Bunga Di Batu Karang Jilid 11

Mode Malam
Petani dari Sukawati itu pun kemudian duduk di atas batu nisan sambil memandang berkeliling. Kuburan itu benar-benar telah sepi. Namun untuk beberapa lamanya ia tidak mening-galkan batu nisan itu.

Sambil memandang daun semboja yang bergetar disentuh angin Petani dari Sukawati itu berkata kepada diri sendiri, “Tetapi sudah ada semacam kesadaran pada rakyat kecil. Mudah-mudahan mereka masih memiliki keberanian. Kegagalan yang pernah terjadi mudah-mudahan tidak membunuh keberanian mereka sama sekali”

Petani itu pun kemudian berdiri sambil mengusap keningnya. Matahari sudah menjadi semakin rendah, dan sebentar kemudian hilang di balik cakrawala. Dan malam yang kelam pun mulai menyelubungi Surakarta. Tetapi petani dari Sukawati itu masih berada dikuburan.

Ternyata ketika malam menjadi semakin kelam, sesosok bayangan yang lain bergerak-gerak di balik dinding batu yang mengelilingi makam itu. Sejenak kemudian terdengar bunyi burung kedasih yang ngelangut. Namun ternyata dari dalam kuburan itu terdengar suara burung yang sama seakan-akan menyahut suara burung yang pertama.

Beberapa saat kemudian, maka sesosok bayangan yang memanggul sesuatu di pundaknya meloncat masuk dan mengendap di antara batu-batu nisan yang besar dan cungkup-cungkup yang gelap.

“Bawa kemari” terdengar suara berat.

“Hamba Pangeran” jawab orang yang memanggul sesuatu di pundaknya itu.

“Sekarang adalah giliran kita untuk menguburnya” berkata suara yang pertama.

“Hamba Pangeran”

“Cepat, galilah tanah yang masih basah di samping kuburan Rudira” suara itu berhenti sejenak, lalu, “Apakah kau seorang diri?”

“Hamba Pangeran. Hamba datang seorang diri”

“Baiklah. Marilah aku bantu”

Di dalam keremangan malam, maka dua sosok bayangan itu pun sibuk menggali lubang di samping kuburan Rudira yang masih basah, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan jika seseorang besok datang ke kuburan itu.

Ketika lubang itu sudah cukup dalam, maka mereka pun segera memasukkan benda yang memanjang dan terbungkus tebal yang dipanggul di atas pundak orang yang meloncati pagar itu.

“Ada berapa?”

“Lima Pangeran. Dan menurut pembicaraan yang sudah kami lakukan, mereka akan mengambilnya dua hari lagi”

“Bagus, dan berhati-hatilah. Senjata-senjata api semacam itu sangat kami perlukan. Untuk melawan kumpeni, ada baiknya kita juga memiliki senjata api meskipun tidak banyak”

Demikianlah, maka senjata api itu pun kemudian ditimbuni-nya dengan baik, sehingga tidak meninggalkan bekas.

“Marilah kita pergi. Mudah-mudahan kita akan mendapatkan senjata semacam itu yang lain”

“Hamba Pangeran. Tetapi mudah-mudahan juga tidak ada orang yang berprasangka bahwa kitalah yang telah menembak Raden Rudira”

“Tentu tidak. Tidak ada orang yang tahu bahwa kita memiliki senjata api. Dan orang-orang sudah yakin bahwa sebenarnya yang menembak Rudira adalah kumpeni”

“Mudah-mudahan pula kematian Raden Rudira dapat membangkitkan harga diri rakyat Surakarta dan para bangsawan”

“Tetapi sebagian dari para bangsawan telah benar-benar kehilangan harga diri dan keberanian”

Tidak terdengar jawaban. Sejenak kemudian mereka berdua masih saja merenungi senjata-senjata api yang tertimbun di lubang itu.

“Sudahlah, marilah segera kita hilangkan bekas-bekas kita, dan kita segera dapat meninggalkan tempat ini”

Keduanya pun kemudian menyamarkan timbunan senjata api itu sebaik-baiknya sehingga mereka yakin bahwa tidak ada seorang pun yang akan dapat mengetahuinya.

Dengan hati-hati keduanya pun meninggalkan kuburan itu. Ternyata mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggali dan menimbuni kuburan senjata itu, sehingga malam sudah menjadi semakin jauh.

Dalam pada itu, selagi mereka merayap keluar dari kuburan itu. Di istana Pangeran Sindurata telah terjadi sesuatu yang menggemparkan. Ketika perlahan-lahan Raden Ayu Galihwarit mulai sadar, maka Pangeran Sindurata menjadi gembira. Tetapi untuk sadar sama sekali. Raden Ayu Galihwarit memerlukan waktu hampir setengah hari.

Namun berbeda dengan dugaan Pangeran Ranakusuma, bahwa ternyata Raden Ayu Galihwarit benar-benar menjadi agak baik. Ia mulai mengenal dirinya sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya.

“Galihwarit” Panggil ayahandanya yang sudah kembali dari Ranakusuman.

“Ayahanda” desis Galihwarit.

“Ya Galihwarit. Aku adalah ayahandamu. Apakah kau sudah menjadi semakin baik?”

Raden Ayu Galihwarit memandang ayahandanya yang tampak masih agak kabur. Kemudian keluarganya yang lain. Keluarga yang tinggal di rumah orang tuanya. Bukan di rumahnya sendiri.

“Beristirahatlah saja dahulu Galihwarit. Jangan pikirkan apapun juga”

Galihwarit tidak menjawab. Kepalanya terasa pening sekali dan perutnya menjadi mual. Bayangan yang kabur itu pun kadang-kadang bagaikan menghilang lagi. Wajah-wajah yang tampak tidak seperti sewajarnya. Kepala yang terlalu besar dan mata yang hitam kelam. Namun kadang-kadang bayangan yang aneh itu dapat dikenalnya seorang demi seorang, sebelum menjadi kabur dan seolah-olah berubah bentuknya.

Ketika Raden Ayu Galihwarit akan muntah, maka ayahandanya yang cemas berkata, “Pejamkan saja matamu. Mungkin kau menjadi pening dan rasa-rasanya ruangan ini sedang berputar”

“Ya ayahanda”

“Nah, cobalah tidur. Jangan hiraukan apa-apa lagi”

Raden Ayu Galihwarit mencoba memejamkan matanya yang kabur. Namun sekali-sekali ingin juga ia melihat orang-orang yang ada disekitarnya. Tetapi pandangannya masih saja terasa terganggu. Kadang-kadang ia tidak dapat melihat apapun lagi, selain keputih-putihan. Seakan-akan ia berada di dalam gumpalan awan yang pekat.

“Tidurlah” terdengar suara ayahandanya.

Raden Ayu Galihwarit tidak menyahut. Tetapi ia memejamkan matanya.

Namun dalam pada itu, ketika Raden Ayu Galihwarit mencoba mengingat apa yang telah terjadi dengan dirinya, mulailah angan-angannya menelusuri masa-masa yang telah terjadi.

Raden Ayu itu dapat teringat meskipun samar-samar, mulai saat ia pergi meninggalkan istananya untuk memenuhi undangan beberapa orang perwira kumpeni. Diingatnya pula betapa meriahnya perjamuan itu, karena seorang perwira asing yang lucu dan senang bergurau. Dengan bahasa Jawa yang patah-patah ia mencoba berbicara terlalu banyak, sehingga suasananya menjadi sangat ramai. Raden Ayu itu pun berhasil mengingat saat-saat ia meninggalkan istana yang mulai menjadi sepi, dan diingatnya pula saat-saat ia berpindah kereta di pinggir jalan.

Tiba-tiba dada Raden Ayu Galihwarit berdesir. Seakan-akan terbayang meskipun masih agak kabur seperti wajah-wajah yang mengelilinginya, gambaran berikutnya dari peristiwa yang dialaminya. Seakan-akan ia mendengar derap kaki kuda menyusul keretanya dan kemudian disusul suara tembakan dan sesosok tubuh terbanting jatuh.

Disela-sela derai suara tertawa yang suram bagaikan suara hantu yang menemukan sesosok mayat terkapar di tengah jalan, ia seakan-akan mendengar seorang kumpeni mengumpat. Dan ketika Raden Ayu Galihwarit bagaikan memaksa diri untuk mengingat apa yang selanjutnya terjadi, terasa sesuatu bagaikan menghentakkan dadanya. Tiba-tiba saja sebuah jerit yang panjang telah terloncat dari mulutnya. Ternyata kenangannya telah mulai menyentuh bayangan sesosok tubuh yang terkapar di pembaringan oleh luka peluru. Dan tubuh itu adalah tubuh anaknya sendiri. Raden Rudira.

“Galihwarit” desis Pangeran Sindurata yang menjadi bingung, “Kenapa? Kenapa?”

Yang terdengar kemudian adalah tangis yang meledak. Di dalam bayangan yang gelap, Raden Ayu Galihwarit melihat dirinya sendiri dicengkam oleh iblis yang paling laknat. Karena itu, disela-sela tangisnya terdengar ia meratap, “Bukan maksudku. Bukan maksudku untuk menjerumuskan kau ke dalam bencana itu Rudira. Bukan aku. Bukan aku yang membunuhmu”

“Galihwarit, Galihwarit” Pangeran Sindurata menjadi bingung, sedang orang-orang lain pun seakan dicengkam oleh kecemasan yang luar biasa.

Tetapi kejutan yang telah mengguncang perasaan Galihwarit itu mulai mengganggu syarafnya lagi. Karena itulah, maka bayangan yang semula samar-samar dan semakin lama menjadi semakin jelas itu pun telah menjadi kabur kembali. Dan bahkan hilang sama sekali. Yang kemudian mencengkamnya adalah kegelapan dan ketidak sadaran. Itulah sebabnya, maka kata-kata yang terloncat dari bibirnya pun sama sekali tidak terkendali lagi.

Pengakuan-pengakuan yang kemudian mulai mengalir telah benar-benar mengganggu perasaan Pangeran Sindurata. Karena itulah maka tiba-tiba ia pun berteriak keras-keras kepada orang-orang yang ada di dalam bilik itu, “Pergi, semua pergi. Tinggalkan bilik ini. Biarlah aku sendiri yang menungguinya”

Sejenak orang-orang yang ada di dalam bilik itu termangu-mangu. Namun karena itu, maka sekali lagi Pangeran Sindurata berteriak, “Pergi, cepat. Pergi”

Orang-orang yang ada di dalam bilik itu mulai bergeser. Seorang demi seorang mereka keluar dari dalam bilik itu. Para emban dan juga keluarganya. Saudara-saudaranya dan bahkan orang-orang tua.

Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Sambil menangis ia meratapi peristiwa yang baru saja terjadi, dan yang mengakibatkan kematian Raden Rudira.

Meskipun tidak jelas dan tidak berurutan, namun ternyata bahwa Pangeran Sindurata berhasil menangkap igauan yang terlontar dari mulut Raden Ayu Galihwarit.

Rasa-rasanya setiap kata yang didengarnya telah menghantam dadanya. Ia sadar, bahwa ternyata selama ini puterinya yang telah berhasil menyingkirkan orang-orang yang tidak disenanginya dari istana Ranakusuman itu telah terperosok ke dalam lumpur yang kotor.

“Memalukan sekali, memalukan sekali” geram Pangeran Sindurata.

Ketika kemudian dipandanginya wajah anaknya itu, terbayang betapa ia telah melakukan perbuatan yang terkutuk untuk mencapai cita-citanya.

“Anak setan” tiba-tiba ia menggeram. Lalu, “Siapakah yang mengajarimu berbuat demikian?”

Tetapi Raden Ayu Galihwarit tidak mengerti pertanyaan itu. Dengan kedua tangannya ia mengusap air matanya. Dan tiba-tiba saja gangguan pada syarafnya menjadi semakin parah. Karena itulah maka tangisnya tidak lagi terdengar. Bahkan di luar dugaan Pangeran Sindurata Raden Ayu Galihwarit mulai tersenyum.

“Gila, gila. O, kau sudah menjadi Gila” Pangeran Sindurata berteriak.

Terdengar Raden Ayu Galihwarit tertawa. Dan suara tertawanya telah mengguncang hati Pangeran Sindurata. Pangeran yang mudah sekali hanyut dalam arus perasaannya itu.

Tingkah lakunya, suara tertawanya dan kata-katanya itu benar-benar membuat Pangeran Sindurata bagaikan dihempaskan ke dalam suatu lingkaran yang menghisapnya ke dalam dunia yang kelam dan memalukan.

Karena itu, ketika Raden Ayu Galihwarit sekali lagi menyebut nama kumpeni di dalam hubungan yang lain dengan dirinya, maka darahnya bagaikan telah mendidih. Tiba-tiba saja ia meloncat menerkam pundak puterinya. Sambil mengguncang-guncangnya ia berkata, “Galihwarit. Jadi kau benar-benar telah menjadi gila? Bukan saja gila dalam arti yang sewajarnya, seperti yang terjadi atasmu sekarang, tetapi kau telah sejak lama menjadi gila dengan tingkah lakumu yang terkutuk itu”

Raden Ayu Galihwarit menyeringai karena terasa pundaknya menjadi sakit. Tetapi kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Jangan sakiti aku. Kau tidak usah memaksaku. Jika kau dapat menyediakan mutiara yang berwarna kelabu itu, kau tidak akan kecewa”

“O, o” Pangeran Sindurata menjadi lemas. Terhuyung-huyung ia melangkah menjauhi puterinya dan terduduk di atas pembaringan.

“He, mana mutiara itu? Mana?”

“Tidak. Tidak” Pangeran Sindurata justru menjadi bingung.

Raden Ayu Galihwarit tertawa. Perlahan-lahan ia mendekati-nya. Wajahnya yang pucat itu benar-benar membayangkan wajah seorang iblis betina yang cantik tetapi berbisa.

Pangeran Sindurata menjadi semakin bingung. Setiap langkah puterinya. rasa-rasanya dadanya menjadi semakin pepat. Namun Raden Ayu Galihwarit masih saja melangkah maju.

“Jangan, jangan” Pangeran Sindurata itu pun hampir berteriak. Tetapi Raden Ayu Galihwarit justru tertawa tertahan-tahan.

Tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Getaran yang tidak dapat dimengertinya, namun yang kadang-kadang memang terasa hinggap di hatinya itu.

Getaran itulah yang kadang-kadang membuatnya kehi-langan pengamatan diri. sehingga beberapa orang menyebutnya agak kurang menguasai kesadarannya.

Demikianlah ketika Raden Ayu Galihwarit tinggal lagi selangkah daripadanya, dan sambil tertawa memandangi-nya, Pangeran Sindurata tidak dapat lagi menguasai getaran di dalam dadanya itu. Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang, dan matanya menjadi liar.

Tanpa diduga-duga maka ia pun sekali lagi meloncat menerkam Raden Ayu Galihwarit. Kali ini tidak di pundaknya, tetapi tepat mencengkam leher.

“O” Raden Ayu Galihwarit masih sempat berdesah. Namun suaranya hilang karena tenggorokannya tiba-tiba saja tersumbat.

“Iblis betina” geram Pangeran Sindurata, “Kau telah melumuri namaku dengan noda yang tidak terhapuskan. Kau memang harus mati. Kau telah dengan tidak langsung membunuh anakmu sendiri dan melumuri namaku dengan kehinaan. Kau memang harus mati. Kau harus mati”

Dan tangan Pangeran Sindurata mencengkam semakin keras, sehingga Raden Ayu Galihwarit yang sedang terganggu syarafnya itu sama sekali tidak dapat mengeluh lagi.

Namun dalam pada itu, selagi tangan Pangeran Sindurata yang sedang bingung itu semakin erat mencengkam leher puterinya, tiba-tiba saja pintu bilik itu terdorong dengan kerasnya. Seseorang meloncat masuk dan dengan suara bergetar berkata sambil menarik tangan Pangeran Sindurata, “Kangmas Pangeran, jangan. Jangan dilakukan”

Pangeran Sindurata yang masih mencengkam leher puterinya berpaling. Dilihatnya adiknya dengan wajah yang cemas mencoba menahannya.

“Jangan kau cegah aku adimas. Jangan”

“Ingatlah kangmas. Yang kangmas lakukan itu sama sekali bukan suatu penyelesaian. Tetapi kangmas justru sedang membuka persoalan baru lagi”

Pangeran Sindurata berpikir sejenak. Namun dalam pada itu angannya menjadi semakin mengendor.

“Lepaskan kangmas, lepaskan”

Seperti didorong oleh tenaga gaib maka tangan Pangeran Sindurata pun terlepas dari leher Raden Ayu Galihwarit. Namun dalam pada itu, tubuh puterinya itu pun sudah menjadi demikian lemahnya. Untunglah bahwa Pangeran Sindumurti, adik Pangeran Sindurata yang lahir dari ibu yang sama, cepat menangkap ketika Galihwarit terhuyung-huyung. Dipapahnya kemanakannya yang sedang terganggu itu dan dibaringkannya di pembaringan.

Tetapi mata Raden Ayu Galihwarit masih saja terpejam meskipun nafasnya mulai mengalir tersengal-sengal.

“Kenapa kau cegah aku adimas?” geram Pangeran Sindurata.

“Kangmaspun ternyata telah diguncang oleh kejutan perasaan. Seperti yang sering terjadi, kangmas tidak dapat mengendalikan perasaan yang sedang melonjak”

“Memalukan sekali. Ia mengigau tentang laki-laki. Dan laki-laki itu adalah orang-orang asing”

“Kangmas” berkata Pangeran Sindumurti, “Bukankah tentang orang asing itu aku sudah beberapa kali menyebutnya di hadapan kangmas. Tetapi kangmas sendiri berhubungan terlalu rapat dengan mereka. Demikian juga agaknya Galihwarit”

“Tetapi aku tidak mengajarinya berbuat demikian?”

