragu. Tetapi ibunya meneruskan, “Kembali sajalah ke ayahmu. Ayahmu sendiri. Barangkali kau diperlukan-nya”

“Akulah yang selalu sendiri ibunda. Ayah terlampau sering menghadap ke istana”

Ibunya mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Baiklah. Tetapi lebih baik bagimu ada di rumah. Supaya ada yang disegani oleh para abdi dan pelayan”

Rara Warih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku membawa kereta ayahanda” berkata Rara Warih, “dan kereta itu memang masih menunggu di halaman”

Ibunya tertawa, “Baiklah. Agaknya kau memang akan segera kembali”

Rara Warih pun kemudian minta diri. Betapapun ia merasa kecewa, tetapi ia harus menahan diri agar ibundanya tidak mendapat kejutan lagi.

Rara Warih pun kemudian meninggalkan bilik itu betapapun ia merasa kecewa, seperti juga bibinya yang kecewa meskipun alasannya berlainan.

“Jika tidak sekarang, pada saatnya Warih akan mengetahui” katanya di dalam hati, “Jika ibundanya telah sembuh, maka akan timbul persoalan pada keluarga itu. Apakah kangmas Ranakusuma dapat menerimanya kembali”

Namun belum lagi mereka meninggalkan pintu bilik itu terlalu jauh, langkah mereka tiba-tiba tertegun. Mereka mendengar suara isak di dalam bilik itu.

Sepeninggal Rara Warih agaknya ibundanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Tiba saja tangisnya meledak. Seperti biasanya ia mulai dilanda oleh penyesalan yang tiada taranya.

Sejenak Rara Warih dan bibinya tertegun. Namun ketika Rara Warih akan berlari mendapatkan ibunya yang sedang menangis maka lengannya ditarik oleh bibinya dengan gerak naluriah sambil berkata, “Jangan Warih”

“Tetapi ibunda menangis”

“Jangan”

Rara Warih mengibaskan tangan bibinya. Kemudian ia pun berlari masuk ke dalam bilik itu.

Ketika pintu bergetar, maka tiba-tiba saja tangis Raden Ayu Galih Warit terputus. Ditatapnya anak gadisnya yang berlari memasuki ruangan itu. Namun ternyata syarafnya sudah mulai terganggu. Ketika ia melihat Rara Warih mendekatinya, tiba-tiba saja ia justru tertawa sambil berkata, “He, kenapa kau datang berlari-lari. Aku tidak akan pergi sebelum kau memberikan senjata itu”

Rara Warih terkejut bukan buatan. Wajah ibunya sudah berubah sama sekali, sehingga Rara Warih justru melangkah surut.

Suara tertawa ibunya menjadi semakin keras. Namun tiba-tiba suara tertawa itu terputus. Sejenak ia memandang Rara Warih. Namun kemudian ia pun menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya di bawah kedua telapak tangannya.

“Bukan aku yang membunuh. Bukan. Bukan”

“Bibi” Warih pun menjadi gemetar. Dan tiba-tiba saja ia berlari memeluk bibinya.

“Tenanglah Warih”

“Bibi. Apakah yang telah terjadi dengan ibunda?”
“Tidak apa-apa Warih. Tetapi itu adalah sisa-sisa dari kejutan yang tidak terhindarkan lagi”

“Tetapi, tetapi ibunda menangis”

Bibinya tidak menyahut. Dan tanpa dapat dikekang lagi, maka mulailah Raden Ayu Galih Warit mengigau sepatah-sepatah.

“Warih” berkata bibinya, “biarlah aku memanggil emban yang sudah biasa melayani ibundamu”

“Aku takut bibi. Aku takut”

Bibinya termenung sejenak, lalu, “Marilah. Ikutlah” Rara Warih pun kemudian mengikuti bibinya memanggil emban yang sudah biasa melayani Raden Ayu Galih Warit jika gangguan syarafnya kambuh kembali.

Namun dalam pada itu, meskipun hanya sekilas, Warih pun sempat mendengar igauan ibunya. Sepatah-patah yang didengarnya membuat hatinya berdebar-debar. Seakan-akan ia mendengar suara baru yang mengemandang dari dunia yang asing baginya.

Mula-mula Warih tidak tahu arti dari igauan yang sepotong-sepotong itu. Namun sebagai seorang gadis yang meningkat dewasa, terasa sentuhan-sentuhan pada dinding hatinya. Semakin lama terasa semakin dalam dan pedih.

“Bibi” Wajah Rara Warih menjadi pucat.

Melihat wajah yang seputih kapas itu, bibinya pun terkejut pula. Keringat dingin yang membasahi wajah itu, seolah-olah Warih baru saja selesai mandi.

Sepercik kekecewaan meloncat di hati bibinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan Warih sudah mendengar sebagian besar dari rahasia ibunya yang selama ini tersembunyi baginya

Warih yang sama sekali tidak siap mengalami kejutan semacam itu, bahkan bermimpi pun ia tidak berani membayang-kannya, tiba-tiba ia telah terbentur pada kenyataan itu. Karena itu, maka nadinya bagaikan tidak berdaya lagi. Sesaat ia mencoba bertahan. Namun kemudian matanya menjadi gelap dan gadis itu pun menjadi pingsan.

Ketika Warih sadar, ia sudah berbaring di dalam bilik depan. Dilihatnya bibinya duduk di sebelahnya sambil mengusap air mata. Ia benar-benar menyesal melihat akibat yang terkesan di hati gadis itu.

