Bunga Di Batu Karang Jilid 01

Mode Malam
Matahari sudah semakin tinggi. Sinarnya menusuk celah-celah dedaunan di pepohonan, membuat lukisan yang cerah di atas tanah yang lembab.

Sekali lagi Buntal berpaling. Dipandanginya sebuah rumah tua yang kecil, dan apalagi miring. Rumah yang untuk beberapa bulan didiaminya bersama paman dan bibinya.

Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Sejak ia menjadi yatim piatu, ia tinggal bersama paman dan bibinya. Tetapi paman dan bibinya ternyata mengalami banyak kesulitan. Untuk memberi makan dan pakaian saudara-saudara sepupunya, anak paman dan bibinya itu sendiri, mereka telah mengalami kekurangan. Apalagi ia berada di rumah itu pula.

Karena itu sekali lagi ia membulatkan niatnya. Meninggalkan rumah itu.

Pagi itu, selagi paman dan bibinya pergi ke ladangnya yang hanya secuwil kecil, dan saudara-saudara sepupunya bermain-main di kebun belakang, Buntal memutuskan untuk berangkat tanpa membawa bekal apapun.

Kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu juga, akan kemana saja ia membawa langkahnya. Tetapi ia pun kemudian menengadah ke langit, dan tanpa disadarinya ia berdoa semoga Tuhan yang menurut ayahnya yang telah meninggal adalah Maha Pengasih, agar menuntun langkahnya.

Buntal pun kemudian berjalan cepat-cepat agar ia segera menjadi semakin jauh. Meskipun paman dan bibinya miskin, tetapi kepergiannya pasti tidak akan mereka kehendaki. Karena itu, maka ia pun telah meninggalkan keluarga miskin itu tanpa pamit.

“Keadaan menjadi semakin buruk” desis Buntal di dalam hati. Ia tidak mengerti, perubahan apakah yang telah terjadi dalam tata pemerintahan. Namun terasa baginya, dan bahkan bagi anak-anak yang lebih kecil dari dirinya, bahwa sesuatu telah terjadi.

Langkahnya semakin lama membawanya semakin jauh dari rumah paman dan bibinya. Ketika matahari berada di puncak langit ia mulai membayangkan, bahwa paman dan bibinya pada saat-saat yang demikian itu kembali sejenak dari sawah untuk beristirahat. Apabila kebetulan ada, mereka sekedar makan seadanya bersama-sama dengan anak-anak mereka.

“Paman dan bibi tentu mencari aku” desisnya. Tetapi Buntal berjalan terus. Ia mencoba untuk meneguhkan hatinya, agar ia tidak menjadi ragu-ragu atau bahkan melangkah kembali ke rumah itu, rumah paman dan bibinya yang miskin.

Namun ketika matahari menjadi condong ke Barat, terasalah sesuatu di perutnya. Lapar.

Buntal mulai menjadi gelisah. Sebelumnya ia tidak memikirkan, bagaimana ia mendapatkan makan di sepanjang perjalanannya. Dan kini baru ia sadar, bahwa ia menjadi sangat lapar.

Memang kadang-kadang sehari penuh ia tidak makan nasi di rumah paman dan bibinya yang miskin. Tetapi ada saja yang dapat diambilnya dari kebun, untuk sekedar mengisi perutnya. Kadang-kadang pohung, kadang-kadang nyidra atau garut atau apapun juga. Tetapi di perjalanan ini, ia tidak dapat menemukan apapun juga.

Keragu-raguan di hati Buntal mulai melonjak. Kadang-kadang timbul pula niatnya untuk kembali saja ke rumah paman dan bibinya. Tetapi ia tidak sampai hati melihat keadaan rumah dan keluarga itu sehari-hari.

Kadang-kadang Buntal harus menahan gejolak perasaannya, apabila ia mendengar adik sepupunya yang masih berumur setahun menangis karena lapar. Anaknya yang lebih tua duduk tepekur sambil menyeka air matanya. Yang lain tidur terlentang dengan lemahnya di amben bambu. Sedang yang sulung, yang tiga tahun lebih muda daripadanya, duduk tepekur sambil menganyam keranjang.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Umurnya sendiri belum mencapai limabelas tahun, sehingga adik sepupunya yang sulung itu belum mencapai duabelas tahun. Dan anak yang belum mencapai umur duabelas tahun itu harus sudah bekerja keras membantu ayah dan ibunya untuk mencari nafkahnya sehari-hari.

Tetapi kini perutnya sendiri merasa lapar. Sedang perjalanannya sama sekali tidak berketentuan. Ia tidak akan dapat menghitung sampai kapan ia harus berjalan. Dan kemanalah tujuan yang akan didatanginya. Ia tidak lagi mempunyai saudara yang agak jauh sekalipun.

Namun Buntal tidak berhenti. Ia melangkah terus dengan lemahnya. Semakin lama semakin lemah, sehingga akhirnya ia jatuh terduduk diatas sebuah batu di pinggir jalan.

Ketika tanpa disadarinya Buntal menengadahkan kepalanya ke langit, dilihatnya cahaya yang kemerah-merahan telah mulai membayang, sehingga sebentar lagi senja akan segera turun.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar gemericik air parit, maka terasa lehernya menjadi semakin kering. Karena Itu, maka perlahan-lahan ia beringsut mendekati parit itu. Apalagi ketika dilihatnya air yang bening mengalir diatas rerumputan yang hijau di dasar parit bercampur pasir yang keputih-putihan, maka ia pun segera berjongkok diatas tanggul. Dengan kedua belah telapak tangannya ia mengambil seteguk air untuk menghilangkan hausnya yang tidak tertahankan, meskipun ia sadar, bahwa air itu tidak bersih sama sekali dari kotoran, karena di parit itu pula para petani mencuci kaki, tangan dan alat-alatnya apabila mereka pulang dari sawah.

Tetapi lehernya terasa haus sekali.

Buntal menarik nafas dalam-dalam ketika terasa tenggorokan-nya telah menjadi basah. Perlahan-lahan ia berdiri dan memandang daerah di sekitarnya. Tetapi daerah itu adalah daerah yang asing baginya. Dan dengan demikian ia sadar, bahwa ia telah benar-benar terpisah dari paman dan bibinya. Ia tidak akan dapat menemukan jalan kembali, apabila ia tidak bertanya-tanya dengan susah payah.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan semakin merayapi batinnya. Sebentar lagi malam akan tiba, dan sebentar lagi seluruh permukaan bumi ini akan menjadi gelap.

“Apakah aku akan tetap berada di bulak dan tidur diatas rerumputan?”

Tiba-tiba tengkuknya meremang. Di kejauhan dilihatnya seonggok pepohonan yang rimbun. Kalau itu sebuah ujung dari hutan yang membujur, meskipun hutan yang rindang, kadang-kadang masih ada juga seekor harimau yang tersesat keluar hutan dan mencari makan ke padukuhan. Mungkin seekor lembu, mungkin kambing dan apabila ia berada di bulak itu mungkin dirinya.

Dalam kecemasan itu, Buntal melihat sebuah gubug yang bertiang agak tinggi. Sebuah gubug yang di siang hari dipakai untuk menunggu dan menghalau burung.

“Mungkin tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang paling baik buat bermalam. Tangga gubug itu cukup kecil, sehingga aku kira tidak, akan ada harimau yang dapat memanjat keatas.

Meskipun agak ragu, Buntal pun berjalan juga menyusur pematang ke gubug itu.

Besok pagi-pagi benar aku harus bangun dan meninggalkan gubug itu. Kalau aku kesiangan, dan ada seseorang yang menemukan aku masih tidur, maka aku akan mendapat seribu macam pertanyaan.

Ternyata gubug itu cukup panjang untuk menjelujurkan kakinya. Sambil menggeliat ia berbaring. Kepalanya diletakkan diatas kedua telapak tangannya.

Senja pun semakin lama menjadi semakin gelap. Seperti perut Buntal yang menjadi semakin lapar.

Sekali-kali Buntal menarik nafas dalam-dalam. Udara yang segar terhisap masuk ke dadanya. Namun dada itu masih juga tetap gelisah dan cemas.

Dengan demikian Buntal tidak segera dapat tertidur. Berbagai macam perasaan bergulat di dalam dirinya. Cemas, gelisah, takut dan juga lapar dan penat. Bahkan ia menjadi cemas pula apabila tiba-tiba saja pemilik gubug itu datang di malam hari untuk menengok sawahnya

“Mudah-mudahan tidak malam ini” desisnya, “mudah-mudahan ia tidak menengok sawahnya malam hari”

Namun kegelisahan itu membuatnya tidak segera dapat memejamkan matanya, apalagi karena perutnya terasa menjadi semakin lapar.

Namun oleh kepenatan yang sangat, kantuk yang tidak terlawan dan udara yang segar, akhirnya membuat Buntal terlena diatas gubug itu.

Anak itu tidak menyadari, berapa lamanya ia tertidur diatas gubug itu. Namun ia terkejut ketika terasa olehnya sinar matahari mulai menggigit kakinya.

Dengan tergesa-gesa Buntal bangkit.

“O, matahari telah tinggi”

Sejenak kemudian Buntal telah duduk di gubug itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya. Beberapa orang dilihatnya telah bekerja di sawahnya. Beberapa yang lain sedang menyelusuri parit yang mengalirkan air yang bening.

“Aku harus segera pergi” desisnya, “kalau yang mempunyai gubug ini datang, aku akan mengejutkannya dan mungkin aku disangkanya telah berbuat sesuatu yang merugikannya”

Tetapi selagi Buntal membenahi dirinya, ia merasa gubug itu terguncang, sehingga karena itu maka dadanya segera menjadi berdebaran. Ia sadar, bahwa seseorang pasti sedang naik keatas gubug itu.

Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba sebuah kepala telah menjenguk dari balik alas gubug itu. Seorang gadis kecil yang sama sekali tidak menyangka, bahwa ada seseorang diatas gubugnya, sedang memanjat naik untuk menyimpan bakulnya diatas gubug itu.

Tetapi tiba-tiba saja ia melihat seorang anak muda yang belum dikenalnya di dalam gubugnya itu.

Karena itu, betapa ia terperanjat. Sejenak ia membeku, namun kemudian ia pun segera meluncur turun. Tetapi karena ia terlampau tergesa-gesa, maka ia pun terperosok diantara mata tangga dan jatuh diatas tanah yang basah.

Tanpa sesadarnya gadis kecil itu menjerit. Kemudian tubuhnya terbanting ke dalam lumpur yang kotor.

Jerit gadis kecil itu ternyata telah mengejutkan beberapa orang yang berada di sekitar tempat itu. Bahkan Buntal pun terkejut pula. Dengan serta-merta ia menjengukkan kepalanya dan dilihatnya gadis itu sedang bergulat untuk bangkit dari lumpur yang licin.

Buntal tidak berpikir apapun lagi. Ia pun segera turun dengan tergesa-gesa dan berusaha menolong gadis yang berlumuran tanah yang kotor itu.

Sesaat kemudian beberapa orang pun datang berlari-lari ke gubug itu. Yang mereka lihat, Buntal sedang menarik gadis itu dan mencoba membantunya berdiri. Sedang tubuh gadis itu sendiri tiba-tiba menjadi lemas seperti tidak bertenaga. Karena terkejut yang amat sangat, maka gadis kecil itu menjadi pingsan karenanya.

“He, apakah yang kau lakukan atas anak itu?” bentak seorang yang bertubuh pendek, tetapi sekuat kerbau jantan, yang ternyata dari urat-uratnya yang menonjol di permukaan kulitnya.

“Aku tidak berbuat apa-apa” jawab Buntal ketakutan, “Lepaskan” teriak seorang anak muda.

“Tetapi, tetapi….”

“Lepaskan” teriak yang lain.

Tetapi Buntal tidak segera melepaskannya.

“He, kenapa kau tidak mau melepaskan?”

“Ia lemas. Lemas sekali” suara Buntal tergagap, “kalau aku lepaskan ia akan terjatuh”

Sejenak orang-orang yang mengerumuninya saling berpandangan.

Kemudian dua orang anak muda meloncat maju dan merenggut tubuh gadis itu dari tangan Buntal. Ternyata bahwa gadis itu benar-benar telah lemas dan jatuh pingsan.

“Bawa dia menepi. Bersihkan tubuhnya dari lumpur”

Gadis itu pun kemudian dipapah oleh dua orang anak-anak muda yang kemudian meletakkannya di pematang. Dengan selendangnya, wajah gadis yang berlumuran lumpur itu pun kemudian dibersihkannya.

“Ayahnya belum datang?” bertanya seseorang.

“Belum, ia datang seorang diri”

Kini semua mata tertuju kepada Buntal. Orang yang bertubuh pendek dan berotot menonjol melangkah maju sambil menggeram, “Apa yang kau lakukan he?”

Buntal menjadi semakin ketakutan. Ia menyesal bahwa ia telah terbangun kesiangan, sehingga ia harus mengalami perlakuan yang mendebarkan itu.

“Kau apakan anak itu he?”

“Aku, aku tidak apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa”

“Bohong” sahut seorang anak muda yang bertubuh tinggi, “mungkin kau ingin berbuat jahat. Apapun yang akan kau lakukan. Mungkin kau melihat gadis itu memakai perhiasan. Atau kau memang akan berbuat jahat kepada gadis itu sendiri”

“Tidak, aku tidak berbuat apa. Aku semalam memang tidur di gubug itu. Mungkin ia terkejut melihat aku”

“Jangan mengada-ada. Dan kenapa kau berada di gubug itu? Siapa kau dan dimana rumahmu?”

Buntal menjadi semakin kebingungan. Ingin ia menyebut nama paman dan bibinya. Tetapi jika demikian, dan persoalan yang tidak diharapkannya ini menjadi persoalan yang berkepanjangan, maka paman dan bibinya akan tersangkut pula. Padahal mereka sudah selalu dalam kesulitan untuk hidup mereka sehari-hari. Kalau mereka harus berbuat sesuatu untuk dirinya, maka hidup mereka pun akan semakin terbengkelai.

“Siapa kau he?” seorang yang bertubuh tinggi membentak.

“Namaku Buntal” jawabnya. Suaranya sudah menjadi gemetar.

“Buntal, Buntal. Dimana rumahmu he?”

Buntal ragu-ragu sejenak.

“Dimana?” tiga orang berbareng membentak.

Suara Buntal menjadi semakin gemetar. Jawabnya, “Aku anak yatim piatu”

“He?”

“Aku yatim piatu”

“Bohong. Bohong. Dimana rumahmu. Meskipun seandainya kau yatim piatu, namun kau pasti mempunyai tempat tinggal”

Buntal menjadi semakin bingung. Tetapi ia sudah bertekad untuk tidak menyeret paman dan bibinya yang sudah terlampau sulit itu untuk mendapatkan kesulitan-kesulitan baru. Karena itu, maka ia ingin menunjukkan rumah yang sudah lama ditinggalkan, setelah ayahnya meninggal. Dan rumah itu sama sekali bukan rumahnya karena ia tinggal di pengengeran sekeluarga.

“Dimana, dimana he? Apakah kau menjadi bisu” bentak orang-orang yang marah itu.

“Aku, aku tidak mempunyai rumah karena ayahku hanya seorang pelayan. Seorang abdi”

“Dimana?

“Surakarta”

“Surakarta? Yang kau maksud kau tinggal di dalam kota Surakarta?”

“Ya”

“O, jadi kau anak orang kota? Tetapi kau sama sekali tidak tahu adat?”

“Bukan, aku bukan orang kota. Ayah sekedar seorang abdi dari seorang bangsawan. Ayah adalah seorang juru pengangsu yang dahulu datang dari padesan juga”

“Dimana ayahmu sekarang?”

“Meninggal. Ayah sudah meninggal”

“Dan kau?”

“Aku diusir dari rumah bangsawan itu”

“Pantas. Pantas. Kau pasti berbuat tidak senonoh di rumah bangsawan itu. Kau pasti berbuat jahat seperti yang baru saja kau lakukan”

“Tidak. Aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi bangsawan-bangsawan memang terlampau kejam sekarang”

“Omong kosong. Kau pasti yang jahat”

“Tidak. Aku tidak jahat. Sejak rumah itu sering dikunjungi kumpeni, Raden Tumenggung Gagak Barong telah berubah”

“Kumpeni?”

“Ya”

“Omong kosong. Kau memang seorang yang pandai berbohong. Sekarang kau masih mencoba berbohong, meskipun kami dapat melihat sendiri apa yang sudah kau lakukan”

“Aku tidak! berbuat apa-apa”

Tiba-tiba seorang anak muda yang bermata setajam burung hantu maju kedepan. Dengan serta merta anak muda itu menerkam baju Buntal yang sudah kusut. Sambil menarik ia menggeram, “Berkatalah berterus terang. Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau berada disini?”

“Aku sudah mengatakan semuanya”

“Bohong. Bohong” anak muda itu mulai mengguncang-guncang baju Buntal.

Buntal menjadi semakin gemetar. Apalagi ketika dilihatnya beberapa orang maju mendekat dengan pandangan mata yang seakan-akan langsung menusuk jantung.

“Ayo, berkatalah sebenarnya” orang lain berteriak.

Dan Buntal menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah meloncat maju dan langsung menggenggam rambutnya.

“Kalau kau berbohong sekali lagi, aku pukul mulutmu”

Buntal benar-benar telah kehilangan akal. Tubuhnya menggigil seperti semalam suntuk terendam air. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas.

“Jawab. Apa yang sudah kau lakukan?”

Mulut Buntal bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak terdengar.

“Jawab pertanyaanku”

Buntal masih belum dapat mengucapkan kata-kata, sehingga orang-orang itu menjadi semakin marah. Kepala Buntal terputar ketika sebuah telapak tangan menampar pipinya.

“Ayo bilang. Bilang bahwa kau telah mengganggu gadis, kecil itu diatas gubug. Untunglah bahwa ia justru terlempar dan sempat menjerit”

“Tidak. Tidak” hanya itulah yang dapat diucapkan oleh Buntal karena tangan yang lain telah memukul dagunya.

Alangkah sakitnya. Dan alangkah sakit hatinya. Ia sama sekali tidak dapat melawan. Ketika rambut dan bajunya dilepaskan dan sebuah tangan lagi memukul pipinya. Buntal benar-benar telah terlempar dan terbanting jatuh diatas pematang, namun ia pun kemudian terguling ke dalam lumpur.