“Tetapi kangmas telah membiarkannya bermain-main dengan air. Pada suatu saat Galihwarit telah menjadi basah karenanya. Kesalahan ini jangan seluruhnya dibebankan kepada Galihwarit. Tetapi sebagian pada kangmas sendiri dan sebagian pada suaminya, Pangeran Ranakusuma”

Pangeran Sindurata menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia sempat memandang ke lubang pintu yang terbuka, dilihatnya beberapa orang masih menunggu meskipun pada jarak yang agak jauh dengan wajah yang termangu-mangu.

“Kau dengar pembicaraan kami” tiba-tiba saja Pangeran Sindurata bertanya.

“Aku yang ada di luar pintu mendengarnya dan mengetahui dengan pasti apa yang kangmas lakukan. Tetapi para pelayan sudah aku suruh menjauh, agar mereka tidak mendengar lebih banyak lagi persoalan Galihwarit”

Pangeran Sindurata termenung sejenak. Namun kemudian terasa dadanya bagaikan dicengkam oleh perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya. Kecewa, cemas, malu dan juga ketakutan.

Perlahan-lahan ia melangkah ke sudut ruangan dan terduduk dengan lemahnya.

“Kangmas” berkata Pangeran Sindumurti, “Baiklah kita berusaha. Mungkin ada tabib yang pandai yang dapat menyembuhkannya. Sementara ini sebaiknya kangmas juga beristirahat menenangkan hati”

“O” keluh Pangeran Sindurata, “sementara ini Galihwarit masih akan tetap mengigau. Ia masih dapat berteriak-teriak tentang sesuatu yang dapat menambah noda di dalam hidupku yang tidak begitu cerah ini”

“Biarlah ia tetap tinggal di dalam biliknya. Aku akan membantu kangmas menjaganya agar ia tidak pergi keluar seorang diri dan tidak membiarkan ia berbicara”

“Kau akan tinggal di sini siang dan malam?”

“Tentu bukan aku seorang diri. Kita bergantian. Dan sekali waktu isteriku dapat juga membantu dan beberapa orang pelayan yang dapat dipercaya”

Pangeran Sindurata tidak dapat menolak pendapat adiknya. Memang ia tidak mendapat jalan lain daripada itu. Apalagi pikirannya yang sedang kacau itu sama sekali tidak dapat dipergunakannya dengan sebaik-baiknya.

Namun demikian, untuk menyimpan Raden Ayu Galihwarit itu Pangeran Sindurata telah menyediakan sebuah bilik yang khusus. Bilik yang jarang dipergunakannya dan terletak di bagian belakang istananya meskipun masih berada di lingkungan dalam.

Bilik itu kemudian seakan-akan menjadi sebuah bilik yang menyerupai sebuah tempat untuk menyembunyikan Raden Ayu Galihwarit. Pangeran Sindumurti yang memiliki pandangan yang lebih jauh dari kakaknya, masih sempat melayani Raden Ayu Galihwarit seperti melayani seorang anak yang cengeng dan nakal.

“Ia memerlukan sikap yang khusus kangmas” berkata Pangeran Sindumurti, “Kita tidak dapat berbuat kasar. Kita harus berusaha mengalihkan perhatiannya dari orang-orang yang selalu disebut namanya. Biarlah perhatiannya tertuju pada Barang-barang yang disukainya. Makanan atau pakaian”

“O” desis Pangeran Sindurata, “Aku harus menyimpan seorang yang gila di dalam rumah ini”

“Tetapi itu adalah darah daging kangmas sendiri” Pangeran Sindurata hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bencana yang dahsyat ternyata telah menimpa keluarganya. Anaknya menjadi gila, dan cucunya mati tertembak oleh orang-orang asing yang selama ini dianggapnya sebagai bangsa yang akan dapat membawa kebahagiaan di dalam hidupnya, yang dengan ringan tangan memberikan banyak sekali hadiah yang berharga baginya.

Tetapi Pangeran Sindurata tidak menerima peristiwa itu tanpa berbuat apa-apa. Ketika ia kemudian sempat berbicara dengan adiknya, Pangeran Sindumurti, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa peristiwa ini tentu mempunyai alasan yang tidak dimengertinya. Dan alasan itulah yang harus mereka ketemukan.

“Untuk sementara aku tidak akan dapat menemui Pangeran Ranakusuma” desis Pangeran Sindurata, “Aku menjadi sangat malu. Ia tentu sudah mengetahui dan mendengar igauan Galihwarit pula sehingga dibawanya Galihwarit kembali ke rumah ini, meskipun ia tidak mengatakannya”

“Ya kangmas. Tetapi biarlah kita melihat perkembangan keadaan dengan hati yang dingin. Jika kita dibakar oleh perasaan, maka kita akan mudah berbuat salah”

Pangeran Sindurata mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak berhasil segera menyingkirkan pergolakan yang terjadi di dalam dadanya. Dan karena itulah, maka ia pun telah dicengkam oleh keprihatinan yang dalam.

Dalam pada itu selagi malam menjadi semakin dalam beberapa orang berkuda telah memasuki kota Surakarta. Beberapa orang prajurit peronda yang sedang nganglang terkejut mendengar derap itu. Apalagi pada suasana yang sedang buram karena kematian Raden Rudira, maka prajurit itu pun kemudian berusaha menghentikan orang berkuda yang berpacu di jalan raya itu, apalagi di malam hari.

Ketika orang-orang berkuda itu sudah berhenti, maka pemimpin peronda yang bersenjata tombak itu pun segera mendekatinya. Tombaknya masih merunduk di bawah dadanya. Namun di dalam keadaan yang gawat itu, ia selalu berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan.

Orang-orang berkuda itu masih tetap berada di punggung kuda ketika prajurit itu bertanya, “Siapakah kalian?”

Orang yang berkuda di paling depan itu pun menjawab, “Kami adalah keluarga istana Ranakusuma”

“He?”

“Aku sendiri adalah abdi Ranakusuman”

“Yang lain”

“Raden Juwiring. Putera tertua dari Pangeran Ranakusuma. Aku baru saja memberitahukan kepadanya bahwa Raden Rudira telah meninggal”

“O” prajurit itu pun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam diikuti oleh para peronda yang lain. Katanya, “Maaf Raden. Raden sudah terlalu lama tidak tinggal di dalam kota, sehingga kami tidak segera dapat mengenal”

Raden Juwiring tersenyum. Katanya, “Aku memang tidak banyak dikenal”

Para peronda itu tidak menjawab. Mereka menganggap bahwa ucapan Raden Juwiring itu merupakan suatu sindiran bagi mereka. Tetapi sebenarnya Juwiring sama sekali tidak hendak berbuat demikian. Sesuatu di dalam hatinyalah yang telah mendesak kata-kata itu meloncat dari mulutnya.

“Jika demikian” berkata para peronda itu, “Silahkan Raden melanjutkan perjalanan”

Demikianlah maka iring-iringan itu pun bergerak pula dan sejenak kemudian kuda-kuda itu pun telah berlari di jalan raya yang sepi. Lampu minyak yang terpancang di sebelah-menyebelah jalan memberikan sedikit pertolongan di dalam gelapnya malam sehingga mereka tidak mendapatkan kesulitan menelusuri jalan kota.

“Kakang Juwiring sangat dihormati di sini” bisik Arum kepada Buntal.

Namun ternyata bahwa Juwiring pun mendengarnya juga sehingga sebelum Buntal menyahut, Juwiring telah mendahului-nya, “Hanya kebetulan. Mereka sebenarnya tidak menghormati aku, tetapi mereka menghormati derajat ayahanda Pangeran. Jika aku bukan putera ayahanda Pangeran Ranakusuma, maka kedudukanku akan lain. Berbeda dengan seseorang yang dihormati karena pribadinya sendiri”

Arum menjulurkan lidahnya sambil berdesis, “Ternyata Raden Juwiring mendengarnya”

“Ah kau” sahut Buntal, “Kau tidak sedang berbisik. Tetapi kau berteriak”

“Tetapi bukankah sebenarnya begitu?”

Buntal tidak menjawab lagi.

Namun dalam pada itu, utusan dari Ranakusuman yang berada di antara mereka berpaling juga memandang Juwiring sejenak. Dan anak muda itu berkata lebih lanjut, “Ada orang yang dihormati memang karena ia pantas dihormati. Ia telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang dan apalagi bagi Surakarta. Tetapi aku belum pernah berbuat apa-apa”

Tidak ada yang menyahut. Namun agaknya Juwiring tidak sedang bergurau. Tetapi ia bersungguh-sungguh.

Sejenak kemudian mereka telah berada di tengah-tengah kota Surakarta. Sebentar lagi mereka sudah berada di jalan lurus yang menuju ke istana Ranakusuman.

Derap kaki-kaki kuda itu telah mengejutkan beberapa orang penjaga di regol Ranakusuman. Ketika mereka menjenguk lewat sebuah lubang di pintu regol, mereka melihat dua orang yang berdiri di muka pintu itu.

“Siapa?”

“Aku, bersama Raden Juwiring”

“O, Raden Juwiring” desis seseorang yang kemudian dengan tergopoh-gopoh membuka pintu regol.

Ketika pintu itu terbuka, maka Juwiring pun segera bertanya

“Apakah paman Dipanala ada?”

“Ada Raden. Ada. Silahkan masuk”

“Aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama kemanakan Ki Dipanala. Panggillah”

Seorang penjaga dengan tergesa-gesa pergi ke ruang dalam yang masih terang benderang. Didapatinya Ki Dipanala duduk bersila di ruang dalam. Agaknya ia selalu siap menunggu setiap perintah. di sampingnya duduk seorang pelayan yang lain.

“Ki Dipanala” penjaga regol itu berdesis, “Raden Juwiring telah datang. Ia menunggumu di regol”

“Kenapa tidak segera saja masuk?”

“Ia tidak datang seorang diri. Ia datang bersama kemanakan Ki Dipanala”

“Kemanakanku?”

“Ya”

Ki Dipanala berpikir sejenak. Dan tiba-tiba saja ia teringat kepada dua orang saudara seperguruan Juwiring. Karena itu, maka ia pun segera berdiri dan turun ke halaman menyongsong anak-anak yang datang dari Jati Aking.

Dugaannya memang tepat. Yang datang adalah Raden Juwiring. Sedang di sebelah regol menunggu Buntal dan Arum.

“Marilah Raden” berkata Ki Dipanala, “Ayahanda sudah menunggu” Lalu katanya kepada Buntal dan Arum, “Marilah ngger. Silahkan masuk”

Juwiring segera mendekati Ki Dipanala sambil berbisik, “Biarlah mereka berada di rumah paman lebih dahulu karena menurut ayah, maksudku guru di Jati Aking, biarlah ia tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan pergaulan di rumah ini”

“O, tentu tidak. Silahkan, tidak ada keberatan apa-apa seandainya langsung dipersilahkan masuk. Masih ada tempat yang barangkali sesuai untuk mereka di dalam istana ini”

“Tetapi tentu ada banyak orang di dalam. Tentu beberapa orang bangsawan dan keluarga ayahanda terdekat yang berjaga-jaga” lalu tiba-tiba suaranya merendah, “Bukankah benar adimas Raden Rudira meninggal?”

“Ya Raden. Hampir di luar dugaan sama sekali”

Raden Juwiring mengangguk-angguk, lalu diulanginya, “Biarlah mereka tinggal di rumah paman untuk malam ini. Besok biarlah mereka aku perkenalkan kepada ayahanda Pangeran”

“Jika demikian, baiklah Raden. Biarlah aku bawa mereka ke rumah. Sementara itu silahkan Raden masuk”

Ketika Juwiring memasuki halaman rumahnya, maka Buntal dan Arum telah dibawa oleh Ki Dipanala ke rumahnya melalui jalan sempit di luar dinding halaman istana.

Setelah menempatkan kedua anak-anak muda itu dan menyerahkannya kepada keluarganya, maka Ki Dipanala pun segera kembali ke istana Ranakusuman.

Ternyata kedatangan Juwiring di istana Ranakusuman itu telah menarik perhatian setiap orang yang ada di dalam istana itu. Semuanya memandangnya dengan tanggapan masing-masing. Beberapa orang bangsawan yang dekat dengan Raden Ayu Galihwarit menganggap kedatangan Juwiring itu sebagai suatu usaha untuk mempergunakan kesempatan, justru karena Rudira baru saja hilang dari istana itu.

“Sst” desis seorang perempuan bangsawan, “Cepat benar Juwiring mengetahui bahwa adiknya telah meninggal”

“Tentu Pangeran Ranakusuma telah mengirimkan utusan untuk memberitahukannya”

“Anak itu tentu bersorak di dalam hati. Kematian Rudira memberikan peluang baginya untuk menguasai seluruh kesempatan yang pernah dimiliki oleh Rudira”

“Masih ada adik perempuannya”

“Apakah daya seorang perempuan”

“Ia akan bersuami”

Kawannya berbicara tidak menyahut. Mereka hanya sekedar memandang saja ketika Juwiring lewat terbungkuk-bungkuk di hadapan mereka langsung masuk ke ruang dalam.

“Dimana ayahanda?” bertanya Juwiring kepada Ki Dipanala yang telah berada di istana itu pula.

“Di dalam. Ayahanda Raden ternyata terlampau letih. Lahir dan batin. Agaknya ayahanda Raden telah tertidur meskipun sambil duduk di dalam bilik”

Juwiring menjadi ragu-ragu sejenak. Meskipun ia adalah putera yang sulung, tetapi rasa-rasanya ada jarak yang selama ini membatasi antara dirinya dengan ayahandanya.

“Silahkan Raden” berkata Ki Dipanala.

“Di mana ibunda?”

“Masih di istana ayahandanya. Pangeran Sindurata”

“Apakah ibunda Galihwarit tidak menunggui keberangkatan jenazah adinda Rudira?”

“Tidak Raden”

Juwiring mengangguk-angguk. Agaknya tanpa Raden Ayu Galihwarit, rasa-rasanya Juwiring tidak begitu segan memasuki bilik ayahandanya yang sedang tertidur sambil duduk oleh kelelahan yang mencengkam. Lahir dan batin.

Perlahan-lahan Raden Juwiring memasuki pintu bilik. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi beberapa orang memandanginya dengan bayangan perasaan yang berbeda-beda di wajah mereka.

“Setelah tidak ada Rudira, anak itu merasa dirinya dapat berbuat apa saja di sini” desis seorang bangsawan tua.

Tidak ada yang menyahut. Mereka melihat Raden Juwiring itu hilang di balik pintu.

Ternyata langkah Raden Juwiring telah mengejutkan ayahandanya yang sebenarnya tidak tidur nyenyak. Rasa-rasanya hanya bagaikan terlena beberapa saat.

Sejenak Pangeran Ranakusuma memperhatikan seorang anak muda yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan ngapurancang. Kepalanya tertunduk dan pandangannya jatuh hampir di atas kakinya sendiri.

“Juwiring” desis Pangeran Ranakusuma.

“Ya ayahanda. Aku telah datang karena ayahanda berkenan memanggil”

Pangeran Ranakusuma berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam. Didekatinya anak laki-lakinya itu. Kemudian sambil menepuk bahunya ia berkata, “Adikmu telah tidak ada lagi”

“Ya ayahanda, seperti yang tersebut di dalam surat ayahanda.

“Ya, akulah yang membuat surat itu. Aku cemas bahwa kau sudah tidak mempunyai kepercayaan lagi kepada ayahmu, sehingga kau tidak mau datang meskipun aku telah memanggil-mu”

“Aku tentu akan menjalankan segala perintah ayahanda”

“Bagus Juwiring. Ternyata kau anak yang baik. Selama ini aku mencoba mengenalmu. Tetapi baru malam ini aku berhasil, justru setelah adikmu tidak ada”

Namun keduanya terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar suara dari sela-sela pintu yang kemudian terbuka, “Ayahanda terpengaruh oleh hilangnya kakangmas Rudira. Ayahanda merasa kesepian, dan anak itu ayahanda anggap dapat menggantikan kedudukan kangmas Rudira. Tidak. Anak itu tidak kita perlukan di istana ini”

“Warih” desis Pangeran Ranakusuma, “ini juga kakakmu, Warih”

Rara Warih memandang Juwiring sejenak. Namun kemudian sambil memalingkan wajahnya ia berkata, “Ia tidak pantas berada di istana ini”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan didekatinya anak gadisnya sambil bertanya, “Warih. Sudahlah. Marilah kita lupakan pertikaian di antara keluarga kita. Sebaiknya kita mencoba menempatkan diri kita masing-masing di dalam hidup kekeluargaan yang rukun”

“Ayahanda” berkata Rara Warih, “Bukankah ayahanda sudah mengusirnya dan menempatkannya di padukuhan yang jauh? kenapa sekarang ia berada kembali di istana ini, tepat pada saat meninggalnya kangmas Rudira?”

“Aku memanggilnya”

“Kenapa ayah memanggilnya? Tentu karena ayah sedang merasa kehilangan. Ayah menganggap bahwa orang itu dapat menggantikan kangmas Rudira yang hilang”

“Bukan begitu Warih. Ia memang keluarga kita sendiri”

“Tetapi ia tidak sederajad dengan aku dan kangmas Rudira, “

Terasa sesuatu berdesir di dada Juwiring. Untunglah bahwa. ia tidak datang langsung bersama Buntal dan Arum. Jika keduanya ada di ruang itu juga, maka ia akan menderita malu karenanya di hadapan saudara-saudara seperguruannya itu, yang selama ini kurang mengerti persoalan yang ada di antara keluarganya.

“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma, “Kau harus belajar melihat kenyataan. Bagaimanapun juga Juwiring adalah anakku. Dan kau juga anakku”

“Tetapi ibunya tidak sederajad dengan ibuku”

Dalam pada itu rasa-rasanya dada Juwiring menjadi semakin panas sehingga sebelum Pangeran Ranakusuma menjawab, Juwiring telah mendahului menyahut, “Ayahanda. Baiklah. Jika kedatanganku memang tidak dapat diterima oleh keluarga ini, maka sebaiknya aku pergi. Aku sudah datang memenuhi surat ayahanda meskipun aku terlambat, karena aku tidak dapat menyaksikan keberangkatan jenazah adimas Rudira”

“Dan itu memang tidak perlu bagimu” sahut Rara Warih. Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia ingin mengendapkan gejolak yang membakar dadanya.