Di sebelah pembaringan itu, Pangeran Sindurata duduk dengan tegangnya. Kepalanya dibalut dengan ikat kepalanya untuk menahan pening yang bagaikan menyengat tengkuk.

“Eyang” Warih mulai menangis, “Apakah yang sebenarnya sudah terjadi atas ibunda?”

“Sudahlah Warih” berkata Pangeran Sindurata, “Jangan hiraukan”

“Tetapi aku mendengar ibunda mengigau” suaranya terputus. Dan tangisnya pun meledak.

Beberapa saat lamanya Rara Warih tenggelam di dalam isak tangisnya. Tetapi perlahan-lahan tangis itu pun mereda pula.

“Warih” berkata bibinya yang pelupuknya masih basah, “Kau sudah cukup dewasa. Kau wajib menghadapi kenyataan ini dengan hati yang tabah. Lambat atau cepat, kau pasti akan mengetahuinya juga. Karena itu, agar kau tidak selalu dicengkam oleh rahasia yang menyelubungi ibundamu, maka sebaiknya kau segera mengetahuinya”

“Tetapi kenyataan itu terlampau kejam bagiku bibi. Tetapi apakah aku benar-benar mendengar igauan ibunda?”

“Kau harus tabah. Kematian kangmasmu Rudira itulah yang benar-benar telah mengguncangkan hati ibundamu, sehingga penyesalan yang tiada taranya telah membuatnya kehilangan kesadarannya”

“Tetapi apakah benar seperti apa yang dikatakan ibunda di dalam ketidak sadarannya tentang ibunda itu sendiri bibi?”

“Kita semuanya tidak mengetahuinya Warih”

“Selama ini aku menganggap bahwa tidak ada noda sehitam itu di dalam keluarga kami” suara Warih terputus oleh isaknya yang kembali mulai menyesak.

Bibinya menundukkan kepalanya. Tiba-tiba ia pun dihadapkan pada suatu pengakuan.

“Bagaimana jika pada saatnya Warih mengetahui keadaan ayahnya? Warih menganggap ayahnya kini sebagai satu-satunya tempat bergantung. Meskipun mula-mula Warih kecewa, bahwa ayahnya mempunyai isteri lebih dari seorang, namun apabila gadis itu mengetahui bahwa disamping isteri-isterinya itu masih ada perempuan lain, dan perempuan lain itu adalah bibinya sendiri, maka hatinya tentu akan menjadi semakin parah” berkata bibinya itu di dalam hatinya. Sejalan dengan penyesalan yang mulai mencengkam dadanya. Bukan saja karena ia telah seakan-akan dengan sengaja melemparkan Rara Warih ke dalam keadaan yang pahit, namun juga karena hubungannya dengan Pangeran Ranakusuma. Apalagi kedua-duanya adalah orang yang telah berumah tangga.

Karena itulah maka bukan saja Rara Warih, tetapi di pelupuk mata bibinya itu pun, titik-titik air rasa-rasanya menjadi semakin banyak mengambang.

Pangeran Sindurata yang tua, yang kepalanya sering diganggu oleh perasaan sakit dan pening itu pun menjadi semakin pening. Tetapi ia sempat juga mencoba melunakkan hati Rara Warih, sehingga akhirnya ia berkata, “Sudahlah Warih. Sekarang kau tahu, kenapa aku dan bibimu berusaha untuk mencegahmu menemui ibundamu. Tetapi agaknya semuanya telah terjadi. Kau harus bersikap dewasa. Dan agar hatimu tidak menjadi semakin pedih, sebaiknya kau kembali kepada ayahmu. Kau dapat berbicara dengan ayahmu dengan cara orang dewasa. Kau bukan anak-anak lagi. Terlebih-lebih lagi karena keadaan ibundamu itu. Sekarang kau harus percaya kepada dirimu sendiri, bahwa kau mampu mengatasi setiap keadaan yang bertentangan dengan keinginan dan bayangan di dalam angan-anganmu. Kau harus berani menghadapi kenyataan betapapun pahitnya”

Rara Warih mencoba menganggukkan kepalanya. Tetapi ia sendiri tidak yakin bahwa ia akan dapat melakukannya Namun demikian, ia berkata, “Baiklah eyang. Sebaiknya aku kembali pula. Aku akan mengatakannya kepada ayahanda, apa yang aku jumpai di sini. Agaknya ayahanda pun memang membiarkan aku mendengar sendiri apa yang telah terjadi. Ternyata ayah telah membiarkan aku mempergunakan kereta itu”

Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis, “Agaknya kami dan juga ayahandamu menganggap bahwa kau benar-benar telah dewasa”

Rara Warih yang masih menitikkan air mata mengangguk lemah. Rasa-rasanya hatinya bagaikan mengambang di awang-awang tanpa alas. Namun ia berusaha untuk mendengarkan setiap nasehat dari kakek dan bibinya.

Demikianlah, sejenak kemudian tanpa menengok ibundanya lagi, karena Warih tidak sampai hati, ia pun kembali ke rumahnya. Di sepanjang jalan tangannya sibuk mengusap matanya yang basah.

Di belakang keretanya berderap seekor kuda yang membawa seorang pengawal yang mendapat perintah dari Pangeran Sindurata untuk mengantarkan Warih sampai ke istana Ranakusuman.