Tertatih-tatih ia mencoba berdiri. Namun ia tidak sempat tegak karena sebuah tendangan mengenai lambungnya, dan mendorongnya sekali lagi jatuh ke dalam lumpur.

“Bawa saja kepada Ki Jagabaya” berkata salah seorang dari mereka.

“Pukuli saja disini. Di dalam keadaan seperti ini, orang-orang gila pantas dibunuh saja”

“O, jangan, jangan” teriak Buntal.

“Kau sudah berani berbuat gila, kau harus mempertanggung jawabkannya. Kenapa kau takut?”

“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa” hanya kata-kata itulah yang dapat diucapkan oleh Buntal. Ia tidak dapat menemukan kalimat-kalimat yang lain di dalam keadaannya itu.

Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya lagi. Beberapa orang segera menariknya ke pematang. Kemudian Buntal diseret seperti seonggok batang pisang ke jalan di tengah-tengah sawah itu.

Sejenak kemudian wajahnya telah dihujani dengan pukulan-pukulan dan bahkan beberapa orang telah meludahinya.

Kepala Buntal segera menjadi pening. Kepalanya serasa menjadi retak dan pandangannya berkunang-kunang. Tetapi ia masih mendengar setiap orang memaki-makinya.

“Gadis itu masih pingsan” terdengar seseorang berkata, “bunuh saja anak jahanam itu. Ia membuat pedukuhan ini ternoda”

“Ya bunuh, bunuh saja”

Buntal tidak berdaya sama sekali untuk melakukan pembelaan. Sekilas terlintas di kepalanya, kenangan atas perjalanannya yang panjang sehingga ia sampai ke tempat ini. Dan terlintas pula di kepalanya, perjalanan yang seakan-akan telah terbentang di hadapannya. Jalan yang jauh lebih panjang dari jalan yang baru saja dilaluinya itu.

“Aku akan menyeberangi langit” katanya di dalam hati.

Dan sesaat kemudian Buntal itu menjadi pingsan, ia tidak merasakan lagi pukulan-pukulan yang bertubi-tubi mengenainya. Dengan lemahnya ia terkapar di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu.

Dalam pada itu, selagi Buntal masih mengalami hukuman yang sama sekali tidak diduganya, seorang tua berlari-lari diikuti oleh seorang anak muda yang sebaya dengan Buntal menuju ke pematang. Orang tua itu adalah ayah dari gadis yang pingsan itu. Seseorang telah memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi di sawah.

Ketika ia sampai di sisi anak gadisnya, segera ia berlutut. Diraba-rabanya tubuh anaknya, kemudian dipijit-pijitnya tengkuknya. Tetapi wajahnya tampak menjadi agak cerah ketika ia mendengar anaknya itu merengek seperti dimasa kanak-kanaknya.

“Arum” desis orang tua itu, “kenapa kau?”

Arum, gadis itu, membuka matanya. Dilihatnya ayahnya berjongkok di sampingnya.

“Apakah yang terjadi?”

Arum masih bingung sejenak. Namun kemudian ditolong oleh ayahnya ia mengangkat kepalanya.

Sejenak ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan, namun semakin lama menjadi semakin jelas. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada ayahnya, “Aku terjatuh ayah. Aku terkejut sekali”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba pula anaknya itu memandang ke jalan yang membujur diantara tanah persawahan.

“Apa yang terjadi disana ayah?” ia bertanya sambil menunjuk orang-orang yang berkerumun sambil menyepak-nyepak.

“Anak itu. Anak yang barangkali sudah berbuat jahat kepadamu”

“Kenapa dengan anak itu?”

“Orang-orang telah menganggapnya bersalah. Mereka memukuli anak itu”

“Tidak ayah. Anak itu tidak berbuat apa-apa. Aku hanya terkejut dan aku terjatuh ketika aku meluncur turun, ia berada diatas gubug, sedang aku baru saja naik keatas. Dan aku masih berdiri di tangga”

“Aku sudah minta anak mas Juwiring untuk mencegahnya”

Arum kemudian duduk bersandar kedua tangannya. Kepalanya masih terasa pening. Namun ia menjadi cemas, apabila terjadi sesuatu atas anak yang dilihatnya duduk diatas gubugnya.

Dalam pada itu, Juwiring telah berdiri ditengah-tengah lingkaran orang-orang yang mengerumuni Buntal yang terbaring di tanah.

Sejenak ia masih melihat beberapa pasang kaki menyepak-nyepak tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Namun ketika anak muda yang bernama Juwiring itu berdiri diantara mereka sambil memandang berkeliling, maka tiba-tiba saja orang-orang yang berkerumun itu bergeser surut.

“Kenapa dengan anak ini paman?” bertanya Juwiring, Meskipun umurnya belum sampai tujuh belas tahun, tetapi terasa wibawa yang besar memancar dari nada kata-katanya.

Tidak seorang pun yang segera menyahut. Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mulut mereka masih tetap terkatup rapat-rapat.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membungkukkan badannya dan meraba tubuh Buntal, ia berdesis, “Pingsan. Anak ini telah, pingsan”

Tiba-tiba mata Juwiring menjadi tajam memandang setiap wajah yang ada di sekelilingnya. Satu-satu wajah itu tertunduk lemah.

“Apakah salah anak ini?” sekali lagi ia bertanya.

Tetapi tidak ada yang segera menjawab, sehingga akhirnya Juwiring maju selangkah mendekati orang yang bertubuh pendek kekar dan berotot seperti jalur-jalur pohon merambat di seluruh tubuhnya.

“Paman” bertanya Juwiring, “apakah salah anak itu?”

Orang itu tergagap sejenak. Namun karena tatapan mata Juwiring bagaikan menusuk jantungnya, akhirnya ia menjawab, “Anak ini telah mengganggu Arum diatas gubugnya”

“O” Juwiring mengerutkan dahinya. Sekali ia berpaling, namun Buntal masih terbaring diam.

“Apakah yang sudah dilakukannya? Apakah ia merampas barang-barang milik Arum, ataukah ia berbuat lain?”

Orang bertubuh kekar itu menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia menjawab, “Kami hanya mendengar Arum menjerit. Dan kami datang berlari-larian. Kami melihat kemudian anak itu sedang memeluk Arum yang lemah dan kotor”

“Diatas gubug?”

Orang itu menggeleng, “Tidak. Di dalam lumpur”

“Kalian yakin bahwa anak ini berbuat jahat?”

Tidak seorang pun yang menjawabnya.

“Kalian yakin bahwa anak ini akan berbuat jahat terhadap Arum? Ya? Begitu?”

Masih belum ada seorang pun yang menjawab.

“Bagaimana kalau Arum terpekik karena ia terjatuh, dan kemudian anak ini justru menolongnya dari lumpur?”

Orang-orang itu masih terdiam.

“Atau, apabila kalian yakin bahwa anak ini bersalah, aku pun tidak berkeberatan anak ini dihukum. Apalagi kalau ia langsung akan berbuat jahat kepada Arum itu sendiri” anak muda itu terdiam sejenak sambil memandang berkeliling, lalu selangkah ia bergeser mendekati orang yang tinggi, “Kau juga yakin ia bersalah?”

Orang tinggi itu menundukkan kepalanya, sementara Juwiring bergeser lagi. Seorang demi seorang didekatinya dan dengan nada datar bertanya kepadanya, apakah anak itu memang bersalah. Tetapi setiap kepala tertunduk karenanya.

“Baiklah. Kalian tidak ada yang menjawab dengan tegas, tetapi karena kalian telah bertindak, maka kalian pun pasti sudah meyakini kesalahannya. Karena itu, aku pun akan ikut serta memutuskan bahwa anak ini bersalah, karena ia telah berbuat jahat kepada Arum” Juwiring berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia melangkah mendekati seseorang yang berdiri di paling belakang. Tanpa berkata apapun juga, orang itu diputarnya. Kemudian diambilnya sebuah sabit yang terselip di punggungnya.

Semua mata memandang Juwiring dengan tegangnya. Apalagi ketika setapak demi setapak ia maju mendekati Buntal yang masih pingsan.

“Agaknya kalian telah berkeputusan untuk membunuhnya. Sekarang, biarlah aku yang melakukannya. Kalau kalian yakin anak ini bersalah, aku pun yakin pula, sehingga pantaslah apabila ia dihukum mati”

Sekali lagi Juwiring memandang berkeliling. Karena tidak seorang pun yang menyahut, maka ia pun melangkah maju. Dengan kaki renggang ia berdiri di sisi Buntal yang terbaring di tanah.

Setelah memandang wajah anak yang pingsan itu sejenak, maka katanya, “Aku akan membunuhnya. Aku akan membelah perutnya karena ia sudah berbuat jahat”

Tetapi ketika Juwiring berjongkok di samping tubuh Buntal yang pingsan, tiba-tiba seorang yang berkumis keputih-putihan berkata terbata-bata, “Tetapi, tetapi kami belum yakin bahwa ia memang bersalah”

Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang yang berkumis putih itu. Bahkan kemudian anak muda itu pun berdiri dan melangkah mendekatinya, “Kau paman Dipa. Sepengetahu-anku, membunuh tikus pun kau tidak mau. Tetapi agaknya kau ikut serta menyakiti anak ini?”

Orang berkumis putih dan bernama Dipa itu terdiam. Sekali ia menelan ludahnya. Namun tidak sepatah kata lagi yang meluncur dari mulutnya.

“Jadi bagaimana?” Juwiring bertanya.

Karena tidak ada yang menjawab, Juwiring menepuk pundak seseorang, “Apakah sebaiknya aku membunuhnya?”

Orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia berkala gemetar, “Tidak. Tidak. Aku pun tidak meyakini kesalahannya”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang seorang yang berwajah pucat, tanpa ditanya apapun orang itu berkata, “Ya. Kami belum pasti, bahwa ia pantas dihukum, apalagi dibunuh”

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi ia memandang setiap wajah, maka setiap wajah itu pun menjadi semakin tunduk ke tanah.

“Nah, ternyata kalian telah melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Setelah anak ini pingsan, dan bahkan hampir mati, barulah kalian menyadari, bahwa kalian tidak berbuat atas dasar keyakinan. Seorang diantara kalian berteriak bahwa anak ini bersalah, maka kalian tidak sempat lagi berpikir. Seperti kehilangan diri, kalian berebutan menjatuhkan hukuman atas anak ini. Dipa, Naya, Angga yang aku kenal sebagai orang-orang yang ramah dan baik hati, di dalam keadaan tanpa sadar, telah melakukan perbuatan ini”

Kepala-kepala itu pun menjadi semakin tunduk lagi. Kalau saja mungkin, mereka akan berlari dan menyembunyikan wajah-wajah yang serasa menjadi panas.

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekati Buntal. Dan Buntal agaknya masih juga pingsan.

“Panggil Kiai Danatirta itu” berkata Juwiring kemudian.

Dipa yang paling gemetar, segera berdiri dan berjalan tertatih-tatih di pematang, pergi ke tempat Kiai Danatirta menunggui anaknya Arum.

“Kiai, Raden Juwiring memanggil Kiai”

“O, baiklah. Duduklah disini Arum”

“Aku ikut ayah”

“Kau masih terlampau lemah”

“Tidak. Aku sudah baik”

Kiai Danatirta memandang anaknya sejenak. Namun kemudian katanya, “Marilah”

Kiai Danatirta pun kemudian membimbing anaknya di sepanjang pematang pergi mendapatkan Juwiring yang masih berdiri ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang kebingungan itu.

“Kiai” berkata Juwiring kemudian, “anak ini pingsan”

“O” Arum lah yang menyahut, “Kenapa? Kenapa ia pingsan, Raden?”

“Bertanyalah kepada orang-orang ini”

Arum memandang orang-orang yang berdiri membeku itu. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju bersama ayahnya, Kiai Danatirta, mendekati Buntal yang pingsan.

“Ayah” Arum hampir memekik, “wajahnya merah biru”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Apakah anak ini pantas mendapat hukuman yang begini berat?”

“Ia tidak bersalah” berkata Arum kemudian.

Dan ternyata kata-kata Arum itu bagaikan menyengat setiap hati yang membeku di sekitar Buntal yang pingsan itu.

“Ambillah air” desis Kiai Danatirta.

Seseorang pun kemudian mengambil air dengan sehelai daun yang disobeknya pada sebatang pohon pisang yang tumbuh di pinggir parit.

Setitik demi setitik, Kiai Danatirta meneteskan air di mulut Buntal. Sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang lain, Kiai Danatirta berusaha membangunkan Buntal yang pingsan itu.

Sejenak kemudian terdengar anak itu merintih. Semakin lama semakin keras. Bahkan kemudian terdengar ia mengaduh.

“Ia telah sadar” desis Kiai Danatirta.

Juwiring pun kemudian berjongkok pula di sampingnya. Ditatapnya wajah yang biru pengab itu dengan dada yang berdebar-debar. Juwiring menyadari, betapa sakitnya wajah itu, dan bahkan seluruh tubuhnya.

“Terlalu” Juwiring berdesis, “mudah-mudahan anak ini berjiwa besar”

Ketika sebuah pedati lewat di jalan persawahan itu, maka Juwiring pun segera menghentikannya. Dengan sangat ia minta agar pemiliknya bersedia menolong membawa Buntal ke rumah. Ke rumah Kiai Danatirta.

Ternyata pemilik pedati itu tidak berkeberatan. Dengan senang hati ia memenuhi permintaan Juwiring dan Kiai Danatirta itu.

Perlahan-lahan tubuh Buntal itu diangkat dan dibaringkan di dalam pedati. Setiap kali terdengar ia mengaduh. Namun matanya masih terpejam, dan kesadarannya masih belum pulih sama sekali.

Ketika Buntal perlahan-lahan membuka matanya, tampaklah atap rumah yang samar-samar. Semakin lama menjadi semakin jelas. Kemudian dilihatnya wajah-wajah yang cemas di sisinya. Wajah yang belum pernah dilihatnya.

Namun ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya, terasa seakan-akan seluruh tulang belulangnya berpatahan. Alangkah sakitnya, sehingga tanpa sesadarnya ia pun mengaduh tertahan-tahan.

“Jangan bergerak dahulu. Tubuhmu masih terlampau lemah. Bahkan mungkin terlampau sakit.”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih harus selalu menyeringai apabila rasa sakit mulai menusuk kulitnya.

“Apakah kau haus?”

Buntal memandang orang yang bertanya kepadanya. Seorang yang sudah memanjat ke pertengahan abad. Sedang seorang lagi adalah seorang anak muda yang sebaya dengan dirinya. Seandainya ada selisih umur, maka selisih itu tidak lebih dari satu atau dua tahun.

“Dimanakah aku ini?” desis Buntal hampir tidak terdengar.

“Kau berada di rumahku, di rumah Kiai Danatirta. Dan anak muda ini adalah Raden Juwiring”

Buntal menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia mencoba mengurangi perasaan sakit yang menusuk-nusuk.

“Tenangkan hatimu” berkata Juwiring, “Kau akan dirawat dengan baik disini”

Buntal memandang Juwiring dengan heran. Tetapi ia tidak segera bertanya apapun juga.

Namun sejenak kemudian Buntal terkejut ketika ia melihat seorang gadis yang memasuki bilik itu sambil membawa sebuah belanga kecil. Gadis itulah yang dilihatnya memanjat tangga gubug dan kemudian jatuh ke dalam lumpur.

Karena itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Dipandanginya gadis itu seperti memandang hantu. Bahkan kemudian terloncat kata-katanya

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa terhadapnya”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lembut, ““Ya. kau memang tidak berbuat apa-apa”

Buntal heran mendengar jawaban itu. Karena itu ia pun justru terdiam sejenak.

“Arum” berkata Kiai Danatirta, “letakkan belanga itu disini”

Gadis itu pun kemudian meletakkan belanga kecil itu di lantai di dekat pembaringan Buntal. Sejenak ia memandang anak yang terbaring kesakitan itu dengan pandangan iba. Bahkan tanpa sesadarnya ia bertanya, “Kau sakit?”

Buntal menjadi bingung, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu, sehingga karena itu, ia terdiam membeku.

Arum yang berdiri termangu-mangu itu pun kemudian menundukkan wajahnya. Sebelum ia mendengar jawaban Buntal, ia telah pergi meninggalkan bilik itu.

“Ia adalah anakku” berkata Kiai Danatirta.

“O” Buntal menjadi bertambah cemas, “Tetapi aku tidak berniat berbuat apa-apa”

“Ya, ya. Aku percaya kepadamu. Kau tidak berbuat apa-apa. Anakku, Arum, juga berkata bahwa kau tidak berbuat apa-apa”

“O” Buntal mengerutkan keningnya.

“Siapa namamu?” bertanya Juwiring kemudian.

Buntal memandang anak muda itu sejenak, lalu jawabnya, “Buntal. Namaku Buntal”

“Buntal” ulang Juwiring, “dimana rumahmu?”

Buntal menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak mempunyai rumah. Aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi”

“Yatim piatu?”

“Ya”

“Tetapi kenapa kau berada di gubug itu. sehingga Arum terkejut karenanya?”

“Aku berjalan menuruti langkah kakiku. Ketika aku kemalaman, aku bermalam di gubug itu”

Kiai Danatirta yang ikut mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang mempunyai pandangan yang luas tentang hidup dan kehidupan, ia melihat kejujuran di wajah Buntal. Karena itu maka ia sama sekali tidak berprasangka apapun kepada anak yang kesakitan itu.

“Aku akan mencoba mengobati badanmu yang merah biru” berkata Kiai Danatirta.

Buntal memandangnya dengan penuh keheranan. Ia melihat wajah kedua orang yang menungguinya itu bagaikan titik-titik embun di hatinya yang gersang.

“Bergeserlah sedikit menepi” berkata orang tua itu kemudian.

Buntal mencoba bergeser sedikit. Tetapi terasa seluruh tubuhnya menjadi sakit, seolah-olah tulang-tulangnya telah menusuk-nusuk kulit dan dagingnya. Namun ditahankannya perasaan itu sekuat-kuatnya. Meskipun ia menyeringai, tetapi ia kini tidak mengeluh lagi.

“Tolong anak mas” berkata Danatirta kepada Juwiring, “peganglah belanga ini”

Juwiring pun kemudian memegang belanga yang berisi cairan yang berwarna coklat kehitam-hitaman, sementara Kiai Danatirta mulai mengendorkan seluruh pakaian Buntal.