“Tidak Juwiring” berkata ayahandanya, “Kau tetap di sini. Sebagian kata Warih memang benar. Aku kesepian. Kau adakah anakku laki-laki seperti Rudira. Dan kau pun berhak berada di rumah ini, karena rumah ini memang rumah kita. Rumah keluarga kita”

“Tentu tidak” potong Warih, “Jika ibunda datang ke istana ini, maka ibunda tentu akan mengambil sikap yang lebih tegas dari sikapku”

“Ibumu tidak akan datang lagi ke rumah ini Warih” jawab Pangeran Ranakusuma.

“Kenapa?” Rara Warih menjadi tegang.

Pertanyaan Rara Warih itu ternyata telah mengejutkan Pangeran Ranakusuma yang di luar sadarnya telah menyebut sesuatu tentang isterinya di hadapan Rara Warih. Karena itu, untuk beberapa saat ia termangu-mangu. Ia tidak segera menemukan jawaban atas pertanyaan puterinya itu.

“Ayahanda?” desak Rara Warih, “Kenapa ibunda tidak akan kembali lagi ke istana ini?”

“Bukan maksudku berkata begitu Warih” jawab Pangeran Ranakusuma kemudian, “Aku hanya ingin mengatakan bahwa ibundamu mungkin memerlukan waktu yang lama untuk menenangkan goncangan perasaannya itu”

“Dan hati ibunda akan terguncang lagi apabila ia melihat orang itu berada di dalam istana ini”

“Mungkin akan terjadi sebaliknya” jawab Pangeran Ranakusuma, “mungkin Juwiring dapat menawarkan hatinya. Anak itu telah diasuhnya pula selagi masih bayi, sebelum kakakmu lahir, meskipun jaraknya tidak begitu jauh. Baru sejak Rudira lahir ibumu tidak sempat lagi menyentuh Juwiring karena ia sibuk dengan anaknya sendiri”

“Tetapi ketika orang itu menjelang dewasa, maka ia sudah banyak sekali menyakiti hati ibunda sehingga ia harus pergi dari istana ini. Pada saat itu ayahanda merestui keputusan itu juga”

“Ya karena di antara keduanya, maksudku Rudira dan Juwiring agaknya kurang dapat hidup rukun meskipun mereka seayah. Karena itulah maka salah seorang dari keduanya harus menyingkir. Tetapi sekarang Rudira sudah tidak ada lagi”

“Tetapi aku masih ada. Jika aku tidak dapat hidup rukun dengan orang itu, siapakah yang akan ayahanda singkirkan?”

Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu. Ia merasa benar-benar mendapat cobaan perasaan yang maha berat. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menyahut pertanyaan Warih itu.

“Ayahanda” terdengar Juwiring berkata, “Apa salahnya jika aku kembali ke Jati Aking. Aku dapat hidup tenang sebagai seorang petani tanpa memalingkan diri dari sikap seorang anak terhadap ayahandanya jika memang ayahanda memberikan perintah apapun. Aku tetap seorang anak yang harus patuh kepada orang tuanya. Jika aku tinggal di padepokan Jati Aking, itu adalah karena aku sedang menuntut ilmu. Ilmu kesusas-teraan, ilmu pemerintahan dan ilmu kajiwan yang lain”

“O” kata-kata Juwiring itu justru membuat bati Pangeran Ranakusuma menjadi pedih. Dengan suara yang berat ia menjawab, “Kau tetap di sini Juwiring” Lalu katanya kepada Rara Warih, “Kau juga tetap di sini Warih. Cobalah saling mengenal dan cobalah saling mendekatkan diri. Kalian adalah anak-anakku”

“Ayahanda” berkata Rara Warih, “Jika orang itu tetap berada di istana ini, akulah yang akan pergi ke istana eyang Pangeran Sindurata”

“Tidak” tiba-tiba Juwiring langsung menjawab, “Aku akan kembali ke Jati Aking seperti pesan Kiai Danatirta”

Pangeran Ranakusuma menahan dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ia ingin menahan dadanya yang akan retak. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Baiklah jangan kita perbincangkan sekarang, di luar masih banyak orang-orang yang berjaga-jaga sepeninggal Rudira. Disini kita sudah mulai bertengkar di antara keluarga sendiri”

“Tidak. Ayah harus memberikan ketegasan sekarang. Orang itu, atau akulah yang harus pergi dari rumah ini”

“Aku akan meninggalkan istana ini” jawab Juwiring.

“Ya, ya” sahut Pangeran Ranakusuma, “terserah saja kepada keputusan kalian. Tetapi diamlah. Sekarang bukan waktunya untuk berbicara tentang hal itu. Sebaiknya kalian menemui saudara-saudara kalian yang ada di rumah ini malam ini. Kawanilah mereka berjaga-jaga dan layanilah jika mereka memerlukan sesuatu. Bukan justru kalian bertengkar sendiri. Jika ada orang lain yang mendengar, maka kesan atas kita akan jelek sekali”

Rara Warih memandang Juwiring dengan sorot mata yang memancarkan kebencian yang mendalam. Sejenak ia masih berdiri di muka pintu. Namun ia pun kemudian melangkah keluar dan pergi ke bilik sebelah. Ketika dijumpainya di dalam bilik itu bibinya, adik Raden Ayu Galihwarit, sedang beristirahat oleh kelelahan, tiba-tiba saja Rara Warih berlari dan memeluknya sambil menangis.

“Warih” bibinya itu pun segera bangkit.

“Bibi” terdengar suaranya di antara isaknya.

“Kenapa kau menangis lagi? Sudahlah. Seharusnya kau mencoba menenangkan hatimu. Jika ibumu mengetahui bahwa kau masih saja menangis, maka ia tidak akan segera dapat menjadi tenang. Bukankah kau sayang kepada ibunda?”

Rara Warih mengangguk.

“Malam ini, di rumah eyang Pangeran Sindurata pun tentu banyak orang yang menunggui ibundamu. Mudah-mudahan ibundamu sudah sadar, dan mampu mengendapkan perasaannya”

Sekali lagi Rara Warih menganggukkan kepalanya.

“Karena itu, sudahlah”

“Bibi” berkata Rara Warih kemudian, “Aku sudah mencoba untuk menerima keadaan ini dengan hati yang lapang. Tetapi tiba-tiba saja orang itu datang ke dalam istana ini. Apakah aku harus berdiam diri dan membiarkannya berada di sini?”

“Siapa Warih?”

“Juwiring”

Bibinya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Biarlah ayahandamu menyelesaikannya”

“Ayahandalah yang justru memanggilnya. Selagi ayah merasa kehilangan, maka orang itu dianggapnya dapat menjadi pengganti kakanda Rudira. Tetapi orang itu sama sekali tidak sederajad dengan kakanda Rudira”

“Seharusnya ia tidak kembali ke istana ini”

“Bukankah kehadirannya itu sangat menyakitkan hatiku. Hatiku yang luka karena kehilangan kangmas Rudira, dan kini ditambah lagi dengan kehadiran orang yang hanya akan mengotori istana ini”

“Tetapi barangkali ia sekedar menampakkan diri pada saat jenazah adiknya dimakamkan”

“Tidak. Ayahanda menghendakinya agar ia tetap tinggal disini”

Bibinya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah. Jika ibundamu telah sehat sama sekali dan kembali ke istana ini, maka anak itu pasti akan segera pergi”

“Tetapi menurut ayahanda, ibunda tidak akan kembali lagi, atau Setidak-tidaknya ibunda memerlukan waktu yang lama untuk dapat dengan tatag kembali memasuki rumah ini”

Bibinya mengusap kening Rara Warih sambil berkata, “Sudahlah. Sebaiknya kau tidak mempersoalkannya lagi. Jika kau letih, beristirahatlah. Tidurlah sejenak, biarlah aku menemui sanak keluarga yang duduk di ruang dalam”

“Tidak bibi. Aku tidak letih. Biarlah aku menemui mereka. Dan biarlah bibi beristirahat”

“Aku sudah cukup beristirahat. Marilah, kita bersama-sama menemui mereka”

Demikianlah keduanya keluar dari dalam bilik itu dan pergi ke ruang dalam. Ketika mereka melalui pintu bilik Pangeran Ranakusuma, mereka masih mendengar suaranya meskipun perlahan-lahan sekali.

Dalam pada itu di dalam bilik itu Pangeran Ranakusuma berusaha meyakinkan Juwiring, bahwa hati adiknya itu pasti akan segera lunak kembali. Ia pun akan menjadi kesepian dan memerlukan seseorang di dalam rumah itu selain ayahandanya yang sering pergi untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Pangeran dan seorang perwira prajurit Surakarta.

“Ayahanda” berkata Juwiring, “Seperti pesan Kiai Danatirta, biarlah aku kembali ke Jati Aking. Mungkin akan lebih baik bagiku. Apalagi sebenarnyalah kedatanganku tidak seorang diri”

“Dengan siapa kau datang? Dengan Kiai Danatirta?”

“Tidak ayahanda, tetapi dengan Arum, anak gadis Kiai Danatirta, dan Buntal, anak angkatnya”

“Dimana mereka sekarang?”

“Mereka berada di rumah Ki Dipanala. Aku sudah membayangkan bahwa akan terjadi persoalan karena kehadiranku, meskipun tidak setajam yang aku temui”

“Sudahlah. Jangan hiraukan. Biarlah besok kita berbicara lagi. Sekarang, kau dapat menemui keluarga kita di ruang depan”

Tetapi Juwiring menjadi ragu-ragu. Katanya, “Ayahanda, apakah aku masih dapat diterima berada di lingkungan para bangsawan. Ada semacam perasaan rendah diri menghinggapi diriku menghadapi sikap dan tatapan mata mereka”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah anak laki-laki itu sejenak. Wajah yang memang mengesankan wajah seorang anak bangsawan. Beberapa orang mengatakan bahwa Juwiring mirip sekali dengan wajahnya sendiri pada saat bayi itu dilahirkan. Kemudian di dalam perkembangannya wajah Juwiring lebih mendekati wajah ibunya.

Sejenak Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Sepercik perasaan bersalah telah melonjak di dalam dadanya. Anak itu seakan-akan sudah diasingkannya, sehingga terpisah dari lingkungan para bangsawan. Juwiring selama ini hidup di padepokan yang terpencil, yang menurut pendengarannya ia telah berusaha menyesuaikan diri hidup di lingkungan para petani dan justru telah terjun ke dalam sawah berlumpur.

Dan kini ia mencoba menariknya dari kehidupan itu dan kembali ke dalam lingkungan para bangsawan.

“Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma, “mungkin kelengkapan lahiriah dapat membuatmu diganggu oleh perasaan rendah diri. Tetapi kau adalah benar-benar anakku”

Raden Juwiring tidak menyahut.

“Memang sepantasnya kau berpakaian seperti seorang bangsawan. Kau dapat memakai pakaianku. Tentu sudah tidak terlampau besar. Bahkan mungkin agak sempit”

“Ayahanda” desis Juwiring, “biarlah aku memakai pakaianku sendiri. Aku sudah biasa memakai pakaian seperti ini”

“Tetapi kau berada di dalam lingkunganmu sendiri sekarang. Kau harus mengenakan pakaian sepantasnya. Bukan karena pakaianmu maka kau diterima di dalam lingkunganmu, namun kesan pertama yang tampak pada seseorang adalah caranya berpakaian. Karena itu jangan menolak. Kau harus hadir di antara mereka dalam pakaian yang pantas bagi seorang putera Pangeran. Jika kau segan memakai pakaianku, pakailah pakaian Rudira, yang barangkali tubuhnya tidak terpaut banyak daripadamu”

“Terima kasih ayahanda. Kesannya akan lebih jelek lagi jika aku memakai pakaian adimas Rudira. Semua orang akan memancangku sebagai seorang anak muda yang tidak tahu diri”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.

“Ayahanda, mereka yang ada di pendapa sudah melihat aku dalam pakaian ini. Agaknya tidak pantas jika aku kemudian berganti pakaian dengan pakaian yang pantas bagi seorang putera Pangeran”

“Baiklah Juwiring. Tetapi sebaiknya kau memang membersih-kan diri sejenak, lalu berganti pakaian yang manapun yang kau kehendaki setelah perjalananmu, lalu temuilah sanak keluarga terdekat yang ada di ruang dalam dan di pendapa”

Juwiring tidak dapat menolak. Sebenarnyalah bahwa ia memang segan menemui sanak keluarganya yang seakan-akan sudah terpisah dari dunianya. Bukan saja ada semacam perasaan rendah diri, tetapi baginya dunia semacam istana ayahanda ini sama sekali tidak menarik. Hubungan yang kaku di antara mereka karena batasan unggah-ungguh. Sikap yang tidak wajar dan lingkungan dunia yang tidak dilandasi oleh kenyataan hidup yang sebenarnya bagi keseluruhan rakyat Surakarta. Istana ini bagaikan dunia yang terpisah, yang memilih batasan-batasan kehidupan tersendiri.

Sambil melangkahkan kakinya ke pakiwan, sekilas Juwiring terkenang kepada seseorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati. Ia yakin bahwa orang yang menyebut petani dari Sukawati itu benar-benar seorang Pangeran seperti ayahandanya yang justru lebih muda. Dan menurut gambaran angan-angan Juwiring, cara hidup dan sikap petani dari Sukawati itu tentu jauh berbeda dengan cara hidup dan sikap ayahandanya berserta sanak keluarganya.

Ketika Raden Juwiring berada di halaman belakang, tampaklah seluruh bagian belakang istana ini menjadi terang benderang seperti sedang ada sebuah peralatan. Tiba-tiba saja timbullah keinginannya untuk melihat-melihat ruang dan bilik-bilik di belakang istananya.

Juwiring tertarik ketika ia melihat beberapa orang duduk melingkar di atas tikar yang putih. Namun suasananya diliputi oleh kemuraman.

“Mereka adalah pengawal setia adimas Rudira” berkata Juwiring. Bahkan kemudian terbayang betapa para pengawal itu pernah mencoba menyerangnya di bawah pimpinan Sura dan kemudian masih saja terbayang tingkah laku Mandra, sepening-gal Sura.

Tetapi Juwiring tidak melihat Mandra.

Dan akhirnya Juwiring pun mengetahui seluruhnya, apa yang telah terjadi atas Raden Rudira, Raden Ayu Galihwarit dan Mandra, ketika Juwiring bertemu dengan Ki Dipanala.

“Mereka adalah kawan-kawan dekat Mandra” berkata Ki Dipanala, “meskipun ia berkhianat, tetapi tidak sebaiknya kita membalas dendam pada mayatnya. Itulah sebabnya, ketika mereka yang melawat Raden Rudira mengantarkannya ke makam, maka mayat Mandra pun dibawa ke kuburan pula”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin muak melihat kehidupan di balik dinding-dinding istana yang gemerlapan, tetapi yang dikotori oleh nafsu dan ketamakan yang berlebih-lebihan.

“Tetapi di saat terakhir adimas Rudira masih mencoba mempertahankan kehormatan nama keluarga Ranakusuman” desis Juwiring.

“Ya Betapapun nakal dan bengalnya anak muda itu, tetapi ternyata ia masih mempunyai harga diri. Ia tidak peduli bahwa ia akan berhadapan dengan kumpeni ketika ia mengetahui ibunya pergi bersama mereka. Mandra lah yang benar-benar pengkhianat yang sangat licik”

Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia semakin jelas dapat melihat kepalsuan yang bersarang di dalam hidup yang terlampau berlebih-lebihan ini.

“Karena itu paman” berkata Raden Juwiring, “Aku berkeberatan jika ayahanda menghendaki aku tinggal di rumah ini kembali. Aku sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan. Dan rasa-rasanya hidup di padepokan jauh lebih segar dari kehidupan di istana ini, di sini semuanya digulat oleh kebanggaan lahiriah. Di sini nilai seseorang ditentukan oleh gemerlapnya permata yang dipakainya. Orang-orang di dalam istana semacam ini rasa-rasanya semakin lama semakin jauh dari hakekat dirinya, sebagai mahluk yang diciptakan oleh Maha Penciptanya. Mereka sama sekali tidak pernah menyebut kebesaran Yang Maha Esa lagi dalam hidupnya sehari-hari. Yang mereka dambakan hanyalah kebendaan semata-mata. Bagi mereka, orang-orang asing itu lebih banyak memberikan harapan daripada Kasih dari Tuhan Yang Maha Kasih. Bagi mereka, hidup hari ini agaknya jauh lebih penting dari kehidupan akhirat”

Ki Dipanala memandang Raden Juwiring dengan tatapan mata yang aneh. Yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang anak muda yang tidak jauh berselisih umur dengan Raden Rudira yang baru saja dimakamkan. Tetapi pengaruh kehidupan di padepokan Kiai Danatirta itu membuatnya jauh lebih dewasa menanggapi kehidupan ini. Bukan saja alam dunia ini, tetapi juga alam setelah mati.