Ketika ia naik ke pendapa rumahnya, terasa rumah itu terlampau sepi. Sepi sekali. Meskipun di regol ada juga para pengawal dan para abdi yang sibuk di kebun dan halaman, tetapi rasa-rasanya rumah itu adalah rumah yang tidak berpenghuni.

Perlahan-lahan Rara Warih melintasi pendapa. Ia tertegun sejenak ketika ia melihat pintu bergerak. Dan hatinya tiba-tiba terguncang ketika ia melihat ayahnya berdiri di depan pintu.

Rara Warih sesaat bagaikan mematung. Namun kemudian ia pun berlari memeluk ayahnya sambil berdesah memelas, “Ayah. Ayah. Aku tidak beribu lagi”

Pangeran Ranakusuma adalah seorang Panglima yang pilih tanding di peperangan. Tetapi menghadapi pengakuan anaknya itu rasa-rasanya matanya menjadi panas dan lehernya bagaikan tersumbat.

“Ayahanda” desis Rara Warih disela-sela tangisnya, “Kenapa ayahanda tidak mengatakan kepadaku sebelumnya”

Pangeran Ranakusuma membelai rambut anak gadisnya. Setelah ia berhasil mengatur perasaannya, maka katanya, “Masuklah Warih”

Rara Warih mencoba menahan isaknya. Perlahan-lahan, dibimbing oleh ayahandanya ia masuk ke ruang dalam. Namun tiba-tiba saja gadis itu berlari masuk ke dalam biliknya dan menangis tersedu-sedu sambil menelungkup.

Pangeran Ranakusuma berdiri sejenak di pintu yang terbuka. Dibiarkannya saja anaknya memeras air matanya. Dengan demikian, maka beban di hatinya akan menjadi bertambah ringan, seolah-olah sebagian telah ditumpahkan bersama air matanya.

Pangeran Ranakusuma kemudian meninggalkan bilik itu dan duduk di hadapan pintu yang masih terbuka. Rasa-rasanya ia tidak sampai hati meninggalkan anak gadisnya, yang oleh kelelahan hati dan tubuhnya, telah tertidur sambil menelungkup.

Seperti perasaan Warih, sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma merasa betapa sepi istananya itu. Sekilas ia terkenang kepada isterinya yang telah diserahkannya kembali kepada orang tuanya juga kepada isterinya yang sudah meninggal dan meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Juwiring, bahkan sekilas terbayang wajah adik kandung Raden Ayu Galih Warit. Namun bayangan-bayangan itu ditekankannya dalami di dalam dadanya. Sebagai seorang Senapati perang, maka ia harus dapat mempergunakan akalnya sebaik-baiknya untuk memecahkan setiap persoalan. Bukan sekedar perasaan. Dan persoalan pribadinya itu pun dicobanya direnunginya dengan pertimbangan nalar.

“Kedua anak-anak itu harus menemukan suatu cara untuk dapat berkumpul di dalam rumah ini sebagai anak-anakku” katanya di dalam hati.

Ketika kemudian Rara Warih terbangun, maka agaknya ia sudah menjadi agak tenang. Ia tidak lagi menangis meskipun tampak betapa luka di hatinya terasa sangat pedih. Seolah-olah di dalam waktu yang pendek, ia sudah kehilangan dua orang yang paling dikasihinya. Kakaknya, Raden Rudira dan kini ibunya, yang meskipun masih hidup, tetapi pengakuan di luar sadarnya itu bagaikan sebuah benteng yang tebal dan tinggi, yang membatasi ikatan di antara dirinya dengan ibunya.

Setelah membersihkan dirinya di pakiwan. maka Rara Warih mencoba untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang rasa-rasanya baru sama sekali di dalam rumahnya itu. Tidak ada lagi yang akan memanjakannya dengan berlebih-lebihan. Ayahnya, karena tugasnya sebagai seorang Senapati, terlampau sering meninggalkan istananya.

Pangeran Ranakusuma membiarkan anak gadisnya berbuat apa saja. Tetapi hari itu, ia sama sekali tidak sampai hati meninggalkannya seorang diri di rumah.

Sementara itu, Ki Dipanala yang menyertai Juwiring dan kedua adik seperguruannya, telah menghadapi Kiai Danatirta di Jati Aking. Banyak persoalan yang dikatakannya. Namun akhirnya sampai juga ia kepada persoalan pokok dari kehadirannya, menyampaikan pesan Pangeran Ranakusuma untuk minta agar Kiai Danatirta mengijinkan Juwiring kembali ke istana Ranakusuman, meskipun itu bukan berarti bahwa ia harus meninggalkan Jati Aking.

“Jarak antara Surakarta dan Jati Aking tidak terlampau jauh” berkata Ki Dipanala kemudian. Lalu, “Kakang, jika aku diperbolehkan memberikan pertimbangan, aku tidak berkeberatan jika Raden Juwiring ada di istana Ranakusuman. Dalam saat ini, Pangeran Ranakusuma seolah-olah sedang terlempar ke dalam dunia yang kosong. Jika Raden Juwiring berhasil menembus dinding hatinya yang kosong itu, tentu ia akan mendapat tempat. Bukan untuk kepentingan pribadi seperti Raden Rudira, tetapi untuk kepentingan yang jauh lebih luas dari kepentingan pribadi itu”

Kiai Danatirta segera mengerti maksud Ki Dipanala. Sebenarnya ia pun sependapat, bahwa Pangeran Ranakusuma perlu dibangunkan dari tidurnya yang nyenyak. Bahkan kadang-kadang dengan mimpi yang indah yang dapat membuatnya membenci dirinya sendiri. Keluarganya dan bangsanya.