Dengan lembut Kiai Danatirta mulai mengusap seluruh bagian badan Buntal dengan cairan itu. Cairan yang terasa hangat di tubuh yang biru pengab.

“Dengan demikian tubuhmu tidak akan membengkak Buntal” desis Kiai Danatirta.

Buntal tidak menyahut. Namun tiba-tiba terasa getaran-getaran yang aneh mengusik hatinya. Sentuhan tangan yang lembut itu telah menumbuhkan sebuah kenangan di hati Buntal. Kenangan kepada ayah dan ibunya yang telah mendahuluinya. Ia masih teringat semasa kanak-kanak, apabila ia terjatuh dan terkilir, ibunya selalu mengusapnya dengan pipisan beras kencur. Di sore hari setelah mandi, menjelang tidur. Meskipun ayah dan ibunya orang yang miskin, tetapi mereka berusaha sejauh-jauh dapat mereka lakukan, untuk membuat Buntal menjadi seorang anak yang baik. Yang memeliharanya dengan penuh kasih sayang.

Dari ucapan tangan Kiai Danatirta itu ternyata telah mengungkat kenangan itu. Terbayang kembali di rongga matanya, ibunya duduk di bibir pembaringannya, sedang ayahnya berjalan mondar mandir dengan tangan bersilang di dadanya, apabila ia menjadi sakit. Bahkan kadang-kadang ia melihat titik air mata di sudut mata ibunya yang redup.

Tiba-tiba perasaan haru yang sangat melonjak di dasar hatinya. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun setitik air mata telah mengembun di pelupuknya, bahkan kemudian mengalir di pipinya yang pengap.

Juwiring melihat air mata yang meleleh itu. Sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya, “Apakah tubuhnya justru menjadi sakit sekali?”

Pertanyaan itu mengejutkan Buntal. Dengan sisa tenaganya ia mengangkat tangannya dan mengusap matanya.

“Tidak” jawabnya, “tubuhku merasa semakin baik”

“Tetapi kenapa kau justru menangis? Selagi kau dipukuli dan pingsan di pinggir jalan, aku tidak melihat matamu menjadi basah. Tetapi kini justru kau mulai menitikkan air mata”

Buntal mencoba menggelengkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan, “Tidak. Aku tidak menangis”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bertanya lagi meskipun ia merasakan sesuatu yang menyentuh perasaan anak itu, meskipun anak itu tidak mau mengatakannya.

Apalagi ketika Kemudian Kiai Danatirta berkata, “Sudahlah Buntal. Tenangkan hatimu. Cobalah untuk tidur agar tubuhmu menjadi segar” Namun tiba-tiba, “Apakah kau sudah makan?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengetuk hati Buntal, sehingga betapa ia bertahan, tetapi titik air matanya menjadi semakin deras mengalir di pipinya.

Kiai Danatirta ternyata mampu membaca perasaan anak itu, sehingga ia berkata kepada Juwiring, “Tungguilah anak ini anak mas. Aku akan pergi ke belakang sebentar”

Juwiring menganggukkan kepalanya. Namun ia mengerti juga apa yang akan dilakukan oleh Kiai Danatirta. Agaknya anak ini memang belum makan.

Sejenak kemudian seorang gadis masuk, ke dalam bilik itu. Tampaknya ia sudah menjadi sehat benar, seolah-olah tidak ada lagi bekasnya, bahwa ia baru saja terjatuh dan pingsan karenanya.

“Minuman hangat” desisnya sambil meletakkan sebuah mangkuk berisi air jahe yang panas dengan segumpal gula kelapa diatas sebuah nampan kayu. Sejenak ia berdiri memandang wajah Buntal yang biru pengab. Sepercik penyesalan membayang di wajah Arum.

“Kalau aku tidak berteriak” katanya di dalam hati, “orang-orang itu tidak akan berbuat apa-apa atasnya” namun lalu, “Tetapi aku sama sekali tidak sengaja. Aku terkejut sekali”

Tetapi Arum tidak mengucapkan kata-kata lagi. Ia pun melangkah keluar dari bilik itu. Seorang pembantu telah menyediakan makan nasi hangat buat Buntal setelah Kiai Danatirta memberitahukan bahwa anak itu perlu makan. Dan Arum lah yang membawa makanan itu masuk ke biliknya.

“Makanlah” berkata Juwiring selelah makanan itu tersedia. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia bertahan sekuat-kuatnya agar perasaannya tidak meledak. Diusapnya air matanya yang membasah.

“Makanlah” ulang Juwiring, “Aku kira kau belum makan”

Buntal mengangguk-angguk perlahan.

“O” desis Juwiring, “Kau belum dapat bangkit sendiri? Marilah, aku tolong kau bangun”

Juwiring pun kemudian menolong Buntal untuk bangkit dan duduk di pembaringan. Tubuhnya yang sudah dilumuri dengan param oleh Kiai Danatirta kini merasa agak menjadi segar.

“Makanlah” sekali lagi Juwiring mempersilahkan.

Buntal merasa agak malu juga. Tetapi tiba-tiba terasa perutnya yang lapar meronta, justru ketika hidungnya mulai disentuh, oleh asap nasi hangat dan sepotong ikan air kering.

Buntal menelan ludahnya. Ia bukan saja belum makan pagi ini, tetapi kemarin sehari penuh ia juga belum makan.

Juwiring bergeser maju. Sambil tersenyum ia bertanya, “Kau dapat makan sendiri?”

“Ya, ya. Aku dapat makan sendiri” jawab Buntal terbata-bata.

“Tanganmu tidak sakit?”

Buntal menggerakkan tangannya. Sebenarnya lengannya juga merasa sakit. Tetapi ia menggeleng, “Tidak. Lenganku tidak sakit”

“Kalau begitu makanlah sendiri”

Buntal merasa agak malu-malu juga. Seandainya perutnya tidak terasa sangat lapar, ia akan berkeberatan makan sendiri di pembaringan, seperti seseorang yang kecukupan dan dilayani oleh pembantu-pembantunya.

Tetapi karena perutnya yang mendesak, akhirnya disenduknya juga nasi dari ceting bambu dengan entong tempurung. Dengan sayur dedaunan yang hijau dan sepotong ikan kering, maka ia mulai menyuapi mulutnya yang sakit.

Alangkah nikmatnya. Jarang sekali ia sempat makan nasi hangat dengan sepotong ikan air, meskipun ia dapat mencarinya sendiri di sungai. Apalagi apabila perutnya sedang sangat lapar seperti saat itu, setelah meneguk air jahe dengan gula kelapa.

“Tetapi harganya terlampau mahal” katanya di dalam hati, “wajahku harus menjadi biru pengab dan seluruh tubuhku terasa sakit. Untunglah bahwa aku belum mati diinjak-injak”

Demikianlah setelah makan dan minum, tubuh Buntal terasa menjadi semakin segar. Kini ia tinggal berjuang melawan rasa sakit. Tidak lagi melawan rasa lapar pula.

Bahkan sejenak kemudian tanpa disadari, Buntal berbaring sambil memejamkan matanya. Lambat laun semuanya tidak dapat diingatnya lagi. Tetapi kini ia tidak pingsan.

Ketika Buntal telah tertidur nyenyak maka Juwiring pun meninggalkannya sendiri di dalam bilik itu. Sekali Arum menengoknya juga dari ambang pintu, namun kemudian ia pun melangkah pergi sambil menutup pintu itu.....

Demikianlah, maka semua yang telah terjadi itu, menjadi sebab, bahwa Buntal untuk seterusnya diminta tinggal di rumah Kiai Danatirta. Sebuah padepokan kecil di sebuah padukuhan yang subur. Padepokan yang dinamainya Padepokan Jati Aking didekat padukuhan Jatisari.

“Bukankah kau tidak mempunyai orang tua lagi?” bertanya Kiai Danatirta setelah Buntal dapat berjalan-jalan lagi meskipun kekuatannya belum pulih kembali.

“Ya Kiai. Aku sudah yatim piatu”

“Jika demikian, kau tidak akan menolak seandainya aku minta kau tinggal untuk seterusnya di padepokan ini”

Terasa sesuatu melonjak di hati Buntal. Ia tidak menyangka bahwa ia akan terdampar pada suatu tempat yang terlampau baik buat dirinya, meskipun ia sadar, bahwa untuk seterusnya ia tidak akan diperlakukan seperti pada saat-saat ia masih belum dapat bangkit dan berjalan sendiri. Namun apapun yang akan dilakukan, tinggal di padepokan yang bersih dan sejuk ini pasti akan sangat menyenangkan.

“Aku sudah biasa bekerja keras. Seandainya aku disini harus bekerja keras, maka aku tidak akan berkeberatan. Tetapi padepokan ini rasa-rasanya memiliki kesejukan yang tenang” Buntal bergumam di dalam hatinya.

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

Buntal menundukkan kepalanya. Namun terdengar ia menjawab lirih, “Aku senang sekali Kiai, apabila aku diperkenankan tinggal disini. Aku memang tidak mempunyai lagi tempat untuk menompangkan diri”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Jadi, kemanakah sebenarnya tujuanmu ketika kau bermalam di gubug itu sehingga kau mengalami nasib kurang baik?”

“Aku memang tidak mempunyai tujuan Kiai. Aku berjalan saja menurut langkah kakiku”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula. Kemudian dimintanya Buntal berceritera tentang dirinya.

Dengan singkat Buntal mengisahkan riwayatnya. Tetapi ia masih tetap melampaui nama-nama paman dan bibinya. Ia tidak ingin menyangkutkan kedua orang itu bersama anak-anaknya pada persoalan apapun juga agar mereka tidak semakin terlibat dalam kesulitan.

“Jadi ayah dan ibumu menjadi abdi Katumenggungan?”

“Ya Kiai, Tumenggung Gagak Barong”

“Tumenggung Gagak Barong. Aku pernah mengenal nama itu. Tetapi apakah ia sekarang berhubungan dengan orang-orang asing yang mulai banyak berkeliaran di Surakarta?”

Buntal mengangguk lemah.

Kiai Danatirta memandang Buntal dengan tatapan mata iba. Seandainya anak itu tidak mendapatkan tempat yang baik, maka hari depannya pasti akan menjadi sangat suram. Banyak sekali didengarnya ceritera tentang anak-anak yang tersesat masuk ke dalam lingkungan orang-orang jahat. Anak yang sebenarnya mempunyai bekal yang baik jasmaniah dan rohaniah, namun karena ia berada di lingkungan yang hitam, akhirnya hati mereka pun menjadi hitam pula.

Dan kini, selain para penjahat yang berhati kelam, maka Surakarta menghadapi persoalan baru. Persoalan orang-orang yang berhati hitam tetapi berkulit putih. Orang-orang yang bukan saja membentuk kelompok-kelompok kecil yang merampok orang-orang kaya, tetapi orang berhati hitam dan berkulit putih itu telah membentuk suatu kelompok raksasa yang merampok bukan saja orang-orang kaya, tetapi juga orang-orang miskin.

“Buntal” berkata Kiai Danatirta kemudian, “Kalau kau memang tidak berkeberatan, baiklah. Tetapi kau harus menyesuaikan dirimu dengan keadaan disini. Setiap orang di padepokan ini harus bekerja sesuai dengan tugas masing-masing. Semua harus bekerja keras. Hanya dengan bekerja keras kita dapat mencukupi kebutuhan kita”

“Ya Kiai. Aku akan berusaha bekerja apa saja yang harus aku kerjakan”

“Bagus. Kalau kau memang sudah berbekal tekad di hatimu, maka kau pasti akan dapat melakukannya. Kau akan menjadi kawan Raden Juwiring”

Buntal mengangguk-angguk kecil. Sejak ia melihat untuk pertama kalinya, ia agak tertarik pada bentuk dan ujud jasmaniah Raden Juwiring yang agak berbeda dengan ujud anak-anak padesan. Tetapi ia tidak berani menanyakannya hal itu kepada Kiai Danatirta.

Tetapi agaknya orang tua itu mengerti pertanyaan yang tersimpan di hati Buntal, sehingga ia pun kemudian berkata, “Buntal, Raden Juwiring tidak berasal dari padepokan ini atau padukuhan di sekitar padepokan ini. Ia berasal dari kota, dan bahkan ia adalah anak seorang bangsawan.

“Bangsawan?” bertanya Buntal. Tiba-tiba saja wajahnya menegang, sehingga Kiai Danatirta melihat perubahan itu dengan jelas. Karena itu Kiai Danatirta melihat pula sesuatu yang tersirat di dalam hati Buntal.

“Apakah kesanmu tentang seorang bangsawan, Buntal?”

Buntal menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Coba katakan, apa kesanmu tentang seorang bangsawan. Katakan seperti yang sebenarnya tersimpan di dalam hatimu. Raden Juwiring tidak duduk bersama kita sekarang, dan aku tidak akan mengatakan apapun kepadanya, apakah kesanmu baik atau buruk”

Buntal masih menundukkan kepalanya.

“Katakan Kau pasti sudah mengenal Tumenggung Gagak Barong. Kau pasti mengenal keluarganya dan kalau ada, anak-anaknya. Apakah kau mempunyai kesan khusus atau kau menganggapnya bahwa seorang bangsawan tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan?”

Buntal masih juga ragu-ragu. Tetapi Kiai Danatirta berkata lebih lanjut, “Wajahmu menunjukkan kesan yang lain, Buntal”

Buntal tidak dapat ingkar lagi. Karena itu maka jawabnya, “Ya Kiai. Aku memang terpengaruh sekali oleh keadaanku selagi aku masih tinggal di Tumenggungan. Pada umumnya seorang bangsawan adalah orang yang keras hati dan menganggap kami, orang-orang kebanyakan, sama sekali tidak berarti di dalam tata kehidupan. Mereka dapat berbuat apa saja atas kami. Dan mereka selalu menganggap kami bersalah”

Kiai Danatirta mengangguk. Buntal berusaha untuk mengatakannya dengan hati-hati sekali.

“Jadi, apakah kau diperlakukan seperti itu di Katumeng-gungan, Buntal?”

Buntal menganggukkan kepalanya.

“Juga ayahmu?”

Sekali lagi Buntal mengangguk. Namun diantara nafasnya yang memburu ia berkata terbata-bata, “Terlebih-lebih di saat terakhir”

“Dan kau diusirnya?”

“Ya Kiai”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditepuknya bahu Buntal yang menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Memang Buntal. Ada bangsawan yang bersikap demikian. Yang merasa dirinya lebih tinggi derajadnya dari kebanyakan orang. Mereka merasa diri mereka keturunan raja-raja yang berkuasa” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu, “Tetapi seperti manusia kebanyakan, dimanapun juga dan di dalam lingkungan apapun juga, ada beberapa perkecualian. Diantaranya adalah Juwiring. Raden Juwiring”

Buntal mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itu pun kemudian tertunduk kembali.

“Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang baik. Buntal, meskipun ia lahir dari tetesan darah seorang bangsawan. Dan demikianlah agaknya, bahwa kita dilahirkan dalam lingkungan yang berbeda, tetapi tiada berbeda. Sifat-sifat yang kemudian melekat pada diri kita masing-masing itulah yang membuat kita menemukan bentuk pribadi kita. Dan sifat-sifat itu dipengaruhi oleh, banyak hal diluar diri kita sendiri, dikehendaki atau tidak dikehendaki”

Buntal mengerutkan keningnya. Dengan susah payah ia mencoba menangkap maksud Kiai Danatirta. Namun perlahan-lahan ia melihat juga, meskipun samar-samar, maksud dari kata-kata itu.

“Karena itu Buntal” berkata Kiai Danatirta selanjutnya, “Cobalah untuk mengenal Juwiring sebaik-baiknya tanpa prasangka”

Buntal menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Maaf Kiai. Mungkin aku terdorong perasaan dan mempunyai penilaian yang salah terhadap seseorang. Tetapi aku baru saja mengetahui bahwa Raden Juwiring adalah seorang bangsawan”

“Dan kau sudah mempunyai bekal anggapan tentang seorang bangsawan, meskipun ia bukan Juwiring. Anggapan itulah yang harus kau nilai. Mungkin kau tidak hanya melihat Tumenggung Gagak Barong saja. Mungkin kau mendengar dari kawan-kawanmu, mungkin dari orang lain tentang sifat seorang bangsawan. Dan semuanya itu membuat bayangan-bayangan yang kelam di dalam hatimu. Namun cobalah, untuk memandang dengan cara lain atas Raden Juwiring yang kebetulan juga seorang bangsawan”

Sekali lagi Buntal mengangguk-angguk. Jawabnya lirih, “Ya Kiai. Aku akan mencoba untuk memandangnya sebagai Raden Juwiring itu sendiri, tanpa pengaruh prasangka yang sudah membekas di dalam hati”

Kian Danatirta tersenyum. Ternyata Buntal bukan anak yang terlampau dungu meskipun ia hanya anak seorang abdi. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, semua unsur manusiawi dapat ditemuinya di setiap kelahiran, di dalam lingkungan yang berbeda tetapi tidak berbeda itu.

“Kau sudah berpijak pada alas yang benar Buntal. Raden Juwiring hanya kebetulan saja lahir disela-sela lingkungan bangsawan. Kau harus menilainya sebagai unsur badaniah. Tetapi tidak sebagai unsur rohaniah”

Buntal menjadi agak bingung. Namun Kiai Danatirta berkata, “Kenang sajalah kata-kataku. Kalau kau masih belum jelas sekarang, pada suatu saat kau akan dapat menilainya. Dalam pada itu, sikapmu sendiri pun sudah menjadi semakin matang”

“Ya Kiai” sahut Buntal. Kepalanya masih tertunduk dan seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebagian dari persoalan itu baru dapat diingatnya saja di dalam kepalanya. Tetapi ia masih belum dapat memecahkannya.