Namun demikian, Ki Dipanala itu kemudian menyahut, “Raden. Jika memang ayahanda menghendaki Raden ada di sini, aku ingin menyatakan pendapatku, bahwa sebaiknya Raden bersedia. Ibarat orang yang bertempur, maka Raden berada di medan yang paling depan. Memang istana ini memerlukan perubahan. Seandainya Raden tidak dapat merubah tata kehidupan beberapa orang bangsawan di Surakarta, Setidak-tidaknya keluarga ini dapat Raden selamatkan”

“Ah, apakah yang dapat aku banggakan dengan pribadiku, sehingga paman berharap aku dapat menumbuhkan perubahan di sini? Baru saja Diajeng Warih mohon kepada ayahanda untuk mengusirku dari istana ini”

“Di sinilah letak ketabahan hati seseorang. Di medan yang paling depan memang memerlukan ketabahan hati, keberanian dan kemampuan mengatasinya. Aku yakin bahwa Raden dapat melakukannya”

Tetapi Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ada bermacam-macam alasan paman. Aku orang asing di sini. Dan aku masih ingin menyempurnakan ilmu yang aku sadap dari ayah di Jati Aking”

“Raden tidak usah menghentikannya. Raden dapat menyempurnakannya dengan cara yang sesuai dengan keadaan Raden. Namun menurut pertimbanganku, kehadiran Raden di sini sangat diperlukan” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “Jika diperlukan, aku dapat membantu Raden berhubungan dengan para bangsawan yang tidak puas terhadap keadaan sekarang ini”

Raden Juwiring terdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak akan berarti apa-apa paman. Bahkan aku akan dapat hanyut jika aku terjun ke dalam arus banjir yang deras”

“Di sinilah Raden dapat menguji diri sendiri. Apakah Raden hanya selembar daun kering yang jatuh ke dalam arus, ataukah sebongkah batu karang yang kuat berakar di dalam bumi. Jika Raden hanya selembar daun, maka Raden memang akan hanyut sampai ke mulut samodra. Tetapi jika Raden adalah batu karang yang tegak dengan kuat, maka Raden akan menjadi pegangan mereka yang ingin menyelamatkan diri dari arus itu”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam.

“Raden. Memang Raden tidak usah sekokoh Pangeran Mangkubumi. Tetapi Raden dapat merupakan gambaran daripadanya di dalam lingkungan Raden”

Sejenak Juwiring merenung. Namun katanya kemudian, “Aku akan mencoba memikirkannya paman”

“Silahkan Raden” berkata Ki Dipanala, “sekarang silahkan Raden pergi ke pakiwan. Tentu ayahanda menunggu”

Juwiring pun kemudian pergi ke pakiwan membersihkan dirinya. Namun dalam pada itu, kata-kata Ki Dipanala masih saja berkumandang di telinganya.

Terasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Meskipun ia masih belum dapat mengambil kesimpulan yang pasti, namun apa yang dikatakan oleh Ki Dipanala itu memang sangat menarik.

“Aku akan pergi ke pendapa” katanya kemudian, “Aku tidak perlu merasa diriku kecil. Aku tidak perlu memakai pakaian yang gemerlapan seperti layaknya seorang putera Pangeran. Aku akan hadir sebagaimana aku yang ada. Juwiring adalah Juwiring. Diterima atau tidak diterima, itu sama sekali bukan persoalanku. Tetapi aku harus tetap berada pada kenyataanku”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menemukan sikap yang mapan. Dan ia tidak akan menghiraukan tanggapan orang lain atasnya.

Demikianlah setelah membersihkan diri, Juwiring membenahi pakaiannya. Pakaian yang sudah dipakainya itu. Dengan langkah yang pasti ia pergi ke pendapa seperti yang dimaksud oleh ayahandanya untuk menemui sanak kadangnya yang berjaga-jaga setelah kematian adiknya seayah.

Kehadirannya memang sangat menarik perhatian. Beberapa orang masih saja memandanginya dengan tatapan mata yang kurang sedap. Namun Juwiring sama sekali tidak menghiraukan-nya. Ia duduk di antara mereka, saudara-saudara sepupunya dengan dada tengadah. Meskipun ada juga sepercik pengakuan, bahwa ibunya adalah seorang perempuan yang tidak sederajad dengan ibu saudara-saudara sepupunya itu, namun Juwiring telah menemukan kepribadian sendiri

Dengan sikap yang wajar ia mencoba menempatkan dirinya di antara sanak kadangnya meskipun agak kaku. Tetapi Juwiring tidak berusaha mengisi keasingannya dengan tingkah laku yang berlebihan. Meskipun ia tidak menjadi susut sekecil cucurut tetapi ia juga tidak menggembung sebesar kerbau. Ia adalah Juwiring.

Saudara-saudaranya merasa agak canggung juga berbicara dengan anak muda yang sudah beberapa lamanya tidak ada di antara mereka. Bahkan ada di antara mereka yang memalingkan wajahnya dan berbicara di antara mereka sendiri.

Tetapi Juwiring tidak menghiraukannya. Ia bersikap seperti sikapnya.

Satu dua ada juga di antara mereka yang berbicara sepatah dua patah kata. Ada juga yang bertanya kepadanya tentang keadaannya selama ini.

“Kau sudah lama tidak tampak di antara saudara-saudara sepupumu?” bertanya seorang bangsawan yang baru saja melampaui masa mudanya.

“Ya pamanda” jawab Juwiring, “selama ini aku berada di padepokan yang terpencil”

“O. Apakah yang kau lakukan di sana?”

“Mempelajari beberapa jenis pengetahuan yang mungkin bermanfaat bagi hidupku kelak”

“Kenapa harus dicari di padepokan yang terpencil? Apakah di Surakarta kurang orang-orang pandai yang dapat menuntunmu mempelajari beberapa macam ilmu? Dari ilmu kajiwan sampai ilmu kanuragan? Sepandai-pandai orang padepokan yang terpencil itu, namun mereka tidak akan dapat melampaui kepandaian orang-orang kota. Misalnya kangmas Ranakusuma sendiri, ia mumpuni segala macam ilmu. Tata pemerintahan, kesusasteraan, kajiwan dan juga kanuragan, sehingga kangmas Pangeran diangkat menjadi seorang Senapati. Jika kau berguru kepada ayahandamu sendiri, tentu tidak akan kalah dari gurumu yang sekarang, yang tentu tidak begitu memahami tata pemerintahan dan unggah-ungguh”

“Pamanda” jawab Juwiring, “Agaknya memang demikian. Tetapi ada semacam ilmu yang aku dapatkan di padepokan itu, yang agaknya tidak akan dapat aku cari di dalam kota ini”

“Apa?”

“Bertani. Aku sudah mendekati sempurna di dalam hal bercocok tanam. Bukan saja sekedar mengetahui cara dan beberapa macam perhitungan dan pertimbangan. Yang wajar dan yang dipengaruhi oleh kepercayaan, tetapi aku juga sudah pandai melakukannya”

“Ya. Aku dengar kau sudah sudi melumuri tubuhmu dengan lumpur”

“Ya”

“Itukah sebabnya maka kau memakai pakaian serupa ini di dalam pertemuan ini?”

“Kenapa dengan pakaianku?”

Bangsawan lawan bicaranya itu tersenyum. Katanya, “Agaknya kau benar-benar ingin menunjukkan bahwa kau adalah seorang petani yang pernah di sebut-sebut oleh almarhum Rudira sebagai seorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati?”

“O, tentu tidak pamanda. Nama Petani dari Sukawati itu adalah nama yang besar. Bagaimana mungkin aku dapat mengharap untuk menyamainya, Setidak-tidaknya menyerupai-nya? Petani dari Sukawati mampu melakukan beberapa macam perbuatan yang dapat kita anggap aneh. Ia memiliki ilmu yang jarang ada duanya. Sepi angin. Sapta pemeling. Sapta Pangganda dan sebagainya”

“Kau berpendapat demikian?”

“Ya. Petani dari Sukawati bukannya sembarang orang”

Bangsawan itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya, maka dilihatnya beberapa orang memperhatikan juga pembicaraan itu. Namun justru dengan demikian bangsawan itu pun terdiam. Rasa-rasanya setiap mata bertanya-tanya kepadanya, kenapa ia bersedia bercakap-cakap dengan anak padepokan Jati Aking itu.

Cahaya kemerah-merahan ternyata telah mulai membayang di ujung Timur. Semalam suntuk para tamu berjaga-jaga di pendapa dan ruang dalam. Mereka ikut menyatakan keprihatinan mereka atas meninggalnya Rudira karena peluru.

Demikianlah, maka seorang demi seorang para tamu itu pun justru mohon diri. Hanya beberapa orang yang paling dekat sajalah yang kemudian tinggal di istana Ranakusuman.

Ternyata bahwa keluarga Ranakusuman sendiri, merasa agak asing dengan Juwiring. Beberapa orang dengan segan menghor-matinya seperti mereka harus menghormat Rudira. Tetapi jika terpandang oleh mereka itu pakaian Juwiring yang sederhana, maka hormat yang mereka berikan itu pun segera menjadi hambar.

“Ternyata bahwa bentuk lahiriah seseorang sangat berpengaruh” berkata Juwiring di dalam hati, “Namun demikian, tindak tanduk dan tingkah laku lah yang akan menentukan meskipun baru kemudian”

Ketika halaman istana Ranakusuman menjadi terang oleh cahaya pagi, maka sebagian terbesar dari tamu-tamu itu pun telah meninggalkan istana Ranakusuman. Makin sedikit orang yang berada di rumah itu, rasanya menjadi semakin canggung bagi Raden Juwiring.

Seorang demi seorang mereka meninggalkan pendapa sambil memandang wajah Juwiring. Bahkan ada satu dua yang termangu-mangu bahwa orang itu bukannya Juwiring.

Namun akhirnya mereka bersepakat bahwa karena Juwiring seakan-akan telah dilontarkan ke padepokan itu, maka dengan sengaja ia menunjukkan keadaannya, justru di dalam saat yang agak kalut. Bukan saja kekalutan di dalam istana Pangeran Ranakusuma, tetapi kekalutan yang tampak semakin gelap di atas bumi Surakarta.

Apalagi beberapa orang di antara mereka pernah mendengar ceritera Rudira tentang Petani dari Sukawati.

Dengan demikian maka beberapa orang di antara mereka yang meninggalkan istana Ranakusuman itu bersama-sama saling berbisik, “Agaknya ia ingin disebut Petani dari Sukawati”

“Tidak. Ia berada di padepokan Jati Aking, sehingga ia akan menyebut dirinya Petani dari Jati Aking”

Bangsawan-bangsawan muda itu tertawa berkepanjangan.

Pangeran Ranakusuma yang melepaskan tamu-tamunya di anak tangga pendapa istananya melihat, betapa canggungnya hubungan antara Juwiring dengan sanak kadangnya. Berbeda sekali dengan Rudira. Meskipun Rudira mempunyai kesenangan sendiri, terutama berburu, namun di dalam pergaulan ia justru nampak agak menonjol. Mungkin karena ia senang membual tentang perburuan yang sering dilakukannya.

Pangeran Ranakusuma hanya dapat menarik nafas. Sekali lagi ia merasa bersalah, karena ia telah mengasingkan anak muda yang baik itu dari lingkungannya.

“Ia harus kembali ke rumah ini” katanya di dalam hati, “Aku harus dapat mendamaikannya dengan Warih. Aku memerlukan kedua-duanya”

Namun Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa untuk itu, bukannya kerja yang mudah dilakukannya. Ia pasti akan memerlukan waktu yang cukup panjang dan barangkali berbagai kesulitan akan ditemuinya. Bahkan memang mungkin sekali ia gagal.

Tetapi Pangeran Ranakusuma sudah bertekad untuk melakukannya.

Di hari yang kemudian menjadi semakin panas oleh matahari yang merambat semakin tinggi, Ranakusuman menjadi semakin sepi. Beberapa orang yang masih ada di istana itu menjadi lelah, dan sebagian telah tertidur, sengaja atau tidak sengaja. Sedang yang lain masih sibuk membersihkan pendapa, ruang dalam dan halaman. Sedang beberapa orang perempuan masih ada di dapur untuk menyiapkan makan dan hidangan apabila masih ada tamu-tamu yang bakal datang di hari itu.

Pangeran Ranakusuma yang lesu kemudian duduk di ruang dalam menghadapi semangkuk minuman panas untuk menyegarkan tubuhnya. Ketika ia meneguk minuman yang manis dan hangat itu, tubuhnya memang merasa agak segar. Tetapi minuman itu tidak berhasil menyegarkan jiwanya yang letih dan sakit.

Tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma teringat kepada anak laki-lakinya. Karena itu, maka disuruhnya seorang pelayannya memanggilnya.

“Dimana kau selama ini Juwiring?” bertanya ayahandanya, “sejak kau pergi dari pendapa, kau tidak kelihatan lagi”

“Aku ada di belakang ayahanda, bersama paman Dipanala”

“Tempatmu adalah di sini. di ruangan ini. di dalam istana ini dimana kau suka. Tidak di belakang”

Juwiring mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Terima kasih”

“Karena itu” berkata Pangeran Ranakusuma selanjutnya, “sebaiknya kau berada di sini. Mudah-mudahan adikmu berubah sikap. Sebenarnya ia seorang gadis yang baik meskipun manja. Tetapi karena ia baru saja kehilangan kakak laki-lakinya, maka ia menjadi agak gugup dan tidak sempat memikirkan sikap dan kata-katanya. Karena itu, kau yang lebih tua, hendaklah mencoba dengan telaten dan sabar untuk melembutkan hatinya”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjawab juga, “Baiklah ayahanda. Aku akan mencoba selagi aku masih berada di rumah ini”

“Kau akan tetap tinggal di sini”

“Ayahanda. Seandainya aku mengambil keputusan demikian, maka aku pun harus kembali ke padepokan Jati Aking untuk minta diri”

“Aku tidak berkeberatan. Tetapi kau harus memutuskan terlebih dahulu”

“Aku akan memikirkannya ayahanda. Tetapi apakah kehadiranku di rumah ini tidak akan mengganggu ketenangan?”

“Apa yang kau maksudkan Juwiring?”

“Ayahanda, aku sudah biasa hidup di padepokan kecil. Sudah biasa hidup sebagai seorang petani. Mungkin tingkah lakuku pun sudah berubah, sehingga aku lebih mirip seorang petani daripada seorang putera ayahanda. Mungkin aku sudah menjadi kasar dan tidak mengenal lagi unggah-ungguh di antara para bangsawan”

“Kau belum lama tinggal di Jati Aking. Mungkin tata kehidupan di Jati Aking mempengaruhi sikap dan kebiasaanmu. Tetapi setelah kau berada di istana ini untuk beberapa bulan, maka kebiasaan itu pun akan hilang dengan sendirinya. Sejak kecil kau hidup di antara para bangsawan. Kau akan segera mengenali kebiasaanmu itu kembali”

Juwiring tidak segera menjawab. Kepalanya yang tertunduk menjadi semakin tertunduk. Tanpa disadarinya, ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke pintu-pintu bilik yang masih tertutup.

“Warih dan bibinya sedang tidur. Merekapun lelah”

“Ya ayahanda”

“Aku menunggu keputusanmu”

Juwiring tidak segera menjawab. Beberapa kali ia menimbang apakah yang sebaiknya dilakukan. Namun ia masih tetap ragu-ragu dan goyah.

“Ayahanda” akhirnya ia berkata, “Baiklah aku berbicara dengan anak dan anak angkat Kiai Danatirta itu. Sebenarnyalah kami sudah dipersaudarakannya. Dan kami menganggap Kiai Danatirta sebagai ayah kami”

“Karena kau merasa sudah tidak berayah lagi?”

“Tidak. Sama sekali tidak ayahanda. Jika aku diangkat juga menjadi anaknya itu adalah karena ia tidak mau lagi membatasi dirinya karena aku adalah muridnya. Aku diperlakukannya seperti anaknya sendiri. Demikian juga Buntal”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Juwiring mengingkarinya, namun rasa-rasanya ada juga kekosongan di hati anak yang jauh dari ayahnya, apalagi ia sudah tidak beribu lagi, sehingga dengan demikian ia mencari sandaran kepada orang yang dekat padanya, yang mengasihinya dan memperlakukannya dengan lembut.

“Aku adalah seorang ayah yang jelek sekali” katanya di dalam hati, “Aku hampir saja kehilangan hatinya. Mudah-mudahan aku belum terlambat. Dan mudah-mudahan Juwiring tidak menganggap bahwa aku pun sedang mencari sandaran karena hatiku menjadi kosong sepeninggal Rudira”

“Ayahanda” berkata Juwiring kemudian, “Aku akan mohon diri sejenak untuk pergi ke rumah paman Dipanala. Aku ingin menemui kedua saudara angkatku itu”

“O” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, “Panggil saja mereka kemari”

“Mereka adalah anak-anak padepokan ayahanda. Anak yang tinggal jauh dari kehidupan yang setertib istana ini”

“Bawalah mereka kemari. Aku ingin melihat anak-anak itu. Apabila mereka salah sikap, itu bukan karena mereka tidak mau berbuat sebaik-baiknya. Tetapi aku mengerti, bahwa mereka memang tidak dapat berbuat lebih baik daripada itu”

Juwiring berpikir sejenak, lalu, “Baiklah jika ayahanda memang menghendakinya. Aku akan mengajak paman Dipanala untuk memanggilnya”

“Panggillah”

Juwiring pun kemudian meninggalkan ruang dalam itu dan mencari Ki Dipanala untuk dibawanya memanggil kedua saudara seperguruannya.

“Apakah yang harus aku katakan jika aku menghadap seorang Pangeran?” bertanya Arum.

“Tidak apa-apa” jawab Juwiring, “Jika kau ditanya, maka kau menjawab jika kau mengetahui jawabnya. Tidak ada bedanya dengan berbicara dengan aku dan Buntal”

“Tentu berbeda. Aku harus duduk sambil menunduk dalam-dalam. Setiap kali aku harus menyembah dan membungkukkan kepala, begitu?”

“Ya. Sebenarnya hanya kepada Kangjeng Susuhunan saja kita menyembah. Tetapi para pengeran pun ingin disembah. Bahkan ada kalanya putera-putera Pangeran minta juga disembah”

“Jadi bagaimana dengan aku?”

“Sekehendakmulah”

“Ah, tentu tidak”

“Menyembahlah” potong Ki Dipanala, “Tidak ada salahnya. Tetapi Pangeran Ranakusuma bukan seorang bangsawan yang tinggi hati”

“Cita-citanyalah yang agaknya terlampau tinggi” desis Juwiring, “Tetapi sayang . . “ kata-katanya terputus.