Tetapi rasa-rasanya, sangat berat baginya untuk melepaskan Juwiring. Sudah lama anak muda itu tinggal di padepokannya. Bahkan rasa-rasanya Juwiring sudah seperti anaknya sendiri. Meskipun setiap saat Juwiring akan dapat datang ke padepokan ini, tetapi anak itu tidak akan tampak lagi mondar mandir di halaman, bekerja di sawah dan pategalan, serta berada di bangsal latihan.

“Apakah tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh” Orang tua itu bertanya kepada Ki Dipanala.

“Aku tahu kakang. Sangat berat rasanya melepaskan Raden Juwiring. Tetapi aku berharap, agar kakang memberikan kesempatan yang luas kepadanya untuk membentuk masa depannya dengan semua kesempatan dan kemungkinan yang ada padanya, selain harapan-harapan yang jauh lebih berharga dari itu”

“Aku mengerti. Dan aku seharusnya tidak boleh berkeberatan. Tetapi aku tidak dapat melepaskan diri dari berbicara tentang kepentingan diriku pula. Tentang perasaan seorang tua, dan tentang ketergantungan perasaanku tanpa keseimbangan nalar. Aku mengerti, seperti kesadaran seorang yang menangisi dan berteriak memanggil nama seseorang yang telah mati. Di dalam keadaan yang wajar, ia tentu mengerti, bahwa suaranya tidak akan dapat didengar, dan yang mati tidak akan kembali. Tetapi di dalam saat tertentu, kesadaran itu menjadi pudar jika kita mengalaminya”

Ki Dipanala hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Kiai Danatirta adalah orang yang mumpuni, sehingga ia menyadari pergolakan di dalam dirinya sendiri. Menyadari keburaman kesadarannya. Menyadari kepincangan pertimbangan nalarnya.

Namun setelah merenung sejenak, Kiai Danatirta itu berkata, “Agaknya memang tidak ada yang dapat aku lakukan dari pada mengiakannya” orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “Bukan karena aku seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan perasaan sendiri. Tetapi yang lebih dari pada itu, aku mengerti bahwa aku tidak akan dapat melawan kehendak Pangeran Ranakusuma. Selain ia seorang Pangeran, ia juga ayah dari Raden Juwiring itu. Sebagai seorang ayah, ia mempunyai wewenang mutlak untuk itu”

Sekali lagi Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak akan ada keputusan lain yang dapat diambil oleh Kiai Danatirta. Ia tentu tidak akan memanggil Raden Juwiring dan bertanya kepadanya, apakah ia bersedia atau tidak, karena menurut pertimbangannya, Raden Juwiring tidak mempunyai pilihan selain melakukan perintah ayahandanya seperti pada saat ia harus meninggal istana itu. Demikianlah maka ia sekarang harus kembali ke dalamnya, meskipun Raden Juwiring pernah bersikap untuk tidak mengaitkan dirinya lagi dengan istana dan keluarganya. Tetapi kini agaknya ada pertimbangan lain.

Namun sebenarnyalah. Juwiring dicengkam oleh kebimbang-an. Meskipun ia tidak berada di antara gurunya dan Ki Dipanala, namun ia duduk sendiri di dalam biliknya sambil merenungi dirinya sendiri, keluarganya dan Surakarta.

“Kelebihan harta benda tidak menjamin kebahagiaan sebuah keluarga” katanya di dalam hati, “meskipun jika aku harus memilih, apakah aku lebih senang menjadi seorang yang kaya atau seorang yang miskin, aku akan memilih untuk menjadi seorang yang kaya. Namun aku tidak akan dapat ingkar, bahwa kekayaan bukan satu-satunya sumber kebahagiaan”

Dan Juwiring melihat ke dalam dirinya sendiri, keluarganya yang kisruh meskipun bergelimang kekayaan dibanding dengan keluarga yang tampak tenang dan damai dipadepokan Jati Aking ini.

Jika fajar mulai memerah di Timur, dan angin pagi yang segar bertiup di antara dedaunan, kemudian bayangan matahari yang menguning di wajah air jernih yang mengalir di parit-parit, disusul dengan kerja di panasnya pagi, terasa betapa hidup ini teramat segar dan tenang. Suara seruling yang dilontarkan oleh anak-anak yang menggembalakan kambing di tebing kali, dentang palu pandai besi di perapian, dan rengek anak-anak menjelang minum susu ibunya di antara lenguh lembu dan kerbau, adalah suasana damai yang tidak akan ditemukan di dalam kota Surakarta yang sibuk oleh derap kehidupan yang terasa terlampau cepat dan tergesa-gesa.

“Aku adalah salah seorang dari masa yang akan segera tertinggal oleh derap jaman” desis Juwiring di dalam hatinya

“Tetapi aku senang menikmati hidup yang damai” Tetapi kemudian, “Namun aku tidak dapat mengelakkan jalan hidup yang terbentang di hadapanku. Jalan yang menjadi semakin ramai dan riuh. Dan apakah aku akan membiarkan diriku semakin jauh ketinggalan, selagi ada kesempatan untuk menemukan penghidupan baru yang barangkali akan dapat menjadi pancadan untuk mengembangkan hidup di padesan ini tanpa meninggalkan ciri-ciri kedamaian dan bentuk kekeluargaan yang rapat?”