“Nah, sejak sekarang kau dapat berbuat sesuatu sebagai seorang kawan yang paling dekat dengan Raden Juwiring, karena di padepokan ini tidak ada orang lain kecuali kalian berdua, anakku Arum, dan beberapa orang pembantu yang agaknya dunianya sudah tidak sesuai lagi dengan Raden Juwiring, karena mereka pada umumnya sudah berumur jauh lebih tua”

Buntal menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Terima kasih atas kesempatan ini Kiai”

“Cobalah menyesuaikan diri, hidup dipadepokan kecil yang sepi ini”

Tetapi suasana di padepokan kecil itu ternyata sangat menarik bagi Buntal. Ia merasa jemu hidup di dalam kebisingan rumah Tumenggung Gagak Barong. Derap kuda dan kereta yang hilir mudik. Bentakan-bentakan yang keras dan menyakitkan hati. Kesibukan yang tidak pernah selesai, di dapur, di halaman dan dimana saja. Sejak matahari terbit sampai matahari terbenam setiap orang harus berbuat sesuatu dalam hiruk pikuk yang menjemukan. Menggosok tiang-tiang pendapa yang berukir dan bersungging halus, membersihkan lantai yang sudah bersih. Menjatuhkan diri dan duduk bersila dimanapun juga mereka berpapasan dengan Raden Tumenggung. Dan segala macam pekerjaan yang gelisah.

Berbeda dengan keadaan di padepokan ini. Bukan berarti bahwa setiap orang di padepokan ini hanya sekedar bermalas-malasan. Tetapi kerja yang dilakukan justru membawa ketenteraman di hati. Bekerja di antara dedaunan yang hijau segar. Di dalam silirnya angin dan desir ranting-ranting yang bergerak lembut. Di kejauhan terdengar suara tembang yang ngelangut dibarengi dengan suara seruling gembala di rerumputan.

Demikianlah maka Buntal merasa kerasan tinggal di padepokan itu. Dari hari ke hari ia mulai mengenal Juwiring lebih dalam. Selain itu juga Arum. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, sebenarnyalah bahwa Juwiring mempunyai sifat dan ciri-ciri yang berbeda dari kebanyakan bangsawan yang pernah dikenalnya.

Raden Juwiring ternyata tidak memandang orang lain jauh lebih rendah dari dirinya. Ia menganggap setiap orang saudaranya.

Sedangkan Arum adalah seorang gadis yang berhati lembut. Kadang-kadang masih terucapkan olehnya, penyesalan yang dalam, justru karena ia berteriak di saat-saat mereka bertemu untuk pertama kali.

“Kau tidak sengaja mencelakakan aku” berkata Buntal.

“Aku hanya terkejut sekali waktu itu. Aku tidak menyangka bahwa ada orang lain diatas gubug sepagi itu”

Buntal tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata, “Jika tidak demikian, maka aku tidak akan mendapat kesempatan tinggal di padepokan ini”

Arum pun tersenyum pula. Katanya, “Alangkah senangnya kalau kau datang ke rumah ini tanpa biru pengap seperti itu”

“Alangkah senangnya. Tetapi itulah yang terjadi”

Keduanya tertawa. Tawa yang segar di padepokan yang tenteram.

Namun demikian ada sebuah teka-teki bagi Buntal yang masih belum terjawab. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada siapapun karena keseganannya.

“Kenapa Raden Juwiring itu berada di padepokan ini?” Tetapi Buntal selalu menggelengkan kepalanya sambil bergumam kepada diri sendiri, “Ah, itu bukan persoalanku. Ia sudah berada disini. Dan ia bersikap baik kepadaku”

Dengan demikian maka anak muda yang berada di padepokan itu berhasil menyesuaikan diri mereka masing-masing. Bukan saja Buntal dan Juwiring yang sedikit lebih tua daripadanya, tetapi juga Arum.

Tetapi ternyata bahwa mereka tidak saja harus bekerja keras di sawah dan ladang setiap hari. Ada sesuatu yang baru bagi Buntal. Di padepokan itu Raden Juwiring tidak saja hidup sederhana seperti kehidupan orang kebanyakan, tetapi ia juga mempelajari sesuatu dari Kiai Danatirta.

Mula-mula Buntal hanya diperkenankan menyaksikan. Di tempat yang tertutup Raden Juwiring mempelajari ilmu olah kanuragan. Ilmu ketangkasan badaniah dan tata bela diri.

“Menarik sekali” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada siapapun. Namun setiap kesempatan yang didapatnya untuk menyaksikan latihan-latihan olah kanuragan. Buntal merasa beruntung sekali.

Agaknya Kiai Danatirta melihat minat yang begitu besar tersirat di wajah Buntal yang sengaja diperkenankannya melihat latihan-latihan itu. Bahkan, pada suatu saat, tanpa disadari oleh Buntal, Kiai Danatirta melihat anak itu menirukan gerak-gerak yang dilihatnya pada latihan-latihan Di tempat tertutup itu.

“Buntal” berkata Kiai Danatirta kepada Buntal yang dipanggilnya menghadap, “Apakah kau tidak jemu melihat latihan-latihan bagi Raden Juwiring itu?”

Buntal mengangkat wajahnya. Tampak sesuatu tersirat di wajah itu. Namun kemudian wajah itu tertunduk.

Perlahan-lahan terdengar Buntal menjawab, “Tidak Kiai. Aku senang sekali melihatnya”

“Raden Juwiring telah agak lambat mulai dengan penyadapan ilmu olah kanuragan. Tetapi aku masih berpengharapan, bahwa ia akan segera maju dan menguasai ilmu yang aku berikan kepadanya”

Buntal hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Buntal” suara Kiai Danatirta menjadi dalam, “Apakah kau juga berminat untuk ikut mempelajari ilmu semacam itu?”

Sekali lagi Buntal mengangkat wajahnya. Dari sorot matanya, Kiai Danatirta melihat gejolak di dada anak muda itu.

“Apakah kau juga ingin?” ulang Kiai Danatirta.

“Sebenarnyalah Kiai. Tetapi aku tidak berani mengatakannya”

Kiai Danatirta tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku memang sudah menduga. Dan aku tidak berkeberatan apabila kau tidak saja mengawani Raden Juwiring setiap hari, tetapi juga mengawaninya menyadap ilmu kanuragan itu”

“Terima kasih Kiai. Apabila aku diperkenankan, aku berterima kasih sekali”

Kiai Danatirta menepuk bahu Buntal. Kalanya, “Tetapi olah kanuragan bukan sekedar suatu permainan, Buntal. Bukan seperti permainan jirak, sembunyi-sembunyian di bulan terang. Juga tidak serupa dengan binten dan bantingan di pasir tepian sungai. Meskipun binten dan bantingan juga memerlukan ketangkasan, tetapi itu sekedar permainan. Tidak ada cara lain yang pernah dipergunakan dalam binten selain cara-cara yang sampai sekarang berlaku. Juga bantingan. Siapa yang berada di bawah dalam hitungan tertentu la akan kalah. Tidak boleh menggigit, tidak boleh menggelitik dan menarik rambut”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi ilmu olah kanuragan memerlukan waktu untuk mengerti dan apalagi mendalaminya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu, “Apakah kau dapat mengira-ngirakan, berapa waktu yang kau perlukan untuk mempelajari ilmu itu?”

Buntal tidak menyahut.

“Kau memerlukan waktu bertahun-tahun Buntal. Ya, bertahun-tahun.

Tetapi kau dapat melakukannya bertahap. Setapak demi setapak. Dan setiap langkah, merupakan kebulatan-kebulatan tertentu” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu, “Apakah kau sanggup?”

Buntal memandang Kiai Danatirta sejenak, lalu, “Ya Kiai. Aku sanggup”

“Apakah kau sudah berpikir baik-baik”

“Sudah Kiai”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa sebenarnya Buntal memang ingin sekali melakukannya. Tetapi seperti yang dikatakan, ia tidak berani mengemukakannya kepada siapapun.

“Kalau begitu baiklah. Aku memberi kesempatan kepadamu untuk berlatih olah kanuragan. Tetapi kau harus bersungguh-sungguh. Di dalam tiga bulan, aku akan melihat kemajuanmu. Kalau kau tidak berhasil mencapai taraf yang sewajarnya, maka sayang sekali, kau tidak akan dapat meneruskannya”

Buntal memandang Kiai Danatirta sejenak. Kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Namun demikian terbayang di wajahnya, tekad yang mantap untuk ikut serta berlatih diri, menyadap ilmu olah kanuragan itu.

“Kau masih belum jauh ketinggalan dari Raden Juwiring” berkata Kiai Danatirta selanjutnya, “Aku akan mencoba menyesuaikan ilmu yang bersama-sama akan kalian pelajari”

“Ya Kiai” jawab Buntal. Terasa sesuatu melonjak di dadanya. Ia sama sekali tidak bermimpi bahwa ia akan mendapat kesempatan yang baik itu.

“Tetapi Buntal. Ada beberapa pantangan dan kewajiban yang harus kau lakukan dengan tertib, apabila kau mulai mempelajari ilmu olah kanuragan” berkata Kiai Danatirta selanjutnya, “Apakah kau akan bersedia melakukannya”

Buntal menganggukkan kepalanya.

“Buntal. Kalau sekali kau mencecap ilmu dari padepokan ini maka untuk seterusnya kau tidak akan pernah dapat melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban dan pantangan-pantangan itu. Seumur hidupmu. Kau mengerti arti dari tanggung jawab itu?”

Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti Kiai”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Tetapi seandainya kau gagal setelah tiga bulan, namun pantangan dan kuwajiban itu masih akan tetap berlaku bagimu sepanjang hidupmu, kecuali apabila kemudian kau berniat melepaskan diri dari keluarga kami untuk seterusnya pula, serta menanggung segala akibatnya”

Buntal masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dengarlah baik-baik” berkata Kiai Danatirta kemudian, “pantangan lahiriah yang dapat aku beritahukan sebagai salah satu contoh adalah, kau harus merahasiakan bahwa di padepokan ini telah dilakukan penurunan ilmu olah kanuragan, sehingga dengan demikian kau tidak boleh menunjukkan kemampuanmu dimanapun juga apabila kau tidak terpaksa sekali. Dan kau harus menghindarkan kesan, bahwa ilmu yang kau miliki itu kau dapat dari padepokan ini”

Buntal menganggukkan kepala.

“Kemudian, sebenarnyalah bahwa semua kemungkinan itu sumbernya adalah Tunggal. Kau harus berjanji, bahwa ilmu yang kau dapat itu, sejauh-jauh mungkin kau pergunakan sepanjang jalan yang dikehendaki Yang Tunggal itu?”

Buntal termangu-mangu sejenak.

“Maksudku, bahwa dengan ilmu itu kelak, kau harus berusaha berjalan dalam kebenaran”

“O” Buntal mengangguk-angguk, “Ayahku dahulu juga berkata begitu. Aku harus pasrah diri kepada Tuhan”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya, “Jadi ayahmu juga berkata begitu?”

“Ya Kiai”

Kiai Danatirta pun mengangguk. Ternyata meskipun ayah Buntal sekedar seorang pelayan, tetapi ia memperhatikan sekali kepada anaknya, bukan saja hidup jasmaniahnya, tetapi juga hidup rohaniahnya. Tentu saja sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya.

Demikianlah, maka kesempatan yang diberikan kepada Buntal itu sangat menggembirakan Raden Juwiring. Mempelajari olah kanuragan seorang diri, terasa kurang menggairahkan. Tetapi berdua, agaknya suasananya akan menjadi lebih hidup. Keduanya dapat saling mengisi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri masing-masing. Sedangkan Kiai Danatirta sendiri akan mendapat bahan pertimbangan dari perkembangan kedua murid-muridnya itu.

Namun demikian, tidak seorang pun yang mengetahui bahwa di padepokan kecil itu dua orang anak-anak muda sedang menerima ilmu olah kanuragan. Karena tidak seorang pun yang tinggal di padukuhan itu yang mengetahui, bahwa Kiai Danatirta adalah seorang yang mumpuni. Mereka hanya mengenalnya sebagai seorang tua yang baik, yang mempunyai pengetahuan yang luas dan menjadi tempat untuk mendapatkan nasehat dan petunjuk-petunjuk apabila di dalam perjalanan hidup seseorang dijumpai kesulitan. Namun tidak seorang pun yang menyangka, bahwa dibalik wadagnya yang tampaknya lemah, Kiai Danatirta memiliki ilmu yang tinggi dalam olah kanuragan.

Seperti yang dijanjikan kepada diri sendiri, ilmu itu hanya akan diberikan kepada mereka yang sesuai di hatinya. Dan yang sesuai baginya adalah anak-anak muda yang lembah manah. Anak-anak muda yang rendah hati dan jujur. Terlebih-lebih adalah anak-anak muda yang mengenal dirinya sendiri sesuai dengan tempatnya di dalam alam semesta, serta hubungan yang akrab antara alam yang besar dan alam kecil di dalam putaran waktu dan kejadian, dalam ikatan sebab dan akibat, yang berporos pada suatu sumber gerak yang Maha Mengetahui.

Dan pilihan Kiai Danatirta pertama-tama jatuh pada seorang keturunan bangsawan yang sedang berprihatin. Raden Juwiring. Namun kemudian ia melihat sesuatu yang tidak kalah bobotnya yang terdapat di dalam diri anak muda yang sederhana, yang diketemukannya dengan cara yang aneh. Buntal.

Meskipun demikian Kiai Danatirta cukup berhati-hati la tidak segera menuangkan pokok-pokok ilmu yang sebenarnya dari ilmunya. Yang sebenarnya diberikan dalam bulan-bulan pertama sampai ketiga adalah sekedar olah kanuragan yang pada umumnya dikuasai oleh anak-anak muda dan apalagi prajurit-prajurit, yang tidak mempunyai kekhususan sama sekali.

Namun demikian, murid-muridnya itu seakan-akan sudah harus bekerja berat dan berlatih mati-matian. Sehingga dengan demikian Kiai Danatirta dapat menilai, apakah ia akan dapat melanjutkan atau harus diambil keputusan lain.

Kiai Danatirta tidak mau mengulangi kesalahannya lagi. Bagaimanapun juga, sebagai manusia ia pernah khilaf. Orang yang mula-mula dapat menumbuhkan kepercayaannya, ternyata telah menimbulkan banyak kesulitan padanya, sehingga ia harus meninggalkan padepokannya yang lama dan tinggal di padepokannya yang baru ini. Orang yang pertama kali berhasil memasuki perguruannya ternyata bukanlah orang yang diharapkannya.

Kiai Danatirta selalu menghela nafas dalam-dalam apabila ia terkenang masa-masa lampau yang pahit itu.

Tetapi seluruh kesalahan itu tidak dapat aku timpakan padanya desisnya setiap kali, “Anakku juga ikut bersalah”

Dan terbayang kembali hubungan yang sangat akrab antara muridnya itu dengan anak puterinya. Dan saat itu, Kiai Danatirta yang masih mempergunakan nama lain, sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan ia mengharap bahwa muridnya itu kelak akan menjadi pewaris ilmunya, sekaligus menantunya.

Tetapi ternyata harapan itu sama sekali tidak dapat terwujud. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Malapetaka.

Ternyata puterinya sama sekali tidak bermaksud hidup bersama muridnya. Hubungan yang akrab itu adalah sekedar hubungan antara orang serumah. Sejauh-jauhnya hubungan antara kakak beradik. Ternyata puterinya telah menjatuhkan pilihan atas cintanya kepada orang lain. Kepada anak muda yang lain.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa itu selalu mengingatkannya, bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Seorang manusia yang lemah, jasmaniah dan rohaniah.

“Tuhan telah menegur aku dengan cara yang sangat keras, “ keluh Danatirta, “Aku waktu itu memang terlampau bangga atas kelebihanku dari orang-orang kebanyakan. Tetapi Tuhan telah menunjukkan kelemahanku. Kelemahan yang tidak dipunyai oleh orang lain yang aku anggap jauh lebih lemah daripadaku” Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, dan ia melanjutkannya di dalam hati, “ternyata yang lemah itu memiliki kekuatan, dan yang kuat itu memiliki kelemahan. Mungkin aku dapat menunjukkan kelebihanku dalam olah kanuragan, tetapi tidak dalam menuntun anak. Orang yang paling lemah di dalam olah kanuragan dapat menuntun anaknya sampai ke puncak kemampuan untuk sesuatu bidang unsur hidup manusiawi. Tetapi aku tidak”

Orang tua itu mengelus dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ingin menekan gejolak yang meronta-ronta di dalam dadanya itu.

Terbayang kembali betapa anak perempuannya itu menolak segala nasehatnya, dan atas kehendaknya sendiri, ia telah dilarikan oleh laki-laki yang dicintainya.

Namun itu bukan peristiwa yang terakhir. Muridnya yang menjadi panas tanpa setahunya telah mencari kedua anak-anak muda itu. Betapa pahitnya ketika ia kemudian mengetahui bahwa kedua laki-laki muda itu mati sampyuh di dalam satu perkelahian yang jantan. Keduanya mempergunakan keris dengan warangan yang kuat, dan kedua-duanya ternyata telah tergores oleh keris itu, sehingga jiwa mereka tidak tertolong lagi.

Dengan demikian, maka tidak ada yang dapat dilakukan sebagai seorang ayah untuk mengambil anaknya kembali, anaknya yang justru telah mengandung.

Hidup yang pahit itu harus ditanggungkannya. Ketika cucunya lahir, maka ibu yang selalu dibebani oleh perasaan bersalah itu tidak dapat tertahan hidup lebih lama lagi. Anak perempuan Kiai Danatirta yang melahirkan anak perempuan itu pun kemudian meninggal.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Cucunya itulah yang kini bernama Arum. Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui bahwa Arum adalah cucunya. Di tempatnya yang baru itu. Sejak ia membuka padepokan kecil yang dinamainya seperti hatinya yang kering, padepokan Jati Aking, di sebelah padukuhan Jatisari, ia sudah menganggap Arum sebagai pengganti anaknya yang telah hilang dari hatinya itu.

Dengan sepenuh hati Kiai Danatirta mendidik cucunya itu, agar ia dapat menebus kelengahannya selagi ia momong anaknya perempuan, sehingga terjadi peristiwa yang sangar membekas di hatinya.

Namun tiba-tiba Kiai Danatirta itu bagaikan terlonjak di tempat duduknya. Dengan suara gemetar ia berkata kepada diri sendiri, “Sekarang aku telah menyediakan minyak itu didekat api. O, alangkah bodohnya aku ini. Di padepokan ini sekarang ada dua orang anak muda. Aku sendirilah yang menempatkan mereka disini. Di padepokan ini, bersama-sama dengar Arum”

Kesadaran itu ternyata telah mencemaskan hati Kiai Danatirta. Sekali-sekali terbayang wajah Raden Juwiring yang selalu dihiasi dengan senyum yang menawan. Kemudian wajah Buntal yang sederhana tetapi bersungguh-sungguh penuh pengertian atas alas keprihatinan.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Keduanya telah terlanjur berada di padepokannya. Dan keduanya baginya adalah anak muda yang baik.