Ki Dipanala memandanginya dengan sorot mata yang mengandung pertanyaan. Namun ia tidak mengucapkannya, karena ia seakan-akan dapat mengerti, bahwa Juwiring tidak sependapat dengan keinginan ayahnya untuk mendapatkan kedudukan yang terlalu tinggi di dalam istana Susuhunan dan kelimpahan kekayaan di istananya sendiri.

Demikianlah maka kedua anak-anak Jati Aking itu pun mengikuti Juwiring memasuki ruang dalam istana Ranakusuman yang dipenuhi dengan berbagai macam hiasan dan perlengkapan yang sangat asing bagi keduanya, terutama Arum. Bagi Buntal, meskipun tidak sebaik istana ini, ia pernah tinggal di rumah seorang bangsawan di Surakarta ini pula, sebelum ia kemudian berkeliaran tanpa tujuan.

Bahkan ternyata Arum tidak dapat menahan keinginannya untuk memperhatikan setiap benda yang ada di sekitarnya. Yang baginya kadang-kadang dianggapnya aneh dan tidak diketahui gunanya sama sekali.

“Aku tidak tahu, buat apakah sebenarnya guci-guci itu?” Ia berdesis, “Apakah kadang-kadang perlu disediakan air di dalam ruangan ini?”

“Tidak” sahut Juwiring, “guci-guci itu tidak lebih dari sebuah hiasan”

“Hiasan? Jadi tidak ada gunanya selain hiasan itu?

“Ya”

Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kini melihat sendiri, betapa istana seorang Pangeran menyimpan harta kekayaan yang tidak ada taranya. Ketika terpandang olehnya lampu minyak yang tergantung di ruang tengah, ia berdesis, “He, permata sebesar itu dan bergantungan di situ?”

“Sst” Buntal menggamitnya, “Bukan permata. Itu terbuat dari bahan yang jauh lebih murah dari permata”

Arum menarik nafas dalami

“Kita menunggu sejenak” berkata Juwiring, “Agaknya ayahanda baru ada di dalam. Biarlah aku mengatakannya bahwa kalian telah datang”

“Kau duduk di permadani itu bersama Buntal”

“Jangan tinggalkan kami” desis Arum.

“Tetapi . . “

“Bersama aku” potong Buntal, “Aku sudah pernah berada di dalam lingkungan seperti ini”

Arum hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi hatinya berdebar-debar juga. Jauh lebih berdebar-debar daripada berada di tengah hutan yang lebat yang dihuni oleh binatang-binatang buas sekalipun.

Juwiring pun kemudian meninggalkannya mencari ayahandanya yang agaknya sedang masuk ke dalam biliknya.

“Apakah mereka sudah datang?” bertanya Pangeran Rana-kusuma.

“Mereka ada di ruang dalam ayahanda”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan segera datang”

Ketika Juwiring kembali ke ruang dalam, dilihatnya Arum masih saja mengagumi perhiasan dan alat-alat rumah tangga yang ada di ruang dalam itu.

“Ayahanda akan segera datang” berkata Juwiring yang kemudian duduk bersama kedua saudara seperguruannya itu di atas sebuah permadani yang berwarna kemerah-merahan”

“Tikar ini bagus sekali. Tetapi rasa-rasanya kulitku agak gatal” bisik Arum.

“Bukan tikar” sahut Buntal, “ini adalah permadani yang dibeli dari seberang lautan”

“O, dari mana?”

“Dari jauh sekali”

“Di rumah paman Dipanala juga ada tikar, eh, permadani seperti ini. Tetapi tidak sebagus ini dan tidak begitu gatal seperti ini”

“Permadani di rumah paman Dipanala itu justru sudah terlalu tua sehingga bulu-bulunya sudah habis”

Arum masih akan bertanya lagi. Tetapi suaranya ditelannya kembali ketika ia mendengar Juwiring berkata, “Itulah ayahanda sudah datang”

Arum cepat menundukkan kepalanya. Sekilas Buntal masih melihat Pangeran Ranakusuma berjalan mendekatinya. Ketika Pangeran itu duduk di tengah-tengah ruangan itu, maka Buntal pun menunduk pula.

Sesaat Pangeran Ranakusuma memandang anaknya Raden Juwiring yang duduk bersama kedua anak-anak Jati Aking itu. Hampir saja ia memanggilnya dan menempatkan anaknya itu di sisinya. Tetapi ketika teringat olehnya bahwa ketiga anak-anak muda itu sudah diangkat menjadi saudara, maka niatnya pun diurungkannya.

Arum yang tunduk dalam-dalam merasakan suasananya menjadi tegang. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Sedang Pangeran Ranakusuma itu masih saja berdiam diri untuk beberapa saat lamanya.

Baru kemudian Pangeran itu berkata, “Kaliankah anak-anak angkat Kiai Danatirta?”

Buntal mengangkat tangannya untuk menyembah sambil menjawab, “Ya Pangeran. Hamba adalah anak-anak angkat Kiai Danatirta”

“Aku, eh, hamba bukan. Hamba adalah anaknya”

“O, aku sudah mendengar dari Juwiring, bahwa kau adalah anak Kiai Danatirta. Dan kalian sudah diangkat menjadi saudara bersama-sama dengan anakku, Juwiring”

Buntal menyembah dan menjawab? “Hamba Pangeran. di padepokan Jati Aking, kami adalah saudara angkat”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ketika Arum dengan sudut matanya mencuri pandang, hampir saja Juwiring tidak dapat menahan senyumnya.

Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma memandang Buntal dengan tajamnya. Ternyata anak Jati Aking ini memiliki unggah-ungguh yang cukup baik. Seakan-akan ia sudah mempelajari tata kehidupan di rumah seorang bangsawan. Karena itu, maka ia pun mulai tertarik kepada pribadinya yang sederhana namun tampaknya cukup baik.

Sedang Arum, gadis Jati Aking itu agaknya masih asing sama sekali. Sikapnya, caranya duduk dan berbicara meskipun ia mencoba berbuat sebaik-baiknya. Meskipun kepalanya tunduk dalam-dalam, namun setiap kali gadis itu mencoba untuk melihat keadaan sekelilingnya dengan sudut matanya.

Tetapi Pangeran Ranakusuma mengerti. Gadis itu sama sekali tidak ingin berbuat kurang baik. Ia adalah orang yang baru di dalam lingkungan yang asing baginya.

“Anak-anak muda” berkata Pangeran Ranakusuma seterusnya, “Sebenarnyalah kalian sudah mengetahui, bahwa Juwiring adalah anakku. Dalam keadaan yang tidak diduga-duga, adiknya telah meninggal. Karena itu, Juwiring adalah tinggal satu-satunya anak laki-laki bagiku. Bukan maksudku untuk memisahkannya dari kalian yang sudah dipersaudarakan, tetapi bagaimana pendapat kalian jika kalian saja tinggal di sini?”

“O” Arum tiba-tiba mengangkat wajahnya. Namun hanya sejenak, karena ketika ia sadar, maka ia pun segera menundukkan kepalanya kembali.

“Dan itu bukan berarti bahwa kalian harus terpisah dari ayah kalian. Kiai Danatirta. Setiap kali kalian dapat pergi ke Jati Aking”

Buntal memandang Juwiring dengan sudut matanya. Namun anak muda itu segera menyadari, bahwa sebenarnya Pangeran Ranakusuma ingin agar Juwiring kembali ke istana ini. Namun agaknya Juwiring lah yang berkeberatan karena selama ini ia sudah berada di dalam lingkungan yang baginya cukup menyenangkan.

“Kalian akan mendapat tuntunan di dalam berbagai macam hal, kalian akan mempelajari unggah-ungguh, tata susila dan sopan santun sesuai dengan lingkungan ini”

“Ampun Pangeran” jawab Buntal sambil menyembah, “bagi hamba, hal itu merupakan suatu karunia yang luar biasa. Tetapi jika demikian, bagaimana dengan ayah angkat hamba di padepokan Jati Aking. Ayah akan menjadi kesepian dan barang-kali juga tidak ada yang dapat membantunya mengerjakan sawahnya. Memang ada beberapa orang pembantu di padepokan Jati Aking, tetapi tentu mereka tidak akan dapat bekerja seperti kami yang merasa diri kami anak-anak Kiai Danatirta”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Dan seperti yang diduga oleh Buntal, maka ia pun berkata, “Jika demikian, aku dan Juwiring akan minta pertimbangan kalian, bagaimana jika Juwiring sajalah yang harus mondar-mandir kian kemari, karena ia juga anakku, tetapi juga anak Kiai Danatirta”

Buntal tidak dapat menyahut. Tetapi ia pun berpaling kepada Juwiring, seakan-akan mempersilahkan anak itu menjawabnya. Karena ia pun sadar, bahwa bagi Pangeran Ranakusuma yang paling penting adalah Juwiring.

“Aku sudah bertanya kepadanya” berkata Pangeran Ranakusuma, “Tetapi ia memerlukan pendapat kalian”

“Bagaimana pendapat Raden Juwiring sendiri Pangeran?” bertanya Buntal.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Buntal anak padepokan, tetapi caranya, sikapnya dan kata-katanya menunjukkan bahwa ia dapat berpikir dengan baik. Karena itulah maka Buntal menjadi semakin menarik bagi Pangeran Ranakusuma.

Maka jawab Pangeran Ranakusuma kemudian, “Baiklah. Juwiring sudah menjawab ketika aku bertanya kepadanya. Ia pun merasa berkeberatan. Tetapi ada semacam kuwajibanku untuk minta kepadanya agar ia tinggal di istana ini. Ada banyak alasan yang dapat aku kemukakan. Tetapi baiklah. Kalian tentu tidak akan dapat mengambil kesimpulan. Yang paling baik bagiku adalah menemui Kiai Danatirta sendiri. Aku pernah menyerah-kan anakku kepadanya lewat Ki Dipanala. Maka akan datang saatnya aku minta kesempatan untuk mengasuh anakku itu sendiri. Tentu saja dengan tidak mengurangi penghargaanku atas kesediaan Kiai Danatirta mengasuh Juwiring selama ini”

Buntal masih tetap menundukkan kepalanya. Namun Arum lah yang tiba-tiba saja bertanya, “Jadi maksud Pangeran, kakang Juwiring, eh, Raden Juwiring harus meninggalkan Padepokan?”

“Tidak sepenuhnya. Ia akan tetap berada di kedua tempat. Kadang-kadang di sini dan kadang-kadang di padepokan”

Arum mengerutkan keningnya. Dipandanginya Juwiring sejenak. Rasa-rasanya berat hatinya untuk berpisah dengan saudara-saudara angkatnya. Setiap kali mereka melakukan apa saja bertiga. Bekerja berlatih dan bergurau meskipun kadang-kadang mereka sering juga bertengkar.

Arum yang kemudian menundukkan kepalanya itu pun sangat menarik perhatian Pangeran Ranakusuma. Sekilas teringat olehnya, betapa Rudira seolah-olah tidak dapat melepaskan gadis itu dari angan-angannya, meskipun Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa yang ada pada diri Rudira waktu itu barulah sekedar tertarik melihat kecantikan wajah gadis itu. Dan ternyata gadis yang bernama Arum itu memang cantik, dan seperti kebanyakan gadis padepokan ia tampak jujur dan berterus-terang.

“Jika Juwiring memerlukannya, aku tidak akan berkeberatan” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya, “Agaknya gadis itu pun cerdas dan lincah. Jika ia mendapat tuntunan yang baik. tentu ia akan dapat segera menyesuaikan dirinya dengan lingkungan baru”

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak mengatakannya. Apalagi kemudian timbul juga persoalan di dalam hatinya, bahwa gadis itu adalah gadis padepokan. Sampai saatnya, maka akan timbul persoalan seperti persoalan Juwiring sendiri, karena ibunya bukan seorang keturunan bangsawan yang sederajad, sehingga seakan-akan Juwiring telah mengalami tekanan batin yang berat. Apalagi keturunan seorang gadis padepokan.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Biasanya para bangsawan mengambil gadis-gadis padesan dan padukuhan hanya sekedar sebagai selir, sebagai perempuan yang hanya sekedar memenuhi selera para bangsawan, yang apabila bangsawan itu menjadi jemu, maka perempuan-perempuan padesan itu kadang-kadang dilemparkan begitu saja tanpa pertanggungan jawab apapun, dan kadang-kadang ada juga yang di dalam keadaan mengandung diberikan sebagai perempuan, triman kepada hamba laki-lakinya untuk diperisterikan.

“Tetapi Juwiring agaknya lain” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya pula, “Ia mengalami hidup di padepokan, sehingga ia akan dapat menghargai nilai seorang yang dilahirkan di padepokan kecil”

Dalam pada itu, selagi mereka berdiam diri untuk beberapa saat lamanya, tiba-tiba mereka mendengar pintu yang berderit. Ketika hampir bersamaan mereka berpaling, dilihatnya seorang gadis keluar dari pintu sebuah bilik di sebelah ruang yang menjorok ke dalam menghubungkan ruang dalam dengan ruang depan istana yang besar itu.

Warih, yang keluar dari biliknya pun terkejut melihat beberapa orang duduk di permadani di ruang dalam menghadap ayahandanya. Karena itu maka ia pun segera mendekatinya.

Ternyata di antara mereka yang duduk di permadani itu terdapat kakaknya, Juwiring.

“Siapakah mereka itu ayahanda?” bertanya Rara Warih.

“Mereka adalah anak-anak padepokan Jati Aking Warih”

“O, anak padesan itu sempat ayahanda terima di ruang dalam?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan. Arum bergeser sejengkal sambil mengangkat wajahnya, memandang gadis yang baru bangun dari tidurnya itu. Tetapi Buntal menggamitnya dan memberinya isyarat untuk berdiam diri saja.

“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma, “Anak-anak Jati Aking ini adalah anak-anak Kiai Danatirta. Anak-anak dari seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan meskipun lebih senang tinggal di padukuhan”

“Tetapi bagaimanapun juga. mereka adalah anak-anak padesan” Rara Warih terdiam sejenak, lalu, “O, jadi mereka adalah anak-anak padepokan tempat tinggal kangmas Juwiring?”

“Ya Warih”

“Dan gadis ini? Tentu gadis inilah yang sering disebut kangmas Rudira bernama Arum” Warih mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Memang cantik sekali”

Arum mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi Buntal menggamitnya.

“Pantas sekali” berkata Warih, “sepantasnya memang kangmas Juwiring duduk bersama anak-anak padesan. Tidak bersama kami dan juga tidak bersama ayahanda”

Seleret warna merah melonjak di wajah Juwiring. Dengan susah payah ia berusaha menahan hatinya yang hampir tidak dapat dikendalikan lagi.

Dalam pada itu, agaknya Pangeran Ranakusuma pun tidak senang mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak ingin melukai hati anak gadisnya yang baru saja kehilangan kakaknya. Maka katanya tertahan-tahan, “Sudahlah Warih. Pergilah ke belakang”

“O, jadi sekarang akulah yang harus pergi ke belakang ayahanda?”

“Maksudku, pergilah ke pakiwan. Membersihkan diri kemudian berpakaian. Hari ini tentu masih ada beberapa orang tamu yang akan berkunjung kemari”

“Dan ayah sudah mempunyai seseorang yang akan menerima mereka”

“Ya” jawab Pangeran Ranakusuma, “Tetapi itu bukan berarti bahwa mereka tidak akan bertanya tentang kau”

Jawaban ayahnya itu menyentuh hati Rara Warih. Terasa bahwa ayahnya sudah mulai kehilangan kesabaran. di dalam keadaan tertentu Pangeran Ranakusuma dapat menjadi keras dan bahkan kasar seperti menghadapi lawan di peperangan.

Rara Warih pun terdiam. Ia pun kemudian meninggalkan ruangan itu pergi ke belakang.

“Kau memang harus bersabar Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma, “Anak itu terlampau dimanjakan oleh ibunya, seperti juga Rudira. Tetapi aku mengharap bahwa ia akan sembuh, dan ia akan dapat mengerti keadaan dirinya di dalam lingkungan keluarganya”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata sikap Rara Warih itu justru mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Kadang-kadang tumbuh juga keinginan Juwiring untuk pergi dan meninggalkan rumah itu dengan segenap isinya yang sombong dan tinggi hati. Tetapi kadang-kadang sikap yang kasar itu telah merupakan suatu tantangan yang harus dijawabnya. Bukan ditinggalkannya.

Namun bagi Arum dan Buntal, suasana di istana itu benar-benar tidak menyenangkannya. Mereka tidak akan dapat membiarkan diri mereka dihinakan terus-menerus. Tangan Arum seakan-akan sudah menjadi gatal. Rasa-rasanya ingin ia menampar pipi gadis yang cantik, adik seayah dari Raden Juwiring.

Karena itu, maka ketika Rara Warih sudah tidak tampak lagi. Buntal pun berkata, “Ampun Pangeran, rasa-rasanya hamba sudah, cukup menyulitkan Pangeran dan Raden Juwiring. Perkenankan, hamba berdua kembali ke pondok paman Dipanala.

“Sebaiknya kalian bermalam di sini” berkata Pangeran Ranakusuma.

“Ampun Pangeran, paman Dipanala telah menerima hamba berdua dengan baik. Seperti juga kemurahan Pangeran. Karena itu bagi hamba, tidak ada bedanya tinggal di rumah paman Dipanala dan di dalam istana ini. Tetapi agaknya istana ini masih terlampau sibuk, sehingga hamba akan dapat mengganggu”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia semakin tertarik kepada anak muda ini. Meskipun ia anak padepokan, tetapi unggah-ungguhnya sudah cukup lengkap dan baik.

“Tetapi kalian jangan bergegas kembali ke padepokan” berkata Pangeran Ranakusuma, “Kalian harus menunggu beberapa hari lagi. Mungkin kalian sempat melihat perubahan sikap Warih, Dan kalian akan tenang berada di rumah ini”

“Hamba Pangeran. Hamba berdua memang berkeinginan untuk menunggu Raden Juwiring”

“Bagaimana jika ia tetap di sini?”