Pertanyaan itu pun ikut bergulat di dalam hati Juwiring. Namun ia pun sadar, bahwa apapun keputusannya, jika ayahnya memaksakan kehendaknya, ia tidak akan dapat mengelak. Dan itulah sebabnya ia kemudian berkata kepada diri sendiri.

“Aku harus membentuk jalanku sendiri, bukan sekedar terseret oleh arus betapapun derasnya, jika arus itu tidak sesuai dengan nuraniku”

Dengan sandaran itulah Juwiring kemudian memutuskan di dalam hatinya, ia akan pergi ke Kota dan mencoba hidup di dalam istana yang megah sebagai putera seorang Pangeran yang menjabat Senapati yang berpengaruh di Surakarta.

Tanpa membicarakannya lebih dahulu, Kiai Danatirta dan Juwiring memang mempunyai kesimpulan yang sama, apapun alasannya. Juwiring akan meninggalkan padepokan Jati Aking.

Ketika akhirnya keputusan itu saling disepakati dengan, beberapa pesan dari Kiai Danatirta, maka rasa-rasanya padepokan itu akan menjadi sepi bagi penghuninya yang tinggal. Kiai Danatirta yang kemudian memanggil anak-anak angkatnya itu pun menjelaskan bahwa tidak ada jalan yang lebih baik bagi Raden Juwiring daripada meninggalkan padepokan ini. Tetapi bukan berarti bahwa tidak akan ada hubungan lagi di antara mereka, karena Juwiring akan selalu mondar mandi r antara Surakarta dan Jati Aking.

“Apakah tidak lebih baik kau tetap ada di sini kakang” berkata Buntal kemudian, “Tetapi kau sering menengok keluargamu yang ada di Kota”

“Keluarganya memerlukannya” berkata Kiai Danatirta, “betapapun beratnya, aku harus melepaskannya. Tetapi seperti yang aku pesankan kepadanya, bahwa Raden Juwiring bukan saja sekedar mengisi kesepian hati ayahandanya, tetapi ia wajib memberikan arah kepada keluarganya di dalam masa-masa yang suram bagi Surakarta ini. Dan karena itulah maka waktunya akan lebih banyak diperlukan di istananya. Namun demikian, ia masih harus menyempurnakan ilmunya. Dan aku berharap sepekan sekali Raden Juwiring akan datang”

“Ya ayah” jawab Juwiring, “Aku akan selalu datang. Aku menyadari bahwa ilmuku masih jauh dari mencukupi. Apalagi ketika aku berada di lingkungan para bangsawan. Terlebih lagi ketika aku bertemu dengan Kamas Said di pinggir bengawan. Maka aku merasa diriku masih terlampau kecil”

“Tentu, “Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya

“Memang masih diperlukan waktu yang jauh untuk mendekati kemampuan Raden Mas Said, Meskipun kau tidak berhasil menyamainya, tetapi setidak-tidaknya kau dapat mempergunakan kemampuan yang sedikit ada padamu untuk kepentingan yang baik. Baik bagi sesama dan terlebih-lebih bagi Surakarta, dan baik dalam pandangan Yang Maha Pencipta”

Raden Juwiring menundukkan kepalanya, ia sadar, bahwa kepergiannya dari Jati Aking kembali ke Surakarta, bukannya akhir dari hidup keprihatinannya. Justru ia baru mulai dengan pengabdian yang nyata meskipun baru akan dimulai dari lingkungan kecil, istana Ranakusuman.

Akhirnya, datanglah saatnya Juwiring benar-benar meninggal-kan Jati Aking bersama Ki Dipanala. Terasa setiap hati menjadi berat. Buntal yang hampir setiap saat selalu bersamanya di dalam kerja, tidur dan bergurau, merasakan betapa ngelangutnya perpisahan itu.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia merasakan pergolakan yang aneh di dalam hatinya. Air mata Arum itu bagaikan ujung-ujung duri yang menyentuh jantungnya. Terasa juga pedihnya.

“Arum menangis karena kakang Juwiring pergi meninggalkan padepokan ini” katanya di dalam hati.

Namun kemudian dengan segenap kemampuan kesadarannya, ia mencoba menekan perasaan itu. Katanya kepada diri sendiri, “Itu adalah wajar sekali Ia sudah berkumpul lama sebagai saudara di dalam satu rumah. Kepergian Juwiring tentu akan mempengaruhi perasaannya. Jangankan Arum seorang gadis betapapun ia memiliki kemampuan ilmu kanuragan. Sedangkan aku, seorang laki-laki pun, rasa-rasanya terlampau berat untuk berpisah dengan orang yang sudah lama tinggal bersama dan mengalami persoalan dari nasib yang serupa”

Meskipun demikian, setiap kali ia melihat tetesan air mata Arum, rasa-rasanya jantungnya masih tersentuh pula.

“Aku bukannya pergi untuk selama-lamanya” berkata Juwiring ketika mereka sudah berada di regol padepokan, “Aku akan datang setiap kali. Kita masih akan selalu bertemu dan berlatih bersama. Mungkin aku akan ketinggalan karena aku hanya sempat berlatih sepekan sekali, sedangkan kalian akan melakukannya setiap hari. Namun aku sadar, bahwa aku masih harus meningkatkan ilmuku. Dan Jati Aking adalah sumber ilmu itu”

Arum menganggukkan kepalanya. Tetapi tidak sepatah katapun yang dapat keluar dari mulutnya.