“Suatu masa pendadaran bagiku” berkata Kiai Danatirta, lalu, “sampai umurku setua ini, aku masih harus menjalani ujian yang berat. Mudah-mudahan kali ini aku dapat mengatasinya. Dan mudah-mudahan kedua anak-anak muda ini mempunyai perhatian yang berbeda dari muridku yang dahulu. Atau tergantung kepadaku, bagaimana caraku mengarahkan hubungan mereka bertiga”

Namun kesadaran itu telah membuat Kiai Danatirta menjadi berhati-hati. Dan ia merasa bersyukur atas kenangan yang selalu membayang, sehingga seakan-akan ia selalu dihadapkan pada sebuah cermin untuk selalu melihat cacat di wajahnya.

Dan setiap kali Kiai Danatirta selalu berkata, bukan saja kepada diri sendiri, tetapi juga kepada murid-muridnya, “Di dalam kekuatan terdapat kelemahan, dan di dalam kelemahan terdapat kekuatan.”

Tetapi pada pekan-pekan pertama ia mulai memberikan latihan kepada muridnya itu, telah timbul suatu persoalan baru bagi Kiai Danatirta. Anaknya, Arum minta kepadanya dengan sepenuh hati, bahkan sambil merengek, agar ia diperkenankan ikut mempelajari olah kanuragan.

“Kau seorang gadis” berkata ayahnya, “Tidak menjadi kebiasaan seorang gadis mempelajari olah kanuragan”

“Tetapi aku ingin sekali ayah. Biarlah orang lain tidak. Kalau ayah mau menurunkan ilmu itu kepada orang lain, kenapa tidak kepadaku? Kepada anaknya, meskipun aku seorang perempuan?”

“Arum. Mempelajari ilmu kanuragan bukanlah sekedar menjadi seorang yang tangguh. Tetapi sesuai dengan wadag seorang Laki-laki, ia pantas pergi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengamalkan ilmunya. Tetapi tidak bagi seorang gadis. Tidak pantas sama sekali, dan bahayanya jauh lebih dahsyat dari seorang laki-laki”

“Apakah seorang laki-laki tidak dapat menjumpai bahaya? Apakah seorang laki-laki tidak akan pernah menjumpai lawan yang melampauinya, tetapi selalu demikian bagi perempuan? Dan perempuan selalu tidak akan dapat melepaskan diri dari bahaya?”

“Bukan begitu Arum. Bahaya yang paling besar bagi seorang laki-laki adalah maut. Tetapi tidak bagi perempuan. Kau mengerti? Masih ada bencana yang lebih dahsyat dari maut, justru karena ia terlepas dari maut itu”

Arum menundukkan kepalanya, ia mengerti maksud ayahnya. Perempuan memang mempunyai kelemahannya sendiri. Mungkin dalam sebuah perjalanan ia bertemu dengan orang yang tidak dapat dikalahkannya. Tetapi orang itu tidak membunuhnya. Dan karena justru ia tidak dibunuh itulah ia akan jatuh ke dalam neraka yang lebih jahat dari mati.

Tetapi tiba-tiba saja Arum mengangkat wajahnya sambil menyahut dengan serta merta, “Aku akan membunuh diri di dalam keadaan yang demikian”

“Arum” suara Kiai Danatirta merendah, “bunuh diri bukannya penyelesaian yang baik. Justru seorang yang bunuh diri akan menjumpai persoalan tanpa selesai, karena persoalannya beralih menjadi persoalan dan pertanggungan jawab kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Jelasnya bunuh diri apapun alasannya adalah perbuatan dosa”

“Baiklah, aku tidak akan membunuh diri. Tetapi aku akan memilih melawan sampai mati seperti laki-laki, apabila kebetulan saja aku mengalami peristiwa yang pahit itu”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Hati anak perempuannya itu memang keras, sekeras hati ibunya. Dengan demikian maka kecemasan mulai merayapi dada orang tua itu. Kalau pada suatu saat anaknya ini tergelincir, maka ia akan mengeraskan hatinya di dalam kesehatannya itu seperti ibunya.

Karena Kiai Danatirta tidak segera menjawab, maka Arum mendesaknya, “Kenapa ayah diam saja?”

“Baiklah aku memikirkannya Arum”

“Kenapa harus dipikirkan?”

“Tunggulah sehari dua hari. Aku akan menimbang baik dan buruknya” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kenapa kau tiba-tiba saja ingin ikut serta mempelajari olah kanuragan? Kenapa tidak sebelum ini?”

“Aku tidak tahu ayah. tetapi memang tiba-tiba saja aku ingin mempelajarinya”

“Baiklah. Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya”

“Apa yang harus dipertimbangkan? Aku menyatakan keinginanku mempelajarinya. Bukan untuk dipertimbangkan. Akulah yang bermaksud berbuat dan aku akan berbuat”
Dada Kiai Danatirta berdesir mendengar jawaban itu. Jawaban itu mirip benar dengan jawaban ibunya ketika ia mencoba mencegahnya berhubungan dengan seorang Laki-laki diluar padepokannya. Ibu Arum itu menjawab, “Ayah tidak perlu mempersoalkannya. Akulah yang akan kawin. Bukan ayah. Karena itulah, akulah yang memutuskannya”

Pada saat itu. hampir saja ia menampar mulut anaknya. Untunglah bahwa ia masih dapat mengendalikan dirinya, meskipun saat itu ia mengancam, “Kalau laki-laki itu masih datang lagi kepadamu, aku bunuh dia”

Tetapi yang terjadi justru anaknya dibawa lari, Dan muridnya lah yang membunuh laki-laki itu sampyuh dengan kematian sendiri. Dua jiwa telah menjadi korban.

Sejenak Kiai Danatirta merenung. Namun karena ayahnya tiba-tiba saja memandang kekejauhan, dan bahkan terbayang perasaan yang pedih di matanya tanpa diketahui sebab yang sebenarnya, Arum menjadi berdebar-debar. Ia menyangka, bahwa kata-katanya lelah menyakiti hati ayahnya. Sama sekali tidak terbayang di kepalanya, bahwa ayahnya yang sebenarnya adalah kakeknya itu sedang membayangkan suatu masa lampau yang panjang.

“Ayah” tiba-tiba Arum berjongkok di hadapan ayahnya yang duduk di bibir amben, “Kenapa ayah merenung?”

“O” Kiai Danatirta terkejut. Kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Tidak apa-apa Arum”

“Apakah kata-kataku melukai hati ayah?”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam. Jawabnya, “Tidak Arum. Tetapi ayah ingin anaknya menuruti kata-katanya. Tentu saja, ayah tidak selalu benar. Tetapi kadang-kadang seorang tua, betapapun bodohnya, mempunyai firasat tentang anak-anaknya”

“Maafkan aku ayah” suara Arum merendah, “Aku tidak akan memaksa ayah. Aku akan menurut segala nasehat ayah. Aku hanya sekedar menyatakan keinginan hatiku. Tetapi terserahlah kepada ayah”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Inilah bedanya Arum dengan ibunya. Ternyata Arum mempunyai kelembutan di samping kekerasan hatinya.

Karena Kiai Danatirta tidak segera menjawab, maka Arum pun berkata pula, “Apakah ayah marah kepadaku?”

“O, tidak. Tidak Arum. Aku tidak marah”

“Tetapi ayah diam saja, “

“Aku sedang berpikir”

“Ayah tidak usah memaksa diri untuk mengambil keputusan sekarang. Aku akan menunggu”

Kiai Danatirta memandang Arum sejenak. Kemudian sekali lagi ia tersenyum, “Ya. Kau memang harus menunggu”

Meskipun Arum kemudian meninggalkan Kiai Danatirta, namun Kiai Danatirta masih tetap dibebani oleh persoalan itu. Dicobanya untuk menilai untung ruginya. Permintaan Arum baginya merupakan suatu persoalan yang memang baru. Ibunya dulu sama sekali tidak tertarik pada olah kanuragan. Bahkan sebagian hidupnya telah dihabiskannya bekerja di sawah dan di dapur. Dan sebagian yang lain untuk dengan diam-diam menemui laki-laki yang kemudian melarikannya.

“Apakah ada baiknya aku memberi kesempatan kepada Arum untuk mempelajari olah kanuragan?” pertanyaan itu mulai merayap di hatinya, “Ia akan mempunyai suatu perhatian khusus di dalam hidupnya”

Namun demikian, Kiai Danatirta masih selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Ia memang pernah mendengar atau membaca di dalam kitab-kitab, bahwa pernah ada raja-raja perempuan di Tanah Jawa ini. Pahlawan-pahlawan perempuan di ceritera pewayangan dan prajurit-prajurit perempuan. Tetapi lingkungan-nya sendiri belum pernah melahirkan seorang perempuan yang mumpuni di dalam olah kanuragan.

“Aku akan melihat kemungkinan-kemungkinannya” berkata Kiai Danatirta kemudian kepada diri sendiri.

Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang masak, maka Kiai Danatirta mampu menilai setiap unsur gerak dari ilmunya dari beberapa segi. Dan itulah sebabnya, maka sejak ia mulai mempertimbangkan kemungkinan memberikan ilmu kanuragan kepada Arum. Kiai Danatirta mulai melakukan penilaian lebih saksama lagi atas ilmunya. Di malam hari, ketika seisi padepokan itu sudah tidur, maka masuklah ia ke dalam bilik tertutupnya. Diamatinya kembali setiap tata gerak dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling sulit.

Tiba-tiba Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menemukan beberapa unsur gerak yang dapat disesuaikan dengan kemampuan kodrati seorang perempuan.

Tetapi Kiai Danatirta masih belum puas dengan penemuannya yang hanya sekedar unsur-unsur gerak yang terselip di dalam keseluruhan tata gerak, sehingga tidak merupakan suatu kebulatan yang utuh. Namun justru karena itu, maka Kiai Danatirta ternyata telah memulai dengan suatu kerja yang baru. Menyusun ilmu kanuragan khusus untuk seorang perempuan, namun yang tidak kalah dahsyatnya dari ilmu yang diperuntukkannya bagi seorang laki-laki berdasarkan perbedaan wadagnya.

Setiap kali Kiai Danatirta bertemu dengan Arum, tampaklah pertanyaan tersirat di wajah anak itu. Tetapi Kiai Danatirta masih belum memberikan jawaban. Dan betapapun gelisahnya dada gadis itu, namun Arum juga tidak bertanya kepada ayahnya.

Dalam pada itu. Raden Juwiring dan Buntal masih terus melakukan latihan-latihan di bawah tuntunan Kiai Danatirta. Meskipun masih merupakan gerak-gerak dasar dan bersifat umum, tetapi kedua anak-anak muda itu merasa bahwa mereka harus bekerja keras dan dengan penuh kesungguhan.

Ternyata kedua anak-anak muda itu memberikan kepuasan kepada Kiai Danatirta. Keduanya adalah anak-anak yang baik. Dan keduanya mempunyai tubuh yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukan latihan-latihan yang berat seperti yang dikehendaki oleh Kiai Danatirta.

Namun di malam hari, apabila padepokan itu sudah sepi, Kiai Danatirta masih berada di bilik tertutup itu sendiri. Dengan tekun ia mematangkan bentuk baru dari ilmunya, meskipun isinya tidak berbeda.

Pada suatu malam yang sepi, Arum terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya bergerit. Dengan serta merta ia bangkit dan duduk di pembaringannya.

Namun gadis itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ayahnya berdiri dimuka pintu.

“Apakah kau sudah tidur Arum?”

Arum menggelengkan kepalanya, “Belum ayah. Udara panas sekali sehingga aku tidak dapat tidur”

Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kalau kau masih belum ingin tidur, kemarilah Marilah kita duduk diluar sejenak, untuk menyegarkan badan”

Arum mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. ia pun segera bangkit berdiri dan membenahi pakaiannya. Kemudian diikutinya ayahnya melangkah keluar melalui pintu pringgitan melintasi pendapa.

Arum menarik nafas. Ayahnya itu pun kemudian duduk di tangga pendapa.

“Disini tidak begitu panas” berkata ayahnya.

“Ya ayah”

“Duduklah disini”

Arum pun kemudian duduk di samping ayahnya.

“Arum” suara ayahnya menjadi dalam, “Apakah kau masih tetap pada keinginanmu?”

“Apa ayah?” bertanya Arum.

“Olah kanuragan?”

“O. Ya ayah. Aku hampir tidak sabar menunggu jawaban ayah. Aku kira ayah sudah melupakannya, atau sengaja membiarkan saja persoalan itu”

“Kenapa kalau begitu?”

“Aku tidak mau ayah. Aku harus mendapatkan ilmu seperti orang lain di padepokan ini, meskipun aku perempuan”

“Bagaimana kalau ayah berpendirian lain?”

“Tidak. Ayah tidak akan berpendirian lain. Aku memerlu-kannya. Kalau aku tidak minta kepada ayah, lalu kepada siapa?” Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Inilah sifat Arum yang sebenarnya. Sekeras sifat ibunya. Namun Kiai Danatirta pun kemudian berkata, “Jadi kau telah mencabut pendirianmu itu?”

“Pendirian yang mana? Aku tidak pernah mencabut sikap yang telah aku tentukan”

“Arum” berkata ayahnya, “Bukankah kau mengatakan waktu itu kepada ayah, bahwa kau menyerahkan semuanya kepadaku. Apakah aku akan mengijinkan atau tidak? Bukankah kau tidak akan memaksa ayah dan menurut segala nasehat ayah”

“O” kepala gadis itu pun tertunduk. Perlahan-lahan ia berdesis, “Maafkan ayah. Aku memang tidak akan memaksa ayah dan aku akan menurut segala kehendak ayah”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Di samping sifat-sifatnya, Arum telah berhasil menguasai dirinya sendiri meskipun kadang-kadang terlepas. Tetapi untuk seterusnya, ia harus berhati-hati, agar Arum tetap dapat memelihara keseimbangan itu. Bahkan agar ia semakin dekat dengan penguasaan diri tanpa memanjakan perasaannya. Dan inilah kelebihan Arum dari ibunya.

Melihat Arum menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan penuh kecewa Kiai Danatirta menjadi iba. Karena itu maka katanya, “Bagus Arum. Kau adalah anak yang baik. Kau akan tetap menurut nasehat ayah dan tidak akan memaksa. Bukankah begitu?”

“Ya ayah” suara Arum dalam sekali. Bahkan hampir tidak terdengar, karena Arum sedang berusaha untuk menahan air matanya yang telah memanasi pelupuknya.

Tetapi tiba-tiba ia terperanjat ketika ayahnya berkata, “Arum. Tetapi bukankah aku belum mengatakan keputusanku tentang permintaanmu?”

Arum mengangkat wajahnya. Sepercik harapan membayang di wajahnya. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Jadi maksud ayah?”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berkata, “Arum. Sebenarnya memang kurang lajim seorang gadis mempelajari olah kanuragan. Namun karena kau adalah anakku, maka aku telah mencoba untuk menyingkirkan kejanggalan itu dari hatiku”

Sebelum Kiai Danatirta melanjutkan kata-katanya, Arum telah melonjak dan berlutut di hadapan ayahnya sambil berkata, “Terima kasih ayah. Terima kasih”

Sebuah senyum yang cerah membayang di bibirnya, meskipun di matanya secercah air telah membasahi pelupuknya.

Namun sebenarnya Kiai Danatirta mempunyai kepentingan yang lain pula. Ia ingin mempergunakan keinginan Arum untuk mempelajari ilmu kanuragan itu sebagai cara untuk menghindar-kan kemungkinan-kemungkinan yang tidak dikehendaki, justru karena di padepokan itu sudah terlanjur terdapat dua orang anak-anak muda.

Demikianlah, maka Arum merasa bahwa dadanya menjadi terlampau lapang. Keinginannya akan terwujud. Bukan saja laki-laki yang boleh menyadap ilmu kanuragan, tetapi ayahnya kini sudah memperkenankannya untuk ikut serta.

“Tetapi” berkata ayahnya, “Kau harus tetap seorang gadis Arum. Kau harus tetap berlaku sebagai seorang gadis. Dan kau harus tetap menunjukkan sifat-sifatmu di antara kawan-kawanmu. Kau tidak boleh menunjukkan perubahan apapun yang terjadi pada dirimu, seandainya kelak kau berhasil menguasai ilmu kanuragan ini”

“Aku berjanji ayah”

“Dan kau tidak pernah ingkar janji?”

Arum tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut.

Dalam pada itu, maka Arum tidak sabar lagi menunggu hari-hari berikutnya. Ia ingin segera mulai. Ia ingin segera mempelajari ilmu yang selama ini hanya dapat dilihatnya.

Tetapi ayahnya masih belum memulainya, meskipun beberapa hari telah lewat.

“Apakah ayah hanya sekedar menyenangkan hatiku saja” berkata Arum di dalam hatinya, “Tetapi untuk seterusnya ilmu itu tidak pernah diberikannya?”

Namun pada suatu senja, Arum telah dipanggil ayahnya di bangsal latihan. Ketika ia masuk, ternyata di dalam bilik yang agak luas itu telah menunggu Raden Juwiring dan Buntal.

“Apakah kalian akan berlatih” bertanya Arum.

Hampir berbareng keduanya menggeleng. Juwiring lah yang kemudian menjawab, “Kami telah dipanggil oleh Kiai Danatirta di luar saat-saat berlatih”

Arum mengerutkan keningnya. Agaknya ayahnyalah yang masih belum ada di ruang itu.

Tetapi Arum tidak menunggu terlalu lama. Sebentar kemudian maka Kiai Danatirta pun telah datang pula ke dalam ruangan itu.

“Anak-anakku” berkata orang tua itu sejenak kemudian, “aku memang memanggil kalian bersama-sama. Ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepada kalian”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar.