“Setidak-tidaknya keputusannya yang akan dapat hamba sampaikan kepada ayah di padepokan”

“Baiklah. Aku tidak berkeberatan kalian tinggal pada Dipanala. Setiap saat jika kau ingin, datanglah. Dan jika aku memerlukan kau, aku akan memanggil. Jika kalian memerlukan sesuatu selama kalian berada di kota ini, katakanlah kepada Juwiring. Aku akan berusaha untuk kalian, agar kalian tidak sia-sia berada di kota ini untuk beberapa hari. Mudah-mudahan kalian dapat melihat isi kota ini dan kemudian kerasan tinggal di sini pula”

“Terima kasih Pangeran. Hamba sangat berterima kasih atas kemurahan itu. Dan kini perkenankanlah hamba berdua mohon diri”

“Baiklah. Katakan kepada Dipanala, bahwa aku memerlukan-nya menghadap”

Demikianlah maka Arum pun minta diri pula, dan diantar oleh Juwiring mereka pergi ke pondok Ki Dipanala, sedang Ki Dipanala sendiri dipanggil untuk menghadap Pangeran Ranakusuma.

Agaknya Pangeran Ranakusuma memang menaruh perhatian atas kehadiran anak-anak muda itu, ternyata kepada Ki Dipanala pun dikatakannya agar keperluan anak-anak muda itu diambilkannya dari Ranakusuman. Makan, minum dan kebutuhan mereka sehari-hari selama mereka berada di Surakarta.

Dalam pada itu, ternyata Arum menjadi segan untuk memasuki halaman Ranakusuman. Baginya Rara Warih adalah sesosok hantu betina yang menakutkan. Sebenarnya ia sama sekali tidak takut kepada gadis itu, tetapi karena gadis itu puteri Pangeran Ranakusuma, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Dan keseganannya itulah yang menyiksanya.

Namun, dalam kesempatan lain, Arum senang sekali berjalan-jalan berkeliling kota Surakarta. Kadang-kadang mereka berdua saja dengan Buntal, namun kadang-kadang mereka pergi bersama Ki Dipanala. Baik Arum maupun Buntal tidak mau mengganggu Juwiring yang agaknya ikut menjadi sibuk di dalam istana ayahandanya menerima tamu yang masih saja berdatangan. Bukan saja dari Surakarta, tetapi juga dari tempat-tempat yang jauh.

Tetapi sebenarnya bagi Juwiring sendiri, kehadirannya di istana itu sangat menjemukannya. Setiap hari ia terikat oleh adat dan tata cara yang sudah lama dilupakannya. Apalagi meskipun tidak memaksa, ayahandanya selalu minta kepadanya untuk mengenakan pakaian yang lebih pantas bagi seorang putera Pangeran daripada pakaian petaninya itu.

Meskipun demikian, hubungannya dengan Rara Warih masih tetap selalu tegang. Rara Warih benar-benar tidak mau mendengarkan semua nasehat ayahandanya. Meskipun setiap kali ayahandanya memberitahukan hubungannya dengan Juwiring, Rara Warih selalu menundukkan kepalanya dan berdiam diri, tetapi sikapnya kepada Juwiring rasa-rasanya masih belum berubah.

Namun, ternyata bahwa sikap Rara Warih itulah yang telah semakin lama semakin menebalkan niat Raden Juwiring untuk tetap tinggal di istana ayahandanya, meskipun ia tidak bermaksud meninggalkan padepokan Jati Aking sama sekali. Ia dapat hilir mudik setiap saat di antara kedua tempat yang dapat dicapai dengan berkuda itu.

Sementara itu, Arum masih selalu ingin melihat keadaan di dalam kota Surakarta. Setiap hari ia menyelusuri jalan yang belum dilewatinya. Ternyata Buntal yang pernah tinggal di kota itu masih juga mengenal beberapa bagian dari jalan-jalan yang ramai.

“Memang menyenangkan tinggal di tempat yang ramai ini” desis Arum, “Sebenarnya aku kerasan tinggal di kota. Tetapi tidak di rumah kakang Juwiring. Adiknya terlalu keras kepala dan sombong”

“Mungkin di dalam sepekan dua pekan, kau kerasan tinggal di kota ini. Tetapi jika kita sudah terlibat di dalam persoalan hidup dan kehidupan, kita akan merasakan, betapa pahitnya hidup di kota, justru di negerinya sendiri”

“Kenapa?”

Buntal tidak menjawab. Tetapi dilihatnya sebuah kereta yang berderap kencang melampaui mereka berdua.

“Kau lihat, siapa yang ada di dalam?”

“Ya, Orang asing”

“Nah, orang-orang asing itu semakin lama menjadi semakin banyak berada di Surakarta”

“Ya. Satu dua aku sudah melihatnya. Mereka membawa pedang panjang di lambung”

“Mereka adalah prajurit-prajurit”

“Apakah mereka juga mampu berkelahi dengan pedangnya
itu?”

“Ya, mereka adalah orang-orang yang mengenal tata berkelahi dengan baik. Mereka dapat mempergunakan pedangnya dengan sempurna menurut ilmu yang mereka pelajari”

“Darimana kau tahu?”

“Aku pernah melihat mereka memperlihatkan kemampuannya di dalam suatu pertemuan para bangsawan. Meskipun agaknya mereka sedang bergurau, namun aku melihat bagaimana mereka mempergunakan pedang. Tetapi waktu itu aku masih terlalu bodoh untuk menilai”

Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “He, bukankah kau waktu itu masih terlalu bodoh untuk menilai. Kenapa kau dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka cakap bermain pedang?”

“Aku masih ingat, bagaimana mereka menggerakkan pedang itu. Tetapi sayang, bahwa mereka mempercayakan kemampuannya pada kecepatan tangannya. Mereka hampir tidak memanfaatkan kakinya selain bergeser selangkah demi selangkah, maju dan mundur” jawab Buntal.

Arum mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Apakah menurut kesimpulanmu, ilmu pedang yang kita pelajari mempunyai kelebihan?”

“Aku tidak berkata begitu, tetapi kita memanfaatkan kecepatan gerak kaki selain tangan kita. Kita berloncatan sambil mengayunkan pedang. Tetapi orang-orang asing itu sekedar bergeser untuk menghadapi lawannya yang berputar sekalipun”

“Mereka pandai menghemat tenaga”

“Tetapi mereka akan bingung menghadapi lawan yang lincah tangan dan kakinya. Apalagi apabila di samping pedang, tiba-tiba saja kita menyerang dengan kaki”

“Itu dugaanmu. Bukankah kau masih terlalu bodoh waktu itu?”

Buntal tersenyum sambil mengangguk, “Ya. Aku masih terlalu bodoh waktu itu”

Demikianlah mereka berbicara tentang kota, orang-orang asing, dan tentang hidup yang semakin sulit. Bahkan di jalan-jalan kota itu pun mereka sering berpapasan dengan orang-orang yang berpakaian lebih jelek lagi dari pakaian-pakaian petani di padukuhan Jati Sari.

“Mereka adalah orang-orang yang sangat miskin” berkata Buntal, “Mereka bekerja sehari untuk hidup mereka sehari. Dan bahkan kadang-kadang tidak mencukupi. Apalagi yang mempunyai keluarga yang besar. Upah yang mereka terima tidak seberapa banyak, sedang mereka harus bekerja sejak matahari terbit sampai matahari terbenam di bawah ancaman dan bentakan-bentakan yang kasar, lebih kasar dari petani-petani”

Arum memandang Buntal dengan kerut-merut di kening. Dengan nada yang tinggi ia bertanya, “Tetapi rumah kakang Juwiring itu dihiasi dengan barang-barang yang nilainya tidak terhitung. Apakah mereka tidak dapat memberikan satu dua macam barang-barang yang seolah-olah tidak berguna itu untuk menolong orang-orang miskin. di rumah kakang Juwiring, barang-barang itu sekedar untuk hiasan. Tetapi bagi orang-orang yang berbaju koyak itu, nilainya tentu besar sekali. Barang-barang itu dapat ditukar dengan pakaian yang utuh meskipun tidak usah yang mahal”

“Itulah kehidupan di kota, Arum. Orang-orang kota seakan-akan tidak saling berhubungan yang satu dengan yang lain. Seandainya ada orang yang kelaparan pun, orang-orang kota tidak mempedulikan lagi. Yang seorang kaya raya dan berlebih-lebihan, sedang yang lain miskin dan lapar”

“Tentu tidak begitu”

“Kenapa tidak?”

“Aku melihat seorang pengemis”

“Ya. di sini banyak pengemis”

“Jika tidak ada orang yang mau berbelas kasihan, tentu tidak akan ada pengemis”

Buntal menarik nafas. Jawabnya, “Jalan pikiranmu benar. Tetapi apakah artinya belas kasihan yang sepotong-sepotong itu? Dengan memberi sedekah sekedarnya, sebenarnya hampir tidak berarti apa-apa bagi penyelesaian masalahnya”

“Aku tidak mengerti”

“Mereka masih tetap kaya raya dan orang-orang miskin tetap miskin”

“Jadi apa yang harus mereka lakukan untuk menolong orang-orang miskin?”

“Pertama-tama tentu menolak kedatangan orang-orang asing yang semakin lama semakin berkuasa di bumi Surakarta. Mereka ternyata telah menghisap kekayaan tanah ini. Kemudian mencari sebab kemiskinan yang semakin menjalar ini. Ketiadaan kerja dan penghisapan yang bukan saja dilakukan oleh kumpeni, tetapi juga oleh penjilat-penjilat itu”

Arum mengerutkan keningnya.

“Mereka benar-benar telah lupa untuk bersyukur atas nikmat Tuhan yang sudah diberikan kepada mereka, mereka lupa untuk memberikan sebagian kecil dari harta mereka kepada orang miskin. Harta itu adalah titipan dari Tuhan, akan datang masanya, harta-harta tersebut akan diambil kembali olehNya”

Arum kini mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri. Ayah memang pernah mengatakannya, bahwa hidup kita masa kini sudah banyak ditemukan perbuatan-perbuatan manusia yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama, mereka sudah mengingkari Tuhannya”

“Kata-kata ayah itu benar. Dan kita dapat melihat lebih jelas pada kehidupan orang-orang kota daripada di padukuhan”

Arum tidak menyahut. Tetapi ia tertarik kepada beberapa anak-anak muda yang berkuda di jalan kota. Ternyata mereka adalah anak-anak muda yang cukup menguasai kuda masing-masing. Menilik sikap dan pakaian mereka, maka mereka tentu bangsawan-bangsawan muda. Ternyata pula satu dua orang yang sudah mengenal mereka menganggukkan kepala dalam-dalam.

“He, mereka adalah bangsawan-bangsawan” desis Arum, “Apakah kita harus berjongkok?”

“Agaknya tidak. Mereka bukan para Pangeran”

“Dari mana kau mengetahui?”

“Orang-orang yang sudah mengenal mereka tidak berjongkok” desis Buntal, “sebenarnya terhadap para Pangeran pun kita tidak perlu berjongkok, apalagi di kota”

Arum mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun Arum menjadi berdebar-debar ketika salah seorang dari anak-anak muda yang naik kuda itu memandangnya dengan tajam. Bahkan kemudian tersenyum sambil berkata, “He, tentu gadis itu yang pernah disebut-sebut oleh kangmas Rudira, putera pamanda Pangeran Ranakusuma”

Yang lain memandang Arum dengan kerut merut di kening. Salah seorang dari mereka bertanya, “Darimana kau tahu?”

“Aku pernah melihat mereka berdua di depan regol istana pamanda Pangeran Ranakusuma bercakap-cakap dengan kangmas Juwiring. Sikapnya dan tingkah lakunya menunjukkan bahwa keduanya sudah terlampau biasa bergaul dengan kangmas Juwiring. Bukankah seperti yang dikatakan orang, kangmas Juwiring datang ke istana ayahandanya dengan membawa dua orang anak Jati Aking. Yang seorang di antaranya adalah Arum. Yang dahulu sering disebut-sebut oleh kangmas Rudira”

Arum yang juga mendengar kata-kata itu menjadi bingung. Sepercik warna merah membayang di wajahnya yang memang kemerah-merahan oleh terik matahari yang setiap hari menyengatnya apabila ia berada di tengah sawah. Sedang Buntal yang berada di sampingnya menjadi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia mencoba untuk meyakinkan, apakah pendengarannya itu benar.

Sementara itu, anak-anak muda itu pun tidak hanya sekedar menyebut namanya, tetapi mereka telah mendekati kedua anak-anak Jati Aking itu.

Salah seorang dari anak-anak muda yang berada di punggung kuda itu berkata pula setelah ia menjadi semakin dekat, “Pantas kangmas Rudira tergila-gila kepada gadis ini semasa hidupnya. Ia memang cantik sekali. Sayang jika ia masih saja hidup di padepokan terpencil itu”

Kata-kata itu benar-benar telah menggetarkan hati kedua anak-anak padepokan Jati Aking. Namun Buntal masih tetap menyadari dirinya sehingga digamitnya Arum yang hampir saja menyingsingkan kainnya dan meloncat menyerang.

“Tahanlah sedikit hatimu Arum” bisik Buntal, “Kita seakan-akan berada di daerah asing”

Arum menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ingin mengendapkan batinnya yang bergejolak. Desisnya, “Tetapi mereka menghina kita”

“Biarlah apa yang akan dikatakannya. Mereka adalah anak-anak bangsawan. Jika kita terlibat dalam pertengkaran dengan mereka maka kita akan mendapatkan kesulitan”

“Apakah bangsawan dapat berbuat sekehendak hatinya?”

“Tentu tidak”

“Kenapa kau paksa aku menahan hati?”

Tetapi Buntal tidak sempat menjawab. Iring-iringan beberapa anak muda berkuda itu sudah berada di hadapan mereka. Seorang dari mereka yang ada di paling depan tersenyum sambil bertanya, “He, bukankah kau bernama Arum, “

Arum memandang anak muda itu dengan tajamnya. Hampir saja ia lupa bahwa ia berhadapan dengan beberapa orang anak bangsawan. Dan ketika ia menyadarinya, maka ia pun segera menundukkan kepalanya.

“Anak itu adalah adikku Raden” berkata Buntal kemudian.

“O” desis salah seorang anak-anak muda dialas punggung kuda itu, “Tetapi bukankah benar anak itu bernama Arum?”

“Raden benar. Anak itu bernama Arum”

“Dan bukankah anak itu yang sering disebut-sebut oleh kangmas Rudira semasa hidupnya?”

“Aku tidak tahu Raden Tetapi tentu bukan anak padesan seperti kami”

“Kalian datang dari Jati Aking?”

“Ya Raden. Kami datang dari Jati Aking”

“Kalian kenal dengan kangmas Rudira dan kangmas Juwiring?”

“Kami mengenal kedua-duanya Raden”

“Kalau begitu, kita pasti” berkata salah seorang dari mereka kepada yang lain, “gadis itu memang cantik”

“Lalu bagaimana jika gadis itu cantik?” bertanya yang lain.

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Sayang kangmas Rudira sudah meninggal. Jika ia masih hidup, maka nasibku akan menjadi semakin baik. Bukan saja menjadi gadis padepokan tempat kangmas Juwiring terasing, tetapi mungkin kau akan menjadi selir kangmas Rudira”

Darah Arum serasa mendidih mendengar kelakar yang menyakitkan hati itu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Buntal, sebaiknya ia menahan hati.

“Tetapi meskipun kangmas Rudira sudah meninggal, mungkin kangmas Juwiring mau mengambilmu menjadi selir ya?” ejek yang lain.

Terasa dada Buntal pun terguncang. Ia sadar, bahwa seharusnya ia menahan hati seperti yang dikatakannya kepada Arum. Tetapi ketika ia mendengar nama Juwiring yang dihubungkan dengan Arum, terasa dadanya bergetar.

“Hem” untunglah bahwa ia masih tetap sadar. Katanya di dalam hati, “hatikulah yang telah dikotori oleh nafsu”

“He, cah Jati Aking” salah seorang dari mereka hampir berteriak, “Bagaimana jika kau ikut aku saja? Aku juga putera seorang Pangeran. Kau akan menjadi selirku. Jangan takut aku sia-siakan. Jika sampai saatnya kau dapat aku berikan sebagai seorang triman kepada pembantu ayahandaku, seorang Lurah Istana yang masih muda”

Dada Arum hampir-hampir saja menjadi retak. Apalagi ketika dengan sudut matanya ia melihat beberapa orang memandang hal itu dari kejauhan, seakan-akan mereka menonton sebuah pertunjukan yang menyenangkan.

Tiba-tiba saja salah seorang dari anak-anak bangsawan itu maju semakin dekat. Dari atas punggung kuda, tanpa diduga-duga tangannya terjulur menyentuh dagu Arum.

Sentuhan itu benar-benar telah melenyapkan segala pertimbangan. Apalagi ketika kemudian terdengar suara tertawa yang meledak.

Tetapi suara tertawa itu tiba-tiba saja terputus, ketika Arum tanpa dapat mengendalikan dirinya lagi menangkap tangan itu dan menghentakkannya keras-keras.

Anak muda yang ada di atas punggung kuda itu sama sekali tidak menduga, bahwa gadis itu akan berbuat demikian. Karena itu maka ia sama sekali tidak bersiap untuk mempertahan-kan keseimbangannya.

Hentakan itu ternyata telah menyeretnya dan membanting-nya di tanah.

Semua orang yang menyak-sikan hal itu terkejut bukan buatan, Gadis itu adalah seorang gadis petani, sedang anak-anak muda yang berkuda itu adalah anak-anak bangsa-wan. Selain daripada itu, mereka pun heran melihat kekuatan gadis padesan yang telah menyeret seorang anak muda yang gagah dari atas punggung kuda dan terjerembab di tanah.

Buntal pun terkejut bukan buatan. Sekilas ia menjadi bingung, namun segera ia sadar, bahwa tentu akan terjadi sesuatu atasnya dan atas Arum.

Sebenarnyalah bahwa perbuatan Arum itu telah menggetarkan dada para bangsawan muda itu. Serentak mereka meloncat turun. Beberapa orang di antara mereka menolong anak muda yang terjerembab dan bahkan berdarah pada hidungnya itu.