“Kami di sini akan selalu menunggu jika saatnya kau datang” berkata Buntal kemudian, “mudah-mudahan kau berhasil berdiri sebagai batu karang yang teguh di tengah arus banjir bandang. Kau akan dapat menjadi pegangan, bukan justru kau akan hanyut di dalamnya”

“Kau akan selalu berdoa untukku” sahut Juwiring, “Aku sadar betapa lemahnya manusia. Karena itu, aku memerlukan sandaran, kekuatan hati yang datang dari Maha Kuasa”

“Kau akan selalu mendapatkannya anakku” berkata Kiai Danatirta kemudian, “Tetapi jangan kemdat memohon kepada-Nya. Siang dan malam”

“Ya ayah. Jika aku tidak menjalankannya, berarti aku sudah menjauhinya. Dan itu pertanda kegagalanku”

“Tuhan akan dekat, kalau kita mendekatkan diri kita kepadaNya”

Juwiring menundukkan kepalanya. Pesan itu terasa menyentuh hatinya dalam-dalam.

“Aku titipkan anak ini kepadamu” berkata Kiai Danatirta kepada Ki Dipanala.

“Aku akan berbuat sebaik-baiknya kakang. Dan aku akan menyerahkannya kepada ayahandanya. Selanjutnya, bukan Raden Juwiring lah yang kau titipkan kepadaku, tetapi kami, seisi istana Ranakusuman mengharapkannya, dan menitipkan diri sendiri kepada anak muda ini”

“Ah” Raden Juwiring berdesah.

Demikianlah maka datanglah saatnya perpisahan itu. Raden Juwiring dan Ki Dipanala pun segera meloncat ke punggung kudanya dan meninggalkan padepokan Jati Aking dengan hati yang berat, meskipun ia masih akan selalu datang setiap pekan. Karena itu pulalah, maka semua barang-barangnya, pakaiannya dan apa saja, tidak dibawanya, agar setiap saat ia memerlukan jika ia datang ke padepokan itu, tidak harus membawanya lagi dari kota.

Untuk beberapa lama, keduanya sama sekali tidak berbicara. Ki Dipanala mengerti, bahwa Juwiring masih berusaha mengendapkan perasaannya. Agaknya ia pun merasakan sesuatu yang hilang ditinggalkan di padepokan Jati Aking. Hubungan yang rapat dengan Buntal dan Arum sebagai saudara sekandung saja. Sikap yang lembut dari Kiai Danatirta, dan suasana yang nyaman dan damai.

Namun kemudian di sela-sela derap suara kudanya, Juwiring berkata, “Paman, rasa-rasanya aku akan pergi ke daerah yang asing bagiku meskipun aku sebenarnya pulang ke rumah orang tuaku”

“Tetapi keasingan itu tidak akan terasa lama. Raden” jawab Ki Dipanala.

“Aku tidak tahu, bagaimana sikap diajeng Warih terhadapku. Tetapi aku bertekad untuk tidak menghiraukannya”

“Sebaiknya untuk sementara Raden menjauhinya, ia berhati keras seperti ayahanda dan tinggi hati seperti ibundanya”

Juwiring mengangguk-angguk. Warih baginya adalah tantangan pertama di dalam rumahnya itu. Kemudian para pengawal yang semula berada di bawah pengaruh Raden Rudira dan bahkan telah memusuhinya dan juga memusuhi Ki Dipanala. Tetapi bagi Juwiring, mereka tidak akan banyak memberikan kesulitan, karena apapun yang akan mereka lakukan, mereka tidak akan berani menerima akibat untuk dilepas dari pekerjaan-nya, atau bahkan menerima hukuman dari ayahandanya. Tetapi jika keadaan memaksa, maka Juwiring sendiri akan dapat menghadapinya jika mereka mempergunakan kekerasan akibat kebencian yang sudah dipupuk bertahun-tahun oleh Rudira.

“Yang paling sulit bagiku justru adalah diajeng Warih sendiri. Tetapi justru sikap Warih itulah maka rasa-rasanya aku harus menjawab tantangannya”

Di dalam perjalanan berikutnya, mereka masih berbicara lagi tentang banyak hal. Kadang-kadang Juwiring tidak dapat menyembunyikan keragu-raguannya. Namun Juwiring agaknya telah memantapkan keputusannya untuk kembali ke istana ayahandanya.

Di padepokan Jati Aking, Ki Danatirta masih harus memberikan penjelasan kepada Arum untuk mengendapkan hatinya yang melonjak karena kepergian Juwiring yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri. Sedang Buntal didera oleh persoalannya sendiri. Perpisahan itu memang membuatnya muram. Tetapi tangis Arum pun telah menimbul-kan persoalan yang betapapun disingkirkannya, masih saja selalu menggelitiknya.

Demikianlah, maka di hari berikutnya, Juwiring telah mulai dengan tata kehidupannya yang baru. Ia kini tidak berada di rumah ayahandanya sekedar sebagai seorang tamu. Tetapi ia kini adalah putera Pangeran Ranakusuma.