“Pertama-tama, aku memberitahukan kepada Raden Juwiring dan Buntal, bahwa Arum ternyata menyatakan keinginannya untuk mempelajari olah kanuragan. Suatu hal yang janggal bagi seorang gadis. Tetapi itu adalah keinginannya. Dan aku pun tidak berkeberatan” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sudah barang tentu, bahwa meskipun ilmu kalian bersumber pada sifat dan watak yang sama, namun pasti ada perbedaannya di dalam ungkapan, karena bagi seorang laki-laki tentu ada bedanya dari seorang perempuan”

Ketiga anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Terbayang sebuah senyum di bibir Arum. Sedang Juwiring dan Buntal mengangguk-angguk tanpa sesadarnya.

Tetapi terlebih-lebih lagi, aku akan memberitahukan kepada kalian, hubungan yang harus kalian mengerti setelah kalian berguru bersama-sama” Kiai Danatirta berhenti sejenak. Dipandanginya wajah ketiga anak-anak muda itu satu demi satu. Lalu, “ Setelah kalian menjadi murid dari satu perguruan, maka kalian akan menjadi tiga orang bersaudara. Tidak ada bedanya dengan saudara sekandung. Akulah yang menjadi ayah kalian dan ilmu yang akan kalian serap itu adalah pengikat dari persaudaraan kalian”

Ketiga anak-anak muda itu pun menundukkan wajahnya.....

“Nah, biarlah aku menentukan siapakah yang paling tua di antara kalian, di antara saudara sekandung di dalam penyadapan ilmu ini” berkata Kiai Danatirta kemudian, “Bukan berdasarkan waktu kehadirannya di padepokan ini. Jika seandainya demikian, maka Arum lah yang akan menjadi paling tua. Tetapi berdasarkan umur, Raden Juwiring akan menjadi saudara tertua. Buntal akan menjadi anak kedua dan yang bungsu adalah Arum. Sudah tentu sejak sekarang, kalian tidak akan memanggil dengan istilah lain dari istilah persaudaraan ini, dan kalian akan memanggil aku ayah. Memang agak berbeda dengan sebutan perguruan, tetapi aku memang tidak ingin menunjukkan kepada tetangga-tetangga kita, bahwa kita telah mendirikan suatu perguruan kanuragan”

Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka terpukau oleh kata-kata Kiai Danatirta.

“Apakah kalian tidak berkeberatan?” bertanya Kiai Danatirta kemudian, “terutama Raden Juwiring, yang berasal dari keluarga yang agak berbeda dengan kami disini. Dengan Buntal dan dengan Arum”

“Ah” Juwiring berdesah, “Apakah bedanya?”

“Jadi kau tidak berkeberatan?” bertanya Kiai Danatirta.

Juwiring menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak berkeberatan sama sekali. Aku merasa menemukan saudara sekandung yang dapat aku hayati daripada saudaraku yang sebenarnya. Disini aku menemukan kedamaian hati yang sebenarnya. Di istana ayahanda aku merasa tersiksa. Meskipun aku tinggal rumah yang mewah dan besar, tetapi setiap saat selalu dibayangi oleh kedengkian dan iri”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk pula.

“Baiklah kau memang tidak berkeberatan. Untuk seterusnya aku hanya akan memanggil nama kalian masing-masing, karena kalian adalah anak-anakku. Tetapi aku sama sekali tidak berhasrat untuk merubah nama itu”

Ketiga anak-anak muda itu tidak menyahut.

“Nah, dengan demikian maka kita mempunyai keluarga baru yang besar sekarang. Tetapi jangan menunjukkan perubahan apapun kepada orang lain. Kepada tetangga-tetangga dan kawan-kawan kalian di padukuhan ini. Kalian harus tetap seperti kemarin. Juga Juwiring masih tetap seperti Raden Juwiring, karena setiap orang mengetahui bahwa kau adalah seorang bangsawan yang dititipkan kepadaku, untuk mendapatkan tuntunan olah kajiwan. Bukan olah kanuragan”

Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut Sesaat terbayang kehidupan yang telah ditinggalkannya. Terbayang sebuah istana yang megah dari seorang bangsawan yang kaya. Tetapi justru karena ayahnya seorang yang kaya, dan tidak hanya mempunyai seorang isteri, maka rumah yang megah itu telah menjadi sarang kedengkian dan iri. Setiap orang selalu curiga kepada orang lain. Kebencian tidak lagi dapat dihindarkan lagi.

Sehingga akhirnya ia terlempar ke padukuhan kecil itu karena bermacam-macam alasan yang sebagian terbesar tidak benar sama sekali. Ia sadar, bahwa ia sekedar disingkirkan dari lingkungannya yang sedang bergulat berebut kesempatan untuk mendapatkan warisan terbesar.

“Hem” Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Terbayang pula wajah adik seayah tetapi tidak seibu yang umurnya hampir bersamaan dengan umurnya, “Rudira”

Juwiring terkejut ketika ia mendengar Kiai Danatirta berkata, “Sudahlah. Aku tidak mempunyai persoalan lagi kini. Kalian dapat meninggalkan ruangan ini. Besok kita akan mulai dengan ilmu kanuragan dari padepokan ini yang sebenarnya. Selama ini, kalian sekedar mendapat dasar-dasar olah kanuragan pada umumnya. Meskipun waktu yang aku tetapkan sebagai waktu percobaan dan pendadaran belum habis, tetapi aku percaya kepada kalian, bahwa kalian akan selalu melakukan semua petunjukku sebaik-baiknya”

Demikianlah maka ketiga anak-anak muda itu meninggalkan bilik tempat mereka berlatih. Terasa sesuatu yang lain di dalam diri mereka. Kini mereka harus menganggap yang satu dengan yang lain sebagai saudara. Saudara sekandung.

Dihari-hari berikutnya, seperti yang dikatakan oleh Kiai Danatirta, ketiganya mulai mendapatkan latihan-latihan khusus. Mereka mulai mempelajari unsur-unsur gerak yang agak lain dari unsur-unsur gerak yang selama ini mereka pelajari.

Sedangkan Arum telah mendapat waktu tersendiri di dalam latihan-latihan yang memang hanya diperuntukkan baginya. Tetapi di dalam tata gerak dasar, mereka kadang-kadang juga berlatih bersama.

Ternyata mereka tidak mengecewakan hati Kiai Danatirta. Mereka bertiga berlatih bersungguh-sungguh. Kadang-kadang diluar dugaan, bahwa mereka mampu melakukan latihan-latihan yang berat untuk waktu yang melampaui waktu yang sudah ditentukan oleh gurunya.

“Mereka benar-benar telah melakukan dengan sepenuh hati” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, darah keturunan Juwiring masih tetap menjadi teka-teki bagi Buntal. Ia sama sekali tidak berani bertanya, darimanakah sebenarnya ia datang. Dan putera siapakah ia sebenarnya.

“Apakah ia putera seorang pengeran yang lahir dari seorang selir?” pertanyaan itulah yang selalu melonjak di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, meskipun Juwiring telah menjadi anak angkat yang sekaligus murid Kiai Danatirta, namun pengaruhnya bagi orang-orang di sekitarnya masih tidak berubah. Bagaimanapun juga ujud lahiriahnya adalah seorang bangsawan yang memang lain dari orang-orang kebanyakan. Bagi tetangga-tetangga Kiai Danatirta, kehadiran seorang bangsawan di padepokan itu mempunyai pengaruh tersendiri. Sikap mereka yang sangat hormat dan segan kepada Juwiring sama sekali tidak berubah, meskipun mereka tahu bahwa sesuatu telah terjadi, sehingga Juwiring harus berada di padepokan Kiai Danatirta untuk menuntut ilmu kajiwan. Mempelajari kesusasteraan dan tata kesopanan. Tetapi diluar dugaan mereka, bahwa di samping itu semua, Juwiring juga mempelajari ilmu kanuragan.

Demikianlah dari waktu ke waktu, ketiga anak-anak muda di padepokan Kiai Danatirta itu berkembang dengan pesatnya, sesuai dengan idaman orang tua itu. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi tabiat dan sifat mereka pun menunjukkan ketulusan hati mereka.

Di siang hari mereka bekerja seperti kebanyakan anak-anak padukuhan itu. Mereka pergi ke sawah. Membawa alat-alat pertanian dan pupuk. Sedang Arum pergi ke sungai mencuci pakaian dan berbelanja ke pasar. Kemudian ikut menanjak nasi dan masak di dapur seperti kebanyakan gadis-gadis padesan.

Demikianlah kehidupan yang tenang itu berjalan terus, sehingga pada suatu saat, seekor kuda yang tegar berlari memasuki halaman padepokan itu. Seorang laki-laki setengah umur yang kemudian menarik kekang kuda itu, segera meloncat turun.

Kiai Danatirta yang berada di pringgitan, bergegas menjengukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia berlari-lari kecil menyongsong orang berkuda itu sambil menyapanya, “O, kau Dipanala”

Orang yang kini telah berdiri di halaman itu menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya kakang”

“Kemarilah. Sudah lama kau tidak datang”

Dipanala pun kemudian naik ke pendapa dan dipersilahkan masuk ke pringgitan.

Keduanya pun kemudian duduk berhadapan diatas sehelai tikar pandan. Sejenak mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing setelah agak lama mereka tidak bertemu.

“Sudah lama sebenarnya aku ingin datang ke padukuhan ini. Tetapi aku masih terlampau sibuk”

“Apa kerjamu sebenarnya? Bukankah kau hanya harus menghadap setiap Kliwon dan duduk di regol dalam?”

“Ya, tetapi aku mempunyai pekerjaan juga di Dalem Kapangeranan”

“Apa kerjamu?” bertanya Kiai Danatirta.

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Memang tidak ada. Tetapi rasa-rasanya aku menjadi sangat sibuk. Semakin lama rumah itu menjadi semakin gersang”

“Kenapa? Bukankah di dalamnya tersimpan harta benda yang tidak ternilai jumlahnya”

“Justru itulah sebabnya. Sekarang Raden Ayu Manik sudah tidak ada lagi di Dalem Kapangeranan”

“Raden Ayu Manik? Bagaimana mungkin?”

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Istana Pangeran Ranakusuma. Tidak seorang pun akan menyangka bahwa pada suatu saat Raden Ayu Manik keluar dari istana itu dan kembali ke ayahandanya”

“Bagaimana sikap Pangeran Reksanegara ketika puterinya. dikembalikan kepadanya?”

“Betapa panas hati Pangeran tua itu. Tetapi ia tidak dapat, berbuat banyak. Ia tidak lagi dapat menantang perang tanding, karena tata kehidupan kebangsawanan sudah bergeser. Kini di Istana Pangeran Ranakusuma sering terjadi semacam bujana makan dan minum untuk menghormat tamu-tamunya”

“Siapakah tamu-tamu itu?”

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah yang sangat mencemaskan. Tamunya adalah orang-orang asing”

“Kumpeni maksudmu?”

Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kiai Danatirta berdesah sambil mengusap dadanya. Terbayang kini di rongga matanya, tata cara yang asing itu mulai merayap masuk ke dalam tata kehidupan para bangsawan dan pembesar di pusat pemerintahan. Meskipun Kiai Danatirta menyadari bahwa tidak semua adat dan tata cara orang asing itu jelek, karena menurut anggapan lahiriah mereka pun orang-orang beradab, tetapi kadang-kadang ada yang terasa seperti duri di dalam daging sendiri.

“Jadi siapakah yang sekarang berkuasa di istana Pangeran Ranakusuma?”

“Raden Ayu Sontrang, “

“Raden Ayu Sontrang?”

“Ya, nama panggilan dari Raden Ayu Galihwarit, puteri Pangeran yang agak kurang waras itu”

“Pangeran Sindurata?”

“Ya”

Kiai Danatirta hanya dapat mengelus dadanya. Meskipun sepengetahuan orang banyak ia bukan seorang bangsawan yang mempunyai lingkungan hidup setaraf dengan mereka menurut bentuk lahiriah, tetapi yang terjadi itu membuat hatinya terlampau pedih. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Jadi bagaimana dengan Raden Juwiring?”

Ki Dipanala mengedarkan tatapan matanya ke seputarannya. Seakan-akan ia sedang mencari seseorang di ruangan itu.

“Raden Juwiring tidak ada di rumah. Ia pergi ke sawah dengan Buntal”

“Siapakah Buntal itu?”

“Seorang anak pedesaan, sekedar untuk mengawani Raden Juwiring disini. Tetapi nanti aku ceriterakan tentang anak itu”

“Jadi anak itu tidak ada?”

“Tidak”

“Kakang Danatirta” berkata Dipanala kemudian, “nasib anak muda itu memang kurang baik. Selama ini, sepeninggal ibunya, nasibnya seakan-akan tergantung dari belas kasihan Raden Ayu Manik, karena meskipun ia anak tirinya, Raden Ayu Manik sendiri tidak mempunyai anak. Tetapi sekarang Raden Ayu Manik tidak ada lagi di istana itu. Hidupnya akan menjadi semakin terasing dari keluarganya, sehingga pada suatu saat ia akan dilupakan. Apalagi derajat ibunya tidak setingkat dengan Raden Ayu Manik dan Raden Ayu Sontrang”

Danatirta menundukkan kepalanya. Desisnya, “Ya, Rara Putih memang tidak setingkat dengan Raden Ayu keduanya. Tetapi aku meletakkan harapan kepada Raden Ayu Manik, bahwa ia akan berhasil membawa Raden Juwiring kembali ke istana itu meskipun untuk waktu yang lama. Tetapi harapan itu akan menjadi semakin suram”

“Ya kakang. Yang sekarang hampir tidak dapat dikendalikan adalah Raden Rudira dan adiknya Raden Ajeng Warih. Mereka merasa lebih berkuasa dari ayahanda Pangeran Ranakusuma”

“Aku sudah menyangka. Karena kedua anak-anak itulah agaknya Raden Ayu Sontrang sampai hati menyingkirkan saudara sepupunya sendiri dari istana” Kiai Danatirta berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebenarnya Raden Ayu Galihwarit yang disebut Sontrang itu tidak usah berusaha mengusir puteri itu, karena ia tidak berputera. Raden Ayu Manik tidak akan memerlukan pembagian kekayaan suaminya, karena ia tidak mempunyai anak keturunan”

“Bukan anak keturunannya sendiri. Raden Ayu Manik selalu berbicara tentang Raden Juwiring yang kini ada di padepokan ini. Itulah sebabnya Jika demikian, maka hak Raden Juwiring akan menjadi sama dengan hak Raden Rudira. Itulah yang membuat Raden Ayu Sontrang berusaha menyingkirkan Raden Ayu Manik”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kau mengetahui cara yang dipergunakan untuk mengusir Raden Ayu Manik?”

“Seperti yang dilakukan buat mengusir Raden Juwiring. Adalah kebetulan sekali bahwa Pangeran Reksanegara, ayah Raden Ayu Manik, sangat membenci kepada kumpeni. Dan kebencian itu dapat dimanfaatkan dengan baik sekali oleh Raden Ayu Sontrang. Ia minta bantuan kumpeni untuk mendesak Pangeran Ranakusuma, agar Raden Ayu Manik, puteri seorang yang memberi kumpeni itu dikembalikan kepada ayahnya. Kalau tidak, kumpeni tidak akan mau berhubungan dengan Pangeran Ranakusuma di dalam segala hal”

“Gila. Benar-benar perbuatan yang sangat licik. Alangkah bodohnya orang-orang asing itu. Mereka telah diperalat untuk kepentingan pribadi dan nafsu ketamakan”

“Tidak kakang. Bukan suatu kebodohan. Orang-orang asing itu juga orang-orang tamak. Mereka adalah orang-orang yang selalu kehausan apapun juga”

“Tetapi apakah yang mereka dapatkan dari Pangeran Ranakusuma?”

“Kumpeni ingin mendapatkan dukungan yang kuat dari kalangan istana Surakarta untuk dapat memberikan tekanan-tekanan lebih berat lagi bagi Kangjeng Sunan. Kalau para Pangeran sudah berhasil dipengaruhinya, dengan segala macam cara, sebagian dengan janji-janji dan sebagian lagi dengan harta benda, maka kedudukan Kangjeng Sunan akan menjadi semakin lemah. Dengan demikian maka semua persetujuan yang dipaksakan oleh kumpeni tidak akan dapat ditolaknya lagi” Dipanala berhenti sejenak, lalu, “Tetapi secara pribadi kumpeni itu juga mendapat imbalan dari persoalan pribadi Raden Ayu Sontrang dan Raden Ayu Manik”

“Apa yang mereka dapatkan?”

Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Kiai Danatirta sejenak. Namun kemudian ia hanya menelan ludahnya saja -sambil menundukkan kepalanya.

“Apakah yang mereka dapatkan secara pribadi?” desak Kiai Danatirta”

“Maaf kakang. Sebenarnya aku tidak sampai hati untuk mengatakannya. Tetapi apaboleh buat. Kau memang perlu mendapat gambaran seluruhnya” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “berat sekali untuk mengatakannya, justru menyangkut nama baik seorang puteri bangsawan”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketajaman perasaannya segera menangkap persoalan yang belum dapat dikatakan oleh Ki Dipanala. Karena itu justru Kiai Danatirta lah yang kemudian berkata, “Dipanala. Aku mengerti. Bukankah kau bermaksud mengatakan bahwa kumpeni-kumpeni itu mendapat imbalan secara pribadi juga? Aku tahu bahwa Raden Ayu Galihwarit, meskipun sudah berputera sebesar Raden Rudira, namun nampaknya masih muda dan cantik. Menilik sifat-sifatnya yang licik, maka memang mungkin sekali terjadi, bahwa ia telah mengorbankan kehormatannya sebagai seorang puteri bangsawan untuk mendapat jalan, mengusir Raden Ayu Manik”

Ki Dipanala menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menyahut, “Dugaan itu tepat kakang. Ia bahkan mendapatkan segala-galanya. Bukan sekedar bantuan mengusir Raden Ayu Manik, tetapi ia memang memerlukannya. Bukankah kau tahu, bahwa Pangeran Ranakusuma tidak lagi dapat berbuat apa-apa untuknya?”

“Hem” Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam, “benar-benar suatu perbuatan yang memalukan. Memalukan bukan saja bagi para bangsawan, tetapi juga bagi kita seluruhnya. Bagi orang berkulit sawo matang ini”

Ki Dipanala mengangguk-angguk. Tetapi kata-katanya terputus ketika Arum melangkah masuk ke pringgitan sambil menjinjing mangkuk minuman.