“Kau gila” bentak salah seorang dari anak-anak muda itu, “Apakah kau sadari, apa yang kau lakukan?”

Arum menjadi bingung. Tetapi ia sudah terlanjur melakukannya. Dan ia tidak mau dihinakan seperti gadis liar di sepanjang jalan. Karena itu, jika harus terjadi sesuatu atasnya, apaboleh buat. Tubuhnya memang tidak dibiarkan disentuh oleh orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

“Maaf Raden” Buntal agaknya masih berusaha untuk mengekang diri, “Sebenarnyalah bahwa yang dilakukan oleh adikku itu di luar sadarnya. Ia terkejut karena hal yang serupa belum pernah dialaminya, sehingga karena itu ia telah berbuat sesuatu di luar sadarnya. Sebagai seorang gadis, tentu ia tidak akan mungkin dapat berbuat demikian jika tidak terdorong oleh perasaan terkejut, atau bahkan ketakutan yang amat sangat”

“Kenapa ia menjadi takut? Apakah yang sudah dilakukan oleh Dimas itu? Ia hanya menyentuhnya. Lebih daripada itu tidak”

“Raden benar. Dan sentuhan itulah yang sangat ditakutinya. Kami selalu dibayangi oleh batasan-batasan hidup yang ketat di padukuhan kami. Kami tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis kita masing-masing jika tidak ada hubungan apapun juga. Itulah sebabnya sentuhan itu sangat menakutkannya, karena hukumannya bukan sekedar hukuman badani, tetapi kecemasan rohani yang akan berkepanjangan”

“Omong kosong” bentak anak muda itu, “Kalian telah dengan sengaja melawan para bangsawan. Aku tahu, kalian sudah diracuni oleh perasaan yang tidak berpijak pada kebenaran dan kenyataan. Kalian diracuni oleh pikiran seolah-olah para bangsawan itu bertindak menurut kehendaknya sendiri. Dan racun itulah yang membuat kalian berani menentang kami”

Buntal menjadi semakin berdebar-debar. Jawabnya, “Tidak Raden yang terjadi benar-benar suatu kebetulan tanpa disadari”

“Dengar anak padesan” bentak anak muda itu, “Tidak ada yang dapat menentang kehendak kami. Kami dapat berbuat baik jika kami kehendaki. Tetapi kami juga dapat berbuat kasar. Kami dapat berbuat apa saja berdasarkan atas kedudukan kami. Jika kami kehendaki, kami dapat mengambil adikmu itu tanpa alasan. Orang di kota ini pun tidak berani menentangnya. Bahkan mereka akan berbangga jika salah seorang keluarganya kami kehendaki untuk menjadi selir-selir kami. Apalagi orang padesan seperti kalian. Dan karena kalian sudah melakukan kesalahan, maka terpakai atau tidak terpakai, kami menghendaki Arum”

Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan hati Buntal. Betapa pun ia menahan hati, namun rasa-rasanya jantungnya sudah mulai tersentuh ujung duri. Apalagi oleh dorongan perasaan yang kurang dikenalnya sendiri, telah membuatnya terbakar ketika ia mendengar bahwa anak-anak muda itu ingin membawa Arum.

Sebelum sempat menjawab Buntal mendengar anak muda itu berkata, “Jangan membantah. Kau lihat, kita dikelilingi oleh banyak orang yang mengutuk kelakuan gadis ini. Jika kalian mencoba berbuat sesuatu, melarikan diri misalnya, orang-orang itu akan serentak mengejar kalian seperti mengejar pencuri. Apalagi jika kalian bertemu dengan sekelompok prajurit, dan aku menyerahkan Arum kepada mereka, akibatnya, kalian akan menyesal seumur hidup”

Dada kedua anak-anak Jati Aking itu sudah terbakar. Benarkah yang terjadi harus demikian?

“Jangan membantah lagi” bentak seorang anak muda yang lain.

“Ikut kami” berkata yang lain lagi.

“Akulah yang akan membawanya pulang” berkata anak muda yang hidungnya berdarah, “Aku memerlukan obat nyeri di hidungku ini. Meskipun agaknya gadis ini agak liar, tetapi aku akan menundukkannya”

Buntal sudah kehilangan kesabarannya. Karena itu maka katanya, “Raden, maafkan kami jika kami terpaksa menolak keinginan yang tidak sesuai dengan nurani kami, adat kami dan terutama kepercayaan kami. Perbuatan semacam itu adalah dosa. Dan kami tidak akan membiarkan diri kami melakukannya”

“Diam” bentak anak muda yang hidungnya terluka, “Kalian tidak wenang membantah”

“Jadi inikah kebenaran dan kenyataan yang Raden katakan? Inikah pertanda bahwa akulah yang sudah dibius oleh racun kebencian tanpa alasan seolah-olah para bangsawan bertindak atas kehendak sendiri tanpa menghiraukan perasaan kami?”

“Tutup mulutmu” Anak muda yang lain berteriak, “ini adalah hukuman atas kebiadaban gadis itu. Ia harus diajar untuk sedikit mengenal adab dan sopan santun”

Buntal sudah tidak mampu lagi menahan hati. Wajahnya menjadi merah dan tangannya gemetar. Tetapi karena ia masih tetap sadar, maka pergolakan di dalam dadanya itu membuatnya bagaikan terbakar. Dengan demikian justru mulutnya menjadi seakan-akan terbungkam.

Dalam pada itu, Arum sendiri sudah kehilangan pengendalian diri, sehingga meskipun ia tidak berkata apapun juga, namun apabila seseorang berani menyentuhnya, maka ia akan melawan apapun yang akan terjadi atasnya kemudian.

Namun agaknya anak-anak muda itu pun telah benar-benar marah. Seorang yang paling kekar di antara mereka maju beberapa langkah sambil berkata kepada anak muda yang hidungnya berdarah, “Ambil anak ini, dan bawa kemana kau suka. Jika orang tuanya menuntut, maka ia akan digantung di alun-alun sebagai pertanda bahwa ia sudah melawan kekuasaan Surakarta”

Anak muda yang hidungnya berdarah menyambung, “Jangan mencoba berbuat sesuatu yang akan menyiksa dirimu”

Tetapi ketika anak muda yang hidungnya berdarah ia melangkah maju, maka Arum pun segera bersiaga.

“He, apakah yang akan kau lakukan?”

Arum menggeretakkan giginya. Meskipun ia mengenakan kain panjang yang ketat karena ia tidak mengira bahwa ia akan menghadapi persoalan itu, namun tangannya telah siap untuk berbuat sesuatu jika diperlukan.

“Apakah kau gila?” anak muda yang hidungnya berdarah itu menggeram.

Arum masih tetap berdiam diri. Tetapi ia tetap bersiap untuk berkelahi. Dan setiap orang melihat sikapnya itu. Sehingga dengan demikian orang-orang yang berkerumun meskipun tidak berani mendekat, menjadi heran.

“Apakah gadis ini sudah gila?” Mereka bertanya kepada-diri sendiri.

Anak muda yang berdarah hidungnya itu menjadi termangu-mangu. Namun yang bertubuh kekar itu pun kemudian berkata, “Jika ia, melawan, ikat ia pada kudamu. Biarlah anak laki-laki yang sombong itu menjadi urusanku. Dimas tidak usah menghiraukannya”

Darah Buntal pun bagaikan sudah mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Karena itu ia berkata, “Baiklah, jika Raden memang ingin mengalaminya. Aku terpaksa mempertahankan diri”

“Bagus” teriak yang bertubuh kekar, “Kau akan menyesal. Ayah ibumu akan menyesal, dan seluruh padepokanmu akan menyesal”

Buntal tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah suara, yang lain, yang telah mengejutkan setiap orang yang ada di tempat itu. Ternyata seorang anak muda telah datang mendekati lingkaran pertengkaran itu. Meskipun ia berkuda, tetapi karena kuda. itu berjalan perlahan-lahan, dan semua perhatian dipusatkan kepada, mereka yang sedang bertengkar, maka kedatangan anak muda berkuda itu telah mengejutkan. Apalagi tiba-tiba saja ia berkata, “inikah tingkah laku anak-anak muda di Surakarta”

Anak-anak muda yang sedang mengerumuni Buntal dan Arum itu memandanginya sejenak. Lalu anak yang bertubuh kekar itu pun menjawab, “Ia berani menentang kekuasaanku di sini”

“Apakah kau sudah mencoba mencari sebabnya, kenapa ia menentang kekuasaanmu?” anak muda itu bertanya, “dan apakah sebenarnya kekuasaan itu memang ada pada kalian? Kalian harus mempunyai dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa kalian mempunyai kekuasaan”

“Aku seorang putera Pangeran” jawab anak muda yang bertubuh kekar, “sedang mereka adalah anak-anak padesan”

“Lalu?”

“Mereka tidak berhak melawan aku dan saudara-saudaraku”

“Aku tidak membiarkan mereka jatuh ke tanganmu”

“Aku anak seorang Pangeran. Aku berhak mengambilnya”

“Hak itu sebenarnya tidak ada. Jika hak itu ada, maka aku pun juga berhak”

“Tetapi, tetapi . . “ anak yang hidungnya berdarah itu menyahut. Namun anak muda di atas punggung kuda itu memotong, “Aku tahu. Kalian akan menyebut ibuku. Tetapi aku tahu, bahwa ada di antara kalian yang beribu sederajad dengan ibuku. Bahkan di bawahnya. Tetapi yang penting, aku adalah putera seorang Pangeran dengan sah. Ayahandaku adalah seorang Panglima. Nah, kalian mau apa. Jika kalian menghendaki, aku juga berani berkelahi melawan kalian. Satu demi satu, atau bersama-sama. Jika kalian ingin memamerkan kekuasaan ayah kalian, aku pun dapat mengatakan bahwa pangkat ayahandaku lebih tinggi dari pangkat ayah kalian di dalam kedudukannya sebagai Panglima. Nah, apalagi”

“Gila. Apakah kangmas Juwiring menghendaki gadis itu?”

“Aku tidak berkata begitu” jawab anak muda di atas punggung kuda itu, “Tetapi ketika aku mendapat laporan tentang tingkah laku kalian, maka aku harus bertanggung jawab, Akulah yang membawa mereka kemari” Juwiring berhenti sejenak, lalu, “dan seandainya kalian bukan putera Pangeran, maka kalian akan menyesal, sebab laki-laki padepokan itu mampu membuat kepalamu bengkak. Apakah kau tidak percaya?”

“Aku tidak percaya”

“Kau ingin mencoba?”

Anak yang kekar itu termangu-mangu sejenak, lalu katanya, “Aku akan membuktikan bahwa aku tidak sekedar berdiri bersandar kekuasaan ayahanda. Tetapi jika perlu aku dapat memilin lehernya. Atau barangkali mematahkan tangannya”

“Benar begitu?”

“Aku pasti”

“Kita lihat, apakah di dalam keadaan yang sama kau benar-benar dapat berbuat seperti yang kau katakan”

“Persetan. Aku ingin mencobanya”

Juwiring mengangguk-angguk. Dipandanginya wajah Buntal yang masih termangu-mangu.

Sebenarnyalah, bahwa Buntal dicengkam oleh kebimbangan yang dalam. Ia tidak biasa melihat sikap yang angkuh pada Juwiring. Namun tiba-tiba anak muda itu benar-benar seorang anak muda yang angkuh dan tinggi hati. Bahkan ia telah menyebut-nyebut kekuasaan yang ada pada ayahandanya, salah seorang Panglima di Surakarta.

“Baiklah” berkata Juwiring kemudian, “Tetapi aku minta jaminan, bahwa kalian tidak akan licik”

“Maksudmu?”

“Apabila kalian kalah, kalian harus mengaku kalah, dan tidak memperpanjang persoalan ini. Tetapi jika kalian ingkar, maka akulah yang akan mengambil alih persoalan ini dari anak muda Jati Aking itu”

“Aku bukan pengecut” teriak anak muda bangsawan itu.

“Bagus” berkata Juwiring, “Kita akan bertemu sore nanti saat matahari terbenam di pinggir Bengawan. Setuju?”

Sejenak anak-anak muda bangsawan itu termangu-mangu. Namun anak muda yang kekar itu kemudian menyahut, “Bagus. Aku akan pergi ke tepi Bengawan di tikungan di bawah bendungan. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak hanya dapat sekedar berbicara dan menakut-nakuti. Tetapi aku memperingatkan sebelumnya, jangan menyesal apabila terjadi sesuatu atas anak padesan itu”

“Aku yang bertanggung jawab. Jika ia sakit, akulah yang akan memanggil tabib. Jika kakinya patah, biarlah aku berusaha memulihkannya”

“Bagus. Datanglah. Kita akan melihat siapakah yang hanya sekedar bisa berbicara tanpa berbuat sesuatu”

Anak muda itu tidak menunggu jawaban Juwiring. Ia pun segera meloncat ke punggung kudanya. Demikian juga kawan-kawannya yang lain, sedang anak muda yang hidungnya berdarah itu pun dengan susah payah telah berada di punggung kudanya pula.

“Sore nanti tulang-tulang igamu akan rontok anak yang dungu” geram anak muda yang kekar itu ketika kudanya lewat dekat sekali di hadapan Buntal, “Dan kali ini adalah kali yang pertama dan terakhir kau melihat kota Surakarta”

Buntal tidak menjawab. Dibiarkannya saja kuda-kuda itu lewat hampir menginjak kakinya. Tetapi agaknya ia pun sudah dijalari oleh keangkuhan Juwiring, sehingga ia tidak mau bergeser sama sekali dari tempatnya.

Berbeda dengan Buntal, Arum lah yang bergeser di belakang. Buntal. Ia tidak mau anak-anak muda yang sedang pergi itu menyentuhnya lagi, agar ia tidak usah membantingnya lagi.

Sejenak kemudian maka bangsawan-bangsawan muda itu meninggalkan. Buntal dan Arum. Kuda-kuda mereka pun kemudian berlari-larian di jalan, kota, sehingga orang-orang yang melihat pertengkaran itu dari kejauhan segera berlari-larian memencar.

Sepeninggal anak-anak muda itu, maka Juwiring pun kemudian mendekati Buntal. Sambil tersenyum, ia berkata, “Maaf. Aku telah membuat perjanjian sebelum aku berbicara dahulu dengan kau. Tetapi menghadapi anak-anak bengal itu kadang-kadang kita pun harus bersikap bengal”

Buntal menarik nafas dalam-dalam, sementara Arum bertanya, “Jadi, menurut perjanjian itu, kakang Buntal harus berkelahi di pinggir Bengawan sore nanti?”

“Ya”

“Kau yakin bahwa kakang Buntal tidak akan cedera?”

“Aku mengenal bangsawan-bangsawan muda yang hanya pandai berbicara itu. Mereka tidak akan berbahaya bagi kalian”

“Tetapi sebaiknya bukan kakang Buntal. Karena persoalannya berkisar karena kehadiranku, maka biarlah aku saja yang akan berkelahi melawan mereka”

“Ah, jangan. Bagaimanapun juga. mereka memiliki banyak akal untuk memaksakan keinginannya. Sebaiknya kau tidak usah datang sore nanti”

“Aku akan datang”

Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu, “Kita tidak tahu apakah mereka tidak ingkar kepada kejantanan yang mereka sebut-sebut itu. Jika mereka menjadi licik, dan membawa beberapa orang pengawal seperti Rudira yang setiap kali membawa Sura dan kemudian Mandra, maka persoalannya akan berbeda”

“Tetapi aku dapat menjaga diriku sendiri”

“Kemampuan seseorang terbatas Arum. Sedang jumlah mereka tidak terbatas”

Arum masih akan menyahut. Tetapi Juwiring berkata, “Sudah lah. Kembalilah ke pondok paman Dipanala. Nanti aku akan datang ke pondok itu. Kita dapat berbicara lebih tenang. Sekarang kita sedang menjadi tontonan orang”

Barulah Arum menyadari keadaannya. Ketika ia memandang berkeliling, ternyata masih banyak orang yang mengawasinya dari kejauhan. Karena itu maka katanya, “Memang sebaiknya kita kembali saja”

Dengan tergesa-gesa Arum dan Buntal pun kemudian meninggalkan tempat itu. Demikian pula Juwiring yang berkuda itu.

Di sepanjang jalan Arum masih saja mengumpat-umpat dan berkata kepada Buntal, “Aku yang akan berkelahi. Mereka harus tahu, bahwa aku bukan perempuan liar yang dapat dengan seenaknya dijadikan selir-selir seperti yang disebut-sebutnya itu”

Buntal tidak menyahut. Ia tahu benar sifat Arum. Jika ia membantah, Arum dapat saja tiba-tiba berteriak di pinggir jalan. Karena itu, maka Buntal berjalan saja sambil berdiam diri. Hanya sekali-sekali ia berdesis sambil menganggukkan kepalanya.

“He, kau tidak mau mendengarkan?”

“Aku mendengar”

“Kenapa kau diam saja? Kau tidak setuju”

“Bukan aku tidak setuju Arum, tetapi sebaiknya kita berbicara di rumah paman Dipanala”

“Apa salahnya kita berbicara sambil berjalan?”

“Nanti kita menjadi tontonan lagi”

Arum memandang berkeliling. Tidak banyak orang yang dijumpainya di jalan itu. Namun jika ia bertengkar dengan Buntal maka orang-orang itu tentu akan berkerumun dan menonton.

Karena itu Arum pun kemudian terdiam meskipun hatinya menjadi jengkel sekali.

Demikianlah, ketika. mereka sudah berada di rumah Ki Dipanala, maka mereka pun mulai membicarakan persoalan yang sedang mereka hadapi. Setiap kali Juwiring mencegah, maka Arum pun menjadi semakin bernafsu untuk ikut pergi ke pinggir Bengawan.