Bagi para pelayan dan abdi di istana itu, timbullah berbagai macam dugaan tentang putera Pangeran Ranakusuma yang seorang ini. Beberapa orang menganggapnya sebagai musuh yang berbahaya. Juwiring tentu akan mempergunakan kesempatan untuk membalas dendam, karena mereka merasa pernah melakukan tindakan kekerasan di masa lampau, baik selagi mereka masih dipimpin oleh Sura maupun kemudian oleh Mandra. Sedang beberapa orang yang lain, menganggap pribadi Juwiring jauh berbeda dari Rudira, sehingga mereka menganggap bahwa kedatangannya yang tidak sekedar sebagai tamu itu, akan membawa angin baru di istana Ranakusuman.

Tetapi yang pertama-tama harus di atasi oleh Juwiring adalah perasaan rendah diri yang selama ini membayanginya. Terutama terhadap keluarga ayahandanya dan keluarga ibu Rara Warih yang masih sering berkunjung karena mereka mengerti kegelapan yang sedang menyelubungi istana itu.

Di hari-hari yang pertama, Rara Warih masih tetap orang asing baginya. Namun sekilas, Juwiring melihat perbedaan sikap dan tanggapan pada adik perempuannya itu. Rara Warih tidak lagi memandangnya sebagai seorang budak yang hina, meskipun ia masih dibayangi oleh perasaan segan dan malu.

Tetapi pada hari-hari berikutnya, ayahnya dengan telaten mencoba mempertemukan kedua saudara seayah itu. Dan adalah di luar dugaan Raden Juwiring, bahwa sikap Warih selanjutnya adalah sikap yang ramah dan baik.

“Demikian cepatnya perubahan itu terjadi” bertanya Juwiring di dalam hatinya, “Agaknya ayahanda berhasil menjelaskan semua persoalan yang menyangkut aku dan diajeng Rara Warih”

Namun sebenarnyalah Raden Juwiring tidak mengetahui, bahwa Rara Warih yang merasa dirinya seakan-akan berdiri di atas menara gading karena ayahandanya seorang Pangeran dan ibundanya seorang bangsawan yang lebih tinggi dari ibu Juwiring itu harus melihat kenyataan, betapa rendahnya martabat ibundanya sebagai manusia. Dengan demikian, Rara Warih yang meningkat dewasa itu mampu menemukan arti dari martabat seseorang. Bukan karena ia seorang putera Pangeran, bahkan putera seorang Raja sekalipun. Tetapi martabat seseorang ditentukan oleh tingkah laku dan perbuatan yang dilandasi oleh hati yang bersih dan jujur. Itulah sebabnya, maka ia tidak berani lagi mengagungkan diri karena tingkat kebangsawanannya yang lebih tinggi dari Juwiring. Tingkah laku dan perbuatan ibundanya membuat Rara Warih menjadi rendah diri pula. Seakan-akan ia tidak lebih dari anak seorang yang tidak mempunyai harga sama sekali.

Bahkan setiap kali ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah kangmas Juwiring juga mengetahui persoalan ibunda?”

Tetapi di hari-hari berikutnya, Juwiring yang mencoba menyesuaikan dirinya dengan kehidupan di istana yang sudah agak lama ditinggalkannya itu, tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Raden Ayu Galihwarit dan tentang ibunya sendiri. Seakan-akan ia mulai hidupnya sejak ia kembali ke istana itu, dan tidak tahu menahu sama sekali tentang apa yang pernah terjadi di istana itu sebelumnya.

Dalam waktu yang dekat, para pelayan dan abdi di Ranakusuman sudah melihat pembedaan yang jelas, antara Raden Rudira dan Raden Juwiring. Juwiring bukan seorang anak muda yang senang berteriak memanggil pelayan-pelayannya dan memakainya, memerintah dan sekedar marah-marah, selain merajuk terhadap ibu dan ayahandanya. Tetapi Raden Juwiring mampu melakukan berbagai macam kerja. Bahkan yang para pelayannya mengalami kesulitan, terutama terhadap kuda yang banyak terdapat di kandang.

Dengan demikian, maka para abdi di Ranakusuman segera mengenalnya sebagai seorang anak muda yang baik. Mereka yang biasa melayani Raden Rudira yang manja, merasakan, betapa Raden Juwiring sudah selalu mampu melayani dirinya sendiri

Rara Warih pun merasakan perbedaan yang jauh antara kedua kakaknya itu. Bahkan kemudian rasa-rasanya ia malu kepada diri sendiri. Seharusnya setiap orang yang sudah meningkat dewasa tidak lagi terlalu banyak menggantungkan diri kepada orang lain. Sehingga dengan demikian sikap dan tingkah laku Juwiring, merupakan contoh yang sangat baik baginya. Perlahan-lahan Warih pun mencoba untuk menirunya.

Hidupnya yang seakan-akan telah terhempas jatuh ke dalam jurang yang paling dalam itu memberinya kesempatan untuk mencari jalan bagi masa depannya. Seakan-akan ia kini mendapat bimbingan untuk bangkit dan memupuk kepercayaan kepada diri sendiri.