“Arum” desis Ki Dipanala, “Kau sudah prigel menghidangkan suguhan buat tamu-tamu ayahmu”

“Ah paman” Arum berdesah, “Tetapi marilah paman. Sekedar air untuk menghilangkan haus”

“Terima kasih Arum. Berapa pekan paman tidak datang kemari. Kau tampaknya cepat tumbuh dan sekarang kau benar-benar seorang gadis dewasa. He, berapa umurmu?”

Arum tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya.

“Ia pantaran dengan anakku yang bungsu. Bukankah begitu kakang?”

Kiai Danatirta menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Hanya berselisih dua pekan”

Ki Dipanala mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian, “Sering datanglah ke rumah paman. Kau akan banyak melihat”

“Terima kasih paman. Lain kali kalau ayah mengijinkannya, “Ki Dipanala tersenyum. Dipandanginya Arum yang bergeser surut kemudian meninggalkan pringgitan.

“Anakmu cepat menjadi besar kakang” Kiai Danatirta mengangguk”

“Tampaknya jauh lebih dewasa dari anakku yang masih senang bermain pasaran di halaman”

Kiai Danatirta tertawa.

“Ia akan menjadi gadis yang tinggi besar seperti ibunya” berkata Ki Dipanala kemudian.

Kiai Danatirta tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi suram.

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Dipanala. Ia menyesal bahwa ia telah menyebut ibu Arum yang sudah tidak ada lagi itu. Karena itu, maka dengan serta merta ia berusaha mengalihkan pembicaraan

“Kapan Raden Juwiring kembali dari sawah?”

“Biasanya setelah tengah hari” jawab Kiai Danatirta, “Apakah kau akan menemuinya?”

Dipanala merenung sejenak, lalu, “Tetapi aku kali ini tidak membawa apapun buat Raden Juwiring. Aku sama sekali tidak berhasil mendapat sekedar belanja buat anak muda yang malang itu. Apalagi sepotong pakaian”

“Ah, jangan kau pikir lagi tentang belanja dan pakaian. Ia sudah berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan ini. Jangan kau rusakkan lagi dengan kebiasaan yang cengeng di istana Kapangeranan itu”

Dipanala mengangguk-angguk.

“Kalau kau ingin bertemu dengan Raden Juwiring, jangan kau katakan apa yang terjadi di rumah itu. Ia akan menjadi semakin prihatin. Kalau perasaan mudanya tidak dapat dikendalikannya, maka pada suatu saat akan meledak dengan dahsyatnya. Padahal ia tidak mempunyai kekuatan apapun di belakangnya, sehingga ledakan itu pasti hanya akan menghancurkan dirinya sendiri”

“Ya kakang. Tetapi sebaiknya ia mengetahui, bahwa kadang-kadang Raden Rudira menyebut namanya. Bahkan anak itu ingin melihat dimana Raden Juwiring tinggal”

“Buat apa ia melihat tempat ini?”

“Itulah yang mencemaskan. Aku kira ia masih belum puas bahwa Raden Juwiring hanya sekedar tersisih. Ia pasti mempunyai tujuan yang lain yang barangkali tidak akan dapat kita bayangkan, hati apakah yang sudah bermukim di dadanya”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Terbayanglah tatapan mata yang tajam seorang bangsawan muda yang bernama Rudira itu. Bangsawan muda yang berhati hitam seperti hati ibunya, Raden Ayu Galihwarit yang juga disebut Raden Ayu Sontrang. Seorang perempuan bangsawan yang bertubuh tinggi besar, berkulit kuning langsat. Wajahnya yang bulat seperti bulan purnama dihiasi dengan sepasang mata yang berkilat-kilat. Tetapi di dalam dadanya yang mendebarkan jantung itu, tersembunyi hati yang hitam lekam. Dan kehitaman hatinya itu telah menurun kepada kedua anak-anaknya. Raden Rudira dan adiknya.

“Kalau hal itu kau anggap perlu Dipanala, katakanlah. Tetapi hati-hati, jangan menimbulkan kecemasan yang berlebih-lebihan di hatinya.

Dipanala mengangguk sambil menjawab, “Aku mengerti kakang”

“Tunggulah sambil minum. Ia akan segera datang”

Keduanya pun kemudian meneguk air panas yang disuguhkan oleh Arum. Seteguk demi seteguk. Namun angan-angan mereka masih saja terlambat pada persoalan keluarga Pangeran Ranakusuma. Keluarga seorang bangsawan yang kaya raya. Tetapi tidak memiliki kemantapan berkeluarga karena seisi rumah yang selalu curiga-mencurigai dan saling membenci.

Sejenak kemudian, ternyata Juwiring dan Buntal telah pulang dari sawah. Mereka langsung menuju ke ruang belakang. Mereka sudah menduga, bahwa ayah angkat mereka, pasti sedang menerima seorang tamu karena seekor kuda tertambat di halaman. Tetapi mereka tidak mengetahui, siapakah tamu ayahnya itu.

Baru ketika Juwiring meletakkan cangkulnya, Arum mendekatinya sambil berbisik, “Paman Dipanala, kakang Juwiring”

“He, Dipanala? Eh, maksudku paman Dipanala?”

“Ya”

Juwiring mengangguk-angguk. Dipandanginya Buntal yang termangu-mangu itu sekilas. Namun kemudian dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh.

“Sudah agak lama ia tidak datang. Kabar apakah yang dibawanya?”

“Aku tidak tahu. Paman Dipanala sedang berbincang dengan ayah. Agaknya memang ada sesuatu yang penting”

Tetapi anak-anak muda itu terkejut ketika terdengar suara di pintu, “Tidak. Tidak ada yang penting. Dipanala hanya sekedar menengok keselamatan Juwiring”

Ternyata Kiai Danatirta telah berdiri di belakang mereka. Sambil tersenyum ia berkata, “Marilah Juwiring. Kalau kau sudah membersihkan diri, temuilah paman Dipanala sejenak. Ia ingin bertemu setelah sekian lama ia tidak datang”

Arum menundukkan kepalanya. Tanpa diketahuinya ayahnya mendengar kata-katanya. Sedang Juwiring memandang Kiai Danatirta dengan pertanyaan-pertanyaan yang membayang disorot matanya.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak terucapkan. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Baiklah ayah. Aku akan membersihkan diri lebih dahulu”

Demikianlah Juwiring segera pergi ke pakiwan. Setelah berganti pakaian, ia segera pergi ke pringgitan untuk menemui Dipanala yang datang dari kota setelah agak lama ia tidak berkunjung.

Sepeninggal Juwiring, tinggallah Buntal bersama Arum yang berdiri termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan, namun sejenak kemudian, setelah Juwiring berada di pringgitan, dan setelah Buntal berhasil mengatasi keragu-raguannya, ia pun mendekati Arum. Perlahan-lahan ia berbisik, “Siapakah yang datang?”

“Paman Dipanala”

“Siapakah paman Dipanala?”

“Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan ayah”

“Dengan Kiai Danatirta, eh, ayah atau dengan Juwiring”

“Dengan ayah. Tetapi ia tinggal di Dalem Kapangeranan. Pangeran Ranakusuma”

Buntal mengerutkan keningnya. Ia berusaha untuk mengusir keragu-raguannya sama sekali. Ia benar-benar ingin mengetahui, siapakah sebenarnya Raden Juwiring itu. Dan kali ini agaknya ada kesempatan baginya. Kesempatan yang tidak menimbulkan kecurigaan apapun juga.

“Siapakah Pangeran Ranakusuma?” bertanya Buntal.

“Ayah Raden Juwiring”

“O, jadi ayahnya seorang Pangeran?” Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Juwiring benar-benar seorang bangsawan yang masih terhitung dekat dengan istana. Ia adalah keturunan kedua dari Kangjeng Sunan.

“Jadi” Buntal melanjutkan, “Apakah hubungan Juwiring dengan paman Dipanala?”

“Hubungan keluarga yang sudah agak jauh, atau katakanlah tidak ada hubungan apa-apa, selain paman Dipanala tinggal di Dalem Kapangeranan itu”

“Benar-benar tidak ada hubungan keluarga?”

Arum tidak segera menjawab. Sejenak dipandanginya pintu ruang belakang itu. Tetapi ia hanya menarik nafas panjang.

Buntal tidak mendesaknya. Meskipun ia sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh Arum, tetapi ia tidak dapat mendesaknya untuk menceriterakan sesuatu yang agaknya tidak ingin diceriterakannya.

Namun dengan demikian Buntal kini mendapat sedikit gambaran tentang Juwiring. Meskipun ia sadar, bahwa keterangan yang didengarnya dari Arum itu baru sebagian kecil dari keseluruhan Juwiring seutuhnya, namun ia sudah mendapat alas untuk mengetahui keadaan lebih lanjut.

Dalam pada itu, Juwiring telah berada di pringgitan bersama dengan Kiai Danatirta dan Dipanala. Dengar ragu-ragu Dipanala menceriterakan apa yang telah terjadi di istana Kepangeranan. Meskipun tidak seluruhnya dikatakannya agar anak muda itu tidak menjadi semakin berkecil hati, namun Juwiring yang berotak cerah itu dapat membuat gambaran sendiri, apa yang telah terjadi, berdasarkan pengenalannya selagi ia masih tinggal di rumah itu.

“Tidak aneh bagi ibunda Galihwarit apabila ia sampai hati menyingkirkan ibunda Manik dari rumah itu” berkata Juwiring sambil menahan perasaannya yang hendak bergolak, “Aku sudah menduga sejak dahulu, bahwa pada suatu saat hal itu akan terjadi”

“Ya. Dan sekarang Raden Ayu Sontrang lah yang paling berkuasa di rumah itu bersama kedua puteranya”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Biarlah paman. Aku tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan rumah itu. Aku merasa diriku lebih baik di padepokan ini. Aku tidak akan Bermimpi lagi memiliki apapun dari istana itu, meskipun hanya selembar kain atau sepotong perhiasan. Biarlah aku hidup seperti sekarang ini. Ayahku sekarang adalah Kiai Danatirta dan aku sudah mempunyai dua orang saudara. Bukan Rudira dan Warih, tetapi Buntal dan Arum. Dan itu sudah cukup bagiku”

Dipanala menundukkan kepalanya. Suaranya hampir tidak dapat meluncur dari sela-sela bibirnya, “Itu suatu sikap terpuji Raden. Aku adalah pemomong Raden sejak kecil. Resmi atau tidak resmi. Sebenarnya ada juga sakit hatiku melihat nasib yang Raden alami. Tetapi agaknya hati Raden telah mengendap. Dan itu adalah kurnia Tuhan yang tidak ada nilainya Tentu akan jauh lebih berharga dari harta benda itu sendiri. Dengan pasrah diri Raden akan menemukan ketenteraman. Tetapi tidak demikian agaknya dengan harta benda itu, yang justru menimbulkan kegelisahan, dengki dan kebencian”

“Karena itu paman, namaku jangan dihubungkan lagi dengan istana Ranakusuman. Aku sekarang adalah anak padepokan Jati Aking di padukuhan Jati Sari. Aku mempunyai banyak kawan disini. Aku dapat hidup seperti cara hidup mereka. Dan aku senang menjalaninya. Itulah yang penting. Keikhlasan hati”

Tanpa sesadarnya Dipanala memandang wajah Kiai Danatirta. Agaknya Kiai Danatirta lah yang mengajari Juwiring untuk berbicara tentang keikhlasan hati dan penyesuaian diri, sumber dari kedamaian hati yang diketemukannya disini.

Namun karena itulah, maka Dipanala tidak sampai hati untuk mengusik ketenteraman itu dengan mengatakan rencana Rudira untuk masih membuat persoalan yang dapat menumbuhkan ketegangan-ketegangan baru dengan kakaknya.

“Kalau Raden Rudira mengetahui, bahwa Juwiring tidak lagi mempunyai nafsu untuk mendapatkan bagiannya dari warisan itu, aku rasa, ia tidak akan berbuat apa-apa lagi, karena warisan itulah pusar dari peristiwa yang berurutan terjadi di istana Ranakusuman” berkata Dipanala di dalam hati, sehingga dengan demikian niatnya untuk mengatakan sesuatu tentang Raden Rudira telah dibatalkan.

“Dipanala” yang berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta, “Agaknya pendirian Juwiring sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan apapun dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih atas usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah yang datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami gembira”

Dipanala mengangguk-angguk. Katanya, “Kadang-kadang hati ini yang tidak dapat aku tahankan”

Tetapi Kiai Danatirta tersenyum, “Anakmas Juwiring yang mengalaminya langsung telah berhasil mengendapkan perasaannya. Tentu kau juga dapat mengendapkan perasaan itu”

“Ya kakang. Aku akan mencoba. Tetapi ada beberapa soal yang selalu mengungkat perasaan ini. Kami, yang sudah tinggal bertahun-tahun di Dalem Kapangeranan, masih selalu merunduk-runduk apabila kami naik ke pendapa, apalagi apabila Pangeran Ranakusuma atau salah satu dari isteri-isterinya ada di pendapa. Kami selalu berjalan sambil berjongkok, kemudian duduk bersila sambil menundukkan kepala dalam-dalam setelah menyembah. Tetapi kini, orang-orang asing itu dengan tanpa ragu-ragu lagi naik ke pendapa masih juga memakai alas kakinya yang kotor. Duduk tanpa menghiraukan adat dan kebiasaan kami. Bahkan kadang-kadang mereka berkelakar tanpa batas. Tertawa berkepanjangan sehingga terdengar sampai ke seluruh kota”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ketika tanpa sesadarnya ia memandang wajah Juwiring, terasa sesuatu bergolak di dada anak muda itu. Wajah anak muda itu menjadi merah padam. Dengan susah payah Juwiring berusaha untuk menahan perasaannya. Ditundukkan wajahnya dalam-dalam untuk menyembunyikan kesan yang melonjak. Namun kesan itu tertangkap pula bukan saja oleh Kiai Danatirta, tetapi juga oleh Ki Dipanala.

Bahkan akhirnya Juwiring tidak dapat bertahan lagi, dan meluncurlah pertanyaannya yang tertahan-tahan, “Sampai kapan hal itu akan terus terjadi?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya.

“Rumah kami sudah menjadi kandang sampah yang paling kotor. Orang-orang asing itu telah menodai rumah itu dengan segala macam kejahatan dan kemaksiatan. Agaknya ayahanda Pangeran adalah seorang laki-laki yang lemah hati. Yang silau oleh kilatan benda-benda duniawi. Termasuk harta benda dan perempuan”

“Sudahlah anakmas Juwiring” berkata Danatirta, “Jangan hiraukan lagi apa yang terjadi. Bukankah kau sudah memutuskan di dalam hatimu untuk tidak mengaitkan diri lagi dengan rumah itu?”

“Ya ayah. Aku sudah memutuskan. Tetapi apakah aku dapat melepaskan diri dari gangguan perasaanku, bukan oleh harta warisan, tetapi oleh kesamaan warna kulit dan rambut ini? Bahwa ada di antara kita yang telah menjual harga dirinya kepada orang-orang asing itu untuk sekedar mendapatkan harta dan benda? Apalagi orang-orang yang telah berbuat demikian itu adalah orang-orang yang bersangkut paut dengan aku. Orang-orang yang berhubungan darah dengan aku. Aku dapat memutuskan segala ikatan lahiriah. Tetapi siapa yang dapat memutuskan hubunganku dengan ayahanda, hubungan antara ayah dan anak?”

Ki Dipanala hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sebenarnya hatinya sendiri juga terbakar setiap kali ia melihat orang-orang asing yang berkeliaran di pendapa Kapangeranan tanpa menghiraukan tata kesopanan dan adat. Siang maupun malam”

Tetapi Kiai Danatirta lah yang selalu berusaha menekan perasaan yang bergolak itu. Katanya, “Sudahlah. Persoalan itu bukan persoalan kecil Bukan sekedar persoalan kita. Persoalanku, persoalanmu dan persoalan istana Ranakusuman. Tetapi persoalan itu adalah persoalan Surakarta. Kita harus menemukan saluran yang tepat, apabila kita ingin ikut berbicara tentang orang-orang asing itu”

Juwiring menundukkan kepalanya semakin dalam. Dadanya serasa terbakar. Tetapi ia masih berusaha untuk mendinginkan darahnya. Ia sadar, bahwa Kiai Danatirta berkata sebenarnya. Persoalan itu bukan persoalan satu dua orang. Tetapi persoalan itu adalah persoalan Surakarta. Sehingga karena itu, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa seorang diri. Atau katakanlah dengan kelompok yang kecil. Mungkin ia akan dapat berbuat sesuatu di rumahnya. Tetapi itu bukan penyelesaian bagi orang-orang asing. Itu hanya sekedar penyelesaian masalahnya sendirinya. Masalah pribadinya.

Namun demikian, orang-orang asing itu masih tetap menjadi persoalan di dalam hatinya. Sekilas ia teringat kepada ceritera Buntal, bahwa di rumah Tumenggung Gagak Barong pun orang-orang asing itu berbuat sesuka hatinya. Tentu juga seperti yang dilakukan di rumah Ranakusuman.

“Semakin banyak orang yang kehilangan pribadinya” berkata Juwiring di dalam hati.

Namun dalam pada itu Juwiring mengangkat wajahnya ketika Kiai Danatirta berkata, “Sudahlah Juwiring. Kalau kau ingin beristirahat, beristirahatlah. Pamanmu akan bermalam disini malam nanti” Kiai Danatirta berhenti sejenak sambil memandang wajah Dipanala, lalu, “Bukankah begitu?”

Dipanala mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Baiklah kalau kakang menghendaki. Aku memang sedang mendapat waktu istirahat. Bahkan semakin sering aku minta waktu untuk beristirahat, orang-orang di istana Ranakusuman akan menjadi semakin senang. Mereka dapat berbuat apa saja tanpa ada yang mengganggunya”

“Jadi sebagian besar dari orang-orang di rumah itu sudah dimabukkan oleh kepuasan lahiriah?” bertanya Juwiring.

Dipanala mengangguk. Namun cepat-cepat ia berkata, “Tetapi sudahlah. Aku akan bermalam disini. Nanti malam kita akan dapat berbicara panjang”

Juwiring pun mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Silahkan paman duduk. Aku akan beristirahat di belakang”

“Silahkan, silahkan” Dipanala pun mengangguk-angguk pula. Juwiring pun segera meninggalkan pringgitan. Sementara Kiai Danatirta dan Ki Dipanala masih berbicara tentang berbagai macam persoalan.