Juwiring sudah lama mengenal Arum. Bahkan ayahnya pun kadang-kadang sulit untuk mencegah gadis itu. Karena itu, maka Juwiring pun kemudian berkata, “Terserah kepadamu Arum. Tetapi jika kau memang ingin ikut bersama kami, kau harus sudah bersiap menghadapi setiap kemungkinan”

“Ya. Aku sudah siap” jawab Arum, namun kemudian, “Tetapi, kenapa kakang Juwiring menyerahkan hal itu kepadaku. Bagaimana sikap kakang sebenarnya?”

“Ya terserah kepadamu. Sebenarnya aku berkeberatan”

“Kenapa? Aku sudah menjelaskan bahwa aku sudah siap menghadapi apapun”

“Karena itu, terserah saja kepadamu”

“Jangan terserah. Jika kakang, eh, Raden mengijinkan aku akan pergi”

“Jika tidak”

“Apakah alasannya. Aku bukan anak-anak yang menggantung-kan diriku kepada selendang ibunya”

“Ah, sudahlah Arum. Memang susah berbicara dengan kau. Jika aku berkata terserah, kau tidak puas. Jika aku melarang kau memaksa. Tetapi jika aku berkata, “Baik, kita akan pergi Kau sangka aku sekedar memuaskan hatimu saja”

Wajah Arum menjadi tegang. Namun ketika ia memandang wajah Buntal yang tidak dapat menahan senyumnya, Arum pun tanpa sengaja telah tersenyum pula. Tetapi ketika ia sadar, maka ia pun tiba-tiba mencubit Buntal dengan tangan kiri dan Juwiring dengan tangan kanannya, sehingga keduanya terlonjak dari tempat duduknya.

“Jadi bagaimana, bagaimana” desisnya, “terserah saja. Aku tidak mau berbicara”

“Sudahlah” berkata Juwiring, “Jika kau mau pergi, pergilah. Tetapi nanti dulu, jangan membantah. Aku tidak sekedar memuaskan hatimu. Kau sudah cukup dewasa menghadapi keadaan. Karena itu, jika kau berkeras untuk ikut serta, maka kau pun sudah yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa atasmu”

Arum tidak menyahut. Tetapi wajahnya jadi suram.

Juwiring yang melihat wajah itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dan seperti biasanya, ia pun tidak lagi mempersoalkannya dengan Arum.

“Kau dapat memakai kuda yang ada di kandang halaman rumah ayahanda Pangeran, Buntal. Datanglah sebelum senja. Aku akan datang lebih dahulu agar aku dapat melihat, apakah tidak akan ada kecurangan yang berbahaya”

“Baiklah Raden” jawab Buntal, “sebenarnya aku tidak ingin berkelahi. Tetapi mereka telah memaksa aku berbuat demikian”

“Sekali-sekali bangsawan-bangsawan muda itu memang harus mendapat peringatan, agar lain kali ia sedikit menghargai orang lain”

“Kau juga bangsawan seperti mereka” gumam Arum.

Juwiring yang sedang tegang itu justru tersenyum. Jawabnya, “Bangsawan yang tercecer dari lingkungannya”

“Salahmu. Jika kau ingin bergabung dengan mereka, maka kau dapat berbuat apa saja, karena kau memiliki ilmu kanuragan yang melebihi mereka.

“Ah”

“Seenaknya saja mereka menyebut tentang perempuan. Jangankan menjadi selir, menjadi isteri bangsawan yang sah pun aku tidak mau. Aku menyadari bahwa aku seorang padesan. Anakku akan tersia-sia meskipun ayahnya seorang bangsawan”

Juwiring mengerutkan keningnya, sementara Buntal menggamit gadis itu. Tetapi Arum tidak menyadari kekeliruannya, bahkan ia bertanya dengan nada kesal, “Apa. Kau akan berkata apa?”

Buntal menundukkan kepalanya. Sedang Arum masih akan berbicara terus. Tetapi tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya wajah Juwiring yang muram memandang kekejauhan.

“O” Arum terhenyak. Barulah ia sadar, bahwa kata-katanya telah menusuk hati Juwiring justru karena Juwiring mengalaminya. Meskipun ibunya bukan orang padesan, dan bahkan juga keturunan bangsawan, namun tidak sederajad dengan isteri-isteri Pangeran yang lain, maka ia mengalami suatu tekanan perasaan yang berat, apalagi ia mempunyai seorang ibu tiri seperti Raden Ayu Galih Warit.

“Maaf Raden” desis Arum dengan nada yang dalam, “Bukan maksudku menyinggung perasaanmu”

Juwiring tersentak. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Tidak apa-apa. Aku baru berangan-angan tentang bengawan itu”

Arum tidak menjawab lagi. Ia merasa bersalah, bahwa kata-katanya sedikit terdorong sehingga agaknya telah menyentuh dasar hati Juwiring yang memang sudah terluka itu.

“Sudahlah. Jangan berbicara apa-apa lagi. Kita bertemu nanti di pinggir bengawan. Anak-anak itu adalah anak-anak yang pantas mendapat peringatan”

Buntal dan Arum hanya sekedar menganggukkan kepalanya saja. Mereka tidak mau menambah goresan pada luka di hati Juwiring.

Demikianlah, maka Juwiring pun kemudian minta diri. Namun agaknya masih ada sesuatu yang tersangkut di hati Buntal sehingga ketika mereka sudah berdiri di halaman, anak muda itu justru bertanya, “Raden, sebenarnya aku tidak mengerti. Apakah bangsawan-bangsawan muda itu gambaran dari Surakarta yang akan datang? Bukankah mereka kelak akan menggantikan kedudukan ayahanda mereka di dalam pemerintahan?”

Juwiring mengerutkan keningnya.

“Aku pernah mengenal Raden Rudira. Tetapi ternyata ia tidak berdiri, sendiri dalam sikapnya. Ada beberapa orang yang bersikap seperti Raden Rudira itu. Dengan demikian, aku menjadi cemas melihat gambaran negeri ini di masa mendatang, yang dekat. Anak-anak muda yang berkeliaran dan justru mereka tidak memiliki ilmu yang cukup”

“Tidak Buntal. Bukan itu gambaran masa mendatang. Kita masih mempunyai harapan bahwa di antara bangsawan-bangsawan muda, apakah ia keturunan pertama atau kedua dari pemegang kekuasaan di Surakarta kini, masih ada yang tetap menyadari tugasnya. Kita mengenal beberapa nama yang dapat diharapkan. Baik dari sikap, perbuatan dan ilmu yang mereka miliki. Kita berharap bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk memerintah negeri ini kelak. Tetapi . . “ Juwiring menarik nafas dalam-dalam, lalu, “tetapi seperti yang sudah kita ketahui, agaknya kumpeni mempunyai pengaruh yang kuat”

Buntal menarik nafas dalam-dalam.

“Dan kita pernah mendengar ceritera tentang pemberontakan yang pernah terjadi. Tidak hanya satu dua kali. Tetapi beberapa kali. Dan setiap kali, maka kumpeni tentu berhasil meneguk keuntungan daripadanya. Namun demikian, kadang-kadang kita memang tidak dapat lagi menanggung tekanan batin yang tiada taranya sehingga memaksa kita untuk melepaskah diri dari belenggu penindasan, meskipun kadang-kadang kita harus menebusnya dengan maut”

Buntal mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Namun kemudian ia bergumam, “Sokurlah jika masih ada orang yang menyadari keadaan ini. Kami yang tinggal jauh dari kota justru merasakan sesuatu yang menekan hati ketika kami melihat kehidupan di dalam kota ini. Sama sekali1 bukan berdasarkan hati yang iri semata-mata. Tetapi sebuah kecemasan yang bergolak di dalam dada ini”

“Kau benar. Jika kita bicara dengan nurani yang bersih, maka setiap orang akan mengakuinya. Gemerlapnya istana-istana yang indah dan cantiknya wanita-wanita di dalam kota ini bukan lambang gemerlapnya Surakarta dan cantiknya tanah ini yang seakan-akan telah dinodai oleh bangsa asing dengan kedok perdagangan dan persahabatan.

Buntal hanya mengangguk-angguk saja. Namun ternyata angan-angannya telah hinggap pada seorang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati. Dan hampir-di luar sadarnya ia berdesis di dalam hatinya, “Pangeran Mangkubumi. Mudah-mudahan ia berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat Surakarta”

“Sudahlah” berkata Juwiring kemudian, “Aku akan kembali ke rumah ayahanda yang asing bagiku itu. Jangan lupa, datanglah menjelang matahari terbenam. Aku akan datang lebih dahulu”

“Baiklah Raden” sahut Buntal, “mudah-mudahan aku tidak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan. Apalagi jika kemudian menyangkut Pangeran Ranakusuma dan beberapa orang bangsawan yang lain”

Juwiring hanya tersenyum saja. Meskipun senyum yang kecut.

Demikianlah Buntal menjadi gelisah. Direnunginya dirinya sendiri di dalam lingkungan yang asing baginya. Tiba-tiba saja ia sudah terlibat di alam pertentangan kekerasan. Ia harus berkelahi melawan bangsawan-bangsawan muda itu. Dan sudah barang tentu bahwa sesuatu dapat terjadi di luar dugaan. Bangsawan di Surakarta mempunyai hak yang seakan-akan melampaui hak orang kebanyakan.

Agaknya Arum tidak begitu menghiraukannya. Yang dipikirkannya adalah, bahwa ia tidak mau dihinakan oleh siapapun. Ia sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain yang dapat terjadi. Meskipun ia pernah mendengar dari beberapa orang tentang hak para bangsawan, namun haknyalah untuk melindungi dirinya sendiri dan apalagi nama baiknya.

Karena itulah, maka ketika matahari menjadi semakin condong ke Barat, Buntal menjadi semakin gelisah. Tetapi ia masih mempercayakan persoalan berikutnya apabila timbul, kepada Juwiring, karena Juwiring adalah seorang dari lingkungan mereka. Dan agaknya ayahandanya pun telah menerima kembali sebagai anaknya sepenuhnya.

Buntal yang gelisah itu terkejut ketika dilihatnya dua orang abdi dari Ranakusuman datang ke rumah Ki Dipanala dengan membawa masing-masing seekor kuda.

“Raden Juwiring memerintahkan kami menyerahkan kuda-kuda ini” berkata abdi itu kepada Buntal.

“Terima kasih” sahut Buntal. Dan ia pun sadar bahwa ia memang harus pergi.

“Apakah Raden Juwiring ada di istana?” bertanya Buntal lebih lanjut

“Tidak. Raden Juwiring sudah pergi”

“Sendiri?”

“Ya, sendiri”

“Terima kasih” desis Buntal kemudian.

Sepeninggal kedua orang abdi Ranakusuman itu Buntal menjadi semakin gelisah. Tetapi ia memang harus pergi ke tepi Bengawan untuk berkelahi.

Tetapi yang menjadi persoalan baginya kemudian adalah Arum. Karena itu, maka ia pun pergi kepadanya dan bertanya, “Apakah kau akan memakai. kain panjang seperti itu?”

“Kenapa?”

“Kita pergi berkuda. Dan kuda yang diberikan kepada kita adalah kuda Ranakusuman yang tegar dan besar. Bukan kuda kita yang agak lebih kecil. Dengan demikian kita akan menjadi lebih gagah. Tetapi yang penting kuda-kuda itu lebih tinggi dan barangkali kita masih harus memperkenalkan diri”

“Jadi bagaimana sebaiknya menurut pertimbanganmu?”

“Bagaimana jika kau berpakaian laki-laki? Selain lebih aman bagimu sendiri, tentu kau tidak akan terlalu menarik perhatian orang di sepanjang jalan”

Arum mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa jika aku berkuda dalam pakaian perempuan. Kenapa harus menarik perhatian? Apakah perempuan tidak pantas naik kuda seperti seorang laki-laki?”

“Arum” berkata Buntal, “di dalam keadaan ini sebaiknya kita tidak berbicara tentang sikap kita terhadap persamaan atau perbedaan di antara kita. Tetapi kita berbicara tentang kenyataan. Barangkali kau akan dapat menjawab sendiri, apakah sebaiknya kau berpakaian seperti seorang laki-laki atau tetap dalam pakaianmu”

Arum tidak menyahut. Kali ini ia harus mengakui kebenaran pendapat Buntal. Karena itu, maka kepalanya hanya terangguk-angguk kecil saja.

Dalam pada itu, selagi mereka berbincang, maka mereka pun terhenti untuk menganggukkan kepala mereka ketika mereka melihat Ki Dipanala mendatanginya. Sambil tersenyum orang tua itu bertanya, “Apakah kalian akan pergi dengan kuda-kuda itu?”

“Ya paman” jawab Buntal.

“Kemana?”

Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak segera menemukan jawabnya. Apakah ia harus berkata terus terang, atau masih harus merahasiakannya. Buntal tidak tahu apa yang sudah dikatakan oleh Juwiring kepada Ki Dipanala itu.

Tetapi Ki Dipanala itu pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku sudah mendengar dari Raden Juwiring. Kalian harus pergi ke pinggir bengawan”

“Ya paman” jawab Buntal sambil menundukkan kepalanya.

“Memang mendebarkan hati. Tetapi apaboleh buat. Raden Juwiring akan dapat menanggung jika terjadi akibat apapun”

“Ya paman” sahut Buntal.

Ki Dipanala memandang Buntal dengan mata yang buram. Sebenarnya ia menjadi kasihan melihat anak-anak muda itu terlibat dalam kekerasan tanpa mereka kehendaki sendiri. Tetapi ia pun sadar, bahwa baik Buntal maupun Juwiring adalah anak-anak muda pula sehingga darah mereka pun masih cepat mendidih.

Karena itu, di samping keseganannya, maka menurut dugaan Ki Dipanala ada juga semacam kebanggaan pada Buntal. Namun ia tahu bahwa murid-murid Danatirta itu mempunyai pengekangan diri yang cukup baik dibanding dengan anak-anak muda sebayanya. Jika terpaksa terjadi sesuatu yang bersifat keras, tentu ada alasan yang cukup kuat telah memaksa mereka untuk melakukannya.

“Paman” berkata Buntal kemudian, “Aku tidak tahu, apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Tetapi kakang Juwiring telah mengambil sikap. Dan aku harus melakukannya”

“Buntal” sahut Ki Dipanala, “Raden Juwiring sekarang sudah mendapatkan kedudukannya kembali sebagai putera Pangeran Ranakusuma. Mungkin karena Raden Rudira sudah meninggal, sehingga Pangeran Ranakusuma memerlukan seorang anak laki-laki, tetapi juga mungkin karena Pangeran Ranakusuma telah berhasil menilai dirinya sendiri, dan menganggap apa yang terjadi pada Raden Juwiring itu keliru karena dorongan nafsu ketamakan Raden Ayu Galih Warit. Dengan demikian, maka jika bangsawan-bangsawan muda itu ingin mencari sandaran kepada ayahanda masing-masing, maka Raden Juwiring pun dapat melakukannya”

“Aku mengerti paman” desis Buntal, “Tetapi apakah paman tidak akan pergi ke Bengawan”

Ki Dipanala mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa Buntal menjadi agak cemas juga. Bukan karena ia harus berkelahi, dan mencemaskan kemampuan lawan-lawannya. Tetapi karena Buntal sendiri merasa sebagai seorang anak padesan. Ia harus menyandarkan nasibnya kepada orang lain jika perselisihan ini kemudian berkembang.

“Aku tidak dapat pergi Buntal. Mungkin Pangeran Rana-kusuma memerlukan aku. Sekarang aku justru mempunyai banyak pekerjaan. Seolah-olah semua persoalan ditumpahkan kepadaku sejak meninggalnya Raden Rudira”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling dilihatnya Arum pun tampak menjadi gelisah.

“Percayakah persoalan-persoalan yang dapat timbul kepada Raden Juwiring. Jika ia menemui kesulitan, aku akan mencoba iku memikirkannya” berkata Ki Dipanala kemudian, lalu, “pergilah. Aku akan kembali ke Ranakusuman”

Sejenak kemudian, maka Arum dan Buntal pun telah selesai berkemas. Arum memakai pakaian seorang laki-laki, sehingga dalam sekilas tidak seorang pun yang dapat mengenalnya sebagai seorang gadis.

Demikianlah maka keduanya pun kemudian segera pergi ke pinggir bengawan seperti yang sudah dijanjikan. Meskipun Buntal telah siap menghadapi segala kemungkinan, namun hatinya masih berdebar-debar juga.

“Kita tidak memerlukan senjata kakang?” bertanya Arum.

“Tidak. Kita tidak akan bertempur mati-matian. Kita hanya akan sekedar memuaskan diri sendiri dengan perkelahian ini. Kalah atau menang.”

“Tetapi, bukankah kakang Juwiring mengatakan bahwa kemampuan kita hanya terbatas, sedang jumlah mereka hampir tidak terbatas. Apakah itu tidak berarti bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang tidak wajar, atau katakanlah agak licik dan curang?”

“Memang mungkin. Tetapi senjata hanya akan membahayakan diri kita sendiri. Tentu kita tidak akan dapat mempergunakan Kita tidak akan dapat melukai seorang pun dari mereka dengan sengaja mempergunakan senjata yang sudah kita persiapkan. Dengan demikian kita akan berhadapan dengan kesulitan yang lebih luas lagi di tempat yang asing ini”

Arum mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Buntal, sehingga karena itu, maka ia pun tidak bertanya lebih lanjut. Namun demikian di dalam hatinya ia berkata, “Kecuali senjata yang dapat kita rampas pada waktu itu. Dengan demikian berarti bahwa kita benar-benar sekedar membela diri”

Ketika Arum kemudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya matahari sudah bertengger di ujung Barat. Namun masih dapat melihat dengan jelas wajah-wajah orang yang berjalan di sepanjang jalan memandangnya dengan heran. Jarang sekali ada orang-orang berkuda di tengah-tengah kota selain para bangsawan muda dan prajurit. Kadang-kadang memang ada para pedagang yang tergesa-gesa menyelesaikan persoalannya. Tetapi tidak anak-anak muda berpakaian petani seperti Buntal dan Arum.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 11"

Post a Comment

close