Pangeran Ranakusuma yang mengamati perkembangan hubungan kedua anaknya itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan setiap kali ia merasa bersukur, bahwa jarak yang ada di antara mereka semakin lama menjadi semakin pendek. Juwiring yang benar-benar sudah dapat berpikir secara dewasa itu, berusaha untuk menghindarkan kemungkinan yang dapat membatasi hubungannya dengan Rara Warih, apalagi meng-ungkit persoalan-yang sudah lampau dan yang dapat menjadi duri di dalam hati masing-masing. Sedang Rara Warih yang terbentur pada kejamnya kehidupan, berusaha untuk menemu-kan sandaran pada diri sendiri dan memupuk pengakuan, bahwa Juwiring sebenarnya adalah anak muda yang baik.

Namun dengan demikian, maka Pangeran Ranakusuma itu pun kemudian sampai pada suatu kesimpulan, bahwa kehadirannya di istana Ranakusuman bukannya suatu hal yang mutlak. Bahwa ia mendapat kesimpulan tentang anak-anaknya itu, telah melepaskannya dari kebimbangan untuk bertindak lebih jauh sebagai seorang laki-laki terhormat di Surakarta.

Tidak ada seorang pun yang tahu, apa yang dipikirkannya. Meskipun sama sekali tidak menyangkut kekuasaan yang semakin bertambah-tambah dari orang asing itu atas Surakarta, namun sebagai seorang Senapati, maka Pangeran Ranakusuma pun mempunyai sikap yang pasti bagi dirinya sendiri.

Tetapi pada saatnya ia akan melakukan rencananya itu, dipanggilnya Ki Dipanala menghadap dan hanya kepadanya sajalah Pangeran Ranakusuma itu mengatakannya.

“Pangeran” Ki Dipanala menjadi tegang, “hamba mengharap Pangeran memikirkannya berulang kali. Apakah rencana itu tidak dapat dibatalkan, atau Setidak-tidaknya ditunda?”

“Tidak Dipanala. Aku sudah bertekad. Apalagi menurut penglihatanku, hubungan antara Juwiring dan adiknya sudah menjadi semakin baik. Dengan demikian, seandainya aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini, aku sudah tenang meninggalkannya”

“Tidak Pangeran. Masih ada persoalan yang harus diperhitungkan. Mungkin akibat daripada peristiwa itu akan berkepanjangan”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menggeleng sambil berkata, “Apaboleh buat Dipanala. Aku sudah menjadi seorang pengkhianat bagi Surakarta, karena aku selalu berhubungan dengan orang-orang asing dan bahkan memberi kesempatan kekuasaan mereka berkembang, sekedar untuk pemuasan diri sendiri. Dengan demikian, maka aku sudah menjadi seorang yang mementingkan diriku sendiri. Tetapi apakah artinya, jika dengan demikian justru diriku sendiri inilah yang kemudian mendapat hinaan itu?”

Ki Dipanala termenung sejenak. Yang terbayang adalah peristiwa yang mengerikan akan terjadi. Tetapi ternyata ia tidak dapat mencegahnya.

Dan apa yang direncanakan oleh Pangeran Ranakusuma itu benar-benar dilakukannya. Ketika bulan bulat di langit, dan udara cerah, Pangeran Ranakusuma telah memerintahkan menyiapkan keretanya.

“Ayahanda akan menghadap ke istana?” bertanya Rara Warih.

Pangeran Ranakusuma menjadi bimbang sejenak. Dipandanginya wajah anaknya yang tidak lagi secerah saat ibundanya masih ada di istana ini.

“Apakah ayahanda dipanggil oleh Kangjeng Susuhunan?”

Mata Pangeran Ranakusuma menjadi redup. Kemudian terdengar ia berdesah perlahan-lahan.

“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma, “Baik-baiklah di rumah. Dimana kangmasmu Juwiring?”

“Di belakang ayahanda”

“Panggillah ia menghadap”

Rara Warih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Dipanggilnya Juwiring, yang sedang berada di belakang.

Ketika Juwiring kemudian menghadap ayahandanya, ia terkejut melihat sikap dan tatapan mata Pangeran Ranakusuma. Tetapi ia tidak berani bertanya sesuatu sebelum Pangeran Ranakusuma sendiri memberitahukan kepentingannya.

Sejenak Juwiring menunggu. Dan kemudian didengarnya suara ayahnya dalam, “Baik-baiklah di rumah Juwiring. Aku senang melihat kalian telah berubah dan saling mendekatkan diri sebagai dua orang kakak beradik” kata-kata Pangeran Rana-kusuma terputus. Agaknya masih ada yang akan dikatakannya, tetapi rasa-rasanya tidak dapat dilontarkannya.

Juwiring merasakan sesuatu yang lain pada ayahandanya. Karena itu, maka setelah beberapa saat ia menunggu, ayahnya masih tetap berdiam diri, maka ia pun kemudian bertanya, “Kemanakah ayahanda akan pergi sekarang ini?”

“Ada tugas yang harus aku lakukan Juwiring”

“Perintah Kangjeng Susuhunan?”

Sejenak Pangeran Ranakusuma termangu-mangu. Namun sejenak kemudian bibirnya tersenyum sambil berkata, “Tentu. Tentu perintah Kangjeng Susuhunan. Nah, tinggallah di rumah baik-baik. Mungkin aku tidak pulang malam nanti”

Kedua kakak beradik itu termangu-mangu. Namun mereka tidak dapat bertanya lebih jauh, karena Pangeran Ranakusuma pun kemudian meninggalkan keduanya dan turun ke halaman. Keretanya sudah siap menunggu di bawah tangga sehingga sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itu pun hilang di balik pintu keretanya yang segera berderap.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 12"

Post a Comment

close