“Dipanala” yang berbicara kemudian adalah Kiai Danatirta

“Agaknya pendirian Juwiring sudah jelas. Kau tidak usah bersusah payah mengusahakan apapun dari istana Ranakusuman. Kami disini mengucapkan terima kasih atas usahamu itu. Tetapi untuk seterusnya, seandainya kau sajalah yang datang tanpa membawa apapun, sudah cukup membuat hati kami gembira”

“Aku tidak sampai hati merusak kedamaian hatinya kakang” berkata Ki Dipanala, “peristiwa yang terjadi di istana Rana-kusuman sudah membuatnya gelisah. Tetapi aku kira ia akan segera dapat meletakkan masalah itu pada tempat dan keadaan yang wajar. Tetapi yang menyangkut langsung dirinya sendiri benar-benar tidak dapat tertuang sama sekali”

“Maksudmu?”

“Niat Raden Rudira. Aku tidak tahu pasti, apakah sebabnya Raden Rudira masih saja ingin menemui kakaknya yang sudah terasing itu” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “Aku tidak mau membuatnya selalu dalam kecemasan”

“Biarlah aku yang akan mengatakannya kelak” berkata Kiai Danatirta, “Tetapi aku harus mempertimbangkan waktu”

Demikianlah keduanya masih terus berbicara dari satu soal ke soal yang lain. Sedang sementara itu, Juwiring telah berada di ruang belakang. Betapa ia mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Buntal dan Arum dapat menangkap, bahwa sesuatu sedang bergolak di hatinya”

Tetapi baik Buntal maupun Arum tidak segera bertanya kepadanya. Dibiarkannya Juwiring mendekati mereka dan duduk diatas amben bambu yang panjang.

Arum dan Buntal hanya saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun kemudian menundukkan kepala mereka pula.

Juwiring menarik nafas. Dan tiba-tiba saja ialah yang pertama-tama berbicara, “Memang ada hal yang penting, Arum”

Arum mengangkat wajahnya. Demikian juga Buntal.

“Jadi persoalan itu memang ada?” bertanya Arum.

“Ya. Persoalan itu membuat hatiku menjadi pepat. Aku ingin mengurangi beban itu sedikit. Apakah aku dapat mengatakannya kepada kalian meskipun persoalannya tidak menyangkut kalian sama sekali?”

“Tentu menyangkut. Persoalan yang menyangkut salah seorang dari kita, akan menyangkut kita semua”

Juwiring mengangguk-angguk. Tetapi suaranya yang datar meluncur dan sela-sela bibirnya, “Ya, begitulah, Tetapi persoalan ini adalah persoalan keluargaku yang sebenarnya sudah ingin aku lupakan”

“O” desis Buntal, “Tetapi kalau kau tidak berkeberatan, ceriterakanlah”

Dengan singkat Juwiring berceritera tentang keadaan rumah yang ditinggalkannya. Tetapi ceriteranya ditekankannya kepada kehadiran orang-orang asing yang seakan-akan lebih berkuasa dari orang-orang yang sudah bertahun-tahun menghuni rumah itu.

“Jadi orang-orang asing itu juga yang membuat ayahanda Pangeran Ranakusuma semakin gelap hati” berkata Juwiring, “Agaknya mereka telah menyusup ke setiap sudut kota Surakarta. Kalau orang-orang di istana. Susuhunan lengah, maka akhirnya istana itu pun akan segera dikuasainya”

Buntal mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Demikian juga di istana Tumenggung Gagak Barong. Aku juga melihat hal yang serupa”

“Tentu tidak hanya di istana Tumenggung Gagak Barong dini istana ayahanda Ranakusuma. Tentu di rumah-rumah Kapangeranan yang lain. Di rumah Bupati Nayaka, di rumah setiap bangsawan di Surakarta”

Buntal tidak menyahut. Pengetahuannya tentang para bangsawan memang sangat terbatas. Tetapi karena ia pernah tinggal di rumah seorang bangsawan, maka ia dapat membayangkan apa yang. sudah terjadi di rumah-rumah yang besar dan megah itu.

Makan minum, gelak tertawa yang tidak tertahankan, mabuk dan akhirnya mereka terkapar tidur setelah muntah-muntah. Tetapi itu adalah peristiwa-peristiwa sesaat. Yang lebih mengerikan, apakah yang telah terjadi di balik peristiwa-peristiwa sesaat itu.

Tetapi seperti kata-kata Kiai Danatirta, Juwiring pun berkata, “Namun demikian, itu bukan persoalan kita seorang demi seorang. Itu adalah persoalan Surakarta. Karena itu, kita harus mendapatkan saluran untuk menyatakan hati kita”

“Saluran?” bertanya Buntal.

“Ya. Tentu saluran. Bukan kita berbuat sendiri-sendiri. Itu tidak akan berguna dan hanya akan membuang waktu dan tenaga, bahkan mungkin jiwa kita”

Buntal mengangguk-angguk. Memang tidak mungkin untuk berbuat sendiri-sendiri. Tetapi kalau mereka harus mencari saluran, dimanakah mereka akan mendapat?

Tetapi Buntal tidak bertanya. Ia kadang-kadang lebih senang berteka-teki kepada diri sendiri daripada melepaskan pertanyaan. Rasa-rasanya sangat berat untuk bertanya sesuatu. Ia masih merasa dirinya terlalu bodoh, sehingga mungkin pertanyaannya justru salah.

Demikianlah, di malam harinya, Dipanala benar-benar bermalam di padepokan itu. Mereka, seisi rumah itu, sempat duduk dan berbicara panjang lebar dengan Ki Dipanala. Bukan saja Juwiring, tetapi juga Arum dan Buntal yang mendapat kesempatan memperkenalkan dirinya. Tetapi mereka tidak membicarakan masalah-masalah yang dapat menegangkan perasaan. Mereka berbicara tentang keadaan mereka sehari-hari, tentang sawah dan ladang, air dan ternak.

Di pagi harinya Ki Dipanala minta diri kepada keluarga Jati Aking. Ia masih tetap tidak dapat mengatakan sesuatu tentang Rudira yang agaknya masih belum puas melihat kakaknya tersingkir sampai ke padukuhan Jati Sari.

Sepeninggal Ki Dipanala, maka. Kiai Danatirta lah yang memberikan banyak petunjuk kepada Juwiring dan Buntal. Seperti yang disanggupkan, ia akan memberi tahukan, meskipun samar-samar, bahwa ia harus tetap berhati-hati terhadap adik seayahnya, Raden Rudira.

“Juwiring” berkata Kiai Danatirta, “sebenarnya pamanmu Dipanala tidak ingin mengatakan apa yang terjadi di Dalem Ranakusuman. Tetapi kadang-kadang perasaannya yang ingin mendapatkan saluran itu tidak tertahankan lagi. Tanpa disadarinya masalah-masalah yang semula akan tetap disimpannya di dalam hati. agar hatimu tidak menjadi semakin sakit itu, sedikit demi sedikit telah terloncat keluar. Apalagi tanggapanmu yang tajam telah memancing semua persoalan. Tetapi ingat, jangan cepat berbuat sesuatu. Masalah yang kau hadapi adalah satu segi dari rangkaian masalah yang besar”

Juwiring yang memang sudah menyadari keadaan sepenuhnya itu pun menganggukkan kepalanya. Sementara Kiai Danatirta berkata seterusnya, “Namun ada juga sangkut pautnya dengan masalahmu sendiri. Kau harus tetap berhati-hati. Raden Rudira adalah adikmu. Tetapi di dalam persoalan ini, ia berdiri berseberangan dengan kita semua. Ia bergaul rapat dengan orang-orang asing, dan ia adalah putera dari Raden Ayu Galihwarit”

“Aku mengerti ayah” jawab Juwiring.

“Syukurlah. Tetapi tanggapanmu jangan berlebih-lebihan. Mungkin hatinya tidak sejahat yang kita sangka”

Juwiring hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia masih belum dapat membayangkan, betapa warna ini dada adiknya itu yang sebenarnya.

Namun semuanya itu telah mendorong Juwiring untuk berbuat lebih banyak. Bersama-sama dengan Buntal dan Arum mereka telah menempa diri sejauh-jauh dapat mereka lakukan. Ketiga anak-anak muda itu berkeputusan, bahwa apapun yang akan mereka lakukan, namun mereka harus mengumpulkan bekal sebaik-baiknya. Dan bekal yang paling baik menurut pertimbangan mereka adalah olah kanuragan.

Demikianlah kemelutnya hati anak-anak muda itu membuat mereka semakin cepat maju. Rasa-rasanya dari hari demi hari, hati mereka menjadi semakin panas seperti panasnya udara Surakarta, sejak orang kulit putih semakin berpengaruh. Beberapa orang bangsawan benar-benar telah terbius oleh kesenangan lahiriah yang dibawa oleh orang-orang asing itu, sehingga lambat laun, semakin tipislah kesetiaannya kepada tanah tempat mereka dilahirkan. Hubungan yang akrab membuat mereka melupakan batas yang ada di antara para bangsawan itu dengan orang-orang asing.

“Apa salahnya kita saling berhubungan” berkata seorang bangsawan kepada seorang pelayannya, “manusia di dunia mempunyai ikatan hakekat yang sama. Merekapun mengatakan bahwa bagi mereka tidak ada lagi batas-batas di antara manusia sedunia. Mereka datang dengan hikmah persaudaraan”

Pelayan-pelayannya hanya mengangguk-angguk, saja, karena mereka sama sekali tidak mengetahui, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Tetapi karena mereka ikut pula menikmati kesenangan duniawi yang melimpah ruah, maka mereka pun mengiakannya dengan sepenuh hati.

Tetapi para bangsawan yang tinggal di batas-batas dinding yang tinggi, di halaman yang luas dan bersih, yang semakin lama menjadi semakin cerah karena mereka mendapatkan hadiah-hadiah yang merupakan barang-barang baru bagi rumah-rumah dan istana-istana mereka, sama sekali tidak melihat apa yang telah terjadi di padesan dan di padukuhan kecil. Rakyat yang merasakan langsung penghisapan yang mulai terjadi diatas tanah kelahiran ini.

Ternyata mereka yang mengatakan, bahwa kedatangan mereka adalah atas dorongan persaudaraan manusia yang tanpa batas itu. sebenarnya mempunyai kepentingan yang besar bagi mereka. Bagi satu pihak dari yang dikatakannya tanpa batas itu. Dan merekalah yang mendapatkan keuntungan terbesar dari suasana yang mereka kembangkan suasana tanpa ada batas, suasana tanpa jarak. Karena apa yang mereka katakan itu bukan kata nurani mereka yang sebenarnya, sehingga sikap orang-orang asing di Surakarta itu sama sekali bukan suatu sikap yang jujur.

Untunglah, bahwa tidak semua bangsawan terbius oleh keadaan itu. Ada juga bangsawan yang menyadari keadaan yang sebenarnya. Yang merasakan betapa janggalnya keadaan Surakarta pada saat itu.

Ternyata bahwa perpindahan istana dari Kartasura ke Surakarta sama sekali tidak membawa hikmah apapun juga. Bahkan sinar yang memancar dari keagungan Susuhunan Paku Buwana, semakin lama menjadi semakin suram.

Salah seorang yang memandang keadaan itu dengan tajam adalah seorang Pangeran yang berhati bening. Pangeran Mangkubumi.

Kepadanyalah beberapa bangsawan yang tidak dapat menerima keadaan yang berkembang itu meletakkan harapan. Kepadanyalah mereka berharap, agar pada suatu saat, lahir suatu sikap yang dapat menyelamatkan Surakarta.

Tetapi Pangeran Mangkubumi bukan seorang yang berhati panas. Ia masih mampu menilai keadaan dengan tenang. Setiap tindakan diperhitungkannya sebaik-baiknya, agar ia tidak terjerumus ke dalam suatu tindakan dan pengorbanan yang sia-sia.

Karena itulah, maka tidak jarang Pangeran Mangkubumi itu berusaha melihat dengan mata kepala sendiri, kehidupan yang sebenarnya dari rakyat Surakarta, yang lambat laun mengalami masa surut yang parah.

Berlawanan dengan Pangeran Mangkubumi, maka beberapa orang bangsawan berusaha menikmati hidup mereka sebaik-baiknya tanpa menghiraukan nasib siapapun. Seandainya mereka pergi keluar kota, mereka, sama sekali tidak ingin melihat dan tidak mau melihat kehidupan rakyat yang sebenarnya.

Adalah menjadi kebiasaan mereka pergi berburu. Mereka sengaja membiarkan beberapa bagian dari hutan yang dibuka menjadi tanah garapan. Hutan-hutan itu mereka pergunakan sebagai daerah perburuan yang mengasikkan.

Demikianlah, ketika orang-orang Jati Sari sibuk dengan kerja mereka di sawah dan ladang, mereka dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari-lari di jalan persawahan menyusuri bulak yang panjang. Namun orang-orang Jati Sari itu pun kemudian tidak menghiraukannya lagi, karena mereka telah mengenal, bahwa iring-iringan orang berkuda itu adalah iring-iringan beberapa orang yang pergi berburu. Dan salah seorang atau dua orang dari mereka adalah bangsawan.

Hanya beberapa orang sajalah yang masih sempat melihat seorang anak muda yang gagah berkuda di paling depan, dan di belakangnya beberapa orang pengawalnya mengiringnya.

Arum yang kebetulan berjalan di lorong itu pula membawa makanan untuk Juwiring dan Buntal yang sedang bekerja di sawah, dengan tergesa-gesa menepi. Namun dengan demikian, sejenak ia tegak berdiri memandang anak muda yang berkuda di paling depan.

Dadanya berdesir ketika ia melihat wajah anak muda itu. Begitu mirip dengan wajah Juwiring. Namun Arum pun segera memalingkan wajahnya. Tidak seorang pun yang berani memandang wajah seorang bangsawan apalagi ia sedang memandang pula.

Tetapi Arum terperanjat ketika ia sadar, bahwa kuda yang paling depan itu tiba-tiba saja berhenti. Dengan demikian, kuda-kuda yang berada di belakangnya pun berhenti pula dengan tiba-tiba, sehingga beberapa di antaranya meringkik dan berdiri diatas dua Kaki belakangnya, karena kendali yang terasa menjerat leher.

Sejenak Arum mengangkat wajahnya. Tetapi ketika matanya bertatapan dengan sorot mata anak muda yang berada diatas punggung kuda itu, kepalanya pun segera tertunduk.

“He, siapa kau anak manis?” terdengar suara anak muda yang berada di punggung kuda itu.

Arum bingung sejenak. Ia tidak pernah berhubungan dengan orang-orang yang masih asing baginya. Sehari-hari ia hanya berada di rumahnya, di padepokan Jati Aking atau di sawah. Sekali-sekali ia pergi ke pasar. Tetapi jarang sekali seorang Laki-laki langsung menegurnya.

“Kenapa kau malu? Angkatlah wajahmu. Pandang aku. Dan jawablah pertanyaanku. Siapa namamu?”

Kata-kata yang mengalir itu seolah-olah merupakan pesona yang tidak dapat dielakkan, sehingga hampir tanpa disadari ia menjawab, “Namaku Arum”

“Arum” ulang anak muda yang berkuda itu, “nama yang bagus sekali. Dimana rumahmu he?”

Arum tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya sajalah yang kini justru tertunduk dalam.

“Dimana rumahmu?” Arum masih tetap diam saja.

Namun terasa bulunya berdiri ketika anak muda itu tiba-tiba saja meloncat turun dari kudanya.

Arum sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Bahkan ia beringsut mundur beberapa jengkal, sehingga hampir saja ia terjatuh ke dalam parit.

Karena iring-iringan itu berhenti di tengah bulak, maka kini seluruh perhatian orang-orang yang ada di sawah itu pun tertuju kepada anak muda yang kemudian sudah berdiri dimuka Arum.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” berkata anak muda itu.

Tetapi Arum tetap diam. Hatinya menjadi semakin kecut ketika ia menyadari, bahwa orang-orang yang lain pun telah turun pula dari kuda mereka.

“Jangan takut dan jangan malu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya terpesona oleh kecantikanmu. Memang gadis-gadis padesan justru mempunyai paras yang cantik, yang jarang diketemukan pada wajah-wajah gadis bangsawan. Ciri-ciri yang lain, menumbuhkan perhatian yang lain pula pada gadis-gadis padesan seperti kau. He, dimana rumahmu?”

Arum menjadi gemetar ketika anak muda itu berdiri semakin dekat. Di dalam keadaan itu, sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk melawan. Untuk mempergunakan ilmu kanuragan yang telah dipelajarinya, karena pada pendapatnya, tidak seorang pun yang dapat melawan seorang bangsawan. Bahkan ia pernah, mendengar ceritera, tentang gadis-gadis desa. yang terpaksa menjadi selir di istana-istana Pangeran dan bahkan bangsawan-bangsawan di dalam urutan derajat yang lebih rendah. Seorang cucu Susuhunan misalnya. Karena itu maka hatinya pun menjadi semakin kecut.

Tetapi ketika tangan anak muda itu meraba pipinya, dengan, gerak naluriah, Arum meloncat mundur. Meskipun ia berdiri membelakangi parit, tetapi tanpa disadarinya, kemampuan olah kanuragannya lelah mendorongnya melompati parit itu tanpa berpaling.

“He” anak muda itu tiba-tiba terpekik. Wajahnya menjadi cerah seperti anak-anak mendapat mainan. Dengan nada tinggi ia berkata, “Lucu sekali. Kau dapat meloncati parit ini tanpa memutar tubuhmu. Bukan main. Hampir tidak masuk akal bagi seorang gadis desa seperti kau. Coba ulangi sekali lagi. Aku senang sekali melihat. Ternyata selain cantik, kau adalah seorang gadis yang sangat lincah. Seandainya kau seekor burung, kau tidak selembut burung perkutut. Tetapi kau selincah burung branjangan. Dan aku memang lebih senang burung branjangan dari burung perkutut yang seperti mengantuk sepanjang hari”

Tetapi dada Arum menjadi semakin berdebar-debar. Ia menjadi semakin bingung, apakah yang akan dilakukannya.

“Jangan takut. Aku tidak akan marah”

Wajah Arum menjadi semakin pucat. Hampir saja ia terduduk lemas.....
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 01"

Post a Comment

close